Anda di halaman 1dari 8

Tugas RMK Pengantar Manajemen Pariwisata

Pemasaran Strategis Destinasi Pariwisata II

Kelompok 4

Oleh :

Kadek Amelia Mustikaningsih (1733121407)


Ariyanto Mnune (1733121373)
Ida Ayu Ary Widyantari (1733121389)
I Nyoman Pujiarsa (1733121365)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WARMADEWA

DENPASAR
2018/2019

A. KEBERADAAN TOURIST EVENT DAN ATTRACTION


Event dan attraction merupakan strategi utama untuk menarik wisatawan
datang berkunjung ke suatu destinasi. Event merupakan suatu campuran unik dari
durasi, pengaturan, pengurus dan orang-orangnya (Gets,1997). Event adalah suatu
ritual istimewa penunjukan, penampilan atau perayaan yang pasti di rencanakan untuk
mencapai tujuan social, budaya atau tujuan bersama.
(Allen, 2002:11) atraksi didefinisikan sebagai “a future in an area that is a
place, venue or focus of activities”. Jadi dapat dikatakan bahwa atraksi wisata
merupakan segala sesuatu, baik tempat maupun kegiatan yang dapat menarik
wisatawan atau pengunjung untuk datang dengan tujuan berwisata atau berekreasi
memanfaatkan waktu luangnya.
Suatu daerah untuk menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang baik harus
dikembangkan 3 hal agar daerah itu menarik untuk dikunjungi, yaitu:
- Adanya something to see
Maksudnya adalah sesuatu yang menarik untuk dilihat.
- Adanya something to buy
Maksudnya adalah sesuatu yang menarik dan khas untuk dibeli.
- Adanya something to do
Maksudnya adalah sesuatu aktivitas yang dapat dilakukan di tempat itu.

Salah satu atraksi wisata yang ada pada sebuah destinasi pariwisata di
Indonesia, yaitu Bali. Adapun kegiatan yang dijadikan daya tarik adalah kegiatan
upacara ngaben yang diadakan di Bali. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat
meninggalkan badan kasar.

B. PEMASARAN DESTINASI PARIWISATA


Menurut Kotler, dkk (2010), pemasaran destinasi merupakan bagian integral
dari pengembangan dan pendukung suatu lokasi menjadi terkenal. Trace First dari
University of Western Sydney mengatakan bahwa strategi pemasaran destinasi
berkelanjutan dapat dibagi menjadi 4 tahapan yaitu:
1. Tahapan identifikasi, mengadung makna bahwa perlu dilakukan pemetaan
berbagai potensi atau sumber daya serta keterlibatan semua stakeholders
pariwisata.
2. Tahapan formulasi strategi pemasaran, merupakan tindak lanjut sebelumnya yaitu
dengan membuat visi, misi serta berbagai kegiatan promosi pada berbagai
tingkatan; local, nasional maupun internasional.
3. Tahapan implementasi adalah melaksanakan berbagai konsep yang telah
disepakati seperti promosi dengan berbagai kebijakan produk, harga, sakuran
distribusi promosi.
4. Tahapan monitoring dan evaluasi; tahapan ini mengandung makna perlunya
melakukan evaluasi atas berbagai kegiatan yang telah dilakukan apakah berhasil
sesuai dengn apa yang telah ditetapkan, atau perlu penyempurnaan untuk
keberhasilan yang lebih baik.

Ada dua variabel yang strategis dalam strategi pemasaran, yaitu variabel yang
dapat di kontrol dan variabel tidak dapat di kontrol (Alex dalam Buhari Alma
2000:198).

1. Variabel tidak dapat dikontrol:


- Keadaan persaingan, adalah suatu kesulitan bagi seorang pengusaha menduga
kapan pesaing akan muncul.
- Perkembangan teknologi, kapan akan muncul teknologi baru yang memperbaiki
produksi baik dari segi efisiensi maupun dari segi model yang sulit diduga.
- Perubahan demografi, dengan adanya program keluarga berencana Indonesia
maka laju pertumbuhan dapat ditekan.
- Kebijakan politik dan ekonomi, perubahan-perubahan peraturan pemerintah
dalam bidang ekonomi, berupa naik turunnya suku bunga perpajakan, politik
moneter.
- Sumber daya alam, sulit diramalkan kapan berkurang atau ditemukannya
sumber-sumber baru.
2. Variabel yang dapat dikontrol oleh perusahaan adalah:
- Market Segmentation, di samping perusahaan harus menetapkan strategi arah
sasaran dari pemasarannya. Apakah sasaran pemasaran ditujukan ke seluruh
lapisan masyarakat atau hanya menetapkan segmen pasar saja.
- Market Budget, strategi menetapkan jumlah dana untuk kegiatan marketing
sangat memengaruhi keberhasilan pemasaran, pada umumnya bertambah untuk
kegiatan pemasaran maka jumlah penjualan meningkat.
- Timing, di sini pengusaha harus menjaga waktu kapan harus melancarkan
pemasaran produk.
- Marketing mix, strategi ini mencampur kegiatan-kegiatan marketing agar dicari
kombinasi yang maksimal sehingga mendatangkan hasil yang paling
memuaskan.

