Anda di halaman 1dari 27

KARAKTERISTIK GURU UNTUK ANAK

PESERTA DIDIK BERBAKAT

Perspektif Pendidikan Anak Berbakat

Dr. Indina Tarjiah, M.Pd.

Kelompok 5 :

Jumeroh (1102617110)

Reza Rizky Prayudha (1102617067)

Ridha Aulia (1102617001)

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Jakarta

2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum w.r.w.b.

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa

pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya

dengan baik.

Makalah “Karakteristik Guru untuk Anak Peserta Didik Berbakat” ini

disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang karakteristik guru yang

mengajar untuk anak peserta didik berbakat, yang kami sajikan berdasarkan

pengamatan dari berbagai sumber. Puji syukur makalah ini dapat selesai tepat

waktu. Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas

kepada pembaca, Terimakasih.

Jakarta, Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB 1: PENDAHULUAN ............................................................................. 1

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1

B. Tujuan Penulisan .................................................................................. 1

C. Sistematika Pembahasan ...................................................................... 2

BAB II: PEMBAHASAN............................................................................... 3

A. p ............................................................................................................ 3

B. e ............................................................................................................ 4

C. z ............................................................................................................ 5

D. z ............................................................................................................ 9

BAB III: KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 16

A. Kesimpulan........................................................................................... 16

B. Saran ..................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 1

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Guru merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan

pembelajaran seorang anak. Guru memberikan pembelajaran kreatif yang

disesuaikan dengan kurikulum yang telah ada. Bukan hanya sebagai pengajar,

guru pun berperan aktif dalam pembentukkan karakter. Belajar bersama guru yang

profesional dan menyenangkan akan memudahkan murid untuk berkembang lebih

baik.

Anak berbakat adalah segelintir anak dengan bakat yang luar biasa baik

dalam bidang akademik maupun non akademik. Mendidik seorang anak berbakat

memiliki poin plus dan minusnya tersendiri. Menjadi guru untuk anak berbakat

sebenarnya sama saja dengan guru pada umumnya, guru yang mendidik dan

menjadi suri tauladan bagi anak. Guru harus mengenal anak didiknya secara baik.

Agar mempermudah guru melakukan pengajaran terhadap anak berbakat,

sebenarnya Indonesia telah menyediakan layanan khusus untuk anak berbakat

yang disebut kelas akselerasi atau kelas percepatan untuk mengoptimalkan

kemampuan siswa. Di Indonesia kesadaran ini telah ada dengan ditetapkannya

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV

pasal 5 ayat 4 yang menyatakan bahwa “Warga negara yang memiliki potensi

kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.” Dan

pasal 12 ayat 1 yang menegaskan “Setiap peserta didik pada setiap satuan

pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat

1
dan kemampuannya; serta menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan

kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas

waktu yang ditetapkan.”1

B. Tujuan Penulisan

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah : menguraikan tentang

karakteristik guru untuk anak berbakat.

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini

adalah sebagai berikut :

 Ingin memperoleh gambaran umum mengenai pengertian dari anak

berbakat.

 Ingin mengetahui peran guru yang sebenarnya

 Mencari lebih lanjut karakteristik guru yang sesuai untuk anak berbakat

 Mengetahui cara guru menghadapi masalah yang dihadapi oleh anak-anak

berbakat

 Masalah yang akan dihadapi guru anak peserta didik berbakat

C. Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan dalam penulisan makalah ini, maka terlebih dahulu

penulis membagi menjadi tiga bab, yaitu pendahuluan, pembahasan masalah,

kesimpulan dan saran. Sistematika selengkapnya adalah sebagai berikut :

 Bagian pertama pendahuluan, di dalamnya terdiri dari; latar belakang,

tujuan penulisan, dan sistematika pembahasan.

1
Diah Sekar Ayu Rena Putri, dkk. Perbedaan Sosialisasi Antara Siswa Kelas Akselerasi dan
Kelas Reguler dalam Lingkungan Pergaulan di Sekolah. (Yogyakarta: Tanpa Penerbit, 2005),
hlm. 29

2
 Bagian kedua pembahasan masalah yang terdiri dari; pengertian anak

berbakat, pengertian guru profesional, paradigma peran guru, .

