Anda di halaman 1dari 183

BAB n

KAJIAN PUSTAKA

A. Administrasi Pendidikan

1. Konsep Administrasi Pendidikan

Administrasi pendidikan terdiri dari dua kata yang masing-masing

punya pengertian tersendiri yaitu administrasi dan pendidikan. Administrasi

secara etimologis berasa! dari bahasa latin ad dan ministrare. Ad artinya

intensif, sedang ministrare berarti melayani, membantu, atau mengarahkan.

Jadi secara etimologis administrasi adalah melayani secara intensif.

Administrare terbentuk kata benda administro dan kata administravus yang

kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris yakni administration (Nawawi,

1982: 5), dalam bahasa Indonesia administrasi. Administrasi memiliki arti

yang sempit dan luas, dalam arti sempit administratie (bahasa Belanda)

terbatas pada kegiatan ketatausahaan yaitu suatu kegiatan daiam

penyusunan dan pencatatan keterangan yang diperoleh secara sistematis.

Administrasi dalam arti yang luas tidak hanya sekedar kegiatan tata usaha

tetapi juga membentuk/mencipta dan mengembangkan organisasi, dan

mencipta serta mengembangkan sistem manajemen (Pradjudi Admosudirdjo,

1982: 36). Administrasi dapat diartikan sebagai keseluruhan proses dari

aktivitas-aktivitas pencapaian tujuan secara efisien dengan dan melalui orang

lain (Robbins, 1998: 63). Herbert A. Simon (1989) mendefinisikan kegiatan-

kegiatan kelompok kerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Dari

beberapa pengertian tersebut di atas, secara sederhana ciri pokok untuk

36
37

dapat disebut sebagai administrasi adalah 1) kerjasama dila|i

sekelompok orang, 2) kerjasama dilakukan berdasarkan pemba

secara terstruktur, 3) kerjasama dimaksudkan untuk mencapai

untuk mencapai tujuan memanfaatkan sumber daya. Dengan demikian

administrasi dapat diartikan sebagai kegiatan kerjasama yang dilakukan

sekelompok orang berdasarkan pembagian kerja sebagaimana ditentukan

dalam struktur dengan mendayagunakan sumber daya untuk mencapai

tujuan secara efektif dan efisien.

Adminstrasi dapat dipandang sebagai seni, ilmu, bidang studi atau

disiplin akademik, dan profesi. Administrasi dipandang sebagai seni karena

para administrator dapat mencapai tujuan secara efektif bila memiliki

ketrampilan administratif atau ketrampilan manajerial, yaitu penggunaan

kemahiran, kecerdikan, pengalaman, firasat dan penerapan pengetahuan

secara sistematis dalam suatu kegiatan kerjasama untuk mencapai tujuan

yang diinginkan. Dipandang sebagai ilmu, administrasi sebagai suatu bidang

pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan

bagaimana orang bekerja sama. Dipandang sebagai bidang studi atau disiplin

akademik karena administrasi merupakan suatu disiplin akademik untuk

mengembangkan kemampuan serta keahlian administrasi, baik dalam teori

maupun seni. Dipandang sebagai profesi administrasi sebagai suatu jenis

lapangan pekerjaan yang memerlukan keahlian administratif yang diperoleh

melalui pendidikan dan latihan, serta memiliki kode etik pekerjaan.


38

Istilah pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli tergantung dari

sudut pandang yang dipergunakan. Driyarkara menyatakan pendidikan

adalah upaya memanusiakan manusia muda (Ditjen Dikti, 1984: 19). Crow

and Crow menyebut pendidikan adalah proses berisi bertagai macam

kegiatan yang cocok bagi individu-individu untuk kehidupan sosialnya dan

membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari

generasi ke generasi. John Dewey dalam Democracy and Education,

menyebutkan bahwa pendidikan merupakan proses pengajaran dan

bimbingan, bukan paksaan yang terjadi di dalam interaksi dengan

masyarakat. Dari berbagai pengertian tersebut di atas, secara umum

pendidikan dapat diartikan sebagai: 1) suatu proses pertumbuhan yang

menyesuaikan dengan lingkungan; 2) suatu pengarahan dan bimbingan yang

diberikan kepada anak dalam pertumbuhannya; 3) suatu usaha sadar yang

dikehendaki oleh masyarakat; 4) suatu pembentukan kepribadian dan

kemampuan anak dalam menuju kedewasaan.

Ciri umum atau unsur umum dalam pendidikan antara lain adalah: 1)

pendidikan mengandung unsur tujuan, yaitu individu yang kemampuan

dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya

sebagai seorang individu, warga negara atau warga masyarakat, 2) untuk

mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan usaha-usaha yang

disengaja dan berencana dalam memilih isi (materi), strategi kegiatan teknik

penilaian yang sesuai, 3) kegiatan tersebut dapat diberikan dalam lingkungan


39

keluarga, sekolah dan masyarakat, pendidikan formal dan pendidikan non

formal (Ditjen Dikti, 1984: 20).

Dari konsep administrasi dan pendidikan tersebut maka terbentuklah

administrasi pendidikan. Berikut ini disampaikan pendapat beberapa ahli

tentang administrasi pendidikan

(1) Hadari Nawawi (1982: 11) mengartikan bahwa administrasi pendidikan

adalah "serangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian

usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan

secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan dalam

lingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal".

(2) Engkoswara (1987: 56) mengartikan bahwa administrasi pendidikan

adalah "ilmu yang mempelajari penataan sumberdaya yaitu manusia,

kurikulum, atau sumber belajar dan fasilitas untuk mencapai tujuan

pendidikan secara optimal dan penciptaan suasana yang baik bagi

manusia yang turut serta dalam mencapai tujuan pendidikan yang

disepakati".

(3) Ngalim Purwanto (1989: 50) mengartikan bahwa administrasi

pendidikan "segenap proses pengerahan dan pengintegrasian segala

sesuatu, baik personal, spiritual dan material, yang bersangkutan

dengan pencapaian tujuan pendidikan".

(4) Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997: 4) mengartikan

bahwa administrasi pendidikan adalah

suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan


yang meliputi: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pelaporan, pengkordinasian, pengawasan, dan pembiayaan dengan
menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia baik
personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan
secara efektif dan efisien.

(5) Knezevich (1999:9) mengartikan administrasi pendidikan sebagai

berikut:

Educational administration is a specialized set of organizational


functions whose primary purpose are to insure the efficient and
effective delivery of relevant educational service as well as
implementation of legislative policies through planning, decision
making and leadershif behavior that keeps the organizations focused
on predeterminded objectives, provides for optimum allocation and
most prudent care of resources to insure their most productive uses,
stimulates and coordinated professional and other personnel to
produce acoherent social system and desirable organizational climate
and facilitates determination of essential changes to satisfy future and
emerging needs of student and society.

(6) Chester Haris dalam Idochi anwar (2000: 107) mendefinisikan bahwa

administrasi pendidikan " is the process of integrating the efforts of

personel and utilizing appropriate material in such away as to promote

effectively the development of human qualities".

Dari konsep administrasi, pendidikan, dan administrasi pendidikan

tersebut di atas administrasi pendidikan adalah 1) merupakan proses

keseluruhan dan kegiatan-kegiatan bersama yang harus dilakukan oleh

semua pihak yang ada sangkut pautnya dengan tugas-tugas pendidikan, 2)

mencakup kegiatan-kegiatan luas, yang meliputi perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan, khususnya dalam bidang

pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah, 3) bukan hanya

sekedar kegiatan tata usaha seperti yang dilakukan di kantor-kantor tata

usaha sekolah atau kantor-kantor inspeksi pendidikan lainnya.


41

2. Dasar dan Tujuan Administrasi Pendidikan

Administrasi akan berhasil baik jika didasarkan pada dasar-dasar yang

tepat. Dasar adalah suatu kebenaran yang fundamental yang dapat

digunakan sebagai landasan dan pedoman bertindak dalam kehidupan

bermasyarakat. Beberapa dasar yang perlu diperhatikan dalam administrasi

pendidikan antara lain adalah: 1) prinsip efisiensi, maksudnya efisien dalam

penggunaan semua sumber dana, tenaga dan fasilitas yang ada, 2) prinsip

pengelolaan, artinya melakukan pekerjaan manajemen terhadap bawahan,

yaitu merencanakan, pengorganisasian, mengarahkan, dan mengontrol, 3)

prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, artinya mengutamakan tugas-tugas

pengelolaan, dari pada tugas operatif, 4) prinsip kepemimpinan yang efektif,

maksudnya menggunakan gaya kepemimpinan yang efektif yaitu

memperhatikan dimensi-dimensi hubungan antar manusia, dimensi

pelaksanaan tugas, dan dimensi situasi dan kondisi yang ada, 5) prinsip

kerjasama maksudnya mengembangkan keijasama di antara orang-orang

yang terlibat, baik secara horizontal maupun secara vertical. Selain itu

pelaksanaan administrasi pendidikan di sekolah juga harus menggunakan

azas idiif yaitu Pancasila dan azas operasional administrasi pendidikan

adalah 1) fleksibilitas, 2) efisiensi dan efektivitas, 3) orientasi pada tujuan, 4)

kontinuitas, dan 5) pendidikan seumur hidup.

Tujuan administrasi pendidikan adalah agar tujuan pendidikan tercapai.

Seperti yang dikemukakan oleh Sergiovanni (1975) ada empat tujuan

administrasi yaitu: a) efektivitas produksi, b) efisiensi, c) kemampuan


42

menyesuaikan diri, dan d) kepuasan kerja. Keempat tujuan ini dapat

digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu penyelenggaraan sekolah.

Tujuan administrasi pendidikan di sekolah adalah untuk menunjang

tercapainya tujuan pendidikan sekolah tersebut.

Secara agak rinci, tugas dan kewajiban administrasi pendidikan

sehubungan dengan tujuan pendidikan adalah sebagai berikut: 1) berusaha

agar tujuan pendidikan tampil secara formal dengan jalan merumuskan,

menyeleksi, menjabarkan dan menetapkan tujuan pendidikan yang akan

dicapai sesuai dengan lembaga atau organisasi pendidikan yang

bersangkutan secara formal; 2) menyebarluaskan dan berusaha

menanamkan tujuan pendidikan itu kepada anggota lembaga, sehingga

tujuan pendidikan tersebut menjadi kebutuhan dan pendorong kerja para

anggota lembaga; 3) memilih, menyeleksi, menjabarkan dan menetapkan

proses berupa tindakan, kegiatan dan pola kerja yang diperhitungkan dapat

memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan telah ditetapkan; 4) mengawasi

pelaksanaan proses pendidikan dan lainnya dengan memantau, memeriksa

dan mengendalikan setiap kegiatan dan tindakan pada setiap tahap proses

sistem; 5) menilai hasil yang telah dicapai dan proses yang sedang atau telah

berlaku, mengupayakan agar informasi tentang hasil dan proses itu menjadi

umpan balik yang dapat memperbaiki proses dan hasil selanjutnya.

3. Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan

Bidang-bidang yang tercakup dalam administrasi pendidikan sangat

banyak dan luas. Secara umum ruang lingkup administrasi pendidikan sangat
43

penting dan periu diketahui oleh para Kepala Sekolah dan guru-guru pada

umumnya adalah sebagai berikut:

a. Program pengajaran, yang meliputi antara lain

1) Berpedoman dan mengetrapkan apa yang tercantum dalam kurikulum

sekolah yang bersangkutan, dalam usaha mencapai dasar-dasar dan

tujuan pendidikan dan pengajaran.

2) Melaksanakan organisasi kurikulum beserta metode-metodenya,

disesuaikan dengan pembaharuan pendidikan dan lingkungan

masyarakat.

3) Agar dapat mencapai sasaran secara optimal diperlukan adanya

jadwal kerja meliputi kegiatan-kegiatan harian, mingguan, bulanan,

caturwulan/' semesteran, dan tahunan untuk Kepala Sekolah, guru,

dan siswa.

b. Tata usaha sekolah, yang meliputi:

1) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha

2) Pengurusan surat

3) Pengelolaan arsip

4) Jenis surat dan susunannya

c. Kesiswaan, yang meliputi:

1) Organisasi murid .. .

2) Masalah kesehatan murid

3) Masalah kesejahteraan murid

4) Kegiatan ekstrakurikuler
5) Evaluasi kemajuan murid

6) Bimbingan dan penyuluhan bagi murid

d. Kepegawaian, yang meliputi:

1) Pengangkatan dan penempatan tenaga guru

2) Organisasi personel guru

3) Masalah kepegawaian

4) Penilaian kinerja guru

5) Refresing dan up-grading guru-guru

e. Sarana dan Prasarana, yang meliputi:

1) Perencanaan perlengkapan

2) Pengadaan perlengkapan

3) Penyimpanan dan penyaluran perlengkapan

4) Pengaturan tata letak dan pendayagunaan perlengkapan

5) Pemeliharaan perlengkapan

6) Penginventarisan

f. Keuangan, yang meliputi:

1) Rencana anggaran dan belanja sekolah

2) Sumber pembiayaan

3) Bukti pengeluaran dan pertanggungjawaban keuangan

4) Pemeriksaan kas

5) Uang yang harus dipertanggungjawabkan

g. Hubungan dengan Masyarakat, yang meliputi:

1) Profil organisasi
45

2) Potensi masyarakat

3) Bentuk dan dokumen kerja sama

4) Hubungan dengan Komite Sekolah, Dewan Pendidikan (Stakeholders)

4. Manajemen Sekolah

Untuk melihat kedudukan kinerja dalam suatu organisasi, adalah

sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu apa sebenarnya organisasi.

Raymond E. Miles (1995: 9) mendefinisikan organisasi sebagai berikut: "an

organization is nothing than a col lection of people grouped together around a

technology which is operated to transform inputs from its environment into

marketable goods or services". Dari konsep ini terlihat bahwa organisasi yaitu

adanya sekelompok orang, dengan teknologi input dijadikan barang dan jasa

(tujuan). Sedangkan Herbert G. Hicks (1987: 14) mendefinisikan "an

organization is structured process in which persons interact for objectives".

Konsep ini mengandung pengertian bahwa orang-orang dalam mencapai

tujuan harus berinteraksi atau bekerjasama. Hadari Nawawi (2000: 10)

secara statis, organisasi adalah wadah berhimpun sejumlah manusia karena

memiliki kepentingan yang sama. Secara dinamis, organisasi adalah proses

kerjasama sejumlah manusia (dua orang atau lebih) untuk mencapai tujuan.

Dari berbagai pendapat tentang organisasi, pengertian organisasi

dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu 1) organisasi sebagai

wadah kumpulan orang; 2) organisasi sebagai proses pembagian kerja; dan

3) organisasi sebagai sistem kerjasama, sistem hubungan atau sistem sosial.


46

Organisasi sebagai wadah berarti: 1) organisasi merupakan

penggambaran jaringan hubungan kerja dan pekerjaan yang sifatnya formal

atas dasar kedudukan atau jabatan yang diperuntukkan untuk setiap anggota

organisasi; 2) organisasi merupakan susunan hirarki yang secara jelas

menggambarkan garis wewenang dan tanggungjawab; 3) organisasi

merupakan alat yang berstruktur permanen yang fleksibel, sehingga apa

yang terjadi dan akan terjadi dalam organisasi relative tetap sifatnya dan

karenanya dapat diprediksi. Organisasi sebagai proses pembagian kerja, dan

sistem kerjasama, sistem sosial, tidak lain adalah organisasi sebagai proses

yang lebih bermakna sebagai aktivitas pengorganisasian.

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa organisasi adalah kumpulan orang yang melakukan interaksi

berdasarkan hubungan kerja, pembagian kerja dan otoritas yang tersusun

secara hirarki dalam suatu struktur untuk mencapai tujuan.

Organisasi didirikan manusia karena kesamaan kepentingan, baik

dalam rangka mewujudkan hakekat kemanusiaannya maupun secara

berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhannya. Etsioni (1987: 6)

mendefinisikan tujuan organisasi sebagai suatu pernyataan tentang keadaan

yang diinginkan di mana organisasi bermaksud untuk merealisasikan dan

sebagai pernyataan tentang keadaan di waktu yang akan datang di mana

organisasi sebagai kelompok mencoba untuk memenuhinya. Tujuan

organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasi yang tidak

terdapat sekarang tetapi dimaksudkan untuk dicapai di waktu yang akan


47

datang melalui kegiatan-kegiatan organisasi. Jadi, dua unsur penting tujuan

adalah 1) hasil-hasil akhir yang diinginkan di waktu yang akan datang; dan 2)

usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan sekarang di arahkan. Tujuan-tujuan ini

dapat berupa tujuan umum atau tujuan khusus., tujuan akhir atau tujuan

sementara. Pencapaian tujuan organisasi itu sekaligus merupakan kinerja

organisasi.

Sekolah sebagai organisasi pendidikan untuk melihat keberhasilannya

unsur penting adalah hasil akhir yang diinginkan di waktu yang akan datang

yaitu prestasi belajar siswa, dan usaha-usaha atau kegiatan sekarang yang

diarahkan untuk mencapai pencapaian itu yaitu proses belajar mengajar,

dimana ke dua hal tersebut merupakan ukuran kinerja sekolah.

Sekolah merupakan kumpulan orang yang terdiri dari siswa, guru,

Kepala Sekolah, tenaga tata usaha, tenaga laboran, tenaga perpustakaan,

dan tenaga pendukung lainnya. Tenaga tersebut saling berinteraksi bekerja

sama dalam proses transformasi yang membutuhkan sumber daya yang lain

yaitu dana, sarana prasarana, kurikulum, dan sebagainya dalam rangka

mencapai tujuan yaitu lulusan yang bermutu.

Dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan seperti tersebut di atas

sekolah sebagai suatu organisasi memerlukan pengelolaan atau manajemen

di tingkat sekolah, hal ini diperlukan karena masukan berbagai sumber daya,

agar pengelolaannya efektif diperlukan kepemimpinan Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan,

menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang


48

tersedia. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang

dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan, dan

sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara

terencana dan bertahap. Oleh karena itu, Kepala Sekolah dituntut

mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar

mampu mengambil inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah

melalui proses belajar mengajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan

mutu lulusan.

Kepemimpinan Kepala Sekolah yang berhasil perlu didukung sumber

daya termasuk dana atau pembiayaan pendidikan. Untuk mencukupi

kebutuhan akan pembiayaan pendidikan diperlukan partisipasi masyarakat

dalam hal ini peran Komite Sekolah, Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa

makin tinggi tingkat partisipasi, makin besar rasa memiliki, makin besar rasa

memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab, dan makin besar rasa

tanggungjawab, makin besar pula tingkat dedikasinya.

Sekolah merupakan wadah sehingga Kepala Sekolah terkait dengan

pengelolaan tenaga kependidikan, mulai dari analisis kebutuhan,

perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, hingga

sampai pada imbal jasa merupakan tugas penting Kepala Sekolah terlebih

berkaitan dengan pengembangan tenaga kependidikan harus dilakukan terus

menerus mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

begitu pesat sehingga tenaga kependidikan khususnya guru dapat tampil


49

prima dan bermutu dalam proses belajar mengajar yang

dapat meluluskan siswa yang bermutu.

Dengan demikian budaya mutu tertanam pada unsi

dalam manajemen sekolah sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh

profesionalisme (Depdiknas, 2001: 12). Budaya mutu memiliki elemen-

elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas digunakan untuk perbaikan; (b)

kewenangan sebagai tanggungjawab; (c) hasil diikuti rewards atau

punishments', (d) kolaborasi, sinergi, bukan kompetisi sebagai basis

kerjasama; (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya; (f)

atmosfir keadilan; (g) imbal jasa sepadan nilai pekerjaan.

Atas dasar pemikiran di atas maka munculnya kebersamaan dalam

manajemen sekolah karena mutu proses belajar mengajar dan mutu lulusan

merupakan hasil kerjasama seluruh komponen yang ada dalam manajemen

sekolah bukan hasil kerja individual sehingga memiliki kesanggupan kerja

yang tidak selalu menggantungkan pada atasan atau orang lain sehingga

menjadikan sekolah itu mandiri yang mampu menjalankan tugasnya.

Kebersamaan dan kemandirian memerlukan keterbukaan baik dalam

pengambilan keputusan, penggunaan uang, dan sebagainya sehingga dapat

dijadikan alat pengawasan manajemen sekolah. Dari pengawasan ini dapat

digunakan untuk melakukan perubahan khususnya perubahan menuju

peningkatan mutu proses belajar mengajar maupun mutu lulusan.


50

B. Kinerja Sekolah

Menurut Bernardin dan Russel (1993: 378) "Performance is defined

as record of out-comes produces on a specified job function or activity

during a specified time period". Kinerja adalah prestasi yang dapat

dicapai oleh seseorang atau organisasi berdasarkan kriteria dan alat

ukur tertentu. Parameter yang paling umum digunakan, menurut Druker

(1977: 23) adalah efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Cascio (1992:

267) "....is the systematic description of the job relevant strengths and

weaknesses of an individual or group", la menekankan bahwa yang

dinilai *job relevant strengths and weaknesses".

Kinerja merupakan kondisi yang harus diketahui dan

diinformasikan kepada pihak-pihak tertentu untuk mengetahui tingkat

pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban

suatu organisasi serta mengetahui dampak positif dan negatif suatu

kebijakan operasional yang diambil. Dengan adanya infomasi mengenai

kinerja suatu instansi pemerintah, akan dapat diambil tindakan yang

diperlukan seperti koreksi atas kebijakan, meluruskan kegiatan-kegiatan

utama dan tugas pokok instansi, bahan untuk perencanaan,

menentukan tingkat keberhasilan (persentase pencapaian misi)

organisasi untuk memutuskan suatu tindakan.

Kinerja dipergunakan manajemen untuk melaksanakan penilaian

secara periodik mengenai efektivitas operasional suatu organisasi,

bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar, dan


51

kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Kinerja dapat juga diartikan

sebagai prestasi yang dapat dicapai organisasi dalam suatu periode

tertentu. Prestasi yang dimaksud adalah efektivitas operasional

organisasi baik dari segi manajerial maupun ekonomomis operasional.

Prestasi organisasi merupakan tampilan wajah organisasi dalam

menjalankan kegiatannya. Dengan kinerja, organisasi dapat mengetahui

sampai peringkat keberapa prestasi keberhasilan atau bahkan mungkin

kegagalannya dalam menjalankan amanah yang diterimanya.

Kinerja merupakan gambaran mengenai sejauh mana

keberhasilan/ kegagalan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi

organisasi. Pengukuran kinerja ini dapat dilakukan oleh instansi sendiri

atau bekerja sama dengan pejabat dan pelaksana pemeriksaan.

Pengukuran kinerja ini sangat penting bagi organisasi yang

berorientasikan hasil untuk mengukur kinerjanya sendiri dan melihat

tingkat kinerja yang telah dicapai atau hasil yang diperoleh. Pengukuran

kinerja ini, dapat dilakukan dengan baik jika ada satuan pengukuran

kinerja yang sahih. Cara-cara pengukuran yang tepat akan sangat

tergantung pada sistem informasi yang ada untuk pengumpulan data

yang tepat dan akurat.

Informasi kineija merupakan suatu alat bagi manajemen untuk menilai

dan melihat perkembangan yang dicapai selama ini atau dalam jangka waktu

tertentu. Informasi kinerja yang dapat dihasilkan meliputi kinerja ekonomis

dan kinerja manajemen. Pada banyak sektor pemerintah, ukuran laba


52

sebagai pengukuran kinerja hampir tidak ada. Disamping itu, kinerja

keuangan dan dampak jasa yang diberikan sulit untuk dinilai, namun

demikian sangatlah penting untuk meyakinkan bahwa sumber daya telah

dialokasikan secara efektif kepada masyarakat disamping hasil kegiatan

ataupun dampaknya telah berhasil guna dan berdaya guna. Bagi instansi

pemerintah, yang terpenting adalah penyajian infomasi institusi secara

menyeluruh (komprehensif) yang tidak parsial. Informasi kinerja integral ini

diharapkan bermanfaat bagi pengguna dalam mengambil setiap keputusan

yang diperlukan.

Kinerja merupakan tingkat efisiensi dan efektivitas serta inovasi dalam

pencapaian tujuan oleh pihak manajemen dan divisi-divisi yang ada dalam

organisasi. Dari sudut pandangan organisasi yang berorientasi pada

peningkatan laba (profit-oriented organization) kinerja dibagi dalam dua

bentuk. Pertama adalah kinerja ekonomis, yaitu kinerja yang ditekankan pada

seberapa jauh organisasi sebagai lembaga ekonomis mampu menghasilkan

laba yang telah ditetapkan agar dapat dicapai visi dan misi organisasi. Kedua

adalah kinerja manajemen. Kinerja ini memperlihatkan kemampuan

manajemen, dalam menyelenggarakan proses perencanaan, pengendalian

dan pengorganisasian terhadap kegiatan keseharian organisasi dalam suatu

kerangka besar pencapaian visi organisasi.

Kinerja manajemen pada dasarnya menilai kemampuan setiap individu

dan kelompok individu secara kolektif organisasi untuk melaksanakan peran

yang dimainkan dalam kegiatan keseharian organisasi. Dengan kinerja ini


53

motivasi organisasi akan dirangsang kearah pencapaian visi dan misi

organisasi. Dengan kinerja manajemen diharapkan organisasi dapat (1)

mengelola operasionalisasi organisasi secara efektif dan efisien; (2)

membantu pengambilan, keputusan yang bersangkutan dengan

operasionalisasi kegiatan organisasi; (3) mengidentifikasi kebutuhan

pelatihan dan pengembangan organisasi; (4) menyediakan umpan balik;

dan (5) menyediakan dasar bagi implementasi merit system.

Kinerja ekonomis memperlihatkan kemampuan organisasi dalam

menghasilkan keberdayaan ekonomis untuk kesejahteraan seluruh anggota

organisasi dan memberikan dampak secara luas pada kemaslahatan

masyarakat luas. Dalam organisasi badan usaha, kinerja ekonomis

ditampakkan dengan kemampuan perusahaan, untuk menghasilkan kas dan

setara kas yang terwakili dalam bentuk pencapaian laba dari aktivitas

organisasi. Profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensi sumber

daya ekonomis yang mungkin, dikendalikan di masa yang akan datang.

Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas organisasi dalam

menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada.

Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan

suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan,

misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan perencanaan

strategis (strategic planning) suatu organisasi. Secara umum dapat juga,

dikatakan bahwa kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh

organisasi dalam periode tertentu. Prestasi tersebut merupakan efektivitas


54

operasional organisasi baik dilihat dari sudut pandang keuangan (fmancial

vievî) dan terutama pada sisi manajemen (management view).

Terlepas dari besar, jenis, sektor, atau spesialisasinya, setiap

organisasi biasanya cenderung tertarik pada pengukuran kinerja dalam aspek

berikut ini:

1. Aspek Keuangan

Aspek keuangan meliputi anggaran rutin dan pembangunan suatu instansi

pemerintah. Karena aspek keuangan dapat dianalogikan sebagai aliran

darah dalam tubuh manusia, maka aspek keuangan merupakan aspek

penting yang perlu diperhatikan dalam pengukuran kinerja.

2. Kepuasan Pelanggan

Dalam globalisasi perdagangan, peran dan posisi pelanggan sangat

penting dalam penentuan strategi perusahaan, Hal yang sama juga terjadi

dalam instansi pemerintah. Dengan semakin banyaknya tuntutan

masyarakat akan pelayanan yang berkualitas, maka instansi pemerintah

dituntut untuk secara terus-menerus memberikan pelayanan yang

berkualitas prima. Untuk itu, pengukuran kinerja perlu didesain sehingga

pimpinan dapat memperoleh informasi yang relevan atas tingkat kepuasan

pelanggan.

3. Operasi Bisnis Internal

Informasi operasi bisnis internal diperlukan untuk memastikan bahwa

seluruh kegiatan instansi pemerintah sudah seirama untuk mencapai tujuan

dan sasaran organisasi seperti yang tercantum dalam perencanaan


55

^VtP
strategik. Seiain itu, informasi operasi bisnis internal diperlu^a^

melakukan perbaikan terus-menerus atas efisiensi dan efektivitas sjfjSESShS^ jt

perusahaan.

4. Kepuasan Pegawai

Dalam setiap organisasi, pegawai merupakan aset yang harus dikelola

dengan baik. Apalagi dalam perusahaan yang banyak melakukan inovasi,

peran strategis pegawai sungguh sangat nyata. Hal serupa juga terjadi

pada instansi pemerintah. Apabila pegawai tidak terkelola dengan baik,

maka kehancuran dari instansi pemerintah sulit dicegah.

5. Kepuasan Komunitas dan Shareholders/Stakeholders

Instansi pemerintah tidak beroperasi in vacum, artinya kegiatan instansi

pemerintah berinteraksi dengan berbagai pihak yang menaruh kepentingan

terhadap keberadaannya. Untuk itu informasi dari pengukuran kinerja perlu

didesain untuk mengakomodasi kepuasan dari para stakeholders.

6. Waktu

Ukuran waktu juga merupakan variabel yang perlu diperhatikan dalam

mendesain pengukuran kinerja. Betapa sering kita membutuhkan informasi

untuk pengambilan keputusan, namun informasi tersebut lambat diterima.

Sebaliknya informasi yang ada sering sudah tidak relevan atau kadaluarsa.

Perhatian dan penetapan pengukuran pada aspek di atas merupakan

bagian yang signifikan atas sistem pengukuran kinerja yang berhasil.

Disamping kesamaan dalam aspek informasi yang diharapkan dari kineqa,

ada perbedaan penekanan pengukuran kinerja dalam organisasi sektor


56

swasta dan organisasi publik, yaitu pada sektor swasta pengukuran utama

atas keberhasilan kinerja adalah profit (keuntungan), sedangkan pada

organisasi publik, kinerja diukur dengan cara membandingkan misi dan tujuan

dengan pencapaiannya.

Keberhasilan instansi pemerintah (organisasi publik) sering diukur dari

sudut pandang masing-masing stakeholders, misalnya lembaga legislatif,

instansi pemerintah, pelanggan, pemasok, dan masyarakat umum. Idealnya,

pengukuran kinerja yang dipakai oleh instansi pemerintah disusun setelah

memperoleh masukan dari lembaga konstituen, sehingga diperoleh suatu

konsensus atas apa yang diharapkan oleh stakeholders atas organisasi

tersebut. Oleh karena itu, perlu disepakati variabel pengukuran kinerja yang

akan dipakai dalam sistem pengukuran kinerja.

Agar pengukuran kinerja dapat dilaksanakan dengan baik, perlu

diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Membuat suatu komitmen untuk mengukur kinerja dan memulainya

segera. Hal yang perlu dilakukan oleh instansi adalah segera mungkin

memulai upaya pengukuran kinerja dan tidak perlu mengharap

pengukuran kinerja akan langsung sempurna. Nantinya akan dilakukan

perbaikan atas pengukuran kinerja yang telah disusun.

2. Perlakukan pengukuran kinerja sebagai suatu proses yang

berkelanjutan (on-going process). Pengukuran kinerja merupakan

suatu proses yang bersifat interaktif, Proses ini merupakan suatu


57

cerminan dari upaya organisasi untuk selalu berupaya memperbaiki

kinerja.

3. Sesuaikan proses pengukuran kinerja dengan organisasi. Organisasi

harus menetapkan ukuran kinerja yang sesuai dengan besarnya

organisasi, budaya, visi, tujuan, sasaran, dan struktur organisasi.

Telah dipahami bahwa organisasi sangat interdependensi dengan

lingkungannya. Antara organisasi dengan lingkungannya baik internal

maupun eksternal merupakan suatu sistem yang mencakup organisasi

dengan pelanggannya, jasa dan produknya, sistem balas jasa, teknologi,

struktur organisasi, dan lain-lain. Untuk meningkatkan kineija organisasi

hal-hal yang demikian perlu dipahami dengan seksama. Agar pemahaman

terhadap lingkungan ekosistem organisasi tersebut dapat lebih komprehensif,

perlu diketahui tingkatan kinerja yang akan dicapai oleh organisasi. Ketiga

tingkatan kinerja tersebut meliputi (a) tingkatan organisasi (organization

level), (b) tingkatan proses (process level): dan (c) tingkatan pekerjaaan (job

level) Kalau dicoba dengan suatu personifikasi, tingkatan organisasi

merupakan kerangka tubuh manusia yang menopang orang tersebut untuk

dapat terus berdiri menjalankan tugas-tugasnya, tingkatan proses merupakan

otot-otot yang membuat kerangka tersebut dapat bergerak sesuai dengan

arah yang diinginkan, dan tingkatan pekerjaan merupakan sel-sel tubuh untuk

dapat membuat tubuh manusia tetap dapat menjalankan fungsinya dengan

baik dalam suatu senyawa kimiawi di organisasi.


58

1. Tingkatan organisasi

Kinerja pada tingkatan organisasi merupakan hubungan organisasi dengan

pasar dan pelanggannya. Hal-hal yang mempengaruhi kinerja pada

tingkatan organisasi meliputi antara lain strategi, tujuan organisasi, struktur

organisasi, dan penggunaan sumber daya yang tersedia.

2. Tingkatan proses

Tingkatan proses merupakan arus kerja yang dapat menyelesaikan

pekerjaan dengan baik. Proses yang tercakup dalam tingkatan ini meliputi

antara lain; product design process, merchandising process, production

process, sales process, distribution process, dan billing process.

Keberhasilan suatu organisasi sangat terkait dengan prosesnya. Proses

yang mengarah pada kinerja yang diinginkan adalah apabila proses

tersebut sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan organisasi telah bekerja

secara efisien, efektif sesuai dengan keinginan pelanggan dan

organization's requirements. Pengetahuan akan kinerja yang dipengaruhi

oleh proses dalam organisasi akan membantu organisasi untuk memahami

aturan (compliance) sehingga dapat memahami apa yang diinginkan oleh

stakeholders.

