Anda di halaman 1dari 96

BPS4291 – PROYEK AKHIR II

Semester VIII – 2017/2018

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KANTIN KAMPUS INSTITUT


TEKNOLOGI DEL MENGGUNAKAN SISTEM LUMPUR AKTIF
MODEL SEQUENCING BATCH REACTOR (SBR)

Kelompok PEN/1718/06
Mario Apulizer Manurung (31S14021)
Wilda Panjaitan (31S14026)

Pembimbing
Rien Rakhmana, S.Si., M.T.
Ellyas Alga Nainggolan, S.TP., M.Sc.

PROGRAM STUDI TEKNIK BIOPROSES


FAKULTAS BIOTEKNOLOGI
INSTITUT TEKNOLOGI DEL
JULI 2018
LEMBAR PENGESAHAN
BPS4291 PROYEK AKHIR II
Semester VIII − 2017/2018

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KANTIN KAMPUS INSTITUT


TEKNOLOGI DEL MENGGUNAKAN SISTEM LUMPUR AKTIF
MODEL SEQUENCING BATCH REACTOR (SBR)

Kelompok PEN/1718/06

Mario Apulizer Manurung (31S14021)


Wilda Panjaitan (31S14026)

Catatan Pembimbing

Sioluama, Juli 2018


Disetujui Pembimbing

(Rien Rakhmana, S.Si., M.T.) (Ellyas Alga Nainggolan, S.TP., M.Sc)


PEN/1718/06 i
SURAT PERNYATAAN
BPS4291 PROYEK AKHIR II (PENELITIAN)
Semester VIII- 2017/2018

Kami yang bertanda tangan di bawah ini:

Kelompok : PEN/1718/06

Nama (NIM) : Mario Apulizer Manurung (31S14021)

Nama (NIM) : Wilda Panjaitan (31S14026)

dengan ini menyatakan bahwa laporan dengan judul:

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KANTIN KAMPUS INSTITUT TEKNOLOGI


DEL MENGGUNAKAN SISTEM LUMPUR AKTIF MODEL SEQUENCING
BATCH REACTOR (SBR)

adalah hasil penelitian kami sendiri di mana seluruh pendapat dan materi dari sumber
lain telah dikutip melalui penulisan referensi yang sesuai.

Surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan jika pernyataan dalam lembar
pernyataan ini di kemudian hari diketahui keliru, kami bersedia menerima sanksi sesuai
peraturan yang berlaku.

Sitoluama, Juli 2018

Tanda tangan Tanda tangan

Mario Apulizer Manurung Wilda Panjaitan

PEN/1718/06 ii
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi Del, kami yang bertanda tangan di
bawah ini:
1. Nama : Mario Apulizer Manurung
NIM : 31S14021
2. Nama : Wilda Panjaitan
NIM : 31S14026

Program Studi : Teknik Bioproses


Fakultas : Bioteknologi
Jenis Karya : Tugas Akhir
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Institut Teknologi Del Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KANTIN KAMPUS INSTITUT TEKNOLOGI
DEL MENGGUNAKAN SISTEM LUMPUR AKTIF MODEL SEQUENCING
BATCH REACTOR (SBR)
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Institut Teknologi Del berhak menyimpan, mengalih/media-
format dalam bentuk pangkalan data (database), merawat,dan mempublikasikan
tugas akhir saya selama tetap mencantunkan nama saya sebagai penulis/pencipta
dan sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Sitoluama, Juli 2018

Tanda tangan Tanda tangan

(Mario Apulizer Manurung) (Wilda Panjaitan)

PEN/1718/06 iii
BPS4291 – PROYEK AKHIR II

Pengolahan Limbah Cair Kantin Kampus Institut Teknologi Del


menggunakan Sistem Lumpur Aktif Model Sequencing Batch Reactor (SBR)
Kelompok PEN/1718/06
Mario Apulizer Manurung (31S14021) dan Wilda Panjaitan (31S14026)
Pembimbing
Rien Rakhmana, S.Si., M.T.
Ellyas Alga Nainggolan, S.TP., M.Sc.

ABSTRAK

Limbah cair kantin Institut Teknologi Del merupakan limbah yang berasal dari
pencucian peralatan masak dan sisa makanan serta minuman. Limbah tersebut
berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena mengandung senyawa
organik yang tinggi. Pengolahan air limbah secara biologis pada umumnya masih
menggunakan sistem lumpur aktif (activated sludge) konvensional. Jenis sistem
lumpur aktif konvensional masih memiliki kekurangan, seperti kebutuhan lahan
yang luas hingga pembentukan bioflok dengan kecepatan pengendapan yang
rendah. Salah satu modifikasi sistem lumpur aktif untuk mengatasi hal tersebut
adalah Sequencing Batch Reactor (SBR). Kelebihan menggunakan teknik SBR
berupa kebutuhan lahan yang kecil, biaya operasional yang lebih kecil dan efisiensi
pembentukan bioflok yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja
sistem SBR dalam menurunkan kandungan polutan yang terdapat di dalam limbah
cair kantin. Parameter penurunan ditunjukkan dengan pengurangan nilai COD, total
padatan tersuspensi, minyak dan lemak serta total fosfat pada limbah cair kantin.

Penelitian ini dilakukan menggunakan SBR dengan volume kerja 8 L, yang terdiri
dari 4 L air limbah dan 4 L lumpur aktif. Penelitian dilakukan secara intermittent
(berjeda) dan dalam kondisi aerobik selama tahap pendegradasian air limbah.
Variasi penelitian ini adalah konsentrasi air limbah (50 dan 100%), waktu aerasi (6
dan 12 jam) dan sumber inokulum (Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
domestik dan kolam aerasi limbah pabrik kelapa sawit). Beragam variasi yang
dilakukan bertujuan untuk menentukan kondisi optimum pengolahan air limbah
kantin menggunakan sistem lumpur aktif model SBR.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair kantin dapat menghilangkan


kadar COD dengan penyisihan tertinggi mencapai 62% ditunjukkan pada beban
konsentrasi limbah 100%, waktu aerasi 12 jam dan jenis inokulum yang berasal dari
IPAL domestik. Efisiensi penyisihan fosfat tertinggi sebesar 95,19% dan efisiensi
penyisihan minyak lemak sebesar 72% pada beban konsentrasi limbah 100%,
waktu aerasi 12 jam jenis inokulum yang berasal dari IPAL domestik. Pada sampel

PEN/1718/06 v
limbah cair kantin dengan beban konsentrasi 50%, efisiensi penyisihan COD, fosfat
dan minyak lemak tertinggi ditunjukkan oleh reaktor dengan waktu aerasi 12 jam
dan jenis inokulum yang digunakan berasal dari IPAL domestik.

Kata kunci: Limbah cair kantin, lumpur aktif, Sequencing Batch Reactor (SBR)

PEN/1718/06 vi
BPS4291 – FINAL PROJECT II (RESEARCH)

Institut Teknologi Del’s Canteen Wastewater Treatment Using Activated


Sludge System Sequencing Batch Reactor (SBR) Model
Group PEN/1718/06
Mario Apulizer Manurung (31S14021) and Wilda Panjaitan (31S14026)
Advisor
Rien Rakhmana, S.Si, M.T.
Ellyas Alga Nainggolan,S.TP, M.Sc.

ABSTRACT

Institut Teknologi Del’s canteen wastewater is a liquid waste that comes from
cleaning cooking equipment and leftovers of food and drink. The wastewater can
potentially cause pollution in environment because it contains high organic
compound. Biological wastewater treatment generally uses conventional activated
sludge system. Activated sludge system is a wastewater treatment technique that
has been applied widely to almost all types of wastewater containing high organic
compound. Wastewater treatment using activated sludge system generally uses a
conventional activated sludge type system. Types of conventional activated sludge
system still have disadvantages, such as extensive land requirement and biofloc
formation with low settling rate. One modification of activated sludge system to
overcome is Sequencing Batch Reactor (SBR). The advantages of SBR technique
are small land requirement, lower operational cost and high biofloc formation
efficiency. This study aims to determine the performance of SBR system in
reducing the pollutant content in canteen wastewater. The decreasing parameter is
indicated by reduction of COD, total suspended solids, oils and grease and total
phosphates in canteen wastewater.

This research will be conducted on laboratory scale, using SBR with total
operational volume of 8 L, consisting of 4 L of wastewater and 4 L of activated
sludge. The experiment is conducted intermittently and in aerobic condition during
the degradation stage. The variations of this research are wastewater concentration
(50 and 100%), aeration time (6 and 12 hours) and inoculum type comes from
(domestic WWTP and aeration pool of palm oil mill waste processing). Variations
conducted in this research aims to determine the optimum condition of canteen
wastewater treatment using SBR model.

The results showed that the canteen wastewater can eliminate the COD content with
the highest allowance reached 62% indicated at 100% concentration of waste load,
12 hours aeration and inoculum from domestic WWTP. The highest phosphate
removal efficiency was 95.19% and oil and grease removal efficiency of 72% at

PEN/1718/06 vii
100% waste concentration load, 12 hour aeration of inoculum type from domestic
WWTP. In a canteen wastewater sample with 50% concentration load, the highest
removal efficiency of COD, phosphate and fatty oil was shown by reactor with a
12 hour aeration and the inoculum type used was from domestic WWTP.

Keywords: Activated sludge, canteen wastewater, Sequencing Batch Reactor


(SBR)

PEN/1718/06 viii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan laporan tugas akhir ini. Penulisan laporan tugas akhir yang berjudul
“Pengolahan Limbah Cair Kantin Kampus Institut Teknologi Del
Menggunakan Sistem Lumpur Aktif Model Sequencing Batch Reactor (SBR)”
ini ditulis sebagai prasyarat untuk memenuhi matakuliah Proyek Akhir II
(BPS4191). Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Rien Rakhmana, S.Si., M.T. dan Bapak Ellyas Alga Nainggolan, S.TP.,
M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah membimbing, membantu,
memberi saran dan dukungan kepada penulis dalam penyusunan laporan
tugas akhir ini.
2. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta laboran Program Studi Teknik Bioproses
yang telah memberikan saran dan bantuannya.
3. Keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun material
kepada penulis.
4. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Ajibata dan Pabrik Kelapa Sawit
(PKS) PT. Siringo-Ringo yang telah memberikan izin serta bantuan untuk
menunjang terlaksananya penelitian ini.

Penulis menyadari terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan tugas akhir ini,
oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun
sehingga penulisan tugas akhir ini dapat selesai dengan baik. Semoga laporan tugas
akhir ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Laguboti, Juli 2018

Penulis

PEN/1718/06 ix
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN........................................................................................ ii
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................... iii
ABSTRAK .............................................................................................................. v
ABSTRACT .......................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiv
SINGKATAN DAN SIMBOL............................................................................. xvi
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
I.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
I.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
I.3 Tujuan ....................................................................................................... 4
I.4 Ruang Lingkup ......................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 6
II.1 Lumpur Aktif (Activated Sludge) ............................................................ 6
II.2 Sequencing Batch Reactor (SBR) ........................................................... 9
II.3 Karakteristik Limbah Domestik ............................................................ 13
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN .......................................................... 13
III.1 Tahapan Penelitian ............................................................................... 13
III.2 Alat dan Bahan ..................................................................................... 14
III.3 Prosedur Kerja ...................................................................................... 16
III.5 Variasi Percobaan................................................................................. 19
III. 5 Interpretasi data ................................................................................... 20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 21
IV.1 Analisis Karakteristik Air Limbah Kantin .......................................... 21
IV. 2 Analisis Nilai MLSS Pada Proses Seeding ......................................... 23
IV.3 Proses Aklimatisasi .............................................................................. 24
IV. 4 Proses Utama ...................................................................................... 26

PEN/1718/06 ix
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 33
V. 1 Kesimpulan .......................................................................................... 33
V. 2 Saran ..................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 34
LAMPIRAN .......................................................................................................... 38

PEN/1718/06 x
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Penelitian Pengolahan Limbah Menggunakan SBR ............................. 3


Tabel 2.1 Perbandingan Sistem Lumpur Aktif dan SBR ...................................... 9
Tabel 2.2 Reduksi Nilai Parameter Air Limbah Menggunakan Teknik SBR ..... 13
Tabel 2.3 Karakteristik dan Standar Baku Mutu Air Limbah Domestik ............ 13
Tabel 3.1 Bahan Pembuatan Medium Sintesis .................................................... 16
Tabel 3.2 Tahapan Aklimatisasi.......................................................................... 18
Tabel 3.3 Siklus Operasional Sequencing Batch Reactor ................................... 18
Tabel 3.4 Metode Pengujian Parameter Penelitian ............................................. 19
Tabel 3.5 Skema Variasi Percobaan.................................................................... 19
Tabel 4.1 Karakteristik Air Limbah Kantin ........................................................ 21
Tabel 4.2 Efisiensi Penyisihan COD ................................................................... 27
Tabel 4.3 Efisiensi penyisihan minyak dan lemak .............................................. 29
Tabel 4.2 Hasil Penyisihan Fosfat ....................................................................... 31
Tabel B.1 MSDS Natrium Hidroksida ................................................................ 40
Tabel B.2 MSDS Dikalium Hidrogen Fosfat Anhidrat ....................................... 41
Tabel B.3 MSDS Dihidrogen Fosfat Anhidrat .................................................... 42
Tabel B.4 MSDS Magnesium Sulfat................................................................... 43
Tabel B.5 MSDS Asam Hidroklorida ................................................................. 44
Tabel B.6 MSDS Heksana .................................................................................. 45
Tabel B.7 MSDS Natrium Sulfat Anhidrat ......................................................... 46
Tabel B.8 MSDS Kalium Dikromat .................................................................... 47
Tabel B.9 MSDS Asam Sulfat ............................................................................ 48
Tabel B.10 MSDS Merkuri (II) Sulfat .................................................................. 49
Tabel B.11 MSDS Perak Sulfat ............................................................................ 50
Tabel B.12 MSDS 1,10-fenantrolina Monohidrat................................................. 51
Tabel B.13 MSDS Besi (II) Sulfat Heptahidrat .................................................... 52
Tabel B.14 MSDS Amonium Besi (II) Sulfat ....................................................... 53
Tabel B.15 MSDS Kalium Antimonil Tartrat ....................................................... 54
Tabel B.16 MSDS Amonium Heptamolibdat Tetrahidrat .................................... 55
Tabel B.17 MSDS Asam Askorbat ....................................................................... 56

PEN/1718/06 xi
Tabel B.18 MSDS Kalium Dihidrogen Fosfat ...................................................... 57
Tabel E.1 Data MLSS mg/L Pada Proses Seeding ............................................. 67
Tabel E.2 Data Pengamatan MLSS mg/L Proses Aklimatisasi .......................... 68
Tabel E.3 Data Pengamatan COD mg/L Proses Aklimatisasi ............................ 69
Tabel E.4 Data Pengamatan COD mg/L Proses Utama ...................................... 70
Tabel E.5 Data Pengamatan Kadar Minyak dan Lemak Proses Utama .............. 72
Tabel E.11 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 100% ........ 74
Tabel E.12 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 100% dengan
Variasi Waktu Aerasi......................................................................... 74
Tabel E.13 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 50% .......... 75
Tabel E.14 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 50% dengan
Variasi Waktu Aerasi......................................................................... 75
Tabel E.15 Data Pengamatan pH pada Proses Seeding...................................... 576

PEN/1718/06 xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Alir Sistem Lumpur Aktif ................................................... 6


Gambar 2.2 Penurunan Nilai COD Selama Aklimatisasi .................................... 10
Gambar 2.3 Tahap Siklus Operasi SBR ............................................................... 10
Gambar 2.4 Desain Sequencing Batch Reactor (SBR) ........................................ 12
Gambar 2.5 Skema Percobaan dengan Sequencing Batch Reactor (SBR) ........... 12
Gambar 3.1 Tahapan Penelitian ........................................................................... 13
Gambar 3.2 Susunan Alat Percobaan Pengolahan Air Limbah Kantin ............... 14
Gambar 4.1 Triangle Zone rasio BOD/COD ....................................................... 22
Gambar 4.2 Grafik Proses Seeding ...................................................................... 23
Gambar 4.3 Grafik Penyisihan COD mg/L Proses Aklimatisasi ......................... 25
Gambar 4.4 Grafik Nilai MLSS mg/L Proses Aklimatisasi ................................. 25
Gambar 4.5 Metabolisme bahan organik pada lingkungan aerobik ..................... 28
Gambar 4.6 Metabolisme Degradasi Triglyceride ............................................... 30
Gambar 4.7 Mekanisme Metabolisme Bakteri Pendegradasi Fosfat ................... 32
Gambar A.1 Prosedur Kerja Pengolahan Limbah dengan Lumpur Aktif ............. 38
Gambar A.2 Diagram Alir Aklimatisasi ............................................................... 39
Gambar F.1 Analisis Nilai Parameter Air Limbah............................................... 39
Gambar F.2 Inokulum M1 dan M2 Pada Nutrien Agar ........................................ 77
Gambar F.3 Reaktor SBR .................................................................................... 77

PEN/1718/06 xiii
DAFTAR LAMPIRAN

A.1 Diagram Alir Prosedur Kerja ....................................................................... 38


