Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Post partum atau masa nifas dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan
6 minggu (42 hari) setelah itu. Orang tua terutama ibu perlu memiliki pengetahuan dan
kesiapan untuk hamil, melahirkan dan menyusui anak. Breast care merupakan salah satu
bagian penting yang harus diperhatikan sebagai persiapan untuk menyusui nantinya, hal ini
dikarenakan payudara merupakan organ esensial penghasil ASI yaitu makanan pokok bayi
baru lahir sehingga perawatannya harus dilakukan sedini mungkin. Dalam meningkatkan
pemberian ASI pada bayi, masalah utama dan prinsip yaitu bahwa ibu-ibu membutuhkan
bantuan dan informasi serta dukungan agar merawat payudara pada saat menyusui bayinya.
Pada saat melahirkan sehingga menambah keyakinan bahwa mereka dapat menyusui bayinya
dengan baik dan mengetahui fungsi dan manfaat breast care pada saat menyusui (Anwar,
2005 dalam Nur, 2012).
Berdasarkan laporan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI, 2007)
diusia lebih dari 25 tahun sepertiga wanita di Dunia (38%) didapati tidak menyusui bayinya
karena terjadi pembengkakan payudara, dan di Indonesia angka cakupan ASI eksklusif
mencapai 32,3%. Berdasarkan laporan yang diterima dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Ponorogo tahun 2013 diketahui bahwa cakupan pemberian ASI secara eksklusif tahun 2013
adalah sebesar 68,3% dari target sebesar 75%. Dengan menyelenggarakan program cakupan
pemberian ASI secara eksklusif diharapkan target ini berhasil. Dan dari hasil wawancara
dengan jumlah responden 10 ibu postpartum, didapatkan 50% ibu memiliki pengetahuan
kurang dan 50% ibu memiliki pengetahuan baik. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2008-2009 menunjukkan bahwa 55% ibu menyusui mengalami mastitis dan
putting susu lecet, kemungkinan hal tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan selama
masa nifas (Anwar, 2005 dalam Nur, 2012).
Berdasarkan penelitian di Surabaya pada tahun 2004 menunjukkan 46% ibu yang
memberikan ASI eksklusif pada anaknya dan yang melakukan perawatan payudara sekitar
34% dan yang sisanya tidak melakukan perawatan payudara dikarenakan pengetahuannya
kurang mengenai fungsi dan manfaat breast care (Varney, H., Kriebs, J & Gegor, Cdalam
Nur,2012). Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa ketidaklancaran ASI banyak
dipengaruhi oleh breast care yang kurang. Oleh karena itu, breast care sangat penting
dilakukan bagi ibu yang telah melahirkan utuk mencegah masalah-masalah yang timbul

1
selama laktasi, seperti: pembengkakan payudara, penyumbatan saluran ASI, radang payudara
dan sebagainya. Untuk mengatasi permasalahan diatas, lakukan breast care selama menyusui.
Untuk mengurangi sakit pada payudara maka lakukan pengurutan payudara secara perlahan,
kompres air hangat sebelum bayi menyusui karena panas dapat merangsang aliran ASI
kemudian kompres air dingin setelah menyusui untuk mengurangi rasa sakit dan
pembengkakan. Sehingga dengan pengurutan payudara secara perlahan, mengompres air
hangat dan air dingin pada payudara, serta membersihkan puting secara benar dan teratur
diharapkan ASI dapat keluar lancar dan proses laktasi pun berjalan lancar. Untuk mengatasi
masalah tersebut salah satunya adalah memberikan pengarahan tentang breast care kepada
ibu menyusui sedini mungkin, melakukan Health Education melalui penyuluhan-penyuluhan
pada ibu hamil yang disertai demonstrasi cara breast caresebelum dan setelah melahirkan
dengan benar, serta peragaan tentang breast carepada saat kontrol kehamilan dan kunjungan
masa nifas, dimana penyuluhan tepat pada waktu ibu mengembangkan kemampuan dalam
mengambil keputusan yang merupakan informasi keterpaduan menalar ilmiah dan sistematis
(Anwar, 2005 dalam Nur, 2012).
Upaya ini dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam breast care secara baik dan benar
sebagai upaya preventif terhadap masalah menyusui sehingga proses menyusui dapat berjalan
dengan lancar dan merupakan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi.
(Saryono dan Pramitasari, 2009).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan postpartum ?
2. Bagaimana tahapan postpartum ?
3. Apa saja kebutuhan dasar perawatan postpartum ?
4. Bagaimana perubahan fisiologis masa postpartum ?
5. Bagaimana fisiologi masa postpartum ?
6. Apa saja tanda-tanda bahaya dan komplikasi pada masa postpartum ?
7. Bagaimana penatalaksanaan postpartum ?
8. Bagaimana perjalanan atau WOC dari posrpartum ?
9. Bagaimana asuhan keperawatan masa postpartum ?

