Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................................... i


DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................ii
DAFTAR TABEL......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2 Permasalahan............................................................................................................... 1
1.3 Maksud dan Tujuan ..................................................................................................... 2
1.4 Batasan Masalah .......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3
2.1 Peraturan Terkait Air Limbah ..................................................................................... 3
2.2 Definisi dan Karakteristik Air Limbah........................................................................ 3
2.3 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil ..................................................................... 7
2.4 Sumber Limbah Cair ................................................................................................... 8
2.5 Jenis dan Penggolongan Limbah Industri Tekstil ..................................................... 10
2.6 Dampak Limbah Industri Tekstil .............................................................................. 12
2.7 Metode Pengolahan Limbah Cair Industri Tekstil .................................................... 12
2.7.1 Tahap Pengolahan Limbah Cair......................................................................... 12
2.7.2 Metode Pengolahan Fisik ................................................................................... 13
2.7.3 Metode Pengolahan Biologis ............................................................................. 17
2.7.4 Metode Pengolahan Air Limbah Lanjutan ......................................................... 21
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 23
3.1 Kesimpulan................................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 24

Lisa Adatika i
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Saluran Penyaringan .......................................................................................... 15


Gambar 2.2 Bak Sedimentasi................................................................................................. 16
Gambar 2.3 Filter ................................................................................................................... 17
Gambar 2.4 Bagan Alur Pengolahan Air Limbah dengan Proses Pengaktifan Lumpur ........ 19
Gambar 2.5 Kolam Aerasi ..................................................................................................... 20
Gambar 2.6 Lagoon ............................................................................................................... 21
Gambar 2.7 Bagan Alir untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah Kecil ................................ 22

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil Berdasarkan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 ................................................................... 7
Tabel 2.2 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah No.5 Tahun 2012 .............................................................. 7

Lisa Adatika ii
1 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat,
menyebabkan kebutuhan manusia pun semakin beragam. Persaingan industri semakin ketat
dimana perusahaan berlomba untuk melakukan inovasi dalam menarik perhatian konsumen
sehingga dapat bersaing dengan negara maju lainnya. Perkembangan industri dewasa ini lebih
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat pada saat ini saja dan terkadang
mengesampingkan dampak yang diakibatkan di masa mendatang.

Permasalahan dari kegiatan industri antara lain timbulnya limbah, baik limbah cair
maupun padat. Limbah yang ditimbulkan dari industri tekstil berupa limbah cair apabila
langsung dibuang akan mencemari lingkungan terutama perairan. Pencemaran air merupakan
masalah serius karena dapat mengganggu ekosistem sungai dan merugikan kesehatan
manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan limbah industri khususnya industri
tekstil. Sebelum dibuang ke badan sungai limbah harus diolah terlebih dahulu agar sesuai
dengan baku mutu yang telah ditetapkan.

Pengelolaan limbah dilakukan pada saat proses produksi maupun setelah proses
produksi. Pada saat produksi pengelolaan limbah bertujuan untuk meminimalkan limbah
yang terjadi, volume limbah minimal dengan konsentrasi dan toksisitas yang juga minimal.
Sedangkan pengelolaan limbah cair setelah proses produksi dimaksudkan untuk
menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung didalamnya
sehingga limbah cair tersebut memenuhi syarat untuk dapat dibuang. Dengan demikian dalam
pengolahan limbah cair untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien perlu dilakukan
langkah-langkah pengelolaan yang dilaksanakan secara terpadu dengan dimulai dengan
upaya minimisasi limbah (waste minimization), pengolahan limbah (waste treatment), hingga
pembuangan limbah produksi (disposal).

1.2 Permasalahan
Permasalahan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Dari mana sumber limbah cair industri tekstil berasal?


2. Bagaimana metode pengelolaan limbah cair industri tekstil?

Lisa Adatika 1
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan makalah ini adalah memperoleh gambaran mengenai proses
pengelolaan limbah cair yang diakibatkan oleh kegiatan industri tekstil. Sedangkan tujuan
penyusunan makalah ini antara lain sebagai berikut:

1. Memperoleh informasi mengenai sumber limbah cair pada industri tekstil.


2. Mengetahui metode pengolahan limbah cair pada industri tekstil.

1.4 Batasan Masalah


Penyusunan makalah ini dibatasi pada permasalahan pengelolaan limbah cair
khususnya pada industri tekstil.

Lisa Adatika 2
2 BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Peraturan Terkait Air Limbah


Beberapa peraturan yang terkait dengan air limbah antara lain :

1. Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air
2. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Perubahan
Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Baku
Mutu Air Limbah
3. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2014
Tentang Baku Mutu Air Limbah
4. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 142 tahun 2003 tentang Perubahan
Atas Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 111 Tahun 2003 Tentang
Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air

2.2 Definisi dan Karakteristik Air Limbah


Berdasarkan peraturan daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 Tentang
Baku Mutu Air Limbah menyebutkan bahwa air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau
kegiatan yang berwujud cair yang apabila dibuang ke lingkungan dapat menurunkan kualitas
lingkungan, sehingga untuk melestarikan lingkungan agar dapat bermanfaat bagi hidup dan
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya perlu dilakukan upaya pengelolaan air
limbah.

