Anda di halaman 1dari 123

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI

DI KABUPATEN TAPANULI UTARA


TAHUN 2005-2006

TESIS

Oleh

VIKTOR
037 023 016 / AKK

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2007

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI
DI KABUPATEN TAPANULI UTARA
TAHUN 2005-2006

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.Kes)


dalam Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan
Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi
Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

VIKTOR
037 023 016 / AKK

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2007

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Judul Tesis : ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA
KELAHIRAN MATI DI KABUPATEN
TAPANULI UTARA TAHUN 2005 - 2006

Nama Mahasiswa : VIKTOR

Nomor Induk Mahasiswa : 037 023 016

Program Studi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan


Konsentrasi Administrasi Kesehatan
Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui,
Komisi Pembimbing :

Prof. dr. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A(K)


Ketua

dr. Ria Masniari Lubis, MSi dr. Yusniwarti Yusad, MSi


Anggota Anggota

Ketua Program Studi, Direktur SPs USU,

Dr. Drs. Surya Utama, MS Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., MSc

Tanggal Lulus : 18 September 2007

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Telah diuji

Pada Tanggal : 18 September 2007

Panitia Penguji Tesis


Ketua : Prof. dr. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K)
Anggota : dr. Ria Masniari Lubis, Msi
dr. Yusniwarti Yusad, MSi
Prof. dr. Yusuf Hanafiah, Sp.OG (K)
drh. Hiswani, MKes

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
PERNYATAAN

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI


DI KABUPATEN TAPANULI UTARA
TAHUN 2005-2006

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Medan, September 2007

(VIKTOR)

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : VIKTOR
Tempat/tanggal lahir : P. Siantar, 28 – 10 - 1960
Alamat Kantor : Jl. Pahae Tarutung.
Alamat Rumah : Jl. H. Agus Salim No. 1 Tarutung
Nama istri : dr. Ita. L. Roderthani Tobing, SpTHT
Nama anak : Patrio Cipta Harvi Sitorus
Viktoria Thanita Sitorus

Riwayat pendidikan :

1. SD Negeri No. 55 Pematang Siantar Tamat Tahun 1973


2. SMP Negeri II Pematang Siantar Tamat Tahun 1976
3. SMA Negeri III Pematang Siantar Tamat Tahun 1980
4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tamat tahun 1987
5. Sekolah Pasca Sarjana Magister Kesehatan Program Studi Administrasi
Kesehatan Komunitas/Epidemiologi di Universitas Sumatera Utara Tamat
tahun 2007

Riwayat Pekerjaan :

1. Kepala Puskesmas Mogang Kecamatan Palipi Kabupaten Tapanuli Utara


Tahun 1989 – 1991
2. Kepala Puskesmas Limbong Kecamatan Arian Boho Kabupaten Tapanuli
Utara Tahun 1991 – 1993
3. Kepala Puskesmas Sirait Kecamatan Harian Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 1993 – 1995
4. Staf Rumah Sakit Umum Adam Malik tahun 1995 – 1998
5. Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan di Kantor
Departemen Kesehatan Tapanuli Utara tahun 1998 – 2001
6. Ka.Subdin P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2001 –
2005
7. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2005 – Sekarang.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI
DI KABUPATEN TAPANULI UTARA
TAHUN 2005 – 2006

Oleh : V I K T O R

ABSTRAK

Kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dalam keadaan mati yang
telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau berat badan lahir lebih atau sama
dengan 1000 gram. Program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program
kesehatan ibu. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target dari
dampak kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kelahiran mati
dari 25 per 1000 kelahiran hidup (1997) menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (2010).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko dan
hubungannya pada kelahiran mati. Penelitian ini merupakan rancangan deskriptif
analitik menggunakan studi analitik dengan pendekatan case control study terhadap
134 responden terdiri dari 67 responden dengan kelahiran mati dan 67 responden
dengan kelahiran hidup.
Hasil penelitian pada uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan
kunjungan K1 (p = 0,001, OR = 3,245), kunjungan K4 (p = 0,000, OR = 3,792),
paritas (p = 0,037, OR = 2,081), anemia (p = 0,024, OR = 2,210), riwayat penyakit
ibu (p = 0,001, OR = 3,225), riwayat persalinan (p = 0,009, OR = 2,496), dan
penolong persalinan (p = 0,000, OR = 5,608) dengan kelahiran mati, sedangkan
fasilitas pelayanan kesehatan serta jarak rumah ke tempat persalinan tidak ada
hubungan. Hasil uji regresi logistik berganda ditemukan 4 variabel independent yang
berhubungan dengan kelahiran mati yaitu penolong persalinan, kunjungan K4, paritas
dan riwayat penyakit ibu. Variabel independent yang paling berpengaruh berdasarkan
uji regresi logistik berganda adalah penolong persalinan (OR = 5,721, CI = 2,349 –
13,938).
Rekomendasi dalam upaya penurunan angka kelahiran mati berupa pelatihan
secara berkala kepada dukun-dukun bayi, peningkatan pengetahuan dan sikap
masyarakat dalam mencari tenaga penolong persalinan.

Kata Kunci : Kelahiran Mati, Faktor Risiko

Daftar Pustaka : 37 (1974 – 2004)

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
ANALYSIS OF THE RISK FACTOR IN THE STILLBIRTH
IN TAPANULI UTARA DISTRICT IN
2005 – 2006

VIKTOR

ABSTRACT

Stillbirth is a stillborn result of conception after 28 weeks of pregnancy with


body weight of about or the same 1000 grams. The health program for newly-born
baby is included in the maternal health program. In the national strategic planning of
Making Pregnancy Safer, the target of the health impact for newly-born baby is to
minimize the stillbirth rate from 25 per 1000 (1997) to 15 per 1000 life birth (2010).
The purpose of this study is to find out the relationship of risk factor and
stillbirth. This analytical descriptive study with case control approach was done to
134 respondents consisting of 67 respondents with stillbirth and 67 respondents with
live birth.
The result of statistical test shows that there is a relationship between visit K1
(p = 0,001, OR = 3,245), visit K4 (p = 0,000, OR = 3,792), parity (p = 0,037, OR =
2,081), anemia (p = 0,024, OR = 2,210), history of mother’s disease (p = 0,001, OR =
3,225), history of pregnancy (p = 0,009, OR = 2,496), and birth attendant (p = 0,000,
OR = 5,608) and the stillbirth while there is no relationship between health service
facility and the distance between home and the maternity clinic and the stillbirth.
The result of multiple logistic regression test shows that 4 (four) independent
variables such as birth attendant, visit K4, parity and history of mother’s disease are
related to the stillbirth. According to the result of multiple logistic regression tests,
the most influencing independent variable is birth attendant (OR = 5,721, CI = 2,349
– 13,938).
In order to minimize the rate of stillbirth, it is suggested that traditional
midwives/birth attendants be provided with periodic training and the knowledge and
the attitude of the community in selecting birth attendant be improved.

Keywords: Stillbirth, Risk Factor

Bibliography: 37 (1974 - 2004)

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
DAFTAR ISI

Halaman
Lembar Pengesahan
Lembar Pengujian
Lembar Pernyataan
Daftar Riwayat Hidup
Abstrak
Abstract
Kata Pengantar .............................................................................................. i
Daftar Isi ......................................................................................................... iii
Daftar Tabel.................................................................................................... v
Daftar Lampiran ............................................................................................ vi
Daftar Singkatan ............................................................................................ vii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................. 4
1.3. Tujuan Penelitian .................................................................. 4
1.3.1. Tujuan Umum ............................................................. 4
1.3.2. Tujuan Khusus ............................................................ 5
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................ 6

BAB 2 STUDI KEPUSTAKAAN............................................................... 7


2.1. Kumpulan Pendapat/Hasil Penelitian Terdahulu .................. 7
2.2. Definisi Yang Berhubungan Dengan Penelitian ................... 8
2.2.1. Kelahiran Mati (Still Birth) ......................................... 8
2.2.2. Kelahiran Hidup (Live Birth) ...................................... 9
2.2.3. Kematian Janin (Foetal Death)................................... 9
2.2.4. Faktor Risiko............................................................... 10
2.3. Faktor Determinan Kelahiran Mati ....................................... 11
2.4. Pencegahan Kelahiran Mati .................................................. 19
2.4.1. Pelayanan Antenatal-Care Secara Rutin ..................... 19
2.4.2. Pengawasan Terhadap Kehamilan Risiko Tinggi
(High Risk Pregnancy)............................................... 22
2.4.3. Mewujudkan Pelayanan Kebidanan yang Baik dan
Bermutu....................................................................... 23
2.4.4. Pengawasan Ibu dan Bayi ........................................... 24
2.5. Manajemen Puskesmas ......................................................... 25
2.6. Landasan Teori...................................................................... 35
2.7. Kerangka Konsep .................................................................. 37
2.8. Jawaban Penelitian ................................................................ 37

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 3 METODE PENELITIAN ............................................................... 38
3.1 Jenis Penelitian...................................................................... 38
3.2. Tempat dan Waktu ............................................................... 38
Halaman

3.2.1. Tempat......................................................................... 38
3.2.2. Waktu .......................................................................... 38
3.3. Populasi dan Sampel ............................................................. 38
3.3.1. Populasi ....................................................................... 38
3.3.2. Sampel......................................................................... 39
3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel....................................... 40
3.4. Manajemen Data ................................................................... 40
3.4.1. Data Primer ................................................................. 40
3.4.2. Data Sekunder ............................................................. 40
3.5. Definisi Operasional ............................................................. 41
3.6. Aspek Pengukuran ................................................................ 42
3.7. Rancangan Analisis Data ...................................................... 44
3.7.1. AnalisisUnivariat ........................................................ 44
3.7.2. Analisis Bivariat.......................................................... 44
3.7.3. Analisis Multivariat..................................................... 45

BAB 4 HASIL PENELITIAN .................................................................... 47


4.1. Gambaran Umum Kabupaten Tapanuli Utara....................... 47
4.2. Analisis Univariat ................................................................. 49
4.3. Analisis Bivariat.................................................................... 50
4.4. Analisis Multivariat............................................................... 55

BAB 5 PEMBAHASAN .............................................................................. 58


5.1. Hubungan Antenatal Care dengan Kelahiran Mati ............... 58
5.2. Hubungan Faktor Ibu dengan Kelahiran Mati ...................... 63
5.3. Hubungan Faktor Pelayanan Kesehatan dengan Kelahiran
Mati ...................................................................................... 70
5.4. Keterbatasan Peneliti............................................................. 75

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 78


6.1. Kesimpulan ........................................................................... 78
6.2. Saran ..................................................................................... 78

Daftar Pustaka .................................................................................................. 80


Lampiran .......................................................................................................... 83

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Distribusi Jumlah Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara


Tahun 2001 – 2006 ....................................................................... 4
Tabel 2.1 Daftar Peralatan Untuk Pertolongan Persalinan............................ 33
Tabel 2.2 Formulir Yang Disediakan Dalam Proses Persalinan ................... 34
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan dan Pekerjaan di
Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007 ........................................ 49
Tabel 4.2 Tabulasi Silang Antara Variabel Antenatal-Care Dengan
Variabel Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun
2007............................................................................................... 50
Tabel 4.3 Tabulasi Silang Antara Variabel Faktor Ibu Dengan Variabel
Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007........... 52
Tabel 4.4 Tabulasi Silang Antara Variabel Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Dengan Variabel Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2007 ................................................................................... 54
Tabel 4.5 Identifikasi Variabel Dominan Penyebab Kelahiran Mati di
Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007 ........................................ 56

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Naskah Penjelasan......................................................................... 83


Lampiran 2 Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)..................... 84
Lampiran 3 Formulir Pengumpulan Data ......................................................... 85
Lampiran 4 Validitas dan Reliabilitas .............................................................. 89
Lampiran 5 Master Data Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun
2005 – 2006................................................................................... 93
Lampiran 6 Analisis Univariat ......................................................................... 95
Lampiran 7 Analisis Bivariat............................................................................ 97
Lampiran 8 Analisis Multivariat....................................................................... 106
Lampiran 7 Peta Tapanuli Utara....................................................................... 110
Lampiran 8 Surat Izin Penelitian dari Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara.............................................................................. 111
Lampiran 9 Surat Izin Pelaksanaan Penelitian dan Pengumpulan Data Dari
Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara ................................ 112
Lampiran 10 Surat Telah Selesai Melaksanakan Penelitian dan Pengumpulan
Data Dari Kabupaten Tanuli Utara ............................................... 113

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
DAFTAR SINGKATAN

AKB : Angka Kematian Bayi


AKI : Angka Kematian Ibu
AKP : Angka Kematian Perinatal
ANC : Antenatal Care
ASI : Air Susu Ibu
CI : Class Interval
BBLR : Berat Badan Lahir Rendah
BKKBN : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
BPS : Badan Pusat Statistik
Hb : Haemoglobin
IUGR : Intra Uterin Growth Retardation
K1 : Kunjungan Pertama Kali
K4 : Kunjungan Yang Ke empat
KB : Keluarga Berencaran
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KMS : Kartu Menuju Sehat
OR : Odds Rasio
PWS : Pemantauan Wilayah Setempat
Risti : Risiko Tinggi
RT : Rukun Tetangga
RW : Rukun Warga
SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia
SKRT : Survei Keseharan Rumah Tangga
TT : Tetanus Toksoid
USG : Ultra Sonografi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa di ukur

dengan menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu per 1000 persalinan hidup

dan angka perinatal dalam 1.000 kelahiran hidup. Ilmu yang secara khusus

mempelajari perinatal adalah perinatalogi. Tujuan perinatalogi sama dengan obstetri

yakni mengupayakan hasil konsepsi yang baik, selamat dan sehat serta sanggup

tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara optimal sehingga tercipta suatu

generasi masa depan yang berkualitas tinggi (Manuaba, 1998).

Pembangunan jangka panjang tahap II dalam bidang kesehatan diharapkan

angka kematian bayi (AKB) dapat di tekan menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup.

Untuk mewujudkan hal ini, upaya penurunan kematian perinatal di pandang sebagai

suatu langkah strategis. Hal ini karena kematian perinatal mempunyai sumbangan

yang besar dalam tingginya jumlah kematian bayi termasuk kelahiran mati (Depkes

RI, 1990).

Penelitian di Inggris yang dilakukan Dummer (2000) menyatakan bahwa

kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dalam keadaan mati pada kehamilan

28 minggu keatas atau berat badan lahir 1000 gram atau lebih. Insidens kelahiran

mati ditemukan pada tingkat sosial ekonomi rendah sebesar 0,52%.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Penelitian yang dilakukan di Rwanda oleh Rahlenbeck (2002) dan India oleh

Agarwal (1998) melaporkan bahwa insiden kelahiran mati yaitu 10%. Hasil penelitian

tersebut menjelaskan penyebab kelahiran mati adalah ibu hamil berusia 35 tahun ke

atas, proses kelahiran secara tradisional.

Penelitian kohort yang dilakukan di Denmark oleh Aarhus University Hospital

selama tahun 1989-1996 terhadap ibu hamil yang mengkonsumsi kopi, merokok dan

minum minuman beralkohol. Ibu hamil yang mengkonsumsi kopi sehari delapan

gelas atau lebih selama masa kehamilan menunjukkan risiko yang tinggi

dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak minum kopi dengan nilai Odds Ratio (OR)

sebesar 3 dengan tingkat kepercayaan 95% berada pada interval 1,5 - 5,9.

Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol selama masa kehamilan risiko

relatif kelahiran mati menunjukkan peningkatan yang tidak signifikan.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, melaporkan

angka kematian ibu (AKI) di Indonesia berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran

hidup atau setiap jamnya terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia. SDKI juga

melaporkan cakupan pemberian tablet Fe masih sangat kurang terhadap ibu hamil dan

wanita pasangan usia subur. Demikian pula Angka Kematian Bayi (AKB) masih

berada pada kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup (BPS, 2001).

Tingginya angka kematian ibu disebabkan berbagai penyebab yang kompleks:

tradisi, sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan,

ketidaksetaraan gender, dan akses terhadap sarana kesehatan dan transportasi

berkontribusi terhadap kematian dan kesakitan ibu (Depkes RI, 2003).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dengan jumlah sampel

278.352 rumah tangga di Indonesia tahun 2001 ditemukan bahwa kematian neonatal

adalah 180 kasus, kelahiran mati sebanyak 115 kasus dan kematian bayi sebanyak

466 kasus.

Kesadaran ibu untuk merawat kehamilannya tercermin dari perilakunya dalam

memilih pelayanan dan dijelaskan dalam enam model yaitu faktor penolong

persalinan, pilihan kelas pelayanan, pilihan untuk operasi caesar, faktor kedekatan

lokasi pelayanan, jenis kelamin penolong persalinan, dan alat transportasi. Sementara

itu, beberapa variabel penjelas yang mempengaruhi adalah pendapatan, karakteristik

kehamilan (kehamilan yang ke), risiko kehamilan, usia ibu, profesi, tingkat

pendidikan, dan jarak kehamilan. Dengan demikian, kompleksitas model dapat

menjelaskan perilaku ibu dalam melakukan pilihan permintaan pelayanan persalinan

dan diharapkan akan berdampak pada keselamatan ibu dan bayi (Sarimawar, 2004).

Survei pendahuluan yang dilakukan berdasarkan laporan dinas kesehatan

Kabupaten Tapanuli Utara ditemukan kasus kelahiran mati selama tahun 2001-2003

cenderung menurun. Tahun 2001 kasus kelahiran mati sebanyak 15 orang (0,42%),

tahun 2002 sebanyak 8 orang (0,21%) dan tahun 2003 menjadi 8 orang (0,37%).

Tahun 2004 kasus kelahiran mati meningkat menjadi 30 orang (1,91%). Tahun 2005

kasus kelahiran mati ditemukan sebanyak 32 orang (2,22%). Tahun 2006 kasus

kelahiran mati sebanyak 35 orang (2,35%). Secara jelas data kelahiran mati di

Kabupaten Tapanuli Utara dapat di lihat pada tabel 1.1 berikut ini.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Tabel 1.1
Distribusi Jumlah Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2001-2006

Jumlah Kelahiran Jumlah Ibu


Tahun Persentase (%)
Mati Melahirkan
2001 15 3547 0,42
2002 8 3724 0,21
2003 8 2124 0,37
2004 30 1564 1,91
2005 32 1435 2,22
2006 35 1485 2,35

Jumlah kelahiran mati tahun 2003 ke tahun 2005 menunjukkan cenderung

meningkat yaitu dari 0,37% tahun 2003 meningkat menjadi 1,91% tahun 2004 dan

menjadi 2,22% pada tahun 2005. Tahun 2006, kasus kelahiran mati ditemukan

sebesar 2,35%. Berdasarkan data tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai

faktor risiko pada kelahiran mati di Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2005-2006.

1.2. Rumusan Masalah

Meningkatnya jumlah kelahiran mati di Kabupaten Tapanuli Utara tahun

2005-2006.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor risiko dan hubungannya dengan kelahiran mati

di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005 – 2006.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
1.3.2. Tujuan Khusus

1). Untuk mengetahui hubungan kunjungan K1 ibu hamil dengan terhadap

kelahiran mati Kabupaten Tapanuli Utara

2). Untuk mengetahui hubungan kunjungan K4 ibu hamil dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

3). Untuk mengetahui hubungan paritas dengan kelahiran mati Kabupaten

Tapanuli Utara

4). Untuk mengetahui hubungan anemia ibu dengan kelahiran mati Kabupaten

Tapanuli Utara

5). Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

6). Untuk mengetahui hubungan riwayat persalinan dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

7). Untuk mengetahui hubungan fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran

mati Kabupaten Tapanuli Utara

8). Untuk mengetahui hubungan penolong persalinan dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

9). Untuk mengetahui hubungan jarak rumah ke tempat persalinan dengan

kelahiran mati Kabupaten Tapanuli Utara

10). Untuk mengetahui faktor risiko dominan penyebab kelahiran mati di

Kabupaten Tapanuli Utara Kabupaten Tapanuli Utara

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
1.4. Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk program safe motherhood dan making

pregnancy safer di Tapanuli Utara

2. Untuk menambah Khazanah ilmu pengetahuan

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 2

STUDI KEPUSTAKAAN

2.1. Kumpulan Pendapat/Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai kasus kelahiran mati di Indonesia secara khusus belum

dapat ditemukan dalam suatu literatur buku maupun jurnal-jurnal penelitian sehingga

penulis mengalami kesulitan menemukan hasil-hasil penelitian terdahulu di

Indonesia.