C. INTEGRASI KONSEP PEMASARAN, GAYA HIDUP KONSUMEN DAN


MANAJEMEN DESTINASI PARIWISATA
Strategi integrasi adalah mengkombinasikan kepentingan wisatawan (demand
side) dan kepentingan destinasi (supply side) dimana strategi pemasaran adalah proses
untuk menjembatani keduanya sehingga dihasilkan kualitas pengalaman yang
berkelanjutan atau dalam konteks yang lebih makro adalah terwujudnya pariwisata
berkelanjutan. Tercapainya kualitas pengalaman berkelanjutan maka perlu
menggunakan strategi integrasi yang mengintegrasikan gaya hidup konsumen pada
daerah asal wisatawan (Tourist Generating Countries), konsep pemasaran
berwawasan social/lingkungan dan memahami perubahan paradigma konsep
pemasaran dan manajemen destinasi (Tourist Destination Countries). Destinasi
lanjutan adalah mengkombinasikan perubahan-perubahan yang terjadi pada konsep
pemasaran, yang disesuaikan dengan perubahan pada gaya hidup wisatawan sehingga
keberlanjutan destinasi sebagai tempat atau produk sehingga dapat memberikan
kualitas pengalaman yang berkelanjutan.
Konsumen dewasa ini adalah konsumen yang sangat peduli pada masalah-
masalah lingkungan, masalah social, dan budaya di mana mereka melakukan
perjalanan wisata. Wisatawan tidak hanya melakukan “something to see, something
to do, something to buy”, namun berubah menjadi something to share sebagai contoh
wisatawan yang menginap di suatu hotel, dengan adanya program hotel membantu
masyarakat miskin mereka membantu dalam bentuk uang dan terkadang ikut serta
melihat kondisi di lapangan.
Bahkan dewasa ini berkembang wisata volunteer, di mana wisatawan di
sampig rela membayar atas keikutsertaannya namun juga membantu masyarakat di
daerah tujuan wisatawan secara sukarela seperti membantu mengajar bahasa inggris
dan sebagainya. Ini adalah salah satu perubahan dalam paradigma wisatawan, yang
diikuti oleh perubahan konsep pemasaran serta orientasi dalam mengelola destinasi
pariwisata yang memperhatikan kepuasan konsumen dan kualitas pengalaman.

D. KECENDERUNGAN BARU PERKEMBANGAN PARIWISATA SECARA


INTERNATIONAL
a. Konsumen
 Dari “immature” menuju ke “mature consumers” (tahu persis apa yang mereka
cari).
 Dari konsumen atau wisatawan yang homogin menuju ke konsumen atau
wisatawan heterogin atau “hybrid”.
 Dari “sun-lust” menuju ke “sun-plus consumers” atau wisatawan.
 Dari “escape from routine” menuju ke “extention of life”.
 Dari wisatawan psikosentris menuju ke wisatawan alosentris
b. Produksi
 Dari pola produksi yang bersifat “produce-driven” menuju ke “consumer-
driven”.
 Dari “economies of scale” menuju ke “economies of scale and scope”.
 Dari organisasi produksi yang terintegrasi secara vertical dan horizontal
menuju ke integrasi organisasi produksi yang bersifat diagonal.
 Dari persaingan melalui “over production” menuju ke persaingan melalui
inovasi dan segmentasi pasar.
c. Manajemen
 Dari “sell what is produced” menuju ke “listen to consumer”.
 Dari “mass marketing” menuju ke “sell to individuals”.
 Dari “mass branding” menuju ke “proliferation of many brands”.
 Dari “maximize capacity” menuju ke “manage yield”.
 Dari “price competition” menuju ke “quality value for money innovations”.
 Dari “labor as a cost of production” menuju ke “labor is a key to quality”.
d. Teknologi
 Dari teknologi “fragmented” menuju ke “integrated technologies”.
 Dari “unfriendly technologies” menuju ke “technologies that talk to each
other”.
 Dari “slow to diffuse” menuju ke “rapid diffusion”.
 Dari “users are limited” menuju ke “all players are users”.
 Dari “distribution oriented” menuju ke “value oriented”.
 Dari “internally directed” menuju ke “global working”.
e. Major Factors Which Give New Tourism Its Special Appeal
 Remoteness/isolation
 Peace and quite
 Solitude
 Authentic culture (ethnic, traditional, native)
 Heritage sites and buildings
 Alternative lifestyles, including food and beverages.
 Undisturbed nature
 Hospitable residents
 Safety
 Exclusivity
 Exitement and
 Aesthetically pleasing
f. Major Strategies for New (Rural) Tourism Development
 Facilitating private enterprise
 Financial assistance
 Management training
 Marketing assistance
 Standards for classifying rural tourism operations
 Demontration projects
 Infrastructure development
 Direct provision of service and attractions
 Organizational assistance
 Community-based planning
 Sustainability and green practices
 Focal points development
 Marketing innovation
 Yield management
 Positive and clear image development
 Focused strategies of developing farm-based tourism accommodation and
attractions
g. Sepuluh Langkah Strategis Perencanaan Pembangunan Pariwisata
 Pengumpulan data dan informasi
 Identifikasi nilai-nilai local
 Pengembangan visi dan misi
 Identifikasi kekuatan dan kelemahan
 Identifikasi tantangan dan peluang-peluang kritis
 Pengembangan tujuan akhir
 Pengembangan tujuan-tujuan antara
 Perumusan strategi aksi dan pembiayaan
 Evaluasi kemajuan program
 Updating atau modifikasi perencanaan
DAFTAR PUSTAKA

Andayani, Ni Luh Henny. 2014. Manajemen Pemasaran Pariwisata. Yogyakarta : Graha


Ilmu.