2
1.3 Tujuan
a. Tujuan umum
1) Sebagai acuan refrensi atas asuhan keperawatan pada postpartum
2) Untuk memenuhi tugas maternitas
b. Tujuan khusus
1) Untuk menghetahui asuhan keperawatan pada postpartum

1.4 Manfaat
a. Manfaat Teoritis
1) Mahasiswa mampu mengetahui postpartrum
2) Mahasiswa mampu mengetahui tahapan postpartum
3) Mahasiswa mampu mengetahui kebutuhan dasar perawatan postpartum
4) Mahasiswa mampu mengetahui perubahan fisiologis masa postpartum
5) Mahasiswa mampu mengetahui fisiologi pada masa postpartum
6) Mahasiswa mampu mengetahui apa saja tanda-tanda bahaya dan komplikasi
pada masa postpartum
7) Mahasiswa mampu mengetahui Bagaimana penatalaksanaan postpartum
8) Mahasiswa mampu mengetahui WOC dari postpartum
9) Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan pada postpartum
b. Manfaat Praktis
1) Mahasiswa mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan pada postpartum

3
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Post Partum
Postpartum adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas
dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ
yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain
sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni,2009). Pada masa postpartum ibu banyak
mengalami kejadian yang penting, Mulai dari perubahan fisik, masa laktasi maupun
perubahan psikologis menghadapi keluarga baru dengan kehadiran buah hati yang sangat
membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Namun kelahiran bayi juga merupakan suatu
masa kritis bagi kesehatan ibu, kemungkinan timbul masalah atau penyulit, yang bila tidak
ditangani segera dengan efektif akan dapat membahayakan kesehatan atau mendatangkan
kematian bagi ibu, sehingga masa postpartum ini sangat penting dipantau oleh bidan
(Syafrudin & Fratidhini, 2009).
2.2 Tahapan Masa Postpartum
Adapun tahapan-tahapan masa postpartum adalah :
1) Puerperium dini : Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
2) Puerperium intermedial : Masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ genital, kira-
kira 6-8 minggu.
3) Remot puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi (Suherni,
2009).

2.3 Kebutuhan Dasar Perawatan Postpartum


Nutrisi dan cairan pada masa postpartum masalah diet perlu mendapat perhatian yang
serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat
mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup
kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu yang menyusui harus memenuhi
kebutuhan akan gizi seperti mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet
berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup, dan minum
sedikitnya 3 liter air setiap hari.Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar
secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan
membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu

4
postpartum telentang ditempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu postpartum
sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam postpartum.Eliminasi Dalam
6 jam ibu post partum harus sudah bisa BAK spontan. Jika dalam 8 jam postpartum belum
dapat berkemih tau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi.
Akan tetapi, kalau ternyata kandung kemih penuh, tidak perlu 8 jam untuk kateterisasi. Ibu
postpartum diharapkan dapat buang air besar setelah hari kedua postpartum. Bila lebih dari
tiga hari belum BAB bisaa diberikan obat laksantia. Ambulasi secara dini dan teratur akan
membantu dalam regulasi BAB. Asupan cairan yang adekuat dan diit tinggi serat sangat
dianjurkan.
Personal higiene sangat penting dilakukan Pada masa post partum, seorang ibu sangat
rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah
terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting
untuk tetap dijaga (Saleha, 2009). Ibu postpartum sangat membutuhkan istirahat yang
berkualitas untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk
memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup sebagai persiapan untuk
menyusui bayinya nanti (Jannah, 2011).
Secara fisik aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah merah berhenti dan
ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Banyaknya
budaya dan agama yang melarang untuk melakukan hubungan seksual sampai masa waktu 40
hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tersebut tergantung pada pasangan yang
bersangkutan (Jannah, 2011). Senam nifas dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap
hari sampai hari kesepuluh, terdiri dari sederetan gerakan tubuh yang dilakukan untuk
mempercepat pemulihan keadaan ibu. Senam nifas membantu memperbaiki sirkulasi
darah, memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan, memperkuat otot
panggul dan membantu ibu untuk lebih rileks dan segar pasca melahirkan (Suherni, 2009).

