Anda di halaman 1dari 8

TEORI SPIRITUAL

Teori spiritual spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada pengertian


hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi individu tentang arti
kehidupan. James fowler mengungkapkan 7 tahap perkembangan kepercayaan.
Fowler juga meyakini bahwa kepercayaan atau dimensi spiritual adalah suatu
kekuatan yang memberi arti bagi kehidupan seseorang. Fowler menggunakan istilah
kepercayaan sebagai suatu bentuk pengetahuan dan cara berhubungan dengan
kehidupan akhir. Menurutnya, Kepercayaan adalah suatu fenomena timbal balik yaitu
suatu hubungan aktif antara seseorang dengan orang lain dalam menanamkan suatu
keyakinan, cinta kasih, dan harapan. Fowler meyakini bahwa perkembangan
kepercayaan antara orang dan lingkungan terjadi karena adanya kombinasi antara
nilai nilai dan pengetahuan. Fowler juga berpendapat bahwa perkembangan spiritual
pada lansia berada pada tahap penjelmaan dari prinsip cinta dan keadilan.

Pada dasarnya, ketika seseorang menjadi tua akan menjadi :

1. Menjauhkan diri dari hawa nafsu duniawi


2. Melaksanakan amanah agama yang dianut, dengan berdoa demi kententraman
hidup pribadi dan orang lain
3. Menuju penyempurnaan diri dan mengarah pada pencerahan atau pemenuhan diri
untuk dapat mengarah pada kemanunggalan dengan Illahi
Melalui pengalaman hidup, setiap orang akan berupaya menjadi lebih arif dan akan
mengembangkan dirinya ke labih yang berarti : melalui prestasi yang diraihnya di
kala muda, seseorang akan berupaya meraih nilai-nilai luhur di hari tua – khususnya
keserasian hidup dengan lingkungannnya.

Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh usia lanjut sebagai upaya dalam meniti
dan meningkatkan taraf kehidupan spiritual yang baik antara lain :

1. Mendalami kitab suci sesuai agama masing-masing supaya kekurangan dan


kesalahan yang sudah dilakukan dapat diperbaiki
2. Melakukan latihan meditasi
3. Berdoa untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan YME, dengan
berani dan terbuka mengakui kesalahan dan melakukan pertaubatan
4. Kotemplasi, pelibatan diri dalam kondisi dan situasi yang sesuai dengan kitab suci
dan diaplikasikan dalam kehidupan masa kini
Kegiatan-kegiatan di atas tersebut menyiapkan usia lanjut untuk kembali secara
sempurna dan utuh ke pangkuan Illahi.

2. TEORI BIOLOGIS
1. TEORI STOKASTIK/ Stochastic Theories

Bahwa penuaan merupakan suatu kejadian yang terjadi secara acak/ random dan
akumulasi setiap waktu. Teori ini terdiri dari :

a) Error Theory (Teori Kesalahan)


Teori kesalahan didasarkan pada gagasan di mana kesalahan dapat terjadi di dalam
rekaman sintese DNA. kesalahan ini diabadikan dan secepatnya didorong kearah
sistem yang tidak berfungsi di tingkatan yang optimal. Jika proses transkripsi dari
DNA terganggu maka akan mempengaruhi suatu sel dan akan terjadi penuaan yang
berakibat pada kematian.

Sejalan dengan perkembangan umur sel tubuh, maka terjadi beberapa perubahan
alami pada sel pada DNA dan RNA, yang merupakan substansi
pembangun/pembentuk sel baru. Peningkatan usia mempengaruhi perubahan sel
dimana sel-sel Nukleus menjadi lebih besar tetapi tidak diikuti dengan peningkatan
jumlah substansi DNA.

Konsep yang diajukan oleh Orgel (1963) menyampaikan bahwa kemungkinan


terjadinya proses menua adalah akibat kesalahan pada saat transkirpsi sel pada
saat sintesa protein, yang berdampak pada penurunan kemampuan kualitas (daya
hidup) sel atau bahkan sel-sel baru relatif sedikit terbentuk. Kesalahan yang terjadi
pada proses transkripsi ini dimungkinkan oleh karena reproduksi dari enzim dan
rantai peptida (protein) tidak dapat melakukan penggandaan substansi secara tepat.
Kondisi ini akhirnya mengakibatkan proses transkripsi sel berikutnya juga mengalami
perubahan dalam beberapa generasi yang akhirnya dapat merubah komposisi yang
berbeda dari sel awal (Sonneborn, 1979).