3. Tingkatan pekerjaan/tingkatan performer

Output organisasi diproduksi melalui suatu proses, Proses

diselenggarakan oleh individual yang menjalankan berbagai tugas.

Sebagai sel dalam tubuh manusia, variabel yang menjalankan tugas-tugas

tersebut menjadi sangat penting untuk penentuan kesehatan organisasi


59

secara keseluruhan. Variabel yang terlibat dalam tingkatan ini meliputi

hiring and promotion, responsibilities and standards, feedback, reward,

training. Pihak atau individu yang menjalankan proses untuk menghasilkan

output yang sesuai dengan keinginan pelanggan (stakeholders) menjadi

sangat penting. Pandangan sumber daya manusia sebagai biaya variabel

bertentangan dengan fungsi penting sumber daya manusia pada proses

dalam organisasi. Untuk itulah individu atau sumber daya manusia

ditempatkan sebagai pihak yang melaksanakan proses dan yang

menyelesaikan persoalan-persoalan dalam organisasi.

Berdasarkan pembahasan di atas maka sekolah sebagai suatu

organisasi untuk mengukur keberhasilan dilihat dari kinerja proses (mutu

proses) dan kinerja output (mutu lulusan). Sedang komponen yang digunakan

sebagai indikator untuk menilai keberhasilan sekolah (Kanwil Depdikbud

Provinsi Jawa Tengah, 1997: 7) terdiri atas:

1. Ketercapaian tujuan sekolah

2. Organisasi dan manajemen sekolah

3. Tenaga Kependidikan

4. Kegiatan Belajar Mengajar

5. Lingkungan sekolah

6. Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan

7. Kesiswaan

8. Hubungan kerja sekolah dengan masyarakat


60

Sekolah sebagai satuan pendidikan (pelaksana pendidikan) yang

merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen masukan

utama yaitu siswa (main inputy, resources input yang terdiri dari sumber daya

manusia, kurikulum, sarana/prasarana, dana, dan manajemen; environmental

input yang terdiri dari ekonomi, politik, sosial, budaya, dan teknologi;

masukan-masukan tersebut diproses dalam tranformasi dan interaksi yaitu

kegiatan belajar mengajar yang menghasilkan lulusan ( o u t p u i U n t u k dapat

menghasilkan mutu lulusan maka prosesnya atau kegiatan belajarnya juga

harus bermutu.

1. Mutu Proses

Kegiatan belajar mengajar yang bermutu terdiri dari empat aspek yaitu

kelengkapan dan pemahaman kurikulum SMA, persiapan KBM, pelaksanaan

KBM, penilaian KBM (Depdikbud Kanwil Propinsi Jawa Tengah, 1998).

Kelengkapan dan pemahaman kurikulum diindikasikan bahwa di sekolah

terdapat kelengkapan dokumen kurikulum, tingkat pemahaman kurikulum

oleh unsur pimpinan dan guru, perangkat KBM dengan Lembar Kerja Siswa

(LKS), memiliki kumpulan surat perubahan dan petunjuk kelengkapan

kurikulum. Persiapan KBM dimaksudkan adanya keterlaksanaan penyusunan

satuan pelajaran, dan adanya keterkaitan program di sekolah dengan

lingkungan. Keterlaksaan penyusunan pelajaran melalui langkah-langkah

analisis materi pelajaran (AMP), program catur wulan/semester, menyusun

satuan pelajaran, menyusun rencana pelajaran, agenda guru. Pelaksanaan


61

KBM di sekolah dimaksudkan terciptanya kualitas proses pengajaran, tingkat

keterlaksanaan prinsip belajar tuntas, ketersediaan buku pegangan dan

referensi serta lembar pengayaan dan perbaikan proses pembelajaran,

adanya dokumen pelaksanaan KBM (jurnal kelas, agenda guru, dan

sebagainya). Kualitas pengajaran diindikasikan dengan tidak membiarkan

siswa belajar dengan cara yang salah, tidak meninggalkan siswa pada saat

belajar, penyampaian materi sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai,

menggunakan bahan ajar (modul, buku diktat, lembar kerja siswa),

menggunakan metode pendekatan student's centered yang sesuai dengan

materi, tersedianya alat peraga yang siap pakai, tersedia bahan dan alat yang

sesuai dengan kebutuhan, menggunakan media pembelajaran, memotivasi

minat belajar siswa di luar sekolah, tidak menjadikan siswa sebagai

pendengar yang baik waktu berlangsungnya KBM, dan terselenggaranya

kegiatan ekstra kurikuler. Penilaian KBM ditandai dengan tingkat

keterlaksananya ulangan harian, dan tingkat keterlaksanaan ulangan umum,

ebta/ebtanas, atau ujian akhir nasional, dan ujian akhir sekolah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam KBM yang

berkualitas terdiri dari kegiatan perencanaan pengajaran, pelaksanaan

pengajaran, hubungan antar pribadi, dan evaluasi

a. Perencanaan pengajaran

Seorang guru dalam menjalankan tugasnya harus mampu

merencanakan pengorganisasian bahan pengajaran yang akan diajarkannya,

merencanakan pengelolaan kelas, merencanakan penggunaan media dan


62

sumber pengajaran, yang secara keseluruhan ataupun kategorial merupakan

pedoman dalam kegiatan PBM. Kemampuan perencanaan pengajaran

penting artinya karena perencanaan pengajaran merupakan titik berangkat

dalam rangkaian kegiatan kepengajaran guru. Tanpa perencanaan yang baik

pelaksanaan pekerjaan cenderung tidak terarah dan tidak tertib yang akan

berakibat jelek terhadap hasil. Perencanaan pengajaran di sekolah lebih

populer dalam bentuk satuan pelajaran (satpel).

b. Pelaksanaan Pengajaran

Pelaksanaan pengajaran merupakan tindak lanjut tugas guru dimana

secara riil guru memainkan peran-peran tugasnya. Apa yang hendak

dikomunikasikan, diajarkan atau bahan pengajaran yang harus diserap dan

dikembangkan siswa akan ditentukan oleh bagaimana guru

mengomunikasikannya.

Pelaksanaan pengajaran, ditinjau dari tugas guru, dapat dikatakan

merupakan inti tugasnya. Apa yang telah direncanakan kalau tidak

diaplikasikan dalam tindak kepengajaran akan sia-sia dan tidak akan

mencapai tujuan yang telah direncanakan. Tanpa pelaksanaan, rencana akan

menjadi angan-angan belaka.

Pelaksanaan pengajaran mencakup penggunaan metode, media dan

bahan, berkomunikasi, mendemonstrasikan khasanah metode mengajar,

mendorong dan menggalakan ketertiban siswa, mendemonstrasikan

penguasaan mata pelajaran, dan mengorganisir waktu, ruang dan bahan

pengajaran.
63

c. Hubungan Antar Pribadi

Perencanaan pengajaran yang kemudian diwujudkan dalam

pelaksanaan pengajaran memerlukan dukungan suasana belajar mengajar

yang baik. Untuk itu guru harus mendptakan suasana yang mendukung

sehingga materi pelajaran yang akan disampaikan dapat diserap siswa.

Hubungan antar pribadi dalam PBM penting artinya mengingat komunikasi

yang lancar dan suasana yang baik akan memudahkan siswa menangkap

apa yang dimaksudkan, dan hal itu hanya dimungkinkan apabila hubungan

interaksi dalam kelas tercipta sedemikian rupa.

Dalam PBM hubungan antar pribadi dapat dilihat dari kemampuan guru

mengembangkan sikap positif siswa, bersikap terbuka, menampilkan

kegairahan dalam mengajar, mengelola interaksi prilaku kelas hingga

memungkinkan dicapainya pola PBM yang mengacu pada pencapaian

tujuan pengajaran.

d. Evaluasi

Kemampuan evaluasi merupakan kegiatan penutup yang harus dipunyai

guru dalam melihat hasil kerjanya. Artinya, hasil evaluasi merupakan salah

satu indikator keberhasilan tugas guru pada diri siswa.

Kemampuan evaluasi mengacu kepada bagaimana guru melakukan

kegiatan evaluasi setelah merencanakannya dan bagaimana guru

menggunakan hasil evaluasi dan menafsirkannya untuk keperluan

pengajaran, untuk pedoman bagi kegiatan PBM berikutnya agar lebih baik.
64

Dalam konteks ini evaluasi berarti menilai dan mengendalikan tahapan PBM

secara menyeluruh.

2. Mutu Lulusan

Proses belajar mengajar yang bermutu akan menghasilkan lulusan yang

berkualitas ditandai dengan peningkatan prestasi belajar. Belajar itu sendiri

merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi

dengan lingkungan yang dimanifestasikan dalam tingkah laku dan perbuatan.

S. Nasution (1982: 39) menyatakan bahwa "belajar sebagai perubahan

kelakuan berkat pengalaman dan latihan". Lebih lanjut Harrol Spears (Ersis

Warmansyah Abbas, 1994: 47) mengatakan belajar itu diperoleh dengan

... observe, to read, to imitate, to try semothing themselves, to listen, to follow

direction. Henry Clay Lindgren (Ersis Warmansyah Abbas, 1994: 47)

mengatakan belajar sebagai ...the term learning as used by psychologist,

refers to kind of experience or interaction with the environment. Dengan kata

lain, belajar dapat berlangsung melalui pengalaman langsung atau latihan

secara formal ataupun melalui pengalaman-pengalaman lainnya.

Kegiatan belajar yang dilakukan siswa akan membawa perubahan pada

pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Hasilnya oleh Martin L. Maehr (1994: 4)

dikatakan mencakup apa yang disebut prestasi yang didefinisikan berikut ini:

a. a measurable change in behavior,


b. attributed to some person as the causal agent,
c. that is or can be evaluate in term of a standart exelllence, and
d. that typically involves some uncertainly as to the outcome or quality of
the accomplishment.
65

Abin Syamsudin (1983: 18 - 19) mengatakan bahwa "prestasi belajar

yang dicapai seseorang merupakan produk dari serangkaian interaksi

komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar". Tiga

masukan yang terlibat yaitu (1) masukan mentah menunjukkan pada

karakteristik yang terdapat pada individu yag mungkin memudahkan atau

justru menghambat individu dalam proses belajar mengajar; (2) masukan

instrumental menunjukkan pada kualifikasi serta kelengkapan sarana yang

diperlukan, seperti tenaga mengajar, metode, bahan atau sumber dan

program; (3) masukan lingkungan menunjukkan pada situasi, keadaan fisik

dan suasana sekolah, hubungan dengan pengajar dan teman.

Dengan demikian hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang

manifestasinya dalam bentuk pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Hasil

belajar pada dasarnya sebagai hasil interaksi berbagai faktor yang

mempengaruhi proses belajar secara keseluruhan yang menyebabkan siswa

yang satu dengan lainnya bebeda dalam hal prestasi, dapat diukur dan juga

tidak, sesuatu yang berhubungan dengan standar kesempurnaan.

Kegiatan belajar membawa perubahan pada diri siswa yang oleh Blom

diklasifikasikan atas ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah

tersebut hakekatnya saling berhubungan satu sama lain dan tidak terpisah.

Ranah kognitif (Nasution, 1982: 35 - 36) dibagi enam bagian yaitu

a. Pengetahuan, meliputi informasi dan fakta yang dapat dikuasai

melalui hafalan untuk diingat. Yang digunakan adalah daya ingatan.


66

b. Pemahaman, merupakan kesanggupan untuk menyatakan sesuatu

definisi, rumusan, kata yang sulit dengan perkataan sendiri, dapat

pula merupakan kemampuan untuk menafsirkan suatu teori, atau

melihat konsekuensi atau implikasi, meramalkan kemungkinan atau

akibat.

c. Aplikasi, kesanggupan menerapkan atau menggunakan sesuatu

pengertian, konsep, prinsip teori yang memerlukan penguasaan

pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam.

d. Analisis, kemampuan untuk menguraikan sesuatu dalam unsur-

unsurnya. Untuk itu diperlukan pengetahuan dan pemahaman

tentang hal yang akan dianalisis. Analisis yang lebih tinggi adalah

analisis hubugan, misalnya antara sejumlah gejala dan analisis

prinsip-prinsip yang mendasari masyarakat, alam atau sel.

e. Sintesis, kesanggupan untuk melihat hubungan antara sesuatu

unsur.

f. Penilaian, merupakan tingkatan paling tinggi berdasarkan bukti-

bukti atau kriteria tertentu.

Ranah afektif dibagai dalam lima tingkatan yaitu

a. Receiving, menerima, menaruh pertiatian terhadap nilai-nilai

tertentu.

b. Responding, memperlihatkan reaksi terhadap norma tertentu,

menunjukkan kesediaan dan kerelaan untuk merespon, dan

merasa kepuasan dalam merespon.


67

c. Vaiuing, menerima suatu norma, menghargai suatu norma, dan

mengikat diri pada suatu norma.

d. Organization, membentuk suatu konsep tentang suatu nilai dan

menyusun suatu sistem nilai-nilai.

e. Characterization by a value or value compiex, mewujudkan nilai-

nilai dalam pribadi sehingga merupakan watak seseorang, norma

itu menjadi bagian dari dirinya.

Ranah psikomotor (Harrow, 1971} diklasifikasikan atas enam tingkatan

yaitu kemampuan melahirkan gerakan-gerakan dasar, kemampuan

melakukan pengamatan, kemampuan gerakan jasmani, kemampuan

melakukan gerakan-gerakan ketrampilan, dan kemampuan mengadakan

komunikasi yang bersambung.

Untuk dapat mewujudkan ketiga ranah tersebut dilakukan penilaian,

atau evaluasi. Penilaian ini merupakan komponen penting dari

penyelenggaraan suatu sistem, termasuk sistem pendidikan, la berfungsi

memberikan umpan balik agar penyelengaraan sistem tersebut menjadi lebih

baik, dinamis dan berkelanjutan. Di dunia pendidikan, penilaian itu secara

garis besar terbagi dua, yaitu penilaian internal dan ekternal. Penilaian

internal untuk mengetahui seberapa efektif kegiatan pembelajaran difakukan

oleh guru. Tujuannya untuk mendapatkan umpan batik sekaligus memantau

kemajuan belajar anak. Hasilnya diharapkan dapat memperbaiki strategi

pembelajaran berikutnya, penyelenggaranya guru atau sekolah. Sedangkan

penilaian eksternal dilakukan oleh pihak lain di luar institusi penyefenggara.


68

Penilaian eksternal yang berfungsi sebagai penekan ini perlu dilakukan

karena biasanya justru menjadi alat efektif untuk mendorong sekolah tersebut

bergerak kearah perbaikan. Kalau hanya dilakukan oleh institusi

penyelenggara melalui evaluasi internal, hasilnya tidak selalu membuat

sekolah tersebut melalukan perbaikan. Bagi pemerintah penilaian eksternal

ini memiliki makna sangat penting karena menjadi alat penentu quality control

dan quality assurance.

Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, Indonesia sudah pernah

menyelenggarakan empat sistem penilaian yaitu ujian negara, ujian sekolah,

evaluasi belajar tahap akhir nasional (Ebtanas), dan Ujian Akhir Nasional.

Ujian Negara, penyelenggaraan penilaian sepenuhnya dikontrol oleh

negara mulai dari materi yang diujikan sampai penetapan kelulusan. Sekolah

tidak punya peran sama sekali. Seluruh mata pelajaran diujikan secara

nasional. Periode ini dianggap mempunyai kelebihan dalam mengendalikan

standar mutu lulusan, karena penyelenggaraannya dikontrol sepenuhnya oleh

negara. Penilaian ini polanya bersifat elitis dan semua ditentukan oleh negara

yang mempunyai keinginan atau standar tinggi maka siswa yang lulus

mutunya sangat bagus. Model ini dianggap tidak demokratis dan tidak

mencerminkan rasa keadilan karena hanya memungkinkan anak-anak

tertentu yang bisa lulus yang pada umumnya berasal dari sekolah bagus.

Sementara sebagian besar siswa yang berasal dari sekolah lain yang

kondisinya memprihatinkan mengakibatkan tingkat ketidaklulusan sangat

tinggi.
69

Ujian sekolah, penilaian ini merupakan kebalikan dari penilaian

sebelumnya. Penyelenggara penilaian ini adalah sekolah yaitu dalam

pembuatan soal, melakukan penilaian, maupun menentukan kelulusan, dan

pengendalian mutu lulusan sepenuhnya di bawah kewenangan sekolah.

Dengan pola ini siswa tulus dengan mudah, nilai ijazah tinggi, dan mutu

lulusan merosot.

Ebtanas merupakan kombinasi antara ujian negara dan ujian sekolah,

ada enam atau tujuh pelajaran yang diujikan secara nasional, sedangkan

sisanya diujikan sendiri oleh sekolah, nilainya disebut Nilai Ebtanas Murni

(NEM) dan tidak menentukan kelulusan siswa dan hanya boleh digunakan

untuk seleksi jenjang pendikan di atasnya atau untuk kepentingan institusi

tertentu. Tingkat kelulusannya tinggi sekali karena yang menentukan lulus

adalah sekolah, nilai yang tercantum dalam Ebtanas adalah gabungan antara

nilai NEM dan nilai caturwulan I dan II. Model ini ternyata memberi peluang

sekolah untuk mengatrol nilai caturwulan agar siswanya lulus walaupun NEM

rendah.

Ujian Akhir Nasional (UAN) hampir sama dengan Ebtanas yang

merupakan kombinasi dari ujian Negara dan ujian sekolah. Ada sebagian

mata pelajaran yang diujikan secara nasional, sementara sebagian besar

yang lain diujikan sendiri oleh sekolah. Perbedaan mendasar dengan

Ebtanas, nilai UAN menentukan kelulusan siswa dan mumi tidak

dikombinasikan dengan nilai caturwulan. Yang menentukan kelulusan adalah

setiap mata pelajaran yang diujikan nilainya minimal 3,01; pada tahun
70

berikutnya standar nilai menjadi 4,01. Padan tahun ini diganti dengan Ujian

Nasional (UN) dengan standar 4,26 dengan penentuan kelulusan dari

sekolah.

Nilai prestasi belajar dengan berbagai model penilaian tersebut

dijadikan dasar untuk melihat kinerja sekolah yang diwujudkan dengan nilai

evaluasi belajar (Ebta/Ebtanas atau nilai ujian akhir nasional), tidak adanya

siswa yang mengulang, dan tidak adanya siswa yang putus sekolah (Nanang

Fatah, 2000: 54). Untuk itu dalam melihat keberhasilan sekolah disamping

mempergunakan mutu proses belajar mengajar juga dapat dilihat dari mutu

lulusan. Nilai prestasi belajar antara sekolah yang satu dengan sekolah lain

memiliki arti yang berbeda, nilai tujuh untuk sekolah yang satu memiliki arti

yang berbeda dengan sekolah lain, tujuh bagi suatu sekolah memiliki arti

yang bagus karena calon siswa pada waktu masuk memiliki nilai empat,

tetapi bagi sekolah yang lain artinya sangat jelek karena calon siswa pada

waktu masuk sudah memiliki nilai tujuh berarti tidak ada perubahan dengan

adanya proses belajar mengajar. Untuk itu guru perlu dimintai tanggapan

tentang kepuasan terhadap prestasi belajar yang dicapai oleh siswa-siswa.

Kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai manajer sekolah memiliki peran

yang besar dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengedalikan segala

masukan seperti siswa, guru dan tenaga kependidikan lainnya,

sarana/prasarana, dana/biaya, hubungan antara sekolah dan masyarakat.

Biaya pendikan sebagai masukan instrumental memiliki peran yang besar

dalam menentukan mutu proses maupun mutu lulusan. Untuk mencapai


71

semua itu perlu peranserta masyarakat maka keterlibatan Komite Sekolah

yang memiliki fungsi sebagai badan pertimbangan, pendukung, pengawas,

dan mediator sangat diperlukan dalam fungsi-fungsi manajemen di sekolah.

C. Kepemimpinan Kepala Sekolah

Kepemimpinan menurut G.R. Terry (dalam Hersey, 1988: 14)

*Leadership irt the ofinfluencing people to strive willingly forgroup objective".

Tannenbaum (dalam Hersey, 1988: 15) mendefinisikan kepemimpinan

" interpersonal influence in the situation and directed, through the

communication process, toward the attainment of speciafized goal o r golas".

Menurut Lichard I. Lester (A. Dale Timpe, 1991: 145) "kepemimpinan sebagai

seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan

kepercayaan, hormat dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai

tujuan bersama". Sedang menurut Robbins (1998: 175) "kepemimpinan

sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah

tercapainya tujuan". Dari berbagai pendapat tersebut maka kepemimpinan

adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi orang

lain atau kelompok agar dapat melakukan kegiatan dalam rangka mencapai

tujuan bersama. Implikasi dari konsep tersebut adalah: 1) kepemimpinan

merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang berasal dari

dirinya sendiri (seni, kiat) atau dari hasil belajar dan pengalaman; 2)

kepemimpinan menyangkut orang lain atau kelompok yaitu staf. maupun

anggota kelompok, disebut pemimpin karena memiliki bawahan atau


72

pengikut; 3) kepemimpinan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh

atasan maupun bawahan sehingga memunculkan pembagian kekuasaan dan

wewenang antara atasan dan bawahan; 4) kepemimpinan dilakukan untuk

mencapai tujuan bersama.

Terdapat beberapa teori kepemimpinan, tetapi dalam kajian ini teori

kepemimpinan yang dibahas adalah: 1) teori karakter, 2) teori perilaku; 3)

teori kemungkinan. Dan teori/pendekatan terbaru dalam kepemimpinan yaitu:

4) teori atribusi; 5) teori transaksional versus transformasional; 6) teori

visioner.

Teori karakter kepemimpinan adalah teori yang mencari karakter

kepribadian, sosial, fisik, atau intelektual yang memperbedakan pemimpin

dari bukan pemimpin (Robbins, 1998: 115). Menurut S.A. Kirkpatrick dan E.A.

Locke (1991: 24) ada enam karakter yang cenderung membedakan antara

pemimpin dan bukan pemimpin adalah ambisi dan energi, hasrat untuk

memimpin, kejujuran dan integritas, percaya diri, kecerdasan, dan

pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan. Orang-orang yang mempunyai

sifat setf-control yang tinggi artinya sangat luwes dalam menyesuaikan

perilaku mereka dalam situasi yang beralinan jauh lebih besar

kemungkinannnya untuk muncul sebagai pemimpin dalam kelompok-

kelompok daripada yang self-controf renda h (Dobbin etal, 1990: 7 dan Kenny

1991: 62). Untuk itu pemimpin harus sehat jasmani dan rohani, cerdas,

ambisi, hasrat, jujur, percaya diri, pengetahuan yang relevan dengan

pekerjaannya, pengendalian diri. Dengan demikian karakter dapat


73

meningkatkan kemungkinan sukses sebagai pemimpin, tetapi tidak satupun

karakter itu menjamin sukses (G. Yukl dan Van Fleet, 1992: 32).

Teori perilaku kepemimpinan adalah teori yang mengemukakan bahwa

perilaku spesifik membedakan pemimpin dari bukan pemimpin. Pemimpin

dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat pemimpin. Teori

perilaku yang paling menyeluruh dan ditiru dihasilkan dari riset yang dimulai

pada Universitas Negeri Ohio pada akhir dasa warsa 1940-an yang

menyimpulkan dua perilaku pemimpian yaitu: 1) struktur prakarsa (inisiating

structure), dan 2) pertimbangan (consideration). Perilaku struktur prakarsa

mengacu pada sejauh mana seorang pemimpin berkemungkinan

mendefinisikan dan menstruktur peran mereka dan peran bawahan dalam

upaya mencapai tujuan. Pertimbangan adalah sejauh mana seorang

pemimpin berkemungkinan memiliki hubungan pekerjaan yang ditandai saling

percaya menghargai gagasan bawahan, dan memperhatikan perasaan

mereka. (Robbins, 1998: 124) cara seseorang bertindak akan menentukan

keefektivan kepemimpinan orang yang bersangkutan. Pusat Riset dan Survey

Universitas Minchigan membagi dua dimensi perilaku kepemimpinan yaitu: 1)

berotientasi pada karyawan didiskripsikan pemimpin yang menekankan pada

hubungan antar pribadi; dan 2) beorientasi pada produksi, cenderung

menekankan aspek teknis atau tugas dari pekerjaan. Perhatian utama

mereka adalah pada penyelesaian tugas kelompok mereka, dan anggota-

anggota kelompok adalah suatu alat untuk tujuan akhir itu. Kesimpulannya

bahwa pemimpin yang berorientasi karyawan dikaitkan dengan produktivitas


74

kelompok yang lebih tinggi dan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Pemimpin

yang berorientasi produksi cenderung dikaitkan dengan produktivitas

kelompok yang rendah dan kepuasan kerja yang lebih rendah (Robbkis,

1998: 130).

Teori kemungkinan mencoba memilahkan faktor penting situasional

yang mempengaruhi keefektifan kepemimpinan. Variabel pelunak

(moderating variable) yang populer, yang digunakan dalam mengembangkan

teori kemungkinan yang mencakup tingkat struktur dalam tugas yang akan

dikerjakan, kualitas hubungan pemimpin-anggota, kekuasaan jabatan

pemimpin, kejelasan peran bawahan, norma kelompok, ketersediaan

informasi, penerimaan bawahan akan keputusan pemimpin, dan kematangan

bawahan (Podsakoff et.al, 1995: 14). Ada lima pendekatan yang

dipertimbangkan untuk memilah variabel kunci situasional yaitu model

Fiedler, teori situasional Hersey dan Blanchard, teori pertukaran pemimpin-

anggota, model jalur-tujuan serta partisipasi pemimpin (Robbins, 1998: 135).

Model kemungkinan Fiedler menyatakan bahwa kelompok efektif bergantung

pada padanan yang tepat antara gaya interaksi dari si pemmpin dengan

bawahannnya serta sampai tingkat mana situasi itu memberikan kendali dan

pengaruh kepada si pemimpin. Teori kepemimpinan situasional Hersey dan

Blanchard adalah suatu teori kemungkinan yang memusatkan perhatian pada

kesiapan pengikut, keefektifan kepemimpinan mencerminkan kenyataan

bahwa pengikut yang menerima baik atau menolak pemimpin. Tidak peduli

apa yang dilakukan si pemimpin itu, keefektifan bergantung pada tindakan


75

dari pengikutnya. Inilah suatu dimensi yang penting yang telah irfK £ v

atau kurang ditekankan dalam kebanyakan teori

kesiapan merujuk sejauh mana orang mempunyai kemampuan dan

kesediaan untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu. Teori pertukaran

pemimpin anggota dimaksudkan bahwa para pemimpin menciptakan

kelompok-dalam dan kelompok-luar, dan bawahan dengan status kelompok-

dalam akan mempunyai penilaian kinerja yang lebih tinggi, tingkat keluarnya

karyawan yang lebih rendah, dan kepuasan yang tebih besar bersama atasan

mereka. Teori jalur tujuan yang menyatakan bahwa perilaku seorang

pemimpin dapat diterima baik oleh bawahan sejauh mereka pandang sebagai

suatu sumber dari kepuasan segera atau kepuasan masa depan. Model

partisipasi pemimpin suatu teori kepemimpinan yang memberikan

seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan

keputusan partisipatif dalam situasi-situasi yang berlainan.

Teori atribusi kepemimpinan mengemukakan bahwa kepemimpinan

semata-mata suatu atribusi yang dibuat orang bagi individu, yang menarik

dari teori ini adalah persepsi bahwa pemimpin yang efektif umumnya

dianggap konsisten dan tidak goyah dalam keputusan mereka, memiliki

komitmen yang besar, tabah, dan konsisten terhadap keputusan-keputusan

yang diambilnya dan tujuan yang ditentukannya.

Teori kepemimpinan karismatik merupakan pengembangan atribusi.

Teori ini mengemukakan bahwa para pengikut membuat atribusi dari

kemampuan kepemimpinan yang heroik atau luar biasa bila mereka


76

mengamati perilaku-perilaku tertentu. Pemimpin karismatik menurut Conger

dan Kanungo dari Universitas McGiH (Robbins, 1998: 151) memiliki tujuan

ideal yang ingin mereka capai, memiliki komitmen pribadi yang kuat pada

tujuan mereka, dipahami sebagai tidak konvensional, teguh dalam pendirian

dan percaya diri, serta sebagai agen perubahan, radikal, bukanya manajer

dari status quo.

Teori kepemimpinan transaksional versus transformasional. Pemimpin

transaksional adalah pemimpin yang memandu atau memotivasi pengikut

mereka dalam arah tujuan yang ditegakkan dengan memperjelas peran dan

tuntutan tugas. Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang

memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang diindividualkan,

dan yang memiliki karisma. Kepemimpinan transaksional dan

transromasionat tidak boleh dipandang sebagai pendekatan yang berlawanan

dengan penyelesaian pekerjaan. Kepemimpinan transformasional dibangun

di atas puncak kepemimpinan transaksional. Transformasional menghasilkan

tingkat upaya dan kinerja bawahan yang melampui apa yang akan terjadi

dengan pendekatan transaksional saja. Kepemimpinan transformasional lebih

daripada karisma. Pemimpin yang semata-mata karismatik dapat

menginginkan para pengikut untuk mengadopsi pandangan dunia si

karismatik dan tidak beranjak lebih jauh, pemimpin transformasional akan

berupaya untuk menanamkan dalam diri pengikut kemampuan untuk

mempertanyakan tidak hanya pandangan yang sudah mapan melainkan juga

pandangan yang ditetapkan oleh sang pemimpin.


77

Teori kepemimpinan visioner merupakan kemampuan untuk

menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang atraktif, terpecaya,

realistik, tentang masa depan suatu organisasi atau unit organisasi yang

terus bertumbuh dan membaik sampati saat ini. Visi jika diseleksi dan

diimplementasikan secara tepat, begitu bertenaga sehingga bisa

mengakibatkan teoadinya loncatan awal ke masa depan dengan

membangkitkan ketrampilan, bakat, dan sumber daya untuk bisa diwujudkan.

Sebuah visi memiliki gambaran yang jelas dan mendorong, yang

menawarkan suatu cara yang inovatif untuk memperbaiki, yang mengakui

dan berdasar tradisi serta terkait dengan tindakan-tindakan yang dapat

diambil orang untuk merealisasikan perubahan. Visi menyalurkan emosi dan

energi orang. Bila diartikulasikan secara tepat, sebuah visi menciptakan

kegairahan dan membawa energi dan komitmen ke tempat kerja. Pemimpin

visioner yang pertama harus memiliki kemampuan menjelaskan visi dilihat

dari segi tindakan-tindakan yang dituntut dan sasaran melalui komunikasi

lisan dan tertulis yang jelas. Kedua mampu untuk mengungkapkan visi tidak

hanya secara verbal melainkan melalui perilaku pemimpin. Ketiga mampu

memperluas visi kepada kepemimpinan yang berbeda, ini merupakan

kemampuan untuk mengurutkan aktivitas-aktivitas sehingga visi dapat

diterapkan pada berbagai situasi.

Kepala Sekolah sebagai pemimpin satuan pendidikan memiliki peran

yang sangat besar atas keberhasilan sekolah, sebab sekolah yang efektif

ditentukan oleh kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif. Kepala Sekolah


78

yang efektif menurut School improvement in Maryland Web Site (terjemahan

Soeiistia, 2003: 6) yaitu: 1) mengembangkan kolaborasi dalam pemecahan

masalah dan mengadakan komunikasi terbuka; 2) mengumpulkan,

menganalisis dan menggunakan data untuk mengidentifikasi kebutuhan

sekolah ; 3) menggunakan data untuk mengidentifikasi dan merencanakan

perubahan yang diperlukan dalam program instruksional; 4) melakukan dan

memonitor rencana perbaikan sekolah; 5) berfikir sistem dalam menetapkan

fokus untuk mencapai tujuan prestasi belajar murid.

Kepala Sekolah sebagai pengelola memiliki fungsi dan tugas sebagai

edukator, manajer, administrator, dan supervisor (Departemen P dan K,

1996, 1997). Kepala Sekolah yang berhasil dilihat dari kemampuannya

sehubungan dengan perannya (Dekdikbud Kanwil Provinsi Jawa Tengah)

sebagai: pendidik (educator), manajer (manager), administrator

(administrator), penyelia (supervisor), pemimpin (leader), dan pembina iklim

kerja yang sejuk (climate maker). Mulyasa (2003: 14) mengatakan bahwa

kepemimpinan Kepala Sekolah efektif berfungsi sebagai educator, manajer,

administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator. Menurut James M.

Lipham (1974, 1988) fungsi Kepala Sekolah dibagi dalam kategori sebagai

pengelola program pengajaran, pengelola pelayanan personel/staf, pengelola

pelayanan siswa, pengelola keuangan & fasilitas, dan pengelola hubungan

sekolah dan masyarakat.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Kepala sekolah

sebagai manajer akan merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi


79

aktivitas sekolah yang meliputi program pengajaran, kegiatan staf, pelayanan

terhadap siswa, keuangan & sumber daya, dan menjalin kerja sama dengan

masyarakat.

