Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penelitian merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala
melalui cara tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya,
informasi tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang
dipertanyakan sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang
sebagai usaha mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang
pikiran atau kesadaran seseorang.
Sebagian dari kualitas hasil suatu penelitian bergantung pada teknik
pengumpulan data yang digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah
dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan reliable.
Untuk memperoleh data seperti itu, peneliti dapat menggunakan metode, teknik,
prosedur, dan alat-alat yang dapat diandalkan. Ketidaktepatan dalam
penggunaan intrumen penelitian tersebut dapat menyebabkan rendahnya kualitas
penelitian.
Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui
aplikasi prosedur ilmiah. Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf
kemungkinan yang paling relevan. Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya
merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan
dan penganalisaan data atau informasi yang diperolehnya
Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian
adalah menentukan populasi dan sampel penelitian. Seorang peneliti dapat
menganalisa data keseluruhan objek yang diteliti sebagai kumpulan atau
komunitas tertentu. Seorang peneliti juga dapat mengidentifikasi sifat-sifat suatu
kumpulan yang menjadi objek penelitian hanya dengan mengamati dan
mempelajari sebagian dari kumpulan tersebut. Kemudian, peneliti akan
mendapatkan metode atau langkah yang tepat untuk memperoleh keakuratan
penelitian dan penganalisaan data terhadap objek. Untuk itu kami akan
mengkaji lebih dalam mengenai populasi dan sampel.
B. Rumusan Masalah

1
1. Apa pengertian populasi?
2. Apa saja jenis-jenis populasi?
3. Apa pengertian sampel?
4. Bagaimana ciri-ciri sampel yang baik?
5. Apa alasan menggunakan sampling?
6. Bagaimana cara menentukan sampel?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian populasi
2. Untuk mengetahui jenis-jenis populasi
3. Untuk mengetahui pengertian sampel
4. Untuk mengetahui ciri-ciri sampel yang baik
5. Untuk mengetahui alasan penggunaan sampling
6. Untuk mengetahui bagaimana cara menentukan sampel

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Populasi
1. Pengertian Populasi
Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti
jumlah penduduk. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan (Sugiyono, 2013: 117).
Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa popuasi adalah
berkenaan dengan data bukan barang atau bendanya. Pengertian lainnya,
diungkapkan oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah
keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda,
hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-
peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik tertentu di
dalam suatu penelitian. Sedangkan Ridwan (2002: 3) mengatakan bahwa
populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran
menjadi objek penelitian.
Menurut Margono (2010:118) populasi adalah seluruh data yang
menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita
tentukan. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas:
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
dalam Sugiyono (2006:117)
Menurut Muri (2007:182) secara umum dapat dikatakan beberapa
karakteristik populasi adalah:
a. Merupakan keseluruhan dari unit analisis sesuai dengan
informasi yang akan diinginkan.
b. Dapat berupa manusia/individu, hewan, tumbuh-tumbuhan,
benda-benda atau objek maupun kejadian-kejadian yang terdapat dalam
suatu area/ daerah tertentu yang telah ditetapkan.

3
c. Merupakan batas-batas (boundary) yang mempunyai sifa-
sifat tertentu yang memungkinkan peneliti menarik kesimpulan dari
keadaan itu.
d. Memberikan pedoman kepada apa atau siapa hasil penelitian
itu dapat digeneralisasikan.

2. Jenis-Jenis Populasi
Menurut Muri (2007:183) Populasi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Populasi terbatas (definite) yaitu objek penelitiannya dapat
dihitung, seperti luas sawah, jumlah ternak, jumlah murid, dan jumlah
mahasiswa.
b. Populasi tak terbatas (infinite) yaitu objek penelitian yang
mempunyai jumlah yang tak terbatas, atau sulit dihitung jumlahnya;
seperti pasir di pantai.

