Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh
Mycobacterium tuberculosis dimana sekitar 95% kasus TB dan 98% kematian
akibat TB di dunia terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga
kematian wanita akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan,
persalinan dan nifas. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang
paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien
TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal
tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangga sekitar
20-30%. Jika ia meninggal akibat TB maka akan kehilangan pendapatannya
sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan
dampak buruk secara sosial-stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat
(Depkes RI, 2006).
Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:
1. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara
negara yang sedang berkembang.
2. Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh:
 Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
 Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh
masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak
terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan
pelaporan yang standar, dan sebagainya).
 Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang
tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis)
 Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG.
 Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami
krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.
3. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan
perubahan struktur umur kependudukan.
2

4. Dampak pandemi infeksi HIV (Depkes, 2006).


Ada sekitar delapan juta penderita baru tuberkulosis di seluruh dunia
dalam setahunnya, dan hampir tiga juta orang yang meninggal setiap
tahunnya akibat penyakit ini. Paling sedikit satu orang akan terinfeksi
Tuberkulosis setiap detik, dan setiap sepuluh detik ada satu orang yang mati
akibat Tuberkulosis. Banyak orang mempertanyakan gambaran tuberkulosis di
masa mendatang. Dye menyatakan bahwa bila situasi penanggulangan
tuberkulosis tetap bertahan seperti sekarang, maka jumlah kasus tuberkulosis
pada 2020 akan meningkat menjadi 11 juta orang. Peneliti lain, Pil Heu (1998)
menyatakan bahwa insidens tuberkulosis akan terus meningkat dari 8,8 juta
kasus pada 1995 menjadi 10,2 juta kasus pada tahun 2000 dan 11,9 juta kasus
tuberkulosis baru pada tahun 2005 (Eddy W, 2004).
Situasi TB di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat
dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan terutama pada negara yang
dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden
countries). Menyikapi hal tersebut pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB
sebagai kedaruratan dunia (global emergency).
Gambar 1.1: Insidens TB di dunia (WHO, 2004)

Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.


Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah
India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari jumlah total pasien TB
di dunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru
dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per
100.000 penduduk (Depkes, 2006).
3

Di Jawa Tengah penemuan tersangka TB (klinis) dari tahun 2003 ke


2004 terjadi kenaikan yang cukup tinggi (57%) berarti jangkauan pelayanan
TB di UPK (Puskesmas, BP4 dan Rumah Sakit) sudah ada peningkatan,
begitu juga pada penemuan penderita BTA positif. Angka penemuan penderita
di Jawa Tengah tahun 2003 dan tahun 2004 terjadi peningkatan penemuan
penderita BTA positif walaupun angka tersebut masih jauh dibawah target
<70%, namun ada beberapa Kabupaten/Kota yang pencapaian penemuan
penderita diatas 60% karena target tahun 2004 adalah 60% yaitu Kota
Pekalongan 94,44 %, Kabupaten Pekalongan 77,18 %, Kabupaten Tegal 66,52
%, Kota Tegal 63,87 % dan Kota Surakarta 60,07 %. Hal tersebut dikarenakan
belum semua UPK (Unit Pelayanan Kesehatan) khususnya di Rumah Sakit
belum semua mengikuti program TBC dengan strategi DOTS sehingga belum
teregistrasi.
Angka kesembuhan (cure rate) di Jawa Tengah masih dibawah
target < 85 %, namun angka kesembuhan dari tahun 2003 ke tahun 2004 (s/d
triwulan ke 2) terjadi peningkatan, bila dilihat dalam satu tahun 2004 belum
bisa diketahui karena sistem kohort sehingga evaluasinya setiap tribulan. Di
Jawa Tengah angka kesembuhan penderita yang diobati di Puskesmas dan BP4
tahun 2004 (sampai dengan TW 2) sebesar 81,18% (target nasional 85% dan
target Jawa Tengah 83%). Terdapat 14 Kabupaten/Kota yang telah berhasil
mencapai angka kesembuhan 83% (target Jawa Tengah pada tahun 2004)
adalah : Kota Surakarta (94,94 %), Kab. Sragen (94,50%), Kab. Wonogiri
(92,79%), Kab. Jepara (92,55%), Kab. Pekalongan (92,14%), Kab.
Karanganyar (89,92%), Kab. Batang (88,89%), Kab. Sukoharjo (88,51%),
Kab. Grobogan (88,31%), Kab. Purworejo (88,04%), Kab. Wonosobo (86,52
%) dan Kab. Tegal (86,11%) (Profil Kesehatan Jawa Tangah, 2004)
Dalam usaha pemberantasan penyakit TB pasru, pencarian kasus
merupakan unsur yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program
pengobatan. Hal ini ditunjang oleh sarana diagnostik yang tepat. Diagnosis
terhadap TB paru umumnya dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan
klinis (dari anamnesis terhadap keluhan penderita dan hasil pemeriksaan fisik
4

penderita), hasil pemeriksaan foto toraks, hasil pemeriksaan laboratorium, dan


pemeriksaan penunjang lainnya (Mual B, 2009).
Pelayanan kesehatan saat ini lebih diarahkan secara terpadu pada proses
promotif dan preventif, tanpa melupakan kuratif dan rehabilitatif. Salah satu
langkah untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan dikembangkannya
sarana dan prasarana kesehatan oleh pemerintah, diantaranya adalah Poliklinik
Desa (Polindes), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rumah Sakit
(Notoatmodjo, 2003).
Selama menjalankan fungsinya, khususnya Puskesmas yang
berhubungan langsung dengan masyarakat, sangat diperlukan koordinasi
terhadap semua upaya dan sarana pelayanan kesehatan yang ada di wilayah
kerjanya sesuai dengan kewenangannya serta melaksanakan pembinaan
terhadap peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan.
Dengan demikian, Puskesmas dapat menjadi pusat pengembangan, pembinaan
dan pelayanan kesehatan masyarakat yang sekaligus sebagai pos terdepan
dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010.
Sebagai Primary Health Care (PHC), Puskesmas II Kemranjen saat ini
harus lebih mengoptimalkan fungsinya sebagai lini terdepan dalam bidang
kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, Puskesmas II Kemranjen sebagai salah
satu PHC harus dapat mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat
serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan
masyarakat Kemranjen dan sekitarnya dalam bentuk kegiatan pokok yang
menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya. Salah satu program pokok
puskesmas ialah Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
(P2M). P2M ialah upaya untuk menurunkan dan mengurangi angka kesakitan dan
angka kematian akibat penyakit menular.
Permasalahan yang saat ini dihadapi Puskesmas II Kemranjen dalam
pemberantasan TB adalah penemuan deteksi kasus masih bersifat pasif.
Artinya penemuan kasus hanya mengandalkan pasien yang berkunjung ke BP
saja dan memiliki tanda dan gejala TB. Sementara deteksi secara aktif dengan
melibatkan masyarakat, terutama kader kesehatan belum berjalan dengan baik.
Kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kesehatan Komunitas/Ilmu Kesehatan
Masyarakat dilaksanakan selama empat minggu di wilayah kerja Puskesmas II
5

Kemranjen . Selama pelaksanaan kegiatan kepaniteraan di bagian IKK/IKM


ini telah dilakukan pengamatan secara langsung maupun pengumpulan data
sekunder dari dokumen-dokumen kesehatan yang terdapat di Puskesmas II
Kemranjen untuk menilai pelaksanaan dan efektivitas program-program yang
ada di Puskesmas II Kemranjen . Pengamatan yang dilakukan meliputi
program-program kegiatan yang sudah diagendakan, pelaksanaan program
kegiatan, evaluasi program kegiatan, hingga target-target yang ditetapkan
masing-masing program beserta angka pencapaiannya. Terdapat beberapa
permasalahan pada masing-masing program Puskesmas II Kemranjen ,
sehingga perlu dilakukannya evaluasi program agar program-program
puskesmas tersebut dapat menghasilkan output yang memuaskan.

B. Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerjanya


1. Keadaan Geografis
Puskesmas II Kemranjen berada di Desa Sidamulya Jalan Raya
Buntung, Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Batas wilayah Puskesmas II
Kemranjen sebelah utara adalah Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas;
sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mujur lor, Kecamatan Kroya,
Kabupaten Cilacap; sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karangjati,
Kecamatan Kemranjen; sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa
Adisana, Kecamatan Kebasen.
Luas wilayah Kecamatan Kemranjen adalah 2.499 km2, yang
terdiri atas wilayah Desa Surau (443.0 km2), Kebarongan (473.0 km2),
Grujungan (356.0 km2), Sidamulya (217.0 km2), Pageralang (592.0 km2),
Alasmalang (302.0 km2), dan Desa Nusamangir (216.0 km2).
6

Gambar 2.1. Peta Kecamatan Kemranjen

2. Keadaan Demografi Kecamatan Kemranjen


a. Pertumbuhan penduduk
Berdasarkan data dari Puskesmas II kemranjen pada akhir
tahun 2012, jumlah penduduk di wilayah Puskesmas II kemranjen
adalah 35.662 Jiwa yang terdiri dari 16.392 laki-laki (45,84%) dan
18.081 perempuan (54,16%) tergabung dalam 6.132 rumah
tangga/KK, dengan rata-rata 5,82 jiwa/rumah tangga.
Jumlah penduduk tertinggi di desa Pageralang yaitu sebesar
9.142 jiwa, sedangkan terendah di Desa nusamangir yaitu sebesar
2.824 jiwa.
b. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur
Jumlah Penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen
berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur pada tahun 2012 dapat
dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok


umur di wilayah Puskesmas II kemranjen tahun 2012
No Jumlah penduduk
7

Kelompok umur Laki-laki +


Laki-laki Perempuan
(tahun) perempuan
1 0-4 1.525 1.564 3.089
2 5-14 3.436 3.613 7.049
3 15-44 4.266 4.859 9.125
4 45-64 4.044 4.679 8.723
5 65+ 3.121 3.366 6.487
Jumlah 16.392 18.081 34.473

Jika dilihat dari jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur


pada tabel diatas, maka jumlah penduduk dalam kelompok umur 15-
44 tahun adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 9125 jiwa atau sebesar
26,46 %.
c. Kepadatan penduduk
Penduduk diwilayah Puskesmas II Kemranjen adalah bervariasi
kepadatanya. Desa terpadat penduduknya ialah desa Sidamulya dengan
tingkat kepadatan sebesar 19,48 jiwa setiap kilometer persegi,
sedangkan yang tingkat kepadatanya paling rendah adalah desa
kebarongan yaitu sebesar 12,00 jiwa setiap kilometer persegi. Secara
umum, rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Puskesmas II
Kemranjen adalah 14,00 per km2.
3. Keadaan sosial ekonomi
a. Tingkat Pendidikan
Data pendidikan penduduk diwilayah Puskesmas II Kemranjen
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.2 Data pendidikan penduduk Puskesmas II Kemranjen
tahun 2011

No Jenis Desa Jumlah


pendidikan 01 02 03 04 05 06 07
1 Tidak 465 446 267 319 648 281 219 2.645
sekolah
2 Tidak/Belum 185 167 105 135 207 112 87 998
tamat SD
3 Tamat 315 109 400 400 3.319 315 353 5.211
SD/MI
4 Tamat 1.917 77 423 423 1.673 1.917 307 6.737
SMP/MTS
5 Tamat 653 74 192 192 972 653 170 2.906
SMU/SMA
/MA
6 AK/Diploma 84 12 12 12 75 84 29 308
8

7 Universitas 32 0 155 155 70 32 29 473


Jumlah 26 885 1.554 2.439 6.964 3.394 10.358 19.278

Keterangan Desa: 01. Sirau, 02. Kebarongan, 03. Grujugan, 04.


Sidamulya, 05. Pageralang, 06. Alasmalang, 07. Nusamangir

Berdasarkan data diatas, pendidikan penduduk tertinggi adalah


pendidikan SMP atau MTs yaitu sebanyak 6.737 orang, sedangkan
pada pendidikan tinggi (Diploma & Universitas) Sebanyak 781 orang.
b. Sumberdaya kesehatan
Tempat pelayanan kesehatan di wilayah Puskesmas II
Kemranjen terdiri atas 1 Puskesmas, 1 Puskesmas Pembantu, dan 6
PKD. Jumlah posyandu di wilayah Puskesmas II Kemranjen
berjumlah 59, dengan persentase sebanyak 54,24% posyandu yang
aktif. Rasio posyandu per 100 balita adalah 1,91 : 100 balita. Jumlah
desa siaga sebanyak 7 desa, dan desa siaga yang aktif sebesar 57,14%.
Sedangkan Poskesdes terdapat 5 buah.
C. Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat
Untuk memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas Kemranjen pada tahun 2012 disajikan situasi mortalitas dan
morbiditas.
I. Angka Kesakitan (Morbiditas)
1.Penyakit Diare
Kejadian atau kasus penyakit diare di wilayah Puskesmas
Kemranjen, berdasarkan data dari programer P2 Diare Puskesmas II
Kemranjen adalah sebanyak 29,36% untuk laki-laki dan 38,96% untuk
perempuan sehingga totalnya 34,01% pada kasus diare yang ditangani.
2. Penyakit Malaria
Kasus penyakit Malaria Klinis tahun 2012 sebanyak 0 kasus atau
sebesar 0,00 per 1.000 penduduk. Kasus Malaria di Puskesmas
Kemranjen biasanya merupakan kasus import dari luar jawa.
3. Tuberkulosis Paru
Angka insiden tuberkulosis paru puskesmas II Kemranjen tahun
2012 adalah, 50,34/100.000 penduduk. Prevalensi nya 64,32/100.000
penduduk. Angka kematian pasien kasus TB paru adalah 0 kasus.
9

Angka penemuan kasus TB sebanyak 47,40%,s edangkan untuk succes


rate TB paru adalah 118,18%.
4.Demam Berdarah Dengue (DBD)
Jumlah kasus DBD di Kecamatan Kemranjen tahun 2012 sebanyak
6 kasus atau sebesar 9,28 per 100.000 penduduk. Dari semua kasus
DBD yang ada tersebut, semuanya (100%) mendapat penanganan dan
tidak terdapat kematian akibat DBD.
5.HIV
Jumlah kasus HIV-AIDS di kecamatan Kemranjen pata tahun 2012
adalah 0 kasus. Kasus HIV-AIDS merupakan fenomena gunung es
sehingga kemungkinan adanya kasus HIV-AIDS yang tidak terdeteksi
atau tidak terdata.
6.Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Jumlah penemuan kasus AFP di kecamatan Kemranjen pada tahun
2012 sebanyak 0 kasus. Standar penemuan kasus polio adalah 0 per
100.000 penduduk usia kurang dari 15 tahun.
7.Pneumonia pada Balita
Jumlah kasus Pneumonia pada balita ditemukan/ditangani di
Kecamatan Kemranjen adalah sebanyak 10,32% yaitu 10,45% pada
laki-laki dan 10,19% pada perempuan.
II. Angka Kematian (Mortalitas)
Berikut ini akan diuraikan perkembangan tingkat kematian pada
periode tahun 2012 yaitu sebagai berikut :
1. Angka Kematian Bayi
Berdasarkan Profil Kesehatan Puskesmas Kemranjen dapat
diketahui bahwa, pada tahun 2012 terdapat 572 kelahiran hidup dan
jumlah lahir mati sebanyak 56 bayi.

