Anda di halaman 1dari 25

IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang ditemukan di banyak bidang,
khususnya evaluasi, dimana peneliti mengembangkan analisis mendalam atas
suatu kasus, sering kali program atau peristiwa, aktivitas, proses atau satu individu
atau lebih. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti
mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur
pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan (Stake, 1995; Yin,
2009, dalam Creswell 2016 : 19). Studi kasus (case study) merupakan suatu
penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”. Kesatuan ini dapat
berupa program, kegiatan, peristiwa atau sekelompok individu yang terikat oleh
tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang
diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman
dari kasus tersebut. Kasus sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak
dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi
kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki
karakteristik sendiri yang berbeda dengan kasus lainnya (Sukmadinata, 2013: 64).
Studi kasus dapat terdiri atas satu unit atau lebih dari satu unit, tetapi merupakan
satu kesatuan. Kasus dapat satu orang, satu kelas, satu sekolah, beberapa sekolah
tetapi dalam satu kantor kecamatan, dan sebagainya. Dalam studi kasus digunakan
beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan studi
dokumenter, tetapi semuanya difokuskan ke arah mendapatkan kesatuan data dan
kesimpulan (Sukmadinata, 2013: 64).
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 2

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian study kasus ?


2. Apa kelebihan dan kekurangan studi kasus ?
3. Bagaimakah karakteristik studi kasus ?
4. Apa saja jenis-jenis studi kasus ?
5. Apa saja Langkah-Langkah Pembelajaran Fiqih Dengan Studi Kasus ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian study kasus.


2. Untuk mengetahui dan kelebihan studi kasus.
3. Untuk mengetahui karakteristik studi kasus.
4. Untuk mengetahui jenis-jenis studi kasus.
5. Untuk mengetahui Langkah-Langkah Pembelajaran Fiqih Dengan
Studi Kasus.

BAB II
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 3

PEMBAHASAN

A. Pengertian Study Kasus

Studi kasus menurut Bimo Walgito (2010) adalah metode yang bertujuan untuk
mempelajari dan menyelidiki suatu kejadian atau fenomena mengenai individu,
seperti riwayat hidup seseorang yang menjadi objek penelitian. Bimo Walgito juga
menambahkan bahwa dibutuhkan banyak informasi dan integrasi data yang
diperoleh dari metode lain guna mendapatkan informasi mendalam pada metode
studi kasus yang dilakukan.
Masih dalam ranah bimbingan dan perkembangan diri, Susilo Rahardjo &
Gudnanto (2011) menyatakan bahwa studi kasus merupakan metode yang
diterapkan untuk memahami individu lebih mendalam dengan dipraktekkan secara
integratif dan komprehensif. Hal ini dilakukan supaya peneliti bisa
mengumpulkan dan mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai individu
yang diteliti, berikut masalah yang dihadapi supaya dapat terselesaikan dan
membuat diri individu tersebut berkembang lebih baik.
pengertian yang dibuat oleh W.S. Winkel dan Sri Hastuti (2006), studi kasus
dilihat dari sisi bimbingan pendidikan dan konseling siswa yang mempelajari
keadaan serta perkembangan siswa secara mendalam juga lengkap. Studi kasus ini
dilakukan oleh guru atau pendidik yang bersangkutan untuk memahami siswa
sebagai individu dengan lebih mendalam guna membantu perkembangan siswa
tersebut kedepannya.
Studi kasus (case studi) merupakan penelitian tentang suatu “kesatuan sistem”.
Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu
yang terkait dengan tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah
penelitian yang diarahkan untuk mengumpul data, mengambil makna dan
memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Kasus tersebut sama sekali tidak
mewakili populasi dan atau bukan sebuah kesimpulan dari populasi.Berdasarkan
batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi : (1) sasaran
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 4

penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-
sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan
latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk memahami berbagai
kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

B. Kelebihan Dan Kekurangan Studi Kasus

Adapun kelebihan dari Studi kasus yaitu:


1. Analisis intensif yang dilewatkan tidak dlakukan oleh metode lain.
2. Dapat menghasilkan ilmu pengetahuan pada kasus khusus
3. Cara yang tepat untuk mengeksplorasi fenomena yang belum secara detail
diteliti
4. Informasi yang dihasilkan dalam studi kasus dapat sangat bermanfaat
dalam menghasilkan hipotesis yang diuji lebih ketat, rinci, dan seteliti
mungkin pada penelitian berikutnya
5. Studi kasus yang bagus (well designed) merupakan sumber informasi
deskriotif yang baik dan dapat digunakan sebagai bukti untuk suatu
pengembangan teori atau menyanggah teori.

