Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KELOMPOK

MATAKULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PANGAN


DAN HASIL PERTANIAN

SEPTIC TANK

Disusun Oleh :
Kelompok 1/ Kelas THP-C

Nadilla Dyza Fisabilillah 161710101001


Riska Rahma Vionita 161710101025
Nisa Ainur R.A.R.P 161710101068
Rina Dian Safitri 161710101094
Diny Nawang K 171710101134

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan Meningkatnya populasi manusia di Indonesia dan padatnya
penduduk membuat limbah-limbah sulit untuk ditangani sehingga seringkali
mencemari lingkungan yang akan berdampak pada kesehatan dan terjadi
penumpukan limbah domestik. Limbah domestik yang menumpuk contohnya
limbah kotoran manusia atau tinja (feces) (Wendrawan, 2008). Sebagian besar
penduduk Indonesia masih menggunakan pengolahan tinja rumah tangga setempat
(on site system) yang berupa tangki septik atau septic tank (Sudarno dan Ekawati,
2006). Septic tank merupakan tempat penampungan limbah padat kotoran
manusia (feces) yang akan cepat penuh bila di dalamnya tidak terjadi proses
penguraian sempurna oleh bakteri pengurai. Jumlah bakteri pengurai dalam septic
tank pada umumnya sangat kurang dibandingkan dengan kecepatan penumpukan
feces, sehingga diperlukan tindakan penambahan bakteri pengurai secara khusus
dari luar (Anonimus, 2009). Untuk itu perlu dilakukan suatu metode yang
dinamakan bio-toilet.
Bio-toilet merupakan bio activator dengan mikroba pengurai limbah
organik untuk mengatasi sanitasi seperti WC/septic tank yan g penuh dan bau
tanpa mengalami pengurasan dengan penyedotan yang mempunyai manfaat
praktis, ekonomis dan ramah lingkungan (Setiarjo, 2008). Penggunaan bio-toilet
ini bertujuan untuk menguraikan komponen unsur C-organik dalam substrat
fecesmenjadi gas CO2 dan CH4, selain itu juga melarutkan material tersuspensi
organik tak terlarut menjadi material tersuspensi organik terlarut. Feces sapi
memiliki kandungan 22,59% selulosa, 18,32% hemi-selulosa, 10,20% lignin,
34,72% total karbon organik, 1,26% total nitrogen, 27,56:1 ratio C:N, 0,73% P
dan 0,68% K (Lingaiah dan Rajasekaran, 1986 dalam Faradita, 2008). Kandungan
air pada feces sapi yaitu 73-78% (Bondi, 1987). Pada fecesmanusia memiliki
kandungan air 66-80%, bahan organik (dari berat kering) 88-97% yang di mana di
dalamnya tekandung serat tidak larut yang merupakan sisa sel tanaman dari aneka
sayur-mayur yang dikonsumsi. Serat tidak larut terdiri dari karbohidrat yang
mengandung selulosa, hemiselulosa, dan non karbohidrat yang mengandung
lignin (Anonim, 2010). Feces manusia juga mengandung nitrogen(dari berat
kering) 5,0-7,0%, Fosfor (sebagai P2O5) (dari berat kering) 1,0-2,5%, karbon
(dari berat kering) 40-55%, kalsium (sebagai CaO) (dari berat kering) 4-5%, C/N
(dari berat kering) 5-10% (Gotaas, 1956 dalam Soeparman, 2002). Enzim selulase
tidak dimiliki oleh manusia, karena itu manusia tidak dapat menguraikan selulosa
(Anonim, 2010). Dari kesamaan komponen serat, kadungan air dan estetika
penelitian antara feces sapi dan feces manusia, maka penggunaan feces manusia
dapat dikonversi dengan menggunakan feces sapi. Dekomposisi selulosa oleh
bakteri merupakan hasil kerja sekelompok enzim selulolitik (Howard, et al.,2003)
yang bekerja secara sinergis.
Bakteri selulolitik adalah bakteri yang tepat untuk mendegradasi selulosa.
Pemakaian bakteri selulolitik memiliki banyak keuntungan antara lain yaitu hemat
biaya, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, mudah di temukan. Bakteri
selulolitik biasanya hidup dalam saluran pencernaan. Hasil isolasi dari saluran.
pencernaan kumbang tinja (Dung beetles) pada penelitian
sebelumnyamendapatkan bakteri selulolitik yaitu Cellulomonas, Pseudomonas,
dan Cellvibrio (Mahardani, 2010). Kumbang tinja adalah kumbang yang
menjadikan tinja sebagai makanan dan atau menggunakannya sebagai tempat
untuk peletakkan telurnya( Anonimus 2008b; Hanski dan Cambefor, 1992 ; Resh
dan Carde, 2003). Kumbang tinja dalam mencerna jenis makanan yang kaya
bahan-bahan karbohidrat kompleks seperti selulosa di dalam saluran
pencernaannya tentunya membutuhkan suatu jenis enzim tertentu. Menurut Salle
(1973) bahwa pada hewan-hewan invertebrata yang mengkonsumsi tumbuhan
atau bagian tumbuhan khususnya hewan-hewan yang bersifat herbivora
ditemukan bakteri yang dapat mendegradasi selulosa dalam saluran
pencernaannya. Sehingga kumbang tinja ini memerlukan bakteri yang
bersimbiosis dalam saluran pencernaan makanannya untuk saling mendukung
keperluan masing-masing.
Komponen feces sapi terdapat selulosa, maka diharapkan isolat bakteri
selulolitik ini dapat mendegradasi fecessapi secara optimal. Degradasi anaerob
adalah rangkaian proses dimana mikroorganisme menguraikan material yang
bersifat biodegradable ( bisa teruraikan) dalam kondisi tanpa oksigen. Terdapat
empat proses utama dalam degradasi anaerob yaitu proses hirdolisis, proses
asidogenik, proses asetogenik dan proses metanogenesa(Chaerul dan Laksana,
2009). Faktor biotik yang mempengaruhi proses degradasi meliputi konsentrasi
inokulum dan jenis mikroba yang digunakan. Sedangkan faktor abiotik meliputi
rasio C:N, Ukuran partikel, aerasi, Porositas, Kelembaban, temperatur atau suhu,
pH, kandungan hara, kandungan bahan berbahaya, lama waktu degradasi (Siregar,
2005 dalam Yustanti, 2009).
Ada beberapa cara untuk mengetahui laju degradasi bahan organik, antara
lain: (1) menghitung CO2 yang dibebaskan atau O2 yang digunakan, (2)
menghitung penurunan bahan organik atau berat yang hilang, (3) mengamati
penurunan kandungan senyawa tertentu antara lain selulosa (Alexander
dalamYustanti, 2009). Dengan demikian dipandang perlu untuk melakukan
penelitian guna mengetahui peranan dan potensi suatu konsorsium bakteri
selulolitik dari kumbang tinja dalam mendegradasi fecessapi sebagai agen bio-
toilet. Maka dari itu, untuk mengetahui cara pengolahan limbah septic tank,
disusun makalah ini. Sehingga dapat memberikan manfaat.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya penulisan makalah ini yaitu untuk
mengetahui cara pembuangan dan pengolahan \ limbah septic tank.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskriptif Septic Tank


