Anda di halaman 1dari 12

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIASAAN

ANAK MENGGOSOK GIGI DI SDN KELAYAN DALAM 7


KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN

MANUSKRIP

Oleh :
MUHAMMAD AULIA AZWAR
NPM. 1614201120584

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2018
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIASAAN
ANAK MENGGOSOK GIGI DI SDN KELAYAN DALAM 7
KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan


Pada Program Studi S.1 Keperawatan

Oleh :
MUHAMMAD AULIA AZWAR
NPM. 1614201120584

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2018

i
i
Factors That Influence The Habit Of Children Brushing
Teeth In Elementary School Kelayan Dalam 7
Districts South Banjarmasin

Muhammad Aulia Azwar*, Yenny Okvita Sari**, Khairir Rizani***

Universitas Muhammadiyah Banjarmasin


Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan
Program Studi S.1 Keperawatan

Email : auliaazwar4@gmail.com

Abstract

Dental and oral health is a very important factor in life continuance. Brushing teeth is the most common
maintenance of dental and oral hygiene performed by the community. Most of the population in Indonesia has
had a habit of brushing their teeth every day. But only few do it at the right time. In Indonesia the prevalence of
brushing night's teeth before bedtime in children is as big as (22.4%). This is what causes high dental and oral
health problems in children.
This study aims to determine the effect of knowledge and motivation on the habit of children brushing teeth.
This research uses analytical method. The population of this research is the fourth grade students. The sample
was taken totally from a population of 29 students. Data collection using questionnaires and data were analyzed
using Wilcoxon test.
The result of this research shows that there is influence of knowledge to tooth brushing habit with p = 0,000 <α
= 0,05, there is no influence of motivation to children tooth brushing habit with p = 0,241> α = 0,05.
Keywords: Child Habit, Knowledge, Motivation

1
Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kebiasaan Anak
Menggosok Gigi Di SDN Kelayan Dalam 7
Kecamatan Banjarmasin Selatan

Abstrak

Kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor yang sangat penting dalam kelangsungan hidup. Menggosok gigi
merupakan pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang paling umum dilakukan oleh masyarakat. Sebagian
besar penduduk di Indonesia telah mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari. Namun hanya sedikit yang
melakukannya pada waktu yang benar. Di Indonesia prevalensi menggosok gigi malam sebelum tidur pada anak-
anak adalah sebesar (22,4%). Hal inilah yang menyebabkan tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut pada
anak-anak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dan motivasi terhadap kebiasaan anak
menggosok gigi. Penelitian ini menggunakan metode analitik. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV.
Sampel diambil secara total dari populasi yang berjumlah 29 siswa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner
dan data dianalisa menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pengetahuan terhadap kebiasaan anak menggosok gigi dengan p =
0,000 < α = 0,05, tidak ada pengaruh motivasi terhadap kebiasaan anak menggosok gigi dengan p = 0,241 > α =
0,05.
Kata Kunci: Kebiasaan Anak, Motivasi, Pengetahuan

1. Pendahuluan
Memelihara kesehatan gigi sangatlah penting untuk memperoleh kesehatan tubuh. Dan penerapan
menggosok gigi pada saat pagi hari setelah makan dan malam sebelum tidur sangat baik dilakukan pada
masa anak-anak agar membentuk suatu pola dipikiran bawah sadar. Menggosok gigi dapat
menghilangkan plak atau deposit bakteri lunak yang melekat pada gigi yang menyebabkan karies pada
gigi (Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein, dan Schwartz, 2008 dalam Rahim R, 2015). Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku anak untuk menggosok gigi yaitu faktor internal seperti
usia, tingkat pengetahuan, motivasi dan faktor eksternal seperti peran orang tua, sosial budaya, dan
media. Kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut dapat menyebabkan terbentuknya plak yang akan
menyebabkan terbentuknya penyakit gigi dan mulut seperti karies (lubang gigi), gingivitis (radang gusi),
periodontitis (radang pada jaringan penyangga gigi). Karies gigi merupakan dampak yang sering terjadi
pada anak usia sekolah. Karena pola makan anak yang tidak terkontrol dan cenderung menyukai
makanan yang manis-manis dengan motivasi untuk menggosok gigi yang rendah.