A.2 Diagram Alir Aklimatisasi ........................................................................... 39
B.1 MSDS Natrium Hidroksida .......................................................................... 40
B.2 MSDS Dikalium Hidrogen Fosfat Anhidrat ................................................. 41
B.3 MSDS Dihidrogen Fosfat Anhidrat .............................................................. 42
B.4 MSDS Magnesium Sulfat ............................................................................. 43
B.5 MSDS MSDS Asam Hidroklorida ............................................................... 44
B.6 MSDS Heksana ............................................................................................ 45
B.7 MSDS Natrium Sulfat Anhidrat ................................................................... 46
B.8 MSDS Kalium Dikromat .............................................................................. 47
B.9 MSDS Asam Sulfat ...................................................................................... 48
B.10 MSDS Merkuri (II) Sulfat ............................................................................ 49
B.11 MSDS Perak Sulfat ...................................................................................... 50
B.12 MSDS 1,10-fenantrolina Monohidrat........................................................... 51
B.13 MSDS Besi (II) Sulfat Heptahidrat .............................................................. 52
B.14 MSDS Amonium Besi (II) Sulfat ................................................................. 53
B.15 MSDS Kalium Antimonil Tartrat ................................................................. 54
B.16 MSDS Amonium Heptamolibdat Tetrahidrat .............................................. 55
B.17 MSDS Asam Askorbat ................................................................................. 56
B.18 MSDS Kalium Dihidrogen Fosfat ................................................................ 57
C.1 Prosedur analisis pH menggunakan pH meter.............................................. 58
C.2 Prosedur Analisis COD ................................................................................ 59
C.3 Prosedur Analisis MLSS .............................................................................. 61
C.4 Prosedur Analisis MLSS .............................................................................. 62
C.5 Prosedur Analisis Kadar Fosfat .................................................................... 63
C.6 Prosedur Analisis Minyak dan Lemak ......................................................... 65
E.1 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan MLSS Proses Seeding .............. 67
E.2 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan MLSS Proses Aklimatisasi ..... 68
E.3 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan COD Proses Aklimatisasi ........ 69
E.4 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan COD Proses Utama .................. 70

PEN/1718/06 xiv
E.5 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan Minyak/Lemak Proses Utama.. 72
E.6 Data Mentah dan Contoh Perhitungan Kadar Fosfat Pada Proses Utama .... 74

PEN/1718/06 xv
SINGKATAN DAN SIMBOL

Penempatan
Singkatan Nama Pertama Pada
Halaman
COD Chemical Oxygen Demand 1
BOD Biochemical Oxygen Demand 1
HRT Hydraulic Retension Time 2
SBR Sequencing Batch Reactor 2
TSS Total Suspended Solid 3
IPAL Instalasi Pengolahan Air Limbah 6
MLSS Mixed-Liquor Suspended Solids 6
F/M ratio Food to Microorganism Ratio 7
RAS Return Activated Sludge 8
DO Dissolved Oxygen 33

Penempatan
Simbol Nama Pertama Pada
Halaman
T-01 Galon berkeran 15
P-01 Pompa udara 15
T-02 Reaktor SBR 15
D-01 Diffuser udara 16
B-01 Bola pengapung 16
Lumpur aktif yang diperoleh
M1 dari instalasi pengolahan air 17
limbah (IPAL) di Ajibata
Lumpur aktif yang diperoleh
M2 darI pengolahan limbah 17
aerobik pabrik kelapa sawit

PEN/1718/06
xvi
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Lumpur aktif adalah kumpulan mikroorganisme aerobik yang mampu
mendegradasi berbagai polutan, termasuk senyawa organik, toksik dan senobiotik
(Shchegolkova dkk., 2016). Tujuan dari sistem lumpur aktif adalah penghapusan
senyawa polutan oleh mikroorganisme untuk membentuk biomassa baru, amonium,
CO2 dan H2O sehingga didapatkan air limbah yang mengandung senyawa polutan
lebih rendah (Orhon dkk., 2009). Sistem lumpur aktif (activated sludge) merupakan
teknik yang paling banyak digunakan dalam pengolahan air limbah domestik
maupun industri, karena dapat diterapkan hampir pada semua jenis limbah yang
mengandung bahan organik yang tinggi.

Beberapa penelitian tentang pengolahan limbah menggunakan sistem lumpur aktif


telah banyak dilakukan, diantaranya pengolahan limbah cair tapioka dengan persen
removal Chemical Oxygen Demand (COD) 74,5%, total padatan 26,1% dan sianida
70% (Kaewkannetra dkk., 2009). Lumpur aktif juga telah lama digunakan untuk
proses pengolahan limbah domestik karena efektivitas prosesnya untuk
menghilangkan bahan organik. Berdasarkan penelitian, sistem lumpur aktif dapat
mereduksi kadar COD dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) hingga 80% yang
terkandung di dalam limbah domestik (Nagwekar, 2014). Aplikasi sistem lumpur
aktif juga diteliti oleh Rashed (2013) pada limbah domestik dengan variasi waktu
tinggal selama 9 jam dan 14 jam, sehingga didapat persen removal COD, BOD dan
fosfat secara berturut-turut sebesar 94%, 85,44% dan 80,54%.

Salah satu jenis limbah yang tergolong dalam limbah cair domestik adalah limbah
cair kantin. Limbah cair kantin berasal dari pencucian peralatan memasak dan
makan serta sisa makanan dan minuman yang mengandung bahan organik yang
tinggi. Studi kasus pada penelitian ini difokuskan pada limbah cair yang berasal
dari kantin Institut Teknologi Del. Institut Teknologi Del mempunyai kantin dengan

PEN/1718/06
1
jumlah populasi yang makan di kantin tersebut ± 1300 jiwa dengan frekuensi makan
3 kali/hari sehingga volume limbah cair kantin yang dihasilkan diperkirakan 2
ton/hari. Pembuangan limbah cair tersebut ditampung, kemudian dialirkan ke
selokan lalu dibuang ke lingkungan. Apabila kegiatan ini dilakukan secara terus
menerus maka berpotensi menjadi polutan yang dapat berakibat buruk bagi
lingkungan. Salah satu upaya pengolahan terhadap fenomena tersebut adalah
dengan menggunakan sistem lumpur aktif (activated sludge). Pengolahan limbah
cair menggunakan sistem lumpur aktif pada umumnya menggunakan jenis sistem
lumpur aktif konvensional. Jenis sistem lumpur aktif konvensional membutuhkan
lahan yang luas hingga efisiensi pembentukan bioflok (gumpalan mikroorganisme)
dengan kecepatan pengendapan lambat. Jenis sistem ini juga memerlukan unit
pengendapan yang berbeda untuk memisahkan padatan dengan cairan, sehingga
dibutuhkan hydraulic retension time (HRT) yang lebih lama dan menyebabkan
biaya operasional untuk unit pengolahannya menjadi lebih besar (Mahvi, 2008).
Modifikasi sistem lumpur aktif telah banyak diteliti untuk mengatasi kekurangan
sistem lumpur aktif konvensional, salah satunya adalah Sequencing Batch Reactor
(SBR) (Nagwekar, 2014).

SBR merupakan teknologi sistem lumpur aktif yang sudah berkembang dan banyak
diaplikasikan untuk mengolah limbah cair. Teknik SBR dalam penyisihan kadar
organik terdiri atas 5 fase yaitu pengisian (filling), reaksi (reaction), pengendapan
(settling), pembuangan (drawing) dan fase istirahat (idling). Kelebihan teknik SBR
adalah proses pengolahan dilakukan secara biologis dan proses pengendapan terjadi
dalam satu tangki sehingga tidak membutuhkan unit pengendapan yang terpisah
(Lamine dkk., 2007). Selain itu, teknik SBR memberikan keuntungan berupa
kebutuhan lahan yang kecil, biaya operasional yang lebih kecil dan efisiensi
pembentukan bioflok yang tinggi jika dibandingkan dengan sistem lumpur aktif
konvensional. Selama tahap aerasi, terjadi pembentukan lumpur dan oksidasi
amonia menjadi nitrat dan nitrit dan selama tahap pengendapan, lumpur akan
terendapkan dan terjadi proses denitrifikasi (Mahvi, 2008). Beberapa penelitian

PEN/1718/06
2
mengenai pengolahan limbah menggunakan teknik SBR ditunjukkan pada Tabel
1.1.

Tabel 1.1 Penelitian Pengolahan Limbah Menggunakan SBR


Sampel Metode Pengolahan Hasil Referensi
Limbah 1 menit pengisian, 120 Efisiensi penyisihan Li dkk.,
domestik menit aerasi, 60 menit COD 87,5% 2014
(grey water) pengendapan, 20 menit
pengeluaran effluent dan 39
menit pembuangan lumpur.
Limbah Variasi waktu pengisian Kondisi optimum Jamrah
domestik dan reaksi dengan total pada total waktu 5 dkk., 2008
(grey water) waktu 3 sampai 7 jam jam dan penyisihan
dengan volume kerja 20 L. COD berkisar 66%-
94%, padatan
terlarut antara 84-
100%
Limbah Waktu pengisian 30 menit, Hasil menunjukkan Alattabi
Rumah reaksi 240 menit, degradasi senyawa dkk., 2017
Tangga pengendapan 30 menit, organik (COD) dan
dekantasi 30 menit dan nitrogen mencapai
pembuangan lumpur 30 97%.
menit.
Limbah Waktu pengisian Persen removal Dohare &
Edible Oil menggunakan pengisian BOD 98%, Total Meshram,
Refinery teraduk selama 30 menit, Suspended Solid 2014
reaksi 720 menit, (TSS) 97% dan total
pengendapan 35 menit, nitrogen >75%.
dekantasi 30 menit dan
pembuangan lumpur 30
menit.

Banyak penelitian yang telah menggunakan SBR dalam menurunkan nilai


parameter air limbah, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri.
Keberhasilan SBR dalam menurunkan nilai parameter air limbah tergantung kepada
beberapa aspek, termasuk kemampuan mikroba dalam beradaptasi (aklimatisasi)
dengan limbah dan kondisi operasi pengolahan yang diterapkan.

PEN/1718/06
3
I.2 Rumusan Masalah
Metode lumpur aktif menggunakan model SBR memiliki kemampuan untuk
mendegradasi polutan dengan konsentrasi bahan organik yang tinggi dalam air
limbah. Selain itu, efektivitas menggunakan SBR lebih tinggi dibandingkan
teknologi pengolahan limbah secara konvensional (Kader, 2009). Adapun rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh variasi waktu aerasi terhadap penurunan nilai parameter
kualitas limbah cair kantin?
2. Bagaimana pengaruh variasi konsentrasi air limbah terhadap penurunan nilai
parameter kualitas limbah cair kantin?
3. Bagaimana pengaruh jenis inokulum terhadap penurunan nilai parameter
kualitas limbah cair kantin?

I.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh variasi waktu aerasi,
konsentrasi air limbah dan jenis inokulum pada sistem lumpur aktif model SBR
terhadap nilai parameter COD, minyak dan lemak serta total fosfat pada limbah cair
kantin.

I.4 Ruang Lingkup


Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan sebelumnya, maka dalam
pelaksanaan penelitian ini digunakan batasan masalah. Adapun ruang lingkup
dalam penelitian ini yaitu :
1. Jenis reaktor yang digunakan adalah Sequencing Batch Reactor (SBR) skala
laboratorium.
2. Sampel air limbah yang digunakan adalah air limbah kantin Institut Teknologi
Del.
3. Variasi percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah (i) waktu aerasi,
(ii) konsentrasi air limbah, dan (iii) jenis inokulum yang digunakan berasal dari

PEN/1718/06
4
instalasi pengolahan limbah domestik dan kolam aerasi limbah pabrik kelapa
sawit.
4. Parameter air limbah yang dianalisis adalah nilai pH, COD, minyak dan lemak
serta total fosfat.

PEN/1718/06
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sequencing Batch Reactor merupakan pengembangan dari sistem lumpur aktif


(activated sludge) dalam mengolah limbah cair dengan memanfaatkan
mikroorganisme dalam keadaan tersuspensi. Limbah cair tersebut dialirkan ke
dalam reaktor dalam waktu tertentu, lalu dilakukan pengolahan dalam reaktor
secara batch. Setelah itu, campuran air limbah dan lumpur (mixed liquor) dialirkan
keluar dari reaktor. Pada bab ini akan dibahas mengenai lumpur aktif secara umum,
jenis sistem lumpur aktif model SBR dilanjut dengan salah satu jenis limbah yang
dapat diolah oleh lumpur aktif, yaitu limbah cair domestik dan karakteristiknya.

II.1 Lumpur Aktif (Activated Sludge)


Lumpur aktif merupakan kumpulan mikroorganisme konsorsium aerobik yang
digunakan untuk mengolah limbah cair yang mengandung konsentrasi bahan
organik yang tinggi (Adonadaga, 2014). Prinsip pengolahan limbah menggunakan
sistem lumpur aktif terdiri dari bak aerasi, clarifier, resirkulasi lumpur, dan
pembuangan lumpur. Di dalam bak aerasi, air limbah yang bercampur dengan
mikroba lumpur aktif dikontakkan dengan udara sehingga terbentuk biomassa yang
baru. Lumpur aktif berupa gumpalan biomassa dipisahkan dari cairan di dalam bak
sedimentasi untuk menurunkan padatan tersuspensi. Lumpur yang mengendap di
dalam bak sedimentasi dipisahkan dengan recycling ke dalam bak aerasi dan
sebagian dibuang (Sperling, 2007). Diagram alir proses lumpur aktif secara umum
dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Influent Effluent

Aeration
Tank Clarifier

Sludge
Wasting
Blower

Return Activated Sludge

Gambar 2.1 Diagram Alir Sistem Lumpur Aktif


(Sumber : Kusiak dan Wei, 2013)

PEN/1718/06
6
Proses penguraian senyawa organik terjadi karena adanya mikroorganisme yang
termasuk ke dalam kelompok kemoheterotrof, yaitu campuran banyak jenis bakteri
yang menggunakan bahan organik di dalam air limbah sebagai sumber karbon dan
energi. Bakteri di dalam lumpur aktif secara umum terdiri atas bakteri gram negatif
termasuk bakteri pengoksidasi karbon dan nitrogen. Beberapa kelompok bakteri
yang ditemukan pada lumpur aktif pada Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL)
domestik adalah Pseudomonas, Arthrobacter, Bacillus, Flavobacterium,
Cytophaga, Zooglaea, Sphaerotilus, Nitrosomonas, Nitrobacter, Acinetobacter,
Achromobacterium, Alcaligenes, dan Nocardia (Shchegolkova dkk., 2016). Jenis
bakteri yang berada di lumpur aktif limbah cair pabrik kelapa sawit adalah
Micrococcus luteus, Stenotrophomonas maltophilia, Providencia vermicola,
Klebsiella pneumoniae, Bacillus cereus dan Bacillus subtilis (Bala dkk., 2014).

Pseudomonas dan Arthrobacter merupakan bakteri pengurai bahan organik berupa


karbohidrat kemudian menguraikannya menjadi karbon dioksida dan air. Bacillus
dan Flavobacterium merupakan bakteri pengurai protein menjadi amonia, karbon
dioksida dan air. Cytophaga merupakan bakteri yang berperan dalam
pendegradasian selulosa, sedangkan Zooglaea merupakan bakteri yang berperan
dalam pembentukan flok dalam lumpur aktif. Sphaerotilus merupakan bakteri yang
menyebabkan proses bulking pada lumpur aktif. Nitrosomonas, Nitrobacter,
Bacillus dan Pseudomonas berperan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi,
sedangkan Nocardia berperan dalam degradasi hidrokarbon (Shchegolkova dkk.,
2016).

Parameter yang umum digunakan dalam sistem lumpur aktif (Metcalf dan Eddy,
2003) adalah :
1. Mixed-Liquor Suspended Solids (MLSS)
Lumpur di tangki aerasi dalam sistem lumpur aktif disebut sebagai mixed
liquor atau lumpur campuran. MLSS adalah jumlah total dari padatan
tersuspensi yang berupa material organik dan mineral, dan mikroorganisme.

PEN/1718/06
7
Di dalam unit pengolahan limbah secara lumpur aktif, konsentrasi MLSS harus
dijaga pada rentang 3.000-5.000 mg/L.
2. Food to Microorganism Ratio (F/M Rasio)
Rasio F/M menunjukkan beban organik yang masuk ke dalam sistem lumpur
aktif dalam kilogram BOD per kilogram MLSS per hari. Rasio F/M dikontrol
oleh laju sirkulasi lumpur aktif. Lebih tinggi laju sirkulasi lumpur aktif lebih
tinggi pula rasio F/M-nya. Pada jenis sistem lumpur aktif konvensional, rasio
F/M yang digunakan adalah 0,2-0,5 ppm BOD5/hari/ppm MLSS. Rasio F/M
yang lebih kecil dari 0,2 ppm BOD5/hari/ppm MLSS mencerminkan bahwa
mikroorganisme dalam tangki aerasi dalam kondisi lapar, sehingga pengolahan
limbah semakin efisien.
3. Hydraulic Retention Time (HRT)
Waktu tinggal cairan dalam reaktor merupakan waktu yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme berkontak dengan air limbah. Parameter desain model SBR
menurut Metcalf & Eddy (2003) berkisar 15-40 jam. Apabila di bawah waktu
tinggal minimum, maka akan terjadi wash out, yaitu konsentrasi zat organik
limbah yang masuk sama dengan konsentrasi yang keluar.
4. Laju Beban BOD/COD
Laju beban BOD/COD adalah jumlah BOD/COD yang dimasukkan ke dalam
volume bak aerasi per hari (kg/m3 hari). Secara umum, laju beban BOD/COD
yang tinggi menyebabkan tingginya kebutuhan oksigen dalam sistem aerasi.
Laju beban konsentrasi air limbah dapat divariasikan. Variasi konsentrasi air
limbah 50, 80 dan 100% bertujuan untuk mengetahui kemampuan SBR dalam
menurunkan nilai parameter kualitas air limbah terhadap nilai COD dan BOD
yang fluktuatif (Indriani, 2006).
5. Umur lumpur (Sludge age)
Umur lumpur adalah waktu tinggal rata-rata mikroorganisme dalam sistem.
Solid Retention Time (SRT) memiliki waktu yang lebih lama dibandingkan
HRT dalam tangki aerasi. Parameter ini berbanding terbalik dengan laju
pertumbuhan mikroba dengan variasi waktu antara 5-15 hari dalam sistem
lumpur aktif lumpur konvensional.