Septic Tank atau sering disebut sebagai tangki septik adalah bangunan
pengolah dan pengurai kotoran tinja manusia cara setempat (onsite) dengan
menggunakan bantuan bakteri. Tangki ini dibuat kedap air sehingga air dalam
tangki septik tidak dapat meresap ke dalam tanah dan akan mengalir keluar
melalui saluran yang disediakan. Septic tank (dengan disertai bidang resapan)
merupakan salah satu bentuk pengolahan limbah setempat yang umum digunakan
di Indonesia dan direkomendasikan sebagai pilihan teknologi yang relatif aman
apabila memenuhi persyaratan tertentu. Kerja bakteri dalam melakukan
pengolahan limbah yang memadai dalam tangki septik sangat bergantung pada
pengoperasian dan perawatan yang benar yang dilakukan oleh rumah tangga
bersangkutan. Mengingat pentingnya peran bakteri tersebut maka perlu dihindari
masuknya bahan-bahan yang berbahaya bagi keberadaan bakteri ke dalam septic
tank. Bahan-bahan itu di antaranya adalah pemutih pakaian, bahan-bahan kimia,
cat, maupun deterjen.
Septic tank pada umumnya menggunakan 2 jenis yaitu jenis tertutup dan
jenis terbuka. Septic tank jenis tertutup, yaitu seluruh bagian atas ditutup dengan
cor beton bertulang dan lantainya juga dilapisi dengan adukan semen, kecuali
pada bagian ruang resapan. Septic tank tertutup cocok digunakan pada rumah
yang memiliki lahan sempit, misalnya di lokasi perumahan. Sedangkan septic tank
terbuka pada bagian atas ruang resapan atau limbah cair tidak ditutup dengan cor
beton dan dibiarkan terbuka kecuali limbah padat. Septic tank jenis ini biasanya
digunakan pada area perkampungan yang memiliki lahan luas (Masykur, 2015).
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan septic tank adalah
sabagai berikut :
1. Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan
permukaan tanah yang ada disekitar jamban.
2. Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada
permukaan tanah;
3. Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain;
4. Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak
menyedapkan;
5. Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah;
6. Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat
setempat.
Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu
jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada :
1. Keadaan daerah datar atau lereng;
2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam;
3. Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau
kapur.
Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya
peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber
air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter.
Dalam penentuan letak septic tank ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah
dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya,
maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan
atau kekiri dari letak sumur.
2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang
sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai
jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi
pada waktu banjir.
3. Mudah dan tidaknya memperoleh air.
Menurut Moniaga et al (2015) menyatakan bahwa penanganan limbah
menggunakan septic tank memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
Kelebihan :
1. Dapat dibangun dan diperbaiki dengan tersedianya material lokal.
2. Umur pelayanan panjang.
3. Bila digunakan benar, tidak ada masalah dengan lalat dan bau.
4. Biaya investasi rendah, biaya operasional tergantung harga satuan air dan
pengurasan.
5. Kepeluan lahan tanah kecil.
6. Tidak perlu energi listrik.
Kekurangan :
1. Pengurangan bakteri pathogen, padatan, dan zat organik rendah.
2. Tidak boleh terkena banjir, sehingga permukaan bangunan/lubang
pemeriksaan harus di atas muka air banjir.
3. Efluen dan lumpur tinja masih perlu pengolahan sekunder dan atau
pembuangan yang cocok.
4. Memerlukan sumber air yang konstan.

