Anda di halaman 1dari 12

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan Mahkamah Agung RI

PPC
Program Pendidikan dan
Modul Diklat Tahap 2

“MUSYAWARAH"
Pelatihan Calon Hakim

TERPADU
PERADILAN UMUM

e-learning.mahkamahagung.go.id
© 2018
Surat Dakwaan 1
haru.manviska@gmail.com
NARASI
TEKNIK MUSYAWARAH MAJELIS HAKIM
Pusdiklat Teknis Peradilan Balitbang Diklat Kumdil MA

I. PRINSIP DASAR MUSYAWARAH


1.1. Makna Musyawarah Putusan

Musyawarah berasal dari kata syawara (Bahasa Arab) berarti berunding,


urun rembuk. Istilah lain dalam tata negara Indonesia dan
kehidupan modern tentang musyawarah dikenal dengan sebutan “syuro”,
“rembug desa”, “kerapatan nagari” bahkan “demokrasi”. Kewajiban musyawarah
hanya untuk urusan keduniawian. Jadi musyawarah adalah suatu upaya
bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan
keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau
pemecahan masalah yang menyangkut urusan keduniawian. 1 Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, musyawarah artinya pembahasan bersama dengan
maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah, perundingan,
perembukan.2 Sebagai pembahasan bersama maka musyawarah dilakukan atas
dasar kepentingan bersama, prosesnya mengutamakan pertimbangan moral dan
bersumber dari hati nurani yang luhur sehingga hasilnya dapat diterima dengan
akal sehat sesuai hati nurani.
Mekanisme musyawarah juga lazim dipraktekan dalam dunia peradilan,
ketika majelis hakim akan membuat putusan atas perkara yang diadilinya. Setiap
majelis hakim, butuh musyawarah untuk menyatukan pendapat sebagai
pendapat majelis (kolektif). Kapan dimulai musyawarah? Biasanya dilakukan
setelah pemeriksaan perkara dinyatakan selesai. Untuk perkara pidana,
hitungannya sampai selesai dengan pembelaan, sedangkan perkara perdata,
kesimpulan. Namun demikian mengacu pada KUHAP, pemeriksaan yang telah
selesai dapat dibuka sekali lagi sesuai kebutuhan dan urgensi disertai alasannya,
oleh hakim karena jabatan maupun permintaan pihak atau penasihat hukumnya.

1
Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Musyawarah, 30 Oktober 2018, pukul. 14.07 WIB;
2 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Edisi Keempat, PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hal. 944.

1
Jadi untuk kebutuhan musyawarah, hakim boleh saja membuka lagi
persidangan.3 Mereka yang bermusyawarah terdiri atas hakim yang jumlahnya
ganjil, biasanya tiga atau boleh lima hakim. Musyawarah itu dipimpin oleh ketua
majelis, dari hakim senior. Pendapat dari hasil musyarawah itu kemudian
dituangkan dalam putusan sebagai produk hakim yang mengdili perkara
sekaligus representasi institusi peradilan. Itulah alasan mengapa diperlukan
musyawarah.
Pasal 14 UU No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,
menyebutkan:
(1). Putusan diambil berdasarkan sidang permusyawaratan hakim yang bersifat
rahasia;
(2). Dalam sidang permusyawaratan, setiap hakim wajib menyampaikan
pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang
diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan.
(3). Dalam hal sidang permusyawaratan tidak dapat dicapai mufakat bulat,
pendapat hakim yang berbeda wajib dimuat dalam putusan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sidang permusyawaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Mahkamah
Agung.