Menurut data survey World Health Organization tercatan bahwa diseluruh dunia 60-90% anak
mengalami karies gigi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 tentang
penyakit gigi dan mulut menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia menggosok gigi pada saat
mandi pagi dan mandi sore yaitu (76,6%), sedangkan menggosok gigi dengan benar yaitu setelah makan
pagi dan sebelum tidur malam ditemukan hanya (2,3%). Prevalensi menggosok gigi malam sebelum
tidur pada anak-anak di Indonesia sebesar (22,4%) dan di Kalimantan Selatan sebesar (43,0%) dan di
kota Banjarmasin prevalensi untuk penyakit gigi dan mulut sebesar (23,84%). Hal ini membuktikan
bahwa masih banyak masyarakat yang belum menyadari akan pentingnya menggosok gigi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin didapatkan bahwa jumlah
murid SD yang perlu mendapatkan perawatan gigi di Puskesmas Kelayan Dalam Kecamatan
Banjarmasin Selatan dari bulan Januari sampai bulan Desember 2017 berjumlah 1220 anak. Berdasarkan
hasil dari studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Januari 2018 di SDN Kelayan Dalam 7
Kecamatan Banjarmasin Selatan, dari 29 siswa kelas 4 yang diberikan angket didapatkan hasil bahwa
ada 15 siswa yang mempunyai masalah gigi berlubang dan 14 siswa tidak memiliki masalah pada
giginya. Mengenai kebiasaan gosok gigi 10 siswa memiliki kebiasaan gosok gigi yang baik dan 19 siswa
yang memiliki kebiasaan gosok gigi yang kurang baik.
2
Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam apakah faktor-faktor yang
mempengaruhi kebiasaan anak menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin
Selatan.

Penelitian terkait dalam penelitian ini adalah Ika Prasasti (2016) dengan judul Hubungan Peran Orang
Tua Dalam Kebersihan Gigi Dan Mulut Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Pra Sekolah Di Taman
Kanak-Kanak (TK) PGRI Kelurahan Ngesrep Semarang dan Dewanti (2012) dengan judul Hubungan
Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi Dengan Perilaku Perawatan Gigi Pada Anak Usia Sekolah
Di SDN Pondok Cina 4 Depok.