2.4 Perubahan Fisiologis Masa Postpartum


1. Perubahan Sistem Reproduksi
Perubahan Uterus Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal ini
menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta (plasental site) sehingga jaringan
perlekatan antara plasenta dan dinding uterus, mengalami nekrosis dan lepas. Ukuran uterus
mengecil kembali (setelah 2 hari pasca persalinan, setinggi sekitar umbilikus, setelah 2
minggu masuk panggul, setelah 4 minggu kembali pada ukuran sebelum hamil). Perubahan
vagina dan perineum Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan

5
atau kerutan-kerutan) kembali. Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan
pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Bila ada laserasi jalan lahir atau
luka bekas episiotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran
bayi) lakukanlah penjahitan dan perawatan dengan baik (Suherni, 2009).
2. Perubahan pada Sistem Pencernaan
Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini umumnya karena makan
padat dan kurangnya berserat selama persalinan. Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap
menyantap makanannya dua jam setelah persalinan. Kalsium sangat penting untuk gigi pada
kehamilan dan masa nifas, dimana pada masa ini terjadi penurunan konsentrasi ion kalsium
karena meningkatnya kebutuhan kalsium pada ibu, terutama pada bayi yang dikandungnya
untuk proses pertumbuhan juga pada ibu dalam masa laktasi (Saleha, 2009).
3. Perubahan Perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2-8 minggu, tergantung pada :
a. keadaan/status sebelum persalinan
b. lamanya partus kala II dilalui
c. besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan.
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistokopik segera setelah persalinan tidak
menunjukkan adanya edema dan hyperemia diding kandung kemih, akan tetapi sering terjadi
exstravasasi yaitu keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam badan)
kemukosa. (Suherni, 2009).
4. Perubahan dalam Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin,
terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut. Oksitosin diseklerasikan
dari kelenjer otak bagian belakang. Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin
berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah
perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin. Hal tersebut
membantu uterus kembali ke bentuk normal. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar
prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang
ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam
14-21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjer bawah depan otak yang
mengontrol ovarium kearah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal,
pertumbuhan folikel, ovulasi, dan menstruasi. Selama hamil volume darah normal meningkat
walaupun mekanismenya secara penuh belum dimengerti. Di samping itu, progesteron
mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah.

6
Hal ini sangat mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul,
perineum dan vulva, serta vagina.
5. Perubahan Tanda- tanda Vital
Selama 24 jam pertama, suhu mungkin meningkat menjadi 38ºC, sebagai akibat
meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan perubahan hormonal jika terjadi peningkatan suhu
38ºC yang menetap 2 hari setelah 24 jam melahirkan, maka perlu dipikirkan adanya infeksi
seperti sepsis puerperalis (infeksi selama post partum), infeksi saluran kemih, endometritis
(peradangan endometrium), pembengkakan payudara, dan lain-lain. Dalam periode waktu 6-7
jam sesudah melahirkan, sering ditemukan adanya bradikardia 50-70 kali permenit
(normalnya 80-100 kali permenit) dan dapat berlangsung sampai 6-10 hari setelah
melahirkan. Takhikardia kurang sering terjadi, bila terjadi berhubungan dengan peningkatan
kehilangan darah dan proses persalinan yang lama. Selama beberapa jam setelah melahirkan,
ibu dapat mengalami hipotensi orthostatik (penurunan 20 mmHg) yang ditandai dengan
adanya pusing segera setelah berdiri, yang dapat terjadi hingga 46 jam pertama. Hasil
pengukuran tekanan darah seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Peningkatan tekanan
sisitolik 30 mmHg dan penambahan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala
dan gangguan penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia dan ibu perlu
dievaluasi lebih lanjut. Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil
pada bulan ke enam setelah melahirkan (Maryunani, 2009).

