Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Tujuan Percobaan
1. Mengenal suatu bahan isolasi dan fungsi dan aplikasinya.
2. Membuat urutan / susunan pelaksanaan percobaan.
3. Membuat daftar simbol dan satuan parameter – parameter dalam percobaan.
4. Mengamati proses pendinginan uap dari tabung tak terisolasi dan tabung lainnya
yang memiliki isolasi.
5. Mengukur tekanan dan temperatur uap dan jumlah kondensat yang terjadi dalam
tabung selama percobaan.
6. Mengukur temperatur rata-rata permukaan tabung dan permukaan luar bahan
isolasi selama percobaan.
7. Menghitung jumlah aliran panas dari masing-masing tabung dan membandingkan
antara tabung –tabung terisolasi terhadap tabung tak terisolasi.
8. Menghitung harga-harga koefisien konduktivitas termal (k) bahan isolasi yang
digunakan.
9. Membuat laporan pengujian terhadap isolasi.

54
BAB II
TEORI DASAR

A. Konduktivitas

Pada kasus yang paling umum, dalam praktek keteknikan perpindahan panas, maka
panas akan mengalir dari suatu medium melalui dinding padat yang berlaku sebagai penekan
terhadap medium lainnya.
Hal ini yang mempengaruhi perpindahan panas adalah perbedaan temperature atau
temperature gradien, ketebalan material (Hukum Fourier untuk kondisi). Kerugian panas akan
ditransfer dalam waktu periode yang sama. Hal ini juga dapat dikatakan dengan pengertian
bahwa:
o Transfer energi panas = perbedaan temperature
o Transfer energi panas = luas penampang
o Transfer energi panas = 1/ketebalan

Atau dapat dalam rumus :

−𝑘𝐴𝑑𝑡
Q=
𝑑𝑥

1. Konduksi Pada Silinder

Melalui ketebalan suatu silinder maka aliran energi panas adalah secara radial.

2 . k . L . T2  T1  2 . k . L . T3  T2 
Q 
 R
ln 2   ln 2 
R
 R1   R3 

Kerugian energi panas dari fluida uap akan menyebabkan uap tersebut berkondensasi.
Banyaknya kondensat yang terkumpul digunakan untuk menentukan besarnya energi panas
yang bertransmisi. Kondensat tidak lagi perlu melakukan pendinginan. Laju aliran kondensat,
adalah :

VC
MC 
106 . VW . t

55
Dimana :

VC : volume kondensat (ml atau cm3).


VW : volume spesifik air pada temperatur uap (m3/kg).
t : waktu untuk mengumpulkan kondensat (s).
MC : jumlah kondensat yang terkumpul.
Maka kerugian entalpi atau panas uap adalah :

Q  MC . q . h fg

Dimana :

q : kualitas uap atau fraksi kekeringan uap.


hfg : panas laten uap pada temperatur uap (kJ/kg).

2. Persentase Kualitas Isolasi

Persentase kualitas bahan isolasi untuk energi panas karena kelambatan aliran
(lagging) adalah perbandingan antara selisih kerugian entalpi panas tabung tak terisolasi
(unlagged) dan kerugian entalpi panas tabung terisolasi dengan kerugian panas entalpi uap
tabung tak terisolai tersebut.

Qunlagged  Qlagged
Q
Qunlagged

3. Koefisien Konduktivtas Thermal

Menentukan harga koefisien konduktivitas thermal (k) dapat dilakukan sebagai


berikut:

Energi panas yang ditransmisi secara thermal = kerugian entalpi uap.

2 . k . L . T1  T2 
Q  M C . q . h fg
Ln  R2 
 R1 

56
Maka :

M C . q . h fg . ln 2 
R
k  R1 
2 . L T1  T2 

57
BAB III
PERALATAN PERCOBAAN

A. Peralatan Percobaan
Merek Nomor Nama
P7600 Oil Fired Boiler
Cussons
P7673 Unit Lagging Efficiency Bench

Bahan dan peralatan yang digunakan :


- Material tabung pipa : mild steel
- Panjang internal tabung pipa : 0,818 m
- Diameter terluar (outside) : 0,0603 m
- Diameter dalam (inside) : 0,0477 m
- Ketebalan dinding tabung pipa : 0,0063 m

Kunci Switch Temperatur Indikator


Nomor Posisi Temperatur Terindikasi
1 (T1) Permukan luar-tabung pipa utama
2(T2) Permukaan metal-tabung pipa isolasi
3(T3) Permukaan luar (lagging)-tabung pipa terisolasi
4(T4) Permukaan metal-tabung terisolasi pita
5(T5) Permukaan luar pita-tabung terisolasi pita
6(T6) Permukaan metal-tabung pita terisolasi chrome
7(T7) Suplai uap (steam supplay)

