Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PANGAN


DAN HASIL PERTANIAN

Disusun oleh:
Kelompok 8 / THP B
Emilia Wiyanika R. 151710101029
RizkyFebrian A. 151710101038
RochimaUlva 151710101125
Safira Cahya R. 151710101131

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anna dan Malte (1997) menyatakan bahwa proses lumpur aktif dalam
pengolahan air limbah tergantung pada pembentukan flok lumpur aktif yang
terbentuk oleh mikroorganisme (terutama bakteri), partikel inorganik, dan polimer
exoselular. Selama pengendapan flok, material yang terdispersi, seperti sel bakteri
dan flok kecil, menempel pada permukaan flok. Pembentukan flok lumpur aktif
dan penjernihan dengan pengendapan flok akibat agregasi bakteri dan mekanisme
adesi. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa flokulasi dan sedimentasi flok
tergantung pada hypobisitas internal dan eksternal dari flok dan material
exopolimer dalam flok, dan tegangan permukaan larutan mempengaruhi
hydropobisitas lumpur granular dari reaktor lumpur anaerobik.
Sistem pengolah lumpur aktif baik untuk domestik maupun industri
mengandung 1-5% padatan total dan 95-99% bulk water (liqour). Pembuangan
kelebihan lumpur merupakan proses yang mahal, dilakukan dengan mengurangi
volume lumpur melalui proses pengepresan (dewatering). Pada bagian lain
dinyatakan pula bahwa konsentrasi besi yang tinggi konsentrasi besi yang tinggi,
70-90% dalam bentuk Fe (III), ditemukan dalam lumpur aktif.
Akumulasi besi dapat berasal dari influent air limbah atau melalui
penambahan FeSO4 yang digunakan untuk menghilangkan fosfor. Jumlah besi
dalam lumpur aktif akan berkurang setelah memasuki kondisi anaerobik dan
mungkin berasosiasi dengan adanya aktifitas bakteri heterotrofik. Berkurangnya
fosfor dalam lumpur aktif dapat menyebabkan fosfor terlepas kedalam air. Jika ini
terjadi merupakan potensi untuk terjadinya eutrofikasi pada perairan.
Enri dan Anni (1995) juga mengemukan bahwa limbah padat yang berasal
dari suatu instalasi pengolah air limbah industri tekstil dapat digolongkan ke
dalam limbah berbahaya karena mengandung logam berat. Mereka mengkaji
kemungkinan proses solidifikasi mempergunakan tanah lempung dengan hasil
yang cukup baik dari segi kekuatan tekan bebas, permeabilitas.
Denganmenerapkansisteminididapatkan air bersih yang
tidaklagimengandungsenyawa organic beracundanbakteri yang
berbahayabagikesehatan. Air tersebutdapatdipergunakankembalisebagaisumber
air untukkegiatan industry lainnya. Diharapkanpemanfaatansistemdaurulang air
limbahakandapatmengatasipermasalahanpersediaancadangan air tanah demi
kelangsungankegiatanindustridankebutuhanmasyarakatakan air.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui prinsipdanmetodepengolahanlimbahdengan proses
lumpuraktif
2. Untukmengetahuicaraperhitunganpengolahanlimbahdengan proses
lumpuraktif
3. Untukmengetahuimacam-macam proses
modifikasidanpengolahanlimbahdengan proses lumpuraktif
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lumpur aktif (activated sludge)


Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses
pertumbuhanmikrobatersuspensi. Proses inipadadasarnyamerupakanpengolahan
aerobic yang mengoksidasi material organic menjadi CO2 dan H2O, NH4
danselbiomamassabaru. Proses inimenggunakanudara yang
disalurkanmelaluipompa blower (diffused) ataumelaluiaerasimekanik.
Selmikrobamembentukflok yang akanmengendap di tangkipenjernihan.
Kemampuanbakteridalammembentukflokmenentukankeberhasilanpengolahanlimb
ahsecarabiologi, karenaakanmemudahkanpemisahanpartikeldan air limbah
Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba
tersuspensi yang pertama kali dilakukan di Ingris pada awal abad 19. Sejak itu
proses ini diadopsi seluruh dunia sebagai pengolah air limbah domestik sekunder
secara biologi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang
mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa
baru. Udara disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau melalui aerasi
mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan mengendap di tangki
penjernihan (Gariel Bitton, 1994). Anna dan Malte (1994) berpendapat
keberhasilan pengolahan limbah secara biologi dalam batas tertentu diatur oleh
kemampuan bakteri untuk membentuk flok, dengan demikian akan memudahkan
pemisahan partikel dan air limbah. Lumpur aktif adalah ekosistem yang komplek
yang terdiri dari bakteri, protozoa, virus, dan organismeorganisme lain. Lumpur
aktif dicirikan oleh beberapa parameter, antara lain, Indeks Volume Lumpur
(Sludge Volume Index = SVI) dan Stirrd Sludge Volume Index (SSVI).
Perbedaan antara dua indeks tersebut tergantung dari bentuk flok, yang diwakili
oleh faktor bentuk (Shape Factor = S).