PEN/1718/06
8
Pada sistem lumpur aktif terdapat dua desain sistem yaitu, sistem lumpur aktif
konvensional dan sequencing batch reactor (SBR). Jenis sistem lumpur aktif
konvensional memerlukan unit pengendapan yang berbeda untuk memisahkan
padatan dengan cairan, sedangkan sistem operasi SBR menggabungkan tahap
ekualisasi aliran, reaksi dan pengendapan dicapai dalam satu reaktor sehingga
mengurangi penggunaan tangki clarifier (Dutta dan Sarkar, 2015). Kelebihan dan
kekurangan sistem lumpur aktif konvensional dan SBR ditunjukkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Perbandingan Sistem Lumpur Aktif dan SBR


Proses Kelebihan Kekurangan
Sistem Efisiensi penghapusan kadar Desain dan operasional
lumpur aktif amonia yang tinggi. untuk pengaturan aerasi
konvensional lebih kompleks.
SBR Proses lebih sederhana karena Debit aliran influent yang
tidak mengunakan tangki fluktuatif akan mengganggu
clarifier dan pompa recycle kondisi operasi.
lumpur Return Activated
Sludge (RAS). Beberapa desain
menggunakan alat aerasi
Sistem operasional lebih dengan efisiensi yang
fleksibel karena dapat rendah.
mengubah kondisi
operasional. Kontrol proses lebih rumit.

Bisa diaplikasikan pada


berbagai ukuran instalasi.

(Sumber : Metcalf dan Eddy, 2003)

II.2 Sequencing Batch Reactor (SBR)


Sequencing Batch Reactor (SBR) adalah suatu metode dalam pengolahan air
limbah dengan proses aerasi dan sedimentasi pada satu reaktor yang dilakukan
secara batch dengan ditambahkannya lumpur aktif ke dalam reaktor tersebut. Pada
SBR, air limbah dimasukkan ke dalam reaktor batch dan akan berkontak dengan
mikroorganisme untuk menurunkan kadar konsentrasi bahan-bahan organik lalu air
limbah yang mengandung konsentrasi bahan organik yang rendah dialirkan keluar
(Mahvi, 2008). Lumpur yang digunakan terlebih dahulu diadaptasikan atau

PEN/1718/06
9
diaklimatisasi dengan air limbah yang akan diolah sebelum digunakan.
Keseluruhan tahap aklimatisasi dilakukan pada reaktor yang teraerasi. Setiap 2 hari
pada setiap tahapan akan dilakukan pengamatan terhadap nilai COD yang masuk
dan yang keluar. Titik akhir aklimatisasi pada tahap 1 dicapai ketika efisiensi
reduksi COD steady state, artinya efisiensi penghilangan COD stabil terhadap
waktu, setelah efisiensi penghilangan COD telah stabil, kemudian dapat dilanjutkan
pada tahap selanjutnya (Mukhtar dkk., 2017). Selama tahap aklimatisasi pH dijaga
antara pH 6-8 dengan penambahan asam dan basa. Grafik reduksi COD terhadap
waktu dapat dilihat pada Gambar 2.2.

14000
13000
COD (mg/L)

12000
11000
10000
9000
8000
0 2 4 6
waktu (hari)
Gambar 2.2 Penurunan Nilai COD Selama Aklimatisasi
(Sumber: Mukhtar dkk., 2017)

Mekanisme proses SBR terdiri dari lima tahap dalam setiap siklus, yaitu tahap
filling, tahap reaction (aerasi), tahap settling (sedimentasi), tahap
drawing/decanting dan tahap idling (Metcalf dan Eddy, 2003). Skema dari lima
tahap tersebut ditampilkan pada Gambar 2.3.
Influent
FILL

± Mixing
REACT
± Aeration
IDLE
Waste
Sludge

± Mixing ± Mixing
± Aeration ± Aeration

SETTLE
DECANT

Treated
Water
- Mixing - Mixing
- Aeration - Aeration

Gambar 2.3 Tahap Siklus Operasi SBR


(Sumber: NEIWPACC, 2005)

PEN/1718/06
10
Menurut (NEIWPACC, 2005), penjelasan dari Gambar 2.3 adalah sebagai berikut:
a) Fill (Pengisian)
Pada tahap pengisian, aliran limbah masuk dialirkan ke dalam bak aerasi.
Kandungan bahan organik di air limbah digunakan oleh mikroorganisme di
dalam lumpur aktif sebagai substrat. Pengadukan atau aerasi divariasikan selama
tahap pengisian untuk menciptakan kondisi yang berbeda yaitu pengisian statis,
pengisian teraduk dan pengisian teraerasi. Pada pengisian statis, tidak dilakukan
proses pengadukan atau aerasi sehingga tidak terjadi proses nitrifikasi maupun
denitrifikasi. Selain itu, proses ini lebih menghemat biaya operasi karena
mengurangi penggunaan energi. Pengisian teraduk dilakukan tanpa proses aerasi
dan menggunakan pengaduk (mixer). Kondisi ini menyebabkan terjadinya
proses denitrifikasi. Pengisian teraerasi dilakukan dengan proses aerasi yang
akan menyebabkan tercapainya proses nitrifikasi maupun penurunan zat organik.
b) Reaksi
Pada tahap ini aliran limbah influent tidak dialirkan lagi sehingga tidak ada
penambahan volume air limbah ke dalam reaktor. Proses pengadukan dan aerasi
tetap berjalan selama proses reaksi sehingga terjadi penurunan kadar bahan
organik.
c) Pengendapan
Pada tahap ini, lumpur aktif dibiarkan mengendap dalam kondisi tenang dengan
tidak dilakukan pengadukan dan aerasi sehingga terbentuk flokulan. Flokulan
berupa granular aerob harus memiliki kecepatan pengendapan yang tinggi, maka
dari itu tahap ini merupakan tahap yang sangat penting, karena jika ada granular
aerob yang tidak bisa mengendap secara cepat, maka granular tersebut akan ikut
keluar, sehingga menurunkan kualitas effluent.
d) Dekantasi dan Pengaliran Effluent Keluar
Setelah tahap pengendapan selesai, sinyal dikirimkan ke decanter sehingga valve
untuk pengaliran limbah dibuka. Salah satu jenis decanter yang digunakan
adalah jenis terapung karena decanter terapung bisa menjaga lubang inlet agar
tetap berada pada permukaan air sehingga meminimalkan terbawanya lumpur
aktif pada effluent.

PEN/1718/06
11
e) Idle (Pembuangan Lumpur)
Pada tahap ini, dilakukan pembuangan lumpur aktif yang berada pada bagian
bawah SBR dengan jumlah volume yang ditentukan. Tahap ini biasanya
dilakukan diantara tahap dekantasi dan tahap pengisian.

Salah satu jenis limbah yang banyak menggunakan sistem SBR adalah limbah cair
perkotaan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kader (2009) dalam pengolahan
limbah perkotaan menggunakan SBR dapat mengurangi BOD 97,4%-98,1%,
pengurangan total padatan tersuspensi sebesar 93,6% hingga 95,5 %, dan
pengurangan amonia 96,3% - 99,0%. Adapun desain reaktor yang dipakai untuk
pengolahan limbah domestik dapat dilihat pada Gambar 2.4. Penelitian lain
mengenai pengolahan limbah menggunakan sistem SBR ditunjukkan pada Tabel
2.2.
Sequencing Batch Reactor

Influent
Discharge

Equalization Tank
Gambar 2.4 Desain Sequencing Batch Reactor (SBR)
(Sumber : Kader, 2009)

Penelitian mengenai pengolahan limbah domestik menggunakan jenis reaktor SBR


pada skala laboratorium menghasilkan persen pengurangan BOD hingga 91%,
nitrogen sebesar 98% dan total fosfat sebesar 98% dengan skema yang dapat dilihat
pada Gambar 2.5 (Chang dan Hao, 1996).
Feed Reservoir
DAC/PC

Air vent
Pump

Pump
Valve

Effluent
Reservoir
Magnetic
Compressed stirrer
Air

Gambar 2.5 Skema Percobaan dengan Sequencing Batch Reactor (SBR)


(Sumber:Chang dan Hao, 1996)

PEN/1718/06
12
Tabel 2.2 Reduksi Nilai Parameter Air Limbah Menggunakan Teknik SBR
Sampel BOD COD Nitrogen Fosfor TSS Referensi
(%) (%) (%) (%) (%)
Limbah 97,8 95,5 56-84,2 12,2- - Mahvi,
tapioka sintetik (Total 14,4 2008
Nitrogen)
Limbah 96,8 93 57,9-71,4 68, 96,7 Lamine
domestik (Total dkk.,
(grey water) Nitrogen) 2007
Landfill 83 75 44 44 - Zhou
leachate (NH4-N) dkk.,
2006
Limbah 80-82 83 78 (Total - - Guo dkk.,
Industri Tekstil Nitrogen) 2007

II.3 Karakteristik Limbah Domestik


Salah satu jenis limbah yang dapat diolah oleh lumpur aktif adalah limbah cair
domestik. Limbah cair domestik berasal dari perkantoran atau pemukiman (real
estate), rumah makan, apartemen, asrama dan lain-lain. Limbah cair domestik
mengandung 99,9 % air dan 0,1 % zat padat. Zat padat tersebut terdiri dari protein
65 %, karbohidrat 15 % dan lemak 10 % dan sisanya adalah zat anorganik berupa
butiran pasir dan logam (Doraja, 2012). Pada Tabel 2.3 dipaparkan pula nilai baku
mutu air limbah domestik sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan No. 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Limbah Domestik.

Tabel 2.3 Karakteristik dan Standar Baku Mutu Air Limbah Domestik
Parameter Satuan Konsentr Kadar Maksimum
asi
pH - 5-8 6-9
TSS mg/L 85 30
BOD mg/L 994 30
COD mg/L 1520 100
Total nitrogen mg/L 70 10
Total fosfor mg/L 12 2
Minyak dan lemak mg/L 100 5
7 10 3000
Total coliform MPN/100 mL 10 -10
(Sumber : Metcalf dan Eddy, 2003 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan No. 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Limbah Domestik)

PEN/1718/06
13
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

III.1 Tahapan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh lumpur aktif dalam
menurunkan nilai parameter COD, total fosfat serta minyak dan lemak pada limbah
kantin Institut Teknologi Del, menggunakan model SBR dengan mempelajari
variasi waktu aerasi, konsentrasi (beban organik) air limbah dan jenis inokulum.
Tahapan penelitian terdiri dari 2 tahapan utama, yaitu persiapan lumpur aktif dan
proses utama. Secara garis besar tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Lumpur aktif
dari proses seeding

Sampel limbah cair


Aklimatisasi
kantin Tahap persiapan

Sampel limbah cair Pengolahan


Effluent
kantin limbah

Sampel limbah cair


kantin
Proses Utama

Gambar 3.1 Tahapan Penelitian

1. Persiapan Lumpur Aktif


Persiapan lumpur aktif yang dilakukan berupa tahapan seeding dan aklimatisasi
berfungsi untuk persiapan awal lumpur aktif yang digunakan pada proses utama.

PEN/1718/06
13
Proses adaptasi dilakukan terhadap lingkungan yang baru agar inokulum tidak
mengalami shock organic loading terhadap lingkungan baru.

2. Proses Utama
Proses utama pada penelitian ini adalah pemanfaatan lumpur aktif untuk
mengolah limbah cair domestik menggunakan model SBR. Variasi yang
digunakan pada penelitian ini adalah jenis inokulum, waktu aerasi dan
konsentrasi beban organik air limbah. Variasi jenis inokulum dan waktu aerasi
dilakukan untuk menentukan jenis inokulum dan persen penyisihan yang lebih
efektif dan efisien dalam menurunkan nilai organik-organik yang ada pada
limbah cair kantin. Konsentrasi beban organik pada limbah cair kantin
divariasikan yang bertujuan untuk menentukan kemampuan inokulum dalam
menurunkan bahan organik limbah cair yang fluktuatif setiap harinya.

III.2 Alat dan Bahan


III.2.1 Peralatan yang Digunakan
6,8 cm

Limbah cair P-01


kantin
46 cm

T-01

Udara

B-01

T-02
Keterangan :
T-01 = Galon berkeran
P-01 = Pompa udara
T-02 = Reaktor SBR
D-01 = Diffuser udara
B-01 = Bola pengapung Effluent
D-01

22 cm

lumpur

Gambar 3.2 Susunan Alat Percobaan Pengolahan Air Limbah Kantin

PEN/1718/06
14
Keterangan Gambar 3.2 :

T-01 = Galon berkeran, berfungsi sebagai tempat penyimpanan air umpan limbah
kantin sebelum dialirkan ke reaktor SBR. Galon berkeran ini memiliki volume 19
L dengan diameter alas 26 cm dan tinggi 46 cm dan terbuat dari bahan plastik HDPE
(High Density Polyethylene).

P-01 = Pompa udara, berfungsi sebagai penyuplai udara pada proses aerasi. Pompa
udara yang digunakan adalah resun air-3000 dengan kapasitas laju alir udara 360
L/jam dan memiliki 2 cabang keluaran udara.

T-02 = Reaktor SBR, merupakan tempat terjadinya reaksi, aerasi dan sedimentasi.
Reaktor SBR dilengkapi dengan keran (valve) sebagai tempat keluarnya air limbah
yang sudah diproses dan juga keluarnya lumpur yang tidak digunakan lagi melalui
selang. Selang yang digunakan untuk influent dan effluent memiliki panjang 40 cm.
Reaktor SBR memiliki volume 12 L dengan diameter alas 22 cm dan tinggi 32 cm
yang terbuat dari bahan kaca. Pada proses pengisihan air limbah digunakan selang
jenis falcon memiliki panjang 1 m.

D-01 = Diffuser udara, berfungsi untuk mendistribusikan udara secara merata ke


setiap bagian dari reaktor SBR dan membantu dalam proses mixing di dalam
reaktor. Diffuser udara yang digunakan pada penelitian ini adalah air stone ASC-
100. Air stone ASC-100 dipilih karena memiliki bentuk geometri diameter 10 cm
yang memungkinkan untuk memberikan udara secara merata ke seluruh bagian
reaktor SBR, Sekaligus membantu proses agitasi karena udara yang keluar dari air
stone ASC-100 memiliki pergerakan bubble.

B-01 = Bola pengapung, merupakan bola dengan bahan styrofoam, yang


dipergunakan untuk mengikat selang keluaran dari limbah cair setelah tahapan
sedimentasi, agar permukaan selang selalu di atas dan ketika keran keluaran dibuka
maka selang tidak mengeluarkan sisa lumpur yang mengendap, namun akan
mengeluarkan air yang telah diolah. Bola pengapung ini memiliki diameter bola 5
cm.

PEN/1718/06
15
Peralatan pendukung lainnya yang digunakan untuk karakterisasi dan pengujian
nilai parameter adalah neraca analirik, spektrofotometer, gelas kimia, pipet,
penyaring, tabung reaksi, corong kaca, peralatan distilasi, erlenmeyer, spatula,
oven, dan alat-alat gelas lainnya. Peralatan yang digunakan berasal dari
Laboratorium Tugas Akhir, Fakultas Bioteknologi, Institut Teknologi Del.

III.2.2 Bahan yang Digunakan


Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah lumpur aktif yang
diperoleh dari instalasi pengolahan air limbah domestik dan kolam aerasi limbah
pabrik kelapa sawit. Bahan sebagai sampel yang akan diolah berupa limbah cair
kantin Institut Teknologi Del. Kemudian pada tahap seeding dan aklimatisasi
digunakan medium sintesis yang dapat dilihat pada Tabel 3. 1. Bahan lain yang
dibutuhkan adalah larutan untuk pengujian pH, COD, total fosfat serta minyak
lemak.

Tabel 3.1 Bahan Pembuatan Medium Sintesis


Senyawa Jumlah (b/v)
Glukosa 2
K2HPO4 1
KH2PO4 0,5
KNO3 0,01
(Sumber: Amanda, 2011)

III.3 Prosedur Kerja


Prosedur kerja dilakukan dalam 5 tahap diantaranya, persiapan sampel, seeding,
aklimatisasi, proses utama, dan pengukuran nilai parameter air limbah. Diagram alir
prosedur kerja dapat dilihat pada Gambar A.1 di Lampiran A.

III.3.1 Persiapan Sampel


Limbah cair yang digunakan sebagai sampel pada penelitian diperoleh dari kantin
Institut Teknologi Del, yaitu limbah cair yang berasal dari sisa pencucian, sisa
makanan, minyak sisa penggorengan, dan sisa limbah cair lainnya yang dibuang ke
tempat pembuangan. Setelah sampel dikumpulkan dalam satu wadah maka

PEN/1718/06
16
dilakukan screening dengan saringan, untuk menyisihkan padatan seperti sampah
organik maupun non-organik. Cairan yang diperoleh setelah proses screening akan
dijadikan sebagai sampel pada penelitian. Setiap air limbah yang telah dipersiapkan
dikarakterisasi terlebih dahulu sebelum dilakukan percobaan.

