Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perlu diketahui bahwa kehidupan rumah tangga tidak lepas dari
permasalahan, baik masalah yang sepele hingga masalah yang membutuhkan
kedewasaan berpikir agar terhindar dari pertengkaran yang berkepanjangan.
Sehingga hal ini membutuhkan saling memahami antar suami istri, perlu
mengetahui hak dan kewajiban suami terhadap isteri atau hak dan kewajiban isteri
terhadap suami.Dewasa ini banyak kasus perceraian yang terjadi di kalangan
masyarakat, apapun alasannya mengapa kalangan masyarakat sering terjadi
kasus perceraian, mungjin mereka belum banyak memahami hak suami terhadap
istri atau sebaliknya. Maka dipandang perlu untuk kita mengkaji dan membahas
hal tersebut secara mendalam.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa saja hak-hak istri?

C. Tujuan penulisan makalah


Tujuan kami menulis makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah AL-ISLAM, selain itu juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita
semua tentang hak istri terhadap suami serta hukumnya.

1
BAB 2
PEMBAHASAN
A.HAK-HAK ISTRI TERHADAP SUAMI
1. Hak Nafkah, Sandang, Pangan Dan Papan
Nafkah, sandang, pangan, dan papan adalah hak istri yang harus dipenuhi
seorang suami, tak ada bedanya apakah sang istri berasal dari keluarga berada
ataupun dari keluarga tak mampu.
Allah SWT Berfirman;

ْ‫سعَةْ ذُو ِليُ ْن ِف ْق‬ َ ‫ن‬ ْْ ‫سعَتِ ِْه ِم‬


َ ْۖ ‫ن‬ ْْ ‫ِر ُۖق َو َم‬ َْ ‫ِر ْزقُ ْهُ َعلَ ْي ِْه د‬
ْْ ‫ّْۖللاُ آتَا ْهُ ِم َّما فَ ْلْيُ ْن ِف‬
‫ق‬ َّْ َْ ‫ف‬
‫ل‬ ُْ ‫ّللاُ يُ َْك ِل‬
َّْ ‫سا‬ ً ‫ل نَ ْف‬ ْ َّ ‫ْآتَاهَا َْما ِإ‬
ۖ‫ل‬ ُْ َ‫سيَ ْجع‬ َّْ َ‫ع ْسرْ بَ ْع ْد‬
َ ُ‫ّللا‬ ُ ‫يُ ْس ًرا‬
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan
orang yang disempatkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkam (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”(QS. Ath-Thalaq, ayat 7)
Oleh karena itu, jangan sampai ia memberikan nafkah seperti nafkah yang
dikeluarkan oleh orang-orang yang fakir jika ia sebagai orang yang kaya.Hal ini
sesuai sekali dengan hikmah dan rahmat Allah, dimana Dia menetapkan masing-
masingnya sesuai dengan keadaannya, Dia meringankan orang yang kesulitan
dan tidak membebani kecuali sesuai dengan kemampuannya baik dalam hal
nafkah maupun lainnya.
Ayat ini merupakan berita gembira terhadap orang-orang yang kesulitan, bahwa
Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghilangkan kesulitan mereka dan
mengangkat penderitaan mereka, karena sesungguhnya setelah kesulitan ada
kemudahan.
Istri pun tak boleh dipaksa untuk menyerahkan hak-haknya tersebut kecuali
dengan senang hati. 1

1.Hasan M.Ali, Pedoman Hidup Berumahtangga Dalam Islam(Jakarta, Siraja, 2006)cet 2


jilid 1 h.31

2
2. Suami harus memperlakukan isteri dengan cara yang ma’ruf
Adalah memperlakuannya dengan baik, sikap lemah lembut, dan perlindungan
serta perhatian. Bersikap baik terhadap istri tidak cukup hanya dengan
melindunginya dari beban dan nestapa, melainkan juga ikut serta menanggung
dan merasakan apa yang ia rasakan.2
karena Allah Ta’ala telah berfirman :

ِْ ‫ِب ْال َم ْع ُر‬


ْ‫وف َو َعا ِش ُرو ُه َّن‬
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” [An-Nisaa’: 19]
Yaitu, dengan memberinya makan apabila ia juga makan dan memberinya
pakaian apabila ia berpakaian. Mendidiknya jika takut ia akan durhaka dengan
cara yang telah diperin-tahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mendidik
isteri, yaitu dengan cara menasihatinya dengan nasihat yang baik tanpa mencela
dan menghina maupun menjelek-jelekannya. Apabila ia (isteri) telah kembali taat,
maka berhentilah, namun jika tidak, maka pisahlah ia di tempat tidur. Apabila ia
masih tetap pada kedurhakaannya, maka pukullah ia pada selain muka dengan
pukulan yang tidak melukai, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