2. Landasan Teori
Gigi adalah jaringan tubuh yang paling keras dibanding yang lainnya, strukturnya berlapis-lapis mulai
dari email yang keras, dentin (tulang gigi) di dalamnya, pulpa yang berisi pembuluh darah, pembuluh
saraf, dan bagian lain yang memperkokoh gigi. Namun gigi merupakan jaringan tubuh yang mudah
sekali mengalami kerusakan. Hal ini terjadi ketika gigi tidak memperoleh perawatan semestinya (Potter
& Perry, 2005 dalam Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016). Gosok gigi adalah membersihkan gigi dari
kotoran atau sisa makanan dengan menggunakan sikat gigi. Menggosok gigi adalah salah satu kegiatan
yang sudah ada sejak dahulu kala, berabad tahun ke belakang lamanya. Mulai dari peradaban Arab yang
menggunakan kayu kunyah atau siwak, hingga penggunaan sikat gigi oleh bangsa Cina berupa batang
bambu yang dipasang bulu babi hutan. Menggosok gigi bertujuan untuk mempertahankan kebersihan
gigi dan mulut agar tetap sehat dan tidak berbau serta mencegah terjadinya infeksi seperti stomatitis,
kerusakan gigi dan lain-lain.
Menurut beberapa ahli menggosok gigi dilakukan 4 kali sehari setelah makan dan sebelum tidur malam
dan minimalnya 2 kali sehari (Machfoedz, 2008 dalam Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016). Menggosok
gigi sebelum tidur sangat penting karena saat tidur terjadi interaksi antara bakteri mulut dengan sisa
makanan pada gigi. Ketika tidak dapat menggosok gigi setelah makan, dianjurkan untuk berkumur
dengan air putih untuk menghilangkan sisa makanan yang tertinggal di mulut (Srigupta, 2007 dalam
Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016). Kebiasaan adalah rutinitas perilaku yang berulang secara teratur
dan cenderung terjadi secara tidak sadar. American Journal of Psychology mendefinisikan dari sudut
pandang psikologi sebagai cara berpikir, keinginan, atau perasaan yang hampir tidak pasti yang dimiliki
melalui pengulangan pengalaman mental sebelumnya (Merriam Webster Dictionary, 2008). (Kandali,
2010 dalam Wawan A, Dewi M, 2011) juga mengungkapkan bahwa kebiasaan adalah tindakan
konsisten yang dilakukan secara terus menerus hingga membentuk suatu pola di pikiran bawah sadar.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebiasaan yaitu, usia, pengetahuan, motivasi, peran orang
tua, sosial budaya, dan media.

Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perawatan gigi pada anak. Semakin bertambah
usia seseorang maka berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan anak usia
sekolah mengenai perawatan kesehatan gigi masih kurang. Hal tersebut akan mempengaruhi perilaku
anak dalam melakukan perawatan gigi setiap harinya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Azwindri,
2013 dalam Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016) didapatkan hasil ketika anak berada pada tingkatan
pengetahuan yang lebih tinggi, maka perhatian tentang kesehatan gigi akan semakin tinggi. Begitupula
sebaliknya, ketika anak memiliki pengetahuan kurang maka perhatian pada perawatan giginya juga
rendah. Pengetahuan tentang hygiene akan mempengaruhi praktik hygiene. Namun, hal ini saja tidak
cukup, karena motivasi merupakan kunci penting pelaksanaan hygiene. Kesulitan internal yang
mempengaruhi akses praktik hygiene adalah ketiadaan motivasi karena kurangnya pengetahuan. Anak
usia sekolah memiliki tanggung jawab dalam melakukan sesuatu, termasuk tanggung jawab dalam
melakukan perawatan gigi. Namun motivasi yang mereka miliki masih rendah. Pada anak usia sekolah
belum adanya perhatian dalam menjaga penampilan. Ketika motivasi anak tidak dibangun sejak awal
maka hal tersebut akan terbiasa sampai mereka remaja.

3
Orang tua merupakan faktor penting pada perawatan kesehatan gigi anak. Keberhasilan perawatan gigi
pada anak dipengaruhi oleh peran orang tua dalam melakukan perawatan gigi. Orang tua yang menjadi
teladan, hasilnya terlihat lebih baik dibandingkan anak yang menggosok gigi tanpa contoh yang baik
dari orang tuanya. Kebudayaan setempat dan kebiasaan keluarga juga dapat mempengaruhi
pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang terhadap sesuatu. Apabila dalam keluarga jarang melakukan
kebiasaan gosok gigi sebelum tidur dan setelah makan berdampak pada kebiasaan dan perilaku anak
yang mengikuti orang tuanya. Dan begitupula dengan media, media memiliki pengaruh yang kuat pada
anak-anak. Media bisa menjadi positif dan mendidik. Internet memungkinkan orang tua dan anak
mendapat informasi dan mendapatkan bantuan untuk masalah kesehatan anak-anak mereka. Misalnya
anak yang memilki komputer dengan akses yang memadai akan memiliki pengetahuan lebih tinggi
tentang perawatan gigi karena lebih update terhadap informasi-informasi dibandingkan anak yang hanya
memiliki televisi.

