Anda di halaman 1dari 9

Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi

NIM : 161610101068

1. Gigi 75 dan 85 mengalami gangren radiks, dilakukan perawatan ekstraksi gigi.


Lalu setelah di ekstraksi diberikan space maintainer pada posisi gigi yang
diekstraksi supaya mempertahankan proksimal dimensi yang diperlukan, berarti
alat in harus mampu menahan desakan dan mesial maupun distalnya sehingga
space yang dipertahankan tetap ukurannya. Space maintainer yang dibuat haruslah
sederhana dan enak dipakai. tidak mengganggu lidah dan tidak menyesakkan
rongga mulut. Plat yang tebal dan besar akan menyita ruang gerak lidah sehingga
fungsi bicara terganggu. Semakin sederhana dan semakin kecil alat space
maintainer semakin disukai si pemakai, karena sangat mudah untuk adaptasinya
dan mudah pemeliharaannya (Yulina dkk., 2015).

Sumber : Yulina, V., Amila, Y., Dharli, S. 2015. Space Maintainer Tipe Crown
and Loop: Suatu Perawatan Tanggal Dini Gigi Sulung. Cakradonya Dent J. 7(1):
745-806

Indikasi Space Maintainer :


- Apabila terjadi kehilangan gigi sulung dan gigi penggantinya belum siap
erupsi menggantikan posisi gigi sulung tersebut dan analisa ruang menyatakan
masih terdapat ruang yang memungkinkan untuk gigi permanennya
- Jika ada kebiasaan yang buruk dari anak, misalnya menempatkan lidah di
tempat yang kosong atau menghisap bibir maka pemasangan space maintainer ini
dapat diinstruksikan sambil memberi efek menghilangkan kebiasaan buruk.
- Adanya tanda-tanda penyempitan ruang
- Kebersihan mulut (OH) baik
Kontraindikasi Space Maintainer :
- Tidak terdapat tulang alveolar yang menutup mahkota gigi tetap yang akan
erupsi.
- Kekurangan ruang untuk erupsi gigi permanen
- Ruangan yang berlebihan untuk gigi tetapnya erupsi
- Kekurangan ruang yang sangat banyak sehingga memerlukan tindakan
pencabutan dan perawatan orthodonti
- Gigi permanen penggantinya tidak ada
2. Pada pasien dalam fase geligi pergantian, ada 2 cara untuk mengukur tempat yang
dibutuhkan, yaitu:
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
a. Menggunakan Foto Rontgen

Metode yang dilakukan adalah dengan mengukur pada model gigi-gigi


permanen yang telah erupsi, sedangkan gigi-gigi yang belum erupsi (benih gigi)
diukur pada foto rontgen. Cara ini memiliki kelemahan, karena gambaran pada
foto rontgen dapat mengalami distorsi, bisa bertambah panjang atau bertambah
pendek. Untuk mengatasi keadaan ini, dapat dilakukan perhitungan agar didapat
ukuran benih gigi yang tepat. Rumus untuk menghitung lebar benih gigi adalah:

ukuran gigi sulung pada model = ukuran benih gigi sesungguhnya

ukuran gigi sulung pada foto ukuran benih gigi pada foto

b. Menggunakan Tabel

Cara lain untuk mengetahui lebar benih gigi adalah dengan menghitung
jumlah keempat lebar mesiodistal insisif rahang bawah permanen pada model,
jumlah yang didapatkan kemudian dicocokkan dengan tabel yang ada sesuai
dengan ras masing-masing pasien. Di Indonesia, tabel yang biasa digunakan
sebagai patokan pengukuran adalah tabel sitepu. Setelah dicocokkan dengan tabel,
maka akan didapatkan jumlah perkiraan gigi kaninus, dan kedua premolar pada
rahang bawah dan rahang atas di satu sisi. Untuk menghitung jumlah yang
dibutuhkan pada rahang bawah, jumlah keempat lebar mesiodistal insisif rahang
bawah permanen pada model ditambahkan dengan jumlah perkiraan gigi kaninus,
dan kedua premolar rahang bawah pada tabel dikali dua. Maka akan didapatkan
tempat yang dibutuhkan pada rahang bawah. Sedangkan untuk menghitung jumlah
yang dibutuhkan pada rahang atas, jumlah keempat lebar mesiodistal insisif
rahang atas permanen pada model ditambahkan dengan jumlah perkiraan gigi
kaninus, dan kedua premolar rahang atas pada tabel dikali dua. Maka akan
didapatkan tempat yang dibutuhkan pada rahang atas.

