Anda di halaman 1dari 16

Tugas Kliping IPS

Biografi Pahlawan di Masa Penjajahan Belanda


(Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa,
Kalimantan, Bali, Maluku, dan Sulawesi)

Disusun Oleh :
NAMA : CLINTON BUDI ABUDIN
KELAS : 5A
BIOGRAFI PAHLAWAN DI MASA PENJAJAHAN BELANDA
DARI SETIAP DAERAH DI INDONESIA

Kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia dimulai pada tahun 1596. Mereka datang
dengan kapal dan singgah pertama kali di Pelabuhan Banten. Lama kelamaan kapal dagang
Belanda yang datang semakin bertambah. Awalnya kedatangan bangsa Belanda tersebut
disambut dengan gembira oleh rakyat Indonesia karena mereka semua datang dengan tujuan
melakukan perniagaan, yaitu jual beli rempah-rempah yang memang sangat dibutuhkan oleh
bangsa Belanda. Akan tetapi karena keangkuhan dan keserakahannya, bangsa Belanda
menerapkan sistem monopoli. Pada saat sistem ini diterapkan, mulailah ada reaksi dari rakyat
Indonesia. Apalagi setelah mereka menerapkan sistem kolonial. Rakyat Indonesia bukan saja
bereaksi, tetapi juga mengadakan perlawanan bersenjata. Adapun perlawanan rakyat Indonesia
dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang, antara lain sebagai berikut.

A. ACEH
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Aceh yang melakukan perlawanan terhadap
kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.

1. Teuku Umar
Keterangan :
 Lahir : Meulaboh, Kesultanan Aceh, tahun 1854
 Meninggal : Meulaboh, Kesultanan Aceh, tahun 1899
 Merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang
gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899. Teuku Umar tertembak
dalam pertempuran dinihari 11 Februari 1899. Pemerintah memberinya gelar
pahlawan nasional pada 1973.

2. Cut Nyak Dhien

Keterangan :
 Lahir : Lampadang, Kerajaan Aceh, tahun 1848
 Meninggal : Sumedang, 6 November 1908
 Cut Nyak Dhien adalah istri Teuku Umar. Sepeninggal Teuku Umar, Cut
Nyak Dhien melanjutkan perjuangan melawan pasukan Belanda. Ketika
ditangkap Belanda atas laporan pengikutnya, Belanda mengasingkan Cut
Nyak Dhien ke Sumedang, Jawa Barat. Pada 6 November 1908, Cut Nyak
Dhien meninggal dunia. Gelar pahlawan disematkan kepadanya tahun 1964.
3. Cut Nyak Meutia

Keterangan :
 Lahir : Keureutoe, Aceh Utara, tahun 1878
 Meninggal : Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910
 Ketika suami pertamanya yang juga pemimpan pasukan gerilyawan,
Teungku Chik Tunong meninggal dunia, Cut Meutia melanjutkan
perjuangan bersama suami keduanya, Pang Nanggroe. Ketika Pang
Nanggroe gugur pada 26 September 1910, Cut Meutia melanjutkan
perjuangan dengan pasukan yang tersisa. Pada 24 Oktober 1910, Cut Meutia
bersama pasukannya bentrok dengan pasukan Marsose di Alue Kurieng.
Dalam pertempuran itu Cut Nyak Meutia gugur. Cut Nyak Meutia mendapat
gelar pahlawan nasional bersamaan dengan Cut Nyak Dhien pada 1964.
4. Teungku Chik di Tiro

Keterangan :
 Lahir : Tiro, Pidie, Kesultanan Aceh, tahun 1836
 Meninggal : Aneuk Galong, Aceh Besar, Januari 1891
 Teungku Chik di Tiro terkenal dengan sebutan lain yaitu Teungku Chik di
Tiro Muhammad Saman. Pada tahun 1881-1891 pasukan Chik di Tiro
berhasil membuat Belanda pusing dengan pergantian gubernur Belanda
sebanyak 4 kali dalam 10 tahun. Bersama pasukannya Teungku Chik di Tiro
mengobarkan semangat Perang Sabil saat melawan pasukan Belanda. Atas
jasa-jasanya, pemerintah memberi gelar pahlawan nasional pada 1973.

5. Teuku Nyak Arif


Keterangan :
 Lahir : Ulee Lheue, Banda Aceh, 17 Juli 1899
 Meninggal : Takengon, Aceh Tengah, 4 Mei 1946
 Teuku Nyak Arif adalah gubernur Aceh pertama periode 1945-1946. Sejak
tahun 1932, Teuku Nyak Arif memimpin gerakan dibawah tanah menentang
penjajahan Belanda di Aceh. Pada 11 Juli 1937, ia mendirikan Perguruan
Taman Siswa di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) yang diprakarsai oleh Ki
Hajar Dewantara. Di Banda Aceh, perguruan ini diketuai oleh Mr. Teuku
Muhammad Hasan, dan Teuku Nyak Arief sebagai sekretaris.

