Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen


aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, diluar manfaat yang
diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Menurut American
Dietetic Association (ADA), yang termasuk pangan fungsional tidak hanya
pangan alamiah tetapi juga pangan yang telah difortifikasi atau diperkaya dan
memberikan efek potensial yang bermanfaat untuk kesehatan jika dikonsumsi
sebagai bagian dari menu pangan yang bervariasi secara teratur pada dosis
yang efektif.
Untuk dapat disebut sebagai pangan fungsional, paling tidak harus ada tiga
faktor yang harus dipenuhi, yaitu
1) Produk tersebut harus berupa produk pangan, bukan kapsul, tablet atau bubuk
dan berasal dari bahan yang terdapat secara alami,
2) Produk tersebut dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau
menu sehari-hari, dan
3) Produk tersebut mempunyai fungsi tertentu pada waktu dicerna, memberikan
peran dalam proses tubuh tertentu, seperti memperkuat mekanisme pertahanan
tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu tubuh untuk memulihkan
kondisi tubuh setelah terserang penyakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan
mental, dan memperlambat proses penuaan.
Disamping bernilai gizi tinggi, para peneliti menemukan bahwa kedelai
mempunyai banyak efek menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi. Kacang
kedelai merupakan sumber protein tercerna yang sangat baik. Meskipun
kandungan vitamin (vitamin A, E, K dan beberapa jenis vitamin B) dan mineral
(K, Fe, Zn dan P) di dalamnya tinggi, kedelai rendah dalam kandungan asam
lemak jenuh, dengan 60 % kandungan asam lemak tidak jenuhnya terdiri atas
asam linoleat dan linolenat, yang keduanya diketahui membantu kesehatan
jantung. Kacang kedelai tidak mengandung kolesterol. Makanan dari kedelai juga
bebas laktosa, yang sangat cocok bagi konsumen yang menderita lactose
intoleran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu kedelai ?
2. Kandungan yang terdapat dalam kedelai ?
3. Manfaat kedelai sebagai makanan fungsional ?

C. Tujuan dan Manfaat


Untuk mengetahui dan memahami kedelai sebagai makanan fungsional

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kedelai
Pengertian Kedelai dan Kandungan Nutrisi Gizinya per 100 gram.
Kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan. Kacang kedelai
banyak dijadikan makanan olahan seperti kecap, tahu, dan tempe.
Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak
3500 tahun yang lalu di Asia Timur.
Kacang kedelai adalah sumber utama protein nabati dan minyak nabati
dunia. Penghasil kedelai utama di dunia adakah Amerika Serikat dan baru
dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah tahun 1910.

B. Jenis Kedelai
Jenis kedelai yang dibudidayakan adalah Glycine max yang merupakan
keturunan domestikasi dari spesies moyang, Glycine soja. Dengan versi
ini, G. max juga dapat disebut sebagai G. soja subsp. max. Kedelai
merupakan tanaman budidaya daerah Asia subtropik seperti Cina dan Jepang.
Sebaran G. soja sendiri lebih luas, hingga ke kawasan Asia tropik.
Kedelai sangat peka terhadap pencahayaan sehingga dalam pencahayaan
agak rendahpun batangnya akan mengalami pertumbuhan memanjang
sehingga berwujud seperti tanaman merambat.
Berikut adalah kultivar kedelai putih yang dibudidayakan di Indonesia:
1. Ringgit
2. Orba
3. Lokon
4. Davros
5. Wilis
6. Edamame