3. Jenis dan Metode Penelitian


Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu
mengukur variabel dependen dan variabel independen secara bersamaan. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh murid kelas 4 di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin Selatan yang berjumlah
29 siswa. Dalam penelitian ini, sampel diambil secara total populasi yaitu seluruh murid kelas 4
sebanyak 29 siswa. Dan teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah total sampling, yaitu
teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin Selatan pada bulan Maret
2018 dengan membagikan kuesioner pada responden. Kuesioner pada anak dibagikan langsung oleh
peneliti, kuesioner akan dijelaskan terlebih dahulu secara rinci agar anak memahami maksud dan tujuan
dari kuesioner. Untuk responden yang tidak hadir saat penelitian, peneliti meminta bantuan pada pihak
guru untuk membagikan kuesionernya saat responden hadir.

Peneliti menggunakan lembar kuesioner dalam mengumpulkan data. Kuesioner yang diberikan berisi
daftar pertanyaan yang mengacu pada konsep dan teori. Kuesioner disusun secara terstruktur sehingga
responden dapat memberikan jawaban sesuai petunjuk yang ada. Kuesioner yang diberikan akan diuji
validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu sebelum siap digunakan untuk penelitian. Uji validitas
dilakukan dengan cara uji coba instrumen kepada populasi yang mempunyai karakteristik yang sama
dengan responden yang digunakan dalam penelitian sebenarnya. Uji Validitas dilakukan pada siswa-
siswi kelas 4 di SDN Kuin Selatan 3 Kecamatan Banjarmasin Barat. Uji validitas digunakan untuk
mengetahui kevalidan kuesioner dalam mengumpulkan data. Uji validitas dilakukan dengan
menggunakan rumus kolerasi bivariate person dengan alat bantu SPSS versi 25.0. Item kuesioner dalam
uji validitas dikatakan valid jika R hitung > R tabel pada nilai signifikasi 5%. Sebaliknya, item kuesioner
dikatakan tidak valid jika R hitung < R tabel pada signifikasi 5%. Setelah mengukur validitas, maka
dilanjutkan dengan mengukur reliabilitas data untuk mengetahui apakah alat ukur dapat digunakan atau
tidak. Uji reliabilitas juga menggunakan bantuan aplikasi statistik. Uji reliabilitas dilakukan dengan
menggunakan rumus alpha uji signifikasi dilakukan pada taraf α = 5%. Instrumen dapat dikatakan
reliabel jika nilai alpha lebih besar dari R tabel.

Dalam penelitian ini semua data yang diperoleh dari responden dikumpulkan lalu dikoreksi ulang untuk
melihat kelengkapannya. Setelah data lengkap kemudian dikelompokkan dan ditabulasi berdasarkan
variabel yang diteliti. Data kemudian di edit dengan menggunakan diagram distribusi yang dibuat dalam
bentuk narasi dan tabel. Data kemudian diolah dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk melihat apakah
ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen dalam penelitian ini. Dasar
pengambilan keputusan adalah jika p > 0,05 maka, Ho diterima (tidak ada pengaruh antara variabel
independen terhadap variabel dependen), jika p < 0,05 maka, Ho ditolak (ada pengaruh antara variabel
independen terhadap variabel dependen). Uji dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan bantuan
dari komputer.

4
4. Hasil Penelitian
a. Analisis Univariat
Analisa univariat yaitu menganalisis untuk gambaran data dan distribusi frekuensi masing-masing
variabel, yaitu variabel independen (pengetahuan dan motivasi) dan variabel dependen (kebiasaan
anak menggosok gigi).
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan
No Pengetahuan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Baik 15 51,7
2. Cukup 11 38
3. Kurang 3 10,3
Total 29 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat 15 anak (51,7%) menunjukkan bahwa sebagian besar anak di
SDN Kelayan Dalam 7 sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik.