Disamping itu persoalan populasi bagi suatu penelitian harus dibedakan


ke dalam sifat berikut ini:
a. Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-
unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan
jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya seorang dokter yang akan melihat
golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja.
b. Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi uang unsur-
unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu
ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

B. Sampel
1. Pengertian Sampel
Menurut Muri (2007:186) secara sederhana dapat dikatakan
bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili
populasi tersebut. Sedangkan menurut Suharsimi (2002:109), sampel
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

4
Beberapa pendapat ahli tentang pengertian sampel adalah sebagai
berikut:
a. Sax (1979: 181) mengemukakan bahwa sampel adalah suatu
jumlah yang terbatas dari unsur-unsur yang terpilih dari suatu populasi,
unsur-unsur tersebut hendaklah mewakili populasi.
b. Warwick (1975:69) mengemukakan pula bahwa sampel
adalah sebagian dari suatu hal yang luas, yang khusus dipilih untuk
mewakili keseluruhan.
c. Kerlinger (1973:118) menyatakan: Sampling is taking any
portion of a population or universe as representative of that population or
universe.
d. Leedy (1980:111) mengemukakan bahwa sampel dipilih
dengan hati-hati sehingga dengan melalui cara sedemikian peneliti akan
dapat melihat karakteristik total populasi.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sampel
adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu,
maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu,
kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang
diambil dari populasi betul-betul representatif (mewakili).

2. Ciri Sampel yang Baik


Berangkat dari berbagi pendapat yang telah diutarakan di atas
dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri sampel yang baik adalah:
a. Sampel dipilih dengan cara hati-hati; dengan
menggunakan cara tertentu dan benar.
b. Sampel harus mewakili populasi, sehingga gambaran yang
diberikan mewakili keseluruhan karakteristik yang terdapat pada
populasi.

5
c. Besarnya ukuran sampel , hendaknya mempertimbangkan
tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolerir dan tingkat kepercayaan
yang dapat diterima secara statistik.

3. Alasan Penggunaan Sampel


Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan
mempergunakan sampel menurut Sudjana (2002:161) adalah :
a. Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa
parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada
dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama sekali tidak
mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu.
Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang
jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan
data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar
diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
b. Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak
sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah
objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih–
lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh
karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
c. Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih
sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal
itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan
diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel, dalam hal
ini, lebih cepat.
d. Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada
seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan.
Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari

6
tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan
darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk
diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan
hanya pada sampel.
e. Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan
cukup dapat dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal
ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data.
Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian
terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam
melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,
penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam
suatu penelitian.
f. Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang
penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan
dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan?
Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata
lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis
daripada penelitian populasi

4. Cara Menentukan Sampel


a. Metode Sampling
Sampling secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua
(2) kelompok, yaitu Probability sampling dan Nonprobability
sampling. Adapun Probability sampling menurut Sugiyono adalah
teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap
unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Sedangkan Nonprobability sampling menurut Sugiyono adalah
teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi
setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

7
i. Probability sampling
Probability sampling menuntut bahwasanya secara ideal peneliti
telah mengetahui besarnya populasi induk, besarnya sampel yang
diinginkan telah ditentukan, dan peneliti bersikap bahwa setiap unsur
atau kelompok unsur harus memiliki peluang yang sama untuk
dijadikan sampel. Adapun jenis-jenis Probability sampling adalah
sebagai berikut :
a) Simple random sampling
Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling
adalah metode penarikan dari sebuah populasi atau semesta
dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau
semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau
terambil.
Menurut Sugiyono (2001:57) dinyatakan simple
(sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada
dalam populasi itu. Margono (2004:126) menyatakan bahwa
simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan
sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Cara
demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling
di dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi
terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit
sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang
dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan
cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random. Teknik
ini dapat digambarkan di bawah ini.

