Anda di halaman 1dari 16

BEDAH LITERATUR

MATA KULIAH : CHEMICA-PRENEURSHIP


DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. M. Rusdi, S. Pd., M. Sc
KELOMPOK 1 : 1. NELLY AFRIANTY (P2A818011)
2. RINI WAHYU FAJRIANI (P2A818009)
MATERI : TEACHING THE ENTREPRENEURIAL MINDSET TO ENGINEERS (POLA PIKIR
KEWIRAUSAHAAN)
REFERENSI : LISA BOSMAN DAN STEPHANIE FERNHABER

Pendahuluan

Pada dasarnya kewiraswastaan ada disekitar kita. Kita dapat menonton pengusaha
mempromosikan ide mereka pada Shark Tank. Kita membaca koran lokal dan mendengan
bagaimana program akselerator program, yang dispronsori oleh organisai seperti Konsorsium
Penelitian Midwest energi di Milwaukee yang membantu dalam peluncuran start-up baru. Kita
mungkin memiliki teman atau keluarga yang merupakan pengusaha, bahkan jika tidak, kita sering
membaca mengenai sosok seperti Steve Jobs, Sara Blakely, Madam C.J. Walker atau Elon Musk. Kita
sering mendengar betapa besar dan luasnya keberadaan perusahaan seperti Google atau #M yang
berusaha keras untuk membudayakan kewiraswastaan kepada karyawannya.
Ketergantungan terhadap kewiraswastaan dan inovasi yang ada di kehidupan kita
bersamaan dengan peningkatan akselerasi teknologi yang juga berubah, yanng sering sekali
menimbulkan gangguan industri dan munculnya muncul yang baru. Contohnya saja eBAy , Uber,
dan 3D printing. Memang, saat ini kita ditengah revolusi kewirausahaan yang tidak pasti dan
perubahan selalu menjadi suatu hal yang biasa terjadi.
Nah, mahasiswa teknik juga menyadari perubahan ini dengan baik. belakangan ini
kewiraswastaan/kewirausahaan sering ditemukan dalam matakuliah/mata pelajaran di sekolah
bisinis, yang akhirnya menghadapkan mahasiswa untuk memilih antara teknik dan kewirausahaan
sebagai lawan dalam mengeksplorasinya bersamaan. Sebagai alternatifnya, mahasiswa teknik yang
tertarik dalam kewirausahaan dapat mengunjungi universitas kewiraausahaan atau mengambil
matakuliah tambahan ymelalui sekolah bisnis yang sesuai dengan jadwal yang mereka miliki.
Sejauh ini, solusi ini kelihatannya dapat mengarahkan kberpikir bahwa mengembangkan
entrepreneurial mindset merupakan sesuatu yang dapat dipilih/opsi dan dapat dilakukan saat waktu
luang jika ini dapat dilakukan dengan baik juga.
Pada dasarnya sangat jarang untuk fakultas teknik untuk mengajarkan/ melatih
kewirausahaan.oleh karena itu, ini menjadi sangat penting untuk membekali pengajar teknik dengan
peralatan dan strategi yang memungkinkan mereka untuk mengajarkan entrepreneurial mindset.
Tujuan dari penulisan buku ini yakni “tujuan kami sederhana, yakni kami ingin mengembangkan
pendidikan kewirausahaan untuk seluruh mahasiswa teknik, dan kami perlu untuk memotivasi
dan membekali kalian, sebagai seorang pengajar teknik.
Part I : apa itu pola pikir kewirausahaan dan mengapa ini penting untuk desainer?
2. Mendefinisikan apa itu pola pikir kewirausahaan
2.1 Apa itu pola pikir ?
Pola pikir didefinisikan oleh Merriam-Webster sebagai "sikap mental atau kecenderungan."
Lebih lanjut diuraikan oleh Thum (2012):
Dalam bukunya yang berjudul Mindset, Carol Dweck (2006) mengakui bahwa pola pikir dapat
diperbaiki atau berorientasi pada pertumbuhan. Sementara mindset tetap mengasumsikan bakat
Anda dan kemampuan ditetapkan, mindset berkembang percaya bakat Anda dan kemampuan dapat
dikembangkan. Namun, Dweck cepat melakukannya Tekankan bahwa pola pikir bisa berubah.
Banyak dari ini terjadi melalui pengembangan kesadaran yang lebih besar tentang pola pikir Anda
saat ini, dan mengambil langkah-langkah untuk dengan sengaja mulai berpikir dan bereaksi dengan
cara-cara baru. Dari sudut pandang akademis, konsep pola pikir keluar dari kognitif bidang psikologi
dan teori organisasi. Gupta dan Govindrarajam (2002: 116–117) merangkum temuan dari literatur ini
karena berkaitan dengan individu:
1. Sebagai manusia, kemampuan kita untuk menyerap dan memproses informasi terbatas. Jadi, kita
terus ditantang oleh kompleksitas, ambiguitas, dan dinamika lingkungan informasi di sekitar kita.
2.Kita atasi tantangan ini melalui proses penyaringan. selektif dalam apa yang kita serap dan bias
dalam cara kita menafsirkannya. Istilah mindset mengacu pada filter kognitif ini.
3. Pola pikir kita adalah produk dari sejarah kita dan berkembang melalui proses interaktif(saling
berhubungan satu sama lain). Pola pikir kita saat ini memandu pengumpulan dan interpretasi
informasi baru. Sejauh informasi baru ini konsisten dengan pola pikir saat ini, ini memperkuat pola
pikir itu. Namun, dari waktu ke waktu, akan banyak muncul informasi yang benar-benar baru dan
tidak sesuai dengan yang ada pola pikir. Ketika ini terjadi, kita menolak informasi baru atau
mengubah informasi pola pikir kita . Kemungkinan bahwa pola pikir kita akan mengalami perubahan
sangat tergantung pada seberapa sadar diri kita terhadap pola pikir kita saat ini: semakin
tersembunyi dan filter kognitif alam bawah sadar kita, semakin besar kemungkinannya kekakuan.
Dengan demikian, mindset kita dapat dibentuk oleh kesadaran yang dikondisikan(disengaja).
Ini juga sebagian besar didorong oleh pengalaman kita dan siapa diri kita (sengaja atau tidak sengaja)
terkena.
Sebagai permulaan kami sebagai pengajar teknik secara langsung mempengaruhi mindset
mahasiswa melalui pengalaman yang kami berikan ke mereka didalam kelas. Sejauh ini, mindset
berkembang melalui proses interaktif (timbal balik), ini bukanlah sesederhana usaha “satu dan
selesai”, tetapi Sebaliknya, itu harus diperkuat dan dipraktikkan. Di dalam perasaan, akal, pola pikir,
kebiasaan yang membutuhkan latihan.

