Anda di halaman 1dari 12

TUGAS RUTIN 5

PSIKOLOGI PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU : RAFAEL LISINUS GINTING, S.Pd.,M.Pd

OLEH KELOMPOK IX :
HELEN BETARIA SITORUS

SRI REJEKI SITANGGANG

YUDHA BUDI PRAYOGA

PENDIDIKAN SENI MUSIK REG.A 2018


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TP 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya sehingga saya masih diberikan kesempatan untuk dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Anak Berkebutuhan Khusus”. Makalah ini saya buat guna memenuhi penyelesaian
tugas rutin 5 pada mata kuliah Psikologi Pendidikan , semoga makalah ini dapat menambah
wawasan dan pengatahuan bagi para pembaca.

Dalam penulisan makalah ini, saya tentu saja tidak dapat menyelesaikannya sendiri tanpa
bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada orangtua yang
selalu mendukung dan kepada teman-teman yang selalu mendoakan serta kepada Bapak
RAFAEL LISINUS GINTING,S.Pd.,M.Pd.Selaku dosen Psikologi Pendidikan di Universitas
Negeri Medan yang memberi kesempatan kepada kami untuk menulis makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, saya dengan segala kerendahan hati meminta maaf dan
mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna perbaikan dan penyempurnaan ke
depannya.

Akhir kata saya mengucapkan selamat membaca dan semoga materi yang ada dalam makalah ini
dapat bermanfaat sebagaimana mestinya bagi para pembaca.

Medan ,16 Maret 2019

Kelompok 9
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………...
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................
1.Latar belakang................................................................................................
2.Rumusan masalah..........................................................................................
3.Tujuan............................................................................................................
BAB II KAJIAN TEORI.................................................................................
1.Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus……………………………………….
BAB III PEMBAHASAN.................................................................................
A.Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus………………………………
1. Anak Tuna Netra........................................................................................
2. Anak Tuna Rungu.....................................................................................
3. Anak Tuna Daksa......................................................................................
4. Anak Tuna Wicara......................................................................................
5. KelainanEmosi............................................................................................
6. Keterbelakangan Mental.............................................................................
7. Psikoneurosis..............................................................................................
8. Psikosis......................................................................................................
9. Psikopathi...................................................................................................
C. Sebab-Sebab Anak Berkebutuhan Khusus.......................................
1. Peristiwa Pra Natal (dalam kandungan).......................................................
2. Natal (saat kelahiran).....................................................................................
3. Post Natal (setelah kelahiran)........................................................................
D. Cara MenanganiAnakBerkebutuhanKhusus.........................................
1. Penguatankondisi mental orang tua...............................................................
2. Dukungansoaial yang memadai.....................................................................
3. Peranaktifpemerintah.....................................................................................
E. Cara Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus.......................................
BAB IV PENUTUP…………….............................................................................
1.Kesimpulan………………………………………………………………………….
2.Saran…………………………………………………………………......................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan normal.Banyak
di antara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan,
atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan
penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai anak
berkebutuhan khusus atau anak luar biasa.

Dalam memahami anak berkebutuhan khusus atau anak luara biasa, sangat diperlukan adanya
pemahaman mengenai jenis-jenis kecacatan (anak berkebutuhan khusus) dan akibat-akibat yang
terjadi pada penderita. Anak berkebutuhan khusus disebut sebagai anak yang cacat dikarenakan
mereka termasuk anak yang pertumbuhan dan perkembangannya mengalami penyimpangan atau
kelainan, baik dari segi fisik, mental, emosi, serta sosialnya bila dibandingkan dengan nak yang
normal.