Gambar 1. Teknik Simpel Random Sampling (Sugiyono,

8
2001: 58)
b) Proportionate stratified random sampling
Margono (2004: 126) menyatakan bahwa stratified
random sampling biasa digunakan pada populasi yang
mempunyai susunan bertingkat atau berstrata. Menurut
Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi
mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata
secara proporsional. Misalnya suatu organisasi yang
mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan,
maka populasi pegawai itu berstrata. Populasi berjumlah 100
orang diketahui bahwa 25 orang berpendidikan SMA, 15
orang diploma, 30 orang S1, 15 orang S2 dan 15 orang S3.
Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan
tersebut dan diambil secara proporsional.
c) Disproportionate stratified random sampling
Sugiyono (2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini
digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya
berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari
PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4
orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan
SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan
empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena
dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan
kelompok S1, SMU dan SMP.
d) Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)
Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut
Margono (2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi
tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari
kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling
daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang
akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk
dari suatu negara, propinsi atau kabupaten.

9
Indonesia memiliki 34 propinsi dan akan menggunakan
10 propinsi. Pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara
random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di
Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu
menggunakan stratified random sampling. Contoh tersebut
dikemukakan oleh Sugiyono sedangkan contoh lainnya
dikemukakan oleh Margono (2004: 127). Ia mencotohkan bila
penelitian dilakukan terhadap populasi pelajar SMU di suatu
kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua
pelajar-pelajar tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok
atau cluster.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua
tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan
tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada
daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat
digambarkan di bawah ini.

Gambar 2. Teknik Cluster Random Sampling


(Sugiyono, 2001: 59)
ii. Nonprobability sampling
Non Probability sampling adalah sebuah teknik sampling
yang tidak memperhatikan banyak variabel dalam penarikan
sampel. Sampel-sampel dari Nonprobability Sampling juga
disebut sebagai subjek penelitian dimana hasil dari uji yang
dilakukan pada sampling tidak memiliki hubungan dengan
populasi. Tujuan penggunaan teknik sampling ini lebih banyak
melekat pada materi yang diujikan sedangkan pada random

10
sampling atau probability Sampling, tujuan penelitian melekat
pada nilai dari materi pada populasi yang diujikan.
a) Sampling sistematis
Sugiyono (2001:60) menyatakan bahwa sampling sistematis
adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya
anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua
anggota diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor
100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor
ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu,
misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil
sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
b) Quota sampling
Menurut Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa sampling
kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi
yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang
diinginkan. Menurut Margono (2004: 127) dalam teknik ini
jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil
dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap
kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit
sampling. Setelah kuota terpenuhi, pengumpulan data
dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian
terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara
kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100 dan jumlah
anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota
peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan
karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

c) Sampling aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan
bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila
dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai
sumber data (Sugiyono, 2001: 60). Menurut Margono (2004:
27) menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel
tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan
data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya penelitian
tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan
mempergunakan setiap warga negara yang telah dewasa
sebagai unit sampling. Peneliti mengumpulkan data langsung
dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah
yang diharapkan terpenuhi.

d) Purposive sampling
Sugiyono (2001: 61) menyatakan bahwa sampling
purposive adalah teknik penentuan sampel dengan

11
pertimbangan tertentu. Menurut Margono (2004:128),
pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling
didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai
sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah
diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang
dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang
diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya, akan
melakukan penelitian tentang disiplin pegawai maka sampel
yang dipilih adalah orang yang memenuhi kriteria-kriteria
kedisiplinan pegawai.
e) Sampling jenuh
Menurut Sugiyono (2001:61) sampling jenuh adalah teknik
penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan
sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi
relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh
adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan
sampel.

f) Snowball sampling
(Sugiyono, 2001: 61), Snowball sampling adalah teknik
penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian
sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan
sampel begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin
banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding semakin lama
semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan
purposive dan snowball sampling. Teknik sampel ditunjukkan
pada gambar di bawah in

Gambar 3. Snowball Sampling (Sugiyono, 2001: 61)

12
b. Metode Slovin
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan jumlah
sampel adalah menggunakan rumus Slovin (Sevilla et. al., 1960:182),
sebagai berikut:

dimana
n: jumlah sampel
N: jumlah populasi
e: batas toleransi kesalahan (error tolerance)

Untuk menggunakan rumus ini, pertama ditentukan berapa


batas toleransi kesalahan. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan
dengan persentase. Semakin kecil toleransi kesalahan, semakin
akurat sampel menggambarkan populasi. Misalnya, penelitian dengan
batas kesalahan 5% berarti memiliki tingkat akurasi 95%. Penelitian
dengan batas kesalahan 2% memiliki tingkat akurasi 98%. Dengan
jumlah populasi yang sama, semakin kecil toleransi kesalahan,
semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan.

