Anda di halaman 1dari 47

Nama : Wulan Novi Astuti

NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

RESUME PATEN METODE PEMBUATAN MINYAK


BIODIESEL MENGGUNAKAN PEMANAS MICROWAVE
BIOMASSA ALGA BASAH

Penemuan ini berhubungan dengan penggunaan teknologi energi


biomassa, khususnya yang melibatkan penggunaan pemanas microwave alga
biomassa. Sejumlah besar sumber energi biomassa alga, diperkirakan bahwa
setiap tahunnya menghasilkan melalui fotosintesis di Bumi 1.46 X IO11 ton
biomassa, 40% dari yang seharusnya dikaitkan dengan alga fotosintesis. Plasma
nutfah mikroalga mengandung protein tinggi, lemak dan polisakarida larut dan
bahan-bahan lain, tidak ada daun, batang, akar, tidak ada degradasi biomassa
lignoselulosa yang sulit, tidak bersaing dengan pertanian tradisional, hasilnya
tidak karena ekosistem kehancuran. Sejak konversi energi matahari untuk
biomassa dari efisiensi kuantum setinggi 2-10%, sedangkan efisiensi kuantum
tanaman terestrial kurang dari 1%, dan tingkat pertumbuhan yang cepat dari
ganggang, meningkatkan jumlah biomassa per hari sampai dengan 1-3 kali. Oleh
karena itu penggunaan konversi biomassa mikroalga biodiesel memiliki kelebihan
yang luar biasa. Nilai kalor dari mikroalga biodiesel up 41MJ / kg, dan nilai kalor
minyak solar konvensional, yaitu sekitar 1,4 kali nilai kalor bahan bakar ethanol,
adalah mungkin untuk mengganti digunakan di luar angkasa dan transportasi berat
dan nilai kalori lainnya yang diperlukan solar. Oleh karena itu pengembangan
mikroalga untuk pengembangan ekonomi energi dan penghematan energi rendah
karbon adalah bagian eksperimental yang signifikan.
Saat ini metode utama dari ekstraksi pelarut minyak
mikroalga/transesterifikasi (Kumari et al., 2011), ekstraksi fluida superkritis dan
transesterifikasi (Cheng et al., 2011), flash pirolisis (Miao et al., 2004), sebuah
reaksi hidrotermal (Brownet al., 2 010) atau sejenisnya. Metode ekstraksi dan
transesterifikasi pelarut sering digunakan untuk mengeringkan bubuk ganggang,
untuk dewatering dan pengeringan biomassa alga basah dan digiling menjadi
bubuk yang membutuhkan konsumsi energi yang sangat besar. Dewatering
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

minyak mikroalga sekitar 84% dari total konsumsi energi (Patil dkk., 2012). Dan
proses kompleks minyak proses sering membutuhkan reaksi sekitar 0,5 sampai 1,5
jam. Johnson dkk (2009) menggunakan metode pemanasan konvensional seperti
penggunaan biomassa alga basah langkah sintesis biodiesel, tetapi biodiesel akhir
hanya 7,76% dalam bio-oil, sehingga minyak tidak efisien. Beberapa metode
transesterifikasi microwave mengubah system biodiesel minyak jarak,
dibandingkan dengan pemanasan konvensional menunjukkan pemanasan
microwave memiliki keuntungan yakni efisiensi termodinamika minyak
meningkat dari 70% menjadi 94%, dan waktu reaksi berkurang dari tiga jam
menjadi 1 jam saja. (Yuan et al ., 2009).
Perbandingan literatur, banyak dinding sel ganggang yang rusak, kejutan
osmotik, suhu dan tekanan tinggi (1250C, 1.5 Mpa), microwave, USG, aduk
manik-manik menegaskan bahwa gelombang mikro sedang mempersiapkan
mikroalga biodiesel yang efisien (Lee et al ., 2010). Hal ini menjelaskan bahwa
penggunaan pemanasan microwave dari pengolahan biomassa alga kering langkah
sintesis. menggunakan katalis basa (perak oksida strontium oksida), dalam lima
menit sekitar 99,9% dari trigliserida menjadi biodiesel (Koberg et al., 2011). Tapi
dehidrasi bubuk alga kering butuh pengeringan awal yang memakan energy besar.
Patilet al. (2011), seperti penggunaan pemanasan microwave dari bubuk biomassa
alga kering langkah sintesis dari ekstraksi metanol dan transesterifikasi biodiesel,
tapi tidak ada analisis mendalam dari efisiensi sel mikroalga yang rusak dan
produksi bio-diesel dan indikator lainnya.
Langkah Persiapan pembuatan biodiesel wet algae biomass dengan
pemanasan microwave yakni (a) mengambil mikroalga cair dengan filtrasi atau
sentrifugasi dan penghapusan air cair yang mikroalga untuk mendapatkan padat
40-90 % kelembaban biomassa alga basah; (2) 100g ditimbang pada langkah (a)
yang diperoleh dalam alga biomassa basah ke dalam tabung centrifuge,
ditambahkan 4 ~ 100ml dan 4 ~ 100 ml kloroform, metanol, Tabung centrifuge
pada shock homogenizer 20 ~ 40-an, dan kemudian ganggang di sentrifugasi
tabung masuk ke konsentrasi tangki microwave digestion, tangki digestion
microwave bergabung 0,2 ~ 5 ml dari 98% asam sulfat pekat, themicrowave
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

tangki digestion dikunci dalam oven microwave untuk perawatan microwave;


Metode (3) untuk perawatan microwave: kekuatan microwave ditetapkan untuk
500 sampai 1000 «menangani 40 ~ 80-an, ketika temperatur microwave dapat
mencapai 60 sampai 90 ° C, daya microwave berkurang menjadi 400 ~ 600W, dan
diadakan isotermal 2 ~ 60 menit; pengolahan microwave selesai, tangki pendingin
microwave digestion 10 ~ 20 menit, temperatur tangki digesti microwave ke 25
sampai 30 derajat Celsius, maka tangki digesti microwave alga ganggang cair
dituangkan ke dalam botol pengumpulan, tangki digesti microwave dua kali lagi
digabung 4 ~ 0,100 ml kloroform, ganggang bersih yang diekstraksi dari cairan
sisa, dituangkan botol pengumpul ganggang cair; (4) kumpulan botol untuk
larutan ganggang menambahkan 15 ~ 300ml air deionisasi, disentrifugasi pada
4000 rpm selama 5 menit stratifikasi, semakin rendah fase minyak, terak alga, fase
cairan atas; Penghilangan fase minyak yang lebih rendah oleh pipetting, botol
koleksi cairan yang selanjutnya dua ganggang ditambahkan 10 ~ 0,200 ml air
deionisasi, residu dilarutkan dalam metanol dan air, gliserol, berlapis berurutan
disentrifugasi 4000 rpm selama 5 menit, masing-masing, dan kemudian
diekstraksi dengan pipet fase minyak yang lebih rendah; (5) menggunakan oven
panggang kering. Langkah (4) diekstraksi dalam kloroform dan fase minyak, fase
minyak sisa bio-oil, bio-oil untuk mendapatkan kata berat; minyak biologi ke
dalam botol kaca, botol kaca menambahkan lebih lanjut 1 ~ 100 ml heksana,
setelah 30 menit berjalan, lapisan atas dibuang oleh pipetting biodiesel terlarut
heksana cair, zat padat tidak larut dibuang rendah, fase atas dihapus pada 50
sampai 70 derajat Celcius pembaruan n-heksana, sisa fase minyak dapat
digunakan sebagai bahan bakar mesin mobil adalah produk biodiesel.
Penggunaan klaim 1, dimana pemanas microwave metode Biodiesel alga
biomassa basah, dicirikan bahwa (a) dalam biomassa cair kerapatan mikroalga 1 ~
10g/L dari mikroalga spesies alga alam cair termasuk disaring dari lingkungan
alam, fisik, kimia mutagenesis menghasilkan spesies alga mutan, rekayasa
genetika untuk memperoleh spesies alga transgenik. Penggunaan ganggang basah
menurut klaim 1, dimana Persiapan langkah microwave heating biomassa
preparasi biodiesel, dicirikan bahwa spesies alga (1) dari sel-sel alga
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

menggunakan mikroalga kandungan lemak cair dalam berat kering 10% sampai
70% dari spesies alga, termasuk ganggang hijau, diatom, cyanobacteria.
Penggunaan ganggang basah menurut klaim 1, dimana langkah microwave
heating biomassa preparasi biodiesel, yang dicirikan bahwa frekuensi langkah (3)
dalam pengobatan microwave untuk 2450 MHz atau 915 MHz. Menurut klaim 1,
dimana penggunaan langkah microwave heating biomassa alga basah preparasi
biodiesel, yang dicirikan bahwa tangki themicrowave digesti dengan kapasitas 50
~ 300ml tangki digesti, pada langkah (3), Microwave dikunci tangki digesti
microwave nomor pengolahan tangki dari 4 sampai 10.
Menurut salah satu klaim 1 biomassa alga basah menurut themicrowave
heating, Langkah persiapan biodiesel, dicirikan bahwa langkah tersebut (2), rasio
volume tabung centrifuge dan kloroform ditambahkan ke metanol: 1. Penggunaan
klaim 1, dimana pemanas microwave boimassa alga basah Persiapan langkah
biodiesel, dicirikan bahwa langkah tersebut (5) diperoleh dalam bio-oil yang
mengandung C14 ~ C22 metil ester asam lemak, Minyak menyumbang biomassa
total dan 50 ~ 80%. Menggunakan ganggang basah sesuai dengan klaim 1, dimana
biomassa pemanas themicrowave langkah persiapan biodiesel, dicirikan bahwa
langkah tersebut (5) dari produk biodiesel yang diperoleh dengan menambahkan
produk dari konsentrasi biodiesel adalah 3,8 ~ .4.3mg / standar internal ml C19: 0
asam lemak metil ester standar, atau dapat dikromatografikan menggunakan
spektrometer massa kromatografi gas untuk analisis kuantitatif bahan.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Method for preparing biodiesel oil by using wet alga biomass
microwave-heating one-step method. http://www.google.com/
patents/CN103756777A?cl=zh. Diakses pada tanggal 14 September 2014
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

PRODUKSI BIODIESEL BERBASIS MIKROALGA

1. Potensi Mikroalga Untuk Produksi Biodiesel


Mikroalga merupakan mikroorganisme uniselular atau multi selular
sederhana dengan ukuran 1-5 mikron yang mampu memenuhi kebutuhan energi
secara mandiri dengan melakukan fotosintesis dan mampu berkembangbiak
dengan sangat cepat. Beberapa jenis mikroalga mampu beradaptasi dan
berkembangbiak dengan baik pada lingkungan yang bervariasi. Hal ini tentunya
akan sangat mendukung pengembangannya sebagai bahan baku biodiesel pada
berbagai wilayah, tidak seperti bahan baku biofuel lainnya seperti kedelai, bunga
matahari, minyak jarak dan minyak sawit yang hanya bisa dikembangkan pada
wilayah tertentu saja.
Mikroalga memiliki laju pertumbuhan dan produktivitas yang tinggi jika
dibandingkan dengan pertumbuhan hutan, tanaman pertanian dan tumbuhan air
lainnya, dan kebutuhan lahan yang jauh lebih sedikit dibandingkan bahan baku
biodiesel lain hingga mencapai 49-132 kali lipat lebih sedikit untuk menghasilkan
biodiesel yang sama serta penggunaannya sebagai bahan baku biodiesel tidak
berkompetisi dengan konsumsi manusia.
Mikroalga merupakan salah satu organisme yang dapat dinilai ideal dan
potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku produksi bioenergi. Kandungan
lipid dalam biomassa mikroalga spesies tertentu sangat tinggi dan ditunjang
dengan pertumbuhan yang sangat cepat. Secara matematis produktivitasnya
mencapai lebih dari 20 kali produktivitas minyak sawit dan 80 kali minyak jarak.
Kadar karbohidrat mikroalga juga tinggi, dan secara matematis produktivitas
bioetanolnya mencapai lebih dari 100 kali ubi singkong. Dengan demikian
biomassa sisa produksi biodiesel dari mikroalga berpotensi digunakan untuk
memproduksi bioetanol sehingga produktivitas energi berbasis mikroalga dapat
ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembuatan biodiesel dari
bahan baku mikroalga dan mengkaji penggunaan sisa produksinya sebagai bahan
baku pembuatan bioetanol. Kajian difokuskan pada kondisi optimum pembuatan
biodiesel dengan parameter yield dan ketercapaian standar kualitas biodiesel.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

Tabel 1.1. Perbandingan potensi beberapa bahan baku biodiesel


Kebutuhan
Kandungan Produktivitas
Tanaman luas lahan
minyak (L/ha) biodiesel (kg/ha.th)
(M ha)
Jagung 172 1.540 152
Kacang kedelai 446 594 562
Kelapa 2.689 99 2.315
Kelapa sawit 5.366 45 4.747
Bunga matahari 1.070 210 945
Mikroalga lipid rendah 58.700 5 52.927
Mikroalgalipid sedang 97.800 3 86.515
Mikroalga lipid tinggi 136.900 2 121.104
(Sumber: Chisti, 2007 ; Abou-Sanab, et al., 2009 ; Teresa, et al., 2010)

