Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cacat septum atrial atau Atrial Septal Decfect adalah kondisi jantung bawaan.
Kondisi ini terjadi di mana terdapat sebuah lubang septum yang memisahkan
atrium kiri dan kanan. Bagian kiri jantung biasanya memompa darah lebih kuat dari
bagian kanan. Cacat menghasilkan jalur kiri ke kanan yang memungkinkan darah
dari kedua sisi jantung untuk bercampur. Darah dengan sedikit oksigen dipompa ke
tubuh, dan darah dengan oksigen tinggi bergerak kembali ke paru-paru. Sirkulasi
yang tidak normal di bagian kanan dari sistem menyebabkan peningkatan tekanan
pada paru-paru (hipertensi pulmonal).Cacat septum atrial adalah cacat jantung
bawaan yang umum terjadi pada orang dewasa. Cacat septum jantung ini tidak
dapat dicegah dan lebih sering terjadi pada anak perempuan daripada anak laki-laki.
Beberapa defek dapat hilang seiring seorang anak tumbuh, tetapi pada kasus lain
mungkin dapat bertahan sampai dewasa (dr. Tania dan Lika, 2016).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep teori dari Atrial Septal Defect (ASD)?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Atrial Septal Defect (ASD)?

C. Tujuan
1. Mengetahui konsep teori dari Atrial Septal Defect (ASD)
2. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien Atrial Septal Defect (ASD)

STIKes Widya Nusantara Palu 1


BAB II
KONSEP TEORI

A. Definisi Atrial Septal Defect (ASD)


ASD adalah pembukaan atau adanya lubang di dinding (septum) antara dua ruang
atas jantung (atrium).Atrial Septal Defect (ASD) adalah salah satu anomali jantung
kongenital lebih umum muncul saat dewasa. Defek septum atrium ditandai dengan
cacat di septum interatrial memungkinkan aliran balik vena paru dari atrium kiri
kembali ke atrium kanan. Tergantung pada ukuran defek, ukuran pirau, dan anomali
terkait, hal ini dapat mengakibatkan spektrum penyakit mulai dari tidak ada gejala
yang signifikan, kelebihan volume di sisi kanan, hipertensi arteri paru, dan bahkan
aritmia atrium (David H Adler, 2016).
Defek septum atrium (Atrial septal defect-ASD), merupakan suatu keadaan di mana
adanya hubungan (lubang) abnormal pada septum yang memisahkan atrium kanan
dan atrium kiri. Aliran darah pintas dari kiri ke kanan pada tipe atrium sekundum
dan tipe sinus venosus akan menyebabkan keluhan kelemahan dan sesak napas.
Umumnya timbul pada usia dewasa muda. Kegagalan jantung kanan serta disritmia
supraventrikular dapat pula terjadi pada stadium lanjut. Gejala yang sama
ditemukan juga pada tipe atrium primum. Namun, apabila gurgitasi mitral berat,
gejala serta keluhan akan muncul lebih berat dan lebih awal. Gejala ini umumnya
ditemukan pada umur 20-40 tahun. Sebagian kecil yaitu antara 9-15% ditemukan
pada umur yang lebih tua (Arif M, 2009).
Defek septum atrium (ASD) adalah cacat jantung yang hadir pada saat lahir
(kongenital). Bayi berkembang di dalam rahim, dinding (septum) yang membentuk
ruang, terbagi menjadi atrium kiri dan kanan. Formasi abnormal dinding ini dapat
mengakibatkan cacat yang tersisa setelah lahir. Ini disebut cacat septum atrium,
atau ASD (Larry A, 2016).

