Anda di halaman 1dari 21

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN DESEMBER 2018


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

ERITRODERMA ET CAUSA
SUSPEK PSORIASIS VULGARIS

Disusun Oleh:

Renaldy Rajab, S.Ked 10542052413

Pembimbing:

dr. Hj. Muji Iswanty, SH, MH, Sp. KK, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama / NIM : Renaldy Rajab, S.Ked./ 10542052413

Judul Laporan Kasus : Eritroderma

Telah menyelesaikan tugas laporan kasus dalam rangka kepaniteraan

klinik pada bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran

Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Januari 2018


Pembimbing

dr. Hj. Muji Iswanty, SH, MH, Sp. KK, M.Kes

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus

yang berjudul “Eritroderma” dengan baik. Shalawat beriring salam penulis

sanjungkan keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke

alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan

yang sebesar-besarnya kepada dr. Hj. Muji Iswanty, SH, MH, Sp. KK, M.Kes

sebagai pembimbing yang telah memberikan bimbingan, kepercayaan dan fasilitas

yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan laporan kasus ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam laporan kasus

ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan.Semoga

laporan kasus ini memberikan manfaat terutama bagi penulis dan yang lainnya.

Makassar, Januari 2018

Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

Dermatitis eritroskuamosa merupakan penyakit kulit yang terutama

ditandai dengan adanya eritema dan skuama. Eritema merupakan kemerahan pada

kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler yang reversibel dan

skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Penyakit kulit

yang termasuk kedalam dermatitis eritroskuamosa adalah psoriasis, parapsoriasis,

ptiriasis rosea, eritroderma, dermatitis seboroik, lupus eritromatous dan

dermatofitosis.1

Eritroderma merupakan penyakit sekunder pada kulit yang termasuk

dalam kelompok papulosquamous eruption, dengan karakteristik eritema dan

skuama yang lebih dari 90% area permukaan tubuh.2

Dapat mengenai semua usia, sangat sedikit sampai jarang terjadi pada

anak-anak, dan sangat sedikit data epidemiologi pada populasi anak. Insiden pada

laki-laki lebih besar daripada perempuan dengan proporsi 2:1 sampai 4:1, dan usia

rata-rata 41-61 tahun. Eritroderma dapat terjadi pada semua ras. 3 4 5

Eritroderma secara klinis digambarkan dengan eritem luas, skuama,

pruritus, dan lesi primernya biasanya sulit ditentukan. Eritem disebabkan oleh

pelebaran pembuluh darah, yang umumnya terjadi pada area genitalia,

ekstremitas, atau kepala. Eritema ini akan meluas sehingga dalam beberapa hari

atau minggu seluruh permukaan kulit akan terkena, yang menunjukkan gambaran

yang disebut “red man syndrome”.

4
Psoriasis adalah penyakit peradangan kulit kronik dengan dasar genetik

yang kuat dengan karakteristik perubahan pertumbuhan dan diferensiasi sel

epidermis disertai manifestasi vaskuler, juga diduga adanya pengaruh sistem saraf.

Penyakit ini biasa mengenai dewasa muda dan jarang pada bayi serta usia lanjut.1

Dermatitis seboroik adalah kelainan kulit papuloskuamosa, dengan

predileksi di daerah sebasea, wajah dan perut. Dermatitis ini dikaitkan dengan

malasesia, terjadi gangguan imunologis meliputi kelembaban lingkungan,

perubahan cuaca ataupun trauma. Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua

kelompok usia, namun biasanya terpisah menjadi dua golongan usia yaitu

neonates dan dewasa. Pada dewasa biasanya pada umur 30 hingga 60 tahun.1 9

BAB II

LAPORAN KASUS

5
A. Indetitas Pasien

Nama : Tn. F

Jenis kelamin : Laki-laki

No. RM : 47 33 95

Umur : 25 tahun

Alamat : Hasanuddin, Gowa

Tanggal masuk Poli : 21 November 2018

B. Anamnesis
Aloanamnesis
1. Keluhan utama:

Bercak kemerahan dan gatal pada seluruh tubuh

2. Riwayat Perjalanan Penyakit:

Pasien diantar oleh kakaknya ke Rumah Sakit dengan keluhan kemerahan

yang gatal dan nyeri. Keluhan ini sudah dirasakan sekitar ± 2 minggu yang

lalu. Awalnya kemerahan muncul di punggung, dan perlahan mulai

menyebar ke kaki, telinga, dan seluruh tubuh. Pasien tidak pernah berobat

dan tidak sedang mengkonsumsi obat.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah berobat ke Rumah Sakit sebelumnya, riwayat

hipertensi dan diabetes melitus disangkal, riwayat alergi obat dan makanan

6
disangkal, riwayat kontak dengan bahan iritan disangkal, riwayat demam

serta gangguan buang air besar dan kecil disangkal.