Setelah didapatkan data tempat yang tersedia dengan tempat yang dibutuhkan,
maka langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan. Tempat yang tersedia
dikurangi dengan tempat yang dibutuhkan. Apabila didapatkan kekurangan tempat
≤ 4 mm, maka tidak perlu dilakukan ekstraksi gigi permanen. Apabila didapatkan
kekurangan tempat 5-9 mm, maka dapat dilakukan ekstraksi atau non ekstraksi
dengan mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. Sedangkan apabila didapatkan
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
kekurangan tempat ≤ 4 mm, maka perlu dilakukan ekstraksi gigi permanen,
biasanya premolar.

 Analisis Moyers

Selain itu, juga bisa menggunakan analisis tabel moyers. Analisis Moyers
mempunyai tabel probabilitas Moyers yang digunakan untuk memperkirakan
ukuran gigi 3, 4, 5 yang akan erupsi, baik pada rahang atas maupun
rahang bawah sehingga analisis Moyers digunakan untuk mengukur
ruangan yang tersedia pada geligi pergantian. Sedangkan cara pengukuran
tempat yang tersedia pada analisis Moyers yaitu dengan cara membagi
lengkung geligi dalam beberapa segmen, yaitu dari mesial molar pertama
permanen kiri sampai dengan distal kaninus kiri, dari distal kaninus kiri
sampai mesial insisiv sentral kiri, dari mesial insisiv kanan sampai distal
kaninus kanan, dari distal kaninus kanan sampai mesial molar pertama
permanen kanan.

 Analisis Tanaka-Johnston

Tanaka-Johnston pertama kali memperkenalkan analisisnya pada tahun 1974.


Analisis Tanaka-Johnston merupakan pengembangan dari perhitungan regresi
Moyers untuk memprediksi lebar mesiodistal gigi kaninus, premolar pertama, dan
premolar kedua permanen yang akan erupsi. Analisis Tanaka-Johnston
dikembangkan dari 506 sampel yang berasal dari keturanan Eropa Utara. Analisis
Tanaka-Johnston memiliki koefisien korelasi sebesar 0,63 untuk maksilla dan 0,65
untuk mandibula. Sedangkan standard error of estimate yang dimiliki adalah 0,86
mm untuk gigi rahang atas dan 0,85 mm untuk gigi rahang bawah. Analisis ini
tidak membutuhkan foto radiografi Universitas Sumatera Utara 10 maupun tabel
sehingga mudah dihafal dan praktis digunakan. Analisis ini menggunakan lebar
mesiodistal keempat gigi insisivus mandibula dalam perhitungannya.Dalam
analisis Tanaka-Johnston, setengah dari jumlah lebar mesiodistal keempat gigi
insisivus mandibula dihitung. Kemudian ditambahkan 10,5 mm untuk
memprediksi jumlah lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar yang akan erupsi
pada mandibula dalam satu kuadran. Pada maksila rumus ditambahkan 11,0 mm
untuk memprediksi jumlah lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar pada
maksila dalam satu kuadran. Setelah itu, jumlah lebar gigi pada seluruh rahang
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
dijumlahkan dan dibandingkan dengan ruang yang tersedia pada rahang (space
available). Rumus analisis Tanaka-Johnston dapat dilihat pada rumus di bawah ini.
Rumus :
• Perkiraan Lebar Mesiodistal Kaninus dan Premolar Permanen Mandibula dalam
satu kuadran

• Perkiraan Lebar Mesiodistal Kaninus dan Premolar Permanen Maksila dalam


satu kuadran

Sumber : Rakosi, T., et al. 1993. Color Atlas of Dental Medicine, Orthodontic-
Diagnosis. Edisi I. Germany: Thieme Medical Publishers.

3. Cara menggunakan analisis moyers adalah sebagai berikut :

1. Lebar mesiodistal keempat gigi insisivus permanen mandibula diukur dan


dijumlahkan.

2. Jika terdapat gigi insisivus yang berjejal, tandai jarak antar insisivus dalam
lengkung gigi tiap kuadran dimulai dari titik kontak gigi insisivus sentralis
mandibula.

3. Ukur jarak tanda di bagian anterior (bagian distal gigi insisivus lateralis
permanen) ke tanda di permukaan mesial dari gigi molar pertama permanen
(space available). Dapat dilakukan menggunakan kawat atau dengan kaliper.

4. Jumlah lebar mesiodistal keempat gigi insisivus mandibula dibandingkan


dengan nilai pada tabel proporsional dengan tingkat kepercayaan 75% untuk
memprediksi lebar gigi kaninus dan premolar maksila dan mandibula yang akan
erupsi pada satu kuadran.

5. Bandingkan jumlah ruang yang tersedia dengan ruang yang diprediksi (dari
tabel) pada kedua rahang. Jika diperoleh nilai negatif, maka dapat disimpulkan
adanya kekurangan ruang
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
Sumber : Rakosi, T., et al. 1993. Color Atlas of Dental Medicine, Orthodontic-
Diagnosis. Edisi I. Germany: Thieme Medical Publishers.