STIKes Widya Nusantara Palu 2


(Larry A, 2016) Gambar 3

B. Anatomi dan Fisiologi Jantung


1. Anatomi jantung
Jantung merupakan organ muskular berongga, bentuknya menyerupai piramid
atau jantung pisang yang merupakan pusat sirkulasi darah ke seluruh tubuh,
terletak dalam rongga toraks pada bagian mediastinum. Ujung jantung mengarah
ke bawah, ke depan bagian kiri: Basis jantung mengarah ke atas, ke belakang,
dan sedikit ke arah kanan. Pada basis jantung terdapat aorta, batang nadi paru,
pembuluh balik atas dan bawah dan pembuluh balik paru. Ruang-ruang jantung
terdiri dari empat bagian, yaitu atrium dekstra, ventrikel dekstra, atrium sinistra,
dan ventrikel sinistra. Atrium dekstra, terdiri dari rongga utama dan aurikula di
luar, bagian dalamnya membentuk suatu rigi atau krista terminalis. Bagian
utama atrium yang terletak posterior terhadap rigi terdapat dinding halus yang
secara embriologis berasal dari sinus venosus. Bagian atrium yang terletak di
depan rigi mengalami trabekulasi akibat berkas serabut otot yang berjalan dari
krista terminalis.

STIKes Widya Nusantara Palu 3


a. Muara pada atrium kanan
1) Vena kava superior: bermuara ke dalam bagian atas atrium kanan. Muara
ini tidak mempunyai katub, mengembalikan darah dari separoh atas
tubuh.
2) Vena kava inferior: lebih besar dari vena kava superior, bermuara ke
dalam bagian bawah atrium kanan, mengembalikan darah ke jantung dari
separoh badan bagian bawah.
3) Sinus koronarius: bermuara ke dalam atrium kanan antara vena kava
inferior dengan osteum ventrikuler, dilindungi oleh katub yang tidak
berfungsi.
4) Osteum atrioventrikuler dekstra: bagian anterior vena kava inferior
dilindungi oleh valvula bikuspidalis. Di samping itu banyak bermuara
vena-vena kecil yang mengalirkan darah dari dinding jantung ke dalam
atrium kanan.
b. Sisa-sisa fetal pada atrium kanan. Fossa ovalis dan anulus ovalis adalah dua
struktur yang terletak pada septum intertratial yang memisahkan atrium
kanan dan atrium kiri. Fossa ovalis merupakan lekukan dengkal tempat
foramen ovale pada vetus dan anulus ovalis membentuk tepi, merupakan
septum pada jantung embrio.
Atrium sinistra, terdiri dari rongga utama dari aurikula, terletak di belakang
atrium kanan, membentuk sebagian besar basis (fascies posterior), di belakang
atrium sinistra terdapat sinus oblig perikardium serosum dan perikardium
fibrosum. Bagian dalam atrium sinistra halus dan bagian aurikula mempunyai
rigi otot seperi aurikula dekstra. Muara atrium sinistra vena pulmonalis dari
masing-masing paru bermuara pada dinding posterior dan mempunyai valvula
osteum atrioventrikular sinistra, dilindungi oleh valvula mitralis (Syaifudin,
2014).

STIKes Widya Nusantara Palu 4


(Praveen, 2014) Gambar 1.

2. Fisiologi
Jantung mempunyai empat pompa yang terpisah, dua pompa primer atrium dan
dua pompa tenaga ventrikel. Periode akhir kontraksi jantung sampai akhir
kontraksi berikutnya dinamakan siklus jantung. Tiap-tiap siklus dimulai oleh
timbulnya potensial aksi secara spontan. Simpul sinoatrial (SA) terletak pada
dinding posterior atrium dekstra dekat muara vena kava superior. Potensial aksi
berjalan dengan cepat melalui berkas atrioventrikular (AV) ke dalam ventrikel,
karena susunan khusus sistem penghantar atrium ke ventrikel terdapat
perlambatan 1/10 detik. Hal ini memungkinkan atrium berkontraksi mendahului
ventrikel. Atrium bekerja sebagai pompa primer bagi ventrikel dan ventrikel
menyediakan sumber tenaga utama bagi pergerakan darah melalui sistem
vaskular (Syaifudin, 2014).
Fungsi atrium sebagai pompa. Dalam keadaan normal darah mengalir terus dari
vena-vena besar ke dalam atrium. Kira-kira 70% aliran ini langsung mengalir
dari atrium ke ventrikel walaupun atrium belum berkonraksi. Kontraksi atrium
mengadakan pengisian tambahan 30% karena atrium berfungsi sebagai pompa
primer yang meningkatkan efektivitas ventrikel sebagai pompa. Kira-kira 30%
tambahan efektivitas, jantung terus dapat bekerja dengan sangat memuaskan
dalam keadaan istirahat normal (Praveen, 2014).