Tabel 1.2. Kandungan Lipid beberapa spesies mikroalga


Kandungan Kandungan
Spesies mikroalga lipid (% Spesies mikroalga lipid (%
biomassa) biomassa)
Chlorella emersonii 25-63 Nanochloris sp. 20-56
Chlorella 57 Nanochloropsis sp 12-53
minotissima
Chlorella sp. 10-48 Schizochytrum sp. 50-77
Chlorella vulgaris 5-58 Skelotonema 13-51
costatum
Dunaleilla salina 6-25 Pavtova salina 30
Dunaleilla 23 Pyrrosia Leavis 69
primolicta
Dunaleilla sp. 17-67 Zitzschia sp. 45-47
Euglena gracilis 14-20 Dunaleilla 6-25
lutheri
(Sumber: Chisti, 2007 ; Li, et al., 2008 ; Teresa, et al., 2010)
Mikroalga dapat dijadikan sebagai bahan baku berbagai produk renewable
energy seperti biodiesel, etanol, gas metana, hidrogen dan produk lain. Biodiesel
dari mikroalga tidak mengandung sulfur, dan rendah emisi partikulat, COx,
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

hidrokarbon dan SOx. Akan tetapi tinggi dalam hal emisi NOx. Mikroalga
merupakan salah satu organisme yang dapat dinilai ideal dan potensial untuk
dijadikan sebagai bahan baku produksi biofuel. Kandungan lipid dalam biomassa
mikroalga kering spesies tertentu dapat mencapai di atas 50% dengan
pertumbuhan yang sangat cepat. Proses pembiakan mikroalga hanya
membutuhkan waktu 10 hari untuk siap dipanen sehingga secara matematis
produktivitasnya mencapai (120.000 kg biodiesel/Ha tahun) lebih dari 20 kali
lipat produktivitas minyak sawit (5.800 kg biodiesel/Ha tahun) dan 80 kali lipat
dibandingkan minyak jarak (1.500 kg/biodiesel/Ha tahun). Kadar karbohidrat
mikroalga juga tinggi (29-31% berat kering untuk spesies clorella) lebih tinggi
dari pada ubi singkong (23% berat kering) dan dengan memperhitungkan masa
panen, secara matematis produktivitas bioetanolnya mencapai lebih dari 100 kali
lipat ubi singkong.
Kenyataan bahwa cadangan sumber energi fosil dunia sudah semakin
menipis. Hal ini dapat berakibat pada krisis energi yang akan menyebabkan
terganggunya pertumbuhan perekonomian dunia. Di sisi lain penggunaan sumber
energi fosil juga telah disadari menyumbang emisi gas rumah kaca yang tidak
hanya sekedar mengakibatkan pemanasan global dengan segala permasalahan lain
yang mengikutinya, akan tetapi juga mengakibatkan keasaman perairan meningkat
yang berujung pada kerusakan lingkungan. Kondisi ini memaksa dilakukannya
pencarian sumber energi alternatif.

2. Biofuel (Biodiesel dan Bioetanol)


Salah satu energi alternatif yang sangat potensial menggantikan sumber
energi fosil adalah energi yang berasal dari biomassa yang jika diproses menjadi
biofuel. Adapun penggunaan biofuel sebagai sumber energi memiliki beberapa
kelebihan dibandingkan dengan sumber energi yang berasal dari fosil,
diantaranya:
a) Sumber energi bersih, tidak menambah jumlah gas CO2 di alam karena terjadi
proses dekarbonisasi CO2 bahan bakar menjadi biomassa yang akan
diproduksi menjadi biofuel dan tidak menghasilkan emisi gas lain seperti
sulfur dioksida.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

b) Dapat diperbaharui/berkelanjutan.
c) Memiliki angka oktan/cetan yang tinggi sehingga penggunaannya tidak
membutuhkan lagi agen anti-knocking.
d) Produksinya dapat tidak mesti dalam skala yang sangat besar sehingga proses
produksinya dapat disebar di masing-masing daerah sesuai kebutuhan.
Pemerintah melalui PP no. 5 tahun 2006 telah menetapkan akan
mengurangi peran minyak bumi yang saat ini pada posisi 52% menjadi 20% pada
tahun 2025 nanti. Sebagai tahap awal pelaksanaan PP tersebut, sampai dengan
tahun 2010 telah ditetapkan beberapa target pencapaian seperti penciptaan
lapangan kerja bagi 3,5 juta pengangguran, peningkatan pendapatan bagi para
pekerja di sektor bahan bakar nabati (BBN), serta pengembangan 5,25 juta hektar
lahan terlantar untuk penanaman bahan baku BBN.
Produk biofuel yang sangat penting saat ini adalah biodiesel dan bioetanol
yang digunakan untuk menggantikan BBM diesel dan premium sebagai bahan
bakar mesin dengan sedikit atau bahkan tanpa modifikasi. Biodiesel dapat
diproduksi dari bahan baku minyak tumbuhan seperti minyak jarak dan minyak
sawit, sedangkan bioetanol diproduksi dari biomassa tumbuhan seperti tebu,
jagung, ubi-ubian dan bahan-bahan lignoselulosa.
Pemilihan sumber bahan baku yang tepat merupakan suatu yang hal yang
sangat penting. Konversi bahan pangan seperti minyak sawit dan jagung serta ubi-
ubian menjadi bioenergi akan menimbulkan permasalahan rawan pangan dan
konversi area produksi yang besar akan menimbulkan permasalahan lingkungan
baru. Dari sisi kandungan kimia bahan baku tentunya harus memiliki kandungan
minyak/lipid atau karbohidrat/biomassa yang tinggi.
Berdasarkan hal ini maka produksi biodiesel berbahan dasar mikroalga
secara logika tentunya akan lebih menguntungkan jika limbah produksinya berupa
biomassa mikroalga dimanfaatkan lebih lanjut untuk menghasilkan bioetanol.
Penggunaan biofuel sebagai sumber energi alternatif telah lama dilakukan di
berbagai negara yang selama ini aplikasi digunakan sebagai campuran bahan
bakar minyak bumi seperti Brazil (20%, 1975), Amerika Serikat (10%, 1978),
Australia (10%, 1992), Kolumbia (10%, 2001), Thailand (10%, 2002), Sedangkan
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

Indonesia juga telah dimulai sebagai campuran bahan bakar premium 10% untuk
transportasi yang tertuang dalam Perpres No. 5/2006 dan Inpres No. 1/2006.
Keunggulan alga dibandingkan bahan nabati lain adalah proses pengambilan
minyak dilakukan tanpa penggilingan dan langsung diekstrak dengan bantuan zat
pelarut (ekstraksi CO2, ekstraksi ultrasonik, dan osmotik).

Gambar 2.1. Produksi biofuel Dunia, 1975-2005 (Henniges dan Zeddies, 2006)

3. Produksi Biodiesel
Dalam pembuatan biodiesel beberapa variabel penting perlu dicermati,
seperti jumlah mol alkohol (metanol/etanol), konsentrasi katalis (KOH/NaOH),
suhu reaksi, dan waktu reaksi. Jumlah metanol optimum adalah 20%, dengan
konsentrasi NaOH 1%, suhu reaksi 60oC dengan waktu reaksi 90 menit dengan
kadar ester dalam biodiesel sebesar 98%. Dalam pembuatan biodiesel biasanya
minyak terlebih dahulu ditingkatkan kualitasnya (refining) dengan cara
degumming dan netralisasi. Degumming dilakukan dengan cara menambahkan
asam phosfat, sementara netralisasi dilakukan dengan menambahkan basa NaOH.
Minyak hasil netralisasi selanjutnya ditransesterifikasi dengan metanol atau etanol
sebagai pereaksi. Proses produksi biodiesel yang telah dikembangkan dan
diaplikasikan untuk mencapai produktivitas tinggi dan kebutuhan energi konversi
bahan baku menjadi biodiesel yakni proses Biox, proses Lurgi, proses MPOB.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

H
O O
H C O C R1 R O C R1 H2C OH
O O
H C O C R2 + 3 ROH katalis
R O C R2 + HC OH
O alkohol O
H C O C R3 R O C R3 H2C OH

H alkil ester gliserol

trigliserida
Gambar 3.1. Reaksi pembentukan senyawa alkil ester (biodiesel)

Tabel 3.1. Persyaratan Kualitas Biodiesel


Parameter dan satuannya Batas nilai Metode uji
0 3
Massa jenis pada 40 C, kg/m 850-890 ASTM D 1298
0 2
Viskositas kinematik pada 40 C, mm /s 2,3-6,0 ASTM D 445
(cSt)
Angka setana Min. 51 ASTM D 613
0
Titik nyala (mangkok tertutup, C Min. 100 ASTM D 93
0
Titik kabut, C Maks. 18 ASTM D 2500
Korosi bilah tembaga (3jam, 500C) Maks. No. 3 ASTM D 130
Residu karbon, % berat :
- dalam contoh asli Maks. 0,05 ASTM D 4530
- dalam 10% ampas distilasi Maks. 0,03
Air dan sedimen, %-volume Maks. 0,05 ASTM D 2709
Temperatur distilasi 90%, 0C Maks. 360 ASTM D 1160
Abu tersulfatkan, %-berat Maks. 0,02 ASTM D 874
Belerang, ppm-b (mg/kg) Maks. 100 ASTM D 5453
Fosfor, ppm-b (mg/kg) Maks. 10 AOCS Ca 12-55
Angka asam, mg-KOH/g Maks. 0,8 AOCS Cd 3-63
Gliserol-bebas, %-berat Maks. 0,02 AOCS Ca 14-56
Gliserol total, %-berat Maks. 0,24 AOCS Ca 14-56
Kadar ester alkil, %-berat Min. 96,5 Dihitung
Angka iodium, g-I2/(100 g) Maks. 115 AOCS Cd 1-25
Uji Halphen Negatif AOCS Cb 1-25
(Sumber: SNI-04-7182-2006)
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Biodisel. http://eprints.undip.ac.id/36596/4/BAB_II,_BIODISEL.


Diakses pada tanggal 11 September 2014.
Anonim. 2013. Biodisel Mikroalga. http://www.biotek.lipi.go.id/index.php/
news/biotek/1017-biodiesel-mikroalga. Diakses pada tanggal 11
September 2014.
Junaidi. 2014. Biofuel (Biodisel dan Bioetanol) dari Mikroalga. https://www.
google.co.id/Fabudij.files.wordpress.comproduksi-biodiesel-danbioetanol-
berbasis-mikroalga.doc. Diakses pada tanggal 11 September 2014.
Lestari, Endah. 2010. Bioteknologi Mikroalga. https://www.academia.edu
/5291259/ bioteknologi_mikroalga. Diakses pada tanggal 11 September
2014.
Wati, Adhik. 2013. Ekstraksi Minyak dari Mikroalga. http://eprints.undip.ac.id/
36732/1/34.MAKALAH_PENELITIAN.pdf. Diakses pada tanggal 11
September 2014.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

PEMBUATAN BIODIESEL GENERASI

Biodiesel adalah bahan bakar non petroleum untuk mesin diesel yang
terbuat dari sumberdaya hayati berupa minyak lemak nabati atau lemak hewani.
Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan dalam bentuk
murni, tetapi biasanya digunakan sebagai diesel aditif untuk menurunkan kadar
partikulat, karbonmonoksida, dan hidrokarbon dari kendaraan bertenaga diesel.
Biodiesel diproduksi dari minyak atau lemak menggunakan trans-esterifikasi dan
merupakan biofuel yang paling umum di Eropa.
1. Biodiesel Generasi Pertama
Biodiesel generasi pertama dibuat dari minyak lemak nabati hasil dari
pemerasan biji-biji buah tanaman tradisional, misalnya: minyak kelapa sawit,
minyak kelapa, minyak jarak pagar, atau minyak kemiri sunan, kacang soya,
jagung, tebu, dan lainnya. Minyak nabati ini diproses dengan cara transesterifikasi
atau pencampuran tertentu dengan methanol atau methanolisis. Biodiesel
dipisahkan dengan hasil sampingnya yaitu gliserol. Biodiesel jenis ini yang
sekarang dicampur dan diproses oleh Pertamina menjadi biosolar dan dijual di
pompa bensin.