1. Kepala Sekolah Sebagai Pengelola Program Pengajaran

Program pengajaran terdiri dari empat tahap yaitu menentukan tujuan

program, perencanaan perbaikan program, melaksanakan perubahan

program, dan evaluasi outcome program. Dalam tahap pertama menentukan

program yaitu program yang akan diajarkan harus mempertimbangkan

tuntutan masyarakat, permintaan murid, dan berhubungan dengan tujuan

siswa. Dalam menentukan tujuan program pengajaran harus sesuai dengan

tuntutan masyarakat, hal ini sesuai dengan saran dari Inlow (1988: 65) bahwa

"cultural and community demands ultimately govem all curricular choices and

decisions". Perkembangan di masyarakat menuntut program pengajaran

menyesuaikan dengan kepentingan masyarakat tidak hanya dimensi

intelektual, tetapi juga dimensi sosial, personal, dan produktif. Kebutuhan

siswa juga harus dijadikan dasar dalam pengajaran seperti diungkap oleh
£

Tyler (1990: 26) "the needs of learner constitute a basic consideration in

curricular planning". Bagaimanapun besarnya tuntutan masyarakat dalam

program pengajaran kebutuhan siswa harus lebih diutamakan karena

berkaitan dengan ijasah dan kebutuhan intelektual untuk melanjutkan studi,

keterkaitan inilah yang dinamakan kurikulum yang relevan. Keterkaitan tujuan

dengan siswa juga menjadi pertimbangan dalam menentukan tujuan

pengajaran karena menyangkut waktu, materi pengajaran, tempat,


80

perlengkapan, hubungan guru dengan murid, perhatian siswa, bakat,

kelompok, dan sebagainya. Seperti diungkap oleh Klausmeier (1983: 74)

1) The amount of time that the student will use in completing the unit of
study.
2) The instructional materials the student will use.
3) The instructional spaces, equipment, and materials that the student
will use.
4) The amount of attention and direction the teacher will provide.
5) The teacher-directed individual, pair, small-group, and larger-group
activities in which the student will participate.
6) The student-initiated individual, pair, small-group, and large-group
activities in which the student will engage.

Tahap yang kedua yaitu perencanaan perbaikan program yang terdiri

dari kegiatan penetapan struktur, penyediaan informasi, dan pengkhususan

input. Penyusunan struktur program menjadi tanggungjawab Kepala Sekolah

kemudian membagi tugas pada Wakil Kepala Sekolah, kelompok guru bidang

studi, dan guru bidang studi. Demikian juga Kepala Sekolah

bertanggungjawab ke luar dalam rangka peningkatan mutu dengan struktur

dinas pendidikan, kelompok kerja Kepala Sekolah, pengawas, MGMP, dan

sebagainya. Perbaikan program pengajaran harus didukung informasi yang

lengkap tentang murid berkaitan dengan kebutuhan, minat, kekuatan, dan

kelemahan. Informasi tersebut dapat dilakukan dengan mental ability test,

achievment test, anecdotal records, appreciation tests, aptitude test. Input

tidak hanya siswa tetapi juga berkaitan dengan alokasi waktu, personel,

tempat, perlengkapan, material, dan sumber yang lain dan ini harus tersedia

dan teranggarkan dalam APBS, ketersediaan ini berkaitan dengan

pencapaian tujuan.
81

Tahap ketiga pelaksanaan perubahan program yang terdiri dari

motivasi staf, penyediaan program pengajaran, dan bekerja dengan

masyarakat. Untuk itu Kepala Sekolah harus menempatkan staf untuk

menetapkan tujuan pengajaran, menginventarisir bahan-bahan,

perlengkapan, dan fasilitas untuk mendukung tujuan pengajaran, dan

menjelaskan perubahan pengajaran kepada orangtua siswa dan masyarakat.

Tahap keempat evaluasi program outcome yang terdiri dari

perencanaan evaluasi, dan penggunaan instrumen evaluasi menguji dan

merekomendasikan instrumen untuk program evaluasi proses dan hasil.

Untuk itu Kepala Sekolah harus mengumpulkan, mengorganisir, dan

menginterpretasikan data sekarang dibandingkan dengan kinerja siswa

sebelumnya, mempertanggungjawabkan kelangsungan hidup program atau

inisiatif perubahan program dalam penetapan program pengajaran yang baru.

Berdasarkan penjelasan di atas maka Kepala Sekolah sebagai

pengelola program pengajaran pada tahap pertama memperkirakan program

yang relevan, untuk itu Kepala Sekolah harus memiliki kompetensi sebagai

berikut:

1. mempelajari dan menginterpretasikan kurikulum sesuai dengan

kecenderungan perubahan permintaan masyarakat.

2. menggambarkan kebutuhan umum siswa berdasarkan program

pengajaran.

3. secara langsung menaksir kebutuhan siswa yang unik untuk sekolah dan

masyarakat.
82

4. mengintegrasikan tujuan dan sasaran sekolah dengan kebutuhan siswa.

5. memperkirakan tentang kecukupan kebutuhan siswa dalam program rutin

untuk pertemuan formal.

Pada tahap kedua perencanaan perbaikan program, Kepala Sekolah

harus memiliki kompetensi sebagai berikut

6. menguji dan menginterpretasikan program alternatif, prosedur, dan

struktur perbaikan pengajaran.

7. menggunakan penelitian dan informasi dalam menentukan pilihan yang

dapat dijalankan terhadap perubahan.

8. bekerja sama dengan yang lain dalam pengembangan alternatif

pengajaran.

Pada tahap ketiga pelaksanaan perbaikan program, Kepala Sekolah

9. menempatkan staf untuk menetapkan tujuan pengajaran.

10. menginventarisir bahan-bahan, perlengkapan, dan fasilitas untuk

mendukung tujuan pengajaran.

11. menjelaskan perubahan pengajaran kepada orangtua siswa dan

masyarakat.

Pada tahap keempat evaluasi perubahan program, Kepala Sekolah

12. menguji dan merekomendasikan instrumen untuk program evaluasi

proses dan hasil.

13 mengumpulkan, mengorganisir, dan menginterpretasikan data sekarang

dibandingkan dengan kinerja siswa sebelumnya.


83

14. mempertanggungjawabkan kelangsungan hidup program atau inisiatif

perubahan program dalam penetapan program pengajaran yang baru.

2. Kepala Sekolah sebagai Pengelola Pelayanan Personel/Staf

Peranan kepala sekolah adalah menentukan dan mengklasifikasikan

perubahan yang terjadi pada stafnya hingga beberapa tahun. Bargaining

kolektif telah mengubah kekuatan hubungan tradisional di dalam sekolah.

Meningkatnya kebutuhan pengakuan dan meningkatkan program-program

penyediaan guru membangkitkan otonomi yang besar dan kepercayaan

terhadap diri sendiri diantara guru, karena perubahan ini mengarah kepada

profesionalisasi guru, keefektifan kepala sekolah mesti dimengerti dan

menggunakan secara tepat prosedur untuk mempertinggi efektivitas,

efisiensi, dan kepuasan tiap-tiap anggota staf.

Fungsi-fungsi pokok pengelolaan personel adalah:

a. Identifikasi staf baru: menentukan tingkatan dengan menilai suatu

kelompok dan kecocokan tujuan sekolah dengan nilai personel,

keinginan, dan kemampuan & prospek masing-masing anggota.

b. Penugasan staf: memastikan secara maksimum kecocokan antara

kebutuhan peranan dan kebutuhan individu.

c. Orientasi staf: memimpin aktivitas-aktivitas dimana menjelaskan

peraturan-peraturan lembaga dan hubungan sesama staf.

d. Evaluasi staf: menetapkan tingkat penampilan dimana kecocokan dengan

harapan dengan aturan-aturan.


84

e. Pengembangan staf: mengarahkan aktivitas untuk pengembangan

keamampuan tiap-tiap individu bagi kinerja yang efektif.

Fungsi sentral dari staf di beberapa sekolah ditentukan berdasarkan

kualifikasi yang dimiliki seseorang seperti syarat-syarat nilai, sikap,

kemampuan yang dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan

sekolah dan sekaligus untuk mencapai tujuan individu itu sendiri. Tidak

satupun sekolah dapat dengan sukses untuk menerapkan atau

memformulasikan suatu program tanpa mempunyai metoda yang sistematis

untuk mengidentifikasikan staf. Meskipun kelebihan para pelamar di lapangan

keguruan, tetap penting bahwa para pelamar harus mempunyai budi pekerti

yang sopan. Pelamar yang cerdas akan selalu dibutuhkan, hanya akan dapat

melalui ketelitian perekrutan dan keuntungan dari seleksi yang akan dapat

menemukan tenaga kependidikan yang berkualitas.

Mengidentifikasi calon staf berisikan dua fase, Fase penarikan,

mengidentifikasi potensi yang dimiliki pelamar, fase penseleksian, penyisihan

pelamar antara lain melalui penilaian atas minat, keinginan dan kemampuan

untuk mematuhi peraturan-peraturan. Tanggung jawab kepala sekolah dalam

proses rekruitmen dan fungsi seleksi ini sangat bervariasi, tergantung pada

ukuran serta sistem sekolah.

Aktivitas kepemimpinan kepala sekolah ini dalam memfungsikan

stafnya digambarkan pada bagan berikut ini:


85

Stage î. Identification staff


Recruitment staff
Selection of staff

Stage II. Assignment of staff to


Initial positions
Subsequent position
Differentiated roles

Stage III. Orientation of staff to th£


Curriculum
I Staff
Students
Community

Stage IV. Evaluation of staff i


M
When to evaluate M
I »J Why evaluate E
What to evaluate D
__ How to evaluate i
A
T

F
Stage V. Improvement of staff E
Classroom observation E
D
Individual conferences B
i
School visitation A
Professional association^ C
Professional library K
Student-teaching progra
In-service program

(Sumber. Lipham, 1985)


Bagan 2.1
Kepemimpinan Kepala Sekolah
dalam Memfungsikan Staf

Penetapan calon pelamar merupakan tanggung jawab

Bupati/Walikota. Harusnya Kepala Sekolah di era otonomi daerah dimana

pada sistem sekolah yang besar, perekrutan tenaga merupakan tanggung


86

jawab sfckoiah itu sendiri, di sistem sekolah yang kecil sering merupakan

tanggung jawab dari Pengawas atau mendelegasikan tanggung jawab ini

kepada Kepala Sekolah.

Perekrutan tidak dilakukan sebelum mendapat persetujuan dari Kepala

Sekolah seberapa banyak staf yang dibutuhkan untuk masa mendatang, dan

mengkomunikasikannya, menerima, atau menolak, dimana Kepala Sekolah

mengajukan permohonan kepada kantor pusat, dimana menggunakan

beberapa teknik untuk mengakumulasikan kecocokan kualifikasi pelamar.

Sistem birokarasi sekolah kemudian akan menjelaskan tentang gaji dan

kesempatan untuk pengembangan diri, untuk menarik para pelamar. Kepala

sekolah dapat mengunjungi perguruan tinggi dan universitas dan

mengidentifikasikan kemampuan pelamar, Disamping perguruan tinggi dan

universitas, Kepala Sekolah juga dapat menghubungi organisasi profesi,

agen-agen tenaga kerja, dan yang lain yang menguntungkan bagi Kepala

Sekolah.

Fungsi rekruitmen dan seleksi akan menghambat jika keputusan

seleksi tidak membuat peningkatan. Tugas seleksi staf merupakan hak

istimewa Dewan pendidikan, wakil dari Dewan Pendidikan

merekomendasikan kepada Pengawas. Tak seorangpun dalam posisi

penseieksian staf ini selain dari Kepala Sekolah untuk menyetujui sesuai

dengan aturan dan permintaan, dan menseteksi para pekerja disesuaikan

dengan yang diharapkan. Sebagaimana kepemimpinan sekolah, Kepala

Sekolah bertanggungjawab untuk bekerja secara terbuka dan secara


87

i
kontinyu bersama anggota staf untuk membantu m e r e a l i s a s i ^ ! ^^ ..,

potensinya. Sekaligus memberikan perhatian kepada

menginginkan keluaran staf yang berkualitas sebagai investasi.

Keputusan untuk mempertemukan di dalam hubungan kontrak

bersama guru berarti sekolah memberikan persetujuan untuk memberikan

setiap kemungkinan untuk memberikan pertolongan kepada guru. Seleksi

yang hati-hati akan membantu di dalam mempertemukan

pertanggungjawaban. Bertolak befakang, beberapa administrator percaya

bahwa seleksi tidak penting karena penolakan akan relatif lebih mudah

sewaktu guru menduduki suatu jabatan. Karena pemecatan sebagai sistem

selalu yang lebih murah tetapi ini akan berpengaruh buruk terhadap moral

staf. Dimana dalam beberapa instansi, cara pemecatan lebih baik dari proses

penseleksi dan praktek supervisi.

Penseleksian staf yang berkualitas bukan proses yang mudah. Karena

mengajar merupakan profesi yang komplek, dan pendidik merupakan

kelompok yang secara terus menerus mencari metode yang paling baik

dimana menaksir potensial yang dimiliki seseorang yang mempunyai dampak

pada pertumbuhan siswa dan prestasi. Karena seorang Kepala Sekolah,

setiap harinya berkomunikasi keseluruhan dengan lingkungan belajar, untuk

menetapkan tingkat kualitas dimana harapan dengan aturan yang diberikan

seperti yang dKemuai pada individu. Untuk itu partisipasi Kepala Sekolah

dalam proses seleksi staf, sebenarnya tidak dapat disangkal lagi.


88

Setelah proses rekrutmen untuk menseleksi pelamar, setiap calon

pelamar dapat diundang untuk menemui Kepala Sekolah bagi yang

memenuhi syarat. Proses seleksi lebih dahulu melalui interviuw, Kepala

Sekolah mengambil kesempatan untuk mengungkap kembali kepercayaan

dan komitmen pelamar mulai dari rekrutmen, interview, calon pelamar akan

dapat memperoleh informasi tentang sistem sekolah dan lingkungan kerja.

Berikutnya Kepala Sekolah dapat menyalurkan secara umum dan

mengkonsentrasikan penilaian tentang kandidat sebagai tenaga pengajar

yang potensial, menguasai filsafat pendidikan, tujuan dan minat terhadap

pekeijaan. Langkah ini penting untuk menetapkan pada pelamar tentang

kelayakan tugas sesuai dengan yang diharapkan. Karena

pertanggungjawaban dalam memilih akan dapat membuat pilihan jika

membuat perjanjian sesuai dengan tawaran. Kebebasan dalam memberikan

informasi antara kepala sekolah dan pengisian selama seleksi interview akan

dapat membuat keputusan yang intelegen (Moris, 1991: 89).

Kepala Sekolah menemui tiap-tiap pelamar, membuat keputusan

berkenaan dengan pelamar harus akan mempertemukan harapan sesuai

dengan posisi jabatan. Secara umum kelemahan Kepala Sekolah untuk

penseleksian guru-guru dimana filsafat pendidikan secara terbuka

mengidentifikasikan bersama-sama anggota staf. Keikutsertaan staf pengajar

sekolah dalam menentukan tujuan dan menyelesaikannya, ini suatu

kebanggaan bagi mereka yang dapat melancarkan fungsi organisasi.


89

Menggunakan teknik menetapkan staf bersama guru memberikan

keuntungan untuk membantu terjadinya status quo.

Siswa juga dapat memberikan sumbangan pada asosiasi guru

terhadap penilaian, personality, dan teknik-teknik instruksional, Sebagai

contoh, beberapa siswa mempunyai hubungan tradisional dengan guru

dimana secara format teknik mengajar, dan respon yang baik dapat

membantu guru dalam menggunakan struktur metodologi (Rose, 1997: 23).

Tugas pokok dalam penugasan staf untuk menjamin kesamaan

tingkatan antara harapan dengan posisi pelamar dan karakteristik personal

dari individu. Juga kemungkinan membuat kesempatan tugas mengajar akan

menjadi maksimal jika proses perekrutan dan seleksi sangat menarik dan

menyenangkan, di dalam instansi berdasarkan pengalaman sering terjadi

kesalahan penugasan anggota staf untuk itu harus dapat mendeteksi dan

meralat kembali. Jika beberapa posisi yang baru sudah terisi secara minimal,

kemudian penugasan guru yang baru sudah terisi secara minimal, kemudian

penugasan guru yang baru di diarahkan melalui proses seleksi. Sering terjadi

masalah penugasan tidak berkaitan dengan yang diharapkan karena itu

Kepala Sekolah harus mempunyai beberapa guru untuk ditugaskan di dalam

tugas yang mempunyai hubungan dengan lapangan yang harus diisi. Di

dalam proses penugasan, juga mempunyai aturan pokok untuk menetapkan

personel berdasarkan kebutuhan personel, minat, dan kemampuan individu

harus diekploitasi secara penuh dan saling pengertian satu sama iain.,
90

Kepala Sekolah dalam melaksanakan penugasan guru baru. Standar

sertifikat yang dikeluarkan oleh pemerintah memberikan pengaruh terhadap

kontrol, tetapi sering terjadi untuk mengikuti hubungan fleksibilitas terdapat

dua tingkatan yakni dasar dan menengah. Dimana guru sekolah dasar

biasanya tidak mempunyai sertifikat bagi guru tingkat sekolah menengah dan

tingkatan lain harus mempunyai sertifikat yang diberikan oleh Dewan

Pendidikan.

Selama setahun sekolah berjalan guru baru harus dapat menampilkan

kelayakan penugasan dan menampilkan kemampuan di dalam kelas, dan di

dalam bagian yang lain dengan memberi kesempatan mengajar di sekolah

yang lain. Guru-guru harus menjadi sadar suatu waktu mengatakan kepada

Kepala Sekolah tentang kesulitannya. Keengganan untuk mengungkapkan

berakibat frustasi pada guru, keterbukaan penyampaian kesulitan akan dapat

menetapkan keefektifan penampilan. Penugasan kembali untuk mengoreksi

penilaian kesalahan akan dapat dilaksanakan setelah berkonsultasi secara

bersama dengan anggota staf.

Tenaga di sekolah memiliki perbedaan secara hirarkhi dan latar

belakang, untuk itu setiap kegiatan mengajar unit atau tim, guru harus

terbuka dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengajaran. Kepala

Sekolah harus mengetahui kepribadian (personality) anggota tim dan mampu

mengidentifikasi tenaga yang mendukung dan menghambat kegiatan tim

sehingga kegiatan ini dapat dijadikan seleksi akhir dalam penerimaan tenaga.

i
91

Kepala Sekolah juga harus memberikan pengalaman orientasi yang cukup

dalam membantu guru berkontribusi dalam anggota tim.

Tujuan pokok orientasi adalah menolong tenaga untuk mengerti dan

menyesuaikan aturan-aturan yang berlaku dan mengembangankan perasaan

memiliki sekolah dan mengenal sekolah dan kelompok lebih dalam. Untuk itu

tugas Kepala Sekolah, dimulai sesudah calon menerima surat keputusan

pengangkatan meningkatkanan pengetahuan pekerja baru dengan harapan

membawanya untuk mengikuti aturan-aturan administratif ketenagaan, guru-

guru, siswa, orangtua, dan masyarakat.

Kepala sekolah bertanggungjawab orientasi terhadap kurikulum secara

terperinci kepada guru baru. Buku teks dan materi kurikulum akan menunjang

perencanaan dan penyiapan pengajaran. Guru-guru baru akan menerima

informasi tentang segala sumber material di sekolah, fasilitas, audiovisual,

peralatan lain yang mendukung guru dan tenaga yang lain. Suatu ide yang

bagus untuk gunj baru untuk konsultasi dengan guru lain pada tingkatan yang

sama atau dinas pendidikan untuk mendiskusikan secara pribadi kekuatan

dan kelemahan di dalam kurikulum. Orientasi kurikulum ini juga memberi

keuntungan pada pengembangan hubungan antara guru baru dan tenaga

yang lain.

Guru baru diberi kesempatan diperkenalkan dengan anggota yang

lain, guru baru jangan sampai merasa ketakutan, Kepala Sekolah akan

mencegah perasaan ini dengan memperlihatkan semangat menerima,


92

dimana guru baru telah mengetahui bahwa tiap-tiap anggota staf memiliki

latar belakang yang berbeda yang akan berkontribusi sesuai kemampuannya.

Program orientasi merupakan ketentuan bagi beberapa guru untuk

saling mengenal dengan murid, berkaitan dengan orientasi akademik atau

status sosial ekonomi. Dengan menggunakan statistik, keadaan murid dapat

disimpulkan. Biasanya calon bertemu dengan perwakilan kelompok dari

murid sebelum melaksanakan kegiatan pengajaran. Selanjutnya kesempatan

untuk bertemu dan berinteraksi dengan murid seharusnya ditingkatkan.

Dengan cara ini guru baru akan meningkatkan pengetahuannya tentang

murid sebelum mulai mengajar. Selama setahun di sekolah, orientasi murid

dilanjutkan melalui keaktifan di kelas dan kegiatan kokurikuler. Ditambah lagi,

guru baru seharusnya didorong untuk dapat bekerja sama dengan murid

dalam organisasi masyarakat untuk menghadapi kebutuhan bakat dan minat,

dan kemampuan siswa.

Guru sangat berharap dapat bertempat tinggal di sekitar sekolah

dimana ia bekerja. Keuntungan dapat berkumpul dengan penduduk dapat

meningkatkan wawasan guru-guru terhadap nilai-nilai yang dianut

masyarakat, hubungan sekolah dengan masyarakat, konsentrasi kepada

siswa dan masalahnya. Untuk itu Kepala Sekolah memiliki kewajiban

memperkenalkan guru-guru dan tenaga yang lain kepada masyarakat.

Keuntungan yang diperoleh adalah sekolah dapat mempertanggungjawabkan

kegiatan yang dilakukan dan masyarakat sebagai sumber perbaikan


93

pengajaran, disamping itu juga masyarakat dapat memberikan masukan

kepada sekolah.

Pengevaluasian meliputi penilaian sejauh mana prestasi masing-

masing anggota menyelesaikan masalah. Proses evaluasi terdiri dari kapan

mengevaluasi (waktu evaluasi), mengapa mengevaluasi (tujuan evaluasi),

apa yang dievaluasi (informasi yang didapat), dan bagaimana mengevaluasi

(alat yang digunakan).

Pengevaluasian tenaga dimulai dengan surat pengangkatan awal dan

berakhir dengan bekerja, walaupun Kepala Sekolah secara terus menerus

memberi pengaruh tentang kompetensi ketenagaan, mereka sering

mengabaikan proses penilaian ini. Kepala Sekolah cenderung menyamakan

pengevaluasian tenaga dengan penyelesaian bentuk pengevaluasian yang

memuat ringkasan hasil penilaian setiap tahun. Kepala Sekolah dan guru

seharusnya bertemu berlebih dahulu di awal tahun ajaran untuk mengulas

tujuan-tujuan dan harapan-harapan. Urusan pengevaluasian selama satu

tahun menentukan sejauh mana tujuan telah dicapai, harapan telah

terlaksana dan kebutuhan individu telah terpenuhi. Pengevaluasian sumatif

mendekati akhir tahun ajaran sekolah akan sedikitnya menghasilkan

perselisihan jika pengevaluasian formatif telah terjadi. Kepala sekolah dan

guru membutuhkan tujuan baru dan harapan baru untuk dilakukan oleh guru

dalam mencapai peningkatan kepribadian dan keprofesionalan.

Seperti yang ditunjukkan oleh Button (1994: 38) mengembangkan

model yang digunakan dalam penggambaran pengevaluasian tenaga menjadi


94

3 tahap yaitu: tahap pertama: Perencanaan pengevaluasian: analisa dari

situasi yang spesifik, membuat tujuan pengevaluasian, menetapkan tujuan

khusus dan alat untuk mengukur proses yang digunakan dan hasil akhirnya.

Tahap kedua: Mengumpulkan informasi dengan melakukan prosedur

perencanaan lewat observasi, pengawasan dan pengukuran hasil dan

prosedur. Tahap ketiga: Penggunaan informasi dengan berkomunikasi

berdasarkan atas analisa dan interpretasi dan informasi yang diperoleh dan

juga mengambil keputusan berdasarkan langkah berikutnya yang akan

diambil. Tahap-tahap tersebut saling berangkai dan berputar. Jadi informasi

yang telah dianalisis untuk setiap mastng-masig tahap bertindak sebagai

dasar untuk tahap selanjutnya. Selain itu pada akhir tahap bertindak sebagai

awal untuk mengulang perputaran.

Bolton (1994: 45) mengatakan alasan utama mengevaluasi guru

antara lain

a. untuk mengubah tujuan

b. untuk merubah prosedur

c. Untuk menemukan cara baru penggunaan prosedur

d. untuk meningkatkan prestasi individu

e. mencari informasi untuk modifikasi penugasan

f. melindungi individu-individu atau sistem sekolah

g. memberi hadiah kepada orang yang berprestasi

h. memberikan dasar perencanaan karir, kemajuan dan perkembangan

individu
95

i. mengesahkan proses penyelesain

j. untuk mempermudah pengevaluasian

Masalah dapat diatasi dengan membuka diskusi untuk semua tujuan

dibandingkan membiarkan masalah tersebut sebagai agenda pertimbangan

yang hanya muncul selama tahap memutuskan pada proses pengevaluasian,

tujuan guru individual seharusnya dicocokkan dengan unit/departemen

pengajaran dan juga harus dicocokkan dengan tujuan sekolah dan tujuan

daerah, jika sistem berlaku secara rasional. Oleh karena itu kesepakatan

hanjs mengacu pada tujuan yang ada dan maksud dari pengevaluasian.

Dalam pencapaian kesepakatan tersebut, jarak komunikasi antara Kepala

Sekolah dan staf seharusnya di imbangi dengan diskusi bebas, terbuka, dan

beralasan dalam pengevaluasian.

Kesepakatan apa yang dievaluasi merupakan keuntungannya bagi

guru dan sekolah dan akan menjadi masalah yang mudah. Apa yang

dievaluasi merupakan masalah tahunan dalam penilaian keefektifan

mengajar. Yang termasuk instrumen pengevaluasian terdiri dari metodologi

mengajar, pengelolaan kelas, isi pengetahuan, hubungan antar pribadi,

kepribadian, kualitas pribadi, dan sejauh mana pengembangan

profesionalnya. Lingkungan penilaian yang spesifik seharusnya diidentifikasi

secara menyeluruh oleh administrator dan guru-guru yang akan menjalankan

dasar evaluasi. Selama tidak ada data yang benar, kesepakatan harus

dicapai berdasarkan item-item yang dievaluasi.


96

Penilaian akurat kinerja guru membutuhkan waktu banyak. Beberapa

guru menarik perhatian dalam usahanya hampir tidak ketahuan Kepala

Sekolah. Prosedur sistematik evaluasi akan menghasilkan aplikasi akurat dan

terbuka untuk setiap anggota staf.

Penggunaan instrumen dan proses relatif lebih jelas. Rating Scale dan

check list dapat membantu, tetapi item itu harus disetujui terlebih dahulu.

Skala akan fleksibel untuk mengevaluasi staf khusus. Metode alternatif

digunakan adalah narrative statement. Tanpa memperhatikan instrumen,

proses akan didasarkan observasi langsung. Proses ini berakibat

penyelesaian check list, atau evaluasi laporan cerita kinerja individu.

Prosedur sistematik dan harapan tingkahlaku dibuat ekplisit.

Pengaruh halo effect dalam evaluasi terjadi di luar karakter individual,

untuk rtu Kepala Sekolah harus berhati-hati melihat setiap tingkah laku jangan

sampai terpengaruh hubungan informal.

Perbaikan staf pengajaran terdiri teknik dan prosedur design

mempertinggi kinerja dan efektifitas guru. Mengunjungi kelas, observasi, dan

pertemuan individu merupakan inti program perbaikan staf. Komponen lain

termasuk kunjungan sekolah, keanggotaan asosiasi profesional, anggota

perpustakaan, supervisi pengajaran, dan program pra-jabatan. Inti rencana

perbaikan pengajaran yang baik dan program sistematik kunjungan kelas dan

supervisi adalah membantu setiap guru. Kepala Sekolah harus mengetahui

yang terjadi di kelas. Guru membuat observasi informal dan menerima umpan

balik mengenai kualitas pengajaran dari murid, orangtua, dan staf I ain. Tetapi
97

ini tidak dapat mengganti tugas formal, observasi langsung, pertemuan, dan

konsultasi dengan setiap guru. Kegiatan ini terdiri dari persiapan

kemampuan, kunjungan observasi, dan pertemuan setelah kunjungan.

Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan personel/staf pada

tahap pertama memperkenalkan tenaga baru, kompetensi Kepala Sekolah:

1. menjabarkan secara khusus aturan perekrutan untuk setiap lowongan

jabatan.

2. mewancari dan menyeleksi kandidat yang berkualifikasi paling baik untuk

setiap posisi dan merekomendasi persetujuan.

Pada tahap kedua orientasi staf, kompetensi Kepala Sekolah:

3. mengkoodinasikan pengenalan staf baru terhadap sistem persekolahan,

tenaga yang lama, siswa dan organisasinya, serta masyarakat.

Pada tahap menilai staf, kompetensi Kepala Sekolah:

4. menilai kecocokan ijasah dengan harapan dan kebutuhan siswa di

sekolah.

5 menetapkan anggota staf yang baru untuk mengoptimalkan pencapaian

kedua tujuan yaitu tujuan organisasi dan tujuan individu anggota staf.

6. menetapkan kembali pengalaman anggota staf baru untuk posisi dan

peran yang diijinkan dalam pencapaian tujuan organisasi dan individu .

7. mengkoordinasikan individu, program, tujuan sekolah, dan program serta

tujuan sistem persekolahan.

Pada tahap keempat perbaikan staf, kompetensi Kepala Sekolah:


98

8. mendesain kembali kegiatan pengembangan pengetahuan profesional

dan ketrampilan yang berhubungan dengan pendidikan dan proses

administrasi.

9. memimpin program perbaikan sistematik dan mengobservasi kelas dan

menyampaikan kepada staf yang lain.

10. mengorganisir seperti kegiatan perbaikan staf sebagai kunjungan

sekolah, kegiatan profesional, perpustakaan profesional, program

pengajaran siswa, dan kegiatan in-service.

11. membimbing setiap anggota staf untuk berkembang menuju perbaikan.

12. menilai kegiatan pendidikan in-service individu dan kelompok serta

merekomendasikan langkah perbaikan.

Pada tahap kelimpa evaluasi staf, Kepala Sekolah

13. melibatkan staf jangkauan dan persetujuan evaluasi dan prosedur yang

digunakan.

14. mengumpulkan, . mengorganisir, dan menganalisis data yang

berhubungan dengan proses dan produk pengajaran.

15. dalam mengambil keputusan didasarkan pada data evaluasi.

3. Kepala Sekolah sebagai Pengelola Pelayanan Siswa

Sekolah yang efektif apabila Kepala Sekolah dan staf mengetahui

betul tujuan utama sekolah yaitu memberikan program pendidikan yang

sesuai dengan kebutuhan pendidikan, tenaga, perkembangan sosial, dan

ketertarikan siswa. Sekolah yang digambarkan sebagai lembaga otoriter

dimana siswa pasif dalam berpartisipasi dengan program yang telah


99

diberikannya, sekarang dalam pengambilan keputusan pendidikan yang

merupakan masa depan siswa harus melibatkan siswa, hak setiap siswa

harus dilindungi dan kebutuhan pendidikannya harus dipenuhi. Oleh karena

itu partisipasi secara aktif oleh siswa di dalam pengambilan keputusan

pendidikan harus ditingkatkan jika ingin menghasilkan sekolah yang efektif.

Selama ini sekolah telah digambarkan bahwa siswa sebagai partisipan

yang paling rendah di dalam organisasi, peserta yang pasif dalam program

pendidikan yang telah direncanakan, disusun dan diterapkan pada siswa

dengan kurang memperhatikan nilai-nilai, perhatian, saran, dan pendapat

siswa.

Nilai-nilai sekolah direfleksikan di dalam kebijakan, tujuan dan sasaran

sekolah, sesuai dengan lingkungan siswa di dalam sekolah. Kepala Sekolah

dan guru serta staff seharusnya menilai sejauh mana lingkungan siswa

mewakili setiap budaya siswa dan kebiasaan sosial tertentu seperti

meningkatkan kesadaran pemimpin untuk lebih mendalami dan menerima

orientasi nilai siswa. Kepala Sekolah dan guru yang tidak dapat diterima oleh

siswa seharusnya instropeksi diri apakah mereka dalam profesi yang benar,

selama ini apakah sekolah telah memotivasi siswa untuk berekspresi, apakah

semua siswa dapat belajar, apakah telah memotivasi siswa untuk menguasai

kemampuan akademiknya, memberikan penghargaan yang layak dan

sejauhmana siswa menerima tanggung jawab yang tinggi merupakan

karakteristik sekolah yang efektif.


100

Kepala sekolah dan staf harus paham betul nilai-nilai siswa ketika

mengevaluasi kelayakan sasaran sekolah, program-program dan aturan-

aturan, terlebih mereka harus mengikuti perubahan berdasar pada

pemahaman itu. Hubungan formal dan tidak formal antara siswa, staf, dan

Kepala Sekolah membantu meningkatkan keharmonisan dan kecocokan.

Gejala menunjukkan bahwa semua kelompok dalam sekolah, siswa kurang

dilibatkan dalam pengambilan keputusan pendidikan yang utama. Partisipasi

siswa dalam pengambilan keputusan telah dibatasi tidak hanya terisi

keputusan yang dibuat tetapi juga sejauh mana keterlibatannya. Siswa-siswa

biasanya berkeinginan untuk lebih banyak terlibat dalam pengambilan

keputusan dengan meningkatkan pengajaran, kegiatan kokurikuler dan

pelayan pribadi siswa. Siswa berharap mendapatkan informasi secara

sistematik dan berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kegiatan.

Keterlibatan siswa dalam proses pengambilan keputusan pendidikan harus

mempertimbangkan aspek berikut: aspek pertama mempertimbangkan setiap

individu, sekelompok siswa atau sekelompok siswa dengan kakak kelasnya

dalam pengambilan keputusan. Kedua adalah ruang lingkup keputusan yaitu

proporsi dari jumlah kegiatan pendidikan yang dipengaruhi dalam

pengambilan keputusan. Aspek ketiga akibat yang dihasilkan dari

pengambilan keputusan yaitu meliputi jumlah orang dan program-program

dalam sekolah. Kepala Sekolah harus memberikan kepemimpinan secara

struktural dalam mengorganisir sekolah sehingga siswa dapat terlibat di

dalam pengambilan keputusan, untuk siswa SMU wakil yang ditunjuk secara
101

formal di dalam pertemuan dengan dewan kurikulum, panitia p e r & s e b a i i ^ r i i

dewan pengurus memberikan siswa kesempatan untuk lebih m f e i f i j a ^ ^ ^ n

mengikuti kegiatan pendidikan. Sayangnya struktur yang telantfrb^fiisk

sering kurang memaksimalkan partisipasi dari siswa. Oleh karena itu Kepala

Sekolah seharusnya memotivasi keterlibatan siswa yang positif dalam ruang

lingkup yang tidak formal yang kurang mendapatkan tempat secara struktural.