2.2 Apa yang dimaksud menjadi “Pengusaha”


Kata "pengusaha" berasal dari kata Perancis entrependre, yang berarti "pengurus" seperti
dalam arti seseorang melakukan proyek besar. Itu Ekonom Perancis yang paling terkenal untuk
menciptakan istilah ini sekitar 1800 adalah Jean Baptiste Say, yang menekankan “wirausahawan
menggeser sumber daya keluar dari area lebih rendah dan ke area produktivitas tinggi dan hasil
lebih besar ”(Drucker 1985a: 23). Dengan demikian, penciptaan nilai adalah inti dari kewirausahaan.
Namun, definisi ini terus berkembang sejak saat itu, seperti yang diilustrasikan dalam Tabel 2.1.
Joseph Schumpter mungkin paling dikenal karena menciptakan istilah “destruksi
kreatif"pada tahun 1942, yang menekankan unsur " baru " dari kewirausahaan yang memberikan
inovasi baru menggantikan produk, proses, dan layanan yang ada. Menurut Schumpeter (1942),
“fungsi wirausahawan adalah mereformasi atau merevolusi pola produksi… dengan mengeksploitasi
suatu penemuan atau, lebih umum, suatu kemungkinan teknologi yang belum dicoba untuk
menghasilkan komoditas baru atau memproduksi sesuatu yang lama dengan cara baru, dengan
membuka sumber pasokan bahan baru atau outlet baru untuk produk, dengan menata ulang
industri dan sebagainya. ”Ini dengan ini menyarankan bahwa kewirausahaan dapat digunakan dalam
berbagai bentuk atau kombinasi. Sebagai contoh, Henry Ford memasang jalur perakitan pertama
untuk auto-mobil, menciptakan proses yang lebih efisien dan hemat biaya. Penemuan kamera digital
mendisruptif bidang fotografi. Dengan bantuan teknika software, memperkenalkan pelelangan
secara online.
Stevenson (1983: 3) membangun definisi di atas dengan fokus pada sumber daya, dan
mendefinisikan kewirausahaan sebagai “mengejar peluang tanpa memperhatikan untuk sumber
daya yang saat ini dikontrol’. Pengusaha biasanya memulai dengan batasan set sumber daya dan
kebutuhan untuk beroperasi lemah atau menemukan cara untuk memobilisasi sumber daya
eksternal. Di sinilah risiko ikut berperan. Ide baru yang belum terbukti, ada unsur risiko saat
mengalokasikan sumber daya. Risiko ini dan Ketidakpastian mungkin terkait dengan asumsi tentang
keinginan dan pelanggan permintaan, kelayakan teknologi untuk dapat membuat produk atau
layanan, dan / atau kelayakan bisnis terkait dengan eksekusi, keuangan, dll. Disinilah peran
mengkondisikkan/manajemen terhadap resiko yang mungkin ditemui berperan.
Peter Drucker berpengaruh dalam menunjukkan bahwa tidak semua bisnis kecil merupakan
kewirausahaan. Dia juga berpendapat bahwa tujuan kewirausahaan tidak selalu untung — dan
mencontohkan gagasan ini dalam sektor publik. Secara khusus, Drucker (1985b: 5–6) mencatat “Saat
ini, ada banyak kebingungan tentang definisi yang tepat dari kewiraswastaan. Beberapa pengamat
menggunakan istilah ini untuk merujuk ke semua bisnis kecil; yang lain, ke semua bisnis baru. Namun
dalam praktiknya, banyak sekali yang mapan bisnis terlibat dalam kewirausahaan yang sangat
sukses. Dari sinilah kemudian dapat di definisikan bahwa kewirausahaan merujuk tidak untuk ukuran
atau usia perusahaan tetapi untuk jenis kegiatan tertentu. Aktivitas vital dalam kewirausahaan
adalah inovasi: upaya untuk menciptakan perubahan yang disengaja dan terfokus dalam potensi
ekonomi atau sosial perusahaan. "Memang, ini membantu meletakkan dasar bagi kesadaran bahwa
kewirausahaan bukanlah konteks spesifik. Drucker lebih lanjut menekankan, “Ini mendefinisikan
pengusaha dan kewirausahaan—pengusaha selalu mencari perubahan, menanggapinya, dan
memanfaatkannya sebagai peluang. "
