Anda di halaman 1dari 18

10 DEFINISI PENDIDIKAN

1. Harahap (1982 : 256) mengemukakan bahwa Pendidikan adalah usaha secara sengaja
dari orang dewasa untuk meningkatkan kedewasaan si anak, yang diartikan mereka
mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
2. Menurut Undang- undang RI No 2 Tahun 1989 (1989 : 2), Pendidikan adalah usaha
sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan
latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
3. Pendidikan adalah semua perbuatan dan usaha dari seorang pendidik untuk mengolah
pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta keterampilannya (Saliman,
Shudarsono 1993 : 178).
4. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 263) Pendidikan adalah proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang, kelompok, kelompok orang, dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
5. Menurut Undang- undang RI tahun 2003 (2003 : 2) Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
6. Pendidikan merupakan suatu proses penggalian dan pengolahan pengalaman secara
terus menerus (Dewey, 2004 : 9)
7. Pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang
memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional,
dan global (Tilaar, 1999 : 28)
8. Pendidikan adalah situasi dimana terjadi dialog antara peserta didik dengan pendidik
yang memungkinkan pserta didik tumbuh ke arah yang dikehendaki oleh pendidik
agar selaras dengan nilai- nilai yang dijunjung tinggi masyarakat. (Satori, 2007 : 1.15)
9. Pendidikan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap orang
sepanjang hidupnya yang berlangsung tidak dalam batas usia tertentu tetapi
berlangsung sepanjang hidup sejak lahir hingga mati (Mudyahardjo, 2002 : 46).
10. Menurut Nursid Sumaatmadja (2002 : 40) pendidikan sebagai proses perubahan
perilaku, secara alamiah berjalan spontan.

DAFTAR PUSTAKA

Deway, John, 2004. Experience and Education filsafat pendidikan john dewey, Bandung:
Mizan.

Harahap, Poerbahawatja, 1982.Ensiklopedi Pendidikan. Jakarta: PT Gunung Agung.

Hasbullah, 2001. Dasar- dasar ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.


Miarso Yusufhadi, 1986. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Miarso, 2007. Menyemai benih teknologi pendidikan. Jakarta: Pustekom Diknas.

Naisbitt, 2002. High tech high touch. Bandung: Mizan

Nasution.1987. Teknologi Pendidikan. Bandung: Jemmars.

Mudyahardjo, 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Salim, 1985. Then Contemporary English- Indonesia dictionary. Jakarta: Modern English
Pers.

Saliman, Sudharsono. 1993. Kamus Pendidikan Pengajaran dan Umum. Jakarta: Rineka
Cipta.

Satori Djam’an, 2007. Profesi Keguruan. Jakarta : UT.

Seels, Richey. 1994. Teknologi Pendidikan definisi dan kawasannya. Jakarta: UNJ

______, 1989. UU RI No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Semarang:


Aneka Ilmu.

_______, 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

_______, 2003. UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta:


Departemen Pendidikan Nasional.

http://id.wikipedia.org/wiki/TeknologI

Sumaatmadja, 2002. Pendidikan pemanusian manusia manusiawi. Bandung: Alfabeta

Tilaar, 1999. Pendidikan kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Satori Djam’an, 2007. Profesi Keguruan. Jakarta : UT.

http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi, diupdate 9 September 2009

http://bocah.moratmarit.com/2009/08/definisi-pengertian-teknologi.html, diupdate 9
september 2009

About these ads


Pengertian Pendidikan menurut Para Ahli, Definisi, Tujuan, Unsur, Jalur, Faktor

Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli, Definisi

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang
lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang
diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)

Definisi pendidikan – Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
2002 : 263)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1)

Unsur-unsur Pendidikan

1. Input

Sasaran pendidikan, yaitu : individu, kelompok, masyarakat

2. Pendidik

Yaitu pelaku pendidikan

3. Proses

Yaitu upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain

4. Output

Yaitu melakukan apa yang diharapkan / perilaku (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)