Adapun kelemahan dari studi kasus yaitu:


6. Studi kasus seringkali dipandang kurang ilmiah atau pseudo-scientific
karena pengukurannya bersifat subjectif atau tidak bisa dikuantifisir.
Dalam hal ini, kritik ini juga mempertanyakan validitas dari hasil
penelitian studi kasus.
7. Karena masalah interpretasi subjektif pada pengumpulan dan analisa data
studi kasus, maka mengerjakan pekerjaan ini relative lebih sulit dari
penelitian kuantitatif.
8. Masalah generalisasi. Karena skupa penelitian baik issu maupun jumlah
orang yang menjadi target kajian studi kasus sangat kecil, kemampuan
generalisasi dari temuan pada studi kasus adalah rendah.
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 5

9. Karena lebih bersifat deskriftif, studi kasus juga dianggap kurang memberi
sumbangan pada persoalan-persoalan praktis mengatasi suatu masalah.
10. Biaya penyelenggaraan yang relative mahal. Karena kedalaman informasi
yang digali pada studi kasus, maka luangan waktu dan fikiran untuk
mengerjakan studi kasus jauh lebih banyak daripada studi dengan skala
yang besar, tetapi hanya melingkupi data yang terbatas. Untuk hal ini,
sebagian orang menganggap bahwa studi kasus lebih mahal dari pada
penelitian-penelitian kuantitatif.
11. Karena fleksibilitas disain studi kasus, ini memungkinkan peneliti untuk
beralih focus studi ke arah yang tidak seharusnya.

C. Karakteristik

Berdasarkan pendapat Yin (2003, 2009); Van Wynsberghe dan Khan (2007); dan
Creswell (2003, 2007) secara lebih terperinci, karakteristik penelitian studi kasus
dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Menempatkan obyek penelitian sebagai kasus


Keunikan penelitian studi kasus adalah pada adanya cara pandang terhadap obyek
penelitiannya sebagai ’kasus’. Bahkan, secara khusus, Stake (2005) menyatakan
bahwa penelitian studi kasus bukanlah suatu pilihan metoda penelitian, tetapi
bagaimana memilih kasus sebagai obyek atau target penelitian. Pernyataan ini
menekankan bahwa peneliti studi kasus harus memahami bagaimana
menempatkan obyek atau target penelitiannya sebagai kasus di dalam
penelitiannya.
Kasus itu sendiri adalah sesuatu yang dipandang sebagai suatu sistem kesatuan
yang menyeluruh, tetapi terbatasi oleh kerangka konteks tertentu (Creswell,
2007). Sebuah kasus adalah isu atau masalah yang harus dipelajari, yang akan
mengungkapkan pemahaman mendalam tentang kasus tersebut, sebagai suatu
kesatuan sistem yang dibatasi, yang melibatkan pemahaman sebuah peristiwa,
aktivitas, proses, atau satu atau lebih individu. Melalui penelitian studi kasus,
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 6

kasus yang diteliti dapat dijelaskan secara terperinci dan komprehensif,


menyangkut tidak hanya penjelasan tentang karakteristiknya, tetapi juga
bagaimana dan mengapa karakteristik dari kasus tersebut dapat terbentuk.

b. Memandang kasus sebagai fenomena yang bersifat kontemporer


Bersifat kontemporer, berarti kasus tersebut sedang atau telah selesai terjadi, tetapi
masih memiliki dampak yang dapat dirasakan pada saat penelitian dilaksanakan,
atau yang dapat menunjukkan perbedaan dengan fenomena yang biasa terjadi.
Dengan kata lain, sebagai bounded system (sistem yang dibatasi), penelitian studi
kasus dibatasi dan hanya difokuskan pada hal-hal yang berada dalam batas
tersebut. Pembatasan dapat berupa waktu maupun ruang yang terkait dengan
kasus tersebut.

c. Dilakukan pada kondisi kehidupan sebenarnya


Seperti halnya pendekatan penelitian kualitatif pada umumnya, pelaksanaan
penelitian studi kasus menggunakan pendekatan penelitian naturalistik. Dengan
kata lain, penelitian studi kasus menggunakan salah satu karakteristik pendekatan
penelitian kualitatif, yaitu meneliti obyek pada kondisi yang terkait dengan
kontekstualnya. Dengan kata lain, penelitian studi kasus meneliti kehidupan nyata,
yang dipandang sebagai kasus. Kehidupan nyata itu sendiri adalah suatu kondisi
kehidupan yang terdapat pada lingkungan hidup manusia baik sebagai individu
maupun anggota kelompok yang sebenarnya. Penelitian studi kasus mengkaji
semua hal yang terdapat disekeliling obyek yang diteliti, baik yang terkait
langsung, tidak langsung maupun sama sakali tidak terkait dengan obyek yang
diteliti dan berupaya mengungkapkan serta menjelaskan segala sesuatu yang
berkaitan dengan obyek yang ditelitinya pada kondisi yang sebenarnya, baik
kebaikannya, keburukannya, keberhasilannya, maupun kegagalannya secara apa
adanya. Sifat yang demikian menyebabkan munculnya pandangan bahwa
penelitian studi kasus sangat tepat untuk menjelaskan suatu kondisi alamiah yang
kompleks.
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 7