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Motivasi


No Motivasi Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Positif 26 89,7
2. Negatif 3 10,3
Total 29 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat 26 anak (89,7%) menunjukkan bahwa mayoritas anak di SDN
Kelayan Dalam 7 memiliki motivasi yang positif.

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kebiasaan


No Kebiasaan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Positif 27 93,1
2. Negatif 2 6,9
Total 29 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat 27 anak (93,1%) menunjukkan bahwa mayoritas anak di SDN
Kelayan Dalam 7 memiliki kebiasaan yang positif.
b. Analisa Bivariat
Analisa bivariat yaitu menganalisis pengaruh masing-masing variabel. Analisis ini digunakan untuk
mengetahui pengaruh antara variabel independen (pengetahuan dan motivasi) dan dependen
(kebiasaan anak menggosok gigi). Analisa bivariat pada penelitian ini menggunakan uji statistik
Wilcoxon.
Tabel 4 Hasil Analisis Wilcoxon Mengenai Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kebiasaan Anak
Menggosok Gigi Di SDN Kelayan Dalam 7
Pengetahuan Kebiasaan Anak Total
Anak Positif Negatif n %
n % n %
Baik 15 100 0 0 15 100
Cukup 9 81,9 2 18,1 11 100
Kurang 3 100 0 0 3 100
Uji Hasil Wilcoxon : p (0,000) < α (0,05)

5
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 29 responden, didapatkan dari 15 anak dengan
pengetahuan baik terdapat 15 (100%) anak yang memiliki kebiasaan positif. Serta dari 11 anak
dengan pengetahuan cukup terdapat 9 (81,9%) anak yang memilki kebiasaan positif, dan 11 anak
dengan pengetahuan cukup yang memiliki kebiasaan negatif terdapat 2 (18,1%) anak. Sedangkan
dari 3 anak dengan pengetahuan kurang terdapat 3 (100%) anak yang memiliki kebiasaan positif.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon didapatkan hasil
hitung p = 0,000 dengan α = 0,05 yang berarti p = 0,000 < α = 0,05 maka Ho ditolak, yang berarti
ada pengaruh pengetahuan terhadap kebiasaan anak menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7
Kecamatan Banjarmasin Selatan. Dan dari hasil diatas menunjukkan bahwa semakin baik
pengetahuan anak maka akan semakin positif kebiasaan anak.

Tabel 5 Hasil Analisis Wilcoxon Mengenai Pengaruh Motivasi Terhadap Kebiasaan Anak
Menggosok Gigi Di SDN Kelayan Dalam 7
Motivasi Kebiasaan Anak Total
Anak Positif Negatif n %
n % n %
Positif 24 92,3 2 7,7 26 100
Negatif 3 100 0 0 3 100
Uji Hasil Wilcoxon p (0,241) > α (0,05)

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa dari 29 responden, didapatkan dari 26 anak dengan
motivasi positif terdapat 24 (92,3%) anak yang memiliki kebiasaan positif, dan 26 anak dengan
motivasi positif yang memiliki kebiasaan negatif terdapat 2 (7,7%) anak. Sedangkan dari 3 anak
dengan motivasi negatif terdapat 3 (100%) anak yang memiliki kebiasaan positif.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon didapatkan hasil
hitung p = 0,241 dengan α = 0,05 yang berarti p = 0,241 > α = 0,05 maka Ho diterima, yang berarti
tidak ada pengaruh motivasi terhadap kebiasaan anak menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7
Kecamatan Banjarmasin Selatan.

5. Pembahasan
a. Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa dari 29 anak, 15 anak (51,7 %) memiliki
pengetahuan baik, 11 anak (38 %) memiliki pengetahuan cukup, 3 anak (10,3 %) memiliki
pengetahuan kurang. Dan berdasarkan hasil analisis terdapat pengaruh pengetahuan terhadap
kebiasaan anak menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin Selatan.