STIKes Widya Nusantara Palu 5


(Praveen, 2014) Gambar 2..

C. Epidemiologi
Tiga jenis utama dari defek septum atrium (ASD) untuk 10% dari semua penyakit
jantung bawaan dan sebanyak 20-40% dari penyakit jantung bawaan terjadi pada
saat dewasa. Jenis yang paling umum dari ASD meliputi berikut ini:
1. Ostium sekundum: Jenis yang paling umum dari ASD untuk 75% dari semua
kasus ASD, yang mewakili sekitar 7% dari semua cacat jantung bawaan dan 30-
40% dari seluruh penyakit jantung bawaan pada pasien yang lebih tua dari 40
tahun.
2. Ostium primum: Tipe kedua yang paling umum dari ASD terjadi sekitar 15-
20% dari semua ASD. ASD primum adalah bentuk atrioventrikular septal
defect dan umumnya terkait dengan kelainan katup mitral.
3. Sinus venosus: Yang paling umum dari tiga jenis ASD, sinus venosus (SV)
ASD terjadi pada 5-10% dari semua ASD. Cacat terletak di sepanjang bagian
superior dari septum atrium (Vibhuti N Singh, 2015).
Jenis kelamin dan demografi yang berkaitan dengan usia ASD terjadi dengan rasio
perempuan:laki-laki kira-kira 2:1. Pasien dengan ASD dapat asimtomatik melalui
masa bayi dan kanak-kanak, meskipun waktu presentasi klinis tergantung pada
derajat pirau kiri ke kanan. Gejala menjadi lebih umum dengan usia lanjut. Pada

STIKes Widya Nusantara Palu 6


usia 40 tahun, 90% dari pasien yang tidak terobati memiliki gejala dispnea saat
aktivitas, kelelahan, palpitasi, aritmia berkelanjutan, atau bahkan bukti adanya
gagal jantung (David H Adler, 2016).

D. Etiologi
1. Infeksi Rubella. Terkena infeksi rubella (campak Jerman) selama beberapa
bulan pertama kehamilan dapat meningkatkan risiko janin Anda mengalami
cacat jantung.
2. Obat, tembakau atau alkohol, atau paparan zat tertentu. Penggunaan obat-obatan
tertentu, tembakau, alkohol atau obat-obatan, seperti kokain, selama kehamilan
dapat membahayakan janin yang sedang berkembang.
3. Diabetes atau lupus. Jika Anda memiliki diabetes atau lupus, Anda mungkin
cenderung memiliki bayi dengan cacat jantung.
4. Kegemukan. Memiliki kelebihan berat badan (obesitas) mungkin juga berperan
dalam meningkatkan risiko memiliki bayi dengan cacat lahir.
5. Fenilketonuria (PKU). Jika Anda memiliki PKU dan tidak mengikuti pola
makan PKU Anda, Anda cenderung akan memiliki bayi dengan cacat jantung
(dr. Tania dan Lika, 2016).

E. Patofisiologi
Pada keadaan normal perkembangan septum atrial terdapat hubungan dari kanan ke
kiri (right to left shunt) yang berlanjut sampai lahir, pada usia lima minggu
intrauterin, septum primum turun ke bawah dari bagian atas atrium menyatu dengan
endokardium, sebelum penutupan sempurna bagian septum primum mengalami
defect (ostium sekundum) sehingga aliran dari kanan ke kiri tetap berlanjut. Selama
enam minggu septum sekundum berkembang ke arah kanan septum primum,
melewati bagian atas atrium ke endokardium. Proses ini menghasilkan foramen
ovale. Kemudian setelah lahir foramen ovale akan menutup menjadi fossa ovalis.
Apabila foramen ovale gagal menutup setelah lahir, atau apabila terdapat lubang
lain antara atrium kanan dan atrium kiri akibat kurang sempurnanya penutupan
dinding antara atrium kanan dan atrium kiri selama masa gestasi.