Analisis Sitepu

Rahardjo (2009) menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan analisa ruang ini ada cara
lain yang digunakan yaitu dengan menghitung memakai rumus tertentu untuk
mengetahui lebar benih gigi. Prosedur cara ini adalah dengan menjumlahkan
keempat lebar mesio distal gigi insisivus rahang bawah kemudian dimasukkan
kerumus dan hasil perhitungan akan menunjukkan lebar mesio distal gigi kaninus
(C), premolar pertama (P1), dan premolar kedua (P2). Ruang yang dibutuhkan
dapat diperoleh dari jumlah lebar mesio distal gigi insisiv atas ataupun bawah
ditambah dua kali lebar mesio distal kaninus permanen dan premolar yang didapat
dari rumus. Rumus yang ada biasanya ditentukan untuk suatu ras tertentu dimana
Sitepu (1983) dalam tesisnya menemukan rumus yang sesuai dengan ras Deutero-
Melayu. Penelitian yang ia lakukan mencakup 215 anak dengan presentasi
keberhasilan rumus sebesar 99%. Rumus tersebut adalah lebar mesio distal gigi
kaninus (C), premolar pertama (P1), dan premolar kedua (P2) pada satu sisi (Y)
berdasar jumlah lebar mesio distal gigi insisivus rahang bawah (X) dengan
persamaan :
Y rahang atas = 0,484263X + 11,7181
Y rahang bawah = 0,460037X + 10,9117

Sumber : Rahardjo, P. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Airlangga University


Press

Selain menggunakan rumus, sitepu juga menggunakan table untuk menentukan


jumlah lebar mesio distal gigi caninus, premolar 1 dan premolar 2 :