Air limbah adalah air dari suatu daerah pemukiman yang telah dipergunakan untuk
berbagai keperluan, harus dikumpulkan dan dibuang untuk menjaga lingkungan hidup yang
sehat dan baik (Tchobanoglous, 1991 dalam Habibi, 2012).

Menurut Junaidi (2006) Karakteristik air limbah dapat dibagi menjadi tiga yaitu
karakteristik fisika, kimia dan biologi.

1. Karakteristik Fisika
Karakteristik fisika ini terdiri dari beberapa parameter, diantaranya:

Lisa Adatika 3
a. Total Solid (TS)
Total Solid merupakan padatan didalam air yang terdiri dari bahan organik maupun
anorganik yang larut, mengendap, atau tersuspensi dalam air.
b. Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid merupakan jumlah berat dalam mg/l kering lumpur yang ada
didalam air limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45
mikron (Sugiharto, 1987).
c. Warna
Pada dasarnya air bersih tidak berwarna, tetapi seiring dengan waktu dan menigkatnya
kondisi anaerob, warna limbah berubah dari yang abu– abu menjadi kehitaman.
d. Kekeruhan
Kekeuhan disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang bersifat organik maupun
anorganik.
e. Temperatur
Temperatur merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan efeknya terhadap
reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan penggunaan air untuk berbagai
aktivitas sehari – hari.
f. Bau
Bau disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekomposisi materi atau
penambahan substansi pada limbah. Pengendalian bau sangat penting karena terkait
dengan masalah estetika.
2. Karateristik Kimia
a. Biological Oxygen Demand (BOD)
Menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk
menguraikan atau mengoksidasi bahan–bahan buangan di dalam air
b. Chemical Oxygen Demand (COD)
Merupakan jumlah kebutuhan oksigen dalam air untuk proses reaksi secara kimia
guna menguraikan unsur pencemar yang ada. COD dinyatakan dalam ppm (part per
milion) atau ml O2/ liter.(Alaerts dan Santika, 1984).
c. Dissolved Oxygen (DO)
adalah kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk respirasi aerob mikroorganisme.
DO di dalam air sangat tergantung pada temperatur dan salinitas
d. Ammonia (NH3)

Lisa Adatika 4
Ammonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan pertumbuhan
mikroorganisme dan mengganggu proses desinfeksi dengan chlor (Soemirat, 1994).
Ammonia terdapat dalam larutan dan dapat berupa senyawa ion ammonium atau
ammonia. tergantung pada pH larutan
e. Sulfida
Sulfat direduksi menjadi sulfida dalam sludge digester dan dapat mengganggu proses
pengolahan limbah secara biologi jika konsentrasinya melebihi 200 mg/L. Gas H2S
bersifat korosif terhadap pipa dan dapat merusak mesin (Sugiharto, 1987).
f. Fenol
Fenol mudah masuk lewat kulit. Keracunan kronis menimbulkan gejala gastero
intestinal, sulit menelan, dan hipersalivasi, kerusakan ginjal dan hati, serta dapat
menimbulkan kematian (Soemirat, 1994).
g. Derajat keasaman (pH)
pH dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air. Bila terlalu rendah atau terlalu
tinggi dapat mematikan kehidupan mikroorganisme. Ph normal untuk kehidupan air
adalah 6– 8.
h. Logam Berat
Logam berat bila konsentrasinya berlebih dapat bersifat toksik sehingga diperlukan
pengukuran dan pengolahan limbah yang mengandung logam berat.

Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia yang dalam skala tertentu
membantu kinerja metabolisme tubuh dan mempunyai potensi racun jika memiliki
konsentrasi yang terlalu tinggi. Berdasarkan sifat racunnya logam berat dapat dibagi
menjadi 3 golongan :
1) Sangat beracun, dapat mengakibatkan kematian atau gangguan kesehatan yang
tidak pulih dalam jangka waktu singkat, logam tersebut antara lain : Pb,Hg, Cd,
Cr, As, Sb, Ti dan U.
2) Moderat, mengakibatkan gangguan kesehatan baik yang dapat pulih maupun
yang tidak dapat pulih dalam jangka waktu yang relatif lama, logam tersebut
antara lain : Ba, Be, Au, Li, Mn, Sc, Te, Va, Co dan Rb.
3) Kurang beracun, namun dalam jumlah yang besar logam ini dapat menimbulkan
gangguan kesehatan antara lain : Bi, Fe, Mg, Ni, Ag, Ti dan Zn

Lisa Adatika 5
3. Karakteristik Biologi
Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air yang
dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Parameter yang biasa digunakan adalah
banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah.

Penentuan kualitas biologi ditentukan oleh kehadiran mikroorganisme terlarut dalam air
seperti kandungan bakteri, algae, cacing, serta plankton. Penentuan kualitas
mikroorganisme dilatarbelakangi dasar pemikiran bahwa air tersebut tidak akan
membahayakan kesehatan. Dalam konteks ini maka penentuan kualitas biologi air
didasarkan pada analisis kehadiran mikroorganisme indikator pencemaran.