2. Angka Kematian Ibu


Berdasarkan hasil laporan dari petugas KIA Puskesmas
Kemranjen diketahui bahwa jumlah kematian ibu hamil di
Kecamatan Kemranjen sebanyak 0 orang, jumlah kematian ibu
10

bersalin sebanyak 0 orang, dan jumlah kematian ibu nifas sebanyak 0


orang. Sehingga Angka Kematian Ibu (AKI) di Kecamatan
Kemranjen sebesar 0 per 100.000 kelahiran hidup.
III. Status Gizi Masyarakat
Tujuan umum upaya perbaikan gizi puskesmas adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan setiap keluarga di
wilayah Puskesmas untuk mencapai Keluarga Sadar Gizi agar terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Sedangkan tujuan khususnya adalah:
1. Meningkatkan cakupan dan kualitas pemberdayaan Keluarga menuju
Keluarga Sadar Gizi.
2. Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi (Pelayanan gizi
masyarakat dan pelayanan gizi perorangan).
Berdasarkan pemantauan status gizi Balita pada tahun 2012
dengan jumlah balita yang ditimbang ditemukan:
a) Balita dengan Gizi Baik sebanyak 78.81%
b) Balita dengan Gizi Kurang sebanyak 1,52%
c) Balita dengan Gizi Buruk sebanyak 0,59%
IV. Upaya Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan merupakan langkah awal yang sangat
penting dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan
cepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah
dapat diatasi. Kegiatan pokok Puskesmas biasa dikenal dengan istilah
basic six atau enam program pokok puskesmas yang meliputi: Promosi
Kesehatan (Promkes), Kesehatan Lingkungan, kesehatan ibu dan anak
termasuk KB, upaya perbaikan gizi masyarakat, Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Menular. Tiap program tersebut dilaksanakan
melalui suatu rangkaian yang sistematis, meliputi perencanaan (P1),
penggerakan dan pelaksanaan (P2), pengawasan, pengendalian dan
penilaian (P3).
A. Promosi kesehatan
11

Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen


khususnya dalam bidang Promosi Kesehatan adalah melalui kegiatan-
kegiatan berikut:
1. Penyuluhan PHBS
Upaya penyuluhan PHBS yang dilakukan oleh Puskesmas II
Kemranjen pada tahun 2012 meliputi rumah tangga, institusi
pendidikan (sekolah), institusi sarana kesehatan, institusi TTU, dan
insitusi tempat kerja. Cakupan penyuluhan PHBS di tingkat rumah
tangga mencapai 60,42% dari 8571 target, di tingkat institusi
pendidikan (sekolah) mencapai 100% dari 41 target, di institusi
sarana kesehatan mencapai 86,36% dari 22 target, di institusi TTU
mencapai 100% dari 21 target, dan di institusi tempat kerja mencapai
100% dari 48 target.
2. Bayi mendapat ASI eksklusif
Salah satu promosi kesehatan yang gencar dilakukan di
Puskesmas II Kemranjen adalah nasehat untuk memberikan ASI
ekslusif oleh ibu kepada bayinya. Berdasarkan data Puskesmas II
Kemranjen tahun 2012, bayi yang mendapat ASI ekslusif mencapai
80% cakupan dari 575 target.
3. Mendorong terbentuknya upaya kesehatan bersumber masyarakat.
Untuk mendorong terbentuknya upaya kesehatan yang
bersumber dari masyarakat, Puskesmas II Kemranjen mencanangkan
program posyandu madya (baru) dan posyandu purnama. Cakupan
program posyandu madya belum terlaksana dengan target cakupan
sebanyak 25 posyandu. Sedangkan program posyandu purnama
mencapai 100% dari 40 target.
4. Penyuluhan Napza
Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2012, salah
satu upaya promosi kesehatan yang dilakukan di wilayah kerja
puskesmas adalah melakukan penyuluhan Napza. Cakupan program
penyuluhan Napza di Puskesmas II Kemranjen mencapai 100% dari
40 target penyuluhan.
12

B. Kesehatan Lingkungan
Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen
khususnya dalam bidang Kesehatan lingkungan adalah melalui
kegiatan-kegiatan berikut:
1. Penyehatan Air
Upaya penyehatan air yang dilakukan di tingkat Puskesmas II
Kemranjen pada tahun 2012 meliputi inspeksi sanitasi sarana air
bersih dan pembinaan kelompok masyarakat atau kelompok pemakai
air sabun. Tingkat pencapaian program inspeksi sanitasi sarana air
bersih sebanyak 60,42% dari 8571 target. Sedangkan upaya
pembinaan kelompok masyarakat atau kelompok pemakai air
mencapai cakupan 100% dari 5179 target.
2. Penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah
Upaya penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah
yang dilakukan di tingkat Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2012
meliputi inspeksi sanitasi sarana pembuangan sampah dan limbah.
Tingkat pencapaian program inspeksi sanitasi sarana pembuangan
sampah dan limbah sebanyak 65,26% dari 2165 target.
3. Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga
Upaya penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban
keluarga yang dilakukan di tingkat Puskesmas II Kemranjen pada
tahun 2012 meliputi pemeriksaan penyehatan lingkungan pada
perumahan. Tingkat pencapaian program pemeriksaan penyehatan
lingkungan pada perumahan sebanyak 60% dari 75 target.
4. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum
Upaya pengawasan sanitasi tempat-tempat umum yang
dilakukan di tingkat Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2012
meliputi inspeksi sanitasi tempat-tempat umum dan sanitasi tempat
umum memenuhi syarat. Tingkat pencapaian program inspeksi
sanitasi tempat-tempat umum sebanyak 71,79% dari 39 target.
Sedangkan sanitasi tempat umum memenuhi syarat mencapai
95,24% dari 21 target.
13

5. Pengamanan tempat pengelolaan pestisida


Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam rangka pengamanan tempat pengelolaan pestisida, meliputi
inspeksi sanitasi dan pembinaan tempat pengelolaan pestisida.
Capaian upaya inspeksi sanitasi tempat pengelolaan pestisida di
puskesmas II Kemranjen sebanyak 100% dari 6 target. Sedangkan
upaya pembinaan tempat pengelolaan pestisida mencapai cakupan
100% dari 6 target.
6. Hygiene dan sanitasi makanan dan minuman
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam rangka meningkatkan hygiene dan sanitasi makanan, meliputi
inspeksi sanitasi dan pembinaan tempat pengelolaan makanan.
Capaian upaya inspeksi sanitasi tempat pengelolaan makanan di
puskesmas II Kemranjen sebanyak 86,36% dari 22 target. Sedangkan
upaya pembinaan tempat pengelolaan makanan mencapai cakupan
100% dari 22 target.
C. Kesehatan ibu dan anak termasuk KB
Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen
khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak termasuk KB adalah
melalui kegiatan-kegiatan berikut:
1. Kesehatan ibu
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam rangka meningkatkan kesehatan ibu, meliputi pelayanan
kesehatan bagi ibu hamil (bumil) sesuai standar untuk kunjungan
lengkap, drop out K4-K1, pelayanan persalinan oleh tenaga
kesehatan termasuk pendamping persalinan dukun oleh tenaga
kesehatan sesuai standar, pelayanan nifas lengkap (ibu dan neonatus)
sesuai standar (KN 3), pelayanan dan atau rujukan ibu hamil risiko
tinggi/ komplikasi.
Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2012,
pelayanan kesehatan bagi bumil sesuai standar untuk kunjungan
lengkap mencapai cakupan 97,63% dari 634 target dan drop out K4-
14