 Bagian ketiga berisi kesimpulan dari pembahasan pada bab II, dan saran-

saran.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Berbakat

Batasan anak berbakat secara umum adalah “mereka yang karena memiliki

kemampuan-kemampuan yang unggul mampu memberikan prestasi yang tinggi”.

Istilah yang sering digunakan bagi anak-anak yang memiliki kemampuan

kemampuan yang unggul atau anak yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata

anak normal, diantaranya adalah; cerdas, cemerlang, superior, supernormal,

berbakat, genius, gifted, gifted and talented, dan super.

Istilah yang paling terkenal untuk anak berbakat adalah gifted and

talented. Gifted and talented atau biasa disebut anak yang memiliki kecerdasan

dan bakat istimewa. Istilah gifted merujuk pada kepemilikan potensi istimewa di

dalam satu atau lebih domain kemampuan. Sedangkan talented adalah prestasi

istimewa yang dalam hal ini merupakan bentuk tampilan langsung dari potensi

istimewa (gifted) tersebut, yang merupakan hasil dari proses belajar, baik bersifat

formal maupun informal. Seorang gifted belum tentu genius (superior), tapi

seorang genius sudah pasti gifted.2 Definisi mengenai anak berbakat sangat

beragam. Keragaman itu tergantung pada perkembangan pandangan masyarakat

terhadap cerdas dan berbakat. Berikut beberapa definisi singkatnya:

2
Sitiatava Rizema Putra. Panduan Pendidikan Berbasis Bakat Siswa. (Yogyakarta:Diva Press,
2013), hlm. 19

4
1. Robert Sternberg dan Robert Wagner (1982)

Berbakat menurut definisi mereka adalah sebagai a kind of mental self

management. Menejemen mental kehidupan seseorang yang konstruktif dan

bertujuan mempunyai tiga elemen dasar, yaitu mengadaptasikan diri pada

lingkungan, memilih lingkungan baru, dan membentuk lingkungan.

2. Clark (1986)

Keberbakatan adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang

dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan.

Keberbakatan ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan

tempat seseorang yang berbakat itu hidup Dilihat dari sudut pandang dimensi

ganda, keberbakatan adalah kemampuan untuk kerja yang tinggi di dalam aspek

intelektual, kreativitas, atau suatu bidang akademik tertentu. Dalam konsep luas

dan terpadu, berbakat adalah kemampuan akademik superior. Yang kecakapan

untuk kerjanya ditampilkan oleh konsistensi.

3. Renzulli (2002),

Keberbakatan menurut teorinya yang disebut “Three Dimensional Model”

atau “Three-ring Conception” tentang keberbakatan. Keberbakatan mencakup tiga

dimensi yang saling berkaitan,yaitu (a) kecakapan di atas rata-rata, (b) kreativitas,

dan (c) komitmen pada tugas.3

Untuk kecakapan diatas rata-rata sepertinya semua orang telah menyetujui

hal itu sebagai hal yang menunjukkan keberbakatan seseorang. Namun dalam

3
Sitiatava Rizema Putra. Panduan Pendidikan Berbasis Bakat Siswa. (Yogyakarta:Diva Press,
2013), hlm. 19

5
posisi keberbakatan dalam kreatif dan komitmen sering kali diabaikan di sekolah

yang terutama mengandalkan tes tradisional tentang kepintaran, kecerdasan dan

prestasi. Karya Renzulli ini merangsang sekolah untuk memasukkan lebih banyak

peluang bagi siswa berbakat untuk mengekspresikan kreativitas di dalam program

mereka.4

Kecerdasan tidak melulu untuk keuntungan pribadi saja. Penulis terkenal

Howard Gardner, telah mendefinisikan sebagai kemampuan untuk menciptakan

suatu hasil yang berguna di masyarakat. Yaitu, Verbal (kemampuan untuk

menggunakan kata dan bahasa), matematika (kapasitas untuk berfikir secara

induktif dan deduktif, menggunakan angka dan pengenalan pola abstrak), Spasial

(kemampuan memvisualisasikan objek), kinestetik (kemampuan mengendalikan

gerak tubuh), musikal (kemampuan mengenal pola-pola nada dan suara),

antarpersonal (kemampuan komunikasi), intrapersonal ( Kemampuan mengenali

diri sendiri), dan naturalis (Kemampuan menggunakan intuisi).