d. Menggunakan berbagai sumber data


Seperti halnya strategi dan metoda penelitian kualitatif yang lain, penelitian studi
kasus menggunakan berbagai sumber data. Seperti telah dijelaskan pada bagian
karakteristik penelitian kualitatif, pengggunaan berbagai sumber data
dimaksudkan untuk mendapatkan data yang terperinci dan komprehensif yang
menyangkut obyek yang diteliti. untuk mencapai validitas dan realibilitas
penelitian. Dengan berbagai sumber data tersebut, peneliti dapat meyakinkan
kebenaran dan keakuratan data.
Adapun bentuk-bentuk data tersebut dapat berupa catatan hasil wawancara,
pengamatan lapangan, pengamatan artefak dan dokumen. Catatan wawancara
merupakan hasil yang diperoleh dari proses wawancara, baik berupa wawancara
mendalam terhadap satu orang informan maupun terhadap kelompok orang dalam
suatu diskusi. Sedangkan catatan lapangan dan artefak merupakan hasil dari
pengamatan atau obervasi lapangan. Catatan dokumen merupakan hasil
pengumpulan berbagai dokumen yang dapat berupa data sekunder, seperti buku
laporan, dokumentasi foto dan video.

e. Menggunakan Teori Sebagai Acuan Penelitian


Pada penelitian studi kasus, teori digunakan baik untuk menentukan arah, konteks,
maupun posisi hasil penelitian. Kajian teori dapat dilakukan dibagian depan,
tengah dan belakang proses penelitian. Pada bagian depan, teori digunakan untuk
membangun arahan dan pedoman di dalam menjalankan kegiatan penelitian.
Secara khusus, pada bagian ini, teori dapat dipergunakan untuk membangun
hipotesis, seperti halnya yang dilakukan pada paradigma deduktif atau positivistik
(VanWynsberghe dan Khan, 2007; Eckstein, 2002; Lincoln dan Guba, 2000). Pada
bagian tengah, teori dipergunakan untuk menentukan posisi temuan-temuan
penelitian terhadap teori yang ada dan telah berkembang (Creswell, 2003, 2007).
Sedangkan pada bagian belakang, teori dipergunakan untuk menentukan posisi
hasil keseluruhan penelitian terhadap teori yang ada dan telah berkembang
(Creswell, 2003, 2007). Melalui pemanfaatan teori tersebut, peneliti studi kasus
dapat membangun teori yang langsung terkait dengan kondisi kasus yang
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 8

ditelitinya. Kesimpulan konseptual dan teoritis yang dibangun melalui penelitian


studi kasus dapat lebih bersifat alamiah, karena sifat dari kasus yang alamiah
tersebut.

D. Jenis-Jenis Studi Kasus

Stake (2005) membagi penelitian studi kasus berdasarkan karakteristik dan fungsi
kasus di dalam penelitian. Stake sangat yakin bahwa kasus bukanlah sekedar
obyek biasa, tetapi kasus diteliti karena karakteristiknya yang khas. Hal ini sesuai
dengan penjelasannya yang menyatakan bahwa penelitian studi kasus bukanlah
sekedar metoda penelitian, tetapi adalah tentang bagaimana memilih kasus yang
tepat untuk diteliti.

Berdasarkan hal tersebut, Stake (2005) membagi penelitian studi kasus menjadi 3
(tiga) jenis, yaitu :

a. Penelitian studi kasus mendalam


Penelitian studi kasus mendalam (intrinsic case study) adalah penelitian studi
kasus yang dilakukan dengan maksud untuk yang pertama kali dan terakhir kali
meneliti tentang suatu kasus yang khusus. Hal ini dilakukan tidak dengan maksud
untuk menempatkan kasus tersebut mewakili dari kasus lain, tetapi lebih kepada
kekhususan dan keunikannya. Pada awalnya, penelitiannya mungkin tidak
bermaksud untuk membangun teori dari penelitiannya, tetapi kelak mungkin ia
akan dapat membangun teori apabila kasus tersebut memang menjadi satu-satunya
di dunia. Pada umumnya, para peneliti studi kasus mendalam ini bermaksud untuk
meneliti atau menggali hal-hal yang mendasar yang berada dibalik kasus tersebut.

b. Penelitian studi kasus intrumental


Penelitian studi kasus intrumental (instrumental case study) adalah penelitian
studi kasus yang dilakukan dengan meneliti kasus untuk memberikan pemahaman
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 9

mendalam atau menjelaskan kembali suatu proses generalisasi. Dengan kata lain,
kasus diposisikan sebagai sarana (instrumen) untuk menunjukkan penjelasan yang
mendalam dan pemahaman tentang sesuatu yang lain dari yang biasa dijelaskan.
Melalui kasus yang ditelitinya, peneliti bermaksud untuk menunjukkan adanya
sesuatu yang khas yang dapat dipelajari dari suatu kasus tersebut, yang berbeda
dari penjelasan yang diperoleh dari obyek-obyek lainnya.