III.3.2 Seeding
Lumpur aktif yang digunakan untuk penelitian ada dua, yaitu M1 adalah lumpur
aktif yang diperoleh dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Ajibata,
Sumatera Utara dan M2 adalah lumpur aktif yang diperoleh dari pengolahan limbah
aerobik pabrik kelapa sawit. Lumpur aktif yang telah diperoleh, kemudian
dikembangbiakkan untuk mendapatkan jumlah biomassa yang mencukupi dalam
proses utama. Pada proses seeding, lumpur aktif diberikan penambahan nutrien
sebanyak 100 mL dan diaerasi. Proses ini dilakukan secara terus menerus sehingga
mencapai nilai MLSS 2000-5000 (mg/L) (Metcalf dan Eddy, 2003). Nilai tersebut
mengindikasikkan bahwa lumpur aktif telah siap untuk dilanjutkan ke tahap
aklimatisasi. Pada tahapan seeding, dilakukan juga kontrol terhadap nilai pH larutan
lumpur aktif. Nilai pH yang dimaksud berkisar antara 6 – 8. Apabila nilai pH tidak
sesuai dengan nilai yang dimaksudkan maka akan ditambahkan larutan asam dan
basa.

III.3.3 Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan proses adaptasi mikroorganisme terhadap limbah cair yang
diolah. Proses adaptasi M1 dan M2 dilakukan pada suhu ruangan (25-27°C) untuk
menyesuaikan suhu pengolahan di lingkungan yang baru. Pada proses ini, larutan
diberikan larutan medium sintesis yang dapat dilihat pada Tabel 3. 1. Aklimatisasi
dilakukan dengan volume kerja 8 L, volume lumpur yang dimasukkan ke dalam
reaktor sebanyak 4 L. Aklimatisasi yang dilakukan pada percobaan ini terbagi atas
2 tahap yang dapat dilihat pada Tabel 3. 2. Diagram alir proses aklimatisasi dapat
dilihat pada Gambar A. 2 Lampiran A.

PEN/1718/06
17
Tabel 3.2 Tahapan Aklimatisasi
Lumpur aktif Medium
Aklimatisasi Air limbah (L)
(L) sintesis (L)
Tahap I 4 2 2
Tahap II 4 0 4

III.3.4 Proses Utama


Pengolahan air limbah kantin dengan lumpur aktif dilakukan dengan model SBR
dimana proses aerasi dan proses sedimentasi digabungkan dalam satu wadah.
Tahapan yang dilakukan pada percobaan ini adalah pengisian, aerasi, pengendapan
dan dekantasi dengan model kerja yang dapat dilihat pada Gambar 3.2. Tahap
pengisian, pengendapan dan dekantasi merupakan variabel tetap dengan waktu
proses berturut-turut, 10 menit, 1,5 jam dan 0,25 jam. Pada tahap pengisian tanpa
adanya proses aerasi maupun pencampuran, air limbah kantin Institut Teknologi
Del dimasukkan ke dalam reaktor SBR dengan volume 4 L yang telah berisi 4 L
inokulum. Proses aerasi kemudian dilakukan dengan variasi 6 jam dan 12 jam,
selanjutnya dilakukan tahapan pengendapan. Tahapan pengendapan akan selesai
ketika terlihatnya 2 fasa pada reaktor, di bagian atas terlihat air yang mulai jernih
dan di bagian bawah adalah padatan inokulum dan organik yang tersedimentasi.
Setelah padatan mengendap maka effluent dikeluarkan dari reaktor (dekantasi).
Siklus operasional SBR dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Siklus Operasional Sequencing Batch Reactor


Proses Waktu operasional
Pengisian umpan air limbah 10 menit
Sedimentasi 1,5 jam
Dekantasi 0,25 jam
Aerasi 6 dan 12 jam

III.3.5 Pengukuran Nilai Parameter


Parameter yang diteliti adalah pH, COD, total fosfat dan minyak dan lemak.
Parameter-parameter tersebut dapat diuji dengan metode yang dapat dilihat pada
Tabel 3.4.

PEN/1718/06
18
Tabel 3.4 Metode Pengujian Parameter Penelitian
Parameter Referensi
pH SNI 06-6989.11-2004
COD SNI 6989.73:2009
TSS SNI 06-6989.3-2004
Total fosfat SNI 06-6989.31-2005
Minyak dan lemak SNI 6989.10:2011
(Sumber: Standar Nasional Indonesia)

Data yang telah diperoleh dari pengukuran parameter akan dianalisis, dan
dibandingkan dengan nilai parameter sampel sebelum diolah, dan dari nilai
perbandingan tersebut akan diperoleh perubahan nilai influent dan effluent.
Prosedur kerja pengujian parameter dapat dilihat pada lampiran B.

III.5 Variasi Percobaan


Pada penelitian ini, dilakukan variasi terhadap jenis inokulum, konsentrasi beban
organik, dan waktu aerasi dengan dua kali pengulangan dalam pengambilan data.
Skema variasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Skema Variasi Percobaan


Konsentrasi beban
Variasi Jenis inokulum Waktu aerasi (jam)
organik (%)
Percobaan
M1 M2 50 100 6 12
1 ✓ ✓ ✓
2 ✓ ✓ ✓
3 ✓ ✓ ✓
4 ✓ ✓ ✓
5 ✓ ✓ ✓
6 ✓ ✓ ✓
7 ✓ ✓ ✓
8 ✓ ✓ ✓

PEN/1718/06
19
III. 5 Interpretasi data

Proses pengolahan limbah kantin kampus Institut Teknologi Del dengan


menggunakan lumpur aktif yang telah dilakukan memperoleh hasil persentase
reduksi nilai parameter COD, minyak dan lemak, serta total fosfat. Persamaan yang
digunakan untuk menentukan besar reduksi adalah sebagai berikut:

konsentrasi awal − konsentrasi akhir


%reduksi = × 100%
konsentrasi awal

PEN/1718/06
20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan ditampilkan data-data hasil penelitian dan pembahasan terhadap
pengolahan air limbah kantin menggunakan sistem lumpur aktif model SBR.
Pembahasan pada bab ini terfokus pada analisis karakteristik air limbah kantin,
proses seeding dan aklimatisasi, penyisihan nilai COD, minyak dan lemak serta
fosfat. Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan nilai parameter air limbah
dalam penelitian ini adalah waktu aerasi dan sumber inokulum yang digunakan..

IV.1 Analisis Karakteristik Air Limbah Kantin


Analisis karakteristik air limbah perlu dilakukan untuk memperoleh nilai dari
parameter air limbah kantin kampus IT Del yang akan digunakan pada penelitian.
Nilai parameter air limbah tersebut kemudian dibandingkan dengan baku mutu air
limbah yang dapat dibuang ke lingkungan. Hasil analisis parameter air limbah
kantin ditampilkan pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Karakteristik Air Limbah Kantin


Parameter Nilai Batas Baku Mutu Satuan
COD 391,33 100 mg/L
Fosfat 8,45 2 mg/L
Minyak Lemak 148,939 5 mg/L
pH 7,48 6-9 -

Nilai parameter BOD pada limbah cair kantin diasumsikan 68% dari nilai COD
(Metcalf &Eddy, 2003), maka diperoleh nilai BOD sebesar 266,1 mg/L.
Berdasarkan pada Triangle Zone (Gambar 4.1), rasio BOD/COD sebesar 0,67
menunjukkan bahwa limbah cair kantin yang digunakan pada penelitian dapat
diolah secara biologis. Rentang rasio BOD/COD 0,1-1 merupakan kondisi dimana
bahan organik yang terdapat pada limbah dapat diuraikan oleh mikroorganisme
(Mangkoedihardjo dan Samudro., 2010). Batasan rasio BOD/COD antara 0,1-1
dibagi menjadi beberapa tingkatan, diantaranya biodegradable rendah, sedang dan

PEN/1718/06
21
tinggi, namun untuk menentukan tingkatan tersebut dibutuhkan penelitian yang
lebih lanjut (Mangkoedihardjo dan Samudro, 2010).

1
Bioderadable
zone

BOD/COD 0,1

Acceptable/
Toxic zone
stable in zone
0
LS A 10
BOD (mg/L) 50 MP 100
LS N 60.000

LS A 10
COD (mg/L) 100 MP 100
LS N 60.000

Treatment
3 rd priority 2 nd priority 1 st priority
strategy
LS= Local Standard Value; A= Aquaculture treatment,
MP= Microbial and phytotreatment, N= Natural treatment,
PC = Physical or chemical treatment, PC= physical or
chemical treatment

Gambar 4.1 Triangle Zone rasio BOD/COD


(Sumber: Mangkoedihardjo dan Samudro, 2010)

Pada Gambar 4.1, rasio BOD/COD kurang dari 0,1 mengungkapkan adanya toxic
zone dan acceptable zone. Pada toxic zone, bahan organik yang terkandung dalam
limbah melebihi batas dan berpotensi memiliki efek buruk terhadap
mikroorganisme. Strategi pengolahan terhadap limbah yang beracun berdasarkan
Gambar 4.1 adalah dengan mentransformasikan limbah beracun menjadi limbah
biodegradable. Transformasi dapat dilakukan dengan pengolahan secara fisik
terlebih dahulu dan diikuti pengolahan secara kimia untuk mencapai BOD <100
mg/L dan COD <500 mg/L. Setelah pengolahan secara fisika dan kimia, air limbah

PEN/1718/06
22
telah aman untuk diolah menggunakan mikroorganisme atau secara phytotreatment
untuk mencapai acceptable/stable zone.

IV. 2 Analisis Nilai MLSS pada Proses Seeding


Proses seeding kedua jenis inokulum berlangsung selama 42 hari dan bertujuan
untuk memperbanyak kuantitas mikroba yang akan digunakan pada pengolahan
limbah cair kantin. Nilai MLSS inokulum awal sebelum seeding dilakukan sebesar
12.660 mg/L untuk inokulum dari IPAL domestik (M1) dan 8.460 mg/L untuk
inokulum yang berasal dari PKS (M2). Proses seeding dilakukan dengan
penambahan nutrien setiap hari pada suspensi mikroba yang teraerasi dan
pengambilan sampel uji diasumsikan bahwa nutrien sudah diserap oleh mikroba.
Analisis dilakukan setiap dua hari sekali dengan menyaring lumpur lalu
dikeringkan sampai diperoleh berat kering mikroba. Sumber nutrien yang
digunakan berupa gula pasir, urea dan NPK. Sukrosa berasal dari gula pasir
berfungsi sebagai sumber karbon (C) bagi mikroorganisme, sedangkan urea dan
NPK sebagai sumber nitrogen (N), fosfat (P) dan kalium (K). Gambar 4.2 disajikan
proses seeding pada kedua jenis inokulum.

25000

20000
Inokulum
MLSS (mg/L)

15000 M1
Inokulum
M2
10000 Waktu
(Hari ke- )

5000

0
0 10 20 30 40 50
Waktu (Hari ke-)

Gambar 4.2 Grafik Proses Seeding

Berdasarkan Gambar 4.2, proses seeding inokulum M1 mengalami peningkatan


nilai MLSS sampai hari ke-10, hal tersebut mengindikasikan bahwa pada waktu
retensi 10 hari tersebut komposisi lumpur (bibit) mengalami peningkatan

PEN/1718/06
23
(Sudaryati dkk., 2012). Konsentrasi MLSS yang meningkat juga diakibatkan
mikroorganisme yang mendegradasi sumber nutrien ditambah dengan proses aerasi
sehingga terbentuk lumpur (Liu dan Liptak, 1999). Penambahan nutrien yang cukup
akan memenuhi kebutuhan mikroba terhadap makanannya, sehingga mikroba
mengalami pertumbuhan biomassa (Sudaryati dkk., 2012). Pada hari ke-13 sampai
hari ke-17 terjadi penurunan konsentrasi MLSS menjadi 11.400 mg/L diikuti
dengan penurunan nilai pH dari 5 menjadi 7 (Lampiran E), hal ini disebabkan
pemberian larutan nutrisi berupa urea dan NPK yang menyebabkan kondisi
lingkungan mikroba menjadi asam sehingga terjadi pertumbuhan bakteri
berfilamen yang menyebabkan terbentuknya busa (Herlambang, 2013). Hal yang
sama terjadi pada inokulum M2 yang mengalami penurunan konsentrasi MLSS pada
hari ke-4 sampai hari ke-10 sehingga dilakukan penanggulangan dengan
penambahan NaOH 1 M dan mengurangi sumber nutrien urea dan NPK untuk
membuat kondisi lingkungan mikroba menjadi netral. Pada akhir proses seeding
jumlah inokulum M1 dan M2 telah sesuai dengan rentang tipikal kriteria desain
untuk konsentrasi MLSS pada SBR yaitu 2.000-5.000 mg/L (Metcalf dan Eddy,
2003). Konsentrasi MLSS 2.000-5.000 mg/L memberikan penghapusan kadar
organik yang paling optimal (Al-Attabi dkk., 2017).

IV.3 Proses Aklimatisasi


Aklimatisasi bertujuan untuk memberikan proses adaptasi pada inokulum M1 dan
M2. Aklimatisasi dilakukan dengan memberikan aerasi hingga nilai COD mencapai
steady state. Proses aklimatisasi dilakukan dengan pengontrolan pH, MLSS, dan
nilai COD. Pada proses aklimatisasi akan dilihat penurunan nilai COD hingga
dalam keadaan steady state yang menyatakan bahwa lumpur aktif telah
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses aklimatisasi terdiri dari dua
tahap. Tahap I merupakan tahap awal adaptasi dengan penambahan 2 L medium
sintesis ke limbah cair yang akan diolah. Tahap II adalah tahapan yang hanya
menggunakan limbah cair kantin. Hasil dapat dilihat pada Gambar 4.3 Pada proses
aklimatisasi ini juga dilihat nilai MLSS untuk mengetahui pertumbuhan inokulum
pada lumpur aktif. Nilai MLSS dapat dilihat pada Gambar 4.4.

PEN/1718/06
24
450
400
350

COD (mg/L)
300
250
200
150
100
50
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Hari ke-
Tahap I (lumpur aktif M1) Tahap I (lumpur aktif M2)
Tahap II (lumpur aktif M1) Tahap II (lumpur aktif M2)

Gambar 4.3 Grafik Penyisihan COD mg/L Proses Aklimatisasi

Pada Gambar 4.3 ditampilkan penyisihan COD pada tahap I dan II yang mengalami
perubahan secara fluktuatif baik lumpur aktif M1 maupun M2. Pada lumpur aktif
M1 dapat dilihat terjadi penurunan nilai COD hingga hari ke-3, namun pada hari ke-
5 terjadi kenaikan nilai COD hingga hari ke-14. Terjadinya kenaikan nilai COD
dikarenakan inokulum M1 belum mampu beradaptasi karena mengalami shock
loading terhadap lingkungan yang baru. Kenaikan nilai COD akan sejalan dengan
MLSS yang turun karena inokulum mengalami kematian yang ditampilkan pada
Gambar 4.4.

8000
7000
6000
MLSS (mg/L)

5000
4000
3000
2000
1000
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Hari ke-
Tahap I (Lumpur aktif M1) Tahap I (lumpur aktif M2)
Tahap II (lumpur aktif M1) Tahap II (lumpur aktif M2)
Gambar 4.4 Grafik Nilai MLSS mg/L Proses Aklimatisasi

PEN/1718/06
25
Pada saat inokulum M1 mengalami kematian maka akan menyebabkan kandungan
organik akan bertambah banyak yang dibuktikan dengan pengujian nilai COD
(Haque, 2017). Pada tahap I inokulum M1, hari ke-14 hingga ke-17 mengalami
penurunan nilai COD yang cukup signifikan, hal ini mengindikasikan bahwa
inokulum M1 telah mampu beradaptasi pada lingkungan yang baru hingga hari ke-
20, nilai COD telah mengalami kondisi steady state. Pada tahap I juga dapat dilihat
bahwa inokulum M2 mengalami peningkatan nilai COD hari ke-8 hingga hari ke-
10 karena adanya mikroorganisme yang mengalami kematian, dan kembali turun
hingga steady state pada hari ke-20. Setelah kedua inokulum telah dapat beradaptasi
dengan campuran limbah cair dan medium sintesis, maka akan dilanjutkan kembali
dengan tahap II aklimatisasi. Pada tahap II aklimatisasi, Pada Gambar 4.3 dapat
dilihat bahwa terjadi kenaikan nilai COD hari ke- 4 dan hari ke- 13 pada lumpur
aktif (M1), sedangkan pada lumpur aktif (M2) tidak terjadi kenaikan nilai COD, hal
tersebut disebabkan oleh lumpur aktif telah mampu untuk beradaptasi dengan
lingkunganya. Total proses adaptasi lumpur aktif membutuhkan waktu hingga 41
hari, berbeda dari penelitian (Mukhtar, dkk., 2017) yang hanya membutuhkan 5 hari
untuk menurunkan nilai COD hingga steady state dikarenakan dilakukan nya proses
kimia koagulasi dan flokulasi terhadap limbah sebelum dilakukan nya aklimatisasi.
Pada Gambar 4.4 ditampilkan tren dari nilai MLSS mg/L yang memiliki hubungan
dengan nilai COD. Ketika nilai MLSS turun yang artinya tingkat kematian
mikroorganisme lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhannya seperti pada
hari ke- 14 pada tahap I dan menggunakan inokulum M1. Pada saat nilai MLSS
mengidikasikan terjadinya lisis pada mikroorganisme yang telah mati yang
mengakibatkan terjadi peningkatan kadar organik yang diuji melalui COD mg/L.