Karakteristik spesifik anak berkebutuhan khusus pada umumnya berkaitan dengan tingkat
perkembangan fungsional. Karakteristik spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan
sensorik motor, kognitif, kemampuan berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan
berinteraksi social, serta kreatifitasnya.Adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik
berkebutuhan khusus, akan memerlukan kemampuan khusus guru. Guru dituntut memiliki
kemampuan beraitan dengan cara mengombinasikan kemampuan dan bakat setiap anak dalam
beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kemampuan berpikir, melihat, mendengar,
berbicara, dan cara besosialisasikan. Hal-hal tersebut diarahkan pada keberhasilan dari tujuan
akhir pembelajaran, yaitu perubahan perilaku kearah pendewasaan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus?
2. Apa saja jenis-jenis anak berkebutuhan khusus?
3. Apa saja yang menyebabkan anak menjadi berkebutuhan khusus?
4. Bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus?
5. Bagaimana metode pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus?

C. Tujuan Penulisan
Dari beberapa rumusan masalah yang telah disebutkan, maka akan tercapai beberapa tujuan
dalam penulisan ini. Diantaranya yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari anak berkebutuhan khusus;
2. Mengetahui jenis-jenis anak berkebutuhan khusus;
3. Mengetahui sebab-sebab terjadinya anak berkebutuhan khusus;
4. Mengetahui cara menangani anak berkebutuhan khusus;
5. Mengetahuimetode pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
1. Menurut Hallahan dan Kauffman, 1986

Anak berkebutuhan khusus (dulu di sebut sebagai anak luar biasa) di definisikan sebagai
anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi
kemanusiaan mereka secara sempurna. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus,
dikarenakn dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan
pendidikan, layanan sosial, layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya
yang bersifat khusus.
Dalam percakapan sehari hari, anak berkebutuhan khusus dijuluki sebagai“orang luar
biasa“, dikarenakan mereka memiliki kelebihan yang luar biasa, misalnya orang yang terkenal
memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa, memiliki kreatifitas yang tinggi dalam
melahirkan suatu temuan-temuan yang luar biasa dibidang iptek,religius, dan di bidang-bidang
kehidupan lainnya.

Dalam dunia pendidikan, kata luar biasa juga merupakan julukan atau sebutan bagi mereka yang
memiliki kekurangan atau mengalami berbagai kelainan dan penyimpangan yang tidak di alami
oleh orang normal pada umumnya. Kelainan atau kekurangan itu dapat berupa kelainan dalam
segi fisik, psikis, sosisal, dan moral.

Pengertian “luar biasa“ dalam dunia pendidikan mempunyai ruang lingkup pengertian yang lebih
luas daripada pengertian “berkelainan atau cacat“ dalam percakapan sehari hari. dalam dunia
pendidikan istilah luar biasa mengandung arti ganda, yaitu mereka yang menyimpang ke atas
karena mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dibanding dengan orang normal pada
mereka yang mnyimpangumumnya dan mereka yang mnyimpang ke bawah, yaitu mereka yang
menderita kelainan atau ketunaan dan kekurangan yang tidak di derita oleh orang normal pada
umumnya. Contoh orang yang menyimpang ke atas dari segi kemampuan intelektual ( otak ),
misalnya professor B.J Habibie, karena dia memiliki inteligensi di atas orang normal dan
kemampuan intelektual dibidang “aerodinamika“ yang berkelas dunia sehingga beliau di juluki
sebagai orang yang jenius di bidangnya, sedangkan contoh orang yang menyimpang ke bawah
ialah orang yang lambat dan sulit dalam belajar.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam dunia pendidikan, anak berkebutuhan khusus di klasifikasikan atas beberapa kelompok
sesuai dengan jenis kelainan anak. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis-jenis anak
berkebutuhan khusus, sebagai berikut:
1. Anak Tuna Netra

Adalah anak yang mempunyai kekurangan secara indrawi, yakni indra penglihatan. Meskipun
indra penglihatannya bermasalah, intelegensi yang mereka miliki masih dalam taraf normal. Hal-
hal yang berhubungan dengan mata diganti dengan indra lain sebagai kompensasinya.
2. Anak Tuna Rungu
Adalah anak yang mempunyai kelainan pada pendengarannya. Mereka mengalami kesulitan
dalam berinteraksi dan bersosialisasi terhadap orang lain terhadap lingkungan termasuk
pendidikan dan pengajaran. Anak tuna rungu dibagi menjadi 2 yaitu, tuli (the deaf), dan kurang
dengar (hard of hearing).
3. Anak Tuna Daksa

