Anda di halaman 1dari 7

UJMER 5 (1) 2016

Unnes Journal of Mathematics Education Research


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujmer

ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DITINJAU


DARI KEPERCAYAAN DIRI SISWA MELALUI BLENDED
LEARNING

Afria Alfitri Rizqi 1., Hardi Suyitno2., Sudarmin3.

1,2.
Prodi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
3.
Prodi Pendidikan IPA, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
SejarahArtikel: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi
matematis melalui pembelajaran blended learning dan berdasarkan kategori kepercayaan diri siswa. Penelitian
Diterima 10 Maret2016 dilakukan di kelas XI MIPA 3 SMA N 1 Jepara dengan pemilihan subjek penelitian berdasarkan hasil skor
Disetujui 6 Apri 2016 angket sehingga diperoleh kelompok kepercayaan diri tinggi dan sedang. Penentuan subjek penelitian
menggunakan teknik purposive sampling yang memilih 2 siswa dalam setiap kelompok. Analisis data kemampuan
Dipublikasikan 2 Juni komunikasi matematis dalam blended learning dan berdasarkan kategori kepercayaan diri siswa menggunakan
2016 teknik triangulasi dari Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan pengamatan siswa dan hasil tes tertulis dengan
wawancara. Hasil menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran blended
________________ learning tergolong baik. Pembelajaran offline dan online saling mendukung dalam mengungkapkan ide-ide
Keywords: matematis melalui lisan dan tulisan, menggambarkan ide matematis tersebut ke dalam bentuk visual, serta
mampu menggunakan istilah dan notasi matematis dengan tepat untuk menyajikan ide matematis. Kemampuan
Communication ability, komunikasi matematis bagi siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi tergolong sangat tinggi yang ditunjukkan
self confidence, blended siswa sangat mampu mengungkapkan ide matematis, menggambar bentuk visual serta menggunakan notasi dan
istilah matematis. Kemampuan komunikasi matematis bagi siswa yang memiliki kepercayaan diri sedang
learning tergolong tinggi yang ditunjukkan siswa mampu mengungkapkan ide matematis, menggambar bentuk visual serta
___________________ menggunakan notasi dan istilah matematis.

Abstract
___________________________________________________________________
This study belongs to qualitative research which aims to illustrate the students‟ mathematical communication
ability in the blended learning and based on the students‟ confidence. The study was held in class of XI MIPA 3
SMAN 1 Jepara with selection of subjects according to the results of questionnaire so that their confidence belong
to high and middle group. Determination of subjects use purposive sampling technique which selected 2 students
in every group. Data analysis of the students‟ mathematical communication ability in the blended learning and
based on their confidence use triangulation technique from the result of the observation with the student
worksheet and the result of the written test with the interview. The results show that the students‟ mathematical
communication ability in the blended learning quite well. Both offline and online learning support each other to
express the mathematical thinking through oral and written, illustrate the mathematical ideas into visual
depictionss, and are able to use the mathematical terms and notations to present mathematical ideas. Students‟
mathematical communication ability who have high confidence are categorized very high which is indicated by
students are very capable of expressing mathematical ideas, illustrating mathematical ideas in visual depictions,
and using the mathematical terms, notations, and structures. Students‟ mathematical communication ability who
have middle confidence are categorized high which is indicated by students are capable of expressing
mathematical ideas, illustrating mathematical ideas in visual depictions, and using the mathematical terms,
notations, and structures.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi: p-ISSN 2252-6455
Kampus Unnes Bendan Ngisor, Semarang, 50233
e-ISSN 2502-4507
E-mail: fria.sassy@gmail.com

