Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Alat kontrasepsi jangka panjang (MKJP) adalah alat kontrasepsi yang digunakan

untuk menunda, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan kesuburan, yang

digunakan dengan jangka panjang yang meliputi IUD, Implant dan kontrasepsi

mantap (Manuaba, 2010)

Program Keluarga Berencana (KB) yang telah digagaskan sejak akhir tahun 1970-an

sebagai bentuk perhatian pemerintah untuk menciptakan keluarga yang sejahtera

dalam lingkup masyarakat Indonesia terus menjadi persoalan aktual di mana

membutuhkan perhatian yang serius oleh pemerintah. Program ini memerlukan tenaga

kesehatan yang kompeten dan mampu bekerja secara maksimal dalam proses

mensukseskan keluarga kecil bahagia sejahtera. Sasarannya adalah keluarga produktif

dengan fokus utama adalah wanita pasanganusia subur. Wanita usia subur adalah

wanita yang keadaan organ reproduksinya berfungsi dengan baik, berumur antara 15

sampai dengan 49 tahun yang sudah menstruasi dan belum menopause. Banyak

petugas yang memfasilitasi terlaksananya program nasional ini, diantaranya adalah

perawat dan bidan.

Peran tenaga kesehatan dalam merealisasikan program KB ditengah masyarakat salah

satunya adalah sebagai konselor. Ketika tenaga kesehatan berperan sebagai konselor

diharapkan membimbing wanita pasangan usia subur untuk


mengetahui tentang KB dan membantu wanita pasangan usia subur untuk

memutuskan alat kontrasepsi yang akan digunakan. Penggunaan alat kontrasepsi pada

wanita pasangan usia subur sangat penting karena dapat mengatur angka kelahiran

dan jumlah anak dalam keluarga, membantu pemerintah mengurangi resiko ledakan

penduduk, serta menjaga kesehatan wanita usia subur.

Komunikasi yang baik akan sangat membantu terbinanya hubungan antar manusia

yang serasi diantara pasien dengan penolong. Keserasian hubungan pasien- penolong,

sangat di perlukan dalam memperoleh rasa saling percaya. Informasi yang diperoleh

penting untuk membantu menentukan diagnosis, menjalankan proses, dan melakukan

evaluasi hasil pengobatan (Syaifuddin, 2006).

Tingkat kesabaran yang tinggi dan teknik berkomunikasi yang efektif merupakan

syarat yang harus dimiliki oleh penolong atau petugas kesehatan dalam menghadapi

orang yang sedang sakit. Selain mengalami gangguan fisik, pasien juga akan

mengalami gangguan psikis atau ketenangan jiwa sehingga sebagian besar dari mereka

akan sulit melakukan komunikasi secara baik. Empati, perhatian, dan prilaku positif

penolong, dapat meringankan beban psikis pasien selama proses kominikasi

berlangsung (Saifuddin, 2008).

Dengan melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan

memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai pilihannya. Disamping itu

dapat membuat klien merasa lebih puas. Konseling yang baik juga akan membantu

klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama dan meningkatkan keberhasilan

KB. Konseling juga akan mempengaruhi interaksi antara


petugas dan klien karena dapat meningkatkan hubungan dan kepercayaan yang sudah

ada. Seringkali kali konseling diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan baik karena

petugas tidak mempunyai waktu dan tidak menyadari pentingnya konseling. Padahal

dengan konseling klien akan lebih mudah mengikuti nasehat provider. Teknik

konseling yang baik dan informasi yang memadai harus diterapkan dan dibicarakan

secara interaktif sepanjang kunjungan klien dengan cara yang sesuai dengan budaya

yang ada. Selanjutnya dengan informasi yang lengkap dan cukup akan memberikan

keleluasaan kepada klien dalam memutuskan untuk memilih kontrasepsi (informed

choise) yang akan digunakannya.

Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ketahun selalu meningkat. Untuk itu diperlukan

peran serta aktif dari semua tenaga kesehatan, baik yang ada di pusat, daerah sampai di

unit pelayanan kesehatan dalam meningkatkan penggunaan KB. Pada survei yang di

temukan dapat dilihat rasio penggunaan NON-MKJP (metode kontrasepsi jangka

panjang) setiap tahun semakin tinggi atau pemakaian kontrasepsi

NON MKJP lebih besar dibandingkan dengan pemakaian MKJP. Angka drop out

NON MKJP juga cendrung lebih tinggi dibandingkan MKJP. Hal ini di sebabkan

karena pengguna metode ini membutuhkan KIE, penggunaan tindakan dan

keterampilan profesional tenaga kesehatan yang lebih kompleks (Infodatin KemenKes

RI, 2013).

Undang- undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan

Pembangunan Keluarga menyatakan bahwa pembangunan keluarga adalah upaya

mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat, dan