Untuk lebih memahami cara berpikir pengusaha, Saras Sarasvathy mewawancarai 42
pengusaha ahli sebagai bagian dari disertasinya. Penelitiannya menyimpulkan bahwa para
wirausahawan dibedakan bukan oleh sifat-sifat umum mereka, melainkan oleh logika umum
mereka, atau proses berpikir, digunakan untuk memecahkan masalah kewirausahaan dalam kondisi
ketidakpastian.
dalam menguji evolusi definisi pengusaha, penting untuk diingat bahwa ada 5 wawasan
utama yang menyangkut pendidikan teknik.
Wawasan # 1 "Apakah Anda pengusaha?" Adalah pertanyaan yang salah. Sebaliknya, seharusnya
jadilah "bagaimana kewirausahaan Anda?"
Kewirausahaan adalah penemuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang, individu dapat
bervariasi sejauh mana mereka menunjukkan perilaku ini. Demikian, pertanyaannya bergeser dari
“apakah Anda seorang wirausaha?” ke “bagaimana kewirausahaan Anda? ”Tujuan sebagai pendidik
teknik adalah mendorong siswa kami lebih jauh kontinum, dan menempatkan mereka ditempat
mereka dapat lebih cenderung menemukan, mengevaluasi, dan memanfaatkan peluang secara
teratur.
Wawasan # 2: Menjadi wirausaha relevan(berkaitan) lebih dari sekadar pemula.
Sementara kita, sekali lagi, memiliki kecenderungan untuk mengasosiasikan kewirausahaan
dengan bisnis kepemilikan atau berkembang pesat, start-up teknologi, referensi konteksnya
kelihatan jelas tidak ada dalam definisi. Dengan adanya peningkatan percepatan perubahan,
kebutuhan untuk penemuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang juga intensitas — terlepas dari dari
jenis organisasi apa itu. Sementara kewirausahaan erat kaitannya dengan organisasi nirlaba,
pemerintah, perusahaan sosial, dan masyarakat, yang kehadirannya yang signifikan (tidak bisa
diabaikan) bagi perusahaan besar yang sudah ada, yang bekerja lebih keras dari sebelumnya
menguasai nilai-nilai kewirausahaan — karena sangat penting untuk mempertahankan daya saing.
Ini adalah poin yang sangat relevan bagi pendidik engineer, untuk membantu membenarkan alasan
mengapa kewirausahaan dapat diterapkan oleh semua mahasiswa teknik — dan tidak sedikit
mahasiswa yang tertarik memulai bisnis mereka sendiri.
Wawasan # 3: Ada banyak jenis (dan ukuran) peluang wirausaha.
Jika kewirausahaan didefinisikan sebagai penemuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang,
sering ada diskusi tentang apa yang merupakan peluang. Seperti yang dikutip oleh Schumpeter,
inovasi dapat melibatkan kombinasi pengetahuan baru, sumber daya, dll. Dia mengatakan ada lima
jenis umum inovasi , termasuk barang baru, metode produksi baru, pasar baru, sumber input baru,
dan mengorganisasikan jenis baru. Kita juga bisa melihat perbedaan antara radikal versus
inkremental inovasi. Untuk pendidik wirausaha, kunci utama yang mudah/instan bahwa peluang
wirausaha dapat lakukan/dimulai dariberbagai bentuk dan ukuran. Mulai dari mengembangkan
produk yang sama sekali baru, misalnya, untuk menyempurnakan proses yang ada untuk mencapai
pasar baru.
Wawasan # 4: Menjadi wirausaha membutuhkan penciptaan nilai.
Dari definisi awal kewirausahaan yang diberikan oleh Jean Baptiste Say in 1800, jelas bahwa
menjadi wirausaha melibatkan penciptaan nilai. Ini nilai dapat datang dalam berbagai bentuk. Dari
perspektif kewirausahaan, kita harus menanamkan diri kita mentalitas dengan kesadaran konstan
akan kelangsungan bisnis dan keinginan pelanggan. Jadi, sebagai pendidik teknik, kita juga perlu
membawa kelayakan bisnis dan keinginan pelanggan ke dalam pengajaran kita sehingga kita bisa
fokus sesungguh dan sepenuhnya pada penciptaan nilai.

Wawasan # 5: Menjadi wirausaha mencakup ketidakpastian.