Hingga saat ini belum ada Peraturan Mahkamah Agung yang mengatur
penjabaran ketentuan pasal 14 butir UU tersebut.
Musyawarah majelis hakim sangat menentukan dasar pengambilan putusan
terhadap suatu perkara. Dengan musyawarah, setiap hakim mengemukakan
pendapat hukumnya terhadap perkara tersebut, didiskusikan bersama, dicari
kesatuan pendapat sehingga hasilnya diharapkan mencerminkan pendapat
kolektif majelis hakim. Musyawarah menjadi forum diskusi semua hal terkait
perkara, seperti aspek formalitas, substansial, dengan pendekatan saling
menghargai pendapat masing-masing termasuk berbeda pendapat. Dalam
musyawarah, setiap hakim akan terlatih memberi argumentasi hukum dengan
disertai alasan dan dasar hukum jelas agar dapat dipertanggungjawabkan kepada
pencari keadilan, publik dan Tuhan Yang Maha Esa.

1.2. Prinsip Musyawarah

3 Lihat pasal 182 ayat (2) KUHAP.

2
Beberapa prinsip dibawah ini menjadi pedoman dan wajib dipatuhi setiap hakim
ketika melakukan mesyawarah:

1.2.1. Wajib diambil berdasarkan hasil mufakat bulat, kecuali jika terjadi
perbedaan pendapat.4
1.2.2. Harus dilakukan secara tertutup dan rahasia.5
1.2.3. Jika terdapat perbedaan pendapat, maka pendapat mayoritas digunakan
sebagai rujukan pertimbangan putusan.
1.2.4. Pendapat berbeda (minoritas) dengan pendapat mayoritas wajib dimuat
dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam putusan.6
1.2.5. Pendapat hakim suara minoritas mengikuti pendapat suara mayoritas.
1.2.6. Tidak boleh ada kepentingan salah satu pihak atau pihak tertentu atau
intervensi pimpinan, rekan atau pihak lainnya dalam proses musyawarah.
1.2.7. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak, namun semua pendapat
berdasarkan fakta hukum hasil persidangan, alasan dan dasar hukum
yang tepat.

1.3. Objek musyawarah

Musyawarah sebagai sebuah proses pengambilan putusan memiliki


substansi atau objek perkara yang jelas. Musyawarah menentukan kearahan
mana hasil yang bisa diperoleh majelis, apakah menyetujui atau menolak
dakwaan dan tuntutan Penuntut Umum dalam perkara pidana atau
membenarkan/tidak membenarkan gugatan penggugat dalam perkara perdata.
Secara umum, hal yang akan dimusyawarahkan dalam rapat musyawarah
majelis hakim, untuk perkara pidana, setidaknya mencakup 2 aspek, yaitu:

Aspek Formal:
- Apakah Pengadilan Negeri berwenang mengadili perkara itu;
- Apakah surat dakwaan telah memenuhi syarat-syarat pasal 143 ayat (2 )
KUHAP;

4 Pasal. 14 (3) UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman


5
Ibid.
6
Pasal 14 ayat (2) UU No.48/2009

3
- Apakah surat dakwaan dapat diterima atau tidak, misalnya terkait asas ne
bis in idem, ada atau tidak ada pengaduan untuk perkara delik aduan, dan
lain seterusnya;
Aspek materiil:
- Dakwaan mana saja yang terbukti (unsur-unsur tindak pidana terpenuhi)
berdasarkan fakta hukum persidangan dan alat bukti mana saja yang
mendukungnya atau sebaliknya perbuatan tidak terbukti dan bagaimana
argumen hukumnya;
- Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya;
- Kalau perbuatan terdakwa terbukti, hukuman apa yang patut dan adil
dijatuhkan kepadanya disertai alasan hukum yang jelas serta berapa
lama waktunya;

Dalam perkara perdata Hakim wajib memperhatikan pasal 178 ayat (1)
HIR, yang menyebutkan: “Hakim dalam waktu bermusyawarah, karena
jabatannya, harus mencukupkan alasan-alasan hukum yang mungkin tidak
dikemukakan oleh kedua pihak”. Intimya walau dalam perkara perdata, para
pihak yang harus membuktikan dalil gugatan atau bantahanya, namun demikian
hakim pada saat bermusyawarah, karena jabatannya, harus mencukupkan
alasan hukum para pihak. Aspek formal yang harus dikaji, aspek pembuktian,
terutama beban pembuktian, kekuatan bukti dari alat bukti dalam perkara dari
masing-masing pihak dll. Sedangkan aspek materiil, apakah penggugat dapat
membuktikan dalil gugatan atau sebaliknya, apa saja alat bukti yang
mendukung. Kalau gugatan dikabulkan, apakah meliputi gugatan penggugat
untuk seluruhnya atau sebagian, apa argumen hukum yang mendasarinya.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah merumuskan amar