Semakin cukup umur maka akan semakin matang pemikiran seseorang dan semakin bertambah usia
makan akan berbanding lurus dengan pengetahuannya. Mungkin hal inilah yang merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan anak. Namun tidak hanya usia yang mempengaruhi
tingkat pengetahuan seseorang. Faktor lingkungan dan orang sekitar juga dapat mempengaruhi
pengetahuan anak. Dengan pengetahuan yang baik maka perhatian anak tentang kesehatan gigi nya
juga akan baik. Peryataan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Azwindri tentang
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gigi Pada Anak di Sekolah Dasar.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Azwindri didapatkan hasil ketika anak berada pada
tingkatan pengetahuan yang lebih tinggi, maka perhatian tentang kesehatan gigi akan semakin
tinggi. Begitupula sebaliknya, ketika anak memiliki pengetahuan kurang maka perhatian pada
perawatan giginya juga rendah.

Pada penelitian terdapat dimana anak dengan pengetahuan cukup dan kurang tetapi mempunyai
kebiasaan yang positif, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor lain yang mempengaruhinya lebih
6
dominan seperti peran orang tua dan media yang membuat anak walaupun pengetahuannnya cukup
dan kurang tetapi kebiasaannya positif. Seperti orang tua yang selalu mengajak anaknya untuk
melakukan perawatan kesehatan gigi dan ketersediaan alat dan sebagainya untuk melakukan
perawatan kesehatan gigi. Serta peran dari media yang membuat anak ingin melakukan perawatan
kesehatan gigi seperti iklan untuk gosok gigi di televisi dan semacamnya.

b. Motivasi
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 29 anak, 26 anak (89,7 %) memiliki motivasi
positif dan 3 anak (10,3 %) memiliki motivasi negatif. Dan berdasarkan hasil analisis tidak ada
pengaruh motivasi terhadap kebiasaan anak menggosok gigi.

Motivasi memiliki peran dalam pembentukan kebiasaan anak, namun motivasi yang anak miliki
masih kurang dan peran orang tua juga menjadi salah satu peran yang penting untuk membentuk
motivasi anak, karena anak cenderung mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya.
Keberhasilan membentuk motivasi anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tua. Karena jika orang
tua memberikan contoh yang baik, mendampingi dan mengajarkan cara melakukan perawatan gigi
dan mulut yang benar, maka hal itulah yang akan membangun motivasi anak untuk melakukan
perawatan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini sesuai dengan ungkapan (Cahyadi 2008 dalam dalam
Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016) yang mengatakan anak usia sekolah memiliki tanggung jawab
dalam melakukan sesuatu, termasuk tanggung jawab dalam melakukan perawatan gigi. Namun
motivasi yang mereka miliki masih rendah. Pada anak usia sekolah belum adanya perhatian dalam
menjaga penampilan. Ketika motivasi anak tidak dibangun sejak awal maka hal tersebut akan
terbiasa sampai mereka remaja.

Dan penelitian dari Mery Novaria Pay dkk mengatakan semakin kuat motivasi terhadap
pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut, maka semakin baik perilaku anak dalam pemeliharaan
kebersihan gigi dan mulut begitupula sebaliknya. Serta (Potter & Perry, 2005 dalam Nurlila R.U,
Fua J.L, Meliana 2016) mengatakan orang tua yang menjadi teladan, hasilnya terlihat lebih baik
dibandingkan anak yang menggosok gigi tanpa contoh yang baik dari orang tuanya. Peran orang tua
dalam perawatan gigi antara lain membantu dan mendampingi anak dalam menggosok gigi pada
usia di bawah 10 tahun, memeriksakan gigi anak secara rutin, serta mengenalkan perawatan gigi
pada anak sejak dini.

c. Kebiasaan
Hasil penelitian yang terdapat di tabel 4.4. Anak yang memiliki kebiasaan positif berjumlah 27
responden (93,1%), dan 2 responden (6,9%) yang memiliki kebiasaan negatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa hanya 2 responden yang memiliki kebiasaan yang negatif, yang menjawab
tidak melakukan kebiasaan gosok gigi setelah sarapan pagi dan sebelum tidur.

