Anda di halaman 1dari 10

BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER, 2018

UNIVERSITASMUHAMMADIYAH MAKASSAR

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. HS

Umur : 80 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Status perkawinan : Menikah

Pekerjaan : Pedagang

Alamat : Barukang VI

ANAMNESIS

Seorang laki –laki berusia 80 tahun datang bersama anaknya ke poli kulit Balai

Kesehatan Kulit, Kelamin dan Kosmetik dengan keluhan terdapat gatal sejak 1 tahun

yang lalu. Keluhan dirasakan secara hilang timbul. Rasa gatal dirasakan mulai dari

ekstremitas bawah kemudian menjalar ke esktremitas atas. Kemudian lama kelamaan

pasien merasakan bahwa kulitnya menebal serta kering seperti bersisik dan muncul

bengkak merah pada daerah ekstremitas, nyeri disangkal. Pasien merupakan pasien

kontrol yang telah berobat selama 1 tahun secara rutin. Riwayat keluarga juga disangkal.

PEMERIKSAAN KLINIS

a. Keadaan Umum : Sakit (Ringan, sedang, berat)

b. Kesadaran : (Composmentis/uncomposmentis)
DERMATOLOGIS

Lokalisasi : Ekstremitas inferior dextra et sinistra, ekstremitas superior dextra et sinistra.

Efloresensi : makula hiperpigmentasi, skuama, plak dan xerosis

DIAGNOSIS : Xerosis Cutis


PENATALAKSANAAN

Oral : Cetrizine 10mg tab 1x1

Topikal : Lanolin 5%

As. Salisilat 3 %

Gentamisin salp 0,1 %


PEMBAHASAN

XEROSIS CUTIS

Xerosis cutis atau yang bisa disebut kulit kering didefinisikan sebagai hilang atau

berkurangnya kadar kelembaban pada lapisan stratum corneum.1,6 Xerosis cutis merupakan

kelainan kulit dimana kulit menjadi kasar, bersisik, berkeriput dan kurang elastis

dibandingkan kulit normal. Seiring dengan pertambahan dari usia maka semakin tinggi

tingkat keparahan dari Xerosis cutis ini, pada geriatri Xerosis kutis merupakan jenis

dermatosis inflamasi yang terbanyak dijumpai. Mengenai hampir 75% lansia berusia diatas

64 tahun. Xerosis cutis dapat menyebabkan pruritus dan terganggunya kualitas hidup

penderita.3,5

Perubahan histopatologis pada lapisan epidermis dan dermis pada kulit menua,

terutama terjadi pada lapisan terluar, yaitu stratum korneum.2 Stratum korneum merupakan

barrier yang terdiri dari sel-sel tak berinti yang banyak mengandung protein (profilaggrin,

flaggrin, dan granul keratohyalin) dan ruang interseluler yang banyak mengandung lipid dan

membran stratum korneum (ceramide, FFA, cholesterol) dan bahan pelembab alami (

Natural Mousturizing Factor) yang mempunyai kemampuan mengikat air sangat kuat.1

Stratum korneum terdiri atas korneosit dan intercelullar substance (the brick and

mortar). Peningkatan jumlah dan ukuran korneosit dapat terjadi di stratum korneum, dengan

penurunan epidermal turnover, serta penurunan jumlah natural moisturizing factor (NMF)

yang berfungsi untuk mempertahankan jumlah air pada kulit. Pembesaran korneosit dalam

jumlah banyak ini menyebabkan fungsi korneosit dalam melindungi kulit terhadap sinar

ultraviolet menurun, selain itu sistem perbaikan DNA pada korneosit yang membesar ini juga

lebih buruk dibandingkan sel yang normal.1


Pada usia lanjut lipid interselular pada stratum korneum berkurang. Lipid

interselular diperlukan pada produksi intercelullar lamellar bilayer (sphingolipid, free sterol,

phospholipid), untuk menahan air dan mencegah water loss. Jumlah lipid pada stratum

korneum berkurang pada usia diatas 75 tahun, dan menyebabkan penurunan fungsi sawar

kulit. Kulit lansia bersisik yang susah lepas akibat gangguan proses deskuamasi terutama