Menurut Sunu (2001) dalam Sanatang et al (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi


jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air yaitu :
a. Sumber air
Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh sumber seperti air
hujan, air permukaan, air tanah, air laut dan sebagainya.
b. Komponen nutrien dalam air
Secara alamiah air mengandung mineral - mineral yang cukup untuk kehidupan
mikroorganisme yang dibutuhkan oleh spesies mikroorganisme tertentu.
c. Komponen beracun
Terdapat di dalam air akan mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang
terdapat di dalam air. Sebagai contoh asam-asam organik dan anorganik, khlorin
dapat membunuh mikroorganisme dan kehidupan lainnya di dalam air.
d. Organisme air
Adanya organisme di dalam air dapat mempengaruhi jumlah dan jenis
mikroorganisme air, seperti protozoa dan plankton dapat membunuh bakteri.
e. Faktor fisik
Faktor fisik seperti suhu, pH, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik, aerasi, dan
penetrasi sinar matahari dapat mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang
terapat di dalam air.

Lisa Adatika 6
2.3 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil
Air Limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair. Mutu
air limbah adalah kondisi kualitas air limbah yang diukur dan diuji berdasarkan parameter-
parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan. Baku
mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas
ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/ atau kegiatan. (Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah)
Baku mutu air limbah bagi usaha dan/ atau kegiatan industri tekstil dapat dilihat pada
Tabel berikut,
Tabel 2.1 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil Berdasarkan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014

Sumber : PerMen Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014

Tabel 2.2 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil Berdasarkan Peraturan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah No.5 Tahun 2012

Sumber : Perda Jateng No.5 Tahun 2012

Lisa Adatika 7
Peraturan pemerintah provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Baku Mutu
Air limbah juga mengatur ukuran batas bahan pencemar pada kegiatan industri tekstil dan
batik seperti pada Tabel 2.2 di atas. Dalam tabel tersebut memuat kadar maksimum bahan
pencemar serta beban pencemaran maksimum pada setiap kegiatan dalam industri tekstil dan
batik. Beberapa catatan yang terkait dengan Tabel 2.2 di atas antara lain:

a. Kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram
parameter per liter air limbah.
b. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan
dalam kilogram parameter per ton produk tekstil
c. Air limbah blow down boiler, regenerasi ion exchange dan lain-lain apabila terpisah
harus memenuhi Baku Mutu Air Limbah Golongan. Apabila jadi satu harus memenuhi
Baku Mutu Air Limbah Industri tekstil.

2.4 Sumber Limbah Cair


Limbah tekstil merupakan limbah cair dominan yang dihasilkan industri tekstil karena
terjadi proses pemberian warna (dyeing) yang di samping memerlukan bahan kimia juga
memerlukan air sebagai media pelarut (Dwioktavia, 2011). Industri tekstil merupakan suatu
industri yang bergerak di bidang garmen dengan mengolah kapas atau serat sintetik menjadi
kain melalui tahapan proses: Spinning (Pemintalan) dan Weaving (Penenunan). Limbah
industri tekstil tergolong limbah cair dari proses pewarnaan yang merupakan senyawa kimia
sintetis, mempunyai kekuatan pencemar yang kuat. Bahan pewarna tersebut telah terbukti
mampu mencemari lingkungan. Zat warna tekstil merupakan semua zat warna yang
mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serat tekstil dan mudah dihilangkan warna
(kromofor) dan gugus yang dapat mengadakan ikatan dengan serat tekstil (auksokrom).

Zat warna tekstil merupakan gabungan dari senyawa organik tidak jenuh, kromofor
dan auksokrom sebagai pengaktif kerja kromofor dan pengikat antara warna dengan serat.
Limbah air yang bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam proses
produksinya. Di samping itu ada pula bahan baku yang mengandung air sehingga dalam
proses pengolahannya air tersebut harus dibuang.

Lingkungan yang tercemar akan mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup di


sekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kegiatan industri, air yang
telah digunakan (air limbah industri) tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan, tetapi air
limbah industri harus mengalami proses pengolahan sehingga dapat digunakan lagi atau

Lisa Adatika 8
dibuang ke lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran. Proses pengolahan air limbah
industri adalah salah satu syarat yang harus dimiliki oleh industri yang berwawasan
lingkungan. Larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat
kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam. Penghilangan kanji
biasanya memberikan BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan
dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting,
yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Proses-
proses ini menghasilkan limbah cair dengan volume besar, pH yang sangat bervariasi dan
beban pencemaran yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan. Pewarnaan
dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan-
bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam. Di Indonesia zat warna
berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai (dwioktavia, 2011).

Limbah dan emisi merupakan non product output dari kegiatan industri tekstil.
Khusus industri tekstil yang di dalam proses produksinya mempunyai unit Finishing-
Pewarnaan (dyeing) mempunyai potensi sebagai penyebab pencemaran air dengan kandungan
amoniak yang tinggi. Pihak industri pada umumnya masih melakukan upaya pengelolaan
lingkungan dengan melakukan pengolahan limbah (treatment). Dengan membangun instalasi
pengolah limbah memerlukan biaya yang tidak sedikit dan selanjutnya pihak industri juga
harus mengeluarkan biaya operasional agar buangan dapat memenuhi baku mutu. Untuk saat
ini pengolahan limbah pada beberapa industri tekstil belum menyelesaikan penanganan
limbah industri.