K1 sebanyak 97,63% dari 634 target. Sedangkan pelayanan


persalinan oleh tenaga kesehatan termasuk pendamping persalinan
dukun oleh tenaga kesehatan sesuai standar mencapai cakupan
sebanyak 9,86% dari 619 target, pelayanan nifas lengkap (ibu dan
neonatus) sesuai standar (KN 3) mencapai 95,03% dari 604 target,
dan untuk pelayanan dan atau rujukan ibu hamil risiko tinggi/
komplikasi mencakup 100% dari 41 target.
2. Kesehatan bayi
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam rangka meningkatkan kesehatan bayi, meliputi pengananan
dan atau rujukan neonates risiko tinggi dan cakupan BBLR
ditangani. Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2012
tidak ditemukan kasus neonates risiko tinggi yang membutuhkan
pengananan dan atau rujukan, sedangkan cakupan BBLR ditangani
mencapai 100% dari 34 target.
3. Upaya kesehatan balita dan anak pra-sekolah.
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam rangka meningkatkan kesehatan balita dan anak pra-sekolah,
meliputi pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang balita
(kontak pertama), dan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbang
anak pra sekolah. Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun
2012, cakupan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang
balita (kontak pertama) mencapai 100% dari 1745 target, sedangkan
cakupan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbang anak pra
sekolah mencapai 91,28% dari 1147 target.
4. Upaya kesehatan anak usia sekolah dan remaja
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam rangka meningkatkan kesehatan anak usia sekolah dan remaja,
meliputi pelayanan kesehatan anak sekolah dasar oleh tenaga
kesehatan atau tenaga terlatih atau guru UKS atau dokter kecil, dan
cakupan pelayanan kesehatan remaja. Berdasarkan data Puskesmas II
Kemranjen tahun 2012, cakupan pelayanan kesehatan anak sekolah
15

dasar oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih atau guru UKS atau
dokter kecil mencapai 100% dari 270 target, sedangkan cakupan
pelayanan kesehatan remaja mencapai 100% dari 140 target.
5. Pelayanan KB.
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam pelayanan KB, meliputi akseptor KB aktif di puskesmas (CU),
akseptor aktif MKET di puskesmas, akseptor MKET dengan
komplikasi, MKET mengalami kegagalan. Berdasarkan data
Puskesmas II Kemranjen tahun 2012, cakupan akseptor KB aktif di
puskesmas (CU) mencapai 81,19% dari 5909 target, untuk akseptor
aktif MKET di puskesmas mencapai 93,1% dari 2829 target, dan
tidak ditemukan akseptor MKET dengan komplikasi atau akseptor
MKET yang mengalami kegagalan sepanjang tahun 2012.
D. Usaha perbaikan gizi masyarakat
Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen
khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak termasuk KB adalah
melalui kegiatan atau penanganan berikut:
1. Pemberian kapsul vitamin A (dosis 20.000 SI) pada balita 2 kali per
tahun.
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam perbaikan gizi balita salah satunya adalah dengan pemberian
kapsul vitamin A (dosis 20.000 SI) pada balita sebanyak 2 kali per
tahun. Pada tahun 2012, program pemberian kapsul vitamin A
tersebut mencapai 100% dari 1933 target.
2. Pemberian tablet besi (90 tablet) pada ibu hamil
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam perbaikan gizi ibu hamil salah satunya adalah dengan program
pemberian tablet besi, dengan minimal pemberian 90 tablet. Pada
tahun 2012, program pemberian tablet besi tersebut mencapai 77,4%
dari 235 target.
3. Pemberian OMT pemulihan balita gizi buruk pada keluarga miskin
16

Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen


dalam perbaikan gizi balita gizi buruk adalah dengan program
pemberian OMT pada keluarga miskin. Pemulihan gizi buruk pada
tahun 2012, mencapai cakupan 100% dari 2 target pemulihan gizi.
4. Balita naik berat badannnya
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam penanganan balita dengan berat badan naik pada tahun 2012,
mencapai cakupan 95,1% dari 708 target.
5. Balita bawah garis merah atau kurang energi protein (KEP).
Upaya kesehatan yang dilakukan puskesmas II Kemranjen
dalam perbaikan gizi balita bawah garis merah atau KEP pada tahun
2012, mencapai cakupan 88,9% dari 45 target.
E. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen
khususnya dalam bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut:
1. Pencegahan dan Pemberantasan Tuberkulosis Paru
Berdasarkan data dari programer Tuberkulosis Paru Puskesmas
dapat diketahui bahwa pada tahun 2012, target pengobatan TB paru
BTA positif sebanyak 22 kasus (100%) dan diobati sebanyak 19
kasus (86,36%), oleh sebab itu kasus yang belum ditangani sebanyak
2 kasus (13,64%). Sedangkan target pengobatan TB paru BTA
negatif rontgen positif sebanyak 9 kasus (100%) dan diobati
sebanyak 5 kasus (55,56%) sehingga kasus yang belum ditangani
sebanyak 4 kasus (44,44%).
Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk kesembuhan penderita
Tuberkulosis BTA positif adalah > 85%. Sehingga jika dibandingkan
dengan SPM maka kesembuhan penderita Tuberkulosis BTA positif
sudah memenuhi target.
2. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit malaria
Pada tahun 2012 berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen,
tidak ditemukan kasus penyakit malaria di wilayah kerja Puskesmas
17

II Kemranjen. Upaya pemberantasan malaria terdiri dari 4 hal yaitu:


pemeriksaan sediaan darah (SD) pada penderita malaria klinis,
mengobati penderita malaria klinis, pengobatan sesuai standar pada
penderita positif malaria, dan penderita terdeteksi malaria berat di
puskesmas yang dirujuk ke rumah sakit.
3. Pelayanan Imunisasi
Berdasarkan data petugas Puskesmas II Kemranjen tahun 2012,
capaian program imunisasi meliputi imunisasi DPT 1 pada bayi
(94,43% dari 575 target), drop out DPT 3-Campak (0 kasus),
imunisasi HB-1 < 7 hari (93,91% dari 575 target), imunisasi campak
pada bayi (100% dari 575 target), imunisasi DT pada anak kelas 1 SD
(100% dari 614 target), imunisasi TT pada anak SD kelas 2 dan 3
(100% dari 1256 target), TT wanitas usia subur (61,30% dari 7752
target), BIAS campak pada kelas 1 SD (100% dari 1256 target), dan
imunisasi TT 2 (100% dari 1256 target).
4. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Kusta
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit kusta di
tingkat puskesmas dilakukan dengan melakukan penemuan dini
kasus kusta dan pengawasan terhadap penderita, keluarga penderita
dan orang-orang yang melakukan kontak dengan penderita.
Berdasarkan data petugas P2 Kusta Puskesmas II Kemranjen pada
tahun 2012, ditemukan 1 kasus tersangka penderita kusta dan
ditangani (100%), sedangkan pengobatan penderita kusta sebanyak 1
kasus (100%), dan telah dilaksanakan pemeriksaan kontak penderita
pada 15 orang (100%).
5. Diare
Pada tahun 2012, ditemukan 354 kasus diare di puskesmas dan
kader yang ditangani (100%) dengan oral rehidrasi (100%), dan
tidak ada kasus yang ditangani dengan rehidrasi intravena.
6. Pencegahan dan penanggulangan rabies
Pada tahun 2012, tidak ditemukan kasus rabies di wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen. Upaya pencegahan dan penanggulangan
18