2.5 Fisiologi Postpartum


1. Adaptasi Psikologi Postpartum
Setelah persalinan yang merupakan pengalaman unik yang dialami ibu, masa nifas juga
merupakan salah satu fase yang memerlukan adaptasi psikologis. Ikatan antara ibu dan bayi
yang sudah lama terbentuk sebelum kelahiran akan semakin mendorong wanita untuk
menjadi ibu yang sebenarnya. Inilah pentingnya rawat gabung atau rooming in pada ibu nifas
agar ibu dapat leluasa menumbuhkan rasa kasih sayang kepada bayinya tidak hanya dari segi
fisik seperti menyusui, mengganti popok saja tapi juga dari segi psikologis seperti menatap,
mencium, menimang sehingga kasih sayang ibu dapat terus terjaga. Dalam menjalani
adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
a. Fase taking in yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari pertama
sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu sedang berfokus terutama
pada dirinya sendiri. Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang
dialaminya dari awal sampai akhir.

7
b. Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase ini ibu timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung
jawabnyadalam merawat bayi. Ibu mempunyai perasaan sangat sensitif sehingga
mudah tersinggung dan gampang marah. Kita perlu berhati-hati menjaga komunikasi
dengan ibu. Dukungan moril sangat diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri
ibu. Bagi petugas kesehatan pada fase ini merupakan kesempatan yang baik untuk
memberikan berbagai penyuluhan dan pendidikan kesehatan yang diperlukan ibu
nifas.
c. Fase letting goyaitu periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase ini
berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan
ketergantungan bayinya. Ibu memahami bahwa bayi butuh disusui sehingga siap
terjaga untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan
bayinya sudah meningkat bpada fase ini. Ibu akan percaya diri dalam menjalani peran
barunya.
2. Adaptasi Fisiologi Postpartum
a. Infolusi uterus
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelahcmelahirkan, proses ini
dimulai segera setelah plasenta keluar akibatckontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir
tahap ketiga persalinan,cuterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah
umbilikuscdengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Dalam waktu 12
jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Fundus turun kira-kira 1
smpai 2 cm setiap 24 jam.
Pada hari pasca partum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara
umbilikus dan simpisis pubis. Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat
sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr
2 minggu setelah lahir. Satu minggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul. Pada
minggu keenam, beratnya menjadi 50-60 gr. Peningkatan esterogen dan progesteron
bertabggung jawab untuk pertumbuhan masif uterus selama hamil. Pada masa pasca partum
penurunan kadar hormon menyebapkan terjadinya autolisis, perusakan secara langsung
jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil
menetap. Inilah penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
b. Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga
terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. homeostasis

8
pasca partum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh
agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar
hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengopresi pembuluh darah dan
membantu hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa
berkurang dan menjadi tidak eratur. Untuk mempertahankan kontraksi uterus, suntikan
oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta lahir. Ibu yang
merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan membiarkan bayinya di payudara segera setelah
lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.

2.6 Tanda-Tanda Bahaya dan Komplikasi Pada Masa Postpartum


Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan. Oleh
karena itu, penting bagi bidan/perawat untuk memberikan informasi dan bimbingan pada ibu
untuk dapat mengenali tanda-tanda bahaya pada masa nifas yang harus diperhatikan. Tanda-
tanda bahaya yang perlu diperhatikan pada masa nifas ini adalah :
a. Demam tinggi hingga melebihi 38°C.
b. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari
perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam
setengah jam), disertai gumpalan darah yang besar-besar dan berbau busuk.
c. Nyeri perut hebat/rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung, serta nyeri ulu
hati.
d. Payudara membengkak, kemerahan, lunak disertai demam dan lain-lainya.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi Pada Masa Postpartum, Infeksi postpartum adalah
semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman kedalam alat genetalia pada
waktu persalinan dan nifas. Sementara itu yang dimaksud dengan Febris Puerperalis adalah
demam sampai 38°C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca pesalinan, kecuali
pada hari pertama. Tempat-tempat umum terjadinya infeksi yaitu rongga pelvik: daerah asal
yang paling umum terjadi infeksi, Payudara, Saluran kemih, Sistem vena. Perdarahan
postpartum adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah bersalin.
Perdarahan nifas dibagi menjadi dua yaitu :
1) Perdarahan dini, yaitu perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dan dalam 24 jam
pertama persalinan. Disebabkan oleh : atonia uteri, traumdan laserasi, hematoma.
2) Perdarahan lambat/lanjut, yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24 jam. Faktor resiko
: sisa plasenta, infeksi, sub-involusi.