Karakteristik utama dari limbah industri tekstil adalah tingginya kandungan zat warna
sintetik, yang apabila dibuang ke lingkungan tentunya akan membahayakan ekosistem
perairan. Zat warna ini memiliki struktur kimia yang berupa gugus kromofor dan terbuat dari
beraneka bahan sintetis, yang membuatnya resisten terhadap degradasi saat nantinya sudah
memasuki perairan. Meningkatnya kekeruhan air karena adanya polusi zat warna, nantinya
akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan mengganggu
keseimbangan proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek mutagenik dan karsinogen dari
zat warna tersebut, membuatnya menjadi masalah yang serius.

Limbah cair industri tekstil dapat diamati dengan mudah, karena limbah cairnya memiliki
warna yang pekat. Warna ini berasal dari sisa-sisa zat warna yang merupakan suatu senyawa
kompleks aromatik yang biasanya sukar untuk diuraikan oleh mikroba. Beberapa penelitian
mengenai perombakan zat warna dari limbah cair industri tekstil secara anerobik dilaporkan

Lisa Adatika 9
telah berhasil mengurangi warna, khususnya zat warna azo ini umumnya resistan untuk
dioksidasi oleh mikoorganisme aerobik.

2.5 Jenis dan Penggolongan Limbah Industri Tekstil


Kualitas limbah menunjukkan spesifikasi limbah yang diukur dari jumlah kandungan
bahan pencemar di dalam limbah. Kandungan pencemar di dalam limbah terdiri dari berbagai
parameter. Semakin kecil jumlah parameter dan semakin kecil konsentrasinya, hal ini
menunjukkan semakin kecil peluang untuk terjadinya pencemaran lingkungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah :

a. Volume limbah
b. Kandungan bahan pencemar
c. Frekuensi pembuangan limbah

Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi empat bagian


yaitu:

 Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran
air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan
bahan buangan anorganik.
 Limbah padat.
 Limbah gas
 Limbah partikel

Salah satu pencemar organik yang bersifat non biodegradable adalah zat
warna tekstil. Zat warna tekstil umumnya dibuat dari senyawa azo dan turunannya dari
gugus benzen. Diketahui bahwa gugus benzen sangat sulit didegradasi, kalaupun
dimungkinkan dibutuhkan waktu yang lama. Senyawa azo bila terlalu lama berada di
lingkungan, akan menjadi sumber penyakit karena sifatnya karsinogenik dan mutagenik.
Karena itu perlu dicari alternatif efektif untuk menguraikan limbah tersebut. Zat warna ini
berasal dari sisa – sisa zat warna yang tak larut dan juga dari kotoran yang berasal dari
serat alam.Warna selain mengganggu keindahan, beberapa juga dapat bersifat racun dan
sukar dihilangkan. Beberapa penelitian tentang biodegradasi zat warna khususnya zat warna
azo.

Molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh dengan
kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat warna

Lisa Adatika 10
dengan serat.zatorganik tidak jenuh yang dijumpai dalam pembentukan zat warna adalah
senyawa aromatik antara lain senyawa hidrokarbon aromatik dan turunannya, fenol dan
turunannya serta senyawa-senyawa hidrokarbon yang mengandung nitrogen.

Beberapa penggolongan zat warna sebagai berikut :

1. Zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat warna alam dan zat
warna sintetik.
2. Zat warna berdasarkan pemakaiannya :
a. zat warna substantif adalah zat warna yang langsung dapat mewarnai serat dan
b. zat reaktif adalah zat warna yang memerlukan zat-zat pembantu supaya dapat
mewarnai serat
3. Zat warna menurut warna yang ditimbulkannya:
a. zat warna monogenetik apabila memberikan hanya satu warna
b. zat warna poligenatik apabila dapat memberikan beberapa warna
4. Penggolongan zat warna yang lebih umum dikenal adalah berdasarkan konstitusi (struktur
molekul) dan berdasarkan aplikasi (cara pewarnaannya) pada bahan, misalnya didalam
pencelupan dan pencapan bahan tekstil, kulit, kertas dan bahan-bahan lain.
5. Penggolongan zat warna menurut “Colours Index” volume 3, yang terutama
menggolongkan atas dasar sistem kromofor yang berbeda misalnya zat warna Azo,
Antrakuinon, Ftalosia, Nitroso, Indigo, Benzodifuran, Okazin, Polimetil, Di- dan Tri-Aril
Karbonium, Poliksilik, Aromatik Karbonil, Quionftalen, Sulfer, Nitro, Nitrosol dan lain-
lain.
6. Penggolongan lain yang biasa digunakan terutama pada proses pencelupan dan pencapan
pada industri tekstil adalah penggolongan berdasarkan aplikasi (cara pewarnaan). Zat
warna tersebut dapat digolongkan sebagai zat warna asam, basa, direk, dispersi, pigmen,
reaktif, solven, belerang , bejana dan lain-lain.