c. Penelitian studi kasus jamak


Penelitian studi kasus jamak (collective or mutiple case study) adalah penelitian
studi kasus yang menggunakan jumlah kasus yang banyak. Penelitian studi kasus
ini adalah pengembangan dari penelitian studi kasus instrmental, dengan
menggunakan kasus yang banyak. Asumsi dari penggunaan kasus yang banyak
adalah bahwa kasus-kasus yang digunakan di dalam penelitian studi kasus jamak
mungkin secara individual tidak dapat menggambarkan karakteristik umumnya.
Masing-masing kasus mungkin menunjukkan sesuatu yang sama atau berbeda-
beda. Tetapi apabila dikaji secara bersama-sama atau secara kolektif, dapat
menjelaskan adanya benang merah di antara mereka, untuk menjelaskan
karakteristik umumnya.

Kasus-kasus di dalam penelitian studi kasus jamak dipilih karena dipandang


bahwa dengan memahami mereka secara kolektif, dapat meningkatkan
pemahaman terhadap sesuatu, dan bahkan dapat memperbaiki suatu teori dengan
menunjukkan fakta dan bukti yang lebih banyak. Stake (2005) menunjukkan
contoh-contoh penelitian studi kasus kolektif adalah dengan menunjuk pada buku-
buku kumpulan dari artikel-artikel yang membahas suatu isu yang sama.

Secara umum studi kasus dapat dibagi menjadi :


1. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian
organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuri
perkembangan organisasinya. Studi ini sering kurang memungkinkan untuk
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 10

diselenggarakan, karena sumbernya kurang mencukupi untuk dikerjakan secara


minimal.
2. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya
melalui observasi peran-serta atau pelibatan (participant observation), sedangkan
fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang
menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b)
satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
3. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu orang
dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah
yang khas. Wawancara sejarah hidup biasanya mengungkap konsep karier,
pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah.
topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
4. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus
kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan
tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi
tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
5. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis
situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran
siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua
pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya,
kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
6. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit
organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu
kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar
menggambar.

E. Langkah-Langkah Pembelajaran Fiqih Dengan Studi Kasus

1. Kegiatan Awal.
a. Guru membuka pembelajaran dengan salam.
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 11

b. Guru memperlihatkan kesiapan diri dengan mengisi lembar


kehadiran dan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat
duduk.
c. Menyampaikan materi yang akan dipelajari dan tujuan belajar
materi tersebut disesuaikan dengan materi pelajaran.
d. Guru memberikan motivasi dan mengajukan pertanyaan secara
komunikatif yang berkaitan dengan materi pelajaran.

2. Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti pembelajaran menggunakan metode studi kasus.
Metode pembelajaran tersebut digunakan untuk menggali potensi peserta
didik agar lebih mengeksplorasi perasaan peserta didik,mewujudkan
pandangan mengenai perilaku, nilai dan persepsi, mengembangkan
keterampilan (skill) pemecahan masalah dan tingkah laku melalui
penyajian suatu masalah kehidupan sosial .Kegiatan inti pembelajaran
memuat berbagai hal penting diantaranya:
a. Fase Eksplorasi (Pencarian)
a) Guru meminta peserta didik untuk mencermati persoalan yang
diberikan oleh guru.
b) Guru meminta peserta didik mengamati permasalahan yang terjadi
pada persoalan yang diberikan oleh guru.

b. Fase Elaborasi (kerja sama)


a) Peserta didik mengemukakan hasil pencermatan persoalan yang
diberikan oleh guru.
b) Peserta didik mengemukakan isi permasalahan.
c) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang
dikemukakan peserta didik tentang isi masalah tersebut.

c. Fase Konfirmasi (Penjelasan)


a) Peserta didik membaca literatur tentang dasar-dasar masalah
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 12

b) Peserta didik membuka al- Qur’an untuk menemukan dalil tentang


dasar-dasar masalah
c) Peserta didik memahami serta mendiskusikan materi dengan
temannya.
d) Guru mengidentifikasi peserta didik yang kurang memahami
materi.
e) Guru menyuruh peserta didik yang kurang memahami materi yang
diajarkan guru untuk bertanya.

3. Kegiatan Penutupan.
a. Peserta didik menuliskan hasil temuannya di buku catatan mereka.
b. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran tentang masalah.
c. Guru menyampaikan materi yang akan dibahas selanjutnya agar
dapat dipelajari terlebih dahulu.
d. Guru menutup dan mengakhiri pelajaran dengan membaca
hamdalah atau berdoa bersama-sama.
e. Guru mengucapkan salam sebelum keluar kelas dan peserta didik
menjawabnya.