Penelitian yang dilakukan oleh Aarhus University Hospital terhadap 25.395

ibu hamil didapatkan informasi bahwa sebanyak 18.478 ibu hamil minum kopi

selama masa kehamilan. Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan ditemukan

bahwa ibu hamil yang selama kehamilan minum kopi lebih dari 8 (delapan) gelas atau

lebih kemungkinan untuk mengalami kelahiran mati 3 (tiga) kali dibandingkan

dengan ibu hamil yang tidak minum kopi.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa penyebab kelahiran mati antara lain

fetoplacental dysfunction (tidak berfungsinya plasenta), antepartum haemorrhage

(perdarahan sebelum partus), congenital malformation (adanya kelainan bawaan),

intrapartum event (adanya kejadian saat proses kehamilan), unexplained intrauterine

death (kurangnya penjelasan kematian yang disebabkan perdarahan), maternal

disease (adanya penyakit pada ibu).

Kelahiran mati di negara Singapore pada tahun 1994 berjumlah 4,48/1000

kelahiran hidup. Kelahiran mati tertinggi pada masyarakat Melayu dan ibu yang tidak

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
melakukan pemeriksaan kehamilan pada dokter atau petugas kesehatan (Bidan).

Kelahiran mati di Amerika Serikat setiap tahunnya terjadi 26 per 1000 kelahiran

hidup (Zachary, 2002).

Kelahiran mati di Amerika Serikat berdasarkan faktor umur terbanyak pada

usia 20-24 tahun yaitu 8 orang (3,7%) dari 19 kasus kelahiran mati pada tahun 2000

(Kulakov, 2001).

2.2. Definisi yang Berhubungan Dengan Penelitian

2.2.1. Kelahiran Mati (Still Birth)

Kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dalam keadaan mati yang

telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau berat badan lahir lebih atau sama

dengan 1000 gram (Wiknjosastro, 2002).

Program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program kesehatan ibu.

Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target dari dampak

kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kelahiran mati dari 25 per

1000 kelahiran hidup (1997) menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (2010).

Sehubungan dengan tersedianya data studi mortalitas SKRT 2001, beberapa

informasi mengenai kelahiran mati dapat dipertimbangkan sebagai informasi untuk

kegiatan-kegiatan program dalam menurunkan kesakitan dan kematian bayi baru lahir

di Indonesia (Depkes RI, 2003).

Fetal death didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) adalah

suatu kematian dari hasil konsepsi sebelum janin menunjukkan tanda-tanda

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
kehidupan yang sempurna atau keluar dari rahim ibu selama masa kehamilan.

Kelahiran mati (kematian janin yang terlambat) dan kematian bayi yang terlalu cepat

(kematian bayi pada minggu pertama kehidupan) dikombinasikan dalam suatu

kategori yang disebut dengan kematian perinatal (Say, 2001).

Besarnya insiden kelahiran mati dihitung dengan mengetahui jumlah kematian

janin pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih di kali 100 di bagi dengan jumlah

seluruh kelahiran, yang dikembangkan dalam suatu penelitian di Inggris sebagai

ukuran dalam penelitian cross sectional, kohort dan survey (Say, 2001).

No of fetal deaths at 28 or more completed weeks of gestation


Incidence of Stillbirths = × 100
No of total births

2.2.2. Kelahiran Hidup (Live Birth)

Kelahiran hidup adalah keluarnya hasil konsepsi secara sempurna dari ibunya

tanpa memandang lamanya kehamilan, dan sesudah terpisah dari ibunya bernapas

atau menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyutan tali pusat atau pergerakan

otot, tidak peduli apakah tali pusat telah dipotong atau belum (Wiknjosastro, 2002).

2.2.3. Kematian Janin (Foetal Death)

Kematian janin adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan

sempurna dari ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan. Kematian dinilai dengan

fakta bahwa sesudah dipisahkan dari ibunya janin tidak benafas atau menunjukkan

tanda-tanda kehidupan, seperti denyut jantung, atau pulsasi tali pusat, atau kontraksi

otot (Wiknjosastro, 2002).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Definisi ini seringkali pangkal perbedaan dalam angka-angka statistik

mengenai kematian perinatal. Sebab perbedaan ini ialah karena kriterium yang

dipakai mengenai berat badan lahir dan lamanya masa kehamilan tidak selalu sama.

Berhubung dengan ini WHO Expert Commitee on the Prevention of Perinatal

Morbidity and Mortality (1970) menganjurkan agar dalam perhitungan statistik, yang

dinamakan kematian janin ialah kematian janin yang pada waktu lahir berat badannya

diatas 1000 gram.

Kematian janin dapat dibagi dalam 4 golongan, yaitu

Golongan I : kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20 minggu penuh

Golongan II : kematian sesudah ibu hamil 20 minggu hingga 28 minggu

Golongan III : kematian sesudah masa kehamilan lebih 28 minggu (Late Foetal

Death)

Golongan IV : kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga kelompok

diatas.

2.2.4. Faktor Risiko

Faktor risiko adalah sesuatu yang ada pada diri seseorang atau komunitas

yang mungkin pada suatu waktu dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kesakitan

atau kematian (Manuaba, 1998; Rochyati, 2002; Martaadisoebrata, 2005; Martianto,

1992).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Menurut Backett, faktor risiko itu bisa bersifat biologis, genetik, lingkungan,

atau psikososial. Namun, dalam kesehatan reproduksi, faktor risiko dibagi secara

lebih spesifik, yaitu (Martaadisoebrata, 2005) :

1. Faktor demografi : umur, paritas, dan tinggi badan

2. Faktor medis biologis : underlying disease, seperti penyakit jantung dan

malaria

3. Faktor riwayat obstetri : abortus habitualis, berbagai komplikasi obstetri, SC

4. Faktor lingkungan : polusi udara, kelangkaan air bersih, penyakit endemis.

5. Faktor sosioekonomibudaya : pendidikan, penghasilan, dan kepincangan

gender (Martaadisoebrata, 2005).

2.3. Faktor Determinan Kelahiran Mati

1. Usia Ibu

Usia mempunyai pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan ibu. Risiko

tinggi kelahiran mati terjadi pada ibu yang berumur < 20 tahun dan > 35 tahun.

Banyak ibu-ibu yang berumur < 20 tahun belum cukup matang dalam

menghadapi kehidupan sehingga belum siap secara fisik dan mental dalam

menghadapi kehamilan dan persalinan. Usia ibu < 20 tahun, rahim, panggul ibu

belum berkembang dengan baik, hingga perlu diwaspadai kemungkinan

mengalami persalinan yang sulit dan keracunan kehamilan atau gangguan lain

karena ketidaksiapan ibu untuk menerima tugas dan tanggung jawabnya sebagai

orang tua. Sebaliknya jika terjadi kehamilan pada usia > 35 tahun, tubuh ibu

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
sudah kurang siap lagi menghadapi kehamilan dan persalinan. Ibu yang berusia >

35 tahun cenderung mengalami perdarahan, hipertensi, obesitas, diabetes,

myoma uteri, persalinan lama dan penyakit-penyakit lainnya. Selain risiko tinggi

untuk terjadinya kehamilan kongenitas atau malformasi juga semakin besar (2

kali lebih besar dibanding usia 20-40 tahun) (Depkes RI, 2001).

Hasil penelitian Soejoenoes (1976) di Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang

diperoleh bahwa dari 5508 kelahiran, yang mengalami kelahiran mati sebanyak

253 kasus, 126 kasus diantaranya ibu yang berumur kurang dari 20 tahun dan

lebih dari 30 tahun.

Usia hamil yang ideal bagi seorang wanita adalah antara umur 20-35

tahun karena pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan, mental

sudah matang dan sudah mampu merawat bayi dan dirinya (Draper, 2001).

2. Paritas

Risiko terhadap kesehatan ibu dan anak meningkat pada persalinan

pertama, keempat dan seterusnya. Kehamilan yang paling aman adalah

kehamilan kedua dan ketiga. Hal ini sesuai dengan pendapat Moeluk tahun 1983

yang di kutip oleh Sarumpaet (2000) menyatakan bahwa persalinan yang paling

aman adalah persalinan kedua dan ketiga (Sarumpaet, 2000; Pernol, 1984).

Kehamilan dan persalinan anak pertama, risiko meningkat terutama

disebabkan karena ibu belum pernah menghadapi kehamilan dan persalinan, di

samping itu jalan lahir baru pertama kali akan di coba dilalui oleh janin. Pada

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
kehamilan rahim ibu teregang oleh adanya janin. Bila terlalu sering melahirkan,

rahim akan semakin melemah, maka perlu diwaspadai adanya gangguan pada

waktu kehamilan, persalinan dan nifas. Kehamilan dan persalinan anak kelima

atau lebih risiko meningkat karena kehamilan dan persalinan berulang-ulang

akan mengakibatkan berkurangnya cadangan zat-zat tambahan misalnya, asam

folat, Fe, Yodium, Vitamin A, Vitamin B dan Vitamin D, kelelahan pada tubuh

ibu dan alat kandungan (Soejoenoes, 1976).

Hasil penelitian Soejoenoes di RS Dr. Kariadi Semarang tahun 1976

menemukan bahwa dari 253 kasus kelahiran mati, 199 kasus diantaranya

merupakan paritas pertama dan paritas keempat atau lebih.

3. Jarak Kelahiran

Risiko terhadap kematian ibu dan anak meningkat jika jarak antara dua

kehamilan < 2 tahun atau > 5 tahun. Jarak kehamilan yang aman ialah antara 2-4

tahun. Jarak antara dua kehamilan yang < 2 tahun berarti tubuh ibu belum

kembali ke keadaan normal akibat kehamilan sebelumnya sehingga tubuh ibu

akan memikul beban yang lebih besar. Jarak kelahiran anak sebelumnya kurang

dari 2 tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik, kehamilan dalam

keadaan ini perlu diwaspadai karena adanya kemungkinan pertumbuhan janin

kurang baik, mengalami persalinan yang lama atau perdarahan. Sebaliknya jika

jarak antara dua kehamilan > 5 tahun, disamping usia ibu yang sudah bertambah

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
juga mengakibatkan persalinan berlangsung seperti kehamilan dan persalinan

pertama (Depkes RI, 2001).

4. Riwayat Persalinan Yang Lalu

Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan perdarahan, abortus,

partus prematuritas, kematian janin dalam kandungan, preeklamsia/eklamsia,

kehamilan muda, kelainan letak pada hamil tua, hamil dengan tumor (myoma

atau kista ovari) serta semua persalinan tidak normal yang pernah dialami ibu

merupakan risiko tinggi untuk persalinan berikutnya. Keadaan-keadaan tersebut

perlu diwaspadai karena kemungkinan ibu akan mendapatkan kesulitan dalam

kehamilan dan saat akan melahirkan (Pincus, 1998).

5. Umur Kehamilan (Maturitas)

Maturitas ialah kehamilan di hitung dari hari pertama periode menstruasi

normal terakhir sampai dengan terjadinya proses kelahiran janin.

Berdasarkan umur kehamilan, persalinan dapat dibedakan atas:

a). Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 22-36

minggu, janin dapat hidup tetapi premateur.

b). Normal (partus maturus) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu (antara

259 hari dan 280 hari), janin matur, berat badan diatas 2500 gram.

c. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau

lebih dari waktu partus normal atau pada kehamilam > 40 minggu.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Penelitian yang dilakukan Harjono Purwadhi di RSUP Dr. Sardjito

Yogyakarta tahun 1983 menemukan bahwa kematian perinatal yang tertinggi

terjadi pada umur kehamilan 32-36 minggu. Penelitian Soejoenoes tahun 1976 di

RS Dr. Kariadi Semarang mendapatkan bahwa jumlah kelahiran mati terbesar

pada umur kehamilan 28-38 minggu.

6. Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan hendaknya di mulai seawal mungkin yaitu segera

setelah tidak haid selama 2 bulan berturut-turut. Tujuannya jika ada kelainan

pada kehamilan, cukup waktu untuk menanganinya sebelum persalinan (Depkes

RI, 1998).

Pelayanan antenatal mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan

dengan faktor-faktor lain seperti umur dan paritas. Dengan melakukan

pemeriksaan kehamilan akan mempunyai kematian perinatal lebih rendah dari

pada ibu dengan umur atau paritas yang optimal (Mutiara, 1994).

Penelitian di Brazil yang di kutip oleh Mutiara (1994) melaporkan bahwa

jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan berhasil menurunkan AKP (Angka

Kematian Perinatal). AKP diantara wanita yang tidak melakukan pemeriksaan

kehamilan adalah 56,2 per 1000 kelahiran hidup, sementara untuk wanita yang

melaksanakan pemeriksaan kehamilan sebanyak 10 kali atau lebih mempunyai

AKP 26,2 per 1000 kelahiran hidup.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
7. Riwayat Penyakit Ibu

Kesehatan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Bila

ibu mempunyai penyakit yang berlangsung lama atau merugikan kehamilannya,

maka kesehatan dan kehidupan janin pun terancam (Depkes RI, 2001).

Wanita hamil dengan penyakit seperti diabetes, hipertensi, anemia

merupakan faktor yang memperbesar terjadinya kelahiran mati (Mochtar, 1995).

Diabetes melitus pada ibu dapat mengakibatkan bayi mempunyai berat

badan melebihi usia kehamilan (makrosomia), karena kadar gula darah dalam

tubuh ibu sangat tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin. Janin akan

tumbuh dengan cepat melebihi usia kehamilan. Diabetes melitus pada bayi juga

dapat mengakibatkan hipoglikemia, karena ketika di dalam tubuh ibu, janin

menyesuaikan jumlah insulin dengan keadaan tubuh ibunya tetapi setelah lahir

jumlah insulin yang telah terbentuk tidak sesuai dengan kadar gula darah dalam

tubuh bayi (kadar insulin yang berlebihan) sehingga bayi dapat mengalami

hipoglikemia, hipokalsemia dan immaturitas (Jumiarni, 1994).

Hipertensi pada ibu dapat mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat

dalam kandungan atau Intra Uterin Growth Retardation (IUGR) dan kelahiran

mati. Hal ini disebabkan karena hipertensi pada ibu akan menyebabkan

terjadinya perkapuran di dalam plasenta, sedangkan bayi memperoleh makanan

dan oksigen dari plasenta. Dengan adanya perkapuran pada plasenta, makanan

dan oksigen yang masuk ke janin berkurang (Jumiarni, 1994).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
8. Anemia Ibu

Anemia atau kurang darah adalah rendahnya kadar hemoglobin (Hb)

dalam sel-sel darah merah, yaitu kurang dari 11 gr%. Prevalensi anemia pada

ibu hamil pada tahun 1995 adalah 51,3% (SKRT 1995). Kegiatan pencegahan

dan penanggulangan masalah anemia secara luas telah dilaksanakan bagi semua

ibu hamil berupa pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan

dan bagi ibu hamil yang menderita anemia (Hb < 11 gr%) diberikan pengobatan

khusus di puskesmas atau rumah sakit (Depkes RI, 2002).

Tanda-tanda ibu menderita anemia seperti perasaan lesu, sering

mengantuk, selaput bagian dalam kelopak mata, bibir dan kuku pucat serta

penglihatan berkunang-kunang (Depkes RI, 1996).

Masalah yang ditemui adalah rendahnya cakupan pemberian tablet Fe

yaitu sekitar 64,4% pada tahun 1998, hal ini disebabkan tidak mencukupinya

persediaan tablet Fe saat pemeriksaan kehamilan (Depkes RI, 2002).

Kegiatan yang saat ini dilaksanakan adalah mengganti Fe dengan

multivitamin dan pemberiaan tablet Fe pada remaja putri sejak usia sekolah

menengah (Depkes RI, 2002).

Kehilangan fisiologis basal dari tubuh melalui kulit dan alat pencernaan

diperkirakan 14 mikrogram per kilogram berat badan per hari atau sekitar 0,8

miligram bagi wanita dewasa yang berat badannya 55 kilogram. Wanita selain

kehilangan zat besi melalui fisiologis basal juga terjadi kehilangan zat besi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
melalui proses menstruasi. Jumlah zat besi yang hilang meliputi 95% wanita

menstruasi adalah 1,6 miligram per hari (Martianto, 1992).

Wanita yang berat badannya 55 kilogram, memerlukan tambahan zat besi

untuk pembentukan hemoglobin sejumlah 500 miligram, untuk pembentukan

janin 290 miligram dan untuk plasentas 25 miligram serta untuk darah yang

keluar pada saat melahirkan diperkirakan total kebutuhan zat besi wanita hamil

selama sembilan bulan kehamilan adalah 1000 miligram (Martianto, 1992).

9. Jarak Rumah ke Tempat Pelayanan Kesehatan

Sasaran ibu hamil ini hendaknya digambarkan dalam peta wilayah dengan

kode yang diperbaharui setiap bulan, sehingga ada peta ibu hamil yang bersifat

dinamis. Peta ini perlu dilengkapi dengan lokasi ibu hamil berisiko (Depkes RI,

1996).

Pemanfaatan peta wilayah ini berguna untuk pembangunan fasilitas

kesehatan sehingga semua masyarakat dapat menjangkau pelayanan kesehatan

yang bersifat urgensi. Dengan adanya peta wilayah ibu hamil maka diharapkan

pelayanan kesehatan yang ada di desa dapat dijangkau dengan jarak kurang dari

3000 meter (Depkes RI, 1996)

10. Penyakit atau Kelainan Bawaan pada Janin

Morbiditas dan mortalitas perinatal mempunyai kaitan sangat erat dengan

kehidupan janin dalam kandungan dan waktu persalinan. Secara umum,

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
penyebab morbiditas dan mortalitas janin antara lain anoksia dan hipoksia,

infeksi, trauma lahir dan cacat bawaan.

11. Penyakit Infeksi

Infeksi terjadi melalui kuman yang menulari janin dengan cara kontak

langsung dengan daerah-daerah yang sudah dicemari kuman, misalnya:

a). Pada keadaan ketuban pecah dini, kuman dari vagina masuk ke dalam rongga

amnion.

b). Partus lama dan sering dilakukan pemeriksaan vagina yang tidak

memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik memungkinkan masuknya

kuman ke rongga vagina dan kemudian ke dalam rongga amnion.

c). Pada ibu yang menderita gonorea, kuman menulari janin pada saat janin

melalui jalan lahir.

2.4. Pencegahan Kelahiran Mati

2.4.1. Pelayanan Antenatal-Care Secara Rutin

Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil secara

berkala untuk menjaga kesehatan ibu dan janinnya. Hal ini meliputi pemeriksaan

kehamilan dan tindak lanjut terhadap penyimpangan yang ditemukan, pemberian

intervensi dasar (misalnya pemberian imunisasi TT dan teblet Fe), serta mendidik dan

memotivasi ibu agar dapat merawat dirinya selama hamil dan mempersiapkan

persalinannya.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Penerapan praktis pelayanan antenatal-care sering dipakai standard minimal

yaitu, terdiri atas (Depkes RI, 1996) :

1). Timbang berat badan dan (pengukuran) tinggi badan (suatu teknologi tepat guna)

yang dapat dimanfaatkan untuk menilai suatu status gizi ibu.

2). Pemeriksaan tekanan darah

3). Pemeriksaan Hb

4). Pemeriksaan tinggi fundus uteri

5). Pemberian tetanus toksoid (TT) dua kali selama hamil

6). Pemberian tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet selama hamil.

Antenatal-care merupakan kegiatan pemeriksaan ibu dan janin selama

kehamilan yang dilakukan secara teratur. Pemeriksaan antenatal pertama kali

biasanya dilakukan pada bulan pertama kehamilan, selanjutnya periksa ulang 1 kali

sebulan dan periksa ulang 1 kali setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan.

Jadwal pemeriksaan antenatal adalah sebagai berikut:

a. Trimester I dan II

1. Setiap bulan sekali

2. Di ambil data tentang laboratorium

3. Pemeriksaan Ultrasonografi

4. Nasehat Diet : - Empat sehat lima sempurna

- Protein ½ gr/Kg berat badan ditambah satu telor/hari

5. Observasi : - Penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan

- Komplikasi kehamilan

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
6. Rencana : - Pengobatan penyakit

- Menghindari terjadinya komplikasi kehamilan

- Imunisasi tetanus I

b. Trimester III

1. Setiap seminggu atau dua minggu sampai ada tanda kelahiran tiba

2. Evaluasi data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan

3. Diet empat sehat lima sempurna

4. Pemeriksaan ultrasonografi

5. Imunisasi tetanus II

6. Observasi : - Penyakit yang menyertai kehamilan

- Komplikasi hasil trimester ketiga

- Berbagai kelainan kehamilan trimester III

7. Nasehat dan petunjuk tentang:

- Tanda inpartu

- Kemana harus datang untuk melahirkan

Frekuensi kunjungan masing-masing ibu hamil berbeda-beda tergantung pada

keadaan masing-masing ibu hamil (keluhan-keluhan). Tujuan pengawasan antenatal

ialah menyiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental ibu hamil, serta menyelamatkan

ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas sehingga keadaan ibu pada

saat postpartum dalam keadaan sehat dan normal, tidak hanya fisik akan tetapi juga

mental. Ini berarti dalam antenatal-care harus diusahakan agar:

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
1). Adanya kelainan fisik atau psikologik harus ditemukan dini dan diobati

2). Wanita melahirkan tanpa kesulitan dan bayi yang dilahirkan sehat fisik maupun

mental (Depkes RI, 1990).