Jenis yang paling banyak digunakan saat ini adalah zat warna reaktif dan zat
warna dispersi. Hal ini disebabkan produksi bahan tekstil dewasa ini adalah serat sintetik
seperti serat polamida, poliester dan poliakrilat.Bahantekstil sintetik ini, terutama serat
poliester, kebanyakan hanya dapat dicelup dengan zat warna dispersi.Demikian juga untuk
zat warna reaktif yang dapat mewarnai bahan kapas dengan baik.

Lisa Adatika 11
2.6 Dampak Limbah Industri Tekstil
Dampak yang ditimbulkan zat warna limbah tekstil pada tubuh manusia, antara lain:

1. Berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air karena sebagian besar oksigen
digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses pengolahan limbah dalam sungai.
2. Limbah tekstil yang dibuang ke sungai, dapat berakibat menghalangi cahaya matahari
sehingga menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan
oksigen.
3. Deterjen yang digunakan untuk proses pencucian zat warna pada tekstil sangat sukar
diuraikan oleh bakteri sehingga akan tetap aktif untuk jangka waktu yang lama di dalam
air, mencemari air dan meracuni berbagai organisme air.
4. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air
sungai atau danau yang merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok
(Eichhornia crassipes).
5. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan
permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya
matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.
6. Tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang) yang mati membawa akibat proses
pembusukan tumbuhan ini akan menghabiskan persediaan oksigen.
7. Material pembusukan tumbuhan air akan mengendapkan dan menyebabkan pendangkalan
(http://abhellizenza135.blogspot.co.id/2017/04/dampak-negatif-industri-tekstil.html
diakses 20 September 2017)

2.7 Metode Pengolahan Limbah Cair Industri Tekstil

2.7.1 Tahap Pengolahan Limbah Cair


Jaringan pengolahan air limbah pada dasarnya dikelompokkan menjadi tiga tahap
yaitu pengolahan primer, pengolahan sekunder dan pengolahan tersier (Sunu, 2001 dalam
Habibi, 2012). Pengertian dari ketiga pengolahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pengolahan primer

Pengolahan primer semata-mata mencakup pemisahan kerikil, lumpur, dan


penghilangan zat padat yang terapung (Sugiharto, 1987 dalam Habibi, 2012). Hal ini
biasa dilakukan dengan penyaringan dan pengendapan di kolam-kolam pengendapan.
Buangan dari pengolahan primer biasanya akan mengandung bahan organik yang
lumayan banyak dan BOD-nya relatif tinggi.

Lisa Adatika 12
2. Pengolahan sekunder

Pengolahan sekunder mencakup pengolahan lebih lanjut dari buangan pengolahan


primer. Hal ini menyangkut pembuangan bahan organik dan sisa-sisa bahan terapung
dan biasanya dilaksanakan dengan proses biologis mempergunakan filter, aerasi,
kolam oksidasi dan cara-cara lainnya (Tchobanoglous, 1991 dalam Habibi, 2012).
Buangan dari pengolahan sekunder biasanya mempunyai BOD yang kecil dan
mungkin mengandung beberapa mg/L oksigen terlarut.

3. Pengolahan lanjutan (tersier)

Pengolahan lanjutan dipergunakan untuk membuang bahan bahan terlarut dan


terapung yang masih tersisa setelah pengolahan biologis yang normal apabila
dibutuhkan untuk pemakaian air kembali atau untuk pengendalian etrofikasi di air
penerima (Tchobanoglous, 1991 dalam Habibi, 2012).

Pemilihan seperangkat metode pengolahan tergantung pada berbagai faktor, termasuk


sarana pembuangan yang tersedia. Sebenarnya, perbedaan antara pengolahan primer,
sekunder dan tersier (lanjutan) hanyalah bersifat perjanjian, karena kebanyakan metode
pengolahan air limbah modern mencakup proses-proses fisik, kimiawi, dan biologis dalam
operasi yang sama.

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan teknologi pengolahan air limbah, antara


lain: (PPLP DPU, 2011 dalam Kurniawan et al, 2013)

1. Kualitas dan kuantitas air limbah yang akan diolah,


2. Kemudahan pengoperasian dan ketersediaan SDM yang memenuhi kualifikasi untuk
pengoperasian jenis IPAL terpilih,
3. Jumlah akumulasi lumpur,
4. Kebutuhan dan ketersediaan lahan,
5. Biaya pengoperasian,
6. Kualitas hasil olahan yang diharapkan dan
7. Kebutuhan energi

2.7.2 Metode Pengolahan Fisik


Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan,
diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau
bahan-bahan yang terapung disisihkan (Dephut, 2004 dalam Habibi, 2012). Metode-metode

Lisa Adatika 13
pengolahan fisik meliputi penyaringan, pengecilan ukuran, pembuangan serpih, pengendapan
dan filtrasi (Tchobanoglous, 1991 dalam Habibi, 2012). Pengertian singkat masing-masing
tahap di jelaskan sebagai berikut:

1. Penyaringan

Saluran penyaringan merupakan unit operasi yang dijumpai pertama dalam


pengolahan air limbah. Air limbah yang dihasilkan oleh unit-unit penghasil limbah
pertama kali mengalir ke saluran penyaringan. Dari inlet ini, saluran penyaringan
mulai berfungsi menyaring bahan-bahan kasar seperti plastik, kertas, kayu untuk tidak
masuk ke unit pengolahan selanjutnya.