6. Teuku Muhammad Hasan

Keterangan :
 Lahir : Pidie, Aceh, 4 April 1906
 Meninggal : Jakarta, 21 September 1997 (usia 91 tahun)
 Ketika agresi militer Belanda II berhasil merebut Yogyakarta yang saat itu
menjadi ibukota Indonesia, Teuku Muhammad Hasan bersama Syafruddin
Prawiranegara membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia yang
bermarkas di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Dipimpin Syafruddin
Prawiranegara, Teuku Muhammad Hasan duduk sebagai Wakil Ketua
sekaligus Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama.
B. Sumatera Utara
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Sumatera Utara yang melakukan
perlawanan terhadap kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.

1. Sisingamangaraja XII

Keterangan :
 Lahir : Bakara, 18 Februari 1845
 Meninggal : Dairi, 17 Juni 1907
 Gelar : Patuan Bosar Ompu Pulo Batu
 Beliau naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya bernama Ompu
Sohahuaon. Penobatannya sebagai raja ke-12 bersamaan dengan masuknya
Belanda ke Sumatera Utara. Belanda berusaha menanamkan monopoli atas
perdagangan di Bakara. Hal ini memicu Perang Batak yang dipimpin oleh
Sisingamangaraja XII hingga puluhan tahun lamanya. Setelah Bakkara
dikuasai Belanda, beliau masih memimpin perang gerilya sampai akhirnya
beliau gugur ditembak Belanda di Dairi beserta ketiga putra-putrinya.

C. Sumatera Barat
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Sumatera Barat yang melakukan
perlawanan terhadap kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.
1. Tuanku Imam Bonjol

Keterangan :
 Lahir : Bonjol, Sumatera Barat, tahun 1772
 Meninggal : Lotta, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864
 Nama asli : Muhammad Shahab
 Tuanku Imam Bonjol adalah seorang ulama, pemimpin, dan pejuang yang
berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama
Perang Padri pada tahun 1803-1838. Ia dikenal memiliki beberapa gelar
yaitu Peto Syarif dan Malin Basa. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai
Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1973.

D. Jawa
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Jawa yang melakukan perlawanan terhadap
kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.
1. Pangeran Diponegoro
Keterangan :
 Lahir : Yogyakarta, 11 November 1785
 Meninggal : Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855
 Nama Asli : Mustahar atau Raden Mas Ontowiryo
 Nama Gelar : Sultan Abdul Hamid
Tindakan-tindakan Belanda yang tidak mengacuhkan adat dan tradisi
masyarakat menyebabkan Pangeran Diponegoro menentang segala tindakan
Belanda. Sejak saat itu berkobarlah perang besar yang disebut Perang
Diponegoro (1825-1830). Beliau mendapat julukan Pangeran Diponegoro
karena telah memimpin Perang Diponegoro tersebut.
Pada awal pertempuran Diponegoro mendapat kemenangan yang luar
biasa. Pangeran Diponegoro menggunakan sistem Perang Gerilya. Dengan
dibantu oleh Pangeran Mangkubumi, Kyai Mojo, dan Sentot Alibasyah
Prawirodirjo, banyak daerah yang berhasil dikuasanya.
Setelah perang berlangsung sekitar 3 tahun, pasukan Diponegoro
semakin berkurang. Walaupun demikian Diponegoro tetap melakukan
perlawanan yang cukup merepotkan Belanda. Akhirnya Belanda melakukan
akal busuk yaitu menipu Diponegoro. Diponegoro diajak berunding untuk
berdamai di Magelang. Diponegoro dating pada tanggal 28 Maret 1830.
Setelah Dipoegoro dating, dia bukan diajak berunding tetapi malah ditangkap.
Gubernur Jenderal De Kock memerintahkan untuk menangkap Diponegoro.
Akhirnya Diponegoro dibuang ke Manado dan kemudian dipindahkan lagi ke
Makassar dan meninggal di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
2. Sultan Agung Tirtayasa

Keterangan :
 Lahir : Banten, tahun 1631
 Meninggal : Jakarta, tahun 1692
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, konflik antara
Kesultanan Banten dan Belanda semakin meruncing. Hal tersebut disebabkan
karena ikut campurnya Belanda dalam internal kesultanan Banten yang saat itu
sedang melakukan pemisahan pemerintahan. Belanda melalui politik adu
dombanya (Devide et Impera) menghasut Sultan Haji (Abu Nasr Abdul Kahar)
melawan Pangeran Arya Purbaya yang merupakan saudaranya sendiri.
Sultan Haji mengira bahwa pembagian tugas pemerintahan oleh Sultan
Ageng Tirtayasa kepadanya dan saudaranya tersebut merupakan upaya
menyingkirkan dirinya dari pewaris tahta kesultanan Banten dan diberikan
kepada adiknya, Pangeran Arya Purbaya. Sultan Haji yang didukung oleh VOC
Belanda lalu berusaha menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa.
Akhirnya, perang keluarga pun pecah. Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa
saat itu mengepung pasukan Sultan Haji di daerah Sorosowan (Banten).
Namun pasukan pimpinan Kapten Tack dan Saint-Martin yang dikirim
Belanda datang membantu Sultan Haji.
Perang antar keluarga yang berlarut-larut membuat Kesultanan Banten
melemah. Akhirnya pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan
dibawa ke Batavia dan dipenjara.
E. Kalimantan
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Kalimantan yang melakukan perlawanan
terhadap kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.