58
B. Gambar Rangkaian Percobaan

Keterangan :
1. = pipa tanpa isolasi
2. = bahan fiberglass
3. = bahan asbestos
4. = bahan chrome
5. = indicator level kondensat

59
BAB IV
PROSEDUR PERCOBAAN

Langkah/ prosedur percobaan :


1. Jalankan boiler dan suplai uap ke unit peralatan .
2. Kualitas uap atau fraksi kekeringan uap dapat digunakan dari percobaan alat
“separating dan throttling calorimeter [P7672]”.
3. Buka katup-katup isolasi masing-masing tabung pipa yang menghubungkannya
terhadap pipa utama (steam header) V1 dan pipa pembuang (blowdown) Vo.
4. Biarkan uap mengalir melalui unit peralatan hingga kondisi alat dengan temperatur
yang stabil atau kondisi “steadystate”.
5. Kemudian tutup katup isolasi ke pembuangan (blowdown) Vo.
6. Apabila level kondensat dalam masing-masing tabung pipa melalui sightglass telah
nampak maka pengambilan data-data telat dapat dimulai.
7. Catat level kondensat dalam sightglass atau gauge pada waktu awal dan pada waktu
akhir pengujian.
8. Selama pengujian catat temperatur-temperatur untuk maing-masing tabung pipa setiap
5 menit dan cukup dalam waktu 20 menit (4 kali percobaan)
9. Pada akhir pengujian maka tutuplah katup suplai uap V1 sebelum pencatatan level
akhir kondensat.
10. Setelah pengujian selesai buka katup isolasi ke pembuangan. Biarkan kondensat
mengalir ke luar. Jika perlu buka kembali suplai V1 untuk membersihkan tabung.

60
BAB V
LEMBAR DATA PERCOBAAN

Dari percobaan yang dilakukan, maka dapatlah diambil suatu data sebagai berikut :
Waktu Uap Pipa 1 Pipa 2 Pipa 3 Pipa 4
(menit) P T7 T1 L1 T2 T3 L2 T4 T5 L3 T6 L4
0 5,5 142 134 8,8 137 59 2,5 134 105 5,3 137 5,9
5 6,0 145 139 139 60 138 108 139
10 6,0 144 139 140 60 139 108 139
15 5,5 144 134 138 61 132 107 142
20 5,5 144 134 20,8 138 61 6,9 132 107 13 142 14,5
Rata- 5,7 143,8 136 138,4 60,2 135 107 139,8
rata

Skala level kondensat = 18 ml = 18 x 10−6 𝑚3

61
BAB VI
ANALISA DATA

Perhatikan gambar di bawah ini :

1. Lama pengujian = 20 menit = 1200 detik


2. Tekanan uap masuk = 5,5 bar
3. Temperatur suplai (T7) = 143,8 ̊ C (rata-rata)
4. Skala tabung = 1 cm : 18 ml
5. Kualitas Uap (x) = (91,88 % uap) dan (8,12% cair jenuh)
6. Untuk P = 5,5 bar, maka dari tabel uap diperoleh :
hfg = 2097 kJ/kg
vf = 0,001097 𝑚3 /kg

 Tabung I : Tanpa isolasi (unlagged) :


Q = ṁ kond . x. hfg
Dimana : ṁ kond = laju aliran kondensat
X = kualitas uap diperoleh dari uap 0,91455
hfg = panas laten uap pada 6 barabs (2086,3 kJ/kg)
menghitung laju aliran uap kondensat (cair jenuh) :
Skala = 1 cm : 18 ml
 L1 = (20,8 – 8,8) cm
= 12 cm

62
T1 = 136 (rata-rata)
V1 = 22,4 cm . 18 ml/cm
= 403,2 ml
= 403,210−6 𝑚3
Maka debit (Q) :
𝑉1 403,2 𝑥 10−6
Q1 = =
𝑡 1200

= 3,36 x 10−7 𝑚3/detik

Jadi massa kuadrat :


Density dari kondensat
1 1
ρ = 𝑉𝑓 = 0,001097 𝑚3 /𝑘𝑔 = 911,577 kg/𝑚3

Massa kondensat
Mkond 1 = Q1. ρ
= 3,36 x 10−7 𝑚3/detik x 911,577 kg/𝑚3
= 3.063 .10−4kg/detik
Sehingga laju aliran panas pada tabung tanpa isolasi adalah :
Q1 = Mkond 1 . x. hfg
= 3,063 , 10−4kg/detik x 0,9188 x 2097 kJ/kg
= 590,1554 . 10−3 kJ/detik