Adalah anak yang mempunyai kelainan pada tubuhnya yakni kelumpuhan. Anak yang
mengalami kelumpuhan ini disebabkan karena polio dan gangguan pada syaraf motoriknya.
4. Anak Tuna Wicara

Adalah anak yang mengalami kelainan pada proses berbicara atau berbahasa. Anak yang seperti
ini mengalami kesulitan dalam berbahasa atau berbicara sehingga tidak dapat dimengerti oleh
orang lain.
5. Kelainan Emosi

Adalah anak yang mengalami gangguan pada tingkat emosinya. Hal ini berhubungan dengan
masalah psikologisnya. Anak yang mengalami kelainan emosi ini dibagi menjadi 2 macam yaitu:
A. Gangguan Prilaku, ciri-cirinya yaitu:
1) Suka mengganggu di kelas
2) Tidak sabaran, terlalu cepat beraksi
3) Tidak menghargai orang lain
4) Suka menentang
5) Suka menyalahkan orang lain
6) Sering melamun.

B. Gangguan Konsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder), gejala-gejalanya terjadi


paling sedikit selama 6 bulan. Gejala-gejala tersebut diantaranya yaitu:
1) Tidak mendengarkan orang lain berbicara
2) Sering gagal dalam memperhatikan objek tertentu
3) Sering tidak melaksanakan perintah dar orang lain.

c. Anak Hiperaktif (ADHD/Attention Deficit with Hiperactivity Disorder), gejala-


gejalanya yaitu:
1) Tidak bisa diam
2) Ketidakmampuan untuk member perhatian yang cukup lama
3) Hiperaktivitas
4) Canggung
6. Keterbelakangan Mental
Adalah anak yang memiliki mental yang sangat rendah, selalu membutuhkan bantuan orang lain
karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri, kecerdasannya terbatas, apatis, serta perhatiannya
labil. Berdasarkan intelegensinya, anak yang terbelakang mentalnya terbagi menjadi beberapa
bagian yaitu:

a. Idiot, yaitu anak yang paling rendah taraf intelegensinya (IQ > 20), perkembangan
jiwanya tidak akan bertambah melebihi usia 3 tahun, meskipun pada dasarnya usianya sudah
remaja atau dewasa.
b. Imbesil, yaitu anak yang mempunyai (IQ 20-50), perkembangan jiwanya dapat
mencapai usia 7 tahun, bisa diajari untuk memelihara diri sendirivdalam kebutuhan yang paling
sederhana.

c. Debil atau moron, yaitu anak yang mempunyai (IQ 50-70), keterbelakangan Debil
tidak separah dua jenis diatas. Perkembangan jiwanya dapat mencapai hingga 10 ½ tahun. Orang
Debil ini dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
7. Psikoneurosis

Anak yang mengalami psikoneurosis pada dasarnya adalah anak yang normal. Mereka hanya
mengalami ketegangan pribadi yang terus menerus, selain itu mereka tidak bisa mengatasi
masalahnya sendiri sehingga ketegangan tersebut tidak kunjung reda.Psikoneurosis ini dibagi
menjadi 3 yaitu:
a. Psikoneurosis kekhawatiran, Adalah anak yang mempunyai rasa khawatir yang
berlebihan dan tidak beralasan.
b. Histeris, adalah anak yang secara tidak sadar melumpuhkan salah satu anggota
tubuhnya, sesunguhnya secara organis tidak mengalami kelainan.

c. Psikoneurosis obsesif, adalah anak yang memiliki pikiran-pikiran dan dorongan-


dorongan tertentu yang terus menerus.
8. Psikosis

Psikosis disebut juga dengan kelainan kepribadian yang besar karena seluruh kepribadian orang
yang bersangkutan terkena dan orang tersebut tidak dapat hidup dengan normal.
9. Psikopathi

Adalah kelainan tingkah laku, maksudnya penderita psikopathi ini tidak dapat memperdulikan
norma-norma sosial. Mereka selalu berbuat semaunya sendiri tanpa mempertimbangkan
kepentingan orang lain, hingga sering sekali merugikan orang lain. Dan penderita psikopathi ini
tidak menyadari adanya kelainan pada dirinya.