putusan itu secara tepat dan benar sehingga tidak menyulitkan dalam eksekusi
nanti. Dalam sengketa tanah misalnya, apakah ada amar yang bersifat
condemnatior. Tidak boleh memuat amar yang melebihi hal yang tidak dituntut
dalam petitum.

Hal terakhir adalah dasar hukum, perlu merujuk regulasi atau


Yurisprudensi atau doktrin atau sumber hukum tidak tertulis lain terkait objek

4
sengketa yang diputus, sehingga putusan hakim ada landasan hukumnya dan
dapat dipertanggungjawabkan.

II. PELAKSANAAN MUSYAWARAH

2.1. Tata Cara Musayawarah

Musyawarah majelis hakim dilakukan dalam wadah bernama Rapat


Musyawarah Hakim pada ruangan rapat khusus/tertentu dan tidak boleh
diakses pihak lain, karena sifatnya tersebut tertutup dan rahasia. Rapat
dipimpin oleh Hakim Ketua (biasanya hakim senior) dengan dihadiri anggota
majelis. Jalannya diskusi/musyawarah dipimpin ketua majelis, diawali dengan
memberikan kesempatan terlebih dulu kepada hakim anggota termuda
(anggota 2), untuk mengemukakan pendapat hukumnya terhadap perkara itu.
Hakim anggota 2 menjelaskan argumen atau alasan pendapat hukumnya.
Setelah itu Hakim Ketua memberi kesempatan kepada Hakim Anggota yang
lebih senior (Hakim Anggota 1) untuk hal yang sama. Terakhir Hakim Ketua
majelis menyampaikan pendapatnya. Setiap pendapat harus merujuk data dan
fakta hukum persidangan.7 Pendapat hukum tiap hakim seyogianya dibuat
dalam bentuk catatan tertulis (summary) dan disertai alasan atau argumentasi
dan dasar hukum yang jelas.
Metode rapat musyawarah hakim, berupa diskusi dan penyampaian
hasil analisis masing-masing hakim terhadap materi perkara.

2.2. Teknik Penyampaian Argumentasi Hukum

Dalam perkara pidana, tujuan utama mengadili adalah menentukan ada


atau tidak kesalahan terdakwa berdasarkan dakwaan Penuntut Umum maka
argumen Hakim dalam musyawarah hendaknya difokuskan pada:
- Apakah semua unsur pasal dakwaan berhasil dibuktikan dan membuat
kesimpulan apakah unsur tersebut terpenuhi atau tidak!
- Memberikan argumentasi hukum yang relevan maupun ilmiah pada
setiap unsur yang dibuktikan atau dipertimbangkan.