2.4.2. Pengawasan Terhadap Kehamilan Risiko Tinggi (High Risk

pregnancy)

Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dimana jiwa dan kesehatan ibu atau

janin dapat terancam. Penentuan kehamilan dengan risiko tinggi pada ibu maupun

janin dapat dilakukan dengan cara:

a. Melakukan anamnesa yang intensif (baik) yakni anamnese identitas (istri dan

suami), anamnese umum (tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur,

perkawinan, tentang haid, tentang riwayat kehamilan yang lalu dan

sebagainya)

b. Melakukan pemeriksaan fisik

c. Melakukan pemeriksaan penunjang (teknik diagnosa gawat janin), seperti:

1) Pemeriksaan laboratorium, misalnya pemeriksaan urine dan darah

sekurang-kurangnya 2 kali selama kehamilan (pada permulaan dan akhir

kehamilan)

2) Pemeriksaan rontgenologi

Pemeriksaan rontgenologi di pakai sebagai penunjang diagnosa bila

terdapat keragu-raguan pada pemeriksaan obstetrik. Pemeriksaan ini

boleh dilakukan pada kehamilan 4-5 bulan. Pemeriksaan rontgenologi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
dapat memberikan informasi tentang keadaan janin dan kandungan (letak

janin, posisi janin dan tanda-tanda kematian janin dalam kandungan)

3) Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

USG tidak berbahaya bagi janin, jadi boleh dipergunakan pada kehamilan

muda. Pemeriksaan USG dapat mengetahui letak plasenta, jumlah air

ketuban, taksiran berat badan janin, gerakan dan bunyi jantung janin

(Depkes RI, 1990)

2.4.3. Mewujudkan Pelayanan Kebidanan Yang Baik Dan Bermutu

Menurut Prawirohardjo hal-hal di bawah ini sangat perlu menjadi perhatian

untuk dikembangkan seluas-luasnya dalam membina pelayanan kebidanan yang baik

dan bermutu memecahkan masalah kematian perinatal, antara lain:

a. Semua ibu hamil menggunakan kesempatan untuk menerima pengawasan

serta pertolongan kehamilan, persalinan dan nifas.

b. Walaupun tidak semua persalinan berlangsung di rumah sakit, namun harus

ada kemungkinan bahwa ibu tersebut dapat menerima perawatan segera di

rumah sakit jika terjadi komplikasi.

c. Pemberian prioritas bersalin di rumah sakit kepada:

1. Wanita dengan komplikasi obstetrik: panggul sempit, preeklamsia dan

eklamsia, kelainan letak, kehamilan ganda dan lain sebagainya.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
2. Wanita dengan riwayat obstetrik yang buruk: perdarahan postpartum,

kematian janin sebelum lahir, dan sebagainya pada kehamilan

sebelumnya.

3. Wanita dengan kehamilan pertama, kelima atau lebih

4. Wanita dengan umur di bawah 20 tahun atau 35 tahun ke atas.

2.4.4. Pengawasan Ibu dan Bayi

Pengawasan dan pengenalan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan

nifas adalah tanda/gejala yang menunjukkan ibu atau bayi yang dikandungnya dalam

keadaan bahaya. Bila ada tanda bahaya, ibu perlu mendapatkan pertolongan segera di

rumah sakit (Depkes RI,2001).

Kebanyakan kehamilan berakhir dengan persalinan dan masa nifas normal.

Namun, 15 sampai 20 diantara 100.000 ibu hamil mengalami gangguan pada

kehamilan, persalinan atau nifas (Depkes RI, 2001).

Gangguan tersebut dapat terjadi secara mendadak, dan biasanya tidak dapat

diperkirakan sebelumnya. Karena itu, tiap ibu hamil, keluarga dan masyarakat perlu

mengetahui dan mengenali tanda bahaya. Tujuannya, agar dapat segera mencari

pertolongan ke bidan, dokter atau langsung ke rumah sakit untuk menyelamatkan

jiwa ibu dan bayi yang dikandungnya (janin) (Depkes RI, 2001).

Ada 10 tanda bahaya yang perlu dikenali dalam pengawasan ibu dan bayi

pada saat kehamilan yaitu :

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
1. Ibu tidak mau makan dan muntah terus

2. Berat badan ibu hamil tidak naik

3. Perdarahan

4. Bengkak tangan/wajah, pusing, dan dapat diikuti kejang

5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada

6. Kelainan letak janin dalam rahim

7. Ketuban pecah sebelum waktunya (ketuban pecah dini)

8. Persalinan lama

9. Penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan

10. Demam tinggi pada masa nifas (Depkes RI, 2001).

Pengenalan tanda bahwa tersebut di atas maka perlu dilakukan pengawasan

seperti tersebut dibawah ini:

a. Pengawasan terhadap terjadinya infeksi

b. Pengawasan terhadap terjadinya trauma kelahiran.

Upaya peningkatan mutu pelayanan dan pengawasan diperlukan suatu

manajemen yang baik dalam penanganan kelahiran mati. Untuk terlaksananya

kegiatan pengawasan kelahiran mati perlu di dukung oleh sumber daya manusia yang

profesional dan sistem pencatatan dan pelaporan (Depkes RI, 2003).

2.5. Manajemen Puskesmas

Pelayanan yang baik maka dibutuhkan berbagai sumber daya yang mengatur

proses manajemen secara baik. Gerry Terry dikutip dari Hellriegel dan Slocum, 1992;

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Koontz dan Weirich, 1992; Winardi, 1990 dan juga pada dasarnya menyatakan bahwa

manajemen terdiri dari planning, organizing, actuating dan controlling (POAC).

Luther Gullick (1937) menyebutkan proses usaha dalam manajemen yang meliputi

planning, organizing, staffing, directing, coordinating, operating, reporting,

budgeting dan supervising (POSDCORBS). Stoner di kutip dari Hellriegel dan

Slocum, 1992; Koontz dan Weirich, 1992; Winardi, 1990 memberikan definisi bahwa

manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi

usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber organisasi lainnya untuk

mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Yoga, 2003).

Pelaksanaan manajemen puskesmas perlu memperhatikan upaya manajemen

kebutuhan (demand) yang ditandai dengan skala prioritas dan penyediaan pelayanan

waktu yang tepat. Menejemen puskesmas memiliki peran untuk melakukan

perencanaan pengembangan dengan mengidentifikasi kesempatan yang ada,

mengevaluasi manfaat bagi pelayanan pasien, penghitungan laba-rugi pengembangan

dan penilaian terhadap faktor lingkungan yang terkait (Yoga, 2003).

Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang sesuai (berhubungan

dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, dapat memberikan

hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan mempunyai kemampuan untuk

menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan

gizi (Wijono, 1999)

Avedis Donobedian (1980) dalam bukunya The Definition of Quality and

Approaches to Its Assessment The Definition of Quality and Approaches to Its

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Assessment dalam Wijono (1999) mengatakan bahwa mutu adalah suatu sifat yang

dimiliki dan merupakan suatu keputusan terhadap unit-unit pelayanan tertentu dan

bahwa pelayanan dibagi ke dalam dua bagian yaitu teknik dan interpersonal. Mutu

pelayanan kesehatan terdiri dari aplikasi ilmu kedokteran (medical science) dan

teknologi yang memaksimalkan manfaatnya terhadap kesehatan, tanpa menambah

risikonya. Oleh karenanya, derajat mutu, pelayanan yang disediakan diharapkan

memberikan keseimbangan yang paling baik antara risiko dan manfaat (Wijono,

1999).

Mutu pelayanan kesehatan adalah hasil akhir (outcome) dari interaksi dan

ketergantungan antara berbagai aspek, komponen atau unsur organisasi pelayanan

kesehatan sebagai suatu sistem. Menurut Prof. A. Donabedian, ada tiga pendekatan

evaluasi (penilaian) mutu yaitu dari struktur input, proses, output dan outcome

(Wijono, 1999).

a. Input

Struktur input meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan, organisasi

dan manajemen, keuangan, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya di fasilitas

kesehatan.

b. Proses

Proses adalah semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh

tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan

pasien. Dalam pengertian ini mencakup diagnosa, rencana pengobatan, indikasi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
tindakan, prosedur dan penanganan kasus. Untuk mencapai hasil cakupan kegiatan

pokok, puskesmas melakukan rangkaian kegiatan proses sebagai berikut:

1. Pengorganisasian tenaga yang ada

2. Lokakarya mini puskesmas

3. Pemantauan wilayah setempat (PWS)

4. Penyediaan peralatan dan bahan-bahan tepat waktu

5. Bimbingan teknis petugas pelaksana sesuai prosedur tetap

6. Penyuluhan kesehatan pada masyarakat

7. Pelayanan yang ramah dan bermutu

c. Output

Proses penyusunan kegiatan yang sistematis dan terencana maka dapat

mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuan

yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan dengan sumber daya yang ada supaya

lebih efisien dengan memperhatikan keadaan lingkungan sosial, budaya, fisik dan

biologik.

Output yang dihasilkan dapat dirumuskan kekurangan atau kelemahan yang

ada pada input dan proses, di samping juga melihat faktor lingkungan. Walaupun

lingkungan sendiri tidak dapat segera diperbaiki dengan kegiatan puskesmas, tetapi

pengetahuan tentang keadaan lingkungan dapat membantu merumuskan strategi atau

cara pendekatan dalam melakukan kegiatan agar dapat berhasil.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
d. Outcome

Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan

profesional terhadap pasien. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan

kepuasan baik positif maupun negatif (Wijono, 1999).

Penilaian terhadap outcome adalah evaluasi hasil akhir dari kesehatan atau

kepuasan. Evaluasi ini dalam banyak hal memberikan bukti atau fakta akhir dimana

pelayanan asuhan baik, buruk, atau diabaikan yang disebabkan karena keadaan sosial

yang mendasar dalam arti luas dan kesepakatan profesi dimana hasil-hasilnya timbul,

paling sedikit terhadap derajat pelayanan asuhan yang semestinya (Wijono, 1999).

Terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan

masyarakat maka puskesmas harus di tunjang oleh manajemen puskesmas yang baik.

Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas membentuk fungsi-

fungsi manajemen. Ada tiga fungsi manajemen puskesmas yaitu perencanaan,

pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban. Semua

fungsi tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan (Depkes RI,

2004)

Puskesmas dalam pelayanan ibu hamil untuk mencapai sasaran dan target

yang diharapkan perlu dilaksanakan pengelolaan upaya penjaringan ibu hamil melalui

pemeriksaan kesehatan K1 dan K4 melalui instrumen yang ada dipuskesmas yaitu

perencanaan tingkat puskesmas, minilokakarya, dan stratifikasi puskesmas (Depkes

RI, 2000).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Pelayanan kesehatan perinatal di wilayah kerja Puskesmas lebih diutamakan

kepada upaya peningkatan, pencegahan dan deteksi dini risiko tinggi pada masa

perinatal serta penatalaksanaannya pada tingkat pelayanan kesehatan dasar yang

sesuai dengan batas kewenangan petugas kesehatan dalam rangka mendukung upaya

penurunan kematian bayi terutama pada masa neonatal (Depkes RI, 1993).

Contoh kasus:

Kegiatan pelayanan ibu hamil kunjungan pertama (K1), maka diperhitungkan

bahwa K1 diupayakan mencapai 85% (output).

Input

- Tenaga Kesehatan

- Sarana dan prasarana

- Biaya

Proses

- Penyuluhan kesehatan setiap kali dalam pembinaan posyandu

- Pembinaan kader posyandu oleh bidan di desa

- Menambah waktu buka puskesmas pembantu

Output

- Kegiatan yang dilakukan pada proses dan input maka diharapkan kunjungan ibu

hamil (K1) dapat mencapai 85%.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Outcome

- Pelayanan kunjungan ibu hamil yang mencapai 85% maka deteksi dini ibu hamil

risiko tinggi dapat segera ditangani sebagai pencegahan terjadinya kematian ibu dan

bayi.

Pelayanan kesehatan perinatal masih belum mendapat perhatian sepenuhnya dan

belum diupayakan secara komprehensif. Hal ini terlihat dari:

1. Kurangnya jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan perinatal yang

menyebabkan belum terjaminnya kesejahteraan janin dan keselamatan bayi baru

lahir serta belum memadainya pelaksanaan perawatan pada bayi baru lahir.

2. Terbatasnya kemampuan dan keterampilan petugas dalam pelayanan kesehatan

perinatal termasuk penatalaksanaan kegawat-daruratan.

3. Mekanisme rujukan medis pada saat ini masih belum mendukung upaya

menurunkan kematian perinatal di suatu wilayah oleh karena banyaknya faktor

teknis dan non teknis yang berada di luar batas kemampuan petugas kesehatan.

4. Masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan bayi yang

harus di mulai sejak janin dalam kandungan hingga minggu pertama kehidupan

bayi.

Hal ini terlihat dari kunjungan antenatal rata-rata kurang dari 4 kali, masih

banyak persalinan yang di tolong oleh dukun bayi, masih banyak perawatan bayi

baru lahir tidak higienes, masih banyak ibu-ibu yang memberikan makanan lain

selain air susu kepada bayi baru lahir dan masih kurangnya penyuluhan mengenai

kesehatan bayi baru lahir kepada keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 1993).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Hal-hal yang perlu diperhatikan berdasarkan keadaan tersebut diatas maka

perlu perencanaan pelayanan kesehatan perinatal di puskesmas sebagai berikut:

1. Menentukan target sasaran.

Target sasaran ditentukan oleh petugas puskesmas bersama-sama dengan

kepala desa atau kader posyandu. Target pelayanan kesehatan perinatal

disesuaikan dengan target ibu hamil, pertolongan persalinan dan bayi baru lahir

di wilayah tersebut. Target di buat per RT/RW, per posyandu atau per desa

disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

2. Menyiapkan sarana dan peralatan.

Sarana dan peralatan bagi penyelenggaraan pelayanan kesehatan perinatal

disiapkan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar di tingkat

keluarga, masyarakat, pondok bersalin, puskesmas dan puskesmas dengan

perawatan. Persiapan ini meliputi antara lain, menyiapkan kamar/ruangan untuk

pelayanan antenatal dan tempat bersalin yang bersih dengan sistem penerangan

yang memadai, peralatan pertolongan persalinan yang steril, peralatan untuk

perawatan tali pusat di rumah, sarana transportasi untuk persiapan rujukan dan

sebagainya. Persiapan dilakukan melalui pendekatan kepada keluarga dan

masyarakat setempat.

Sarana dan peralatan yang harus tersedia di pusat pelayanan kesehatan

masyarakat seperti puskesmas, polindes dan pustu seperti tercantum dalam

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 dapat di

lihat secara rinci pada tabel 2.1 berikut ini.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Tabel 2.1
Daftar Peralatan Untuk Pertolongan Persalinan

No Jenis Alat Tersedia Berfungsi


1. Tensi meter 3 3
2. Stetoskop binoculer 3 3
3. Monoral (alat pendengar denyut jantung janin 3 3
dalam kandungan)
4. Timbangan dewasa 3 3
5. Timbangan bayi 3 3
6. Pengukur panjang bayi 3 3
7. Termometer 3 3
8. Ambu bag dengan masker resusitasi (ibu dan bayi) 3 3
9. Penghisap lendir 3 3
10. Lampu/sorot 3 3
11. Sterilisator 3 3
12. Alat pemeriksa Hb (sahli) 3 3
13. Sarung tangan untuk mencuci alat 3 3
14. Masker 3 3
15. Pengamanan mata 3 3
16. Forceps 3 3
17. Gunting tali pusat 3 3
18. Gunting benang 3 3
19. Gunting episitomi 3 3
20. Kateter karet/metal 3 3
21. Pincet anatomi 3 3
22. Pincet chirurgial 3 3
23. Vagina spekulum 3 3
24. Pengikat tali pusat 3 3
25. Tampon vagina 3 3
26. Jarum kulit dan otot 3 3
27. Sarung tangan 3 3
28. Benang sutera dan catgut 3 3
29. Kapas 3 3

Keterangan :
3 : Tersedia dan Berfungsi
- : Tidak tersedia dan tidak berfungsi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Peralatan proses persalinan yang seharusnya tersedia di puskesmas,

pustu, maupun polindes sebanyak 29 jenis peralatan. Selain peralatan

tersebut, perlu juga disediakan formulir persalinan. Untuk lebih jelas

formulir yang harus tersedia dapat di lihat pada tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2
Formulir Yang Disediakan Dalam Proses Persalinan

No Jenis Formulir yang Disediakan Tersedia


1. Formulir ANC 3
2. Formulir Partograp 3
3. Formulir Persalinan/Nifas dan KB 3
4. Buku register: ibu, bayi, anak, KB 3
5. KMS ibu hamil 3
6. Formulir laporan 3
7. Formulir rujukan 3

Catatan :
ANC : Antenatal-Care
KB : Keluarga Berencana
KMS : Kartu Menuju Sehat

3. Menyiapkan tenaga yang mampu dan terampil.

Kemampuan petugas kesehatan terutama bidan dan paramedis

puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan perinatal termasuk

penatalaksanaan kegawat-daruratan dan rujukan perinatal yang sesuai

dengan kewenangannya dapat ditingkatkan dengan pelatihan, pembinaan

dan konsultasi berjenjang dengan dokter puskesmas/dokter ahli rumah

sakit, rujukan di samping pembinaan dukun bayi terlatih.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
4. Menyiapkan kemandirian keluarga.

Peran serta masyarakat dan kemandirian keluarga dalam mendukung

upaya keamanan persalinan dan keselamatan bayi baru lahir dapat

ditingkatkan melalui penyuluhan kesehatan yang intensif antara lain

penyuluhan mengenai tanda-tanda risiko tinggi pada ibu hamil dan bayi

baru lahir berikut pencegahannya, tempat yang tepat bagi keluarga untuk

mencari pertolongan kesehatan, cara merawat bayi baru lahir, memberikan

ASI kepada bayi segera setelah lahir dan sebagainya.

5. Manfaatkan dan mendayagunakan potensi dan sumber daya masyarakat

yang mendukung terselenggaranya upaya keamanan persalinan dan

keselamatan bayi baru lahir, misalnya dukungan dana sehat, melatih

dukun beranak, dan lain-lain

6. Membuat rencana pembinaan dan pengawasan serta rencana tindak lanjut

berdasarkan pada skala prioritas. Dalam menyusun rencana ini termasuk

pula rencana kegiatan pembinaan dan supervisi dukun bayi, pembinaan

ibu-ibu/kelompok peminat KIA, kader dan posyandu (Depkes RI, 1993).

2.6. Landasan Teori

MacMahon dan Pugh (1970) dalam Murti (2003) mengemukakan bahwa

setiap efek atau penyakit tak pernah tergantung kepada sebuah faktor penyebab, tetapi

tergantung kepada sejumlah faktor dalam rangkaian kausalitas sebelumnya. Faktor-

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
faktor yang memudahkan terjadinya efek disebut promotor sedangkan yang

menghambat terjadinya efek disebut inhibitor.

Kelahiran mati atau still birth merupakan salah satu bagian dari kematian

perinatal yang menjadi indikator kesehatan suatu daerah/bangsa. Kelahiran mati

dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pelayanan antenatal-care (K1, K4), paritas, riwayat

kehamilan, lingkungan, status gizi, penyakit infeksi, pendidikan, pengetahuan, dan faktor

lain yang menyebabkan terjadinya kelahiran mati.

Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem kesehatan untuk cepat

tanggap juga memberi pengaruh terhadap terjadinya kelahiran mati. Kebijakan

terhadap sarana dan prasarana dalam upaya peningkatan mutu kesehatan ibu

hamil serta kemampuan deteksi dini terhadap terjadinya kelainan kehamilan

merupakan faktor penting dalam deteksi dini kelahiran mati (Sarimawar, 2004).

Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan antenatal atau

menyelesaikan masalah-masalah mutu dengan program jaminan mutu dilakukan

pendekatan sistem artinya memperhatikan proses pelayanan antenatal, faktor ibu

dan lingkungan.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
2.7 Kerangka Konsep

Berdasarkan landasaan teori dan studi kepustakaan maka peneliti membuat

suatu kerangka konsep penelitian seperti dibawah ini.


Antenatal-Care
1. Kunjungan K1
2. Kunjungan K4
HIDUP
Faktor Ibu
1. Paritas
2. Anemia Lahir
3. Riwayat penyakit ibu
4. Riwayat Persalinan
Pelayanan Kesehatan
1. Fasilitas Pelayanan MATI
kesehatan
2. Penolong persalinan
3. Jarak rumah ke tempat
persalinan

2.8 Jawaban Penelitian

1). Ada hubungan kunjungan K1 ibu hamil dengan kelahiran mati

2). Ada hubungan kunjungan K4 ibu hamil dengan kelahiran mati

3). Ada hubungan paritas dengan kelahiran mati

4). Ada hubungan anemia ibu dengan kelahiran mati

5). Ada hubungan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati

6). Ada hubungan riwayat persalinan dengan kelahiran mati

7). Ada hubungan fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran mati

8). Ada hubungan penolong persalinan dengan kelahiran mati

9). Ada hubungan jarak rumah ke tempat persalinan dengan kelahiran mati

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif analitik. Rancangan

penelitian yang digunakan adalah, studi analitik dengan desain case control study

dengan memilih kasus kelahiran mati dan kontrol kelahiran hidup. Peneliti kemudian

melakukan wawancara untuk mengetahui paparan yang dialami subjek pada waktu

lalu (retrospektip) melalui alat ukur kuesioner.

3.2. Tempat dan Waktu

3.2.1. Tempat

Penelitian dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara karena berdasarkan

survei awal yang dilakukan jumlah kelahiran mati meningkat selama tahun 2005-

2006.

3.2.2. Waktu

Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari – September 2007

3.3. Populasi dan sampel

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian adalah ibu melahirkan di Kabupaten Tapanuli Utara

tahun 2005 - 2006 yang terdiri dari kasus yaitu, ibu yang mengalami kelahiran mati

dan kontrol adalah ibu dengan janin kelahiran hidup.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
3.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah merupakan total kasus yaitu 67

orang ibu yang bayinya mengalami kelahiran mati dan kontrol sebanyak 67

orang ibu yang bayinya kelahiran hidup dengan perbandingan kasus : kontrol

adalah 1: 1 kemudian dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner

terstruktur. Pengambilan sampel dilakukan dengan kriteria inklusi yaitu

responden bersedia untuk diwawancarai, usia kehamilan ibu 28 minggu dan

berat janin lebih dari atau sama dengan 1000 gram, sedangkan kriteria eksklusi

jika responden meninggal atau pindah, usia kehamilan ibu kurang dari 28

minggu, dan berat badan janin lahir kurang dari 1000 gram. Sampel dalam

penelitian ini dengan melakukan matching pendidikan dan pekerjaan .

Matching dilakukan untuk mengurangi bias penelitian. Matching

pendidikan diketahui karena pendidikan memiliki pengaruh terhadap terjadinya

kelahiran mati, dalam hal ini pendidikan berpengaruh terhadap tingkat

pengetahuan ibu dalam merawat kehamilan, sehingga ibu mengetahui

pentingnya perawatan masa kehamilan dan memeriksakan umur kehamilan

untuk mendeteksi secara dini jika ada masalah dalam perkembangan janin.

Matching pekerjaan karena ibu yang melakukan pekerjaan yang berat

dapat mengganggu perkembangan janin yang dapat menimbulkan kelainan

pada janin dan rahim, sehingga dapat menyebabkan kelahiran mati.

Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan matching terhadap pendidikan dan

pekerjaan.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan kasus diambil berdasarkan buku kohort ibu yang ada di

puskesmas, kemudian dilakukan kunjungan dan melakukan wawancara dengan

menggunakan alat kuesioner yang telah disusun secara sistematis.

Kontrol diambil dengan memperhatikan matching yang dibuat pada

penelitian ini yaitu, pendidikan dan pekerjaan ibu. Kontrol adalah ibu hamil

yang berada pada satu wilayah kerja puskesmas dimana terdapat ibu yang

bayinya kelahiran mati.

3.4. Manajemen Data

3.4.1. Data Primer

Pengumpulan data langsung dari hasil wawancara terhadap responden yaitu:

a) kunjungan K1, b) kunjungan K4, c) paritas, d) riwayat penyakit ibu, e) riwayat

persalinan, f) fasilitas pelayanan kesehatan, g) penolong persalinan, h) jarak rumah ke

tempat persalinan.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari formulir ANC, formulir partograp, formulir

persalinan/nifas dan KB, buku register ibu, bayi, anak, KB, catatan hasil pemeriksaan

Hb dan formulir laporan puskesmas dan rumah sakit serta data-data yang ada di dinas

kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
3.5. Definisi Operasional

a) Lahir adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim ibu dalam keadaan hidup atau

mati.

b) Kelahiran hidup adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim ibu dan menunjukkan

tanda-tanda kehidupan tanpa memandang usia kehamilan

c) Kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim ibu dalam keadaan

mati pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih.

d) Kunjungan K1adalah kunjungan pertama kali pemeriksaan kehamilan ibu oleh

petugas kesehatan

e) Kunjungan K4 adalah kumjungan empat kali pemeriksaan kehamilan ibu oleh

petugas kesehatan

f) Paritas merupakan banyaknya persalinan yang terjadi dalam keadaan hidup

ataupun mati

g) Anemia adalah kadar Hb dalam darah kurang dari 11gr% (Depkes RI, 2002)

h) Riwayat penyakit ibu adalah ibu yang menderita salah satu penyakit seperti

diabetes, hipertensi dan anemia yang mengakibatkan terganggunya

perkembangan janin dalam rahim ibu.

i) Jarak rumah ke tempat persalinan adalah jarak rumah ibu ke tempat bersalin

dalam satuan meter.

j) Riwayat persalinan adalah cara ibu melahirkan di masa lalu seperti operasi sesar,

abortus, persalinan sungsang, prematuritas.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
k) Fasilitas pelayanan kesehatan yaitu peralatan yang ada di puskesmas maupun di

polindes yang digunakan untuk menolong proses persalinan.

l) Penolong persalinan adalah orang yang menolong ibu bersalin selama proses

persalinan

3.6. Aspek Pengukuran

a). Lahir merupakan kejadian keluarnya hasil konsepsi yang di ukur menggunakan

skala nominal :

1. Lahir Mati

0. Lahir Hidup

b). Kunjungan K1 ibu hamil merupakan pemeriksaan pertama kali kehamilan oleh

tenaga kesehatan yang di ukur menggunakan skala nominal :

1. Tidak ada

0. Ya

c). Kunjungan K4 ibu hamil merupakan kunjungan pemeriksaan kehamilan empat

kali oleh tenaga kesehatan yang di ukur menggunakan skala nominal :

1. Tidak ada

0. Ya

d). Paritas merupakan banyaknya kelahiran yang terjadi yang di ukur menggunakan

skala nominal :

1. Risiko Tinggi, jika paritas 1 atau >3 kali

0. Tidak Risiko Tinggi, jika paritas 2 – 3

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
e). Anemia merupakan rendahnya kadar Hb dalam sel-sel darah merah yang di ukur

menggunakan skala nominal (Depkes RI, 2002):

1. Anemia, jika kadar Hb dalam sel-sel darah merah < 11 mg%

0. Tidak Anemia, jika kadar Hb dalam sel-sel darah merah ≥ 11 mg%

f). Riwayat penyakit ibu adalah ibu yang menderita salah satu penyakit diabetes,

hipertensi dan anemia yang di ukur menggunakan skala ordinal yang dibedakan

atas:

1. Risiko tinggi jika ibu menderita salah satu penyakit seperti hipertensi,

diabetes, dan anemia.

0. Tidak risiko tinggi jika ibu tidak ada menderita penyakit hipertensi, diabetes

dan anemi.

g). Jarak rumah ke tempat persalinan adalah jarak rumah ibu ke tempat bersalin

dibedakan atas jarak (Depkes RI, 1996) :

1. Jauh jika berjarak > 3000 meter

0. Dekat jika berjarak ≤ 3000 meter

h). Riwayat persalinan merupakan cara kehamilan ibu di masa lalu yang di ukur

menggunakan skala ordinal yang dibedakan atas:

1. Risiko tinggi jika ibu pernah mengalami operasi, abortus, kelainan letak

janin.

0. Tidak risiko tinggi jika ibu tidak pernah mengalami operasi, abortus,

kelainan letak janin.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
i). Fasilitas pelayanan kesehatan yaitu peralatan yang ada di puskesmas maupun di

polindes yang digunakan untuk menolong proses persalinan berdasarkan

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 yang di ukur

menggunakan skala ordinal yang dibedakan atas:

1. Tidak lengkap jika peralatan persalinan di puskesmas maupun polindes ada

tetapi tidak berfungsi

0. Lengkap jika peralatan yang butuhkan untuk proses persalinan di

puskesmas maupun di polindes berfungsi

j). Penolong persalinan adalah orang yang menolong ibu bersalin selama proses

persalinan yang di ukur menggunakan skala ordinal yang dibedakan atas:

1. Bukan petugas kesehatan jika yang mengeluarkan hasil konsepsi adalah

dukun, dukun terlatih, shinse dan masyarakat.

0. Petugas kesehatan jika yang mengeluarkan hasil konsepsi adalah bidan,

perawat, dokter atau tenaga medis profesional lainnya.

3.7. Rancangan Analisis Data

3.7.1. Analisis Univariat

Untuk melihat distribusi variabel independen meliputi antenatal-care, faktor

ibu dan pelayanan persalinan yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi.

3.7.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan variabel independen

kunjungan K1, kunjungan K4, paritas, anemia ibu, riwayat penyakit ibu, riwayat

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
persalinan ibu, fasilitas pelayanan kesehatan, penolong persalinan, dan jarak rumah

ke tempat persalinan dengan variabel dependen (kelahiran mati) dengan

menggunakan uji Chi-Square, pada tingkat kepercayaan 95 % (α=0,05) (Murti, 1997)

3.7.3. Analisis Multivariat

Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel bebas

dengan kelahiran mati yang mempunyai kemaknaan statistik pada analisis bivariat,

melalui analisis regresi logistik berganda (Multiple Logistic Regression) untuk

mencari faktor risiko yang paling dominan terhadap terjadinya kelahiran mati.

Analisis multivariat dilakukan untuk beberapa variabel yang secara bersama-sama

berhubungan dengan kelahiran mati. Tahapan analisis multivariat yang akan

dilakukan adalah sebagai berikut (Murti, 1997):

1. Melakukan analisis pada model univariat pada setiap variabel dengan tujuan

untuk mengestimasi peranan masing-masing variabel.

2. Melakukan pemilahan variabel yang potensial untuk dimasukkan dalam

model. Variabel yang dipilih atau yang dianggap signifikan adalah variabel

yang mempunyai nilai p kurang dari 0,05 (p<0,05)

3. Penentuan faktor-faktor penyebab kelahiran mati, variabel yang akan

dimasukkan adalah variabel yang mempunyai nilai p kurang dari 0,05.

Dalam penelitian ini ada 9 (sembilan) variabel yang diduga berhubungan

dengan kelahiran mati yaitu kunjungan K1, kunjungan K4, paritas, anemia, riwayat

penyakit ibu, riwayat persalinan ibu, fasilitas pelayanan kesehatan, penolong

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
persalinan, dan jarak rumah ke tempat persalinan terhadap kelahiran mati di

Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2005-2006.

Untuk melakukan analisis regresi logistik ini menggunakan rumus :

Ln = Bo + B1X1 + ……..+ BpXp = Bo + ∑ B1X1

perkiraan probabilitas jadi kasus


1
ln P=
+ B1 X 1 + B2 X 2 + B3 X 3 + B4 X 4 + B5 X 5 +......+ B13 X 13 )
(
− 0B
1+ e

dimana : p = adalah probabilitas untuk terjadi kelahiran mati

a = adalah konstanta, dan

bi = koefesien regresi yang ditaksir menggunakan metode maksimum

(maksimum likehood methode).

Xi = variabel independen (prediktor)

Odds Kasus

P 1 B0 + B1 X 1 + B2 X 2 + B3 X 3 )
ln = + B1 X 1 + B2 X 2 + B3 X 3 )
=e
1 − P 1+ e − 0
( B

= e B1 atau Exp ( B1 )

dimana : X1 = Kunjungan K1 X7 = Fasilitas Pelayanan Kesehatan

X2 = Kunjungan K4 X8 = Penolong Persalinan

X3 = Paritas X9 = Jarak Rumah Ke Tempat Persalinan

X4 = Anemia

X5 = Riwayat penyakit ibu

X6 = Riwayat Persalinan Ibu

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Tapanuli Utara

a. Geografis

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi

Sumatera Utara yang berada pada ketinggian antara 300 – 1.500 meter di

atas permukaan laut. Topografi Kabupaten Tapanuli Utara beraneka ragam

yaitu tergolong datar 3,15%, landai 26,86%, miring 25,62% dan terjal

44,35%.

Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 10200 – 20410 Lintang

Utara dan 980050 – 990160 Bujur Timur. Kabupaten Tapanuli Utara

berbatasan langsung dengan 5 (lima) kabupaten yaitu :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Humbang

Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan

Luas wilayah Kabupaten Tapanuli Utara sekitar 3.800,31 km2 yang

terdiri dari luas daratan 3.793,71 km2 dan luas perairan Danau Toba 6,60

km2, terdiri dari 15 kecamatan dan 243 desa/kelurahan.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
b. Sosiodemografi

Hasil pendaftaran pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan,

penduduk Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2006 sebanyak 262.642 jiwa

dengan uraian laki-laki sebanyak 130.429 jiwa dan perempuan sebanyak

132.213 jiwa.

Tingkat pendidikan di Kabupaten Tapanuli Utara berada pada tingkat

menengah yaitu lulusan SLTA sebanyak 21,38%. Secara rinci tingkat

pendidikan di Kabupaten Tapanuli Utara diuraikan sebagai berikut, SD

sebanyak 10,79%, SLTP sebanyak 16,82%, SLTA sebanyak 21,38%, D-III

sebanyak 4,01% dan D-IV/S1 sebanyak 2,81%.

c. Tenaga Kesehatan

Jumlah tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas, puskesmas

pembantu, polindes, rumah sakit, institusi pendidikan dan sarana kesehatan

lainnya di Kabupaten Tapanuli Utara berjumlah 649 orang.

Upaya peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak di daerah

pedesaan ditempatkan bidan di desa. Jumlah perawat berjumlah 248 orang,

bidan sebanyak 312 orang. Tenaga gizi yang bekerja di puskesmas berjumlah

12 orang, di rumah sakit 9 orang. Jumlah dokter spesialis di kabupaten

Tapanuli Utara sebanyak 7 orang, dokter umum 51 orang, dokter gigi

sebanyak 10 orang.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
4.2. Analisis Univariat

Responden dalam penelitian ini berjumlah 134 orang yang terdiri dari 67

responden kelompok kasus dan 67 responden kelompok kontrol. Karakteristik

responden berdasarkan sosiodemografi (pendidikan dan pekerjaan) dapat di lihat pada

tabel 4.1 berikut ini.

Tabel. 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Dan Pekerjaan
Di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2007

Kelahiran Mati
Sosiodemografi Kasus Kontrol
N % n %
Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah 4 6 4 6
SD 16 23,9 16 23,9
SMP 25 37,3 25 37,3
SMA 21 31,3 21 31,3
D-3 1 1,5 1 1,5
Total 67 100 67 100
Pekerjaan
Petani 37 55,2 37 55,2
Pedagang 11 16,4 11 16,4
PNS 2 3 2 3
Tidak Bekerja 17 25,4 17 25,4
Total 67 100 67 100

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa distribusi responden terbanyak berdasarkan

pendidikan adalah SMP yaitu sebanyak 25 responden (37,3%), SD sebanyak 16

responden (23,9%), SMA sebanyak 21 responden (31.3%), dan terendah adalah

responden dengan tingkat pendidikan D-3 sebanyak 1 orang (1,5%).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Pada tabel 4.1 dapat di lihat bahwa responden terbanyak berdasarkan

pekerjaan adalah bekerja sebagai petani yaitu sebanyak 37 orang (55,2%), pedagang

sebanyak 11 orang (16,4%), PNS sebanyak 2 orang (3%) dan responden yang tidak

bekerja sebanyak 17 orang (25,4%)

4.3. Analisis Bivariat

Analisis bivariat berguna untuk mengetahui kemaknaan hubungan antara

faktor risiko (variabel independent) dengan kelahiran mati (variabel dependent) di

Kabupaten Tapanuli Utara dilakukan dengan uji Chi-Square dengan nilai α = 0,05.

a. Hubungan Variabel Antenatal-Care Dengan Kelahiran Mati

Tabel 4.2
Tabulasi Silang Antara Variabel Antenatal-Care Dengan Variabel
Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2007

Kelahiran Mati
X2 / OR /
Antenatal-Care Kasus Kontrol
(p Value) (CI 95%)
n % n %
Kunjungan K-1
Tidak Ada 46 68,7 27 40,3 10,863 3,245
Ya 21 31,3 40 59,7 (0,001 (1,595 – 6,604)
Total 67 100 67 100
Kunjungan K-4
Tidak Ada 52 77,6 32 47,8 12,762 3,792
Ya 15 22,4 35 52,2 (0,000) (1,794 – 8,012)
Total 67 100 67 100

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa persentase terbanyak yang mengalami

kelahiran mati berdasarkan kunjungan K-1 pada kelompok kasus adalah kategori

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
tidak melakukan kunjungan K-1 sebanyak 46 responden (68,7%) sedangkan yang

melakukan kunjungan K-1 sebanyak 21 responden (31,3%). Hasil uji statistik

menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan nilai p<0,05, artinya terdapat

hubungan yang bermakna terjadinya kelahiran mati dengan kunjungan K-1.

Dari tabel 4.2 dapat dijumpai nilai OR = 3,24, artinya bahwa risiko untuk

mengalami kelahiran mati 3,24 kali lebih besar jika tidak melakukan kunjungan K-1

dibanding responden yang melakukan kunjungan K-1.

Pada tabel 4.2 dapat di lihat bahwa persentase kunjungan K-4 pada kelompok

kasus adalah responden yang tidak melakukan kunjungan K-4 yaitu sebanyak 52

responden (77,6%) sedangkan yang melakukan kunjungan K-4 sebanyak 15

responden (22,4%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan

dengan nilai p<0,05, artinya terdapat hubungan yang bermakna terjadinya kelahiran

mati dengan kunjungan k-4.

Dari tabel 4.2 dapat dijumpai bahwa nilai OR = 3,79, artinya bahwa risiko

untuk mengalami kelahiran mati 3,79 kali lebih besar jika tidak melakukan kunjungan

K-4 dibanding responden yang melakukan kunjungan K-4.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
b. Hubungan Variabel Faktor Ibu Dengan Kelahiran Mati

Tabel 4.3
Tabulasi Silang Antara Variabel Faktor Ibu Dengan Variabel
Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2007

Kelahiran Mati X2 / OR /
Faktor Ibu Kasus Kontrol (p Value) (CI 95%)
n % n %
Paritas
Risti (1 atau >3) 43 64,2 31 46,3 4,346 2,081
Tidak Risti (2-3) 24 35,8 36 53,7 (0,037) (1,041 – 4,160)
Total 67 100 67 100
Anemia
Anemia 37 55,2 24 35,8 5,086 2,210
Tidak Anemia 30 44,8 43 64,2 (0,024) (1,104 – 4,422)
Total 67 100 67 100
Riwayat Penyakit Ibu
Risti 41 61,2 22 32,8 10,815 3,226
Tidak Risti 26 38,8 45 67,2 (0,001) (1,589 – 6,548)
Total 67 100 67 100
Riwayat Persalinan
Risti 39 58,2 24 25,8 6,740 2,496
Tidak Risti 28 41,8 43 64,2 (0,009) (1,244 – 5,008)
Total 67 100 67 100

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa persentase terbanyak yang mengalami

kelahiran mati berdasarkan paritas adalah responden dengan paritas pertama atau

peritas > 3 yaitu sebanyak 43 orang (64,2%), sedangkan responden dengan paritas 2-3

sebanyak 24 orang (35,8%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan

signifikan dengan nilai p<0,05, artinya terdapat hubungan yang bermakna terjadinya

kelahiran mati dengan paritas.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Dari tabel 4.3 dapat dijumpai nilai OR = 2,08, artinya bahwa risiko untuk

mengalami kelahiran mati 2,08 kali lebih besar jika paritas pertama atau paritas > 3

dibanding responden dengan paritas 2-3.