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang menderita hal yang sama dengan pasien.

5. Riwayat Pemakaian Obat

Pasien belum pernah berobat ke Rumah Sakit maupun Puskesmas

C. Pemeriksaan fisik
1. Status Presen
Keadaan Umum :
Sakit : Sedang
Kesadaran : Composmentis
Hygiene : Sedang
Status Gizi : Gizi sedang

2. Status dermatologis
- Lokasi : Universal
- Ukuran : Bervariasi dari lentikular – plakat
- Efloresensi : Makula eritema, skuama halus,erosi

D. Resume
Seorang laki-laki 25 tahun diantar oleh kakaknya ke Rumah Sakit syech

yusuf dengan keluhan kulit kemerahan yang gatal serta nyeri di seluruh tubuh

7
yang dialami sejak ± 2 minggu yang lalu. Gatal dirasakan terus menerus

apalagi ketika berkeringat keluhan gatalnya semakin memberat. 1 bulan yang

lalu muncul luka yang awalnya kemerahan dan gatal yang muncul di kaki

kemudian lama kelamaan menyebar ke punggung, tangan, telinga, dan

seluruh tubuh.
Tidak terdapat riwayat keluarga. Riwayat alergi makanan disangkal,

riwayat alergi obat juga disangkal. Keadaan umum pasien baik.


E. Diagnosis Banding
a. Eritroderma et causa Dermatitis seboroik
F. Diagnosis
Eritroderma et causa suspek Psoriasis Vulgaris

G. Penatalaksanaan
a. Pengobatan Topikal
- Asam Salisilat 4% Lanolin 10% Vaselin 100 gram (Untuk lesi

tebal)
- Desoximetason Lanolin 10% Vaselin 100 gram (Untuk lesi tipis)
b. Pengobatan Sistemik
- Infus Ringer Laktat 20 tetes/menit
- Dexametason 5 mg /8 jam intravena
- Gentasimin 40 mg /8 jam intravena
- Ranitidine 25 mg /8 jam intravena
- Mebhydrolin 50 mg /12 jam oral
c. Edukasi
- Kompres lesi yang basah
- Menjaga kulit agar selalu bersih
- Menjaga lingkungan agar selalu bersih
- Gunakan obat secara rutin sesuai petunjuk doker

H. Prognosis
- Qou ad vitam : dubia at bonam
- Qou ad functionam : dubia at bonam
- Qou sanactionam : bonam

8
I. Diskusi
Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritem

universalis (90%-100%), biasanya disertai skuama. Eritroderma secara klinis

digambarkan dengan eritem luas, skuama, pruritus, dan lesi primernya biasanya

sulit ditentukan. Eritem disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah, yang

umumnya terjadi pada area genitalia, ekstremitas, atau kepala.1 2 4

Pada pasien, ditemukan lesi hampir di seluruh tubuhnya dengan tampilan

berupa eritem disertai skuama. Pada awalnya pasien merasa kemerahan pada kulit

disertai rasa gatal. Adanya garukan menyebabkan pengelupasan pada stratum

korneum dari kulit sehingga terjadi erosi. Pasien juga mengeluh nyeri pada

lesinya.

Peradangan kulit yang begitu luas pada eritroderma merupakan salah satu

penyakit yang mengancam jiwa. Resiko ini semakin meningkat bila diderita oleh

penderita dengan usia yang sangat muda atau pada usia lanjut.2

Tatalaksana pada penderita meliputi tatalaksana umum dan khusus.

