Anda di halaman 1dari 6

Yunisa Rizki LN

110110160023 / KELAS B
SOSIOLOGI HUKUM
Prof. Dr. Hj. Mien Rukmini, S.H., M.S.
Mustafa Haffas., S.H., M. Kom.

KEJAHATAN YANG SEMPURNA

A. Pengantar
Pandangan hukum Pidana dalam memberikan arti kejahatan, sering menimbulkan
kekeliruan tersendiri. Dalam hal ini ada anggapan kejahatan hanya dipandang sebagai
produk undang-undang. Seseorang dikatakan jahat karena undang-undang mencapnya
seperti itu. Kejahatan juga ditafsirkan sebagai produk sosial, karena kemiskinan,
diskriminasi rasial, kebodohan.
Para ahli hukum pidana hanya memberikan pengertian kejahatan secara yuridis
belaka. Bahwa kejahatan merupakan segala tingkah laku manusia yang dapat dipidana,
yang diatur dalam hukum pidana. Menurut Made Darma Weda, pengertian secara yuridis
bukan merupakan pengertian kejahatan yang lengkap.
Pandangan ahli hukum pidana dalam memberikan arti kejahatan belum cukup
mengungkapkan makna the perfect crime. Makna kejahatan seharusnya tidak hanya
ditafsirkan sebagai apa yang bertentangan dengan undang-undang saja.
Dengan pemahaman sosisologis, kita akan dapat mendekonstruksi arti atau makna
kejahatan yang sempurna. Pemahaman sosiologis akan mengantarkan kita pada
pokriminalitas dan sekaligus akan mempertemukan hukum dengan realitasnya. Hanya
dalam realitas hukum dapat dipahami, bukan lewat pasal-pasal yang terdapat dalam setiap
perundang-undangan. Apabila kita ingin memahami hukum dalam realitasnya, kita harus
keluar dari batas-batas peraturan hukum dan mengamati praktek hukum sebagaimana
dijalankan dalam masyarakat. Dengan begitu dalam mengartikan kejahatan, tidak hanya
terpatok dengan undang-undang belaka karena ada kemungkinan perfect crime adalah
undang-undangnya itu sendiri atau para penguasa yang berlindung dibalik undang-
undang tersebut.
Realitas hukum dalam memahamai kejahatan seperti apa yang dikatakan oleh para
sosiolog berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum positivis. Hal ini bisa
menimbulkan perselisihan cara pandang. Perselisihan ini timbul seperti yang telah
dijelaskan oleh David N.Schiff yang mengutip dari Aubert,”Apabla seorang ahli hukum
atau seorang sarjana hukum berbicara tentang hak dan harapan maka ia berbicara tentang
tujuan-tujuan normatif. Akan tetapi bila sorang ahli sosiologi hukum berbicara tentang
hak dan kewajiban maka ia bertujuan untuk mengungkapkan, menguraikan dan
menjelaskan.”
Dua cara pandang kita terhadap hukum tersebut telah membawa kita kepada
kenyataan, bahwa hukum tidak hanya dipandang dalam satu sisi belaka (normatif) tetapi
hukum juga dapat dipandang secara sosiologis.
Ahli hukum dan ahli sosiologi berusaha menghindarkan pertikaian-pertikaian
antara mereka dengan memberikan batasan-batasan yang jelas kepada ruang lingkup dan
cara-caranya. Mereka telah menegaskan bahwa para ahli hukum normatif dan pandangan
yang tuntas pada pandangan para ahli sosiologis memberikan ruang lingkup yang amat
berbeda dari kenyataan sosial dan hukum.
Dalam hal ini, tidak dapat diatakan bahwa sosiologi berada diatas segala-galanya,
karena apa yang telah dilakukan oleh sosiologi untuk memahami hukum secara realistik
tetap tidak dapat menutupi kegagalan mereka untuk dapat menjelaskan ciri khas umum.
Yang atut dicaat dalam realitas hukum terdapat dalam realitas sosial.
B. Melihat Bentuk kekerasan dalam Undang-Undang
Selama ini para ahli hukum pdana, kriminolog klasik dan kau positivistis hanya
menyebut bahwa kejahatan berhubungan dengan prilaku sosial baik buruknya prilaku
seseorang, kejahatan ada dibalik undang-undang atau kejahatan tersembunyi. Hal ini
dikatakan oleh penulis karena ketika kejahatan bersatu dengan kekuasaan (hukum).
Kejahatan menemukan tempatnya untuk bersembunyi. Dengan bersembunyi dibalik
kekuasaan, kejahatan dapat menyempurnakan dirinya. Ia dapat leluasa berlindung dibalik
topeng-topeng kekuasaan. Ia berlindung dibalik topeng-topeng cadar kebangsaan. Itulsh
kejahatan sempurna.
Perfect crime dalam undang-undang (khususnya di indonesia) dapat ditelaah
darimana undang-undang tersebut memperlakukan subjek hukum. Terkdang undang-
undang memihak dirinya terhadap orang-orang yang kaya dan mampu. Kita lihat KUHP,
khususnya pasal 56 ayat 1. Pasal itu menyatakan kemampuan seseorang untuk
memaksakan dirinya menyediakan penasehat hukum.
Apabila mereka tidak mampu menyediakan penasehat hukum disediakan bantuan
hukum tersendiri. Akan tetapi bila kita telaah kembali ketetntuan bagaimana cara
mendapatkan bantuan hukum menurut pasal 56 tersebut, sudah pastti bagi yang tidak
mampu dan diancam pidana lima tahun atau lebih, berhak mendapatkan bantuan hukum.
Maka undang-undang telah memberi cap kepada mereka yang diancam pidana 5 tahun
atau lebih sebagai penjahat. Itulah perfect crime.
Ada banyak cara menuju kekerasan atau kejahatan sempurna:
a. Ketika kejahatan Negara atau pengadilan begitu kolosal dan masif, sehingga
melampaui kemampuan perangkat hukum untuk mengusutnya
b. Ketika kejahatan ditutupi oleh simulacrq of crime, yaitu ketika kejahatan begitu rapih
direncanakan, diorganisir, dan dikontrol, sehingga ia melampaui jangkuan perangkat
hukum seolah-olah tidak ada barang bukti, tidak ada pelaku, tidak ada korban
c. Ketika kejahatan dan kekerasan berlangsung dengan tingkat ketidakterlihatan yang
sangat tinggi.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan sempurna adalah kejahatan
yang denan jitu membunuh realitas, yang menikam kebenaran, yang menusuk keadilan,
kejahatan yang begitu rapih direncanakan, diorganisir dan dikontrol.