STIKes Widya Nusantara Palu 7


Pada orang normal tekanan atrium kiri lebih tinggi daripada atrium kanan, karena
adanya defek sekat atrium, maka terjadi aliran dari kiri ke kanan sehingga volume
ventrikel kanan berlebih. Kemudian sirkulasi pulmonalis akan meningkat melebihi
sirkulasi sistemik dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengosongkan
ventrikel kanan, yang menghasilkan bunyi S2 terlambat (S2 memanjang). Karena
peningkatan sirkulasi pulmonal melewati katup menghasilkan murmur yang akan
didengar pada ICS 3 kiri. Setelah sekian lama arteri pulmonal dan otot polos
mengalami hiperplasi yang mengakibatkan hipertensi pulmonal dan hipertrofi
ventrikel kanan.

F. Pathway/WOC

Terdapat defek Tekanan atrium kiri


antara atrium kanan > atrium kanan
dan kiri

Terjadi aliran yang


tinggi dari atrium
kiri ke atrium kanan

Volume ventrikel Volume atrium


kiri menurun Penurunan curah
kanan meningkat
jantung
Curah jantung Volume ventrikel
menurun Ketidak seimbangan kanan meningkat
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Hipoksia jaringan Peningkatan aliran
darah pulmonal
Keterlambatan
Kelemahan pertumbuhan dan Edema paru
perkembangan

Intoleransi Aktivitas Gangguan


pertukaran gas

STIKes Widya Nusantara Palu 8


G. Manifestasi Klinis
Seseorang yang tidak memiliki cacat jantung lainnya, atau cacat kecil (kurang dari
5 milimeter) mungkin tidak memiliki gejala apapun, atau gejala mungkin tidak
terjadi sampai usia pertengahan. Gejala yang terjadi dapat dimulai setiap saat
setelah lahir melalui masa kanak-kanak. Mereka dapat mencakup:
1. Kesulitan bernapas
2. Infeksi pernapasan sering pada anak-anak.
3. Sesak napas saat beraktivitas
Sebagian besar penderita ASD tidak menampakan gejala pada masa kecilnya, tetapi
gejala akan timbul jika pasien mengalami ASD besar dan usia diatas empat puluh
tahun, adapun tanda dan gejalanya meliputi:
1. Kelelahan saat beraktivitas.
2. Nyeri dada.
3. Palpitasi.
4. Nafas dalam dan dangkal.
5. Pusing.
6. Pingsan.
7. Bising sistolik tipe ejeksi.
8. Regurgritasi mitral.
9. Sulit menyusu jika terjadi pada bayi.
10. Gangguan pertumbuhan (Juniartha, 2012).

H. Klasifikasi
Berdasarkan letak lubang, ASD dibagi dalam tiga tipe :
1. Ostium secundum : merupakan tipe ASD yang tersering. Kerusakan yang terjadi terletak pada
bagian tengah septum atrial dan fossa ovalis. Sekitar 8 dari 10 bayi lahir dengan ASD ostium
secundum. Sekitar setengahnya ASD menutup dengan sendirinya. Keadaan ini jarang terjadi
pada kelainan yang besar. Tipe kerusakan ini perlu dibedakan dengan patent foramen ovale.
Foramen ovale normalnya akan menutup segera setelah kelahiran, namun pada beberapa
orang hal ini tidak terjadi hal ini disebut paten foramen ovale. ASD merupakan defisiensi
septum atrial yang sejati.