17
Afria Alfitri Rizqi, et al. / Unnes Journal of Mathematics Education Research Volume 5 (1) (2016)

PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk (1)


mendeskripsikan kemampuan komunikasi
Kemampuan komunikasi sangat matematis siswa dalam pembelajaran blended
dibutuhkan peserta didik untuk meningkatkan learning; (2) menganalisis kemampuan
kemampuan akademik serta untuk menghadapi komunikasi matematis berdasarkan kategori
berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari kepercayaan diri siswa.
(NCTM, 2000; Tandiling, 2011; Sokoine, 2015).
Dengan berkomunikasi, siswa berkesempatan METODE
untuk mengembangkan pemahaman konsep
yang mereka miliki untuk berbagi ataupun Jenis penelitian ini adalah deskriptif
memperjelas kepada siswa lainnya. Oleh karena kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas
itu kemampuan komunikasi harus XI MIPA 3 yang dapat mengikuti pembelajaran
dikembangkan sejak dini, salah satunya blended learning dengan materi pokok
dikembangkan pada saat pembelajaran transformasi di SMA N 1 Jepara pada semester
matematika. genap tahun pelajaran 2015-2016. Pemilihan
Dalam pembelajaran matematika subjek penelitian berdasarkan pada skor hasil
kemampuan komunikasi matematis yang angket sehingga diperoleh kategori kepercayaan
dimiliki siswa sangat penting sehingga dapat diri siswa tinggi dan sedang. Dengan
digunakan untuk meyakinkan orang lain menggunakan teknik purposive sampling, setiap
(NCTM, 2000). Belajar dengan kepercayaan diri kelompok ditentukan 2 subjek sebagai fokus
yang dimiliki dapat digunakan untuk berani penelitian.
mengemukakan gagasan baru sehingga siswa Data pada penelitian ini dikumpulkan
dapat berhasil dalam belajar matematika secara langsung oleh peneliti, sehingga
(Tandiling, 2012; Marlina, dkk., 2014; Yates, instrumen utama penelitian ini adalah peneliti
2002). Dengan adanya rasa percaya diri, peserta sendiri yang dibantu dengan instrumen bantu
didik dapat mengkomunikasikan gagasan berupa angket kepercayaan diri, Lembar Kerja
mereka untuk memperjelas ide dalam Siswa (LKS), lembar pengamatan kemampuan
penyelesaian masalah yang mereka ungkapkan. komunikasi matematis siswa, Tes Kemampuan
Dimana belajar komunikasi dalam matematika Komunikasi Matematis (TKKM), dan pedoman
membantu perkembangan interaksi dan wawancara. Teknik pengumpulan data yang
pengungkapan ide-ide di dalam kelas karena digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes
siswa belajar dalam suasana aktif. yang digunakan untuk mendapatkan data
Blended learning dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi
interaksi siswa dengan siswa lain serta guru matematis siswa dan teknik non tes untuk
(Westover dan Westover, 2014). Blended learning memperoleh kredibilitas data.
merupakan suatu pendekatan pembelajaran Analisis data dilakukan mulai pada saat
yang menggabungkan pembelajaran tatap muka tahap sebelum di lapangan hingga tahap analisis
di dalam kelas dengan kegiatan pembelajaran selama di lapangan. Analisis sebelum di
berbasis online untuk meningkatkan efektifitas lapangan dilakukan dengan validasi perangkat
dan efisensi pengalaman belajar (Sukarno, 2011; dan instrumen penelitian. Analisis selama di
Westover dan Westover, 2014, Garrison dan lapangan merupakan proses menganalisis data
Kanuka, 2004; Bonk dan Graham, 2005). kemampuan komunikasi matematis dalam
Kemampuan komunikasi matematis yang blended learning dengan menggunakan teknik
didukung dengan rasa percaya diri yang dimiliki triangulasi dari hasil LKS dengan pengamatan
siswa dapat dikembangkan melalui serta data kemampuan komunikasi matematis
pembelajaran blended learning baik saat berdasarkan kategori kepercayaan diri siswa
pembelajaran offline dalam pembelajaran kelas dengan menggunakan teknik triangulasi dari
maupun dalam pembelajaran online (e-learning). hasil tes tertulis dengan wawancara. Analisis