Gambar 1. Diagram alir proses pembuatan biodiesel generasi satu


Seperti contohnya proses pembuatan biodiesel dari minyak sawit. Bahan
bakar diesel, selain berasal dari petrokimia juga dapat disintesis dari ester asam
lemak yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar dari minyak nabati
(biodiesel) dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari
udara, mudah terbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang dapat
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

diperbaharui. Pada umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak dengan
rantai karbon antara C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu jenis minyak
nabati yang mengandung asam lemak dengan rantai karbon C14-C20, sehingga
mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel. Di
PPKS, biodiesel dibuat melalui proses transesterifikasi dua tahap,dilanjutkan
dengan pencucian, pengeringan dan terakhir filtrasi, tetapi jika bahan baku dari
CPO maka sebelumnya perlu dilakukan esterifikasi.
Transesterifikasi adalah proses mengeluarkan gliserin dari minyak dan
mereaksikan asam lemak bebasnya dengan alkohol (misalnya metanol) menjadi
alkohol ester (Fatty Acid Methyl Ester/FAME), atau yang biasa disebut biodiesel.
Agar reaksi ini dapat bereaksi maksimal maka kita gunakan methanol berlebih dan
katalis cair yaitu sodium methylate. Pencampuran reaksi ini terjadi antara suhu
60-65 0C, secara actual kita mereaksikannya pada suhu 62 0C. untuk menjaga suhu
ini agar tetap stabil maka fluida dimasukkan terlebih dulu ke exchanger dan untuk
menghasilkan reaksi yang homogen maka kita gunakan mixer kemudian fluida
kita pompa ke reaktor (coulum). Metanol dan sodium methylat kita dosing
sebelum mixer, inilah yang dinamakan dosing stage-1.
Dalam reaktor akan terbentuk phasa ringan (ligh phase) dan phasa berat
(heavy phase) dimana pemisahannya terjadi secara gravitasi. Phasa berat yang
terbentuk akan dialirkan ke tangki heavy phase sementara phasa ringannya akan
dimasukkan ke separator-1 dengan putaran 4500 rpm sehingga heavy phase yang
masih terikat (mengemulsi) di ligh phase dapat dipisahkan. Ligh phase yang
dihasilkan dari separator dialirkan ke coulum 3 dan 4 sementara heavy phasenya
dimasukkan ke tangki heavy phase. Namun sebelum masuk ke coulum 3 dan 4
kita dosing lagi methanol dan sodium methylate (dosing stage-2) yang bertujuan
untuk mereaksikan minyak (RPO) yang belum bereaksi.
Dalam hal ini suhu reaksi juga sangat penting untuk diperhatikan. Dalam
coulum 3 dan 4 ini pemisahan ligh phase dan heavy phase juga terjadi secara
gravitasi. Ligh phase yang dihasilkan dari coulum-4 kemudian dimasukkan ke
seperator-2 dimana fungsinya sama pada separator-1 yaitu memisahkan kembali
phasa berat yang ada dari biodiesel. Biodiesel yang dihasilkan dari separator-2
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

dialirkan ke mixer lalu ke seperator 3 dan 4. Dalam tahap ini akan kita lakukan
washing untuk pemurnian PME. Untuk pemurnian PME ini kita gunakan dosing
phosporic acid dengan menjaga PH air pencuci adalah 2. Pemurnian crude metil
ester dilakukan dengan dua tahap pencucian, yang disebut dengan methode
counter current.Maksud dari aliran counter current disini adalah air pencuci
separator final (sep # 4) yang merupakan heavy phase digunakan kembali untuk
air pencuci separator # 3, namun disini harus di jaga PH separator final 3 - 4.
Tujuan ditambahkan air pencuci adalah untuk menghentikan reaksi dan
mengikat gum-gum maupun methanol yang terkandung dalam biodiesel. setelah
itu phase ringan yang berasal dari separator 4 dialirakan ke tangki PME (PME
intermedite tank). Dari tangki ini kita pompakan ke vacum dryer dengan
temperaturnya berkisar antara 135 oC-137 oC. Untuk mendapatkan temperatur
tersebut maka kita masukkan terlebih dahulu ke heat exchanger yang bertujuan
untuk memudahkan vakum menarik uap air dalam biodiesel itu sendiri. Selain itu
vakum juga berfungsi untuk menguragi kadar metanol dan soap dalam metil ester.
Setelah dari PME dryer minyak biodiesel dipompakan ke economizer lalu
didinginkan dalam exchanger cooler dan kemudian di timbun ke tangki biodiesel
(PME Storage Tank)
Rectyfication Section, pada proses ini heavy phase yang berasal dari fase
berat keluaran separator berupa glyserin-metahanol-air dialirkan ke reaktor mixer
tetapi sebelumnya ditambahkan HCl supaya terjadi netralisasi dari sodium
methylate didalam campuran dan menjaganya dalam kondisi asam (PH 3-4),di
dalam reaktor mixer dijamin terjadinya reaksi yang Sempurna, kemudian
campuran ini dialirkan ke split box (fatty acid separator) yang terdiri dari beberapa
ruang sebagai tempat untuk pemisahan fatty acid. Fatty acid yang berada pada
lapisan atas dialirkan ke kolom fatty matter dengan tekanan vacum dimana hasil
fatty matter dialirkan ketangki penampungan akhir TK90151-90152. Dari split
box setelah terpisah dari fatty acid, glyserin metahnol dan air dialirkan kekolom
distilasi yang sebelumnya di injeksikan dengan caustic soda (sodium hydroxide)
untuk menjaga kondisi netral PH 6-7, pada kolom distilation ini suhu top dijaga
65 C dan bottom 107 C dimana uap metahnol yang keluar dari top kolom di
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

kondensasi ketangki methanol sementara dan sebagaian ada yang dijadikan


refluks dan di alirkan ketangki raw material untuk digunakan kembali pada tahap
transesterification section, produk bottom berupa glyserin dan air recovery
dipompa ketangki crude glyserin sementara.
Glyserin - Water Evaporation Section, pada section ini crude gliserin
diproses didalam evaporator dimana evaporator yang digunakan disini adalah
triple efek untuk menghilangkan kadar air yang ada didalam crude gliserin
sehingga dapat dihasilkan crude gliserin sebesar 80%. Hal ini juga sangat
dipengaruhi oleh suhu maka dalam proses ini disetting suhu maksimum 145 0C ini
pun tergantung flow dari crude gliserin tersebut.multi effect evaporator yang
terdiri dari beberapa pemisahan bagian yang dilengkapi dengan sistem cairan
sirkulasi digunakan untuk mengkonsentrasikan glycerin-air,dimana hasil produk
gliserin ini disimpan ditangki penyimpanan sementara sebelum adanya
pengapalan terhadap konsumen.

2. Biodiesel Generasi Kedua


Biodiesel generasi kedua dapat dihasilkan dari pemanfaatan tanaman
bukan makanan (limbah) yakni, sisa biomass, tangkai gandum, batang jagung, dan
lainnya. Biodiesel generasi dua dibuat dengan cara thermokimia melalui proses
gasifikasi Fisher-Tropsch. Gasifikasi biomasa/limbah padat menghasilkan sintetik
gas (syngas), dan gas ini diproses dengan metode Fisher-Troph untuk
menghasilkan biodiesel. Teknologi ini lebih sulit dibandingkan dengan pembuatan
bioetanol generasi dua, sehingga secara teknis dan komersial, penerapannya masih
agak lama. Generasi pertama biofuel yang ditandai dengan produksi biodiesel dan
bioetanol dari bahan pangan akan segera ditinggalkan, hal ini karena kekhawatiran
akan kompetisi bahan baku biofuel tersebut dengan kebutuhan pangan manusia.
Kondisi itulah yang mendorong lahirnya lahirnya biofuel generasi kedua dengan
menggunakan biomasa (nonpangan) sebagai bahan bakunya.
Pirolisis adalah salah satu teknologi untuk menghasilkan biofuel generasi
kedua ini. Potensi biomassa yang berlimpah di Indonesia dan di sisi lain
kebutuhan energi yang belum bisa dipenuhi sehingga aplikasi pirolisis ini akan
sangat menjanjikan. Teknologi pirolisis dengan skala industri yang bisa
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

memproduksi biofuel untuk pemenuhan kebutuhan energi itulah yang dibutuhkan


Indonesia saat ini. Teknologi pirolisis kami memiliki keunggulan spesifik yakni
bisa bekerja pada mode torrefaction (mild pyrolysis) dengan produk torrefied
wood / torrefied biomass dan pada mode pirolisis (slow pyrolysis) dengan produk
utama biocarbon (charcoal). Kedua produk, torrefied wood & biocarbon memiliki
banyak kegunaan sebagai bahan bakar superior dan dibutuhkan berbagai industri
untuk berbagai aplikasi. Pada kedua proses tersebut juga akan dihasilkan biooil
dan syngas, yang juga bisa digunakan untuk bahan bakar ataupun bahan baku
berbagai industri kimia.
Tidak banyak orang menyangka bahwa sisa – sisa hasil pertanian seperti
tongkol jagung, jerami ataupun daun tebu dapat menjadi bahan untuk membuat
bahan bakar alternatif. Kebanyakan dari bahan – bahan tersebut hanya digunakan
sebagai makanan hewan ternak. Namun di tangan seorang guru kreatif dari
Jombang, Jawa Timur; bahan – bahan tersebut dapat diolah untuk menghasilkan
bahan bakar alternatif pengganti premium ataupun solar. Dengan pengolahan
menggunakan alat – alat yang cukup sederhana; bahan – bahan sisa pertanian
yang seringkali melimpah dan tidak termanfaatkan tersebut dapat menghasilkan
bio premium ataupun bio solar.
Pembuatan bahan bakar alternatif berupa bio premium atau bio diesel ini
dimulai dengan mengumpulkan bahan baku utama yang akan diolah. Proses
pembuatan diawali dengan menghaluskan bahan baku dengan menggunakan
mesin penggiling; tongkol dan batang jagung ataupun bahan lain dimasukkan ke
mesin penggiling guna mendapatkan ukuran yang kecil dan tekstur yang halus.
Kemudian bahan yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam tempat
penampungan khusus untuk dicampur dengan sejenis jamur ragi; dengan jenis
jamur ragi yang digunakan adalah spesies Scaharomyces cerevice.

Kemudian campuran bahan yang dihaluskan, air dan jamur ragi diaduk
hingga merata kemudian difermentasikan dengan menggunakan tempat yang
tertutup rapat selama 14 hari atau 2 minggu. Cairan atau larutan yang dihasilkan
dari hasil fermentasi tersebut kemudian menjalani proses destilasi untuk
memisahkan air dengan minyak yang dihasilkan dengan alat khusus yang
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

dirancang oleh Arif Wibowo. Proses destilasi ini akan menghasilkan bio etanol
yang kemudian digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan bio diesel
ataupun bio premium dengan mengatur nilai oktan dari bahan bakar yang
dihasilkan. Bio premium dapat digunakan pada sepeda motor ataupun kendaraan
bermotor lain yang menggunakan premium sebagai bahan bakarnya.

3. Biodiesel Generasi Ketiga


Biodiesel adalah semua bahan bakar yang terbuat dari minyak nabati atau
lemak hewan yang merupakan transformasi energi dari matahari menjadi energi
kinetik yang paling mudah, bersih dan efisien, dan dapat diperbarui serta memiliki
kesetimbangan energi yang tinggi (Blair, 2004). Biodiesel adalah bahan bakar
motor diesel yang berupa ester alkil/alkil asam-asam lemak (biasanya ester metil)
yang dibuat dari minyak nabati melalui proses trans atau esterifikasi. Istilah
biodiesel identik dengan bahan bakar murni. Minyak nabati sebagai sumber utama
biodiesel dapat dipenuhi oleh berbagai macam jenis tumbuhan tergantung pada
sumberdaya utama yang banyak terdapat di suatu tempat / negara. Indonesia
mempunyai banyak sumber daya untuk bahan baku biodiesel. Salah satu sumber
minyak nabati yang potensial sebagai bahan baku biodiesel yang terdapat di
Indonesia yaitu alga.
Di dalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida,
hormon, vitamin, mineral dan juga senyawa bioaktif. Sejauh ini, pemanfaatan alga
sebagai komoditi perdagangan atau bahan baku industri masih relatif kecil jika
dibandingkan dengan keanekaragaman jenis alga yang ada di Indonesia.
Keuntungan lain yang dimiliki oleh alga adalah tidak diperlukannya peralatan
pertanian, seperti didarat, didalam budidaya alga, tanpa penyemaian benih, gas
CO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan adanya
pengambilan hasil panen yang kontinyu mengingat singkatnya waktu tanam alga
yaitu satu minggu (Soerawidjaja, 2005). Keunggulan alga dibandingkan bahan
nabati lain adalah proses pengambilan minyak dilakukan tanpa penggilingan dan
langsung diekstrak dengan bantuan zat pelarut (ekstraksi CO2, ekstraksi
ultrasonik, dan osmotik). Pengambilan minyak dari alga merupakan proses yang
mahal sehingga harus dipertimbangkan untuk menggunakan alga sebagai sumber
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