C. Sebab-Sebab Anak Berkebutuhan Khusus


Ada tiga faktor yang menyebabkan anak berkebutuhan khusus yaitu:
1. Peristiwa Pra Natal (dalam kandungan)

Berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan kelainan pada janin saat ibu hamil
diantaranya adalah:

a. Keracunan darah (Toxaenia) pada ibu-ibu yang sedang hamil dapat menyebabkan
janin tidak memperoleh oksigen secara maksimal, sehingga mempengaruhi syaraf-syaraf otak
yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf dan ketunaan pada bayi.

b. Infeksi karena penyakit kotor (penyakit kelamin / spilis yang diderita ayah atau
ibu), toxoplasmosis (dari virus binatang seperti bulu kucing), trachma dan tumor. Tumor dapat
terjadi pada otak yang berhubungan pada indera penglihatan akibatnya kerusakan pada bola mata
dan pendengaran akibatnya kerusakan dalam selaput gendang telinga.

c. Kekurangan vitamin atau kelebihan zat besi sehingga ibu keracunan yang
mengakibatkan kelainan pada janin yang menyebabkan gangguan pada mata. Juga kerusakan
pada otak sehingga menyebabkan terganggu fungsi berfikirnya atau verbal komunikasi,
kerusakan pada organ telinga sehingga hilangnya fungsi pendengaran.
2. Natal (saat kelahiran)

Pada saat terjadinya kelahiran yang mungkin hanya memakan waktu yang cukup singkat akan
tetapi jika penanganan yang tidak tepat akan mengancam perkembangan bayinya. Diantara nya
adalah:
a) Lahir prematur
b) Kelahiran yang dipaksa dengan menggunakan vacum
c) Proses kelahiran bayi sungsang.
3. Post Natal (setelah kelahiran)

Berbagai peristiwa yang dialami dalamkehidupannya seringkali dapat mengakibatkan seseorang


kehilangan salah satu fungsi organ tubuh atau fungsi otot dan syaraf. Bahkan dapat pula
kehilangan organ itu sendiri. Penyebab ketunaan yang terjadi setelah kelahiran diantaranya:
1) Terjadi insident
2) Kekurangan vitamin atau gizi
3) Penyakit panas tinggi dan kejang-kejang.

D. Cara MenanganiAnakBerkebutuhanKhusus
Tidak dapat dipungkiri, pengasuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan tambahan
energi, pemikiran, serta biaya yang lebih tinggi dibanding mengasuh anak-anak pada umumnya.
berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah dalam menangani anak berkebutuhan khusus di
antaranya adalah sebagai berikut:
1. Penguatan kondisi mental orang tua

Strategi ini membutuhkan peran aktif orang tua dalam melakukan pengasuhan anak
berkebutuhan khusus.Beberapa strategi yang dibutuhkan oleh orang tua anak berkebutuhan
khusus diantaranya perlu menyediakan waktu untuk dirinya sendiri, bekerjasam adalam
pengasuhan dengan pasangan, dan aktif dalam mencari informasi mengenai anak berkebutuhan
khusus.Orang tua perlu menyediakan waktu untuk dirinya sendiri,sebagai bentuk apresiasi
terhadap diri sendiri yang sudah menyediakan waktu ekstra dan tenaga sehari-hari untuk
mengasuh anak berkebutuhan khusus.
2. Dukungan soaial yang memadai