Peluang kewirausahaan, menurut definisi, baru dan dengan demikian melibatkan tingginya
tingkat ketidakpastian. Ini diperkuat oleh kebutuhan yang diakui oleh Stevenson yang perlu banyak
pemikiran. Ketidakpastian ini tidak hanya berkaitan dengan menemukan cara untuk membangun
solusi (kelayakan), tetapi juga ketidakpastian tentang bagaimana pelanggan akan bereaksi
(Keinginan) atau apakah solusi itu layak dari segi bisnis (viabilitas/dapat berlangsung dalam jangka
panjang).
Ketidakpastian membutuhkan eksperimen terus menerus, pembelajaran, dan adaptasi.
Dalam bukunya buku, The Lean Start-up, Eric Reis menyebut proses ini sebagai pembelajaran
membangun suatu siklus/perputaran/roda. Memang, proses kewirausahaan membutuhkan
ketekunan dalam menggeser asumsi yang statis menjadi suatu wawasan baru. Sebagai pendidik
teknik, mahasiswa kita sudah terbiasa dengan metode ilmiah dan proses desain teknik yang
merupakan dasar dari membangun pembelaran dengan konsep siklus. Namun, kita perlu
memastikan lagi bahwa proses ini diterapkan tidak hanya untuk dikerjakan, tetapi juga dapat
dipandang positif dari sudut keinginan pelanggan dan kelayakan bisnis. Kita juga perlu menekankan
kebutuhan itu untuk merangkul ketidakpastian dan belajar beradaptasi sesuai situasi.
2.3 Pola pikir kewirausahaan dalam satu kesatuan

Mengingat fokus kita pada pola pikir kewirausahaan, dengan demikian, kita tertarik pada
kecenderungan menuju kewiraswastaan. Dengan kata lain, pola pikir kewirausahaan adalah
kecenderungan untuk menemukan, mengevaluasi, dan memanfaatkan peluang.
Dalam buku mereka, berjudul The Entrepreneurial Mindset, McGrath dan MacMillan (2000)
menyarankan Andauntuk tahu bahwa Anda telah sepenuhnya merangkul pola pikir wirausaha ketika
Anda mulai untuk bertindak dan berpikir seperti layaknya pengusaha . Seperti yang disarankan oleh
namanya, kebiasaan wirausahawan dikenal karena membuat karier dari memulai bisnis, baik di
dalam organisasi yang ada dan sebagai usaha independen. Meskipun Anda tidak perlu sebenarnya
memulai bisnis untuk merangkul pola pikir wirausaha, intinya adalah Anda memanfaatkan cara
berpikir kewirausahaan begitu sering sehingga menjadi kebiasaan. McGrath dan MacMillan (2000:
2–3) melanjutkan untuk mengidentifikasi lima karakteristik pola pikir wirausaha yang sama dengan
kebiasaan pengusaha :
1. Mereka dengan penuh semangat mencari peluang baru.
2. Mereka mengejar peluang dengan disiplin besar.
3. Mereka hanya mengejar peluang terbaik dan menghindari melelahkan diri mereka sendiri dan
organisasi mereka dengan mencaei setiap opsi.
4. Mereka fokus pada eksekusi — khususnya, eksekusi adaptif.
5. Mereka melibatkan energi setiap orang(potensi) dalam domain mereka.
Jika pola pikir kewirausahaan melibatkan kecenderungan untuk bertindak atau berpikir
dalam cara tertentu, dapatkah kita, sebagai pendidik teknik, benar-benar memberikan impact pada
bagaimana siswa kita bertindak atau berpikir? Bisakah kita benar-benar mengubah pola pikir
mereka? Ya, tapi itu membutuhkan latihan agar bisa menjadi kebiasaan. Dan, praktik ini harus
didasarkan pada teori.
3. Mengapa entrepreneurial mindset itu penting bagi desainer masa depan?
3.1 Indutri menuntut adanya entrepreneurial mindset pada lulusan (fresh graduated)
Dalam perusahaan yang ada, banyak kewirausahaan dan inovasi terjadi dalam upaya
penelitian dan pengembangan (R&D).
Inovasi melalui R&D penting untuk menjaga daya saing global, dan untuk memecahkan
masalah yang mendesak. Namun, pertumbuhan kompetitif melibatkan lebih dari sekadar desain
atau penemuan produk baru. Ini juga membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi pasar,
memahami proposisi nilai, membuat model bisnis yang layak, prototipe dan menguji, bekerja
dengan tim, sumber bahan, berkomunikasi, memimpin, menyelesaikan masalah, tekun, dan secara
kritis, berurusan dengan ketidakpastian. Singkatnya, ini membutuhkan pola pikir kewirausahaan.
Dalam rangka menemukan, mengevaluasi, serta memanfaatkan kesempatan. Harus bekerja
secara bersama-sama dalam lingkungan yang beragam. Keragaman ini tidak hanya dibuktikan
dengan hasil ide yang kreatif saja namun juga harus efektif. Tindakan kewirausahaan memerlukan
sebuah tim.
Permintaan untuk pola pikir kewirausahaan adalah tidak spesifik hanya untuk jalur karier
teknik saja atau disiplin tertentu. Sebaliknya, kami berpendapat bahwa dengan mengembangkan
pola pikir wirausaha Anda mampu menciptakan sesuatu yang lebih bernilai dan memanfaatkan
keahlian Anda dengan lebih baik di mana pun diterapkan (mis., penelitian, desain, penjualan,
konsultasi). Hal Ini sesuai dengan yang tinggi tuntutan karyawan dengan “T shaped” yang dicirikan
oleh dua jenis karakteristik; itu keahlian atau kedalaman keterampilan diwakili dalam garis vertikal
"T," sedangkan kemampuan untuk terhubung dengan berbagai bidang keahlian tercermin dalam
horizontal goresan “T” (Hansen 2010).
3.2 Entrepreneurial mindset tumbuh dan berkembang
Ada banyak sekolah teknik yang menerapkan entrepreneurial mindset melalui program-
program tertentu guna mmpersiapkan diri dalam menghadapi tantangan masa depan.
Sementara gerakan menuju mengintegrasikan kewirausahaan ke dalam teknik pendidikan
ada dan terus meningkat, masih ada jalan panjang yang perlu dilalui sebelum setiap mahasiswa
teknik dapat mencapainya. Yang perlu kita ketahui bahwa membantu individu anggota fakultas
adalah cara paling efektif untuk mempengaruhi siswa, yang pada akhirnya yaitu mencapai tujuan
dari teks ini( mengajarkan entrepreneurial mindset). Dan pada akhirnya, ini adalah tanggung jawab
pendidik teknik untuk mengajar dan mendorong siswa mereka untuk menyampaikan inovasi dan
pemikiran kewirausahaan (Byers et al. 2013)

