Anda di halaman 1dari 90

MEMPELAJARI ALAT DAN METODA EKSTRAKSI MINYAK BIJI

JARAK PAGAR (Jatropha Curcas Linn)

Oleh:
Janji Paniopan Situmorang
F14050703

2009
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
MEMPELAJARI ALAT DAN METODA EKSTRAKSI MINYAK BIJI
JARAK PAGAR (Jatropha Curcas Linn)

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Insitut Pertanian Bogor

Oleh:
Janji Paniopan Situmorang
F14050703

2009
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

MEMPELAJARI ALAT DAN METODA EKSTRAKSI MINYAK BIJI


JARAK PAGAR (Jatropha Curcas Linn)

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Insitut Pertanian Bogor

Oleh:
Janji Paniopan Situmorang
F14050703

Dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1986


Di Silampiang, Pematang Siantar
Tanggal lulus:

Menyetujui,
Bogor, Agustus 2009

Prof. Dr. Ir. Armansyah H Tambunan


Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Dr. Ir. Desrial, M.Eng


Ketua Departemen Teknik Pertanian
Janji Paniopan Situmorang. F14050703. Mempelajari Alat dan Metoda Ekstraksi
Minyak Biji Jarak Pagar (Jatropha Curcas Linn). Di bawah bimbingan: Prof.Dr.Ir.
Armansyah H Tambunan.2009

RINGKASAN

Alat ekstraksi merupakan bagian penting dari hampir semua pabrik


penghasil ekstrak minyak biji-bijian. Proses ekstraksi membutuhkan metode
ekstraksi yang baik untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi. Selain itu,
rendemen minyak yang dihasilkan alat ekstraksi juga dipengaruhi oleh beberapa
faktor, seperti tingkat kemasakan buah, rancangan alat ekstraksi minyak biji jarak
pagar, dan beberapa kondisi ekstraksi yang dapat dimanipulasi selama dilakukan
ekstraksi minyak biji jarak pagar. Dengan demikian diperlukan penelitian untuk
mengetahui batas tingkat kemasakan buah dengan kandungan minyak yang tinggi
dan teknologi ekstraksi yang dapat mengekstraksi minyak jarak pagar sampai
mendekati rendemen idealnya.
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui metode ekstraksi minyak
biji jarak pagar yang terbaik untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat
kematangan buah terhadap kandungan minyak berdasarkan warna kulit buah,
merancang bangun prototipe alat ekstraksi minyak biji jarak hingga mendekati
rendemen idealnya, dan mengetahui kandungan minyak sebenarnya pada biji jarak
pagar. Penelitian ini dimulai pada bulan Februari sampai Agustus 2009 di
laboratorium Metanium Leuwikopo dan laboratorium Energi dan Elektrifikasi
Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB.
Penelitian dibagi dalam tiga tahap yaitu penentuan tingkat kematangn buah
jarak pagar, rancang bangun alat ekstraksi minyak biji jarak pagar dan pengujian
alat ekstraksi minyak biji jarak pagar. Prosedur perancangan meliputi: identifikasi
masalah, analisis perancangan, pembuatan alat, uji kinerja alat dan analisis data.
Uji kinerja alat ekstraksi minyak biji jarak pagar dilakukan untuk mengetahui
tingkat efisiensi alat dengan menggunakan tiga perlakuan ekstraksi yaitu
perlakuan bentuk ukuran bahan (biji, kernel, tepung biji dan tepung kernel),
perlakuan suhu (ambien, 50⁰C, 60⁰C, dan 80⁰C), dan perlakuan preheating time
(10 menit, 20 menit, dan 40 menit). Biji jarak pagar yang digunakan berasal dari
varietas Malimping, Banten, Indonesia.
Hasil penelitian umur tingkat kematang buah jarak menunjukkan bahwa
perubahan ukuran buah yang meliputi panjang dan diameter, terjadi selama tiga
minggu sedangkan 3 minggu berikutnya merupakan proses pematangan buah
hingga menjadi buah berwarna kuning. Hal ini mengindikasikan bahwa pada umur
41 hari setelah pembuahan (date of bloom) buah telah matang dengan biji
berwarna hitam.

Alat ekstraksi minyak biji jarak pagar yang dirancang terdiri dari delapan
bagian utama, yaitu kemudi tekan, ulir (screw), tabung tekan, piringan tekan,
bantalan tekan, pemanas, hydraulic jack, dan termostat. Ulir dirancang dengan
ukuran diameter inti ulir sebesar 42.7 mm. Pada bagian ujung bawah ulir
dirancang piringan tekan yang berfungsi sebagai penahan biji jarak yang
diekstrak sehingga minyak dapat keluar dari dinding sel biji jarak pagar. Ukuran
piringan tekan disesuaikan dengan tabung tekan. Tabung tekan berfungsi untuk
tempat bahan yang akan diekstraksi dan diletakkan tepat diatas bantalan tekan.
Hal ini bertujuan supaya pada saat dilakukan ekstraksi minyak biji jarak tidak
menggunakan kain saring (filter). Ukuran bantalan tekan dirancang agar dapat
mendukung kinerja alat secara maksimal. Pemanas berfungsi untuk supplai panas
terhadap bahan yang akan diekstraksi. Pemanas diletakkan di dalam bantalan
tekan dengan harapan panas yang dihasilkan dapat bersentuhan langsung dengan
bahan yang akan diekstrak. Dongkrak hydraulic merupakan salah satu inti dari
alat ekstraksi ini. Bagian ini berfungsi sebagai penekan/pengepres biji jarak
sampai mengeluarkan minyak. Jenis dongkrak yang digunakan adalah tipe
hydraulic jack yang memiliki kekuatan 10 ton. Termostat berfungsi untuk
mengontrol panas yang diberikan pada bahan yang akan diekstrak. Termostat ini
dapat megontrol suhu dengan interval 50 sampai 300⁰C.
Hasil pengujian alat menunjukkan bahwa rendemen rata-rata minyak
bervariasi antara 12.116% sampai 52.567%. Hasil analisis ragam menunjukkan
bahwa pengaruh ukuran bahan berbeda nyata terhadap rendemen CJCO yang
dihasilkan. Semakin kecil ukuran bahan, maka semakin tinggi rendemen CJCO.
Demikian juga suhu dan lama waktu preheating serta interaksinya berbeda nyata
terhadap rendemen CJCO. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu
preheating maka semakin tinggi rendemen CJCO. Hal ini mengindikasikan bahwa
rendemen CJCO sangat dipengaruhi oleh ukuran bahan, suhu dan preheating time.
Ukuran bahan, suhu, dan lama waktu preheating berpengaruh nyata terhadap
efisiensi alat dan kapasitas alat. Semakin kecil bentuk ukuran bahan, maka
semakin tinggi efisiensi dan kapasitas alat yang dihasilkan. Demikian juga suhu
dan lama waktu preheating. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu
preheating maka semakin tinggi efisiensi alat dan kapasitas alat yang dihasilkan.
Hasil pengujian sifat fisik CJCO menunjukkan bahwa suhu ekstraksi
berpengaruh terhadap viskositas. Semakin tinggi suhu ekstraksi maka semakin
tinggi nilai viskositas CJCO. Nilai viskositas minyak pada suhu 50⁰C, 60⁰C dan
80⁰C adalah sebesar 51.25 cP, 52.50 cP, dan 57.25cP. Demikian juga dengan nilai
kalor, nilai kalor CJCO meningkat dengan peningkatan suhu ekstraksi sampai
pada suhu ekstraksi 60⁰C. Kemudian nilai kalor CJCO berkurang pada suhu
ekstraksi 80⁰C. Nilai kalor CJCO pada suhu ambien, 50⁰C, 60⁰C dan 80⁰C adalah
sebesar 39680.82 J/gram, 40756.08 J/gram, 41555.22 J/gram , dan 39987.10
J/gram.
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Silampiang pada tanggal 28 Oktober


1986 dari ayah E. Situmorang dan ibu D. Saragih. Penulis
merupakan anak keenam dari enam bersaudara.
Tahun 2005 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Dolok
Panribuan dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB
melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih
Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian.
Selama perkuliahan, penulis mengikuti berbagai kegiatan seminar nasional
maupun internasional pada tahun 2008/2009. Pada tahun 2008 penulis lolos
seleksi PKMK tingkat IPB.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang maha esa atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Skripsi ini berjudul “ Mempelajari Alat dan Metoda Ekstraksi Minyak Biji Jarak
Pagar (Jatropha Curcas Linn)”.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menerima bantuan dari


berbagai pihak yang bersifat materil, bimbingan maupun semangat. Oleh karena
itu, penulis mengucapkan rasa penghargaan dan terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua, kakak-kakakku tercinta dan segenap keluarga yang


telah memberikan dukungan, doa dan semangat kepada penulis.
2. Prof. Dr. Ir. Armansyah H. Tambunan selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan bimbingan dan arahan selama pelaksanaan kegiatan
penelitian dan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Ir.Sri Endah Agustina, MS sebagai dosen penguji yang telah
memberikan saran dan arahan.
4. Ir.Mohamad Solahudin, M.Si sebagai dosen penguji yang telah
memberikan saran dan arahan.
5. Bapak Jupikely James Silip atas biaya penelitian yang digunakan
dalam kegiatan penelitian ini.
6. Kepada seluruh staf Laboratorium Energi dan Elektrifikasi Pertanian
yang telah memberikan bantuan peminjaman alat untuk pengujian.
7. Rekan-rekan di kost pondok sahabat atas dukungan dan inspirasi
selama penelitian
8. Rekan-rekan sejurusan atas kebersamaannya selama empat tahun di
Teknik Pertanian.
9. Derita Sitorus atas doa, bantuan, dan dukungannya
10. Janni Sinaga, Anita Saragih, Endang Siregar, dkk atas dukungannya.
11. Yusep Maulana (Math 42) atas doa, bantuan, dan dukungannya.

i
12. Teman-teman pondok Sahabat yaitu Dolly, Fahmi, Daud, Alfa, Apid,
Acuy, Iwan, Bambang, Ardy, Ade, dan lainya atas segala doa dan
dukungannya.
13. Adi atas bantuannya selama penelitian ini berlangsung.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
skripsi penelitian ini. Oleh karena itu, penulis akan sangat berterima kasih apabila
ada kritik dan saran yang disampaikan demi perbaikan skripsi penelitian ini.

Bogor, Juli 2009

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ...... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... viii
I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Tujuan Penelitian ....................................................................... 2
C. Manfaat Penelitian ..................................................................... 2

II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 3
A. Tanaman Jarak Pagar ................................................................. 3
B. Manfaat Tanaman Jarak Pagar ................................................... 4
C. Komposisi Kimia Tanaman Jarak Pagar ..................................... 4
D. Sifat Fisik dan Kimia Minyak Jarak Pagar ................................. 6
E. Proses Pengolahan Minyak Biji Jarak Pagar ............................... 8
F. Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar ............................................. 8

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN ......................................... 15


A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................... 15
B. Bahan dan Alat Penelitian .......................................................... 15
C. Prosedur Penelitian .................................................................... 16
D. Rancangan Fungsional ............................................................... 18
E. Rancangan Struktural ................................................................. 18
F. Metode Pengujian ...................................................................... 22
G. Penentuan Umur Tingkat Kematangan Buah Jarak Pagar hingga
Berwarna Kuning (index 5) ........................................................ 25
H. Kadar Minyak Berdasarkan Index Kematangan Buah ................ 25
I. Karakteristik Minyak Mentah (CJCO)........................................ 25

iii
IV HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 27
A. Perancanagan Alat Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar ............... 27
B. Pengujian Alat Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar ..................... 34
C. Karakteristik Fisik Minyak CJCO .............................................. 47
D. Pengaruh Kematangan Buah terhadap Kandungan Minyak ........ 51

V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 58


A. Kesimpulan................................................................................ 58
B. Saran ......................................................................................... 58

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 59


LAMPIRAN ..................................................................................................... 62

iv
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Zat kimia yang terdapat pada bagian-bagian tanaman
jarak pagar ........................................................................................... 5
Tabel 2. Kandungan senyawa dalam daging biji jarak pagar ............................ 6
Tabel 3. Kandungan asam lemak jarak pagar..................................................... 6
Tabel 4. Sifat fisika dan kimia minyak jarak pagar .......................................... 7
Tabel 5. Rancangan fungsional alat ekstraksi minyak biji jarak pagar .............. 18
Tabel 6. Index buah berdasarkan ripening index................................................ 25
Tabel 7. Spesifikasi alat ekstraksi minyak biji jarak pagar ............................... 33
Tabel 8. Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar selama
perkembangan pada minggu pertama sampai minggu ketujuh ............ 51
Tabel 9. Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar selama
perkembangan pada tanaman jarak pagar dengan pohon
yang berbeda ..................................................................................... 53

v
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Diagram alir proses minyak biji jarak pagar dengan
mechanical extraction .................................................................. 10
Gambar 2. Alat ekstraksi minyak biji jarak tipe hidrolik ............................... 10
Gambar 3. Diagram alir proses ekstraksi minyak biji jarak menggunakan
alat ekstraksi tipe berulir .............................................................. 12
Gambar 4. Alat ekstraksi minyak biji jarak tipe berulir (screw) ...................... 12
Gambar 5. Diagram alir ekstraksi minyak biji jarak pagar dengan
metode kombinasi ...................................................................... 13
Gambar 6. Diagram alir prosedur penelitian .................................................. 16
Gambar 7. Diagram proses perhitungan ukuran ulir (screw) dan
rumah ulir (screw housing) .......................................................... 20
Gambar 8. Diagram alir ekstraksi kimia ......................................................... 22
Gambar 9. Diagram alir ekstraksi dengan menggunakan mechanical
Extraction .................................................................................... 23
Gambar 10. Alat ekstraksi minyak biji jarak pagar hasil rancangan................ 27
Gambar 11. Diagram hasil perhitungan beban ekstraksi ................................. 28
Gambar 12. Ulir hasil rancangan ................................................................... 29
Gambar 13. Piringan tekan hasil rancangan ................................................... 29
Gambar 14. Wadah tekan hasil rancangan ..................................................... 30
Gambar 15. Bantalan tekan hasil rancangan ................................................... 31
Gambar 16. Pemanas ..................................................................................... 31
Gambar 17. Hydraulic jack dengan kekuatan 10 ton ...................................... 32
Gambar 18. Termostat sebagai pengontrol suhu ............................................. 32
Gambar 19. Jumlah minyak yang dapat diekstraksi dengan ekstraksi
mekanik pada biji jarak kering (KA=10.03%) pada
suhu 50⁰C dan preheating 30 menit .............................................. 34
Gambar 20. Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu dan waktu
preheating terhadap rendemen minyak.......................................... 35
Gambar 21. Pengaruh bentuk ukuran bahan terhadap rendemen CJCO ......... 36
Gambar 22. Pengaruh waktu preheating terhadap rendemen CJCO .............. 37
Gambar 23. Pengaruh suhu terhadap rendemen CJCO yang .......................... 38
Gambar 24. Rendemen CJCO dengan ekstraksi kimia (heksan) .................... 40
Gambar 25. Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan

vi
waktu preheating pada minyak CJCO terhadap biji ................... 41
Gambar 26. Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan
waktu preheating terhadap efisiensi alat ....................................... 41
Gambar 27. Pengaruh ukuran bahan terhadap efisiensi alat .......................... 42
Gambar 28. Pengaruh suhu terhadap efisiensi alat ........................................ 43
Gambar 29. Pengaruh waktu preheating terhadap efisiensi alat yang ........... 43
Gambar 30. Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan
waktu preheating terhadap kapasitas alat ..................................... 44
Gambar 31. Pengaruh ukuran bahan terhadap kapasitas alat ......................... 45
Gambar 32. Pengaruh suhu terhadap kapasitas alat ....................................... 46
Gambar 33. Pengaruh waktu preheating terhadap kapasitas alat ................... 47
Gambar 34. Warna minyak hasil ekstraksi dengan menggunakan
mechanical extraction ............................................................... 48
Gambar 35. Viskositas minyak hasil ekstraksi dengan menggunakan
mechanical extraction ............................................................... 49
Gambar 36. Nilai kalor CJCO hasil ekstraksi dengan menggunakan ............ 50
Gambar 37. Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar
selama perkembangan pada minggu pertama sampai
minggu ketujuh ......................................................................... 52
Gambar 38. Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar
selama perkembangan pada tanaman jarak pagar
dengan berbeda pohon .............................................................. 53
Gambar 39. Warna buah jarak pagar 41 hari setelah date of bloom ................ 54
Gambar 40. Warna biji jarak pagar 41 hari setelah date of bloom................... 54
Gambar 41. Pengaruh tingkat kematangan terhadap rendemen minyak
pada suhu ekstraksi 50⁰C dan preheating 20 menit..................... 55
Gambar 42. Pengaruh tingkat kematangan buah jarak pagar
(biji basah KA>40%terhadap rendemen CJCO pada
suhu ekstraksi 50⁰C dan preheating 20 menit ................................ 56
Gambar 43. Pengaruh tingkat kematangan buah jarak pagar
(biji basah KA>40%)terhadap rendemen CJCO
dengan ekstraksi kimia.................................................................. 56

vii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengaruh tingkat kematangan (biji kering) terhadap


rendemen minyak pada suhu 50⁰C da preheating 20 menit ......... 63
Lampiran 2. Pengaruh tingkat kematangan buah jarak pagar
(biji basah KA>40%) terhadap rendemen CJCO pada
suhu ekstraksi 50⁰C dan preheating 20 ......................................... 64
Lampiran 3. Jumlah minyak yang dapat di ekstraksi dengan ekstraksi
mekanik pada biji jarak kering (KA=10.03%) pada suhu 50 oC dan
preheating 30 menit .................................................................... 65
Lampiran 4. Kadar air biji jarak pagar ........................................................... 66
Lampiran 5. Interaksi suhu, preheating dan sampel terhadap rendemen
COJO ......................................................................................... 67
Lampiran 6. Hasil analisis data dengan menggunakan DMRT......................... 68
Lampiran 7. Hubungan perlakuan terhadap efisiensi alat ............................... 69
Lampiran 8. Pengaruh ukuran bahan terhadap efisiensi alat ............................ 70
Lampiran 9. Pengaruh preheating terhadap efisiensi alat ................................ 70
Lampiran 10. Pengaruh suhu terhadap efisiensi alat ......................................... 70
Lampiran 11. Pengaruh perlakuan terhadap kapasitas alat. ............................... 71
Lampiran 12. Pengaruh ukuran bahan terhadap kapasitas alat .......................... 72
Lampiran 13. Pengaruh suhu terhadap kapasitas alat ........................................ 72
Lampiran 14. Pengaruh preheating terhadap kapasitas alat ............................... 72
Lampiran 15. Perhitungan ulir .......................................................................... 73
Lampiran 16. Perhitungan gaya yang dibutuhkan ............................................. 75
Lampiran 17. Diagram perhitungan ulir ........................................................... 76

viii
I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk dan ekonomi menyebabkan terjadinya
peningkatan di semua sektor kebutuhan. Penggunaan bahan bakar minyak
untuk membangkitkan energi semakin tinggi. Sejalan dengan itu, harga
bahan bakar minyak semakin mahal karena sumber bahan bakar fosil semakin
langka. Jika perkiraan cadangan minyak bumi Indonesia habis pada tahun
2020 menjadi kenyataan, maka sumber-sumber bahan bakar alternatif yang
potensial harus dikembangkan secara intensif dari sekarang.
Jarak pagar muncul sebagai sumber energi alternatif untuk pengganti
bahan bakar solar. Berdasarkan hasil penelitian, tanaman jarak pagar
(Jatropha Curcas Linn) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak
yang berpotensi besar. Jarak pagar dapat dijadikan sebagai sumber penyedia
bahan baku energi terbarukan dengan harga produksi yang lebih rendah.
Selain itu, jarak pagar juga digunakan untuk pembuatan sabun, insektisida,
farmasi, dan limbah ekstraksi digunakan untuk pupuk organik.
Keunggulan jarak pagar sebagai sumber potensial bahan bakar nabati
menurut (Hasnam dan Mahmud, 2006 di dalam Bustaman, 2007) adalah: (1)
Relatif sudah dibudidayakan oleh petani kecil, dapat ditanam sebagai batas
kebun, ditanam secara monokultur atau campuran cocok di daerah beriklim
kering, dapat ditanam sebagai tanaman konservasi lahan, dapat tumbuh di
lahan marjinal dan juga dapat ditanam di pekarangan atau di sekitar rumah
sehingga basis sumber bahan bakarnya sangat luas, (2) Pemanfaatan biji atau
minyak jarak pagar tidak berkompetisi dengan penggunaan lain seperti CPO
dengan minyak makan atau industri oleokimia, sehingga harganya diharapkan
relatif stabil. Situasi ini akan mendorong harga CPO meningkat dan
fluktuatif, atau menyebabkan goncangan pada pasokan minyak makan dalam
negeri sehingga menimbulkan masalah baru dan (3) Proses pengolahan
minyak jarak kasar (Crude Jathropha Curcas Oil) untuk kebutuhan rumah
tangga pengganti minyak tanah dan untuk pembakaran tungku atau boiler
sangat sederhana sehingga dapat dimanfaatkan sampai pelosok daerah
terpencil. Pengolahan untuk bahan bakar pengganti minyak solar juga tidak
memerlukan teknologi tinggi sehingga biaya investasinya relatif murah.
Kelebihan lainnya dari jarak pagar menurut (Hendriadi et al., 2005; Kemala,
2006 di dalam Bustaman, 2007) yaitu: (1) berperan sebagai penyangga
ekonomi rakyat, dan (2) mempunyai rendemen cukup tinggi 15 – 35 persen
CJCO.
Alat ekstraksi merupakan bagian penting dari hampir semua pabrik
penghasil ekstrak minyak biji-bijian. Proses ekstraksi membutuhkan metode
ekstraksi yang baik untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi. Selain
itu, rendemen minyak yang dihasilkan alat ekstraksi juga dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti tingkat kemasakan buah, rancangan alat ekstraksi
minyak biji jarak pagar, dan beberapa kondisi ekstraksi yang dapat
dimanipulasi selama dilakukan ekstraksi minyak biji jarak pagar.

B. Tujuan Penelitian
Tujuan umum
1. Mengetahui metode ekstraksi minyak biji jarak pagar yang terbaik untuk
mendapatkan rendemen minyak yang tinggi
Tujuan khusus
1. Mengetahui pengaruh tingkat kematangan buah terhadap kandungan
minyak berdasarkan warna kulit buah.
2. Mendapatkan rancang bangun prototipe alat ekstraksi minyak biji jarak
pagar yang dapat menghasilkan minyak jarak hingga mendekati rendemen
idealnya
3. Mengetahui kandungan minyak sebenarnya pada biji jarak pagar.
4.
C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data tentang warna
kulit buah jarak yang mengandung kadar minyak jarak yang paling optimum,
metode ekstraksi minyak biji jarak pagar yang terbaik, kandungan minyak
sebenarnya yang terdapat pada biji jarak pagar dan memberikan data dasar
(sifat fisik bahan) untuk merancang bangun prototipe alat ekstraksi minyak

2
II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Jarak Pagar


Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) dikenal sebagai jarak pagar. Jarak
pagar merupakan tanaman semak yang tumbuh dengan cepat hingga
mencapai ketinggian 1-7 meter. Tanaman ini tahan kekeringan dan dapat
tumbuh di tempat dengan curah hujan 200 mm hingga 1500 mm per tahun.
Daerah penyebaran tanaman terletak antara 40o LS sampai 50o LU dengan
ketinggian optimal 300 meter di atas permukaan laut (Prihandana dan
Hendroko, 2008). Tanaman jarak memerlukan iklim yang kering dan panas
terutama pada saat berbuah. Suhu yang rendah pada saat penanaman dan
pembungaan akan sangat merugikan karena mudah terserang jamur. Tanaman
jarak pagar tumbuh di daerah tropis dan subtropis, dengan suhu optimum 20 –
35o C. Kelembaban yang tinggi akan mendorong perkembangan jamur
sehingga akan menurunkan produktivitas. Tanaman jarak pagar tergolong
tanaman hari panjang, yaitu tanaman yang memerlukan sinar matahari
langsung dan terus menerus sepanjang hari. Tanaman tidak boleh terlindung
dari tanaman lainnya, yang berakibat akan menghambat pertumbuhannya.
Faktor utama yang berpengaruh terhadap tanaman adalah intensitas hujan,
hari hujan perbulan dan panjang bulan basah. Intensitas hujan yang tinggi
dalam bulan-bulan basah, akan mengakibatkan timbulnya serangan cendawan
dan bakteri, baik di bagian atas maupun bagian dalam tanah. Pada saat
berbunga dan berbuah membutuhkan bulan kering minimal 3 bulan (Hamdi,
2005 dalam Tim Departemen Teknologi Pertanian USU, 2005).
Tanaman jarak pagar mulai berbuah dan produktif penuh pada umur
lima tahun serta umur produktifnya sampai 50 tahun (Prihandana dan
Hendroko, 2008). Produktivitas pohon jarak sejak 5 tahun mencapai 0.4-12
ton biji per pohon, dalam satu hektar lahan pohon dapat menghasilkan 1,3 ton
biji kering dalam setahun, sementara setiap ton biji kering akan menghasilkan
200 hingga 300 liter minyak jarak pagar.

3
B. Manfaat Tanaman Jarak Pagar
Bagian tanaman jarak yang dapat dimanfaatkan adalah biji, akar,
daun, dan minyak dari bijinya. Bagian daun digunakan sebagai obat untuk
penyakit koreng, eczema, gatal (pruritus), batuk sesak dan hernia. Bagian
akar digunakan untuk rematik sendi, tetanus, epilepsy, bronchitis pada anak-
anak, luka terpukul, TBC kelenjar dan schizophrenia (gangguan jiwa). Bagian
biji digunakan untuk mengurangi kesulitan buang air besar (konstipasi),
kanker mulut rahim dan kulit (carcinoma of cervix and skin),
visceroptosis/gastroptosis, kesulitan melahirkan dan retensi plasenta/ari ari,
kelumpuhan otot muka, TBC kelenjar, bisul, koreng, scabies ,infeksi jamur
dan bengkak (Tim Departemen Teknologi Pertanian USU, 2005)
Minyak yang diekstrak dari biji jarak dapat digunakan sebagai
alternatif sumber energi yaitu sebagai pengganti bahan bakar solar setelah
melalui proses transesterifikasi, sehingga bisa digunakan untuk mobil dengan
mesin diesel, mesin penggilingan beras dan kapal-kapal nelayan. Minyak
jarak dan turunannya digunakan dalam industri cat, varnish, lacquer,
pelumas, tinta cetak, linoleum, oil cloth dan sebagai bahan baku dalam
industri-industri plastik dan nilon. Dalam jumlah kecil minyak jarak dan
turunannya juga digunakan untuk pembuatan kosmetik, semir dan lilin
(Ketaren, 1986). Sebelum digunakan untuk berbagai keperluan, minyak jarak
perlu diolah lebih dahulu. Pengolahan ini meliputi dehidrasi, oksidasi,
hidrogenasi, sulfitasi, penyabunan dan sebagainya. Pengolahan tersebut
mengakibatkan perubahan sifat fisiko-kimia minyak jarak (Ketaren, 1986).

