Anda di halaman 1dari 7

Pendahuluan

Malolusi Skeletal Kelas III merupakan kelainan dalam hubungan skeletal


yang kompleks dan sulit untuk dikoreksi. Etiologi dari kelainan ini umumnya amat
dipengaruhi oleh factor genetik. Perbaikan dalam hal fungsi dan estetik sangat
diperlukan. Dalam hal tersebut maka diperlukan kombinasi perawatan antara
ortodonti, bedah dan terkadang konservasi gigi.
Bentuk pengukuran sefalometri untuk pasien dengan kelainan tersebut antara
lain panjang basis cranium bagian anterior yang pendek, ukuran sudut SNA yang
kecil, rahang atas yang retrusif dan berukuran kecil, inklinasi gigi insisif anterior atas
yang proklinasi, inklinasi gigi insisif bawah yang retroklinasi dan ukuran 1/3 wajah
bagian bawah yang panjang. Bentuk hubungan gigi geligi mempunyai jarak gigit
yang negatif.
Biasanya terdapat pola atau bentuk rotasi mandibula adalah kearah belakang
dan ada pertumbuhan berlebih dalam arah vertikal (Long Face Syndrome). Dalam
kasus yang kompleks seperti ini, dibutuhkan penanganan terintegrasi dengan berbagai
bidang ilmu dan spesialisasi serta kerjasama pasien. Selain ketidaknyamanan dalam
hal estetik juga adanya gangguan fungsi kunyah dan bicara serta gangguan sendi
temporo mandibular.
Laporan Kasus
Seorang pasien laki-laki usia 19 tahun dengan keluhan :
 Utama : tidak dapat mengunyah makanan dengan baik dan gangguan dalam
fungsi bicara. Kesehatan umum baik
 Pada pemeriksaan ekstra-oral : Kelainan Maloklusi Skeletal Kelas III
1. Ukuran rahang atas yang kurang berkembang
2. Profil wajah cekung
3. Tinggi wajah bagian bawah yang lebih dari normal.
4. Pasien memiliki posisi bibir yang kompeten dan ukuran sudut
Nasolabial yang kurang dari normal.
5. Kebersihan mulut pasien baik
6. Tidak ditemukan kelainan sendi temporo-mandibula.
 Pada pemeriksaan intra-oral :
1. Posisi pada rahang atas yang berjejal cukup berat dengan ukuran jarak
gigit – 1.5 mm dan ukuran tumpang gigit -2.5 mm (gigitan terbuka
anterior)
2. Hubungan gigi Molar pertama permanen Kelas III
3. Gigitan silang pada regio anterior dan posterior karena rahang atas
yang kurang berkembang.
 Pada pemeriksaan sefalometri sebelum perawatan :
1. Sudut SNA sebesar 70°, SNB sebesar 72°
2. Inklinasi insisif rahang atas terhadap bidang maksila sebesar 109°
3. Inklinasi insisif rahang bawah terhadap bidang mandibular 76°, sudut
interinsisal 135°, rasio tinggi wajah 60 %.

Tujuan pertama dalam


perawatan ortodonti adalah
mempertahankan kebersihan
mulut yang optimal,
mengembalikan fungsi dan estetik
dari gigi dan wajah. Dilakukan
ekspansi pada rahang atas secara
ortodonti dan merapikan posisi
gigi pada rahang atas dan bawah. Kemudian dilakukan dekompensasi inklinasi gigi
dan koordinasi antara rahang atas dan bawah. Teknik pembedahan yang bertujuan
untuk mengoreksi kelainan hubungan rahang termasuk kelainan gigitan terbuka
adalah dengan Le Fort 1 Osteotomy. Sebagai konsekuensi, terjadi auto rotasi
mandibula.
 Setelah perawatan hasil sefalometri sebagai berikut :
1. Sudut SNA sebesar 77°, SNB sebesar 75°
2. Inklinasi insisif rahang atas terhadap bidang maksila sebesar 103°
3. Inklinasi insisif rahang bawah terhadap bidang mandibula 78°
4. Sudut interinsisal 140°, rasio tinggi wajah 55 %.