7
Bandingkan pasal 182 ayat (5) KUHAP.

5
- Memberikan definisi operasional terhadap setiap unsur yang
dipertimbangkan.
- Membuat kesimpulan terhadap seluruh unsur tindak pidana yang
didakwakan kepada terdakwa, apakah terbukti atau tidak.
- Setiap analisis harus diuji atau diverifikasi dengan alat bukti di
persidangan;
- Pendapat/analisis hukum harus berdasarkan peraturan perundang-
undangan;
- Jika tidak diatur dalam peraturan perundangan, dapat menggunakan
Asas hukum atau teori hukum yang terkait dengan konteks kasus.
- Gunakan juga Yurisprudensi sebagai rujukan, kalau perkara tersebut
sudah ada Yurisprudensi tetapnya.
Dalam perkara perdata, tujuan utama mengadili memberi kepastian
hukum dan keadilan dalam sengketa para pihak maka argumen Hakim dalam
musyawarah hendaknya difokuskan pada:
- Menghubungkan alat bukti yang satu dengan yang lain sehingga
menunjukkan deskripsi suatu peristiwa hukum (konstatir).
- Menunjukkan adanya hubungan kausalitas (kualifisir) serta
menunjukkan akibat yang timbul dan menegaskan konsekuensi
yuridisnya kepada terdakwa (konstituir).
- Menunjukkan secara jelas, logis, nalar/alur pikir yang dibangun oleh
hakim agar pihak lain dapat mengerti.
- Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga tidak
dapat diartikan lain selain yang dimaksud dalam putusan.
Argumen yang dikemukakan masing-masing hakim dalam musyawarah
harus didasari alasan dan dasar hukum yang tepat. Sebab hasil musyawarah
itulah yang dijadikan substansi putusan. Pada akhinya, substansi putusan itu
harus dipertanggungjawabkan kepada pencari keadilan dan Tuhan Yang Maha
Esa.8

III. HASIL MUSYAWARAH

8
Lihat pasal 53 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman

6
3.1. Dokumentasi Hasil Musyawarah

Musyawarah tidak boleh dianggap sepele tetapi harus dilakukan dengan


dengan tepat dan penuh kesadaran serta dibuktikan dengan dokumen bukti
pendukungnya. Dokumen bukti musyawarah, dikenal dengan istilah Ikhtisar
Rapat Permusyawaratan.9 Prakteknya, ada juga majelis yang menggantikan
iktisar itu dengan semacam formulir Lembaran Musyawarah yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Memang tidak ada format baku lembaran
musyawarah, namun dapat dibuat sendiri oleh Hakim sesuai kebutuhan praktek.
Lembaran itu berisi data identitas perkara, nama majelis dan PP serta kolom
pendapat masing-masing hakim berikut tanda tangannya. Semua harus mengisi
lembaran musyawarah tersebut kemudian menandatanganinya. Lembaran
musyawarah atau Ikhtisar Rapat Musyawarah itu sepatutnya dilampirkan dalam
berkas perkara sebagai bukti hasil musyawarah majelis.
Dalam praktek, terkadang untuk alasan praktis, musyawarah ditunda
beberapa saat atau diskor sidang lalu majelis bermusyawarah sesaat kemudian
dibuka skors sidang lalu putusan diucapkan saat itu juga. Praktek ini,
sebenarnya tidak tepat karena hakim butuh waktu yang cukup merumuskan
hasil musyawarah secara detail dan komprehensif guna menuangkannya dalam
pertimbangan hukum maupun amar putusan. Jadi cara yang bijak adalah
menunda persidangan secara khusus untuk musyawarah, kecuali waktunya
mendesak atau perkara dengan acara singkat, dstnya. Lagipula hasil
musyawarah itu perlu koreksi atau perbaikan, untuk mencegah ada kesalahan
sehingga perlu diedit dan dimuat dalam putusan.
Pasal 182 ayat (2) KUHAP, menegaskan pelaksanaan pengambilan
putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) dicatat dalam buku himpunan
putusan yang disediakan khusus untuk keperluan itu dan isi buku tersebut
sifatnya rahasia. Dalam praktek, buku himpunan putusan tersebut jarang dibuat
dan biasanya menjadi wewenang sepenuhnya majelis hakim dalam bentuk
format lembaran hasil musyawarah.