18
Afria Alfitri Rizqi, et al. / Unnes Journal of Mathematics Education Research Volume 5 (1) (2016)

data dilakukan dengan cara mereduksi data, pembelajaran tatap muka di kelas dengan
menyajikan data, dan memverifikasi serta menggunakan model Think Talk Write (TTW)
menarik kesimpulan. Validitas data sebagai pembelajaran offline. Penggunaan
menggunakan 4 tahap yaitu kepercayaan, internet dalam pembelajaran (e-learning) dapat
keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. memberikan nuansa baru dalam dunia
pendidikan (Budiharti, dkk., 2015). Hal ini
HASIL DAN PEMBAHASAN terlihat ada peningkatan jumlah subjek pada saat
pembelajaran online pertama yaitu sebanyak 2
Ketika pembelajaran blended learning subjek dan online ketiga yaitu sebanyak 3 subjek.
dilaksanakan siswa dibiasakan Mereka dapat mengungkapkan ide-ide
mengkomunikasikan ide-ide matematisnya matematisnya melalui LKS Online yang
untuk menyelesaikan persoalan matematika. digunakan untuk menemukan konsep seperti
Penggunaan LKS online dan offline dalam terlihat pada Gambar 1. Dalam mengungkapkan
pembelajaran blended learning yang berulang ide untuk menggambar bentuk visual mengalami
setiap pertemuannya dapat meningkatkan peningkatan dari 1 subjek menjadi 4 subjek. Hal
kemampuan komunikasi matematis. Penemuan ini mengindikasikan penggunaan istilah dan
ini didukung oleh pengamatan dan adanya notasi matematis oleh siswa dalam pertemuan
peningkatan uji N-Gain dengan hasil skor subjek berikutnya semakin baik. Didukung oleh
PDT-01 sebesar 0,792 (tinggi), subjek PDT-07 penelitian dari beberapa ahli seperti Westover
sebesar 0,795 (tinggi), subjek PDS-01 sebesar dan Westover (2014) dan Moayeri (2014) yang
0,700 (sedang), dan subjek PDS-09 sebesar 0,734 mengatakan bahwa dengan belajar melalui
(tinggi). Dengan rata-rata skor N-Gain adalah internet dapat meningkatkan kemampuan siswa.
0,755 yang tergolong tinggi. Temuan penelitian
terhadap kemampuan komunikasi matematis
siswa dalam blended learning disajikan pada
Tabel 1.

Tabel 1. Kemampuan Komunikasi Matematis


Siswa dalam Blended learning
Indikator Hasil Analisis Online I Offline I Online III Offline III
Dapat menentukan hal yang
Mengungkapkan PDT-01, PDT-01,
diketahui, ditanyakan, ide PDT-07, PDT-07,
ide matematis PDT-07, PDS-01,
penyelesaian, dan langkah PDS-01 PDS-01
melalui lisan PDS-09 PDS-09
penyelesaian dengan tepat dan (2 subjek) (2 subjek)
dan tulisan (3 subjek) (3 subjek)
lengkap
PDT-01, PDT-01,
Menggambarkan PDT-07,
PDT-07, PDT-07,
ide matematis Dapat menggambar bentuk visual PDT-07 PDS-01,
PDS-01, PDS-01,
dalam bentuk dengan tepat dan lengkap (1 subjek) PDS-09
PDS-09 PDS-09
visual (3 subjek)
(4 subjek) (4 subjek)
PDT-01, PDT-01,
Menggunakan PDT-07, PDT-07,
Dapat menggunakan istilah dan PDT-07, PDT-07,
istilah dan PDS-01, PDS-01,
notasi matematis untuk PDS-01, PDS-01,
notasi PDS-09 PDS-09
menyelesaikan soal dengan tepat PDS-09 PDS-09
matematis (3 subjek) (3 subjek)
(4 subjek) (4 subjek)
Pendekatan blended learning dalam
penelitian ini terdiri dari dua pembelajaran yang
saling mendukung yaitu pembelajaran online
dan offline. Aplikasi Line digunakan untuk
menunjang pembelajaran online sedangkan