9
2.7 Penatalaksanaan atau Perawatan Post Partum
Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan cara melakukan
penjahitan luka lapis demi lapis, dan memperhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong
terbuka kearah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan
menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka. Selain itu dapat dilakukan dengan cara
memberikan antibiotik yang cukup (Moctar, 1998).
Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani ruptur perineum adalah:
1. Bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir, segera memeriksa
perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap.
2. Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat dipastikan bahwa
perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir, selanjutnya dilakukan
penjahitan. Prinsip melakukan jahitan pada robekan perineum :
a. Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan sebelah dalam/proksimal ke arah
luar/distal. Jahitan dilakukan lapis demi lapis, dari lapis dalam kemudian lapis luar.
b. Robekan perineum tingkat I : tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan
aposisi luka baik, namun jika terjadi perdarahan segera dijahit dengan menggunakan
benang catgut secara jelujur atau dengan cara angka delapan.
c. Robekan perineum tingkat II : untuk laserasi derajat I atau II jika ditemukan robekan
tidak rata atau bergerigi harus diratakan terlebih dahulu sebelum dilakukan
penjahitan. Pertama otot dijahit dengan catgut kemudian selaput lendir. Vagina
dijahit dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur. Penjahitan mukosa vagina
dimulai dari puncak robekan. Kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara
jelujur.
d. Robekan perineum tingkat III : penjahitan yang pertama pada dinding depan rektum
yang robek, kemudian fasia perirektal dan fasia septum rektovaginal dijahit dengan
catgut kromik sehingga bertemu kembali.
e. Robekan perineum tingkat IV : ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah karena
robekan diklem dengan klem pean lurus, kemudian dijahit antara 2-3 jahitan catgut
kromik sehingga bertemu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis
seperti menjahit robekan perineum tingkat I.
f. Meminimalkan Derajat Ruptur Perineum, Menurut Mochtar (1998) persalinan yang
salah merupakan salah satu sebab terjadinya ruptur perineum. Menurut Buku Acuan
Asuhan Persalinan Normal (2008) kerjasama dengan ibu dan penggunaan perasat
manual yang tepat dapat mengatur ekspulsi kepala, bahu, dan seluruh tubuh bayi

10
untuk mencegah laserasi atau meminimalkan robekan pada perineum. Dalam
menangani asuhan keperawatan pada ibu post partum spontan, dilakukan berbagai
macam penatalaksanaan, diantaranya :
1) Monitor TTV
Tekanan darah meningkat lebih dari 140/90 mungkin menandakan preeklamsi
suhu tubuh meningkat menandakan terjadinya infeksi, stress, atau dehidrasi.
2) Pemberian cairan intravena
Untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan kemampuan perdarahan darah dan
menjaga agar jangan jatuh dalam keadaan syok, maka cairan pengganti
merupakan tindakan yang vital, seperti Dextrose atau Ringer.
3) Pemberian oksitosin
Segera setelah plasenta dilahirkan oksitosin (10 unit) ditambahkan dengan cairan
infuse atau diberikan secara intramuskuler untuk membantu kontraksi uterus dan
mengurangi perdarahan post partum.
4) Obat nyeri
Obat-obatan yang mengontrol rasa sakit termasuk sedative, alaraktik, narkotik dan
antagonis narkotik. Anastesi hilangnya sensori, obat ini diberikan secara regional/
umum (Hamilton, 1995).

2.8 Asuhan Keperawatan Postpartum


1. Pengkajian
Pengkajian pada ibu post partum menurut Doenges, 2001 adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana keadaan ibu saat ini ?
b. Bagaimana perasaa ibu setelah melahirkan ?
Pola nutrisi dan metabolik
a. Apakah klien merasa kehausan setelah melahirkan ?
b. Apakah klien merasa lapar setelah melahirkan ?
c. Apakah klien kehilangan nafsu makan atau merasa mual ?
d. Apakah ibu mengalami penurunan BB setelah melahirkan ?
Pola aktivitas setelah melahirkan
a. Apakah ibu tampak kelelahan atau keletihan ?
b. Apakah ibu toleransi terhadap aktivitas sedang atau ringan ?
c. Apakah ibu tampak mengantuk ?

