Anda di halaman 1dari 8

KONSEP KOMUNIKASI ORGANISASI

DISUSUN OLEH

1. Marlena 2. Merry K
3. Merita N 4. Novita
5. Rita Yani 6. Rolia Novera
7. Renny Y 8. Siska A
9. Tika Meta S 10. Neneng H
11. Nida Amelia 12. Sari S
13. 14. Yeni Erawati
15. Yuli Susanti 16. Zalmiati

STIKES MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG

S1 KEPERAWATAN KONVERSI RUMAH SAKIT URIP SUMOHARJO

BANDAR LAMPUNG

2014
KONSEP KOMUNIKASI ORGANISASI

I. Definisi Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di


dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005).

Persepsi mengenai komunikasi organisasi perlu diketahui sebagai dasar untuk


memahami apa yang dimaksud dengan komunikasi organisasi.

1. Persepsi Redding dan Sanborn Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan


penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk bidang ini
adalah

a. komunikasi internal

b. hubungan manusia

c. hubungan persatuan pengelola

d. komunikasi downward (komunikasi dari atasan kepada bawahan)

e. komunikasi upward (komunikasi dari bawahan kepada atasan)

f. komunikasi horizontal (komunikasi dari orang-orang yang sama tingkatnya dalam


organisasi)

g. keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan evaluasi


program.

2. Persepsi Katz dan Kahn Komunikasi organisasi merupakan arus informasi,


pertukaran informasi dan pemindahan arti di dalam organisasi.

3. Persepsi Zelko dan Dance Komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang saling
tergantung yang mencakup komunikasi internal dan komunikasi eksternal.

4. Persepsi Thayer Dia memperkenalkan tiga sistem komunikasi dalam organisasi


yaitu :

a. berkenaan dengan kerja organisasi seperti data mengenai tugas-tugas atau


beroperasinya organisasi;

b. berkenaan dengan pengaturan organisasi seperti perintah, aturan dan petunjuk;


c. berkenaan dengan pemeliharaan dan pengembangan organisasi (hubungan
dengan personal dan masyarakat, pembuat iklan
dan latihan)

5. Persepsi Greenbaunm Bidang komunikasi organisasi termasuk arus komunikasi


formal dan informal dalam organisasi. Dia membedakan komunikasi internal dengan
eksternal dan memandang peranan komunikasi terutama sebagai koordinasi pribadi
dan tujuan organisasi serta masalah menggiatkan aktivitas.

Meskipun bermacam-macam persepsi dari para ahli mengenai komunikasi organisasi, tapi

ada beberapa hal yang dapat disimpulkan :

1. Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang
dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal
maupun eksternal.

2. Komunikasi organisasi meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media.

3. Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya, hubungannya dan


keterampilannya.

Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan
sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam
organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.
Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun
komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan
pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang
terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu.
Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam
organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai,
bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya.
Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk
selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu
berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan
memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.

II. Pendekatan dalam Organisasi


Kita dapat melakukan pendekatan pada organisasi sekurang-kurangnya melalui empat
persepektif: pendekatan manajemen ilmiah atau klasik, pendekatan hubungan antar
manusia, pendekatan sistem, dan pendekatan kultural (Goldhaber,1990).

1. Pendekatan ilmiah

Pendekatan ilmiah menganggap bahwa organisasi harus menggunakan metoda-


metoda ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai studi pengendalian
secara ilmiah akan memungkinkan manajemen mengidentifikasi cara-cara atau alat
untuk meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya akan meningkatkan laba.
Dalam pandangannya ini produktivitas pada umumnya menyangkut masalah fisik
dan psikologis. Produktivitas dipandang dalam bentuk permintaan phisik akan
pekerjaan dan kemampuan psikologis para pekerjanya.