Contoh:
Sebuah perusahaan memiliki 1000 karyawan, dan akan
dilakukan survei dengan mengambil sampel. Berapa sampel yang
dibutuhkan apabila batas toleransi kesalahan 5%.

Dengan menggunakan rumus Slovin:


n = N / ( 1 + N e² ) = 1000 / (1 + 1000 x 0,05²) = 285,71  286.

Dengan demikian, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 286


karyawan.

13
c. Rumus Issac & Michael
NZ 2 S 2
n
Nd 2  Z 2 S 2

Contoh
Seorang mahasiswa akan menguji suatu hipotesis yang menyatakan
bahwa Indek Prestasi Mahasiswa Jurusan S1 PTB yang berjumlah
175 mahasiswa adalah 2,7. Dari 30 sampel percobaan dapat
diperoleh informasi bahwa standar deviasi Indek Prestasi mahasiswa
adalah 0,25 Untuk menguji hipotesisi ini berapa jumlah sampel yang
diperlukan jika kita menginginkan tingkat keyakinan sebesar 95%
dan error estimasi  kurang dari 5 persen ?
(175)(1,96) 2 (0,25) 2
n  62
(175)(0,05) 2  (1,96) 2 (0,25) 2
d. Rumus Paul Leedy

e. Rumus

Sampel Ideal (Gay, 1984)

Ukuran minimal sampel yang dapat diterima:

14
1. Penelitian deskriptif:sampel minimal 10% populasi, namun untuk
populasi yang sangat kecil diperlukan minimal 20%

2. Penelitian korelasi: minimal 30 subjek.

3. Penelitian ex post fakto atau penelitian kausal


komparatif:minimal 15 subjek per kelompok.

4. Penelitian eksperimen:minimal 15 subjek per kelompok.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Populasi seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang
lingkup dan waktu yang kita tentukan.
2. Jenis-jenis populasi adalah populasi terbatas dan populasi tidak
terbatas.
3. Sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili
populasi tersebut atau sebagai wakil dari populasi yang diteliti.
4. Ciri-ciri sampel yang baik adalah sampel dipilih dengan cara hati-hati,
harus mewakili populasi dan besarnya ukuran sampel dapat diterima
secara statistik.
5. Alasan penggunaan sampling adalah ukuran populasi, masalah biaya,
masalah waktu, percobaan yang sifatnya merusak, masalah ketelitian
dan masalah ekonomis.
6. Keuntungan penggunaan sampel adalah biaya menjadi berkurang,
lebih cepat dalam pengumpulan dan pengolahan data, lebih akurat dan
lebih luas ruang cakupan penelitian.
7. Cara mengambil sampel atau teknik sampling pada dasarnya
dikelompokan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non
Probability sampling.

B. SARAN
Besar harapan kami pembaca dapat merasakan manfaat dari hasil
kerja kami dan kritik pembaca yang bersifat membangun dapat menjadi
pelajaran berharga untuk kami menjadi lebih baik lagi mambuat suatu
makalah selanjutnya.
Dan kami berharap dalam melakukan penelitian, mahasiswa
diharuskan mengikuti aturan-aturan dan juga prosedur-prosedur, agar

16
penelitian yang dilakukan diharapkan memiliki jawaban yang akurat
terhadap suatu permasalahan.

17
REFERENSI

Alma, Buchari. 2009. Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Alfabeta.


Darmadi, Hamid. 2013. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta

Dedy. 2012. Makalah Populasi dan Sampel. http//www//.populasi dan sampel\makalah-


populasi-dan-sampel2.html. Akses tanggal 30 September 2018 pukul 20.09

18