3.3 Kebermanfaatan mengintegrasikan entrepreneurial mindset oleh pengajar desainer/engineer


Kewirausahaan semakin merebak dalam relevansi dan kebutuhan. Sebagai pendidik, kita
memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan siswa kita dengan baik sehingga mereka dapat
membuat perbedaan dan lepaskan semangat kewirausahaan mereka dalam kehidupan dan karier
mereka. Seseorang mengatakan, ada manfaat tambahan untuk fakultas yang menyatukan
kewirausahaan pola pikir ke dalam kelas teknik. Terutama, pendidik teknik mendapat manfaat
karena peningkatan motivasi mahasiswa untuk mempelajari mata kuliah ini/subject ini
Pada akhirnya, mengajarkan topik baru mengharuskan menjadi mahasiswa terlebih dahulu.
Akibatnya,staf pengajar yang mengajarkan pola pikir wirausaha9 entrepreneurial mindset) secara
alami akan meningkat pola pikir kewirausahaannya sendiri. Orang yang berwirausaha memiliki
kemampuan untuk melakukan penemuan peluang, mengevaluasi, dan memanfaatkannya. Sejauh ini,
kami telah menyebutkan manfaat ini dalam kaitannya dengan perspektif bisnis. Namun, dari sudut
pandang fakultas berpikiran mampu mengenali peluang dalam semua aspek kehidupan mereka, dari
kehidupan pribadi hingga kehidupan penelitian hingga kehidupan mengajar karena ada “pelanggan”
di sekitar kita. Selalu ada cara yang lebih baik, lebih strategis, dan efisien untuk ditangani mengajar,
menulis, dan menyerahkan makalah penelitian untuk publikasi atau memberikan proposal untuk
pendanaan, mengikuti penghargaan pengajaran dan penelitian, lebih efektif menjadwalkan fakultas
tanggung jawab untuk memungkinkan peningkatan waktu keluarga yang berkualitas, dll. Secara
wirausaha fakultas berpikiran unggul dalam mengoptimalkan keseimbangan work-life agar sesuai
dengan tujuan yang ditetapkan oleh mereka sendiri.

Part II : Mengintegrasikan entrepreneurial mindset menjasi kurikulum teknik sesungguhnya (hal


yang nyata
4. Menyatukan entrepreneurial mindset kedalam kurikulum teknik
4.1 Peran engineer dalam proses kewirausahaan
Kewirausahaan adalah mesin pertumbuhan ekonomi, dan para engineer memainkan peran
yang jelas dalam kemajuan substansial yang memungkinkan ini terjadi. Dari perspektif makro, para
engineer mengerjakan proyek dari penemuan hingga evaluasi terhadap eksploitasi,seperti yang
ditunjukkan gambar berikut:
Apa yang dimulai sebagai ide produk atau layanan baru yang sederhana selama fase
penemuan terus bertambah besar ketika asumsi dievaluasi, berpotensi menjadi model bisnis bola
salju untuk dieksploitasi di tingkat komersial.