Tatalaksana umum dengan memberi informasi kepada penderita untuk tidak

mengkonsumsi obat di luar anjuran dokter, menghindari menggaruk kulit,

menjaga kelembaban kulit, dan dengan diet tinggi protein, karena terlepasnya

skuama dapat mengakibatkan kehilangan protein.Umumnya pengobatan

eritroderma adalah kortikosteroid.1 3


Pemberian antihistamin dengan efek sedatif efektif untuk mengurangi

gatal dan mencegah pasien menggaruk bagian kulit. Selain itu menjaga

9
kelembaban kulit pasien perlu dilakukan dengan pemberian pelembab kulit yang

digunakan setiap hari. Karena terdapat peningkatan kehilangan cairan

transepidermal, dehidrasi sering ditemukan sebagai komplikasi. Input dan output

cairan harus dipantau secara hati-hati.3 4


Dari tatalaksana terhadap pasien ini, diberikan tatalaksana medikamentosa

dan nonmedikamentosa. Pasien diberikan obat sistemik yaitu kortikosteroid

berupa dexametason. Antihistamin yang diberikan adalah ranitidin dan interhistin

yang mempunyai efek sedatif yang menimbulkan rasa kantuk sehingga diharapkan

mengurangi timbulnya lesi sekunder akibat garukan serta pemberian gentamicin

untuk menghambat pertumbuhan bakteri.


Pasien juga diberikan edukasi untuk menghindari garukan yang dapat

memperparah keadaan pasien, menjaga kelembaban kulit, dan patuh dalam minum

obat yang telah diberikan.

10
BAB III

PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Eritroderma berasal dari bahasa Yunani, yaitu erythro- (red=merah)

+derma, dermatos (skin=kulit). Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai

dengan adanya eritem universalis (90%-100%), biasanya disertai skuama. Bila

eritemanya antara 50%-90% disebut pre-eritroderma.1 2

Eritroderma merupakan penyakit sekunder pada kulit yang termasuk

dalam kelompok papulosquamous eruption, dengan karakteristik eritema dan

skuama yang lebih dari 90% area permukaan tubuh. Nama lain dari eritroderma

adalah dermatitis eksfoliatif, pytiriasis rubra (Hebra), Wilson Brocq, dan eritem

scarlatiniform.2

B. EPIDEMIOLOGI
Insiden eritroderma bervariasi di seluruh dunia. Di Amerika Serikat

dilaporkan antara 0,9 sampai 71,0 kasus eritroderma dari 100.000 penderita rawat

jalan dermatologi. Di Belanda terjadi insiden 0,9 kasus eritroderma dari 100.000

populasi. Berdasarkan penelitian di RS Militer bagian Dermatologi dari 1 Agustus

2007-31 Juli 2008 dilaporkan 50 pasien terdiagnosis eritroderma, 33 (66%) sudah

pernah mengalami penyakit kulit sebelumnya yang sudah dibuktikan dari riwayat

pasien dan didukung dari hasil histologi pasien. Penyebab eritroderma juga

dilaporkan berupa reaksi obat 6 (12%), CTCL 2 (4%), dan eritroderma idiopatik 9

(18%). Dapat mengenai usia berapapun, sangat sedikit sampai jarang terjadi pada

anak-anak, dan sangat sedikit data epidemiologik pada populasi anak. Insiden

11
pada laki-laki lebih besar daripada perempuan dengan proporsi 2:1 sampai 4:1,

dan usia rata-rata 41-61 tahun. Eritroderma dapat terjadi pada semua ras. 3 4 5
C. ETIOLOGI

Eritroderma selalu dianggap sekunder dari proses penyakit kulit yang

mendasarinya. Dapat terjadi akibat perluasan penyakit kulit lainnya, misalnya

karena psoriasis atau dermatitis seboroik; akibat alergi obat secara sistemik

misalnya karena pemakaian antibiotik (penisilin, tetrasiklin, golongan sulfa,

sefalosforin), anti jamur, antikonvulsan, antiinflamasi, dan lain-lain. Sekitar 15%

kasus terjadi akibat penyakit sistemik atau keganasan, misal leukemia (sezary

syndrome), limfoma Hodgkin atau non Hodgkin, keganasan alat dalam ataupun

multiple mieloma. Eritroderma idiopatik juga banyak ditemukan juga yaitu sekitar

25%.5

Penyakit Kulit Penyakit Sistemik Obat-obatan


Dermatitis atopic Mikosis fungoides Sulfonamid
Dermatitis kontak Penyakit Hodgkin Antimalaria
Dermatofitosis Limfoma Penisilin
Penyakit Leiner Leukemia akut dan kronis Sefalosporin
Liken planus Multipel mieloma Arsen
Mikosis fungoides Karsinoma paru Merkuri
Pemfigus foliaceus Karsinoma rektum Barbiturat
Pitiriasis rubra Karsinoma tuba falopii Aspirin
Psoriasis Dermatitis Kodein
Sindrom Reiter papuloskuamosa pada Difenilhidantoin
Dermatitis seboroik AIDS Yodium
Dermatitis statis Isoniazid
Kuinidin
Kaptopril
Tabel 1. Proses yang Berkaitan dengan Timbulnya Eritroderma4