Adapun media yang digunakan adalah ruang kelas, whiteboard,spidol, penghapus,


buku catatan, LCD, Proyektor sedangkan sumber belajar yang digunakan adalah
buku LKS dan buku paket Fiqih. Berdasarkan pengamatan peneliti, metode studi
kasus akan lebih mendorong peserta didik bersemangat dalam belajar, karena di
kelas peserta didik di ajak turut serta aktif dalam menyikapi permasalahan sosia
lyang dikaji dengan teori ataupun materi pembelajaran, sehingga metode
pembelajaran ini bisa meningkatkan prestasi peserta didik dan menumbuhkan
semangat belajar dalam diri peserta didik.
F. Contoh Materi Yang Sesuai Dengan Metode Studi Kasus

1. Pengertian Riba
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 13

Pendapat para ahli fiqih berkaitan dengan pengertian riba, antara lain sebagai
berikut. Menurut Al-Mali pengertian riba adalah akad yang terjadi atas pertukaran
barang atau komoditas tertentu yang tidak diketahui perimbagan menurut syara’,
ketika berakad atau mengakhiri penukaran kedua belah pihak atau salah satu dari
keduanya.

Menurut Abdul Rahman Al-Jaziri, pengertia riba adalah akad yang terjadi dengan
pertukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut syara’ atau terlambat
salah satunya.

Pendapat lain dikemukakan oleh syeikh Muhammad Abduh bahwa pengertian riba
adalah penambahan-penambahan yang disyaratkan oleh orang yang memiliki
harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji
pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan.

Perlu diketahui riba ini tidak hanya dilarang oleh agama Islam tetapi agama lain
yaitu Hindu, Budha, Yunani, dan Kristen pun melarang perbuatan keji dan kotor
ini. Sebagai contohnya, yaitu kristen pada perjanjian baru Injil Lukas ayat 34
menyebutkan:
“Jika kamu menghutangi kepada orang yang kamu harapkan imbalannya, maka di
mana sebenarnya kehormatanmu, tetapi berbuatlah kebaikan dan berikanlah
pinjaman dengan tidak mengharapkan kembalinya, karena pahala kamu akan
sangat banyak”.

2. Landasan Hukum Riba


Riba hukumnya adalah haram berdasarkan pada firman-firman Allah swt dan
sabda-sabda Rasulullah saw, di antaranya adalah sebagai berikut:

Firman Allah swt:


IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 14

‫ك‬ ‫طاَنن لمللكن اللكملل س‬


‫س كذلللل ك‬ ‫الشلذيكن يكألنكنلوُكن السركباَ لِ يكنقوُنموُكن لإلِ كككماَ يكنقوُنم الشلذيِ يكتككخبشطنهن الششلللي ك‬
‫ان اللبكليكع كوكحشركم السركباَ فككملن كجللاَكءهن كملوُلع ك‬
‫ظللةة لملللن‬ ‫بلأ كنشهنلم كقاَنلوُا إلنشكماَ اللبكلينع لملثنل السركباَ كوأككحشل ش‬
َ‫ب النشللاَلر هنلللم لفيهكللا‬
‫صللكحاَ ن‬ ‫ال كوكملن كعللاَكد فكنأولكئللل ك‬
‫ك أك ل‬ ‫ف كوأكلمنرهن إلكلىَ ش‬
‫كربسله كفاَلنتككهىَ فكلكهن كماَ كسلك ك‬
‫كخاَللندوكن‬

Artinya: orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS. Al
Baqarah [2]: 275).

Friman Allah swt lainnnya adalah:

) ‫اكلل لككعلشنكللم تنلفللنحلوُكن‬


‫ضللاَكعفكةة كواتشقنللوُا ش‬ ‫كياَ أكيَيكهاَ الشلذيكن آكمننلوُا لِ كتلألنكنلوُا السركبلاَ أك ل‬
‫ضلكعاَةفاَ نم ك‬
)١٣٠
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan
berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan (QS. Ali Imran [3]: 130).

a. Berbagai sabda Rasulullah saw diantaranya adalah “Allah melaknat pemakan


riba, orang yang memberi makan dengan riba, dua orang saksinya, dan penulisnya
(sekretarisnya)”. (HR penulis sunan, At Tirmidzi menshahihkan hadits ini )
b. Sabda Rasulullah yang lain: “satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan
sepengetahuannya itu lebih berat dosanya daripada tiga puluh enam berbuat zina”
(HR. Ahmad dengan sanad shahih)
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 15

c. Sabda Rasulullah saw: “Riba mempunyai tujuh puluh tiga pintu, pintu yang
paling ringan adalah seperti seseorang menikahi ibu kandungan” (HR. Al Hakim
dan ia menshahihkannya)

