Anda di halaman 1dari 9

1.

Peran Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Anak

“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah


bahwa mereka selalu mengamati anda” – Robert Fulghum
Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua orangtua. Setiap
orangtua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada
kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan
dalam mendidik buah hati tercinta.

Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak
sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi
dan mengendalikan hidupnya, membuatnya jadi berantakan di masa depan?
Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua sebagai
orangtua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita. Mengutip
apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:

1. Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki


2. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
3. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
4. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
5. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
6. Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
7. Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
8. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
9. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri
sendiri
10. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia
belajar menemukan kasih dalam kehidupannya

Seperti judul diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita para orangtua,
karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam
sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan
mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya, dan akan
dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita
memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita
menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orangtuanya terhadap
pasangannya.

Sekarang ini sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari
pohonnya” dan hal itu kami rasakan betul saat banyak klien yang merasakan
bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orangtuanya. Kalau
orangtuanya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah
tangga berantakan seperti orangtuanya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini
terjadi? Yah, kami rasa anda sudah tahu jawabannya bukan?

Jadilah teladan bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan
selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orangtua. Mereka menyerap
informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan
orangtua tetapi sikap serta perilaku orangtua akan mereka serap juga, bahkan
secara anda tidak sadari.

Jika kita orangtua, ingin tahu berapa nilai anda sebagai orangtua dalam mendidik
anak, ada cara mudah mengetahuinya. Raport pertama anak kita pada waktu
sekolah (play group atau TK), itu adalah raport milik kita sebagai orangtua, bukan
anak.

Anda dapat berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (anak) anda.
Nah, itu adalah raport awal saat 3-5 tahun anda membentuk keluarga dan
mendidik anak. Tetapi jika mau tahu hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak anda
ketika dia sudah berada di dalam kehidupan sebenarnya.

Lihatlah pergaulannya, cara berbicara, cara bersikap, jika kita orangtua lebih jeli
dan bijak lihatlah kondisi keuangannya. Semakin baik kondisi keuangan anak
anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak anda.
2. Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Pendidikan

KOMPAS.com - Kurikulum 2013 menempatkan pendidikan karakter sebagai


unsur pendidikan yang utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam kompetensi inti
yang memuat sikap religius dan sikap sosial pada semua mata pelajaran. “Semua
muatan pelajaran bermuara ke arah sikap religius dan sikap sosial yang baik.
Sikap-sikap ini bukan sekedar menjadikan religiusitas dan sosial menjadi
pengetahuan,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian
Pendidikan Kebudayaan Anas M. Adam dalam siaran pers yang diterima
Kompas.com, Kamis (23/11/2017). Lebih dari itu, ia melanjutkan, terjadi
transformasi nilai-nilai religius dan sosial yang dikembangkan di sekolah. Sikap
religius dan sosial bukan sebagai discursive knowledge tetapi menjadi practical
knowledge. Baca: Guru Jadi Teladan dalam Membangun Pendidikan Karakter
Berbagai pengamalan anak yang dijadikan sebagai habituasi akan terbentuk
menjadi karakter. “Artinya sikap religius dan sikap sosial menjadi habituasi anak
dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai itu diinternalisasikan pada pribadi
peserta didik yang pada akhirnya menjadi jati diri anak,” katanya. Anas
mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah sangat
tergantung pada peran guru-guru di sekolah. Selain mengajarkan materi pokok
sesuai dengan bidang studinya, para guru juga harus mengisinya dengan karakter
apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi
dalam pembelajaran. Pendidikan karakter bangsa telah menjadi kepedulian
pemerintah dan menjadi salah satu program strategis Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud) periode 2015-2019. Baca: Membangun Karakter
Peserta Didik Melalui Keteladanan Guru Berbagai upaya untuk
mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa telah
dilakukan. Salah satunya, Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru
Pendidikan Menengah yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru
Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,
Kemendikbud. Lomba tersebut dilaksanakan pada 23-26 November 2017 di
Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan
Kemendikbud itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru
Nasional 2017. Puncak acara Hari Guru yang ditetapkan Sabtu (25/11/2017)
diperingati dengan upacara para guru dan tenaga kependidikan dengan inspektur
upacara Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Adapun tema Hari Guru Nasional
2017 adalah "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru."