D. PATOGENESIS

Patogenesis timbulnya eritroderma berkaitan dengan patogenesis dari

kelainan yang mendasari timbulnya penyakit ini. Mekanisme kelainan yang

12
mendasari akan bermanifestasi sebagai eritroderma seperti dermatosis yang

menimbulkan eritroderma atau bagaimana timbulnya eritroderma secara idiopatik

tidak diketahui secara pasti.7

Pada eritroderma terjadi peningkatan epidermal turnover rate, kecepatan

mitosis dan jumlah sel kulit germinatif meningkat lebih tinggi dibanding normal.

Selain itu, proses pematangan dan pelepasan sel melalui epidermis menurun yang

menyebabkan hilangnya sebagian besar material epidermis, yang secara klinis

ditandai dengan skuama dan pengelupasan yang hebat. Patogenesis eritroderma

masih menjadi perdebatan. Penelitian terbaru mengatakan bahwa hal ini

merupakan proses sekunder dari interaksi kompleks antara molekul sitokin dan

molekul adhesi seluler yaitu Interleukin (IL-1, IL-2, IL-8), molekul adhesi

interselular 1 (ICAM-1), tumor necrosis factor, dan interferon-

Pada eritroderma terjadi peningkatan laju pengelupasan epidermis.

Meskipun beberapa peneliti memperkirakan sekitar 100 gr epidermis hilang setiap

harinya, tetapi beberapa literatur menyatakan bahwa hanya 20-30 gram yang

hilang. Pada eritroderma terjadi peningkatan pergantian sel epidermis sehingga

waktu transit yang diperluka keratinosit untuk melewati epidermis semakin

pendek. Selain itu, terjadi peningkatan sirkulasi epidermis, dermis, dan

peningkatan permeabilitas vaskuler pada eritroderma. Pada skuama penderita

eritroderma ditemukan peningkatan jumlah asam nukleat dan hasil

metabolismenya, penurunan jumlah asam amino, dan peningkatan jumlah protein

bebas.4 10

13
Reaksi tubuh terhadap suatu agen dalam tubuh (baik itu obat-obatan,

perluasan penyakit kulit dan penyakit sistemik) adalah berupa pelebaran

pembuluh darah kapiler (eritema) yang generalisata. Eritema berarti terjadi

pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke kulit meningkat

sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya pasien merasa dingin dan

menggigil. Pada eritroderma kronis dapat terjadi gagal jantung. Juga dapat terjadi

hipotermia akibat peningkatan perfusi kulit. Penguapan cairan yang makin

meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat, kehilangan

panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas

menyebabkan hipermetabolisme dan peningkatan laju metabolism basal.

Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding laju metabolisme basal.4

Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih

sehari sehingga menyebabkan kehilangan protein. Hipoproteinemia dengan

berkurangnya albumin dan peningkatan globulin terutama gammaglobulin

merupakan kelainan yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan

oleh pergeseran cairan ke ruang ekstravaskuler.1

Eritroderma akut dan kronis dapat mengganggu mitosis rambut dan kuku

berupa kerontokan rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan

kehilangan kuku. Pada eritroderma yang telah berlangsung berbulan-bulan dapat

terjadi perburukan keadaan umum yang progresif.4

14
E. GEJALA KLINIK
Eritroderma secara klinis digambarkan dengan eritema luas, skuama,

pruritus, dan lesi primernya biasanya sulit ditentukan. Eritem disebabkan oleh

pelebaran pembuluh darah, yang umumnya terjadi pada area genitalia,

ekstremitas, atau kepala. Eritema ini akan meluas sehingga dalam beberapa hari

atau minggu seluruh permukaan kulit akan terkena, yang menunjukkan gambaran

yang disebut “red man syndrome”. Peradangan kulit yang begitu luas pada

eritroderma merupakan salah satu penyakit yang mengancam jiwa. Resiko ini

semakin meningkat bila diderita oleh penderita dengan usia yang sangat muda

atau pada usia lanjut. Pada kebanyakan pasien, keadaan klinis yang timbul

seringkali serupa walaupun faktor etiologinya beragam. Eritroderma sering juga

disertai dengan kehilangan folikel rambut pada semua lesinya. Pada awitan

akutnya sering diikuti dengan gejala reaksi alergi yang umum, sehingga awalnya

sulit dibedakan. Kulit menjadi kemerahan dan membengkak, terkadang

mengeluarkan eksudat. Deskuamasi akan terlihat jelas setelah beberapa hari.

Gejala yang timbul, awitan dan resolusi, bergantung pada etiologi yang

mendasarinya.2 4 5
Pada eritroderma et causa alergi obat berbeda dengan eritroderma pada

umumnya yang biasanya disertai eritem dan skuama. Pada eritroderm et causa

alergi obat terlihat adanya eritem tanpa adanya skuama. Skuama justru baru akan

timbul pada stadium penyembuhan.4


F. DIAGNOSIS BANDING
1. Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit papuloskuamosa,

dengan predileksi di daerah kelenjar sebasea, skalp, wajah, dan badan.

Dermatitis ini dikaitkan dengan jamur malasesia, terjadi gangguan

15
imunologis meliputi kelembaban lingkungan, perubahan cuaca

maupun trauma. Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua

kelompok usia, namun biasanya terpisah menjadi dua golongan usia

yaitu neonates dan dewasa. Pada dewasa biasanya pada umur 30

hingga 60 tahun. Dermatitis Seboroik biasanya diderita lebih banyak

oleh lelaki disbanding dengan perempuan, dalam berbagai golongan

usia dan ras.1 9


Keadaan ini ditandai oleh kelainan kulit di area tubuh dengan banyak

folikel sebasea dam kelenjar sebasea aktif, yaitu daerah wajah, kepala,

telinga, badan bagian atas dan lipatan tubuh (inguinal, inframammae,

dan aksila). Kadang-kadang juga mengenai daerah interskapular,

umbilicus, perineum, dan anogenital.9


Pencetus kekambuhan Dermatitis Seboroik umumnya akibat stress

emosional, letih, depresi, perubahan suhu, hygiene pribadi, pajanan

sinar matahari, perubahan pola makan, infeksi, obat, dan berada di

ruangan suhu dingin cukup lama.9


F. DIAGNOSIS
Diagnosis eritroderma ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran

klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan histopatologi dapat

menentukan penyakit yang mendasarinya.7 Dasar diagnosis erupsi alergi obat

ialah didapatkan riwayat penggunaan obat-obat disertai kelainan kulit yang timbul

baik secara akut maupun yang timbul beberapa hari sesudah penggunaan obat. 4

pada eritroderma yang diketahui sebelumnya disebabkan oleh psoriasis, diagnosis

laboratorium penting untuk mengetahui komplikasi, seperti tes darah (FBC,

16
U&Es, LFTs, penanda inflamasi, kultur darah) berguna untuk mengetahui adanya

gagal ginjal akut, anemia, hipoalbumin, dan infeksi.3


G. PENATALAKSANAAN
Tatalaksana pada penderita meliputi tatalaksana umum dan khusus.

Tatalaksana umum dengan memberi informasi kepada penderita untuk tidak

mengkonsumsi obat di luar anjuran dokter, mengindari menggaruk kulit, menjaga

kelembaban kulit, dan dengan diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama

dapat mengakibatkan kehilangan protein.3


Umumnya pengobatan eritroderma adalah kortikosteroid. Pada golongan

I, yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis prednisone 4x10 mg

penyembuhan terjadi lebih cepat, umumnya dalam beberapa hari-beberapa

minggu. Pada golongan II akibat perluasan penyakit kulit juga diberikan

kortikosteroid. Dosis mula prednisone 4x10-15 mg sehari. Jika setelah beberapa

hari tidak tampak perbaikan dosis dapat dinaikkan. Setelah tampak perbaikan,

dosis diturunkan perlahan-lahan. Jika eritroderma terjadi akibat pengobatan

dengan ter pada psoriasis, maka obat tersebut harus dihentikan. Lama

penyembuhan golongan II bervariasi beberapa minggu hingga beberapa bulan.1


Pemberian antihistamin dengan efek sedatif efektif untuk mengurangi

gatal dan mencegah pasien menggaruk bagian kulit. Selain itu menjaga

kelembaban kulit pasien perlu dilakukan dengan pemberian pelembab kulit yang

digunakan setiap hari. Karena terdapat peningkatan kehilangan cairan

transepidermal, dehidrasi sering ditemukan sebagai komplikasi. Input dan output

cairan harus dipantau secara hati-hati.3 4


H. PROGNOSIS

Prognosis eritroderma ditentukan berdasarkan penyakit yang

mendasarinya. Eritroderma yang diakibatkan alergi obat memiliki prognosis yang

17
lebih baik apabila obat penyebabnya diketahui dan diberhentikan penggunaannya.

Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, penggunaan dengan

kortikosteroid hanya mengurangi gejala dan pasien akan mengalami

ketergantungan kortikosteroid (corticosteroid dependence).1 3

18
BAB IV

KESIMPULAN

Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritem

universalis (90%-100%), biasanya disertai skuama. Dapat mengenai usia

berapapun, sangat sedikit sampai jarang terjadi pada anak-anak, dan sangat sedikit

data epidemiologik pada populasi anak. Insiden pada laki-laki lebih besar daripada

perempuan dengan proporsi 2:1 sampai 4:1, dan usia rata-rata 41-61 tahun.

Eritroderma dapat terjadi pada semua ras.

Eritroderma secara klinis digambarkan dengan eritem luas, skuama,

pruritus, dan lesi primernya biasanya sulit ditentukan. Eritema ini akan meluas

sehingga dalam beberapa hari atau minggu seluruh permukaan kulit akan terkena,

yang menunjukkan gambaran yang disebut “red man syndrome”.

Prognosis eritroderma ditentukan berdasarkan penyakit yang

mendasarinya. Eritroderma yang diakibatkan alergi obat memiliki prognosis yang

lebih baik apabila obat penyebabnya diketahui dan diberhentikan penggunaannya.

DAFTAR PUSTAKA

19
1. Sandra Widaty. Dermatofitosis, dalam : Menaldi SLSW, Bramono K
Indriatmi W (editors). Ilmu Penyakit Kullit dan Kelamin. Ed.7. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI, 2016.
2. Sihombing JE. Eritroderma et causa Alergi Obat pada Penderita Hipertensi
Stage II, Chronic Kidney Disease, Anemia, dan Hepatitis. Medulla. 2013.
p. 69-74.
3. Suryani DPA, Oktarlina RZ. Eritroderma et causa Alergi Obat. Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung, Vol. 6, No.2, Maret 2017. p. 100-104.
4. Lusiani ST. A 47 Years Old Woman with Eritroderma ec Drug Allergy.
Jurnal Medula Unila, Vol.3, Issue 2, Dec. 2014.
5. Mochtar Moerbono, Toha SS, Maharani SC, Trisnarizki L.
department/SMF Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK
Universitas Sebelas Maret/RSUD dr. Moewardi Soekarta, Vol. 42, No. 41
Tahun 2015. p. 12-16.
6. Adityani N. eritroderma Et Causa Dermatitis Kontak Iritan. Medula,
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, Vol. 1, Oktober, 2013. p. 72-
79.
7. Erlia N. Nurharini F, Jatmiko AC, Ervianti E. penderita Eritroderma di
Instalasi Rawat Inap Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo
Surabaya Tahun 2005-2007. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin,
Vol. 21. Agustus, 2009. p. 93-101.
8. Dameria Sinaga. Pengaruh Stress Psikologis Terhadap Psien Psoriasis.
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Vol. 1 No. 2 Juli-
Agustus 2013. p. 129-134.
9. Widaty Sandra, Marina Aninda. Pilihan Pengobatan Jangka Panjang pada
Dermatitis Seboroik. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK
Universitas Indonesia/ RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. p. 153-159
10. Effendy M, Sukohar A. Eritroderma et causa Erupsi Obat pada Wanita
Berusia 50 Tahun. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Vol. 7, No.
2, April 2017. p. 70-74.

20
21