rabies meliputi pencucian luka terhadap kasus gigitan HPR dan


vaksinasi terhadap kasus gigitan HPR yang berindikasi.
7. Pencegahan dan penanggulangan filariasis dan schistosomiasis
Pada tahun 2012, tidak ditemukan kasus filariasis dan
schistosomiasis di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Upaya
pencegahan dan penanggulangan filariasis dan schistosomiasis
meliputi penanganan kasus filariasis, pengobatan selektif
schistosomiasis, dan pengobatan selektif F.Buski.
8. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIV-AIDS dan Infeksi
Menular Seksual (IMS)
Pada tahun 2012, tidak ditemukan kasus PMS dan HIV/AIDS
di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Upaya pencegahan dan
penanggulangan filariasis dan schistosomiasis meliputi penanganan
kasus PMS dan HIV/AIDS.
A. Analisis SWOT
Daftar 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas II Kemranjen

No Penyakit Jumlah Kunjungan


tiap Kasus
1 ISPA 1046
2 DM 817
3 Dyspepsia 665
4 Hipertensi 484
5 Febris 452
6 Reumatik 387
7 Diare 291
8 Tifoid 291
9 Asma 278
10 Konjungtivitis 212
Sumber: Data Sekunder Puskesmas Kemranjen 2013

Meskipun TB bukan menjadi penyakit yang masuk ke dalam 10 besar


penyakit di Puskesmas II Kemranjen , terdapat kasus TB positif di Kecamatan
Kemranjen sejumlah 15 kasus, tetapi jumlah kasus suspek TB masih belum bisa
dideteksi, karena masih ada penderita TB yang berobat ke dokter praktik swasta
dan belum terpantau oleh Puskesmas. Hal yang masih menjadi masalah adalah
cara mendeteksi kasus TB. Puskesmas sejauh ini hanya bisa mendeteksi secara
pasif saja, sementara deteksi aktif dengan melibatkan peran serta masyarakat
belum berjalan.
Tujuan penanggulangan TB menurut Depkes (2002) yaitu:
1. Jangka panjang
Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian penyakit TB
dengan cara memutuskan rantai penularan, sehingga penyakit TB tidak
lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia.
2. Jangka pendek
Tercapainya angka kesembuhan minimal 85% dari semua penderita
baru BTA positif yang ditemukan dan tercapainya cakupan penemuan
penderita secara bertahap.
Adapun langkah kegiatan dalam P2M TB adalah:
1. Penatalaksanaan P2M TB
a. Penemuan penderita TB
Penemuan penderita TB dilakukan secara pasif, artinya
penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang
datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Penemuan secara pasif
tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif baik oleh petugas
kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan
penemuan tersangka penderita. Cara ini biasanya dikenal dengan
sebutan passive promotive case finding.
b. Pengobatan
Obat TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa
jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-9 bulan, supaya
kuman dapat dibunuh.
2. Peningkatan SDM
Dengan pelatihan diberikan kepada semua tenaga terkait dengan
P2M TB diantaranya
 Pelatihan dokter dan paramedis UPK (RS, puskesmas, BP4, Poliklinik,
dsb)
 Pelatihan staf kabupaten/kota
3. Monitoring dan evaluasi
a. Supervisi
Supervisi dilakukan secara rutin, teratur dan terencana. Supervisi
ke UPK (misalnya RS, puskesmas, BP4 termasuk laboratorium)
dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 bulan sekali. Supervisi ke
kabupaten/kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 bulan sekali.
b. Pertemuan monitoring
Pertemuan monitoring dilaksanakan secara berkala dan terus
menerus untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam
pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan agar dapat dilakukan
tindakan perbaikan segera. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak waktu
lebih lama, biasanya setiap 6 bulan- 1 tahun. Dengan evaluasi dapat dinilai
sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai.
4. Promosi
a. Advokasi
b. Kemitraan
c. Penyuluhan
Adapun indikator kegiatan P2M TB (Menkes RI, 2002) meliputi:
1. Cakupan suspek TB
Definisi suspek TB adalah penderita dengan gejala TB yang datang ke
puskesmas dan diperiksa dahaknya. Perkiraan suspek TB paru di Indonesia
adalah 107/1000 penduduk.
2. Case Detection Rate (CDR)
CDR atau angka penemuan penderita TBC BTA (+) adalah persentase jumlah
penderita baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah penderita baru
BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Perkiraan nasional
BTA (+) adalah 107/1000 penduduk. CDR ini menggambarkan cakupan
penemuan penderita BTA (+) pada wilayah tersebut.
3. Convertion rate
Adalah persentase penderita TB paru BTA (+) yang mengalami konversi
menjadi BTA (-) setelah menjalani masa pengobatan intensif (2 bulan). Angka
konversi ini berguna untuk mengetahui kecenderungan keberhasilan
pengobatan dan untuk mengetahui pengawasan langsung menelan obat
dilakukan dengan benar. Angka konversi didapatkan dari jumlah penderita TB
BTA (+) yang mengalami konversi menjadi BTA (-) setelah pengobatan fase
intensif (2-3 bulan) dibanding dengan jumlah penderita TB BTA (+) yang
selesai pengobatan fase intensif (2-3 bulan)
4. Cure rate
Adalah angka yang menunjukkan persentase penderita TB BTA (+) yang
sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara penderita TB BTA (+) yang
tercatat. Kesembuhan adalah penderita yang minum obat lengkap, dan
pemeriksaan sputum secara mikroskopis minimal 2 kali berturut-turut terakhir
dengan hasil negatif. Angka kesembuhan ini untuk menilai keberhasilan program
pemberantasan penyakit tuberkulosis. Angka kesembuhan dihitung dengan cara
jumlah penderita TB BTA (+) yang sembuh setelah selesai masa pengobatan TB
(6-9 bulan) dibagi jumlah penderita TB BTA (+) yang sudah selesai pengobatan
TB selama 6-9 bulan.
Cakupan suspek TB paru BTA (+) merupakan salah satu indikator kinerja
yang menjadi masalah sehingga diperlukan analisis kemungkinan penyebab tidak
tercapainya target tersebut. Analisis penyebab masalah dilakukan berdasarkan
pendekatan sistem, seperti yang digambarkan pada bagan berikut.