C. Komposisi Kimia Tanaman Jarak Pagar


Komposisi zat kimia pada bagian-bagian tanaman jarak pagar
ditunjukkan pada Tabel 1. Zat kimia ini dapat digunakan pada berbagai
industri. Tergantung dari varietasnya, biji jarak pagar mengandung minyak
sebesar 40-60% (Liberalino et al, 1988; Gandhi et al, 1995; Sharma et al,
1997; Wink et al, 1997; Makkar et al, 1997; Openshaw, 2000 dalam Ashwani
dan satywati, 2008), yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti
penerangan (lighting), sebagai minyak pelumas, untuk pembuatan sabun

4
(Rivera-Lorca dan Ku-Vera, 1997) dan yang paling penting adalah sebagai
biodiesel.
Tabel 1 Zat kimia yang terdapat pada bagian-bagian tanaman jarak
Bagian Komposisi zat kimia Pustaka
Aerial parts Organic acids(o and p- Hemalatha and
coumaric acid, p-OH- Radhalcrishnaiah (1993)
benzoic acid,
protocatechuic acid,
resorsilic acid, saponins
and tannins,)
Stembark β-Amyrin, β-sitosterol and Mitra et al. (1970)
taraxerol
Leaves Cyclic triterpenes Mitra et al. (1970),
stigmasterol, stigmast-5-en- Khafagy et al (1977),
3β,7α-diol, stigmast-5-en- Hufford and Oguntimein
3β,7α-diol, cholest-5-en- (1987)
3β,7β-diol, cholest-5-en-3fl,
7α-diol, campesterol, β-
sitosterol,7-keto-β sitosterol
as well as the β-D-
glucoside of β-sitosterol,
Flavonoidsapigenin,Vitexin,
isovitexin Leaves also
contain the dimer of a Khafagy et al (1977)
triterpene alcohol
(C63H117O9) and two
favonoidal glycosides
Latex Curcacycline A, a cyclic Van den Berg et al.
octapeptide (1995)
Curcain (a protease) Nath and Dutta (1991
Seeds Curcin, a lectin Stirpe et al. (1976)
Phorbolesters Adolf et al. (1984),
Esterases (JEA) and Lipase Makkar et al. (1997)
(JEB) Staubmann et al. (1999)
Kernal and press cake Phytates, saponins and a Aregheore et al. (1997),
trypsine inhibitor Makkar and Becker
(1997), Wink et al.
(1997)
Roots β-Sitosterol and its β-D- Naengchomnong et al.
glucoside,marmesin, (1986, 1994)
propacin,the
curculathyranes A and B
and the curcusones A–D.
and jatropholone A and B
Sumber: Kumar A dan Sharma, 2008

5
Tabel 2 Kandungan senyawa dalam daging biji jarak pagar
Senyawa Kandungan (%)
Minyak / lemak 38
Protein 18
Serat 15.5
Air 6.2
Abu 5.3
Karbohidrat 17
Sumber: Lele, 2005 di dalam Prakoso, 2005

Tabel 3 Kandungan asam lemak jarak pagar


Asam lemak Komposisi (%)
Asam oleat 43.2
Asam linoleat 34.3
Asam palmitat 14.2
Asam stearat 6.9
Sumber: Prakoso, 2005

D. Sifat Fisik dan Kimia Minyak Jarak Pagar


Minyak jarak mempunyai rasa asam dan dapat dibedakan dengan
trigliserida lainnya karena bobot jenis. Kekentalan (viskositas) dan bilangan
asetil serta kelarutannya dalam alkohol nilainya relatif tinggi. Minyak jarak
larut dalam etil alcohol 95% pada suhu kamar serta pelarut organik yang
polar, dan sedikit larut dalam golongan hidrokarbon alifatis. Nilai kelarutan
dalam petroleum eter relative rendah, dan dapat dipakai untuk
membedakannya dengan golongan trigliserida lainnya. Kandungan tokoferol
relatif kecil (0.05%), serta kandungan asam lemak essensial yang sangat
rendah menyebabkan minyak jarak tersebut berbeda dengan minyak nabati
lainnya (Ketaren, 1986). Sifat fisik dan kimia minyak jarak dapat dilihat pada
Tabel 4.

6
Tabel 4 Sifat fisika dan kimia minyak jarak pagar
Karakteristik Nilai
Viskositas (gardner-hold), 25 o C u-v (6.3-8.8 st)
Bobot Jenis 20/20o C 0.957 – 0.963
Bilangan Asam 0.4 – 4.0
Bilangan Penyabunan 176 – 181
Bilangan tak Tersabun 0.7
Bilangan Iod (Wijs) 82 – 88
Warna (appearance) Bening
Warna Gardner (max) Tidak lebih gelap dari 3’
Indeks Bias 1,477 – 1,478
Kelarutan dalam alkohol (20oC) Jernih (tidak keruh)
Bilangan asetil 145 – 154
Titik Nyala (tag close cup) 230 oC
Titik Nyala (cleveland open cup) 285 oC
Antoignition temperature 449 oC
Titik Api 322 oC
Titik Didih Dec
Putaran optik, 200 mm +7, 5s D + 9,0
o
Koefisien Muai per C 0,00066
Pour Point -33oC
Tegangan Permukaan pada 20o C 39,9 dyne/cm
Sumber: Bailey, 1950;Ketaren, 1986

Sebagai alternatif bahan bakar minyak, maka minyak biji jarak sudah
memenuhi syarat ideal sebuah bahan bakar, yaitu nilai kalorinya 35,58 MJ/kg,
bilangan asam 3,08 mg KOH/g, titik nyala 290oC, viskositas 50,80 cSt dan
densitas 0,0181 g/cm3. Minyak jarak (Jatropha curcas Linn) berwarna
kuning bening, memiliki bilangan iodine tinggi yaitu 105,2 mg yang berarti
kandungan minyak tak jenuhnya sangat tinggi, terutama terdiri atas asam
oleat dan linoleat yang mencapai 90%. Minyak jarak pagar (Jatropha Curcas
Linn) mempunyai ikatan rangkap sehingga viskositasnya rendah (encer),

7
sedangkan minyak jarak ricinus (Ricinus communis) tidak memiliki ikatan
rangkap dan mempunyai gugus OH sehingga minyaknya lebih kental. Pada
suhu 25oC viskositas minyak jarak ricinus mencapai 600-800 cP dan pada
suhu 100oC mencapai 15-20 cP, sehingga minyak jarak ricinus sesuai
digunakan sebagai pelumas. (Trubus, 2005 dalam Departemen Teknologi
Pertanian USU, 2005).

E. Proses Pengolahan Minyak Biji Jarak Pagar


Proses pengolahan minyak biji jarak dari buah jarak meliputi :
pengeringan buah jarak untuk mengeluarkan biji dari buah jarak, pengeringan
biji jarak hingga diperoleh kadar air biji 6%, pemisahan kulit biji (cangkang)
dengan daging biji yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan
mesin pemisah biji jarak, proses pemanasan daging biji (steam) pada suhu
170 oC selama 30 menit, penghancuran daging biji, pengepresan minyak
dengan menggunakan mesin pengepres, dan penyaringan minyak.
Bungkil biji jarak dari hasil pengepresan minyak jarak dapat
digunakan sebagai pakan ternak setelah terlebih dahulu membuang racun
ricin dan kurkinnya. Kadar racun jarak yang ditanam di Indonesia belum
diketahui, sedangkan jarak Riccinus communis yang dibudidayakan di negara-
negara lain seperti Afrika Selatan, Israel dan Turki berkadar ricin 3,3-3,9
mg/g. Setelah proses pemanasan , racun kurkin akan kehilangan daya
toksiknya, sedangkan racun ricin dapat dihilangkan dengan perlakuan
kimiawi, yaitu dengan menambahkan etanol dan NaOH. Tempurung jarak
juga masih dapat dimanfaatkan melalui teknologi pirolisa dan dapat
digunakan sebagai bahan bakar kompor (Trubus, 2005 dalam Departemen
Teknologi Pertanian USU, 2005).

F. Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar


Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau
lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak. Menurut
Bailey (1945) di dalam Prakoso (2005), ekstraksi minyak dapat dilakukan

8
dengan tiga cara, yaitu rendering, mechanical expression dan dengan
menggunakan pelarut yang biasa disebut solvent extraction.
Rendering adalah suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan
yang diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi.
Pada ekstraksi secara rendering dibutuhkan panas untuk menggumpalkan
protein yang terdapat pada dinding sel bahan. Dengan adanya panas maka
dinding tersebut akan pecah, sehingga minyak yang ada di dalamnya dapat
keluar (Bailey, 1945; Swern, 1964 di dalam Prakoso, 2005).
Cara ekstraksi menggunakan mechanical expression terutama
ditunjukan untuk ekstraksi minyak yang berasal dari biji-bijian dimana kadar
minyak sekitar 30-50 persen. Sebagaimana kita ketahui bersama, minyak
jarak pagar terkandung dalam bahan yang berbentuk biji dengan kandungan
minyak sekitar 30-40 persen (biji berkulit). Pada cara ini diperlukan suatu
perlakuan pendahuluan sebelum minyak atau lemak dipisahkan dari bijinya.
Perlakuan pendahuluan tersebut meliputi pengecilan ukuran, penghalusan
serta pemasakan (Jamieson, 1943; Swern, 1964; Bailey, 1945 di dalam
Prakoso, 2005). Pada umumnya ada dua cara yang termasuk didalam
mechanical expression, yaitu hydraulic pressing dan expeller pressing.
Ekstraksi hidrolik (hydraulic pressing) adalah ekstraksi dengan
menggunakan tekanan. Tekanan yang dapat digunakan sekitar 140.6 kg/cm2.
Besarnya tekanan yang digunakan akan mempengaruhi sedikit banyaknya
minyak jarak pagar yang dihasilkan. Untuk teknik ekstraksi hidrolik, sebelum
dilakukan ekstraksi, biji jarak perlu mendapatkan perlakuan pendahuluan
berupa pemasakan. Pemasakan biji jarak bertujuan untuk menggumpalkan
protein, mematikan enzim-enzim terutama enzim lipase kemudian untuk
membuka sel-sel pembungkus minyak di dalam daging biji. Penggumpalam
protein diperlukan untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi, berkurangnya
lipase yang aktif akan mengurangi proses hidrolisis trigliserida asam lemak.
Jika enzim masih aktif maka kadar asam lemak bebas pada minyak akan
bertambah ketika proses penyimpanan. Pembukaan sel-sel minyak pada
daging biji akan membantu mempercepat proses ekstraksi. Dengan ekstraksi
hidrolik umumnya dihasilkan rendemen minyak sampai dengan 30 persen

9
(biji berkulit). Diagram alir proses pendahuluan sampai dengan pemerahan
minyak jarak menggunakan metode ekstraksi hidrolik dapat dilihat pada
Gambar 1.

Buah Jatropha Curcas L

Biji dikeringkan

Pemanasan biji dengan uap


o
kering 100 c

Pemisahan kulit biji dengan


daging biji

Penghancuran daging biji untuk


hemat waktu ketika di kempa

Pengempaan daging biji jarak


pagar

Jatropha oil atau minyak jarak


pagar

Gambar 1 Diagram alir proses minyak biji jarak pagar dengan mechanical
extraction.
Sumber: Prakoso, 2005

Gambar 2 Alat ekstraksi minyak biji jarak tipe hidrolik.


Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007

10
Teknik ekstraksi minyak biji jarak pagar dengan menggunakan alat
ekstraksi berulir (screw) merupakan teknologi yang lebih maju dan banyak
digunakan di industri pengolahan minyak jarak pagar saat ini. Dengan cara ini
biji jarak diekstrak menggunakan alat ekstraksi berulir (screw) yang berjalan
secara kontinyu. Teknik ekstraksi tidak memerlukan perlakuan pendahuluan
bagi biji jarak yang akan di ekstraksi. Biji jarak kering yang akan diekstrak
dapat langsung dimasukkan ke dalam screw press. Tipe alat ekstraksi berulir
yang digunakan dapat berupa alat ekstraksi berulir tunggal (singel screw
press) atau alat ekstraksi berulir ganda (twin screw press). Rendemen minyak
jarak yang dihasilkan dengan teknik alat ekstraksi berulir tunggal dan berulir
ganda adalah sama sekitar 30-40 persen. Pada Gambar 3 disajikan diagram
alir proses ekstraksi minyak jarak menggunakan metode alat ekstraksi berulir.
Kelebihan dari teknik pengempaan dibandingkan dengan
menggunakan alat ekstraksi tipe berulir (screw) adalah :
1. Kapasitas produksi menjadi lebih besar karena proses pemerahan dapat
dilakukan secara kontinyu.
2. Menghemat waktu proses produksi karena tidak diperlukan perlakuan
pendahuluan, yaitu pengecilan ukuran dan pemasakan
3. Rendemen yang dihasilkan lebih tinggi
Kerugian dari teknik pengempaan dibandingkan dengan menggunakan
alat pemerah tipe berulir (screw) adalah :
1. Harga peralatan cukup mahal dan biaya perawatan tinggi
2. Diperlukan lebih banyak energi
3. Minyak masih harus dilakukan penyaringan

11
Biji jarak kering

Pemerah berulir (sistem Ampas atau bungkil


kontinyu)

Minyak jarak

Gambar 3 Diagarm alir proses ekstraksi minyak biji jarak menggunakan alat
ekstraksi tipe berulir.
Sumber: Prakoso, 2005

Gambar 4 Alat ekstraksi minyak biji jarak tipe berulir (screw).


Sumber: Goodrum, J.W, Sivakumaran, K, 2007

Berbeda dengan kedua cara ekstraksi di atas, maka sovent extraction


merupakan cara ekstraksi menggunakan pelarut minyak atau lemak.
Teknik ekstraksi mekanis juga dapat dikombinasikan dengan teknik
ekstraksi dengan pelarut. Walaupun mutu yang dihasilkan cukup bagus
terutama jika menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut, namun dari segi
biaya produksi sangat mahal. Sehingga kombinasi metode ekstraksi dengan
metode ekstraksi pelarut tidak sesuai untuk industri kecil menengah.
Kombinasi teknik ekstraksi ini lebih sesuai bila diterapkan untuk industri

12
besar. Pada Gambar 5 disajikan diagram alir ekstraksi minyak jarak dengan
metode kombinasi.