Perawatan pendahuluan dengan kawat


gigi dimulai dengan penggunaan kawat NiTi
Ukuran kecil sampai besar. Dilanjutkan dengan
kawat stainless steel untuk mempersiapkan
Rahang sebelum dilakukan operasi. Setelah
operasi, pasien kembali ke klinik ortodonti
Untuk dilakukan tahap penyelesaian akhir
untuk mendapatkan gigitan yang baik selama
kurang
lebih 3 bulan. Pada tahap ini dilakukan dengan kawat yang lunak dan juga karet
elastik.
Pembahasan
Setelah prosedur bedah ortognatik dilakukan, pasien masih membutuhkan waktu 3
bulan untuk proses penyelesaian gigitan dan evaluai sehingga posisi dan ukuran
rahang atas, proporsional wajah, dan gugitan anterior sudah lebih baik atau kembali
normal. Pertama perawatan yang harus dijalani pasien adalah dengan penggunaan
kawat stainless steel untuk mempersiapkan rahang sebelum dilakukan operasi, setelah
3 bulan pasien perlu kontrol kembali untuk evaluasi gigitan. Pada superimposisi hasil
tracing dari rontgen sefalometri didapat hasil yang cukup baik yaitu Sudut SNA
bertambah dari 70° ke 77°. Setelah itu dilakukan bedah ortognatik dilakukan dengan
teknik Le Fort 1 osteotomi pada maksila dengan mengimpaksi sekitar 2 mm dan
memajukan 2.5mm dan di dapatkan hasil yang baik tanpa adanya keluhan lain.
Setelah 1 minggu dilakukan pengecekan gigitan. Pasien perlu kontrol kembali setelah
6 minggu untuk dievaluasi kembali (Suryaprawira A, 2018)
Kesimpulan
Pasien dengan kelainan maloklusi skeletal kelas III yang cukup berat umumnya
dirawat dengan perawatan kombinasi antara ortodonti dan bedah. Pertimbangan
rahang yang akan di bedah, ditentukan setelah adanya evaluasi secara menyeluruh
baik intra ataupun ekstra oral pada saat klinik integrasi. Pembedahan dapat dilakukan
pada 1 atau 2 rahang tergantung kebutuhan. Perawatan bedah dengan teknik sekrup
titanium beserta plat nya menambah stabilitas hasil perawatan.
Pertanyaan
1. Di dalam laporan kasus terjadi maloklusi skeletal klas III, tapi kenapa tidak
dilakukan pembedahan mandibulanya?
Pada pemeriksaan ekstra-oral, diketahui pasien mempunyai kelainan
Maloklusi Skeletal Kelas III, dengan ukuran rahang atas yang kurang
berkembang (Hipoplasia), gigitan terbuka tidak terlalu parah (Suryaprawira A,
2018). Osteotomy Le fort 1 biasanya dipillih dalam prosedur pembedahan
untuk mengatasi abnormalitas rahang, seperti maloklusi, memperbaiki estetik
wajah, dan meningkatkan kemampuan berbicara (Christoper et al., 2015)
2. Apa maksudnya neouropraxia, axonotmesis, dan neurotmesis pada komplikasi
nervus injuri?
Neurapraksia :
Adalah tipe cidera paling ringan yang diperlihatkan dengan demyelinasi fokal
tanpa mencederai axon atau sering juga disebut cidera tipe I. 4 Tidak terjadi
cedera structural karena tidak ada kehilangan kontinuitas saraf, sehingga tidak
terjadi kehilangan kemampuan fungsional. Neurapraksia biasanya muncul
karena kompresi ringan atau traksi dari saraf yang menyebabkan menurunya
kecepatan konduktivitas dari sel saraf. Gejalanya muncul akibat blockade
konduksi lokal yang diinduksi oleh ion pada tempat cedera. Secara structural
kadang terjadi sedikit perubahan struktur myelin, sebagai akibat dari
kombinasi kompresi mekanik dan iskemia. Efeknya bersifat reversibel,
kecuali jika iskemia menetap selama kurang lebih 8 jam. (Jami, 2013)
Aksonotmesis :
Adalah terjadinya disrupsi axon dan myelin. Jaringan ikat lunak sekitarnya