IV. 4 Proses Utama


Pada proses utama akan dilakukan analisis hasil penyisihan konsentrasi COD,
Minyak dan lemak serta total fosfat.

PEN/1718/06
26
IV. 4. 1 Analisis Hasil Penyisihan Konsentrasi COD
Pengujian parameter COD didasarkan pada pengujian Standar Nasional Indonesia
yang bertujuan mengetahui hasil penyisihan konsentrasi zat organik pada
pengolahan. Hasil penyisihan nilai COD pada setiap variasi dapat dilihat pada Tabel
4.2.
Tabel 4.2 Efisiensi Penyisihan COD
Variasi
Waktu Penyisihan
Beban
Jenis Inokulum Aerasi (%)
Konsentrasi (%)
(jam)
6 47,83
100
12 62,16
M1
6 33,33
50
12 41,18
6 37,68
100
12 43,24
M2
6 25,00
50
12 29,41

Pada Tabel 4.2 ditampilkan efisiensi penyisihan nilai COD pada setiap variasi.
Hasil penyisihan dari limbah cair kantin dengan konsentrasi beban organik 100%
dan 6 jam waktu aerasi adalah 47,83% untuk inokulum M1 dan 37,68% untuk
inokulum M2, sedangkan pada 12 jam waktu aerasi, untuk masing-masing inokulum
M1 dan M2 memperolah hasil penyisihan COD 62,16% dan 43,24%. Pada
konsentrasi beban organik 50% dan 6 jam waktu aerasi diperoleh hasil penyisihan
untuk masing-masing M1 dan M2 adalah 33,33% dan 25% , sedangakan pada 12
jam waktu aerasi diperoleh persen penyisihan COD adalah 41,18% dan 29,41%
untuk masing-masing inokulum M1 dan M2. Pada hasil pengolahan diketahui bahwa
semakin lama waktu aerasi, maka semakin besar persentase penyisihan nilai COD.
Sesuai dengan penelitian (Arsawan, dkk., 2007) yang melakukan penelitian dengan
72 jam waktu aerasi hingga mencapai nilai COD mg/L sesuai dengan baku mutu
100 mg/L. Konsentrasi beban organik dapat mempengaruhi hasil penyisihan COD,
dari hasil yang diperoleh penyisihan nilai COD pada 100% konsentrasi beban
organik lebih besar dibanding 50% konsentrasi beban organik. Menurut (Widjaja
dan Budhikarjono, 2007), jika jumlah lumpur aktif yang sama dalam satuan mg/L,

PEN/1718/06
27
dan beban organik yang berbeda, maka semakin kecil beban organik, maka semakin
kecil juga penyisihan nilai COD. Hal ini terjadi karena rasio F/M yang tidak
sebanding, sehingga mikroorganisme tidak dapat berkembangbiak dengan baik
yang mengakibatkan tidak terlalu besarnya penyisian nilai COD. Berdasarkan hasil
yang telah diperoleh, maka pada 100% konsentrasi beban organik, dengan 12 jam
waktu aerasi dan jenis inokulum M1 merupakan variasi yang memiliki persentase
penyisihan terbesar.

Proses degradasi kadar organik pada limbah cair dengan persamaan oksidasi
(Gerardi, 2002):

𝑀𝑖𝑘𝑟𝑜𝑜𝑟𝑔𝑎𝑛𝑖𝑠𝑚
protein + O2 → C5 H7 O2 N (𝑐𝑒𝑙𝑙𝑠) + CO2 + H2 O + NH4+ + SO2− 2−
4 + HPO4

Reaksi diatas menunjukkan proses degradasi senyawa organik yang terdiri dari
unsur C, H, O, N, dan S sehingga menjadi produk yang lebih sederhana yang dapat
menurunkan kadar organik, yang pada hal ini diuji dalam COD mg/L. Pada
lingkungan aerobik, dapat diketahui bahwa bahan organik merupakan sumber
energi dan sumber material untuk mikroorganisme. Metabolisme bahan organik
oleh mikroorganisme dalam lingkungan aerobik secara skematis dapat dilihat pada
Gambar 4.5.

Gambar 4.5 Metabolisme bahan organik pada lingkungan aerobik


(Sumber: Lubbe & Haandel, 2012)

PEN/1718/06
28
IV. 4. 2 Analisis Hasil Penyisihan Minyak dan lemak
Pengujian minyak dan lemak bertujuan untuk mengetahui besar penyisihan minyak
dan lemak yang terdapat pada limbah cair kantin selama proses pengolahan. Hasil
penyisihan minyak dan lemak dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Efisiensi penyisihan minyak dan lemak


Variasi
Penyisihan
Beban Konsentrasi Waktu
Jenis Inokulum (%)
(%) Aerasi (jam)
6 42,66
100
12 71,70
M1
6 30,80
50
12 35,26
6 32,03
100
12 38,01
M2
6 29,63
50
12 30,73

Pada Tabel 4.3 ditampilkan efisiensi penyisihan minyak dan lemak pada setiap
variasi. hasil yang diperoleh dari 100% konsentrasi beban organik limbah cair
dengan waktu aerasi 6 jam adalah 42,66% dan 32,03% untuk masing-masing
inokulum M1 dan inokulum M2, sedangkan untuk 12 jam waktu aerasi diperoleh
persentase penyisihan 71,70% untuk inokulum M1 dan 38,01% untuk inokulum M2.
Pada 50% konsentrasi beban organik, dengan waktu aerasi 6 jam, maka diperoleh
persentase penyisihan minyak dan lemak sebesar 30,80% dan 29,63% untuk
masing-masing inokulum M1 dan inokulum M2, sedangkan pada 12 jam waktu
aerasi diperoleh persentase penyisihan kadar minyak dan lemak sebesar 35,26%
untuk inokulum M1 dan 30,73% untuk inokulum M2. Pada pengolahan limbah cair
kantin, diperoleh hasil tertinggi dalam mendegradasi minyak dan lemak adalah
dengan variasi 12 jam waktu aerasi, 100% konsentrasi beban organik dan jenis
lumpur aktif yang digunakan adalah lumpur aktif M1. Pengaruh waktu aerasi pada
penurunan kadar minyak dan lemak diperoleh semakin lama waktu aerasi maka
semakin besar persen penyisihan minyak dan lemak, sesuai dengan penelitian
(Suyasa dan Arsa, 2013) diperolah hasil kadar minyak dan lemak hingga 0 mg/L
yang diaerasi selama 24 jam. Removal minyak dan lemak yang diperoleh dari hasil

PEN/1718/06
29
menunjukkan bahwa dengan 100% konsentrasi beban organik akan memiliki
persentase removal minyak dan lemak yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena
adanya aerasi dan nutrisi dari limbah yang 100% beban organiknya yang
menyababkan pertumbuhan mikroorganisme dan kinerja dalam menguraikan
minyak dan lemak meningkat (Suyasa dan Arsa, 2013).

Degradasi minyak dan lemak terjadi karena minyak dan lemak dengan penyusun
utama triglyceride sebagai substrat digunakan mikroorganisme dalam sistem
metabolismenya yang mengakibatkan populasi mikroba akan meningkat. Langkah-
langkah proses degradasi minyak dan lemak secara aerobik adalah proses
metabolisme untuk mengoptimalkan kontak antara lumpur aktif dan polutan
organik, kemudian gliserol dan asam lemak akan dihidrolisis oleh lumpur aktif, lalu
asam lemak akan diserap oleh lumpur aktif, dengan proses (β-oxidation) asam
lemak akan dikonversi menjadi asetil Co-A, kemudian gliserol akan memasuki jalur
glikolitik (Tzirita, 2012).. Metabolisme degradasi minyak dan lemak ditampilkan
pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Metabolisme Degradasi Triglyceride


(Sumber: Tzirita, 2012)

IV. 4. 3 Analisis Hasil Penyisihan Konsentrasi Fosfat


Analisis penyisihan fosfat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi
penurunan konsentrasi fosfat yang terdapat pada limbah cair kantin selama proses

PEN/1718/06
30
pengolahan. Kadar fosfat awal yang terdapat pada limbah cair kantin yang diteliti
adalah sebesar 8,45 mg/L dan mengalami penyisihan konsentrasi seperti yang
ditampilkan pada Tabel 4.1. Fosfat yang terdapat pada limbah cair kantin
didominasi dalam bentuk orto-fosfat dan sebagian kecil fraksi fosfat organik yang
tergabung dalam protein (Lubbe dan Haandel, 2012).

Tabel 4.2 Hasil Penyisihan Fosfat


Variasi
Beban Konsentrasi Waktu Aerasi Penyisihan
Jenis Inokulum
(%) (Jam) (%)
6 66,24
100
12 95,19
M1
6 69,75
50
12 63,70
6 51,13
100
12 84,44
M2
6 69,75
50
12 52,63

Pada Tabel 4.2 ditampilkan kadar fosfat yang terkandung pada limbah cair kantin.
Persen penyisihan konsentrasi fosfat pada limbah cair kantin 100% dengan waktu
aerasi 6 jam adalah sebesar 66,24% dan 51,13% untuk inokulum M1 dan M2,
sedangkan untuk aerasi 12 jam diperoleh persen penyisihan sebesar 95,19% dan
84,44% untuk masing-masing inokulum M1 dan M2. Persen penyisihan konsentrasi
fosfat pada limbah cair kantin dengan beban organik 50% dan waktu aerasi 6 jam
adalah sebesar 69,75% dan 59,78% untuk masing-masing inokulum M1 dan M2.
Penyisihan konsentrasi fosfat disebabkan oleh mikroorganisme yang terdapat pada
lumpur aktif memanfaatkan senyawa fosfat untuk pembentukan adenosin trifosfat
(ATP) (Fulazzaky, 2009). Pembentukan ATP tersebut digunakan oleh
mikroorganisme untuk membentuk asam nukleat dan menambah massa lumpur
(Grady dkk., 1999) dengan mekanisme metabolisme ditampilkan pada Gambar 4.7.
Pada sistem SBR kondisi penyisihan kadar fosfat terjadi pada tahap pengisian,
tahap pengendapan dan tahap dekantasi. Pada tahap tersebut senyawa fosfat akan

PEN/1718/06
31
dilepaskan ke fasa cair kemudian terjadi penyerapan senyawa fosfat oleh bakteri.
Persen penyisihan konsentrasi fosfat oleh inokulum M1 dan M2 tidak jauh berbeda
dikarenakan jenis bakteri yang terkandung pada setiap inokulum untuk mengolah
limbah cair kantin memiliki jenis bakteri yang termasuk kedalam golongan PAO
(Polyphosphate accumulating organisms) seperti Pseudomonas, E.coli dan
Mycobacterium.

Gambar 4.7 Mekanisme Metabolisme Bakteri Pendegradasi Fosfat


( Sumber : Lubbe dan Haandel, 2012)

PEN/1718/06
32
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V. 1 Kesimpulan
Analisis data dan pembahasan pada penelitian pengolahan limbah cair kantin
menggunakan sistem SBR menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kondisi perlakuan waktu aerasi dan jenis inokulum mempengaruhi kualitas
limbah cair kantin. Reaktor dengan konsentrasi limbah cair kantin 100%,
waktu aerasi 12 jam dan inokulum M1 memiliki efisiensi penyisihan
konsentrasi COD, fosfat dan minyak lemak tertinggi mencapai 62%,
95,19% dan 72%. Sedangkan untuk waktu aerasi 6 jam menunjukkan
penyisihan konsentrasi COD, fosfat serta minyak lemak tertinggi berturut-
turut adalah 48%, 66,24% dan 43%.
2. Reaktor dengan konsentrasi 50% beban organik dengan durasi waktu aerasi
6 jam dan menggunakan inokulum M2 memiliki efisiensi penyisihan
konsentrasi COD, fosfat dan minyak lemak tertinggi mencapai 25%,
69,75% dan 30%.

V. 2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka beberapa saran untuk penelitian
terkait selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penambahan pengaduk pada tahap reaksi sehingga lumpur
aktif homogen dengan air limbah dan tidak mengendap pada dasar reaktor.
2. Waktu tinggal pada tahap reaksi diperpanjang agar mendapatkan persen
removal organik yang lebih besar.

PEN/1718/06
33
DAFTAR PUSTAKA

Adonadaga, M. G., 2014. Nutrient Removal Efficiency of Activated Sludge Plants


Treating Industrial and Municipal Wastewater in Ghana. Journal of
Environment Pollution and Human Health, 2(3), pp. 58-62.
Alattabi, A., Harris, C. & Alzeyadi, A., 2017. Online Monitoring of a Sequencing
Batch Reactor Treating Domestic Wastewater. Procedia, Volume 196, pp.
800-807.
Alaydrus, F. F. dkk., 2015. Seeding dan Aklimatisasi Aerob, Palembang: Politeknik
Negeri Sriwijaya.
Arsawan, M., Suyasa, I. W. B. & Suarna, W., 2007. Pemanfaatan Metode Aerasi
Dalam Pengolahan Limbah Berminyak. Ecotrophic, II(2), pp. 1-9.
Bala, J. D., Lalung, J. & Ismail, N., 2014. Biodegradation of palm oil mill effluent
(POME) by bacterialI. Internetional Journal Scientific and Research
Publication, 4(3), pp. 27-32.
Chang, C. H. & Hao, O. J., 1996. Sequencing Batch Reactor System for Nutrient
Removal: ORP and pH Profiles. Chem.Tech.Biotecnol, Volume 67, pp. 27-
38.
Dohare, D. & Meshram, R., 2014. Biological Treatment of Edible Oil Refinery
Wastewater using Activated Sludge Process and Sequencing Batch
Reactors. Scientific Journal Impact Factor, 3(12), pp. 251-260.
Dutta, A. & Sarkar, S., 2015. Sequencing Batch Reactor for Wastewater Treatment
Recent Advances. Curr Pollution Rep, 1(1), pp. 177-190.
Elmolla, E. S. & Chaundhuri, M., 2012. Optimization of Sequencing Batch Reactor
Operating Conditions for Treatment of High-strength Pharmaceutical
Wastewater. Journal of Environmental Science and Technology, 5(6), pp.
452-459.
Fulazzaky, M. A., 2009. Carbonaceous, Nitrogenous and Phosphorus Matters
Removal From Domestic Wastewater By An Activated Sludge Reactor Of
Nitrification-Denitrification. Journal of Engineering Science and
Technology, 4(1), pp. 69-80.
Gerardi, M. H., 2002. Settleability Problems and Loss of Solids in The Activated
Sludge Process. America: John Wiley and Sons, Inc.
Grady, C. L., Daigger, G. T. & Lim, H. C., 1999. Biological Wastewater Treatment.
2 ed. New York: Marcel Dekker.

PEN/1718/06
34
Guo, J. dkk., 2007. Biological Nitrogen Removal with real time control using step-
feed SBR Technology. Enzym Microbe, Volume 40, pp. 1564-1569.
Haque, E. A., 2017. Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Lumpur
Aktif Model SBR Skala Laboratorium, Surabaya: Dep. Teknik Lingkungan,
ITS.
Herlambang, A., 2013. Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri. Publikasi
Ilmiah. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.
s
Jamrah, A., Futaisi, A. A., Ahmed, M. & Abri, A. A., 2008. Biological treatment of
greywater using sequencing batch reactor technology. International Journal
of Environmental Studies, 65(1), pp. 71-85.
Kader, M. A., 2009. Comparation study between sequencing batch reactor and
conventional activated sludge by using simulation mathematical model.
Alexandria, IWTC 13, pp. 693-702.
Kaewkannetra, P., Imai, T., Garcia, F. J. & Chiu, T. Y., 2009. Cyanide removal
from cassava mill wastewater using Azotobactor vinelandii TISTR 1094
with mixed microorganism in activated sludge treatment system. Journal of
Hazardous Materials, pp. 224-228.
Kusiak, A. & Wei, X., 2013. Optimization of the Activated Sludge Process. Journal
Of Energy Engineering, 139(1), pp. 12-17.
Lamine, M., Bousselmi, L. & Ghrabi, A., 2007. Biological treatment of grey water
using sequencing batch reactor. Desalination, pp. 127-132.
Li, J. dkk., 2014. Aerobic Sludgr Granulation in a Full-Scale Sequencing Batch
Reactor. BioMed Research International, p. 12.
Lubbe, J. V. d. & Haandel, A. V., 2012. Handbook of Biological Wastewater
Treatment. Second ed. London: IWA.
Mahvi, A. H., 2008. Sequencing Batch Reactor : A Promising Technology In
Wastewater Treatment. Enviromental Health, 5(2), pp. 79-90.
Mangkoedihardjo, S. & Samudro, G., 2010. Review On BOD, COD And
BOD/COD Ratio: A Triangle Zone For Toxic, Biodegradable And Srable
Levels. International Journal of Academic Research, 2(4), pp. 235-238.
Metcalf & Eddy, 2003. Wastewater Engineering Treatment and Reuse. Boston: Mc
Graw-Hill.
Mukhtar, G., Iwan, R., Mina, N. & Tintin, S. R., 2017. Pemanfaatan Nutrisi
Terfermentasi untuk Penurunan Kadar COD/BOD Air Limbah Industri.
Industrial Servicess, Volume 3, pp. 231-234.