INPUT PROSES OUTPUT


Man
Money P1
Cakupan
Method P2
program
Material P3
Machine

LINGKUNGAN

Dalam hal ini dilihat apakah output (skor pencapaian suatu indikator
kinerja) mengalami masalah atau tidak. Apabila ternyata bermasalah, penyebab
masalah tersebut dapat kita analisis dari input dan proses kegiatan tersebut.
Input mencakup 5 indikator yaitu man (sumber daya manusia), money
(sumber dana), method (cara pelaksanaan suatu kegiatan), material
(perlengkapan), dan machine (peralatan). Proses menjelaskan fungsi
manajemen yang meliputi tiga indikator yaitu: P1 (perencanaan), P2
(penyelenggaraan) dan P3 (pengawasan, pemantauan, dan penilaian).
Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu ataupun
kondisi disekitar ruang lingkup kehidupan manusia/individu/organisme yang
mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme tersebut, diantaranya
adalah:
 Lingkungan fisik: Lingkungan alamiah disekitar manusia (fisik, kimiawi,
biologik)
Lingkungan non fisik: Lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi
antar manusia (lingkungan sosial budaya)
D. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mengetahui masalah-masalah kesehatan yang terjadi di Puskesmas II
Kemranjen terkait pelaksanaan 6 Program Pokok Puskesmas.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit
TB Paru di Puskesmas II Kemranjen
2. Mengetahui upaya-upaya yang telah dilakukan Puskesmas II Kemranjen
dalam melaksanakan pemberantasan penyakit TB Paru
3. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tidak maksimalnya
pemberantasan TB Paru.
E. Manfaat Penulisan
Manfaat Praktis
1. Memberikan informasi kepada pembaca tentang penyakit TB Paru baik
faktor risiko, cara penularan, pengobatan, dan pencegahan
2. Menjadi dasar ataupun masukan bagi Puskesmas dalam mengambil
kebijakan jangka panjang dalam upaya pemberantasan penyakit TB Paru.
Manfaat Teoritis
Menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya bagi pihak yang
membutuhkan.
BAB II
ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS

A. Analisia Potensi
1. Input
a. Man
 Tersedianya tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat dan petugas
laboratorium) dan koordinator program untuk mendeteksi dan
menangani penderita TB di puskesmas. Terdapat 42 pegawai Puskesmas
II Kemranjen yang terdiri dari 2 dokter umum, 1 dokter gigi, 1
perawat gigi, 5 perawat, 5 bidan, 12 bidan desa, staf administrasi
sebanyak 3 orang, petugas obat sebanyak 1 orang, petugas gizi
sebanyak 1 orang, petugas promosi kesehatan, P2M, dan kesehatan
lingkungan sebanyak 1 orang, dan petugas laboratorium sebanyak 1
orang. Untuk yang bertugas di bagian P2M khususnya masalah TB paru
hanya satu orang yaitu Sri Sumirah yang sebenarnya memiliki tugas
pokok sebagai perawat.
 Petugas poli akan merujuk ke laboratorium jika ada suspek TB sehingga
pasien suspek TB yang datang ke puskesmas dapat terdeteksi.
a. Kekurangan
 Belum semua petugas puskesmas terutama paramedis (perawat, bidan
desa) mengetahui secara tepat cara menjaring tersangka TB
 Kurang optimalnya pemanfaatan kader-kader posyandu sehingga kader
TB belum tersedia di setiap desa sehingga kegiatan pemantauan tidak
dapat dilakukan secara maksimal.
1. Money
a. Kelebihan
Tersedia dana dari pemerintah untuk TB mulai dari penemuan kasus,
pemeriksaan sampai pengobatan.
b. Kekurangan
Tidak adanya dana khusus (reward) untuk petugas yang terlibat langsung
dengan program pemberantasan TB, misalnya dana untuk petugas tiap kali
melakuakn pemeriksaan dahak, dana bagi petugas yang mengirim sampel
dahak bila hasil pemeriksaan BTA (+) serta dana bagi petugas jika seorang
pasien TB sembuh.
2. Material
a. Kelebihan
 Terdapat Puskesmas, Pustu, Posyandu, Polindes, PKD.
 Puskesmas II Kemranjen memiliki ambulans dan kendaraan roda
empat sebagai alat transportasi ke masyarakat.
 Tersedianya Laboratorium sebagai sarana untuk pemeriksaan dahak
suspek TB.
 Tersedianya alat untuk pemeriksaan fisik suspek TB.
 Tersedianya peralatan untuk pembuatan preparat S-P-S (pot sputum,
obyek glass, lampu spritus, mikroskop, zat pewarna, dan lain – lain).
b. Kekurangan
 Masih minimnya media promosi yang ada (misalnya poster).
 Belum semua orang dengan kriteria tersangka TB yang terjaring di Poli
terutama Pustu, dapat diperiksa dahaknya (dahak tidak keluar/tersangka
TB tidak mengirimkan dahaknya).
3. Metode Pelaksanaan Program
a. Kelebihan
Terdapat SOP untuk melaksanakan upaya pemeriksaan suspek TB paru di
puskesmas.
b. Kekurangan
 Metode yang digunakan adalah passive promotif case finding.
 Penyuluhan dilakukan jika ditemukan suspek penderita TB dan hanya
dilakukan kepada keluarga suspek penderita TB.
A. Analisis proses penyebab masalah
1. Perencanaan
a. Kelebihan
 Penjaringan tersangka penderita dilaksanakan dengan menggunakan
metode passive promotif case finding (karena dianggap lebih cost-
effective)
 Rencana pelaksanaan program P2M TB bekerja sama lintas program
(Promkes dan pengobatan)
b. Kekurangan
Menggunakan metode passive promotif case finding.
2. Pelaksanaan
a. Kelebihan
Petugas poli melakukan rujukan ke laboratorium jika ada pasien suspek
TB.
b. Kekurangan
 Pasien dengan keluhan batuk (kemungkinan TB) kadang didiagnosis
selain TB/ ISPA tanpa digali riwayat batuknya lebih dalam dan masih
ada masyarakat yang berobat tidak ke Puskesmas setempat.
 Belum semua orang dengan kriteria tersangka TB yang terjaring di
poliklinik terutama di pustu dapat diperiksa dahaknya (dahak tidak
keluar).
 Beberapa tersangka TB yang tidak kembali untuk mengumpulkan
sampel.
 Tidak adanya kader TB
 Penyuluhan dilakukan jika ditemukan suspek penderita TB dan hanya
dilakukan kepada keluarga suspek penderita TB.
3. Pengawasan dan pengendalian
a. Kelebihan
Laporan program P2M TB dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten
Banyumas tiap triwulan, disertai dengan data pencapaian program.
Evaluasi program dilakukan setiap 6 bulan s/d 1 tahun.
b. Kekurangan
B. Analisis lingkungan penyebab masalah
Berdasarkan pengamatan, analisis lingkungan yang bisa menjadi
penyebab cakupan suspek TB masih rendah adalah:
1. Masih rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang TBC,
sehingga masyarakat kurang perduli.
2. Kebersihan diri atau kebiasaan perorangan yang kurang baik.
3. Pasien TB seringkali merasa malu atau minder apabila diketahui sebagai
penderita tuberkulosis, karena penyakit ini menular.
4. Kurangnya kesadaran pada tersangka penderita TB dan keluarga suspek
TB untuk memeriksakan dahaknya ke laboratorium.
5. Tersangka penderita TB tidak bisa mengeluarkan dahak, karena kurang
memahami cara pengambilan sputum atau dahak yang benar.
BAB III
IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS DARI HASIL ANALISIS
SWOT