3. Macam Macam Riba yang Harus Diketahui

a. Riba Fadhli
Ketika seseorang menukarkan barang tertentu dengan barang yang sama namun ada
perbedaan pada timbangannya. Contoh: Si A menukarkan cincin emas 24 karat
seberat 4 gram miliknya dengan emas 24 karat seberat 4 gram milik si B. Artinya,
perbedaan berat 1 gram antara kedua barang itu adalah riba.

b. Riba Qordhi
Ketika seseorang meminjam sesuatu, misal uang, pada orang lain tapi harus
memberikan lebih ketika mengembalikannya. Contoh: si A mau meminjamkan uang
Rp 100.000,- pada si B dengan syarat si B harus membayar sebesar Rp 110.000,- saat
mengembalikan nanti. Kelebihan Rp 10.000,- itu adalah riba.

c. Riba Yadi
Riba yang terjadi ketika seseorang melakukan jual beli dengan akad barang dan
timbangan sama, namun sebelum terjadi serah terima si penjual dan pembeli telah
terlebih dahulu berpisah. Contoh: si A menjual kentang yang belum dipanen (masih di
dalam tanah) kepada si B.

d. Riba Nasi’ah
Disebut riba nasi’ah ketika melakukan akad jual beli namun si pembeli menerima
barangnya di kemudian hari (ada jeda waktu). Contoh: si A menjual padinya kepada si
B sejak musim tanam. Lalu si B akan mengambil padi itu saat sudah musim panen
nanti.
4. Bahaya dan Dampak daripada Perbuatan Riba bagi Individu dan Masyarakat
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 16

a. Bersifat tamak
Riba memberikan serta menunjukkan bahwa pelaku (terutama) serta semua yang
terlibat dalam perbuatan tersebut adalah orang-orang yang memiliki sifat tamak,
keras hati, sangat terobsesi dengan harta kekayaan, dan hina.

b. Dosa riba lebih besar daripada zina


Dalam sebuah, Rasullullah SAW bersabda yang artinya; “Satu dirham yang
dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar
dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (H. R. Ahmad dan
Al-Baihaqi)

c. Pelaku riba adalah orang yang memiliki hati dan jiwa yang kotor
Mereka tidak segan menindas orang yang tidak mampu demi memenuhi
keserakahan mereka. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda; “Tidaklah
sifat kasih sayang itu diangkat kecuali dari seorang yang celaka.” (H. R. Abu
Dawud dan Tirmidzi)
Bahkan pertolongan yang mereka berikan hanya kedok daripada pemerasan yang
sebenarnya menjadi tujuan utama mereka. Padahlal, Rasulullah SAW bersabda
yang artinya;
“Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai
kesulitannya di duni , maka Allah akan meringankan kesulitan dari berbagai
kesulitan yang akan dihadapinya pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang
memberi keringanan bagi orang yang kesulitan, maka Allah akan memberi
keringanan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menyembunyikan aib
seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (H. R.
Muslim)

Pertolongan yang diberikan oleh para pelaku riba sama sekali tidak meringankan
orang lain, melainkan justru menambah beban berat dan menyengsarakan.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya;
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 17

“Barangsiapa memperhatikan orang yang ditimpa kesulitan dan


menghilangkannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan-Nya.” (H. R.
Muslim)

d. Disiksa Allah di hari akhir kelak


Allah SWT menyatakan bahwa mereka yang berbuat riba, akan dibangkitkan
dalam keadaan gila, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya;
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q. S. Al-Baqarah : 275).

e. Maraknya riba mengundang azab dari Allah SWT


Rasulullah SAW bersabda; “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di
suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri
mereka untuk diadzab oleh Allah.” (H. R. Al Hakim).

f. Tidak ada mudaratnya


Harta riba tiada ada yang bermanfaat, justru Allah SWT akan menghancurkannya
baik secara konkret (uang atau benda nyata), maupun yang sifatnya abstrak
(berkah daripada harta tersebut). Firman Allah SWT yang artinya;
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q. S. Al
Baqarah : 276).

g. Menyebabkan krisis ekonomi Menurut pada ahli ekonomi, riba adalah


penyebab utama terjadinya krisis ekonomi. Riba pula yang mengarahkan
perekonomian kepada hal yang menyebabkan pemborosan dan menimbulkan
over production.

h. Akhlak orang yahudi


IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 18

Riba merupakan akhlak yang dimiliki oleh musuh Allah yakni orang-orang
jahiliyah dan Yahudi. Firman Allah SWT yang artinya;
“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah
dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan
jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara
mereka itu siksa yang pedih.” (Q. S. An-Nisaa’: 161).

i. Menghilangkan ketaqwaan
Karena perbuatan riba berarti menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. Firman
Allah SWT yang artinya;
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk
orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
(Q. S. Ali Imran: 130-132).