biodiesel. Terdapat beberapa metode terkenal untuk mengambil minyak dari alga,
yakni antara lain:
1) Pengepresan (Expeller/Press)
Pada metode ini alga yang sudah siap panen dipanaskan dulu untuk
menghilangkan air yang masih terkandung di dalamnya. Kemudian alga dipres
dengan alat pengepres untuk mengekstraksi minyak yang terkandung dalam alga.
Dengan menggunakan alat pengepres ini, dapat diekstrasi sekitar 70 – 75%
minyak yang terkandung dalam alga.
2) Hexane solvent oil extraction
Minyak dari alga dapat diambil dengan menggunakan larutan kimia,
misalnya dengan menggunakan benzena dan eter. Namum begitu, penggunaan
larutan kimia heksana lebih banyak digunakan sebab harganya yang tidak terlalu
mahal. Larutan heksana dapat digunakan langsung untuk mengekstaksi minyak
dari alga atau dikombinasikan dengan alat pengepres. Cara kerjanya sebagai
berikut: setelah minyak berhasil dikeluarkan dari alga dengan menggunakan alat
pengepres, kemudian ampas (pulp) alga dicampur dengan larutan cyclo-hexane
untuk mengambil sisa minyak alga. Proses selanjutnya, ampas alga disaring dari
larutan yang berisi minyak dan cyclo-hexane. Untuk memisahkan minyak dan
cyclo-hexane dapat dilakukan proses distilasi. Kombinasi metode pengepresan dan
larutan kimia dapat mengekstraksi lebih dari 95% minyak yang terkandung dalam
alga. Sebagai catatan, penggunaan larutan kimia untuk mengekstraksi minyak dari
tumbuhan sangat beresiko.
3) Supercritical Fluid Extraction
Pada metode ini, CO2 dicairkan dibawah tekanan normal kemudian
dipanaskan sampai mencapai titik kesetimbangan antara fase cair dan gas.
Pencairan fluida inilah yang bertindak sebagai larutan yang akan mengekstraksi
minyak dari alga. Metode ini dapat mengekstraksi hampir 100% minyak yang
terkandung dalam alga. Namun begitu, metode ini memerlukan peralatan khusus
untuk penahanan tekanan.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Generasi Pertama Biofuel yang Ditandai. http://jfe-


pyroproject.blogspot.com/2012/04/generasi-pertama-biofuel-yang-
ditandai.html. Diakses pada tanggal 12 September 2014
Anonim. 2014. Generasi 2 Biodiesel Gunakan Limbah Kelapa Sawit.
www.bppt.go.id/index.php/component/content/article/924-generasi-2
biodiesel-gunakan-limbah-kelapa-sawit. Diakses pada tanggal 12
September 2014
Firdaus, M, dkk. 2009. Makalah Biofuel. http://www.scribd.com/doc/
28694927/Makalah-Biofuel. Diakses pada tanggal 12 Desember 2014
Juju. 2014. Bahan Bakar Alternatif dari Tongkol Jagung.
http://bangjuju.com/2013/08/15/bahan-bakar-alternatif-dari-tongkol-
jagung/. Diakses pada tanggal 12 September 2014
Maulana, Puri. 2014. Biofuel Bahan Bakar Hayati. http://perpustakaan.or.id/
biofuel-bahan-bakar-hayati/1478/. Diakses pada tanggal 12 September
2014
Negara, Thomas Ari. 2010. Membuat Biodiesel dari Tumbuhan Alga.
http://www.kamase.org/?p=7. Diakses pada tanggal 12 September 2014
Rochimi. 2012. Biodiesel dari Minyak Kelapa Sawit. http://kimirochimi.
blogspot.com/2012/10/biodiesel-dari-minyak-kelapa-sawit.html. Diakses
pada tanggal 12 September 2014
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

MACAM – MACAM KATALIS DALAM PEMBUATAN


BIODIESEL

1. Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada
suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri.
Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk.
Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi
pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi.
Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah
sehingga energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama yaitu katalis
homogen dan katalis heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam
fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang dikatalisinya, sedangkan katalis
homogen berada dalam fase yang sama. Satu contoh sederhana untuk katalisis
heterogen yaitu bahwa katalis menyediakan suatu permukaan di mana pereaksi-
pereaksi (atau substrat) untuk sementara terjerap. Ikatan dalam substrat-substrat
menjadi lemah sedemikian sehingga memadai terbentuknya produk baru. Ikatan
antara produk dan katalis lebih lemah, sehingga akhirnya terlepas.
Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau lebih pereaksi untuk
membentuk suatu perantara kimia yang selanjutnya bereaksi membentuk produk
akhir reaksi, dalam suatu proses yang memulihkan katalisnya. Berikut ini
merupakan skema umum reaksi katalitik, di mana C melambangkan katalisnya
A + C → AC (1)
B + AC → AB + C (2)

Meskipun katalis (C) termakan oleh reaksi 1, namun selanjutnya dihasilkan


kembali oleh reaksi 2, sehingga untuk reaksi keseluruhannya menjadi,

A + B + C → AB + C
Katalis tidak dapat dihilangkan atau pun diciptakan. Enzim adalah biokatalis yaitu
katalisator organik yang dihasilkan oleh sel.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

1.2. Katalis Pada Pembuatan Biodiesel


Ada tiga jenis katalis yang digunakan untuk membuat biodiesel dari
trigliserida dengan alkohol, yaitu katalis asam dan katalis basa baik berupa katalis
homogen maupun heterogen, serta enzim. Umumnya, katalis homogen yang
digunakan untuk menghasilkan biodiesel adalah NaOH, KOH, atau metoksidanya,
H2SO4 dan HCl. Namun katalis ini sulit dipisahkan setelah reaksi, dapat merusak
lingkungan, bersifat korosif dan menghasilkan limbah beracun.
Penggunaan katalis heterogen memberikan banyak keuntungan
dikarenakan katalis ini dapat dengan mudah dipisahkan dari produknya dengan
filtrasi karena fasanya berbeda dengan produknya, mudah diregenerasi, dapat
digunakan kembali, lebih ramah lingkungan, lebih murah dan tidak bersifat
korosif. Penggunaan katalis asam tidak menghasilkan produk samping berupa
sabun jika bereaksi dengan asam lemak bebas / Free Fatty Acid (FFA)
Katalis basa heterogen lebih efektif dari pada katalis asam dan enzim. Hal
ini disebabkan laju reaksi pembuatan biodiesel dengan katalis basa heterogen
lebih cepat dari pada katalis asam. Reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel
dengan menggunakan katalis basa 4000 kali lebih cepat dari pada menggunakan
katalis asam. Tetapi kelemahan penggunaan katalis basa yaitu dapat menghasilkan
sabun jika bereaksi dengan FFA. Kelemahan pemanfaatan enzim sebagai katalis
dalam pembuatan biodiesel adalah biaya yang tinggi, laju reaksi yang lambat dan
deaktivasi enzim. Jadi dalam memproduksi biodiesel, pemanfaatan katalis basa
heterogen lebih baik dari pada katalis asam dan enzim khususnya untuk bahan
dasar biodiesel (minyak nabati / lemak hewan) dengan kandungan FFA yang
rendah (dengan batasan antara kurang dari 0,5% sampai kurang dari 2%).
Sedangkan untuk minyak dengan kandungan FFA yang tinggi lebih baik
menggunakan katalis asam atau enzim. Salah satu tipe minyak kelapa sawit yang
mempunyai kadar FFA 0,1% adalah Refined Palm Oil (RPO). Beberapa katalis
heterogen yang digunakan untuk menghasilkan biodiesel antara lain: ZnO-
Al2O3/ZSM-5 dengan hasil 99,00%, K3PO4 dengan hasil 97,30%, KF/Ca-Al
hidrotalsit dengan hasil 97,14% (Gao, dkk., 2010), CaO-ZnO dengan hasil
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

96,00%, Mg/MCM-41 dengan konversi 85,00%, KNO3/Al2O3 dengan konversi


84,00%, KI/silika mesopori dengan konversi 90,09% dan lain-lain.

1.3. Macam – Macam Katalis Pada Pembuatan Biodiesel

1.3.1. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Homogen


Katalis homogen merupakan katalis yang mempunyai fasa sama dengan
reaktan dan produk. Katalis homogen yang banyak digunakan pada reaksi
transesterifika adalah katalis basa/alkali seperti kalium hidroksida (KOH) dan
natrium hidroksida (NaOH). Penggunaan katalis homogen ini mempunyai
kelemahan yaitu: bersifat korosif, berbahaya karena dapat merusak kulit, mata,
paru-paru bila tertelan, sulit dipisahkan dari produk sehingga terbuang pada saat
pencucian,mencemari lingkungan, tidak dapat digunakan kembali. Keuntungan
dari katalis homogen adalah tidak dibutuhkannya suhu dan tekanan yang tinggi
dalam reaksi.
1.3.2. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Heterogen
Katalis heterogen merupakan katalis yang mempunyai fasa yang tidak
sama dengan reaktan dan produksi. Jenis katalis heterogen yang dapat digunakan
pada reaksi transeseterifikasi adalah CaO, MgO. Keuntungan menggunakan
katalis ini adalah: mempunyai aktivitas yang tinggi, kondisi reaksi yang ringan,
masa hidup katalis yang panjang biaya katalis yang rendah, tidak korosif, ramah
lingkungan dan menghasilkan sedikit masalah pembuangan, dapat dipisahakan
dari larutan produksi sehingga dapat digunakan kembali.
1.3.3. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Biologis
Teknik katalisasi biologis (biocatalysis) untuk memproduksi biodiesel,
oleic acid alkyl ester (dalam hal ini butil oleat), dari triolein dengan beberapa
macam katalis biologis, yakni Candida Antarctica B, Rizhomucor Miehei, dan
Pseudomonas Cepacia. Karena mahalnya harga katalis biologis dibandingkan
katalis kimiawi, maka penggunaan katalis biologis tersebut dilakukan dengan cara
immobilisasi pada katalis.
Teknik ini sekaligus memungkinkan dilakukannya proses kontinyu dalam
produksi biodiesel. Temperatur optimum reaksi ini adalah 40oC. Selain itu juga
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

dapat digunakan katalis padat (solid catalyst) dari gula dengan cara melakukan
pirolisis terhadap senyawa gula (D-glucose dan sucrose) pada temperatur di atas
300oC. Proses ini menyebabkan karbonisasi tak sempurna terhadap senyawa gula
dan terbentuknya lembar-lembar karbon aromatik polisiklis (polycyclic aromatic
carbon sheets). Asam sulfat (sulphuric acid) kemudian digunakan untuk
mensulfonasi cincin aromatik tersebut sehingga menghasilkan katalis.
Katalis padat yang dihasilkan dengan cara ini disebutkan memiliki
kemampuan mengkonversi minyak tumbuhan menjadi biodiesel lebih tinggi
dibandingkan katalis asam sulfat cair ataupun katalis asam padat lain yang telah
ada sebelumnya.
1.3.4. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Zeolit
Zeolit adalah katalis yang sering digunakan karena memiliki penyusun
yang penting yang tidak dapat ditemukan dalam katalis amorf konvensional.
Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan
kation yang bisa dipertukarkan dan memiliki ukuran pori yang tertentu. Oleh
karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring, penukar ion, penyerap
bahan dan katalisator. Daya kerja zeolit sebagai katalis dapat diperbesar dengan
mengaktifkan zeolit terlebih dahulu.
1.3.5. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Chitosan
Salah satu cara untuk meningkatkan efiensi adalah dengan menggunakan
katalis heterogen. Pada prinsipnya dengan katalis heterogen, maka material katalis
dapat diambil kembali (tidak hilang) dan dapat digunakan kembali sebagai katalis
sehingga proses pembuatan biodiesel menjadi lebih sederhana. Sejumlah
penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan katalis heterogen untuk proses
transesterifikasi. Salah satu polimer yang berpotensi sebagai katalis basa
heterogen adalah kitosan.
Kitosan merupakan salah satu polisakarida yang terdiri atas unit N-asetil-
D-glukosamin dan D-glukosamin yang dihasilkan dari proses N-deasetilasi
polimer alamiah kitin, yaitu polimer yang diperoleh dari cangkang hewan laut,
atau fungi. Reaktivitas yang tinggi dari gugus amino bebas menjadikan kitosan
mempunyai potensi sebagai basa Lewis. Makin panjang rantai kitosan, makin
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