11
Pola eliminasi
a. Apakah ada diuresis setelah persalinan ?
b. Adakan nyeri dalam BAB pasca persalinan ?
Neuro sensori
a. Apakah ibu merasa tidak nyaman ?
b. Apakah ibu merasa nyeri di bagian tubuh tertentunya ?
c. Bagaimana nyeri yang ibu raskan ?
d. Kaji melalui pengkajian P, Q, R, S, T ?
e. Apakah nyerinya menggangu aktivitas dan istirahatnya ?
Pola persepsi dan konsep diri
a. Bagaimana pandangan ibu terhadap dirinya saat ini
b. Adakah permasalahan yang berhubungan dengan perubahan
penampilan tubuhnya saat ini ?
Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum
1. Pemeriksaan TTV
2. Pengkajian tanda-tanda anemia
3. Pengkajian tanda-tanda edema atau tromboflebitis
4. Pemeriksaan reflek
5. Kaji adanya varises
6. Kaji CVAT ( cortical vertebra area tenderness )
b. Payudara
1. Pengkajian daerah areola ( pecah, pendek, rata )
2. Kaji adanya abses
3. Kaji adanya nyeri tekan
4. Observasi adanya pembengkakanatau ASI terhenti
5. Kaji pengeluaran ASI
c. Abdomen atau uterus
1. Observasi posisi uterus atau tiggi fundus uteri
2. Kaji adnanya kontraksi uterus
3. Observasi ukuran kandung kemih
d. Vulva atau perineum
1. Observasi pengeluaran lokhea
2. Observasi penjahitan lacerasi atau luka episiotomi

12
3. Kaji adanya pembengkakan
4. Kaji adnya luka
5. Kaji adanya hemoroid
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan darah
Beberapa uji laboratorium biasa segera dilakukan pada periodepasca partum. Nilai
hemoglobin dan hematokrit seringkali dibutuhkan pada hari pertama pada
partumuntuk mengkaji kehilangan darah pada melahirkan.
b. Pemeriksaan urin
Pegambilan sampel urin dilakukan dengan menggunakan cateter dengan tehnik
pengambilan bersih (clean-cath) spisimen ini dikirim ke laboratorium untuk
dilakukan urinalisis rutin atau kultur dan sensitivitas terutama jika cateter indwelling
di pakai selama pasca inpartum. Selain itu catatan prenatal ibu harus di kaji untuk
menentukan status rubelle dan rhesus dan kebutuhan therapy yang mungkin (Bobak,
2004).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan involusi uterus, nyeri setelah melahirkan. (Doenges,
2001)
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan laserasi dan proses persalinan.
(Doenges, 2001)
c. Resiko menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan cara
perawatan payudara bagi ibu menyusui. (Bobak, 2004)
d. Gangguan pola eliminasi bowel berhubungan dengan adanya konstipasi. (Bobak,
2004)
e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan darah dan intake ke oral. (Doenges, 2001)
f. Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal psikologis, proses
persalinan dan proses melelahkan. (Doenges, 2001)
3. Fokus Intervensi dan Rasional
a. Nyeri berhubungan dengan involusi uterus, nyeri setelah melahirkan Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan nyeri berkurang Kriteria Hasil :
1. Klien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri 3-4
2. Klien terlihat rileks, ekspresi wajah tidak tegang, klien bisa tidur nyaman

13
3. Tanda-tanda vital dalam batas normal : suhu 36-37 derajat celcius , N 60-100
x/menit, RR 16-24 x/menit, TD 120/80 mmHg
Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri klien dengan PQRST ( P : faktor penambah dan pengurang
nyeri, Q : kualitas atau jenis nyeri, R : regio atau daerah yang mengalami nyeri, S
: skala nyeri, T : waktu dan frekuensi )
Rasional : untuk menentukan jenis skala dan tempat terasa nyeri
2. Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri
Rasional : sebagai salah satu dasar untuk memberikan tindakan atau asuhan
keperawatan sesuai dengan respon klien
3. Berikan posisi yang nyaman, tidak bising, ruangan terang dan tenang
Rasional : membantu klien rilaks dan mengurangi nyeri
4. Biarkan klien melakukan aktivitas yang disukai dan alihkan perhatian klien pada
hal lain
Rasional : beraktivitas sesuai kesenangan dapat mengalihkan perhatian klien dari
rasa nyeri
5. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : untuk menekan atau mengurangi nyeri
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan cara perawatan
Vulva
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi infeksi, pengetahuan
bertambah
Kriteria hasil :
a. Klien menyertakan perawatan bagi dirinya
b. Klien bisa membersihkan vagina dan perineumnya secara mandiri
c. Perawatan pervagina berkurang
d. Vulva bersih dan tidak inveksi
e. Tidak ada perawatan
f. Vital sign dalam batas normal
Intervensi :
1. Pantau vital sign
Rasional : peningkatan suhu dapat mengidentifikasi adnya infeksi
2. Kaji daerah perineum dan vulva
Rasioal : menentukan adakah tanda peradangan di daerah vulva dan perineum