j. Laknat Allah untuk orang yang riba


Semua yang terlibat dalam tindakan riba akan mendapat laknat Allah SWT. Nabi
Muhammad SAW pun melaknat orang yang memakan harta riba, yang memberi
riba, juru tulisnya dan kedua saksinya, Rasulullah berkata, “Mereka semua sama
saja.” (H. R. Muslim).

k. Harta riba mengantarkan kepada kebinasaan dan murka Allah SWT


Rasulullah SAW bersabda;
“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!” Para sahabat bertanya, “Apa
sajakah perkara tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Syirik, sihir,
membunuh jiwa yan diharamkan Allah kecuali dengan cara yang hak, memakan
riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran dan menuduh
wanita mukminah berzina.” (H. R. Bukhari dan Muslim).

l. Riba merupakan perbuatan maksiat


IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 19

Tidak ada bedanya dengan perbuatan maksiat lainnya yaitu ghibah, riba juga
menjadi salah satu perbuatan maksiat yang Allah laknat. Allah SWT berfirman
yang artinya;
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q. S. An Nuur: 63).
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka
sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q. S. An
Nisaa : 14.)

m. Seluruh amal ibadah di tolak Allah SWT


Amal ibadah yang menggunakan harta atau apapun yang berunsur riba tidak akan
diterima Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah itu baik
dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.” (H. R. Muslim).
Yang dapat menolak segala amal ibadah juga: riya’, syirik, dan sifat sombong.

n. Doa orang yang memakan riba tidak akan dikabulkan


Dalam hadist Nabai Muhammada SAW, “ada seseorang yang menengadahkan
tangan untuk berdoa kepada Allah akan tetapi pakaian, makanan, dan minumanya
yang ia gunakan adalah berasal dari barang yang haram. Bagaimana caranya doa
itu akan dikabulkan?” (H. R. Muslim).
Maksudnya, Allah itu menyukai sesuatu yang baik, bagaimana Ia akan
mengabulkan kalau hamba yang berdoa it menggunakan yang haram dan tidak
disukai Allah?

o. Memakan harta riba berarti memasukkan sesuatu yang ar-raan ke dalam hati
Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

“Ketahuilah di dalam jasad terdapat sepotong daging. Jika ia baik, maka baiklah
seluruh badan. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Ketahuilah
sepotong daging itu adalah hati.” (H. R. Bukhari dan Muslim).
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 20

p. Riba merupakan bentuk kezhaliman


Allah SWT berfirman yang artinya;
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari
apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi
tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka)
terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan
mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka
kosong.” (Q. S. Ibrahim : 42-43).

q. Timbulnya kebencian terhadap sesama


Menimbulkan kebencian yang akan menjadi pemicu terjadinya pertikaian dan
permusuhan antar individu, penyebab munculnya fitnah, serta penyebab
terputusnya tali persaudaraan.

r. Menimbulkan kesengsaraan terutama pada mereka yang menjadi korban riba.


Utamanya, korban riba adalah mereka yang memang kekurangan dan terpaksa
meminjam uang kepada para penghisap darah Oleh karena pelaku riba adalah
orang yang dalam artian mampu memberikan bantuan, mereka akan bertindak
sekehendak hati tanpa peduli pada orang yang meminjam padanya.
Maraknya praktek riba sekaligus menunjukkan rendahnya rasa simpatik antara
sesama muslim, sehingga seorang muslim yang sedang kesulitan dan
membutuhkan lebih “rela” pergi ke lembaga keuangan ribawi karena sulit
menemukan saudara seiman yang dapat membantunya.Menjamurnya praktik riba
merupakan salah satu indikator yang menunjukkan merosotnya moral seorang
muslim hingga turut melunturkan rasa tenggang rasa dan simpati antar sesama.
Di saat seseorang mengalami kesulitan, mereka yang lain tidak mau membantu
karena merasa tidak ada keuntungan. Hal ini kemudian menyebabkan mereka
yang memerlukan pertolongan justru lari kepada lembaga keuangan yang bersifat
riba demi mendapat bantuan karena saudara seiman sudah tidak membantunya
lagi. akhirnya, kaum muslim pun mudah terpengaruh oleh musuh dan musuh pun
akhirnya dapat menguasai kaum muslim.
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 21