Saringan kasar atau kisi-kisi dengan lubang sebesar 2 inci (50mm) atau lebih
dipergunakan untuk memisahkan benda benda terapung yang besar dari air limbah.
Alat-alat dipasang di depan pompa untuk mencegah penyumbatan. Saringan kasar
dapat menyaring bahan yang biasanya terdiri dari kayu, sampah dan kertas yang tidak
akan membusuk dan dapat dibuang dengan cara membakar, mengubur, atau
memupuknya. Saringan menengah mempunyai lubang antara 0,5 atau 1,5 inci (12
sampai 40mm). Saringan kasar dan menengah haruslah cukup besar agar kecepatan
aliran melalui lubang lubangnya tidak lebih dari 1m/detik. Hal ini membatasi
kehilangan tinggi tekanan dan mengurangi kemungkinan terdorong lolosnya bahan
yang harus disaring melalui lubang lubang itu. Saringan halus dengan lubang antara
0,0625 hingga 0,125 inci (1,6 hingga 3mm) sering dipergunakan untuk pengolahan
pendahuluan dari air limbah atau untuk mengurangi beban kolam pengendapan pada
instalasi kota di mana terdapat limbah industri berat. Saringan ini akan membuang
hingga 20 persen bahan padat terapung yang ada dalam air limbah. Penyaringan
biasanya meliputi bahan organik yang cukup banyak yang akan membusuk dan
menjadi ganas, sehingga harus dibuang dengan pembakaran atau penguburan
(Tchobanoglous, 1991 dalam Habibi, 2012).

Saluran penyaring memiliki fungsi diantaranya adalah:

a. Menghindari kerusakan peralatan dalam unit pengolahan lainnya.


b. Mengurangi beban proses pengolahan keseluruhan dan untuk meningkatkan
keefektifan pengolahan pada masing-masing unit.
c. Mengurangi kontaminasi pada jalur pengolahan

Lisa Adatika 14
Bahan-bahan kasar yang tersangkut/tersaring diangkut secara manual dan dibuang
sebagai sampah. Saluran penyaringan seperti yang Gambar berikut.

Sumber : Habibi, 2012


Gambar 2.1 Saluran Penyaringan
2. Pengecilan ukuran

Alat pengecil ukuran (penyerpih) adalah alat-alat yang dipergunakan untuk


menggiling atau memotong bahan padat limbah hingga berukuran kira-kira 0,25 inci
(6mm). Alat pengecil ukuran memecahkan persoalan pembuangan bahan saringan
dengan mengecilkan bahan padat ke dalam ukuran yang dapat diproses di tempat lain
dalam instalasi yang akan bersangkutan.

3. Pembuangan serpih

Kolam serpih yang direncanakan secara khusus dipergunakan untuk membuang


partikel-partikel anorganik (berat jenis kira-kira 1,6 hingga 2,65), misalnya pasir,
kerikil, kulit telur dan tulang yang ukurannya 0,2mm atau lebih besar untuk mencegah
kerusakan pompa dan untuk mencegah penumpukan bahan-bahan ini di dalam
pencerna lumpur. Serpih dapat dipergunakan untuk urugan atau diangkut bila tidak
mengandung bahan organik terlalu banyak (Tchobanoglous,1991 dalam Habibi,
2012).

4. Pengendapan

Fungsi utama dari kolam pengendapan biasa dalam pengolahan air limbah adalah
untuk membuang bahan terlarut yang lebih besar dari air limbah yang masuk. Fungsi
lainnya adalah mengendapkan lumpur aktif yang akan dikembalikan ke bak aerasi dan

Lisa Adatika 15
mempermudah untuk proses pada unit pengolahan selanjutnya. Pengendapan
mendapatkan hasil endapan yang optimal melalui pengaturan besar kecilnya bak yang
akan dibangun (Sugiharto,1987). Bahan yang harus dibuang adalah yang tinggi
kandungan organiknya (50 hingga 75 persen) dan mempunyai berat jenis 1,2 atau
kurang. Kecepatan turun dari partikel-partikel organik ini biasanya rendah, dapat
hingga 1,25m/jam. Jenis-jenis sarana pengendapan yang dipergunakan meliputi kolam
serpih, tangki pengendapan biasa, kolam pengendapan kimiawi, tangki septik, tangki
Imhoff, dan alat-alat lainnya (Tchobanoglous,1991 dalam Habibi, 2012).

Sumber : Habibi, 2012


Gambar 2.2 Bak Sedimentasi

5. Filter cepat berbutir kasar dan pasir lambat

Penggunaan filter cepat berbutir kasar guna membersihkan air buangan setelah
pengolahan sekunder. Filter pasir lambat kadang-kadang dipergunakan untuk
pengolahan akhir atau lanjuta setelah proses pengolahan sekunder atau lainnya. Air
limbah dialirkan terus-menerus dengan kecepatan kira-kira 0,4m/hari dan kegiatan
penyaringan oleh pasir diandalkan untuk membuang sebagian besar dari bahan padat
terapung yang masih tersisa di dalam air limbah (Tchobanoglous,1991 dalam Habibi,
2012).