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa persentase kelahiran mati pada kelompok

kasus terbanyak berdasarkan anemia adalah responden yang menderita anemia yaitu

sebanyak 37 responden (55,2%) sedangkan responden yang tidak menderita anemia

sebanyak 30 responden (44,8%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan

signifikan dengan nilai p<0,05, artinya terdapat hubungan yang bermakna terjadinya

kelahiran mati dengan responden yang menderita penyakit anemia.

Dari tabel 4.3 dapat dijumpai bahwa nilai OR =2,21 , artinya bahwa risiko

untuk mengalami kelahiran mati 2,21 kali lebih besar jika menderita anemia di

banding responden yang tidak menderita anemia.

Persentase kelahiran mati pada kelompok kasus terbanyak berdasarkan

riwayat penyakit ibu adalah responden dengan risiko tinggi yaitu sebanyak 41

responden (61,2%) sedangkan responden yang tidak risiko tinggi sebanyak 26

responden (38,8%). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan signifikan dengan

nilai p<0,05, artinya terdapat hubungan bermakna terjadinya kelahiran mati dengan

riwayat penyakit ibu dan nilai OR = 3,22, berarti bahwa risiko untuk mengalami

kelahiran mati 3,22 kali lebih besar jika memiliki riwayat penyakit risiko tinggi

dibanding responden yang tidak memiliki riwayat penyakit risiko tinggi.

Pada tabel 4.3 dapat di lihat bahwa persentase kelahiran mati pada kelompok

kasus terbanyak berdasarkan riwayat persalinan adalah responden yang memiliki

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
riwayat persalinan yaitu sebanyak 39 responden (58,2%) sedangkan responden yang

tidak memiliki riwayat persalinan sebanyak 28 responden (41,8%). Hasil uji statistik

menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan nilai p<0,05 artinya terdapat

hubungan bermakna terjadinya kelahiran mati dengan riwayat persalinan responden

dan nilai OR = 2,49, berarti bahwa risiko untuk mengalami kelahiran mati 2,49 kali

lebih besar jika memiliki riwayat persalinan dibanding responden yang tidak

memiliki riwayat persalinan.

c. Hubungan Variabel Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Kelahiran Mati

Tabel 4.4
Tabulasi Silang Antara Variabel Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan
Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2007

Kelahiran Mati
X2 / OR /
Pelayanan Kesehatan Kasus Kontrol
(p Value) (CI 95%)
n % n %
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tidak Lengkap 36 53,7 29 43,3 1,464 1,522
Lengkap 31 46,3 38 56,7 (0,226) (0,770 – 3,008)
Total 67 100 67 100
Penolong Persalinan
Bukan Tenaga Kesehatan 53 79,1 27 40,3 20,969 5,608
Tenaga Kesehatan 14 20,9 40 59,7 (0,000) (2,610 – 12,052)
Total
Jarak Rumah Ke Tempat
Persalinan
2,473 1,739
Jauh (> 3000 Meter) 43 64,2 34 50,7
(0,116) (0,871 – 3,474)
Dekat (≤ 3000 Meter) 24 35,8 33 49,3
Total 67 100 67 100

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa persentase kelahiran mati terbanyak pada

kelompok kasus berdasarkan fasilitas pelayanan kesehatan adalah tidak lengkap

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
sebanyak 36 responden (53,7%) sedangkan lengkap sebanyak 31 responden (46,3%).

Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara fasilitas

pelayanan kesehatan dengan kelahiran mati dengan nilai p>0,05.

Pada tabel 4.4 dapat di lihat bahwa persentase kelahiran mati pada kelompok

kasus terbanyak berdasarkan penolong persalinan adalah bukan di tolong oleh tenaga

kesehatan sebanyak 53 responden (79,1%) sedangkan di tolong oleh tenaga kesehatan

sebanyak 14 responden (20,9%). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan

signifikan dengan nilai p<0,05, artinya terdapat hubungan bermakna penolong

persalinan dengan kelahiran mati dan nilai OR = 5,60, berarti bahwa risiko untuk

mengalami kelahiran mati 5,60 kali lebih besar jika ditolong tidak oleh tenaga

kesehatan dibanding responden yang di tolong oleh tenaga kesehatan.

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa persentase kelahiran mati pada kelompok

kasus terbanyak berdasarkan jarak rumah ke tempat persalinan adalah kategori jauh

yaitu sebanyak 43 responden (64,2%) sedangkan kategori dekat (≤ 3000meter) yaitu

sebanyak 24 responden (35,8%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan

signifikan dengan nilai p>0,05.

4.4. Analisis Multivariat

Analisis multivariat bertujuan untuk melihat beberapa variabel yang secara

bersama-sama berhubungan dengan kelahiran mati. Pada penelitian ini dipergunakan

uji regresi logistik berganda untuk mencari faktor risiko yang paling dominan

terhadap kelahiran mati.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Dalam penelitian ini terdapat 9 (sembilan) variabel penelitian yaitu kunjungan

K-1, kunjungan K-4, paritas, anemia, riwayat penyakit ibu, riwayat persalinan,

fasilitas pelayanan kesehatan, penolong persalinan dan jarak rumah ke tempat

persalinan.

Hasil uji chi-square antara variabel independen dengan dependen ternyata ada

7 (tujuh) variabel yang memiliki nilai p<0,05 yaitu variabel kunjungan K-1,

kunjungan K-4, paritas, anemia, riwayat penyakit ibu, riwayat persalinan, dan

penolong persalinan. Hasil dari uji regresi logistik berganda dapat di lihat pada tabel

4.5 di bawah ini.

Tabel 4.5
Identifikasi Variabel Dominan Penyebab Kelahiran Mati
Di Kabupaten Tapanuli Utara
Tahun 2007

OR CI (95%) dari
Variabel Nilai B Nilai β p
Ajusted OR Ajusted
Kunjungan K-4 1,289 8,076 3,628 0,004 1,492 – 8,824
Paritas 0,513 9,326 1,670 0,002 1,202 – 2,321
Riwayat Penyakit Ibu 1,409 10,363 4,094 0,001 1,736 – 9,656
Penolong Persalinan 1,744 14,741 5,721 0,000 2,349 – 13,938
Konstanta -3,313 21,638 0,036 0,000
Overall Percentage = 73,9

Pada tabel 4.5 di atas didapatkan persamaan regresi logistik dalam bentuk

sebagai berikut :

Ln Y = - 3,313 + 1,289(Kunjungan K-4) + 0,513(paritas) + 1,409(riwayat penyakit

ibu) + 1,744(penolong persalinan).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Dari persamaan regresi diatas dapat diketahui bahwa adanya kunjungan K-4,

paritas, riwayat penyakit ibu dan penolong persalinan maka akan menyebabkan

peningkatan kelahiran mati. Variabel dengan Odds Ratio terbesar merupakan variabel

paling dominan berisiko terhadap kelahiran mati yaitu penolong persalinan (OR =

5,721, CI = 2,349 – 13,938).

Selain itu, variabel berisiko lainnya adalah riwayat penyakit ibu (p =0,002),

kunjungan K-4 (p = 0,004), dan paritas (p = 0,002) sehingga diperkirakan keeratan

hubungan faktor risiko terhadap kelahiran mati sebesar 73,9%.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 5

PEMBAHASAN

5.1. Hubungan Antenatal-Care Dengan Kelahiran Mati

A. Kunjungan K-1

Dari tabel 4.2 dijumpai bahwa nilai OR = 3,24 berarti bahwa

risiko untuk mengalami kelahiran mati 3,24 kali lebih besar jika tidak

melakukan kunjungan K1 dibanding yang melakukan kunjungan K1.

Hal ini dapat dijelaskan, karena masyarakat kurang mengetahui

arti dan manfaat melakukan pemeriksaan kehamilan pada saat

pertama kali mengetahui bahwa ibu telah hamil. Ibu datang ke

pelayanan kesehatan jika menderita suatu penyakit seperti sakit

kepala, perut terasa mual yang identik menunjukkan tanda-tanda

kehamilan yang di duga ibu merupakan penyakit perut biasa.

Berdasarkan hal tersebut, petugas dapat mengetahui bahwa ibu

tersebut telah hamil.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

Amiruddin di Puskesmas Bantimurung Kabupaten Maros tahun 2004

bahwa ibu yang tidak melakukan kunjungan K1 lebih berisiko 1,251

kali untuk mengalami kelahiran mati dibandingkan yang melakukan

kunjungan K1 dan terdapat hubungan yang signifikan antara

pemeriksaan ANC dengan kejadian anemia pada ibu hamil.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Setyowati berupa studi kepustakaan berdasarkan data

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994,

menemukan ibu yang frekuensi pemeriksaan kehamilan kurang dari 3

kali dengan nilai OR= 1,24, berarti ibu yang tidak melakukan

pemeriksaan kehamilan kurang dari 3 kali 1,24 kali lebih berisiko

untuk mengalami kelahiran mati dibanding ibu yang memeriksakan

kehamilan > 3 kali.

Kunjungan antenatal pertama sangatlah penting, karena

merupakan kesempatan pertama menilai keadaan kesehatan ibu dan

janinnya sekaligus menentukan kualitas interaksi antara pelaksana

pelayanan ibu sebagai klien dikemudian hari. Dalam pelayanan

kunjungan K1 hal-hal yang ditanyakan berkaitan dengan identifikasi

diri ibu hamil, jumlah anak, jumlah anak yang diinginkan dan metode

KB yang pernah dipakai, dan riwayat kehamilan dan persalinan

(Depkes RI, 2000).

Kunjungan K1 juga menjelaskan umur kehamilan dan hari

taksiran persalinan berdasarkan keterangan ibu, manfaat suntikan

tetanus toksoid (TT), hal-hal yang mungkin dicemaskan oleh ibu atau

ingin dijelaskan seperti biaya untuk kehamilan dan persalinan,

perlengkapan bayi, ketersediaan makanan yang cukup, dan

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
transportasi yang dapat di pakai sewaktu-waktu bila perlu ke rumah

sakit (Depkes RI, 2000).

Upaya yang dilakukan mengingat pentingnya kunjungan K1,

petugas kesehatan di desa telah diberikan pelatihan dalam

memberikan penyuluhan untuk mengetahui tanda-tanda kehamilan

secara dini dan bersikap pro aktif terhadap masyarakat dengan

melakukan kunjungan ke rumah ibu hamil yang telah diketahui.

b. Kunjungan K4

Dari tabel 4.2 dijumpai nilai OR = 3,79 berarti risiko untuk

mengalami kelahiran mati 3,79 kali lebih besar jika tidak melakukan

kunjungan K4 dibanding melakukan kunjungan K4.

Hal ini dapat dijelaskan karena ibu merasa tidak mampu lagi

untuk mengunjungi tempat pelayanan kesehatan, mengikuti posyandu

dan sibuk bekerja sebagai petani di usia kehamilan tua. Selain itu,

petugas yang melakukan kunjungan ke rumah responden juga tidak

menemukan ibu hamil karena sedang bekerja.

Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan

Amiruddin di Kabupaten Maros tahun 2004 bahwa ada hubungan

signifikan antara kelahiran mati dengan kunjungan K4 dengan nilai

OR = 1,39, berarti bahwa ibu yang tidak melakukan kunjungan K4

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
1,39 kali lebih berisiko untuk mengalami kelahiran mati dibanding

yang melakukan kunjungan K4.

Cakupan Kunjungan K4 dinyatakan sebagai indikator tingkat

perlindungan ibu hamil. Kadang kita jumpai bahwa pencatatan

dilapangan tidak benar, yang penting kunjungan minimal 4 kali tanpa

melihat trimester kehamilannya. Pada hal perbedaan ini akan

memberikan arti yang lain. Misal, seorang ibu hamil berkunjung

untuk melakukan pemeriksaan sebanyak 4 kali pada trimester kedua

akan berbeda dengan seorang ibu yang melakukan kunjungan

pemeriksaan 4 kali dengan aturan 1,1,2. Yang pertama walaupun

sama-sama 4 kali tidak akan banyak bermanfaat karena tidak bisa

memberikan perlindungan pada trimester tiga (Depkes RI, 2000)

Kunjungan K4 sama pentingnya seperti kunjungan K1 karena

pada kunjungan K-4 menjelang persalinan dibicarakan tentang

rencana tempat persalinan. Bila ibu menginginkan persalinan

berlangsung di rumah dan dari hasil anamnesis serta pemeriksaan

penunjang bahwa hal itu memungkinkan maka lihat rencana

persalinan di rumah. Hal yang perlu dipastikan jika melakukan

persalinan di rumah adalah :

1. Ruang tempat ibu akan bersalin cukup bersih, jauh dari kandang

binatang dan tidak langsung terpapar angin. Tempat untuk buang

air kecil selama proses persalinan perlu dijaga tetap bersih.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Tempat persalinan harus sangat bersih agar ibu dan bayi

terlindung dari infeksi.

2. Ibu dan keluarga telah menyiapkan :

a. Baju bersih untuk dipakai ibu ketika bersalin

b. Beberapa persediaan kain bersih untuk alat tempat tidur ibu

c. Paling sedikit 4 buah selimut bayi yang kering dan bersih

d. Air bersih dalam jumlah banyak untuk mencuci saat

persalinan

e. Persiapan untuk merebus air dengan mudah

3. Ibu dan keluarga mengetahui bahwa untuk pertolongan

persalinan yang diperlukan alat dan bahan habis pakai seperti

sabun, klorin, alkohol,sikat untuk penyikat kuku, pemotong tali

pusat yang steril.

4. Ibu dan keluarga memahami bahwa baju ibu dan bayi serta alas

tempat tidur memerlukan perlakukan khusus.

5. Siapapun yang mendampingi ibu saat bersalin tidak sedang sakit

6. Ibu dan keluarga mengetahui kapan memanggil penolong

persalinan.

7. Bila dukun bayi hadir dalam persalinan, dijelaskan bahwa bidan

dan dukun akan bekerja sama dengan masing-masing perannya

yaitu bidan yang menolong persalinan sedangkan dukun bayi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
membantu bidan untuk melayani hal-hal non teknis bagi

kepentingan ibu (Depkes RI, 2000).

Kunjungan K4 merupakan kunjungan persiapan akan persalinan

sehingga petugas telah dipersiapkan dan di latih secara profesional

dalam penanganan persalinan. Kegiatan-kegiatan pelatihan persalinan

kerap dilakukan di tingkat kabupaten dan petugas juga di kirim untuk

mengikuti pelatihan penanganan persalinan ke tingkat propinsi.

5.2. Hubungan Faktor Ibu Dengan Kelahiran Mati

a. Paritas

Dari tabel 4.3 dijumpai bahwa nilai OR = 2,08 berarti risiko

untuk mengalami kelahiran mati 2,08 kali lebih besar jika paritas

pertama atau paritas > 3 dibanding paritas 2-3.

Hal ini dapat dijelaskan karena paritas pertama merupakan

pertama sekali ibu menanggung beban mental dan psikis yang cukup

berat sehingga dapat mengakibatkan gangguan perkembangan dan

pertumbuhan janin dalam kandungan ibu.

Selain hal tersebut faktor kebudayaan di daerah Tapanuli

memiliki anak banyak maka akan banyak rezeki sehingga masyarakat

tidak berhenti untuk hamil sebelum memiliki anak banyak. Selain hal

itu adanya kebudayaan bahwa derajat anak laki-laki lebih tinggi

sehingga sebelum mendapatkan anak laki-laki maka suatu keluarga

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
akan tetap berusaha mendapatkan anak laki-laki dan akhirnya ibu

harus terus hamil.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

Sulistiyowati di Bekasi tahun 2001 menemukan bahwa risiko

kelahiran mati ibu paritas 1 atau >4 dengan nilai OR = 4,5 dan secara

statistik bermakna.

Kehamilan dan persalinan anak pertama, risiko meningkat

terutama disebabkan karena ibu belum pernah menghadapi kehamilan

dan persalinan, di samping itu jalan lahir baru pertama kali akan di

coba dilalui oleh janin (Soejoenoes, 2000).

Kelahiran anak pertama dan jumlah anak lebih dari empat orang

perlu di waspadai karena kemungkinan dapat menyebabkan

persalinan lama, oleh karena makin banyak anak, maka rahim ibu

makin lemah (Depkes RI, 1998).

Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara dengan

meningkatkan penyuluhan tentang KB secara intensif bekerja sama

dengan Badan Koordanasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

wilayah Tapanuli Utara. Dalam kegiatan penyuluhan ke masyarakat

dijelaskan manfaat KB dan alat metode ber KB yang baik dan aman.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
b. Anemia

Dari tabel 4.3 dijumpai bahwa nilai OR = 2,21 berarti risiko

untuk mengalami kelahiran mati 2,21 kali lebih besar jika menderita

anemia dibanding tidak menderita anemia.

Hal ini dapat dijelaskan karena ibu hamil tidak dapat memenuhi

cakupan kebutuhan zat besi melalui makanan yang dikonsumsi.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti konsumsi makanan ibu hamil

yang mengandung zat besi hanya berasal dari sayur-sayuran berwarna

hijau tanpa ada tambahan suplemen zat besi dikarenakan ibu tidak

datang ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan suplemen Fe.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rosmeri

(2000) menunjukkan bahwa ibu yang menderita anemia sebelum

hamil mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kelahiran

mati. Ibu dengan anemia sebelum hamil mempunyai resiko 4,27 kali

untuk mengalami kelahiran mati dibandingkan dengan ibu yang tidak

menderita anemia (normal).

Anemia atau kurang darah adalah rendahnya kadar hemoglobin

(Hb) dalam sel-sel darah merah, yaitu kurang dari 11 gr%. Kegiatan

pencegahan dan penanggulangan masalah anemia secara luas telah

dilaksanakan bagi semua ibu hamil berupa pemberian tablet Fe

sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan dan bagi ibu hamil yang

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
menderita anemia (Hb < 11 gr%) diberikan pengobatan khusus di

puskesmas atau rumah sakit (Depkes RI, 2002).

Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb

berada di bawah normal. Di Indonesia anemia umumnya disebabkan

oleh kekurangan zat besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah

anemia gizi besi. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu

gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil

umumnya mengalami deplesi besi atau lainnya sehingga hanya

memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk

metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi

anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11

gr/dl selama trimester III.

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau

hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak.

Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam

kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang

dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan

kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil

yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas

maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi

BBLR dan prematur juga lebih besar.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Tanda-tanda ibu menderita anemia seperti perasaan lesu, sering

mengantuk, selaput bagian dalam kelopak mata, bibir dan kuku pucat

sesrta penglihatan berkunang-kunang (Depkes RI, 1996).

Kagiatan yang dilaksanakan di Kabupaten Tapanuli Utara dalam

mencegah terjadinya anemia ibu hamil, setiap ibu hamil diberikan

tablet Fe sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan. Kegiatan ini

dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan yang dapat

mengkibatkan kematian ibu dan janin.

c. Riwayat Penyakit Ibu

Dari tabel 4.3 dijumpai nilai OR = 3,22 berarti risiko untuk

mengalami kelahiran mati 3,22 kali lebih besar jika ibu memiliki

riwayat penyakit dibanding tidak memiliki riwayat penyakit.

Hal ini dapat dijelaskan karena pada saat penelitian dilakukan

responden yang terpilih banyak menderita penyakit diabetes mellitus

dan hipertensi yang dapat mengganggu kehamilan dan perkembangan

janin.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sulistiyowati tahun 2001 di Bekasi menemukan bahwa ada hubungan

yang signifikan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati dengan

nilai p = 0,003 dan nilai OR = 2,56 berarti bahwa ibu yang memiliki

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
riwayat penyakit 2,56 kali lebih berisiko untuk mengalami kelahiran

mati dibanding ibu yang tidak memiliki riwayat penyakit.

Kesehatan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kesehatan

ibu. Bila ibu mempunyai penyakit yang berlangsung lama atau

merugikan kehamilannya, maka kesehatan dan kehidupan janin pun

terancam (Depkes RI, 2001).

Wanita hamil dengan penyakit umum seperti diabetes mellitus,

hipertensi, dan anemia merupakan faktor yang memperbesar

kelahiran mati (Mochtar, 1995).

Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara mengingat

bahwa riwayat penyakit ibu dapat membahayakan janin dan ibu maka

dilakukan penyuluhan dalam mengatasi dan penanganan penyakit

yang telah ada di derita ibu hamil sehingga tidak membahayakan bagi

janin dan ibu hamil sendiri. Selain pendekatan penyuluhan petugas

juga melakukan pendekatan interpersonal terhadap ibu hamil

sehingga ibu mendapatkan dukungan secara psikologis akan penyakit

yang diderita dan kehamilan yang sedang terjadi.

d. Riwayat Persalinan

Dari tabel 4.3 dijumpai nilai OR = 2,49 berarti risiko untuk

mengalami kelahiran mati 2,49 kali lebih besar jika memiliki riwayat

persalinan dibanding tidak memiliki riwayat persalinan.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Hal ini dapat dijelaskan karena responden pernah mengalami

keguguran dan juga menderita penyakit yang dapat mengganggu

perkembangan janin. Selain itu, ibu hamil juga melakukan pekerjaan

yang berat pada masa-masa kehamilan pertama yang dapat

mengakibatkan kematian janin dalam kandungan.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sulistiyowati tahun 2001 di Kota Bekasi, menemukan odds rasio ibu

yang memiliki riwayat persalinan 2,4 kali lebih berisiko untuk

mengalami kelahiran mati dibanding ibu yang tidak memiliki riwayat

persalinan.

Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan perdarahan,

abortus, partus prematuritas, kematian janin dalam kandungan,

preeklamsia/eklamsia, kehamilan muda, kelainan letak pada hamil

tua, hamil dengan tumor (myoma atau kista ovari) serta semua

persalinan tidak normal yang pernah dialami ibu merupakan risiko

tinggi untuk persalinan berikutnya. Keadaan-keadaan tersebut perlu

diwaspadai karena kemungkinan ibu akan mendapatkan kesulitan

dalam kehamilan dan saat akan melahirkan (Pincus, 1998).

Komplikasi kehamilan sebenarnya dapat dicegah walau 15 – 20

persen kehamilan normal bisa berubah menjadi komplikasi pada saat

persalinan. Salah satu cara yang efektif untuk memantau adanya

komplikasi adalah deteksi dini kehamilan risiko tinggi, dengan cara

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
melakukan pemeriksaan yang teratur dan berkualitas. Di puskesmas

deteksi dini risiko tinggi kehamilan ini sudah menjadi program,

walau masih dengan cara yang sederhana. Yaitu masih dalam tahap

seleksi awal, secara biomedis, namun manfaatnya bisa dirasakan.

Karena pada dasarnya semua kehamilan adalah berisiko maka deteksi

dini hendaknya dilakukan pada semua kehamilan.

Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara berupa

peningkatan kemampuan petugas dalam penanganan ibu hamil yang

pernah mengalami perdarahan, keguguran, kelainan janin dalam

kandungan dengan mengirimkan petugas mengikuti pelatihan

penanganan kehamilan dan persalinan secara berkala di tingkat

kabupaten maupun tingkat propinsi.

5.3. Hubungan Faktor Pelayanan Kesehatan Dengan Kelahiran Mati

a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pada tabel 4.4 dapat di lihat bahwa tidak ada hubungan antara

variabel fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran mati dengan

nilai p = 0,226 (p>0,05).

Hal ini dapat dijelaskan karena proses persalinan dapat berjalan

lancar jika keadaan ibu sehat dan kehamilan normal tanpa ada

riwayat penyakit dan riwayat persalinan risiko tinggi. Selain hal

tersebut, fasilitas sarana dan prasana kesehatan di Kabupaten

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Tapanuli Utara untuk menangani proses kehamilan telah lengkap dan

juga tenaga kesehatan yang profesional dalam penanganan

persalinan. Tenaga kesehatan juga mendapatkan pelatihan secara

berkala di tingkat kabupaten dan tingkat propinsi.

Perbandingan penelitian berdasarkan penolong persalinan belum

dapat ditemukan kerena kemungkinan ini merupakan penelitian yang

pertama untuk mengetahui hubungan variabel penolong persalinan

dengan kelahiran mati.

Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang sesuai

(berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang

diketahui aman, dapat memberikan hasil kepada masyarakat yang

bersangkutan dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan

dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan

gizi (Wijono, 1999)

Pelaksanaan manajemen puskesmas perlu memperhatikan upaya

manajemen kebutuhan (demand) yang ditandai dengan skala prioritas

dan penyediaan pelayanan waktu yang tepat. Menejemen puskesmas

memiliki peran untuk melakukan perencanaan pengembangan dengan

mengidentifikasi kesempatan yang ada, mengevaluasi manfaat bagi

pelayanan pasien, penghitungan laba-rugi pengembangan dan

penilaian terhadap faktor lingkungan yang terkait (Yoga, 2003).

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Upaya yang terus dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara dalam

peningkatan kualitas mutu petugas kesehatan dan profesionalisme

pekerjaan, dinas kesehatan selalu melakukan kegiatan penyuluhan

dan evaluasi kegiatan yang berhubungan dengan persalinan dan

kehamilan, kematian ibu dan anak, kegiatan Audit Maternal

Perinatal.

b. Penolong Persalinan

Dari tabel 4.3 dijumpai bahwa nilai OR = 5,60 berarti risiko

untuk mengalami kelahiran mati 5,60 kali lebih besar jika di tolong

bukan tenaga kesehatan dibanding di tolong tenaga kesehatan.

Hal ini dapat dijelaskan karena tingkat pendidikan dan

pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan

masih kurang. Selain itu, masyarakat juga masih memanfaatkan

tenaga dukun beranak dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dan

persalinan. Pencarian bukan tenaga kesehatan disebabkan karena

pendidikan dan pengetahuan masyarakat yang rendah serta kedekatan

masyarakat terhadap dukun beranak.

Selain faktor pendidikan dan pengetahuan, ibu yang merasa

waktunya akan bersalin memanggil dukun bayi untuk melakukan

persalinan karena kepercayaan masyarakat kepada dukun beranak

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
meskipun pada saat proses persalinan mengalami kesulitan persalinan

yang dapat mengakibatkan janin mati sebelum dapat dikeluarkan.

Perbandingan penelitian berdasarkan penolong persalinan belum

dapat ditemukan kerena kemungkinan ini merupakan penelitian yang

pertama untuk mengetahui hubungan variabel penolong persalinan

dengan kelahiran mati.

Persalinan merupakan suatu proses alami yang ditandai oleh

terbukanya serviks, diikuti dengan lahirnya bayi dan plasenta melalui

jalan lahir. Pernolong persalinan perlu memantau keadaan ibu dan

janin untuk mewaspadai secara dini terjadinya komplikasi. Di

samping itu, penolong persalinan juga berkewajiban untuk

memberikan dukungan moril dan rasa nyaman kepada ibu yang

sedang bersalin (Depkes RI, 2000)

Persalinan membutuhkan usaha total ibu secara fisik dan

emosional. Karena itu dukungan moril dan upaya untuk menimbulkan

rasa nyaman bagi ibu bersalin sangatlah penting (Depkes RI, 2000)

Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terjamin sebagai

persalinan yang bersih dan aman, karena selain pertolongan

persalinan dilakukan dengan bersih, bila terjadi gangguan dalam

persalinan akan segera diketahui dan ditangani atau dirujuk (Depkes

RI, 1998)

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara agar ibu

hamil tidak memanggil dukun bayi saat akan bersalin berupa kegiatan

penyuluhan dan peningkatan pengetahuan cara dan proses kehamilan

yang baik, sehat dan steril serta penanganan kehamilan yang baik

dilakukan oleh petugas kesehatan. Selain kegiatan penyuluhan dinas

kesehatan juga melakukan kegiatan pelatihan dengan mengundang

dukun bayi dalam membantu proses kehamilan yang aman dan sehat.

Upaya kegiatan bekerja sama dengan dukun bayi dan masyarakat

terus menerus dilakukan secara berkala agar semua dukun mendapat

pelatihan dan sertifikat kemampuan menangani persalinan yang aman

dan sehat.

c. Jarak Rumah Ke Tempat Persalinan

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan jarak rumah

ke tempat persalinan dengan kelahiran mati, nilai p = 0,116 (p>0,05)

Hal ini dapat dijelaskan karena pelayanan kesehatan di

Kabupaten Tapanuli Utara telah menjangkau semua desa yang ada

dan setiap desa telah ditempat petugas kesehatan yang terlatih. Selain

itu, sebagian besar responden yang mengalami kelahiran mati

bertempat tinggal yang tersebar merata berada dekat dengan tempat

persalinan.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Perbandingan penelitian berdasarkan penolong persalinan belum

dapat ditemukan kerena kemungkinan ini merupakan penelitian yang

pertama untuk mengetahui hubungan variabel penolong persalinan

dengan kelahiran mati.

Pemanfaatan peta wilayah ini berguna untuk pembangunan

fasilitas kesehatan sehingga semua masyarakat dapat menjangkau

pelayanan kesehatan yang bersifat urgensi. Dengan adanya peta

wilayah ibu hamil maka diharapkan pelayanan kesehatan yang ada di

desa dapat dijangkau dengan jarak kurang dari 3000 meter (Depkes

RI, 1996)

Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara saat ini

dengan terus melakukan pembangunan dan pengembangan sarana

dan prasarana kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan yang

optimal. Selain pembangunan secara fisik, dinas kesehatan juga

melakukan pembangunan sumber daya manusia melalui kegiatan-

kegiatan pelatihan secara lintas sektor dan lintas program yang

melibatkan masyarakat secara aktif.

5.4. Keterbatasan Peneliti

a. Aspek Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain case control study yang

meneliti kelahiran mati, kemudian menyelidiki apa penyebabnya atau

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
faktor risikonya. Penelitian ini hanya menunjukkan besarnya

hubungan (kemaknaan) faktor pemapar dalam hubungannya dengan

kelahiran mati. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi bias dalam

penelitian ini dengan melakukan matching terhadap pendidikan dan

pekerjaan sehingga dengan melakukan matching variabel tersebut

dapat mengurangi bias berdasarkan desain penelitian.

b. Aspek Peneliti

Penguasaan ilmu dan pengetahuan peneliti tentang kelahiran

mati terasa masih banyak kekurangan. Walaupun peneliti telah

berusaha untuk memperkaya bacaan melalui kunjungan ke

perpustakaan, pencariaan informasi melalui browsing internet,

membentuk kelompok diskusi sebelum penelitian ini dimulai dan saat

penelitiaan berlangsung.

Disamping itu dana, sarana dan pengalaman yang kurang

dimiliki peneliti menyebabkan kurang sempurnanya penelitian ini.

Penelitian ini merupakan penelitian epidemilogis retrospektif kasus

kontrol untuk menentukan seberapa besar kekuatan hubungan antara

dua variabel yang diteliti.

c. Recall Bias

Recall bias adalah salah satu kelemahan utama studi kasus

kontrol karena kemampuan responden mengingat kejadian yang telah

berlalu sangat terbatas. Salah satu upaya peneliti untuk mengurangi

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
bias ini adalah mencari responden yang dalam dua tahun terakhir

terjadi kelahiran mati, membuat pertanyaan yang lebih sederhana

untuk mudah dimengerti oleh responden.

d. Interviewer Bias

Interviewer bias adalah bias yang bersumber dari pewawancara

sendiri. Hal ini diakibatkan pemahaman seorang pewawancara

berbeda dengan pewawancara lain, sehingga pemahaman tentang satu

pertanyaan di kuesioner mungkin saja berbeda. Untuk mengatasi hal

ini peneliti sudah melakukan pelatihan terhadap pewawancara di

lapangan, uji coba kuesioner untuk menguji validitas dan reliabilitas

kuesioner, maka diharapkan terjadi kesamaan pemahaman terhadap

pertanyaan yang ditujukan kepada responden.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan pada bab sebelumnya

maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Berdasarkan uji bivariat ditemukan 7 (tujuh) variabel yang berhubungan

secara signifikan dengan kelahiran mati yaitu Kunjungan K1 (p = 0,001, OR =

3,245), kunjungan K4 (p = 0,000, OR = 3,792), paritas (p = 0,040, OR =

2,081), anemia (p = 0,024, OR = 2,210), riwayat penyakit ibu (p = 0,001, OR

= 3,225), riwayat persalinan (p = 0,009, OR = 2,496), dan penolong persalinan

(p = 0,000, OR = 5,608).

2. Berdasarkan uji bivariat ditemukan 2 (dua) variabel tidak berhubungan secara

signifikan dengan kelahiran mati yaitu fasilitas pelayanan kesehatan dan jarak

rumah ke tempat persalinan

3. Variabel paling berisiko berdasarkan uji regresi logistik berganda terhadap

kelahiran mati di Kabupaten Tapanuli Utara adalah penolong persalinan

dengan nilai OR adjusted = 5,721, CI = 2,349 – 13,938.

6.2. Saran

1. Kepada Dinas Kesehatan agar memberikan pelatihan secara berkala kepada

dukun-dukun bayi sebagai sumber daya manusia yang ada di masyarakat

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
dalam membantu persalinan yang disponsori dinas kesehatan dibantu oleh

bidan yang terlatih.

2. Meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat melalui kegiatan

penyuluhan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan di perkumpulan ibu-

ibu PKK, posyandu, perkumpulan keluarga mengenai metode persalinan yang

aman dan sehat secara intensif .

3. Melakukan kegiatan sosialisasi dan advokasi kepada masyarakat terutama ibu-

ibu di perkumpulan keluarga, gereja, pertemuan ibu-ibu PKK, pertemuan

dharma wanita agar memeriksakan kehamilan secara rutin ke petugas

kesehatan, pemberiaan zat besi pada ibu hamil.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
DAFTAR PUSTAKA

Aarhus University Hospital., 2002. To Study The Association Between Coffe


Consumption During Pregnancy and The Risk Of Stilbirth and Infant
Death in The First Year of Life. Eur. J Epidemiol. November Edition
53. Http://www.stillbirth.org. Diakses Tanggal 25 September 2005.
Agarwal, DK., 1998. Pregnancy Westage in Rural Varanasi: Relationship with
Maternal Nutrition and Sociodemiographic Characteristics. Indoan
Pediatr. November Edisi 35. www.stillbirth.org. Diakses Tanggal 25
September 2005.
Amiruddin., 2004. Studi Kasus Kontrol Anemis Ibu. Jurnal Medika UNHAS. Vol.
25.
BPS., 2001. Statistik Kesejahteraan Rakyat Tahun 2001. Jakarta.
Depkes RI., 1990. Pedoman Pelayanan Antenatal di Wilayah Kerha Puskesmas.
Jakarta.
., 1993. Buku Pedoman Pelayanan Kesehatan Perinatal di Wilayah
Kerja Puskesmas. Direktorat Jendral Pembinaan Kesehatan
Mayarakat. Direktorat Jenderal Kesehatan Keluarga. Jakarta.
., 1996. Buku Saku Bidan di Desa. Direktorat Jenderal Pembinaan
Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
., 1998. Ibu Sehat, Bayi Sehat. Direktorat Jenderal Pembinaan
Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
., 2000. Indonesia Sehat 2010 Visi Baru, Misi, Kebijakan
danStrategi Pengembangan Kesehatan. Jakarta.
., 2001. Buku Pedoman: Tanda-Tanda Bahaya Pada Kehamilan,
Persalinan, dan Nifas. Jakarta.
., 2002. Program Safe Maotherhood di Indonesia. Direktorat
Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
., 2003. Angka Kematian Ibu Masih Tinggi di Indonesia.
www.depkes.go.id. Diakses Tanggal 20 September 2005
., 2004. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.
Draper, E., 2001. Health of Infants and Children in Region: 1979 – 1999.
www.trentho.org.uk/product. Diakses Tanggal 20 September 2005.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Dummer, TJ., 2000. Stillbirth Risk with Social Class and Depriviation: No Evidence
for Increasing Inequality. Journal Clin Epidemiologi. Februari Edisi
53. Diakses Tanggal 20 September 2005.
Dutta D., 2001. Text Book of Obstetric. Calcutta. India: New Central Book Agency.
Foster, F., 1974. Perinatal Mortality In New Zealand 1972 – 1973. Wellington:
Departemen of Health.
Jumiarni, SM., 1994. Asuhan Keperawatan Perinatal. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Kulakov, V., 2001. Postdelivery Contraception and WomensReproductive Health
in The Rusian Federation. www.who.org. Diakses Tanggal 19
September 2005.
Malanova, T., 2000. Infant, Fetal and Perinatal Mortality According to Race in
United States 1950 – 1996. www.jointcenter.org/db.table/databank.
Diakses Tanggal 10 September 2005.
Manuaba, I., 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Martaadisoebrata, D., 2005. Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
Martianto, H., 1992. Bahan Pengajaran: Gizi Terapan. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Mochtar, R., 1995. Sinopsis Obstetri. Edisi Kedua. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Murti, B., 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Cetakan Pertama Edisi
Pertama. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Murti, B., 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Cetakan Pertama Edisi
Kedua. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Mutiara, E., 1994. Pelayanan Antenata Sebagai Salah Satu Faktor Yang
Mempengaruhi Kematian Perinatal. Karya Tulis Ilmiah, FKM
USU.
Permol, L., 1984. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and Treatment.
California: Appleton and Lange.
Pincus, K., 1998. Kapita Selekta Pediatri. Edisi Kedua. Penterjemah Yohannes
Gunawan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Rahlenbeck, S., 2002. Deliveries at a District Hospital In Rwanda 1997 – 2000. Int
Journal Gynaecol Obstet. Maret Edisi 76. Diakses Tanggal 25
September 2005.
Rosmeri., 2000. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang
Dilahirkan. Buletin Penelitian Kesehatan. Jakarta.
Sarumpaet, SM., 2000. Pengaruh Kondisi Fisik dan Riwayat Persalinan Terhadap
Persalinan Berisiko di RS Medan dan Sekitarnya Tahun 1999. Medika
No. 5 Tahun XXVI.
Sarmawar, D., 2004. Penyakit Penyebab Kematian Bayi Baru Lahir (Neonatal)
dan Sistem Pelayanan Kesehatan Yang Berkaitan di Indonesia.
www.depkes.go.id. Diakses Tanggal 20 September 2005.
Say, et. Al., 2001. Review Prepared for the 21th Postgraduate Course In
Reproductive Medicine and Biology. Geneva, Switzerland,
who/departemen of reproduktive health and research. Diakses Tanggal
28 Oktober 2005.
Soejoenoes, A. 1976. Lahir Mati di RS Dr. Kariadi Semarang. Naskah Lengkap
Kongres Obstetri dan Ginekologi Indonesia Ketiga. Medan.
Sulistiyowati., 2001. Kematian Perinatal Hubungannya dengan Faktor Praktek
Kesehatan Ibu Selama Masa Kehamilan di Kota Bekasi Tahun
2001. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Wijono, D., Editor. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Airlangga
University Press. Surabaya.
Wiknjosastro, H., 1999. Ilmu Kebidanan. Edisi Kedua Cetakan Ketiga. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
Wiknjosastro, H., 2002. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga Cetakan Keenam. Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
Yoga, AT., 2003. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Edisi Kedua. Penerbir
Universitas Indonesia (UI – Press). Jakarta.
Zachary, B., 2002. Brinning Awareness to Stillbirth. www.cnn.com/health. Diakses
Tanggal 25 September 2005

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
NASKAH PENJELASAN

Universitas Sumatera Utara bekerja sama dengan dinas kesehatan Kabupaten


Tapanuli Utara, mulai bulan Januari s/d Agustus 2007 akan melakukan pengumpulan
data di Kabupaten Tapanuli Utara yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara atas nama Viktor yang mencakup ibu rumah tangga yang
mengalami kelahiran mati dan ibu dengan kelahiran hidup pada tahun 2005 – 2006.
Pengumpulan data ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko pada kelahiran
mati di Kabupaten Tapanuli Utara. Sasaran pengumpulan data adalah ibu yang
melahirkan pada tahun 2005 – 2006.
Akan dilakukan wawancara berdasarkan kuesioner yang telah disusun terlebih
dahulu secara terstruktur kepada ibu yang mengalami kelahiran mati dan ibu dengan
kelahiran hidup.
Wawancara meliputi keterangan diri, pelayanan antenatal care yaitu
kunjungan K1, Kunjungan K4, paritas, penyakit anemia, riwayat penyakit ibu,
riwayat persalinan ibu di masa lalu, fasilitas pelayanan kesehatan, jarak rumah ke
tempat persalinan dan penolong persalinan.
Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara kurang lebih selama 20 menit.
Partisipasi ibu adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat
menolak tanpa dikenakan sanksi apapun.
Semua informasi dan hasil wawancara akan dirahasikan dan disimpan di
Dinas Kesehatan Kab. Tapanuli Utara dan hanya digunakan untuk pengembangan
kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Bila ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai pengumpulan data ini,
dapat menghubungi Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara, Jl. Simorangkir
Tarutung atau

1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara


2. Wilson Ritonga, SKM

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)
(INFORMED CONSENT)

Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai


pengumpulan data yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara yang bekerja
sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara. Saya mengerti bahwa
pasrtisipasi saya dilakukan secara sukarela dan dapat menolak atau mengundurkan
diri sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.