2. Pendekatan hubungan antarmanusia

Pendekatan hubungan antarmanusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian


eksklusif faktor-faktor phisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu
asumsi prinsip dari pendekatan hubungan antarmanusia adalah bahwa kenaikan
kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktivitas. Seorang karyawan yang
bahagia adalah karyawan yang produktif. Oleh karena itu, fungsi manajemen adalah
menjaga agar para karyawan terus merasa puas. Seperti :

- Berbicara pada kelompok kerja


- Menghadiri dan berinteraksi dalam rapat-rapat
- Menulis dan mengonsep surat
- Berdebat untuk suatu usulan

3. Pendekatan sistem

Pendekatan sistem mengkombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah


dengan pendekatan hubungan antarmanusia. Pendekaan ini memandang organisasi
sebagai suatu sistem dimana semua bagian berinteraksi dan setiap bagian
mempengaruhi bagian lainnya. Organisasi dipandang sebagai suatu sistem terbuka-
terbuka terhadap informasi baru, responsif terhadap lingkungan, bersifat dinamis dan
selalu berubah.

4. Pendekatan kultural

Sebuah pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa


perusahaan harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau kultur (pilotta,
Widman, & Jasko, 1988;Putnam & Pacanowsky, 1983). Seperti pada umumnya suatu
kelompok atau kultur sosial yang selalu memiliki aturan mengenai misalnya, perilaku
peran, kepahlawanan, dan nilai-nilai, maka demikian juga suatu organisasi. Oleh
karena itu, pada pendekatan ini organisasi harus meneliti untuk mengidentifikasikan
jenis kultur dan norma-norma atau nilai-nilai spesifik yang dianutnya. Tujuan dari
analisis ini adalah untuk memungkinkan kita bisa memahami bagaimana organisasi
berfungsi dan bagaiama hal itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh para anggotanya
(karyawannya) dalam kultur organisasi itu.

III. Jaringan Komunikasi Organisasi


Yang dimaksud dengan jaringan disini adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan
pesan dari satu orang ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif.
Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan
mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan
komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistem komunikasi umum
yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang ke orang
lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bisa dipandang sebagai struktur yang
diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.

Struktur jaringan komunikasi

1. Struktur lingkaran
struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. Mereka
memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap
anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya.

2. Struktur roda
struktur roda memiliki pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya di pusa. Orang ini
merupakan satu-satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota.
Oleh karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka
pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.

3. Struktur Y
struktur Y relatif kurang tersentralisasi dibanding struktur roda, tetapi lebih
tersentralisasi dibanding dengan pola lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin
yang jelas. Tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua. Anggota ini dan
mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya
komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
4. Struktur rantai
struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggota yang paling
ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat
disini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada
mereka yang berada di posisis lain.

5. Struktur semua saluran


struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran dalam
arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk
mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap
anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan
adanya partisipasi anggota secara optimum.

IV. Arus Komunikasi Organisasi

Pembahasan mengenai komunikasi dalam organisasi dalam bentuk arah arus


informasinya sangat penting. Komunikasi ke atas dan ke bawah (sering disebut vertikal)
dan komunikasi lateral barangkali merupakan yang paling penting. Di samping itu, kita
akan melihat pada informasi samar dan juga pada sebab dan akibat adanya kepadatan
informasi

1. Komunikasi ke atas
komunikasi ke atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih
rendah ke tingkat yang lebih tinggi-misalnya, para pelaksana ke manajernya, atau
dari para dosen ke dekan fakultas. Jenis komunikasi ini biasanya mencakup

a. kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan,

b. masalah yang berkaitan dengan pekerjaan dan pertanyaan yang belum terjawab,

c. berbagai gagasan untuk perubahan dan saran-saran perbaikan;

d. perasaan yang berkaitan dengan pekerjaan mengenai organisasi, pekerjaan itu


sendiri, pekerjaan lainnya, dan masalah lain yang serupa.

Komunikasi ke atas sangat penting untuk mempertahankan dan bagi pertumbuhan


organisasi. Komunikasi itu memberikan manajemen umpan balik yang diperlukan
mengenai semangat kerja para karyawannya dan berbagai ketidakpuasan yang
mungkin. Komunikasi itu juga membuat bawahan memiliki rasa memiliki dan
merasa sebagai bagian dari organisasi. Di samping itu juga memungkinkan
manajemen memiliki kesempatan untuk memperoleh berbagai gagasan baru dari
para pegawainya.