banyak kandungan gugus amino bebasnya, makin tinggi sifat kebasaan. Sifat basa
ini dapat diharapkan dapat menggantikan katalis basa homogen yang biasa
digunakan dalam proses transestrifikasi seperti NaOH dan KOH.
1.3.6. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Kulit Kerang
Kulit kerang adalah terbuat dari kalsium yang kompleks dan lapisan
aragonite yang dapat tumbuh dan terbuat dari material alami. Material kulit
terbentuk 95-99% oleh Kristal kalsium atau aragonite dari kalsium karbonat,
CaCO3 dan protein film yang berfungsi sebagai bahan pengikat 0,1 – 5% berat.
CaCO3 dari cangkang keong mas dan sejenisnya dapat dikonversikan menjadi
CaO pada suhu sekitar 900oC. CaO ini dapat digunakan sebagai katalis untuk
transesterifikasi minyak nabati menjadi metil ester atau biodiesel.
1.3.7. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis CaO dari Kulit Telur
Katalis basa heterogen CaO dapat dibuat melalui proses kalsinasi CaCO3.
Salah satu sumber CaCO3 yang mudah diperoleh disekitar kita adalah kulit telur.
Kulit telur memiliki kandungan CaCO3 (kalsium karbonat) sebanyak 94%,
MgCO3 (magnesium karbonat) sebanyak 1%, Ca3(PO4)2 (kalsium fosfat)
sebanyak 1% dan bahan-bahan organik sebanyak 4%. 6 Proses kalsinasi kulit telur
bertujuan untuk menghilangkan kandungan air, senyawa organik, serta karbon
dioksida yang terdapat di dalam kulit telur.
Air dan senyawa organik umumnya dapat dihilangkan dari kulit telur pada
temperatur di bawah 600oC sementara karbon dioksida baru dapat dilepaskan dari
kulit telur pada temperatur sekitar 700 – 800oC. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan katalis CaO yang baik dari kulit telur, temperatur kalsinasi yang
digunakan harus di atas 800oC. Pada pengujian awal pembuatan biodiesel dengan
menggunakan katalis kulit telur sebanyak 3%-berat yang disiapkan dengan proses
kalsinasi pada temperatur 1000 oC selama 2 jam, dengan menggunakan bahan
baku metanol dan minyak kedelai dengan rasio molar 9:1, temperatur reaksi 65 oC,
dan waktu reaksi 3 jam didapatkan perolehan biodisel di atas 95%. Lebih lanjut
didapatkan bahwa katalis kulit telur dapat digunakan secara berulang sampai 13
kali tanpa adanya penurunan keaktifan secara berarti. Katalis kulit telur baru
terdeaktifasi secara sempurna pada penggunaan berulang lebih dari 17 kali.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Katalis. http://id.wikipedia.org/wiki/Katalis. Diakses pada 13


September 2014

Julianto, Tatang Shabur. 2009. Potensi Chitosan Sebagai Katalis Pada Produksi
Biodiesel Berbahan Baku Minyak Jelantah. http://diploma.chemistry.
uii.ac.id/index.php. Diakses pada 13 September 2014

Lisangka, Vhiyo. 2013. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Nyamplung


(Calophyllum Inophyllum L) Menggunakan Katalis dari Abu Kulit Kerang
dalam Reaktor Berpengaduk. http://www.slideshare.net/vhiyo/
pembuatan-biodiesel-dari-minyak-nyamplung-calophyllum-inophyllum.
Diakses pada 13 September 2014

Rahayu, Suparni Setyowati. 2009. Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Biodiesel.


http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses/
pembuatan-biodiesel-dengan-katalis-biologis/. Diakses pada 13 September
2014

Ritonga, M. 2011. Biodiesel. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789


/28438/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada 13 September 2014
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

VARIASI METANOL DALAM PEMBUATAN BIODIESEL

1. Variasi Metanol untuk Bahan Baku Minyak Jarak Pagar


Pembuatan biodisel dengan proses 1 tahap disebut sebagai proses
transesterifikasi.Dengan proses ini minyak jarak pagar direaksikan langsung
dengan metanol dibantu katalis NaOH. Untuk mengetahui kesempurnaan reaksi
tersebut dilakukan analisa bilangan asam dan kekentalan biodisel yang dihasilkan.
Untuk mengetahui kondisi optimum, dicoba berbagai variasi konsentrasi metanol
yaitu 10, 20, 30, 40 dan 50% (v/v) dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk
semua konsentrasi, nilai bilangan asam (13,0 – 63,37) dan kekentalan (52,5 - 60,0
cSt) sangat besar, yang berarti reaksi transesterifikasi belum sempurna atau proses
1 tahap tidak sesuai untuk minyak jarak pagar.
Ketidak sesuaian pembuatan biodisel menggunakan minyak jarak pagar
denganproses transesterifikasi satu tahap dapat dijelaskan seperti berikut. Pada
proses tersebut terjadi reaksi antara asam lemak bebas dari minyak jarak pagar
(crude) dengan metanol yang menggunakan katalis basa. Penggunaan katalis basa
pada reaksi tersebut menyebabkan terjadinya reaksi penyabunan asam lemak
bebas oleh katalis NaOH, padahal reaksi yang diinginkan adalah reaksi antara
asam lemak bebas dan trigliserida dengan metanol menjadi metil ester. Nilai
bilangan asam dan kekentalan hasil transesterifikasi masih sangat tinggi,Hal ini
kemungkinandisebabkan pembentukan metil ester yang meningkat seiring dengan
semakin tingginyakonsentrasi metanol tidak sesuai dengan persyaratan bilangan
asam standar biodisel menurut ASTM (Anonim, 1995) yaitu sebesar 0,8 dan
kekentalan sebesar 4 - 5 cSt.

Tabel 1. Respons proses 1 tahap (transesterifikasi) terhadap bilangan asam dan


kekentalan minyak jarak pagar
Konsentrasi Metanol Bilangan asam Kekentalan
0 63,37 60,0
10 36,58 59,4
20 29,93 57,6
30 25,10 55,1
40 14,45 54,7
50 13,00 52,5
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

Berdasarkan kenyataan ini, katalis basa tidak tepat digunakan untuk


reaksitransesterifikasi pada minyak jarak pagar. Oleh karena itu, pada percobaan
berikutnyadigunakan katalis asam yaitu H2SO4 2%. Dengan cara ini, diperoleh
bilangan asam yanglebih rendah yaitu sekitar 0,8 - 0,9. Namun demikian,
penurunan bilangan asammenggunakan proses 1 tahap dan katalis asam ternyata
tidak diikuti dengan penurunankekentalan yaitu sekitar 50 cSt.Untuk mengatasi
hal tersebut, maka hasil reaksi dengan menggunakan katalis asamdilanjutkan
dengan mereaksikan kembali dengan metanol dan menggunakan katalis basayaitu
KOH 0,3% dari bobot minyak. Hasil reaksi menunjukkan, bahwa kekentalan
turunsangat signifikan menjadi sekitar 12 cSt dan bilangan asamnya juga turun
hingga sekitar0,5 dan nilai ini sesuai standar DIN 51606 (Gubitz, 1999).
Reaksi yang terjadi adalah reaksi transesterifikasi antara trigliserida dan
metanol dengan menggunakan katalis basa(KOH) menghasilkan metil ester dan
gliserol.Berdasarkan pengalaman tersebut, pada penelitian berikutnya dilakukan
perubahanyaitu proses 1 tahap diubah menjadi proses 2 tahap. Tahap pertama dari
proses 2 tahapadalah reaksi esterifikasi yaitu untuk menurunkan kandungan asam
lemak bebas dariminyak dan mengubahnya menjadi metil ester. Tahap berikutnya
adalah reaksitransesterifikasi yaitu mengubah trigliserida dalam minyak menjadi
metil ester (biodisel) parameter keberhasilan proses 2 tahap yaitu apabila asam
lemak bebas dantrigliserida yang ada di dalam minyak jarak pagar semaksimal
mungkin dapat diubahmenjadi metil ester seperti diindikasikan dengan bilangan
asam dan kekentalan yangrendah. Parameter pengamatan yang diamati adalah :
bilangan penyabunan, bilangan asam,bilangan ester, kerapatan dan kekentalan.

1.1. Bilangan penyabunan


Bilangan penyabunan menunjukkan variasi yaitu berkisar 206,1 – 209,7.
Hasil analisis keragaman menunjukkan peningkatan konsentrasi metanol (30 –
80%) tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan penyabunan. Hal ini sangat
mungkin terjadi karena pada penetapan bilangan penyabunan reaksitidak hanya
terjadi antara KOH dan metil ester, tetapi juga terjadi reaksi antara KOH dan asam
lemak (dari sisa trigliserida) dengan asam lemak bebas, sehingga peningkatan
konsentrasi metanol tidak berpengaruh terhadap bilangan penyabunan.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

1.2. Bilangan asam


Bilangan asam bervariasi antara 0,63 – 0,95. Analisis keragaman
menunjukkanbahwa peningkatan konsentrasi metanol berpengaruh nyata secara
linier dan kuadratikterhadap bilangan asam. Selanjutnya uji BNJ menunjukkan,
bahwa peningkatan konsentrasimetanol cenderung menurunkan bilangan asam
(Tabel 4).Pengaruh konsentrasi metanol terhadap bilangan asam dapat dinyatakan
dalambentuk persamaan regresi kuadratik yang disajikan Regresi tersebut juga
menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi metanol cenderung menurunkan
bilanganasam.Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa peningkatan konsentrasi
metanol dari 30%sampai 60% dapat menurunkan bilangan asam sampai 0,63,
selanjutnya kecenderunganpenurunanya menjadi tidak jelas. Nilai bilangan asam
tersebut sudah mendekati nilaistandar DIN 51606 (Gubitz, 1999).
Hasil uji BNJ (Tabel 4) menunjukkan, bahwa konsentrasi metanol 40% sampai
80%memberikan nilai bilangan asam yang tidak nyata perbedaannya yaitu sekitar
0,63 - 0,66 atau dengan nilai tengah 0,65. Sehubungan dengan itu, konsentrasi
metanol sebesar 40%(v/v) adalah merupakan konsentrasi terendah yang mampu
memberikan nilai bilangan asamterendah. Ditinjau dari aspek segi efisiensi proses,
penambahan metanol sebesar 40% (v/v)adalah yang paling efisien dalam
penelitian ini.
Bilangan asam menunjukkan banyaknya kandungan asam lemak bebas
yang ada didalam biodisel. Selain itu, bilangan asam merupakan salah satu
parameter uji kualitas daribiodisel. Menurut standar dari ASTM (Anonim, 1995)
bilangan asam maksimum yang diperbolehkan untuk biodisel adalah 0,8. Apabila
standar ASTM tersebut dibandingkan dengan bilangan asam biodisel pada
konsentrasi metanol 40% (v/v) yaitu 0,66, maka nilai tersebut lebih rendah dari
standar ASTM. Biodisel hasil penelitian ini telah memenuhi standar ASTM.
1.3 Bilangan Ester Teoritis
Bilangan ester teoritis menunjukkan variasi antara 205,5 – 209,1
Hasilanalisis keragaman menunjukkan, bahwa perubahan konsentrasi metanol
sebesar 30 – 80%(v/v) tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan ester teoritis.
Hal tersebut disebabkankarena bilangan ester teoritis yang merupakan
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

pengurangan bilangan penyabunan denganbilangan asam tidak menunjukkan


konsentrasi senyawa ester yang sebenarnya.
Dengan cara perhitungan, bilangan ester yang diperoleh terkontaminasi
oleh nilaiasam lemak bebas, sisa mono-, di- dan tri-gliserida. Analisis bilangan
ester yang akuratsebenarnya harus dilakukan dengan analisis gas liquid
chromatography (GLC). Analisatersebut tidak dilakukan dalam penelitian ini,
karena laboratorium gas kromatografi tidakmemiliki standar metil ester dari
minyak biji jarak.

1.4. Kerapatan
Kerapatan minyak jarak bervariasi antara 0,86 – 0,88 g/ml. Analisis
keragamanmenunjukkan bahwa perubahan konsentrasi metanol berpengaruh nyata
secara kuadratikterhadap kerapatan (Tabel 4). Uji BNJ menunjukkan, bahwa
peningkatan konsentrasi18metanol pada awalnya cenderung meningkatkan
kerapatan, kemudian menyebabkanpenurunan kerapatan.
Pengaruh konsentrasi metanol terhadap kerapatan dapat dinyatakan dalam
bentukpersamaan regresi kuadratik negatif. Regresi tersebutmenunjukkan, bahwa
peningkatan konsentrasi metanol mula-mula cenderungmeningkatkan kerapatan
dan selanjutnya menyebabkan penurunan. Hal ini kemungkinandisebabkan
pembentukan metil ester yang meningkat seiring dengan semakin
tingginyakonsentrasi metanol. Bobot jenis metil ester lebih tinggi dari bobot jenis
molekultrigliserida atau asam lemak bebas sebelum proses esterifikasi. Meskipun
demikian, tidakmenutup kemungkinan adanya penyebab lain.