2.2 Prinsip pengolahan air limbah dengan proses Lumpur Aktif


Proses pengolahan air
limbahsecarabiologisdengansistembiakantersuspensitelahdigunakansecaraluasdise
luruhduniauntukpengolahan air limbah domestic. Proses
inisecaraprinsipmerupakan proses aerobic
dimanasenyawaorganikdioksidasimenjadi CO2dan H2O, NH4,
danselbiomassabaru.
Untuksuplayoksigenbiasanyadenganmenghembuskanudarasecaramekanik.
Sistempengolahan air limbahdenganbiakantersuspensi yang paling
umumdantelahdigunakansecaraluasyakni proses
pengolahandengansistemlumpuraktif (activated sludge process).
Udaradisalurkanmelaluipompa blower (diffused)ataumelaluiaerasimekanik.
Selmikrobamembentukflok yang akanmengendap di tangkipenjernihan.
Pengolahan air limbah dengan proses lumpur aktif konvensional (standar)
secara umum terdiri dari bak pengendap awal, bak aerasi dan bak pengendap
akhir, serta bak khlorinasi untuk membunuh bakteri patogen. Secara umum proses
pengolahannya adalah sebagai berikut. Air limbah yang berasal dari sumber
pencemar ditampung ke dalam bak penampung air limbah. Bak penampung ini
berfungsi sebagai bak pengatur debit air limbah serta dilengkapi dengan saringan
kasar untuk memisahkan kotoran yang besar. Kemudian air limbah didalam bak
penampung di pompa ke bak pengendap awal.

2.3 ProsedurKerjametodepenangananlimbah
a. Peralatan yang di butuhkan
Pada proses pengolahan limbah dengan sistem lumpur aktif dibutuhkan
beberapa bak yang akan digunakan. Adapun bak yang akan di gunakan antara
lain adalah bak penampungan awal, bak aerasi, bak penampungan akhir, bak
khorinasi dan bak pengering lumpur. Karena pengolahan limbah dengan
sistem lumpur aktif merupakan sistem pengolahan air limbah secara biologis
dengan menggunakan proses aerobik, dibutuhkan blower udara yang akan
mensuply udara untuk mendukung proses fermentasi. Selain itu, untuk
memudahkan proses pemindahan dari bak satu ke bak lainya, dihubungkan
dengan menggunakan pipa inlet pada masing- masing sisi baknya. Bahan yang
digunakan dalam proses pengolahan air limbah ini antara lain bakteri aerob,
asam atau basa, urea dan asam, dan juga khlorin. Nilai pH pada bak aerasi
harus dikontrol agar sesuai dengan pertumbuhan mikroba. Untuk mengatur
nilai pH maka dilakukan penambahan asam atau basa pada mixed liquor.
Selain itu, terdapat penambahan urea dan asam posfat sebagai sumber N dan P
untuk mibroba (Sustarsic, 2009).
b. Mekanisme kerja/ prosedur kerja penanganan limbah.
Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan sistem biakan
tersuspensi telah digunakan secara luas di seluruh dunia untuk pengolahan air
limbah domestik. Proses ini secara prinsip merupakan proses aerobik dimana
senyawa organik dioksidasi menjadi CO2, H2O, NH4 dan sel biomassa baru.
Terdapat empat proses utama yang terjadi pada sistem lumpur aktif,
diantaranya adalah tangki aerasi, tangki pengendapan, resirkulasi lumpur,
serta penghilangan lumpur sisa. Reaksi biokimia dengan komponen organik
lumpur berada di biological reactor (aeration tank) (Ningtyas, 2015). Namun
secara konvensional (standart) pengolahan air limbah dengan proses lumpur
aktif secara umum terdiri dari bak pengendapan awal, bak aerasi dan bak
pengendapan akhir serta bak khlorinasi untuk membunuh bakteri patogen.
Skema pengolahan limbah dengan sistem lumpur aktif secara konvesional
dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram Proses Pengolahan Limbah dengan Sistem Lumpur