PEN/1718/06
35
Nagwekar, P. R., 2014. Removal of Organic Matter from Wastewater by Activated
Sludge Process-Review. International Journal of Science, 3(5), pp. 1260-
1263.
NEIWPACC, 2005. Sequencing Batch Reactor Design and Operational
Considerations. New England: Manual.
Orhon, D., Babuna, F. G. & Karahan, O., 2009. Industrial Wastewater Treatment
by Activated Sludge. London, UK: IWA Publishing.
Rashed, E. M., 2013. Application of contact stabilization activated sludge for
enchangin biological phosphorus removal (EBPR) in domestic wastewater.
HBRC journal, Volume 10, pp. 92-99.
Rizaluddin, A. T. & Purwati, S., 2016. Potensi Selulase dan Pengaruh Laju
Pembebanan pada Efektivitas Pengolahan Air Limbah Kertas Proses
Lumpur Aktif. ISSN, pp. 83-94.
Shchegolkova, N. M., Krasnov, G. S., Belova, A. A. & Dmitriev, A. A., 2016.
Microbial Community Structure of Activated Sludge in Treatment Plants
with Different Wastewater Compositions. Frontiers in Microbiology,
Volume 7, p. 7:90.
Sperling, M. v., 2007. Activated Sludge and Aerobic Biofilm Reactors. 5 ed.
London: IWA Publishing.
Standar Nasional Indonesia, SNI 06-6989.11-2004. Air dan Air Limbah - Bagian
11: Cara Uji derajat Keasaman (pH) dengan Menggunakan Alat pH Meter,
Jakarta: Dewan Standardisasi Indonesia.
Standar Nasional Indonesia, SNI 06-6989.31-2005. Air dan Air Limbah - Bagian
31: Cara Uji Kadar Fosfat dengan Spektrofotometer Secara Asam
Askorbat, Jakarta: Badan Standardisasi Indonesia.
Standar Nasional Indonesia, SNI 06-6989.3-2004. Air dan Air Limbah - Bagian 3:
Cara Uji Padatan Tersuspensi Total (Total Suspended Solid, TSS) secara
Gravimetri, Jakarta: Badan Standardisasi Indonesia.
Standar Nasional Indonesia, SNI 6989.10:2011. Air dan Air Limbah - Bagian 10:
Cara Uji Minyak Nabati dan Minyak Mineral Secara Gravimetri, Jakarta:
Badan Standardisasi Indonesia.
Standar Nasional Indonesia, SNI 6989.72:2009. Air dan Air Limbah - Bagian 72:
Cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen
Demand/BOD), Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Standar Nasional Indonesia, SNI 6989.73:2009. Air dan Air Limbah - Bagian 73:
Cara Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand/COD)

PEN/1718/06
36
dengan Refluks Tertutup Secara Tittrimetri, Jakarta: Badan Standardisasi
Indonesia.
Sudaryati, N. L. G., Kasa, W. I. & Suyasa, W. K. I., 2012. Pemanfaatan Sedimen
Perairan Tercemar Sebagai Bahan Lumpur Aktif dalam Pengolahan Limbah
Cair Industri Tahu. ISSN, 3(1), pp. 21-29.
Suyasa, I. W. B. & Arsa, I. M., 2013. Penurunan Kadar Minyak dan COD Air
Limbah Operasional Pembangkit Listrik dengan Flotasi dan Lumpur Aktif.
Jurnal Bumi Lestari, 13(1), pp. 98-105.
Tzirita, M., 2012. A Characterisation of Bioaugmentation Product for The
Treatment of Waste Fats, Oils and Grease (FOG). Dublin: Thesis Dublin
City University.
Widjaja, T. & Budhikarjono, K., 2007. Pengaruh Konsentrasi Sludge, Beban COD
dan Back Flushing Terhadap Kinerja Pengolah Limbah Cair Sistem
Membran Terendam. Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo,
Volume XXVIII, pp. 1-8.
Wisconsin Department of Natural Resources, 2010. Introduction To Activated
Sludge Study Guide. Washington, D. C, Wastewater Operator Certification.
Zhou, S. Q., Zhang, H. G. & Shi, Y., 2006. Combined Treatment of landfill leachate
with fecal supernatant in Sequencing Batch Reactor. Science B, 7(5), pp. 397-
403.

PEN/1718/06
37
LAMPIRAN A
DIAGRAM ALIR

A.1 Diagram Alir Prosedur Kerja

Nutrien

Lumpur aktif Proses Seeding

<2000 mg/L

Berapa nilai MLSS ? Pengenceran


>5000 mg/L

2000- 5000 mg/L

Limbah cair 2000- 5000 mg/L <2000 mg/L


Aklimatisasi Berapa nilai MLSS ?
Medium sintesis

Apakah nilai COD Tidak


dalam keadaan
steady state?

Ya

Limbah cair Aerasi

Sedimentasi Effluent

Gambar A.1 Prosedur Kerja Pengolahan Limbah dengan Lumpur Aktif

PEN/1718/06
38
A.2 Diagram Alir Aklimatisasi

Lumpur aktif 4 L

Medium sintesis 2 L Aklimatisasi


Limbah cair kantin 2 L Tahap I

Apakah nilai
COD (mg/L) sudah Tidak
keadaan
steady state?

Ya

Aklimatisasi
Limbah cair kantin 4 L
Tahap II

Apakah nilai
COD (mg/L) sudah Tidak
keadaan
steady state?

Ya

Lumpur aktif untuk


proses utama

Gambar A.2 Diagram Alir Aklimatisasi

PEN/1718/06
39
LAMPIRAN B
MATERIAL SAFETY DATA SHEET (MSDS)

B.1 MSDS Natrium Hidroksida

Tabel B.1 MSDS Natrium Hidroksida


Nama produk Natrium hidroksida
Nama IUPAC Sodium hydroxide
Nama formula NaOH
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 323⁰C (613,4⁰F)
− Titik didih 1390⁰C (2530,4⁰F)
− Kelarutan dalam air Larut
− Penampilan Kristal
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 40 g/mol
− Warna Putih
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit (korosif,
iritasi), jika terkena mata (iritasi, korosif), jika
tertelan, dan terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera basuh mata dengan air mengalir selama
15 menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera melepaskan pakaian, dan basuh dengan
air dingin selama 15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
40
B.2 MSDS Dikalium Hidrogen Fosfat Anhidrat

Tabel B.2 MSDS Dikalium Hidrogen Fosfat Anhidrat


Nama produk Dikalium hidrogen fosfat anhidrat
Nama IUPAC Dipotassium hydrogen phosphate
Nama formula K2HPO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 48⁰C (118,4⁰F)
− Titik didih Tidak ada informasi
− Kelarutan dalam air Larut dalam air dan sedikit alkohol
− Bentuk Padatan
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 174,18 g/mol
− Warna Putih
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit (korosif,
iritasi), jika terkena mata (iritasi, korosif), jika
tertelan, dan terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera bilas mata dengan air mengalir selama 15
menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera tanggalkan pakaian yang terkontaminasi,
dan bilas dengan air dingin selama 15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
− Jika tertelan segera beri minum kepada korban
(paling banyak dua gelas). Konsultasi kepada
dokter jika merasa tidak sehat.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
41
B.3 MSDS Dihidrogen Fosfat Anhidrat

Tabel B.3 MSDS Dihidrogen Fosfat Anhidrat


Nama produk Kalium dihidrogen fosfat anhidrat
Nama IUPAC Potassium dihydrogen phosphate
Nama formula KH2PO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 250⁰C (118,4⁰F)
− Titik didih Tidak ada informasi
− Kelarutan dalam air Larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol
− Bentuk Padatan
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 136,08 g/mol
− Warna Putih
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit (korosif,
iritasi), jika terkena mata (iritasi, korosif), jika
tertelan, dan terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera bilas mata dengan air mengalir selama 15
menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera tanggalkan pakaian yang terkontaminasi,
dan bilas dengan air dingin selama 15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
− Jika tertelan segera beri minum kepada korban
(paling banyak dua gelas). Konsultasi kepada
dokter jika merasa tidak sehat.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
42
B.4 MSDS Magnesium Sulfat

Tabel B.4 MSDS Magnesium Sulfat


Nama produk Magnesium sulfat heptahidrat
Nama IUPAC Magnesium sulfate heptahydrate
Nama formula MgSO4.7H2O
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh Tidak ada informasi
− Titik didih Tidak ada informasi
− Kelarutan dalam air Larut dalam air dingin
− Bentuk Padatan
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 246,46 g/mol
− Warna Tidak berwarna
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit (korosif,
iritasi), jika terkena mata (iritasi, korosif), jika
tertelan, dan terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera bilas mata dengan air mengalir selama 15
menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera tanggalkan pakaian yang terkontaminasi,
dan bilas dengan air dingin selama 15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
− Jika tertelan segera beri minum kepada korban
(paling banyak dua gelas). Konsultasi kepada
dokter jika merasa tidak sehat.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
43
B.5 MSDS MSDS Asam Hidroklorida

Tabel B.5 MSDS Asam Hidroklorida


Nama produk Asam hidroklorida
Nama IUPAC Chlorane
Nama formula HCl
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh -62,25⁰C (-80⁰F)
− Titik didih 108,58⁰C
− Kelarutan dalam air Larut dalam air
− Bentuk Cairan
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 58,08 g/mol
− Warna Tidak berwarna
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit (korosif,
iritasi, permeator), jika terkena mata (iritasi,
korosif), jika tertelan, dan terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera bilas mata dengan air mengalir selama 15
menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera tanggalkan pakaian yang terkontaminasi,
dan bilas dengan air dingin sekurang-kurangnya
15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
− Jika tertelan, jangan dimuntahkan kecuali
diarahkan tenaga medis.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
44
B.6 MSDS Heksana

Tabel B.6 MSDS Heksana


Nama produk Heksana
Nama IUPAC Hexane
Nama formula C6H14
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh -95⁰C (-139⁰F)
− Titik didih 68⁰C (154,4⁰F)
− Kelarutan dalam air Larut dalam air dan lebih larut dalam minyak
− Bentuk Cairan
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 86,18 g/mol
− Warna Tidak berwarna
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit (korosif,
iritasi, permeator), jika terkena mata (iritasi,
korosif), jika tertelan, dan terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera bilas mata dengan air mengalir selama 15
menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera tanggalkan pakaian yang terkontaminasi,
dan cuci kulit menggunakan sabun dan bilas
dengan air dingin sekurang-kurangnya 15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
− Jika tertelan, jangan dimuntahkan kecuali
diarahkan tenaga medis.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
45
B.7 MSDS Natrium Sulfat Anhidrat

Tabel B.7 MSDS Natrium Sulfat Anhidrat


Nama produk Natrium sulfat anhidrat
Nama IUPAC Disodium sulfate
Nama formula Na2SO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 1100⁰C (2012⁰F)
− Titik didih 888⁰C (1630,4⁰F)
− Kelarutan dalam air Larut dalam air gliserol dan hidrogen iodide
− Bentuk Padatan
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 142,06 g/mol
− Warna Tidak berwarna
Identifikasi Bahaya − Sangat berbahaya jika terkena kulit, iritasi, jika
terkena mata (iritasi, korosif), jika tertelan, dan
terhirup.
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
kerusakan kornea atau kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan
saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin
dan batuk, bahkan dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan
dan gatal pada mata.
− Peradangan kulit ditandai dengan gatal dan
muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Pertolongan pertama − Kontak mata: jika terjadi kontak dengan mata,
segera bilas mata dengan air mengalir selama 15
menit.
− Kontak kulit: jika terjadi kontak dengan kulit,
segera tanggalkan pakaian yang terkontaminasi,
dan cuci kulit menggunakan sabun dan bilas
dengan air dingin sekurang-kurangnya 15 menit.
− Jika terhirup, segera hirup udara segar, beri
bantuan oksigen atau perawatan medis.
− Jika tertelan, jangan dimuntahkan kecuali
diarahkan tenaga medis.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
46
B.8 MSDS Kalium Dikromat

Tabel B.8 MSDS Kalium Dikromat


Nama produk Kalium dikromat
Nama IUPAC Dipotassium oxido-(oxido(dioxo)chromio)oxy-
dioxochromium
Nama formula K2Cr2O7
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 398°C (748,4°F)
− Titik didih 500°C (932°F)
− Kelarutan dalam air Larut dalam air 102 g/100 mL pada 100°C
− Penampilan Kristal
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 294,182 g/mol
− Warna Oranye-merah
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi, dan luka
bakar jika terjadi kontak yang berkepanjangan
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Jika terhirup dapat menyebabkan inhalasi atau
iritasi pada paru-paru
− Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal,
scaling, dan pemerahan.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan.
Pertolongan pertama − Kontak mata: segera bilas mata dengan air
mengalir semala setidaknya 15 menit dengan
menggunakan air dingin, jangan menggunakan
salep mata, jika sudah terlalu parah segera
hubungi dokter.
− Kontak kulit: cuci segera dengan banyak air
dengan air dan sabun non-abrasif, jika terjadi
iritasi segera hubungi dokter.
− Jika terhirup : segera bawa korban ke area aman,
lapang yang luas, melonggarkan pakaian ketat
seperti kerah, dasi, dan sabuk. Jika korban sulit
bernafas, berikan nafas buatan.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
47
B.9 MSDS Asam Sulfat

Tabel B.9 MSDS Asam Sulfat


Nama produk Asam sulfat
Nama IUPAC Sulfuric acid
Nama formula H2SO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 10°C (51°F)
− Titik didih 337°C (554°F)
− Kelarutan dalam air Larut
− Penampilan Cair
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 98,072 g/mol
− Warna -
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi, dan dapat
menyebabkan luka bakar jika terjadi kontak
yang berkepanjangan
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal,
scaling, dan pemerahan.
− Peradangan mata ditandai dengan kemerahan.
− Hindari sentuhan dengan material pengoksidasi,
logam, dan sulfur oksida.
− Terhirup, akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
Pertolongan pertama − Kontak mata: segera bilas mata dengan air
mengalir semala setidaknya 15 menit dengan
menggunakan air dingin, jangan menggunakan
salep mata, jika sudah terlalu parah segera
hubungi dokter.
− Kontak kulit: cuci segera dengan banyak air
dengan air dan sabun non-abrasif, jika terjadi
iritasi segera hubungi dokter.
− Jika terhirup: segera bawa korban ke area aman,
lapang yang luas, melonggarkan pakaian ketat
seperti kerah, dasi, dan sabuk. Jika korban sulit
bernafas, berikan pernafasan buatan secara
mouth-to-mouth kemudian berikan oksigen dan
mencari medis.
− Jika tertelan: berikan beberapa gelas susu atau
air. Akan terjadi beberapa kali muntah, jangan
memasukkan apapun kedalam mulut orang yang
tidak sadar.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
48
B.10 MSDS Merkuri (II) Sulfat

Tabel B.10 MSDS Merkuri (II) Sulfat


Nama produk Merkuri (II) sulfat
Nama IUPAC Mercury (2+) sulfate
Nama formula HgSO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh Penguraian
− Titik didih Penguraian
− Kelarutan dalam air Pada 20°C (penguraian)
− Penampilan Padat
− Titik nyala -
− Berat molekul 296,65 g/mol
− Warna Putih
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi pada kulit
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan
lesi/jejas parah
− Menelan dan menghirup akan menyebabkan
kerusakan pada membran mukosa dari saluran
pencernaan dan saluran pernafasan, penurunan
tekanan darah, detak jantung tidak beraturan,
dan gagal ginjal.
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilas dengan air yang banyak dan
segera hubungi dokter mata.
− Kontak kulit: cuci dengan air yang banyak,
lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan
segera panggil dokter.
− Jika terhirup: hirup udara segar. Jika nafas
terhenti: langsung berikan pernafasan buatan
secara mekanik, jika diperlukan berikan masker
oksigen. Segera hubungi dokter.
− Jika tertelan: barikan air minum paling banyak
dua gelas. Jika pertolongan tidak tersedia dalam
satu jam, rangsang untuk muntah (hanya jika
korban tidak sadarkan diri), telan karbon aktif
dan konsultasikan pada dokter.
(Sumber: Peraturan (UE) No. 1907/2006 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
49
B.11S MSDS Perak Sulfat

Tabel B.11 MSDS Perak Sulfat


Nama produk Perak Sulfat
Nama kimia Disilver sulfate
Nama formula Ag2SO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 655°C
− Titik didih -
− Kelarutan dalam air Larut pada 8 g/L pada suhu 25°C
− Penampilan Serbuk
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 311,792 g/mol
− Warna Putih
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi pada kulit
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal, dan
pemerahan.
− Terhirup, akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri korban minum air putih (dua
gelas paling banyak) dan segera konsultasi ke
pihak medis.
(Sumber: Peraturan (UE) No. 1907/2006 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
50
B.12 MSDS 1,10-fenantrolina Monohidrat

Tabel B.12 MSDS 1,10-fenantrolina Monohidrat


Nama produk 1,10-fenantrolina monohidrat
Nama IUPAC 1,10-phenanthroline hydrate
Nama formula C12H8N2.H2O