Jika ciri-ciri anak berbakat sesuai dengan konsep multi dimensional, maka

ciri-ciri mereka juga beragam. Bergantung tingkat intelegensi dan talenta mereka

masing-masing yang antara seorang dengan yang lain tidak sama. Tetapi ada

kecenderungan atau ciri umum yang sama pada mereka, terutama ciri penonjolan

intelegensinya.

Menurut Semiawan dkk. (Semiawan, Munandar, 1984) anak berbakat

berbeda dengan anak pintar. "Bakat berarti punya potensi, sedangkan pintar bisa

didapat dari tekun mempelajari sesuatu, tapi meski tekun namun tak berpotensi,

4
David A. Sousa. Bagaimana Otak yang Berbakat Belajar ( Jakarta: Indeks, 2012), hlm. 17.

6
seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. Kalau anak tak

berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun, ya,

kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang Sebaliknya, jika anak

berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, dia pun tak akan berkembang."

Ciri-ciri anak berbakat memiliki dua macam sifat, positif dan negatif.

Mereka mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jadi, yang ada adalah

kecenderungan-kecenderungan tertentu. Bakat dimiliki seseorang hanya akan

dapat berkembang baik jika lingkungan sekitarnya mendukung berkembangnya

keberbakatan yang dimilikinya, sebaliknya seberapapun besar bakat yang dimiliki

individu, akan tetapi lingkungannya tidak kondusif bagi berkembangnya

bakatnya, maka bakat yang telah ada tidak dapat berkembang secara optimal.

Bahkan mungkin akan hilang begitu saja. Pada sisi ini, peran berbagai pihak

seperti orang tua, guru dan layanan pendidikannya pada anak berbakat, agar

keberbakatan yang dimiliki individu dapat berkembang sesuai dengan yang

seharusnya.

Seperti yang diungkapkan Howard Gardner, “Kecerdasan adalah potensi,

bisa dianggap potensi pada level sel yang dapat atau tidak dapat diaktifkan,

tergantung pada nilai dari suatu kebudayaan tertentu, kesempatan yang tersedia

dalam kebudayaan itu dan keputusan yang dibuat oleh pribadi dan atau

keluarganya, guru sekolah dan lainnya”.5

B. Peran Guru yang Sebenarnya

5
Adi W Gunawan. Genius Learning Strategy, Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelarated
Leraning. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 108.

7
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru.

Gurulah yang menjadi bagian terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya

manusia. Guru berhadapan langsung dengan peserta didik dikelas melalui proses

belajar mengajar. Di tangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang

berkualitas baik secara akademik, keahlian, kematangan emosional, dan moral

serta spiritual. Dengan demikian akan dihasilkan generasi masa depan yang siap

hidup dengan tantangan zamannya.

Menurut Kemendiknas (2001), Tilaar (2002) mengindikasikan bahwa guru

adalah figur inspirator dan motivator dalam mengukir masa depan suatu bangsa.

Jika guru mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak didiknya,

maka guru akan menjadi kekuatan pesertadidik dalam mengejar cita-cita hidupnya

di masa depan. Thondike (1989) mengatakan :“Not any one Country can be build

the Nation never investment of Education”. Tidak satu bangsapun dapat

membangun bangsanya tanpa membangun/ menginvestasikan pendidikan terlebih

dahulu.

Guru menjalankan tugasnya sebagai orang tua ke dua, guru mempunyai

banyak sekali peran penting, diantaranya:

1. Guru Sebagai Organisator. Guru memiliki peran sebagai pengelola

kegiatan akademik, penyusun tata tertib, penyusun kalender

pendidikan dan sebagainya.