Kebiasaan adalah rutinitas perilaku yang berulang secara teratur dan cenderung terjadi secara tidak
sadar. (Kandali, 2010 dalam Wawan A, Dewi M, 2011) mengungkapkan bahwa kebiasaan adalah
tindakan konsisten yang dilakukan secara terus menerus hingga membentuk suatu pola di pikiran
bawah sadar. Pembentukan kebiasaan anak dipengaruhi oleh pengetahuan dan motivasi. Dimana
pengetahuan dipengaruhi oleh usia, semakin bertambah usia seseorang maka berbanding lurus
dengan pengetahuan yang dimiliki (Azwindri, 2013 dalam Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016).
Sedangkan motivasi dipengaruhi oleh peran orang tua, karena kebiasaan anak tidak akan terlihat
baik tanpa contoh yang baik dari orang tua. Peran orang tua dalam perawatan gigi antara lain
membantu dan mendampingi anak dalam menggosok gigi pada usia di bawah 10 tahun,
memeriksakan gigi anak secara rutin, serta mengenalkan perawatan gigi pada anak sejak dini (Potter
& Perry, 2005 dalam Nurlila R.U, Fua J.L, Meliana 2016).

d. Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kebiasaan Anak Menggosok Gigi Di SDN Kelayan Dalam 7
Kecamatan Banjarmasin Selatan
7
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan tabulasi silang antara pengaruh pengetahuan terhadap kebiasaan
anak menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin Selatan. Dari 29
responden didapatkan dari 15 anak dengan pengetahuan baik terdapat 15 (100%) anak yang
memiliki kebiasaan positif. Serta dari 11 anak dengan pengetahuan cukup terdapat 9 (81,9%) anak
yang memiliki kebiasaan positif, dan 11 anak dengan pengetahuan cukup yang memiliki kebiasaan
negatif terdapat 2 (18,1%) anak. Sedangkan dari 3 anak dengan pengetahuan kurang terdapat 3
(100%) anak yang memiliki kebiasaan positif.

Hasil analisis berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan terdapat pengaruh pengetahuan terhadap
kebiasaan anak dengan p = 0,000 dengan α = 0,05 yang memiliki makna p = 0,000 < α = 0,05.

Pengetahuan anak tentang perawatan kesehatan gigi dan mulut sangatlah penting, selain dapat
mencegah dari masalah kesehatan gigi dan mulut anak juga tahu bagaimana cara melakukan
perawatan kesehatan gigi dan mulut yang benar dan dapat mencegah kerusakan pada gigi yang
mempengaruhi kesehatan anggota tubuh lainnya, yang menyebabkan aktivitas sehari-hari pun
terganggu. Pengetahuan memiliki pengaruh terhadap kebiasaan anak, karena semakin tinggi
pengetahuan anak maka pemahaman terhadap sesuatu juga akan meningkat yang mempermudah
anak untuk mengaplikasikan suatu tindakan dan dengan pengetahuan yang lebih baik makan akan
hasil pengaplikasian anak terhadap suatu tindakan akan terlihat lebih baik. Yang artinya semakin
baik pengetahuan yang dimiliki anak maka akan semakin positif kebiasaan yang dimiliki anak.

e. Pengaruh Motivasi Terhadap Kebiasaan Anak Menggosok Gigi Di SDN Kelayan Dalam 7
Kecamatan Banjarmasin Selatan
Berdasarkan tabel 5 menunjukkan tabulasi silang antara pengaruh motivasi terhadap kebiasaan anak
menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin Selatan. Dari 29 responden di
dapatkan dari 26 anak dengan motivasi positif terdapat 24 (92,3%) anak yang memilki kebiasaan
positif, dan 26 anak dengan motivasi positif yang memiliki kebiasaan negatif terdapat 2 (7,7%)
anak. Sedangkan dari 3 anak dengan motivasi negatif terdapat 3 (100%) anak yang memiliki
kebiasaan positif.