Biji jarak kering

Pemerah berulir (sistem


Ampas atau bungkil kontinyu)
(kandungan minyak
sekitar 5 %)

Ampas atau bungkil

Solvent extraction Ampas atau


(pelarut heksana) bungkil

Evaporasi

Minyak jarak (90-100 %)

Gambar 5 Diagram alir ekstraksi minyak biji jarak pagar dengan metode
kombinasi.
Sumber: Prakoso, 2005

Ekstraksi minyak jarak biasanya dilakukan dengan hydraulic press


pada temperature rendah (cold press), karena minyak yang dihasilkan
ditandai sebagai minyak No 1 menurut standar Amerika (Kirk dan Othmer,
1964) di dalam Tim Departemen Teknologi Pertanian USU). Ekstraksi dingin
pada umumnya dapat mengeluarkan 25-35 minyak dari dalam biji. Minyak
yang dihasilkan kemudian disaring dan akan menghasilkan minyak jarak
dengan warna cerah.
Mengingat cara ekstraksi menggunakan mechanical expression
terutama ditunjukan untuk ekstraksi minyak yang berasal dari biji-bijian
dimana kadar minyak sekitar 30-50 persen. Sebagaimana kita ketahui
bersama, minyak jarak terkandung dalam bahan yang berbentuk biji dengan
kandungan minyak sekitar 30-40 persen (biji berkulit). Berdasarkan hal

13
tersebut maka metode ekstraksi yang dipandang ekonomis untuk biji jarak
adalah teknik pemerahan mekanis.

14
III BAHAN DAN METODE

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan selama 7 (tujuh) bulan dari bulan Februari hingga
Agustus 2009, dan dilaksanakan di IPB yaitu di laboratorium lapangan
Departemen Teknik Pertanian (Leuwikopo), Laboratorium Teknologi Industri
Pertanian, dan laboratorium Teknik Pengolahan Hasil Pertanian. Sedangkan
pabrikasi alat dilaksanakan di Bengkel bubut dan konstruksi (Jl. Raya
Laladon Cilauk No.38 Bogor).

B. Bahan dan Alat Penelitian


1. Bahan
Bahan Konstruksi : - Ulir diameter 4.2 cm
- Tabung besi diameter 8 cm dan tinggi 12 cm
- Plat besi
- Besi silinder
- Heater 600 watt
- Termostat dengan interval 50⁰C sampai 300⁰C)
- Hidrolik jack dengan kekeuatan 10 ton

Bahan Pengujian : - Biji jarak kering (6%)


- Tepung biji jarak kering
- Kernel biji jarak kering
- Tepung kernel biji jarak kering
2. Alat
Peralatan yang digunakan selama melakukan penelitian ini terdiri dari :
a. Mesin las
b. Peralatan bengkel
c. Komputer
d. Software autocad
e. Blender
f. Jangka sorong

15
g. Viskotester model VT-02 RION.CO.LTD.
h. Adiabatic Bomb Calorymeter

C. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dibagi dalam tiga tahap yaitu rancang bangun alat
ekstraksi minyak biji jarak, penentuan tingkat kematangan buah jarak, dan
pengujian alat ekstraksi minyak biji jarak. Diagram alir prosedur penelitian
dapat dilihat pada Gambar 6.

Mulai a

Indentifikasi Masalah Pengeringan

Kebutuhan Fungsional Ekstraksi

Karakteristik Fisik CJCO


Analisis Perancangan

Selesai
Pembuatan Alat

Pengujian Kinerja

tidak
Modifikasi Alat Beroperasi

ya

Pengaruh Kematangan Buah


terhadap Kandugan Minyak

Buah Index 5

Pengujian Alat

Gambar 6 Diagram alir prosedur penelitian.

16
1. Identifikasi Masalah
Mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul pada penggunaan alat
ekstraksi minyak biji jarak tipe hydraulic untuk dilakukan perbaikan atau
perancangan desain baru sesuai dengan permasalahan yang ditemui.
Permasalahan yang ditemui pada saat ini adalah alat ekstraksi minyak biji
jarak tipe hydraulic belum mampu mengekstraksi minyak biji jarak hingga
mendekati rendemen idealnya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya
pemanasan bahan selama ekstraksi minyak biji jarak pagar dilakukan.

2. Analisis Perancangan
Analisis perancangan digunakan untuk menentukan kebutuhan
komponen-komponen yang digunakan untuk membuat alat ekstraksi minyak
biji jarak. Analisis ini terdiri dari analisis fungsional dan analisis struktural
yang dilengkapi dengan analisis teknik. Dalam analisis fungsional dilakukan
penentuan komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat alat
ekstraksi minyak biji jarak dengan tipe hidrolik. Sedangkan analisis struktural
menentukan bentuk dan komponen-komponen yang sesuai dengan besarnya
kebutuhan bahan yang digunakan.

3. Pembuatan Alat Ekstraksi Minyak Biji Jarak


Pembuatan lat ekstraksi minyak biji jarak ini dilakukan di Bengkel
bubut dan konstruksi di Laladon.

4. Uji Kinerja
Uji kinerja bertujuan untuk mengetahui kinerja alat ekstraksi minyak biji
jarak yang sudah dirancang apakah sudah berfungsi sebagaimana yang
diharapkan serta mengetahui tingkat efisiensi alat ekstraksi minyak biji jarak.
Apabila tidak dapat beroperasi sesuai prinsip kerja alat ekstraksi minyak biji
jarak maka perlu dilakukan perbaikan kembali tetapi jika sudah dapat
beroperasi dengan baik maka dilakukan pembuatan laporan penelitian.

17
D. Rancangan Fungsional
Alat ekstraksi minyak biji jarak pagar ini terdiri dari beberapa bagian
komponen yang saling mendukung. Komponen dari alat ekstraksi minyak biji
jarak pagar ini yang utama terdiri dari ulir (screw), rangka alat, screw
housing, tabung tekan, bantalan tekan, pemanas, piringan tekan, termostat,
dan hydraulic jack. Fungsi dari komponen-komponen tersebut dapat dilihat
dalam Tabel 5.

Tabel 5 Rancangan fungsional alat ekstraksi minyak biji jarak pagar


No Komponen Fungsi
Menahan tekanan dari hydraulic jack pada
1 Ulir biji jarak sehingga minyak keluar dari sel-
sel biji jarak pagar
2 Tabung tekan Tempat bahan yang akan diekstrak
3 Bantalan tekan Bantalan untuk tabung tekan
4 Piringan tekan Penahan biji jarak yang diekstrak
5 Pemanas Sumber panas
6 Hydraulic jack Sumber tenaga tekan
7 Termostat Alat control suhu
8 Rangka mesin Penyangga keseluruhan bagian alat
Wadah penampungan Tempat minyak hasil ekstraksi
9
minyak

E. Rancangan Struktural

1. Karakteristik Fisik Biji Jarak Pagar


Karakteristik fisik yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data-
data yang telah diteliti sebelumnya. Pada perancangan ini data karakteristik
biji jarak pagar sangat dibutuhkan untuk perhitungan diameter tabung tekan
yang dihubungkan dengan berapa biji yang dibutuhkan untuk sekali ekstraksi.
Selain itu juga karakteristik fisik biji juga sangat penting untuk perhitungan
tenaga ekstraksi. Pada penelitian ini, perhitungan tenaga ekstraksi didasarkan

18
data yang diterbitkan oleh Prokoso (2005). Menurut Prakoso (2005), tenaga
yang dibutuhkan persatuan luas adalah 140.6 kg/cm2.

2. Kebutuhan Tenaga Kempah (pressure)


Tenaga yang diperlukan dalam penelitian ini bersumber dari dua sumber
yang secara beruntutan yaitu tenaga manusia dan hydraulic jack. Hydraulic
jack yang merupakan sumber tenaga untuk ekstraksi biji jarak pagar
digerakkan secara manual oleh manusia. Penentuan tenaga yang diperlukan
dikalkulasikan dengan menggunakan formula seperti dibawah ini.

Tekanan yang dibutuhkan untuk persatuan luas adalah 140.6 kg/cm2

…………………………………………………………………………………………………..(1)

dengan
P : Tekanan (kg/cm2)
A : Luas permukaan tabung tekan (cm2)

3. Ukuran Tabung Tekan


Tabung tekan berfungsi untuk tempat bahan yang akan diekstraksi.
Ukuran tabung tekan menentukan kapasitas alat. Pada penelitian ini diameter
tabung tekan ditentukan. Diameter tabung tekan yang dirancang sebesar 80
mm. Sehingga dengan diameter tabung tekan tersebut dapat ditentukan luas
permukaan tabung tekan dengan menggunakan persamaan di bawah ini.

……………………………………………………………………………………………….(2)
dengan
A : Luas permukaan tabung tekan(cm2)
R : Jari-jari permukaan tabung tekan (cm)

19
4. Ulir (screw) dan Rumah Ulir (screw housing)
Ulir berfungsi untuk menahan tekanan yang diberikan hydraulic jack
terhadap biji jarak pagar yang ada pada tabung tekan sehingga minyak biji
jarak pagar dapat keluar dari sel-sel biji jarak pagar. Diagram alir perhitungan
ulir dapat dilihat pada Gambar 7.

b
Mulai

1. Beban W (kg) 9. Jumlah ulir yang diperlukan z

10. Tinggi rumah ulir (mm)


2. Faktor koreksi fc

11. Jumlah ulir rumah ulir z’


3. Beban rencana Wd (kg)

12. Tegangan geser akar ulir


2
τb (kg/mm ), Tegangan geser
2
akar rumah ulir τn (kg/mm )
4. Bahan ulir : kekuatan tarik σB
2
(kg/mm , faktor keamanan Sf, dan
tegangan geser yang diizinkan
2
(kg/mm )
ya
13. qb >τa
τn> τa

5. Diameter inti yang diperlukan d1 (mm) tidak

14. Bahan ulir, bahan rumah


ulir, diameter nominal ulir,
6. Pemilihan : ulir standar, dan tinggi rumah ulir.
diameter luar d (mm),
diameter inti d1 (mm), dan
jarak bagi p (mm)

Selesai

7. Bahan rumah ulir : kekuatan tarik


2
σb (kg/mm , tekanan permukaan
2
yang diizinkan qa (kg/mm ), dan
tegangan geser yang diizinkan
2
(kg/mm )

8. Pemilihan : luar ulir dalam D


(mm), diameter efektif ulir
dalam D2 (mm), dan tinggi
kaitan gigi dalam H1 (mm)

a
b

Gambar 7 Diagram proses perhitungan ulir dan rumah ulir.

20
5. Bantalan Tekan
Bantalan tekan berfungsi sebagai bantalan untuk tabung tekan. Bantalan
yang kuat sangat mempengaruhi kualitas ekstraksi dan rendemen minyak
jarak pagar yang dihasilkan. Ukuran bantalan tekan yang digunakan berbentuk
silinder dengan diameter 220 mm dan ketebalan 35 mm. Ukuran ini sudah
dapat mendukung kinerja alat secara maksimal.

6. Piringan Tekan
Piringan tekan berfungsi sebagai menekan biji jarak pagar yang ada pada
tabung tekan sehingga mengeluarkan minyak. Bagian ini memiliki ukuran
diameter 78 mm dan tebal 15 mm.

7. Pemanas
Pemanas berfungsi untuk supplai panas terhadap bahan yang akan
diekstrak. Pemanas yang digunakan adalah pemanas 600 watt tipe spiral. Tipe
pemanas ini ditentukan berdasarkan ketersedian dipasaran dan harga yang
relatif murah. Sumber arus yang digunakan untuk pemanas berasal dari arus
PLN. Pemanas diletakkan di dalam bantalan tekan. Hal ini diharapkan supaya
panas dapat bersentuhan langsung dengan bahan yang akan diperah.

8. Termostat
Termostat berfungsi untuk mengontrol panas yang diberikan pada bahan
yang akan diperah. Termostat ini dapat mengontrol suhu dengan interval 50
sampai 300⁰C.

9. Wadah Penampung Minyak


Wadah penampung minyak berfungsi untuk menampung minyak hasil
ekstraksi.

21
10. Hydraulic Jack
Dongkrak hydraulic jack merupakan salah satu inti dari alat ekstraksi ini.
Bagian ini berfungsi sebagai penekan/pengepres biji jarak sampai
mengeluarkan minyak. Jenis dongkrak yang digunakan adalah hydraulic jack
dengan kekuatan 10 ton. Kekuatan hydraulic jack ditentukan berdasarkan
beban yang dibutuhkan untuk mengekstraksi minyak biji jarak pagar pada
luasan tabung tekan 80 mm.

11. Rangka Alat


Pada penelitian ini, perhitungan rangka tidak dilakukan dengan secara
spesifik. Hal ini dikarenakan adanya perubahan bentuk rangka dari bentuk
siku-siku menjadi bentuk silinder. Perubahan ini dilakukan sesuai dengan
ketersediaan bahan dan biaya yang ada.

F. Metode Pengujian
Pengujian alat dilakukan di laboratorium pindah panas pada bagian
Energi Elektrifikasi Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, IPB. Pengujian
alat dilakukan dengan menggunakan bahan baku biji jarak pagar dengan
melakukan perlakuan fisik pada biji jarak pagar tersebut. Perlakuan fisik yang
dilakukan meliputi : pengecilan bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi, dan
waktu ekstraksi. Diagram proses pengujian alat dapat dilihat pada Gambar 8
dan Gambar 9 dibawah ini.

Biji jarak kering

Solvent extraction Ampas atau


(pelarut heksana) bungkil

Evaporasi

CJCO (90-100 %)

Gambar 8 Diagram alir ekstraksi kimia.

22
100%
buah

Pengupasan

80⁰C Pemerahan 80⁰C

Crushing 11.73 % biji kering

60⁰C
60⁰C

Pemerahan
50⁰C
50⁰C
Tepung
biji
ambien ambien

CJCO CJCO
Pemisahan
cangkang dan
kernel

Pemerahan
Kernel 80⁰C
(69.19%)

60⁰C
Cangkang
Crushing
(31.81%)

50⁰C

80⁰C
ambien

60⁰C CJCO
Tepung
kernel

50⁰C

ambien

CJCO

Gambar 9 Diagram alir ekstraksi dengan menggunakan mechanical extraction.

