Anda di halaman 1dari 3

Alga hijau dan alga hijau biru, banyak yang hidup dan berkembang di air tawar.

Jenis
alga ini tidak mempunyai arti penting sebagai bahan makanan. Sebaliknya, alga cokelat
dan alga merah merupakan penghuni laut yang cukup eksklusif dalam kedudukannya
sebagai bahan pangan dan nonpangan.
Bila berbicara tentang rumput laut, yang dimaksudkan adalah dari jenis alga cokelat dan
alga merah ini. Alga cokelat hidup di perairan yang dingin, alga merah di daerah tropis.
Rumput laut merupakan bagian terbesar dari tanaman laut yang memegang peran cukup
penting dalam fungsinya sebagai bahan makanan dan obat-obatan. Secara garis besar,
rumput laut dibedakan sebagai penghasil agar, karaginan, furcelaran, dan alginat.
Alga cokelat yang sering disebut kelp atau rockweed, merupakan sumber alginat atau
algin, yaitu salah satu jenis polisakarida yang terdiri dari unit-unit asam manurat dan
asam glukuronat. Sementara itu, alga merah merupakan sumber bagi karaginan, agar-
agar, dan furcelaran.
Beberapa jenis rumput laut yang terdapat di Indonesia dan memiliki arti ekonomis
penting adalah: (1) Rumput laut penghasil agar-agar (agarophyte), yaitu Gracilaria,
Gelidium, Gelidiopsis, dan Hypnea, (2) Rumput laut penghasil karaginan
(Carragenophyte), yaitu Eucheuma spinosum, Eucheuma cottonii, Eucheuma striatum,
(3) Rumput laut penghasil algin, yaitu Sargasum, Macrocystis, dan Lessonia.
Jenis Eucheuma dan Gracilaria sudah dibudidayakan di Indonesia, terutama di Kepulauan
Riau, Lampung, Kepulauan Seribu (Jakarta), Bali, Lombok, Flores, Sumba, dan
Sulawesi. Pembudidayaan dilakukan di tempat-tempat yang kondisi arusnya relatif
tenang, sehingga produktivitasnya dapat ditingkatkan. Wilayah Indonesia yang 70 persen
berupa laut dan terdapat 17.500 pulau, merupakan negara yang kaya akan rumput laut.
Rumput laut segar tidak dapat disimpan lama pada suhu ruang. Oleh karena itu, harus
diolah menjadi bentuk rumput laut kering, tepung agar, tepung alginat, atau tepung
karaginan.
Selama ini ekspor rumput laut ke mancanegara umumnya dilakukan dalam bentuk
rumput laut kering. Dengan demikian, sudah saatnya Indonesia mendirikan industri
pengolah rumput laut dan mengekspornya dalam bentuk hasil olahan, seperti agar-agar,
karaginan, alginat, dan lain-lain.
Bentuk Tepung
 Agar-agar adalah produk kering tak berbentuk (amorphous) yang
mempunyai sifat-sifat seperti gelatin dan merupakan hasil ekstraksi dari
rumput laut jenis tertentu. Molekul agar-agar terdiri dari rantai linear
galaktan. Galaktan sendiri merupakan polimer dari galaktosa.
Hampir semua penduduk Indonesia dipastikan mengenal agar-agar. Terdapat tiga bentuk
agar-agar yang dijual di pasaran, yaitu berbentuk batang, bubuk, dan kertas. Namun, yang
paling umum dijumpai adalah yang berbentuk bubuk.
Masyarakat luas lebih mengenal agar-agar sebagai hidangan pencuci mulut yang lezat
dan menarik. Sebab, bentuknya dapat direka-reka sesuai selera dan dipadu dengan
berbagai macam warna, aroma, dan rasa.
Sifat yang paling menonjol dari agar-agar adalah larut di dalam air panas, yang apabila
didinginkan sampai suhu tertentu akan membentuk gel. Di rumah tangga, umumnya
digunakan untuk pembuatan puding, bahan campuran berbagai macam kue, atau dimasak
bersama-sama beras untuk menghasilkan nasi yang lebih pulen dan lengket.
Untuk lebih memberikan daya tarik dan supaya dapat digunakan lebih luas, bubuk agar-
agar dibuat berwarna-warni. Bubuk agar-agar umumnya berwarna hijau, kuning, merah,
cokelat, dan putih.
Agar-agar pertama kali diproduksi di Cina sebelum abad ke-17. Dalam skala industri,
pabrik pembuat agar-agar pertama kali didirikan di California, Amerika Serikat, pada
tahun 1919, kemudian disusul oleh Jepang, yang hingga kini dikenal sebagai produsen
agar-agar utama di dunia.
Di Indonesia, agar-agar mulai diproduksi pada tahun 1930. Saat ini ada beberapa industri
penghasil agar-agar di Indonesia. Bahan baku utama yang dipakai adalah rumput laut dari
jenis rambukasang (Gracilaria sp), paris (Hypnea), dan Kades (Gellidium sp).