3.2. Hasil Musyawarah

9
Pasal 51 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

7
Pada dasarnya setiap hakim punya argumen hukum berbeda terhadap
perkara yang diadilinya. Argumen hukum itu kemudian dimusyawarahkan untuk
mencari kesatuan pemahaman sehingga dapat dihasil pendapat majelis.
Umumnya hasil musyawarah, terangkum dalam dua kategori pendapat.
Pertama, semua hakim sependapat mengenai aspek formal maupun
substansi perkara. Jadi intinya terjadi mufakat bulat atau semua hakim
sependapat.
Menurut pasal 182 ayat (6) KUHAP, Pada asasnya putusan dalam musyawarah
majelis merupakan hasil permufakatan bulat kecuali jika hal itu setelah
diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak dapat dicapai, maka berlaku
ketentuan sebagai berikut:
a. putusan diambil dengan suara terbanyak;
b. jika ketentuan tersebut huruf a tidak juga dapat diperoleh putusan yang
dipilih adalah yang paling menguntungkan bagi terdakwa.
Dalam perkara pidana, misalnya semua hakim berpendapat surat
dakwaan sudah lengkap dan jelas. Dari segi substansi, semua hakim mufakat
dakwaan primair terbukti atau sebaliknya terbukti adalah dakwaan subsidair,
dstnya. Demikian pun jenis pidana yang akan dijatuhkan kepada Terdakwa dan
berapa lama waktunya, semua sama pendapatnya. Inilah yang dikenal dengan
istilah Unanimous, yaitu putusan pengadilan yang diputus berdasarkan suara
bulat dari para hakim yang mengadili perkara tersebut. 10
Dalam perkara perdata, semua hakim berpendapat sama, penggugat
berhasil membuktikan dalil gugatannya, sehingga gugatannya dapat dikabulkan
atau sebaliknya. Sebenarnya bukan hanya aspek substansial tetapi bisa juga
aspek formalitas gugatan yang menjadi sorotan pertimbangan majelis, seperti
ada kesalahan formal dalam surat gugatan atau ada eksepsi pihak tergugat
yang cukup beralasan, sehingga majelis sependapat memutus aspek formalnya
terlebih dahulu.
Kedua, diantara hakim majelis berbeda pendapat (tidak mufakat bulat).
Perbedaan pendapat pada dasarnya merupakan hal yang biasa dalam proses

10Alkostar, Artidjo, “Permasalahan Gratifikasi Dan Pertanggungjawaban Korporasi Dalam


Undang Undang Korupsi”, Majalah Hukum Varia Peradilan, No. 330, Mei 2013, hal.50.

8
musyawarah. Sebab setiap hakim memiliki latar belakang sosial, keluarga,
pendidikan maupun nilai yang berbeda ketika menilai suatu prinsip keadilan
dalam perkara yang ditanganinya.
Perbedaan pendapat itu dikenal dengan istilah Dissenting Opinion (DO).
Kata “dissenting” berasal dari kata bahasa Latin, dissentiente, dissentaneus,
dissentio, kesemuanya bermakna tidak setuju, tidak sependapat atau berbeda
dalam pendapat. Black’s Law Dictionary, mengartikan “Dissenting Opinion”
sebagai : An opinion by one or more judges who disagree with the decision
reached by majority 11. Dissenting Opinion, sering juga disebut dengan istilah
“consenting opinion”.12 Dissenting Opinion (DO), terjadi apabila seorang hakim
berbeda pendapat dengan pendapat hakim mayoritas, baik tentang hukum
maupun amar putusan13. Lembaga DO seperti termuat dalam Undang Undang
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, sebenarnya berasal dari
sistem hukum common law.
Di negara-negara penganut common law system, pada prinsipnya
hukum dibentuk oleh Pengadilan (Hakim). Dalam rangka pembentukan dan
penemuan hukum itu, hakim mempunyai keleluasaan untuk menyusun argumen
atau pendapat (opinion) sebagai dasar bagi norma hukum yang akan dibuatnya
melalui putusan pengadilan.14
Selain Dissenting Opinion (DO), dikenal juga Concurring Opinion (CO),
yaitu pendapat seorang hakim mengikuti pendapat hakim mayoritas tentang
amar putusan, misalnya setuju koruptor dihukum 8 tahun, tetapi berbeda dalam
pertimbangan hukum (legal reasoning)15. Pada Concurring Opinion atau
Concurrent Opinion (CO), diantara majelis hakim terdapat perbedaan pendapa
(beda argumen) tetapi semuanya sampai pada kesimpulan yang sama. Intinya
setuju dengan amar putusan tetapi berbeda cara pendekatan pertimbangan
hukum.