Data fisik dan kimia: 93-94°C


− Titik leleh -
− Titik didih Larut 3,3 g/L pada 20°C
− Kelarutan dalam air Padat
− Penampilan -
− Titik nyala 198,23 g/mol
− Berat molekul Putih
− Warna
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi, dan dapat
menyebabkan luka bakar jika terjadi kontak
yang berkepanjangan
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal, dan
pemerahan.
− Terhirup, akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas). Segera cari anjuran pengobatan. Jika
pertolongan tidak tersedia dalam satu jam,
rangsang untuk muntah (hanya jika korban tidak
sadarkan diri), telan karbon aktif dan
konsultasikan kepada dokter secepatnya.
(Sumber: Peraturan (UE) No. 1907/2006 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
51
B.13 MSDS Besi (II) Sulfat Heptahidrat

Tabel B.13 MSDS Besi (II) Sulfat Heptahidrat


Nama produk Besi(II)sulfat heptahidrat
Nama IUPAC Iron(2+) sulfate heptahydrate
Nama formula FeSO4.7H2O
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh -
− Titik didih -
− Kelarutan dalam air Larut pada air dingin
− Penampilan Padat
− Titik nyala Tidak menyala
− Berat molekul 278,02 g/mol
− Warna Hijau biru
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi, dan dapat
menyebabkan luka bakar jika terjadi kontak
yang berkepanjangan
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal, dan
pemerahan.
− Terhirup, akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
− Tertelan akan menyebabkan mual dan muntah.
Jika dalam jumlah yang besar akan
menyebabkan gangguan kardiovaskular, efek
toksik pada liver dan ginjal
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter. Lepaskan lensa kontak
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas) dan segera konsultasi ke pihak medis.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
52
B.14 MSDS Amonium Besi (II) Sulfat

Tabel B.14 MSDS Amonium Besi (II) Sulfat


Nama produk Amonium Besi(II) Sulfat
Nama IUPAC Diazanium iron (2+) disulfate
Nama formula Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 100°C
− Titik didih -
− Kelarutan dalam air Larut 269 g/L
− Penampilan Padat
− Titik nyala Mudah menyala
− Berat molekul 392,14 g/mol
− Warna Hijau-biru
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi, dan dapat
menyebabkan luka bakar jika terjadi kontak
yang berkepanjangan
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal, dan
pemerahan.
− Terhirup, akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas). Segera cari anjuran pengobatan. Hanya
di dalam kasus khusus, jika pertolongan tidak
tersedia dalam satu jam, rangsang untuk muntah
(hanya jika korban tidak sadarkan diri), telan
karbon aktif dan konsultasikan kepada dokter
secepatnya.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
53
B.15 MSDS Kalium Antimonil Tartrat

Tabel B.15 MSDS Kalium Antimonil Tartrat


Nama produk Kalium antimonil tartrat
Nama IUPAC 2,3-dioxidobutanedioate
Nama formula C8H8KO12Sb
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh Terurai
− Titik didih -
− Kelarutan dalam air Larut pada air dingin
− Penampilan Padat
− Titik nyala -
− Berat molekul 456,999 g/mol
− Warna Hijau-biru
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi pada kulit
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Terhirup akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
− Tertelan akan menyebabkan gangguan pada
ginjal
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas). Segera cari anjuran pengobatan.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
54
B.16 MSDS Amonium Heptamolibdat Tetrahidrat

Tabel B.16 MSDS Amonium Heptamolibdat Tetrahidrat


Nama produk Amonium heptamolibdat tetrahidrat
Nama IUPAC Azane dihydroxy(dioxo)molybdenum
trioxomolybdenum tetrahydrate
Nama formula (NH₄)₆MO₇O₂₄.4H₂O
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 90°C
− Titik didih -
− Kelarutan dalam air Dalam air 400 g/L pada 20°C
− Penampilan Padat
− Titik nyala -
− Berat molekul 1.235,92 g/mol
− Warna Tidak berwarna
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi pada kulit
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Terhirup akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
− Tertelan akan menyebabkan mual, muntah dan
diare. Jika dalam jumlah yang banyak akan
terjadi penurunan tekanan darah, pingsan dan
paralisis pernafasan.
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas) dan segera konsultasi ke pihak medis.
(Sumber: Peraturan (UE) No. 1907/2006 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
55
B.17 MSDS Asam Askorbat

Tabel B.17 MSDS Asam Askorbat


Nama produk Asam askorbat
Nama IUPAC (2R)-2-[(1S)-1,2-dihydroxyethyl]-3,4-dihydroxy-
2H-furan-5-one
Nama formula C6H8O6
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh Terurai pada T ˃374°F
− Titik didih Terurai pada T ˃ 374°F
− Kelarutan dalam air Larut pada 1 g/ 3 mL air
− Penampilan Kristal
− Titik nyala -
− Berat molekul 176,13 g/mol
− Warna Putih
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi pada kulit
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Terhirup akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
− Tertelan akan menyebabkan mual, muntah dan
diare. Jika dalam jumlah yang banyak akan
terjadi penurunan tekanan darah, pingsan dan
paralisis pernafasan.
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas) dan segera konsultasi ke pihak medis.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
56
B.18 MSDS Kalium Dihidrogen Fosfat

Tabel B.18 MSDS Kalium Dihidrogen Fosfat


Nama produk Kalium dihidrogen fosfat
Nama IUPAC Potassium dihydrogen phosphate
Nama formula KH2PO4
Data fisik dan kimia:
− Titik leleh 253°C
− Titik didih -
− Kelarutan dalam air Larut dalam air 208 g/L pada 20°C
− Penampilan Kristal
− Titik nyala Tidak mudah terbakar
− Berat molekul 136,08 g/mol
− Warna Tidak berwarna
Identifikasi Bahaya − Terkena kulit menyebabkan iritasi pada kulit
− Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi
mata, kerusakan kornea dan kebutaan.
− Terhirup akan menyebabkan radang paru-paru
yang ditandai dengan sesak nafas
− Tertelan akan menyebabkan mual, muntah nyeri
lambung, dan diare
Pertolongan pertama − Kontak mata: bilaslah dengan air yang banyak.
Segera hubungi dokter
− Kontak kulit: tanggalkan segera semua pakaian
yang terkontaminasi. Bilaslah kulit dengan air/
pancuran air
− Jika terhirup: hirup udara segar
− Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua
gelas). Segera cari anjuran pengobatan.
(Sumber: ScienceLab, 2013 dan Open chemistry database, 2018)

PEN/1718/06
57
LAMPIRAN C
PROSEDUR ANALISIS

C.1 Prosedur analisis pH menggunakan pH meter


Langkah-langkah analisis pH sebagai berikut:
1. Siapkan larutan buffer dengan pH 4, 7, dan 10.
2. pH meter dikalibrasi dengan larutan buffer.
3. Elektroda dibilas menggunakan air suling dan dikeringkan menggunakan
tisu.
4. Elektroda dicelupkan ke dalam contoh uji, hingga pH meter menunjukkan
pembacaan yang tetap.
5. Angka pada tampilan pH meter dicatat untuk diolah.

PEN/1718/06
58
C.2 Prosedur Analisis COD
Larutan pereaksi yang digunakan pada uji COD adalah sebagai berikut :
- Larutan baku kalium dikromat K2Cr2O7 0,01667 M (digestion solution)
Padatan K2Cr2O7 dikeringkan di dalam oven pada suhu 150oC selama 2 jam.
Selanjutnya, 0,9806 g K2Cr2O7 dilarutkan ke dalam 100 mL air demin lalu
ditambahkan 33,4 mL H2SO4 pekat dan 6,66 g HgSO4. Larutan lalu
dihomogenkan dan didinginkan pada suhu ruang lalu ditambahkan air demin
sebanyak 100 mL.
- Larutan pereaksi asam sulfat
Serbuk atau kristal Ag2SO4 sebanyak 2,024 g dilarutkan ke dalam 200 mL
H2SO4 pekat lalu diaduk menggunakan magnetic stirrer hingga larut.
- Larutan indikator ferroin
Sebanyak 1,485 g 1,10-phenanthrolin monohidrat dan 695 mg FeSO4.7H2O
dilarutkan dalam air demin sampai 100 mL.
- Larutan baku Ferro Amonium Sulfat (FAS) 0,05 M
Sebanyak 19,6 g Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O di larutkan dalam 300 mL air demin
lalu ditambahkan 20 mL H2SO4 pekat, dinginkan dan encerkan hingga 1 L.
- Pengujian normalitas larutan baku FAS
1. 1,5 mL larutan kalium dikromat ditambahkan 3,5 mL larutan pereaksi asam
sulfat lalu dimasukkan ke dalam tabung COD. Tutup tabung dan kocok
perlahan sampai homogen.
2. Tabung diletakkan pada pemanas yang telah dipanaskan pada suhu 150oC
dan direfluks 2 jam.
3. Setelah dingin, larutan dipindahkan ke dalam labu Erlenmeyer untuk titrasi,
kemudian ditambahkan indikator ferroin 1-2 tetes. Larutan diaduk
menggunakan pengaduk magnetik sambil dititrasi menggunakan larutan
baku FAS sampai terjadi perubahan warna menjadi coklat-kemerahan.
- Cara uji sampel
1. Sebanyak 2,5 mL sampel dimasukkan ke dalam botol COD (jika kadar COD
terlalu tinggi maka dilakukan pengenceran). Botol COD lain juga
dipersiapkan untuk blanko dengan menggantikan sampel dengan air demin.

PEN/1718/06
59
2. Sebanyak 1,5 mL larutan kalium dikromat dan 3,5 mL larutan pereaksi asam
sulfat dimasukkan ke dalam tabung COD. Tutup tabung dan kocok perlahan
sampai homogen.
3. Tabung diletakkan pada pemanas yang telah dipanaskan pada suhu 150oC
dan direfluks 2 jam.
4. Setelah dingin, larutan dipindahkan ke dalam labu Erlenmeyer untuk titrasi,
kemudian ditambahkan indikator ferroin 1-2 tetes. Larutan diaduk
menggunakan pengaduk magnetik sambil dititrasi menggunakan larutan
baku FAS sampai terjadi perubahan warna menjadi coklat-kemerahan. Cara
uji sampel dilakukan secara triplo.

Perhitungan Normalitas larutan FAS


(𝑉1)(𝑁1)
Normalitas FAS = 𝑉2

Keterangan:
V1 = volume larutan K2Cr2O7 yang digunakan (mL)
V2 = volume larutan FAS yang dibutuhkan (mL)
N1 = Normalitas larutan K2Cr2O7

Perhitungan kadar COD


(𝐴−𝐵)(𝑁)(8000)
COD (mg/L O2) =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 (𝑚𝐿)

Keterangan:
A = volume larutan FAS untuk titrasi blanko (mL)
B = volume larutan FAS untuk titrasi contoh uji (mL)

PEN/1718/06
60
C.3 Prosedur Analisis MLSS
Langkah-langkah analisis MLSS adalah sebagai berikut :
1. Kertas saring Whatman grade 934 AH dipanaskan dalam oven pada suhu
103°C-105°C selama 1 jam.
2. Kertas saring yang telah dikeringkan kemudian didinginkan ke dalam
desikator selama 15 menit, kemudian ditimbang dan diulangi sampai
diperoleh berat konstan.
3. Sampel yang telah dihomogenkan diambil sebanyak 5 mL kemudian
disaring.
4. Kertas saring dan residu dipanaskan ke dalam oven pada suhu 105°C selama
1 jam.
5. Kertas saring didinginkan ke dalam desikator selama 15 menit lalu
ditimbang sampai diperoleh berat konstan.

Perhitungan
(𝐴−𝐵)×1000
mg MLSS per liter =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 (𝑚𝐿)

Keterangan,
A = Berat kertas saring dan residu (mg)
B = Berat kertas saring (mg)
V = Volume sampel (5 mL)

PEN/1718/06
61
C.4 Prosedur Analisis MLSS
Langkah-langkah analisis TSS, sebagai berikut:
1. Kertas saring Whatman grade 934 AH, dikeringkan ke dalam oven pada
suhu 103°C-105°C selama 1 jam.
2. Kertas saring yang telah dikeringkan kemudian dimasukkan ke dalam
desikator lalu ditimbang dan diulangi sampai diperoleh berat konstan
terhadap penimbangan sebelumnya.
3. Kertas saring diletakkan pada cawan Gooch dengan ukuran sebesar
diameter cawan, lalu dibasahi sedikit menggunakan akuades.
4. Sebanyak 5 mL sampel yang telah homogen disaring dengan menggunakan
pompa vakum hingga kering sempurna.
5. Kertas saring yang telah berisi zat tersuspensi dimasukkan ke dalam oven
pada temperatur 103°C-105°C selama 1 jam.
6. Kertas saring dikeluarkan dari oven kemudian dimasukkan ke dalam
desikator untuk didinginkan lalu ditimbang.

Perhitungan:
(𝐴−𝐵)×1000
mg TSS per liter =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 (𝑚𝐿)

Keterangan:
A = Berat kertas saring + zat tersuspensi (mg)
B = Berat kertas saring (mg)
V = Volume sampel (5 mL)

PEN/1718/06
62
C.5 Prosedur Analisis Kadar Fosfat
Larutan pereaksi yang digunakan pada uji fosfat adalah sebagai berikut :
- Larutan asam sulfat (H2SO4) 5 N
Sebanyak 28 mL asam sulfat dimasukkan dengan hati-hati ke dalam gelas
piala yang berisi 150 mL akuades dan diletakkan pada penangas es. Larutan
lalu diencerkan sampai 200 mL.
- Larutan kalium antimonil tartrat (K(SbO)C4H4O6.1/2 H2O)
Sebanyak 0,13715 g kalium antimonil tartrat dilarutkan dalam akuades 40
mL lalu diencerkan sampai tanda batas dalam labu ukur 50 mL.
- Larutan amonium molibdat ((NH4)6Mo7O24.4H2O) 0,03 M
Sebanyak 2 g amonium molibdat dilarutkan ke dalam 50 mL akuades lalu
dihomogenkan.
- Larutan asam askorbat C6H8O6 0,1 M
Sebanyak 1,76 g asam askorbat dilarutkan ke dalam 100 mL akuades lalu
dihomogenkan.
- Larutan Baku 10 mg/L
Sebanyak 0,439 g kalium dihidrogen fosfat dimasukkan ke dalam labu ukur
1 L, lalu diencerkan sampai tanda batas dan dihomogenkan (larutan induk
fosfat, 100 mg/L). Sebanyak 10 mL larutan stok fosfat 100 mg/L
dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL lalu dihomogenkan (larutan baku
fosfat, 10 mg/L).
- Larutan campuran
Dicampurkan secara berturut-turut 50 mL H2SO4 5 N, 5 mL larutan kalium
antimonil tartrat, 15 mL larutan amonium molibdat dan 30 mL larutan asam
askorbat.
- Pembuatan kurva kalibrasi
1. Dipipet 0 mL; 1 mL; 2 mL; 3 mL; 4 mL dan 5 mL larutan baku fosfat
10 mg/L dan dimasukkan masing-masing ke dalam labu ukur 50 mL,
lalu diencerkan sampai tanda batas. Larutan tersebut lalu dihomogenkan

PEN/1718/06
63
sehingga didapat kadar fosfat 0 mg/L; 0,2 mg/L; 0,4 mg/L; 0,8 mg/L
dan 1 mg/L.
2. Masing-masing larutan dipipet 50 mL dan dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer. Setelah itu, ditambahkan 1 tetes indikator fenolftalin
sampai terbentuk warna merah muda. Setelah warna terbentuk
ditambahkan tetes demi tetes H2SO4 5 N sampai warna hilang.
3. Sebanyak 8 mL larutan campuran lalu ditambahkan dan dihomogenkan.
4. Larutan dimasukkan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer dengan
panjang gelombang 880 nm dalam kisaran waktu 10-30 menit.
5. Kurva kalibrasi dibuat dan ditentukan persamaan garis lurusnya.
- Pengukuran Sampel
1. Sebanyak 50 mL sampel dipipet dan dimasukkan masing-masing ke
dalam Erlenmeyer.
2. Sebanyak 1 tetes indikator fenolftalin ditambahkan sampai terbentuk,
warna merah muda. Setelah warna terbentuk ditambahkan tetes demi
tetes H2SO4 5 N sampai warna hilang.
3. Sebanyak 8 mL larutan campuran lalu ditambahkan dan dihomogenkan.
4. Larutan dimasukkan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer dengan
panjang gelombang 880 nm dalam kisaran waktu 10-30 menit.

Perhitungan:
Kadar fosfat (mg P/L) = C × fp
Keterangan:
C = kadar yang didapatkan pada hasil pengukuran (mg/L)
Fp = faktor pengenceran

PEN/1718/06
64
C.6 Prosedur Analisis Minyak dan Lemak
Langkah-langkah uji minyak dan lemak adalah sebagai berikut :
1. Sebanyak 1000 mL sampel dimasukkan ke dalam gelas piala kemudian
ditambahkan HCl sampai pH ≤ 2 (bilas elektroda pH dengan n-heksana).
2. Botol larutan sampel dibilas menggunakan n-heksana sebanyak 30 mL
kemudian hasil bilasan n-heksana dimasukkan ke dalam corong pisah.
3. Larutan kemudian dikocok dengan kuat selama 2 menit dan dibiarkan
sampai lapisan air dan n-heksana memisah.
4. Kertas saring yang telah dibubuhi 10 g Na2SO4 anhidrat yang ada pada
corong dicuci menggunakan n-heksana.
5. Fasa air dipisahkan kedalam Erlenmeyer atau gelas piala, sedangkan fasa n-
heksana ditampung ke dalam labu destilasi yang telah diketahui beratnya
(W0).
6. Fasa air dimasukkan kembali ke dalam corong pisah untuk diekstraksi
dengan penambahan 30 mL n-heksana.
7. Fasa n-heksana yang terbentuk digabungkan ke dalam labu destilasi dan
dilakukan destilasi dengan penangas air pada suhu 70oC.
8. Saat terlihat kondensasi pelarut berhenti, proses destilasi dihentikan. Labu
destilasi kemudian didinginkan pada suhu ruang.
9. Labu destilasi lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 70oC selama 30-45
menit.
10. Labu destilasi kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama 30 menit
dan ditimbang sampai didapat berat tetap (W1).