 Tabung 2 : Fiber Glass Blancket


 L2 = ( 6,9 – 2,5 ) cm
= 4,4 cm
T2 = 138,4 ̊ C (rata-rata)
T3 = 60,2 ̊ C (rata-rata)
V2 = 5 cm . 18 ml/cm
= 90 ml
= 90 . 10−6 𝑚3

Sehingga laju aliran panas pada tabung isolasi fiber glass adalah :
90 𝑥 10−6 𝑚3
Q2 = 1200

= 7,5 . 10−8 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

63
Jadi masa kondisi 2 :
Mkond 2 = Q2 x ρ
= 7,5 . 10−8 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 x 911,577 kg/𝑚3
= 683,68275 . 10−6 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
= 6,8368275 . 10−4 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
Maka
Q2 = Mkond 2 . x. hfg
= 6,8368275 . 10−4 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 x 0,9188 x 2097 kJ/kg
= 131,726. 10−3 kJ/detik
= 131,726 . 10−3 kW

 Tabung 3 : Asbestos Tape


 L3 = (13 – 5,3) cm
= 7,7 cm
T4 = 135 ̊ C
T5 = 107 ̊ C
V3 = 11 cm . 18 ml/cm
= 198 ml
= 198 . 10−6 𝑚3
Sehingga laju aliran panas pada tabung isolasi asbestos adalah :
198 𝑥 10−6 𝑚3
Q3 = 1200

= 1,65 . 10−7 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


Jadi masa kondisi :
Mkond 3 = Q3 x ρ
= 1,65 . 10−7 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 x 911,577 kg/𝑚3
= 1,50410205 . 10−4 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
Q3 = Mkond 3 . x. hfg
= 1,50410205 . 10−4 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 x 0,9188 x 2097 kJ/kg
= 298,8. 10−3 kJ/detik
= 298,8 . 10−3 kW

64
 Tabung 4 : Chrome Finish
 L4 = (14,5 – 5,9) cm
= 8,6 cm
V4 = 8,2 cm . 18 ml/cm
= 147,6 ml
= 147,6 . 10−6 𝑚3
Sehingga laju aliran panas pada tabung isolasi chrome adalah :
147,6 𝑥 10−6 𝑚3
Q4 = 1200

= 8,056. 10−17 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


Jadi masa kondisi 2 :
Mkond 4 = Q4 x ρ
= 8,056. 10−17 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 x 911,577 kg/𝑚3
= 7,3437 . 10−14 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
Q4 = Mkond 4 . x. hfg
= 7,3437 . 10−14 𝑘𝑔/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 x 0,9188 x 2097 kJ/kg
= 1,9614 . 10−10 kJ/detik
= 1,9614 . 10−10 kW

Oleh karena itu :


Q1 = 590,1554 . 10−3 kJ/detik
Q2 = = 131,726. 10−3 kJ/detik
Q3 = 298,8. 10−3 kJ/detik
Q4 = 1,9614 . 10−10 kJ/detik

65
Sehingga logging efficiency dari bahan isolasi :
 Bahan isolasi fiberglass
ᶯfiberglass = 𝑄1−𝑄2
𝑄1
x 100 %
590,1554 .10−3 − 131,726.10−3
= x 100 %
590,1554 .10−3
= 77,68 %

 Bahan isolasi asbestos

ᶯfiberglass = 𝑄1−𝑄3
𝑄1
x 100 %

590,1554 .10−3 −298,8.10−3


= x 100 %
590,1554 .10−3
= 49,3692 %

 Bahan isolasi chrome


ᶯfiberglass = 𝑄1−𝑄4
𝑄1
x 100 %
590,1554 .10−3 − 1,9614 .10−10
= x 100 %
590,1554 .10−3
= 100 %

66
Dengan demikian didapat harga koefisien konduktivitas termal (k) dari bahan isolasi
yang digunakan :
1. Bahan Fiber Glass Blancket :
 Aliran panas dari uap : Q = mk . x. hfg
𝑑𝑇
 Aliran panas dari isolasi : Q = k. A. 𝑑𝑋
2.𝜋.𝑙.𝑘 (𝑇2−𝑇3)
 Untuk pipa bulat : Q = 𝑅3
𝑙𝑛
𝑅2

T2 = 138,8 ̊ C R2 = 30,15 mm
T3 = 60,8 ̊ C R3 = 54,90 mm
L = 0,818 mm

𝑅3
𝑞 𝑓𝑖𝑏𝑒𝑟 𝑔𝑙𝑎𝑠𝑠 ln
𝑅2
k= 2𝜋.𝐿 (𝑇2−𝑇3)