14
3. Kaji pengetahuan pasien mengenai cara perawatan ibu post partum
Rasional : pasien mengetahui cara perawatan vulva bagi dirinya
4. Ajarkan perawatan vulva bagi pasien
Rasional : pasien mengetahui cara perawatan vulva bagi dirinya
5. Anjurkan pasien mencuci tangan sebelum memegang daerah vulvanya
Rasional : meminimalkan terjadinya infeksi
6. Lakukan perawatan vulva
Rasional : mencegah terjadinya infeksi dan memberikan rasa nyaman bagi
pasien
c. Resiko menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan cara
perawatan payudara bagi ibu menyusui
Tujuan : pasien mengetahui cara perawatan payudara bagi ibu menyusui
Kriteria hasil :
1. Klien mengetahui cara perawatan payudara bagi ibu menyusui
2. Asi keluar
3. Payudara bersih
4. Payudara tidak bengkak dan tidak nyeri
5. Bayi mau menyusu
Intervensi :
1. Kaji pengetahuan paien mengenai laktasi dan perawatan payudara
2. Rasional : mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan untuk menentukan
intervensi selanjutnya.
3. Ajarkan cara merawat payudara dan lakukan cara brest care
4. Rasional : meningkatkan pengetahuan pasien dan mencegah terjadinya
bengkak pada payudara
5. Jelaskan mengenai manfaat menyusui dan mengenai gizi waktu menyusui
6. Rasional : memberikan pengetahuan bagi ibu mengenai manfaat ASI bagi
bayi
7. Jelaskan cara menyusui yang benar
8. Rasional : mencegah terjadinya aspirasi pada bayi
d. Gangguan pola eliminasi bowel berhubungan dengan adanya konstipasi
Tujuan : kebutuhan eliminasi pasien terpenuhi

15
Kriteria hasil :
1. Pasien mengatakan sudah BAB
2. Pasien mengatakan tidak konstipasi
3. Pasien mengatakan perasaan nyamannya
Intervensi :
1. Auskultasi bising usus, apakah peristaltik menurun
Rasional : penurunan peristaltik usus menyebapkan konstpasi
2. Observasi adanya nyeri abdomen
Rasional : nyeri abdomen menimbulkan rasa takut untuk BAB
3. Anjurkan pasien makan-makanan tinggi serat
Rasional : makanan tinggi serat melancarkan BAB
4. Anjurkan pasien banyak minum terutama air putih hangat
Rasional : mengkonsumsi air hangat melancarkan BAB
5. Kolaborasi pemberian laksatif ( pelunak feses ) jika diperlukan
Rasional : Penggunana laksatif mungkan perlu untuk merangsang peristaltik usus
dengan perlahan atau evakuasi feses
e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan darah dan intake ke oral
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
1. Menyatakan pemahaman faktor penyebap dan perilaku yang perlu untuk memenuhi
kebutuhan cairan, seperti banyak minum air putih dan pemberian cairan lewat IV.
2. Menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan oleh haluaran urine
adekuat, tanda-tanda vital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik
Intervensi :
1. Mengkaji keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital
Rasional : menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari
keadaan normal
2. Mengobservasi kemungkinan adanya tanda-tanda syok
Rasional : agar segera dilakukan rehidrasi maksimal jika terdapat tanda- tanda
syok
3. Memberikan cairan intravaskuler sesuai program

16
Rasional : pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami difisit
volume cairan dengan keadaan umum yang buruk karena cairan IV langsung
masuk ke pembuluh darah.
f. Gangguan polatidur berhubungan dengan respon hormonal psikologis, proses
persalinan dan proses melelahkan Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan
laporan kesulitan jatuh tidur / tidak merasa segera setelahistirahat, peka rangsang,
lingkaran gelap di bawah mata sering menguap.
Tujuan : istirahat tidur terpenuhi
Kriteria hasil :
1. Mengidentifikaasikan penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang diperlukan
dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru. Melaporkan peningkatan rasa
sejahtera istirahat
Intervensi :
1. Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat. Catat lama persalinan dan
jenis kelahiran
Rasional : Persalinan/ kelahiran yang lama dan sulit khususnya bila terjadi malam
meningkatkan tingkat kelelahan.
2. Kaji faktor-faktor bila ada yang mempengaruhi istirahat
Rasional : membantu meningkatkan istirahar, tidur dan relaksasi, menurunkan
rangsang
3. Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur / istirahat setelah kembali ke
rumah
Rasional : rencana kreatif yang memperoleh untuk tidur dengan bayi lebih awal
serta tidur lebih siang membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh serta
menyadari kelelahan berlebih, kelelahan dapat mempengaruhi penilaian
psikologis, suplai ASI dan penurunan reflek secara psikologis.
g. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang
mengenai sumber informasi
Tujuan : memahami parawatan diri dan bayi
Kriteria hasil :
1. Mengungkapkan pemahaman perubahan fiiologis kebutuhan individu
Intervensi :
1. Pastikan persepsi klien tentang persalian dan kelahiran, lama persalinan dan
tingkat kelelahan klien

