Anda di halaman 1dari 4

Kelas Akselerasi untuk Anak dengan Kecerdasan dan Bakat Istimewa

“Kecerdasan adalah kecepatan untuk memahami sesuatu, sedangkan kemampuan adalah


kesanggupan untuk bertindak bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu”
Alfred North Whitehead

Menurut Clark (1988:6), yang disebut anak cerdas berbakat adalah anak-anak yang
menampilkan kapabilitas untuk kerja yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual,
krestif, artistik, kepemimpinan, kemampuan, atau lapangan-lapangan akademik tertentu, dan
memerlukan layanan-layanan atau kegiatan-kegiatan yang tidak biasa disediakan oleh
sekolah dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara penuh. Pemaparan ini bisa
jadi merupakan penjelasan dari tiga kriteria jamak anak cerdas berbakat yang disebutkan
Renzull (1979) yaitu, kemampuan diatas rata-rata (IQ 140 berdasarkan Wachsler), Komitmen
tinggi terhadap tugas-tugas, dan terakhir kreatifitas yang tinggi.

Pemerintah Indonesia sudah memberikan dan mengupayakan jalan agar anak-anak


cerdas dan berbakat dapat mengembangkan potensinya secara maksimal dengan mengadakan
kelas akselerasi yang dimulai sejak tahun 1974. Hal ini dibuktikan dengan adanya Undang-
undang No. 20 tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 4, yaitu “Bahwa
warga Negara yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan
khusus”. Karenany untuk mengimplementasi peraturan tersebut perlu adanya kelas akselerasi.

Kelas Akselerasi adalah kelas percepatan. Kelas ini menawarkan anak cerdas dan
berbakat untuk dapat sekolah dengan waktu yang relatif lebih singkat biasanya satu tahun
dibanding anak pada umumnya. Kelas ini biasanya juga tak lebih dari 20 siswa bahkan hanya
10 sampai 15 siswa saja tergantung kebijakan sekolah yang mengadakan.

Untuk masuk kedalam kelas akselerasi tentu bukan hal yang mudah, sekolah biasanya
mengadakan berbagai tes, seperti tes IQ, tes kepribadian, tes karya ilmiah dan wawancara.
Mungkin ada juga kasus setelah tes IQ langsung ditawarkan kelas akselerasi. Ini merupakan
hak siswa untuk memilih, karena tak banya anak dengan IQ diatas 130 lebih memilih masuk
kelas reguler. Menjadi yang terpintar dikelas reguler lebih baik daripada bodoh dikelas
akselerasi.

Banyak alasan kenapa anak cerdas dan berbakat harus dipisahkan dengan anak
reguler. Alasan yang paling sering dilontarkan mungkin adalah untuk mengoptimalkan
potensi anak tersebut. Memang benar anak cerdas dan berbakat memiliki karakteristik yang
rajin dan kreatif, karena itu mereka membutuhkan persaingan yang didapat dari anak yang
seperti itu juga. Jika mereka tak mendapat persaingan itu, akan timbul rasa bosan dan itu
menghambat mereka untuk berkembang dan bakatnya akan sia-sia.

Perlu diingat bahwa anak cerdas dan berbakat tidak menyukai yang namanya rutinitas.
Anak-anak ini menyukai sesuatu yang baru dan menantang, karena itu dalam kelas akselerasi
selalu kental dengan yang namanya persaingan. Anak cerdas dan bakat istimewa seperti dua
mata pisau, jika di bawa ke lingkungan baik, maka akan menghasilkan hal yang positif. Jika
dibawa ke lingkungan yang tidak sesuai, bisa jadi ia akan berontak.

Selain untuk percepatan sekolah dan mengembangkan bakat semata, kelas akselerasi
juga bertugas menanamkan nilai-nilai positif pada anak cerdas dan berbakat. Anak cerdas
dan berbakat diajarkan untuk bijaksana dalam menempatkan kecerdasan dan bakatnya. Tidak
mempergunaan kelebihannya itu untuk sesuatu yang negatif seperti mencuri, berlaku curang
dan lainnya. Dengan menanamkan sikap bijaksana, maka anak-anak ini akan tumbuh menjadi
anak yang berguna suatu hari nanti.

Banyak anak cerdas dan memiliki bakat istimewa yang tetap memilih berada di kelas
reguler. Hal ini umumnya dikarenakan ia ingin dalam zona aman dikategori pintar. Bukan
pilihan yang salah memang, jika anak tidak sanggup dengan persaingan ketat yang
membutuhkan lebih banyak usaha lebih baik ia berada dikelas biasa. Positifnya jika anak
seperti ini di kelas reguler adalah ia bisa membantu teman-temannya dikelas itu. Dengan kata
lain kecerdasan dan bakatnya juga berguna dikelas reguler.

Guru sangat berpengaruh pada perkembangan peserta didik, baik reguler maupun
akselerasi. Lalu guru seperti apa yang diperlukan untuk mengajar dikelas akselerasi?. Sekolah
yang mengadakan kelas akselerasi ada banyak sekali jenisnya, kebijakan untuk guru
pengajarnya pun tentu beragam. Ada yang menyediakan guru khusus, ada pula yang
menyamakan gurunya dengan guru reguler.

Yang diperlukan guru yang mengajar kelas akselerasi yang paling utama adalah guru
yang memiliki kesabaran dan komitmen tinggi dalam mengajar. Hal ini karena kemungkinan
besar anak cerdas berbakat sedikit lebih sombong karena kecerdasannya. Jika ia sudah diberi
nilai-nilai di rumahnya mungkin tak menjadi masalah. Jika belum maka tugas guru
membenahi hal ini.