54,90 𝑚𝑚
218,664 watt x ln( )
30,15 𝑚𝑚
= 2 (3,14)(0,818 𝑚 )(138,8−60,8) ̊𝐶

= 0,3270 watt/m ̊ C

2. Bahan Asbestos :
T4 = 135,2 ̊ C R4 = 30,15 mm
T5 = 108,6 ̊ C R5 = 34,24 mm
L = 0,818 mm

𝑅5
𝑞 𝑓𝑖𝑏𝑒𝑟 𝑔𝑙𝑎𝑠𝑠 ln
𝑅4
k= 2𝜋.𝐿 (𝑇4−𝑇5)
34,24 𝑚𝑚
342,5 watt x ln( )
30,15 𝑚𝑚
= 2 (3,14)(0,818 𝑚 )(135,2−108,6) ̊𝐶

= 0,2945 watt/m ̊ C

67
BAB VII
PENJELASAN TAMBAHAN

Untuk meramalkan konduktivitas termal zat cair dan zat padat ada teori-teori yang
dapat digunakan dalam beberapa situasi, tapi pada umumnya dalam hal zat cair dan zat padat
terdapat banyak masalah yang masih memerlukan panjelasan.
Mekanisme konduktivitas termal pada gas cukup sederhana. Energi kinetic molekul
ditentukan oleh suhunya. Jadi pada bagian bersuhu tinggi molekul-molekul mempunyai
kecepatan yang yang cukup tinggi dari pada yang berada pada bagian bersuhu rendah.
Molekul-molekul itu selalu berada dalam gerakan ambang atau acak, saling bertumbukan satu
sama lain, dimana terjadi pertukaran energi dan momentum. Perlu diingat bahwa molekul-
molekul itu selalu berada pada gerakan nambang walapun tidak terdapat gradien suhu dalam
gas itu. Jadi suatu molekul bergerak dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah,
maka molekul itu mengangkat energi kinetic ke bagian system yang suhunya lebih rendah
dan disini menyerahkan energi pada waktu bertumbukan dengan molekul yang energinya
lebih rendah.
Perhatikan bahwa jika aliran kalor dinyatakan dalam watt,satuan untuk
konduktivitras termal itu adalah W/moC. perhatikan juga bahwa disini terlihat laju kalor dan
nilai angka konduktivitas termal itu. Menunjukkan seberapa cepat kalor mengalir dalam
bahan tertentu. Bagaimana memperhatikan laju perpindahan energi itu dalam model molekul
yang di bahas.
Mekanisme konduktivitas energi termal dalam zat cair secara kualitatif tidak berbeda
dari gas, namun situasinya menjadi jauh lebih rumit karena molekul-molekulnya lebih
berdekatan satu dengan yang lain, sehingga medan gaya magnet/molekul (molecular force
field) lebih besar pengaruhnya pada pertukaran energi dalam proses tubrukan molekul.
Dalam sistem satuan Inggris aliran kalor dinyatakan dalam satuan termal Inggris
perjam (Btu/h),luas permukaan dalam kaki(feet) persegi,dansuhu dalam derajat Fahreinhet.
Dengan demikian, suatu konduktivitas termal adalah Btu/h ft2oF.
Energi termal dihantarkan dalam zat padat menurut salah satu dari dua modus berikut
yaitu melalui geteran kisi(lattice vibration) atau dengan angkuatan melalui electron bebas.
Dalam konduktor listrik, yang baik, dimana terdapat electron bebas yang bergerak didalam
kisi bahan,maka disamping dapat mengangkut muatan listrik dapat pula membawa energi

68
termal dari daerah bersuhu tinggi ke daerah yang bersuhu rendah, sebagaimana halnya dalam
gas. Bahkan electron ini sering disebut gas electron (electron gas).
Namun pada umumnya perpindahan energi melalui gerakan ini tidaklah sebanyak
dengan cara angkutan lektron, karena itu penghantar listrik yang baik selalu merupakan
penghantar kalor yang baik pula, seperti halnya tembaga, aluminium dan perak.
Sebaliknya isolator yang baik merupakan isolator kalor pula konduktivitas termal dari
berbagai isolator juga diberikan dalam table dilampiran. Sebagai contoh, nilai untuk
woolkaca (glass wool) adalah 0,038 W/moC dan untuk kaca jendala 0,78 W/moC. pada suhu
tinggi perpindahan energi pada bahan isolator berlangsung melalui konduksi dan radiasi.