A. SWOT
Berdasarkan data yang ada dapat diketaui bahwa hasil kegiatan
indikator kinerja cakupan TB Puskesmas II Kemranjen selama tahun 2009
belum memenuhi target pencapaian yang ditetapkan Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas untuk tahun 2009.
Apabila kita menggunakan analisa SWOT mengenai maslah P2M penyakit
TB, maka didapat informasi sebagai berikut :
a. Strength
 Puskesmas II Kemranjen memiliki letak yang strategis, yaitu berada di
pusat kecamatan sehingga memudahkan akses layanan kesehatan.
 Tersedianya tenaga kesehatan dan koordinator program untuk mendeteksi
dan menangani penderita TB di puskesmas
 Memiliki sarana non kesehatan yang cukup memadai yaitu satu sepeda
motor dan satu mobil Puskesmas.
b. Weakness
 Terbatasnya tenaga kesehatan di bidang P2M khususnya yang menangani
masalah TB yaitu hanya satu orang sehingga kurang optimal dalam
penemuan penderita TB.
 Belum semua petugas puskesmas terutama paramedis (perawat, bidan desa)
mengetahui secara tepat cara menjaring tersangka TB
 Sistem deteksi penyakit TB masih dilakukan secara pasif, yaitu hanya
mengandalkan pasien yang datang ke puskesmas dan memiliki tanda dan
gejala TB. Deteksi penderita secara aktif, penyuluhan kesehatan ke desa-
desa dan pembentukan kader kesehatan dalam penananganan TB belum
berjalan.
 Penyediaan obat yang belum kontinyu.
 Pengetahuan penderita yang kurang mengenai penyakit TB paru, cara
pengobatan dan bahaya akibat berobat tidak adekuat.
 Tidak adanya kader TB di tiap desa.
c. Opportunity
 Warga Kecamatan Kemranjen mudah diajak kerjasama dalam masalah
kesehatan, hal ini terlihat dari mereka sangat mudah dikumpulkan dalam
acara kesehatan, misalnya Posyandu
d. Threat
 Banyak warga Kecamatan Kemranjen yang sama sekali tidak mengetahui
tentang penyakit TB, baik faktor risiko, cara penularan, maupun tanda dan
gejala.
 Sarana dan prasarana yang belum memadai.
 Perlindungan diri terhadap analis laboratorium yang belum optimal.
 Kurangnya motivasi tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas P2M TB.

B. Identifikasi Aspek Isu Strategis dari Hasil Analisis SWOT


Dari hasil analisis SWOT, dapat disimpulkan permasalahan yang
terjadi seputar P2M TB, baik dari dalam maupun dari luar Puskesmas.
Sebenarnya Puskesmas II Kemranjen memiliki kekuatan dalam upaya
melaksanakan program P2M TB yaitu letak puskesmas yang berada di pusat
kecamatan sehingga masyarakat Kemranjen mudah menjangkaunya selain itu
adanya fasilitas berupa mobil dan sepeda motor puskesmas yang memudahkan
petugas P2M TB dalam melaksanakan tugasnya. Akan tetapi kondisi ini
kurang mendukung karena tenaga kesehatan di bidang P2M sangat terbatas
yaitu hanya satu orang sedangkan wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen
cukup luas. Kondisi ini jelas mempersulit cakupaan P2M TB secara aktif
dengan terjun langsung ke masyarakat. Penjaringan penderita TB maupun
suspek TB juga melibatkan tenaga analis laboratorium puskesmas, namun
tenaga analis laboratorium ini juga terbatas dan belum dilengkapi dengan alat
perlindungan diri yang memadai.
Sementara itu, jika kita melihat ke masyarakat Kecamatan
Kemranjen, sebenarnya lebih banyak kekuatan yang dapat dioptimalkan.
Kondisi ini terlihat dari antusiasme warga yang sangat tinggi terhadap masalah
kesehatan, mereka mudah dikumpulkan dalam acara posyandu lansia. Dari
mereka juga banyak yang menjadi kader kesehatan di desa masing-masing.
Sementara, hambatan yang terjadi yaitu masalah pengetahuan kesehatan yang
rendah.
Jika dilihat kekuatan dan kelemahan yang telah dianalisis, baik dari
dalam dan luar Puskesmas, mengajak peran serta masyarakat dalam
penanggulangan TB adalah solusi yang cukup tepat, dibanding hanya
mengandalkaan peran petugas kesehatan saja yang jumlahnya terbatas untuk
turun langsung ke masyarakat. Hal ini mengingat mereka, masyarakat
Kecamatan Kemranjen memiliki tingkat partisipatif yang cukup baik di bidang
kesehatan dan dapat diajak kerjasama.
BAB IV
PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DAN ALTERNATIF PEMECAHAN
MASALAH

A. Pembahasan Isu
Indikator nasional yang dipakai untuk menentukan keberhasilan
pencapaian program TB paru adalah angka penemuan penderita (Case Detection
Rate) minimal 70%, angka kesembuhan (Cure Rate) minimal 85%, angka
konversi (Conversion Rate) minimal 80% dan angka kesalahan laboratorium
(Error Rate) maksimal 5%.:
1. Case Detection Rate
CDR adalah presentase jumlah penderita dari BTA (+) yang ditemukan
dibanding jumlah penderita baru BTA (+) yang diperkirakan ada dalam wilayah
tersebut. Perkiraan nasional BTA (+) adalah 1,07/1000 penduduk.
Pada puskesmas II Kemranjen ini, CDR adalah 23,40 %, angka ini masih
dibawah indikator nasional yang mencapai angka 70%.
2. Cure Rate
Cure Rate adalah angka yang menunjukkan presentase penderita TB BTA
(+) yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara penderita TB BTA
(+) yang tercatat.
Puskesmas II Kemranjen mencapai angka Cure Rate yaitu 79,96 %. Angka
ini juga blum mencapai indikator nasional yaitu 85%.
3. Conversion Rate
Conversion Rate adalah presentase penderita TB paru BTA (+) yang
mengalami konversi menjadi BTA (-) setelah menjalani masa pengobatan
intensif (2-3 bulan). Angka konversi didapatkan dari jumlah penderita TB BTA
(+) yang mengalami konversi menjadi BTA (-) setelah pengobatan fase intensif
dibanding dengan jumlah penderita TB BTA (+) yang selesai pengobatan fase
intensif 2-3 bulan. Error Rate
Indikator kesalahan laboratorium menggambarkan mutu pembacaan
sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Untuk
menghitung besarnya Error Rate diperlukan data jumlah pembacaan hasil
laboratorium yang salah dibanding jumlah sampel dahak yang diperiksa.
Namun pada Puskesmas II Kemranjen tidak terdapat data yang menunjukkan
jumlah pembacaan hasil laboratorium yang salah maupun jumlah sampel dahak
yang diperiksa. Oleh karena itu Error Rate tidak dapat dihitung.
Dari hasil cakupan P2M TB Puskesmas II Kemranjen , dapat dilihat bahwa
indikator-indikator keberhasilan pencapaian program TB paru yang telah dicapai
selama tahun 2009 belum memenuhi target pencapaian nasional. Dimana CDR
sebesar 0,26% masih jauh dari target pencapaian nasional yaitu sebesar 70%,
angka Cure Rate sebesar 46,67% sedangkan target nasional sebesar 85%, angka
Conversion Rate sebesar 34% belum memenuhi target nasional sebesar 80%.
Hasil tersebut menjadi masalah sehingga diperlukan langkah-langkah untuk dapat
memenuhi pencapaian target nasional tersebut.