19
Afria Alfitri Rizqi, et al. / Unnes Journal of Mathematics Education Research Volume 5 (1) (2016)

siswa lebih aktif sehingga siswa dapat


mengungkapkan pendapatnya dengan berani
(Marlina, ddk., 2014).
PDT-01 Guru harus menyadari karakteristik
komunikasi siswanya untuk menciptakan kelas
yang komunikatif (Herheim, 2015). Selama
PDS-09 pembelajaran online, siswa mengkomunikasikan
ide-ide matematis yang dimiliki untuk menggali
Gambar 1. Obrolan grup online pertemuan ketiga pengetahuannya agar dapat menemukan konsep
melalui LKS online. Sehingga pada saat
Siswa telah belajar dan berdiskusi melalui pembelajaran offline diharapkan siswa sudah
pembelajaran online, selanjutnya siswa lebih mempunyai konsep matematika yang siap
antusias dan lebih memahami konsep diterapkan dalam penyelesaian LKS offline.
matematika yang dipelajari saat pembelajaran Apabila saat pembelajaran online siswa
offline. Tahap Think terjadi saat siswa dan guru mengalami kendala, maka dalam pembelajaran
membahas apa yang telah dipelajari siswa offline-lah siswa dapat mengatasi kendala
selama pembelajaran online dan tersebut. Begitu pula jika siswa mengalami
mengklarifikasikan konsep materi yang telah hambatan saat pembelajaran offline siswa dapat
dipelajari siswa. Pada tahapan Talk siswa menuangkannya dalam pembelajaran online.
berdiskusi dengan kelompok heterogen untuk Temuan penelitian terkait tentang
menyelesaikan persoalan di LKS offline. Dalam kemampuan komunikasi matematis ditinjau dari
tahap Write terdapat peningkatan jumlah subjek kepercayaan diri siswa yang disajikan pada
yang dapat menggambarkan hasil transformasi Gambar 2.
dengan tepat dan lengkap. Sehingga subjek ini
dapat dikatakan telah menggunakan istilah dan
notasi matematis dengan baik. Dalam
pembelajaran offline ini terlihat peningkatan 100%
jumlah subjek dari pertemuan pertama dan
50% 1
ketiga dalam mengungkapkan ide matematis
melalui lisan dan tulisan. 0%
2
Pembelajaran yang dilakukan secara 3
berturut-turut antara pembelajaran online
dilanjutkan kembali dengan pembelajaran
offline menjadikan blended learning dapat Keterangan :
1 : Mengungkapkan ide matematis melalui lisan dan tulisan
meningkatkan kemampuan komunikasi 2 : Menggambarkan ide matematis dalam bentuk visual
matematis siswa. Rata-rata skor uji N-Gain dari 3 : Menggunakan istilah dan notasi matematis

keempat subjek menunjukkan bahwa Gambar 2. Kemampuan komunikasi


peningkatan kemampuan komunikasi matematis matematis subjek penelitian
siswa sebelum dan sesudah pembelajaran
blended learning tergolong tinggi dengan skor Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
0,755. Hal ini dikarenakan blended learning subjek dengan kepercayaan diri tinggi pada
sebagai lingkungan yang kondusif dalam indikator mengungkapkan ide-ide matematis
mengkomunikasikan ide-ide matematis siswa. melalui lisan dan tulisan, menggambarkan ide-
Lingkungan yang memadai adalah lingkungan ide matematis dalam bentuk visual, dan
yang membuat siswa lebih nyaman dalam menggunakan notasi dan istilah matematis
mengungkapkan gagasannya dengan leluasa untuk menyajikan ide-ide matematis
(Clark dan Jennifer, 2005). Kondisi terkategorikan sangat tinggi dengan prosentase
pembelajaran blended learning yang menjadikan sebesar 90%. Subjek kategori kepercayaan diri
tinggi mampu mengungkapkan ide matematis