2.2 Konsep / Teori


Septic tank ini sama dengan septic tank sistem resapan. Perbedaanya
terletak pada jumlah septik tank dan cara pembuangannya. Jumlah septik tank
ganda mempunyai dua atau lebih lubang penampung kotoran. Cara pemakaian
dilakukan bergilir setelah salah satu bak penampung terisi penuh. Bak penampung
yang telah penuh ditutup dan didiamkan beberapa lama supaya kotoran dapat
dijadikan kompos atau pupuk. Saluran pembuangan dapat dipindahkan dengan
menutup/membuka lubang saluran yang dikehendaki pada bak pengontrol.
Ukuran lubang dan bangunan septic tank tergantung pada kebutuhan dan
persediaan lahan. Kotoran yang telah berubah menjadi kompos dapat diambil dan
dimanfaatkan sebagai pupuk. Bak penampung yang telah dikosongkan dapat
dimanfaatkan kembali.
2.3 Peralatan Septic Tank
Septic tank memerlukan tempat saluran pembuangan. Alat yang
digunakan pada septic tank yaitu cangkul/alat penggali, alat pertukangan kayu dan
batu. Bahan yang diperlukan yaitu batako/ batu bata, kayu/bambu, papan atau
bahan dinding, pasir, bahan atap (seng, genteng), semen, pipa plastik/ pralon besar
dan kecil, batu kali dan kerikil, kawat, tali, dan kloset atau mangkokan leher
angsa.