2. Guru Sebagai Demonstrator. Guru hendaknya senantiasa menguasai

materi ajar dan senantiasa mengembangkan dan meningkatkan

kemampuan yang dimilikinya. Ini berarti bahwa guru harus belajar

dan terus belajar.

8
3. Guru Sebagai Pembimbing. Guru harus membimbing, secerdas

apapun siswa, masih tetap membutuhkan bimbingan guru.

4. Guru Sebagai Fasilitator. Guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas

yang memungkinkan kemudahan belajar bagi peserta didik.

5. Guru Sebagai Motivator. Guru hendaknya dapat mendorong anak

didik agar semangat dan aktif belajar.

6. Guru Sebagai Evaluator. Guru dituntut untuk menjadi seorang

penilaian yang baik dan jujur.

Beberapa peran yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari

sekian banyak peran yang dimiliki seorang guru. Ini merupakan peran semua

guru, guru reguler, guru anak berbakat, dan guru lainnya. Dengan mengemban

tugas menjadi seorang ‘guru’, maka mau tak mau harus menjalankan tugasnya

tersebut dengan kebanggaan penuh.

Peran guru inilah yang diharap akan mempertahankan atau bahkan

menaikkan prestasi anak didiknya. Robert Rosenthal dalam bukunya Pygmalion in

the Classroom menunjukkan bagaimana pengharapan guru dapat membantu

meningkatkan prestasi murid.

C. Guru untuk Anak Berbakat

Untuk menangani anak berbakat di Sekolah, tentunya membutuhkan guru-

guru yang memiliki kemampuan yang khusus. Dalam hal ini David G. Armstrong

And Tom V. Savage (1983; 334) mengutip pendapat James O. Schnur (1980)

9
sebagai berikut; “most descriptions of capable teachers of the gifted and talented”.

Deskripsi kemampuan guru yang dimaksud adalah sebagai berikut :6

1. Memiliki kematangan dan keamanan.

Rasa aman disini didefinisikan sebagai suatu perasaan nyaman dan aman

saat berada dalam suatu kelompok. Perasaan aman ini melibatkan suatu perasaan

akan kepastian. Murid yang merasa aman, baik secara fisik maupun psikologis

(mental atau emosional), akan bersedi mengambil resiko. Resiko ini termasuk

resiko “gagal dalam proses pembelajaran.

Murid yang tidak merasa aman dalam lingkungan kelas akan berusaha

menghindari proses pembelajaran dan merasa tidak suka dengan pengalaman baru

yang berhubungan dengan pembelajaran. Gejala lain dari perasaan tidak aman

yaitu rasa tidak percaya dan tidak suka terhadap guru.

Tips menciptakan rasa aman: 7

 Guru merancang proses pembelajaran menjadi bagian-bagian kecil

yang terukur dan mudah dimengerti.

 Guru memperhatikan bahasa lisan yang digunakan dalam

komunikasi dengan anak didik dan bagaimana memberikan

jawaban yang tepat dari pertanyaan murid.

 Guru memberikan penilaian secara positif, hitung yang benar

bukan yang salah.

6
Nandi Warnandi. Layanan Pendidikan Anak Berbakat pada Sekolah Dasar (Bandung, Tanpa
Penerbit), hlm. 18.
7
Adi W Gunawan. Genius Learning Strategy, Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelarated
Leraning. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 325.

10
 Memperkuat perilaku positif dengan memberikan pujian.

 Melakukan aktivitas bersama untuk menguatkan rasa percaya diri.

 Guru menyiapkan diri dengan baik untuk menghadapi

kemungkinan perilaku murid yang kurang baik.

 Guru lebih banyak memberikan tantangan bukan tekanan.

 Memperkuat proses belajar

2. Memiliki kreatifitas dan fleksibilitas.

Anak berbakat adalah anak yang kreatif, gurunya pun perlu setidaknya

mengimbangi kreativitas anak berbakat. Bagaimana caranya guru memberi

kehidupan pada materi ataupun suasana kelas yang membosankan. Cukup sedikit

pemikiran kreatif, guru akan mampu membuat murid belajar dengan penuh

antusias. Sebenarnya tidak ada pelajaran yang membosankan, yang benar adalah

guru yang membosankan karena tidak mengerti cara menyajikan materi yang

benar, baik, menyenangkan dan menarik minat peserta didik.