Masalah tentang komunikasi ke atas


Di samping penting bagi organisasi, komunikasi atas itu sulit dikendalikan. Salah
satu masalahnya adalah pesan yang mengalir ke atas seringkali merupakan pesan
yang perlu di dengar oleh hirarki yang lebih tinggi lagi. Para pekerja seringkali
enggan mengirim pesan yang negatif karena merasa khawatir mereka dianggap
sebagai biang keladi.

2. Komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih
tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, pesan yang dikirim oleh manajer
kepada karyawannya atau dari dekan fakultas kepada para dosennya adalah
komunikasi ke bawah. Perintah seringkali merupakan contoh jelas untuk komunikasi
ke bawah:”Ketik surat ini rangkap dua,””Kirim barang ini sebelum tengah hari.”
Tulis kopi iklan ini,” dan sebagainya.

Masalah tentang komunikasi ke bawah


Manajemen dan karyawan seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. Banyak
manajer yang tidak mengetahui bagaimana agar pesan mereka dapatdipahami oleh
karyawannya. Misalnya saja, kebanyakan manajer memilki pendidikan yang lebih
tinggi dan banyak bahasa teknis mengenai bisnis daipada para karyawannya.

3. Komunikasi lateral
Komunikasi lateral adalah pesasn antara sesama-manajer ke manajer, karyawan ke
karyawan. Pesan semacam ini bisa bergerak di bagian yang sama di dalam organisasi
atau mengalir antar bagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi
antara dua dosen sejarah di perguruan tinggi yang sama. Juga bisa merupakan
komunikasi antara dua dosen psikologi di dua universitas yang berbeda.

Masalah pada komunikasi lateral


Salah satu masalah yang jelas pada komunikasi lateral adalah bahasa yang khusus
yang dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam organisasi. Bahasa semacam itu
seringkali sulit dipahami oleh penerima pesan. Untuk bisa berkomunikasi dengan
psikolog misalnya, maka perlu berbicara dengan bahasa psikologi- untuk mengetahui
arti dari beberapa istilah seperti skedul, pemantapan, egoisme, katarsis, STM, dan
asosiasi bebas.
4. Kabar burung
Menurut ahli organisasi, John Baird (1977), meskipun kabar burung merupakan
bagian dari komunikasi informal dalam setiap organisasi besar, jenis komunikasi itu
jangan digunakan terlalu sering seperti folklore yang sudah biasa kita ketahui.
Biasanya kabar burung tidak terjadi pada iklim yang stabil. Perubahan dan
ketidakjelasan mendorong timbulnya kabar burung. Bagaimanapun juga tidaklah
mengherankan apabila jenis komunikasi ini menghasilkan ketepatan informasi yang
tinggi.

5. Kepadatan informasi
Sekarang ini, dengan kecanggihan teknologi, kepadatan informasi merupakan salah
satu masalah kita yang terbesar. Informasi dikembangkan dengan kecepatan tinggi
sehingga sulit untuk diikuti semuanya dan dianggap relevan untuk satu jenis
pekerjaan tertentu. Dengan kadar yang berbeda-beda setiap orang harus mampu
menyeleksi informasi tertentu dan menganggap informasi lain tidak penting.
Kepadatan informasi tampaknya sudah menjalar di semua organisasi. Dan sudah
barang tentu, inilah penyebab mengapa begitu banyak organisasi yang mengunakan
komputer untuk mengatasinya. Dengan menaruh apa saja ke dalam komputer
memang relati mudah dan efisien untuk mengatasi kecepatan informasi. Tetapi cara
itu tidak merupakan jawaban untuk semuanya. Beberapa kerja manusia masih
diperlukan untuk mengerjakan informasi-sekurang-kurangnya biasanya demikian.
Dan dalam kondisi informasi yang terlalu padat, maka kesalahan sudah biasa terjadi,
hanya karena seseorang tidak bisa menyediakan waktu yang dibutuhkan untuk
segalanya. Semakin kita sibuk, semakin banyak kesalahan yang kita buat. Di samping
itu masih banyak lagi penundaan antara pengiriman pesan dengan pelaksanaan
tindakan yang diperlukan, dan penundaan itu merupakan hal yang tidak efisien dan
menelan biaya bagi organisasi.