Dari perspektif mikro, proses desain teknik (Gbr. 4.2) dapat dilakukan dianggap sebagai
serangkaian langkah berulang yang dilakukan engineer untuk merancang solusi untuk masalah atau
tantangan pelanggan. Pertama, masalahnya didefinisikan. masalah digabungkan dengan umpan balik
pelanggan, termasuk kebutuhan, keinginan, dan hasrat mereka, sambil mempertimbangkan kendala
umum, umumnya termasuk sumber daya seperti teknologi pembuatan, waktu, dan uang. Tujuan-
tujuan ini kemudian dikonversi dalam spesifikasi desain untuk memastikan produk atau layanan
akhir memenuhi kebutuhan ditentukan oleh pelanggan. Kedua, brainstorming terjadi. Brainstorming
memberikan kesempatan untuk mendapatkan semua ide, bahkan yang "tidak realistis” secara
terbuka .Ini memberikan ruang berpikir bagi tim untuk mendesain untuk berpikir out of the box
ketika solusi desain disinggungkan dengan kebutuhan pelanggan. Ketiga, curah pendapat
dipersempit ke satu atau beberapa solusi dan rencana dibuat untuk mengevaluasi solusi lebih lanjut.
Selanjutnya, model prototipe dibuat dan diuji dengan basis pelanggan. Umpan balik itu memberikan
tim desain dan perubahan untuk mencerminkan dan mendesain ulang solusi potensial. Penting
untuk dicatat bahwa aspek berulang dari proses desain teknik memungkinkan tim untuk terus
berkonsultasi dengan pelanggan untuk mendapatkan umpan balik. tim desain berusaha memastikan
kebutuhan, keinginan, dan hasrat pelanggan terpenuhi,dan pada saat yang sama, tim desain
berusaha memastikan perusahaan mampu mengkomersialkan produk atau layanan dalam teknologi,
waktu, dan keterbatasan biaya/uang.

Selama ini, tim desain teknik berusaha keras untuk mengembangkan produk dan layanan
yang memaksimalkan karakteristik desain (Gbr. 4.3) terkait dengan keinginan pelanggan
kemampuan, kelayakan teknologi, dan kelayakan bisnis.
Proses inovasi yang fokus lebih pada Kelayakan Bisnis dan Teknologi Kelayakan dapat
menambah nilai terkait meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas, dan mengurangi
masalah keselamatan. Emosional inovasi yang berfokus pada Keinginan Pelanggan dan Kelayakan
Bisnis dapat menambah nilai yang terkait dengan pemasaran, branding, dan membangun hubungan.
Pada akhirnya, mengoptimalkan ketiga karakteristik ini (keinginan pelanggan, teknologi
kelayakan nologi, dan kelayakan bisnis) akan menciptakan nilai terbanyak terhadap eksploitasi
peluang.Singkatnya (Gbr. 4.4), saat proses desain bergerak sepanjang waktu dari penemuan untuk
evaluasi terhadap eksploitasi, para insinyur terus-menerus beralih melalui proses desain dengan
tujuan akhir untuk memvalidasi keinginan pelanggan, teknologi yang layak secaralogis, dan
kelayakan bisnis. Namun, semua ini tidak mungkin tanpa keterampilan profesional yang efektif
termasuk kolaborasi dan komunikasi. Selanjutnya, latihan dan umpan balik memungkinkan
kebiasaan untuk membentuk pola pikir. Alhasil, pola pikir kewirausahaan penting bagi engineer
masa depan karena hal ini akan dapat memberikan fondasi kewirausahaan wirausaha dan akhirnya,
tingkat ekonomi bertumbuh.
Akibatnya, fakultas harus menyadari empat niat utama ketika mengintegrasikan mindset
kewirausahaan untuk ditambahkan dalam kurikulum teknik yang ada.

• Intensi 1: Kegiatan pembelajaran harus memberikan pengalaman untuk menemukan,


mengevaluasi, dan / atau memanfaatkan peluang. Peluang yang menciptakan paling banyak nilai
harus ditujukan pada keinginan pelanggan, kelayakan teknologi, dankelayakan bisnis.
• Intensi 2: Kegiatan pembelajaran harus memberikan pengalaman untuk mengembangkan
keterampilan profesional (kolaborasi dan komunikasi).
• Intensi 3: Kegiatan pembelajaran harus memberikan pengalaman latihan, refleksi, dan umpan
balik secara berkelanjutan.
• Intensi 4: Kegiatan pembelajaran harus diselaraskan dengan dan memperkuat tujuan
pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.