Keterlibatan siswa dalam program kokurikuler dengan memberikan

siswa kesempatan untuk menentukan kebutuhannya sendiri, dalam

peningkatan minat yang baru dan untuk meningkatkan bakatnya merupakan

tujuan utama kegiatan kokurikuler. Kegiatan kokurikuler meliputi pengalaman

mereka yang tidak termasuk dalam kurikulum tetapi diakui dan biayai oleh

sekolah dalam pengajaran dan usaha meningkatkan partisipasi siswa. Tujuan

utama program ini adalah untuk menguatkan dan meningkatkan pengalaman

belajar di kelas. Kepala sekolah harus menjadikan kokurikuler sebagai alat

yang penting untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan mengidentifikasi

tujuan sekolah. Hal itu dapat menjadi sumber yang baik bagi siswa yang

berharap bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan siswa yang mempunyai

kesulitan dalam berhubungan dengan program pengajaran secara formal di

sekolah.

Kepala Sekolah harus merespon perencanaan program kokurikuler

siswa. Dengan memperhatikan kebutuhan siswa yang dapat dipenuhi hanya

dengan membuat pengetahuan lebih baik lewat program formal. Pemberian

kesempatan kepada siswa akan lebih cepat menentukan kebutuhan dan


102

ketertarikan mereka. Sebagai program pengajaran harus memperbolehkan

setiap individu yang berbeda-beda dan program kokurikuler diberikan

berdasarkan pada alasan setiap siswa yang berbeda dan berhak

mendapatkan pelayanan sesuai dengan keadaan psychologi, sosial dan

pengalaman fisik. Setelah penilaian kebutuhan sistematik, siswa diberikan

kegiatan pilihan yang berhubungan dengan sasaran sekolah dan kebutuhan

sekolah.

Latihan yang baik dan sering adalah untuk mendapatkan guru yang

baik sebagai tutor/pelatih sebelum suatu kegiatan disetujui oleh sekolah.

Pelatih diharapkan untuk menjabarkan kebijakan sekolah, menawarkan

pedoman dan arahan, dan meyakinkan bahwa kegiatan berlangsung

berdasar pada filosofi, kebijakan dan tujuan dari sekolah. Tugas staf untuk

kegiatan kokurikuler seharusnya dibuat dengan tidak hanya berdasar pada

kecocokan antara kebutuhan guru dan kegiatannya tetapi juga pada

kecocokan antara guru dan murid, Murid akan bagus berpartisipasi dalam

pembuatan tugas jika didukung dengan pelatih. Kepala Sekolah seharusnya

memberikan perhatian dan kepedulian yang sama untuk pengaturan kegiatan

kokurikuler seperti mereka melakukan tugas pengajaran. Guru, administrator,

dan siswa dalam meningkatkan partisipasi kegiatan kokurikuler telah

diutarakan secara formal pada saat persetujuan bersama, oleh karena itu

guru seharusnya dimotivasi untuk memberikan pelayanan dan bakat

profesionalnya dalam berbagai kegiatan untuk mencapai pemahaman yang


103

lebih dari siswanya, sebagaimana untuk meningkatkan hubungan dengan

masyarakat lokal.

Permintaan masyarakat untuk penghematan keuangan, menyebabkan

sekolah mengurangi pengalokasian kebutuhan untuk mendukung porgram

kokurikuler. Namun demikian hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan

partisipasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota (Dinas

Pendidikan) dalam kegiatan kokurikuler. Untuk mensyahkan pembentukan

program kokrikuler yang memadai dan untuk membantu pencapaian sasaran

program, sekolah seharusnya menyediakan dana yang memadai untuk

mendukung program kokurikuler sebagai bagian dari anggaran

pengoperasian sekolah. Kepala Sekolah harus membantu bahwa program

kokurikuler merupakan bagian integral dari sekolah dan oleh karena itu

membutuhkan bantuan dukungan dana yang memadai dari negara dan dinas.

Organisasi Siswa intra Sekolah (OSIS) merupakan alat yang

mempunyai kekuatan penuh untuk mengikutsertakan siswa yang

layak/mampu dalan pengambilan keputusan. Untuk memaksimalkan potensi

siswa, Kepala Sekolah harus memotivasi partisipasi siswa secara aktif dalam

mengidentifikasi dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan

sekolah. Bentuk partisipasi ini meliputi kerja operasional yang efektif bagi

OSIS yang komponen-komponennya meliputi perwakilan, dukungan, waktu

dan pelatihan kepemimpinan. Keterlibatan siswa dalam OSIS ini harus

diberikan nilai akademik dan sosial karena telah meluangkan waktu, tenaga

dalam pengambilan keputusan sekolah.


104

Pelayanan pribadi siswa diberikan secara langsung pada siswa, antara

lain program bimbingan yang berkelanjutan merupakan pusat keefektifan

sekolah. Siswa merupakan subyek utama diberikannya pelayanan bimbingan

dasar. Walaupun guru-guru, petugas administrasi, orangtua, dan staf yang

lain semua membutuhkan pelayanan bimbingan. Tujuan utama dari program

bimbingan adalah untuk meningkatkan rasa kepuasan siswa, keikutsertaan

dalam kegiatan, pengidentifikasian prestasi baik sekarang atau kehidupan

mendatang.

Pelayanan inventaris merupakan pelayanan pribadi siswa yang

meliputi kegiatan yang berhubungan dengan pencarian dan pengumpulan

data yang relevan tentang masing-masing kebutuhan, nilai, kemauan,

ketertarikan prestasi siswa dan tujuannya. Yang termasuk dalam inventaris

siswa/catatan pribadi adalah data yang berhubungan dengan demografik,

prestasi dan hasil tes kemampuan/hasil kemajuan setiap tahun. Anecdotal

record, laporan hubungan antar guru dan orangtua, ringkasan pengalaman

kokurikuler, dan beberapa informasi penting lainnya untuk

mengembangkan/meningkatkan pemahaman dari masing-masing siswa.

Pelayanan informasi meliputi informasi pribadi, sosial, karir dan

akademik diberikan lewat hubungan individu dan kelompok, dan dengan

membuat kantor bimbingan yang layak dan pusat media berbagi informasi

yang berhubungan dengan pendidikan dan pekerjaan. Informasi seharusnya

diberikan secara objektif selama informasi itu berpengaruh sangat besar pada

pendidikan siswa dan pilihan karir.


105

Interview dalam konseling merupakan inti dari program bimbingan.

Dalam hal ini informasi yang berhubungan dengan individu siswa disatukan

dengan data dalam pelayan informasi dan digabungkan dengan proses

pemahaman diri, pertumbuhan dan perkembangan. Kenyataannya pelayanan

konseling begitu intrinsik pada program bimbingan yang menyeluruh yang

bagian-bagian bimbingan dan konseling sering digunakan secara bersama-

sama, karena hubungan antara penasehat dan siswa sangat penting,

masing-masing penasehat yang profesional harus menambah pengalaman

klinik dan pelatihan tentang teknik konseling.

Di SD dan SLTP, pelayanan penempatan kurang dipakai umumnya

difokuskan pada penempatan pemilihan sekolah dan jadwal siswa. Di SMU

pelayan penempatan sangat luas meliputi pengaturan jadwal siswa dan

pengalaman belajar dan kerja di kampus dan penempatan kerja. Pelayanan

penempatan biasanya khusus bagi siswa yang droupout. Kurangnya

perhatian atas usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi droupout,

beberapa siswa memilih untuk mengakhiri pendidikan formalnya daripada

melanjutkan sampai lulus. Siswa-siswa ini membutuhkan bantuan awal dalam

mencari pekerjaan yang cocok. Terlebih, sekolah mempunyai wewenang

untuk menentukan hubungan yang berkelanjutan dengan mantan siswa dan

untuk menawarkan bantuan profesional dan kesempatan untuk bersekolah

lagi.

Kesuksesan pokok dari beberapa sekolah adalah pelayanan

penelitian, dimana berpusat pada koleksi, presentasi dan penggunaan data


106

menurut siswa pada saat ini dan lulusannya. Data yang akurat dari siswa

merupakan hal yang penting dalam menilai kapasitas sekolah untuk

memenuhi fungsi bagiannya. Data yang sistematis dan berkelanjutan

merupakan hal yang penting dalam pengembangan perencanaan pendidikan.

Tugas yang berhubungan dengan fungsi penelitian adalah mengevaluasi

secara terus menerus ruang lingkup dan kualitas program bimbingan itu

sendiri. Kepala Sekolah seharusnya melihat bahwa siswa, guru dan orangtua

disurvei untuk mengetahui harapan mereka dan mengevaluasi keefektifan

program bimbingan. Hal ini dapat memberi masukan yang berguna menurut

pelayanan bimbingan yang cocok atau seharusnya hal itu ditingkatkan.

Program guru sebagai penasehat (wali kelas) biasanya berfungsi

dengan baik di SD dimana guru bertanggung jawab mengajar dan

menasehati siswa di kelas yang mereka ajar. Penerapan program wali kelas

guru dan anggota staf lainya (termasuk administrator, konselor dan yang

lainnya) diseleksi dan dipertemukan dengan sekelompok penasehat.

Program teacher-advisor memiliki 4 fungsi penting yaitu:

a. Memberikan nasihat pendidikan

b. Meningkatkan komunikasi sekolah yang lebih luas

c. Meningkatkan hubungan sekolah dengan siswa sendiri

d. Meningkatkan masing-masing pribadi siswa dan sosial

Perubahan berpengaruh besar terhadap hubungan antara Kepala

Sekolah dengan siswa adalah kewajiban hadir di sekolah, disiplin, kebebasan

berekspresi, kebebasan menyita dan mencari apa yang menjadi hak siswa.
107

Kewajiban Kepala Sekolah untuk mengecek kehadiran siswa, Kepala

Sekolah dan staf harus menyadari bahwa banyaknya masalah kehadiran

didorong oleh ketidakmampuan sekolah dan banyaknya program yang sesuai

dengan kebutuhan, ketertarikan dan kemampuan masing-masing siswa.

Kepala Sekolah harus mengevaluasi kedisiplinan dari semua komunitas yang

ada di sekolah tersebut, tetapi tidak boleh terlalu overacting kalau tidak ingin

hilang kewibawaannya. Siswa diberikan kesempatan berekpresi seluas-

luasnya dengan memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam lingkungan

pendidikan, namun demikian sekali waktu Kepala Sekolah berhak melakukan

operasi loker, tas, rak buku siswa dan memanggil siswa secara pribadi.

Kegiatan ini harus diberitahu terlebih dahulu tertulis maupun lesan

Berdasarkan keterangan di atas Kepala Sekolah sebagai pengelola

dalam pelayanan siswa, maka harus memiliki kompetensi sebagai berikut:

1. menganalisis, menaksir, dan menjelaskan pengenalan nilai siswa di

sekolah

2. mereview dan menjabarkan tujuan dan sasaran sekolah sebagai suatu

lembaga.

3. menganalisis dan mempelajari pengenalan nilai staf sekolah dan

dirinya.

4. melibatkan siswa dalam membuat keputusan yang berhubungan dan

program sekolah.

5. mengkoordinasikan perencanaan, penyusunan staf, keuangan, dan

evaluasi program kokurikuler di sekolah.


108

6. mendukung pengembangan kebijakan operasional dan menyediakan

sumber untuk organisasi kesiswaan yang efektif di sekolah.

7. mendorong pengembangan kegiatan terhadap penyediaan informasi

siswa

8. memprioritaskan penyuluhan terhadap individual murid, kelompok,

guru, dan orangtua siswa.

9. berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan dan pencepatan prosedur

sekolah dan penempatan siswa.

10. berinisiatif melakukan penelitian dan penggunaan informasi penelitian

untuk pebaikan bimbingan dan program perbaikan.

11. menyusun kegiatan yang mendukung interaksi antara siswa, guru,

konselor, dan staf yang lain.

12. mempelajari dan memahami aturan-aturan dan keputusan-keputusan

yang disyahkan dalam pelaksanaan administrasi sekolah.

13. menggunakan data tegai dan disyahkan sebagai dasar dalam

melakukan perubahan tujuan, sasaran, prosedur sekolah, nilai, peran,

tingkah laku anggota organisasi.

4. Kepala Sekolah sebagai Pengelola Keuangan dan Fasilitas yang Lain

Kepala Sekolah bertanggung jawab untuk memaparkan sasaran dan

tujuan pendidikan daiam anggaran belanja, menyiapkan anggaran sekolah,

memonitor penggunaan sumber-sumber yang ada, dan mengevaluasi hasil

pendidikan berdasarkan program.


109

Kepala sekolah harus mempertimbangkan sumber dari lingkungan

eksternal, masukan ke sekolah, perpaduan antara sumber dan input, hasil

sekolah, dan umpan balik ke sistem dan lingkungannya. Sekolah

mendapatkan sumbernya dari masyarakat, pemerintah daerah, dan pusat

(negara). Untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan, hasil pendidikan

suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh keadaan masyarakat sekolah

tersebut, anggota yang masuk di dalamnya dan harapan masyarakat sekitar.

Sumber yang penting lainnya untuk sekolah dari lingkungan eksternal adalah

sumber-sumber pajak. Sumber tersebut dipengaruhi oleh kebijakan

pemerintah. Sumber lainnya adalah pengetahuan tentang proses pendidikan

dan bagaimana sumber itu dapat berfungsi secara efektif. Dalam hal ini

Kepala Sekolah dan staf mencari ide, program dan kegiatan sekolah yang

lebih baik untuk meningkatkan sekolahnya dan diharapkan dapat

menyalurkan pengetahuan tersebut untuk mengatur sekolah secara efektif,

memberikan pelayanan kegiatan belajar mengajar dengan baik dan

menggunakan sumber-sumber sekolah secara efektif.

Ada tiga sumber input sekolah yaitu sumber material, sumber

manusia, dan bantuan. Sumber material terdiri dari semua alat dan fisik yang

ada untuk digunakan oleh sekolah misal: gedung, buku, alat-alat, dan

sebagainya. Sumber manusia terdiri dari 2 kategori yaitu siswa dan tenaga,

yang paling penting dalam hal ini adalah siswa. Bantuan dan prioritas

ditetapkan oleh masyarakat sekolah mengenai pendidikan dan oleh negara

mengenai undang-undang dan administrasinya.


110

Kepala Sekolah dan staf harus membawa sumber-sumber manusia,

material, tujuan, prioritas, pengendalian dan memadukannya dalam

pencapaian tujuan sekolah. Dalam proses ini dijabarkan dalam program

pendidikan. Kepala Sekolah dan staf harus menaruh perhatian terhadap isi

program dan proses pengajaran. Tujuan pengajaran harus spesifik untuk

setiap pengajaran, pelajaran, dan murid. Keputusan harus dibuat tentang

alokasi waktu, materi pengajaran yang dibutuhkan, pengelompokkan/

pembagian kelas, tempat, perlengkapan, dan bahan-bahan lainnya. Kepala

Sekolah juga harus mengidentifikasi pelayanan pendukung yang diperlukan

sehingga program efektif.

Hasil proses pendidikan dapat dibedakan menjadi 3 fase yaitu jangka

pendek, panjang, dan joint atau incidental. Hasil dalam jangka pendek yaitu

menilai perkembangan intelektual melalui tes prestasi, pendemontrasian,

ketrampilan, dan juga hasil dari observasi. Hasil dalam jangka panjang yaitu

menilai antara lain pelayanannya untuk siswa dan sosialnya sebagai individu

dan anggota masyarakat sekolah, sebagai pekerja, sebagai pemimpin, dan

inovator, sebagai kontributor budaya dan sebagai warga negara. Hasil join

dari sistem pendidikan diatur dalam laporan yang tidak termasuk dalam

proses pendidikan atau di luar pengajaran. Umpan balik merupakan hasil

setelah evaluasi yang membandingkan prestasi yang diraih dan sasarannya.

Mengelola sumber-sumber perlu dipersiapkan penganggaran terkait


dengan hal tersebut ada tiga pendekatan anggaran yang digunakan di
sekolah
111

a. Pendekatan komparatif (Comparative approach) yaitu perbandingan


antara jumlah pendapatan dan pengeluaran satu tahun dan tahun
berikutnya, dimana keputusan anggaran berdasarkan pada
penambahan kenaikan
b. Pendekatan sistem pengevaluasian program perencanaan (The
planning-programming-budgeting-evaluating systems approach)
menentukan tujuan-tujuan program yang menentukan sasaran yang
dicapai, alternatif lain dalam mencapai tujuan, biaya masing-masing
alternatif, biaya penyelenggaraan dan pengevaluasian masing-masing
program.
c. Pendekatan fungsional (the functional apprach) meliputi elemen dari
pendekatan komparatif dan pendekatan sistem pengevaluasian
program perencanaan.

Prosedur penyusunan anggaran menurut Lipham (1985: 239) ada 4

fase yaitu:
a. Planning The Budget
• Identifying needs, issues, and goals
• Adopting Objectives
• Analyzing Program Options
• Selecting Cost-Effective Alternative
b. Preparing The Budget
• Preparing Budget Form
• Inventorying Existing Resources
• Assigning Costs to Programs
• Presenting The Budget
c. Managing The Budget
• Preparing Financial Report
• Purchasing Supplies and Equipment
• Accounting for Schools Fund
• Controlling Expenditure
d. Evaluating the Budget
• Asssessing Educational Performance
• Auditing Achievment of Objectives
• Making Cost and Budget Comparisons
• Recomending Future Adjustments and Changes
112

Tahap: perencanaan anggaran terdiri dari kegiatan mengidentifikasi

kebutuhan; i^ui-isue, dan tujuan; mengadopsi sasaran; menganalisis alternatif

program; dan memilih biaya dan alternatif yang efektif. Tahap penyiapan

anggaran terdiri dari kegiatan: menyiapkan format anggaran; mengiventarisir

sumber-sumber yang ada; memberikan atau menetapkan biaya pada masing-

masing program; dan menyajikan anggaran. Tahap mengelola anggaran

terdiri dari: menyiapkan laporan keuangan; pembelian kebutuhan dan

perlengkapan; dan mencatat serta membukukan keuangan sekolah; dan

mengontrol pengeluaran. Tahap evaluasi anggaran meliputi", mengukur

kinerja pendidikan; mengaudit pencapaian tujuan; membandingkan biaya dan

anggaran. Keempat tersebut saling berkaitan dan merupakan siklus dan

penganggaran yang sistematis memiliki hubungan dengan sumber-sumber,

program, dan hasil.

Kepala Sekolah sebagai pengelola keuangan dan fasilitas yang lain

terkait dengan sumber keuangan, Kepala Sekolah harus memiliki

kompetensi:

1. menentukan kebutuhan, tujuan, dan sasaran sekolah dan menjabarkan ke

dalam pengajaran dan mendukung hasil yang dapat diukur syarat-syarat

kinerjanya.

2. memimpin staf dalam pengembangan format dan struktur program secara

konsisten dengan tujuan yang dapat diukur.

3. mengidentifikasi, menganalisis, dan menentukan ongkos alternatif untuk

pencapaian setiap tujuan.


113

4. merekomenasikan seleksi dan penyesuaian alternatif pengajaran

5. memimpin atau memilihara kecukupan inventaris perlengka

penyediaan bahan untuk pencapaian tujuan.

6. menyiapkan anggaran yang menetapkan prioritas kebutuhan untuk setiap

program di sekolah.

7. mengevaluasi dan menyetujui permintaan untuk perlengkapan,

persediaan, dan bahan untuk dibeli sekolah.

8. memperkirakan kebutuhan sumber beberapa tahun yang akan datang

bagi sekolah.

Terkait dengan penempatan sumber sekolah, kompetensi Kepala

Sekolah adalah:

9. mengerahkan input seperti guru, siswa, dan warga dalam perencanaan

wilayah untuk fasilitas pendidikan.

10. memimpin staf dalam menentukan jumlah dan kualitas kebutuhan dalam

pengajaran.

11. menggambarkan dan menentukan tempat dan fasilitas pelayanan

12. mengembangkan instrumen secara lengkap tentang kekhususan

pendidikan sebagai masukan arsitek untuk perencanaan fasilitas model

baru.

13. menilai kemajuan perencanaan dan bentuk perubahan yang dibutuhkan

dalam penyediaan kegiatan pengajaran yang fleksibel.


114

14, menginterview, menentukan, dan mengawasi pemeliharaan dan tenaga

pemeliharaan untuk penyediaan lingkungan fisik yang akan

meningkatkan pengajaran.

5. Kepala Sekolah Sebagai Pengelola dalam Menjalin Hubungan Sekolah


dan Masyarakat

Orangtua dan warga melihat Kepala Sekolah sebagai pengelola untuk

memperbaiki efektivitas sekolah dalam rangka mencapai pendidikan yang

berkualitas.

Taxonomi masyarakat digambarkan sebagai berikut:

a. Local community: mengumpulkan identitas didasarkan atas lingkungan

khusus atau regional, lingkungan lokal atau sekolah.

b. Administrative community: mengumpulkan identitas didasarkan atas

identitas penentu kebijakan khusus, contoh kota, kabupaten.

c. Social community: pengumpulan identitas didasarkan atas hubungan

interpersonal khusus tanpa tergantung lokal atau wilayah administrasi,

contoh: seluruh teman siswa.

d. Instrumental community: pengumpulan identitas yang didasarkan atas

perjanjian langsung atau tidak langsung dengan orgnisasi lainnya

dalam kinerja fungsi khusus yang saling berkaitan. Contoh:

masyarakat pendidikan, organisasi pendidikan (PGRI), organisasi

penyandang dana.
115

e. Etnic, caste, atau kias masyarakat: pengumpulan identitas didasarkan

atas suku, rasial, kelompok budaya; contoh: Irlandia, negro, atau kias

atas.

f. Ideological community: pengumpulan identitas didasarkan atas sejarah

khusus, konsep, atau sosiopolitik masyarakat lokal lintas bidang,

administrasi, sosial, instrumental, atau komunikasi etnik; contoh:

kristen, beasiswa, atau sosialis.

Penelitian (Bowles & Fruth, 1996: 92) menunjukkan bahwa program efektif

hubungan sekolah-masyarakat adalah:

a. Siswa merupakan bagian masyarakat sangat penting di sekolah yang

merupakan sumber utama informasi tentang orangtuanya.

b. Program efektif hubungan sekolah-masyarakat dengan cara

memperbaiki pekerjaan yang tertutup menjadi terbuka dengan

orangtua. Melalui kunjungan ke rumah orangtua, sukarelawan

orangtua, partisipasi orangtua dalam pengambilan keputusan.

c. Staf sekolah dapat menggunakan sumber pendidikan di masyarakat.

Ini bisa memperbaiki program pengajaran dan meningkatkan

pengetahuan staf dari sumber masyarakat.

d. Anggota staf sekolah harus memperluas konsep masyarakat sekolah.

Sekolah tidak bisa mengisolasi dari tipe-tipe anggota masyarakat.

e. Program hubungan sekolah-masyarakat lebih efektif dengan

menggunakan media, sehingga komunikasi akan jelas, langsung, dan

sering.
116

f. Banyak jenis bagian masyarakat memiliki sedikit kontak langsung

dengan sekolah. Kepala Sekolah harus menjamin komunikasi yang

memadai, peningkatan keterlibatan komunikasi dalam aktivitas

sekolah, menyediakan partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan

mengembangkan jalan pemecahan masalah aktual atau konflik

potensial antara bagian masyarakat dengan sekolah.

g. Kelebihan setiap pengajaran atau perubahan organisasi dibuat visibel

dan nyata untuk beberapa individual dan kelompok dalam masyarkat

lokal. Kemudian orangtua dan warga harus lebih mudah

melaksanakan perubahan dan menjawab pertanyaan masyarakat

harus konkret, specrfik, dan dapat dimengerti.

h. Sejak sekolah memiliki siswa, warga akan menaruh perhatian pada

tujuan, prioritas, kebijakan, dan program sekolah. Sekarang warga

lebih terbuka, tahu, berpengalaman dibanding yang lalu, saran akan

diberikan untuk kontinuitas dan keseriusan belajar. Krisis manajemen

tidak akan terjadi karena perhatian masyarakat yang besar.

Partisipasi dan proses hubungan rumah-sekotah-masyarakat nampak dalam

bagan 2.2 dengan penjelasan berikut ini:

a. Analysis: proses yang mengenal dan menghubungkan isue dan

anggota masyarakat

b. Communication: proses interaksi diantara anggota masyarakat dan

antara sekolah dan anggota masyarakat.


117

c. Involvement: proses dimana anggota masyarakat berkontribusi waktu,

enerji, keahlian, dan sumber lain untuk sekolah dan akses

pengambilan keputusan.

d. Resolution: proses yang didesain untuk memecahkan dan mengurangi

masalah atau konflik potensial di rumah, sekolah, dan masyarakat.

• DISTRICT COMMUNITY ^

SCHOOL COMMUNITY

HOME

STUDENT

ANALYSIS ANALYSIS
COMMUNICATION INSTRUCTIONAL COMMUNICATION
INVOVEMENT PROGRAMMING INVOLVEMENT
RESOLUTION RESOLUTION

TEACHER(S)

^ TEACHER ( S V

PRINCIPAL +

SUPERINTENDENT^.
(Sumber: Lipham, 1985)

Bagan 2.2 Model Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Analisis masyarakat memerlukan tiga fungsi: 1) Kepala Sekolah harus

mengenal isue dan isue dasar. 2) Kepala Sekolah harus mengenal partisipasi

individual dan masyarakat. 3) Kepala Sekolah harus menghubungkan isue

dan isue dasar yang dikenal dengan partisipasi individual dan partisipasi

bagian masyarakat yang direncanakan untuk komunikasi, keterlibatan, dan

pemecahan isue yang dapat dilaksanakan.


118

Tiga cara dimana isue dapat diidentifikasi. 1) Konsentrasi penuh atau

keterlibatan penuh Kepala Sekolah pada pekerjaan (sense on the job),

pisahkan diri dengan isue yang tidak ada berguna. 2) Mengidentifikasi isue

dengan menggunakan/ mengadakan survey sistematis. 3} interview in-depth

dengan anggota masyarakat.

Komunikasi dengan masyarakat yang paling berkualitas antara guru

dengan siswa adalah 1) dalam program kurikuler dan kokurikuler di sekolah.

Komunikasi formal dan informal dapat berlangsung antara siswa dan staf

tergantung aktivitas sekolah dan merupakan komunikasi efektif dengan

masyarakat lokal. 2) Press release, radio, program televisi, dan koran sekolah

serta surat merupakan komunikasi formal yang efektif antara sekolah dan

masyarakat. 3) Bilateral, face to face communication dibutuhkan bersama

dengan perjanjian waktu, tempat, dengan saling percaya. Misalnya

wawancara dengan orangtua.

Komunikasi merupakan bentuk keterlibatan. Keterlibatan berarti

partisipasi aktif orang dalam program dan aktivitas sekolah. Keterlibatan yang

direncanakan berarti keterlibatan struktur dengan memberi kesempatan pada

masyarakat untuk menyampaikan usulan tentang materi pelajaran dengan

kemungkinan alasan yang tayak dan mengawasi isue tersebut dan

berpartisipasi. Keterlibatan juga tidak direncanakan dan interaksi

sepontanitas, berhadapan dengan kelompok kontrol, kunjungan tanpa

pemberitahuan, atau brainstormin dan pemecahan masalah yang muncul di

luar proses kelompok struktur.


119

Lima tipe keterlibatan yang digunakan sekolah efektif yaitu home visits,

paneni conference, community based leaming activities, citizen volunteers,

citizen represtaton on advisory committees.

Fungsi terakhir program hubungan sekolah masyarakat adalah

pemecahan masalah aktual atau konflik potensial, alokasi sumber, pemilihan

nilai, dan distribusi kekuatan. Empat model pemecahan konflik 1) Rational

decision making, 2) Persuasion, 3) Bargaining, 4) Power p/ay. Kepala

Sekolah harus kompeten terhadap empat model tersebut, kapan dan

bagaimana Kepala Sekolah mampu menggunakan model tersebut.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Kepala Sekolah

sebagai pengelola dalam menjalin hubungan sekolah dan masyarakat terkait

dengan analisis masyarakat, maka kompetensi Kepala Sekolah adalah:

1. berkoordinasi dengan dewan penasehat atau kelompok perwakilan

masyarakat dalam menganalisis tujuan, sasaran, program, dan prosedur

sekolah.

2. beserta staf memperkirakan persepsi warga tentang kebutuhan dan

harapan warga terhadap sekolah.

Terkait dengan komunikasi dengan masyarakat, kompetensi Kepala Sekolah;

3. berpartisipasi secara luas dalam kegiatan kelompok masyarakat dan

ambil bagian secara selektif dengan organisasi kemasyarakatan.

4. melibatkan guru, murid, dan tenaga lainnya berkaitan dengan perannya di

masyarakat
120

5. berkonsultasi dengan pimpinan dan anggota organisasi guru orangtua

siswa (Parent Teacher Organization) untuk efektivitas sekolah.

6. menganalisis kebutuhan informasi, menyiapkan, mengajukan komunikasi

pada pertemuan dengan masyarakat.

7. mengklarifikasi kriteria kuantitatif dan kualitatif yang digunakan oleh

warga untuk menilai proses dan produk sekolah.

Terkait dengan Kegunaan Sumber Masyarakat, kompetensi Kepala Sekolah;

8. menggali program inovatif dan rencana-rencana kegiatan kerjasama

keseluruhan sumber masyarakat.

9. mendorong praktek pendidikan yang melibatkan masyarakat sebagai

laboratorium belajar.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Kepala

Sekolah memiliki andil yang besar dalam mengelola program pengajaran,

memberi pelayanan pada tenaga kependidikan lainnya, memberi layanan

pada siswa, sebagai pengelola fasilitas dan keuangan, dan menjalin

hubungan dengan masyarakat. Untuk mengungkap hal tersebut maka guru

yang paling logis dan tepat menilai kepemimpinan Kepala Sekolah sebab

guru yang paling banyak terlibat secara langsung dengan kepemimpinan

Kepala Sekolah bila dibandingkan dengan tenaga kependidikan lainnya.

D. Pembiayaan Pendidikan

Perkembangan jaman dan peradaban menyebabkan bertambah dan

bergesernya kebutuhan manusia, semula manusia menganggap kebutuhan


121

sekunder sekarang menjadi kebutuhan primer, demikian juga dengan

pendidikan, banyak negara dan manusia menempatkan pendidikan sebagai

kebutuhan primer, sehingga harus mengeluarkan biaya yang tinggi karena

pendidikan merupakan investasi (human capital). Sebagaimana pemerintah

Amerika Serikat menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam

pembangunan sehingga pengeluaran untuk pendidikan paling besar

dibandingkan dengan sektor lain, seperti tampak dalam tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1
Percentage Distribution for Selected Items
of State goverment Expenditure
1950 -1980
Year
Goverment Function 1950 1960 1970 1980
Highways 22% 27% 17% 11%
Education 28 33 40 39
Health and Hospital 8 7 7 8
Public Welfare 19 14 17 19
Interest on General 1 2 2 3
Debt 22 17 7 20
All Other

Sumber Council of State Goverments dalam Thomas H. Jones (1985:


186)

Dengan mengalokasikan dana yang besar untuk pendidikan berharap

tingkat pengembalian (rate of retum) juga besar, dalam pendidikan dapat

dilihat dari kinerja manajemen pendidikan. Demikian juga bagi individu yang

hanya berpendidikan rendah akan memperoleh pengahasilan yang rendah

demikian juga sebaliknya yang berpendidikan tinggi akan memperoleh

penghasilan yang tinggi. Hal ini juga disampaikan oleh Thomas H. Jones

(1985: 6) yang nampak dalam tabel berikut:


122

Tabel 2.2
Lifeteme Income of Men,
by Years of School Completed

Years of School Average


Completed Lifetime
lncome($)
Less than 8 279,997
9 to 11 389,208
12 (H.S. Diploma) 478,873
13 to 15 543,435
16 College Degree) 710,569
17 or more 823,759
Sumber U.S. Departemen of Commerce, Bureau o f The Cencus

Pembiayaan pendidikan berkaitan dengan bagaimana sumber-sumber

biaya pendidikan dapat diperoleh dan bagaimana menggunakan biaya

pendidikan yang telah diperolehnya serta mempertanggungjawabkannya

dalam satuan pendidikan tertentu. Dalam hal ini Moch Idochi Anwar (1990:

50) mengemukakan bahwa "Pembiayaan pendidikan merupakan kegiatan

dalam penyelenggaraan pendidikan yang menyangkut bagaimana upaya

mencari sumber dana dan bagaimana menggunakan dana yang ada itu untuk

proses penyelenggaraan pendidikan". Demikian juga Mohammad Fakry

Gaffar (1991: 56) mengungkapkan bahwa "pembiayaan pendidikan

(educational finance) mencakup beberapa aspek, aspek pertama adalah

revenue (sumber, dana pendidikan). Aspek kedua adalah alokasi atau

distribusi yang mengungkapakan masalah bagaimana menggunakan dan

mendistribusikan dana diperoleh dari berbagai sumber untuk kepentingan

penyelenggaraan pendidikan.

Penerimaan keuangan sekolah menurut H.M. Levin (1987: 426)

"School revenue refer to the financial receipts of schools for supporting their
123

operations. Such revenues can be derived from taxation, tuition\bffar@g$, «gffif £

student fees as weli as from contributions and income from the /

goods and services". Penerimaan sekolah berhubungan dengan pemasukan

keuangan sekolah untuk mendukung kegiatan sekolah. Seperti penerimaan

yang berasal dari pajak, uang sekolah, dan biaya dari siswa sebagai

konstribusi dan pendapatan dari provisi barang dan jasa. Sedang menurut

Manuel Zymelmen (1975: 8) "metode memperoleh dana pendidikan dari:

pajak, pembayaran bea, flantropi, dari perusahaan swasta, bea dan cukai".

Metoda lain yang kemampuan menghasilkannya terbatas menurut Zymelmen

adalah "jasa-jasa, pinjaman-pinjaman, bunga dan tabungan penjualan

saham, undian, sumbangan dana khusus, seruan-seruan atau langganan,

denda, bea izin, subventions, pembebasan bea, pemberian pemerintah asing,

ganti rugi dan pemakaian keuntungan monopoli pemerintah".

Berdasarkan Buku T5 Penyusunan Rencana, Program dan

Penganggaran (Depdikbud, 1988: 93-94) Sumber dana pendidikan antara

lain: 1) Anggaran rutin (DIK); 2) Anggaran pembangunan (DIP); 3) Dana

Penunjang Pendidikan (DPP); 4) Badan Pembantu Penyelenggara

Pendidikan (BP3); 5) Organisasi Masyarakat/ Yayasan; 6)

Perseorangan/Donatur (flantropi); 7) Lain-lain.

Berdasarkan berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

sumber penerimaan keuangan sekolah atau pembiayaan sekolah adalah

pemerintah, masyarakat, dan orangtua/keluarga. Namun selama ini di

Indonesia yang nampak adalah dari pemerintah dan orangtua/keluarga.


124

Untuk itu perlu strategi penggalian penerimaan keuangan sekolah, strategi ini

dipengaruhi oleh kemampuan sumber daya, jenis sumber dana, dan seni/kiat

Strategi yang dimaksud adalah melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan

antara lain:

1. Penjualan produk dan jasa dari sekolah, praktek laboratorium atau

bengkel kerja yang dapat menghasilkan barang dan jasa yang dapat

dijual kepada masyarakat sehingga dapat menghasilkan uang.

2. Kerjasama dengan fihak usahawan/industri, kerjasama penyediaan

tenaga yang berkualitas sesuat dengan standar profesional dari industri

sehingga dapat mengahasilkan pendapatan bagi sekolah, kerjasama

dengan penandatanganan memory of understanding (MOU).

3. Agen dari industri, sekolah dapat bertindak sebagi agen atau penyalur

(toko, koperasi) sehingga dapat membantu memasarkan barang atau jasa

yang dihasilkan oleh industri. Bagian keuntungan itu merupakan

pendapatan bagi sekolah.

4. Membentuk kegiatan ekstra kurikuler yang berkualitas, kegiatan ekstra

kurikuler banyak sekali jenisnya diantaranya Karya Ilmiah Remaja (KIR),

pramuka, olah raga, dan keseniaan. Kegiatan ini apabila ditangani secara

sungguh-sungguh dapat ditampilkan dalam acara-acara resmi, kejuaran

sehingga pada gilirannya akan memperoleh sponsorship yang merupakan

pendapatan bagi sekolah.

5. Penyelenggaraan kursus pendidikan luar sekolah, peralatan laboratorium

sekolah yang lengkap dan kemampuan sumberdaya manusia yang


125

memadai dapat dimanfaatkan untuk penyelenggaraan kursus mengetik,

komputer, akuntansi, perpajakan, dan kursus yang lain. Peserta tidak

hanya siswa sendiri tetapi juga masyarakat yang ditarik iuran sehingga

merupakan pendapatan sekolah.

6. Penyelenggaran seminar, diskusi, pertandingan/lomba olah raga dan

kesenian (event organizer), sekolah dapat bertindak sebagai

penyelenggara kegiatan, peserta ditarik uang pendaftaran dan menarik

sponsorship sehingga meru pakan salah satu pendapatan bagi sekolah.

Dana yang diperoleh sekolah dari berbagai sumber akan digunakan

secara efektif dan efisien. Pengeluaran sekolah merupakan pengorbanan

atau ongkos yang harus dikeluarkan oleh sekolah untuk guru, tenaga

administrasi, bahan-bahan pengajaran, perlengkapan, dan fasilitas yang lain

termasuk nilai ekonomi setiap input yang digunakan, sebagaimana

disampaikan oleh H.M Levin (1987: 426)

Schools expenditures refer to the financial disbursements of schools for


the purchase of the various resources or inputs of the schooling process
such as administrators, teachers, materials, equipment, and facilities.
Costs represent the value of all resources used in the schooling process
whether reflected in schools budgets and expenditures or not. The cost
of schools resources include the values of any inputs that are used,
even if they are donated or not reflected accurately in expenditure
accounts.

Sedang menurut Manuel Zymelmen (1975: 13) metoda alokasi dana

untuk tunjangan mahasiswa, beasiswa, kontrak prestasi pendidikan,

pemberian (hasil-hasil, per-unit tertentu, warga khusus, perlengkapan,

berimbang dan pendorong, kehadiran per-capita, klasifikasi, angkutan, gaji

dan langsung kepada guru). Buku T5 (Depdikbud, 1988: 94) komponen


126

pengeluaran baku berdasarkan pola struktur anggaran adalah: a) program

rutin, meliputi belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan,

belanja perjalanan, subsidi/bantuan; b) program pembangunan, meliputi

pengadaan tanah, pengadaan bahan, peralatan dan mesin, konstruksi, dan

lain-iain. Peraturan Pemerintah nomor 29 tahun 1990 pasal 28 ayat 2

menyebutkan pmbiayaan sekolah digunakan untuk (1) gaji guru, tenaga

kependidikan lainnya, dan tenaga administrasi; (2) biaya pengadaan dan

pemeliharaan sarana dan prasarana; (3) biaya perluasan dan

pengembangan.

Pengeluaran sekolah merupakan ongkos <cost), terkait dengan hal

tersebut biaya pendidikan digolongkan atas biaya langsung dan tidak

langsung, biaya masyarakat dan pribadi, monetary and nonmonetary cost.

1. Biaya Langsung dan Tidak Langsung

Biaya langsung adalah biaya yang langsung berhubungan dengan

kegiatan operasional sekolah, biaya ini terdiri dari biaya pembangunan

(capital cost) dan biaya rutin (recurrent cost). Biaya pembangunan adalah

biaya yang digunakan untuk pembelian barang-barang modal seperti tanah,

gedung, perlengkapan, penyusutan, perbaikan bangunan dan perlengkapan.

Biaya rutin adalah biaya yang digunakan untuk kegiatan operasional

pendidikan pada waktu tertentu. Biaya rutin digunakan untuk menunjang

pelaksanaan program pengajaran seperti pembayaran gaji guru, tenaga

pendukung, tenaga administrasi, dan bahan-bahan habis pakai.


127

Biaya tidak langsung adalah biaya yang menunjang siswa untuk dapat

hadir di sekolah. Biaya tersebut meliputi biaya hidup, transportasi, seragam,

dan biaya lainnya. Biaya ini sulit dihitung karena tidak ada catatan resmi.

Berdasarkan alasan praktis biaya ini tidak turut dihitung dalam perencana

pendidikan.

2. Biaya Masyarakat dan Pribadi

Biaya masyarakat adalah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat

secara langsung maupun tidak langsung. Biaya langsung dalam bentuk uang

kuliah, uang sekolah, buku, dan biaya lainnya. Biaya tidak langsung seperti

pajak dan restribusi yang disetor oleh masyarakat kepada negara. Biaya

pribadi adalah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah

anaknya termasuk didalamnya forgone opportunrty yaitu kesempatan hilang

yang dipergunakan untuk sekolah sehingga siswa tidak memperoleh

penghasilan.

3. Biaya Uang dan Non-Uang .

Biaya Uang adalah biaya yang dikeluarkan masyarakat atau

perseorangan baik langsung maupun tidak langsung yang berwujud uang.

Biaya non-uang adalah biaya yang tidak diwujudkan dengan pengeluaran

uang seperti pengorbanan seseorang yang tidak bekerja atau bersenang-

senang tetapi kesempatan tersebut dipergunakan untuk membaca buku atau

belajar.

Biaya pendidikan (Unesco,1974) juga dapat digolongkan berdasarkan

kegunaan (purpose) yaitu:


128

1) expenditure on capital items - purchase and development of land


- construction
- furniture and non-expendable
equipment

2) expenditure on salaries - teaching staff


- adminstration and supervision staff
- other employees

3) expenditure on other - administration and supervision


recurrent items - maintenance of building and
facilities
- instructional materials and
expendable equipment
- textbooks
- schools transport
- auxilary expense (school meals,
health care, etc)

4) debt service - repayment and interest on loans

Expenditure on salaries and on other recurrent items form together total


recurrent expenditure.

Berdasarkan pendapat di atas bahwa pembiayaan pendidikan terbagi

atas capital cost dan recurrent cost. Capital cost adalah pengeluaran tidak

habis sekali pakai sedang recurrent cost adalah pengeluaran berulang-ulang

atau habis sekali pakai.

Menurut APBS SMU 12 Semarang tahun 2001/2002 biaya pendidikan

terdiri dari pengeluaran operasional dan pengeluaran pembangunan.

Pengeluaran operasional terdiri dari belanja pegawai, barang, pemeliharaan,

perjalanan, dan subsidi bantuan. Pengeluaran pembangunan terdiri dari

pembangunan (pavingisasi, ruang ganti), rehabilitasi gedung,

pengadaan/pengembangan sarana/prasarana.
129

Belanja pegawai terdiri dari gaji, tunjangan beras, lain-lain belanja

pegawai yang terdiri dari honorarium dan kesejahteraan. Honorarium terdiri

dari honorarium GTT, PTT, kelebihan jam mengajar, kegiatan ekstrakurikuler,

tugas lainnya, dan kegiatan sekolah. Kesejahteraan terdiri kesejahteraan

Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, GT/GTT, PT/PTT, Kepala TU/Kepala

urusan, peningkatan kemampuan guru/pegawai, dan pembinaan.

Belanja barang terdiri dari keperluan sehari-hari atau pengadaan

bahan perkantoran, inventaris kantor/pengadaan alat perkantoran dan

pendidikan, langganan daya dan jasa, belanja barang lainnya (KBM, kegiatan

pelajar, rapat, perpustakaan, dan sebagainya)

Belanja pemeliharaan terdiri biaya pemeliharaan gedung, taman,

pagar sekolah, kendaraan, inventaris kantor, peralatan pendidikan,

meubelair. Belanja perjalanan terdiri perjalanan dinas konsultasi, penataran,

diklat untuk Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, guru, staf pendukung

lainnya baik loka! maupun luar kota. Sedang yang terakhir adalah

pengeluaran untuk subsidi/bantuan yaitu bantuan siswa berprestasi dan

kegiatan sosial.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas maka dalam penelitian ini akan dikaji

biaya pendidikan langsung yang merupakan biaya yang berulang-ulang

(recurrent cost) yang dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar,

pengadaan/pemeliharaan sarana dan prasarana, gaji/honorarium/

kesejahteraan, kegiatan pelajar. Dengan demikian maka biaya pendidikan

memiliki pengaruh yang besar terhadap mutu proses belajar mengajar karena
130

terkait langsung dalam penggunaan kegiatan belajar mengajar. Kuantitas

sumber maupun penggunaan biaya antara sekolah yang satu dengan

sekolah lainnya menunjukkan tingkat kecukupan yang berbeda, untuk itu

persepsi guru terkait dengan tingkat kecukupan dalam penelitian ini juga

diungkap sehingga akan memberikan kepuasan kepada guru.

E. Komite Sekolah

Membicarakan Komite Sekolah tidak terlepas dari Dewan Pendidikan.

Dewan Pendidikan merupakan badan yang mewadahi peranserta masyarakat

dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan

pendidikan di kabupaten/kota. Komite Sekolah adalah badan mandiri yang

mewadahi peranserta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu,

pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan, baik

pada pendidikan prasekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur

pendidikan luar sekolah.

Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan badan yang

bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan satuan

pendidikan maupun lembaga pemerintah lainnya. Posisi Dewan

Pendidikan, Komite Sekolah, satuan pendidikan, dan lembaga-lembaga

pemerintah lainnya mengacu pada kewenangan masing-masing

berdasarkan ketentuan yang berlaku

Tujuan dibentuknya Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah

sebagai berikut:
131

a. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam

melahirkan kebijakan dan program pendidikan di kabupaten/kota (untuk

Dewan Pendidikan) dan di satuan pendidikan (untuk Komite Sekolah).

b. Menigkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan

masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

c. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis

dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di

daerah kabupaten/kota dan satuan pendidikan.

Peran yang dijalankan Dewan Pendidikan adalah sebagai pemberi

pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.

Badan tersebut juga berperan sebagai pendukung baik yang berwujud

finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan. Di

samping itu juga Dewan Pendidikan berperan sebagai pengontrol dalam

rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran

pendidikan, serta sebagai mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah (Legislatif) dengan masyarakat. Di lain pihak

peran yang dijalankan Komite Sekolah adalah sebagai pemberi pertimbangan

dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan

pendidikan. Badan tersebut juga berperan sebagai pendukung baik yang

berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan

pendidikan di satuan pendidikan. Di samping itu juga Komite Sekolah

berperan sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas

penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan, serta


132

sebagai mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan

pendidikan.

Untuk menjalankan perannya itu, Dewan Pendidikan dan Komite

Sekolah memiliki fungsi mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen

masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

Badan itu juga melakukan kerja sama dengan masyarakat, baik

perorangan maupun organisasi, dunia usaha dan dunia industri,

pemerintah, dan DPRD berkenan dengan penyelenggaraan pendidikan

bermutu. Fungsi lainnya adalah menampung dan menganalisis aspirasi,

pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan

oleh masyarakat. Di samping itu, fungsi Dewan Pendidikan dan Komite

Sekolah adalah memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi

kepada pemerintah daerah/DPRD dan kepada satuan pendidikan

mengenai kebijakan dan program pendidikan; kriteria kinerja daerah

dalam bidang pendidikan; kriteria tenaga kependidikan, khususnya

guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; kriteria fasilitas pendidikan;

dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. Terakhir fungsi Dewan

Pendidikan dan Komite Sekolah adalah mendorong orang tua dan

masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dan menggalang dana

masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di

satuan pendidikan.

Anggota Dewan Pendidikan terdiri atas unsur masyarakat dan dapat

ditambah dengan unsur birokrasi/legislatif. Unsur masyarakat dapat berasal


133

dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang pendidikan; tokoh

masyarakat (Ulama, budayawan, pemuka adat, dll); anggota masyarakat

yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu pendidikan atau yang

dijadikan figur di daerah: tokoh dan pakar pendidikan yang mempunyai

perhatian pada peningkatan mutu pendidikan; yayasan penyelenggara

pendidikan (sekolah, luar sekolah, madrasah, pesantren); dunia

usaha/industri/asosiasi profesi (pengusaha industri, jasa, asosiasi, dan lain-

lain); organisasi profesi tenaga kependidikan (PGRI, ISPI, dan lain-lain); dan

perwakilan dari Komite Sekolah yang disepakati. Unsur birokrasi, misalnya

dari unsur dinas pendidikan setempat dan unsur legislatif yang membidangi

pendidikan, dapat diiibatkan sebagai anggota Dewan Pendidikan maksimal 4-

5 orang. Jumlah anggota Dewan Pendidikan sebanyak-banyaknya berjumlah

17 (tujuh belas) orang dan jumlahnya harus gasal. Syarat-syarat, hak dan

kewajiban, serta masa bakti keanggotaan Dewan Pendidikan ditetapkan di

dalam AD/ART. Dilain pihak anggota Komite Sekolah berasal dari unsur-

unsur yang ada dalam masyarakat. Disamping itu unsur dewan guru,

yayasan/lembaga penyelenggara pendidikan, Badan Pertimbangan Desa

dapat pula dilibatkan sebagai anggota. Anggota Komite Sekolah dari unsur

masyarakat dapat berasal dari perwakilan orang tua/wali peserta didik

berdasarkan jenjang kelas yang dipilih secara demokratis; tokoh masyarakat

(ketua RT/RW/RK. Kepala dusun, ulama, budayawan, pemuka adat); anggota

masyarakat yang mempunyai perhatian akan dijadikan figur dan mempunyai

perhatian untuk meningkatkan mutu pendidikan; pejabat pemerintah


134

setempat (Kepala Desa/Lurah, Kepolisian, Koramil, Depnaker, Kadin, dan

Instansi lain); dunia usaha/industri (pengusaha industri, jasa, asosiasi, dan

lain-lain); pakar pendidikan yang mempunyai perhatian pada peningkatan

mutu pendidikan; organisasi profesi tenaga pendidikan (PGRI, ISPI, dan lain-

lain); perwakilan siswa bagi tingkat SLTP/SMU/SMK yang dipilih secara

demokratis berdasarkan jenjang kelas; dan perwakilan forum alumni

SD/SLTP SMU/SMK yang telah dewasa dan mandiri. Anggota Komite

Sekolah yang berasal dari unsur dewan guru, yayasan lembaga

penyelenggaraan pendidikan, Badan Pertimbangan Desa sebanyak-

banyaknya berjumlah tiga orang. Jumlah anggota Komite Sekolah sekurang-

kurangnya 9 (sembilan) orang dan jumlahnya harus gasal. Syarat-syarat, hak,

dan kewajiban, serta masa keanggotaan Komite Sekolah ditetapkan di dalam

AD/ART.

Pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah ditetapkan

berdasarkan AD/ART yang sekurang-kurangnya terdiri atas seorang ketua,

sekretaris, bendahara. Apabila dipandang perlu, kepengurusan dapat

dilengkapi dengan bidang-bidang tertentu sesuai kebutuhan. Selain itu dapat

pula diangkat petugas khusus yang menangani administrasi. Pengurus

dewan dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis. Khusus jabatan ketua

Dewan Pendidikan bukan berasal dari unsur pemerintahan daerah dan DPRD

dan ketua Komite Sekolah bukan berasal dari kepala satuan pendidikan.

Syarat-syarat, hak, dan kewajiban, serta masa bakti kepengurusan Dewan

Pendidikan dan Komite Sekolah ditetapkan di dalam AD/ART.


135

Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah hal;

secara transparan, akuntabel, dan demokratis. Dilakukan secara^

adalah bahwa Komite Sekolah harus dibentuk secara terbuka dan diketahui

oleh masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia

persiapan, proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota,

proses seleksi calon anggota, pengumuman calon anggota, proses

pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan dilakukan secara akuntabel

adalah bahwa panitia persiapan hendaknya menyampaikan laporan

pertanggungjawaban kinerjanya maupun penggunaan dana kepanitiaan.

Dilakukan secara demokratis adalah bahwa dalam proses pemilihan anggota

dan pengurus dilakukan dengan musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu

permilihan anggota dan pengurus dapat dilakukan melalui pemungutan

suara.

Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah diawali dengan

pembentukan panitia persiapan yang dibentuk, oleh kepala satuan

pendidikan dan/atau oleh masyarakat. Panitia persiapan berjumlah sekurang-

kurangnya 5 (lima) orang yang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan

(seperti guru, kepala satuan pendidikan, penyelenggara pendidikan,

pemerhati pendidikan (LSM peduli pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh

agama, dunia usaha dan industri), dan orang tua peserta didik.

Komponen dan indikator kinerja Komite Sekolah terkait pada peran

yang dilakukannya, yakni sebagai badan pertimbangan (advisory agency),

pendukung (supporting agency), pengawas (controlling agency), dan badan


136

mediator (mediator agency). Berkaitan dengan peran Komite Sekolah

tercakup di dalamnya pelaksanaan berbagai fungsi badan-badan tersebut

dan fungsi manajemen pendidikan .

1. Komite Sekolah sebagai Badan Pertimbangan (Advisory Agency)

Dalam perannya sebagai badan yang memberikan pertimbangan atau

nasihat pada satuan pendidikan, Komite Sekolah memiliki fungsi yang

berkesinambungan dalam hal perencanaan sekolah, pelaksanaan program,

dan pengelolaan sumber daya di satuan pendidikan.

Komite Sekolah dalam fungsi perencanaan memiliki peran

mengidentifikasi sumber daya pendidikan di sekolah serta memberikan

masukan dan pertimbangan dalam menetapkan RAPBS, termasuk dalam

penyelenggaraan rapat RAPBS. Dalam pelaksanaan program, yang

menyangkut: kurikulum, PBM, dan penilaian. Komite Sekolah sebagai badan

penasihat berperan penting dalam memberikan pertimbangan dalam

pelaksanaan proses pengelolaan pendidikan di sekolah, termasuk proses

pembelajarannya. Hal ini penting, sebab dengan berlakunya otonomi

pendidikan dengan pengelolaan pendidikan yang lebih otonom di sekolah,

guru memiliki peran yang penting dalam penciptaan proses pembelajaran

yang kondusif bagi sarana demokratisasi pendidikan.

Komite Sekolah dalam fungsinya sebagai badan penasihat bagi

sekolah, dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya pendidikan

antara lain berperan mengidentifikasi berbagai potensi sumber daya

pendidikan yang ada dalam masyarakat. Fungsi ini akan dapat berguna
137

dalam memberikan pertimbangan mengenai sumber daya pendidikan yang

ada dalam masyarakat yang dapat diperbantukan di sekolah.

Keseluruhan indikator kinerja Komite Sekolah dalam perannya

sebagai badan pertimbangan dapat diamati pada tabel berikut;

Tabel 2.3
Indikator Kinerja Komite Sekolah
dalam Perannya Sebagai Badan Pertimbangan

PERAN FUNGSI INDIKATOR KINERJA


KOMITE MANAJEMEN
SEKOLAH PENDIDIKAN
Badan Pertim- 1. Perencanaan a. Identifikasi sumber daya pendidikan
bangan sekolah dalam masyarakat.
(Advisory b. Memberikan masukan untuk
Agency) penyusunan RAPBS.
c. Menyelenggarakan rapat RAPBS
(sekolah, orang tua siswa,
masyarakat)
a. Memberikan pertimbangan
perubahan RAPBS.
b. Ikut mengesahkan RAPBS bersama
kepala sekolah.

2. Pelaksanaan a. Memberikan masukan terhadap


Program proses pengelolaan pendidikan di
a. Kurikulum sekolah.
b. PBM b. Memberikan masukan terhadap
c. Penilaian proses pembelajaran kepada para
guru.

3. Pengelolaan a. Identifikasi potensi sumber daya


Sumber daya pendidikan dalam masyarakat
Pendidikan b. Memberikan pertimbangan tentang
a. SDM tenaga kependidikan yang dapat
b. Sarana/Prasara diperbantukan di sekolah.
c. Anggaran c. Memberikan pertimbangan tentang
sarana dan prasarana yang dapat
diperbantukan di sekolah.
d. Memberikan pertimbangan tentang
anggaran yang dapat dimanfaatkan
di sekolah.
138

2. Komite Sekolah sebagai Badan Pendukung (Supporting Agency)

Dalam perannya sebagai badan pendukung (supporting agency), Komite

Sekolah berfungsi memantau kondisi tenaga kependidikan di satuan

pendidikan. Ini penting karena akan dapat diketahui masalah tenaga

kependidikan. Hal ini dimaksudkan agar kekurangan tenaga kependidikan di

sekolah tidak dibiarkan terus terjadi, sehingga akan mengganggu

pelaksanaan pendidikan. Melalui koordinasi dengan Dewan Pendidikan,

Komite Sekolah diharapkan mendapat gambaran yang utuh mengenai

persoalan yang terjadi di sekolah, yang kemudian dapat ditindak lanjuti

bersama dengan Dewan Pendidikan melakukan memberdayakan guru

sukarelawan, termasuk tenaga kependidikan non-guru.

Komite Sekolah juga dapat mengidentifikasi tenaga ahli yang ada

dalam masyarakat, yang dapat dimanfaatkan bagi sekolah. Dengan demikian,

aspek integrasi sekolah dengan masyarakat yang selama ini menjadi

persoalan dalam pengelolaan pendidikan di sekolah dapat diatasi, karena

masyarakat dapat terlibat dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan.

Sebagai bagian dari pelaksanaan proses pendidikan, sarana dan prasarana

juga harus mendapat perhatian penting. Sekolah yang kurang memiliki

sarana dan prasarana memadai tentu akan mengalami kendala dalam

pencapaian hasil belajar. Karena itu, Komite Sekolah berfungsi memfasilitasi

kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Tahap selanjutnya,

tentu Komite Sekolah akan memberdayakan bantuan sarana dan prasarana

yang diperlukan di sekolah melalui sumber daya yang ada pada masyarakat,
139

dengan berkoordinasi dengan Dewan Pendidikan. Memberdayakan bantuan

sarana dan prasarana yang telah dilakukan Komite Sekolah dengan

koordinasi pada Dewan Pendidikan akan dipantau perkembangannya melalui

evaluasi pelaksanaan dukungan atau bantuan tersebut

Anggaran pendidikan yang ada pada pemerintah (daerah) sangat

terbatas. Karena itu pemanfaatan sumber-sumber anggaran pendidikan yang

ada pada masyarakat menjadi kebutuhan yang mendesak. Dalam era

otonomi pendidikan yang meletakkan otonomi sekolah sebagai hal yang

terpenting, sekolah harus merupakan bagian yang terpenting dari

masyarakat, sehingga masyarakat memiliki kepedulian dan rasa memiliki

terhadap sekolah.

Keseluruhan indikator kinerja Komite Sekolah dalam perannya sebagai


4

badan pendukung dapat diamati pada tabel berikut:

Tabel 2.4
indikator Kinerja Komite Sekolah
da am Perannya Sebagai Badan Pendukung
PERAN DEWAN FUNGSI INDIKATOR KINERJA
PENDIDIKAN MANAJEMEN
PENDIDIKAN
Badan 1. Pengelolaan a. Memantau kondisi ketenagaan
Pendukung Sumber pendidikan di sekolah.
(Supporting Daya b. Mobilisasi guru sukarelawan untuk
Agency) menanggulangi kekurangan guru di
sekolah.
c. Mobilisasi tenaga kependidikan non
guru untuk mengisi kekurangan di
sekolah.

2. Pengelolaan a. Memantau kondisi sarana dan


Sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
prasarana b. Mobilisasi bantuan sarana dan
parasarana sekolah.
140

c. Mengkoordinasi dukungan sarana


dan parasarana sekolah
d. Mengevaluasi pelaksanaan
dukungan sarana dan prasarana
sekolah.
3. Pengelolaan a. Memantau kondisi anggaran
Anggaran pendidikan di sekolah.
b. Memobilisasi dukungan terhadap
anggaran pendidikan di sekolah.
c. Mengkoordinasikan dukungan
terhadap anggaran pendidikan di
sekolah.
d. Mengevaluasi pelaksanaan
dukungan anggaran di sekolah.

3. Komite Sekoiah sebagai Badan Pengontrol (Controlling Agency)

Bagian yang terpenting dalam manajemen adaiah Controlling.

Berkaitan dengan pengembangan kinerja ini, perlu dilihat sejauh mana peran

pengontrol yang dilakukan Komite Sekolah berjalan dengan optimal terhadap

pelaksanaan pendidikan. Beberapa fungsi yang dapat dilakukan Komite

Sekoiah dalam hubungannya dengan perannya sebagai badan pengontrol

terhadap perencanaan pendidikan antara lain: melakukan kontrol terhadap

proses pengambilan keputusan dan perencanaan pendidikan di sekolah,

termasuk kualitas kebijakan yang ada. Fungsi Komite Sekolah dalam

melakukan kontrol terhadap pelaksanaan program pendidikan adalah

melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program yang ada pada

Sekolah, apakah sesuai dengan kebijakan yang disusun. Dalam kaitannya

dengan pelaksanaan program tersebut adalah bagaimana alokasi dana dan

sumber-sumber daya bagi pelaksanaan program dilakukan Sekolah. Dalam


' „»-.k--^ .-i — 'v '

pengembangan kinerja ini, perlu dilihat sejauh mana

melakukan fungsinya dalam mengontrol alokasi dana dan

daya tersebut.

Keseluruhan indikator kinerja Komite Sekolah dalam perannya sebagai

badan pengontrol dapat diamati pada tabel berikut:

Tabel 2.5
Indikator Kinerja Komite Sekolah
dalam Perannya Sebagai Badan Pengontrol

PERAN FUNGSI INDIKATOR KINERJA


KOMITE MANAJEMEN
SEKOLAH PENDIDIKAN

Badan 1. Mengontrol a. Mengontrol proses pengambilan


Pengontrol perencanaan keputusan di sekolah.
(Controlling pendidikan di b. Mengontrol kualitas kebijakan di
Agency) sekolah sekolah.
c. Mengontrol proses perencanaan
pendidikan di sekolah
d. Pengawasan terhadap kualitas
perencanaan sekolah
e. Pengawasan terhadap kualitas
program sekolah.
2. Memantau a. Memantau organisasi sekolah
pelaksanaan b. Memantau penjadwalan program
program sekolah sekolah
c. Memantau alokasi anggaran untuk
pelaksanaan program sekolah.
d. Memantau sumber daya pelaksana
program sekolah.
e. Memantau partisipasi stake-
holder pendidikan dalam
pelaksanaan program sekolah.
3. Memantau output a. Memantau hasil ujian akhir.
b. Memantau angka partisipasi
sekolah
c. Memantau angka mengulang
sekolah
d. Memantau angka bertahan di
sekolah.
142

4. Komite Sekolah sebagai Mediator (Mediator Agency)

Komite Sekolah juga dapat berfungsi sebagai mediator dan menjadi

penghubung Sekolah dengan masyarakat, atau antara sekolah dengan Dinas

Pendidikan. Berbagai persoalan yang sering dialami orang tua dalam

pelaksanaan pendidikan anak-anaknya di sekolah misalnya sering kali

terbentur pada sebatas keluhan, kurang direspons sekolah. Karena itu,

kehadiran Komite Sekolah pada posisi ini sangat penting dalam mengurangi

berbagai keluhan orang tua tersebut

Peran sebagai mediator yang dilakukan Komite Sekolah dalam

pelaksanaan program pendidikan lebih kepada upaya memfasilitasi

berbagai masukan dari masyarakat terhadap kebijakan dan program

pendidikan yang ditetapkan Sekolah. Peran ini adalah antara lain

dengan mengkomunikasikan berbagai pengaduan dan keluhan

masyarakat terhadap sekolah. Masukan ini tentu akan menjadi

perhatian bagi pengambil kebijakan, yang selanjutnya akan dilakukan

perbaikan bagi kebijakan dan program pendidikan. Bagi Komite

Sekolah, hasil penyempurnaan kebijakan dan program tersebut juga

harus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga terjadi umpan balik

bagi keberhasilan pelaksanaan pendidikan.

Peran yang dilakukan oleh Komite Sekolah sebagai mediator dalam

pelaksanaan program sekolah akan menjadikan berbagai kebijakan dan

program yang telah ditetapkan sekolah dapat akuntabel kepada masyarakat.

Sumber-sumber daya pendidikan yang ada dalam masyarakat begitu besar,


143

namun pemanfaatannya kurang optimal. Peran Komite Sekolah yang harus

dijalankan sebagai mediator adalah memberdayakan sumber daya yang ada

pada orang tua bagi pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Keseluruhan indikator kinerja Komite Sekolah dalam perannya sebagai

badan penghubung (mediator) dapat diamati pada tabel berikut:.

Tabe 2.6
Indikator Kinerja Komite Sekolah
dalam Perannya Sebagai Badan Penghubung (Mediator)
PERAN FUNGSI INDIKATOR KINERJA
KOMITE MANAJEMEN
SEKOLAH PENDIDIKAN
Badan 1. Perencanaan a. Menjadi penghubung antara Komite
Penghubung Sekolah dengan masyarakat,
(Mediator Komite Sekolah dengan sekolah,
Agency) dan Komite Sekolah dengan Dewan
Pendidikan.
b. Mengidentifikasi aspirasi masyara-
kat untuk perencanaan pendidikan.
c. Membuat usulan kebijakan dan
program pendidikan kepada sekolah
2. Pelaksanaan a. Mensosialisasikan kebijakan dan
program program sekolah kepada
masyarakat
b. Memfasilitasi berbagai masukan
kebijakan program terhadap sekolah
c. Menampung pengaduan dan
keluhan terhadap kebijakan dan
program sekolah
d. Mengkomunikasikan pengaduan
dan keluhan masyarakat terhadap
sekolah
3. Pengelolaan a. Mengidentifikasi kondisi sumber
Sumber Daya daya di sekolah
pendidikan b. Mengidentifikasi suber-sumber
daya masyarakat
c. Memobilisasi bantuan masyarakat
untuk pendidikan di sekolah
d Meng koordinasikan bantuan
masyarakat
144

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila Komite

Sekolah dapat berperan sebagai badan pertimbangan, pendukung,

pengawas, dan mediator maka akan dapat meningkatkan mutu proses belajar

mengajar yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu lulusan. Untuk

mengungkap peran tersebut maka keterlibatan guru dalam menilai sangat

diharapkan karena guru berpangkalan di sekolah.

F. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Dedi Supriyadi (1998) mengenai ciri-ciri

sekolah yang bermutu di Jawa Barat, menemukan bahwa sekolah yang

mutunya baik adalah sekolah unggul dan dikenal di masyarakat, memiliki cirri

yang berbeda dengan sekolah yang mutunya biasa. Perbedaan itu dalam hal

kinerja guru, iklim sekolah, gairah belajar siswa, dan prestasi belajar siswa,

dimana sekolah yang mutunya baik maka kondisi di atas lebih baik bila

dibandingkan dengan sekolah yang mutunya biasa. Hal ini disebabkan oleh

adanya kepemimpinan yang diperankan oleh Kepala Sekolah. Walker (1995)

hasil penelitian menyimpulkan bahwa perhatian Kepala Sekolah yang tinggi

terhadap pembinaan mutu, perilakunya yang terpunji, dan sikap responsifnya

dalam menangani persoalan yang timbul di sekolah secara signifikan

menurunkan frekuensi perilaku tak terpuji pada siswa dan sebatiknya

meningkatkan iklim kehidupan sekolah. Gaustad (1992) menemukan bahwa

Kepala Sekolah terbukti menunjukkan peranan kunci dalam menegakkan

disiplin sekolah melalui kemampuannya dalam mengelola sekolah,


145

memberikan teladan kepada siswa dan guru, serta melakukan teknik-teknik

"social rewarcT kepada siswa dan guru. Stolps (1994) menemukan bahwa

iklim kehidupan sekolah yang sehat berkaitan erat dengan meningkatnya

prestasi dan motivasi belajar siswa serta dengan produktivitas dan kepuasan

guru. Prakarsa kearah terciptanya healty school culture tersebut sebagaian

berada pada tangan Kepala Sekolah.

Penelitian yang dilakukan oleh Rasdi Ekosiswaoyo (2003) tentang

pengaruh pemberdayaan, kepemimpinan, dan motivasi kerja terhadap kinerja

guru SMK eks SMEA Pembina di Jawa Tengah. Temuan penelitian

mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan

Kepala Sekolah terhadap kinerja guru. Kepala Sekolah yang memiliki

orientasi pada upaya peningkatan kinerja guru, selalu mendorong guru untuk

berprestasi, mengaplikasikan prinsip-prinsip partisipasi, komunikasi dua arah,

pengakuan terhadap andil para guru, pendelegasian wewenang, dan

pemberian perhatian kepada kondisi guru.

Penelitian yang dilakukan oleh Abdullah Alhadza (2004) tentang

pengaruh motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antar pribadi terhadap

efektivitas kepemimpinan Kepala Sekolah (survey terhadap Kepala SLTP di

Propinsi Sulawesi Tenggara), temuan penelitian mengungkapkan bahwa

terdapat pengaruh positif dari motivasi berprestasi dan perilaku antar pribadi

terdahap efektivitas kepemimpinan Kepala Sekolah.

Berkaitan dengan hasil penelitian tentang Kepala Sekolah di atas maka

kesempatan ini dilakukan penelitian lanjutan tentang kepemimpinan Kepala


146

Sekolah yang berkaitan dengan tugas-tugas operasional Kepala Sekolah

yaitu Kepala Sekolah sebagai pengelola program pengajaran, Kepala

Sekolah sebagai pengelola pelayan tenaga kependidikan, Kepala Sekolah

sebagai pengelola pelayanan siswa. Kepala Sekolah sebagai pengelola

keuangan dan fasilitas, dan Kepala Sekolah sebagai pengelola hubungan

sekolah dan masyarakat. Dengan penelitian ini dalam melihat Kepala

Sekolah tidak hanya sifat dan perilaku yang melekat pada Kepala Sekolah

(teras kinerja) tetapi melihat apa yang dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah

(in action).

Berkaitan dengan pembiayaan pendidikan didukung oleh penelitian

Moch Idochi Anwar (1990) tentang tranformasi biaya pendidikan dalam

layanan pendidikan pada perguruan tinggi menyimpulkan bahwa meskipun

biaya pendidikan total itu naik dari tahun ke tahun tetapi tidak mempunyai

pengaruh yang berarti pada peningkatan mutu pendidikan dalam wujud

layanan pendidikan. Hal ini disebabkan oleh nilai uang yang berkurang daya

belinya, gaji tidak merangsang untuk meningkatkan semangat dan kualitas

kerjanya, serta karena tergoda oleh demonstration effect. Secara lebih

khusus biaya personil tenaga edukatif memiliki persentase terbesar.

Penelitian oleh Kardoyo (1997) di SMK Kota Semarang menunjukkan bahwa

dana dari pemerintah sebesar 75%, orangtua 25% dari jumlah anggaran,

pemerintah provinsi dan kota/kabupaten dan masyarakat lain di luar orangtua

0%. Jika unsur gaji dan tunjangan tidak dimasukkan dalam analisis,

sumbangan BP3 menduduki urutan pertama yitu 60%, pemerintah 40% (DIK
147

di luar gaji dan tunjangan, DPP, OPF, dan iain-lain), pemerintah provinsi dan

kota/kabupaten serta masyarakat di luar orangtua masih 0%. Penelitian

Kardoyo (2000) tentang analisis biaya pendidikan di S MA Negeri Kota

Semarang menunjukkan bahwa partisiipasi orangtua masih sangat

besar/lebih tinggi bila dibandingkan pemerintah, sementara partisipasi

masyarakat di luar orangtua masih 0% apabila gaji tidak masuk dalam

analisis. Demikian juga studi yang dilakukan oleh Clark dan kawan-kawan

(1998) menunjukkan bahwa sumber penerimaan sekolah negeri terbesar juga

dari pemerintah (pusat) baik di SD, SLTP, SMU, dan SMK. Oangtua/keluarga

menempati urutan kedua, sedang pemerintah daerah, dan masyarakat

peranannya masih kecil sekali. Nanang Fattah (1999) melalui penelitiannya

juga menemukan bahwa jumlah dana pendidikan yang diterima oleh sekolah

(SD) dari berbagai sumber pemerintah pusat 90,73%; orangtua murid melalui

BP3 6,88%; pemerintah daerah 2,17%; sumbangan masyarakat termasuk

dunia usaha 0,40%. Temuan yang lain adalah pembiayaan pendidikan

memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan mutu

pendidikan SD. Komponen biaya yang berkorelasi signifikan terhadap

peningkatan PBM di wilayah perkotaan adalah pengelolaan sekolah, di

wilayah pedesaan adalah pembinaan guru. Kebijakan untuk anggaran untuk

SD memperhatikan perbedaan kemampuan masyarakat di wilayah yang

makmur dengan yang kurang makmur. Kebijakan anggaran yang tidak adil

mengakibatkan perbedaan mutu antar SD perkotaan dengan SD pedesaan.

Penelitian Kardoyo (1997 dan 2000) pengeluaran sekolah terbesar untuk


148

honorarium dan kesejahteraan pegawai. Nanang Fatah (1999) dalam

penelitiannya juga menemukan bahwa jumlah pengeluaran biaya untuk

penyelenggaraan pendidikan di SD sebagian besar (81,46%) dipergunakan

untuk gaji/kesejahteraan pegawai. Demikian juga studi yang dilakukan oleh

Clark dan kawan-kawan (1998) menunjukkan bahwa sebagian besar dana

pendidikan di sekolah negeri dialokasikan bagi pengembangan system,

administrasi, dan tenaga pengajar. Sementara itu, dana yang dialokasikan

untu kegiatan operasional dan pemeliharaan masih sangat terbatas, terutama

pada tingkat pendidikan yang lebih rendah. Demikian juga studi yang

dilakukan oleh Bank Dunia (1998) menyarakan bahwa dalam jangka pendek,

pembiayaan pendidikan seyogyanya diarahkan untuk melanjutkan investasi

yang telah dilaksanakan di masa lalu, dan juga untuk melindungi kelompok

masyarakat miskin dari dampak krisis. Dalam jangka panjang perhatian

seyogyanya diarahkan kepada pencapaian pendidikan dasar yang

menyeluruh dan persiapan untuk desentralisasi.

Berdasarkan hasil penelitian di atas yang menyangkut pembiayaan

pendidikan maka penelitian ini akan menambah wawasan tentang

pembiayaan pendidikan dan sekaligus mengetahui posisi pembiayaan

pendidikan dibandingkan dengan kepemimpinan Kepala Sekolah, dan peran

Komite Sekolah dalam berkontribusi terhadap mutu proses belajar mengajar

dan mutu lulusan. Disamping itu juga mengetahui besarnya RAPBS dan

komposisi pembiayaan pendidikan dilihat dari sumber dana, sekaligus

melengkapi tentang komposisi pengggunaan pembiayaan pendidikan.


149

Berkaitan dengan partisipasi masyarakat melalui Komite Sekolah

penelitian Kardoyo (1997) menunjukkan bahwa partisipasi orangtua masih

terbatas dalam menyediakan dana dan BP3 saat itu juga hanya berperan

dalam penyediaan dana, BP3 beranggapan bahwa proses belajar mengajar

menjadi tanggungjawab fihak sekolah. Penelitian yang dilakukan oleh lim

Wasliman (2002) tentang pengaruh faktor-faktor kondisi persekolahan

terhadap efektivitas sekolah ditinjau dari nilai-nilai kebijakan MBS di SD dan

SLTP Jawa Barat, kesimpulannya efektivitas sekolah dipengaruhi oleh factor-

faktor kondisi persekolahan dan nilai-nilai kebijakan secara signifikan 40,30%.

Kondisi persekolahan meliputi: lokasi, gedung, sejarah berdirinya, usia,

infrastruktur, siswa, guru, kepemimpinan atau Kepala Sekolah. Nilai kebijakan

meliputi komitmen masyarakat sekolah, partisipasi masyarakat sekolah,

penguasaan informasi, profesionalisasi tenaga kependidikan, penghargaan

sekolah, administrasi sekolah, dan akuntabilitas profesional.

Berkaitan dengan hasil di atas maka penelitiaan ini akan mengungkap

partisipasi masyarakat terwadahi dalam organisasi Komite Sekolah yang

merupakan pembaharuan dari BP3 apakah Komite Sekolah dapat bertindak

sebagai badan pertimbangan, pendukung , pengontrol, dan penghubung.

Berkaitan dengan kinerja sekolah yang dilihat dari mutu proses dan

mutu lulusan penelitian terdahulu pendukung adalah yang dilakukan oleh

Abin Syamsudin (1999) tentang model pemberdayaan pengembangan

profesional staf untuk memperkuat penjaminan mutu pendidikan. Konsep

dasar yang melandasi adalah kualitas lulusan (output) pendidikan dapat


150

dihasilkan dari kualitas proses lembaga (performance managerial

kelembagaan) dengan mengelola kualitas input (misal profesional anggota

staf). Dengan kata lain kualitas yang baik dari masukan suatu lembaga

pendidikan dapat mengembangkan kualitas performansi lulusan yang baik

pula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota staf adalah salah satu

faktor yang paling signifikan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas

performasi pendidikan tinggi dan pengembangan profesional anggota staf

telah diasumsikan sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan sistem

penjaminan mutu dalam rangka meningkatkan performansi lembaga

termasuk kualitas performansi.

Dari hasil di atas maka dalam penelitian ini akan dilihat kinerja sekolah

dari mutu proses belajar mengajar dan mutu lulusan, dimana kedua unsur

tersebut merupakan unsur pokok untuk melihat mutu satuan pendidikan.

Disamping itu juga terkait dengan penelitian maka secara simultan maupun

parsial kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan pendidikan, peran

Komite Sekolah berkontribusi terhadap mutu proses belajar mengajar

maupun mutu lulusan.


BAB III 1]
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk ex post facto karena data yang dikumpulkan

setelah semua yang dipersoalkan berlangsung. Penelitian ex post facto

merupakan telaah empirik sistematis dimana ilmuwan tidak dapat

mengontrol secara langsung variabel bebasnya karena manifestasinya

telah muncul, atau karena sifat hakekat variabel itu memang menutup

kemungkinan manipulasi. Pengujian tentang relasi antar variabel dibuat,

tanpa intervensi langsung, berdasarkan variasi yang muncul seiring dalam

variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan

pendidikan, dan peran Komite Sekolah. Ketiga variabel bebas ini tidak

dimanipulasi, sehingga pengamatan atas gejala yang muncul dilakukan

berdasarkan pada apa yang terjadi di sekolah, dirasakan dan dialami oleh

Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Sedangkan variabel terikat dalam

penelitian ini adalah kineija sekolah yang dilihat dari mutu proses dan

mutu lulusan.

Penelitian ini juga menggunakan pendekatan deskriptif-evaluatif-

korelasional. Penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi

tentang gejala pada saat penelitian berlangsung, tidak ada perlakuan yang

diberikan atau kondisi yang dikendalikan seperti pada penelitian

eksperiman (Ary, 1982: 17). Penelitian deskriptif merupakan suatu

151
152

metode untuk meneliti status pada sekelompok manusia, objek,

-seperangkat kondisi, sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada

saat sekarang. Tujuan penelitian deskriptif yaitu membuat deskripsi,

gambaran atau lukisan secara faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,

sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nasir, 1988:

25). Koentjaraningrat (1983 : 16) menyatakan bahwa penelitian deskriptif

bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu,

keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi

adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan gejala lain dalam

masyarakat. Dalam penelitan deskriptif ini mungkin sudah dimunculkan

hipotesis, mungkin belum, karena tergantung pada sedikit banyaknya

pengetahuan tentang masalah yang bersangkutan.

Penelitian evaluasi merupakan proses pengumpulan, analisis, dan

penafsiran data yang hasilnya digunakan untuk perbaikan atau

pengambilan keputusan suatu program atau produk. Penelitian evaluasi

berkaitan dengan perbaikan program atau produk (evalausi formatif) atau

menentukan nilai atau kepatutan suatu program atau produk (evaluasi

sumatif). Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh feijuan-

tujuannya telah tercapai. Informasi mengenai masalah ini kemudian

diumpan balikkan kembali kepada proses pengambilan keputusan. Oleh

karena itu studi evaluasi pada intinya adalah lebih memfokuskan pada

upaya peningkatan program atau hasil atau untuk menentukan nilai atau

kepatutan. Evaluasi menggunakan metode penelitian namun dalam


153

evaluasi hasilnya lebih ditekankan dalam rangka untuk pengambilan

keputusan.

Evaluasi ada dua macam yaitu pemantauan program dan evaluasi

program (Chadwick, 1991 : 25). Pemantauan dilaksanakan untuk dapat

mengukur secara cermat seberapa baik program dilaksanakan untuk

mencapai tujuan, dan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan program

yang telah berjalan. Evaluasi program dilaksanakan untuk menilai apakah

suatu program memberi pengaruh pada populasi sasaran. Ditinjau dari

segi ini, studi evaluasi dalam penelitian ini termasuk pemantauan program,

yaitu pemantauan tentang kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan

pendidikan di sekolah, dan peran Komite Sekolah. Penelitian evaluasi ada

tiga macam metode yaitu pengamatan dan wawancara, catatan dan

laporan, serta survai (Chadwick, 1991 : 26). Penelitian ini mempergunakan

survai yang merupakan metode penelitian yang lebih dari pada sekedar

pengumpulan data melalui kuesioner untuk memperoleh informasi atau

data. Survai juga diperkenankan menggunakan pelbagai macam

instrumen dan metode untuk mempelajari hubungan, akibat dari suatu

perlakuan, perubahan-perubahan yang bersifat longitudinal dan

perbandingan antar kelompok (Borg dan Gali, 1983). Selain bermanfaat

untuk menentukan distribusi sampel berdasarkan variabel tunggal, survai

juga dapat digunakan untuk menjajagi adanya hubungan antar dua

variabel.
154

Pendekatan korelasional untuk mengukur perubahan saling berpola

antara dua variabel yakni variabel terikat (variabel pengaruh) dan variabel

bebas (terpengaruh). Variabel terikat merupakan akibat yang diperkirakan

atau variabel yang terjadi kemudian. Variabel terikat dalam penelitian ini

adalah mutu proses dan mutu lulusan. Variabel bebas merupakan

penyebab yang diduga atau variabel yang terjadi terlebih dahulu. Variabel

bebas dalam penelitian ini adalah kepemimpinan Kepala Sekolah,

pembiayaan pendidikan, dan peran Komite Sekolah.

Berdasarkan tujuan penelitian dan hipotesis yang dirumuskan

dalam penelitian ini maka ada hubungan antar variabel dalam rancangan

penelitian ini yaitu: (a) pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah,

pembiayaan pendidikan, peran Komite Sekolah dengan mutu proses, (b)

pengaruh antara kepemimpinan Kepala Sekolah dengan mutu proses,

(c) pengaruh antara pembiayaan pendidikan dengan mutu proses, (d)

pengaruh antara peran Komite Sekolah dengan mutu proses, (e)

pengaruh antara kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan pendidikan,

peran Komite Sekolah dengan mutu lulusan, (f) pengaruh antara

kepemimpinan Kepala Sekolah dengan mutu lulusan, (g) pengaruh antara

pembiayaan pendidikan dengan mutu lulusan, (h) pengaruh antara peran

Komite Sekolah dengan mutu IDlusan, (i) pengaruh antara mutu proses

dengan mutu lulusan.


155

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan atau totalitas elemen yang dapat

diamati atau dipelajari, yang dapat berupa manusia, rumah tangga,

organisasi, sekolah, atau unit lainnya (Suwarno, 1987:23). Faktor penting

yang perlu diperhatikan dalam populasi adalah karakter yang melekat

pada populasi karena pada hakekatnya permasalahan itu baru akan

memiliki makna apabila dikaitkan dengan populasi.

Populasi dalam penelitian ini guru di 16 SMA Negeri Kota

Semarang, nampak dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1
Jumlah Sekolah dan guru SMA Negeri di Kota Semarang

No Sekolah Lokasi Guru


1 SMA 1 Pusat Kota 98
2 SMA 2 Pusat Kota 84
3 SMA 3 Pusat Kota 89
4 SMA 4 Kawasan Perumahan 73
5 SMA 5 Pusat Kota 66
6 SMA 6 Pusat Kota 72
7 SMA 7 Kawasan Perumahan 68
8 SMA 8 Pinggiran Kota 65
9 SMA 9 Kawasan Perumahan 61
10 SMA 10 Kawasan Peumahan 47
11 SMA 11 Pinggiran Kota 44
12 SMA 12 Pinggiran Kota 40
13 SMA 13 Pinggiran Kota 33
14 SMA 14 Kawasan Perumahan 42
15 SMA 15 Kawasan Perumahan 51
16 SMA 16 Pinggiran Kota 34
Jumlah | 967
Sumber. Dinas Pendidikan Kota Semarang 2004
156

2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian merupakan sekelompok anggota yang menjadi

bagian dari populasi, dan memiliki karakteristik populasi. Sebagaimana

telah dijelaskan di atas bahwa populasi penelitian ini adalah guru SMA

Negeri di Semarang yang telah menjadi pegawai negeri dan jumlahnya

967 orang. Alasan penentuan guru sebagai populasi penelitian ini adalah

karena: (a) Secara langsung guru berhadapan dengan kepemimpinan

Kepala Sekolah, (b) Kecukupan pembiayaan pendidikan tergantung

bagaimana guru menggunakan, (c) Kiprahnya Komite Sekolah yang

mengetahui secara nyata adalah guru, (d) proses belajar mengajar

melibatkan secara langsung aktivitas guru, (e) nilai hasil belajar yang

menilai adalah guru. Oleh karena untuk mengetahui kebermaknaan

kepemimpinan Kepala Sekolah, kecukupan pembiayaan pendidikan, dan

peran Komite Sekolah akan diamati dari apa yang diketahui dan dirasakan

oleh guru sehingga akan meningkatkan mutu proses dan mutu lulusan.

Jumlah sampel seperti pada tabel di bawah ini:

Tabel 3.2
Jumlah Sampel Penelitian

No Sekolah Lokasi Guru


1 SMA 1 Pusat Kota 98
2 SMA 12 Pinggiran Kota 40
3 SMA 15 Kawasan Perumaha 51

Jumlah 189

Untuk memperoleh sampel yang benar-benar mewakili populasi,

hingga dewasa ini belum ada patokan baku, misalnya berapa jumlah
157

sampel yang akan diambil untuk mewakili populsi. Berdasarkan

pandangan ini, populasi yang telah dideskripsikan batasan dan

karakteristiknya seperti tersebut di atas, kemudian ditarik sejumlah sampel

untuk mewakili populasi dengan teknik area random sampling. Dari enam

belas SMA Negeri di Kota Semarang diperoleh tiga sekolah masing-

masing terdiri atas pusat kota yaitu SMA 1 Semarang, kawasan

perumahan yaitu SMA 15 Semarang, dan pinggiran kota yaitu SMA 12

Semarang.

C. Variabel Penelitian

Variabel yang diungkap dalam penelitian ini mencakup variabel

bebas (independendent variable) dan variabel terikat (dependent

variable)

1. Variabel Terikat

Variabel terikat merupakan akibat yang diperkirakan atau variabel

yang terjadi kemudian (Walizer, 1986: 121). Variabel terikat di dalam

penelitian ini adalah mutu lulusan dan mutu proses. Mutu proses dengan

indikator perencanaan pengajaran, pelaksaan pengajaran, hubungan

antar pribadi, dan evaluasi. Mutu lulusan dengan indikator nilai evaluasi

belajar, nilai ujian akhir nasional, tidak adanya siswa yang mengulang,

dan tidak adanya siswa yang putus sekolah.


158

2. Variabel Bebas

Variabel bebas merupakan penyebab yang diduga atau variabel

yang terjadi terlebih dahulu. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah

kepemimpinan Kepala Sekolah, kecukupan pembiayaan pendidikan, dan

peran Komite Sekolah. Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan indikator

pengelola program pengajaran, pengelola pelayanan personel/staf,

pengelola pelayanan siswa, pengelola keuangan dan fasilitas, pengelola

hubungan sekolah dan masyarakat. Pembiayaan pendidikan dengan

indikator pengeluaran untuk belanja pegawai, biaya untuk kegiatan belajar

mengajar, pengeluaran untuk kegiatan pelajar, pengeluaran untuk rapat

komite sekolah, pengeluaran untuk koordinasi dengan instansi lain,

pengeluaran bahan habis pakai, pengeluaran untuk pemeliharaan, biaya

transfer, pengeluaran untuk sarana/prasarana/inventaris, dan pengeluaran

lainnya. Peran Komite Sekolah dengan indikator sebagai badan

pertimbangan, badan pendukung, badan pengawas, dan badan mediator.

D. Instrumen dan Metode Pengumpulan Data

Data tentang kepemimpinan Kepala Sekolah dikumpulkan dengan

metode kuesioner yang bersumber dari guru. Untuk mengumpulkan data

tentang pembiayaan pendidikan dilihat dari sumber dan penggunaannya

digunakan metode pengumpulan data dokumentasi. Dokumentasi

merupakan proses perolehan data yang bersumber dari tulisan, dalam

penelitian ini bersumber dari RAPBS, pertanggungjawaban Kepala


159

Sekolah tentang pelaksanaan APBS, data ini bersumber dari arsip

sekolah. Disamping itu juga tentang kecukupan sumber dan

penggunaannya juga akan ditanyakan pada guru. Data tentang mutu

lulusan juga dikumpulkan dengan metode dokumentasi yang berupa nilai

evaluasi belajar, nilai UAN, angka mengulang, dan putus sekolah; data ini

bersumber dari arsip sekolah dan tanggapan guru.

Peran Komite Sekolah dikumpulkan dengan metode kuesioner

yang mengungkap data tentang peran Komite Sekolah sebagai badan

pertimbangan, badan pendukung, badan pengawas, dan badan mediator

yang bersumber dari guru. Sedang mutu proses mempergunakan

observasi, metode ini digunakan untuk mengungkap tentang perencaan

pengajaran, pelaksanaan pengajaran, hubungan antar pribadi, dan

evaluasi. Selanjutnya guru dimintai tanggapanya terhadap proses belajar

mengajar dengan mempergunakan angket.

1. Kepemimpinan Kepala Sekolah (Instrumen I)

Instrumen ini berupa kuestioner yang digunakan untuk

mengungkap variabel kepemimpinan Kepala Sekolah dengan lima sub-

variabel disertai sejumlah indikator dan butir pertanyaan, nampak dalam

tabel berikut:

Tabel 3.3
Variabel, Fungsi, Indikator
Kepemimpinan Kepala Sekolah

Variabel Fungsi Indikator Butir


Kepemim- 1. Pengelola 1. mempelajari dan menginterpre- 1,2
pinan Program tasikan kurikulum sesuai dengan
Kepala Pengajaran kecenderungan perubahan
160

Sekolah permintaan masyarakat.


2. menggambarkan kebutuhan
umum siswa berdasarkan
program pengajaran,
secara langsung menaksir 4,5
kebutuhan siswa yang unik untuk
sekolah dan masyarakat,
mengintegrasikan tujuan dan
sasaran sekolah dengan
kebutuhan siswa,
5. memperkirakan tentang
kecukupan kebutuhan siswa
dalam program rutin untuk
pertemuan formal,
3. menguji dan menginterpretasikan 8
program alternatif, prosedur, dan
struktur perbaikan pengajaran,
7. menggunakan penelitian dan
informasi dalam menentukan 10,11
pilihan yang dapat dijalankan
terhadap perubahan,
8. bekerja sama dengan yang lain 12,13
dalam pengembangan alternatif
pengajaran.
9. menempatkan staf untuk 14
menetapkan tujuan pengajaran.
10. menginventarisir bahan-bahan,
perlengkapan, dan fasilitas untuk 15
mendukung tujuan pengajaran.
11. menjelaskan perubahan
pengajaran kepada orangtua 16,17
siswa dan masyarakat.
12. menguji dan merekomendasikan
instrumen untuk program 18,19
evaluasi proses dan hasil.
13. mengumpulkan, mengorganisir,
dan menginterpretasikan data 20,21
sekarang dibandingkan dengan
kinerja siswa sebelumnya.
14. mempertanggungjawabkan
kelangsungan hidup program 23,24
atau inisiatif perubahan program
dalam penetapan program
pengajaran yang baru.

2. Pengelola 1. menjabarkan secara khusus 25,26


161

S&"
Pelayanan aturan perekrutan untuk
Personnel lowongan jabatan, u ^
2. mewancari dan menyeleKst. '^„y-.
kandidat yang berkualifikasi
paling baik untuk setiap posisi
dan merekomendasi persetujuan,
3. mengkoodinasikan pengenalan 30,31
staf baru terhadap sistem 32,33
persekolahan, tenaga yang lama,
siswa dan organisasinya, serta
masyarakat.
4. menilai kecocokan ijasah dengan 34,35
harapan dan kebutuhan siswa di
sekolah.
5. menetapkan anggota staf yang 36,37
baru untuk mengoptimalkan
pencapaian kedua tujuan
organisasi dan tujuan individu
anggota staf.
d. menetapkan kembali pengalaman 38,39
anggota staf baru untuk posisi
dan peran yang diijinkan dalam
pencapaian tujuan organisasi dan
individu.
7. mengkoordinasikan individu, 40
program, tujuan sekolah, dan
program serta tujuan sistem
persekolahan.
8. mendesain kembali kegiatan 41,42
pengembangan pengetahuan
professional dan ketrampilan
yang berhubungan dengan
pendidikan dan proses
administrasi.
9. memimpin program perbaikan 43,44
sistematik dan mengobservasi
kelas dan menyampaikan kepada
staf yang lain.
10. mengorganisir seperti kegiatan 45
perbaikan staf sebagai kunjungan
sekolah, kegiatan professional,
perpustakaan professional,
program pengajaran siswa, dan
kegiatan in-service.
11. membimbing setiap anggota staf 46,47
untuk berkembang menuju
162

perbaikan.
12. menilai kegiatan pendidikan in- 48
service individu dan kelompok
serta merekomendasikan langkah
perbaikan.
13. melibatkan staf jangkauan dan 49
persetujuan evaluasi dan
prosedur yang digunakan.
14. mengumpulkan, mengorganisir, 50,51
dan menganalisis data yang 52,53
berhubungan dengan proses dan 54,55
produk pengajaran.
15. dalam mengambil keputusan 56
didasarkan pada data evaluasi.

Pengelola 1. menganalisis, menaksir, dan 57


Pelayanan menjelaskan pengenalan nilai
Siswa siswa di sekolah
2. mereview dan menjabarkan 58
tujuan dan sasaran sekolah
sebagai suatu tembaga.
3. menganalisis dan mempelajari 59
pengenalan nilai staf sekolah dan
dirinya.
4. melibatkan siswa dalam 60
membuat keputusan yang
berhubungan dan program
sekolah.
5. mengkoordinasikan perenca- 61,62
naan, penyusunan staf, 63,64
keuangan, dan evaluasi program
kokurikuler di sekolah.
6. mendukung pengembangan 65,66
kebijakan operasional dan 67
menyediakan sumber untuk
organisasi kesiswaan yang efektif
di sekolah.
mendorong pengembangan 68
kegiatan terhadap penyediaan
informasi siswa
B. memprioritaskan penyuluhan 69,70
terhadap individual murid, 71,72
kelompok, guru, dan orangtua
siswa.
9. berpartisipasi dalam pembuatan 73,74
kebijakan dan pencepatan
163

prosedur sekolah dan penem-


patan siswa.
lO.berinisiatif melakukan penelitian
dan penggunaan informasi
penelitian untuk pebaikan
bimbingan dan program
perbaikan.
11. menyusun kegiatan yang
mendukung interaksi antara
siswa, guru, konselor, dan staf
yang lain.
12. mempelajari dan memahami
aturan-aturan dan keputusan-
keputusan yang disyahkan dalam
pelaksanaan administrasi
sekolah.
13. menggunakan data legal dan
disyahkan sebagai dasar dalam
melakukan perubahan tujuan,
sasaran, prosedur sekolah, nilai,
peran, tingkah laku anggota
organisasi.

4. Pengelola 1. menentukan kebutuhan, tujuan,


Keuangan dan sasaran sekolah dan
dan menjabarkan ke dalam
Fasilitas pengajaran dan mendukung hasil
yang dapat diukur syarat-syarat
kinerjanya.
2. memimpin staf dalam
pengembangan format dan
struktur program secara
konsisten dengan tujuan yang
dapat diukur.
3. mengidentifikasi, menganalisis,
dan menentukan ongkos
alternatif untuk pencapaian setiap
tujuan.
4. merekomendasikan seleksi dan
penyesuaian alternatif
pengajaran optimal.
5. memimpin atau memilihara
kecukupan inventaris
perlengkapan, dan penyediaan
bahan untuk pencapaian tujuan.
S. menyiapkan anggaran yang
164

menetapkan prioritas kebutuhan


untuk setiap program di sekolah.
7. mengevaluasi dan menyetujui 93
permintaan untuk perlengkapan,
persediaan, dan bahan untuk
dibeli sekolah.
8. memperkirakan kebutuhan 94
sumber beberapa tahun yang
akan datang bagi sekolah.
9. mengerahkan input seperti guru, 95,96
siswa, dan warga dalam 97
perencanaan wilayah untuk
fasilitas pendidikan.
10. memimpin staf dalam 98
menentukan jumlah dan kualitas
kebutuhan dalam pengajaran.
11. menggambarkan dan 99
menentukan tempat dan fasilitas
pelayanan
12. mengembangkan instrumen 100
secara lengkap tentang
kekhususan pendidikan sebagai
masukan arsitek untuk
perencanaan fasilitas model baru.
13. menilai kemajuan perencanaan 101
dan bentuk perubahan yang
dibutuhkan dalam penyediaan
kegiatan pengajaran yang
fleksibel.
14.menginterview, menentukan, dan 102
mengawasi pemeliharaan dan
tenaga pemeliharaan untuk
penyediaan lingkungan fisik yang
akan meningkatkan pengajaran.

5. Pengelola 1. berkoordinasi dengan dewan 103,


Hubungan penasehat atau kelompok 104,
Sekolah dan perwakilan masyarakat dalam 105,
Masyarakat menganalisis tujuan, sasaran, 106
program, dan prosedur sekolah.
2. beserta staf memperkirakan 107,
persepsi warga tentang 108.
kebutuhan dan harapan warga
terhadap sekolah.
3. berpartisipasi secara luas dalam 109,
kegiatan kelompok masyarakat 110
165

dan ambil bagian secara selektif


dengan organisasi
kemasyarakatan.
4. melibatkan guru, murid, dan
tenaga lainnya berkaitan dengan
perannya di masyarakat.
5. berkonsultasi dengan pimpinan
dan anggota organisasi guru
orangtua siswa (PTO) untuk
efektivitas sekolah.
S. menganalisis kebutuhan
informasi, menyiapkan,
mengajukan komunikasi pada
pertemuan dengan masyarakat.
7. mengklarifikasi kriteria kuantitatif
dan kualitatif yang digunakan
oleh warga untuk menilai proses
dan produk sekolah.
8. menggali program inovatif dan
rencana-rencana kegiatan
kerjasama keseluruhan sumber
masyarakat.
9. mendorong praktek pendidikan
yang melibatkan masyarakat
sebagai laboratorium belajar.

2. Pembiayaan Pendidikan (instrumen II)

Instrumen ini berupa pedoman dokumentasi yang digunakan untuk

mengungkap variabel pembiayaan pendidikan yang meliputi sumber-

sumber dan penggunaan pembiayaan pendidikan, nampak daiam tabel

berikut:

Tabel 3.4
Variabel, Sub-Variabel, Indikator
Pembiayaan Pendidikan

Variabel Sub-Variabel Indikator

Pembiayaan Sumber 1. Pemerintah Pusat


Pendidikan 2. Pemerintah Provinsi
166

3. Pemerintah Kota/Kab
4. Orangtua/Keluarga
5. Pengusaha/Industri
6. Lainnya

Penggunaan 1. Belanja pegawai


2. Biaya KBM
3. Kegiatan Pelajar
4. Rapat Komite Sekolah
5. Koordinasi dengan instansi
lain
6. Bahan habis pakai
7. Pemeliharaan
8. Transfer
9. Fisik/sarana/prasarana
10. Lainnya

Setelah diketahui sumber dan penggunaan pembiayaan pendidikan

dengan metode pengumpulan data dokumentasi maka akan diungkap

kecukupan pembiayaan pendidikan yang bersumber dari persepsi guru

dengan mempergunakan angket.

3. Peran Komite Sekolah (Instrumen III)

instrumen ini berupa kuestioner yang digunakan untuk

mengungkap variabel peran Komite Sekolah dengan empat sub-variabel

disertai sejumlah indikator dan butir pertanyaan, nampak dalam tabel

berikut:

Tabel 3.5
Variabel, Fungsi, Indikator
Peran Komite Sekolah

Variabel Fungsi Indikator Butir


Peran Badan a. Identifikasi sumber daya 1,2,3
Komite Pertimbangan pendidikan dalam masyarakat.
Sekolah {Advisory b. Memberikan masukan untuk 4
Agency) penyusunan RAPBS.
167

c. Menyelenggarakan rapat
RAPBS (sekolah, orang tua
siswa, masyarakat)
d- Memberikan pertimbangan
perubahan RAPBS.
e. Ikut mengesahkan RAPBS
bersama kepala sekolah.
Memberikan masukan 8
terhadap proses pengelolaan
pendidikan di sekolah.
g. Memberikan masukan 9
terhadap proses pembelajaran
kepada para guru.
h. Identifikasi potensi sumber 10
daya pendidikan dalam
masyarakat.
Memberikan pertimbangan 11,12
tentang tenaga kependidikan 13
yang dapat diperbantukan di
sekolah.
Memberikan pertimbangan 14,15
tentang sarana dan prasarana
yang dapat diperbantukan di
sekolah.
k. Memberikan pertimbangan 16,17
tentang anggaran yang dapat
dimanfaatkan di sekolah.

Badan a. Memantau kondisi ketenagaan 18,19


Pendukung pendidikan di sekolah. 20,21
(Supporting b. Mobilisasi guru sukarelawan 22,23
Agency) untuk menanggulangi 24
kekurangan guru di sekolah.
c. Mobilisasi tenaga kependidikan 25,26
non guru untuk mengisi
kekurangan di sekolah.
d. Memantau kondisi sarana dan 27,28
prasarana yang ada di sekolah.
e. Mobilisasi bantuan sarana dan 29,30
parasarana sekolah.
f. Mengkoordinasi dukungan 31,32
sarana dan parasarana
sekolah
g. Mengevaluasi pelaksanaan 33,34
dukungan sarana dan
prasarana sekolah.
168

i. Memantau kondisi anggaran 35,36


pendidikan di sekolah.
. Memobilisasi dukungan 37,38
terhadap anggaran pendidikan 39
di sekolah.
. Mengkoordinasikan dukungan 40,41
terhadap anggaran pendidikan 42
di sekolah.
k. Mengevaluasi pelaksanaan 43,44
dukungan anggaran di sekolah. 45

Badan a. Mengontrol proses pengambil- 46


Pengontrol an keputusan di sekolah.
{Controlling b. Mengontrol kualitas kebijakan 47
Agency) di sekolah.
c. Mengontrol proses perencana- 48
an pendidikan di sekolah
d. Pengawasan terhadap kualitas 49
perencanaan sekolah
e. Pengawasan terhadap kualitas 50
program sekolah.
f. Memantau organisasi sekolah 51
g. Memantau penjadwalan 52
program sekolah
i. Memantau alokasi anggaran 53
untuk pelaksanaan program
sekolah.
j. Memantau sumber daya 54
pelaksana program sekolah.
. Memantau partisipasi stake- 55
holder pendidikan dalam
pelaksanaan program sekolah.
k. Memantau hasil ujian akhir.56,57
58,59
L Memantau angka partisipasi 60,61
sekolah
m. Memantau angka mengulang 62
sekolah
n. Memantau angka bertahan di 63
sekolah.

Badan a. Menjadi penghubung antara 64,65


II Penghubung Komite Sekolah dengan 66
I1 (Mediator masyarakat, Komite Sekolah

I iI Agency) dengan sekolah, dan Komite


Sekolah dengan Dewan
169

Pendidikan.
b. Mengidentifikasi aspirasi
masyarakat untuk
perencanaan pendidikan.
c. Membuat usulan kebijakan
dan program pendidikan
kepada sekolah
d. Mensosiaiisasikan kebijakan
dan program sekolah kepada
masyarakat
e. Memfasilitasi berbagai
masukan kebijakan program
terhadap sekolah
f. Menampung pengaduan dan
keluhan terhadap kebijakan
dan program sekolah
g. Mengkomunikasikan
pengaduan dan keluhan
masyarakat terhadap sekolah
h. Mengidentifikasi kondisi
sumber daya di sekolah
i. Mengidentifikasi sumber-
sumber daya masyarakat
j. Memobilisasi bantuan
masyarakat untuk pendidikan
di sekolah
k. Mengkoordinasikan bantuan
masyarakat

4. Mutu Proses (Instrumen IV)

Untuk mengungkap proses belajar mengajar digunakan lembar

observasi sehingga akan diketahui bahwa proses belajar mengajar sangat

bermutu, di samping itu juga akan diungkap mutu proses belajar mengajar

pada guru yang bersangkutan dengan mempergunakan angket.


170

Tabel 3.6
Variabel, Sub-Variabel, dan Indikator
Mutu Proses

VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR NO. ITEM


Mutu Proses 1. Perencanaan a. Merencanakan Alabe
Pengajaran pengorganisasian
bahan pengajaran
b. Merencanakan A2abcd
pengelolaan KBM
c. Merencanakan A3abc
pengelolaan kelas
d. Merencanakan A4ab
penggunaan dan
sumber belajar

2. Pelaksanaan a. Penggunaan metode, B1abc


Pengajaran media, dan bahan
pengajaran
b. Berkomunikasi dengan B2abcde
siswa
c. Mendemonstrasikan B3abc
khasanah metode
mengajar
d. Mendorong dan B4abc
menggalakkan
keterlibatan siswa
e. Mendemontrasikan B5ab
penguasaan mata
pelajaran/diklat
f. Pengorganisasian B6abc
waktu, ruang dan
bahanpelajaran
Clabcd
3. Hubungan antar a. mengembangkan sikap
pribadi positif C2abcd
b. bersikap terbuka pada
stswa C3abc
c. menampilkan
kegairahan dalam PBM C4ab
• d. mengelola interaksi
perilaku dalam kelas
D1ab
4. Evaluasi a. memberikan penilaian
prestasi siswa untuk
keperluan pengajaran D2ab
b. melaksanakan evaluasi
171

5. Mutu Lulusan (Instrumen V)

Mutu lulusan dengan indikasi nilai evaluasi belajar, nilaij

angka mengulang, dan putus sekolah; data ini bersumber dari arsT

sekolah dengan pedoman dokumentasi, setelah itu ditanyakan kepada

guru tentang kepuasannya terkait dengan nilai yang dicapai oleh siswa-

siswanya.

E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Validitas

Instrumen yang valid dan reliabel harus diusahakan secara hati-hati

sejak awal penyusunan dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan

instrumen, yakni menurunkan variabel menjadi sub variabel dan indikator,

kemudian merumuskan butir-butir pertanyaan yang akan diungkap.

Suharsimi Arikunto (1986) menyatakan bahwa apabila cara penyusunan

instrumen yang dilakukan oieh peneliti sudah boleh berharap memperoleh

instrumen yang memiliki validitas logis. Dikatakan validitas logis karena

validitas ini diperoleh dengan upaya hati-hati melalui cara-cara yang

benar, sehingga menurut logika akan dicapai suatu tingkat validitas yang

dikehendaki.

Validitas digolongkan ke dalam tiga jenis (Kerlinger, 1973: 90) yaitu

validitas isi, kriteria, dan konstruk. Validitas yang digunakan dalam

penelitian ini adalan konstruk, yakni abstraksi dan generalisasi khusus dan

merupakan konsep yang diciptakan untuk kebutuhan ilmah dan memiliki


172

pengertian terbatas. Konstruk tersebut diberi definisi sehingga dapat

diamati dan diukur. Dalam validitas konstruk yang dilakukan peneliti

adalah menjabarkan pertanyaan-pertanyaan tentang: (a) komponen-

komponen atau dimensi apa saja yang membentuk konsep kepemimpinan

Kepala Sekolah, pembiayaan pendidikan, peran Komite Sekolah, mutu

proses, dan mutu lulusan; dan (b) landasan teoritis yang digunakan untuk

mendukung dan merangkum kelima dimensi tersebut. Dalam penelitian ini

ke lima dimensi tersebut telah diberikan definisi operasional berdasarkan

pada landasan-landasan teoritik yang mendasarinya. Sebelum instrumen

penelitian diuji cobakan, terlebih dahulu peneliti berkonsultasi dengan

promotor, co-promotor, dan anggota, karena mereka memiliki keahlian di

bidang penelitian ini.

Dalam penelitian ini digunakan validitas internal, sehingga dapat

diketahui validitas antar item. Teknik analisis yang digunakan adalah

analisis butir. Uji coba instrumen dilakukan pada 20 orang guru SMA 2

Semarang untuk instrumen kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan

pendidikan, peran Komite Sekolah, mutu proses, dan mutu lulusan. Untuk

menghitung validitas instrumen digunakan rumus product moment oleh

Pearson (Suharsimi Arikunto, 1989: 82) perhitungannya mempergunakan

program SPSS/PC+ release 10.0. Adapun rumusnya sebagai berikut:

n IXY-(IX)(IY)

** V {nIX 2 - (IX) 2 KnIY 2 - (IY) 2 }


(Sudjana, 1991)
173

Keterangan:
XY = produk perkalian skor varabe! X dan Y
X = skor variabel indpenden
Y = skor variabel dependen
n = jumlah sampel

Hasil Analisis butir dan analisis faktor masing-masing instrumen

penelitian disajikan sebagai berikut:

a. Kepemimpinan Kepala Sekolah

Variabel kepemimpinan Kepala Sekolah terdiri dari sub-variabel

Kepala Sekolah sebagai pengelola program pengajaran, pengelola

pelayanan tenaga kependidikan, pengelola pelayanan siswa, pengelola

keuangan dan fasilitas, dan pengelola hubungan sekolah dan masyarakat.

Sub-variabel kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola program

pengajaran pada butir pertanyaan A 1 sampai dengan A 24 semuanya

valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat

lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana dinyatakan oleh

Sugiyono (2001: 106) bahwa bila koefisien korelasi sama dengan 0,20

atau lebih (paling kecil r. = 30), maka butir instrumen dinyatakan valid.

Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment untuk n = 20 dan

taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel kepemimpinan Kepala

Sekolah sebagai pengelola program pengajaran pada butir pertanyaan

nomor A 1 sampai dengan nomor A17 semuanya valid.

Sub-variabel kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola

pelayanan tenaga kependidikan pada butir pertanyaan B 25 sampai

dengan B 56 semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi


174

yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001:106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling keci! r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel

kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan tenaga

kependidikan pada butir pertanyaan nomor B 1 sampai dengan nomor B

56 semuanya valid.

Sub-variabel kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola

pelayanan siswa pada butir pertanyaan C 57 sampai dengan C 84

semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang

dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001 :106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel

kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa pada

butir pertanyaan nomor C 57 sampai dengan nomor C 84 semuanya valid.

Sub-variabel kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola

keuangan dan fasilitan pada butir pertanyaan D 85 sampai dengan D 102

semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang

dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001 : 106) bahwa bila koefisien korelasi sama
175

dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel

kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola keuangan dan fasilitas

pada butir pertanyaan nomor D 85 sampai dengan nomor D 102

semuanya valid.

Sub-variabel kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola

hubungan sekolah dan masyarakat pada butir pertanyaan E 103 sampai

dengan D 121 semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi

yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001:106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel

kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai pengelola hubungan sekolah dan

masyarakat pada butir pertanyaan nomor E 103 sampai dengan nomor E

121 semuanya valid.

Analisis faktor yang teridiri dari sub-variabel Kepala Sekolah

sebagai pengelola program pengajaran, pengelola pelayanan tenaga

kependidikan, pengelola pelayanan siswa, pengelola keuangan dan

fasilitas, pengelola hubungan sekolah dan masyarakat dengan total yaitu

kepemimpinan Kepala Sekolah dinyatakan valid. Ini didasarkan atas skor

koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30.
176

sebagaimana dinyatakan Sugiyono (2001: 106) bahwa bila koefisien

korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r =30), maka faktor

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444 maka faktor

pengelola program pengajaran, pengelola pelayanan tenaga

kependidikan, pengelola pelayanan siswa, pengelola keuangan dan

fasilitas, pengelola hubungan sekolah dan masyarakat dengan total yaitu

kepemimpinan Kepala Sekolah dinyatakan valid.

b. Pembiayaan Pendidikan

Variabel pembiayaan pendidikan pada butir pertanyaan 1 sampai

dengan 14 semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi

yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001:106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n - 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Variabel pembiayaan

pendidikan pada butir pertanyaan nomor 1 sampai dengan nomor 14

semuanya valid.

c. Peran Komite Sekolah

Variabel peran Komite Sekolah terdiri dari sub-variabel Komite

Sekolah sebagai badan pertimbangan, badan pendukung, badan

pengontrol, dan badan penghubung. Sub-variabel peran Komite Sekolah

sebagai badan pertimbangan pada butir pertanyaan A 1 sampai dengan A


177

17 semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang

dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001 :106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling kecif r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel peran

Komite Sekolah sebagai badan pertimbangan pada butir pertanyaan

nomor A 1 sampai dengan nomor A 17 semuanya valid.

Sub-variabel peran Komite Sekolah sebagai badan pendukung

pada butir pertanyaan B 18 sampai dengan B 45 semuanya valid. Ini

didasarkan atas skor koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1)

lebih besar dari 0,30. Sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono (2001:

106) bahwa bila koefisien korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling

kecil r = 30), maka butir instrumen dinyatakan valid. Demikian juga jika

dilihat pada tabel r product moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5%

skor r = 0,444. Sub-variabel peran Komite Sekolah sebagai badan

pendukung pada butir pertanyaan nomor B 18 sampai dengan nomor B 45

semuanya valid.

Sub-variabel peran Komite Sekolah sebagai badan pengontrol

pada butir pertanyaan C 46 sampai dengan C 63 semuanya valid. Ini

didasarkan atas skor koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1)

lebih besar dari 0,30. Sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono (2001 :

106) bahwa bila koefisien korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling
178

kecil r = 30), maka butir instrumen dinyatakan valid. Demikian juga jika

dilihat pada tabel r product moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5%

skor r = 0,444. Sub-variabel peran Komite Sekolah sebagai badan

pengontrol pada butir pertanyaan nomor C 46 sampai dengan nomor C 63

semuanya valid.

Sub-variabel peran Komite Sekolah sebagai badan penghubung

pada butir pertanyaan D 64 sampai dengan D 69 semuanya valid. Ini

didasarkan atas skor koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1)

lebih besar dari 0,30. Sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono (2001:

106) bahwa bila koefisien korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling

kecil r = 30), maka butir instrumen dinyatakan valid. Demikian juga jika

dilihat pada tabel r product moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5%

skor r = 0,444. Sub-variabel peran Komite Sekolah sebagai badan

penghubung pada butir pertanyaan nomor D 64 sampai dengan nomor D

69 semuanya valid.

Analisis faktor yang teridiri dari sub-variabel peran Komite Sekolah

sebagai badan pertimbangan, badan pendukung, badan pengontrol, dan

badan penghubung dengan total yaitu peran Komite Sekolah dinyatakan

valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat

lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. sebagaimana dinyatakan Sugiyono

(2001 : 106) bahwa bila koefisien korelasi sama dengan 0,20 atau lebih

(paling kedi r =30), maka faktor dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat

pada tabel r product moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r


179

= 0,444 maka peran Komite Sekolah sebagai badan pertimbangan, badan

pendukung, badan pengontrol, dan badan penghubung dengan total yaitu

peran Komite Sekolah dinyatakan valid,

d. Mutu Proses

Variabel mutu proses belajar mengajar terdiri dari sub-variabel

perencanaan pengajaran, pelaksanaan pengajaran, hubungan antar

pribadi, dan evaluasi pengajaran. Sub-variabel perencanaan pengajaran

pada butir pertanyaan A1a sampai dengan A4b (12 butir pertanyaan)

semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang

dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001:106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-variabel

perencanaan pengajaran pada butir pertanyaan nomor A1a sampai

dengan nomor A4b (12 butir) semuanya valid.

Sub-variabel pelaksanaan pengajaran pada butir pertanyaan B1a

sampai dengan B6c (20 butir) semuanya valid. Ini didasarkan atas skor

koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30.

Sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono (2001 : 106) bahwa bila koefisien

korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling kedi r = 30), maka butir

instrumen dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product

moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-


180

variabel pelaksanaan pengajaran pada butir pertanyaan nomor Bla

sampai dengan nomor B6c (20 butir) semuanya valid.

Sub-variabe! hubungan antar pribadi pada butir pertanyaan C1a

sampai dengan C4b (13 butir) semuanya valid. Ini didasarkan atas skor

koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30.

Sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono (2001:106) bahwa bila koefisien

korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir

instrumen dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product

moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r - 0,444. Sub-

variabel hubungan antar pribadi pada butir pertanyaan nomor C1a sampai

dengan nomor C4b (13 butir) semuanya valid.

Sub-variabe! evaluasi pengajaran pada butir pertanyaan D1a

sampai dengan D2c (5 butir) semuanya valid. Ini didasarkan atas skor

koefisien korelasi yang dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30.

Sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono (2001 :106) bahwa bila koefisien

korelasi sama dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir

instrumen dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel t product

moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Sub-

variabel evaluasi pengajaran pada butir pertanyaan nomor D1a sampai

dengan nomor D2c (5 butir) semuanya valid.

Analisis faktor yang teridiri dari sub-variabel perencanaan

pengajaran, pelaksanaan pengajaran, hubungan antar pribadi, dan

evaluasi pengajaran dengan total yaitu mutu proses belajar dinyatakan


181

valid, ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang d i h


I f '*
as^jklr^^^*
3s|k|r ¡i

lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. sebagaimana dinyatakan^ ^ ;

(2001 : 106) bahwa bila koefisien korelasi sama dengan 0,20 atau lebih"

(paling kecil r =30), maka faktor dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat

pada tabel r product moment untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r

= 0,444 maka sub-variabei perencanaan pengajaran, pelaksanaan

pengajaran, hubungan antar pribadi, dan evaluasi pengajaran dengan

total yaitu mutu proses belajar dinyatakan valid,

e. Mutu Lulusan

Variabel mutu lulusan pada butir pertanyaan 1 sampai dengan 4

semuanya valid. Ini didasarkan atas skor koefisien korelasi yang

dihasilkan (lihat lampiran 3.1) lebih besar dari 0,30. Sebagaimana

dinyatakan oleh Sugiyono (2001:106) bahwa bila koefisien korelasi sama

dengan 0,20 atau lebih (paling kecil r = 30), maka butir instrumen

dinyatakan valid. Demikian juga jika dilihat pada tabel r product moment

untuk n = 20 dan taraf signifikansi 5% skor r = 0,444. Variabel mutu

lulusan pada butir pertanyaan nomor 1 sampai dengan nomor 4

semuanya valid.

2. Reliabilitas

Instrumen pengumpulan data harus memenuhi syarat reliabilitas

yaitu memenuhi syarat kejituan atau ketepatan instrumen pengukur.

Sugiyono (2003) menyatakan bahwa pengujian reliabilitas instrumen

dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Eksternal berarti


182

pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan

gabungan keduanya. Internal reliabilitas instrumen berarti dapat diuji

dengan menganlisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen

dengan teknik tertentu. Reliabilitas yang dipergunakan pada instrumen

pengumpulan data penelitian ini adalah uji konsistensi internal. Dalam

pengujian reliabilitas dengan konsistensi internal dilakukan dengan cara

mencobakan instrumen sekali kemudian data yang diperoleh dianalisis

dengan teknik Alpha dengan rumus sebagai berikut:

k ICTb2
rn = [ }[1 1
2
(k-1) 0t

(Suharsimi Arikunto, 1989)


Keterangan:
rn = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
2
ICTb =jumlah varians butir
0\2 = varians total

Penggunaan teknik Alpha karena rentangan skor pada masing-

masing butir pertanyaan berkisar antara 1 - 4 dan 1 - 5 . Untuk

menghitung reliabilitas instrumen digunakan program SPSS/PC+ release

10.0.

Hasil perhitungan reliabilitas instrument (lampiran 3.2) dengan

teknik Alpha diringkas dalam bentuk tabel berikut:


183

Tabel 3.7
Hasil Uji Reliabititas Instrumen

No Instrumen untuk Variabel Koefisien t.s. 5%


Alpha
1 Kepemimpinan Kepala Sekolah, sebagai
Pengelola
a. Program Pengajaran 0,9293 0,444
b. Pelayanan Tenaga Kependidikan 0,9430 0,444
c. Pelayanan Siswa 0,9382 0,444
d. Keuangan dan Fasilitas 0,9133 0,444
e. Hubungan Sekolah dan Masyarakat 0,9214 0,444

2 Pembiayaan Pendidikan 0,8843 0,444

3 Peran Komite Sekolah


a. Badan Pertimbangan 0,9057 0,444
b. Badan Pendukung 0,9409 0,444
c. Badan Pengontrol 0,9229 0,444
d. Badan Penghubung 0,7766 0,444

4 Mutu Proses
a. Perencanaan Pengajaran 0,9460 0,444
b. Pelaksanaan Pengajaran 0,9637 0,444
c. Hubungan antar Pribadi 0,9415 0,444
d. Evaluasi Pengajaran 0,8485 0,444

5 Mutu Lulusan 0,8173 0,444

Berdasarkan perhitungan reliabilrtas dengan teknik Alpha

sebagaimana tersaji di dalam tabel 3.7 tampak bahwa kelima instrument

yang mengungkap kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan

pendidikan, peran Komite Sekolah, mutu proses belajar mengajar, dan

mutu lulusan semuanya reliable, karena skor koefisien Alpha lebih besar

dibandingkan dengan harga kritis untuk taraf signifikansi 5%.


184

F. Análisis Data

Data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan (1)

analisis deskriptif, <2) analisis jalur.

1. Analisis Deskriptif

Deskreptif digunakan untuk mendeskripsikan ciri-ciri sampel pada

variabel tunggal, baik variabel bebas maupun variabel terikat.

Pendeskripsian masing-masing variabel dilakukan dengan menggunakan

bilangan statistika Mean, dan prosentase. Pembuatan tabel frekuensi

dilakukan dengan menggunakan program SPSS/PC+ release 10.0. Untuk

mengetahui derajat persepsi responden terhadap kepemimpinan Kepala

Sekolah, pembiayaan pendidikan, peran Komite Sekolah, dan mutu

lulusan dibuat kriteria atas empat klasifikasi yaitu baik, cukup baik, kurang

baik, dan tidak baik. Kemudian mutu proses dibuat kriteria atas lima

klasifikasi yaitu baik, cukup baik, sedang, kurang baik, dan tidak baik.

Skor pada kriteria persepsi responden terhadap variabel-variabel

yang diungkap adalah didasarkan pada skor maksimal yang mungkin

dicapai oleh responden. Skor ini diperoleh dari perkalian jumlah item

dengan skor pada alternatif jawaban. Untuk menetapkan klasifikasi pada

kepemimpinan Kepala Sekolah adalah rentang skor maksimal dengan

rentang skor di bawahnya kemudian dikelompokkan menjadi empat

kualifikasi, berdasarkan perhitungan tersebut klasifikasi derajat persepsi

responden terhadap kepemimpinan Kepala Sekolah digambarkan sebagai

berikut:
185

Tabel 3.8
Klasifikasi Persepsi Responden Terhadap
Kepemimpinan Kepala Sekolah

Kualifikasi Skor
Baik 387-476
Cukup Baik 297 - 386
Sedang 207 - 296
Kurang Baik 119-207

Prosedur. pengkualifikasian persepsi responden terhadap

kecukupan pembiayaan pendidikan, peran Komite Sekolah, mutu proses,

dan mutu lulusan adalah sama dengan penetapan kualifikasi persepsi

responden terfiadap kepemimpinan Kepala Sekolah.

2. Analisis Jalur

Anaslisis jalur digunakan untuk menganalisis data dengan tujuan

menerangkan akibat langsung maupun tidak langsung seperangkat

variable, sebagai variable penyebab terhadap variable akibat. Dengan

analisis jalur dapat diketahui besarnya pengaruh masing-masing variable

baik secara langsung maupun tidak langsung, dan dapat digambarkan

digramatik struktur variable-variabel penyebab terhadap variable akibat,

yang disebut diagram jalur (path diagram). Besarnya pengaruh (relative)

dari variable bebas ke variable terikat akibat dinyatakan oleh besarnya

bilangan koefisien jalur (path coefficienf), sedangkan besarnya pengaruh

nyata dinyatakan oleh besarnya bilangan koefisien determinasi

(determinatif coefficienf}.. Asumsi yang mendasari digunakannya analisis

jalur ini:
186

a. Hubungan antar variable harusiah linier dan aditif;

b. Semua variable residu tak punya korelasi satu sama lain;

c. Pola hubungan antara variable adalah rekursif (pola yang tidak

melibatkan arah pengaruh yang timbale balik);

d. Tingkat pengukuran semua variable sekurang-kurangnya berskala

interval.

Analisis jalur digunakan untuk menguji hipotesis pokok dan

hipotesis penunjang serta sub-hipotesis penunjang. Sedangkan analisis

jalur akan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Nirwana

SK. Sitepu,1994:15-30):

1. Menentukan struktur hubungan analisis jalur

Bagan 3.1
Struktur Hubungan Analisis Jalur X1t X2, X3, dengan Y-t,Y2
187

2. Menentukan persamaan regresi multiple Yi atas X-i, X2, X3 sebagai

berikut :

Y-i = a + bAX-i + b2X2 + 1)3X3 + ei

3. Menentukan persamaan regresi muitiple V2 atas Xn, X2, X3 sebagai

berikut :

Y2 = a + biX1 + b2X2 + b3X3 + £1

Keterangan :
Y1 = mutu proses belajar mengajar
Y2 = mutu lulusan
a = intersep
b = koefisien regresi
Xi = kepemimpinan Kepala Sekolah
X2 = pembiayaan pendidikan
X3 = peran Komite Sekolah
e = epsilon (variabel sisa)

4. Menghitung Koefisien Jalur:


Untuk Xi, X2, X3, terhadap Yi:

Untuk X!, X2, Xa. terhadap Y2:

Py2X) - bi; ; i = 1,2, 3


£Y2i2

Keterangan:

Pyixi = koefisien jalur variabel X 1 2 3. terhadap variabel Yi


pY2xi = koefisien jalur variabel X123, terhadap variabel Y2
b = koefisien regresi variabel X, terhadap variabel Yt dan Y2
5. Menghitung pengaruh parsial XA, X2, X3, terhadap Yi dan Y2

Pengaruh Langsung :

Y1 Xi * Y1 = P y i » Pyixi
Y2"* Xi Y2 = Py2xjPy2Xi

Pengaruh Tidak Langsung:

Yi * Xt Q X2 * Y-i
Y, « Xi Q X3 Yi
Y^ < X2 Q X3 • Y,
Y2 < Xi Q X2 • • Y2
Y2 + Xi Q X3 * Y2
Y2 « X2 O Xa + Y2

6. Menghitung R2 (pengaruh simultan X1t X2l X3 terhadap Y-j):

R 2 Y1x1x2x3 = spy1xi Tyixj | i = 1, 2, 3

RZY2X1X2X3 ~ SpY2Xi TY2Xi i i = 1, 2, 3

dimana:

SXiYii

V (S^ZYIi2)

£XjYa
rY2Xi =
\} ;— 2

7. Menghitung Pengaruh variabel lain ( e ):

Pyiei =
1 - R V lx1x2x3

pY2r.1 = 1 " R2Y2X1X2X3

8. Menguji hipotesis :
189

Pengaruh simultan Xi, X2, X3, terhadap Y-r.

Ho : Pyixi - Pvix2 = Pyix3 = 0 dan Ho : py2xi = Pyzx2 = Py2x3 = 0

H1 : Sekurang-kurangnya ada sebuah Pyi» atau pY2xi * 0

Rumus pengujian yang digunakan sebagai berikut:

(n-k-1)R2Yixix2X3
F =
k ( 1 - R y1x1x2x3)

terhadap Y2

(n-k-1)R 2 y2x1x2x3
F =
k ( 1 - R y2x1x2x3)

Pengaruh parsial Xi, X2, Xa, terhadap Yi dan X2, X3, terhadap Y2

Ho : pYlXi. pY2Xi = 0
Hi : Pyi». Pv2Xi * 0

Rumus pengujian yang digunakan sebagai berikut:

PyiXi

t = /v j (1-R^y 1x1x2x3)

V (n-k-1)(1-R2xi

Keterangan:
pvi,xi, = Koefisien jalur atas variabel independen (X.) terhadap
variabel dependen (Y1 dan Y2).
2
1-R Y1.Y2X1X2X3 = Koefisien yang menyatakan determinasi total dari
semua variabel independen terhadap variabel
dependen.
2
1-R xi = koefisien yang menyatakan determinasi multipel antara X-
Statistik uji mengikuti distribusi t dengan v = n-k-1.
Kaidah keputusan tolak H0 dan terima H1 jika t^ng lebih besar dari ttabei.
190

9. Menguji hipotesis ada tidaknya perbedaan pengaruh X1 terhadap Y1,

X2 terhadap Y1, dan X3 terhadap Y1 serta hipotesis ada tidaknya

perbedaan pengaruh X1 terhadap Y2, X2 terhadap Y2, dan X3

terhadap Y2
=
Ho : pY1X1 PY1X2 = Py1X3
Hl : pY1X1 * pY1X2 * pY1X3

Ho : pY2X1 - pY2X2 - pY2X3


H-I : PY2X1 * PY2X2 * pY2X3

Rumus pengujian yang digunakan sebagai berikut:

PYIX1 - PYIX2- PY1X3


t=

Keterangan:
V (1-R2y1,y2x123)

(n - k - 1) + (CRii+CRjj-2CRij)

pY1X1 = koefisien jalur atau besarnya pengaruh variabel


independen X1 terhadap variabel dependen Y1.
pY1X2 = koefisien jafur atau besarnya pengaruh variabel
independen X1 terhadap variabel dependen Y1.
pY1X3 = koefisien ialur atau besarnya pengaruh variabel
independen X1 terhadap variabel dependen Y1.
R2Y1 ,Y2X123 = koefisien yang menyatakan pengaruh simultan
dari variabel independen X1, X2, dan X3 terhadap
variabel dependen Y.
CRii = unsur pada baris ke-i dan kolom ke-i dari matrik invers.

Statistik uji mengikuti distribusi t dengan v=n-k-1. Kaidah keputusan tolak

H0 dan terima H-i jika thitung lebih besar dari ttabef.


191

G. Keterbatasan Penelitian II 5" »w'W**"" :

Penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan yaitu\ -

menyangkut mutu proses belajar mengajar itu dipengaruhi oleh beri

masukan yaitu masukan utama (siswa), instrumental input terdiri dari guru,

Kepala Sekolah, sarana prasarana, kurikulum, tenaga pendukung, dan

sebagainya. Environmental input terdiri dari sosial, ekonomi, budaya,

politik, teknologi, dan sebagainya. Penelitian ini terfokus pada

kepemimpinan Kepala Sekolah, pembiayaan pendidikan, dan peran

Komite Sekolah yang ketiganya merupakan bagian kecil dari proses

belajar mengajar. Disamping itu juga dengan mutu lulusan disamping

dipengaruhi oleh proses belajar mengajar juga dipengaruhi oleh kegiatan

penunjang, namun penelitian ini terfokus pada mutu proses belajar

mengajar.

Keterbatasan berikutnya adalah penggunaan instrumen kuesioner

yang tertutup. Jenis instrument ini tidak dapat mengungkap informasi

tentang fenomena yang -dialami responden secara mendalam, karena

responden cenderung dibatasi di dalam menyampaikan informasi

walaupun instrumen penelitian tersebut sudah diuji validitas dan

reliabilitasnya, namun ada kemungkinan kurang peka di dalam

manangkap fenomena yang terjadi dan dialami oleh responden.


BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Kepemimpinan Kepala Sekolah


Kepemimpinan Kepala Sekolah SMA Negeri di Kota Semarang

tergolong baik. Skor mean yang diperoleh yaitu sebesar 399,77 (lampiran

4.1) yang berarti masuk dalam klasifikasi baik (393,26 - 484,00).

Kepemimpinan Kepala Sekolah menurut guru dengan klasifikasi baik yaitu

SMA 1 Semarang (skor rata-rata 405,01), sedangkan SMA 12 Semarang

dengan klasifikasi baik (skor rata-rata 401,35), kemudian SMA 15

Semarang dengan klasifikasi cukup baik (skor rata-rata 388,47). Dengan

demikian dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah

menurut responden ternyata di SMA 1 dan SMA 12 Semarang lebih baik


dibandingkan dengan di SMA 15 Semarang.

Tabel 4.1
Kepemimpinan Kepala Sekolah

Kriteria Klasifikasi SM A l SMA 12 SMA 15 • Semarang


;
f % f % f % F ! % i
393,26 - 484,00 Baik 54 55,10 25 62,50 17 33,33 96 j 50,79 ;
302,51 - 393,25 Cukup baik 34 34,69 14 35 34 66,67 ; 82 i 43,39 ;
i
211,76- 302,50 Kurang baik 10 10,21 1 2,50 0 i0 ; 11
i 5,82 ;
121,00- 211,75 Tidak baik 0 0 0 0 0 jo 'o s 0
Total 98 100 40 100 51 j 100 : 189 j 100 j
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2004

Berdasarkan tabel 4.1. menunjukkan variasi kepemimpinan Kepala

Sekolah SMA di Kota Semarang. Di dalam tabel tersebut menurut

responden bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah dengan baik yaitu SMA

12 Semarang (62,50%), SMA 1 Semarang (55,10%), dan SMA 15

192
193

Semarang (33,33%). Kepemimpinan Kepala Sekolah cukup baik yaitu

SMA 15 Semarang (66,67%), S MA 12 (35%), dan SMA 1 Semarang

(34,69%). Kurang baik kepemimpinan Kepala Sekolah di SMA 1

Semarang (10,21%), dan SMA 12 Semarang (2,50%). Untuk Kota

Semarang menurut guru bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah yang baik

(50,79%), cukup baik (43,39%), kurang baik ( 5,82%), sedang yang tidak

baik tidak ada. Aspek kepemimpinan Kepala Sekolah SMA meliputi

pengelola program pengajaran, pengelola pelayanan tenaga

kependidikan, pengelola pelayanan siswa, pengelola keuangan dan

fasilitas, pengelola hubungan sekolah dan masyarakat.

1. Pengelola Program Pengajaran

Kepala Sekolah sebagai pengelola program pengajaran SMA

Negeri di Kota Semarang tergolong baik. Skor mean yang diperoleh yaitu

sebesar 81,29 (lampiran 4.1) yang berarti masuk dalam klasifikasi baik (78

- 96). Kepala Sekolah sebagai pengelola program pengajaran menurut

guru dengan klasifikasi baik yaitu SMA 1 Semarang (skor rata-rata 81,95),

sedangkan SMA 12 Semarang dengan klasifikasi baik (skor rata-rata

81,55), kemudian SMA 15 Semarang dengan klasifikasi baik (skor rata-

rata 79,80). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Kepala Sekolah

sebagai pengelola program pengajaran menurut responden ternyata di

SMA 1, SMA 12, dan SMA 15 Semarang dalam klasifikasi baik.

Berdasarkan tabel 4.2. menunjukkan variasi Kepala Sekolah

sebagai pengelola program pengajaran SMA di Kota Semarang. Di dalam


194

tabel tersebut menurut responden bahwa Kepala Sekolah sebagai

pengelola program pengajaran dengan baik yaitu SMA 12 Semarang

(75%), SMA 1 Semarang (69,39%), dan SMA 15 Semarang (60,78%).

Kepala Sekolah sebagai pengelola program pengajaran cukup baik yaitu

SMA 15 Semarang (39,22%), SMA 1 Semarang (29,59%), dan SMA 12

(17,50%). Kepala Sekolah sebagai pengelola program pengajaran kurang

baik di SMA 12 Semarang (7,50%), SMA 1 Semarang (1,02%), dan SMA

15 Semarang (0%). Untuk Kota Semarang menurut guru bahwa Kepala

Sekolah sebagai pengelola program pengajaran yang baik (68,25%),

cukup baik (29,63%), kurang baik ( 2,12%), sedang yang tidak baik tidak

ada (0%).

Tabel 4.2
Kepala Sekolah sebagai Pengelola Program Pengajaran

Kriteria Klasifikasi SMA 1 SMA 12 SMA15 Semarang


f % f % f % F %
78-96 Baik 68 69,39 30 75 31 60,78 129 68,25
60-77 Cukup baik 29 29,59 7 17,50 20 39,22 56 29,63
42-59 Kurang baik 1 1,02 3 7,50 0 0 4 2,12
24-41 Tidak baik 0 0 0 0 0 0 0. 0
Total 98 100 40 100 51 100 189 100

2. Pengelola Pelayanan Tenaga Ke pendidikan

Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan tenaga kependidikan

SMA Negeri di Kota Semarang tergolong baik. Skor mean yang diperoleh

yaitu sebesar 106,04 (lampiran 4.1) yang berarti masuk dalam klasifikasi

baik (104 - 128). Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan tenaga


195

kependidikan menurut guru dengan klasifikasi baik yaitu SMA 1 Semarang

(skor rata-rata 107,33), sedangkan SMA 12 Semarang dengan klasifikasi

baik (skor rata-rata 106,05), kemudian SMA 15 Semarang dengan

klasifikasi baik (skor rata-rata 103,55). Dengan demikian dapat dinyatakan

bahwa Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan tenaga kependidikan

menurut responden di SMA 1, SMA 12, dan SMA 15 Semarang dalam

klasifikasi baik.

Tabel 4.3
Kepala Sekolah sebagai Pengelola Pelayanan Tenaga
Kependidikan

Kriteria Klasifikasi SMA 1 I SMA 12 SMA 15 Semarang I


F % ! f % f % F % !

104-128 Baik 68 69,39 ! 25 62,50 29 56,87 ! 128 64,55 j


80-103 Cukup baik 20 20,41 ! 14 35 17 33,33 51 26,98 !
56- 79 Kurang baik 10 10,20 : 1 2,50 5 9,80 16 8,47
32- 55 Tidak baik 0 0 i 0 0 0 0 0 0 I

Total 98 100 j 40 100 51 100 189 100 !

Berdasarkan tabel 4.3. menunjukkan variasi Kepala Sekolah

sebagai pengelola pelayanan tenaga kependidikan SMA di Kota

Semarang. Di dalam tabel tersebut menurut responden bahwa Kepala

Sekolah sebagai pengelola pelayanan tenaga kependidikan dengan baik

yaitu SMA 1 Semarang (69,39%), SMA 12 Semarang (62,50%), dan SMA

15 Semarang (56,87%). Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan

tenaga kependidikan cukup baik yaitu SMA 12 (35%), SMA 15 Semarang

(33,33%), dan SMA 1 Semarang (20,41%). Kepala Sekolah sebagai

pengelola pelayanan tenaga kependidikan kurang baik di SMA 1


196

Semarang (10,20%), SMA 15 Semarang (9,80%), dan S MA 12 Semarang

(2,50%). Untuk Kota Semarang menurut guru bahwa Kepala Sekolah

sebagai pengelola pelayanan tenaga kependidikan yang baik (64,55%),

cukup baik (26,98%), kurang baik ( 8,47%), sedang yang tidak baik tidak

ada (0%).

3. Pengelola Pelayanan Siswa

Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa SMA Negeri di

Kota Semarang tergolong cukup baik. Skor mean yang diperoleh yaitu

sebesar 90,12 (lampiran 4.1) yang berarti masuk dalam klasifikasi cukup

baik (70 - 90). Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa

menurut guru dengan klasifikasi baik yaitu SMA 1 Semarang (skor rata-

rata 91,23), sedangkan klasifikasi cukup baik SMA 12 Semarang (skor

rata-rata 90,42) dan SMA 15 Semarang (skor rata-rata 87,73). Dengan

demikian dapat dinyatakan bahwa Kepala Sekolah sebagai pengelola

pelayanan siswa menurut responden di SMA 1 lebih baik bila

dibandingkan SMA 12 dan SMA 15 Semarang.

Tabel 4.4
Kepala Sekolah sebagai Pengelola Pelayanan Siswa

Kriteria Klasifikasi SMA 1 ! SMA 12 SMA 15 Semarang


f % f % f % ; F %
91-112 Baik 59 60,21 24 60 23 45,10 106 56,08
7 0 - 90 Cukup baik 31 31,63 15 37,50 25 49,02 71 37,57
4 9 - 69 Kurang baik 8 8,16 1 2,50 3 5,88 12 6,35
2 8 - 48 Tidak baik 0 0 0 0 0 0 0 0
Total 98 100 40 100 51 100 189 100
197
. .«-. -0cm/w
" V \

Berdasarkan tabel 4.4. menunjukkan variasi Kepala^

sebagai pengelola pelayanan siswa SMA di Kota Semarang.

tabel tersebut menurut responden bahwa Kepala Sekolah sebagai

pengelola pelayanan siswa dengan baik yaitu SMA 1 Semarang (60,21%),

SMA 12 Semarang (60%), dan SMA 15 Semarang (45,10%). Kepala

Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa cukup baik yaitu SMA 15

Semarang (49,02%), SMA 12 (37,50%), dan SMA 1 Semarang (31,63%).

Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa kurang baik di SMA 1

Semarang (8,16%), SMA 15 Semarang (5,88%), dan SMA 12 Semarang

(2,50%). Untuk Kota Semarang menurut guru bahwa Kepala Sekolah

sebagai pengelola pelayanan siswa yang baik (56,08%), cukup baik

(37,57%), kurang baik (6,35%), sedang yang tidak baik tidak ada (0%).

4. Pengelola Keuangan dan Fasilitas

Kepala Sekolah sebagai pengelola keuangan dan fasilitas SMA

Negeri di Kota Semarang tergolong baik. Skor mean yang diperoleh yaitu

sebesar 61,29 (lampiran 4.1) yang berarti masuk dalam klasifikasi baik

(58,51 - 72,00). Kepala Sekolah sebagai pengelola keuangan dan

fasilitas menurut guru dengan klasifikasi baik yaitu SMA 1 Semarang (skor

rata-rata 62,28), SMA 12 Semarang (skor rata-rata 61,03), dan SMA 15

Semarang (skor rata-rata 59,61). Dengan demikian dapat dinyatakan

bahwa Kepala Sekolah sebagai pengelola keuangan dan fasilitas menurut

responden di SMA 1, SMA 12, dan SMA 15 Semarang tergolong baik.


198

Tabel 4.5
Kepala Sekolah sebagai Pengelola Keuangan dan Fasilitas

Kriteria Klasifikasi SMA 1 SMA 12 SMA 15 Semarang


f % f % f % F %
58,51 - 72,00 Baik 68 69,39 24 60 30 58,82 122 64,55
45,01 -58,50 Cukup baik 20 20,41 13 32,50 20 39,22 53 28,04
31,51 -45,00 Kurang baik 10 10,20 3 7,50 1 1,96 14 7,41
18,00-31,50 Tidak baik 0 0 0 0 0 0 0 0
Tota! 98 100 40 100 51 100 189 100

Berdasarkan tabel 4.5. menunjukkan variasi Kepala Sekolah

sebagai pengelola keuangan dan fasilitas SMA di Kota Semarang. Di

dalam tabel tersebut menurut responden bahwa Kepala Sekolah sebagai

pengelola keuangan dan fasilitas dengan baik yaitu SMA 1 Semarang

(69,39%), SMA 12 Semarang (60%), dan SMA 15 Semarang (58,82%).

Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa cukup baik yaitu SMA

15 Semarang (39,22%), SMA 12 (32,50%), dan SMA 1 Semarang

(20,41%). Kepala Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa kurang

baik di SMA 1 Semarang (10,20%), SMA 12 Semarang (7,50%), dan SMA

15 Semarang (1,96%). Untuk Kota Semarang menurut guru bahwa Kepala

Sekolah sebagai pengelola pelayanan siswa yang baik (64,55%), cukup

baik (28,04%), kurang baik (7,41%), sedang yang tidak baik tidak ada

(0%).

5. Pengelola Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Kepala Sekolah sebagai pengelola hubungan sekolah dan

masyarakat di SMA Negeri Kota Semarang tergolong cukup baik. Skor

mean yang diperoleh yaitu sebesar 61,04 (lampiran 4.1) yang berarti
199

masuk dalam klasifikasi cukup baik (47,51 - 61,75). Kepaia Sekolah

sebagai pengelola keuangan dan fasilitas menurut guru dengan klasifikasi

baik yaitu S MA 1 Semarang (skor rata-rata 62,22), SMA 12 Semarang

(skor rata-rata 62,30), klasifikasi cukup baik yaitu SMA 15 Semarang (skor

rata-rata 57,78). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Kepala

Sekolah sebagai pengelola hubungan sekolah dan masyarakat menurut

responden di SMA 1 dan SMA 12 lebih baik bila dibandingkan dengan

SMA 15 Semarang.

Tabel 4.6
Kepala Sekolah sebagai Pengelola Hubungan Sekolah dan
Masyarakat
,: p
Kriteria Klasifikasi SMA 1 f bWA 1Z OIVl/-1 oems rang :
f ; % ! f % f % , %
6176-76,00 Baik 52 i 53,06 : 22 55 15 29,41 89 47,09
47,51 - 6 1 7 5 Cukup baik 37 I 37,76 : 16 40 31 60,78 84 44,44
33,26-47,50 Kurang baik 9 ! 9,18 • 2 5 5 9,80 16 8,47
19,00 - 33,25 Tidak baik 0 i 0 ; o 0 0 0 0 0
Total 98 ; 100 ; 40 100 51 100 189 100

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan variasi Kepala Sekolah

sebagai pengelola hubungan sekolah dan masyarakat di SMA Kota

Semarang. Di dalam tabel tersebut menurut responden bahwa Kepala

Sekolah sebagai pengelola hubungan sekolah dengan masyarakat

tergolong baik yaitu SMA 1 Semarang (53,06%), SMA 12 Semarang

(55%), dan SMA 15 Semarang (29,41%). Kepala Sekolah sebagai

pengelola hubungan sekolah dengan masyarakat tergolong cukup baik

yaitu SMA 15 Semarang (60,78%), SMA 12 Semarang (40%), dan SMA 1


200

Semarang (37,76%). Kepala Sekolah sebagai pengelola hubungan

sekolah dengan masyarakat kurang baik di SMA 15 Semarang (9,80%),

SMA 1 Semarang (9,18%), dan SMA 12 Semarang (5%). Untuk Kota

Semarang menurut guru bahwa Kepala Sekolah sebagai pengelola

hubungan sekolah dengan masyarakat yang baik (47,09%), cukup baik

(44,44%), kurang baik (8,47%), sedang yang tidak baik tidak ada (0%).

B. Deskripsi Pembiayaan Pendidikan

1. RAPBS SMA Negeri Semarang

Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan bahwa SMA 1 Semarang pada

tahun 2002/2003 RAPBS sebesar Rp 2.683.938.660,00 tahun 2003/2004

RAPBS sebesar Rp 3.616.179.000,00 tahun 2004/2005 sebesar Rp

4.317.299.000,00 dari tahun 2002/2003 ke tahun 2003/2004 naik 25,78%

dari tahun 2003/2004 ke tahun 2004/2005 naik 16,24%. SMA 12

Semarang pada tahun 2002/2003 RAPBS sebesar Rp 925.209.670,00

tahun Rp 2003/2004 sebesar Rp 1.245.888.000,00 tahun 2004/2005

sebesar Rp 1.698.915.500,00 dari tahun 2002/2003 ke tahun 2003/2004

naik 25,74% dari tahun 2003/2004 ke tahun 2004/2005 naik 26,67%. SMA

15 Semarang pada tahun 2002/2003 RAPBS sebesar Rp

1.246.215.000,00 tahun Rp 2003/2004 sebesar Rp 1.504.519.000,00

tahun 2004/2005 sebesar Rp 2.069.668.000,00 dari tahun 2002/2003 ke

tahun 2003/2004 naik 17,17% dari tahun 2003/2004 ke tahun 2004/2005

naik 27,31%.
201

Tabel 4.7
RAPBS SMA Negeri di Semarang
(dalam Rupiah)
NO SEKOLAH 2002/2003 2003/2004 2004/2005
1 SMA 1 2.683.938.660,00 3.616.179.000,00 4.317.299.000,00
Kenaikan 25,78% 16,24%
2 SMA 12 925.209.670,00 1.245.888.000,00 1.698.915.500,00
Kenaikan 25,74% 26,67%
3 SMA 15 1.246.215.000,00 1.504.519.000,00 2.069.668.000,00
Kenaikan 17,17% 27,31%
Rata-rata 1.618.454.443,00 j 503.740.890,00 573.098.833,00
Kenaikan ! 31,12% 27,00%

Pada tahun 2002/2003 RAPBS rata-rata jumlahnya Rp

1.618.454.443.00 tahun 2003/2004 RAPBS rata-rata jumlahnya Rp

503.740.890,00 pada tahun 2004/2005 RAPBS rata-rata jumlahnya Rp

573.098.833,00 dari tahun 2002/2003 ke tahun 2003/2004 naik 31,12%

dari tahun 2003/2004 ke tahun 2004/2005 naik 27,00%. Dengan demikian

SMA 1 Semarang (pusat kota) memiliki RAPBS yang jauh lebih tinggi dari

pada SMA 15 (pinggir kota/dekat dengan kawasan perumahan) maupun

SMA 12 Semarang (pinggiran kota/pedesaan).

Menurut responden jumlah dana dalam RAPBS di SMA Negeri

Semarang tergolong sedang. Skor yang diperoleh yaitu sebesar 9,07

(lampiran 4.1) yang berarti masuk dalam klasifikasi sedang (8,76 - 12,50).

Berdasarkan tabel 4.8 bahwa 60,85% responden menyatakan RAPBS

jumlahnya sedang, 37,04% responden menyatakan jumlahnya sedikit,

sedangkan 2,11% responden menyatakan jumlahnya cukup, sementara

yang menyatakan jumlahnya banyak tidak ada (0%). Menurut responden

jumlah dana dalam RAPBS di SMA 1 Semarang tergolong sedang. Skor


202

yang diperoleh yaitu sebesar 9,21 (lampiran 4.1) yang berarti masuk

dalam klasifikasi sedang (8,76 - 12,50). 66,33% responden menyatakan

RAPBS jumlahnya sedang, 30,61% responden menyatakan jumlahnya

sedikit, sedangkan 3,06% responden menyatakan jumlahnya cukup,

sementara yang menyatakan jumlahnya banyak tidak ada (0%). Menurut

responden jumlah dana dalam RAPBS di SMA 12 Semarang tergolong

sedang. Skor yang diperoleh yaitu sebesar 8,65 (lampiran 4.1) yang

berarti masuk dalam klasifikasi sedikit (5,00 - 8,75). 52,50% responden

menyatakan RAPBS jumlahnya sedikit, 47,50% responden menyatakan

jumlahnya sedang, sedangkan responden menyatakan jumlahnya cukup

dan yang menyatakan jumlahnya banyak tidak ada (0%). Menurut

responden jumlah dana dalam RAPBS di SMA 15 Semarang tergolong

sedang. Skor yang diperoleh yaitu sebesar 9,11 (lampiran 4.1) yang

berarti masuk dalam klasifikasi sedang (8,76 - 12,50). 60,78% responden

menyatakan RAPBS jumlahnya sedang, 37,26% responden menyatakan

jumlahnya sedikit sedangkan 1,96% responden menyatakan jumlahnya

cukup, sementara yang menyatakan jumlahnya banyak tidak ada (0%).

Tabel 4.8
Persepsi Responden tentang RAPBS

Kriteria Klasifikasi SMA 1 SMA 12 SMA 15 Semarang


f % f % .. % %

16,26 - 20,00 Banyak 0 0 0 0 0 0 0 0


12,51-16,25 Cukup 3 3,06 0 0 1 1,96 4 2,11
8,76 -12,50 Sedang 65 66.33 19 47,50 31 60,78 115 60,85
5 , 0 0 - 8,75 Sedikit 30 30,61 21 52,50 19 37,26 70 37,04
Total 98 100 40 100 51 100 189 100
203

2. Sumber Dana

Berdasarkan tabel 4.9 SMA Negeri di Semarang pada tahun

2002/2003 RAPBS sebesar Rp 4.855.363.330,00 bersumber dari

Pemerintah Kota Semarang Rp 2.787.926.330,00 (57,42%) dan orangtua

siswa/keluarga sebesar Rp 2.067.437.000,00 (42,58%) sementara

pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan masyarakat industri dan

pengusaha tidak berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan. Pada tahun

2003/2004 RAPBS sebesar Rp 6.366.586.000,00 bersumber dari

Pemerintah Kota Semarang Rp 3.436.710.000,00 (53,98%) dan orangtua

siswa/keluarga sebesar Rp 2.821.196.000,00 (44,31%) sementara

pemerintah pusat Rp 66.520.000,00 (1,04%) dalam bentuk pemberian

beasiswa, pemerintah propinsi Rp 40.000.000,00 (0,63%) untuk biaya

supervisi/pembinaan koordinasi/K3S, IKKS, MKKS, MGMP, Rapat Dewan

Guru dan karyawan; dan masyarakat industri dan pengusaha Rp

2.160.000,00 (0,03%). Pada tahun 2004/2005 RAPBS sebesar Rp

8.085.882.500,00 bersumber dari Pemerintah Kota Semarang Rp

4.291.105.000,00 (53,07%); orangtua siswa/keluarga sebesar Rp

3.690.077.500,00 (45,64%); pemerintah pusat Rp 24.000.000,00 (0,30%)

dalam bentuk pemberian beasiswa, pemerintah propinsi sebesar Rp

16.500.000,00 (0,20%) dalam bentuk pemberian beasiswa; dan

masyarakat industri dan pengusaha sebesar Rp 64.200.000,00 (0,79%).


204

Tabel 4.9
Sumber Dana S MA Semarang
(dalam rupiah)

NO SUMBER 2002/2003 % 2003/2004 % 2004/2005 L %


1 Pusat o 0 66520000 1.04 24000000 0.30
2 Propinsi | 0 0 40000000 0.63 16500000 0.20
3 Kota !2787926330 57.42 3436710000 53.98 4291105000 53.07
4 Orang tua | 2067437000 42.58 2821196000 44.31 3690077500 45.64
5 Inus i 0 0 2160000 0.03 64200000 0.79
i Jumlah^ 4855363330 100 6366586000 100 8085882500 100

Berdasarkan tabel 4.10 SMA 1 Semarang pada tahun 2002/2003

RAPBS sebesar Rp 2.683.938.660,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 1.509.538.660,00 (56,24%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 1.174.400.000,00 (43,76%) sementara pemerintah pusat,

pemerintah propinsi dan masyarakat industri dan pengusaha tidak

berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan. Pada tahun 2003/2004

RAPBS sebesar Rp 3.616.179.000,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 1.912.429.000,00 (52.89%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 1.639.750.000,00 (45,34%) sementara pemerintah pusat Rp

24.000.000,00 (0,66%) dalam bentuk pemberian beasiswa, pemerintah

propinsi Rp 40.000.000,00 (1,11%) untuk biaya supervisi/pembinaan

koordinasi/K3S, IKKS, MKKS, MGMP, Rapat Dewan Guru dan karyawan;

dan masyarakat industri dan pengusaha tidak berpartisipasi dalam

pendanaan pendidikan.
205

Tabel 4.10
Sumber Dana SMA 1 Semarang
(dalam rupiah)

NO SUMBER 2002/2003 % 2003/2004 % 2004/2005 %


1 Pusat 0 24000000 0.66 24000000 0.56
2 'Propinsi 0 40000000 1.11 16500000 0.38
3 Kota 1509538660 56.24 1912429000 52.89 2210399000 51.20
4 Ortu 1174400000 43.76 1639750000 45.34 2066400000 47.86
5 Inus 0 0
: JUMLAH 2683938660 100 3616179000 100 4317299000 100

Pada tahun 2004/2005 RAPBS sebesar Rp 4.317.299.000,00 bersumber

dari Pemerintah Kota Semarang Rp 2.210.399.000,00 (51,20%) dan

orangtua siswa/keluarga sebesar Rp 2.066.400.000,00 (47,86%)

sementara pemerintah pusat Rp 24.000.000,00 (0,56%) dalam bentuk

pemberian beasiswa, pemerintah propinsi sebesar Rp 16.500.000,00

(0,38%) dalam bentuk pemberian beasiswa dan masyarakat industri dan

pengusaha tidak berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan.

Berdasarkan tabel 4.11 SMA 12 Semarang pada tahun 2002/2003

RAPBS sebesar Rp 925.209.670,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 627.598.670,00 (67,83%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 297.611.000,00 (32,17%) sementara pemerintah pusat,

pemerintah propinsi dan masyarakat industri dan pengusaha tidak

berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan. Pada tahun 2003/2004

RAPBS sebesar Rp 1.245.888.000,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 763.664.000,00 (61,29%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 482.224.000,00 (38,71%) sementara pemerintah pusat,

pemerintah propinsi, dan masyarakat industri dan pengusaha tidak


206

berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan. Pada tahun 2004/2005

RAPBS sebesar Rp 1.698.915.500,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 954.848.000,00 (56,20%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 744.067.500,00 (43,80%) sementara pemerintah pusat,

pemerintah propinsi, dan masyarakat industri dan pengusaha tidak

berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan.

Tabel 4.11
Sumber Dana SMA 12 Semarang
(dalam rupiah)

NO SUMBER 2002/2003 j % 2003/2004; % : 2004/2005 %


1 Pusat 0 0 0
2 Propinsi ! o 0 0
3 Kota 627598670 67.83 763664000 61.29 954848000 56.20
4 Ortu 297611000: 32.17 482224000 38.71 744067500 43.80
5 Inus i 0 0 0
JUMLAH 925209670! 100 1245888000 100 1698915500 100

Berdasarkan tabel 4.12 SMA 15 Semarang pada tahun 2002/2003

RAPBS sebesar Rp 1.246.215.000,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 650.789.000,00 (52,22%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 596.426.000,00 (47,78%) sementara pemerintah pusat,

pemerintah propinsi dan masyarakat industri dan pengusaha tidak

berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan. Pada tahun 2003/2004

RAPBS sebesar Rp 1.504.519.000,00 bersumber dari Pemerintah Kota

Semarang Rp 760.617.000,00 (50,56%) dan orangtua siswa/keluarga

sebesar Rp 699.222.000,00 (46,47%) sementara pemerintah pusat

sebesar Rp 42.520.000,00 dalam bentuk pemberian beasiswa, dan

masyarakat industri dan pengusaha (PT. Sampurna) sebesar Rp


207

2.160 000,00 dalam bentuk pemberian beasiswa, sedangkan pemerintah

propinsi tidak berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan. Pada tahun

2004/2005 RAPBS sebesar Rp 2.069.668.000,00 bersumber dari

Pemerintah Kota Semarang Rp 1.125.858.000,00 (54,40%) dan orangtua

siswa/keluarga sebesar Rp 879.610.000,00 (42,50%), masyarakat industri

dan pengusaha sebesar Rp 64.200.000,00 (3,10%), sementara

pemerintah pusat, pemerintah propinsi tidak berpartisipasi dalam

pendanaan pendidikan.

Tabel 4.12
Sumber Dana SMA15 Semarang
(dalam rupiah)
NO SUMBER 2002/2003 % 2003/2004 i- % 2004/2005 %
1 Pusat 0! 42520000 2.83 0
2 Propinsi 0| 0 0
3 Kota 650789000 52.22I 760617000 50.56 1125858000 54.40
4 Ortu 595426000 47.78! 699222000 46.47 879610000 42.50
5 Inus 0| 2160000 0.14 64200000 3.10
JUMLAH 1246215000 looi 1504519000 100 2069668000 100

Berdasarkan tabel 4.13, sumber dana SMA Negeri di Semarang

dari pemerintah pusat menurut responden jumlahnya sedikit 53,97%, yang

menyatakan jumlahnya sedang 43,91%, yang menyatakan jumlahnya

cukup 1,06%; dan yang menyatakan jumlahnya banyak 1,06%. Sumber

dana SMA 1 Semarang dari pemerintah pusat menurut responden

jumlahnya sedikit 53,06%, yang menyatakan jumlahnya sedang 42,86%,

yang menyatakan jumlahnya cukup 2,04%; dan yang menyatakan

jumlahnya banyak 2,04%. Sumber dana SMA 12 Semarang dari

pemerintah pusat menurut responden jumlahnya sedikit 65%, yang


208

3 »

menyatakan jumlahnya sedang 35%, yang menyatakan jumlahnya cukup

dan yang menyatakan jumlahnya banyak 0%. Sumber dana SMA 15

Semarang dari pemerintah pusat menurut responden jumlahnya sedang

52,94%, yang menyatakan jumlahnya sedikit 47,06%, yang menyatakan

jumlahnya cukup, dan yang menyatakan jumlahnya banyak 0%.

Tabel 4.13
Persepsi Responden tentang Sumber Dana
dari Pemerintah Pusat

j Skor Klasifikasi SMA1 SMA 12 SMA 15 Semarang


i
\ f % F ! % % :
--F;-:'' %
!4 Banyak 2 2,04 j 0 i 0 0 0 2 1,06
i3 Cukup 2 2,04 I 0 ^ 0 0 0 2 1,06
I2 Sedang 42 42,86 14 35 27 52,94 83 43,91
!1 Sedikit 52 53,06 i 26 ; 65 24 47,06 102 53,97
Total 98 100 I 40 I 100 51 100 189 100
i

Berdasarkan tabel 4.14, sumber dana SMA Negeri di Semarang

dari pemerintah propinsi menurut responden jumlahnya sedikit 89,95%,

yang menyatakan jumlahnya sedang 10,05%, yang menyatakan

jumlahnya cukup dan yang menyatakan jumlahnya banyak 0%. Sumber

dana SMA 1 Semarang dari pemerintah propinsi menurut responden

jumlahnya sedikit 87,76%, yang menyatakan jumlahnya sedang 12,24%,

yang menyatakan jumlahnya cukup dan yang menyatakan jumlahnya

banyak 0%. Sumber dana SMA 12 Semarang dari pemerintah propinsi

menurut responden jumlahnya sedikit 97,50%, yang menyatakan

jumlahnya sedang 2,50%, yang menyatakan jumlahnya cukup dan yang

menyatakan jumlahnya banyak 0%. Sumber dana SMA 15 Semarang dari


209

pemerintah propinsi menurut responden jumlahnya sedikit *

menyatakan jumlahnya sedang 11,76%, yang menyatakan j u m l a f y ^ ^ - ^ ^ ,

cukup, dan yang menyatakan jumlahnya banyak 0%.

Tabel 4.14
Persepsi Responden tentang Sumber Dana
dari Pemerintah Propinsi

Skor Klasifikasi SMA 1 SMA 12 SMA 15 ; Semarang


% F % m % 'm - %
4 Banyak 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Cukup 0 o o 0 0 0 0 0
2 Sedang 12 12,24 1 2,50 6 11,76 19 10,05
1 Sedikit 86 87,76 39 97,50 45 88,24 170 89,95
Total 98 100 40 100 51 100 189 100

Berdasarkan tabel 4.15, sumber dana SMA Negeri di Semarang

dari pemerintah kota menurut responden jumlahnya sedang 55,56%; yang

menyatakan jumlahnya cukup 28,57%; yang menyatakan jumlahnya

sedikit 13,76%; dan yang menyatakan jumlahnya banyak 2,21%. Sumber

dana SMA 1 Semarang dari pemerintah kota menurut responden

jumlahnya sedang 44,90%; yang menyatakan jumlahnya cukup 33,67%;

yang menyatakan jumlahnya sedikit 17,35%; dan yang menyatakan

jumlahnya banyak 4,08%. Sumber dana SMA 12 Semarang dari

pemerintah kota menurut responden jumlahnya sedang 55%, yang

menyatakan jumlahnya cukup 27,50%; yang menyatakan jumlahnya

sedikit 17,50%, dan yang menyatakan jumlahnya banyak 0%. Sumber

dana SMA 15 Semarang dari pemerintah kota menurut responden


210

jumlahnya sedang 76,47%; yang menyatakan jumlahnya cukup 19,61%;

yang menyatakan jumlahnya sedikit 3,92%, dan yang menyatakan

jumlahnya banyak 0%.

Tabel 4.15
Persepsi Responden tentang Sumber Dana
dari Pemerintah Kota

Skor Klasifikasi SMA1 SMA 12 SMA 15 Semarang


—•f. % F % f % F %
4 Banyak 4 4,08 0 0 0 0 4 2,21
3 Cukup 33 33,67 11 27,50 10 19,61 54 28,57
2 Sedang 44 44,90 22 55 39 76,47 105 55,56
1 Sedikit 17 17,35 7 17.50 2 3,92 26 13.76
Total 98 100 40 100 51 100 189 100

Berdasarkan tabel 4.16, sumber dana SMA Negeri di Semarang

dari orangtua menurut responden jumlahnya cukup 67,72%; yang

menyatakan jumlahnya sedang 18,52%; yang menyatakan jumlahnya

banyak 12,17%; dan yang menyatakan jumlahnya sedikit 1,59%. Sumber

dana SMA 1 Semarang dari orangtua menurut responden jumlahnya

cukup 64,28%; yang menyatakan jumlahnya sedang dan banyak 16,33%;

yang menyatakan jumlahnya sedikit 3,06%. Sumber dana SMA 12

Semarang dari orangtua menurut responden jumlahnya cukup 77,50%,

yang menyatakan jumlahnya sedang 17,50%; dan yang menyatakan

jumlahnya banyak 5%. Sumber dana SMA 15 Semarang dari orangtua

menurut responden jumlahnya cukup 66,67%; yang menyatakan


211

jumlahnya sedang 23,53%; dan yang menyatakan jumlahnya banyak

9,80%.

Tabel 4.16
Persepsi Responden tentang Sumber Dana
dari Orangtua

Skor Klasifikasi SMA 1 SMA 12 SMA 15 Semarang


% F % t h&à. %
4 Banyak 16 16,33 2 5 5 9,80 23 12,17
3 Cukup 63 64,28 31 77,50 34 66,67 128 67,72
2 Sedang 16 16,33 7 17,50 12 23,53 35 18,52
1 Sedikit 3 3,06 0 o 0 0 3 1.59
Total 98 100 40 100 51 100 189 100

Berdasarkan tabel 4.17, sumber dana SMA Negeri di Semarang

dari industri dan pengusaha menurut responden jumlahnya sedikit

62,43%, yang menyatakan jumlahnya sedang 37,04%, yang menyatakan

jumlahnya cukup 0,53%; dan yang menyatakan jumlahnya banyak 0%.

Sumber dana SMA 1 Semarang dari industri dan pengusaha menurut

responden jumlahnya sedikit 62,24%, yang menyatakan jumlahnya

sedang 37,76%, yang menyatakan jumlahnya cukup dan banyak 0%.

Sumber dana SMA 12 Semarang dari industri dan pengusaha menurut

responden jumlahnya sedikit 70%, yang menyatakan jumlahnya sedang

30%, yang menyatakan jumlahnya cukup dan. yang menyatakan

jumlahnya banyak 0%. Sumber dana SMA 15 Semarang dari industri dan

pengusaha menurut responden jumlahnya sedikit 56,86%, yang