Lisa Adatika 16
Sumber : Habibi, 2012
Gambar 2.3 Filter

2.7.3 Metode Pengolahan Biologis


Metode-metode ini merupakan unsur-unsur pokok bagi hampir semua jaringan
pengolahan sekunder. Konsepsi dasar pengolahan biologis dapat dinyatakan bahwa
pengolahan biologis meliputi:

1. Konversi bahan organik terlarut dan kolodial dalam air limbah menjadi serat-serat
biologis dan menjadi produk akhir.
2. Pembuangan selanjutnya dari serat-serat sel, biasanya dengan cara pengendapan
gravitasi (Tchobanoglous,1991).

Walapun konversi biologis dapat dilaksanakan baik dengan cara aerobik (dengan adanya
oksigen) maupun anaerobik (tanpa adanya oksigen), tetapi biasanya dipergunakan konversi
aerobik karena laju konversinya jauh lebih cepat daripada untuk konversi anaerobik.
Konversi biologis dari bahan organik oleh organisme mikro yang terapung dilaksanakan
dalam tangki-tangki yang disebut reaktor

(Tchobanoglous,1991). Dua jenis yang paling umum adalah reaktor aliran gabus (PFR) dan
rektor taangki berpengaduk dengan aliran tetap (CFSTR). Salah satu pengolahan biologis
pertumbuhan terapung aerobik yang paling terkenal adalah proses lumpur yang diaktifkan.

1. Proses lumpur yang diaktifkan

Proses lumpur aktif adalah proses biologik aerobik yang dapat digunakan untuk
menangani berbagai jenis limbah (Rahayu, 1993). Pada proses lumpur yang

Lisa Adatika 17
diaktifkan, air limbah yang tak diolah atau yang diendapkan dicampur dengan lumpur
yang diaktifkan balik, yang volumenya 20 hingga 50 persen dari volumenya sendiri.
Campuran itu akan memasuki suatu tangki aerasi dimana organisme dan air limbah
dicampur bersama dengan sejumlah besar udara. Pada kondisi ini, organisme akan
mengoksidasikan sebagian dari bahan limbah organik menjadi karbon dioksida dan
air, kemudian mensintesakan bagian yang lain menjadi sel-sel mikrobial yang baru
(Tchobanoglous,1991). Campuran itu lalu memasuki suatu kolam pengendapan di
mana organisme flokulan mengendap dan dibuang dari aliran buangan. Organisme
yang terendapkan atau lumpur yang diaktifkan kemudian dikembalikan lagi ke ujung
hulu dari tangki aerasi untuk dicampur lagi dengan air limbah (Sugiharto,1987).
Buangan dari instalasi lumpur aktif yang dioperasikan dengan baik mempunyai mutu
yang sangat tinggi, biasanya mempunyai BOD yang lebih rendah daripada yang
dihasilkan oleh filter tetesan. BOD5 dan konsentrasi bahan padat terapung dalam
buangan ini berkisar antara 10 dan 20mg/l untuk kedua kandungan tersebut
(Tchobanoglous,1991).Kolam aerasi biasanya memiliki kedalaman 3 hingga 5m dan
kira-kira lebarnya 6m. Panjangnya tergantung pada waktu penahanan, yang umumnya
bervariasi dari 4 hingga 8 jam untuk air perkotaan. Dari ruang aerasi bahan buangan
akan mengalir ke kolam pengendapan akhir dengan jangka waktu penahanan selama
kira-kira 2 jam. Salah satu masalah yang paling berat pada proses lumpur yang
diaktifkan adalah fenomena yang disebut penggumpalan, di mana lumpur dari tangki
aerasi tidak mau mengendap. Bila terjadi penggumpalan yang luar biasa, sebagian
bahan padat terapung dari aerator akan dialirkan dalam buangan
(Tchobanoglous,1991).

Keuntungan utama dari proses lumpur yang diaktifkan adalah karena dapat
menghasilkan buangan yang bermutu tinggi dengan kebutuhan luas instalasi
pengolahan yang minimum. Biaya awal lebih kecil daripada untuk instalasi filter
tetesan, tetapi biaya operasinya lebih besar karena kebutuhan energi dari kompresor
udara dan pompa-pompa sirkulasi lumpur (Tchobanoglous,1991).

Berikut adalah bagan alur pengolahan air limbah dengan lumpur aktif menurut
tchobanoglous

Lisa Adatika 18
Sumber : Habibi, 2012

Gambar 2.4 Bagan Alur Pengolahan Air Limbah dengan Proses Pengaktifan Lumpur

2. Kolam aerasi

Kolam aerasi pada dasarnya adalah sistem kolam untuk pengolahan air limbah di
mana oksigen dimasukkan dengan aerator-aerator mekanik dan proses fotosintesis
(Rahayu, 1993). Penambahan oksigen merupakan salah satu usaha untuk pengambilan
zat pencemar (Sugiharto,1987). Kolamnya lebih dalam daripada kolam stabilisasi,
sehingga waktu penahanan yang dibutuhkan lebih pendek. Efisiensi pengolahan
sebesar 60 hingga 90 persen dapat diperoleh dengan waktu penahanan selama 4
hingga 10 hari. Kolam aerasi itu sendiri sering dipergunakan untuk pengolahan
limbah industri (Tchobanoglous,1991).