pada komponen intraselulernya yaitu corneodesmosom dan lipid. Corneodesmolisis yang

terjadi pada proses deskuamasi memerlukan air. Penurunan lipid interseluler pada lansia yang

berfungsi sebagai barier air menyebabkan kesulitan untuk menahan air di kulit sehingga

corneodesmolisis terganggu dan menimbulkan xerosis cutis.1,6

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinisnya adalah kulit tampak kasar, kering dengan tekstur kulit lebih jelas,

berwarna lebih gelap serta tampak bersisik, disertai keluhan gatal.1,2,3 Jika memberat, dapat

pula tampak kemerahan. Sebagai respons terhadap gatal, pasien melakukan garukan yang

dapat menyebabkan komplikasi berupa infeksi sekunder, ulserasi, dan luka kronik.1 Akibat

garukan yang berulang, dapat terjadi erosi, ekskoriasi sehingga patogen atau bahan kimia

mudah masuk ke dalam kulit dan ini akan meningkatkan risiko infeksi.1 Predileksi tersering

adalah di ekstremitas (terutama pada tulang kering) , tetapi juga dapat ditemukan di batang

tubuh dan wajah.3,4,5

Kulit kering dapat dibagi atas dua tipe yaitu :

A. Kulit kering yang di dapat (acquired dry skin)

Ini dapat timbul pada kulit normal atau kulit berminyak yang menjadi kering

sementara dan bersifat lokal yang disebabkan oleh faktor-faktor luar, diantaranya :

1. Radiasi matahari (UV)

2. Pemaparan pada iklim ekstrim : panas, dingin, angin, dan kekeringan.


3. Pemaparan pada bahan kimia : detergen, solvent

4. Terapi obat misalnya : retinoid

B. Constitusional dry skin

Tipe ini meliputi banyak jenis kulit kering , dimana bentuk yang parah adalah

bentuk patologik.

1. Non pathological skin

Tipe kulit kering konstitusional ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal

o Fragile skin : adalah bentuk antara kulit kering dengan kulit normal dan

kebanyakan dijumpai pada wanita atau pada orang-orang dengan kulit lembut,

struktur baik. Sering dijumpai eritema, rosasea dan lebih sensitif terhadap

bahan-bahan dari luar.

o Senile skin : kekeringan terjadi pada kulit menua, dimana terjadi perubahan

pada semua level.

o Minor dry skin (xerosis vulgaris) : hal ini berasal dari genetik umumnya

dijumpai pada wanita dengan tampilan pucat. Xerosis terjadi khususnya pada

wajah, punggung, tangan dan badan.

2. Pathological skin

o Chtyosis : pada kulit ini terjadi kerusakan keratinisasi secara genetik, dimana

bermanifestasi berupa deskuamasi abnormal, perubahan fungsi barrier. Bentuk

lanjut penyakit ini mirip ichtyosis vulgaris.

o Kulit kering pada dermatitis atopik : pada penyakit ini terjadi defek secara

genetik pada metabolisme dari asam lemak esensial (d6-desaturase), terlihat

xerosis yang luas disertai inflamasi, plak dan rasa gatal.


DIAGNOSIS

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik,

pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan uji TEWL dengan alat transepidermal

waterloss untuk menilai kemampuan kulit menahan air ( skin capacitance).5 Keluhan pruritus

akibat xerosis juga dapat ditunjang dengan pemeriksaan kerokan kulit dan KOH untuk

menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari pruritus seperti scabies, candidiasis cutis dan

dermatofitosis.

DIAGNOSIS BANDING

A. Dermatitis Numularis

Dermatitis numularis adalah peradangan kulit yang bersifat kronis, ditandai dengan

lesi berbentuk mata uang koin atau agak lonjong, berbatas tegas, dengan efloresensi berupa

papulovesikel yang biasanya mudah pecah sehingga membasah.5 Dermatitis numularis sering

ditemukan pada orang dewasa dan sering terjadi pada laki-laki dengan perempuan.5 Usia

puncak awitan pada kedua jenis kelamin berkisar 50-65 tahun.5 Gambaran klinisnya berupa

bercak merah, annular, bersisik, kering pada lengan dan kaki.5

B. Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik (DA) adalah peradangan kulit yang kronis dan residif, disertai rasa

gatal tertutama di wajah pada bayi (fase infantil) dan bagian fleksural ekstremitas (pada fase

anak).5 Dermatitis atopik kerap terjadi pada bayi dan anak dan sering berhubungan dengan

peningkatan IgE dalam serum dan riwayat atopi keluarga atau penderita (DA, rhinitis alergi,

dan atau asma bronchial).5

Manifestasi klinis DA berbeda pada setiap tahapan atau fase perkembangan

kehidupan, mulai dari saat bayi hingga dewasa.5 Pada setiap anak didapatkan tingkat
keparahan yang berbeda, tetapi secara umum mereka mengalami pola distribusi lesi yang

serupa.5 Bentuk lesi pada fase dewasa hampir serupa dengan lesi kulit fase akhir anak-anak.5

Manifestasi lain berupa kulit kering dan sukar berkeringat, gatal-gatal terutama jika

berkeringat.5

C. Neurodermatitis Sirkumskripta

Kelainan ini ditandai dengan plakat yang menebal, karena terjadi likenifikasi, gatal

dan lokasi terbatas, perjalanan penyakit kronis. Paling sering ditemukan pada pergelangan

kaki, tetapi juga dapat timbul di bagian lain ( tengkuk, skrotum). Kelainan ini disebabkan

karena kebiasaan menggaruk dan menggosok kulit. Insiden pada usia 30 – 50 tahun. Biasanya

lesi hanya satu dan daerah predileksinya pada skrotum, perineum (pria) serta labia mayora

dan tengkuk (pada wanita).5

TATALAKSANA

Pada kasus Xerosis cutis penderita cenderung mudah mengalami inflamasi dan

infeksi. Jenis obat yang digunakan adalah keratolitik, pelembab dan steroid topikal.1,3 Untuk

menjaga kulit tetap lembab setelah mandi gunakan pelembab yang mengandung aquaphor

(95% petrolatum) misalnya Eucrin.3

Karena xerosis cutis disertai gatal, radang, eritem, disamping diberikan pelembab

untuk mengatasi kekeringan kulit dapat pula ditambahkan menthol 0,25% untuk mengurangi

rasa gatal. Selain itu dapat diberikan minyak alami misalnya krim dengan bahan dasar lanolin

atau campuran dengan parafin. Disamping itu dapat diberikan antihistamin dan kortikosteroid

topikal. Kortikosteroid lemah dengan dasar urea sangat cepat dan dianjurkan. Pada kasus-

kasus yang berat dapat diberikan sedative ringan.2


KESIMPULAN

Xerosis cutis adalah salah satu jenis kelainan kulit yang paling sering terjadi pada

pasien geriatri. Gambaran klinisnya adalah kulit tampak kasar, kering dengan tekstur kulit

lebih jelas, berwarna lebih gelap serta tampak bersisik, disertai keluhan gatal. Etiologi

disebabkan karena faktor degeneratif yakni adanya perubahan struktur dan penurunan fungsi

barrier kulit.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik,

pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan uji TEWL dengan alat transepidermal

waterloss.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anggowarsito J. Aspek Fisiologi Penuaan Kulit. Jurnal Widya Medika Surabaya. Vol

2 No. 1, April 2014. P 56-60.

2. Damayanti. Penuaan Kulit dan Perawatan Kulit Dasar Pada Usia Lanjut. Jurnal

Berkala Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin. Vol. 29. No. 1. April 2017

3. Darmawan H, Tan SW.2016. Iktiosis Vulgaris. Dalam : Buku Panduan Ilmu Penyakit

Kulit Dan Kelamin. Sagung Seto. Jakarta

4. Kusumaningrum A , Widayati R. Efektivitas Macadamia Oil 10% Dalam Pelembab

Pada Kulit Kering. Jurnal Kedokteran Diponegoro. Vol.6, No.2, April 2017. P. 347-

356.

5. Menaldi SLSW, Bramono K , Indritami W. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.7.

Jakarta : Badan Penerbit FKUI, 2015.

6. Bianti M. Kulit Kering pad Usia Lanjut. Continuing Medical Education. Vol 43 No

10, 2017. P. 737-740.