20
Afria Alfitri Rizqi, et al. / Unnes Journal of Mathematics Education Research Volume 5 (1) (2016)

dengan baik. Prosentase subjek PDT-01 dalam Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
menentukan ide yang digunakan untuk subjek dengan kepercayaan diri sedang pada
menyelesaikan soal dengan benar dan lengkap indikator mengungkapkan ide-ide matematis
sebesar 100% yang tergolong sangat tinggi melalui lisan dan tulisan, menggambarkan ide-
sedangkan prosentase subjek PDT-07 sebesar ide matematis dalam bentuk visual, dan
60% yang tergolong tinggi. Seperti yang terlihat menggunakan notasi dan istilah matematis
pada Gambar 3, subjek PDT-01 selalu untuk menyajikan ide-ide matematis
menyertakan rumus yang akan digunakannya terkategorikan tinggi. Hal ini ditunjukkan pada
untuk menyelesaikan soal. Berbeda dengan rata-rata prosentase kedua subjek sebesar
subjek PDT-07 yang menggunakan analisa 76,66%. Sehingga subjek PDS-01 dan PDS-09
geometris beserta penjelasannya namun subjek mampu memenuhi indikator kemampuan
tidak menuliskan ide rumus yang akan komunikasi matematis dengan baik. Subjek
digunakan. kategori kepercayaan diri sedang mampu
mengungkapkan ide matematis dengan rata-rata
PDT-01 dan PDT-07 prosentase sebesar 75% yang terkategorikan
tinggi. Prosentase indikator mengungkapkan ide
matematis oleh subjek PDS-01 sebesar 80%
PDT-01 sedangkan prosentase subjek PDS-09 sebesar
70%. Ide matematis yang ditentukan kedua
subjek digunakan dengan baik untuk
menyelesaikan soal sehingga mampu
PDT-07
menyelesaikan 4 soal dengan benar.
Gambar 3. Kutipan hasil pekerjaan subjek Penggunaan istilah dan notasi matematis oleh
subjek dengan kepercayaan diri sedang
Keberhasilan subjek dalam menentukan tergolong baik dengan rata 75% berpengaruh
ide berpengaruh terhadap hasil penyelesaian dalam menyajikan hasil gambar pentagon yang
yang diberikan. Subjek PDT-01 mampu terlihat pada Gambar 4. Kedua subjek mampu
menyelesaikan semua soal dengan benar dalam menggambarkan ide-ide matematis dalam
sedangkan subjek PDT-07 mampu bentuk visual dengan tepat dan lengkap.
menyelesaikan 3 soal dengan benar. Subjek
kepercayaan diri tinggi mampu menggambarkan
ide matematis dalam bentuk visual dengan
prosentase subjek PDT-07 sebesar 100% dan
subjek PDT-01 sebesar 80%. Hal ini terlihat dari
5 soal yang diberikan, subjek PDT-01 hanya
mampu menggambarkan bentuk visual dari 3
soal dengan tepat dan lengkap. Subjek PDT-01
mengakui kurang telitinya subjek saat PDS-01
menggambar pentagon dan persamaan garis PDS-09
dalam komposisi transformasi. Sedangkan Gambar 4. Kutipan hasil pekerjaan subjek PDS-
subjek PDT-07 mampu menggambarkan bentuk 01 dan PDS-09
visual dari semua soal dengan tepat dan
lengkap. Subjek dengan kepercayaan diri tinggi Dapat disimpulkan bahwa kemampuan
mampu menggunakan istilah, notasi dan komunikasi matematis siswa yang mempunyai
strukturnya untuk menyajikan ide-ide matematis kepercayaan diri tinggi maupun sedang
dengan tepat. Hal ini ditunjukkan prosentase tergolong baik. Self-confidence (percaya diri)
kedua subjek adalah 100% yang dikategorikan mempunyai peranan penting bagi siswa agar
sangat tinggi. berhasil dalam belajar matematika (Yates, 2002;