1.5. Kekentalan
Kekentalan biodisel bervariasi antara 10,5 – 16,5 cSt Analisa
keragamanmenunjukkan, bahwa perubahan konsentrasi metanol berpengaruh
nyata secara kuadratikterhadap kekentalan. Hasil analisa BNJ menunjukkan
bahwa peningkatan konsentrasimetanol cenderung menurunkan kekentalan.
Pengaruh kuadratik konsentrasi metanolterhadap kekentalan cenderung
menurunkan kekentalan metil ester seperti ditunjukkandalam bentuk persamaan
regresi Semakin cepat waktu alir suatu cairan, maka kekentalan akan semakin
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

rendahKekentalan akan berbanding terbalik dengan waktu alir. Berdasarkan


pengolahan data diatas menunjukkan, bahwa kekentalan pada konsentrasi metanol
40% (v/v) (kondisi efisien)lebih baik karena lebih encer dibandingkan dengan
biodisel komersial yang berasal dariminyak kelapa sawit. Kekentalan hasil
penelitian ini tidak bisa dibandingkan denganstandar ASTM (Anonim, 2002)
karena metoda dan alat yang berbeda.Konsentrasi metanol yang optimum pada
proses 2 tahap adalah 40% (v/v) yaitumemberikan hasil bilangan asam 0,66 yang
sesuai dengan standar AOAC yaitu 0,8.Kekentalan biodisel yang dihasilkan
adalah 11,82 cSt, nilai tersebut lebih kecil darinilai kekentalan biodisel komersial
yaitu 14,33 cSt.

2. Variasi Metanol untuk Bahan Baku Minyak Sawit


Setelah didapatkan perbandingan mol metanol/minyak sawit yang
optimum, selanjutnya dilakukan variasi perbandingan volume pelarut terhadap
minyak, yaitu 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1,0; dan 1,2, pada perbandingan mol
metanol/minyak sawit optimum tersebut. Selain itu dilakukan juga
transesterifikasi tanpa pelarut sebagai pembanding.
Produk hasil transesterifikasi selanjutnya dianalisis bilangan asam,
viskositas kinematik, berat jenis, kadar air, dan yield. Hasil yang didapatkan
dibandingkan dengan standar ASTM dan FBI untuk biodiesel guna mendapatkan
perbandingan mol metanol/minyak sawit dan jumlah pelarut optimum pada
pembuatan biodiesel menggunakan pelarut. Biodiesel yang dihasilkan pada
perbandingan mol metanol/minyak sawit dan jumlah pelarut optimum selanjutnya
dianalisis dengan KG–SM untuk mengetahui komponen penyusunnya

3. Penentuan Perbandingan Mol Optimum


Perbandingan mol metanol/minyak sawit merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi kualitas metil ester (biodiesel) yang dihasilkan. Untuk
menentukan perbandingan mol yang optimum dilakukan dengan 3 variasi
perbandingan mol metanol/minyak sawit, yaitu 3:1, 6:1, dan 9:1. Semua perlakuan
tersebut dilakukan dengan jumlah pelarut yang sama yaitu 0,4 bagian dari volume
minyak sawit. Perbandingan tersebut dipilih dengan mempertimbangkan bahwa
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

perbandingan mol metanol/minyak sawit secara stoikiometri adalah 3:1, sehingga


perbandingan selanjutnya digunakan mol metanol yang lebih besar hingga
perbandingan mol 9:1. Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan,
maka dengan penggunaan mol metanol yang lebih besar dari stoikiometri dapat
menggeser kesetimbangan ke arah kanan yang berarti memperbesar konversi
biodiesel (Encinar et al., 2002). Penggunaan perbandingan mol metanol/minyak
sawit yang berbeda akan menghasilkan biodiesel dengan kualitas yang berbeda,
Salah satu parameter terpenting dari analisis biodiesel adalah viskositas,
karena secara tidak langsung viskositas dapat digunakan untuk memperkirakan
besar-kecilnya kandungan ester yang terdapat di dalam biodiesel. Berdasarkan
data di atas dapat dilihat bahwa viskositas kinematik pada perbandingan mol 3:1
tidak sesuai dengan standar, sedangkan perbandingan mol 6:1 dan 9:1 sesuai
dengan standar. Hal ini disebabkan karena reaksi transesterifikasi merupakan
reaksi kesetimbangan, sehingga jika reaksi dilakukan pada perbandingan mol
stoikiometri (3:1) maka konversi ester yang dihasilkan juga rendah.
Konversi yang rendah ini dapat dilihat dari viskositas kinematiknya yang
tidak sesuai dengan standar. Viskositas kinematik perbandingan mol 6:1 adalah
2
5,16 mm /s dan viskositas kinematik untuk perbandingan mol 9:1 adalah 5,03
2
mm /s. Dapat dilihat besar viskositas kinematik kedua perlakuan di atas tidak jauh
berbeda, sehingga dengan asumsi bahwa biodiesel yang dihasilkan. dari kedua
perlakuan tersebut sudah sesuai dengan standar, maka perbandingan mol 6:1
dipilih sebagai perbandingan mol optimum. Penentuan perbandingan mol
optimum ini semuanya dilakukan pada volume pelarut 0,4 bagian dari volume
minyak sawit. Dari hasil ini juga dapat dikatakan bahwa penggunaan
perbandingan mol di atas 6:1 tidak mengubah viskositas kinematik biodiesel yang
dihasilkan secara signifikan.
Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan perbandingan
mol optimum adalah kenyataan bahwa penggunaan metanol dalam jumlah yang
lebih sedikit secara ekonomis lebih menguntungkan daripada penggunaan jumlah
metanol yang lebih besar.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2010. Pengaruh Metanol Terhadap Kekekntalan Biodiesel. http://www.


brighthub.com/engineering/chemical/articles/64548.aspx. Diakses 12
September 2014
Anonim. 2010. Variasi Metanol dalam Pembuatan Biodiesel. http://www.
usu.ac.id/id/files/artikel/Kadar/Metanol.jgh fkkfn/dsnkcf.fcn/ html.
Diakses 12 September2014
Lutffiani,Ema. 2013. Metanol pada Biodiesel Minyak Sawit. http://vedcadiklatki.
blogspot.com/2010/08/biodiesel-metanol-kadarvariasipelarut.hjgnbgn.html
Diakses 11September 2014
Widodo. 2013. Metanol pada Biodiesel Minyak Sawit. http://www.scribd.
com/doc/72839539/5/Jenis-%E2%80%93-kondismetanol.dsjbjcsb.html/
Diakses 12September 2014
Zulhakim. 2010. Variasi Metanol pada Biodiesel Minyak Jarak Pagar.
http://www.soygold.com/biodiesel.htm. Diakses 11 September 2014
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

PENGARUH SUHU DAN TEKANAN TERHADAP


PRODUK BIODIESEL

Bahan bakar minyak dunia yang bersumber dari fosil saat ini mulai
semakin menipis cadangannya, sehingga diperlukan suatu bahan bakar alternatif
yang dapat menjadi penunjang kebutuhan tersebut. Sementara dampak lain yang
ditimbulkan akibat pemakaian bahan bakar fosil adalah pencemaran lingkungan
merupakan dampak negatif dan perlu mendapat perhatian khusus pula. Salah satu
sumber bahan bakar yang mampu menjadi solusi dari masalah tersebut adalah
biodiesel (Darnoko and Cheriyan, 2000).
Keunggulan kelapa sawit yang diolahmenjadi biodisel sebagai pengganti
fungsi minyak bumi untuk bahan bakar menjadi solusi bagi masalah pencemaran
lingkungan. Gas buang yang di hasilkan termasuk bahan biodegradability dengan
emisi polutan yang rendah, kadar hidrokarbon yang terbakar dan gas CO yang
dihasilkan lebih kecil serta bebas SO2 (Noureddini, H, and Zhu, D, 1997).Kelapa
sawit dapat menghasilkan Crude Palm Oil (CPO) 23-26 % dari berat tandan segar.
DALMs sebagai hasil samping pemurnian CPO selama ini belum terlalu optimal
dimanfaatkan. Penggunaan DALMs sebagai bahan baku pembuatan biodiesel
sangat potensial, hal ini di dukung oleh besarnya produksi minyak sawit .
Kekentalan minyak nabati relatif lebih tinggi dibanding minyak bumi, karena
rantai karbon dalam asam lemak yang di hasilkan lebih panjang (Bailey,A, 1945).
Salah satu cara untuk mengurangi masalah ini melalui proses esterifikasi dengan
alkohol, misalnya metanol atau etanol.
Biodiesel adalah bahan bakar yang diproduksi dari minyak nabati seperti
minyak sawit, minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak jarak, dan lain-
lain atau minyak hewani melalui proses transesterifikasi dengan pereaksi metanol
atau etanol dan katalisator basa atau asam. Biodiesel dari minyak nabati pada
umumnya mempunyai karakteristik yang mendekati bahan bakar yang berasal dari
minyak bumi, sehingga dapat dijadikan sebagai energi alternatif bagi bahan bakar
minyak bumi yang ketersediaannya semakin menipis (Ma dan Hanna, 1999). Saat
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

ini, pengembangan biodiesel dari minyak nabati melonjak pesat sejalan dengan
krisis energi yang melanda dunia tahun-tahunterakhir ini dan penurunan kualitas
lingkungan hidupakibat polusi. Selain itu, biodiesel dari minyaknabati bersifat
dapat diperbaharui (renewable) sehingga ketersediaannya lebih terjamin dan
produksinya dapat terus ditingkatkan.
Di Indonesia, pengembangan biodiesel dari bahan-bahan nabati,
khususnya biji jarak pagar, telah mendapat perhatian banyak pihak.
Pengembangan pesat biodiesel berbahan baku jarak pagar ini tidak terlepas dari
keunggulan-keunggulan yang dimilikinya dibandingkan dengan biodiesel dari
bahan nabati lainnya seperti sifat fisikokimianya yang lebih baik. Selain itu,
tanaman jarak pagar dapat dibudidayakan dengan mudah, tidak memerlukan lahan
yang subur dan biaya yang mahal (Openshaw, 2000; Achten et al., 2008; Kumar
dan Sharma, 2008).
Proses produksi biodiesel dari biji jarak pagar umumnya dilakukan melalui
dua tahap yaitu tahap ekstraksi minyak dari biji jarak dan tahap transesterifikasi
minyak jarak menjadi biodiesel. Ekstraksi minyak nabati umumnya dilakukan
secara mekanik menggunakan expeller atau hydraulic press yang kemudian diikuti
oleh ekstraksi dengan heksan (Campbell, 1983). Adapun transesterifikasi minyak
nabati menjadi biodiesel umumnya dilakukan melalui proses transformasi kimia
dengan menggunakan pereaksi metanol atau etanol dan katalisator asam atau basa
(Foidl et al., 1996). Kedua tahapan tersebut dilakukan secara terpisah dan
diskontinyu, sehingga proses produksi biodiesel menjadi kurang efisien dan
mengkonsumsi banyak energi. Selain itu, proses produksi minyak dari biji
membebani 70% dari total biaya proses produksi biodiesel (Harrington dan
D’Arcy-Evans, 1985; Haas et al., 2004).
Di lain pihak, penelitian-penelitian tentang proses produksi biodiesel
melalui transesterifikasi in situ berbasis bahan-bahan nabati telah memberikan
hasil yang memuaskan dengan faktor konversi lebih tinggi dibandingkan proses
transesterifikasi konvensional (Harrington dan D’Arcy-Evans 1985;Siler-
Marinkovic dan Tomasevic, 1998; Ozgul- Yucel dan Turkay, 2003; Haas et al.,
2004; Georgogianni et al., 2008; Qian et al., 2008). Proses transesterifikasi in situ
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

biji bunga matahari padaperbandingan molar metanol/trigliserida yangterkandung


dalam bahan/H2SO4 sebesar 560:1:12 menghasilkan rendemen ester lebih tinggi
20% dibandingkan dengan rendemen ester yang dihasilkan dari transesterifikasi
minyak bunga matahari. Kadar air dan ukuran partikel bahan merupakan faktor
yang sangat mempengaruhi efektifitas proses transesterifikasi in situ biji bunga
matahari, selain perbandingan molar bahan dengan metanol dan katalis
(Harrington dan D’Arcy-Evans, 1985).
Ozgul-Yucel dan Turkay (2003) pada penelitiannya tentang
transesterifikasi in situ rice bran dengan katalis asam (H2SO4) menunjukkan
bahwa pereaksi metanol memberikan rendemen ester yang lebih tinggi
dibandingkan dengan etanol, propanol dan butanol. Pada kasus transesterifikasi in
situ biji kedelai dengan katalis basa (NaOH), Haas et al. (2004) menunjukkan
bahwa rendemen ester tertinggi dapat diperoleh pada suhu reaksi 60°C dengan
perbandingan molar metanol/ trigliserida/NaOH sebesar 226:1:1.6 dan waktu
reaksi 8 jam. Transesterifikasi in situ biji bunga matahari dengan katalis NaOH
2% pada suhu 60°C dan kecepatan pengadukan 600 rpm memberikan rendemen
metil ester sebesar 95%. Rendemen tersebut dapat dicapai pada waktu reaksi 20
menit dan perbandingan massa bahan/metanol sebesar 1:10 (Georgogianni et al.,
2008). Pada kasus transesterifikasi in situ biji kapas, konversi minyak menjadi
metil ester dapat mencapai 98% pada kondisi proses kadar air biji < 2%, ukuran
partikel bahan 0,3-0,335 mm, konsentrasi NaOH 0,1 mol/L, perbandingan molar
metanol/minyak 135:1, serta suhu dan waktu reaksi masing-masing 40°C dan 3
jam (Qian et al., 2008).
Misalnya pada transesterifikasi biji jarak pagar, Kualitas biodiesel
ditentukan oleh kemurnian senyawa metil atau etil ester di dalam biodiesel.
Senyawa selain metil atau etil ester (kontaminan) yang terdapat di dalam biodiesel
dapat menyebabkan permasalahan ketika penggunaan biodiesel pada mesin.
Kontaminan dapat menyebabkan timbulnya kerak pada mesin dan penyumbatan
pada saluran injeksi. Kontaminan yang terdapat pada biodiesel dapat berupa asam
lemak bebas, gliserol, air danmono-, di- dan trigliserida yang masih terdapat
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