17
2. Rasional : Terdapat hubungan lama persalinan dan kemampuan untuk melakukan
tanggung jawab tugas dan aktivitas perawatan dari atau perawatan bayi
3. Kaji kesiapan klien dan motifasi untuk belajar, bantu klien dan pasangan dalam
mengidentifikasi hubungan
4. Rasional : Periode postnatal dapat merupakan pengalaman positif bila
penyuluhan yang tepat diberikan untuk membantu mengembangkan pertumbuhan
ibu maturasi, dan kompetensi
5. Berikan informasi tentang peran progaram latihan postpartum progresif
6. Rasional : Latiahn membantu tonus otot, meningkatkan sirkulasai, menghasilkan
tubuh yang seimbang dan meningkatkan perasaan sejahtera secara umum
7. Identifikasi sumber-sumber yang tersedia misal pelayanan perawat, berkunjung
pelayanan kesehatan masyarakat
8. Rasional : Meningkatkan kemandirian dan memberikan dukunagan untuk
adaptasi pada perubahan multiple.

4. Implementasi Postpartum
Mengubah kata perintah dari intervensi keperawatan menjadi kata kerja.
5. Evaluasi
S : - Pasien mengatakan luka jahitan pada kemaluan sudah tidak terasa sakit.
- Pasien mengatakan sakit juga tidak terasa apabila sedang cebok setelah
berkemih dan buang air besar.
- Pasien mengatakan nyeri payudaranya sudah berkurang dan air ASI nya sudah
lancar.
O : - Pasien meringis saat berpindah posisi
- Pasien postpartum hari ke 36 hari
- Riwayat persalinan pertama kali
- TD : 110/70 mmHg. N : 84 x/menit
A : Tujuan tercapai
P : Intervensi dihentikan.

18
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Postpartum adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari
rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang
berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain
sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni,2009). Adapun tahapan-tahapan masa
postpartum yaitu postpartum dini, intermedial dan puerperium. Sedangkan perubahan pada
postpartum terjadi pada reproduksinya, dll. Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani
ruptur perineum adalah apabila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak
lahir, segera memeriksa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta lahir
tidak lengkap.
Diagnosa Keperawatan dalam postpartum yaitu Nyeri berhubungan dengan involusi
uterus, nyeri setelah melahirkan. (Doenges, 2001), Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
laserasi dan proses persalinan. (Doenges, 2001), Resiko menyusui tidak efektif berhubungan
dengan kurang pengetahuan cara perawatan payudara bagi ibu menyusui. (Bobak,
2004), Gangguan pola eliminasi bowel berhubungan dengan adanya konstipasi. (Bobak,
2004) , Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan darah dan intake ke oral. (Doenges, 2001), Gangguan pola tidur berhubungan
dengan respon hormonal psikologis, proses persalinan dan proses melelahkan. (Doenges,
2001)
3.2 SARAN
Belajar asuhan keperawatan tentang postpartum sangatlah penting bagi dunia
keperawatan. Selain asuhan keperawatannya yang harus kita pahami, kita sebagai perawat
juga harus tahu bahwa suatu saat kita pasti akan berkolaborasi dengan seorang bidan baik itu
di dunia praktek ataupun di lapangan nyata. Oleh karena itu belajar asuhan keperawatan
tentang postpartum ini sangatlah membantu kita suatu hari ini.

19
DAFTAR PUSTAKA
Saputra, Dr Lyndon, 2014. Asuhan Kebidanan Masa Nifas Fisiologis dan Ptologis.
Tangerang Selatan : Binarupa Aksara Publisher,
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=8251

20