STIKes Widya Nusantara Palu 9


2. Ostium primum : kerusakan terjadi pada bagian bawah septum atrial. Biasanya disertai dengan
berbagai kelainan seperti katup atrioventrikuler dan septum ventrikel bagian atas. Kerusakan
primum jarang terjadi dan tidak menutup dengan sendirinya.
3. Sinus venosus : Kerusakan terjadi pada bagian atas septum atrial, didekat vena besar (vena
cava superior) membawa darah miskin oksigen ke atrium kanan. Sering disertai dengan
kelainan aliran balik vena pulmonal, dimana vena pulmonal dapat berhubungan dengan vena
cava superior maupun atrium kanan. Defek sekat primum dikenal dengan ASD I, Defek sinus
Venosus dan defek sekat sekundum dikenal dengan ASD II.

I. Penatalaksanaan
Bila pemeriksaan klinis dan elektrokardiografi sudah dapat memastikan adanya
defek septum atrium, maka penderita dapat diajukan untuk operasi tanpa didahului
pemeriksaan kateterisasi jantung. Bila telah terjadi hipertensi pulmonal dan
penyakit vaskuler paru, serta pada kateterisasi jantung didapatkan tahanan arteri
pulmonalis lebih dari 10U/m² yang tidak responsif dengan pemberian oksigen
100%, maka penutupan defek septum atrium merupakan indikasi kontra.
1. Tindakan operasi
Indikasi operasi penutupan ASD adalah bila rasio aliran darah ke paru dan
sistemik lebih dari 1,5. Operasi dilakukan secara elektif pada usia pra sekolah
(3–4 tahun) kecuali bila sebelum usia tersebut sudah timbul gejala gagal jantung
kongaestif yang tidak teratasi secara medikamentosa. Defect atrial ditutup
menggunakan patch
2. Medikamentosa
1. Pembatasan aktivitas atau olahraga tidak diperlukan.
2. Bayi dengan tanda2 CHF sebaiknya dilakukan terapi medikamentosa lebih
dahulu oleh karena keberhasilan tinggi dan kemungkinan menutup spontan.
3. Dapat dilakukan tindakan penutupan melalui intervensi kateterisasi (ASO -
atrial septal occluder) bila syarat dipenuhi

STIKes Widya Nusantara Palu 10


J. Komplikasi
1. Gagal jantung kongestif 5. Embolisasi paradoks
2. Aritmia 6. Stroke
3. Hipertensi pulmonal 7. Endokarditis infektif
4. Sianosis

STIKes Widya Nusantara Palu 11


BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama, Umur (pasien dengan ASD biasanya terjadi pada usia bayi saat setelah
kelahiran tetapi asimptomatik, gejala mulai timbul saat usia dewasa, 40 tahun
ke atas). Jenis kelamin (perempuan:laki-laki kira-kira 2:1) Suku/bangsa, agama,
pekerjaan, dll.
2. Keluhan utama
Keluhan yang paling sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan
layanan kesehatan meliputi: Kesulitan bernapas (dispnea), infeksi pernapasan
sering pada anak-anak, merasakan detak jantung (palpitasi) pada orang dewasa,
sesak napas saat beraktivitas, kelelahan saat beraktivitas nyeri dada, palpitasi,
nafas dalam dan dangkal, pusing, pingsan, bising sistolik tipe ejeksi,
regurgritasi mitral, gangguan pertumbuhan dll.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pengkajian riwayat penyakit sekarang mendukung keluhan utama dengan
melakukan serangkaian pertanyaan tentang kronologis keluhan utama.
Pengkajian yang didapat dengan adanya gejala-gejala tanda gagal jantung
seperti kelemahan fisik dan pernapasan berupa dispnea, takipnea, retraksi dada.
4. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian riwayat penyakit dahulu yang mendukung dengan mengkaji apakah
sebelumnya klien pernah menderita nyeri dada khas, DM, dan hipertensi,
tanyakan mengenai obat-obat yang diminum oleh klien masa lalu yang masih
relevan. Obat-obatan anti hipertensi. Cacat adanya efek samping yang terjadi
dimasa lalu. Juga harus ditanyakan adanya alergi obat dan tanyakan adanya
reaksi alergi apa yang timbul. Seringkali klien mengacaukan suatu alergi
dengan efek samping obat (Sulistia, 2016).
5. Riwayat penyakit keluarga
Perawat menanyakan tentang penyakit yang pernah dialami oleh keluarga, dan
keluarga yang meninggal, maka penyebab kematian juga ditanyakan.