Guru adalah contoh bagi muridnya. Guru itu sebagai pembimbing bukan bos yang
selalu memerintah. Bukan hanya karena dia dihadapkan dengan anak-anak yang memang
sudah cerdas dan mempunyai bakat istimewa guru hanya tinggal meminta mereka
mengerjakan dan menyelesaikan masalah dan selesai begitu saja. Tidak seperti itu, malah
disini peran guru lebih banyak. Guru kelas akselerasi harus belajar lebih mengetahui karakter
anak dan masuk kedalam dunia mereka agar anak menerima pengajaran dan merasa sedang
dibimbing. Pujian adalah hal yang sangat mereka inginkan, tapi jika salah mereka juga tetap
harus diarahkan. Inilah yang dimaksud pengembangan sikap yang dilakukan guru di kelas
akselerasi.

Gaya belajar yang bisa digunakan dalam pembelajaran di kelas akselerasi antara lain
haruslah dengan pembelajaran yang tenang, santai dan tidak menekan siswa. Dengan
meminimalsir tekanan, siswa akan lebih rileks menuntut ilmu dan semakin termotivasi untuk
lebih baik dari sebelumnya. Hal ini juga dapat mencegah persaingan yang tidak sehat antara
siswa berbakat dikelas akselerasi.
Menurut Selley (1993, dalam Rayneri, Gerber, &Wiley, 2006) mengestimasikan 15-
40% dari siswa gifted and talented beresiko gagal atau melakukan jauh di bawah potensi
mereka. Artinya siswa gifted and talented tidak mampu menampilkan performa terbaik
mereka berdasarkan potensi yang mereka miliki. Diketahui bahwa gaya belajar (learning
style) memainkan peran dalam performa di kelas dan cara siswa gifted and talented di
sekolah menengah dalam merespon lingkungan kelas mereka. Peneliti berhipotesis bahwa
prestasi rendah merupakan ketidak cocokan antara gaya belajar siswa, kebutuhan dan
lingkungan sekolah.1

Kelas akselerasi memang relatif berhasil mengembangkan anak dibidang akademik,


banyak lulusan kelas akselerasi bisa melanjutkan ke sekolah dengan kriteria sangat baik dan
untuk kelas akselerasi SMA banyak pula yang berhasil tembus kampus-kampus yang bagus
di Indonesia, sabang sampai merauke, bahkan ke luar negeri.

Keberhasilan yang dikatakan hampir seluruh anak akselerasi inilah yang membuat
anak kelas akselerasi terbebani menjalankan pendidikan. Mereka memang cerdas istimewa
tapi mereka masihlah anak atau remaja yang tak suka ditekan. Guru dan pihak sekolah tak
berhak menuntut keberhasilan mutlak dari seluruh muridnya, utamanya murid kelas
akselerasi karena faktor psikologi anak.

Hal positif lain dari adanya kelas akselerasi adalah, sekolah bisa melakukan pelayanan
yang lebih merata terhadap murid reguler dan murid cerdas dan bakat istimewa. Memantau
perkembangan peserta didik dengan lebih terarah. Sekolah juga tidak akan kesulitan
mewadahi keingintahuan murid cerdas dan bakat istimewa yang tak terbatas. Mereka sudah
berada dalam kelas dengan teman-teman yang juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Dari semua kelebihan itu, ada banyak kekuranga dari kelas akselerasi. Contohnya
seperti tercipta suatu strata tingkatan dalam belajar. Sadar atau tidak, dengan adanya kelas
akserasi, kelas bakat istimewa, kelas olahraga menciptakan rasa iri pada murid reguler. Ada
beberapa murid ruguler yang mungkin mampu bersaing dengan kelas akselerasi. Sekolah
hanya memfasilitasi kelas-kelas yang dianggap unggulan saja. Dan pemerataan pelayanan
pendidikan tidak benar-benar berhasil.

Kelas akselerasi hanya terfokus pada bidang akademik semata. Anak cerdas dan bakat
istimewa tidak bisa fokus mengasah bakatnya yang lain. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
sekolah di Indonesia kebanyakan hanya mementingkan nilai akademik saja. Yang bisa
matematika, IPA, teknologi dan ekonomi yang dianggap pintar. Anak cerdas dan berbakat
memang memenuhi kriteria tersebut, tapi mereka juga mempunyai bakat dalam hal lain yang
tak dikembangkan dalam kelas akselerasi.

Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa memiliki minat yang beragam. Ini
menjadi salah satu kekurangan kelas akselerasi. Karena minatnya yang beraneka ragam itulah
anak ini membutuhkan fleksibelitas serta dukungan untuk menjajaki dan mengembangkan

1
Lely Puspita Oktaviani, dkk. Studi Deskrptif Gaya Belajar Siswa Gifted di Kelas Akselerasi. (Surabaya:
Universitas Airlangga, 2013), hlm. 129-130
minat-minatnya. Namun kelas akselerasi yang terus terfokus pads akademik tidak bisa
melayani hal ini.

Kelas akselerasi sangat membantu palayanan terhadap anak yang mempunyai


kecerdasan dan bakat istimewa. Kelas akselerasi harus diiringi oleh guru yang tepat, sabar,
bertanggung jawab, dan berkomitmen dalam mengajar. Guru tidak boleh terlalu menekan
siswa secerdas apapun ia dapat menangani masalah, tetap saja usia anak akselerasi relatif
lebih muda dari kelas reguler. Kelas akselerasi harus menciptakan sebuah persaingan yang
sehat untuk siswanya.Gaya pembelajaran di kelas juga sangat menentukan seperti apa anak
untuk kedepannya. Selanjutnya serahkan pada anak apakah ia akan memaksimalkan potensi
yang ia punya atau ia menjadi yang beresiko gagal karena hasilnya lebih rendah dari
kemampuannya.