padabiodiesel (Knothe, 2006). Gliserol, mono-, di- dantrigliserida dapat


menyebabkan terjadinya penyumbatan pada alat injeksi mesin.
Sedangkan asam lemak bebas, terutama asam lemak bebas tak jenuh dan
air dapat menyebabkan timbulnya kerak pada tangki bahan bakar dan saluran
pembakaran. Selain itu, air dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba dan
pembentukan emulsi, sedangkan asam dapat meningkatkan korosi mesin yang
pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan mesin. Bilangan asam biodiesel
yang dihasilkan dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar berkisar antara
0,1-0,5 mg KOH/g sampel. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis
pereaksi dan suhu reaksi mempengaruhi secara signifikan bilangan asam
biodiesel, sedangkan kecepatan pengadukan dan interaksi-interaksinya tidak
berpengaruh nyata terhadap bilangan asam biodiesel. Hasil uji lanjut Duncan
terhadap jenis pereaksi menunjukkan bahwa bilangan asam biodiesel yang
dihasilkan dari perlakuan transesterifikasi in situ biji jarak pagar dengan pereaksi
metanol berbeda nyata dari perlakuan dengan pereaksi etanol.
Hasil uji lanjut Duncan terhadap suhu reaksi menunjukkan bahwa faktor
suhu reaksi 50°C berbeda nyata dengan faktor suhu reaksi 40 dan 60°C, tetapi
bilangan asam biodiesel hasil perlakuan faktor suhu reaksi 40ºC tidak berbeda
nyata dengan faktor suhu reaksi 60ºC. Perlakuan suhu reaksi 60°C merupakan
taraf faktor yang menghasilkan biodiesel dengan bilangan asam terendah (< 0,25
mg KOH/g sampel). Dibandingkan dengan metanol, bilangan asam biodiesel yang
diperoleh dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar dengan pereaksi
etanol lebih rendah nilainya pada seluruh faktor yang diuji, dan perbedaannya
cukup signifikan pada kecepatan pengadukan 700 dan 800 rpm
Hal ini berarti kualitas biodiesel yang dihasilkannya lebih baik daripada
dengan pereaksi metanol. Bilangan asam biodiesel yang dihasilkan dari faktor
suhu reaksi 50°C teramati lebih tinggi daripada suhu reaksi 40 dan 60°C. Hal ini
teramati terutama pada faktor kecepatan pengadukan 800 dan 900 rpm. Namun
demikian,bilangan asam biodiesel dari seluruh faktorperlakuan tersebut nilainya
cukup rendah (< 0,5 mg KOH/g sampel) dan memenuhi Standar Biodiesel
Indonesia (maksimum 0,8 mg KOH/g sampel). Bilangan penyabunan biodiesel
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

yang dihasilkan dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar dengan
pereaksi metanol berkisar antara 195-206 mg KOH/g sampel, sedangkan dengan
pereaksi etanol berkisar antara 181-195 mg KOH/g sampel. Hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa jenis pereaksi dan suhu reaksi mempengaruhi secara
signifikan bilangan penyabunan biodiesel, sedangkan kecepatan pengadukan dan
interaksiinteraksinya tidak berpengaruh nyata terhadapbilangan penyabunan
biodiesel. Hasil uji lanjut Duncan terhadap jenis pereaksi menunjukkan bahwa
bilangan penyabunan biodiesel yang dihasilkan dari perlakuan transesterifikasi in
situ biji jarak pagar dengan pereaksi metanol berbeda nyata dari perlakuan dengan
pereaksi etanol.
Hasil uji lanjut Duncan terhadap suhu reaksi menunjukkan bahwa faktor
suhu reaksi 40°C berbeda nyata dengan faktor suhu reaksi 50 dan 60°C, tetapi
bilangan penyabunan biodiesel hasil perlakuan faktor suhu reaksi 50ºC tidak
berbeda nyata dengan faktor suhu reaksi 60ºC. Perlakuan suhu reaksi 50°C
merupakan taraf faktor yang menghasilkan biodiesel dengan bilangan penyabunan
tertinggi (> 195 mg KOH/g sampel). Bilangan penyabunan tertinggi dengan
pereaksi metanol diperoleh dari perlakuan kecepatan pengadukan 700 rpm dan
suhu reaksi 60°C (205,81 mg KOH/g sampel), sedangkan bilangan penyabunan
terendah diperoleh dari perlakuan suhu reaksi 40°C (195,84 mg KOH/g sampel).
Bilangan penyabunan tertinggi dengan pereaksi etanol diperoleh dari perlakuan
kecepatan pengadukan 800 rpm dan suhu reaksi 50°C (194,13 mg KOH/g
sampel), sedangkan bilangan penyabunan terendah diperoleh dari kecepatan
pengadukan 700 rpm dan suhu reaksi 40°C (181,45 mg KOH/g sampel).
Dibandingkan dengan metanol, bilangan penyabunan biodiesel yang
diperoleh dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar dengan pereaksi
etanol lebih rendah nilainya pada seluruh perlakuan yang diuji.
Bilanganpenyabunan biodiesel yang dihasilkan dari perlakuansuhu reaksi 50°C
teramati lebih tinggi daripada suhu reaksi 40 dan 60°C. Hal ini teramati terutama
pada perlakuan kecepatan pengadukan 700 dan 800 rpm. Bilangan penyabunan
biodiesel yang dihasilkan dari seluruh perlakuan menunjukkan nilai yang cukup
tinggi (> 180 mg KOH/g sampel) dan relatif stabil dengan meningkatnya
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

kecepatan pengadukan. Biodiesel yang mempunyai bilangan penyabunan tinggi


menunjukkan kandungan senyawa intermediet (mono- dan digliserida) dan
senyawa trigliserida yang tidak bereaksi rendah. Pengukuran bilangan ester
menunjukkan kandungan ester teoritis di dalam campuran. Bilangan ester dihitung
dari pengurangan bilangan penyabunan dengan bilangan asam (Swern, 1982).
Pada proses transesterifikasi, senyawa ester terbentuk dari hasil reaksi
antara trigliserida dengan metanol atau etanol. Semakin tinggi bilangan ester
menunjukkan semakin banyaknya jumlah senyawa ester di dalam campuran dan
tingginya tingkat efektifitas proses transesterifikasi. Pada penelitian ini bilangan
ester biodiesel yang dihasilkan dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar
dengan pereaksi metanol berkisar antara 195-206 mg KOH/g sampel, sedangkan
dengan pereaksi etanol berkisar antara 181-194 mg KOH/g sampel. Hasil analisis
ragam menunjukkan bahwa jenis pereaksi dan suhu reaksi mempengaruhi secara
signifikan bilangan ester biodiesel, sedangkan kecepatan pengadukan dan
interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan ester biodiesel.
Hasil uji lanjut Duncan terhadap jenis pereaksi menunjukkan bahwa
bilangan ester biodiesel yang dihasilkan dari perlakuan transesterifikasi in situ biji
jarak pagar dengan pereaksi metanol berbeda nyata dari perlakuan dengan
pereaksi etanol. Hasil uji lanjut Duncan terhadap suhu reaksi menunjukkan bahwa
faktor suhu reaksi 40°C berbeda nyata dengan faktor suhu reaksi 50 dan 60°C,
tetapi bilangan ester biodiesel hasil perlakuan faktor suhu reaksi 50ºC tidak
berbeda nyata dengan faktor suhu reaksi 60ºC. Perlakuan suhu reaksi 50°C
merupakan taraf faktoryang menghasilkan biodiesel dengan bilangan
estertertinggi (> 195 mg KOH/g sampel).
Bilangan ester tertinggi dengan pereaksi metanol diperoleh dari perlakuan
kecepatan pengadukan 700 rpm dan suhu reaksi 60°C (205,53 mg KOH/g
sampel), sedangkan bilangan ester terendah diperoleh dari perlakuan suhu reaksi
40°C (195,42 mg KOH/g sampel). Bilangan ester tertinggi dengan pereaksi etanol
diperoleh dari perlakuan kecepatan pengadukan 800 rpm dan suhu reaksi 50°C
(193,92 mg KOH/g sampel), sedangkan bilangan ester terendah diperoleh dari
perlakuan kecepatan pengadukan 700 rpm dan suhu reaksi 40°C (181,29 mg
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

KOH/g sampel). Dibandingkan dengan metanol, bilangan ester biodiesel yang


diperoleh dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar dengan pereaksi
etanol lebih rendah nilainya pada seluruh perlakuan yang diuji. Bilangan ester
biodiesel yang dihasilkan dari perlakuan suhu reaksi 50°C teramati lebih tinggi
daripada suhu reaksi 40 dan 60°C. Hal ini teramati terutama pada perlakuan
kecepatan pengadukan 700 dan 800 rpm. Bilangan ester biodiesel yang dihasilkan
dari seluruh perlakuan menunjukkan nilai yang cukup tinggi (> 180 mg KOH/g
sampel) dan relatif stabil dengan meningkatnya kecepatan pengadukan. Biodiesel
yang mempunyai bilangan ester tinggi menunjukkan kandungan senyawa
intermediet (mono- dan digliserida) dan senyawa trigliserida yang tidak
bereaksinya rendah.
Pada contoh studi ini telah dapat diperlihatkan bahwa proses produksi
biodiesel dapat dilakukan secara langsung dari biji jarak pagar melalui proses
transesterikasi in situ baik dengan pereaksi metanol ataupun etanol. Kecepatan
pengadukan dan suhu reaksi berpengaruh sangat signifikan terhadap rendemen
biodiesel yang dihasilkan, sedangkan kualitas biodiesel dipengaruhi secara
signifikan oleh jenis pereaksi yang digunakan dan suhu reaksi. Kondisi proses
terbaik untuk proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar dengan pereaksi
metanol dan etanol diperoleh masing-masing pada kecepatan pengadukan 800 dan
900 rpm, dan suhu reaksi 50°C. Pada kondisi proses tersebut rendemen biodiesel
yang dihasilkan masing-masing sebesar 82,2% dan 82,5% dengan kualitas
biodiesel yang sangat memuaskan. Biodiesel yang dihasilkan dari proses
transesterifikasi in situ biji jarak pagar memenuhiStandar Biodiesel Indonesia
sehingga secara teknismemenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bakar
otomotif.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Kartika. 2014. Transesterifikasi In Situ Biji Jarak Pagar: Pengaruh Jenis
Pereaksi, Kecepatan Pengadukan dan Suhu Reaksi Terhadap Rendemen
DanKualitasBiodiesel.http://idci.dikti.go.id/pdf/JURNAL/Jurnal%20Tekn
ologi%20Industri%20Pertanian/Vol%2021,%20No%201%20(2011)/3664-
9610-1-PB.pdf. Diakses pada 13 September 2014.
Aziz, I. 2008. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas dalam Reaktor
Alir Tangki Berpengaduk, Valensi, Vol.1, No.1,Darnoko, D. and Cheryan,
M. 2000, “ Kinetic of Palm Oil Transesterfikasi in a Bath Reactor “. J.
Am. Oil Chem.Soc. 77 , 1263 -1267.
Rasyid, Rismawati. 2014. Pengaruh Suhu dan Konsentrasi Katalis Pada Proses
Esterifikasi Distilat Asam Lemak Minyak Sawit (DALMs) Menjadi
Biodiesel. http://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=pengaruh+suhu+
pada+biodiesel&btnG=. Diakses pada 13 September 2014
SNI. 1992. Cara Uji Makanan dan Minuman. Jakarta: Badan Standarisasi
Nasional (BSN).
SNI. 2006. Biodiesel. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional (BSN).
Susila, Wayan. 2014. Perkembangan Proses Produksi Biji Karet Metode Non
katalis “Superheated Metanol” pada Tekanan Atmosfer. http://cpanel.
petra.ac.id/ejournal/index.php/mes/article/viewArticle/17958. Diakses
pada 13 September 2014.
Swern D. 1982. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products, 4th ed. New York: John
Wiley and Sons.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