b) Free Radical Theory (teori radikal bebas)

Teori ini menyatakan bahwa penuaan disebabkan akumulasi kerusakan ireversibel


akibat senyawa pengoksidan. Radikal bebas adalah produk metabolisme selular
yang merupakan bagian molekul yang sagat reaktif. Molekul ini mempunyai muatan
ekstraselular kuat yang dapat menciptakan reaksi dengan protein, mengubah bentuk
dan sifatnya ; molekul ini juga dapat bereaksi dengan lipid yang berada dalam
membran sel, mempengaruhi permeabilitasnya, atau dapat berikatan dengan organel
sel lainnya.

Proses metabolisme oksigen diperkirakan menjadi sumber radikal bebas terbesar,


secara spesifik, oksidasi lemak, protein dan karbohidrat dalam tubuh menyebabkan
formasi radikal bebas. Polutan lingkungan merupakan sumber eksternal radikal
bebas.

Teori radikal bebas mengasumsikan bahwa proses menua terjadi akibat


kekurangefektifan fungsi kerja tubuh dan hal itu dipengaruhi oleh adanya berbagai
radikal bebas dalam tubuh. D. Harman menyatakan bahwa secara normal radikal
bebas ada pada setiap individu dan dapat digunakan untuk memperdiksi umur
kronologis individu. Yang disebut radikal bebas disini adalah molekul yang memilki
tingkat afinitas yang tinggi, merupakan molekul, fragmen molekul atau atom dengan
elektron yang bebas tidak berpasangan. Radikal bebas merupakan zat yang
terbentuk dalam tubuh manusia sebagai salah satu hasil kerja metabolisme tubuh.
Walaupun secara normal ia terbentuk dari proses metabolisme tubuh, tetapi ia dapat
terbentuk akibat : (1) Proses oksigenisasi lingkungan seperti pengaruh polutan, ozon
dan pestisida. (2) Reaksi akibat paparan dengan radiasi (3) sebagai reaksi berantai
dengan molekul bebas lainnya.

Radikal bebas yang reaktif mampu merusak sel, termasuk mitokondria, yang
akhirnya mampu menyebabkan cepatnya kematian (apoptosis) sel, menghambat
proses reproduksi sel. Hal lain yang mengganggu fungsi sel tubuh akibat radikal
bebas adalah bahwa radikal bebas yang ada dalam tubuh dapat menyebabkan
mutasi pada transkripis DNA – RNA pada genetik walaupun ia tidak mengandung
DNA. Dalam sistem syaraf dan jaringan otot, dimana radikal bebas memiliki tingkat
afinitas yang relatif tinggi dibanding lainnya, terdapat/ditemukan substansi yang
disebut juga dengan Lipofusin, yang dapat digunakan juga untuk mengukur usia
kronologis seseorang.

Lipofusin yang merupakan pigmen yang diperkaya dengan lemak dan protein
ditemukan terakumulasi dalam jaringan orang-orang tua. Kesehatan kulit
berangsur-angsur menurun akibat suplai oksigen dan nutrisi yang makin sedikit yang
akhirnya dapat mengakibatkan kematian jaringan kulit itu sendiri.

Vitamin C dan E merupakan dua substansi yang dipercaya dapat menghambat kerja
radikal bebas (sebagai antioksidan) yang memungkinkan menyebabkan kerusakan
jaringan kulit. Rockestein dan Sussman (1979) menyatakan bahwa Butilat
Hidroksitoluent dapat memiliki efek antioksidan ketika diberikan kepada tikus.

c) Cross-Linkage Theory (Teori Ikatan Silang)

Teori ini seperti protein yang metabolisme tidak normal sehingga banyak produksi
sampah didalam sel dan kinerja jaringan tidak dapat efektif dan efisien.

Dikenalkan oleh J. Bjorksten pada tahun 1942, menekankan pada postulat bahwa
proses menua terjadi sebagai akibat adanya ikatan-ikatan dalam kimiawi tubuh.
Teori ini menyebutkan bahwa secara normal, struktur molekular dari sel berikatan
secara bersama-sama membentuk reaksi kimia. Termasuk didalamnya adalah
kolagen yang merupakan rantai molekul yang relatif panjang yang dihasilkan oleh
fibroblast. Dengan terbentuknya jaringan baru, maka jaringan tersebut akan
bersinggungan dengan jaringan yang lama dan membentuk ikatan silang kimiawi.
Hasil akhir dapi proses ikatan silang ini adalah peningkatan densitas kolagen dan
penurunan kapasitas untuk transport nutrient serta untuk membuang produk-produk
sisa metabolisme dari sel.