Fleksibelitas disini kemampuan komunikasi yang baik. Caranya adalah

komunikasi yang efektif. Guru mengerti tanggung jawabnya dalam proses

penyampaian pemikiran, penjelasan, ide, pandangan, dan informasi. Ada tiga

elemen penting dalam komunikasi efektif, yaitu:

 Konten atau apa yang akan guru katakan, mencakup kemampuan

guru membangun hubungan dengan murid, membangkitkan

motivasi, rasa ingin tahu, dan pertanyaan.

 Penyampaian atau cara mengatakan informasi, postur, lirikan mata,

eksperi wajah.

11
 Konteks atau kondiri dan situasi yang terlibat, guru harus memiliki

kemampuan untuk mempengaruhi situasi yang membantu proses

pembelajaran.

Mengubah komunikasi berpusat pada kurikulum menjadi berpusat pada

murid. Membuat murid merasa diterima dengan mengetahui identitasnya.

3. Memiliki kemampuan mengindividualisasikan materi pelajaran.

Dalam hal mengindividualisasikan materi pelajaran, guru harus memiliki

kemampuan untuk menggunakan strategi mengajar perorangan. Menyesuaikan

pengajaran dengan keadaan peserta didik.

4. Memiliki kedalaman pemahaman terhadap pengajaran.

Karena siswanya memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa,

idealnya gurunya pun memiliki potensi kecerdasan yang istimewa pula. Namun

untuk mencapai hal tersebut nampaknya sulit untuk dicapai. Setidaknya pemilihan

guru untuk anak berbakat haruslah guru dengan kemampuan pemahaman yang

baik. Berikut beberapa syaratnya:

 Memiliki tingkat pendidikan ysng dipersyaratkan sesuai dengan

jenjang sekolah yang diajarkan, sekurang-kurangnya S1 untuk guru

SD, SMP, dan SMA.

 Mengajar sesuai dengan latar belakang kependidikannya.

 Memiliki pengalaman mengajar di kelas reguler sekurang-

kurangnya tiga tahun dengan prestasi baik.

12
 Memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang karakteristik siswa

yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa secara

umum, dan program akselerasi secara khusus.

Sebagai perwujudan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, yang membahas tentang layanan khusus peserda didik

berbakat, pemerintah Indonesia telah mengadakan kelas percepatan atau biasa

disebut kelas akselerasi.

Guru yang unggul tidak hanya dibutuhkan oleh siswa akselerasi saja tetapi

siswa reguler juga berhak dididik oleh guru yang unggul juga agar memperoleh

pelayanan yang optimal karena guru merupakan salah satu faktor dalam

keberhasilan pendidikan. Lubis (dalam Hawadi, 2004) berpendapat bahwa guru

yang mengajar program akselerasi adalah guru-guru biasa yang juga mengajar

program reguler, hanya saja sebelumnya guru-guru tersebut telah dipersiapkan

dalam suatu lokakarya dan workshop sehingga memiliki pemahaman dan

ketrampilan untuk memberikan pengajaran bagi siswa akselerasi. Retnowati

(2004) juga menjelaskan bahwa guru dalam program akselerasi ini selain harus

unggul dalam penguasaan materi dan mengajar serta memiliki komitmen dalam

tugas tetapi juga harus mampu mendidik jadi tidak hanya transfer of knowledge

tetapi juga character building.8

Sesuai penjelasan diatas, guru untuk anak berbakat ialah sama dengan guru

anak-anak reguler. Perbedaannya adalah guru anak berbakat telah khusus

8
Asmadi Alsa, dkk. Perbedaan Sosialisasi Antara Siswa Kelas Akselerasi dan Kelas Reguler
dalam Lingkungan Pergaulan di Sekolah (Yogyakarta: Tanpa penerbit, 2005), hlm. 35.