21
Afria Alfitri Rizqi, et al. / Unnes Journal of Mathematics Education Research Volume 5 (1) (2016)

Hannula, Maijala, Pehkonen, 2004). Didukung tergolong baik. Pembelajaran offline dan online
penelitian dari Jahani dan Behzadi (2014) yang yang dilaksanakan secara bergantian dapat
menyimpulkan bahwa ada hubungan kuat mengungkapkan ide-ide matematis siswa
antara percaya diri dan kemampuan melalui lisan dan tulisan dengan benar. Hal ini
matematika. Sehingga semakin tinggi ditunjukkan bahwa siswa mampu memahami
kepercayaan diri seseorang maka kemampuan dan menulis apa yang menjadi informasi dari
matematika siswa juga akan semakin soal, menuliskan apa yang ditanyakan serta
meningkat. Seseorang dapat dikatakan dapat menemukan ide untuk menyelesaikan soal
mempunyai kepercayaan diri apabila ia yang diberikan. Selanjutnya siswa dapat
memiliki keyakinan akan kemampuan yang menggambarkan ide matematis tersebut ke
dimiliki dalam mengatasi permasalahan. dalam bentuk visual dengan tepat dan lengkap,
Sehingga dalam menghadapi permasalahan, serta siswa mampu menggunakan istilah dan
siswa yang mempunyai rasa percaya diri sedang notasi matematis dengan tepat untuk
maupun tinggi dapat mengungkapkan ide-ide menyajikan ide matematis.
matematis melalui lisan dan tulisan, Kemampuan komunikasi matematis
menggambarkan ide-ide matematis dalam siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi
bentuk visual, dan menggunakan notasi dan terkategorikan sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan
istilah matematis untuk menyajikan ide-ide bahwa (1) siswa mampu mengungkapkan ide-ide
matematis dengan baik. matematis melalui lisan dan tulisan secara
Menurut Tandiling (2012) belajar dengan koheren dan jelas; (2) siswa sangat mampu
kepercayaan diri yang dimiliki dapat digunakan menggambarkan ide-ide matematis dalam
untuk berpikir agar siswa berani mengemukakan bentuk visual seperti grafik, diagram, geometris,
gagasan baru. Penelitian yang dilakukan dan lainnya dengan tepat dan lengkap; (3) siswa
Widyaningrum (2015) menyimpulkan bahwa sangat mampu menggunakan istilah, notasi, dan
subjek yang mempunyai kepercayaan diri struktur matematika dengan tepat. Sedangkan
sedang maupun tinggi dapat mengungkapkan kemampuan komunikasi matematis siswa yang
pendapatnya dalam diskusi kelas. Dalam memiliki kepercayaan diri sedang terkategorikan
penelitian ini subjek PDT-07 dan PDS-09 yang tinggi. Hal ini ditunjukkan bahwa (1) siswa
mengungkapkan ide matematisnya dalam mampu mengungkapkan ide-ide matematis
bentuk penyelesaian geometris. Hasil melalui lisan dan tulisan secara koheren dan
wawancara dan tertulis menunjukkan mereka jelas; (2) siswa sangat mampu menggambarkan
dapat menyelesaikan soal dengan benar dengan ide-ide matematis dalam bentuk visual; (3) siswa
menganalisis penyelesaian soal secara geometris mampu menggunakan istilah, notasi, dan
dan tanpa menggunakan rumus yang biasa struktur matematika dengan tepat.
dilakukan oleh siswa lain. Kedua subjek yang Guru perlu memberikan pengarahan dan
mempunyai kepercayaan diri tinggi maupun membiasakan siswa dalam mengungkapkan ide-
sedang ini dapat menggunakan istilah dan notasi ide matematisnya terutama terhadap siswa
yang tepat. Hal ini ditunjukkan pada dengan kepercayaan diri sedang. Misalnya
penggunaan titik-titik koordinat yang diperoleh dalam menentukan ide yang akan digunakan
subjek dapat digunakan untuk memperoleh hasil beserta rumus untuk menyelesaikan soal,
bayangan yang diinginkan. Sehingga kedua menuliskan langkah-langkah penyelesaian soal
subjek ini dapat menggambar bentuk visual dengan lengkap. Sehingga siswa tidak hanya
dengan tepat. dapat menyelesaikan soal maupun menggambar
bentuk visualnya namun dapat
SIMPULAN mengkomunikasikan ide matematisnya kepada
orang lain.
Kemampuan komunikasi matematis
siswa dalam pembelajaran blended learning