Tabel Moyers – Sitepu


Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068

4. Perawatan selain kasus diatas:


 Pulpotomi
Pulpotomi bertujuan untuk melindungi bagian akar pulpa, menghindari rasa sakit
dan pembengkakan, dan pada akhirnya untuk mempertahankan gigi. Pulpotomi
dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa
yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut. Pulpotomi
juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan simtom-simtom
khususnya pada anak-anak. Pulpotomi dapat dibagi 3 bagian yaitu : (1) pulpotomi
vital, (2) pulpotomi devital/ mumifikasi (devitalized pulp amputatio), dan (3)
pulpotomi non vital/ amputasi mortal. Pulpotomi vital umunya dilakukan pada
gigi sulung dan gigi permanen muda. Pulpotomi gigi sulung umunya
menggunakan formokresol atau glutaraldehid. Pulpotomi devital atau mumifikasi
adalah pengembalian jaringan pulpa yang terdapat dalam kamar pulpa yang
sebelumnya di devitalisasi, kemudian dengan pemberian pasta anti septik,
jaringan dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptik. Untuk bahan
devital gigi sulung dipakai pasta para formaldehid. Pulpotomi non vital (mortal)
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
adalah amputasi pulpa bagian mahkota dari gigi yang non vital dan memberikan
medikamen/ pasta antiseptik untuk mengawetkan dan tetap dalam keadaan
aseptik. Tujuan dari pulpotomi non vital adalah untuk mempertahankan gigi
sulung non vital untuk space maintainer.
Sumber : Lubis, H.F. 2016. Perawatan Gigi Supernumary Rahang Atas pada
Masa Gigi Bercampur: Laporan Kasus. J Syiah Kuala Dent Soc. 1(2): 103-109
 Pulpektomi
Pengambilan seluruh jaringan pulpa dari kamar pulpa dan saluran akar. Pada gigi
molar sulung pengambilan seluruh jaringan secara mekanis tidak memungkinkan
sehubungan bentuk morfologi saluran akar yang kompleks.
 Pulp Capping
Tujuan pulp capping adalah untuk mempertahankan vitalitas pulpa dengan
menempatkan selapis material proteksi / terapeutik yang sesuai, baik secara
langsung pada pulpa yang terbuka berdiameter kurang lebih 1 mm atau di atas
lapisan dentin yang tipis dan lunak. Bahan yang dipakai Ca(OH)2 yang
mempunyai khasiat merangsang odontoblas membentuk dentin reparatif.
Pemberian Ca(OH)2 langsung mengenai pulpa pada gigi sulung dapat
merangsang odontoblas yang berlebihan sehingga menyebabkan resorpsi interna.
Terdapat dua teknik yakni pulp capping indirect (Pemberian bahan terapitik pada
dentin yang terinfeksi di atas pulpa pada kavitas yang dalam, dimana pulpa belum
terbuka.) dan pulp capping direct (Pemberian bahan terapitik / medikamen pada
daerah pulpa yang terbuka untuk merangsang terbentuknya barrier atau dentin
reparatif yaitu dentin barrier atau calcific barrier).
 Space Maintainer
a. Space maintainer lepasan (removable). Alat ini digunakan khusus bila gigi
hilang dalam satu kuadran lebih dari satu gigi. Alat lepasan ini sering
merupakan satu-satunya pilihan karena tidak adanya gigi penyangga yang
sesuai untuk alat cekat. Alat ini dapat ditambahkan gigi-gigi artificial untuk
mengembalikan fungsi estetik. Alat ini digunakan pada rahang atas maupun
rahang bawah dimana telah kehilangan gigi bilateral lebih dari satu, alat ini
juga digunakan pada kasus tanggalnya gigi M2 sulung sebelum erupsi
M1 permanen.
b. Space maintainer cekat (fixed) dan semi cekat (semi-fixed)
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
Perbedaan fixed space maintainers dan semi-fixed space maintainers adalah
pada tipe fixed, space maintainer cekat mempunyai 2 gigi abutment atau pada
sebelah mesial atau distal dari diastema. Sedangkan yang dimaksud dengan
semi-fixed space maintainer ialah space maintainer cekat dengan pegangan
pada satu sisi dari diastema. Beberapa tipe space maintainer cekat antara lain
lingual arch space maintainer, transpalatal space maintainer, nance palatal
space maintainer. Contoh dari tipe semi-fixed adalah distal shoe space
maintainer, band dan loop / crown dan loop / band dan bar space maintainer.
- Distal Shoe. Distal shoe digunakan pada kasus kehilangan dini gigi
molar kedua sulung sedangkan gigi molar satu permanennya hampir bererupsi.
Kehilangan dini gigi molar dua sulung menyebabkan gigi molar satu tetap
yang belum erupsi tersebut bergeser ke mesial dalam tulang alveolar. Cara
pembuatannya adalah dengan melakukan pencetakan model gigi sebelum atau
sesudah pencabutan gigi molar kedua sulung. Band kemudian diletakkan pada
model gigi molar satu sulung dan diberikan perpanjangan bar hingga ke distal
molar dua sulung setelah gigi molar dua sulungnya dikikir dari model. Sebuah
stainless steel kemudian disolder pada ujung distal loop/bar dan ditempatkan
pada area yang diekstraksi. Perpanjangan stainless steel ini bertindak sebagai
panduan gigi molar satu tetap untuk erupsi pada posisi yang seharusnya dan
ditempatkan 1mm di bawah mesial marginal ridge dari gigi molar yang belum
erupsi. Harus dipastikan ujung bar distal tidak berlebih karena dapat melukai
benih gigi tetap, dan tidak terlalu pendek karena jarak yang ada dapat
membuat molar tipping. Setelah alat siap di aplikasikan, lakukan ekstraksi gigi
molar kedua sulung. Band & bar dapat disementasikan ke molar satu sulung
dengan posisi distal bar masuk ke soket gigi molar kedua sulung.
c. Space maintainer dengan band dan tanpa band
Band and loop dirancang untuk mempertahankan ruang dari tanggalnya satu
gigi dalam satu kuadran. Alat ini digunakan pada kasus tanggalnya gigi molar
satu sulung dan molar dua sulung secara dini untuk mencegah migrasi ke
mesial yang berhubungan dengan erupsi gigi molar satu permanen, selain itu
alat ini juga digunakan pada kasus tanggalnya gigi kaninus sulung secara dini
untuk mencegah pergerakan insisivus lateral permanen.
d. Space maintainer non fungsional
Nama : Dhesyarmani Putri Rothschildi
NIM : 161610101068
Space maintainer fungsional digunakan untuk mempertahankan ruang dari
tanggalnya gigi sulung dimana benih gigi permanennya tidak tertutup oleh
tulang alveolar (sudah siap untuk erupsi).
e. Space maintainer aktif dan pasif
Space maintainer pasif digunakan apabila ruangan yang kosong masih cukup
untuk erupsi gigi tetap di bawahnya. Apabila ruangan kosong yang tertinggal
sudah menyempit, maka digunakanlah space maintainer aktif atau biasa
disebut space regainer untuk memperbesar ruangan agar diperoleh ruangan
yang cukup untuk erupsi gigi tetap.Space maintainer aktif digunakan pada
perawatan space loss pada tanggal premature molar dua sulung contoh : space
regainer.
f. Space maintainer kombinasi dari tipe di atas
Sumber : Yulina, V., Amila, Y., Dharli, S. 2015. Space Maintainer Tipe Crown
and Loop: Suatu Perawatan Tanggal Dini Gigi Sulung. Cakradonya Dent J. 7(1):
745-806