C. Kandungan Kedelai
1. Komposisi Zat Gizi Kedelai
Kacang kedelai kaya vitamin (vitamin A, E, K dan beberapa jenis
vitamin dan mineral (K, Fe, Zn dan P). Beberapa produk dari kedelai utuh
juga merupakan sumber serat makanan yang baik. Tabel 1. menunjukkan
kandungan zat gizi dalam ekstrak kedelai jernih.
2. Manfaat Kesehatan Protein Kedelai
Kedelai rendah kadar asam lemak jenuhnya dan tidak mengandung
kolesterol. Penggantian protein hewani dengan protein kedelai dalam
makanan sehari-hari terbukti menurunkan kadar kolesterol baik pada
hewan percobaan maupun manusia.
3. Serat dan Karbohidrat dalam Kedelai
Seperti kacang-kacangan lainnya, kedelai merupakan sumber serat
yang baik. Satu mangkok kedelai rebus akan memberikan 6 gram serat
makanan, termasuk serat larut dan tidak larut. Sekitar setengah dari
kandungan karbohidrat dalam kedelai merupakan serat. Proses
pengolahan banyak mengurangi kandungan serat dalam produk-produk
kedelai.
4. Vitamin dalam Kedelai
Satu setengah mangkok rebus dapat memberikan sekitar 10 %
kebutuhan orang dewasa per hari untuk tiamin, riboflavin, vitamin B 6 dan
folat.
5. Mineral Dalam Kedelai
Kedelai relatif tinggi kandungan zat besi, fosfat, tembaga, magnesium
dan mangan. Juga mengandung kalsium dan seng.
6. Antinutrisi dan Phitokimia
Kedelai mengandung beberapa senyawa phitokimia dalam jumlah
relative tinggi, antara lain lektin (hemaglutinin), phitosterol, asam phitat,
saponim, inhibitar protease terutama antitripsin, berbagai asam phenolat
dan yang paling penting isoflavon.

D. Manfaat Kedelai

Kedelai mendapat banyak perhatian selama tahun 1990-an. Komoditas ini


tidak hanya mengandung protein berkualitas tinggi, tetapi juga dianggap
berperan dalam mencegah dan mengobati PJK, kanker, dan osteoporosis, serta
meredakan keluhan setelah masa menopause (menopausal symptoms).

Berdasarkan penelitian, ternyata bahwa mengonsumsi kedelai akan


menurunkan total kolesterol, LDL kolesterol (kolesterol jahat), dan trigliserida
secara nyata, serta sedikit meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL)
(kolesterol baik). Asupan kedelai yang efektif minimal 25 g/hari.

Di samping protein, isoflavon dan fitosterol yang terdapat dalam kedelai


turut berperan aktif untuk menurunkan kadar kolesterol, namun mekanisme
kerja kedua komponen ini belum diketahui sepenuhnya. Kedelai juga
mengandung zat antikanker, antara lain protease inhibitor, fitosterol, saponin,
asam fenolat, asam fitat, dan isoflavon. Di antara senyawa-senyawa ini,
golongan isoflavon, yaitu yenistein dan daidzein, merupakan senyawa yang
penting.

Karena merupakan estrogen lemah, isoflavon dapat berfungsi sebagai


antiestrogen. Senyawa ini berkompetisi dengan estrogen alami yang lebih
potensial untuk berikatan dengan reseptor estrogen. Dalam makanan sehari-
hari, kedelai merupakan sumber utama senyawa tersebut.

Kedelai juga berperan positif terhadap kondisi tulang. Konsumsi 40g isolat
protein kedelai per hari (mengandung 90 mg total isoflavon) akan
meningkatkan kandungan mineral tulang secara nyata.

Mengonsumsi protein hewani dalam jumlah banyak akan meningkatkan


hilangnya kalsium dari tulang. Hal ini menyebabkan ginjal bekerja lebih keras
daripada biasanya sehingga risiko penyakit diabetes tipe 2 akan meningkat.
Metabolisme asam amino yang mengandung sulfur (belerang) akan
menghasilkan asam, dan untuk itu diperlukan pendapar atau penyangga pH
(buffer).

Asam yang terbentuk menyebabkan pengeroposan tulang. Sebaliknya,


konsumsi kedelai menurunkan hilangnya kalsium dari tulang karena protein
kedelai mengandung lebih sedikit asam amino sulfur dibandingkan dengan
protein hewani.