َّ ‫ن تَخَافُونَْ َو‬
‫الَّلتِي‬ َّْ ‫شوزَ ُه‬ُ ُ‫ن ن‬
َّْ ‫ظو ُْه‬ ُ ‫ن فَ ِع‬
َّْ ‫َوا ْه ُج ُرو ُه‬
‫اج ِْع فِي‬
ِ ‫ض‬ َ ‫ن ْال َم‬ َّْ ‫ْۖواض ِْربُو ُه‬ َ ‫ن‬ ْْ ِ‫َّل ْعنَ ُك ْْمَۖأَط فَإ‬
ْ َ َ‫ف‬
َّْ ‫يَّل َعلَ ْي ِه‬
‫ن ت َ ْبغُوا‬ ْ ً ِ‫سب‬
َ ْۖ ‫ن‬ َّْ ‫ّللاَ ِإ‬
َّْ َْ‫يرا َع ِليًّا َكان‬ ً ‫َك ِب‬
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka
dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi
Mahabesar.” [An-Nisaa: 34]

2. Ibid

3
Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala
ditanya apakah hak isteri atas suaminya? Beliau menjawab:

ْ ُ ‫ت ِإذَا ت‬
ْ‫ط ِع َم َها أ َ ْن‬ َ ، ‫سوهَا‬
َْ ‫ط ِع ْم‬ ُ ‫ْت ِإذَا َوت َ ْك‬
َْ ‫سي‬ َ َ ‫ا ْكت‬، َ‫ل‬ ْ ‫َو‬
ِْ ‫الو ْج ْهَ تَض ِْر‬،
‫ب‬ َ َ‫ل‬ ْ ‫ح َو‬ ْ ‫لَّ ت َ ْه ُج ْْر َو‬
ْْ ‫تُقَ ِب‬، َ‫ل‬ ْ ‫فِي ِإ‬
ْ
ِْ ‫البَ ْي‬.
‫ت‬
“Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian
jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-
jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” (HR.
Abi Dawud No.2028).
Sesungguhnya sikap lemah lembut terhadap isteri merupakan indikasi
sempurnanya akhlak dan bertambahnya keimanan seorang mukmin,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ْ‫سنُ ُه ْْم ِإ ْي َمانًا ْال ُمؤْ ِمنِيْنَْ أ َ ْك َم ُل‬


َ ‫ ُخلُقًا أ َ ْح‬، ‫ار ُك ْْم‬ُ َ‫َو ِخي‬
‫ار ُك ْْم‬
ُ َ‫سائِ ِه ْْم ِخي‬
َ ِ‫ ِلن‬.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus
akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap
isterinya.”(HR. at-Tirmidzi No.1172)
Sikap memuliakan isteri menunjukkan kepribadian yang sempurna, sedangkan
sikap merendahkan isteri adalah suatu tanda akan kehinaan orang tersebut. Dan
di antara sikap memuliakan isteri adalah dengan bersikap lemah lembut dan
bersenda gurau dengannya. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam selalu bersikap lemah lembut dan berlomba (lari) dengan para
isterinya. ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma pernah berkata, “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah mengajakku lomba lari dan akulah yang menjadi
pemenangnya dan setiap kami lomba lari aku pasti selalu menang, sampai pada
saat aku keberatan badan beliau mengajakku lari lagi dan beliaulah yang
menang, maka kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah balasan untuk
kekalahanku yang kemarin.’” .