B. Alternatif Pemecahan Masalah


1. PEMBENTUKAN PMO
Pengawas minum obat merupakan salah satu bagian dari strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Short-Course) dalam upaya pemberantasan
penyakit TB Paru yang sifatnya menular. Strategi DOTS sangaat penting karena
saat ini TB Paru masih menjadi masalah kesehatan utaama di Indonesia.
Mycobacterium tuberculosis yang menjadi bakteri penyebab penyakit tuberkulosis
atau TB Paru telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.
Karena meningkatnya jumlah kasus TB Paru dan banyak yang tidak
berhasil disembuhkan, terutama pada negara-negara berkembang yang memiliki
masalah TB Paru yang besar termasuk Indonesia, maka pada tahun 1995 WHO
merekomendasikan penggunaan program nasional penanggulangan TB Paru
melalui strategi DOTS atau Directly Observed Treatment Shortcourse di
Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, strategi DOTS berarti pengobatan TB Paru
jangka pendek dengan pengawasan secara langsung (Depkes RI, 2006).
Strategi ini sangat bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian, mencegah terjadinya resistensi obat, memberikan angka kesembuhan
yang tinggi dan Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi
kesehatan yang paling cost effective. Dengan strategi DOTS, manajemen
penanggulangan TB Paru di Indonesia ditekankan pada tingkat kabupaten atau
kota. Penelitian Vasantha et al. (2008) mendapatkan bahwa probabilitas
kelangsungan hidup diketahui sama pada semua pasien tuberkulosis tanpa
memperhatikan jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang dipakai (kategorisasi).
Usia, berat badan awal, riwayat pengobatan sebelumnya dan alkoholisme adalah
faktor resiko untuk angka kematian yang tinggi.
Indikator nasional yang dipakai untuk menentukan keberhasilan
pencapaian program TB Paru adalah angka penemuan penderita (Case Detection
Rate) minimal 70%, angka kesembuhan (Cure Rate) minimal 85%, angka
konversi (Conversion Rate) minimal 80% dan angka kesalahan laboratorium
(Error Rate) maksimal 5% .

2. PENYULUHAN LANGSUNG PERORANGAN


Cara penyuluhan langsung perorangan lebih besar kemungkinan untuk
berhasil dibanding dengan cara penyuluhan melalui media. Dalam penyuluhan
langsung perorangan, unsur yang terpenting yang harus diperhatikan adalah
membina hubungan yang baik antara petugas kesehatan (dokter, perawat, dll)
dengan penderita. Penyuluhan ini dapat dilakukan di rumah, di puskesmas,
posyandu, dan lain lain sesuai kesempatan yang ada. Supaya komunikasi dengan
penderita bisa berhasil, petugas harus menggunakan bahasa yang sederhana yang
dapat dimengerti oleh penderita. Gunakan istilah-istilah setempat yang sering
dipakai masyarakat untuk penyakit TB dan gejala-gejalanya. Supaya komunikasi
berhasil baik, petugas kesehatan harus melayani penderita secara ramah dan
bersahabat, penuh hormat dan simpati, mendengar keluhan-keluhan mereka, serta
tunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan dan kesembuhan mereka. Dengan
demikian, penderita mau bertanya tentang hal-hal yang masih belum dimengerti.
Penyuluhan langsung perorangan ini dapat dianggap berhasil bila:
 Penderita bisa menjelaskan secara tepat tentang riwayat pengobatan
sebelumnya
 Penderita datang berobat secara teratur sesuai jadwal pengobatan
 Anggota keluarga penderita dapat menjaga dan melindungi kesehatannya

3. PENYULUHAN KELOMPOK
Penyuluhan kelompok adalah penyuluhan TB yang ditujukan kepada
sekelompok orang (sekitar 15 orang), bisa terdiri dari penderita TB dan
keluarganya. Penggunaan flip chart (lembar balik) dan alat bantu penyuluhan
lainnya sangat berguna untuk memudahkan penderita dan keluarganya menangkap
isi pesan yang disampaikan oleh petugas. Dengan alat peraga (dalam
gambar/simbol) maka isi pesan akan lebih mudah dan lebih cepat dimengerti.
Gunakan alat bantu penyuluhan dengan tulisan dan atau gambar yang singkat dan
jelas.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pencapaian program TB paru di Puskesmas II Kemranjen tahun 2012
belum memenuhi target pencapaian nasional, dimana angka CDR sebesar
23,40%, Cure Rate sebesar 79,96% ,
2. Terdapat keterbatasan tenaga kesehatan dalam program P2M TB,
laboratorium yang belum memadai, analis laboratorium yang belum
dilengkapi perlindungan saat melakukan pemeriksaan BTA.
3. Penemuan kasus TB paru di Kecamatan Kemranjen bersifat pasif, dimana
penemuan kasus dilakukan pada pasien yang berobat ke Balai Pengobatan
di Puskesmas II Kemranjen dan memiliki tanda dan gejala TB Paru.
4. Belum semua orang dengan kriteria tersangka TB yang terjaring di poli
terutama Pustu, dapat diperiksa dahaknya (dahak tidak keluar atau
tersangka TB tidak mengirimkan dahaknya).
5. Pasien dengan keluhan batuk (kemungkinan TB) kadang didiagnosis selain
TB/ISPA tanpa digali riwayat batuknya lebih dalam dan masih ada
masyarakat yang berobat tidak ke Puskesmas II Kemranjen .
6. Penyuluhan dilakukan jika ditemukan suspek penderita TB dan sasarannya
hanya keluarga suspek TB tersebut.
7. Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit TB yang masih
rendah menyebabkan masyarakat kurang peduli terhadap penyakit ini.
8. Kesadaran tersangka penderita TB dan keluarga suspek TB masih rendah
untuk memeriksakan dahaknya ke laboratorium.
B. Saran
1. Bagi peneliti
Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan dasar dilakukannya
penelitian lebih lanjut mengenai program P2M khususnya penanganan TB
di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen .

2. Bagi DKK
Diperlukan komitmen yang berkesinambungan dalam menangani
TB sehingga tiap program yang dilakukan akan memberikan hasil yang
maksimal.
3. Bagi Puskesmas
a. Diperlukan pendataan suspek TB dan BTA (+) yang lebih akurat.
b. Dilakukan skrining suspek TB dan BTA (+) untuk memenuhi target
pencapaian nasional.
c. Pembentukan kader TB tiap desa yang dapat diambil dari kader
Posyandu.
d. Bila ditemukan suspek TB pada saat pemeriksaan di Posyandu maka
sebaiknya dahak penderita langsung diambil untuk diperiksa.
e. Bila ditemukan penderita BTA (+) maka dicari pula suspek TB pada
keluarga yang tinggal satu rumah.
f. Dilakukan penyuluhan berkesinambungan yang ditujukan kepada
seluruh masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
mengenai TB paru.
4. Bagi masyarakat
Masyarakat hendaknya dapat mendukung setiap langkah
pemberantasan TB yang dilakukan Puskesmas II Kemranjen untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita TB maupun suspek TB.
DAFTAR PUSTAKA

Depertemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis edisi


ke-2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2006.p.1-131.

Eddy Widodo. Upaya Peningkatan Peran Masyarakat dan Tenaga Kesehatan


dalam Pemberantasan Tuberkulosis. Makalah Pribadi Pengantar Falsafah Sains
Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2004.p.1-16.

Mual Bobby E. Peranan Foto Dada dalam Mendiagnosis Tuberkulosis Paru


Tersangka dengan BTA Negatif di Puskesmas Kodya Medan. Program Pendidikan
Dokter Spesialis Departemen Ilmu Penyakit Paru FK USU. Medan: FK USU;
2009.p.1-77.

Notoatmodjo Soekidjo, prof. Dr. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-


Prinsip Dasar. PT Rineka Cipta; Jakarta.

Profil Kesehatan Jawa Tangah Tahun 2004. Available at


http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/profil/profile2004/bab4.htm) diakses

Profil Puskesmas II Kemranjen . 2012.

Sukana, Bambang, Heryanto, dan Supraptini. 2003. Pengaruh Penyuluhan


Terhadap Pengetahuan Penderita TB Paru di Tangerang. Jurnal Ekologi
Kesehatan. Vol 2 (3) : 282-9.