Hasil analisis berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan tidak terdapat pengaruh motivasi terhadap
kebiasaan anak dengan p = 0,241 dengan α = 0,05 yang memiliki makna p = 0,241 > α = 0,05.

Motivasi anak untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut sangatlah penting, karena
motivasi menjadi salah satu peran yang penting untuk membentuk kebiasaan anak, namun motivasi
yang dimiliki anak pada usia sekolah masih rendah karena perhatian anak akan menjaga penampilan
pada usia ini masih belum ada. Motivasi anak yang kurang akan menyebabkan keinginan anak
untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut menjadi kecil. Hal ini dipengaruhi oleh peran
orang tua yang bertugas untuk mendampingi dan memberikan motivasi anak untuk melakukan
perawatan kesehatan gigi dan mulut. Karena tanpa contoh yang baik dari orang tua tidak akan
membuat hasil yang baik dari anak.

6. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan anak
menggosok gigi di SDN Kelayan Dalam 7 Kecamatan Banjarmasin Selatan, yang telah dilakukan pada
29 siswa-siswi di kelas 4, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Sebagian besar anak telah memiliki pengetahuan yang baik tentang perawatan kesehatan gigi
b. Mayoritas anak telah memiliki motivasi yang positif dalam perawatan kesehatan gigi
c. Mayoritas anak telah memiliki kebiasaan yang positif dalam melakukan perawatan kesehatan gigi
d. Terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan terhadap kebiasaan anak menggosok gigi
e. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi terhadap kebiasaan anak menggosok gigi

7. Saran
8
Diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan informasi dan dapat diteruskan dengan memperluas wilayah
penelitian dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan menilai aspek-aspek lain yang dapat
mempengaruhi kebiasaan anak menggosok gigi seperti usia, peran orang tua, dan media.

Daftar Rujukan

Azwindri. (2013). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gigi Pada Anak di Sekolah Dasar
Ngebel Kecamatan Kasihan KabupatenBantul Yogyakarta.” Yogyakarta: Skripsi. STIKES Alma
Ata ProgramStudiIlmu Keperawatan (Tidak dipublikasikan).
Merriam Webster Dictionary. 2008 Definition of Habit. Tersedia dalam <https://en.m.wikipedia.org/wiki/Habit>
Nurlila R.U., Fua J.L., Meliana. 2016. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Tentang
Kesehatan Gigi Pada Siswa Di SD Kartika XX-10 Kota Kendari Tahun 2015. Jurnal Al-Ta’dib. Vol
9 No 1: 106-107.
Pay M.N., Widiati S., Sriyono N.W. 2016. Identifikasi Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Anak Dalam
Pemeliharaan Kebersihan Gigi Dan Mulut: Studi Pada Pusat Pengembangan Anak Agape
Sikumana Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Jurnal Ugm. Vol 2 No 1: 33.
Rahim, R. 2015. Hubungan Kebiasaan Menggosok Gigi Malam Hari dan Kejadian Karies Gigi Pada Anak
Sekolah Dasar Negeri Karang Tengah 07 Tangerang. Forum Ilmiah. Vol 12 No 1: 71-72.
Riset Kesehatan Dasar. 2013. Data Gigi dan Mulut di Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Tahun 2013.
World Health Organization. 2007. The World Healt Oral Report.

*Muhammad Aulia Azwar. Mahasiswa Program Studi S.1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin

**Yenny Okvita Sari, Ns., M.Kep. Dosen Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

***H. Khairir Rizani, S.ST., M.Kes. Dosen Politeknik Kesehatan Banjarmasin