23
a. Perhitungan Rendemen
Perhitungan rendemen diperlukan untuk melihat banyaknya minyak I
yang dapat dihasilkan (Ma) dari bahan mentah yang tersedia (biji jarak kering
yang diekstrak) (Bm).

…………………………………………………….…………..(3)

b. Efisiensi Pengempaan
Efisiensi pengempaan diperoleh dari data banyaknya minyak I yang
diperoleh (Ma) dengan ekstraksi mekanik dan data banyaknya minyak yang
terkandung pada biji jarak pagar kering (Mt) dengan ekstraksi kimia
menggunakan heksan.

…………………………………………………….…………….(4)

c. Perhitungan Kapasitas Alat


Perhitungan kapsitas alat diperlukan untuk penetapan kemampuan alat
dalam menghasilkan minyak jarak I (Ma) per satuan waktu (t). kapasitas alat
(C) dinyatakan dalam satuan kilogram minyak per jam.

…………………………………………………….………………………………….(5)

24
G. Penentuan Umur Tingkat Kematangan Buah Jarak Pagar hingga
Berwarna Kuning (Index 5)
Penelitian Umur tingkat kematangan buah jarak ini dilaksanakan di
laboratorium lapangan TEP (Leuwikopo) pada bulan Maret sampai dengan
Mei 2009. Penelitian ini dilaksanakan dengan menentukan pohon jarak pagar
secara acak dari petakan lahan yang telah ditanami pohon jarak. Pada
penelitian ini dilakukan penentuan umur ripening index sampai pada tahap
buah berwarna kuning (yellow) yang diikuti dengan perhitungan ukuran buah
yang meliputi panjang (length) dan diameter(girth) buah mulai saat
terbentuknya buah (date of bloom).

H. Kadar Minyak Berdasarkan Index Kematangan Buah


Penelitian dilaksanakan dengan berdasarkan ripening index yaitu
buah index 1, index 2, index 4, index 5, index 6 dan index 8 (Tabel 6).

Tabel 6 Index buah berdasarkan ripening index


Index 1 2 4 5 6 8

Warna
buah

Sampel diambil dari varietas Malimping, Banten yang ditanam


sedangkan analisis kadar minyak dilakukan di Laboratorium Pindah Panas
dan Massa menggunakan methode ekstraksi mekanik dan Laboratorium
Teknologi Industri Pertanian menggunakan Shokhlet dengan pelarut heksan.

I. Karakteristik Minyak Mentah (CJCO)


a. Warna Minyak Mentah (CJCO)
Warna Crude Jatropha Curcas Oil (CJCO) ditentukan secara visual
(subjektif) yaitu dengan cara mengamati warna CJCO hasil ekstraksi.

25
b. Viskositas Minyak Mentah (CJCO)
Viskositas Crude Jatropha Curcas Oil (CJCO) diukur dengan
menggunakan viskotester model VT-01 RION.CO.LTD pada suhu ruang.

c. Nilai Kalori Minyak Mentah (CJCO)


Nilai kalori minyak diukur dengan menggunakan Adiabatic Bomb
Kalorimeter OSK dan Beckman termometer.
Nilai kalori minyak dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

( )∆
= 4.1868

dengan:
EEm : Nilai kalori minyak (kJ/kg)
Ew : Nilai equivalen air (0.5925kg)
Wa : Massa air di dalam inner vessel (2.1 liter)
Wm : Massa bahan (kg)
∆T : Perubahan suhu di dalam inner vessel (K)

26
IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perancangan Prototipe Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar


Prototipe ekstraksi minyak biji jarak pagar yang dirancang memiliki
spesifikasi yang sangat sederhana sehingga sangat sesuai digunakan pada
skala laboratorium (laboratory scale). Alat-alat dan bahan-bahan yang
digunakan sangat mudah diperoleh dan diaplikasikan.

Gambar 10 Prototipe ekstraksi minyak biji jarak pagar hasil rancangan.

27
Menurut Prakoso (2005), tekanan yang dibutuhkan per satuan luas
untuk ekstraksi minyak biji jarak adalah sebesar 140.6 kg/cm2. Pada
penelitian ini diameter wadah ditentukan sesuai dengan keperluan. Sehingga
dari hasil perhitungan bahwa kekuatan yang diperlukan untuk mengekstraksi
minyak biji jarak adalah sebesar 7161.2782 kg untuk luasan tabung tekan 80
mm (Gambar 11).

Diameter
wadah 8 cm

A = πr2

Luas wadah tekan


50.9337 cm2

Tekanan ekstraksi F=PXA


(140.6 kg/cm2)

Kebutuhan beban
sebesar 7161.2782 kg

Gambar 11 Diagram hasil perhitungan beban ekstraksi.

Kebutuhan beban adalah kekuatan yang dibutuhkan untuk


mengekstraksi minyak biji jarak secara maksimal. Kebutuhan beban ini
sangat dibutuhkan untuk perhitungan ukuran komponen lainnya.

28
1. Ulir
Ulir berfungsi untuk menahan tekanan yang bersumber dari hydraulic
jack. Ulir dirancang dengan ukuran diameter inti ulir sebesar 42.7 mm, pitch
ulir sebesar 5 mm. Rumah ulir dirancang dengan diameter 52 mm, tinggi
kaitan 2.71 mm, jumlah ulir pada rumah ulir 7 dan tinggi rumah ulir 52 mm
(Lampiran 21). Pada bagian ujung bawah ulir dirancang piringan tekan.

Gambar 12 Ulir hasil rancangan.

2. Piringan Tekan
Piringan tekan berfungsi sebagai penahan biji jarak yang diekstrak
sehingga minyak dapat keluar dari dinding sel biji jarak pagar. Bagian ini
memiliki ukuran diameter 78 mm dan tebal 15 mm.

Gambar 13 Piringan tekan hasil rancangan.

29
3. Wadah Tekan (Tabung Tekan)
Wadah tekan berfungsi untuk tempat bahan yang akan diekstrak. Ukuran
wadah tekan menentukan kapasitas alat. Wadah tekan dirancang dari besi
silinder yang berdiameter 7 mm yang disusun dalam bentuk silider yang besar.
Hal ini bertujuan supaya pada saat dilakukan ekstraksi minyak biji jarak tidak
menggunakan kain saring (filter).

Gambar 14 Wadah tekan hasil rancangan.

4. Bantalan Tekan
Bantalan tekan berfungsi sebagai bantalan untuk tabung tekan. Bantalan
yang kuat sangat mempengaruhi kualitas ekstraksi dan rendemen minyak jarak
pagar yang dihasilkan. Ukuran bantalan yang digunakan untuk alat ekstraksi
adalah berbentuk silinder dengan diameter 220 mm dengan ketebalan 35 mm.
Ukuran ini sudah dapat mendukung kinerja alat secara maksimal.

Gambar 15 Bantalan tekan hasil rancangan.


Gambar 15 Wadah tekan hasil rancangan.

30
5. Pemanas
Pemanas berfungsi untuk supplai panas terhadap bahan yang akan
diekstraksi. Pemanas yang digunakan pemanas 600 watt tipe spiral. Sumber
arus yang masuk ke pemanas bersumber dari arus listrik. Pemanas diletakkan
di dalam bantalan tekan dengan harapan panas yang dihasilkan dapat
bersentuhan langsung dengan bahan yang akan diekstrak.

Gambar 16 Pemanas.

6. Hydraulic Jack
Dongkrak hydraulic jack merupakan salah satu inti dari alat ekstraksi ini.
Bagian ini berfungsi sebagai penekan/pengepres biji jarak sampai
mengeluarkan minyak. Jenis dongkrak yang digunakan adalah hydraulic jack
yang memiliki kekuatan 10 ton.

Gambar 17 Hydraulic jack dengan kekuatan 10 ton.

31
7. Termostat
Termostat berfungsi untuk mengontrol panas yang diberikan pada bahan
yang akan diekstrak. Termostat ini dapat megontrol suhu dengan interval 50
sampai 300⁰C.

Gambar 18 Termostat sebagai pengontrol suhu.

8. Rangka Alat
Pada penelitian ini, perhitungan rangka tidak dilakukan dengan secara
spesifik. Hal ini dikarenakan adanya perubahan bentuk rangka dari bentuk
siku-siku menjadi bentuk silinder. Perubahan ini dilakukan sesuai dengan
ketersediaan bahan dan biaya yang ada.

32
Tabel 7 Spesifikasi alat ekstraksi minyak biji jarak pagar
No Spesifikasi Alat
1 Kemudi tekan Besi bulat
2 Ulir Diameter = 42.7 mm
Pitch = 5 mm
3 Piringan tekan Diameter = 78 mm
Tebal = 12 mm
4 Tabung tekan Tinggi = 120 mm
Diameter = 80 mm
Tebal = 7 mm
5 Bantalan tekan Diameter = 220 mm
Tebal = 35 mm
6 Rangka alat Tinggi = 600 mm
Lebar = 300 mm
7 Dongkrak hydraulic Hydraulic jack
8 Kebutuhan kekuatan tekan Kekuatan = 10 ton
9 Heater 600 watt

10 Termostat 50-300⁰C

11 Kapasitas 120 kg biji jarak kering

Tahap awal dalam melakukan ekstraksi biji jarak pagar dengan


menggunakan alat ekstraksi ini adalah penyiapan alat dan bahan. Alat-alat
yang diperlukan selain alat ekstraksi adalah penampung minyak dengan
volume sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan bahan yang diperlukan adalah
biji jarak pagar yang sudah dikeringkan dengan kadar air 5 – 6 persen.
Setelah alat dan bahan tersedia, biji jarak pagar dimasukkan ke dalam wadah
tekan/tabung tekan, kemudian di tekan dengan kemudi tekan hingga piringan
tekan menekan dan masuk ke dalam tabung tekan. Setelah itu, tongkat
dongkrak dikayuh hingga bantalan tekan dan tabung tekan terangkat sehingga
biji jarak pagar pecah dan mengeluarkan minyak. Minyak yang keluar dari

33
lobang tabung tekan dialirkan ke penampung minyak yang telah disediakan.
Minyak yang keluar tersebut merupakan Crude Jatropha Curcas Linn
(CJCO).

B. Pengujian Alat Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar


Pengujian alat bertujuan untuk mengetahui kinerja alat ekstraksi
minyak biji jarak pagar yang telah dirancang. Setelah itu data yang diperoleh
dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan kinerja alat tersebut.
Pengujian alat dimulai dengan pengujian pendahuluan yaitu dengan biji jarak
yang terdiri dari biji utuh, kernel, tepung biji dan tepung kernel. Hasil
pengujian diperoleh bahwa alat ekstraksi minyak biji jarak pagar mampu
mengekstraksi minyak biji jarak dengan baik.

35

30
Rendemen CJCO(%)

25

20

15

10 Rendemen CJCO (%)

0
Biji Tepung biji kernel Tepung
kernel
Bentuk ukuran bahan

Gambar 19 Jumlah minyak yang dapat diekstraksi dengan ekstraksi mekanik


pada biji jarak kering (KA=10.03%) pada suhu 50oC dan preheating
30 menit.

Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa bentuk ukuran


bahan berpengaruh terhadap rendemen CJCO yang dihasilkan. Biji
memberikan rendemen minyak yang kecil yaitu sebesar 17.94%. Sedangkan
tepung kernel memberikan rendemen minyak paling tinggi sebesar 29.58%
(Lampiran 3). Hal ini sesuai dengan Gutierrez et al 2008 dalam Sirisomboon

34
(2009) bahwa total jumlah minyak yang dapat diekstraksi tergantung pada
ukuran bahan yang akan diekstraksi. Semakin kecil ukuran bahan yang
diekstraksi maka semakin besar jumlah minyak yang terekstraksi
Pengujian alat ekstraksi minyak jarak pagar menggunakan buah
index 5 dengan beberapa perlakuan, yaitu perlakuan suhu (suhu ambien,
50⁰C, 60⁰C dan 80⁰C), bentuk ukuran bahan (biji, daging biji, tepung biji dan
tepung daging biji) dan waktu preheating (10 menit, 20 menit dan 40 menit).

B1. Rendemen Minyak CJCO


Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen rata-rata minyak
bervariasi antara 12.12% sampai 52.57% (Lampiran 5). Hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa pengaruh bentuk ukuran bahan berbeda nyata terhadap
rendemen CJCO yang dihasilkan. Semakin kecil bentuk ukuran bahan, maka
semakin tinggi rendemen CJCO. Demikian juga pengaruh suhu dan waktu
preheating serta interaksinya berbeda nyata terhadap rendemen CJCO.
Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu preheating maka semakin
tinggi rendemen CJCO yang dihasilkan.

60

50
Rendemen CJCO (%)

40

30
biji
20 kernel
tepung biji
10
tepung kernel
0
10 20 40 10 20 40 10 20 40 10 20 40
Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit

ambien 50⁰C 60⁰C 80⁰C

Perlakuan

Gambar 20 Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan waktu preheating
terhadap rendemen minyak.

35
Gambar 20 menunjukkan bahwa suhu ekstraksi 80⁰C dan lama waktu
preheating 40 menit serta bentuk ukuran bahan (tepung kernel dan tepung
biji) memberikan rendemen minyak paling tinggi. Sedangkan rendemen
minyak paling rendah dicapai pada suhu ekstraksi ambien dan lama waktu
preheating 10 menit serta bentuk ukuran bahan (biji utuh). Hal ini disebabkan
saat dilakukan ekstraksi pada suhu ambien, air yang ada pada bahan tidak
menguap melainkan berikatan dengan lemak yang ada pada bahan sehingga
mempersulit lemak keluar dari dinding sel bahan. Selain itu, cangkang pada
biji utuh menghalangi pengeluaran minyak dari sel-sel daging biji jarak pagar.
Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa bentuk
ukuran bahan yang diekstraksi berpengaruh nyata terhadap rendemen CJCO
yang dihasilkan. Semakin kecil bentuk ukuran bahan yang diekstraksi maka
semakin tinggi rendemen CJCO yang dapat diekstrak (Gambar 21).

