Anda di halaman 1dari 3

PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI CAT

Kebijakan lingkungan sudah tidak dapat disangkal dan merupakan keharusan yang
perlu ditingkatkan oleh industri. Kepedulian industri terhadap lingkungan haruslah merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan kebijakan perusahaan. Dengan semakin
mengglobalnya pasar internasional (Era Pasar Global), maka industri harus dapat
mengantisipasi globalisasi pasar internasional tersebut. Salah satu desakan pasar internasional
adalah produk yang masuk ke pasar mereka harus diproduksi dengan proses produksi yang
ramah lingkungan (green product). Hal ini berarti mulai dari bahan baku, teknologi proses,
produk yang dihasilkan sampai dengan limbah yang dibuang haruslah ramah terhadap
lingkungan, dengan menghasilkan zero waste.

Industri pembuatan cat di Indonesia terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam
negeri, mengekspor produknya namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Di Indonesia
terdapat sekitar 65 pabrik cat berskala besar dan menengah serta sekitar 100 pabrik berskala
kecil. Berbagai jenis limbah industri B3 dari industri tersebut yang tidak memenuhi baku mutu
yang dibuang langsung ke lingkungan merupakan sumber pencemaran dan perusakan
lingkungan. Untuk menghindari kerusakan tersebut pemerintah mengeluarkan PERATURAN
PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN
BERACUN yang mana pada pasal 3 berbunyi “Setiap Orang Yang Melakukan Usaha
Dan/Atau Kegiatan Yang Menghasilkan Limbah B3 Dilarang Membuang Limbah B3 Yang
Dihasilkannya Itu Secara Langsung Ke Dalam Media Lingkungan Hidup, Tanpa Pengolahan
Terlebih Dahulu”. Dengan diberlakukannya peraturan tersebut maka hak, kewajiban dan
kewenangan dalam pengelolaann limbah oleh setiap orang, badan usaha maupun organisasi
kemasyarakatan dijaga dan dilindungi oleh hukum.
Selama ini praktek pengelolaan lingkungan diindustri fokus pada pengelolaan
(treatment) yang dikenal dengan end of pipe (EOP) dari sisi bisnis pendekatan ini tidak
mendatangkan keuntungan ekonomis karena investasi, operasi, pemeliharaan danpembuangan
(disposal) yang dikeluarkan bersifatpusat biaya (cost centre).Disamping itu juga menjadi
beban karena sulitnya memenuhi atau memelihara konsistensi pemenuhan regulasi (comply
with regulation) yang menjadi tujuan utama pendekatan ini.
Beberapa pendekatan yang dilakukan dalam pengurangan limbah industri:
1. Pemilihan jenis teknologi yang digunakan dalam dunia usaha (4R:Reduce, Reuse,
Recycling, Recovery) yaitu Impelementasinya mulai dari pemilihan bahan baku,
penyimpanan bahan baku, disain pabrik, teknologi proses dan teknologi
pengolahan limbah.

2. Mengatasi masalah lingkungan dengan EOP ( End of Pipe ) dan CTP ( Clean
Technology Process ). EOP adalah Menangani limbah yang terjadi sebagai akibat
kegiatan industri terutama ditujukan kepada industri-industri yang ada (existing).
Sedangkan CTP yaitu meminimalkan limbah dalam arti mulai dari Pemilihan dan
Penanganan Bahan Baku, Disain Pabrik dengan prinsip-prinsip 4R, pemilihan
teknologi proses yang bersih dan hemat energi serta pengolahan limbah sudah
sejak awal dipikirkan
Kunci masalah lingkungan yang berhubungan dengan industri cat adalah penanganan
terhadap limbah yang dihasilkan akibat proses produksi cat. Penanganan limbah tersebut
mengacu pada Baku Mutu Limbah yang diperbolehkan dalam industri tersebut. Baku
mutu limbah untuk industri cat (yang sudah beroperasi) adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Baku Mutu Limbah Cair Untuk Industri Cat Yang Sudah Beroperasi

Berdasarkan hal tersebut di atas, penanganan limbah industri cat yang dapat
disesuaikan dengan situasi dan kondisi industri. Penanganan limbah industri adalah
sebagai berikut:
Penanganan Limbah Padat
1. Kemasan bekas Limbah ini dihasilkan dari bekas kemasan bahan baku/penolong
berupa kantong/sak atau karung dari kertas dan plastik. Sifatnya tidak beracun
tetapi mudah terbakar sehingga pengumpulan dilakukan setiap hari kerja dan
ditempatkan di TPS pabrik lalu diangkut/dibeli oleh perusahaan daur ulang
kemasan setiap minggu.