Benar apa yang dikatakan oleh Arthur Brittan' bahwa "baik diri maupun
masyarakat dibentuk oleh unsur-unsur yang sama, yang sebagai simbol simbol." simbolis
dalam hal ini berarti suatu alat yang kita gunakan untuk menghilangkan chaos
(kekacauan) dan absurditas. Menurut beberapa versi aliran interaksionisme kita hidup di
alam absurd sebagai mahluk yang dapat bertindak secara rasional. Tindakan-tindakan
para aparatur pengadilan atau para praktisi pengadilan (Hakim Jaksa, Pengacara), yang
saling berinteraksi dalam merumuskan kekerasan simbolik ini terhadap terdakwa adalah
contoh nyata.

Kekerasan dalam pemeriksaan perkara pidana, sering muncul dalam berbagai


bentuk. Secara simbolik dapat dilihat, adanya perlakuan yang tidak sama terhadap
terdakwa dihadapan pengadilan (hakim). Misalnya, apabila terdakwa yang dihadapkan
mempunyai derajat lebih tinggi, perkara yang diperiksanya lebih berbobot dan
perlakuannyapun sangat istimewa, dari mulai pakaian sampai tempat duduk. Beda halnya
dengan terdakwa yang derajatnya lebih rendah, perkaranya lebih kering materinya.
pakaian yang iapakai diseragamkan dengan baju koko, celana hitam dan sandal jepit.

secara simbolik, mereka telah dicap jahat selain adanya kasta dalam pengadilan.
Perlakuan yang berbeda ini, menimbulkan rasa cemburu sosial antara terdakwa. Memang
dalam hal ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam tindakan-tindakan para aparatur
pengadilan tersebut, telah pergunakan bentuk bentuk tekanan fisik atau moral tertentu
terhadap kelompok yang lebih kecil statusnya. Inilah yang dimaksud dengan kekerasan
dalam bentuk simbolik, yang biasanya ditandai oleh ungkapan- ungkapan atau perkataan-
perkataan yang tidak mengindahkan terdakwa. Selain itu, juga sangat tampak dalam cara
pengadilan memperlakukan terdakwa dengan pakaian yang berbeda. Tentunya kondisi
seperti ini sangat berbeda dengan yang tertuang dalam nilai-nilai Due process model.

C. Berpikir Secara Sosiologis dalam Pembentukan Undang-Undang

Dari cara berpilkir secara sosiologis, dalam pembuatan undang dang masyarakat
akan men undang-undang yang sesuai dengan kehidupan sosialnya. Sebaliknya yang ada,
malah undang-undang men kekuasaan semata. Hal ini dapat kita lihat dalam rezim
otoriter Orde Baru. Dalam rezim ini ada dua produk hukum (undang-undang yang men
kritikan tajam. Pertama, Undang-Undang No 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas, yang
memicu protes berkepanjangan sehingga harus ditunda pelaksanaannya. Kedua, Undang-
Undang No 5 Tahun 1979 tentang pemerintahan desa. Jika undang-undang ini dilihat
dalam realitas empirik, di pedesaan Nusa Tenggara Timur terjadi situasi disintregasi di
kalangan masyarakat pedesaan. Hal ini terjadi karena rusaknya kesatuan geneologis
masyarakat pedesaan serta munculnya masalah-masalah sebagai akibat dari perubahan
yang menyangkut stuktur masyarakat maupun jiwa dan semangat kepemimpinan yang
dikembangkan oleh undang-undang tersebut.