13
dipersiapkan/dilatih untuk mampu menghadapi anak berbakat. Di Indonesia, guru

adalah sosok yang ditiru oleh anak didiknya, karena itu untuk menjadi seorang

guru yang baik maka baik jika guru belajar menjadi lebih menjunjung

profesionalitas dan kenyamanan peserta didik.

1. Guru Profesional

Guru adalah salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan

perkembangan siswa. Seorang guru dalam menjalankan tugasnya haruslah

bertanggung jawab dan menjadi guru yang benar-benar profesional. Bersama guru

profesional, anak berbakat dapat ditangani dengan tepat. Lantas apakah guru

profesinal itu?

Profesinal berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan

yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesional adalah pekerjaan atau

kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan

kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang

memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi

(UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen).

Menurut Surya (2005), guru yang profesional akan tercermin dalam

pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam

materi maupun metode. Selain itu juga ditunjukkan melalui tanggug jawabnya

dalam melaksanakan seluruh pengabdian.

Guru profesional juga merupakan guru yang mengenal tentang dirinya.

Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik

dalam belajar. Guru dituntut untuk mencari tahu terus menerus bagaimana anak

14
muridnya belajar, dari yang biasa saja hingga berbakat. Jika terjadi kegagalan,

maka guru profesional akan terpanggil untuk menyelidiki dimana letak kesalahan

pembelajaran atau keadaan si anak didik. Guru setiap waktunya belajar untuk

menjadi pendidik yang lebih baik. Seorang guru yang tidak belajar, tak mungkin

kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya

adalah langkah untuk menjadi guru yang profesional.9

Guru juga harus memiliki kompetensi. Untuk dapat menjadi seorang guru

yang memiliki kompetensi maka diharuskan memiliki kemampuan untuk

mengembangkan tiga aspek kompetensi yang ada pada dirinya, yaitu kompetensi

pribadi, kompetensi profesional, dan kompetensi kemasyarakatan (Piet A.

Sahertian dan Ida Alaida Sahertian, 1990). Kompetensi pribadi adalah sikap

pribadi guru yang berjiwa pancasila, mengutamakan budaya bangsa Indonesia.

Kompetensi profesional adalah kemampuan guru menguasai akademik.

Kompetensi kemasyarakatan atau sosial adalah kemampuan sosial sebagai guru

berbaur dengan muridnya dan juga lingkungannya. Tiga kemampuan ini yang

harus dikembangkan secara baik, maka murid berbakatpun bisa dilayani dengan

maksimal.

2. Guru yang Menyenangkan

Krakteristik Guru yang disenangi oleh para siswa adalah : 10

9
Kunandar. Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007), hlm. 48-49.
10
Kunandar. Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007), hlm. 62.

15
 Demokratis, yakni guru yang memberikan kebebasan kepada anak

disamping mengadakan pembatasan-pembatasan tertentu, tidak

bersifat otoriter, dan memeberikan kesempatan kepada siswa untuk

berperan serta dalam berbagai kegiatan,

 Suka bekerjasama (Kooperatif), yakni guru yang bersifat saling

memberi dan menerima serta dilandasi oleh kekeluargaan dan

toleransi yang tinggi,

 Sabar, yakni guru yang tidak suka merah dan lekas tersinggung serta

suka menahan diri,

 Adil, yakni tidak membeda-bedakan anak didik dan memberi anak

didik sesuai dengan kesempatan yang sama bagi semuanya,

 Konsisten, yakni selalu berkata dan bertindak sama sesuai ucapannya,

 Bersifat terbuka, yakni bersedia menerima kritik dan saran serta

mengakui kekurangan dan kelemahannya,

 Suka menolong, yakni siap membantu anak-anak yang mengalami

kesulitan atau masalah tertentu,

 Ramah-tamah, yakni mudah bergaul dan disenangi oleh semua orang,

tidak sombong dan bersedia bertindak sebagai pendengar yang baik

disamping sebagai pembicara yang menarik,

 Suka humor, yakni pandai membuat anak-anak menjadi gembira dan

tidak tegang atau terlalu serius,

 Memiliki berbagai macam minat, artinya dengan bermacam minat

akan merangsang siswa dan dapat melayani berbagai macam minat

anak,

16
 Menguasai bahan pelajaran, yakni dapat menyampaikan materi

pelajaran dengan lancar dan menumbuhkan semangat di kalangan

anak,

 Fleksibel, yakni tidak kaku dalam bersikap dan berbuat serta pandai

menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Guru yang telah siap membimbing anak berbakat, telah melewati