45
40
Rendemen CJCO (%)

35
30
25
20
15 Rendemen CJCO
10
5
0
biji kernel tepung biji tepung
kernel
Bentuk ukuran bahan

Gambar 21 Pengaruh bentuk ukuran bahan terhadap rendemen CJCO.

Gambar 21 menunjukkan jumlah total minyak yang dapat diekstraksi


dari biji, kernel, tepung biji, dan tepung kernel secara berturut-turut sebesar
20.45%, 36.08%, 25.49%, dan 41.23% (Lampiran 6). Hal ini disebabkan jika
bentuk ukuran bahan semakin kecil maka permukaan bahan semakin luas
sehingga memperbesar terjadinya kontak antara bahan dengan suhu pada saat

36
dilakukan preheating, panas dapat menyebar secara merata pada bahan
sehingga mempermudah keluarnya lemak dan membantu mengurangi kadar
air bahan melalui penguapan air dari bahan. Menurut Mwtihga, G dan
Moriasi, L (2007) bahwa semakin rendah kadar air bahan maka jumlah
minyak yang dapat diekstraksi akan semakin tinggi. Selain itu, lemak yang
ada pada bahan dapat keluar dengan cepat. Bentuk ukuran bahan yang sesuai
akan menjadikan proses ekstraksi berlangsung dengan baik. Selain itu,
kandungan minyak yang tersisa pada briquet hasil samping dari proses
ekstraksi semakin kecil. Perlakuan awal yang harus dilakukan dalam ekstraksi
minyak adalah pembersihan, pengupasan, pengeringan dan penghalusan
bahan tetapi total jumlah minyak yang terekstraksi tergantung pada waktu
ekstraksi dan suhu ekstraksi, kadar air bahan dan ukuran partikel bahan
(Gutierrez et al, 2008 dalam sirisomboon, 2009).

34
33
Rendemen CJCO (%)

32
31
30
29 Rendemen CJCO
y = 0.424x2 + 0.563x + 27.70
28 R² = 1
27
26
10 20 40
Waktu preheating (menit)

Gambar 22 Pengaruh waktu preheating terhadap rendemen CJCO.

Pemanasan awal (preheating) merupakan salah satu proses


pengolahan minyak yang bertujuan untuk menyatukan dan mengumpulkan
butir-butir minyak sehingga memungkinkan minyak dapat mengalir dengan
mudah dari daging biji serta dapat mengurangi afinitas minyak pada
permukaan biji sehingga pekerjaan ekstraksi lebih efisien (Kataren, 1986)

37
Gambar 22 menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara jumlah
total minyak yang dihasilkan terhadap pertambahan waktu preheating.
Jumlah total minyak yang paling tinggi dicapai pada waktu preheating 40
menit sebesar 33.22% dan jumlah total minyak yang paling rendah dicapai
pada waktu preheating 10 menit sebesar 28.70% (Lampiran 6). Hal ini
disebabkan selama proses preheating, kadar air dalam biji akan berkurang
karena proses penguapan. Dengan berkurangnya air, susunan daging buah
(pericarp) berubah. Perubahan tersebut memberikan efek positif yaitu
mempermudah pengambilan minyak selama proses ekstraksi dan memperoleh
pemisahan minyak dari zat non lemak (non oil solid), pada saat yang sama
sel-sel minyak akan pecah dan berada dalam keadaan bebas (Pahang, 2006).

40
35
Rendemen CJCO (%)

30
25 y = -1.852x2 + 13.64x + 10.59
R² = 0.998
20
15 Rendemen CJCO
10
5
0
ambient 50 60 80
Suhu (°C)

Gambar 23 Pengaruh suhu ekstraksi terhadap rendemen CJCO.

Pemanasan juga dimaksudkan untuk menonaktifkan enzim-enzim,


sterilisasi pendahuluan, menguapkan air hingga kadar air tertentu,
meningkatkan keenceran minyak, menggumpalkan protein sehingga
memudahkan pemisahan lebih lanjut dan mengendapkan beberapa pospatida
yang tidak dikehendaki (Makfoeld, 1982 dalam Departemen Teknologi
Pertanian USU, 2005).

38
Gambar 23 menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara jumlah
total minyak yang dapat diekstraksi dengan peningkatan suhu ekstraksi. Pada
suhu ekstraksi 80⁰C, 60⁰C, 50⁰C dan ambient secara berturut-turut
memberikan jumlah minyak sebesar 35.63%, 34.57%, 30.77% dan 22.29%
(Lampiran 6). Hal ini disebabkan pemberian suhu sangat berpengaruh
terhadap viskositas minyak yang dihasilkan. Nilai viskositas yang rendah
akan menyebabkan sifat fluiditas minyak meningkat (Adeeko and Ajibola,
1990). Menurut Eromosele dan Paschal (2003), suhu berpengaruh terhadap
nilai viskositas minyak palm oil. Selain itu perlakuan suhu berhubungan
dengan kadar air bahan dan struktur bahan yang diekstraksi. Perlakuan suhu
akan menyebabkan kadar air bahan menguap. Sehingga semakin tinggi
perlakuan suhu maka semakin banyak air dari bahan yang menguap. Menurut
soetaredjo (2008) bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap karakterisitik
kimia bahan yang menyebabkan kualitas bahan menurun.

B2.Efisiensi Alat Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar.


Nilai efisiensi alat diperoleh dengan perbandingan antara jumlah
minyak yang diperoleh dengan menggunakan ekstraksi mekanik dengan
jumlah minyak yang dapat diperoleh dengan menggunakan ekstraksi kimia.
Pada penelitian ini diasumsikan bahwa dengan menggunakan ekstraksi kimia
dapat mengektraksi minyak biji jarak mendekati 100%. Metode ekstraksi
yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode sokhlet. Nilai rendemen
CJCO yang diperoleh dengan ekstraksi kimia pada biji utuh dan kernel dapat
dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24 menunjukkan bahwa rendemen CJCO paling tinggi
terdapat pada kernel yaitu sebesar 50.11%. Sedangkan pada biji memberikan
rendemen minyak sebesar 36.77%. Rendemen minyak CJCO dengan
menggunakan mechanical extraction pada biji dan kernel secara berturut-
turut mencapai 31.74% dan 52.57% (Gambar 25). Hasil ini menunjukkan
bahwa rendemen CJCO yang dihasilkan dengan ekstraksi kimia lebih kecil
daripada mechanical extraction. Hal mungkin disebabkan oleh adanya
perbedaan varietas bahan sampel yang digunakan untuk ekstraksi kimia

39
dengan mechanical extraction. Namun disisi lain hal ini juga dapat
mengindikasikan bahwa ekstraksi kimia dengan menggunakan pelarut heksan
tidak dapat mengekstraksi minyak biji jarak secara keseluruhan (100%).
Menurut Shweta Shah; Aparna Sharma, M.N.Gupta (2004) bahwa metode
ekstraksi yang dapat megekstraksi minyak kernel jarak pagar secara
keseluruhan adalah dengan menggunakan enzyme assisted three phase
partitioning. Metode ini dapat mengekstraksi minyak jarak pagar dengan
rendemen 97%. Berbeda dengan menggunakan metode heksan yang hanya
dapat mengekstraksi minyak kernel jarak pagar dengan rendemen 40-60%
(Makkar et al,1997 dalam Shweta Shah; Aparna Sharma, M.N.Gupta,2003).
Untuk mendapatkan nilai efisiensi alat maka terlebih dahulu rendemen CJCO
(kernel dan tepung kernel) yang dihasilkan dikonversi menjadi rendemen
CJCO terhadap biji (Gambar 25).

60
Rendemen CJCO (%)

50

40

30

20

10

0
Biji Kernel
Bahan

Gambar 24 Rendemen CJCO dengan ekstraksi kimia (heksan).

40
35

30

Rendemen CJCO (%)


25
biji
20
kernel
15
tepung biji
10
tepung kernel
5

0
10 20 40 10 20 40 10 20 40 10 20 40
Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit

ambien 50 oC 60 oC 80 oC

Perlakuan

Gambar 25 Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan waktu preheating
pada minyak CJCO terhadap biji.

90
80
70
Efisiensi alat (%)

60
50
40 biji
30
kernel
20
tepung biji
10
tepung kernel
0
10 20 40 10 20 40 10 20 40 10 20 40
menit menit menit menit menit menit menit menit menit menit menit menit

ambien 50 ( C) 60 ( C) 80 ( C)

Perlakuan

Gambar 26 Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan waktu preheating
terhadap efisiensi alat.

Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa ukuran


bahan berpengaruh nyata terhadap efisiensi alat. Semakin kecil bentuk ukuran
bahan maka semakin tinggi efisiensi alat (Gambar 27). Pada penelitian ini,
efisiensi alat paling besar terdapat pada tepung biji dan tepung kernel sebesar
69.09% dan 68.14%, secara berturut-turut (Lampiran 8).

41
80
70
60

Efisiensi alat (%)


50
40
30 Efisiensi alat
20
10
0
biji kernel tepung biji tepung kernel
bentuk ukuran bahan

Gambar 27 Pengaruh bentuk ukuran bahan terhadap efisiensi alat.

Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi alat tidak


berbeda nyata antara tepung biji dengan tepung kernel. Hal ini disebabkan
ukuran partikel tepung biji dan tepung kernel sama. Sehingga panas pada saat
preheating dilakukan dapat menyebar sama rata pada bahan sehingga kadar
air yang dapat menguap tidak memiliki perbedaan yang nyata antara tepung
biji dengan tepung kernel.
Selain itu suhu juga berpengaruh terhadap efisiensi alat yang
dihasilkan. Semakin rendah suhu ekstraksi maka efisiensi alat yang dihasilkan
akan semakin tinggi (Gambar 28). Pada penelitian ini, efisiensi alat yang
paling besar terdapat pada suhu ekstraksi 60⁰C dan 80 ⁰C sebesar 70.98% dan
73.16%, secara berturut-turut (Lampiran 10).

42
80
70
60

Efisiensi alat (%)


50 y = -4.336x2 + 30.96x + 18.28
R² = 0.993
40
30 Efisiensi alat
20
10
0
ambien 50 60 80
Suhu (°C)

Gambar 28 Pengaruh suhu ekstraksi terhadap efisiensi alat.

Gambar 28 menunjukkan bahwa efisiensi alat tidak berbeda nyata


antara suhu ekstraksi 60⁰C dan 80⁰C. Hal ini disebabkan bahwa suhu
ekstraksi 60⁰C dan 80⁰C adalah suhu yang maksimal yang dapat diberikan
pada bahan yang akan diekstraksi. Jika suhu ekstraksi dinaikkan lebih dari
80⁰C maka peningkatan efisiensi alat tidak berbeda secara nyata berdasarkan
uji lanjut duncan.

70
68 y = 0.766x2 + 1.124x + 57.35
R² = 1
66
Efisiensi alat (%)

64
62
60 Efisiensi alat
58
56
54
10 20 40
Preheating (menit)

Gambar 29 Pengaruh waktu preheating terhadap efisiensi alat

43
Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa lama
waktu preheating berpengaruh nyata terhadap peningkatan efisiensi alat
(Gambar 29). Pada penelitian ini, efisiensi alat yang paling besar terdapat
pada waktu preheating 40 menit dan yang paling rendah pada waktu
preheating 10 menit, yaitu sebesar 67.62% dan 62.67%, secara berturut-turut
(Lampiran 9).

B3. Kapasitas Alat Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar


Kapasitas alat ditentukan dengan perbadingan antara jumlah minyak
yang dihasilkan persatuan waktu.

0.08

0.07
Kapasitas alat (kg minyak/jam)

0.06

0.05

0.04
biji
0.03
kernel
0.02
tepung biji
0.01
tepung kernel
0.00
10 20 40 10 20 40 10 20 40 10 20 40
menit menit menit menit menit menit menit menit menit menit menit menit

ambien 50 ( C) 60 ( C) 80 ( C)

Perlakuan

Gambar 30 Pengaruh bentuk ukuran bahan, suhu ekstraksi dan waktu preheating
terhadap kapasitas alat.

Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa ukuran


bahan berpengaruh nyata terhadap kapasitas alat. Semakin kecil bentuk
ukuran bahan maka kapasitas alat akan semakin besar (Gambar 31). Pada
penelitian ini, kapasitas alat yang paling besar terdapat pada tepung biji dan
tepung kernel yaitu sebesar 0.047 kg minyak/jam dan 0.048 kg minyak/jam
(Lampiran 12).

44
0.049

Kapasitas alat(kg minyak/jam)


0.048
0.047
0.046
0.045
0.044 Kapasitas alat
0.043
0.042
0.041
biji kernel tepung biji tepung kernel
bentuk ukuran bahan

Gambar 31 Pengaruh bentuk ukuran bahan terhadap kapasitas alat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kapasitas alat antara bahan


ekstraksi (biji, kernel dan tepung biji) tidak berbeda nyata tetapi berbeda
nyata terhadap kapasitas alat dengan menggunkan bahan ekstraksi tepung
kernel.
Pada penelitian ini juga dilakukan uji lanjut duncan tentang bagaimana
pengaruh pertambahan suhu terhadap kapasitas alat. Ternyata dengan
menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) hasil menunjukkan
bahwa pertambahan suhu ekstraksi berpengaruh nyata terhadap kapasitas alat
(Gambar 32). Pada penelitian ini, kapasitas alat yang paling besar terdapat
pada suhu ekstraksi ambien dan 80⁰C yaitu sebesar 0.0488 kg minyak/jam
dan 0.0493 kg minyak/jam (Lampiran 13).

45
0.06

Kapasitas alat (kg minyak/jam)


0.05

0.04
y = 0.003x2 - 0.017x + 0.062
0.03 R² = 0.994

0.02 Kapasitas alat

0.01

0.00
ambien 50 60 80
Suhu (⁰C)

Gambar 32 Pengaruh suhu ekstraksi terhadap kapasitas alat.

Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa


peningkatan kapasitas alat tidak berbeda nyata antara suhu ambien dan suhu
80⁰C. Demikian juga antara suhu 50⁰C dengan 60⁰C. Hal ini disebabkan
pressing duration antara suhu ekstraksi tersebut tidak berbeda nyata.
Peningkatan kapasitas alat berbeda nyata antara suhu ekstraksi 60⁰C dengan
suhu 80⁰C. Hal ini disebabkan pressing duration antara suhu ekstraksi
tersebut berbeda nyata. Semakin lama pressing duration dengan rendemen
minyak tetap maka semakin kecil kapasitas alat.

46
0.060

Kapaitas alat (kg minyak/jam)


0.050

0.040
y = -0.008x + 0.061
0.030 R² = 0.999

0.020 Kapasitas alat

0.010

0.000
10 20 40
Preheating (menit)

Gambar 33 Pengaruh waktu preheating terhadap kapasitas alat.

Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa


peningkatan lama waktu preheating berbeda nyata terhadap peningkatan
kapasitas alat yang dihasilkan. Semakin tinggi waktu preheating maka
semakin rendah kapasitas alat yang dihasilkan (Gambar 33). Hasil
menunjukkan bahwa pada lama waktu preheating 40 menit memberikan
kapasitas alat paling kecil yaitu sebesar 0.037 kg minyak/jam. Sedangkan
pada lama waktu preheating 10 menit memberikan kapasitas alat yang paling
besar yaitu sebesar 0.054 kg minyak/jam (Lampiran 14).

C. Karakteristik Fisik Minyak CJCO


C1. Warna
Perlakuan suhu akan menyebabkan terjadinya oksidasi dan hidrolisis.
Beberapa faktor yang menyebabkan proses oksidasi berlangsung secara cepat,
yaitu suhu tinggi dan kandungan logam (Kataren, 1986 ). Terbentukya warna
yang gelap pada minyak disebabkan oleh oksidasi. Penelitian ini
menunjukkan bahwa ada perubahan fisik warna yang terjadi pada minyak
yang dihasilkan. Semakin tinggi suhu yang diberikan pada bahan maka
semakin gelap warna minyak yang dihasilkan (Gambar 34). Hal ini
mengindikasikan bahwa pada minyak terjadi oksidasi. Oksidasi terjadi ketika

47
minyak pada permukaan bersentuhan dengan oksigen. Oksidasi terjadi dalam
bentuk peroksida dan hidroperoksida.

Ambien 50oC

60oC 80oC

Gambar 34 Warna minyak hasil ekstraksi dengan menggunakan mechanical


extraction.

Menurut soetaredjo (2008) bahwa hidrolisis terjadi pada minyak


akibat kandungan air dan enzim lipase yang terkandung dalam minyak.
Enzim lipase mengidrolisis minyak menjadi free faty acid dan glyserol (Maria
Yuliana Liauw, 2008). Menurut Sirisomboon (2007), pengeringan dengan
menggunakan suhu 80oC memberikan hasil minyak paling tinggi yaitu sekitar
47.06% tetapi FFAnya paling tinggi. Pengeringan pada suhu 40 oC
memberikan kadar minyak paling sedikit dari pada suhu 80 oC yaitu sekitar
36.83% tetapi FFAnya paling sedikit. Hal ini mengindikasikan bahwa
pemanasan pada suhu 40oC menghasilkan kadar minyak yang memiliki
kualitas yang lebih baik.

48
C2. Viskositas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu 50⁰C dan 60⁰C tidak
memberikan perbedaan viskositas yang signifikan. Nilai viskositas minyak
pada suhu ekstraksi 50⁰C dan 60⁰C adalah sebesar 51.25 cP dan 52.50 cP,
secara berturut-turut (Gambar 35). Tetapi pada suhu 80⁰C memberikan nilai
viskositas minyak yang lebih tinggi dari suhu 50⁰C dan 60⁰C, yaitu sebesar
57.25 cP. Menurut Akbar, Yaakob, Kamarudin, Ismail dan Salimon (2009),
nilai viskositas minyak CJCO pada suhu ekstraksi 40⁰C sampai 60⁰C adalah
42.88cP. Nilai viskositas minyak sangat penting untuk diketahui karena nilai
viskositas minyak yang tinggi merupakan masalah yang utama dalam
penggunaan biodiesel pada mesin diesel.

58
57
56
Viskositas (cP)

55
54
53
52 Viskositas
51
50
49
48
50⁰C 60⁰C 80⁰C
Suhu (⁰C)

Gambar 35 Viskositas minyak hasil pemerahan dengan menggunakan mechanical


extraction.

C3. Nilai Kalor


Gambar 36 menunjukkan bahwa nilai kalor meningkat dari suhu
ekstraksi ambien sampai suhu ekstraksi 60⁰C dan berkurang ketika suhu
ekstraksi lebih besar dari 60⁰C. Pada suhu ekstraksi ambient, 50⁰C, 60⁰C dan
80⁰C memberikan nilai kalor sebesar 39680.82 J/gram, 40756.08 J/gram,
41555.22 J/gram, dan 39987.10 J/gram, secara berturut-turut. Hasil ini sesuai
dengan hasil penelitian Achen, Verchot, Franken, Mthijs, Singh, Aerts dan

49
Muish (2008) yang menyatakan bahwa nilai kalor CJCO adalah berkisar
37.83-42.05 MJ/kg.

42000
Nilai kalor (J/g) 41500
41000
40500

40000
nilai kalor
39500
39000
38500
ambien 50 60 80
Suhu (⁰C)

Gambar 36 Nilai kalor CJCO hasil ekstraksi dengan menggunakan


mechanical extraction.

50
D. Pengaruh Kematangan Buah terhadap Kandungan Minyak
D1. Penentuan Umur Tingkat Kematangan Buah Jarak Pagar
Tabel 8 menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata perubahan
panjang (length) dan diameter (girth) buah setiap minggu. Perubahan
panjang (length) dan diameter (girth) buah jarak ini terlihat nyata pada
minggu pertama, minggu kedua, minggu ketiga, dan keempat sedangkan
minggu kelima sampai dengan minggu ketujuh tidak ada perubahan panjang
(length) dan diameter (girth) yang berbeda secara nyata. Hal ini menunjukkan
bahwa pada minggu keempat sampai dengan minggu ketujuh sedang terjadi
proses pematangan. Pada proses pematangan ini sedang terjadi pembentukan
asam lemak pada daging biji jarak pagar.

Tabel 8 Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar selama perkembangan
pada minggu pertama sampai minggu ketujuh.

Minggu 1 2 3 4 5 6 7 Sig.
Panjang 0.65az 1.76b 2.9c 3.07d 3.10d 3.10d 3.12d *
Diameter 0.48a 1.38b 2.57c 2.91d 2.95d 2.97d 2.97d *
*
signifikansi P<0.05.
z
Nilai rata-rata masing-masing perlakuan mengikuti baris yang sama dengan
huruf yang berbeda adalah berbeda secara signifikan pada p0.05 dengan
Duncan Multiple Range Test (DMRT).

51
3.5

3.0

2.5

Ukuran (cm)
2.0

1.5 Panjang

1.0 Diameter

0.5

0.0
1 2 3 4 5 6 7
Pengamatan (minggu)

Gambar 37 Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar selama
perkembangan pada minggu pertama sampai minggu ketujuh.

Tabel 9 menunjukkan bahwa ada perbedaan panjang dan diameter


buah secara nyata antara pohon yang satu dengan yang lain. Ukuran panjang
dan diameter antara pohon (1), (3), (7) dengan pohon (2), (4), (5), (6), (8)
berbeda nyata. Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti
varietas tanaman yang berbeda, ketersediaan air dan unsur-unsur tanah, tidak
di amati pada penelitian ini. Menurut Hamdi,2005 di dalam Tim Departemen
Teknologi Pertanian USU (2005), faktor utama yang berpengaruh terhadap
tanaman adalah intensitas hujan, hari hujan perbulan dan panjang bulan
basah. Intensitas hujan yang tinggi dalam bulan-bulan basah akan
mengakibatkan timbulnya serangan cendawan dan bakteri, baik di atas
maupun bagian dalam tanah. Pada saat berbunga dan berbuah tanaman jarak
membutuhkan bulan kering minimal 3 bulan. Selain itu tanaman jarak pagar
juga memerlukan iklim kering dan panas terutama pada saat berbuah. Suhu
yang rendah pada saat terjadi pembungaan akan menyebabkan tanaman
mudah diserang jamur sehingga dapat menurunkan produktivitas. Tanaman
jarak pagar tergolong tanaman hari panjang, yaitu tanaman yang memerlukan
sinar matahari langsung dan terus menerus sepanjang hari. Tanaman tidak
boleh terlindung dari tanaman lain, yang mengakibatkan menghambat
pertumbuhannya .

52
Tabel 9 Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar selama perkembangan
pada tanaman jarak pagar dengan pohon yang berbeda

Pohon 1 2 3 4 5 6 7 8 Sig.
z
Panjang 2.67b 2.44a 2.63b 2.41a 2.41a 2.45a 2.70b 2.52a *
Diameter 2.36 c 2.24 a 2.43 d 2.18 a 2.32 b 2.30 b 2.43 d 2.31 b *
*
signifikansi P<0.05.
z
Rata-rata masing-masing perlakuan mengikuti baris yang sama dengan huruf
yang berbeda adalah berbeda secara signifikan pada p0.05 dengan Duncan
Multiple Range Test (DMRT).

3.0

2.5

2.0
Ukuran (cm)

1.5
Panjang
1.0 Diameter

0.5

0.0
1 2 3 4 5 6 7 8
Pohon

Gambar 38 Panjang (cm) dan diameter (cm) buah jarak pagar selama
perkembangan pada tanaman jarak pagar dengan pohon yang
berbeda.

53
Hal ini mengindikasikan bahwa pada umur 41 hari setelah
pembuahan (date of bloom) buah telah berwarna kuning dengan biji
berwarna hitam (Gambar 39 dan Gambar 40).

Gambar 39 Warna buah jarak pagar 41 hari setelah date of bloom.

Gambar 40 Warna biji jarak pagar 41 hari setelah date of bloom.

D2. Kadar Minyak Berdasarkan Index Kematangan Buah.


Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi minyak biji jarak pada bahan
biji jarak pagar dengan tingkat kematangan yang berbeda. Pada penelitian ini
dilakukan ekstraksi minyak pada buah jarak pagar berdasarkan index yaitu
index 1 (warna hijau muda), index 2 (warna hijau), index 4 (warna kekuning-
kuningan), index 5 (warna kuning), index 6 (warna kuning kehitam-hitaman)
dan index 8( warna hitam).

54
30

25

Rendemen CJCO (%)


20

15

10 Rendemen CJCO

0
2 4 5 6 8
Kematangan

Gambar 41 Pengaruh tingkat kematangan (biji kering) terhadap rendemen minyak


pada suhu ekstraksi 50oC dan waktu preheating 20 menit.

Gambar 41 menunjukkan bahwa index 2 (buah berwarna hijau)


memberikan kandungan minyak yang paling rendah yaitu 17.93% dan tingkat
kematangan buah pada index 4 dan 5 (warna kekuning-kuningan dan kuning)
memberikan kadar minyak tertinggi yaitu 26.80% dan 26.76% (Lampiran 1).
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wanita dan Joko Harto
(2006) yang menyatakan bahwa buah berwarna kuning memberikan kadar
minyak yang paling tinggi yaitu sebesar 26.91%.

55
6

Rendemen CJCO (%)


4

2 Rendemen CJCO

0
1 2 3 4 5
Kematangan

Gambar 42 Pengaruh tingkat kematangan buah jarak pagar (biji basah KA>40%)
terhadap rendemen CJCO pada suhu ekstraksi 50 oC dan preheating
20 menit.

25
Rendemen dan FFA CJCO (%)

20

15

10 Rendemen
FFA
5

0
1 2 3 4 5
Kematangan

Gambar 43 Pengaruh tingkat kematangan buah jarak pagar (biji basah KA>40%)
terhadap rendemen CJCO dengan ekstraksi kimia.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar air bahan


mempengaruhi rendemen CJCO yang dihasilkan. Pada penelitian ini
rendemen minyak yang paling besar terkandung pada buah jarak pagar
berwarna kuning yaitu 4.81% (Lampiran 2). Jika kadar air biji rendah maka

56
rendemen minyak yang dapat diekstraksi akan semakin tinggi. Jika kadar air
tinggi pada saat dilakukan ekstraksi maka akan menyebabkan terjadinya gum
yang akan menghambat aliran minyak. Hasil ini sesuai dengan ekstraksi
minyak dengan metode heksan yang menunjukkan bahwa buah berwarna
kuning memberikan rendemen minyak yang paling tinggi yaitu sebesar
19.13% (Gambar 43).
Selain itu pemanasan sangat penting untuk mendapatkan rendemen
yang tinggi. Pemanasan merupakan salah satu tahap dalam proses pengolahan
minyak, yang bertujuan untuk menyatuhkan dan mengumpulkan butir-butir
minyak sehingga memungkinkan minyak dapat mengalir keluar dari daging
biji dengan mudah serta dapat mengurangi afinitas minyak pada permukaan
biji sehingga pekerjaan pemerasan menjadi lebih efisien (Ketaren, 1986).
Selain itu pemanasan juga dimaksudkan untuk menonaktifkan enzim-enzim,
sterilisasi pendahuluan, menguapkan air hingga kadar air tertentu,
meningkatkan keenceran minyak, menggumpalkan beberapa protein sehingga
memudahkan pemisahan lebih lanjut dan mengendapkan beberapa pospatida
yang tidak dikehendaki.