2.4 Kriteria Perencanaan Septic Tank


Septic Tank merupakan suatu ruangan kedap air, terdiri atas kompartemen
ruang yang berfungsi menampung/mengolah air limbah rumah tangga dengan
kecepatan alir yang lambat. Hal ini memberikan kesempatan untuk timbulnya
proses pengendapan terhadap suspensi benda-benda padat dan dekomposisi
bahan-bahan organik oleh jasad anaerobic secara biologis dan proses alamiah.
Bentuk septic tank secara umum terdapat dua macam yaitu, silinder dan bentuk
persegi panjang. Bentuk silinder biasanya digunakan untuk kapasitas pelayanan
kecil dengan diameter minimum 1,20 m dan tinggi minimum 1,00 m untuk
keluarga. Sedangkan bentuk prsegi panjang memiliki perencanaan sebagai berikut
: (Perbandingan panjang dan lebar (2-3) : 1; Lebar minimum : 0,75 m; panjang
minimum : 1,50 m; Kedalaman air (efektif) : 1,00 – 2,10 m; Tinggi septic tank =
tinggi air dalam tangki + tinggi ruang bebas sebesar : 0,20-0,40 m; Penutup septic
tank terbenam kedalam tanah : maksimal 0,40 m) (Burhanudin dan Winda, 2009).
Menurut Kurniawan et al (2011) menyatakan bahwa, septictank dapat juga
dilakukan dengan dibangun terdiri dari dua buah ruang. Ruang pertama menjadi
ruang proses pengendapan lumpur. Volume ruang pertama, memiliki volume
antara 40-70% dari total keseluruhan volume septic tank. Pada ruang kedua
merupakan ruang pengendapan bagi padatan yang tidak terendapkan pada ruang
pertama. Panjang ruangan pertama dari septic tank sebaiknya dua kali panjang
ruangan kedua, dan panjang ruangan kedua sebaiknya tidak kurang dari 1 m dan
dalamnya 1,5 m atau lebih, dapat memperbaiki kinerja tangki. Kedalaman tangki
berkisar antara 1,0-1,5 m.
Sedangkan celah udara antara permukaan air dengan tutup tangki (free
board) antara 0,3-0,5 m. Septic tank dilengkapi dengan lubang ventilasi untuk
pelepasan gas yang digunakan untuk pemeriksaan kedalaman lumpur serta
pengurasan. Proses penanganan limbah cair salah satu contohnya limbah cair wc
yang dialirkan melalui pipa, kemudian melalui proses pengendapan kemudian
terserap masuk ke dalam air tanah, dan gas yang dihasilkan akan keluar melalui
lubang yang disediakan. Adapun bentuk penampang septic tank dapat dilihat pada
Gambar 2.1

Gambar 2.1 Penampang Septic Tank (Moniaga et al, 2015)

2.5 Mekanisme Kerja Penanganan Limbah Septic Tank


Salah satu limbah rumah tangga adalah tinja. Tinja merupakan bagian
kotoran manusia yang memiliki kandungan berbahaya. Hal ini dikarenakan
mengandung mikroba patogen dan sebagai tempat berkembangnya bibit penyakit
menular. Cara Penanganan tinja manusia ialah dengan menggunakan septic tank.
Dengan cara ini, pembuangan akan masuk ke dalam tangki yang akan mengendap,
terpisah antara benda cair dengan benda padatan. Benda padatan mengendap di
dasar tangki dalam keadaan tanpa udara, akan di proses secara anaerobic oleh
bakteri sehingga kandungan organik di dalamnya akan terurai. Umumnya, jika isi
dari septic tank penuh maka dapat dikeluarkan tanpa mengeluarkan bau.
Sedangkan pada cairan masih terkandung sejumlah mikroba. Mengatasi
pengurangan jumlah mikroba menggunakan respan untuk mengalirkan benda
cairan setelah benda padat mengendap. Cara resapan yang digunakan yaitu dengan
membuat lapisan yang terdiri dari batu kerikil di bawah tanah sehingga air yang
meresap mendapatkan suplai oksigen (aerobik), sehingga mikroba pathogen akan
terbunuh (Ningrum, 2013).

2.6 Standar Nasional Indonesia Septic Tank


Berdasarkan SNI: 03-2398-2002 mengenai septic tank, dalam
pembangunan tangki harus kuat, tahan terhadap asam, dan kedap air. Bahan
penutup dan pipa penyalur air limbah adalah batu kali, bata merah, batako, beton
bertulang, beton tanpa tulang, PVC, keramik, pelat besi, plastik, dan besi. Jarak
septic tank dan bidang resapan ke bangunan adalah 1,5 m. Sedangkan jarak ke
sumur air bersih adalah 10 m dan 5 m untuk sumur resapan air hujan. Dimensi
dari septic tank disesuaikan dengan jumlah penghuni dari rumah tangga masing-
masing. Periode pengurasan tangki adalah tiga tahun (Departemen PU, 2002).