Tujuan pendidikan

Menanamkan pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep

Mengubah sikap dan persepsi

Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 68)

Jalur Pendidikan

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003, jalur pendidikan dibagi menjadi :

1. Jalur Formal
a. Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain
yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs)
atau bentuk lain yang sederajat

b. Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah
jurusan, seperti : SMA, MA, SMK, MAK atau bentuk lain yang sederajat

c. Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut dan
universitas

2. Jalur Nonformal

3. Jalur Informal

Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan

Faktor yang mempengaruhi pendidikan menurut Hasbullah (2001) adalah sebagai berikut :

1. Ideologi

Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama khususnya hak untuk
mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan pendidikan.

2. Sosial Ekonomi

Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang mencapai tingkat


pendidikan yang lebih tinggi.

3. Sosial Budaya

Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi
anak-anaknya.

4. Perkembangan IPTEK

Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan


agar tidak kalah dengan negara maju.

5. Psikologi

Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kepribadian individu agar


lebih bernilai.
Daftar Pustaka

Soekidjo Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka


Cipta.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta : Balai Pustaka.

_______.Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem


Pendidikan Nasional. Internet available from
http://www.geocities,com/frans_98/uu/uu_20_03.htm. Accesed on April 10th 2008
A. Pengertian Pemahaman Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pemahaman
Pemahaman merupakan proses berpikir dan belajar. Dikatakan demikian karena untuk
menuju ke arah pemahaman perlu diikuti dengan belajar dan berpikir. Pemahaman
merupakan proses, perbuatan dan cara memahami.[1] [1] W.J.S. Porwadarminta, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1991), h.
636
Pemahaman adalah tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang mampu memahami
arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini ia tidak hanya hapal
secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan, maka
operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur,
menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan,
menentukan, dan mengambil keputusan.[2] [2] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik
Evaluasi Pengajaran, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1997), cet. ke-8, h. 44
Di dalam ranah kognitif menunjukkan tingkatan-tingkatan kemamp[uan yang dicapai dari
yang terendah sampai yang tertinggi. Dapat dikatakan bahwa pemahaman tingkatannya lebih
tinggi dari sekedar pengetahuan. Definisi pemahaman menurut Anas Sudijono adalah
"kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui
dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui mengetahui tentang sesuatu dan
dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir
yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan".[3] [3] Anas Sudijono, Pengantar
Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996), cet. ke-4, h. 50
Menurut Saifuddin Azwar, dengan memahami berarti sanggup menjelaskan,
mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, meramalkan, dan membedakan.[4] [4] Saifuddin
Azwar, Tes Prestasi, (Yogyakarta : Liberty, 1987), h. 62
Sedangkan menurut W. S. Winkel, yang dimaksud dengan pemahaman adalah : Mencakup
kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya
kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, mengubah data
yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam
bentuk katakata, membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data
tertentu, seperti dalam grafik.[5] [5] W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta : PT.
Gramedia, 1996), cet. ke-4, h. 246
Dari berbagai pendapat di atas, indikator pemahaman pada dasarnya sama, yaitu dengan
memahami sesuatu berarti seseorang dapat mempertahankan, membedakan, menduga,
menerangkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, memperluas, menyimpulkan,
menganalisis, memberi contoh, menuliskan kembali, mengklasifikasikan, dan
mengikhtisarkan. Indikator tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengandung makna
lebih luas atau lebih dalam dari pengetahuan. Dengan pengetahuan, seseorang belum tentu
memahami sesuatu yang dimaksud secara mendalam, hanya sekedar mengetahui tanpa bisa
menangkap makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari. Sedangkan dengan pemahaman,
seseorang tidak hanya bisa menghapal sesuatu yang dipelajari, tetapi juga mempunyai
kemampuan untuk menangkap makna dari sesuatu yang dipelajari juga mampu memahami
konsep dari pelajaran tersebut.
b. Pengertian Pendidikan Agama
Untuk memudahkan pemahaman tentang pengertian pendidikan agama, maka terlebih dahulu
perlu dijelaskan pengertian pendidikan dan pengertian agama secara umum.
Pendidikan dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah dengan kata kerja rabba. Kata kerja rabba
yang artinya mendidik sudah digunakan pada zaman Nabi. Dalam bentuk kata benda, kata
rabba ini juga digunakan untuk Tuhan, karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh,
memelihara, malah mencipta. Kata lain yang mengandung arti pendidikan adalah addaba,[6]
dan allama.
Pendidikan berasal dari kata "didik", mendapat awalan "me" sehingga menjadi "mendidik",
artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan
adanya ajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan menggunakan metode-metode
tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku
yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pengertian yang luas dan representatif, pendidikan
adalah "the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all
life's experiences",[7] yang berarti seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan
dan perilakuperilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman
kehidupan.
Pendidikan diartikan sebagai tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan yang dipergunakan
untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan,
sikap, dan sebagainya.
Prof. Mahmud Yunus dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Pendidikan dan
Pengajaran, mengemukakan berbagai pengertian dari para ahli didik dan ahli filsafat
mengenai pengertian pendidikan, yaitu :
1) Menurut Plato, seorang filosof Yunani, pendidikan adalah mengasuh jasmani dan rohani
supaya sampai kepada keindahan dan kesempurnaan yang mungkin dicapai.
2) Jules Simin, filosof Perancis, mengemukakan pengertian pendidikan adalah jalan untuk
merubah akal menjadi akal yang lain dan mengubah hati menjadi hati yang lain.
3) John Milton, seorang ahli didik dan ahli syair bangsa Inggris, menjelaskan pendidikan
yang sempurna adalah mendidik anak-anak supaya dapat melaksanakan segala pekerjaan,
baik pekerjaan khusus atau pekerjaan umum dengan ketelitian, kejujuran, dan kemahiran,
baik waktu aman atau waktu perang.
4) Menurut Pestalozzi, seorang ahli didik Swiszerland, pendidikan adalah menumbuhkan
segala tenaga anak-anak dengan pertumbuhan yang sempurna dan seimbang.
5) Pengertian pendidikan menurut Herbert Spencer, filosof pendidikan bangsa Inggris,
adalah menyiapkan manusia supaya hidup dengan kehidupan yang sempurna.
6) James Mill, filosof Inggris, menurutnya, pendidikan adalah menyiapkan seseorang
supaya dapat membahagiakan dirinya khususnya, dan orang lain umumnya.
7) dan menurut Sully, seorang filosof Inggris yang juga ahli didik dan ahli jiwa, pendidikan
adalah menyucikan tenaga tabiat anak-anak supaya dapat hidup berbudi luhur, berbadan
sehat, serta berbahagia.[8]
Prof. Drs. H.M. Arifin, M.Ed. mengungkapkan pengertian pendidikan adalah "usaha orang
dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan
dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal maupun nonformal".[9] "Pendidikan
adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan
pola-pola tingkah laku tertentu pada anak-anak atau orang yang sedang dididik".[10]
Pengertian pendidikan dalam arti praktik adalah "suatu proses pemindahan pengetahuan
ataupun pengembangan potensi yang dimiliki subyek didik untuk mencapai perkembangan
secara optimal, serta membudayakan manusia melalui proses transformasi nilai-nilai yang
utama".[11] Pendidikan dalam arti praktik merupakan suatu proses pembelajaran yang
berlangsung baik secara formal maupun nonformal dengan memberikan pengetahuan dan
bimbingan secara langsung kepada seseorang sehingga orang tersebut dapat memperoleh
pengetahuan dan dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.
Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha
yang dilakukan secara sadar untuk melatih, membimbing, dan mengembangkan segala
potensi yang ada dalam diri seseorang melalui suatu proses dengan menggunakan metode-
metode tertentu, baik secara formal maupun nonformal, sehingga orang tersebut memperoleh
pengetahuan dan pemahaman, membentuk pola tingkah laku tertentu untuk menciptakan
kepribadian yang mandiri supaya sampai kepada kesempurnaan yang mungkin dicapai.
Setelah dikemukakan berbagai pengertian mengenai pendidikan dari berbagai sumber
pendapat para ahli, akan dijelaskan pengertian mengenai agama.
Mahmud Syaltut menyatakan : Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan
kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia. Syaikh Muhammad Abdul Badran
berupaya menjelaskan arti agama dengan menunjuk kepada al-Qur'an, bahwa agama adalah
hubungan antara makhluk dengan Khaliknya. Hubungan ini diwujudkan dalam sikap
batinnya serta tampak dalam ibadah yang dilakukannya dan tercermin pula dalam sikap
kesehariannya.[12]
Dengan melihat pengertian pendidikan dan agama, maka pendidikan agama adalah usaha
sadar untuk membentuk kepribadian anak didik sesuai dengan ajaran-ajaran Islam secara
sistematis melalui bimbingan, pengajaran, atau latihan dalam bentuk formal maupun
nonformal.
"Pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar dan tujuan serta teori-teori
yang dibangun untuk melaksanakan praktik pendidikan didasarkan kepada nilai-nilai dasar
Islam yang terkandung dalam al-Qur'an dan Hadis Nabi".[13]
Dalam GBPP pengertian pendidikan agama Islam adalah "usaha sadar untuk menyiapkan
siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk
menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat
untuk mewujudkan persatuan nasional".[14]
Zuhairini mendefinisikan pengertian pendidikan agama adalah "usahausaha secara sistematis
dan pragmatis dalam anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam".[15]
Berdasarkan pengertian pemahaman dan pendidikan agama seperti diuraikan di atas, maka
bila dirangkaikan pemahaman pendidikan agama islam merupakan kemampuan seseorang
untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap benar, membedakan mana yang termasuk
perbuatan baik dan buruk, memberikan contoh yang baik kepada sesama, dapat menerangkan
sesuatu hal yang dapat dipahami dan lain sebagainya. Apabila seseorang telah memahami
ajaran agama tersebut, meyakini dan mengamalkan semua perintah dan larangan dari ajaran
agama tersebut, maka keyakinannya yang telah menjadi bagian integral dari kepribadiannya
itulah yang akan mengawasi segala perbuatannya baik lahir maupun batin.

B. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Pada garis besarnya fungsi pendidikan nasional dapat dirumuskan menjadi dua kategori yakni
politik dan kebudayaan. Secara politik fungsi pendidikan nasional adalah untuk menumbuh
kembangkan rasa nasionalisme.[16] Karena cinta tanah air (nasionalisme) termasuk sebagian
dari iman.

Pendidikan agama islam mempunyai fungsi yang berbeda dengan mata pelajaran yang lain.
Oleh karena fungsi yang diemban tersebut akan menentukan berbagai aspek pengajaran yang
dipilih pendidik agar tujuannya tercapai.

Fungsi pendidikan agama islam, antara lain untuk membimbing dan mengarahkan manusia
agar mampu mengemban amanah dari allah, yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya dimuka
bumi baik sebagai abdullah (hamba allah yang harus tunduk dan taat atas segala aturan
kehendaknya dan mengabdi hanya kepadanya), maupun sebagai khalifah di bumi yang
menyangkut tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, dalam keluarga/rumah tangga, terhadap
masyarakat dan kekhalifahan terhadap alam.[17]

Menurut Hasan Langgulung, fungsi pendidikan adalah pengembangan potensi-potensi yang


ada pada individu-individu supaya dapat dipergunakan olehnya sendiri dan seterusnya oleh
masyarakat untuk menghadapi tantangan-tantangan yang selalu berubah.

C. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan biasanya menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku,
perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial
untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam ligkungan sekolah akan dibimbing oleh guru
maupun siswa berperan aktif.

Dalam GBHN dijelaskan bahwa kebijaksanaan pendidikan ditujukan untuk meningkatkan


kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman kepada tuhan yang maha esa,
manusia yang bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian
mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, trampil, berdisiplin, beretos kerja, profsional,
bertanggung jawab, produktif, dan sehat jasmani dan rohani.[18]

Sedangkan tujuan pendidikan islam secara umum dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama.
Tujuan umum ini harus dibangun berdasarkan ketiga komponen ini yang masing-masingnya
harus dipelihara sebaik-baiknya. Ini berarti bahwa kita didalam pendidikan ini mempunyai
tiga tujuan pokok, yakni tujuan jasmaniah (ahdaf al-jasmaniyah) tujuan ruhani (ahdaf al-
ruhaniyah) dan tujuan mental (ahdaf alaqliyah).

Tujuan umum pendidikan islam diberi perhatian dan tidak terkena perubahan dari waktu-
kewaktu. Finalitas kenabian secara implisit menyatakan cita-cita yang diajarkan nabi
muhammad saw kepada manusia semua yang bersifat universal.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya mampu merealisasikan tujuan hidupnya
agar sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah
ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari surat Al-Dzariyat ayat 56:[19]

‫س ْال ِجن َخلَ ْقت َو َما‬ ِ ْ ‫ون ِإَل َو‬


َ ‫ال ْن‬ ِ ‫( ِل َي ْعبد‬56)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.
(QS. Al-Dzariyat : 56)

Ibadah yang dimaksud pada ayat di atas adalah kehadiran di hadapan Allah Rabbul ‘Alamin
dengan kerendahan diri dan penghambaan kepada-Nya, serta kebutuhan sepenuhnya kepada
Tuhan Pemilik kemuliaan mutlak, dan kekayaan murni.

Beberapa tujuan pendidikan yaitu:

a. Tujuan Umum

Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik
dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan itu meliputi seluruh aspek kemanusiaan
yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini
berbeda pada setiap tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang
sama. Bentuk insan kamil dengan pola takwa harus dapat tergambar pada pribadi seseorang
yang sudah dididik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan
tingkat-tingkat tersebut.

Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena
menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian subyek didik, sehingga mampu
menghadirkan dirinya sebagai sebuah pribadi yang utuh. Itulah yang disebut realisasi diri
(self realization).

b. Tujuan Akhir

Al Abrasyi mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak
dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki dan
perempuan, jiwa yang bersih, kemauan keras, cita-cita yang benar dan berakhlak yang tinggi,
tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, tahu membedakan
buruk dengan baik, memilih suatu fadhilah karena cinta pada fadhilah, menghindari sesuatu
perbuatan yang tercela, dan mengingat Tuhan dalam pekerjaan yang dilakukan.

Pendidikan Islam itu berlangsung seumur hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu
hidup di dunia ini telah berakhir pula. orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kamil,
masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan,
sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dalam pendidikan formal. Tujuan
akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ayat :
102 : [20]

‫(م ْس ِلمونَ َوأ َ ْنت ْم إَِل تَموتن َو ََل ت َقاتِ ِه َحق َللاَ اتقوا َءا َمنوا الذِينَ يَاأَيُّ َها‬102)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-
benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”. (QS. Ali Imron :
102)

Dalam tafsir al-Mishbah bahwa pada ayat di atas dijelaskan agar orang-orang yang beriman
menjauhi seluruh larangan dan mengikuti perintah-Nya sampai batas akhir kemampuan, dan
jangan meninggalkan agama Islam, dengan demikian, saat apa pun kematian datang, tetap
dalam keadaan menganut Islam.