57
V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Alat ekstraksi minyak biji jarak tipe hydraulic terdiri dari sembilan bagian
utama yaitu ulir, piringan tekan, wadah tekan, bantalan tekan, heater,
hydraulic jack, termostat, dan wadah penampungan minyak.
2. Tingkat kematangan buah berwarna kuning (index 5) memberikan
kandungam minyak yang paling tinggi.
3. Kadar minyak pada biji dan kernel jarak pagar dengan menggunakan
ekstraksi kimia secara berturut-turut sebesar 36.77% dan 50.70%.
4. Semakin kecil bentuk ukuran bahan, semakin tinggi suhu, semakin lama
waktu preheating maka semakin tinggi rendemen CJCO yang dihasilkan.
5. Semakin tinggi suhu ekstraksi maka semakin tinggi nilai viskositas minyak
dan semakin gelap warna CJCO yang dihasilkan.
6. Nilai kalori CJCO meningkat dengan meningkatnya suhu ekstraksi sampai
suhu ekstraksi 60⁰C, kemudian berkurang pada suhu ekstraksi 80⁰C.
7. Metode ekstraksi minyak jarak pagar yang terbaik adalah dengan
menggunakan bahan daging biji (kernel), suhu ekstraksi dibawah 60C,
dan lama waktu preheating 10 menit.

B. Saran
1. Sebaiknya bantalan tekan harus terbuat dari stailess steel untuk menghidari
korosi yang disebabkan oleh getah biji jarak pada saat dilakukan ekstraksi.
2. Sebaiknya termostat yang digunakan adalah termostat digital untuk
pengukuran suhu yang lebih teliti.

58
DAFTAR PUSTAKA

Akbar E, Yaakob Z, Kamarudin SK, Ismail M, Salimon J. 2009. Charakteristic


and Composition of Jatropha Curcas Oil Seed from Malaysia and its
Potential as Biodiesel Feedstock. European Journal Scientific Research
3:396-403.

Bustaman, S. 2007. Kebijakan Pembangunan Bahan Bakar Nabati (Jarak Pagar) di


Maluku. Analisis Kebijakan Pertanian 3:254-266.

Eromosele CO, Paschal NH. 2003. Characterisric and Viscosity Parameters of


Seed Oils from Wild Plants. Journal of bioresource technology 86:203-
205.

Goodrum JW, Sivakumaran K. 2007. Laboratory Oilseed Processing by a Small


Screw Press. Journal of the Amercan Oil Chemists Society 65:932-935.

Harsokoesoemo DH. 2000. Pengantar Perancangan Teknik. Bandung: Direktorat


Jenderal Pendidikan Tinggi.

Jefferson SO, Polyanna ML, Lincoln BS, Vinicius MM, Eid CS, J oel CR,
Simoni MP. Meneghetti, Paulo AZS. 2009. Characteristics and
Composition of Jatropha Gossypiifolia and Jatropha Curcas L. Oils and
Application for Biodiesel Production. Journal of Biomass and Bioenegry
33:449-453.

Kumar A, Sharma. 2008. An evaluation of multipurpose oil seed crop for


industrial uses (Jatropha curcas L.): A review. Journal of Industrial Crops
and Product xx: xxx-xxx.

59
Prakoso T. 2005. Proses Pengolahan Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas Linn)
menjadi Biodiesel pada Berbagai Skala Industri, LPPM-IPB. Dimuat pada
seminar nasional.

Prastowo B, Pranowo D. 2007. Alat Press Mini (Skala Rumah Tangga) Jarak
Pagar Balitri II. Puslitbang Perkebunan.

Prihandana R, Hendroko R. 2008. Energi Hijau. Jakarta: Penebar Swadaya.

P Sirisomboon, P Kitchaiya. 2009. Physical Properties of Jatropha Curcas L.


Kernels after Heat Treatment. Journal of Biosystem Engineering 102:244-
250.

P Sirisomboon, P Kitchaiya, T Pholpho, W Mahuttanyavanitch. 2007. Physical


and Mechanical Properties of Jatropha Curcas L. Fruits, Nuts, and Kernels.
Journal of Biosystems Engineering 97:201-207.

RC Pradhan, SN Naik, N Bhatnagar, VK Vijay. 2009. Moisture Dependent


Physical Properties of Jatropha Fruit. Journal of Industrial Crops and
Products 29:341-347.

Shah S, Sharma A, Gupta MN. 2004. Extraction of Oil from Jatropha curcas L.
Seed Kernels by Enzyme Assisted Three Phase Partitioning. Journal of
Industrial Crops and Product 20:275-279.

Sularso, Suga K. 2004. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Jakarta:
PT Pradnya Paramita.

Tim Departemen Teknologi Pertanian USU. 2005. Proses Pembuatan Minyak


Jarak Sebagai Bahan Bakar Alternatif. Balai Penelitian dan Pengembahan
Provinsi Sumatera Utara.

Wanita YP, Hartono J. 2006. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah Terhadap Kadar
Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Balai Penelitian Tanaman
Tembakau dan Serat.

60
WMJ Achten, L Verchot, YJ Franken, E Mathijs,VP Singh, R Aerts, B Muys,
2008. Jatropha Biodiesel Production and Use. Journal of Biomass and
Bioenergy 32: 1063-1084.

61
LAMPIRAN

62
Lampiran 1 Pengaruh tingkat kematangan (biji kering) terhadap rendemen minyak
pada suhu ekstraksi 50oC dan preheating 20 menit

Kadar air
Index Gambar Berat sampel Kadar minyak Rendemen
biji jarak
index (g) (g) (%)
(%)

2 7.20 200.37 35.93 17.93

4 6.80 200.21 53.65 26.80

5 7.20 200.17 53.57 26.76

6 6.70 200.50 50.06 24.97

8 6.10 200.68 42.34 21.10

63
Lampiran 2 Pengaruh tingkat kematangan buah jarak pagar (biji basah KA>40%)
terhadap rendemen CJCO pada suhu ekstraksi 50oC dan preheating
20 menit

Index Gambar Berat sampel (g) Kadar minyak (g) Rendemen (%)
index

1 77.00 0.00 0.00

2 118.30 0.22 0.19

4 97.99 0.95 0.97

5 98.06 4.78 4.87

8 94.17 1.90 2.02

64
Lampiran 3 Jumlah minyak yang dapat di ekstraksi dengan ekstraksi mekanik
pada biji jarak kering (KA=10.03%) pada suhu 50oC dan preheating
30 menit

Rendemen
Sampel Berat sampel (g) Jumlah minyak (g)
(%)

Biji 100.70 18.07 17.94

Tepung biji 116.74 23.88 20.46

kernel 98.66 18.30 18.54

Tepung 84.86 25.10 29.58


kernel

65
Lampiran 4 Kadar air biji jarak pagar

Ulangan KA bk(%) KA bb (%)

1 6.512 6.114

2 6.863 6.422

3 6.796 6.364

4 6.481 6.087

5 6.075 5.727

6 5.714 5.405

7 6.061 5.714

Rata-rata 6.357 5.976

stdevp 0.391 0.346

66
Lampiran 5 Interaksi ukuran bahan, suhu dan preheating terhadap rendemen
minyak

Preheating
Suhu (°C) Biji Kernel Tepung Biji Tepung Kernel
(menit)

10 12.116 26.992 15.777 34.290

Ambien 20 12.116 26.992 15.777 34.290

40 12.116 26.992 15.777 34.290

10 20.923 31.753 27.163 38.494

50 20 21.641 31.045 28.147 40.935

40 22.196 38.132 28.096 40.670

10 22.579 35.252 28.384 39.807

60 20 23.493 41.330 28.405 44.511

40 24.393 48.239 29.630 48.795

10 23.449 35.366 27.220 39.560

80 20 24.083 38.358 29.743 47.642

40 26.351 52.567 31.741 51.483

67
Lampiran 6 Hasil analisis data dengan menggunakan DMRT

Rendemen Efisiensi
Perlakuan
(%) (%)
Sampel
1. Biji 20.45d 55.63c
2. kernel 36.08c 59.84b
3. Tepung biji 25.48b 69.09b
4. Tepung kernel 41.23a 68.14a
Sig. * *
Suhu (°C)
1. ambient 22.29c 44.52c
2. 50 30.76b 64.05b
3. 60 34.56a 70.98a
4. 80 35.63a 73.16a
Sig. *
Preheating (menit)
1. 10 28.69c 59.24c
2. 20 30.53b 62.67b
3. 40 33.21a 67.62a
Sig. *
Interaction
Sampel*suhu * *
Sampel*preheating * *
Suhu * preheating * *
Sampel*suhu*preheating NS NS

68
Lampiran 7 Hubungan perlakuan terhadap efisiensi alat

preheating tepung
suhu biji kernel tepung kernel
(menit) biji

10 menit 32.953 44.967 42.860 57.293

ambien 20 menit 32.953 44.967 42.860 57.293

40 menit 32.953 44.967 42.860 57.293

10 menit 56.907 52.890 73.380 64.353

50 (°C) 20 menit 58.853 51.323 75.993 67.907

40 menit 60.367 63.253 75.720 67.647

10 menit 61.407 57.807 77.107 65.717

60 (°C) 20 menit 63.893 69.173 77.127 73.503

40 menit 66.340 78.940 80.600 80.083

10 menit 63.777 58.517 73.763 64.170

80 (°C) 20 menit 65.493 64.030 80.680 76.583

40 menit 71.663 87.257 86.093 85.877

69
Lampiran 8 Pengaruh ukuran bahan terhadap efisiensi alat

Sampel biji kernel tepung biji tepung kernel

Efisiensi alat
55.630 59.841 69.087 68.143
(%)

Lampiran 9 Pengaruh preheating terhadap efisiensi alat

Preheating (menit) 10 20 40

Efisiensi alat (%) 59.242 62.665 67.620

Lampiran 10 Pengaruh suhu terhadap efisiensi alat

Suhu (°C) ambien 50 60 80

Efisiensi alat (%) 44.518 64.049 70.975 73.159

70
Lampiran 11 Pengaruh perlakuan terhadap kapasitas alat

Preheating
Suhu (°C) biji kernel tepung biji tepung kernel
(menit)

10 0.049 0.063 0.033 0.051

ambien 20 0.049 0.063 0.033 0.051

40 0.049 0.063 0.033 0.051

10 0.063 0.045 0.062 0.056

50 20 0.043 0.033 0.048 0.035

40 0.028 0.024 0.036 0.025

10 0.049 0.042 0.052 0.065

60 20 0.031 0.046 0.047 0.049

40 0.025 0.036 0.033 0.033

10 0.058 0.029 0.078 0.066

80 20 0.045 0.037 0.062 0.053

40 0.032 0.049 0.042 0.041

71
Lampiran 12 Pengaruh ukuran bahan terhadap kapasitas alat

tepung tepung
Sampel biji kernel
biji kernel

Kapasitas alat (kg


0.043 0.044 0.047 0.048
minyak/jam

Lampiran 13 Pengaruh suhu terhadap kapasitas alat

Suhu (°C) ambien 50 60 80

Kapasitas alat
0.0488 0.0414 0.0423 0.0493
(kg minyak/jam)

Lampiran 14 Pengaruh preheating terhadap kapasitas alat

Preheating (menit) 10 20 40

Kapasitas alat (kg


0.054 0.045 0.037
minyak/jam)

72
Lampiran 15 Perhitungan ulir

1. Wo = 7161,2782 kg
2. Fc = 1.2
3. W = 1.2 X 7161,2782 = 8593,5338 kg
4. Bahan baut : Baja liat dengan 0.22 % C
σB = 42 kg/mm2, sf = 7, σa = 6 kg/mm2 , τa = 0,5 x 6= 3 kg/mm2
,
5. 1≥ = 42,7

6. Dipilih ulir metris kasar


d1 = 46,587 mm > 42,7037 mm, d = 52 mm, p = 5 mm.
7. Bahan mur : Baja liat dengan 0.22 % C
σB = 42 kg/mm2, τa = 0,5 x 6 = 3 kg/mm2, qa = 3 kg/mm2
8. D = 52 mm, D2 = 48,752 mm, H1 = 2.706 mm
,
9. ≥ , .
= 6.69 =7

10. ≥7 5 = 35 , ≥ (0.8 − 1.0) = 42,7 = 42


H = 52 mm akan dipakai
11. Z’ = 52/5 = 10,4
,
12. = = 1.34 kg/mm2
. , . ,

,
= . . ,
= 1.349 kg/mm2

13. Harga diatas dapat diterima karena masing-masing lebih rendah dari 3.0
kg/mm2
14. Bahan baut dan mur : Baja liat dengan 0.22 % C.
Baut : M52. Mur : M52; tinggi mur = 52 mm

73
Keterangan:

W = Beban setelah dikalikan dengan factor koreksi (kg)


Fc = Faktor koreksi
σB = Kekuatan tarik bahan (kg/mm2)
sf = Faktor keamanan (tergantung dari bahan yang digunakan), 6-8
σa = Tegangan yang diizinkan, 6 kg/mm2
τa = Tegangan geser yang diizinkan (kg/mm2)
d1 = Diameter inti ulir (mm)
p = Jarak bagi (mm)
D = Diameter luar ulir (mm)
H = Tinggi rumah ulir (mm)
Z = Jumlah ulir

74
Lampiran 16 Perhitungan gaya yang dibutuhkan

Ditentukan diameter wadah sekitar 8 cm

πr2 = A
A = π42
A = 50.9337 cm2

Gaya yang dibutuhkan, F = 50,9337 cm2 x 140,6kg/cm2 (tekanan yang


dibutuhkan untuk mengekstraksi minyak dadi biji jarak pagar) = 7161,2782 kg

75
Lampiran 17 Diagram perhitungan ulir

Mulai b

9. z = 7
3. 7161.2782 kg

10. H = 52 mm
2.fc = 1.2

11. z’ = 10

3. 8593.5338 kg
2
12. τb =1.34 kg/mm , τn =
2
1.349 kg/mm

4. Bahan ulir : bja liat 0.22%C, σB =


2
42kg/mm , Sf = 7, dan σa =
6kg/mm2

ya
13. qb >τa
τ n> τ a

5. d1 = 42.7 mm
tidak
14. Baja liat 0.22% C, M52,
dan H = 52.
6. Pemilihan : ulir metris
kasar, d = 52 mm, d1 =
46.587 mm, dan p = 5 mm

Selesai

7. Bahan rumah ulir : bja liat


2
0.22%C, σb = 42kg/mm , qa = 3
2 2
kg/mm , dan σa = 6kg/mm

8. Pemilihan : D = 52 mm, D2
= 48.752 mm, dan H1 =
2.706mm

a b

76