2. Lumpur/Sludge Dihasilkan dari proses pengolahan air limbah di IPAL pabrik.


Limbah ini bersifat B3 (bahan Beracun dan berbahaya) sehingga
penanggulangannya sangat hati-hati mulai dari pengumpulan, pengeringan sampai
pada pembuatannya menjadi “FlinkotePadat” sebagai produk sampingan. Untuk
100 kg Lumpur kering (kadar air 30%) dapat dihasilkan 286 kg flinkote padat.

Penanganan Limbah Cair


Pengolahan limbah cair industri cat dapat menggunakan teknologi pengolahan limbah
secara fisik, kimia dan biologi untuk mengurangi kadar parameter utama limbah cair yang
dihasilkan. Pengolahan limbah cair yang dihasilkan dalam proses pembuatan cat dengan
pemanfaatan IPAL yang meliputi :
a. Ekualisasi debit limbah, dengan tangkipengumpul;
b. Pengaturan pH
c. Pengendapan dengan penambahan bahan kimia alum, kapur atau poliflok dan
garam
d. besi di dalam tangki flokulasi;
e. Pengentalan atau pengeringan Lumpur;
f. Penyaringan dengan menggunakan penyaring pasir atau media lainnya Fenolbact
dan Hidrobact di dalam tangki klorinasi;
g. Penyaringan dengan menggunakan karbon filter pada tangki filter; dan Tangki
penyimpanan akhir. Penanganan Limbah Industri Cat

Pengelolaan Limbah Cair Industri Cat Solvent-Based


Penanganan limbah cair untuk industri pembuatan cat terutama dilakukan pada saat
pencucian peralatan pada pembuatan cat solvent –based yang tidak boleh tercecer dan
masuk ke saluran drainase melalui pemeliharaan lingkungan pabrik yang baik dan benar,
sehingga pembuatan cat solvent –based dalam pembuangan limbah diharapkan mencapai
zerowaste .
Pengolahan limbah cair industri cat dapat menggunakan teknologi pengolahan limbah
secara fisik, kimia dan biologi untuk mengurangi kadar parameter utama limbah cair yang
dihasilkan.
Untuk proses pembuatan cat solvent-based diupayakan tidak menghasilkan limbah cair dan
untuk itu diperlukan kebiasaan memelihara lingkungan yang baik dan menghemat
pemakaian air melalui pemanfaatan kembali air cucian tangki pada proses pembuatan cat
untuk pencucian berikutnya.

Pengendalian di dalam Pabrik untuk Mengurangi Pencemaran


Kebiasaan pemeliharaan lingkungan pabrik yang baik dan juga dengan menggunakan
kembali air pencucian pada proses pembuatan cat atau proses pencucian berikutnya akan
menghemat jumlah pemakaian air.
Jumlah pemakaian air terbanyak adalah untukmpendinginan, air ini harus diupayakan
untuk tidak terkontak atau terkontaminasi dangan bahan baku, bahan penolong ataupun air
proses.
Pemisahan antara limbah cair yang tidak terkontaminasi dan yang terkontaminasi serta
pengurangan jumlah pemakaian air untuk pencucian peralatan dengan menggunakan
peralatan penyemprotan bertekanan tinngi harus dilaksanakan.

PENUTUP
Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan
bertumpukan pada pembangunan industri. Berkembangnya industri khususnya industri cat
disamping akan mengahsilkan produk-produk yang bermanfaat bagi masyarakat juga akan
membawa dampak negatif terhadap lingkungan hidup disekitarnya. Sehingga diperlukan
penanganan limbah yang tepat agar tidak terjadi konflik sosial antara masyarakat dan pihak
perusahaan

Sumber :
 https://portalgaruda.org
 https://www.kemenkopmk.go.id