STIKes Widya Nusantara Palu 12


6. Sistem yang dikaji:
a. Pola aktivitas dan latihan: keletihan/kelelahan, dispnea, perubahan tanda-
tanda vital dll.
b. Pola persepsi dan pemeriksaan kesehatan: riwayat hipertensi, penyakit katup
jantung dll.
c. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress: ansietas, khawatir,
takut, stress yang berhubungan dengan penyakit.
d. Pola nutrisi dan metabolik: anoreksia, pembengkakan ekstremitas
bawah/edema dll.
e. Pola persepsi dan konsep diri: kelemahan dll.
f. Pola peran dan hubungan dengan sesama: penurunan peran dalam aktivitas
dan keluarga.
7. Pemeriksaan fisik
a. Head to toe:
1) Pada pemeriksaan kepala, tidak ada kelainan yang cukup signifikan.
Pada pemeriksaan hidung, tidak didapatiotot bantu pernafasan. Pada
pemeriksaan leher tidak ditemukan pembesaran kelenjar tyroid.
2) Pemeriksaan dada, jantung bentuk asimetris, irama nafas tidak teratur,
biasanya teraba adanya bising pada ICS 2 atau 3, suara jantung biasanya
pekak, suara paru sonor, bunyi paru vasikuler dan biasanya terdapat
bunyi jantung tambahan.
3) Bunyi jantung 1 normal/split, dengan aksentuasi penutupan katup
trikuspid.
4) Bertambahnya aliran ke katup pulmonal dapat menyebabkan
terdengarnya murmur midsistolik.
5) Splitting bunyi jantung 2 melebar dan tidak menghilang saat ekspirasi.
6) Murmur middiastolik rumbling, terdengar paling keras SIC IV dan
sepanjang linea sternalis kiri, menunjukkan peningkatan aliran yang
melewati katup tricuspid.
7) Pada pasien dengan kelainan ostium primum, thrill pada apex dan
murmur holosistolic menunjukkan regurgitasi mitral/tricuspid atau VSD.

STIKes Widya Nusantara Palu 13


8) Hasil pemeriksaan fisik dapat berubah saat resistensi vaskular pulmonal
meningkat menghasilkan berkurangnya pirau kiri ke kanan. Baik itu
aliran balik pulmonal dan murmur tricuspid intensitasnya akan
berkurang, komponen bunyi jantung ke 2 dan ejeksi sistolik akan
mengikat, murmur diastolic akibat regurgitasi pulmonal dapat muncul.
Sianosis dan clubbing finger berhubungan dengan terjadinya pirau
kanan ke kiri.
9) Pada orang dewasa dengan ASD dan fibrasi atrial, hasil pemeriksaan
dapat dipusingkan dengan mitral stenosis dengan hipertensi pulmonal
karena murmur diastolik tricuspid dan bunyi jantung 2 yang melebar
(Anonim, 2016)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan defek pada atrium.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan darah pulmonal
dan edema paru.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan intake
yang kurang
4. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan curah
jantung menurun dan ketidak adekuatan oksigen dan nutrisi ke jaringan.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan curah jantung menurun dan
keletihan, kelemahan.

C. Intervensi Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan defek pada atrium.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam klien
memperlihatkan peningkatan curah jantung.
Kriteria Hasil: Denyut jantung kuat, teratur, dalam batas normal
Intervensi :
a. Kaji nilai CO dengan monitor jantung dalam 1 menit.
Rasional : CO adalah jumlah darah yang di pompa oleh jantung setiap satu
menit.