22
Afria Alfitri Rizqi, et al. / Unnes Journal of Mathematics Education Research Volume 5 (1) (2016)

DAFTAR PUSTAKA Education Trends and Research, 2014(2014):


1–10.
Bonk, C. J. & Graham, C. R. 2005. Handbook of NCTM. 2000. Principles and Standards for School
Blended learning: Global Perspectives, Local Mathematics. Reston: NCTM.
Design. New York: Pfeiffer Publishing. Sokoine, S. C. K. 2015. “The Perceived
Budiharti, R., Ekawati. E.Y., Pujayanto, Importance of Communication Skills
Wahyuningsih. D., & Fitria, F. 2015. Courses among University Students: The
“Penggunaan Blended learning dengan Case of Two Universities in Tanzania”.
Media Moodle untuk Meningkatkan Jurnal International Journal of Education and
Kemampuan Kognitif Siswa SMP”. Research, 3(2): 497–508.
Cakrawala Pendidikan, 34(1): 140–148. Sukarno. 2011. “Blended learning Sebuah
Clark, K. K., Hilda B., & Jennifer J. 2005. Alternatif Model Pembelajaran
“Strategies for Building Mathematical Mahasiswa Program Sarjana (S-1)
Communication in the Middle School Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan”.
Classroom: Modeled in Professional Jurnal Didaktika Dwija Indria (SOLO), 1(2):
Development, Implemented in the 1–11.
Classroom”. Current Issues in Middle Level Tandiling, E. 2012. “Pengembangan Instrumen
Education, 11(2): 1–12. untuk Mengukur Kemampuan
Garrison, D. R. & Kanuka, H. 2004. “Blended Komunikasi Matematik, Pemahaman
learning: Incovering its Transformative Matematik, dan Self Regulated Learning
Potential in Higher Education”. Internet Siswa dalam Pembelajaran Matematika
and Higher Education, 7(2): 95–105. di Sekolah Menengah Atas”. Jurnal
Hannula, M. S., Maijala, H., & Pehkonen, E. Penelitian Pendidikan, 13(1): 24–35.
2004. “Development of Understanding Wahyuni, S. 2014. “Hubungan antara
and Self-Confidence in Mathematics; Kepercayaan Diri dengan Kecemasan
Grades 5–8”. Proceedings of the 28th Berbicara di Depan Umum pada
Conference of the International Group for the Mahasiswa Psikologi”. eJournal Psikologi,
Psychology of Mathematics Education, 3(28): 2(1): 50–64.
17-24. Westover, J. H. & Westover J. P. 2014.
Herheim, R. 2015. “Managing Differences by “Teaching Hybrid Courses Across
Focusing on Communication Qualities: Disciplines: Effectively Combining
Pupils Learning Mathematics in Pairs at a Traditional Learning and e-Learning
Computer”. Journal of Mathematical Pedagogies”. Jurnal International Journal of
Behavior, 38(2015): 101–116. Information and Education Technology, 4(1):
Jahani, F. & Behzadi, M. H. 2014. “Effect of 93–96.
Self-Believe of Students on Educational Widyaningrum, D., Mariani, S., & Sutikno.
Progress of Mathematics”. Jurnal 2015. “Analysis of Student‟s Confidence
Mathematics Education Trends and Research, and Mathematical Communication in
2014(2014): 1–8. Reciprocal Teaching with Media
Marlina, Ikhsan, M., & Yusrizal. 2014. „Wayang‟”. Proceeding. International
“Peningkatan Kemampuan Komunikasi Conference on Mathematics, Science, and
dan Self-Efficacy Siswa SMP dengan Education 2015 at Semarang State
Menggunakan Pendekatan Diskursif”. University. Semarang, 5 – 6 September
Jurnal Didaktik Matematika, 1(1): 35 – 45. 2015.
Moayeri, M. 2014. “Impact of Web-Based Yates, S. M. 2002. “The Influence of Optimism
Learning with a Problem-Solving and Pessimism on Student Achievement
Approach on Logical Thinking in Mathematics”. Mathematics Education
Development”. Jurnal Mathematics Research Journal, 14(1): 4–15.

23