Zat ikatan silang ditemukan pada lemak tidak jenuh, ions polyvalen seperti
Alumunium, Seng, dan Magnesium.

d) Wear and Tear Theory (Teori Pakai dan Usang)


Teori ini mengatakan bahwa manusia diibaratkan seperti mesin. Sehingga perlu
adanya perawatan. Dan penuaan merupakan hasil dari penggunaan.

Dalam teori ini, dinyatakan bahwa sel-sel tetap ada sepanjang hidup manakala
sel-sel tersebut digunakan secara terus-menerus. Teori ini dikenalkan oleh Weisman
(1891). Hayflick menyatakan bahwa kematian merupakan akibat dari tidak
digunakannya sel-sel karena dianggap tidak diperlukan lagi dan tidak dapat
meremajakan lagi sel-sel tersebut secara mandiri.

Teori ini memandang bahwa proses menua merupakn proses pra – program yaitu
proses yang terjadi akibat akumulasi stress dan injuri dari trauma. Menua dianggap
sebagai “Proses fisiologis yang ditentukan oleh sejumlah penggunaan dan
keusangan dari organ seseorang yang terpapar dengan lingkungan (Matesson,
Mc.Connell, 1988)

2. TEORI NONSTOKASTIK/NonStochastic Theories

Proses penuaan disesuaikan menurut waktu tertentu.

a) Programmed Theory (Teori Keterbatasan Hayflick)

Pembelahan sel dibatasi oleh waktu, sehingga suatu saat tidak dapat regenerasi
kembali.

Diperkenalkan oleh Hayflick dan Moorehead (1961) dimana menyatakan bahwa


sel-sel mengalami perubahan kemampuan reproduksi sesuai dengan bertambahnya
usia.(Lueckenote : 1996) Selain diatas, dikenal juga istilah Jam Biologis Manusia
yang diperkirakan antara 110 – 120 tahun (Stanley, Pye, MacGregor dalam
Lueckenote : 1996) Jam Biologis Manusia diasumsikan sebagai waktu dimana sel-sel
tubuh manusia masih dapat berfungsi secara prodeuktif untuk menunjang fungsi
kehidupan. Teori Hayflick menekankan bahwa perubahan kondisi fisik pada manusia
dipengruhi oleh adanya kemampuan reproduksi dan fungsional sel organ yang
menurun sejalan dengan bertambahnya usia tubuh setelah usia tertentu

b) Immunity Theory (Teori Imunitas)

Dalam teori ini, ketuaan dianggap disebabkan oleh adanya penurunan fungsi sistem
immun. Perubahan itu lebih tampak secara nyata pada Limposit –T, disamping
perubahan juga terjadi pada Limposit-B. Perubahan yang terjadi meliputi penurunan
sisitem imun humoral, yang dapat menjadi faktor predisposisi pada orang tua untuk :
(a) menurunkan resistansi melawan pertumbuhan tumor dan perkembangan kanker
(b) menurunkan kemampuan untuk mengadakan inisiasi proses dan secara agresif
memobilisasi pertahanan tubuh terhadap patogen (c) meningkatkan produksi
autoantigen, yang berdampak pada semakin meningkatnya resiko terjadinya
penyakit yang berhubungan dengan autoimmun.
Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan. Walaupun
demikian, kemunduran kamampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan
khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang berkontribusi dalam proses
penuaan.

Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat menyebabkan
berkurangnya kemampuan system imun tubuh mengenali dirinya sendiri. Mutasi
somatic menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini
dapat menyebabkan system imun tubuh mengalami perubahan, dan dapat dianggap
sebagai sel asing. Hal inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun. Dilain
pihak, system imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada
proses penuaan dan daya serangnya terhadap sel kanker mengalami penurunan.