4
3. Suami harus bersabar dari celaan isteri serta mau memaafkan kekhilafan
yang dilakukan oleh istri
karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َ‫ل‬ ْْ ‫ ُمؤْ ِمنَ ْةً ُمؤْ ِمنْ يَ ْف َر‬، ‫ن‬


ْ ‫ك‬ ْْ ‫ي ُخلُقًا ِم ْن َها َك ِرْهَ ِإ‬ َْ ‫ض‬ ِ ‫َر‬
‫َر ِم ْن َها‬َْ ‫آخ‬.
“Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Apabila ia membencinya
karena ada satu perangai yang buruk, pastilah ada perangai baik yang ia sukai.”
(HR. Muslim no. 1469).
Di dalam hadits yang lain beliau juga pernah bersabda:

ُ ‫اء اِ ْست َ ْو‬


‫ص ْوا‬ ِْ ‫س‬ َ ِ‫ن َخي ًْرا ِبالن‬ َّْ ‫ن ُخ ِل ْقنَْ فَإِنَّ ُه‬ ْْ ‫ضلَعْ ِم‬، ِ
َّْ ‫ج َو ِإ‬
‫ن‬ َْ ‫الضلَ ِْع فِي َما أَع َْو‬ ِ ُ‫أ َ ْعَّلَْه‬، ‫ن‬ َْ ‫ذَ َهب‬
ْْ ِ‫ْت فَإ‬
ُ‫س ْرت َ ْهُ ت ُ ِق ْي ُم ْه‬ ْْ ‫ل لَ ْْم ت َ َر ْكت َ ْهُ َو ِإ‬
َ ‫ َك‬، ‫ن‬ ْْ َ‫ج يَز‬ َْ ‫أَع َْو‬،
‫ص ْوا‬ ُ ‫اء فَا ْست َ ْو‬ ِْ ‫س‬ َ ِ‫ َخي ًْرا ِبالن‬.
“Berilah nasihat kepada wanita (isteri) dengan cara yang baik. Karena
sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok.
Sesuatu yang paling bengkok ialah sesuatu yang terdapat pada tulang rusuk
yang paling atas. Jika hendak meluruskannya (tanpa menggunakan perhitungan
yang matang, maka kalian akan mematahkannya, sedang jika kalian
membiarkannya), maka ia akan tetap bengkok. Karena itu berilah nasihat kepada
isteri dengan baik.” (HR. Muslim no. 1468). Sebagian ulama Salaf mengatakan,
“Ketahuilah bahwasanya tidak disebut akhlak yang baik terhadap isteri hanya
dengan menahan diri dari menyakitinya, namun dengan bersabar dari celaan dan
kemarahannya.” Dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan bahwa para isteri beliau pernah
protes, bahkan salah satu di antara mereka pernah mendiamkan beliau selama
sehari semalam.”

4. Suami harus menjaga dan memelihara isteri dari segala sesuatu yang
dapat merusak dan mencemarkan kehormatannya.
yaitu dengan melarangnya dari bepergian jauh (kecuali dengan suami atau
mahramnya). Melarangnya berhias (kecuali untuk suami) serta mencegahnya
agar tidak berikhtilath (bercampur baur) dengan para lelaki yang bukan mahram.

5
Suami berkewajiban untuk menjaga dan memeliharanya dengan sepenuh hati. Ia
tidak boleh membiarkan akhlak dan agama isteri rusak. Ia tidak boleh memberi
kesempatan baginya untuk meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun
bermaksiat kepada-Nya, karena ia adalah seorang pemimpin (dalam keluarga)
yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang isterinya. Ia adalah orang yang
diberi kepercayaan untuk menjaga dan memeliharanya. Berdasarkan firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ِ َْ‫اء َعلَى قَ َّوا ُمون‬


ْ‫الر َجا ُل‬ ِْ ‫س‬
َ ِ‫الن‬
“Para lelaki adalah pemimpin bagi para wanita.” [An-Nisaa’: 34]
Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ْ‫الر ُج ُل‬ ْْ ِ‫ن َم ْس ُْؤ ْولْ َو ُه َْو أ َ ْه ِل ِْه ف‬


َّ ‫ي َراعْ َو‬ ْْ ‫ر ِعيَّتِ ِْه َع‬.
َ
“Lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Muslim no. 1829) [9]3
5. Suami harus mengajari isteri tentang perkara-perkara penting dalam
masalah agama atau memberinya izin untuk menghadiri majelis-majelis
ta’lim.
Karena sesungguhnya kebutuhan dia untuk memperbaiki agama dan
mensucikan jiwanya tidaklah lebih kecil dari kebutuhan makan dan minum yang
juga harus diberikan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‫س ُْك ْْم قُوا آ َمنُوا الَّذِينَْ أَيُّ َها يَا‬


َ ُ‫َارا َوأ َ ْه ِلي ُك ْْم أَنف‬
ً ‫ن‬
‫اس َوقُودُهَا‬ ُْ َّ‫ارْة ُ الن‬ َ ‫َو ْال ِح َج‬
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [QS.At-Tahrim: ayat 6]
Dan isteri adalah termasuk dalam golongan al-Ahl (keluarga). Kemudian menjaga
diri dan keluarga dari api Neraka tentunya harus dengan iman dan amal shalih,
sedangkan amal shalih harus didasari dengan ilmu dan pengetahuan supaya ia
dapat menjalankannya sesuai dengan syari’at yang telah ditentukan.43
6. Suami mau mengizinkan isteri keluar rumah untuk keperluannya.