Aktif secara Konvesional
Sebelum memasuki proses inti, air limbah dapat diendapkan terlebih dahulu
dalam bak pengendap awal. Bak pengendap awal berfungsi untuk menurunkan
padatan tersuspensi sekitar 30-40 % serta BOD sekitar 25%. Air limpasan dari
bak pengendap awal dialirkan menuju bak aerasi secara gravitasi. Di dalam bak
aerasi ini air limbah dihembuskan dengan udara sehingga mikroorganisme
menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah. Energi yang diperoleh
mikroorganisme tersebut digunakan oleh mikroba untuk melakukan pertumbuhan
sehingga di dalam bak aerasi terjadi perkembangan biomassa dalam jumlah yang
besar. Mikroorganisme ini yang akan menguraikan senyawa polutan dalam air
limbah (Sholichin,2012)
Air kemudian dialirkan ke tangki pengendapan sekunder. Di dalam tangki
ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme diendapkan dan
dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Air
limpasan dari tangki pengendapan sekunder dialirkan menuju bak klorinasi. Disini
air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme
patogen. Air dari proses klorinasi tersebut dapat langsung dibuang ke sungai atau
saluran umum. Dengan proses ini air limbah dengan konsentrasi BOD 250-300
mg/L dapat diturunkan kadar BOD-nya menjadi 20-30 mg/L. Surplus lumpur dari
keseluruhan proses ditampung dalam bak pengering lumpur sedangkan air
resapannya ditampung kembali di bak penampung air limbah (Sholichin,2012)
Mikroorganisme yang paling berperan pada proses lumpur aktif adalah
bakteri aerob (Anderson,2010). Mikroorganisme memanfaatkan polutan organik
terlarut dan partikel organik sebagai sumber makanan. Polutan organik terlarut
dapat masuk ke dalam sel dengan cara absorpsi. Sedangkan partikel organik tidak
dapat masuk ke dalam sel sebagai sumber makanan. Partikel organik pada limbah
hanya menempel pada dinding sel (adsorpsi). Selanjutnya sel menghasilkan enzim
agar dapat melarutkan partikel. Dengan cara ini, bakteri dapat menghilangkan
polutan organik baik yang terlarut maupun berupa partikel yang terdapat dalam
limbah. Nilai pH pada bak aerasi harus dikontrol agar sesuai dengan pertumbuhan
mikroba. Untuk mengatur nilai pH maka dilakukan penambahan asam atau basa
pada mixed liquor. Selain itu, terdapat penambahan urea dan asam posfat sebagai
sumber N dan P untuk mibroba (Sustarsic, 2009).
2.4 Perhitungan
Terdapatbeberapavariabeloperasional yang harusdiperhatikanpada proses
lumpuraktifdiantaranyaadalahsebagaiberikut:
a. Beban BOD (BOD Loading rate atauVolumetric Loading Rate)
Beban BOD adalah jumlah massa BOD didalam air limbah yang masuk
(influent) dibagidengan volume reaktor. Beban BOD dapatdihitung dengan
persamaan sebagai berikut:
𝑄.𝑆0
Beban BOD = 𝑘𝑔/𝑚3. ℎ𝑎𝑟𝑖
𝑉