Dari konsep diatas, maka implikasi keperawatan yang dapat ditetapkan antara lain :

a. Dalam hubungan dengan orang yang tua, perlu bagi perawat untuk
memperhatikan teori proses menua

b. Aktivitas (kegiatan) sehari-hari merupakan salah satu bagian dari perilaku


kehidupan normal yang tidak perlu dibatasi secara berlebihan, tetapi lebih cenderung
untuk memodifikasi perilaku sebagai akibat perubahan fisik dari manula itu sendiri.
Perilaku hidup sehari-hari diperlukan untuk menjaga kondisi fisik tetap dalam batas
normal dan mengoptimalkan kemampuan diri.

c. Pola hidup sehat yang dilakukan dapat mempengaruhi perubahan-perubahan


dasar biologis dari proses menua itu sendiri. Konsumsi makanan yang sehat,cukup
gizi dan menghindari faktor-faktor resiko pencetus stress fisik dan pembentuk radikal
bebas merupakan salah satu upaya untuk mengurangi proses menua secara
biologis.

d. Melakukan kehidupan dengan melakukan kerja seimbang dan pemenuhan


kebutuhan seimbang mampu memberikan montribusi yang positif dalam
peningkatkan performens individu itu sendiri

e. Menghindari leingkungan dengan tingkat resiko radiasi atau polutan yang tinggi
merupakan langkah yang bida ditempuh untuk menghindari cepatnya proses menua
secara biologis.

f. Perlu bagi perawat untuk memperhatikan upaya-upaya pemenuhan kebutuhan


pasien akan sarana dan prasarana yang menunjang pencapaian kebutuhan hidup
serta meningkatkan kualitas hidup melalui pengadaan alat-alat aktifitas yang
memadai, mengurangi resiko stress fisik berlebih serta terhindar dari polusi.

3. Teori Psikologis Dan Implikasi Keperawatan

a. Teori Tugas Perkembangan


Havigurst (1972) menyatakan bahwa tugas perkembangan pada masa tua antara lain
adalah :
1. Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
4. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang sebaya
5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Selain tugas perkembangan diatas, terdapat pula tugas perkembangan yang spesifik yang
dapat muncul sebagai akibat tuntutan :
Kematangan fisik
Harapan dan kebudayaan masyarakat
Nilai-nilai pribadi individu dan aspirasi

Teori Delapan Tingkat Kehidupan


Secara Psikologis, proses menua diperkirakan terjadi akibat adanya kondisi dimana kondisi
psikologis mencapai pada tahap-tahap kehidupan tertentu. Ericson (1950) yang telah
mengidentifikasi tahap perubahan psikologis (depalan tingkat kehidupan) menyatakan
bahwa pada usia tua, tugas perkembangan yang harus dijalani adalah untuk mencapai
keeseimbangan hidup atau timbulnya perasaan putus asa.
Peck (1968) menguraikan lebih lanjut tentang teori perkembangan erikson dengan
mengidentifikasi tugas penyelarasan integritas diri dapat dipilah dalam tiga tingkat yaitu :
pada perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, perubahan tubuh terhadap pola
preokupasi, dan perubahan ego terhadap ego preokupasi.
Pada tahap perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, tugas perkembangan
yang harus dijalani oleh lansia adalah menerima identitas diri sebagai orang tua dan
mendapatkan dukungan yang adekuat dari lingkungan untuk mengnhadapi adanya peran
baru sebagai orang tua (preokupasi). Adanya pensiun dan atau pelepasan pekerjaan
merupakan hal yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan dapat
menyebabkan perasaan penurunan harga diri dari orang tua tersebut.
Perubahan fiisik dan pola fikir pada usia lanjut juga dapat menjadi salah satu gangguan
yang berarti bagi kehidupan lanjut usia. Kondisi fisik/pola fikir yang menurun kadang tidak
disadari oleh lanjut usia dan hal ini dapat mengkibatkan konflik terhadap peran baru dari
lanjut usia yang harus dijalaninya.
Tugas perkembangan terakhir yang harus diterima oleh lanjut usia adalah bahwa mereka
harus mampu menerima kematian yang bakal terjadi pada dirinya dalam kesejaheraan.
Pemanfaatan sisa keefektifan tubuh untuk aktivitas sehari-hari dapat menjadi salah satu
upaya untuk meningkatkan moral individu dalam menerima perubahan ego menuju
keselarasan diri.