Tujuan akhir ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan karena sesuai dengan konsep
Ilahi yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan akhir ini pada dasarnya
sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai ciptaan Allah, yaitu :

1. Menjadi hamba Allah yang bertakwa.

Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk
beribadah.

2. Mengantarkan subyek didik menjadi khalifah fi al-ardl yang mampu memakmurkannya


(membudayakan alam sekitarnya).

3. Memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat.

Tujuan ini sesuai dengan cita-cita setiap muslim sebagaimana doa yang paling komprehensif,
yang selalu dibaca oleh setiap muslim. “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati
hasanah wa qina ‘adzaban-nar”.

c. Tujuan Sementara

Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah
pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.
Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun
dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada
pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran kecil.
Semakin tinggi tingkatan pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak dari
tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk lingkarannya sudah harus kelihatan. Bentuk
lingkaran inilah yang menggambarkan Insan Kamil itu.[21]

d. Tujuan Operasional

Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan
pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah
dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional.

Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan
ketrampilan tertentu. Sifat operasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan
kepribadian. Untuk tingkat yang paling rendah, sifat yang berisi kemampuan dan
ketrampilanlah yang ditonjolkan. Misalnya : kemampuan dan ketrampilan yang dituntut pada
anak didik, merupakan sebagian kemampuan dan ketrampilan Insan Kamil dalam ukuran
anak, yang menuju kepada bentuk Insan Kamil yang semakin sempurna (meningkat). Anak
harus sudah terampil melakukan ibadat, (sekurang-kurangnya ibadat wajib) meskipun ia
belum memahami dan menghayati ibadat itu.[22]

Kesimpulan

Pemahaman pada dasarnya yaitu dengan memahami sesuatu berarti seseorang dapat
mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, menafsirkan, memperkirakan,
menentukan, memperluas, menyimpulkan, menganalisis, memberi contoh, menuliskan
kembali, mengklasifikasikan, dan mengikhtisarkan. Indikator tersebut menunjukkan bahwa
pemahaman mengandung makna lebih luas atau lebih dalam dari pengetahuan. Dengan
pengetahuan, seseorang belum tentu memahami sesuatu yang dimaksud secara mendalam,
hanya sekedar mengetahui tanpa bisa menangkap makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari.
Sedangkan dengan pemahaman, seseorang tidak hanya bisa menghapal sesuatu yang
dipelajari, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk menangkap makna dari sesuatu yang
dipelajari juga mampu memahami konsep dari pelajaran tersebut.

pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk melatih, membimbing, dan
mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri seseorang melalui suatu proses dengan
menggunakan metode-metode tertentu, baik secara formal maupun nonformal, sehingga
orang tersebut memperoleh pengetahuan dan pemahaman, membentuk pola tingkah laku
tertentu untuk menciptakan kepribadian yang mandiri supaya sampai kepada kesempurnaan
yang mungkin dicapai.

Jadi, pendidikan agama islam merupakan kemampuan seseorang untuk mempertahankan


sesuatu yang dianggap benar, membedakan mana yang termasuk perbuatan baik dan buruk,
memberikan contoh yang baik kepada sesama, dapat menerangkan sesuatu hal yang dapat
dipahami dan lain sebagainya. Apabila seseorang telah memahami ajaran agama tersebut,
meyakini dan mengamalkan semua perintah dan larangan dari ajaran agama tersebut, maka
keyakinannya yang telah menjadi bagian integral dari kepribadiannya itulah yang akan
mengawasi segala perbuatannya baik lahir maupun batin.

DAFTAR PUSTAKA

W.J.S. Porwadarminta, 1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Ngalim Purwanto, 1997, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.

Anas Sudijono, 1996, Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Saifuddin Azwar, 1987, Tes Prestasi. Yogyakarta : Liberty.

W. S. Winkel, 1996, Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT. Gramedia.

Zakiah Daradjat, 1992 Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.