Pernyataan bersedia diwawancarai

Nama Responden :

Tgl/Bln/Thn :

Tanda Tangan :

Nama Saksi :

Tgl/Bln/Thn :

Tanda Tangan :

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Formulir Pengumpulan Data

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI


DI KABUPATEN TAPANULI UTARA
TAHUN 2005-2006

KUESIONER
Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan. Jawaban boleh lebih dari satu.

A. Karakteristik Responden
1. Nama Ibu :
2. Umur Ibu :
3. Pendidikan :
1. Tidak Sekolah 4. SLTA
2. SD 5.Perguruan Tinggi/Akademi
3. SLTP

B. Paritas
Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan
1. Berapa kalikah ibu menjalani persalinan
1 Kali
2 Kali
3 Kali
4 Kali
5 Kali
2. Setiap kali ibu menjalani persalinan, apakah semua bayi yang
ibu lahirkan hidup.
Jika tidak, berapa orangkah yang meninggal
3. Apakah anak ibu tersebut meninggal saat masih dalam
kandungan

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
D. Pemeriksaan Kehamilan
Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan
1. Setelah ibu mengetahui bahwa ibu hamil, Apakah ibu segera
Memeriksakan kehamilan ibu
2 Pada bulan keberapa sejak kehamilan ibu memeriksakan
kehamilan ibu
3. Apakah ibu datang ke pelayanan kesehatan memeriksakan
kehamilan.
Jika tidak, kemanakah ibu memeriksakan kehamilan ibu.
...............................................................
4. Berapa kalikah ibu datang ke pelayanan kesehatan
memeriksakan kehamilan

E. Riwayat Penyakit Ibu.


Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan
1. Apakah ibu menderita penyakit seperti
a. Hipertensi
b. Diabetes Mellitus (Penyakit Gula)
c. Penyakit KurangDarah (Anemia)

F. Riwayat Persalinan
Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan
1. Apakah ibu saat persalinan pernah mengalami:
a. Perdarahan
b. Abortus (keguguran)
c. Kelainan letak janin dalam rahim
d. Ketuban pecah sebelum waktunya
e. Persalinan lama (lebih dari 12 jam)
f. Kelahiran prematur
g. Preeklamsia/eklamsia
h. Kehamilan di usia < 20 tahun
i. Jarak Kelahiran <2 tahun atau >5 tahun
j. Bayi lahir mati

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
G. Penolong Persalinan
1. Siapakah yang menolong ibu saat bersalin
a. Dukun beranak/keluarga
b. Perawat
c. Bidan
d. Dokter

H. Fasilitas Pelayanan Antenatalcare


Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan
1. Apakah ibu mendapatkan pelayanan kesehatan selama masa
kehamilan, persalinan, dan nifas.

2. Pelayanan kesehatan yang ibu dapat di pelayanan kesehatanan


seperti berikut:
a. Pengukuran Tekanan Darah
b. Pengukuran Berat Badan
c. Pengukuran LiLA (Lingkar Lengan Atas)
d. Pemberian Zat Fe (Zat Besi)
e. Pemberian Imunisasi Tetanus sebanyak 2 kali
f. Pemantauan pertumbuhan janin

3. Apakah peralatan persalinan seperti dibawah ini tersedia di tempat


persalinan.
a. Tensi Meter
b. Stetoskop
c. Monoral (alat pendengar denyut jantung janin dalam
kandungan)
d. Timbangan dewasa
e. Timbangan bayi
f. Pengukur panjang bayi
g. Termometer
h. Alat pemeriksaan Hb (sahli)
i. Sarung tangan
j. Gunting
k. Benang
l. Kapas
m. Kateter
n. Jarum hecting

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
3. Apakah ibu mendapatkan konsultasi kesehatan seperti
a. Kebutuhan gizi ibu hamil
b. Manfaat ASI termasuk Kolostrum
c. Higiene ibu hamil termasuk kebersihan alat kelamin dan
payudara
d. Mengenali tanda-tanda kesejahteraan janin.
e. Manfaat perawatan bayi baru lahir termasuk perawatan tali
pusat
f. Mengenali tanda-tanda kehamilan risiko tinggi

4. Apakah ibu diberitahukan 10 (sepuluh) tanda-tanda bahaya pada


kehamilan, persalinan dan nifas serta mencari pertolongan segera,
seperti
Berikan tanda √ jika ibu menjawab ”ya” pada setiap item
pertanyaan
a. Ibu tidak mau makan dan muntah terus
b. Berat badan ibu tidak naik
c. Perdarahan
d. Bengkak tangan/wajah, pusing dan dapa diikuti kejang
e. Gerakan janin berkurang di dalam rahim
f. Kelainan letak janin dalam rahim
g. Ketuban pecah sebelum waktunya
h. Persalinan lama (lebih dari 12 jam)
i. Penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan
j. Demam tinggi pada masa nifas

5. Berapa kalikah ibu datang memeriksakan kehamilan ke petugas


kesehatan
6. Apakah petugas kesehatan mendatangi ibu untuk memeriksa
kehamilan ibu
Berapa kali petugas datang memeriksa kehamilan ibu

I. Jarak Rumah Ke Tempat Persalinan ................Meter


II. Kadar Hb Darah Ibu berdasarkan Partograf..................gr%

Desa.....................................2007

Pewawancara

( )

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Validitas dan Reliabilitas
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H A)

Mean Std Dev Cases


1. PAR.A .8000 .4068 30.0
2. PAR.B .8000 .4068 30.0
3. PAR.C .9000 .3051 30.0
4. PAR.D .8667 .3457 30.0
5. PAR.F .7333 .4498 30.0
6. SAKIT.A .8000 .4068 30.0
7. SAKIT.B .9333 .2537 30.0
8. SAKIT.C .7667 .4302 30.0
9. SALIN.A .8667 .3457 30.0
10. SALIN.B .8000 .4068 30.0
11. SALIN.C .8667 .3457 30.0
12. SALIN.D .8000 .4068 30.0
13. SALIN.E .9000 .3051 30.0
14. SALIN.F .8000 .4068 30.0
15. SALIN.G .9000 .3051 30.0
16. SALIN.H .7333 .4498 30.0
17. SALIN.I .8000 .4068 30.0
18. SALIN.J .9000 .3051 30.0
19. SALIN.K .7333 .4498 30.0
20. SALIN.L .8667 .3457 30.0
21. SALIN.M .8000 .4068 30.0
22. TOLONG.A .7333 .4498 30.0
23. TOLONG.B .7000 .4661 30.0
24. TOLONG.C .8333 .3790 30.0
25. TOLONG.D .9333 .2537 30.0
26. ANC.A .8667 .3457 30.0
27. ANC.B .8667 .3457 30.0
28. ANC.C .9000 .3051 30.0
29. ANC.D .8000 .4068 30.0
30. FAS.A .7000 .4661 30.0
31. FAS.B .8000 .4068 30.0
32. FAS.C .7333 .4498 30.0
33. FAS.D .8000 .4068 30.0
34. FAS.E .7000 .4661 30.0
35. FAS.F .8000 .4068 30.0
36. FAS.G .6667 .4795 30.0
37. FAS.H .8000 .4068 30.0
38. FAS.I .8667 .3457 30.0
39. FAS.J .7000 .4661 30.0
40. FAS.K .8000 .4068 30.0
41. FAS.L .7000 .4661 30.0
42. FAS.M .8000 .4068 30.0
43. FAS.N .7667 .4302 30.0
44. FAS.O .8000 .4068 30.0
45. FAS.Q .8000 .4068 30.0

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H A)

Mean Std Dev Cases


46. FAS.R .9000 .3051 30.0
47. FAS.S .8000 .4068 30.0
48. FAS.T .7000 .4661 30.0
49. FAS.U .7667 .4302 30.0
50. FAS.V .8667 .3457 30.0
51. FAS.W .9000 .3051 30.0
52. FAS.X .8000 .4068 30.0
53. FAS.Y .8333 .3790 30.0
54. FAS.Z .7667 .4302 30.0
55. FAS.AA .9333 .2537 30.0
56. FAS.AB .8667 .3457 30.0
57. FAS.AC .8000 .4068 30.0
58. FAS.AD .7000 .4661 30.0
59. FAS.AE .8000 .4068 30.0
60. FAS.AF .8667 .3457 30.0
61. FAS.AG .8000 .4068 30.0
62. FAS.AH .8000 .4068 30.0
63. FAS.AI .7333 .4498 30.0
64. FAS.AJ .8000 .4068 30.0
65. FAS.AK .8000 .4068 30.0
66. FAS.AL .8333 .3790 30.0
67. FAS.AM .8667 .3457 30.0
68. FAS.AN .9000 .3051 30.0
69. FAS.AO .7667 .4302 30.0

N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 55.8333 411.8678 20.2945 69

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H A)

Item-total Statistics

Scale Scale Corrected


Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
PAR.A 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
PAR.B 55.0333 399.3437 .7601 (valid) .9881
PAR.C 54.9333 406.6851 .4136 (valid) .9884
PAR.D 54.9667 401.2747 .7561 (valid) .9881
PAR.F 55.1000 394.4379 .9643 (valid) .9879
SAKIT.A 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
SAKIT.B 54.9000 406.1621 .5517 (valid) .9883
SAKIT.C 55.0667 399.9264 .6833 (valid) .9882
SALIN.A 54.9667 403.1368 .6202 (valid) .9883
SALIN.B 55.0333 399.3437 .7601 (valid) .9881
SALIN.C 54.9667 401.2747 .7561 (valid) .9881
SALIN.D 55.0333 398.5851 .8075 (valid) .9881

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
SALIN.E 54.9333 405.0299 .5492 (valid) .9883
SALIN.F 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
SALIN.G 54.9333 405.5816 .5039 (valid) .9884
SALIN.H 55.1000 394.4379 .9643 (valid) .9879
SALIN.I 55.0333 398.5161 .8118 (valid) .9881
SALIN.J 54.9333 405.0299 .5492 (valid) .9883
SALIN.K 55.1000 394.4379 .9643 (valid) .9879
SALIN.L 54.9667 402.0333 .7007 (valid) .9882
SALIN.M 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
TOLONG.A 55.1000 396.3690 .8541 (valid) .9880
TOLONG.B 55.1333 398.3264 .7162 (valid) .9882
TOLONG.C 55.0000 400.4828 .7410 (valid) .9881
TOLONG.D 54.9000 406.1621 .5517 (valid) .9883
ANC.A 54.9667 401.2747 .7561 (valid) .9881
ANC.B 54.9667 403.1368 .6202 (valid) .9883
ANC.C 54.9333 405.0299 .5492 (valid) .9883
ANC.D 55.0333 397.4126 .8809 (valid) .9880
FAS.A 55.1333 396.7402 .8030 (valid) .9881
FAS.B 55.0333 400.7230 .6741 (valid) .9882
FAS.C 55.1000 394.4379 .9643 (valid) .9879
FAS.D 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
FAS.E 55.1333 398.3264 .7162 (valid) .9882
FAS.F 55.0333 399.3437 .7601 (valid) .9881
FAS.G 55.1667 399.7989 .6175 (valid) .9883
FAS.H 55.0333 400.7230 .6741 (valid) .9882
FAS.I 54.9667 403.1368 .6202 (valid) .9883
FAS.J 55.1333 398.3264 .7162 (valid) .9882
FAS.K 55.0333 398.5161 .8118 (valid) .9881
FAS.L 55.1333 396.7402 .8030 (valid) .9881
FAS.M 55.0333 398.5851 .8075 (valid) .9881
FAS.N 55.0667 399.9264 .6833 (valid) .9882
FAS.O 55.0333 397.4126 .8809 (valid) .9880
FAS.Q 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
FAS.R 54.9333 405.0299 .5492 (valid) .9883
FAS.S 55.0333 400.1713 .7084 (valid) .9882
FAS.T 55.1333 398.3264 .7162 (valid) .9882
FAS.U 55.0667 399.9264 .6833 (valid) .9882
FAS.V 54.9667 401.2747 .7561 (valid) .9881
FAS.W 54.9333 405.5816 .5039 (valid) .9884
FAS.X 55.0333 402.3782 .5713 (valid) .9883
FAS.Y 55.0000 403.1034 .5664 (valid) .9883
FAS.Z 55.0667 398.2713 .7811 (valid) .9881
FAS.AA 54.9000 406.1621 .5517 (valid) .9883
FAS.AB 54.9667 403.1368 .6202 (valid) .9883
FAS.AC 55.0333 399.3437 .7601 (valid) .9881
FAS.AD 55.1333 396.7402 .8030 (valid) .9881

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
FAS.AE 55.0333 397.2057 .8939 (valid) .9880
FAS.AF 54.9667 402.0333 .7007 (valid) .9882
FAS.AG 55.0333 399.0678 .7773 (valid) .9881
FAS.AH 55.0333 397.4126 .8809 (valid) .9880
FAS.AI 55.1000 394.4379 .9643 (valid) .9879
FAS.AJ 55.0333 402.7230 .5499 (valid) .9883
FAS.AK 55.0333 398.5161 .8118 (valid) .9881
FAS.AL 55.0000 399.3793 .8148 (valid) .9881
FAS.AM 54.9667 401.2747 .7561 (valid) .9881
FAS.AN 54.9333 405.0299 .5492 (valid) .9883
FAS.AO 55.0667 399.9264 .6833 (valid) .9882

Reliability Coefficients
N of Cases = 30.0 N of Items = 69
Alpha = .9883
Berdasarkan Tabel Harga Kritik dari r Product- Moment diketahui rtabel = 0,361.
rtabel = 0,361, didapatkan karena kuesioner dilakukan uji coba terhadap 30 responden.

Item kuesioner dikatakan valid jika rhitung > rtabel


Rhitung dapat dilihat pada item-total stataistik pada nilai corrected item-total
correlation.

Dalam penentuan item kuesioner reliabel dapat diketahui berdasarkan ketentuan :


Jika ralpha > rtabel
Berdasarkan uji dapat diketahui bahwa nilai ralpha = 0,9883
Hal ini berarti ralpha > rtabel = 0,9883 > 0,361
Berarti kuesioner dalam penelitian ini adalah reliabel.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Master Data Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006

No Lahir Mati Kerja Didik K-1 K-4 Paritas par kat Anemia Riwyt Sakit Jrk Rumah Rwyt Salin Fasilitas Penolong
1 0 Petani SMP 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
2 0 Petani SD 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0
3 0 Petani SMP 1 1 4 0 1 0 1 1 0 1
4 0 Petani SMA 0 0 3 1 1 0 0 0 1 0
5 0 Pedagang SD 1 0 5 0 0 0 0 1 0 0
6 0 Pedagang SMA 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1
7 0 Pedagang SD 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0
8 0 Tidak Bekerja SD 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1
9 0 Pedagang SMP 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0
10 0 Pedagang SD 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0
11 0 Petani SMA 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1
12 0 Petani SMP 1 0 3 1 1 0 0 1 0 0
13 0 Tidak Bekerja SD 0 0 3 1 0 0 0 0 0 0
14 0 Petani SD 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1
15 0 Petani SMA 0 0 3 1 0 1 0 1 0 0
16 0 Petani SMP 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0
17 0 Tidak Bekerja SD 1 0 5 0 0 0 0 1 0 1
18 0 Tidak Bekerja SMP 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0
19 0 PNS SMA 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0
20 0 Pedagang SMP 1 1 5 0 1 0 1 0 1 0
21 0 PNS SD 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0
22 0 Petani SMP 1 0 3 1 0 0 0 1 0 0
23 0 Tidak Bekerja D-3 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0
24 0 Petani SMP 0 0 4 0 1 0 0 1 1 0
25 0 Petani TIDAK SEKOLAH 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1
26 0 Petani SMP 0 0 3 1 1 0 0 0 1 0
27 0 Tidak Bekerja SMA 1 0 5 0 0 1 0 0 0 0
28 0 Petani SD 0 0 5 0 1 0 0 0 0 0
29 0 Petani SD 0 0 4 0 0 1 0 0 1 0
30 0 Petani SMP 1 1 3 1 0 1 1 1 0 1
31 0 Petani SMA 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0
32 0 Tidak Bekerja SMP 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1
33 0 Petani SMP 0 0 3 1 1 0 1 1 0 0
34 0 Tidak Bekerja SMA 1 0 4 0 0 0 0 0 1 0
35 0 Tidak Bekerja SD 0 0 3 1 1 0 1 1 0 1
36 0 Petani SMA 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0
37 0 Petani TIDAK SEKOLAH 0 0 4 0 0 1 1 0 0 0
38 0 Petani SMA 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0
39 0 Tidak Bekerja TIDAK SEKOLAH 1 0 4 0 1 0 0 0 0 0
40 0 Petani SMA 0 0 2 1 0 0 1 0 1 0
41 0 Petani SMP 0 1 3 1 1 0 0 1 0 0
42 0 Petani SMA 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0
43 0 Tidak Bekerja SD 1 0 3 1 1 1 0 1 0 0
44 0 Petani SMP 0 0 4 0 0 0 1 1 1 0
45 0 Petani SMP 0 0 2 1 1 0 0 0 1 1
46 0 Petani SMP 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0
47 0 Tidak Bekerja SMA 0 0 3 1 1 1 0 1 1 0
48 0 Pedagang SMP 1 0 4 0 0 1 1 0 0 0
49 0 Pedagang SMP 0 0 5 0 1 0 1 0 1 1
50 0 Pedagang SMA 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0
51 0 Tidak Bekerja TIDAK SEKOLAH 0 0 3 1 1 1 1 1 0 0
52 0 Pedagang SMA 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1
53 0 Pedagang SMP 1 0 2 1 1 0 1 0 0 0
54 0 Petani SMA 0 0 4 0 0 1 0 1 0 0
55 0 Petani SMP 0 1 3 1 1 0 0 0 0 0
56 0 Tidak Bekerja SMA 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0
57 0 Petani SMP 0 0 5 0 1 0 0 0 0 0
58 0 Tidak Bekerja SMP 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
59 0 Petani SMP 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0
60 0 Tidak Bekerja SMA 1 0 2 1 0 1 0 1 0 0
61 0 Petani SD 0 1 3 1 1 0 0 1 1 1
62 0 Petani SMA 0 0 2 1 0 1 1 0 0 0
63 0 Petani SMP 1 0 2 1 1 1 1 1 1 0
64 0 Tidak Bekerja SMA 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0
65 0 Petani SMA 0 0 4 0 1 0 1 0 1 0
66 0 Petani SD 1 1 2 1 0 1 1 1 0 0
67 0 Petani SD 0 0 2 1 1 0 1 0 0 0
68 1 PNS SMP 1 1 5 0 0 1 0 0 1 0
69 1 Petani SMP 1 1 2 1 1 1 1 1 0 0
70 1 Petani TIDAK SEKOLAH 1 0 3 1 0 0 1 0 1 1
71 1 Petani SMA 1 0 4 0 1 1 0 1 1 0
72 1 Petani SMP 0 1 2 1 0 0 1 0 0 0
73 1 Pedagang SMA 0 0 2 1 1 1 0 1 0 0

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
74 1 Pedagang SMP 1 1 2 1 1 1 0 0 0 1
75 1 Tidak Bekerja SMP 0 0 4 0 0 0 0 1 1 0
Master Data Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006