Dengan:
Q = debit air limbah yang masuk (m3/hari)
S0 = Konsentrasi BOD dalam air limbah yang masuk (kg/m3)
V = volume reactor (m3)
b. Mixed-Liquor Suspended Solid (MLSS)
Campuran antara air limbah, biomassa, danpadatan tersuspensi lainnya
yang berada di bakaerasi pada proses pemgolahan air limbahsering disebut
mixed liquor. Sedangkan MLSSmerupakan jumlah total dari
padatantersuspensiyang berupa material organik,mineral, serta
mikroorganisme. MLSS dapatdiketahui kadarnya dengan gravimetri,
yaitudengan cara menyaring lumpur dengan carafiltrasi, dikeringkan pada
temperatur 105oC,dan ditimbang agar diketahui massanya.
c. Mixed-Liquor Volatile Suspended Solids (MLVSS)
MVLSS merupakan material organik yangterkandung dalam MLSS,
tanpa mikroba hidup,mikroba mati, serta hancuran sel. MVLSSdiukur
dengan memanaskan sampel filter yangtelah kering pada temperatur 600-
6500C. Nilaidari MVLSS biasanya mendekati 65-75% dariMLSS
d. Food to Microorganism Ratio atauFood to Mass Ratio (F/M Ratio)
Parameter ini menunjukkan jumlah zat organik(BOD) yang hilang
dibagi dengan jumlahmikroorganisme di dalam bak aerasi. Besarnyanilai
F/M ratio umumnya ditunjukkan dalam kgBOD per kg MLSS per hari.
Nilai F/M ratiodapat dihitung dengan menggunakanpersamaan sebagai
berikut.
𝑄. (𝑆0 − 𝑆)
𝐹/𝑀
𝑀𝐿𝑆𝑆. 𝑉
Dengan:
Q = debit air limbah yang masuk (m3/hari)
S0 = konsentrasi BOD dalam air limbah yang masuk (kg/m3)
V = volume reactor (m3)
S = konsentrasi BOD dalameffluent (kg / m3)
MLSS = Mixed Liquor Suspended Solid (kg / m3)

Nilai F/M ratio dapat dikontrol dengan caramengatur laju sirkulasi


lumpur aktif dari tangkipengendapan sekunder yang disirkulasikanmenuju
bak aerasi. Semakin tinggi laju sirkulasilumpur maka semakin tinggi pula
nilai F/Mratio. Standar F/M ratio untuk pengolahanlimbah dengan sistem
lumpur aktif yaitu0,2-0,5 kg BOD / kg MLSS, namun nilaitersebut dapat
lebih tinggi dari 1,5 kg BOD/kgMLSS. Rasio F/M yang rendah
menunjukkanbahwa mikroorganisme dalam tangki aerasisemakin
produktif dalam memetabolismelimbah. Semakin rendah rasio F/M maka
sistempengolahan limbah semakin efisien.
e. Hydraulic Retention Time (HRT)
Waktu tinggal hidraulik (HRT) merupakanwaktu rata-rata yang
dibutuhkan oleh influentpada tangki aerasi untuk menjalani proseslumpur
aktif. Nilai HRT berbanding terbalikterhadap laju pengenceran.
1 𝑉
𝐻𝑅𝑇 = =
𝐷 𝑄
Dengan:
V = volume reactor ataubakaerasi (m3)
Q = debit air limbah yang masukbakaerasi (m3/jam)
D = lajupengenceran (jam-1)

f. Hydraulic Recycle Ratio / RasioSirkulasi Lumpur (HRT)


Rasio sirkulasi lumpur adalah perbandinganantara jumlah lumpur yang
disirkulasikan kedalam bak aerasi dengan jumlah air limbahyang masuk ke
dalam bak aerasi.
g. Sludge Age (umurlumpur)
Umur lumpur biasa dikenal juga dengan waktutinggal rata-rata sel
(mean cell residence time).Parameter ini menunjukkan waktu tinggalrata-
rata mikroorganisme dalam sistem lumpuraktif. Jika HRT memerlukan
waktu dalam jam,maka waktu tinggal sel mikroba dalam bakaerasi dapat
mencapai hitungan hari. Parameterini berbanding terbalik dengan
lajupertumbuhan mikroba. Umur lumpur dapatdihitung dengan persamaan
berikut.
𝑀𝐿𝑆𝑆.𝑉
Umurlumpur (hari) = 𝑆𝑆𝑒.𝑄𝑒+𝑆𝑆𝑤.𝑋.𝑄𝑤