M. Dalyono, 1997, Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

H. Mahmud Yunus, 1990, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran. Jakarta : PT. Hidakarya
Agung.

H.M. Arifin, 1984, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Keluarga.
Jakarta : Bulan Bintang.

Hasan Langgulung, 1989, Manusia dan Pendidikan,: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan.
Jakarta : Pustaka al-Husna.
H. Zuhairini, dkk, 1978, Methodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Biro Ilmiah
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel.

H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed. 2004, “Manajemen Pendidikan Nasional”. Bandung : Remaja


Rosdakarya.

Made pidarta, 1997, ”landasan pendidikan”. Jakarta : Rineka Cipta.


Definisi Agama Kepercayaan dan Realigi

A. Agama dan Realigi

1. Pengertian Agama dan Religi (Etimologi)

Agama dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan peraturan. Kata agama berasal dari
bahasa Sansekerta ‘a’ berarti tidak dan ‘gamma’ berarti kacau, agama berarti tidak kacau.

Agama semakna dengan kata “religion” (bahasa Inggeris), “religie” (Belanda), “religio”
(Latin), yang berarti mengamati, berkumpul/bersama, mengambil dan menghitung. Dengan
padanan kata re + Leg + io, yang artinya:

Leg = to observe - mengamati

= to gather - berkumpul/bersama

= to take up - mengambil (njumput/jawa)

= to caout - menghitung

Agama semakna juga degan kata “ad-Dien” (Bahasa Arab) yang berarti cara, adat kebiasaan,
peraturan, undang-undang, perhitungan, hari kiamat, dan nasihat.

2. Pengertian Agama Menurut Definisi (Pengertian Termonologis)

Menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang
berasa dari suatu kekuatan yang ghaib.

Menurut Al-Syahrastani, agama adalah kekuatan dan kepatuhan yang terkadang biasa
diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat). (M. Ali Yatim
Abdullah,2004:5)

Menurut Prof. Dr. Bouquet mendefinisikan agama adalah hubungan yang tetap antara diri
manusia dengan yang bukan manusia yang bersifat suci dan supernatur, dan yang bersifat
berada dengan sendirinya dan yang mempunyai kekuasaan absolute yang disebut Tuhan.
(Abu Ahmadi,1984:14).

Pengertian agama menurut berbagai agama:

Agama menurut agama Hindu ialah satya, arta, diksa, tapa, brahma dan yajna. Satya berarti
kebenaran yang absolute. Arta adalah dharma atau perundang-undangan yang mengatur
hidup manusia. Diksa adalah penyucian. Tapa adalah semua perbuatan suci. Brahma adalah
doa atau mantra-mantra. Yajna adalah kurban.

Pengertian lain ialah dharma atau kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan Kehidupan
manusia. Jadi agama menurut agama Hindu ialah kepercayaan hidup pada ajara-ajaran suci
dan diwahyukan oleh Sang Hyang Vidi yang kekal abadi.

Agama menurut agama Budha ialah suatu kepercayaan atau persujudan atau kepercayaan
manusia akan adanya daya pengendalian yang istimewa dan terutama dari suatu manusia
yang harus ditaati dan pengaruh pemujaan tadi atas perilaku manusia.

Pengertian lain dari agama adalah suatu badan dari ajaran kesusilaan dan filsafat dan
pengakuan berdasarkan keyakinan terhadap pelajaran yang diakui baik yang ajaran yang
budha yang sangat mulia.

Dalam pengertian yang lain bahwa agama adalah cara tertentu untuk pemujaan kepada para
dewa, dewa agung yaitu adanya kekuatan gaya tak terlihat yang menguasai alam semesta.

Agama menurut agama Kristen ialah segala bentuk hubungan manusia dengan yang suci.
Terhadap yang suci ini manusia tergantung, takut karena sifatnya yang dahsyat dan manusia
tertari karena sifat-sifatnya yang mempesonakan.