1. Pangeran Antasari

Keterangan :
 Lahir : Kayu Tangi, Banjar, Kalimantan Selatan, 1797 atau 1809
 Meninggal : Bayan Begok, Kalimantan Tengah, 11 Oktober 1862
 Nama Asli : Gusti Inu Kertapati
 Ia adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862, ia dinobatkan sebagai
pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar dengan menyandang
gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Perang Banjar pecah
saat Pangeran Antasari dan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara
milik Belanda di Pengaron pada tanggal 25 April 1859.
 Beberapa kali Pangeran Antasari dibujuk Belanda untuk menyerah, akan
tetapi Pangeran Antasari menolak. Pada masa peperangan, Belanda pernah
menawarkan hadiah 10.000 gulden bagi yang bisa menangkap Pangeran
Antasari, tetapi tidak ada yang berani menangkapnya sampai perang selesai.
F. Bali
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Bali yang melakukan perlawanan terhadap
kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.
1. I Gusti Ketut Jelantik

Keterangan :
 Lahir : Buleleng, tahun 1800
 Meninggal : Jagaraga, Buleleng, tahun 1849
 I Gusti Ketut Jelantik merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan
dalam Perang Jagaraga yang terjadi di Bali pada tahun 1849. Perlawanan
ini bermula karena pemerintah Belanda ingin menghapuskan hak tawan
karang yang berlaku di Bali, yaitu hak bagi raja-raja yang berkuasa di Bali
untuk mengambil kapal yang kandas di perairannya beserta seluruh isinya.
Ucapannya yang terkenal saat itu adalah “Apapun tidak akan terjadi. Selama
aku hidup aku tidak akan mangakui kekuasaan Belanda di negeri ini”.
Perang ini berakhir sebagai suatu puputan, seluruh anggota kerajaan dan
rakyatnya bertarung mempertahankan daerahnya sampai titik darah
penghabisan. Namun pada akhirnya ia harus mundur ke Gunung
Batur, Kintamani. Pada saat inilah beliau gugur.
2. I Gusti Ngurah Rai

Keterangan :
 Lahir : Desa Carangsari, Bali, 30 Januari 1917
 Meninggal : Marga, Tabanan, Bali, 20 November 1946
 Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Denpasar dan MULO di
Malang, tahun 1936 beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Kader
Militer di Gianyar Bali. Selanjutnya mengikuti pendidikan di Corps
Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) di Magelang. Pada masa
pendudukan Jepang, Ngurah Rai bekerja sebagai intel sekutu di daerah Bali
dan Lombok.

G. Maluku
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Maluku yang melakukan perlawanan
terhadap kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.
1. Pattimura
Keterangan :
 Lahir : Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783
 Meninggal : Ambon, Maluku, 16 Desember 1817
 Nama Asli : Thomas Matulessy
 Nama Julukan : Kapitan Pattimura
 Ia berperan sebagai panglima perang dalam perlawanan rakyat Maluku
dengan tentara VOC Belanda. Dengan wibawa dan kepemimpinannya,
Pattimura berhasil menyatukan kerajaan Nusantara, tepatnya Ternate dan
Tidore untuk menghadapi penjajah pada tahun 1817 dan dikenal dengan
Perang Pattimura.
 Sebelumnya, beliau adalah seorang mantan sersan di militer Inggris.
Sebagai seorang panglima perang, beliau yang mengatur strategi perang
bersama para pembantunya. Beliau dinobatkan sebagai Kapitan Pattimura
pada tanggal 16 Mei 1817.

2. Martha Christina Tiahahu


Keterangan :
 Lahir : Abubu, Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800
 Meninggal : Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818
 Ia merupakan anak dari Kapitan Paulus Tiahahu yang turut membantu
Kapitan Pattimura dalam perlawanan terhadap Belanda pada tahun 1817.
Usianya yang masih muda tidak membuatnya gentar dan takut dalam
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
 Dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw Tenggara Pulau Saparua,
karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan
pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani
hukuman. Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau
Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha
Christina berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati. Namun
ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, tetapi akhirnya
tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

H. Sulawesi
Biografi singkat beberapa pahlawan dari Sulawesi yang melakukan perlawanan
terhadap kedatangan Belanda adalah sebagai berikut.
1. Sultan Hasanuddin
Keterangan :
 Lahir : Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631
 Meninggal : Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670
 Ia terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang
Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat
tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya
saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Ia diangkat menjadi
Sultan ke-6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Setelah naik
takhta menjadi sultan dari Kerajaan Gowa, ia berupaya menggabungkan
kerajaan-kerajaan kecil Indonesia Timur dan memberikan perlawanan yang
cukup sengit kepada pihak Kompeni Belanda. Peperangan antara VOC dan
Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660.
 Karena kegigihan dan keberaniannya melawan Kolonial belanda,
Hasanuddin diberi gelar de Haav van de Oesten alias Ayam Jantan dari
Timur oleh pihak Belanda.