3. Almusyyar.Dr.M.Sayyid Ahmad, Fikih Cinta kasih,(.Jakarta,Erlangga 2018) cet 2 jilid 1


h.157

6
seperti jika ia ingin shalat berjama’ah di masjid atau ingin mengunjungi keluarga,
namun dengan syarat menyuruhnya tetap memakai hijab busana muslimah dan
melarangnya untuk tidak bertabarruj (berhias) atau sufur. Sebagaimana ia juga
harus dapat melarang isteri agar tidak memakai wangi-wangian serta
memperingatkannya agar tidak ikhtilath dan bersalam-salaman dengan laki-laki
yang bukan mahram, melarangnya menonton televisi dan mendengarkan musik
serta nyanyian-nyanyian yang diharamkan.
7. Suami tidak boleh menyebarkan rahasia dan menyebutkan kejelekan-
kejelekan isteri di depan orang lain.
Karena suami adalah orang yang dipercaya untuk menjaga isterinya dan dituntut
untuk dapat memeliharanya. Di antara rahasia suami isteri adalah rahasia yang
mereka lakukan di atas ranjang. Rasulullah melarang keras agar tidak
mengumbar rahasia tersebut di depan umum. Sebagaimana hadits yang
diriwayatkan oleh Asma’ binti Yazid Radhiyallahu anhuma :
Bahwasanya pada suatu saat ia bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para Sahabat dari kalangan laki-laki dan para wanita sedang duduk-duduk.
Beliau bersabda, “Apakah ada seorang laki-laki yang menceritakan apa yang
telah ia lakukan bersama isterinya atau adakah seorang isteri yang menceritakan
apa yang telah ia lakukan dengan suaminya?”
Akan tetapi semuanya terdiam, kemudian aku (Asma’) berkata, “Demi Allah
wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka semua telah melakukan hal tersebut.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian
melakukannya, karena sesungguhnya yang demikian itu seperti syaitan yang
bertemu dengan syaitan perempuan, kemudian ia menggaulinya sedangkan
manusia menyaksikannya.”

7
BAB 3
PENUTUP
A.Kesimpulan
Apabila akad nikah telah berlangsung dan sah memenuhi syarat rukunnya, maka
akan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, salah satunya akan
menimbulkan pula hak isteri dalam keluarga.Hak adalah kekuasaan seseorang
untuk melakukan sesuatu. Dengan dilangsungkan akad nikah antara mempelai
laki-laki dan mempelai perempuan yang dilakukan oleh walinya, terjalinlah
hubungn suami isteri dan timbul hak-hak istri,antara, 1) nafkah, sandang, dan
papan adalah hak istri yang harus dipenuhi seorang suami, tak ada bedanya
apakah sang istri berasal dari keluarga berada ataupun dari keluarga tak mampu,
2) Suami harus memperlakukan isteri dengan cara yang ma’ruf, 3) Suami harus
bersabar dari celaan isteri serta mau memaafkan kekhilafan yang dilakukan
olehnya, 4) Suami harus menjaga dan memelihara isteri dari segala sesuatu
yang dapat merusak dan mencemarkan kehormatannya, 5) Suami harus
mengajari isteri tentang perkara-perkara penting dalam masalah agama atau
memberinya izin untuk menghadiri majelis-majelis ta’lim. 6) Suami mau
mengizinkan isteri keluar rumah untuk keperluannya,dan 7) Suami tidak boleh
menyebarkan rahasia dan menyebutkan kejelekan-kejelekan isteri di depan
orang lain.

8
Daftar pustaka
Hasan M.Ali, Pedoman Hidup Berumahtangga Dalam Islam, Siraja.jakarta, 2006
Almusyyar.Dr.M.Sayyid Ahmad, Fikih Cinta kasih, Erlangga.Jakarta, 2018
https://almanhaj.or.id/1190-hak-hak-isteri-atas-suami.html, metro 24 Oktober
2018,
Pukul 14:00 WIB