termasuk endoneurium masih kontak. Terjadi degenerasi axon distal dan
proksimal lokasi terjadinya trauma. Degenerasi distal dikenal sebagai
degenerasi Wallerian. Axon akan mengalami regenerasi dengan kecepatan
1mm/ hari. Secara bermakna fungsi akan kembali normal setelah 18 bulan.
Tipe cedera ini kemungkinan terlihat pada isolasi, seperti pada cedera Pleksus
Brakhialis dihubungkan dengan kelahiran, atau dalam hubungannya dengan
fraktur seperti cedera saraf radial sekunder terhadap fraktur humerus. (Jami,
2013; Laura, 2014)
Neurotmesis :
Adalah keadaan dimana akson dan pembungkus saraf perifer putus, sobek
atau rusak. Degenerasi Wallerian terjadi pada bagian distal namun, segmen
proksimal tidak mengalami regenerasi secara alamiah Karena pembungkus
akson ikut terputus. Serabut fibril saraf dengan elemen – elemen jaringan
fibrus membentuk neuroma. Pemulihan hanya dapat diharapkan bila
dilakukan repair saraf secara pembedahan mikro. Tipe cedera ini hanya
terlihat pada trauma mayor. Sunderland kemudian memperluas klasifikasi ini
untuk membedakan tingkat kerusakan di Jaringan ikat. Dalam skema
klasifikasinya, Grade I dan Grade V berhubungan dengan Neuropraxia dan
Neurotmesis. Namun, Grade II-IV adalah segala bentuk Axonotmesis dengan
meningkatnya jumlah kerusakan jaringan ikat. Di kelas II, kerusakan akson
diamati tanpa adanya kerusakan pada jaringan ikat. Grade III melibatkan
Kerusakan pada endoneurium dan Grade IV meliputi kerusakan perineurium.
Sebuah lesi kelas VI kemudian diperkenalkan oleh McKennon danDellon
untuk menunjukkan kombinasi Cedera kelas III-V di sepanjang saraf yang
rusak, meski pemakaiannya belum secara luas diterima. (Laura, 2014; W.
Dalyl, 2011)
3. Kenapa dalam laporan kasus pake teknik osteotomi le fort 1?
Kelainan gigitan terbuka adalah dengan Le Fort 1 Osteotomy. Selain
memperbaiki abnormalitas rahang, seperti maloklusi, memperbaiki estetik
wajah, dan meningkatkan kemampuan berbicara (Christoperet al., 2015).
Teknik ini dinilai sesuai dengan keadaan pasien. Pasien mengalami maloklusi
klas III, terdapat gigitan terbuka, dan tinggi wajah bagian bawah yang lebih
dari normal sehingga membutuhkan perbaikan estetik wajah.
4. Kenapa menggunakanbedah intra oral?
Dalam kasus alasan yang dilakukan untuk pembedahan adalah untuk estetik,
mastikasi, dan fonetik. Digunakan dengan insisi tulang yang dapat
memajukan maksila atau mengurangi panjang mandibula dengan pembedahan
sesuai anatomi, maka apabila dilakukan melalui ekstraoral dikhawatirkan akan
merusak wajah.

Referensi :
Christoper P, Gughan B, Devadoss P, Krisnamurthy H.N. 2015. A case of Cleft
Hypoplastic Maxilla Corrected by Single-stage Lefort 1 Osteotomy to
Improve Esthetic and Function. Vol 6(1): 25-27
Jami Scheib and Ahmet Höke.Advances in peripheral nerve
regeneration.2013.Naturereview : Neurology Vol. 9
Laura Conforti, Jonathan Gilley, Michael P. Coleman. Wallerian degeneration: an
emerging axon death pathway linking injury and disease . 2014. Nature:
Neurosicence. 15 :124
Suryaprawira A. 2018. PenatalaksanaanMaloklusi Skeletal Kelas III denganTeknik
OrtodontidanBedahOrtognatik. 14 (2) : 60-65 : 1693-3079
W. Daly1, L. Yao1, D. Zeugolis1, A. Windebank2 and A. Pandit. A biomaterials
approach to peripheral nerve regeneration: bridging the peripheral nerve gap
and enhancing functional recovery. 2011.J. R. Soc. Interface. 2:452