Dengan:
MLSS = Mixed Liquor Suspended Solid (mg/L)
V = volume reactor ataubakaerasi (m3)
Qw = lajuinfluent air limbah (m3/hari)
Qe = lajueffluent air limbah (m3/hari)
SSe = padatantersuspensidalameffluent (mg/L)
SSw = padatantersuspensidalaminfluent (mg/L)
Umur lumpur dapat bervariasi antara 5-15 hari untuk sistem lumpur
aktif konvensional. Umur lumpur pada musim dingin dapat lebih lama
dibandingkan dengan saat musim panas. Parameter penting saat
mengendalikan operasi lumpur aktif adalah beban organik/beban BOD,
persebaran oksigen, serta pengendalian dan operasi pada tangki
pengendapan. Tangki pengendapan memiliki dua fungsi yaitu untuk
penjernihan (clarfification) dan pemekatan lumpur (thickening).
Pengendapan lumpur tergantung pada rasio F/M dan umur lumpur.
Pengendapan yang baik dapat terjadi jika lumpur mikroorganisme berada
dalam fase saat sumber karbon dan sumber energi terbatas dan jika
pertumbuhan bakteri rendah. Pengendapan lumpur dapat terjadi saat rasio
F/M rendah. Dalam air limbah domestik, rasio F/M yang optimum yaitu
antara 0,2-0,5. Sedangkan rata-rata waktu tinggal sel yang diperlukan untuk
pengendapan yang efektif adalah 3-4 hari. Pengendapan yang tidak baik
dapat terjadi karena gangguan terhadap parameter fisik (temperatur, pH),
kekurangan substrat pada lumpur, serta kehadiran zat toksik yang dapat
menyebabkan hancurnya sebagianflok yang sudah terbentuk.
Kemampuan pengendapan lumpur dapatdiketahui dengan menentukan
Sludge VolumeIndex (SVI). Caranya adalah denganmemasukkan mixed
liquor dari bak aerasi kedalam silinder kerucut volume 1 L dan dibiarkan
selama 30 menit. Selanjutnya volumelumpur dicatat. SVI menunjukkan
besarnyavolume yang dapat ditempati 1 gr lumpur. Jikanilai MLSS <3.500
mg/L, maka nilai SVI standar adalah 50-150 mL/g. Nilai SVIdapat dihitung
dengan persamaan sebagaiberikut.
𝑆𝑉. 1000
𝑆𝑉𝐼 (𝑚𝐿/ 𝑔 ) = 𝑚𝐿/𝑔
𝑀𝐿𝑆𝑆
Dengan:
SV = volume endapanlumpurdalamsilinderkerucutsetelah
30’pengendapan (ml)
h. Kebutuhanoksigen
Dalam kondisi aerob, oksigen dibutuhkandalam metabolisme untuk
menguraikan sumberkarbon dan sumber nitrogen. Pada
peristiwadenitrifikasi, oksigen dapat disimpan dalamtubuh mikroba.
i. Pengaruh temperature
Temperatur cukup berpengaruh terhadapaktivitas biologis pada lumpur
aktif.Temperatur operasi harus sesuai denganmikroorganisme yang berada
di lumpur aktif.Namun jika dibandingkan dengan sistem lain,proses
lumpur aktif tidak terlalu sensitifterhadap perubahan temperatur. Jika
kondisioperasi optimum mikoba tidak sesuai dengankondisi operasi
sistem, maka dapat dilakukanaklimatisasi terhadap mikroba.
Aklimatisasimerupakan proses adaptasi mikroba hinggadapat tumbuh pada
kondisi operasi yangdiinginkan secara bertahap.
j. Pengaruhaliran
Besarnya aliran influent yang masuk harusdikontrol agar sesuai dengan
kemampuanmikroba dalam mengonsumsi komponenorganik dalam limbah
dan selanjutyamengendap. Tingginya aliran dapatmempersingkat waktu
pengolahan, namun jikaaliran terlalu tinggi dapat
menyebabkanmikroorganisme keluar hingga clarifier.