BENTUK – BENTUK PROSES PEMBUATAN BIODIESEL

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatifpengganti minyak diesel yang


diproduksi dari minyak tumbuhan atau lemak hewan. Penggunaan biodiesel dapat
dicampur dengan petroleum diesel (solar).Biodiesel mudah digunakan, bersifat
biodegradable, tidak beracun, dan bebas dari sulfur dan senyawa aromatik. Selain
itu biodiesel mempunyai nilai flashpoint (titik nyala) yang lebih tinggi dari
petroleum diesel sehingga lebih aman jika disimpan dan digunakan.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari sumber terbarukan
(renewable), dengan komposisi ester asam lemak dari minyak nabati antara lain:
minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak biji kapuk, dan
masih ada lebih dari 30 macam tumbuhan Indonesia yang potensial untuk
dijadikan biodiesel. Minyak goreng bekas merupakan salah satu bahan baku yang
memiliki peluang untuk pembuatan biodiesel, karena minyak ini masih
mengandung trigliserida, di samping asam lemak bebas.
Data statistik menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan
produksi minyak goreng. Dari 2,49 juta ton pada tahun 1998, menjadi 4,53 juta
ton tahun 2004 dan 5,06 juta ton pada tahun 2005. Selain ketersediaannya yang
relatif berlimpah, minyak goring bekas merupakan limbah sehingga berpotensi
mencemari lingkungan berupa naiknya kadar COD (Chemical Oxygen Demand)
dan BOD (Biology Oxygen Demand) dalam perairan, selain itu juga menimbulkan
bau busuk akibat degradasi biologi. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha-usaha
pemanfaatan minyak goreng bekas tersebut. Salah satunya adalah sebagai bahan
baku dalam pembuatan biodiesel. Berikut ini adalah penjabran dari proses
pembuatan biodiesel.
Mixing bahan baku minyak jelantah , Karena bahan baku minyak jelantah
yang didapat pada penelitian ini berasal dari berbagai sumber, maka harus
dilakukan pencampuran bahan baku atau proses mixing. Proses pencampuran
bahan baku ini dilakukan dengan menggunakan magnetic stirrer dan pemanas
serta termometer. Suhu untuk proses mixing ini dijaga agar tetap pada suhu 60°C.
Setelah proses mixing ini selesai minyak jelantah hasil mixing dijadikan satu pada
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

sebuah botol besar kapasitas 3 liter. Minyak hasil mixing ini pada akhirnya akan
digunakan untuk proses selanjutnya.
De-gumming adalah proses menurunkan kadar fosfatida yg terkandung
dalam minyak sebelum diproses menjadi biodiesel. Minyak dipanaskan pada suhu
60o, kemudian tambahkan asam pospat (H3PO4) sebanyak 0,5% dari berat
minyak sambil terus diaduk dengan magnetic stirrer selama 30 menit. Diamkan
minyak di dalam corong pemisah selama 24 jam. Selanjutnya ,Esterifikasi dengan
katalis asam. Pada tahap ini minyak jelantah akan diolah melalui proses
esterifikasi. Proses esterifikasi dilakukan dengan cara menambahkan asam sulfat
(H2SO4) dengan kadar 98% seberat 0,5% dari berat minyak jelantah dan
methanol 99% sebanyak 10% atau 95ml dari volume minyak jelantah sebanyak
950ml. Pengadukan menggunakan Magnetic Stirrer dilakukan selama 20-30
menit pada suhu 70°C. Kemudian memasukkan minyak hasil esterifikasi ke dalam
corong pisah dan didiamkan sehingga terbentuk dua lapisan, dimana lapisan
bawah adalah campuran methanol, air dan asam sulfat sedangkan lapisan atas
adalah campuran minyak dan alkil ester. Minyak hasil esterifikasi inilah yang
digunakan sebagai bahan baku proses transesterifikasi.
Transesterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam lemak dari
trigliserida dalam bentuk ester dengan cara mereaksikan hasil dari proses
esterifikasi dengan methanol kadar 99% sebanyak 10% atau 95ml dari volume
minyak jelantah sebanyak 950ml dan katalis NaOH seberat 1% dari 950ml
minyak jelantah untuk mempercepat reaksi. Disertai dengan pemanasan pada suhu
60 oC selama 20-30 menit. Hasil transesterifikasi kemudian dimasukkan ke dalam
corong pisah untuk memisahkan antara metil ester (biodiesel) dan gliserol, sisa
methanol dan sisa katalis. Dan sisa minyak yang dihasilkan adalah 920ml karena
yang 30ml adalah campuran gliserol, sisa methanol dan sisa katalis.
Pencucian dengan metode Dry-Wash. Pada proses ini minyak hasil dari
proses transesterifikasi dan magnesol disiapkan. Kemudian mengaktivasi
magnesol dengan cara memasukkan ke dalam campuran larutan asam dan air
dengan pemanasan pada temperatur 80°C selam 60 menit. Selanjutnya
memisahkan dari pelarut asam dengan cara di cuci dengan larutan aquadest
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

hingga ph netral. Setelah itu magnesol dikeringkan di dalam oven dengan suhu
250°C selama 90 menit. Kemudian lakukan pencampuran magnesol dengan
perbandingan pada biodiesel hasil transesterifikasi seberat 0,5%, 1%, dan 1,5%
dari minyak yang dihasilkan pada suhu 55°C. Selanjutnya memisahkan biodiesel
hasil pencucian dengan corong pemisah.
Proses penyaringan biodiesel ,Pada proses ini biodiesel hasil pencucian
Dry-Wash dijernihkan melalui proses penyaringan dengan menggunakan pompa
vakum. Sebuah botol dengan lubang pengeluaran untuk selang kecil diperlukan
pada proses ini. Sebuah corong diletakkan di mulut botol yang telah diberi kertas
saring pada ujungnya corongnya. Kemudian botol tersebut dihubungkan dengan
pompa vakum. Biodiesel hasil pencucian kemudian dituangkan sedikit demi
sedikit diatas kertas saring. Tujuan pemvakuman adalah agar proses penyaringan
berlangsung lebih cepat dan dapat menyerap partikel-partikel yang tidak
diinginkan yang terdapat dalam biodiesel.
Satu lagi macam proses pembuatan biodieselmenggunakan minyak nabati.
Minyak nabati merupakan trigliserida melalui reaksi transesterifikasi dengan
methanol akan menghasilkan, gliserin, metil stearate, metil oleate. Metil oleate
atau biodiesel dan gliserin harus dipisahkan melalui suatu tangki-pengendap.
Setelah gliserin dipisahkan larutan dicuci dengan air dan selanjutnya didistilasi
sehingga menghasilkan biodiesel sesuai standard yang diinginkan.
Masalah yang timbul pada proses transestrifikasi dengan metoda relatif
mahal, disamping itu hasil samping gliserin harus diproses lagi agar dapat
dimanfaatkan lagi untuk industri terkait lainetapi emisi CO yang lebih rendah.
Hampir semua biodiesel diproduksi dengan metode transesterifikasi dengan
katalisator basa karena merupakan proses yang ekonomis dan hanya memerlukan
suhu dan tekanan rendah. Hasil konversi yang bisa dicapai dari proses ini adalah
bisa mencapai 98%. Proses ini merupakan metode yang cukup krusial untuk
memproduksi biodiesel dari minyak/lemak nabati. Proses transesterifikasi
merupakan reaksi dari trigliserin (lemak/minyak) dengan bioalkohol (methanol
atau ethanol) untuk membentuk ester dan gliserol. Minyak nabati dengan kadar
asam lemak bebas (ALB)-nya rendah (<1%), bila lebih, maka perlu pretreatment
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

karena berakibat pada rendahnya kinerja efisiensi. Padahal standar perdagangan


dunia kadar ALB yang diijinkan hingga 5%. Jadi untuk minyak nabati dengan
kadar ALB >1%, perlu dilakukan deasidifikasi dengan reaksi metanolisis atau
dengan gliserol kasar. Bila dalam minyak nabati kadar airnya cukup tinggi, maka
setelah dekantasi kedua dilakukan pengeringan disamping itu perlu diperhatikan
adalah minyak mudah larut dalam alkohol. Secara ringkas tahapan proses dari
pembuatan biodiesel.
Kandungan asam lemak bebas dan air yang terlalu tinggi, akan
mengakibatkan pembentukan sabun (saponifikasi) dan menimbulkan masalah
pada pemisahan gliserol nantinya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan
pendahuluan bahan baku dilakukan proses degumming dan refined .Katalis
dilarutkan dalam methanol dengan menggunakan mixer atau agitator standar.
Campuran methanol dan katalis dimasukkan ke dalam reaktor tertutup baru
kemudian ditambahkan minyak nabati. Sistem harus tertutup total untuk
menghindari penguapan methanol. Reaksi dijaga pada suhu diatas titik didih
alkohol (sekitar 70 oC) guna mempercepat reaksi meskipun beberapa sistem
merekomendasikan suhu kamar. Lama reaksi adalah 1 – 8 jam. Pemberian
methanol berlebih diperlukan untuk memastikan konversi yang sempurna.
Meskipun densitas gliserol lebih tinggi daripada biodiesel sehingga
gliserol tertarik ke bawah karena gravitasi, alat sentrifugal masih diperlukan untuk
mempercepat pemisahan kedua senyawa tersebut. Setelah terjadi pemisahan
gliserol dan biodiesel , kelebihan methanol diambil dengan proses evaporasi atau
distilasi. Produk samping gliserol yang masih mengandung katalis dan sabun
selanjutnya dinetralkan dengan larutan asam sulfat. Setelah biodiesel dipisahkan
dari gliserol selanjutnya dimurnikan lagi dengan air hangat untuk membuang sisa-
sia katalis atau sabun. Lalu dikeringkan dan dikirim ke tangki penyimpan
biodiesel.
Biodiesel merupakan senyawa kimia sederhana dengan kandungan enam
sampai tujuh macam ester asam lemak. Biodiesel didefinisikan sebagai metil ester
dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 20 dari asam lemak turunan dari
lipid contohnya minyak nabati atau lemak hewani. Minyak nabati atau lemak
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

hewani dapat dibuat biodiesel dengan reaksi transesterifikasi dengan


menggunakan alkohol.Komposisi dan sifat kimia dari biodiesel tergantung pada
kemurnian, panjang pendek, derajat kejenuhan, dan struktur rantai alkil asam
lemak penyusunnya
Teknik katalisasi biologis (biocatalysis) untuk memproduksi biodiesel,
oleic acid alkyl ester (dalam hal ini butil oleat), dari triolein dengan beberapa
macam katalis biologis, yakni Candida Antarctica B, Rizhomucor Miehei, dan
Pseudomonas Cepacia. Karena mahalnya harga katalis biologis dibandingkan
katalis kimiawi, maka penggunaan katalis biologis tersebut dilakukan dengan cara
immobilisasi pada katalis.
Teknik ini sekaligus memungkinkan dilakukannya proses kontinyu dalam
produksi biodiesel. Temperatur optimum reaksi ini adalah 40oC. Selain itu juga
dapat digunakan katalis padat (solid catalyst) dari gula dengan cara melakukan
pirolisis terhadap senyawa gula (D-glucose dan sucrose) pada temperatur di atas
300oC. Proses ini menyebabkan karbonisasi tak sempurna terhadap senyawa gula
dan terbentuknya lembar-lembar karbon aromatik polisiklis (polycyclic aromatic
carbon sheets). Asam sulfat (sulphuric acid) kemudian digunakan untuk
mensulfonasi cincin aromatik tersebut sehingga menghasilkan katalis. Katalis
padat yang dihasilkan dengan cara ini disebutkan memiliki kemampuan
mengkonversi minyak tumbuhan menjadi biodiesel lebih tinggi dibandingkan
katalis asam sulfat cair ataupun katalis asam padat lain yang telah ada
sebelumnya.
Nama : Wulan Novi Astuti
NIM : 03111003014
Kelompok : 1 (Satu)
Shift : Selasa Pagi

DAFTAR PUSTAKA

Wiwin, W. 2013. Proses Biodisel dengan Katalis. http://winartiwiwin.blogspot.


com/2013/01/proses-biodiesel-katalis.html. Diakses pada tanggal 12
September 2014
Anonim. 2013. Biodiesel Biji Jarak. http://www.kamusq.com/2013/12/biodiesel-
pengertian-dan-minyak jarak.html. Diakses pada tanggal 12 September
2014
Sumantri. 2010. Proses Pembuatan Biodiesel. http://nuritirtosumantri.blogspot.
com/2010/08/sedikit-penjelasan-tentang-proses biodiesel .htm. Diakses
pada tanggal 12 September 2014
Anonim. 2013. Pengertian dan Proses Biodiesel. http://id.shvoong.com/exact-
sciences/biology/2349424-pengertian-biodiesel-dan-prosesbiodiesel/#
ixzz3D6uS46RP. Diakses pada tanggal 12 September 2014
Prawito. 2014. Biodiesel. http://chemicalengineer.digitalzones.com/biodiesel.html.
Diakses pada tanggal 12 September 2014