STIKes Widya Nusantara Palu 14


b. Kaji TD ketika beristirahat.
Rasional : Menangis/aktivitas lain dapat menignkatkan TD.
c. Berikan istirahat semi rekumben pada tempat tidur/kursi. Kaji dengan
pemeriksaan fisik sesuai indikasi.
Rasional : Istirahat fisik harus dipertahankan selama GJK untuk
memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan menurunkan kebutuhan.
d. Tambahkan monitor jantung jika di indikasikan.
Rasional : Menunjukkan pergantian rata2 jantung dan respirasi.
e. Kolaborasi pemberian digoksin sesuai program dengan menggunakan
kewaspadaan yang ditetapkan untuk mencegah toksisitas.
Rasional : Meningkatkan kekuatan miokardium dan memperlambat
frekuensi jantung dengan menurunkan konduksi dan memperlama periode
refraktori pada hubungan AV untuk meningkatkan curah jantung
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan darah pulmonal dan
edema paru.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan klien
memperlihatkan peningkatan fungsi pernafasan
Kriteria hasil :
a. Pernafasan dalam batas normal 20-24x/menit.
b. Warna kulit baik.
c. Klien terlihat tenang.
Intervensi :
a. Kaji frekwensi pernafasan, warna kulit.
b. Berikan posisi 30-45 drajad untuk mempermudah ekspansi paru.
Rasional : Memudahkan ekspansi paru dan dada.
c. Berikan terapi oksigen yang telah dilembabkan sesuai program.
Rasional : Meningkatkan kesediaan oksigen untuk kebutuhan miokardium
agar tidak terjadi hipoksia.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan intake
yang kurang
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, diharapkan
kebutuhan nutrisi terpenuhi.

STIKes Widya Nusantara Palu 15


Kriteria hasil : Mempertahankan berat badan dalam batas normal, Anak mau
menghabiskan makanan yang disediakan, dan Nafsu makan klien meningkat.
Intervensi :
a. Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien.
Rasional : Mengetahui kekurangan nutrisi klien.
b. Kaji penurunan nafsu makan klien.
Rasional : Agar dapat dilakukan intervensi dalam pemberian makanan pada
klien.
c. Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan.
Rasional : Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi
untuk meningkatkan pemenuhan nutrisi.
d. Ukur tinggi dan berat badan klien.
Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi.
e. Dokumentasi masukan oral selama 24 jam.
Rasional : mengidentifikasi ketidak seimbangan kebutuhan nutrisi.
f. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.
Rasional : Untuk meningkatkan nafsu makan.
g. Berikan makanan selagi hangat.
Rasional : Untuk memudahkan proses makan.
4. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan curah
jantung menurun dan ketidakadekuratan oksigen dan nutrisi ke jaringan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan anak
mengikuti kurva pertumbuhan berat badan.
Kriteria hasil : Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat, Anak dapat
melakukan aktivitas sesuai dengan usia dan Anak tidak mengalami isolasi
sosial.
Intervensi :
a. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang
adekuat.
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat.
b. Pantau tinggi dan berat adan, gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk
menentukan kecenderungan pertumbuhan.

STIKes Widya Nusantara Palu 16


Rasional : untuk mengetahui setiap pertumbuhan dan perkembangan anak.
c. Berikan suplemen zat besi untuk mengatasi anemia, bila di anjurkan.
Rasional : untuk mengatasi anemia.
d. Dorong anak untuk beraktivitas sesuai dengan usia.
Rasional : memberikan latihan untuk melakukan mobilitas fisik.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan curah jantung menurun dan keletihan,
kelemahan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam klien menunjukkan
perbaikan curah jantung yang terlihat dari aktivitas klien.
Kriteria hasil : Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan
kemampuan, Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat dan tenang.
Intervensi :
a. Taksiran tingkat kelelahan, kemampuan untuk melakukan Activity Daily
Living (ADL).
Rasional : Untuk memberikan informasi tentang energi cadangan dan respon
untuk beraktivitas.
b. Berikan periode dan istirahat dan tidur yang cukup.
Rasional : Untuk meningkatkan istirahat dan menghemat energi.
c. Hindari suhu lingkungan yang ekstrim.
Rasional : Karena hipertermi/hipotermi dapat meningkatkan kebutuhan
oksigen.