No Lahir Mati Kerja Didik K-1 K-4 Paritas par kat Anemia Riwyt Sakit Jrk Rumah Rwyt Salin Fasilitas Penolong
76 1 Pedagang SD 1 1 5 0 1 0 0 0 0 1
77 1 Petani SMP 1 0 4 0 0 1 1 0 1 1
78 1 Petani SMA 1 0 2 1 0 1 1 1 0 0
79 1 Petani TIDAK SEKOLAH 0 0 3 1 1 1 1 1 1 1
80 1 Tidak Bekerja SD 0 0 3 1 1 1 1 1 1 0
81 1 Petani SMP 1 1 4 0 1 0 0 1 0 0
82 1 Petani SMA 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1
83 1 Pedagang SMP 0 0 2 1 0 1 1 1 0 1
84 1 Tidak Bekerja SMP 1 1 3 1 1 1 1 1 1 0
85 1 Tidak Bekerja SD 1 0 2 1 1 0 0 0 1 1
86 1 Petani SMA 1 0 5 0 0 1 1 1 1 0
87 1 Petani SMP 0 1 2 1 1 1 1 0 0 1
88 1 Pedagang SD 1 0 2 1 1 0 1 1 1 1
89 1 Petani SD 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1
90 1 Tidak Bekerja SMA 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0
91 1 Petani SD 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1
92 1 Pedagang SD 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1
93 1 Petani SMP 0 0 4 0 1 0 1 0 1 0
94 1 Tidak Bekerja SMA 1 1 2 1 1 1 1 1 0 1
95 1 Petani TIDAK SEKOLAH 1 1 3 1 0 1 1 0 1 1
96 1 Petani SMP 0 1 5 0 1 1 1 1 1 1
97 1 Pedagang SMP 1 0 4 0 1 1 0 1 0 0
98 1 Petani SMA 0 1 2 1 1 0 1 1 1 1
99 1 Tidak Bekerja SMP 1 0 5 0 1 0 1 1 0 1
100 1 Petani SMP 0 1 4 0 1 1 1 1 1 1
101 1 Tidak Bekerja SMA 1 0 3 1 1 1 0 0 0 0
102 1 Tidak Bekerja SD 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1
103 1 Petani SMA 1 1 4 0 1 1 0 0 0 0
104 1 Petani SD 1 0 3 1 1 0 1 1 1 1
105 1 Petani SMA 0 1 3 1 1 1 0 1 0 0
106 1 Tidak Bekerja SMP 0 0 4 0 0 0 1 1 1 1
107 1 Petani SMA 1 0 3 1 1 1 0 0 0 0
108 1 PNS SD 0 1 3 1 1 0 1 1 1 1
109 1 Petani SMA 1 0 3 1 1 1 0 0 0 0
110 1 Tidak Bekerja SMP 0 0 2 1 1 1 0 1 1 1
111 1 Pedagang SMP 1 1 4 0 1 0 0 1 0 0
112 1 Petani SD 0 0 5 0 0 1 0 0 0 0
113 1 Petani SD 0 0 5 0 0 1 0 1 1 1
114 1 Tidak Bekerja SMA 1 1 5 0 1 1 0 1 1 1
115 1 Petani TIDAK SEKOLAH 0 0 3 1 0 0 0 1 0 0
116 1 Pedagang SMP 1 1 3 1 0 1 0 1 1 1
117 1 Petani SMA 1 0 4 0 1 1 0 0 1 1
118 1 Tidak Bekerja SMP 1 1 3 1 0 1 1 1 0 0
119 1 Petani SMA 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1
120 1 Petani SD 1 0 5 0 1 1 1 0 0 1
121 1 Petani SMA 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1
122 1 Petani SMP 1 0 3 1 1 1 0 0 1 1
123 1 Tidak Bekerja SMA 1 1 2 1 0 0 1 0 0 0
124 1 Pedagang SMP 1 1 3 1 1 1 0 1 1 1
125 1 Tidak Bekerja SMP 0 1 3 1 1 1 0 1 0 1
126 1 Petani SMP 1 0 2 1 1 1 0 1 0 0
127 1 Tidak Bekerja SMA 1 1 3 1 1 0 0 1 1 1
128 1 Petani SMP 1 0 5 0 0 1 0 1 1 1
129 1 Pedagang SMA 1 1 5 0 1 0 0 0 0 0
130 1 Petani SD 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1
131 1 Tidak Bekerja D-3 1 0 3 1 1 1 0 1 1 1
132 1 Petani SMA 1 1 3 1 1 1 1 0 0 1
133 1 Petani SD 0 1 2 1 0 1 0 0 1 0
134 1 Petani SD 1 1 4 0 1 1 1 1 1 1

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Analisis Univariat
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pendidikan * Lahir mati 134 100.0% 0 .0% 134 100.0%

Pendidikan * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Pendidikan D-3 Count 1 1 2
% within Pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 1.5% 1.5% 1.5%
% of Total .7% .7% 1.5%
SD Count 16 16 32
% within Pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 23.9% 23.9% 23.9%
% of Total 11.9% 11.9% 23.9%
SMA Count 21 21 42
% within Pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 31.3% 31.3% 31.3%
% of Total 15.7% 15.7% 31.3%
SMP Count 25 25 50
% within Pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 37.3% 37.3% 37.3%
% of Total 18.7% 18.7% 37.3%
TIDAK SEKOLAH Count 4 4 8
% within Pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 6.0% 6.0% 6.0%
% of Total 3.0% 3.0% 6.0%
Total Count 67 67 134
% within Pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig.
Value df (2-sided)
Pearson Chi-Square .000a 4 1.000
Likelihood Ratio .000 4 1.000
N of Valid Cases 134
a. 4 cells (40.0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 1.00.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for a
Pendidikan (D-3
/ SD )
a. Risk Estimate statistics cannot be computed. They
are only computed for a 2*2 table without empty cells.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pekejaan * Lahir mati 134 100.0% 0 .0% 134 100.0%

Pekejaan * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Pekejaan PNS Count 2 2 4
% within Pekejaan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 3.0% 3.0% 3.0%
% of Total 1.5% 1.5% 3.0%
Pedagang Count 11 11 22
% within Pekejaan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 16.4% 16.4% 16.4%
% of Total 8.2% 8.2% 16.4%
Petani Count 37 37 74
% within Pekejaan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 55.2% 55.2% 55.2%
% of Total 27.6% 27.6% 55.2%
Tidak Bekerja Count 17 17 34
% within Pekejaan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 25.4% 25.4% 25.4%
% of Total 12.7% 12.7% 25.4%
Total Count 67 67 134
% within Pekejaan 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig.
Value df (2-sided)
Pearson Chi-Square .000a 3 1.000
Likelihood Ratio .000 3 1.000
N of Valid Cases 134
a. 2 cells (25.0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 2.00.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for a
Pekejaan (Pedagang
/ Petani )
a. Risk Estimate statistics cannot be computed. They
are only computed for a 2*2 table without empty cells.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Analisis Bivariat
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Kunjungan K-1
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
* Lahir mati

Kunjungan K-1 * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Kunjungan Tidak Count 46 27 73
K-1 % within Kunjungan K-1 63.0% 37.0% 100.0%
% within Lahir mati 68.7% 40.3% 54.5%
% of Total 34.3% 20.1% 54.5%
Ya Count 21 40 61
% within Kunjungan K-1 34.4% 65.6% 100.0%
% within Lahir mati 31.3% 59.7% 45.5%
% of Total 15.7% 29.9% 45.5%
Total Count 67 67 134
% within Kunjungan K-1 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 10.863b 1 .001
Continuity Correction a 9.750 1 .002
Likelihood Ratio 11.020 1 .001
Fisher's Exact Test .002 .001
Linear-by-Linear
10.782 1 .001
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
30.50.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Kunjungan
3.245 1.595 6.604
K-1 (Tidak / Ya)
For cohort Lahir mati =
1.830 1.241 2.699
Kasus
For cohort Lahir mati =
.564 .397 .801
Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Kunjungan K-4
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
* Lahir mati

Kunjungan K-4 * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Kunjungan Tidak Count 52 32 84
K-4 % within Kunjungan K-4 61.9% 38.1% 100.0%
% within Lahir mati 77.6% 47.8% 62.7%
% of Total 38.8% 23.9% 62.7%
Ya Count 15 35 50
% within Kunjungan K-4 30.0% 70.0% 100.0%
% within Lahir mati 22.4% 52.2% 37.3%
% of Total 11.2% 26.1% 37.3%
Total Count 67 67 134
% within Kunjungan K-4 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 12.762b 1 .000
Continuity Correction a 11.518 1 .001
Likelihood Ratio 13.036 1 .000
Fisher's Exact Test .001 .000
Linear-by-Linear
12.667 1 .000
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
25.00.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Kunjungan
3.792 1.794 8.012
K-4 (Tidak / Ya)
For cohort Lahir mati =
2.063 1.309 3.254
Kasus
For cohort Lahir mati =
.544 .392 .755
Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Paritas Kategori
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
* Lahir mati

Paritas Kategori * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Paritas Kategori Risti Count 43 31 74
% within Paritas Kategori 58.1% 41.9% 100.0%
% within Lahir mati 64.2% 46.3% 55.2%
% of Total 32.1% 23.1% 55.2%
Tidak Risti Count 24 36 60
% within Paritas Kategori 40.0% 60.0% 100.0%
% within Lahir mati 35.8% 53.7% 44.8%
% of Total 17.9% 26.9% 44.8%
Total Count 67 67 134
% within Paritas Kategori 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 4.346b 1 .037
Continuity Correction a 3.652 1 .056
Likelihood Ratio 4.371 1 .037
Fisher's Exact Test .056 .028
Linear-by-Linear
4.314 1 .038
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
30.00.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
Paritas Kategori 2.081 1.041 4.160
(Risti / Tidak Risti)
For cohort Lahir
1.453 1.008 2.093
mati = Kasus
For cohort Lahir
.698 .498 .980
mati = Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Anemia * Lahir mati 134 100.0% 0 .0% 134 100.0%

Anemia * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Anemia Anemia Count 37 24 61
% within Anemia 60.7% 39.3% 100.0%
% within Lahir mati 55.2% 35.8% 45.5%
% of Total 27.6% 17.9% 45.5%
Tidak Anemia Count 30 43 73
% within Anemia 41.1% 58.9% 100.0%
% within Lahir mati 44.8% 64.2% 54.5%
% of Total 22.4% 32.1% 54.5%
Total Count 67 67 134
% within Anemia 50.0% 50.0% 100.0%
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 5.086b 1 .024
Continuity Correction a 4.333 1 .037
Likelihood Ratio 5.119 1 .024
Fisher's Exact Test .037 .018
Linear-by-Linear
5.048 1 .025
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
30.50.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Anemia
2.210 1.104 4.422
(Anemia / Tidak Anemia)
For cohort Lahir mati =
1.476 1.050 2.076
Kasus
For cohort Lahir mati =
.668 .463 .963
Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Riwayat Penyakit
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
Ibu * Lahir mati

Riwayat Penyakit Ibu * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Riwayat Penyakit Risti Count 41 22 63
Ibu % within Riwayat
65.1% 34.9% 100.0%
Penyakit Ibu
% within Lahir mati 61.2% 32.8% 47.0%
% of Total 30.6% 16.4% 47.0%
Tidak Risti Count 26 45 71
% within Riwayat
36.6% 63.4% 100.0%
Penyakit Ibu
% within Lahir mati 38.8% 67.2% 53.0%
% of Total 19.4% 33.6% 53.0%
Total Count 67 67 134
% within Riwayat
50.0% 50.0% 100.0%
Penyakit Ibu
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 10.815b 1 .001
Continuity Correction a 9.706 1 .002
Likelihood Ratio 10.967 1 .001
Fisher's Exact Test .002 .001
Linear-by-Linear
10.734 1 .001
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
31.50.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
Riwayat Penyakit Ibu 3.226 1.589 6.548
(Risti / Tidak Risti)
For cohort Lahir mati
1.777 1.246 2.536
= Kasus
For cohort Lahir mati
.551 .377 .806
= Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Riwayat persalinan
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
ibu * Lahir mati

Riwayat persalinan ibu * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Riwayat persalinan Risti Count 39 24 63
ibu % within Riwayat
61.9% 38.1% 100.0%
persalinan ibu
% within Lahir mati 58.2% 35.8% 47.0%
% of Total 29.1% 17.9% 47.0%
Tidak Risti Count 28 43 71
% within Riwayat
39.4% 60.6% 100.0%
persalinan ibu
% within Lahir mati 41.8% 64.2% 53.0%
% of Total 20.9% 32.1% 53.0%
Total Count 67 67 134
% within Riwayat
50.0% 50.0% 100.0%
persalinan ibu
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 6.740b 1 .009
Continuity Correction a 5.872 1 .015
Likelihood Ratio 6.799 1 .009
Fisher's Exact Test .015 .008
Linear-by-Linear
6.690 1 .010
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
31.50.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
Riwayat persalinan 2.496 1.244 5.008
ibu (Risti / Tidak Risti)
For cohort Lahir mati =
1.570 1.109 2.222
Kasus
For cohort Lahir mati =
.629 .436 .907
Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Fasilitas Pelayanan
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
Kesehatan * Lahir mati

Fasilitas Pelayanan Kesehatan * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Fasilitas Pelayanan Tidak Lengkap Count 36 29 65
Kesehatan % within Fasilitas
55.4% 44.6% 100.0%
Pelayanan Kesehatan
% within Lahir mati 53.7% 43.3% 48.5%
% of Total 26.9% 21.6% 48.5%
Lengkap Count 31 38 69
% within Fasilitas
44.9% 55.1% 100.0%
Pelayanan Kesehatan
% within Lahir mati 46.3% 56.7% 51.5%
% of Total 23.1% 28.4% 51.5%
Total Count 67 67 134
% within Fasilitas
50.0% 50.0% 100.0%
Pelayanan Kesehatan
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 1.464b 1 .226
Continuity Correction a 1.076 1 .300
Likelihood Ratio 1.467 1 .226
Fisher's Exact Test .300 .150
Linear-by-Linear
1.453 1 .228
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
32.50.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
Fasilitas Pelayanan
1.522 .770 3.008
Kesehatan (Tidak
Lengkap / Lengkap)
For cohort Lahir
1.233 .877 1.733
mati = Kasus
For cohort Lahir
.810 .574 1.143
mati = Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Penolong Persalinan
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
* Lahir mati

Penolong Persalinan * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Penolong Persalinan Non Tenakes Count 53 27 80
% within Penolong
66.3% 33.8% 100.0%
Persalinan
% within Lahir mati 79.1% 40.3% 59.7%
% of Total 39.6% 20.1% 59.7%
Tenakes Count 14 40 54
% within Penolong
25.9% 74.1% 100.0%
Persalinan
% within Lahir mati 20.9% 59.7% 40.3%
% of Total 10.4% 29.9% 40.3%
Total Count 67 67 134
% within Penolong
50.0% 50.0% 100.0%
Persalinan
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 20.969b 1 .000
Continuity Correction a 19.387 1 .000
Likelihood Ratio 21.659 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
20.812 1 .000
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
27.00.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Penolong
Persalinan (Non 5.608 2.610 12.052
Tenakes / Tenakes)
For cohort Lahir mati =
2.555 1.586 4.118
Kasus
For cohort Lahir mati =
.456 .323 .643
Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Jarak Rumah ke Tempat
134 100.0% 0 .0% 134 100.0%
Persalinan * Lahir mati

Jarak Rumah ke Tempat Persalinan * Lahir mati Crosstabulation

Lahir mati
Kasus Kontrol Total
Jarak Rumah ke Tempat Jauh > 3km Count 43 34 77
Persalinan % within Jarak Rumah
55.8% 44.2% 100.0%
ke Tempat Persalinan
% within Lahir mati 64.2% 50.7% 57.5%
% of Total 32.1% 25.4% 57.5%
Dekat <= 3km Count 24 33 57
% within Jarak Rumah
42.1% 57.9% 100.0%
ke Tempat Persalinan
% within Lahir mati 35.8% 49.3% 42.5%
% of Total 17.9% 24.6% 42.5%
Total Count 67 67 134
% within Jarak Rumah
50.0% 50.0% 100.0%
ke Tempat Persalinan
% within Lahir mati 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 50.0% 50.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 2.473b 1 .116
Continuity Correction a 1.954 1 .162
Likelihood Ratio 2.481 1 .115
Fisher's Exact Test .162 .081
Linear-by-Linear
2.455 1 .117
Association
N of Valid Cases 134
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
28.50.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Jarak
Rumah ke Tempat
1.739 .871 3.474
Persalinan (Jauh >
3km / Dekat <= 3km)
For cohort Lahir mati
1.326 .922 1.908
= Kasus
For cohort Lahir mati
.763 .546 1.066
= Kontrol
N of Valid Cases 134

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Analisis Multivariat
Logistic Regression
Case Processing Summary
a
Unweighted Cases N Percent
Selected Cases Included in Analysis 134 100.0
Missing Cases 0 .0
Total 134 100.0
Unselected Cases 0 .0
Total 134 100.0
a. If weight is in effect, see classification table for the total
number of cases.

Dependent Variable Encoding

Original Value Internal Value


Kasus 0
Kontrol 1

Block 0: Beginning Block


Classification Table a,b

Predicted

Lahir mati Percentage


Observed Kasus Kontrol Correct
Step 0 Lahir mati Kasus 0 67 .0
Kontrol 0 67 100.0
Overall Percentage 50.0
a. Constant is included in the model.
b. The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)


Step 0 Constant .000 .173 .000 1 1.000 1.000

Variables not in the Equation

Score df Sig.
Step Variables K1 10.863 1 .001
0 K4 12.762 1 .000
PARITAS 6.186 1 .013
ANEMIA 5.086 1 .024
RWYTSAKI 10.815 1 .001
RWYTSALI 6.740 1 .009
PENOLONG 20.969 1 .000
Overall Statistics 46.421 7 .000

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square df Sig.
Step 1 Step 55.763 7 .000
Block 55.763 7 .000
Model 55.763 7 .000

Model Summary

-2 Log Cox & Snell Nagelkerke


Step likelihood R Square R Square
1 130.000 .340 .454

Classification Tablea

Predicted

Lahir mati Percentage


Observed Kasus Kontrol Correct
Step 1 Lahir mati Kasus 51 16 76.1
Kontrol 19 48 71.6
Overall Percentage 73.9
a. The cut value is .500

Variables in the Equation

95.0% C.I.for EXP(B)


B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper
Step
a
K1 .707 .457 2.390 1 .122 2.027 .828 4.965
1 K4 1.148 .472 5.922 1 .015 3.153 1.250 7.952
PARITAS .406 .178 5.204 1 .023 1.501 1.059 2.129
ANEMIA .578 .442 1.710 1 .191 1.783 .749 4.240
RWYTSAK 1.330 .462 8.307 1 .004 3.782 1.531 9.346
RWYTSAL .561 .436 1.653 1 .198 1.752 .745 4.121
PENOLON 1.770 .476 13.851 1 .000 5.870 2.311 14.909
Constant -3.887 .812 22.890 1 .000 .021
a. Variable(s) entered on step 1: K1, K4, PARITAS, ANEMIA, RWYTSAKI, RWYTSALI, PENOL

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Logistic Regression
Case Processing Summary
a
Unweighted Cases N Percent
Selected Cases Included in Analysis 134 100.0
Missing Cases 0 .0
Total 134 100.0
Unselected Cases 0 .0
Total 134 100.0
a. If weight is in effect, see classification table for the total
number of cases.

Dependent Variable Encoding

Original Value Internal Value


Kasus 0
Kontrol 1

Block 0: Beginning Block


Classification Tablea,b

Predicted

Lahir mati Percentage


Observed Kasus Kontrol Correct
Step 0 Lahir mati Kasus 0 67 .0
Kontrol 0 67 100.0
Overall Percentage 50.0
a. Constant is included in the model.
b. The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)


Step 0 Constant .000 .173 .000 1 1.000 1.000

Variables not in the Equation

Score df Sig.
Step Variables K4 12.762 1 .000
0 PARITAS 6.186 1 .013
RWYTSAKI 10.815 1 .001
PENOLONG 20.969 1 .000
Overall Statistics 41.737 4 .000

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square df Sig.
Step 1 Step 48.872 4 .000
Block 48.872 4 .000
Model 48.872 4 .000

Model Summary

-2 Log Cox & Snell Nagelkerke


Step likelihood R Square R Square
1 136.891 .306 .407

Classification Tablea

Predicted

Lahir mati Percentage


Observed Kasus Kontrol Correct
Step 1 Lahir mati Kasus 49 18 73.1
Kontrol 17 50 74.6
Overall Percentage 73.9
a. The cut value is .500

Variables in the Equation

95.0%C.I.for EXP(B)
B S.E. β df Sig. Exp(B) Lower Upper
Step
a
K4 1.289 .453 8.076 1 .004 3.628 1.492 8.824
1 PARITAS .513 .168 9.326 1 .002 1.670 1.202 2.321
RWYTSAKI 1.409 .438 10.363 1 .001 4.094 1.736 9.656
PENOLONG 1.744 .454 14.741 1 .000 5.721 2.349 13.938
Constant -3.313 .712 21.638 1 .000 .036
a. Variable(s) entered on step 1: K4, PARITAS, RWYTSAKI, PENOLONG.

Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008
111
Viktor: Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006, 2007.
USU e-Repository © 2008