4.2 Intention 1 : Desain kurikulum untuk proses kewirausahaan


Berpikir wirausaha berorientasi pada proses dan terjadi seiring waktu. Jadi disana perlu
menjadi aspek varian waktu yang mempertimbangkan fokus pada penemuan, evaluasi,dan / atau
eksploitasi suatu peluang. Selanjutnya, kewirausahaan adalah tentang nilai kreasi di mana peluang
desain paling berharga didasarkan pada tumpang tindih keinginan pelanggan (Apakah mereka
menginginkan ini?), kelayakan teknologi (Bisakah kita melakukan ini?),dan kelayakan bisnis
(Haruskah kita melakukan ini?). Dengan demikian, kurikulum harus dirancang untuk menyelidiki
keinginan pelanggan, kelayakan teknologi, dan / atau kelayakan bisnis.
Penemuan Eksploitasi Evaluasi Penemuan Penemuan peluang penciptaan nilai berfokus
pada eksplorasi dan investigasi peluang sehubungan dengan keinginan pelanggan, teknologi
kelayakan, dan kelayakan bisnis. Di sini, fakultas dapat menginspirasi mahasiswa dengan
mendorong rasa ingin tahu dan mempertanyakan bagaimana, apa, dan mengapa saat ini diterima
solusi. Siswa didorong untuk mengeksplorasi dan mempertimbangkan cara alternatif untuk
melakukan sesuatu. Tugas penelitian kualitatif menawarkan satu cara untuk memasukkan
penemuan ke dalam kelas teknik. Contoh teknik kualitatif termasuk etnografi, narasi penelitian ratif,
atau fenomenologis (mis., membaca dokumen, menonton video, mengunjungi tempat, kunjungan
lapangan, melakukan wawancara, observasi).Pertanyaan penelitian penemuan harus fokus pada
peluang penciptaan nilai dengansehubungan dengan penemuan pelanggan, kelayakan teknologi, dan
kelayakan bisnis.
Contoh pertanyaan penelitian diberikan pada Tabel 4.1. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa
diterapkan sehubungan dengan pertimbangan suatu inovasi (produk atau layanan) yang dapat
dihubungkan ke topik kelas teknik.
Evaluasi Eksploitasi Evaluasi Penemuan Evaluasi peluang penciptaan nilai berfokus pada
penilaian dan penilaian peluang sehubungan dengan keinginan pelanggan, fitur teknologi kelayakan,
dan kelayakan bisnis. Di sini, fakultas dapat melibatkan siswa yang melibatkan siswa integrasi
informasi dari berbagai sumber untuk menganalisis lebih lanjut peluang.Siswa diberikan kesempatan
untuk menilai risiko dan mengembangkan rencana untuk mengelola ketidakpastian.
Tugas penelitian kuantitatif menawarkan satu cara untuk memasukkan evaluasi ke dalam
ruang kelas teknik. Contoh teknik kuantitatif meliputi survei,eksperimen, data sekunder, dan
penelitian observasional.Pertanyaan penelitian evaluasi harus fokus pada peluang penciptaan nilai
dengan sehubungan dengan penemuan pelanggan, kelayakan teknologi, dan kelayakan
bisnis.Contoh pertanyaan penelitian diberikan pada Tabel 4.1. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa
diterapkan sehubungan dengan pertimbangan suatu inovasi (produk atau layanan) yang dapat
dihubungkan ke topik kelas teknik.
Eksploitasi Evaluasi Penemuan Eksploitasi peluang penciptaan nilai berfokus pada
mempromosikan kegigihan dalam desain peluang sehubungan dengan keinginan
pelanggan, teknologi kelayakan, dan kelayakan bisnis. Di sini, fakultas dapat menggunakan
proyek perancah untuk dorong siswa untuk bertahan terus dan belajar dari kegagalan.
Siswa dibimbing melalui proses desain formal atau informasi yang berpusat dengan
identifikasi dari peluang penciptaan nilai.
Peluang desain menawarkan satu cara untuk memasukkan eksploitasi ke dalam
industri.kelas teknik. Contoh desain dan proses pembuatan penilaian meliputi proses desain
teknik standar, IDEO dan Desain Berpikir d.School, Google Design Sprint, dan Lean Startup
Model.Proyek eksploitasi harus fokus pada peluang penciptaan nilai sehubungan dengan
penemuan pelanggan, kelayakan teknologi, dan kelayakan bisnis.

4.3 Intention 2 : Desain Kurikulum untuk kemampuan profesional


Inovasi dan desain sangat jarang dilakukan secara terpisah, itulah sebabnya profesional
keterampilan adalah komponen penting dari pola pikir wirausaha. Secara khusus, mengembangkan
keterampilan kolaborasi dan komunikasi akan memberi mahasiswa kemampuan untuk bekerja
dengan rekan-rekan di tim desain, meningkatkan kemungkinan mendapatkan kualitas baik.