Dukungan social memegang peranan luar biasa bagi keberlangsungan pengasuhan anak
berkebutuhan khusus. Dukungan sosial dapat berupa dorongan moral,yang menguatkan dari
masyarakat sekitar maupun keluarga terdekat. Melalui dukungan sosial, diharapkan orang tua
anak berkebutuhan khusus dapat berbagi pengalaman tentang pola asuh anak berkebutuhan
khusus. Hal ini belum banyak terlihat di lingkungan masyarakat kita, mengingat masih kuatnya
kepercayaan bahwa memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan “karma” dari Tuhan.
Sehingga,kecenderungan yang ada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus cenderung
“dikucilkan” masyarakat. Untuk menghapus kecenderungan ini, perlu peran pemerintah untuk
memberikan edukasi kepada masyarakat umum tentang anak berkebutuhan khusus. Edukasi ini
dapat disampaikan melalui jalur media atau pos-pos pelayanan masyarakat untuk menyentuh
masyarakat di area pinggiran atau pedesaan.
3. Peran aktif pemerintah

Peran aktif pemerintah dalam menyediakan pelayanan kesehatan dan konsultasi yang dapat
dijangkau masyarakat. Hal ini merupakan faktor yang sangat vital bagi masyarakat
umum,terutama bagi mereka yang berada pada kelas social menengah kebawah. Tidak dapat
dipungkiri,pelayanan konsultasi dan kesehatan masih merupakan sesuatu hal yang mahal.

Dengan menyediakan konsultasi anak berkebutuhan khusus yang mudah dijangkau masyarakat,
diharapk anak berkebutuhan khusus mendapat pelayanan konsultasi yang mudah dan murah.
Pemerintah pun, harus menyediakan fasilitas penanganan anak berkebutuhan khusus secara
terpadu. Saat ini,pemerintah sudah memberikan perhatian kepada anak berkebutuhan khusus
melalui pembentukan Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (PSLB) di bawah koordinasi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

E. Cara mengajar anak berkebutuhan khusus


Cara Praktis dalam pengajaran Anak Berkebutuhan Khusus memuat informasi yang menunjang
metode pengajaran guru.Untukituguru harus mengikuti pelatihan pendidikan inklusif yang
praktis dan komprehensif agar dapat memahami dan menerapkan lebih baik strategi-strategi yang
digunakan dalam pendidikan inklusif.
Adapun cara mengajar anak berkebutuhan khusus adalah sebagai berikut:
1. Bersikap baik dan positif,
2. Gunakan seting kelas yang sesuai,
3. Bicaralah dengan jelas dengan posisi wajah menghadap siswa,
4. Menfaatkan semua metode komunikasi,
5. Gunakan strategi pengajaran yang efisien
6. Utamakan dukungan teman sebaya
7. Manfaatkan materi pengajaran yang ada sebaik mungkin
8. Beri penjelasan pada semua anak mengenai diabilitas
9. Buatlah kelas anda seaksesibel mungkin dan

10. Berbagilah pengalaman. Kesemua prinsip pengajaran tersebut juga dapat diterapkan pada
kelas regular.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak berkebutuhan khusus (dulu di sebut sebagai anak luar biasa) di definisikan sebagai anak
yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan
mereka secara sempurna. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus, dikarenakan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan
sosial, layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat
khusus.

Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan,
diantaranya yaitu penguatan kondisi mental orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus,
dukungan sosial yang kuat dari tetangga dan lingkungan sekitar anak berkebutuhan khusus
tersebut, dan yang terakhir adalah peran aktif pemerintah dalam menjadikan pelayanan kesehatan
dan konsultasi bagi anak berkebutuhan khusus.

B. Saran
Setelah mengetahui dan memahami segala sesuatu hal yang berhubungan dengan anak
berkebutuhan khusus, sangat diharapkan bagi masyarakat indonesia terutama bagi para pendidik
dalam menyikapi dan mendidik anak yang menyandang berkebutuhan khusus dengan baik dan
sesuai dengan yang diharapkan. Karena pada dasarnya anak seperti itu bukan malah dijauhi akan
tetapi didekati dan diperlakukan sama dengan manusia normal lainnya akan tetapi caranya yang
berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Sarlito, Wirawan Sarwono, 2010, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Rajawali Pers.

Dariyo, Agoes, 2007, Psikologi Perkembangan anak 3 tahun pertama, bandung: Revika
Aditama.
An, Mahfud, TT, Petunjuk Mengatasi Stres, Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ahmadi, Abu, 2008, Psikologi Belajar, jakarta: Rineka Cipta.