Hal ini disebabkan karena tempat utama atau bank-bank yang banyak menerapkan
sistem riba ini berada dipihak orang-orang non muslim yang kegiatan riba sudah
menjadi kebiasaan dalam lingkungan mereka. Mereka memiliki dana yang
banyak, sehingga muslim yang terjebak kemudian meminjam kepada mereka
sehingga harta kita ada digenggaman orang kafir. Penyebab kaum muslim mudah
terpengaruh musuh dan akhirnya musuh pun dapat menguasai.
Hal ini disebabkan karena tempat utama atau bank-bank yang banyak menerapkan
sistem riba ini berada dipihak orang-orang non muslim yang kegiatan riba sudah
menjadi kebiasaan dalam lingkungan mereka. Mereka memiliki dana yang
banyak, sehingga muslim yang terjebak kemudian meminjam kepada mereka
sehingga harta kita ada digenggaman orang kafir. Dapat dikatakan bahwa riba
adalah jembatan yang sangat mulus bagi para kafir untuk menyerang dan
menjajah Islam.
Pepatah Arab mengatakan; “Penjajahan itu senantiasa berjalan mengikuti para
pedagang dan tukang fitnah.”

s. Terhalang kebaikan
Suatu kaum atau masyarakat yang memakan riba, akan terhalangi pada mereka
untuk mendapat kebaikan.
Allah SWT berfirman yang artinya; “Maka disebabkan kezaliman orang-orang
Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang
dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi
(manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal
sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan
harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk
orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q. S. An Nisaa’:
160-161).

t. Memperbudak hawa nafsu belaka


Praktik riba yang merajalela juga menunjukkan bahwa gaya hidup konsumtif dan
kapitalis kaum muslim semakin tinggi, yang artinya mereka hanya memikirkan
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 22

hawa nafsu dibandingkan dengan mentaati perintah dan menjauhi larang Allah
SWT dan Rasul-Nya.

u. Janji bagi mereka para pelaku riba adalah neraka


Apabila tidak bertaubat. Allah SWT berfirman yang artinya;
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al
Baqarah: 275).

5. Hikmah dilarangnya Riba


Riba dapat menimbulkan permusuhan antar sesama,menghilangkan semangat
kerja dan tolong menolong. Padahal semua agama terutama islam amat menyeru
kepada saling tolong menolong, dan membenci kepentingan ego, serta orang yang
mengeksploitir kerja keras orang lain.
Hikmah larangan itu ialah agar tidak ada penyesalan, baik oleh yang menukar
maupun yang menukarkannya. Hukum paling baik.

a. Melarang bentuk penukaran dan tidak membatalkan mengiqalahkan jual


beli yang telah terjadi.
b. Riba menimbulkan sikap pemboros yang tidak bekerja. menimbun harta
tanpa kerja keras, sehingga menjadi pemalas, seperti pohon benalu.
Padahal islam sangat menghornati orang yang suka bekerja keras. Karena
dengan kerja keras seseorang bisa lebih terasah kemampuannya juga bisa
mandiri.
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 23

c. Riba merupakan salah satu cara penjajahan. Kita telah mengenal riba
dengan segala dampak negatifnya di dalam menjajah negara kita.
d. Islam menyeru agar manusia suka mendermakan harta kepada saudaranya
dengan baik, jika saudaranya itu membutuhkan harta.
e. Riba dapat mengakibatkan kehancuran. Banyak orang-orang yang
kehilangan harta benda dan akhirnya menjadi fakir miskin.
f. untuk menghilangkan tipu-menipu di antara manusia dan juga
menghindari kemadaratan
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 24

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Studi kasus adalah penelitian yang diarahkan untuk mengumpul data, mengambil
makna dan memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.
Adapun melalui karakteristik yang dapat dipahami sebagai berikut :
a. Menempatkan obyek penelitian sebagai kasus.
b. Memandang kasus sebagai fenomena yang bersifat kontemporer
c. Dilakukan pada kondisi kehidupan sebenarnya
d. Menggunakan berbagai sumber data

Jenis-Jenis Studi Kasus


a. Penelitian studi kasus mendalam
b. Penelitian studi kasus intrumental
c. Penelitian studi kasus jamak

Pembahasan tentang studi kasus penelitian dalam segala bidang ilmu dianggap
penting karena itu menyadarkan kita akan adanya hambatan-hambatan dalam upayah
pencarian pengetahuan dan menujukkan pada kita cara-cara mengatasi hambatan-
hambatan itu. Belajar studi kasus adalah belajar tentang bagaimana melakukan
penelitian secara umum, yaitu belajar tentang prosedur dan konseptualisasi yang
mendasari proses penelitian kasus/masalah. Penulis menyimpulkan, bahwa penelitian
studi kasus lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Metode
studi kasus lebih didasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan
penghayatan.
IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI 25

DAFTAR PUSTAKA

Nazir, Moh, 2003. “Metode Penelitian”. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Moleong, Lexy, 2002. ”Metodologi Penelitian Kualitatif”. Bandung: PT. Remaja


Rosda Karya.

Arikunto, Suharsimi, 1998. ”Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek”.


Jakarta: Rineka Cipta
.
Tohirin, Metode Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan dan Bimbingan
Konseling,2012,Jakarta:Rajawali Pers

Furchan, Arief, (Penerjemah). 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan.


Yogyakarta: Pustaka pelajar