4.4 Intention 3 : Desain Kurikulum untuk latihan promosi (pemasaran)


Berlatih membentuk kebiasaan menjadi pola pikir. Dengan demikian, kurikulum harus
memberi ruang bagi berbagai peluang untuk menerapkan pemikiran kewirausahaan untuk praktik
lanjutan,refleksi, dan umpan balik. Kewirausahaan adalah tentang menciptakan nilai (mis.,
Penemuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang) dalam kondisi ketidakpastian. Nilai terbesar adalah
dicapai ketika pekerjaan yang dilakukan engineer selaras, atau seimbang, dengan bisnis viabilitas
serta keinginan pelanggan. Untuk mengajar kewirausahaan, kita perlu menawarkan kesempatan bagi
siswa untuk PRAKTEK tindakan penyeimbang ini. Dengan berlatih (melakukan dan belajar), siswa
dapat mengubah cara mereka berpikir dan merespons dengan lebih baik dalam pemecahan masalah
dalam kondisi ketidakpastian.
4.5 Intention 4 : Kembali lagi Pada Desain Proses
1. kita mulai dengan menetapkan tujuan pembelajaran
2. kita tentukan objek pembelajaran pesifik yang akan dipelajari
3. mengembangkan penilaian sumatif maupun formatif
4. aktivitas belajar disesuaikan dengan penilaian sumatif dan formatif untuk mendukung
pembelajaran yang objektif
4.6 Menggabungkan (memasukkan) intensi(tujuan) kedalam diskusi online
Diskusi online menawarkan peluang ideal untuk memasukkan niat kelas teknik, dan
memberikan banyak manfaat bagi siswa dan fakultas,sama. Pertama, diskusi online memberi siswa
waktu yang diperlukan untuk menyediakan respons yang merangsang pemikiran dan untuk
mempertimbangkan penelitian potensial lainnya atau berita terbaru untuk mendukung tanggapan
mereka. Kedua, diskusi online menyediakan siswa kesempatan untuk membaca dan mendapatkan
wawasan dari post siswa lain. Ketiga, gangguan diskusi online kelas yang terbatas sehingga
mempermudah untuk mulai memasukkan pola pikir kewirausahaan ke dalam kelas. Akhirnya, diskusi
online memberikan edukator kesempatan untuk memberikan umpan balik siswa langsung dan
mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk menggali lebih dalam subjek yang ada.

4.7 Menggabungkan (memasukkan) intensi ke dalam menciptkan project yang miliki nilai
Membuat proyek selama semesteran memberikan kesempatan lain untuk digabungkan niat
ke kelas teknik, dan memberikan banyak manfaat untuk masa depan engineer.
Proyek yang memiliki nilai ke dalam kursus teknik non-desain memungkinkan menuntut
siswa untuk mendapatkan keterampilan teknik dunia nyata di luar tradisional dan mahasiswa baru
dan kursus desain teknik senior. Ingat, mengembangkan sebuah pola pikir wirausaha membutuhkan
latihan.

5. Dukungan untuk hasil mahasiswa dan pola pikir kewirausahaannya


5.1 Overview hasil (outcomes) mahasiswa ABET
5.2 Intisari dari entrepreneurial mindset dan ABET
ABET merupakan akronim dari Accreditation Board for Engineering and Technology yang
merupakan program yang dibentuk untuk memanfaatkan berbagai kalangan seperti ahli, pemerintah
dan industri dalam mengapresiasi hasil desain yang telah dibuat. Tidak hanya dari satu bidang
namun terintegrasi dari berbagai bidang ilmu

Sejauh ini entrepreneurial mindset tidak bisa efektif berkembang jika tidak dilatih, diasah
dan diapresiasi.

Part III Kemana kita pergi setelah ini?


6. Mengintegrasikan intrepreneurial mindset sebagai seorang pengajar teknik
6.1 Berwirausaha dalam pendekatan mengajar
Kita sadari bahwa daya tarik buku ini yakni menumbuhkan dan meningkatkan pendidikan
kewirausahaa pada mahasiswa teknik yang sejauh ini akan muncul hanya jika edukator lebih
mengembangkan dan tergantung bagaimana proses entrepreneurial mindset yang kita mi;liki
sendiri. Hal ini melibatkan inovasi dalam pendekatan mengajar, proaktif melihat tanda kesempatan
baru secara pedagogi dan terakhir berani mengambil resiko.
6.2 Tips untuk tetap terus berkembang
Ada beberapa tips untuk tetap trus mengembangkan mindset kewirausahaan yakni:
1. melakukan perbandingan dengan institusi lain
2. menggali potensi lokal dalam berwirausaha
3. menggali lebih dalam (memahami lebih dalam) mengenai pengusaha
4. menggali lebih dalam dari fakultas antar cabang ilmu pengetahuan
Sebenarnya kurikulum hanya salah satu cara dari sekian banyak yang dapat diajarkan
kepada mahasiswa mengenai mindset kewirausahaan
7. Pengembangan sumber daya secara pedagogi dan profesional
Referensi yang dpaat memperkaya wawasan dalam rangka mengembangkan mindset
kewirausahaan bisa melalui :
7.1 Buku
7.2 Jurnal
7.3 Workshop dan seminar
7.4 Organisasi, Inisiatif, dan Kemajuan

8. Bertahan dan melakukan perubahan : Membuat sebuah kasus utuk entrepreneurial mindset
8.1 Tantangan dan rintangan
Ketika kita dihadapkan dalam masalah pada institusi kita, akan ada 2 realita yang muncul
dalam benak kita yakni yang pertama, perubahan akan terjadi namun akan memakan waktu, dalam
hal ini sebaiknya kita sabar, tekun dan melangkah secara konstan menuju suatu kemajuan. Dan yang
kedua, berubah dan bertahan merupakan akan selalu terjadi bergantian banyak orang yang bertahan
ditengah perubahan untuk beberapa hal, dengan demikinan sangat penting untuk bertanya dan
mengerti/memahami mengapa ada ketahanan.
8.2 Membuat kasus sendiri

Part IV Contoh Penggabungan kurikulum teknik dengan entrepreneurial mindset


9. Contoh dalam kurikulum teknik : Diskusi online
10. Contoh dalam kurikulum teknik : Project kreasi yang bernilai dan Alat dalam wirausaha