pelatihan, dituntut pula untuk mengetahui sifat dan kebutuhan dari anak berbakat.

D. Cara Guru Menghadapi Masalah Anak Berbakat

Mengutip paparan yang diajukan Nurturing The Social Emotional

Development of Gifted Children ((Maria, Bagaimana Pendidikan yang Cocok

untuk Anak Berbakat dengan Perkembangan Disinkroni?, 11 Desember 2004)

tampak jelas betapa pada satu sisi banyak faktor yang dimiliki oleh anak berbakat

merupakan faktor kuat atau keistimewaannya, namun pada lain sisi hal tersebut

justru diprediksi akan menjadi peluang timbulnya masalah yang akan dan hams

dihadapi para anak berbakat ini. Gambarannya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Masalah Yang Mungkin Dapat Terjadi Akibat Faktor Kuat Anak Berbakat

Faktor Kuat Kemungkinan Masalah

Mudah Tidak sabaran; tidak menyukai latihan

menerima/mengingat informasi dasar

Rasa ingin tahu tinggi; mencari Bertanya yang tidak-tidak/memalukan;

yang bermakna minatnya berlebihan

Motivasi dan dalam Kemauan tinggi; tidak suka campur tangan

orang lain

17
Senang menyelesaikan masalah; Tidak suka hal-hal rutin; mempertanyakan

dapat membuat konsep, abstraksi & cara pengajaran

sintesa

Mencari hubungan sebab akibat Tidak menyukai hal yang tidak jelas dan

tidak logis, misalnya tradisi dan perasaan

Menekankan kejujuran, keadilan, Kawatir sekali akan masalah

dan kebenaran kemanusiaan

Senang mengorganisir berbagai hal Membuat peraturan remit; tampil bossy

Kosakatanya banyak; informasinya Memanipulasi menggunakan bahasa;

luas & mendalam bosan dengan teman sekolah & sebayanya

Harapan tinggi akan diri sendiri Tidak toleransi, perfeksionis, bisa menjadi

dan orang lain depresi

Kreatif/banyak akal; senang Dianggap

menggunakan caranya sendiri mengganggu dan diluar "jalur"

Konsentrasinya intensif; Lupa kewajiban dan orang lain saat sedang

mencurahkan perhatian yang besar konsentrasi; tidak suka disela/diganggu;

dan sulit dibelokkan pada hal yang keras kepala

diminati

Sensitif, empati; ingin diterima Sensitif terhadap kritik atau penolakan dari

oleh orang lain sebayanya

Energy, semangat tinggi serta Frustrasi karena tidak ada kegiatan;

sangat alert tampak seperti hiperaktif

Independen, memilih bekerja Menolak masukan dari orang tua dan guru

sendiri;

18
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anak berbakat memiliki dua sisi

yang signifikan. Bahkan dari keberbakatannya itu, tak menutup kemungkinan

terciptalah sifat negatif. Sifat negatif ini yang harus dicegah oleh orang tua dan

guru, jika sudah terlanjur maka guru sebagai orang tua ke dua pun memiliki

kewajiban untuk mengtasinya.

1. Underachievement

Underachievement dapat diartikan sebagai prestasi akademik yang rendah

dibalik kemampuan IQ yang tinggi atau berbakat.

Hal ini sudah sering terjadi disekolah, namun ironisnya banyak guru yang

tak mengetahui dan menyadari bahwa siswanya adalah underachievement. Bahkan

banyak guru yang serta merta memvonis siswa siswinya yang perprestasi rendah

dan lemah dalam bidang tertentu disebut anak “bodoh” dan bahasa buruk lainnya.