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Karakter Jadi
Fokus Utama Pendidikan",
3. Pendidikan Karakter Di Sekolah

Karakter merupakan hal yang pribadi untuk diketahui oleh semua orang, karena
karakter seseorang terbaca tidak hanya dengan sekali atau duakali dalam
berinteraksi melainkan kecenderungan untuk tetap selalu berinteraksi satu sama
lain akan membuat satu sama lain mengerti akan karakter masing-masing.

Karakter seseorang merupakan penggabungan dari watak tabiat, akhlak, atau


kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan
(virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang,
berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kebijakan sendiri yang merupakan bagian dari karakter merupakan sejumlah nilai
moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat
kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter
masyarakat dan karakter bangsa.

Oleh sebab itu pendidikan yang merupakan suatu wadah pembentukan karakter
bangsa sudah seharusnya lebih melibatkan pendidikan kearah atau mengutamakan
akhlak untuk membentuk moral bangsa ini dengan baik tanpa harus dipengaruhi
oleh arus globalisasi yang berdampak negatif.

Pendidikan karakter sendiri merupakan pendidikan yang dimana menanamkan


nilai serta karakter kepada setiap warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-
nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama,
lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang berkualitas
akhlaknya.

Pendidikan karakter yang menyeluruh menitikberatkan pada pendidikan yang


tidak hanya menjadikan setiap anak didiknya menjadi manusia yang cerdas serta
berprestasi akan tetapi menjadikan mereka sebagai pelaku baik bagi perubahan
dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan
dalam tatanan sosial kemasyarakatan menjadi lebih adil, baik, dan manusiawi.

Dalam lembaga pendidikan yaitu sekolah, memiliki peran aktif untuk membentuk
peserta didik dengan pendidikan yang berlabel karakter. Pendidikan karakter di
sekolah sendiri merupakan sistem penanaman berupa komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga


sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Dewasa ini
banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan
pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal.

Para pakar pendidikan karakter sepakat bahwa pendidikan karakter dapat


ditempuh melalui lembaga pendidikan yang berstatus formal. Namun demikian,
ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan
modus pendidikannya.

Konfigurasi karakter dalam kontek totalitas proses psikologis dan sosial-kultural


dapat dikelompokkan dalam:

1. olah hati (spiritual & emotional development);


2. olah pikir (intellectual development);
3. olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan
4. olah rasa dan karsa (affective and creativity development).

Proses itu secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling
melengkapi, serta secara konseptual merupakan gugus nilai luhur bangsa
Indonesia.
4. “ARTIKEL PENDIDIKAN KARAKTER”

Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal
tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat
rentetan keputusan moral yang harus ditindak lanjuti dengan aksi nyata, sehingga
menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat
semua itu menjadi kebiasaan dan membentuk watak atau tabiat seseorang.
Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi
salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak
dilihat, didengar, dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di
indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai -
nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan
pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan
insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King,
yakni kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang
sebenarnya.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di
sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus
dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu,
dijalankan dan dipraktekkan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan
sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan
karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah
yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga
pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua
kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah, lingkungan sekolah,
dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan
adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya
mulai terputus antara lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga, dan masyarakat.
Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara
lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan
demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan
pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian
didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat
proses pembentukan tersebut.
Di samping itu, tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan
masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter seseorang. Lingkungan
masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai -
nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab, situasi
kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan
cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan
mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal
yang sama.
Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata - mata pembelajaran
pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai - nilai
etika, estetika, dan budi pekerti yang luhur. Selain itu karakter yang harus dimiliki
siswa diantaranya yaitu kerja sama, disiplin, taat, dan tanggung jawab. Dan yang
terpenting adalah praktekkan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen
sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.pendidikankarakter.com/kumpulan-artikel-pendidikan-
karakter/

2. Kurniasih Budi. Pendidikan karakter jadi focus utama pendidikan. Edukasi


kompas. 23 Nopember 2017. Dari
ttps://edukasi.kompas.com/read/2017/11/23/11160031/pendidikan-
karakter-jadi-fokus-utama-pendidikan/.

3. http://tesispendidikan.com/pendidikan-karakter-di-sekolah/

4. Artikel pendidikan karakter. Cinta dunia pendidikan. 25 Nopember 2012.


Dari : http://cintaduniapendidikan.blogspot.com/2012/11/artikel-
pendidikan-karakter-nurida_25.html