D. Discharge Planning
Berikan pada anak dan orang tua insktrusi lisan dan tulisan dengan perkembangan
mengenai penatalaksanaan di rumah sakit tentang hal-hal berikut ini:
1. Bahaya terjadinya gagal jantung. Diperlukan Perawatan yang baik, Pelayanan
medis yang teratur, Kontrol teratur, Orang tua mengetahui tanda gagal jantung.
2. Resiko pada saluran nafas. Diperlukan Ruangan cukup ventilasi, Udara hangat
tidak terlalu dingin, Isap lendir, Posisi semi fowler, Observasi tanda vital
3. Kebutuhan nutrisi. ASI dilanjutkan Beri makanan tambahan TKTP.

STIKes Widya Nusantara Palu 17


4. Gangguan rasa aman dan nyaman. Berikan kehangatan : selimut, suhu
ruang, Memandikan jangan terlalu pagi, Pakaikan kaos kaki, Komunikasi
terapetik.
5. Pendidikan kesehatan. Berikan makanan bergizi, Hindari kontak dengan
orang diluar rumah, Hindari kontak dengan banyak orang / orang sakit,
usahakan lingkungan bersih

STIKes Widya Nusantara Palu 18


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
ASD adalah pembukaan atau lubang (cacat) di dinding (septum) antara dua ruang
atas jantung (atrium).Atrial Septal Defect (ASD) adalah salah satu anomali jantung
kongenital lebih umum muncul saat dewasa. Defek septum atrium ditandai dengan
cacat di septum interatrial memungkinkan aliran balik vena paru dari atrium kiri
kembali ke atrium kanan. Tergantung pada ukuran defek, ukuran pirau, dan anomali
terkait, hal ini dapat mengakibatkan spektrum penyakit mulai dari tidak ada gejala
yang signifikan, kelebihan volume di sisi kanan, hipertensi arteri paru, dan bahkan
aritmia atrium.
Untuk penatalaksanaannya bisa dilakukan pembedahan septum yang bermasalah,
pemeriksaan penunjang Radiografi, CT scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI),
Ultrasonografi, Angiografi dan EKG.
Dilakukan asuhan kepearawatan dari pengkajian-evaluasi, dimana muncul
diagnosis keperawatan, yaitu: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
hiperventilasi ditandai dengan adanya ronchi, biasanya pasien akan mengalami
sesak, adanya otot bantu pernapasan, adanya pernapasan cuping hidung.
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan struktur defek
ditandai dengan biasanya pasien akan merasa lemas, pucat, terdapat sianosis.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas jantung
ditandai dengan biasanya pasien mengalami bradikardi, sesak, sianosis.

B. Saran
Hendaknya dalam memberi asuhan keperawatan, mahasiswa/i dapat menerapkan
teori dan keterampilan yang erat yang di peroleh dibangku kuliah sehingga dapat
dapat terjadi kesinambungan dan keterikatan yang erat antara teori dan praktek
nyata pada pasien di rumah sakit juga di harapkan agar mahasiswa/i dapat
mengadakan pembaharuan melalui pendidikan tinggi keperawatan.

STIKes Widya Nusantara Palu 19


DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.

Nurarif, Amin Huda., Hardhi Kusuma.2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA (North American Nursing
Diagnosis Association) NIC-NOC.Jogjakarta:Mediaction

Syaifudin. 2014. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk


Keperawatan dan kebidanan. Jakarta: Penerbit buku kedokteran.

Sulistia Rini. 2016. ASKEP ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD).


https://www.slideshare.net/chuliecsztstefanerszt/askep-atrial-septal-defect-
asd-60782049

STIKes Widya Nusantara Palu 20