Agama menurut agama Islam ialah, kata Islam berasal dari kata: salam yang artinya selamat,
aman sentosa, sejahtera: yaitu aturan hidup yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan
di akhirat.

B. Kepercayaan

1. Pengertian (Etimologi)

Dalam tata bahasa Indonesia kepercayaan berasal dari kata dasar “percaya” mendapat
imbuhan awalan “ke” dan akhiran “an”. Kata percaya menurut kamus bahasa Indonesia
berarti:

1. (Akan kepada) menganggap (mengakui, yakin) bahwa memang benar (ada dan
sebagainya).

2. (Akan, kepada) menganggap dengan pasti bahwa (jujur, kuat, baik dsb): mengharapkan
benar atau memastikan (bahwa akan dapat memenuhi harapannya, dsb).

Adapaun pengertian Kepercayaan menurut ilmu makna kata (sematik) mempunyai arti:

a. Iman kepada agama

b. Anggapan (keyakinan) bahwa benar sungguh ada, misalnya kepada dewa-dewa dan orang-
orang halus.
c. Dianggap benar dan jujur, musalnya orang kepercayaan.

d. Setuju kepada kebijakansaan pemerintah atau pengurus.

2. Definisi Kepercayaan (Pengertian Termonologis)

Kata kepercayaan menurut istilah (terminology) di Indonesia pada waktu ini ialah keyakinan
kepada Tuhan Yang Maha Esa di luar agama atau tidak termasuk kedalam agama. (Rasyidi :
1980).

A.L. Huxley di dalam bukunya The Perennial Philosophy. Seorang pengarang dan ahli
filsafat di negeri Inggeris menyebutkan empat arti:

a. Percaya/mengandal (kepada orang tertentu).

b. Percaya (Inggeris: Faith) kepada wibawa (dari para ahli di suatu bidang ilmu pengetahuan).

c. Percaya (Inggeris: believe) kepada dalil-dalil yang kita ketahui bahwa kita dapat
menceknya, apabila kita mempunyai kesediaan. Kesempatan dan kemampuan untuk itu
(misalnya : mempercayai toeri atom).

d. Percaya (Inggeris: believe) kepada dalil-dalil yang kita ketahui bahwa kita dapat
menceknya, sekalipun kita menghendakinya (missal, mempercayai pasal-pasal pengakuan
iman Athanasius).

Huxley berpendapat, bahwa ketiga arti yang pertama mempunyai peranan yang penting
dalam Kehidupan sehari-hari dan dalam ilmu pengetahuan, tetapi percaya dalam arti yang ke
empat itu pandangannya sama dengan apa yang disebut kepercayaan agamani.
(Permadi,1994:3).

Kamus umum Purwadarminto, 1976. Mengatakan bahwa kepercayaan mempunya pengertian:

a. Anggapan atau keyakinanbenar (ada, sengguh-sungguh).

b. Sesuatu yang dipercayai (dianggap dengan benar).

Menurut Endang Syaifuddin Anshari (1985) percayailah sifat dan sikap membenarkan
sesuatu atau menganggap sesuatu sebagai benar. Sedangkan menurut Dananjaya (153)
kepercayaan pada intinya bukan hanya mencakup kelakuan (behavior) tetapi juga pengalama
(experiences) juga alat.

Jadi kepercayaan adala anggapan atau keyakinan terhadap sesuatu yang mempengaruhi sifat
mental yang meyakininya.

C. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1984. Sejarah Agama. Solo : CV. Ramadhani.


Ali, Abdullah. 2007. Agama dan Ilmu Perbandingan. Bandung : Nuansa Aulia.

Abdullah, Yatimin. 2004. Studi Islam Kontemporer. Jakarta : Amzah.

Manaf, Abdul, Mudjahid. 1994. Sejarah Agama-agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo.

Manaf, Abdul, Mudjahid. 1993. Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo.