Anda di halaman 1dari 9

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

ASI Eksklusif

Kegiatan : ASI Eksklusif


Materi : Penyuluhan ASI Eksklusif
Lokasi : Puskesmas Semanggang, Kecamatan Pangkalan Banteng
Waktu :
Sasaran : Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanggang

A. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti penyuluhan ini, diharapkan dapat berdampak pada pengetahuan ibu
hamil sehingga termotivasi untuk menerapkan ASI eksklusif kepada bayinya.

2. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan :
a. Ibu dapat menjelaskan pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
b. Ibu dapat menjelaskan pengertian ASI eksklusif.
c. Ibu dapat memahi dan menjelaskan apa itu kolostrum.
d. Ibu dapat menjelaskan cara penyimpanan ASI yang benar.
e. Ibu dapat menjelaskan manfaat ASI untuk ibu dan bayi.
f. Ibu dapat menjelaskan faktor-faktor yang menghambat pemberian ASI.
g. Ibu dapat menjelaskan cara menyusui yang baik dan benar.
h. Ibu dapat menjelaskan makanan yang penting untuk meningkatkan produksi ASI.

B. Pokok Bahasan
Pentingnya ASI eksklusif

C. Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
2. Pengertian ASI eksklusif
3. Pengertian kolostrum
4. Manfaat ASI untuk Ibu dan Bayi
5. Cara Memerah ASI
6. Cara penyimpanan ASI
7. Cara menyusui yang baik dan benar
8. Faktor-faktor yang menghambat pemberian ASI
9. Makanan yang penting dalam meningkatkan produksi ASI

D. Kegiatan Penyuluhan
1. Kegiatan pra penyuluhan
a. Membuat satuan penyuluhan dengan materi ASI eksklusif dengan menggunakan
referensi buku-buku yang dimiliki, maupun browsing di internet.
b. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penyuluhan.
c. Membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang cukup dan mempersiapkan mental untuk
menyampaikan penyuluhan tentang “ASI eksklusif”.
2. Kegiatan saat penyuluhan
Media Dan
Alokasi
Tahapan Kegiatan Kegiatan Pengajar Kegiatan Audience Metode Alat
Waktu
Penyuluhan
Pendahuluan 1. Salam perkenalan Mendengarkan,
2. Menjelaskan memperhatikan,
cakupan materi dan mencatat
5
penyuluhan
menit
3. Menjelaskan
tujuan
penyuluhan
Penyajian Ceramah 1. Mendengarka, Ceramah Leaflet dan
memberikan memperhatikan dan Poster
penyuluhan dan , dan mecatat. Tanya
umpan balik 2. Mengajukan jawab
mengenai: pertanyaan
1. Pengertian 3. Mengemukan
Inisiasi pendapat
Menyusu Dini
(IMD)
2. Pengertian ASI
eksklusif
3. Pengertian
kolostrum 15
4. Manfaat ASI menit
untuk Ibu dan
Bayi
5. Cara
penyimpanan
ASI
6. Cara menyusui
yang baik dan
benar
7. Makanan yang
penting dalam
meningkatkan
produksi ASI
Evaluasi Tanya Jawab Bertanya dan Tanya
menjawab Jawab 5
pertanyaan yang Secara menit
diajukan Lisan
Penutup 1. Menyimpulkan Mendengarkan dan 5
2. Salam penutup mencatat menit

E. Evaluasi
1. Prosedur :
 Penyuluh mengajukan beberapa pertanyaan kepada semua audiens sebelum dan
sesudah melakukuan penyuluhan.
2. Jenis tes :
 Pertanyaan pemahaman materi secara lisan.
Lampiran

“Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif”

A. Pengertian IMD
Inisiasi Menyusu Dini atau IMD adalah proses membiarkan bayi dengan
nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam pertama setelah lahir,
bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibu dibiarkan setidaknya
selama satu jam di dada ibu, hingga bayi menyusu sendiri (Kemenkes, 2014).
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses menyusu bukan menyusui yang
merupakan gambaran bahwa IMD bukan program ibu menyusui bayinya tapi bayi yang
harus aktif sendiri menemukan puting susu ibu. Setelah lahir bayi belum menunjukkan
kesiapannya untuk menyusu. Reflex menghisap bayi timbul setelah 20-30 menit setelah
lahir. Bayi menunjukkan kesiapan untuk menyusu 30-40 menit setelah lahir (Roesli,
2008).

B. Pengertian ASI eksklusif


ASI Eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi tanpa tambahan cairan lain,
seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat,
misalnya pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, tim atau makanan lain selain
ASI (Nurkhasanah, 2011).
Pemberian ASI eksklusif dianjurkan sampai 6 bulan. Setelah bayi berumur 6
bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat
diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli, 2008).

C. Pengertian kolostrum
Kolostum merupakan cairan kental berwarna kekuning-kuningan yang
dihasilkan pada sel alveoli payudara ibu. Sesuai untuk kapasitas pencernaan bayi dan
kemampuan ginjal bayi baru lahir yang belum mampu menerima makanan dalam
volume besar (Novianti, 2009).
Kolostrum adalah cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah
kolostrum, yang mengandung campuran kaya akan protein, mineral, dan antibodi
daripada ASI yang telah matang. Kolostrum berubah menjadi ASI yang matang kira-
kira 15 hari sesudah bayi lahir. Bila ibu menyusui sesudah bayi lahir dan bayi sering
menyusui, maka proses adanya ASI akan meningkat (Dewi, 2011).

D. Manfaat ASI untuk bayi dan ibu


Berikut manfaat ASI yang diperoleh bayi menurut Nisman (2011) :
1. ASI mudah dicerna dan diserap oleh pencernaan bayi yang belum sempurna.
2. ASI termasuk kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh, meliputi
immunoglobulin, lactoferin, enzyme, macrofag, lymphosit, dan bifidus factor.
Semua faktor ini berperan sebagai antivirus, antiprotozoa, antibakteri, dan
antiinflamasi bagi tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah terserang penyakit.
Jika mengkonsumsi ASI, bayi juga tidak mudah mengalami alergi.
3. ASI juga menghindarkan bayi dari diare karena saluran pencernaan bayi yang
mendapatkan ASI mengandung lactobacilli dan bifidobabateria (bakteri baik)
yang membantu membentuk feses bayi yang pH-nya rendah sehingga dapat
menghambat pertumbuhan bakteri jahat penyebab diare dan masalah
pencernaan lainnya.
4. ASI yang didapat bayi selama proses menyusui akan memenuhi kebutuhan
nutrisi bayi sehingga dapat menunjang perkembangan otak bayi. Berdasarkan
suatu penelitian, anak yang mendapatkan ASI pada masa bayi mempunyai IQ
yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan ASI.
5. Mengisap ASI membuat bayi mudah mengoordinasi saraf menelan, mengisap,
dan bernapas menjadi lebih sempurna dan bayi menjadi lebih aktif dan ceria.
6. Mendapatkan ASI dengan mengisap dari payudara membuat kualitas hubungan
psikologis ibu dan bayi menjadi semakin dekat.
7. Mengisap ASI dari payudara membuat pembentukan rahang dan gigi menjadi
lebih baik dibandingkan dengan mengisap susu formula dengan menggunakan
dot.
8. Bayi yang diberi ASI akan lebih sehat dibandingkan bayi yang diberi susu
formula. Pemberian susu formula pada bayi dapat meningkatkan risiko infeksi
saluran kemih, saluran napas, dan telinga. Bayi juga bisa mengalami diare, sakit
perut (kolik), alergi makanan, asma, diabetes, dan penyakit saluran pencernaan
kronis. sebaliknya, ASI membantu mengoptimalkan perkembangan sistem saraf
serta perkembangan otak bayi.

Manfaat Menyusui bagi ibu. Sementara itu, menyusui juga memberikan manfaat bagi
ibu (Nisman et al., 2011):
1. Menghentikan perdarahan paska persalinan
Ketika bayi menyusu, isapan bayi akan merangsng otak untuk memproduksi
hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon oksitosin, selain mengerutkan otot-otot
untuk pengeluaran ASI, juga membuat otot-otot rahim dan juga pembuluh darah di
rahim sebagai bekas proses persalinan, cepat terhenti. Efek ini akan berlangsung
secara lebih maksimal jika setelah melahirkan ibu langsung menyusui bayinya.
2. Psikologi ibu
Rasa banggga dan bahagia karena dapat meberikan sesuatu dari dirinya demi
kebaikan bayinya (menyusui bayinya) akan memperkuat hubungan batin antara ibu
dan bayi).
3. Mencegah kanker
Wanita yang menyusui memiliki angka insidensi terkena kanker payudara, indung
telur, dan rahim lebih rendah. Wanita yang menyusui memiliki angka insidensi
terkena kanker payudara, indung telur, dan rahim lebih rendah. Menyusui dengan
frekuensi yang sering dan lama dapat digunakan sebagai metode kontrasepsi alami
yang dapat mencegah terjadinya ovulasi pada ibu. Jika akan memanfaatkan metode
kontrasepsi ini sebaiknya konsultasi dengan dokter.
4. Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil. Dengan
menyusui,cadangan lemak dari tubuh ibu yang memang disiapkan sebagai sumber
energi pembentukan ASI. Akibatnya, cadangan lemak tersebut akan menyusut
sehingga penurunan berat badan ibu pun akan berlangsung lebih cepat.
5. ASI lebih murah sehingga ibu tidak perlu membeli.
6. ASI tersedia setiap saat tanpa haus menunggu waktu menyiapkan dengan
temperatur atau suhu yang sesuai dengan kebutuhan bayi.
7. ASI mudah disajikan dan tanpa kontaminasi bahan berbahaya dari luar serta steril
dari bakteri.

E. Cara Memerah ASI


a. Menggunakan tangan
Mengeluarkan ASI dengan pijatan tangan caranya adalah dengan menekan
kelenjar susu di belakang puting, bukan meremas puting Anda. Saat mengeluarkan
ASI melalui pijatan tangan, sebaiknya Anda ikuti saran ini:
1) Sebelum mulai, sebaiknya cuci tangan Anda dengan sabun dan air hangat, dan
pijat payudara Anda dengan lembut.
2) Pegang payudara Anda tepat di belakang areola, yaitu daerah berwarna hitam
pada payudara Anda.
3) Pijat dengan lembut menggunakan jari-jari Anda, jempol di bagian atas
payudara dan keempat jari Anda yang lain berada di bagian bawah payudara
membentuk huruf C. Ini tidak akan menimbulkan rasa sakit. Hindari meremas
puting Anda langsung karena akan membuat Anda kesakitan dan ASI tidak
dapat keluar.
4) Lepaskan tekanan, kemudian ulangi. Cobalah untuk tidak menggeser posisi jari
Anda. Mungkin awalnya hanya setetes dua tetes ASI yang keluar, tetapi jika
terus dilakukan dapat membantu Anda mengeluarkan susu lebih banyak dan
membuat produksi ASI dalam payudara juga lebih banyak. Dengan sedikit
latihan dan waktu, ASI dapat keluar dengan lancar.
5) Jika tidak ada tetes ASI yang keluar, gerakkan jari-jari Anda memutar sekitar
payudara dan coba bagian yang berbeda dari payudara Anda, serta terus ulangi.

Untuk mengeluarkan seluruh ASI yang ada di kedua payudara Anda mungkin
akan membutuhkan waktu sekitar 15-45 menit atau mungkin bisa saja lebih,
tergantung dari banyaknya ASI yang ada di payudara Anda. Sebaiknya kosongkan
dulu satu payudara Anda sebelum beralih ke payudara lainnya.

b. Pompa manual
Jika Anda menggunakan pompa manual maka Anda bisa mulai bersandar di
tempat yang nyaman. Anda bisa melakukannya sambil bersandar di sofa atau diatas
tempat tidur. Setelah Anda merangkai pompa ASI dan menempatkan corong khusus
ke area areola, maka bersantailah dan mulai menarik pompa dengan menggunakan
tangan. Anda bisa menyesuaikan gerakan tangan sesuai dengan kenyamanan Anda.

c. Pompa elektrik
Pompa elektrik umumnya lebih mahal dan bisa digunakan dengan mudah.
Dengan alat pompa ini maka tangan Anda tidak akan terlalu lelah. Pompa ASI
listrik bisa digunakan dengan menggunakan bantuan listrik sebagai tenaga utama.
Anda hanya perlu menempatkan bagian corong pada areola payudara, kemudian
hidupkan panelnya. Setelah itu pompa akan bekerja otomatis dan tangan Anda
hanya perlu mengarahkan agar pompa mengenai bagian payudara yang sesuai.

Ketika ASI sudah tidak keluar lagi saat dipompa maka Anda harus berhenti
memompa ASI. Pada dasarnya setiap ibu bisa memompa ASI selama 15 – 30 menit.

F. Cara penyimpanan ASI


Berikut merupakan cara penyimpanan ASI yang benar :
1. ASI yang baru saja diperah (ASI segar) dapat bertahan 6-8 jam di suhu ruangan.
Pada lemari es/kulkas dapat bertahan yaitu 24 jam. Jangan simpan di bagian pintu,
tetapi simpan di bagian paling belakang lemari es/kulkas – paling dingin dan tidak
terlalu terpengaruh perubahan suhu. 1 minggu dalam freezer yang terdapat di dalam
lemari es/kulkas (1 pintu). 2 minggu dalam freezer yang terpisah dari lemari
es/kulkas (2 pintu). 4-6 bulan dalam freezer khusus yang sangat dingin(<18ºC).
2. ASI beku— dicairkan dalam lemari es/kulkas di bagian bawah kulkas kemudian
rendam pada wadah yang berisi air hangat, dapat bertahan tidak lebih dari 4 jam
(yaitu jadwal minum ASI berikutnya) di suhu ruangan, untuk lemari es/kulkas dapat
disimpan di dalam lemari es/kulkas sampai dengan 24 jam. Jangan masukkan
kembali dalam freezer.
3. ASI yang sudah dicairkan dengan air hangat, Dapat disimpan di lemari es/kulkas
selama 4 jam atau sampai jadwal minum ASI berikutnya. Jangan masukkan kembali
dalam freezer.
4. ASI yang sudah mulai diminum oleh bayi dari botol yang sama, Sisa yang tidak
dihabiskan harus dibuang (Marmi, 2012).
Cara penyajian ASI perah yang telah disimpan;
1. Cek tanggal pada label wadah ASI. Gunakan ASI yang paling dulu disimpan.
2. ASI tidak harus dihangatkan. Beberapa ibu memberikannya dalam keadaan dingin.
3. Setelah dikeluarkan dari kulkas, cara yang paling tepat untuk memanaskannya
adalah dengan merendam botol atau tempat penyimpanan di dalam mangkuk berisi
air panas.
4. Bila ASI tersebut tidak habis dalam sekali pakai, jangan digunakan kembali setelah
24 jam.
5. Jangan memanaskan ASI dengan microwave. Microwave tidak dapat memanaskan
ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI dan membentuk bagian
panas yang melukai bayi.
6. ASI yang beku dari freezer dapat dicairkan dengan cara : Menaruhnya di dalam
kulkas selama 4 jam, atau dengan cara ini : sirami tempat penyimpanan (masih
dalam kondisi tetap tertutup rapat) dengan air dingin yang mengalir dari kran.
Ketika ASI mulai mencair, gunakan air hangat dari kran sampai seluruhnya
mencair. Jangan mencairkan ASI beku dengan cara mendiamkannya pada suhu
ruangan.
7. Setelah ASI cair, rendam botol atau tempat penyimpanan di dalam mangkok atau
wadah yang diisi air panas.
8. Untuk ASI beku: pindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam atau ke dalam bak
berisi air dingin. Naikkan suhu air perlahan-lahan hingga mencapai suhu pemberian
ASI.
9. Untuk ASI dalam lemari es: Hangatkan wadah ASI dalam bak berisi air hangat atau
air dalam panci yang telah dipanaskan selama beberapa menit. Jangan
menghangatkan ASI dengan api kompor secara langsung..
10. Goyangkan botol ASI dan teteskan pada pergelangan tangan terlebih dahulu untuk
mengecek apakah suhu sudah hangat.
11. Berikan ASI yang dihangatkan dalam waktu 24 jam. Jangan membekukan ulang
ASI yang sudah dihangatkan.
12. ASI yang telah dihangatkan kadang terasa seperti sabun karena hancurnya
komponen lemak. ASI dalam kondisi ini masih aman untuk dikonsumsi.
13. Apabila ASI berbau anyir karena kandungan lipase (enzim pemecah lemak) tinggi,
setelah diperah, hangatkan ASI hingga muncul gelembung pada bagian tepi (jangan
mendidih) lalu segera didinginkan dan dibekukan. Hal ini dapat menghentikan
aktivitas lipase pada ASI. Dalam kondisi inipun kualitas ASI masih lebih baik
dibandingkan dengan susu formula.

ASI perah beku yang dicairkan kemungkinan akan mengalami perubahan pada
warna, bau, dan konsistensinya dibandingkan ASI segar. Sebagian bayi ada yang
menolak ASI perah beku, jika demikian ada baiknya memperpendek masa simpan ASI.

G. Faktor-faktor yang menjadi penghambat ibu dalam pemberian ASI eksklusif


Beberapa faktor yang menyebabkan seorang ibu tidak dapat melakukan pemberian
ASI secara eksklusif antara lain (Nyoman dan Jeanne, 2008) :
1. Produksi ASI kurang
2. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar
3. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi)
4. Bayi terlanjur mendapat prelacteal feeding (pemberian air gula /dekstrosa, susu
formula pada hari – hari pertama kelahiran)
5. Kelainan yang terjadi pada ibu (puting ibu lecet, puting ibu luka, payudara
bengkak, engorgement, mastitis dan abses)
6. Ibu hamil lagi pada saat masih menyusui
7. Ibu sibuk bekerja
8. Kelainan yang terjadi pada bayi
9. pengetahuan ibu yang kurang
10. Faktor estetika
11. Faktor iklan
12. Faktor budaya

H. Cara menyusui yang baik dan benar


Cara menyusui yang tidak benar dapat menyebabkan masalah- masalah dalam
menyusui seperti puting lecet dan ASI tidak keluar optimal. Masalah-masalah tersebut
dapat menyebabkan ibu mengalami kegagalan dalam pemberian ASI eksklusif pada
bayinya, oleh sebab itulah, pemberian pengetahuan mengenai cara menyusui yang baik
merupakan salah satu materi yang harus dimasukkan. Menurut Depkes R.I (2005),
terdapat tiga hal penting yang dapat membuat seorang ibu dapat menyusui dengan baik,
diantaranya adalah positioning, attachment, dan bonding. Berikut penjelasan dari dari
masing-masing cara:
a. Posisi badan ibu dan bayi (positioning)
1) Ibu dapat duduk atau berbaring dengan santai
2) Hadapkan keseluruhan tubuh bayi menghadap perut ibu
3) Perut bayi menempel pada badan ibu, telinga dan lengan bayi terletak pada satu
garis lurus
4) Letakkan kepala bayi pada lengkung siku ibu dan bokong bayi diatas pangkuan
ibu
b. Perlekatan mulut bayi pada payudara (attachment)
Perlekatan adalah posisi melekatnya mulut bayi pada payudara ibu untuk menyusu.
Berikut ini cara pelekatan mulut bayi pada payudara yang benar:
1) Sentuhkan puting susu pada pipi atau bibir bayi untuk merangsang agar
mulut bayi terbuka lebar
2) Masukan puting dan sebagian besar areola bagian bawah masuk ke mulut
bayi
3) Bibir bawah bayi melengkung keluar dagu bayi menempel ke payudara
dan kepala bayi agak menengadah
4) Bayi menghisap pelan dan dalam
5) Sentuh bibir atas bayi dengan puting
6) Sewaktu mulut terbuka lebar, masukkan sebagian besar areola dalam
mulut bayi
7) Sebagian besar areola masuk mulut bayi dan bibir bayi melengkung
keluar.
c. Kasih (bonding)
1) Ibu memeluk dan memandang bayi.

I. Makanan yang penting dalam meningkatkan produksi ASI :


1. Bawang Putih
Dari jenis makanan yang meningkatkan produksi ASI, bawang putih adalah salah
satu makanan yang paling mudah untuk dimasukan ke dalam menu makan.
2. Bayam
Bayam mengandung vitamin B6 akan membantu dalam menyediakan persedian
produksi ASI. Selain itu bayam merupakan sumber asam folat yang merupakan
nutrisi penting untuk ibu menyusui
3. Kacang-kacangan
Kacang-kacangan merupakan sumber protein yang sehat dan dikenal untuk
mendukung produksi ASI. Selain itu bisa menggunakan kacang kedelai atau
olahan kacang kedelai yang membantu dalam menyediakan produksi ASI.
4. Ubi Jalar
Ubi dan makanan oranye atau merah lain seperti wortel dan bit kaya akan beta-
karoten yang meningkatkan suplai susu. Selain itu daun ubi jalar juga mampu
meningkatkan produksi ASI.
5. Daun katuk
Daun katuk memiliki kandungan laktagagum yang ternyata berhubungan dengan
peningkatan produksi ASI, bahkan telah digunakan secara turun temurun.
6. Biji wijen hitam
Biji wijen hitam merupakan sumber kalsium yang sangat baik dan dipercaya dapat
membantu meningkatkan suplai susu.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Situasi dan Analisis ASI Ekslusif. Infodatin. Jakarta.

Roesli, U. 2008. Mengenal ASI ekslusif . PT Alex Komputindo. Jakarta.

Nurkhasanah. 2011. ASI Atau Susu Formula. Flash Book. Jakarta.

Novianti, R. 2009. Menyusui Itu Indah. Octopus. Yogyakarta.

Dewi, L, Sunarsih, T. 2011. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas. Salemba Medika. Jakarta.

Marmi. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Prasekolah. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.

Nyoman, A, Jeanne ,P. 2008. Kendala Pemberian ASI Eksklusif Bedah ASI. Ikatan Dokter
Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta. Jakarta.

Depkes RI. 2005. Manajemen Laktasi: Buku Panduan Bagi Bidan dan Petugas Kesehatan di
Puskesmas. Dit Gizi Masyarakat-Depkes RI. Jakarta.