11
Bryan A. Garner, Black Law Dictionary, , 8th Ed, 2004: Thomson-Reuters, hal.
12
Jimmly Asshidiq, Hukum Acara Pengujian Undang-Undang, Penerbit, Sinar Grafika, Jakarta,
2010, hal. 201.
13
Artijdo, op.cit, hal.50.
14
Tata Wijayanto dan Her Firmansyah, Perbedaan Pendapat Dalam Putusan Pengadilan,
Penerbit Pustaka Yustisia, Sleman, Yogyakarta, 2011, hal.74.
15
Artidjo, op.cit, hal 50.

9
Pengertian Concurrent Opinion dan consenting opinion, pada pokoknya
dapat dikatakan sama saja. Keduanya sama-sama berbeda dari pengertian
dissenting opinion16
Persoalan lain adalah bagaimana jika pendapat masing-masing hakim
berbeda? Mengacu pada pasal 182 ayat (6) butir b maka dipilih pendapat hakim
yang menguntungkan terdakwa. Dalam praktek peradilan, hakim tidak boleh
terlalu kaku tetapi harus arif dan bijaksana, sesuai tuntutan kode etik hakim. Jika
terjadi perbedaan pendapat maka ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan
majelis hakim. Pertama, masing-masing hakim diberi kesempatan untuk
mempelajari kembali berkas perkara untuk menelaah atau mempelajari lagi, bila
memungkinkan pendapat lain berdasarkan alasan dan dasar hukum yang lebih
kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, meminta masukan pendapat
hakim senior atau pimpinan pengadilan sebagai bahan perbandingan majelis.
Namun hasil akhir, tetap harus dicari dua pendapat yang mirip atau sama,
sehingga terpenuhi unsur suara terbanyak ketika voting.

3.3. Penempatan Perbedaan Pendapat Dalam Putusan

Pasal 14 ayat 3 UU No. 48 Tahun 2009, menyebutkan pendapat hakim


yang berbeda wajib dimuat dimuat dalam putusan. Bagaimana
menempatkannya? Sesuai praktek peradilan, umumnya ditempatkan pada
bagian pertimbangan hukum, sesudah pertimbangan hukum pendapat hakim
mayoritas. Diawali dengan pernyataan ada perbedaan pendapat (DO) diantara
majelis meskipun telah diusahakan dengan sunggguh-sungguh untuk mufakat.
Setelah itu disusul dengan point-point pendapat berbeda berikut argumen atau
alasan hukumnya kemudian apa inti putusan yang dikehendakinya (sepatutnya
terdakwa dihukum atau dibebaskan, dan seterusnya). Selanjutnya penegasan,
konsekuensi perbedaan pendapat, maka putusan diambil berdasarkan suara
terbanyak (mayoritas). Dengan demikian, dasar rujukan putusan adalah
pendapat hakim mayoritas.

16
Ibid hal. 201.

10
DAFTARA PUSTAKA
BUKU :
1. Alkostar, Artidjo, “Permasalahan Gratifikasi Dan Pertanggungjawaban
Korporasi Dalam Undang Undang Korupsi”, Majalah Hukum Varia Peradilan,
No. 330, Mei 2013.
2. Asshidiq, Jimmly, “Hukum Acara Pengujian Undang-Undang”, Penerbit, Sinar
Grafika, Jakarta, 2010.
3. Bryan A Garner, Black Law Dictionary, 8th Ed, 2004: Thomson-Reuters.
4. Tata Wijayanto dan Her Firmansyah, “Perbedaan Pendapat Dalam Putusan
Pengadilan”, Penerbit Pustaka Yustisia, Sleman, Yogyakarta, 2011,
5. Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa, Edisi Keempat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008,

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
1. Undang Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
2. Undang Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman
3. Undang Undang No. 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 2
Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum
INTERNET
https://id.wikipedia.org/wiki/Musyawarah

11