Fungsi dari bak aerasi itu sendiri secara umum adalah sebagai berikut:

a. Memasok oksigen bagi mikroorganisme aerobic


b. Menjaga lumpur aktif selalu konstan melaksanakan kontak dengan air limbah
yang baru datang dari sistem pengolahan limbah sebelumnya.
c. Mengurangi bahkan dapat menghilagkan zat pencemar yang terkandung dalam air
limbah.

Lisa Adatika 19
Sumber : Habibi, 2012
Gambar 2.5 Kolam Aerasi

3. Lagoon

Lagoon adalah kolam dari tanah yang luas, dangkal atau tidak terlalu dalam (Rahayu,
1993). Air limbah yang yang dimasukkan kedalam lagoon didiamkan dengan waktu
yang cukup lama agar terjadi pemurnian secara biologis alami. Di dalam sistem
lagoon, paling tidak sebagian dari sistem biologis dipertahankan dalam kondisi
aerobik agar didapatkan hasil pengolahan sesuai yang diharapkan. Meskipun suplai
oksigen sebagian didapatkan dari proses difusi dengan udara luar, tetapi sebagian
besar didapatkan dari hasil fotosintesis (BPPT, 2008).

Fungsi dari lagoon itu sendiri adalah:

a. Meningkatkan kadar oksigen dalam air


b. Menambah terjadinya pengendapan
c. Sebagai pemecah warna.

Lisa Adatika 20
Sumber : Habibi, 2012
Gambar 2.6 Lagoon

2.7.4 Metode Pengolahan Air Limbah Lanjutan


Pengolahan limbah lanjutan bersangkutan operasi-operasi dan proses-proses
tambahan di luar yang secara konvensional dipergunakan untuk mempersiapkan air limbah
guna penggunaan kembali secara langsung bagi kebutuhan-kebutuhan industri, pertanian dan
perkotaan. Selama suatu daur penggunaan, konsentrasi garam-garam, magnesium, kalsium,
sodium, sulfat, klorida, dan bikarbonat dapat meningkat sebesar 100 hingga 300mg/l. Garam-
garam semacam ini juga bersifat sangat tahan (sukar cair). Bila air limbah harus
dipergunakan kembali, seperti yang biasa terjadi pada daerah-daerah kekurangan air, maka
konsentrasi dari bahan-bahan yang sangat tahan tersebut mungkin harus diturunkan,
tergantung pada rencana penggunaan buangan yang bersangkutan (Tchobanoglous,1991).
Berikut adalah bagan alir untuk instalasi pengolahan air limbah kecil menurut tchobanoglous
(Gambar 2.7).

Lisa Adatika 21
Sumber : Habibi, 2012
Gambar 2.7 Bagan Alir untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah Kecil

Lisa Adatika 22
3 BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Pada industri tekstil limbah yang ditimbulkan adalah limbah cair akibat dari proses
produksi yang berupa zat warna.
2. Metode pengolahan limbah industri tekstil digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu metode
fisik dan metode biologi.
3. Metode pengolahan limbah industri tekstil secara fisik meliputi tahap penyaringan,
pengecilan ukuran, pembuangan serpih, pengendapan, dan filter cepat berbutir kasar
dan pasir lambat.
4. Metode pengolahan limbah cair secara biologi meliputi proses lumpur aktif, aerasi,
dan sistem lagoon.

Lisa Adatika 23
DAFTAR PUSTAKA

______. 2012. Peraturan daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004
Tentang Baku Mutu Air Limbah

Habibi, Islam. 2012. Proyek Akhir : Tinjauan Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri
Tekstil PT. Sukun Tekstil Kudus. UNY: Yogyakarta

Junaidi. 2006. Analisis Teknologi Pengolahan Limbah Cair Pada Industri Tekstil (Studi
Kasus PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta). Jurnal Presipitasi Vol.1 No. 1
September 2006 Pp: 1-6

Kurniawan, M.Wawan et al. 2013. Strategi Pengelolaan Air Limbah Sentra Umkm Batik
Yang Berkelanjutan Di Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Ilmu Lingkungan Volume 11
Issue 2 : 62-72

Oktavia, Dwi. 2011. Pengolahan Limbah Industri


Tekstil. https://dwioktavia.wordpress.com diakses pada 25 Agustus 2017

Riyani, Kapti dan Setyaningtyas, Tien. 2011. Pengaruh Karbon Aktif Terhadap Aktivitas
Fotodegradasi Zat Warna Pada Limbah Cair Industri Tekstil Menggunakan
Fotokatalis TiO2. Jurnal Molekul, Vol. 6. No. 2 : 113 - 122

Said, Nusa Idaman. 2002. Pengolahan Air Limbah Industri Kecil Tekstil Dengan Proses
Biofilter Anaerob-Aerob Tercelup Menggunakan Media Plastik Sarang Tawon.
Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol. 2, No. 2 : 124-135

Sanatang et al. 2011. Pengolahan Limbah Industri Tekstil. Kendari : Universitas Haluleo

Lisa Adatika 24