Padahal jika guru lebih peka, maka ia akan memperlakukan siswa seperti ini

dengan lebih baik. Sebab, siswa underachievement bukan berarti bodoh, justru

merupakan siswa berbakat yang mengalami masalah dengan sekolah hingga

prestasi akademiknya rendah.

Sudah banyak contoh konkret dari anak underachievement yang jenius dan

berbakat. Sebut saja Albert Einstein meskipun kisah cemerlangnya sampai

berhasil menempatkan namanya dalam seratus tokoh dunia versi Michael H. Hart

karena penemuan fenomenalnya, namun ia tak pernah mendapat ijazah sekolah.

Lalu ada Thomash Alva Edison seseorang yang dinggap bodoh dan berkelainan

mental semasa sekolah, dan di keluarkan dilanjutkan diajari ibunya sendiri malah

19
berhasil membuat lampu pijar. Begitu pula yang lainnya seperti Leonardo

Davinci, Orlando Bloom, tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi dunia.

Underachievement tergolong siswa yang kesulitan belajar di sekolah.

Memiliki taraf intelegensi tinggi, tetapi memperoleh prestasi di bawah rata-rata

bahkan rendah. Menurut Utami Munandar, 2004, underachievement adalah jika

terjadi ketidak sesuaian antara prestasi sekolah anak dan indeks kemampuannya

sebagaimana nyata dari tes, intelegensi, prestasi atau kreativitas, atau dari data

observasi.

Menurut Edy Gustian (2002), underachiever dapat disebabkan oleh faktor

lingkungan, baik lingkungan luar rumah, lingkungan rumah, maupun individu itu

sendiri.11

Disini yang akan dibahas adalah faktor guru. Guru adalah pemegang

peranan penting dalam prestasi sekolah anak, karena gurulah yang mentransfer

pengetahuan kepada anak. Cara guru memperlakukan anak didiknya dan

menyampaikan materi akan mempengaruhi prestasi yang dicapai anak.

2. Tips Menghadapi anak Underachievement

Ketika menemukan siswa yang underachievement, beberapa tips yang

bisa guru lakukan untuk menghadpinya, diantaranya yaitu:

 Membantu anak untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya.

 Memodifikasi cara mengajar sesuai dengan gaya belajar anak.

 Berikan reinforcement positif dan pujian.

11
Edy Gustian. Menangani Anak Underachiever; Anak Cerdas dengan Prestasi Rendah (Jakarta:
Puspa Swara, 2002), hlm. 156.

20
 Berikan harapan yang jelas, dan sesuai dengan tuntutan dengan

kemampuan anak

 Libatkan mentor dan role model, libatkan anggkta keluarga jika

perlu

 Gunakan metode belajar yang variatif, role play, simulasi, studi

kasus, proyek, dan lainnya.

 Ajarkan anak memejemen waktu

 Belajar dalam kelompok kecil

 Ciptakan situasi kondusif, gunakan pola belajar sama, bukan

kompetitif.

21
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

22
DAFTAR PUSTAKA

Putra. 2013. Panduan Pendidikan Berbasis Bakat Siswa. Yogyakarta: Diva Press.

Alsa, Asmadi, dkk. 2005. Perbedaan Sosialisasi Antara Siswa Kelas Akselerasi

dan Kelas Reguler dalam Lingkungan Pergaulan di Sekolah. Yogyakarta: Tanpa

Penerbit.

Ramadhan, Nuri. 2007. Tugas, Peran Kompetensi dan Tanggug Jawab Menjadi

Guru Profesional. Medan: Universitas Negeri Medan.

Hardywinoto, Tony Setiabudhi. 2003. Anak Unggul Berotak Prima. Jakarta: PT

Gramedia Pustaka Utama.

Kunandar. 2007. Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat satuan

Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo

Persada.

Gunawan, Adi W. 2004. Genius Learning Strategy; Petunjuk Praktis untuk

Menerapkan Accelerated Learning. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

23
24