Perhitungan:
(𝑊1−𝑊0)×1000
Kadar minyak dan lemak (mg/L) =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 (𝑚𝐿)

Keterangan:
W0 adalah berat labu destilasi kosong, dinyatakan dalam milligram
W1 adalah berat labu destilasi minyak dan lemak dinyatakan dalam milligram

PEN/1718/06
65
LAMPIRAN C
PERHITUNGAN KEBUTUHAN BLOWER

Dik : BOD = 994 ppm


8L
Laju alir masuk air limbah = = 0,013714 m3/hari
14 Jam

14 Jam diperoleh dari total waktu aerasi, pengisian, sedimentasi dan dekantasi.
1. Menentukan BOD load
994 ×0,013714
BOD load = = 0,013632 kg BOD load / hari
1000

2. Menentukan faktor safety


Jika mengandung amonia, maka faktor safety bernilai 4-6. Jika tidak maka
faktor safety adalah 1–2. Nilai faktor safety yang digunakan adalah 5, karena
air limbah dianggap mengandung amonia yang berasal dari sisa makanan yang
mengandung protein.
3. Menentukan AOR (Actual Oxygen Requirement)
AOR = BOD load × faktor safety
AOR = 0,013632 kg BOD load / hari × 5
AOR = 0,06816 kg oksigen / hari.
4. Menentukan STOR (specific Oxygen Transfer Rate)
Dimisalkan nilai faktor efisiensi untuk mendegradasi air limbah adalah 70%
𝐴𝑂𝑅
STOR = = 0,097371 kg oksigen /hari.
0,7

5. Perhitungan Air requirement


Kg O2
Air requirement = 0,097371 hari

ρ udara = 1,201 kg/m dan O2 = 23,2% V udara


3

Untuk kebutuhan carbonaceous BOD 1,2 kg O2/kg BOD


kg O2
0,097371
hari
Air requirement = kg
1,201 x 0,232
m3

1
= 1,2 x 0,349 m3/hari x 1440 menit x 1000 L/m3

= 0,290 L/menit
= 17,45 L/jam

PEN/1718/06
66
LAMPIRAN E
DATA PENGAMATAN DAN CONTOH PERHITUNGAN

E. 1 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan MLSS Proses Seeding


Nilai MLSS mg/L dapat dihitung menggunakan prosedur Standar Nasional
Indonesia dengan persamaan sebagai berikut:
(𝐴−𝐵)×1000
mg MLSS per liter =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 (𝑚𝐿)

Keterangan,
A = Berat kertas saring dan residu (mg)
B = Berat kertas saring (mg)
V = Volume sampel (5 mL)

Dari persamaan, maka diperoleh nilai MLSS mg/L pada proses seeding yang
ditmpilkan pada Tabel E. 1.

Tabel E.1 Data MLSS mg/L Pada Proses Seeding


M1 M2
Hari ke- Awal Akhir Awal Akhir
(gram) (gram) (gram) (gram)
0 0,2236 0,2869 0,2025 0,2448
4 0,2650 0,3360 0,2671 0,29
6 0,3463 0,441 0,2595 0,2815
10 0,3032 0,4063 0,3078 0,321
13 0,3234 0,4085 0,318 0,3374
17 0,3161 0,3731 0,3041 0,3209
19 0,352 0,4103 0,3317 0,352
23 0,3419 0,4163 0,3296 0,348
25 0,3128 0,3915 0,2846 0,3132
31 0,2663 0,3496 0,2938 0,3235
32 0,2638 0,3627 0,2719 0,3028
42 0,2939 0,3975 0,304 0,3495

PEN/1718/06
67
E.2 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan MLSS Proses Aklimatisasi

Nilai MLSS mg/L dapat dihitung menggunakan Standar Nasional Indonesia dengan
persamaan sebagai berikut:
(𝐴−𝐵)×1000
mg MLSS per liter =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 (𝑚𝐿)

Keterangan,
A = Berat kertas saring dan residu (mg)
B = Berat kertas saring (mg)
V = Volume sampel (5 mL)
Dari persamaan, maka diperoleh nilai MLSS mg/L pada proses aklimatisasi yang
ditmpilkan pada Tabel E. 2.

Tabel E. 2 Data Pengamatan MLSS mg/L Proses Aklimatisasi


M1 M2 MLSS mg/L
Hari
Tahap B A B W1
ke- M1 M2
(gram) (gram) (gram) (gram)
3 0,3163 0,3289 0,2921 0,305 2.500 2.580
5 0,2934 0,3057 0,2838 0,2977 2.460 2.780
8 0,2703 0,2815 0,3285 0,344 2.240 3.100
I 10 0,3048 0,3161 0,3085 0,3211 2.260 2.520
14 0,336 0,3455 0,3301 0,3472 1.900 3.420
17 0,3223 0,3489 0,2869 0,3055 5.320 3.720
20 0,2678 0,2957 0,2939 0,3131 5.580 3.840
0 0,2729 0,3063 0,2753 0,2969 6.680 4.320
2 0,2924 0,3282 0,3229 0,3455 7.160 4.520
4 0,3011 0,3352 0,2818 0,3048 6.820 4.600
6 0,3328 0,3695 0,2874 0,3112 7.340 4.760
9 0,2857 0,3236 0,3089 0,3386 7.580 5.940
II 11 0,3027 0,3406 0,322 0,3521 7.580 5.020
13 0,3092 0,3447 0,3081 0,3383 7.100 6.040
15 0,2973 0,3335 0,339 0,3702 7.240 6.240
17 0,3266 0,363 0,2809 0,3127 7.280 6.360
19 0,3081 0,3451 0,2941 0,3262 7.400 6.420
21 0,3194 0,3576 0,2903 0,3228 7.640 6.500

PEN/1718/06
68
E.3 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan COD Proses Aklimatisasi

Nilai COD mg/L dapat dihitung menggunakan Standar Nasional Indonesia dengan
persamaan sebagai berikut:

Volume 0,1 N larutan K 2 Cr2 O7 (𝑚𝐿)


M larutan FAS = × N larutan 𝑑𝑖𝑔𝑒𝑠𝑡𝑖𝑜𝑛
Volume FAS mL
O2 (A − B) × M × 8000
COD (mg ) =
L V contoh uji
Keterangan :
A : Volume larutan FAS yang dibutuhkan untuk blanko (mL);
B : Volume larutan FAS yang dibutuhkan untuk contoh uji (mL);
M : molaritas larutan FAS;
Dari persamaan, maka diperoleh nilai COD mg/L ditampilkan pada Tabel E.3.

Tabel E. 3 Data Pengamatan COD mg/L Proses Aklimatisasi


COD
Hari V (M1) V (M2)
Tahap (mg/L)
ke- (mL) (mL)
M1 M2
0 0,3 0,3 426,667 426,667
3 0,8 0,3 337,778 426,667
5 0,8 0,5 337,778 391,111
8 0,5 0,8 391,111 337,778
I
10 0,5 0,5 391,111 391,111
14 0,4 0,7 408,889 355,556
17 1,7 0,7 177,778 355,556
20 1,7 0,7 177,778 355,556
0 0,4 0,4 408,889 408,889
2 0,6 0,8 373,333 337,778
4 0,5 1,3 391,111 248,889
6 1,1 1,4 284,444 231,111
9 1,6 1,7 195,556 177,778
II 11 1,6 1,7 195,556 177,778
13 1,4 1,75 231,111 168,889
15 1,55 1,8 204,444 160
17 1,55 1,8 204,444 160
19 1,6 1,85 195,556 151,111
21 1,65 1,85 186,667 151,111

PEN/1718/06
69
E.4 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan COD Proses Utama

Nilai COD mg/L dapat dihitung menggunakan Standar Nasional Indonesia dengan
persamaan sebagai berikut:

Volume 0,1 N larutan K 2 Cr2 O7 (𝑚𝐿)


M larutan FAS = × N larutan 𝑑𝑖𝑔𝑒𝑠𝑡𝑖𝑜𝑛
Volume FAS mL
O2 (A − B) × M × 8000
COD (mg ) =
L V contoh uji
Keterangan :
A : Volume larutan FAS yang dibutuhkan untuk blanko (mL);
B : Volume larutan FAS yang dibutuhkan untuk contoh uji (mL);
M : molaritas larutan FAS;
8000 : berat milliequivalent oksigen × 100 mL/L.
Dari persamaan, maka diperoleh nilai COD mg/L pada seperti pada Tabel E.4.

Tabel E.4 Data Pengamatan COD mg/L Proses Utama


Beban Waktu COD mg/L
Uji B (M1) B (M2)
organik aerasi
ke- mL mL M1 M2
(%) (jam)
1 0,4 0,4
0 2 0,4 0,4 408,889 408,889
3 0,4 0,4
1 1,2 1,5
213,333 254,815
6 2 1,6 1
±38,404 ±36,529
3 1,7 1,3
100
1 0,8 0,8
328,889 328,889
0 2 0,75 0,75
±19,202 ±19,202
3 1 1
1 1,8 1,65
124,444 186,667
12 2 2,3 1,6
±38,404 ±7,258
3 1,9 1,7
1 1,6 1,6
213,333 213,333
0 2 1,3 1,3
±25,142 ±25,142
3 1,6 1,6
50
1 1,9 2
160
6 2 1,9 1,7 142,222
±25,142
3 1,9 1,7

PEN/1718/06
70
Beban Waktu COD mg/L
Uji B (M1) B (M2)
organik aerasi
ke- mL mL M1 M2
(%) (jam)
1 1 1
302,222 302,222
0 2 0,9 0,9
±14,515 ±14,515
3 1,1 1,1
1 1,9 1,5
177,778
12 2 1,6 1,5 213,333
±25,142
3 1,6 1,5

PEN/1718/06
71
E. 5 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan Minyak/Lemak Proses Utama

Kadar minyak dan lemak dapat dihitung berdasarkan prosedur Standar Nasional
Indonesia sebagai berikut:
(W4 − W3 )×1000
Kadar minyak dan lemak (mg⁄L) = V

(W2 − W1 )
V=
ρ

Keterangan :
W1 : Berat botol gelas kosong (g);
W2 : Berat botol dengan isi contoh uji (g);
W3 : Berat labu destilasi kosong (mg);
W4 : Berat labu distilasi minyak dan lemak (mg);
V : Volume contoh uji (mL).

Dari persamaan untuk perhitungan minyak dan lemak, maka diperoleh kadar
minyak dan lemak yang ditampilkan pada Tabel E.5.

Tabel E.5. Data Pengamatan Kadar Minyak dan Lemak Proses Utama

Beban Waktu M1 M2 Minyak dan


Organik aerasi Parameter lemak (mg/L)
(%) (jam) Uji ke- Uji ke- Uji ke- Uji ke-
M1 M2
1 2 1 2
W1 50,2878 50,5018 50,2878 50,5018
W2 148,964 147,153 148,964 147,153 148,939 148,939
0
W3 105,552 105,239 105,552 105,239 ±5,103 ±5,103
W4 119,745 120,127 119,745 120,127
W1 44,8112 45,148 44,9212 45,1336
W2 138,326 138,883 148,898 149,892 85,408 101,238
6
100 W3 105,364 105,346 105,46 105,25 ±4,576 ±8,354
W4 112,923 113,78 116,855 114,98
W1 100,516 100,402 100,402 100,402
W2 198,788 198,722 198,722 198,722 162,669 162,669
0
W3 105,492 105,329 105,329 105,329 ±6,332 ±6,332
W4 122,1 120,7 120,7 120,7
12 W1 49,5108 50,0478 49,6174 50,0018

PEN/1718/06
72
Beban Waktu M1 M2 Minyak dan
Organik aerasi Parameter lemak (mg/L)
(%) (jam) Uji ke- Uji ke- Uji ke- Uji ke-
M1 M2
1 2 1 2
W2 148,993 149,367 141,963 142,118
46,042 100,833
W3 105,572 105,675 105,4 105,2
±0,526 ±0,959
W4 110,1 110,3 114,8 114,4
W1 49,9012 49,6976 49,9012 49,6976
W2 148,894 147,273 148,894 147,273 125,147 125,147
0
W3 105,6 105,4 105,6 105,4 ±0,115 ±0,115
W4 118 117,6 118 117,6
W1 128,2 128,2 128,4 128,4
W2 214,6 215 214,8 214,6 86,6 88,061
6
W3 105,7 105,9 106,3 105,9 ±2,109 ±3,374
W4 113 113,6 114,2 113,2
50
W1 99,8 100,2 99,8 100,2
W2 198,3 198,9 198,3 198,9 75,045 75,0452
0
W3 105,7 105,7 105,7 105,7 ±6,009 ±6,009
W4 112,5 113,7 112,5 113,7
W1 101,1 101,1 102 101,8
W2 218,2 218,6 219,1 219,3 48,583 51,985
12
W3 106,1 106,1 106,1 105,9 ±5,885 ±10,994
W4 111,1 112,5 110,9 113,3

PEN/1718/06
73
E.6 Data Pengamatan dan Contoh Perhitungan Kadar Fosfat Pada Proses
Utama

Konsentrasi fosfat dianalis menggunakan spektrofotometer sehingga diperoleh nilai


absorbansi. Konsentrasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
Y = ax + b
Keterangan :
Y = Nilai absorbansi
X = Konsentrasi fosfat
Kadar fosfat (mg/L) = C x fp
Keterangan :
C = Konsentrasi fosfat
Fp = Faktor pengenceran

Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh nilai konsentrasi fosfat seperti


yang ditampilkan pada tabel dibawah ini.

Tabel E.11 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 100%
Kadar Fosfat untuk Beban Organik 100%
Absorbansi Konsentrasi (mg/L)
I 1, 0275 8,319
II 1,025 8,299
Rata-rata 8 ± 0,01

Tabel E.12 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 100% dengan
Variasi Waktu Aerasi
Kadar Fosfat untuk Beban Organik 100% Aerasi 6 Jam
Absorbansi I Absorbansi II Konsentrasi
Domestik 1,728 1,688 2,808
PKS 2,497 2,512 4,065
Rata-rata 3 ± 0,6285
Kadar Fosfat untuk Beban Organik 100% Aerasi 12 Jam
Absorbansi I Absorbansi II Konsentrasi
Domestik 0,254 0,256 0,399
PKS 0,801 0,807 1,293
Rata-rata 0,846 ± 0,447

PEN/1718/06
74
Tabel E.13 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 50%
Kadar Fosfat untuk Beban Organik 50%
Absorbansi Konsentrasi (mg/L)
I 2,647 4,310
II 2,645 4,307
Rata-rata 4 ± 0,0015

Tabel E.14 Data Analisis Kadar Fosfat mg/L Untuk Beban Organik 50% dengan
Variasi Waktu Aerasi
Kadar Fosfat untuk Beban Organik 50% Aerasi 6 Jam
Absorbansi I Absorbansi II Konsentrasi
Domestik 0,807 0,805 1,303
PKS 1,07 1,06 1,733
Rata-rata 1,518± 0,215
Kadar Fosfat untuk Beban Organik 50% Aerasi 12 Jam
Absorbansi I Absorbansi II Konsentrasi
Domestik 0,488 0,478 0,782
PKS 0,634 0,631 1,020
Rata-rata 0,901± 0,119

Penentuan konsentrasi fosfat berdasarkan persamaan kurva baku dengan persamaan


Y = 0,6119x + 0,0093 R2 = 0,99. Contoh perhitungan adalah sebagai berikut:
Y = 1,025
1,025 = 0,6119x+0,0093
X = 1,6599
Konsentrasi Fosfat = 1,6599 x Faktor Pengencer (5)
Konsentrasi Fosfat = 8,299 mg/L

PEN/1718/06
75
E. 7 Data Pengamatan pH pada Proses Seeding
Data pH diperoleh menggunakan indicator pH pada hari ke-0 sampai hari ke-23,
dan menggunakan pH meter pada hari ke-25 sampai hari ke-42. Data pengamatan
pH pada inokulum M1 dan M2 ditampilkan pada Tabel E.15.

Tabel E.15 Data Pengamatan pH pada Proses Seeding


Inokulum
Hari Ke- M1 M2
0 7 7
4 7 7
6 7 6
10 6 5
13 7 7
17 5 6
19 6 5
23 6 5
25 7,56 ± 0,015 8,58 ± 0,015
31 7,64 ± 0,015 8,67 ± 0.01
32 7,97 ± 0,015 8,16 ±0.01
42 7,49 ± 0,005 8,69 ±0.01

PEN/1718/06
76
LAMPIRAN F
DOKUMENTASI PENELITIAN

(a) (b)

(c) (d)
Gambar F.1 Analisis Nilai Parameter Air Limbah: (a) Uji Minyak dan Lemak;
(b) Uji MLSS; (c) Uji Fosfas; (d) Uji COD

PEN/1718/06
77
M1 M2

Gambar F.2 Inokulum M1 dan M2 Pada Nutrien Agar

Gambar F.3 Reaktor SBR

PEN/1718/06
78