Dari hal tersebut, ketika cara berpikir positivistis dalam perjalanannya tidak
mampu menjelaskan bagaimana realitas pembentukan undang-undang yang sesun
dibutuhkan guhnya, cara. berpikir sosiologis. Pada tingkat peradaban dunia modern
sekarangini, pembua undang-undang merupakan pekerjaan tersen Di Fakultas diajarkan
bagaimana cara pembuatan undang- Hukum telah undang dari mulai mata kuliah
Pengantar Ilmu Perundang- undangan sampai legislative drafting. Hal itu mencerminkan
bahwa undang-undang merupakan suatu hal yang sangat penting. Akan tetapi, yang
diajarkan di Fakultas Hukum (S-D, sesuai yang didapat dari pengalaman penulis,
pembuatan undang-undang tersebut tidak melihat realitas sosialnya. Mata kuliah yang
diajarkan tersebut hanya melihat bagaimana caranya pembuatan undang undang tersebut
(dalam bentuk formal), sementara subtansinya dikesampingkan begitu saja.

Secara sosilogis, pembuatan undang-undang tidak dilihat sebagai kegiatan yang


steril dan mutlak otonom. Dalam perspektif yang demikian itu pekerjan tersebut memiliki
asal-usul sosial, tujuan sosial, mengalami intervensi sosial dan mempunyai dampak
sosial. Dengan meminjam istilah Jeremy Bentham, pembuatan undang-undang
merupakan sebuah seni untuk menemukan cara- cara mewujudkan the true good of the
comunity serta mematok the greates happiness of the comunity. Menurutsatjipto
Rahardjoa, ukuran ukuran serta format yang digunakan dalam sosiologi pembuatan
undang-undang bukan saja rasionalitas, logika dan prosedur, melainkan entri-entri
sosiologi. Misalnya :

1. Asal usul sosial undang-undang.


2. Mengungkap motif di belakang pembuatan undang-undang.
3. Melihat pembuatan undang-undang sebagai endapan konflik kekuatan dan kepentingan dalam
masyarakat.
4. Susunan dari badan pembuatan undang-undang dan implikasi sosiologisnya.
5. Membahas hubungan antara kualitas dan jumlah undang- undang yang dibuat dengan
lingkungan sosial dalam suatu periode tertentu.
6. Sasaran perilaku yang ingin diatur atau diubah.
7. Akibat-akibat baik yang dikehendaki maupun yang tidak.

Seperti yang ditulis di atas, hukum (undang-undang), secara sosiologis dapat


dilihat sebagai karya manusia, pembicaraanya harus dimulai dari masyarakatitu sendiri.
Jika masalah pembuatan undang-undang ingin dilihat dari realitas sosialnya dalam
hubungan dengan masyarakat dimanapun pembuatan undang undang itu dilakukan, orang
membedakan adanya beberapa model. Sedangkan pembuatan hukumnya mencerminkan
model model masyarakatnya.

Dengan berpikir secara sosiologis dalam pembentukan undang- undang,


diharapkan dapat membatasi kejahatan yang tersembunyi di balik pembuatan undang-
undang tersebut. Di samping itu, dengan model konflik, pembuatan undang-undang
dimaksudkan untuk memperoleh keberlakuan faktual. Oleh karena itu, model konflik
bertitik tolak dari aspirasi masyarakat dan kebutuhan riil dari masyarakat akan pengaturan
hukum untuk masalah terkait.

Dari adanya aspirasi dan kebutuhan rill masyarakat tersebut, pembentukan


undang-undang memerlukan artikulasi politik oleh para cendekiawan, pakar, politisi dan
media. Hal itu dapat menjadi kepentingan dan tujuan politik, yang akan memotivasi partai
partai politik untuk memperjuangkannya dalam badan legslatif. Dengan demikian,
pembentuk undang-undang dapat mengontrol dirinya dari kejahatan tersembunyi.

D. Akhirnya
Itulah kejahatan sempurna The perfect crime, yang bisa menyelimuti dirinya
lewat perlindungan undang-undang. Kejahatan menjadi begitu sempurna ketika dirinya
dilakukan oleh Negara, Hukum, dan Institusi lainnya. Dalam konteks hukum normatif
dan aliran kriminologi klasik, pandangan ini merupakan suatu hal yang sangat asing
didengar. Tapi itulah realitas yang sesungguhnya, bahwa hukum dan kriminologi klasik
tidak bisa melintasi seperti apa kejahatan sempurna itu. Sebagai uraian terakhir dari
bagian penutup ini, penulis dapat menyimpulkan, bahwa kejahatan akan menjadi
sempurna (perfect crime) apabila kejahatan (negara) atau pengadilan begitu kolosal dan
masif, sehingga melampui kemampuan perangkat hukum untuk mengusutnya. Kejahatan
ditutupi oleh simulacra of crime, yaitu ketika kejahatan begitu rapih direncanakan,
diorganisir, dan dikontrol, sehingga ia melampui jangkauan perangkat hukum, seolah-
olah tidak ada barang bukti, tidak ada pelaku, tidak ada korban dan ketika kejahatan
kekerasan berlangsung dengan tingkat ketidakterlihatan (Invisibility) yang sangat tinggi.