c. Teori Jung
Carl Jung merupakan psikolog swiss yang mengembangkan teori bahwa perkembangan
personal individu dilalui melalui tahapan-tahapan : masa kanak-kanak, masa remaja dan
remaja akhir, usia pertengahan, dan usia tua. Kepribadian personal ditentukan oleh adanya
ego yang dimiliki, ketidaksadaran personal dan ketidaksadaran kolektif. Teori ini
mengungkapkan bahwa sejalan dengan perkembangan kehidupan, pada masa usia
petengahan maka seseorang mulai mencoba menjawab hakikat kehidupan dengan
mengeksplorasi nilai-nilai, kepercayaan dan meninggalkan khayalan. Pada masa ini dapat
terjadi "krisis usia pertengahan" yang dapat mempengaruhi/menghambat proses ketuaan itu
sendiri secara psikologis. Adanya sikap ekstrovert maupun introvert sangat berpengaruh
sekali terhadap peran dan penyelesaian masalah kehidupam saat usia pertengahan.
Pencapaian keselarasan hidup merupakan salah satu indikator telah tereksplorasinya
nilai-nilai kehidupan oleh individu dan pencapaian ini sangat dipengaruhi oleh kepribadian
(introvert maupun ekstrovert). Berdasar pada pemahaman diatas, maka Jung menilai bahwa
seseorang mampu dianggap sukses dalam proses menua manakala individu mampu untuk
menjadi "orang yang berfokus pada orang lain" dan memiliki kepedulian yang penuh
terhadap kehidupan sosial.
Implikasi keperawatan :
Perlunya penyadaran / pendidikan kesehatan kepada manula dalam upaya menjalani proses
kehidupan
Kegiatan penyelenggaraan suport psikologis sangat diperlukan untuk mencapai hasil optimal
bagi kesejahteraan psikis
Perawat harus mampu mengakomodasi/memfasilitasi proses kegiatan penyelanggaraan
penyuluhan dan bimbingan rohani sera support psikologis
Masalah yang dihadapi oleh manula saat ini dapat merupakan akibat terjadinya gangguan
pada tahap kehidupan sebelumnya, sehingga perawat perlu mempelajari konsep psikologis
secara mapan dan mampu menjadi fasilitator dalam bimbingan rohani.

C. Teori Sosial Menua Dan Implikasi Keperawatan

Teori Stratifikasi Usia


Pada awal tahun 1970, teori ini muncul dan menjadi suatu wacana publik yang besar. Teori
ini menyatakan bahwa orang yang mengalami proses menua dipandang sebagai individu
elemen sosietas dan juga sebagai anggota kelompok/group dalam masyarakat. Rilley (1985)
mengungkapkan ada lima konsep utama yang mendasarinya yaitu :
setiap individu merupakan bagian sosietas
adanya keunikan peran tugas dan fungsi
tidak hanya pada tataran tertentu saja terjadi perubahan
Pengalaman yang dimiliki oleh orang yang tua dapat dibentuk melalui parameter umur dan
tugas
hubungan antara manusia usial lanjut dengan lingkungan tidak stagnasi

Teori Aktivitas
Teori ini menyatakan bahwa seorang individu harus mampu eksis dan aktif dalam kehidupan
sosial untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan di hari tua. (Havigurst dan Albrech.
1963). Aktivitas dalam teori ini dipandang sebagai sesuatu yang vital untk mempertahankan
rasa kepuasan pribadi dan kosie diri yang positif. Teori ini berdasar pada asumsi bahwa : (1)
aktif lebih baik daripada pasif (2) Gembira lebih baik daripada tidak gembira (3) orang tua
merupakan adalah orang yang baik untuk mencapai sukses dan akan memilih alternatif
pilihan aktif dan bergembira.

Teori Kontinyuitas
Teori ini memandag bahwa kondisi tua merupakan kondisi yang selalu terjadi dan secara
berkesinambungan yang harus dihadapi oleh orang lanjut usila.

Implikasi Keperawatan
Perlu bagi perawat untuk tetap mengaktifkan peran sosial manula sesuai dengan
kemampuannya
Perawat harus mampu menciptakan lingkungan sosial yang berfariatif.

DAFTAR PUSTAKA

Ader, Felten DL, Cohen N (1991) Psychoneuroimmunology, Academic Press Inc. 2nd
edition. New York

Depkes R.I (1999) Kesehatan keluarga, Bahagia dim Usia Senja, Medi Media, Jakarta

Kozier, Barbara (1991) Fundamentals of Nursing, Concepts, Pocess and Practice, 2th
edition, Addison Wesley Co. California

Lueckenote A.G (1996) Gerontologic Nursing, Mosby Year Book Co. Inc, Missourri

Nugroho Wahyudi (1995) Perawatan Usia Lanjut, Penerbit EGC, Jakarta

Setyabudhi T, Hadiwinoyo (1999) Panduan Gerontologi, Tinjauan dari Berbagai Aspek, PT


Gramedia Pustaka Utama, Jakarta