2.7 Perhitungan Estimasi Perkiraan Kapasitas Septic Tank


Estimasi perhitungan dapat dilakukan sebagai berikut :
 Kebutuhan kapasitas penampung untuk lumpur (A), adalah :

A=P.N.S

Keterangan :
A = Penampung lumpur yang diperlukan (dalam liter)
P = Jumlah orang yang diperkirakan menggunakan septic tank
N = Jumlah tahun jangka waktu pengurasan
S = Rata-rata lumpur terkumpul (liter/orang/tahun)
Sehingga dapat dicontohkan sebagai berikut :
A = 280 orang x 2 tahun x 40 liter/orang/tahun
= 22400 liter = 22,4 m3
 Keperluan waktu penahan minimum dalam satu hari (Th), adalah :

Th = 2,5 – 0,3 log ( P.Q) > 0,5


Keterangan :
Th = Keperluan waktu penahanan minimum untuk pengendapan > 0,5 l/hari
P = Jumlah orang
Q = Banyaknya aliran, liter/orang/hari
Sehingga dapat dicontohkan sebagai berikut :
Th = 2,5-0,3 log (280 org x 10 liter/orang/hari)> 0,5
= 1,466 > 0,5 l/hari
 Kebutuhan kapasitas penampung air (B), adalah :

B = P . Q . Th

Sehingga dapat dicontohkan sebagai berikut :


B = 280 orang . 10 liter/orang/hari . 1,466 liter/hari
= 4104,8 liter = 4,105 m3
 Volume septic tank :
=A+B
= (22,4 + 4,105) m3
= 26,5 m3
 Dimensi septic tank :
Tinggi septic tank (h) = 1,5 m + 0,3 m (free board/tinggi jagaan)
Perbandingan lebar septic tank (L) : panjang septic tank (P) = 1 : 2
Lebar septic tank = 2,75 m
Panjang septic tank = 5,5 m (Kurniawan et al., 2011)
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dalam makalah ini ialah
penanganan limbah menggunakan septic tank yang terdiri dari suatu ruangan
kedap air, terdiri atas kompartemen ruang yang berfungsi menampung/mengolah
air limbah rumah tangga dengan kecepatan alir yang lambat. Septic tank pada
umumnya menggunakan 2 jenis yaitu jenis tertutup dan jenis terbuka. Melalui
tahap dari pembuangan akan masuk ke dalam tangki yang akan mengendap,
terpisah antara benda cair dengan benda padatan. Benda padatan di proses secara
anaerobic oleh bakteri sehingga kandungan organik di dalamnya akan terurai.
pada cairan masih terkandung sejumlah mikroba.

3.2 Saran
Adapun saran untuk penanganan limbahnya yaitu dapat diterapkan dengan
baik pada masyarakat dengan ditentukan menurut standar nasional dalam
pembangunan septic tank. Supaya masyarakat mengerti akan dampak bahaya
pencemaran limbah rumah tangga apabila tidak ditangani dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Burhanudin, H., dan Winda. 2009. Percepatan Penerapan Teknologi Pembuangan


Limbah Domestik Onsite Sistem Komunal Berbasis Partisipasi
Masyarakat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Vol. 10. No. 2.

Departemen PU. 2002. Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem
Resapan. SNI: 03-2398-2002.

Kurniawan, A., Asep. S., M. Yanuar. J. P., dan Sutoyo. 2011. Desain Instalasi
Pengolah Limbah WC Komunal Masyarakat Pinggir Sungai Desa Lingkar
Kampus. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, hal:91-99.

Masykur. 2015. Pemanfaatan Drum Plastik Bekas Sebagai Bahan Pembuatan


Septic Tank. TAPAK, Vol. 5, No. 1.

Moniaga, I., Brilsya, M., dan Veronica, A. 2015. Analisis Pengelolaan Lumpur
Tinja di Kecamatan Sario Kota Manado. Sabua, Vol. 7, No. 2:437-445.

Ningrum, P. T. 2013. Gambaran Sanitasi Dasar Pengolahan Limbah Rumah


Tangga di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Jurnal IKESMA, Vol.
9. No. 2.