2.5 Modifikasi Proses Lumpur Aktif


a. High Rate Aeration (Sistem Aerasi Kecepatan Tinggi)
Sistem ini digunakan untuk mengolah limbah konsentrasi tinggi
dan dioperasikan untuk beban BOD yang sangat tinggi. Waktu tinggal
hidraulik untuk proses ini sangat singkat. Sistem ini juga beroperasi pada
konsentrasi MLSS yang tinggi.
b. Modifikasi Proses Lumpur Aktif Konvensional (Standar)
Selain sistem lumpur aktif konvesional, ada beberapa modifikasi
dari proses lumpur aktif yang banyak digunakan di lapangan yakni antara
lain sistem aerasi berlanjut (extended aeration system), Sistem aerasi
bertahap (step aeration), Sistem aerasi berjenjang (tappered aeration),
sistem stabilisasi kontak (contact stabilization system), Sistem oksidasi
parit (oxydation ditch), Sistem lumpur aktif kecepatan tinggi (high rate
activated sludge), dan sistem lumpur aktif dengan oksigen murni (pure-
oxygen activated sludge). Beberapa pertimbangan untuk pemilihan proses
tersebut antara lain : jumlah air limbah yang akan diolah, beban organik,
kualitas air olahan yang diharapkan, lahan yang diperlukan serta
kemudahan operasi dan lainnya.
c. Sistem Aerasi Bertingkat (Step Aeration)
Limbah hasil dari pengolahan primer (pengendapan) masuk dalam
tangki aerasi melalui beberapa lubang atau saluran, sehingga
meningkatkan distribusi dalam tangki aerasi dan membuat lebih efisien
dalam penggunaan oksigen. Proses ini dapat meningkatkan kapasitas
sistem pengolahan. Diagram proses pengolahan air limbah dengan sistem
“Step Aeration” dan kriteria perencanaan ditunjukkan seperti pada Gambar
4.7.
d. Sistem Stabilisasi Kontak (Contact Stabilization)
Setelah limbah dan lumpur bercampur dalam tangki reaktor kecil
untuk waktu yang singkat (20-40 menit), aliran campuran tersebut
dialirkan ke tangki penjernih dan lumpur dikembalikan ke tangki
stabilisasi dengan waktu tinggal 4 - 8 jam. Sistem ini menghasilkan sedikit
lumpur. Diagram proses pengolahan air limbah dengan sistem “Contact
Stabilization” dan kriteria perencanaan ditunjukkan seperti pada Gambar
4.8.
e. Rotary Disc
Sistem RBC terdiri atas deretan cakram yang dipasang pada as
horisontal dengan jarak sekitar 4 cm. Sebagian dari cakram tercelup dalam
limbah cair, dan sebagian lagi kontak dengan udara. Pada saat diputar,
permukaan cakram secara bergantian kontak dengan limbah cair dan
kemudian kontak dengan udara. Akibatnya, mikroorganisme tumbuh pada
permukaan cakram sebagai lapisan biologis (biomasa), dan mengabsorpsi
bahan organik dalam limbah cair.
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapunkesimpulan yang
dapatdiambildaripenulisanmalakahiniyaitusebagaiberikut:
1. Prinsipkerjadari proses pengolahanlimbahdenganlumpuraktifyaitudengan
proses aerobikdimanasenyawaorganikdioksidasimenjadi CO2dan H2O,
NH4, danselbiomassabaru.
2. Terdapatcaraperhitungandalamlumpuraktifyaitumixed-liquor suspended
solids (MLSS), mixed-liquor volatile suspended solid (MLVSS), food – to
microorganism ratio (F/M Ratio), hydraulic retention time (HRT),
umurlumpur (sludge age).
3. Macam-macamProses Pengolahan Limbah dengan Sistem Lumpur Aktif
yaitusecara Konvesional, High Rate Aeration (Sistem Aerasi Kecepatan
Tinggi), Sistem Aerasi Bertingkat (Step Aeration), Sistem Stabilisasi
Kontak (Contact Stabilization), danRotary Disc.

3.2 Saran
Sebaiknya activates sludge dapatdigunakanpada industry pangan,
halinidisebabkankarenasistem activates sludge yang sangatkompleks.
DAFTAR PUSTAKA
Gabriel Bitton. 1994. Wastewater Microbiology, A John Wiley & Sons, INC.,
New York
Marx, C. 2010. Introduction to activated sludge study guide. Wisconsin
Department of Natural Resorces Wastewater Operator Certification.
Sholichin, M. 2012. Pengelolaan air limbah: Proses pengolahan air limbah
tersuspensi. Malang : Jurusan Teknik Pengairan, Universitas Brawijaya.
Sperling, M.V. 2007. Activated sludge and aerobic biofilm reactor. Department
of Sanitary and Environment Engineering. Brazil. Federal University of
Minas Gerais.
Sustarsic, M. 2009. Wastewater treatment: Understanding the Activated Sludge
Process. Tetra Tech NUS
Ningtyas, R. 2015. Pengolahan Limbah dengan Proses Lumpur Aktif (Activated
Sludge Process). Bandung : ITB