Satu masalah teknis yang cukup penting ialah masalah pengangkutan dan penimbunan
zat-zat kriogenik, seperti hydrogen cair untuk waktu yang cukup lama. Masalah tersebut ialah
telah menyebabakan dikembangkannya super isolasi untuk pemakaian pada suhu sangat
rendah (sampai kira-kira -250). Super isolator yang paling efektif terdiri dari lapisan-lapisan
rangkap yang terbuat dari bahan yang berdaya refleksi tinggi dengan isolator-isolator sebagai
pengantar. Dengan demikian konduktivitas termal sampai serendah 0,3 m N/moC.
Jadi konduktivitas termal gas tergantung pada suhu, penggolongan analisis yang
disederhanakan menunjukkan bahwa konduktivitas termal gas berubah menurut akar pangkat
dua dari suhu absolute.
Energi termal dihantarkan dalam zat padat maupun menurut salah satu dari modus
berikut : melalui getaran kisi (lattice vibration) atau dengan angkutan melalui electron bebas.
Dalam konduktor listrik yang baik, dimana electron bebas yang bergerak dalam struktur kisi-
kisi,maka electron samping dapat mengangkut muatan listrik dapat pula membawa energi
termal.

69
Daftar simbol :

Q = besar energi panas yang di transfer (kW)

K = konduktivitas termal (kW/moC)

A = luas penampang tabung (m2)

l = tinggi level kondesat (bar absolute )

P = tekanan rata-rata

X = nilai kualitas uap

f = density air (kg/m3)

V = volume kondesat (m3)

Hfg = panas ledant uap pada temperature (kj/kg)

mk = jumlah kondesat yang terkumpul (kg/detik)

Vf = volume spesifik air pada temperature (m3/kg)

Ŋ = efisiensi kelembapan (%)

T2 = suhu pada permukaan metal fiberglass (oC)

T3 = suhu permukaan luar fiberglass (oC)

T4 = suhu pada permukaan metal asbestos (oC)

T5 = suhu permukaan luar metal asbestos (oC)

70
Konduktivitas termal berbagai bahan pada 0C

Konduktivitas termal (k)

Bahan w/m.0C Btu/h.ft.0F

Logam

Perak (murni) 410 237

Tembaga (murni) 385 223

Aluminium (murni) 202 117

Nikel (murni) 93 54

Besi (murni) 73 42

Baja karbon, 1%C 43 25

Timbal (murni) 35 20.3

Baja – krom nikel 16.3 9.4

(18% Cr,8%Ni)

Kuarsa (sejajar sumbu)

Magnesit 41.6 24

Marmer 4.15 2.4

Batu Pasir 2.08-2.94 1.2-1.7

Kaca Jendela 1.83 1.06

Kayu Mapal/ek 0.78 0.45

Serbuk Gegaji 0.17 0.096

Wol Kaca 0.059 0.034

Zat cair 0.038 0.022

Air-raksa

Air 8.21 4.74

71
Amonia 0.556 0.327

Minyaklumas,SAESO 0.540 0.312

Freon 12, ccl2 F2 0.147 0.085

Gas 0.073 0.042

Hidrogen 0.175 0.101

Helium 0.141 0.081

72
BAB VIII
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Perpindahan panas yang terjadi didalam pipa berlangsung secara proses radiasi
(hantaran) karena tidak ada media penghantarnya.
2. Jumlah energi panas (heat) yang dilepaskan tabung adalah :
Q untuk :
Tabung 1, tanpa isolasi = 590,1554 . 10−3 kJ/detik
Tabung 2, fiber glass = 218,664 . 10−3 kJ/detik
Tabung 3, asbestos tape = 342,5 . 10−3 kJ/detik
Tabung 4, chrome = 115,92 . 10−3 kJ/detik
3. Effisiensi kelambatan atau lagging efficiency :
Fiber Glass Blanket = 62,948 %
Asbestos Tape = 41,9644 %
Chrome Finish = 80,3577 %
4. Isolasi yang paling baik adalah Chrome finish
5. Nilai konduktivitas (k) untuk asbestos
dari hasil percobaan 0,3254 watt/m ̊ C, untuk asbestos dari hasil percobaan 0,288
watt/m ̊ C sedangkan dari table 0,78W/m ̊C. Ini menandakan adanya kebocoran pada
peralatan yang digunakan.
6. Nilai kalor yang ditransfer dari nilai kelembaban efisiensi tertinggi pada tabung
diisolasi dengan bahan fiberglass

B. SARAN
1. Kepala paling staff program studi energi untuk lebih peduli dengan kelayakan dari
peralatan dan kelengkapan di laboratrium

73