Dari ketiga jenis tersebut, jenis rambukasang adalah yang terbanyak digunakan karena
lebih murah harganya dan menghasilkan agar-agar tiga kali lipat dari jenis lain. Rata-rata
banyaknya (rendemen) agar-agar yang dihasilkan dari rumput laut kering adalah 25-35
persen. laut disaring dengan kain blacu dan diperas perlahan-lahan. Ekstrak yang
diperoleh ditampung dalam bejana dan ditambahkan basa hingga pH-nya mencapai 7-7,5.
Larutan agar-agar yang telah dinetralkan, dipanaskan lagi sambil diaduk dan dituangkan
ke dalam cetakan menurut ukuran yang telah ditentukan. Larutan agar-agar tersebut
dibiarkan memadat pada suhu kamar atau menggunakan suhu dingin untuk mempercepat
pemadatan.
Kegunaan Agar-Agar
 Sifat yang paling menonjol dari agar-agar adalah memiliki daya gelasi
(kemampuan membentuk gel), viskositas (kekentalan), setting point (suhu
pembentukan gel), dan melting point (suhu mencairnya gel) yang sangat
menguntungkan untuk dipakai pada dunia industri pangan maupun
nonpangan.
Agar-agar dengan kemurnian tinggi tidak akan larut pada air bersuhu 25oC, tetapi larut di
dalam air panas. Pada suhu 32-39oC, agar-agar akan berbentuk padatan yang tidak akan
mencair lagi pada suhu di bawah 80oC.
Fungsi utama agar-agar adalah sebagai bahan pemantap, penstabil, pengemulsi,
pengental, pengisi, penjernih, pembuat gel, dan lain-lain. Agar-agar digunakan pada
industri makanan, yaitu untuk meningkatkan viskositas sup dan saus, serta dalam
pembuatan fruit jelly.
Di Eropa dan Amerika, agar-agar digunakan sebagai bahan pengental pada industri es
krim, jeli, permen, dan pastry. Agar-agar juga digunakan dalam pembuatan serbat, es
krim, dan keju untuk mengatur keseimbangan dan memberikan kehalusan. Di Jepang,
agar-agar sering dimasak bersama-sama nasi untuk menghasilkan “nasi agar-agar” yang
lengket dan kaya serat pangan (dietary fiber) sehingga lebih menguntungkan bagi
kesehatan.
Bahan pembuatan agar-agar, yakni rumput laut, banyak terdapat di laut yang
mengelilingi Indonesia. Jenis pangan ini mengandung perbagai unsur gizi dan sifat-
sifat yang bisa menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.
Jadi, bahan pangan ini bisa mencegah terjadinya penyakit jantung, hipertensi, serta
diabetes melitus.
Dalam bahasa ilmiah, rumput laut (sea weeds) dikenal dengan istilah alga atau ganggang.
Dilihat dari ukurannya, rumput laut terdiri dari jenis mikroskopik dan makroskopik. Alga
makroskopik inilah yang sehari-hari kita kenal sebagai rumput laut.
Berdasar pigmen (zat warna) yang dikandung, alga dikelompokkan atas empat kelas,
yaitu Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang cokelat),
Chlorophyceae (ganggang hijau), dan Cyanophyceae (ganggang hijau-biru).
Agar-agar juga digunakan sebagai penjernih pada berbagai industri minuman seperti bir,
anggur, kopi, dan sebagai penstabil pada minuman cokelat. Di bidang kesehatan, seperti
pada Perang Dunia II, agar-agar digunakan untuk membersihkan luka.
Hal ini disebabkan dalam agar-agar terdapat komponen yang dapat menyetop
menggumpalkan darah, sehingga luka mudah untuk dibersihkan. Pada zaman dahulu,
masyarakat Jepang dan Cina menggunakan agar-agar sebagai obat sakit perut, dan di
Amerika agar-agar dimasukkan ke dalam kelompok zat laxative.
Selain untuk industri makanan, agar-agar juga digunakan dalam industri farmasi (sebagai
bahan baku kapsul pembungkus obat-obatan dan vitamin, campuran obat pencahar dan
pasta gigi), industri kosmetika (sebagai bahan baku lipstik, sabun, salep, lotion, dan
krim), serta industri lainnya.
Baik untuk Diet Rendah Kalori
 Agar-agar yang bermutu baik memiliki komposisi kimia sebagai berikut: 16-
20 persen air, 2,3-5,9 persen protein, 0,3-0,5 persen lemak, 67,8-76,1 persen
karbohidrat, 0,9-2,1 persen serat, serta 3,4-3,6 persen abu.
Kandungan mineral yang cukup menonjol di dalam agar-agar adalah kalsium, fosfor, dan
zat besi.
Walaupun agar-agar mengandung karbohidrat yang cukup tinggi, di dalam tubuh tidak
dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan, sehingga sangat sedikit sekali menghasilkan
energi. Dengan demikian, agar-agar sangat baik digunakan untuk tujuan diet rendah
kalori bagi mereka yang ingin menurunkan atau menjaga agar berat badannya tidak
mudah bertambah.
Meski begitu, bila agar-agar diolah menjadi puding atau aneka kue, produk olahan
tersebut akan mengandung energi yang cukup tinggi. Sumber energinya dapat berasal
dari gula, santan, susu, tepung, dan bahan-bahan lain yang sengaja ditambahkan ke dalam
campuran tersebut.@