Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH DESAIN CONTEXTUAL CHEMISTRY MODUL TERHADAP

PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS XI

Aufa Laili Muhtarina*, Supartono, Harjito


Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang
Gedung D6 Lantai 2 Kampus Sekaran Gunungpati Semarang, 50229, Telp. (024) 8508035
Email: aufmuhtarina@gmail.com, 089510612273

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelayakan modul CCM modul bagi siswa. Subjek
penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 09 Semarang. Metode yang digunakan dalam
penelitian adalah Research and Development dengan model pengembangan 4-D menurut
Thiagarajan & Sammel, yang kemudian dimodifikasi menjadi 3-D karena penelitian sebatas
prototype. Metode untuk mengumpulkan data berupa wawancara, angket, soal kognitif dan
dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan guru untuk mendapatkan permasalahan. Angket
diberikan kepada guru dan siswa sebagai respon dari siswa maupun guru. Soal kognitif digunakan
untuk mengukur tingkat pemahaman konsep siswa Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh
Contextual Chemistry Modul (CCM) efektif digunakan sebagai bahan ajar siswa yang dilihat dari
hasil penilaian pretest-posttest dari kelas eksperimen 1 (menggunakan Contextual Chemistry Modul
(CCM)) dan kelas eksperimen 2 (menggunakan LKS). Hasil analisis tingkat pemahaman konsep
diuji dengan rumus N-gain dan memperoleh hasil kelas eksperimen 1 sebesar 0,73 kategori tinggi
serta kelas eksperimen 2 sebesar 0,70 kategori sedang. Rata-rata nilai klasikal siswa untuk kelas
eksperimen 1 sebesar 80,17 dan kelas eksperimen 2 sebesar 76,68. Hasil angket tanggapan siswa
sebesar 84,07% dengan kriteria sangat baik, sedangkan hasil angket tanggapan guru sebesar 41,5
termasuk katerori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Contextual
Chemistry Modul (CCM) efektif digunakan untuk pembelajaran karena dapat meningkatkan
pemahaman konsep bagi siswa kelas eksperimen 1 serta berdasarkan angket tanggapan modul
CCM mendapat respon positif dari siswa dan guru.

Kata Kunci: Contextual Chemistry Modul (CCM), Keefektifan, Pemahaman Konsep

ABSTRACT

The study aims to determine the feasibility of CCM module module for students. The subjects of the
study were students of class XI IPA SMA Negeri 09 Semarang. The method used in research is
Research and Development with 4-D development model according Thiagarajan & Sammel, which
then modified into 3-D because the research is limited to prototype. Methods to collect data in the
form of interviews, validation, questionnaires, and documentation. Interviews were conducted with
the teacher to get the problem. Validation to analyze eligibility by material and media experts.
Questionnaires are given to teachers in response from professionals. Based on research result
obtained Contextual Chemistry Module (CCM) very feasible use in accordance with the assessment
of material and media experts with the acquisition of material expert value 3,48 and media expert
3,44. The teacher questionnaire responses amounted to 41.5 including the excellent category.
Based on the results of the study it can be concluded that Contextual Chemistry Module (CCM) is
feasible to use based on expert judgment and get positive response from teacher.

Keywords: Contextual Chemistry Module (CCM), Feasibility


PENDAHULUAN
Tujuan dari pendidikan adalah tercapainya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan
oleh guru. Salah satu masalah yang sering ditemukan dalam proses belajar mengajar pada guru
adalah siswa sulit memahami konsep materi yang diajarkan dan kurang minatnya siswa belajar kimia.
Hal tersebut menyebabkan proses belajar mengajar tidak bermanfaat bagi siswa. Padahal proses
belajar mengajar merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan agar
mempengaruhi siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan (Suryani et al, 2014). Kimia
dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh siswa. Siswa sering mengalami kesulitan dalam
memahami berbagai konsep kimia, karena konsep kimia sangat kompleks. Hal itu menyebabkan
timbulnya pemahaman diluar konsep yang diajarkan atau miskonsepsi (Nabilah et al, 2014).
Beberapa penyebab miskonsepsi pada siswa adalah keterbatasan siswa dalam mengkonstruk atau
membangun pemahaman terhadap suatu konsep yang mereka terima selama proses pembelajaran.
Miskonsepsi yang terjadi pada siswa sulit dihilangkan dan dapat terbawa hingga ke jenjang
pendidikan selanjutnya sehingga siswa tersebut akan mengalami kesulitan untuk mengkaitkan
konsep baru yang mereka terima dengan konsep alternatif yang telah menjadi struktur kognitif siswa
tersebut (Maharani et al, 2014).

Siswa sulit memahami materi yang diajarkan oleh guru penyebabnya adalah sulitnya materi
atau pelajaran tersebut untuk dipahami, guru kurang mengenal masalah pengajaran, kemonotonan
guru dalam menjelaskan materi, serta kurang efektifnya guru dalam menggunakan bahan ajar.
Selain itu, bahan ajar yang digunakan siswa lebih dominan pada perhitungan (aspek simbolik)
dibandingkan dengan materi konsep (aspek mikroskopis dan aspek makroskopis) (Desmawati,
2010:5). Johnstone (dalam Taber, 2013:157) juga berpendapat bahwa untuk dapat memahami
konsep kimia dengan benar, siswa harus bisa mendeskripsikan dan mengkaitkan aspek
makroskopik, mikroskopis, dan simbolik sehingga hal ini menyebabkan mata pelajaran kimia
menjadi sangat kompleks.

Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang erat kaitannya dengan lingkungan yang
ada disekitar manusia, namun kebanyakan siswa tidak menyadari akan hal itu. Langkah yang baik
agar siswa dapat faham dengan materi adalah dengan menghubungkan pada lingkungan dan
kehidupan sehari-hari. Siswa akan lebih tertarik jika materi yang diajarkan ada di sekitar meraka,
karena siswa akan beranggapan jika mudah menemui contoh kimia di lingkungan sekitar. Selain itu,
dengan menghubungkan lingkungan sekitar siswa mudah memahami konsep materi karena mereka
mengetahui secara langsung

Media pendidikan dapat dipergunakan untuk membangun pemahaman dan penguasaan


objek pendidikan. Media cetak banyak dipergunakan untuk pembelajaran dalam menjelaskan materi
pelajaran yang kompleks sebagai pendukung buku ajar. Pembelajaran dengan menggunakan media
cetak akan lebih efektif jika bahan ajar sudah dipersiapkan dengan baik yang dapat memberikan
kemudahan dalam menjelaskan konsep yang diinginkan kepada siswa. Media cetak yang sering
digunakan salah satunya adalah bahan ajar. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang
diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. (Situmorang dan
Situmorang, 2009).

Modul termasuk bahan ajar yang digunakan sebagai alat bantu siswa. Modul merupakan
bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta didik
(Depdiknas, 2008: 3). Beberapa persyaratan untuk menjadikan modul sebagai sumber belajar, yaitu
ketersediaan yang dapat dijangkau oleh siswa, dapat membantu siswa belajar mandiri, dan
memfasilitasi siswa pada materi ajar yang lengkap dan terkini. Modul yang baik harus dikemas
menarik sesuai pokok bahasan dan dilengkapi gambar, ilustrasi, contoh soal atau kasus kontekstual
yang memadai untuk mendukung pengajaran (Good et al, 2010).

Modul berorientasi kontekstual merupakan modul yang dapat mengembangkan pengetahuan


siswa terhadap ilmu kimia yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Kaitan kehidupan sehari-
hari bisa dalam bentuk contoh soal yang digunakan maupun materi yang diilustrasikan pada
fenomena kekinian. Modul diharapkan dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengenal
kelebihan dan memperbaiki kelemahannya melalui bagian materi yang belum dikuasai dan
menambah pemahaman siswa sehingga modul dapat dikategorikan efektif. (Situmorang et al,
20014).

Mengacu pada pemaparan yang telah disebutkan, akan dikembangkan bahan ajar berupa
modul. Modul yang akan dibuat berorientasi kontekstual atau disebut dengan Contextual Chemistry
Modul (CCM). Modul berorientasi kontekstual ini akan disajikan dengan materi yang dihubungkan
dengan kehidupan sehari-hari. Hal itu supaya materi kimia yang mereka pelajari dapat langsung
dilihat pada kehidupan sehari-hari mereka, sehingga pemahaman konsep mereka lebih mendalam.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Contextual Chemistry Modul (CCM)
yang akan dikembangkan layak digunakan sebagai bahan ajar kimia SMA. Penelitian ini bertujuan
untuk menghasilkan desain Contextual Chemistry Modul (CCM) yang dikembangkan layak
digunakan sebagai bahan ajar kimia SMA materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

METODE PENELITIAN

Subjek penelitian adalah SMA yag berlokasi di Semarang kelas XI tahun ajaran 2016-2017.
Metode penelitian adalah Research and Development (RnD) dengan model 4-D dari Thiagarajan
dan Sammel yang kemudian dimodifikasi mejadi 3-D. Hal itu karena pada penelitian ini media yang
dikembangkan hanya sebatas prototype sehingga media belum memenuhi syarat untuk
disebarluaskan. Tahapan 3-D yaitu pendefinisian (Define), perancangan (Design), dan
pengembangan (Develop). Tahap pertama pendifinisian terdiri dari analisis awal-akhir, analisis
kebutuhan siswa, analisis konsep, analisis tugas, dan spesifikasi tujuan. Tahap kedua perancangan
berupa pemilihan media, format, naskah, dan instrumen. Tahap ketiga pengembangan yaitu validasi
ahli, revisi, uji skala kecil, revisi, dan uji skala besar.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara untuk identifikasi potensi dan
masalah; soal kognitif yang digunakan untuk mengukur pemahaman konsep siswa; angket yang
digunakan untuk mengetahui tanggapan guru dan siswa dan dokumentasi untuk memperoleh data
langsung di temat penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan sebelumnya telah divalidasi oleh
ahli. Instrumen pelaksanakan penelitian meliputi lembar validasi modul, soal kognitif, dan lembar
angket tanggapan guru dan siswa.

Analisis data hasil penelitian menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Analisis pemahaman
konsep menggunakan soal kognitif pretest-postest dengan uji N-Gain. Soal kognitif pretest-postest
diuji cobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas dan keajegan soal dengan reliabilitas soal
menggunakan rumus koefisien Alpha Cronbach. Modul dikatakan efektif apabila sekurang-kurangnya
75% dari jumlah siswa telah memperoleh nilai ≥ 75 dalam test kognitif dan rata-rata dari kelas yang
menggunakan modul lebih besar dari pada kelas yang tidak menggunakan modul.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilakukan di SMA N 09 Semarang sejak tanggal 24 April 2017 sampai dengan 08
Mei 2017. Hasil yang didapatkan meliputi, 1) Tahap pendefinisian (Define); 2) Tahap Perancangan
(Design); 3) Tahap Pengembangan (Develop). Pertama tahap pendefinisian, tahap ini dilakukan
beberapan tahapan didalamnya dan mendapatkan pokok permasalahan dari hasil wawancara,
angket, dan analisis silabus. Berdasarkan analisis pada tahap pendefinisian didapatkan
permasalahan bahwa pemahaman konsep siswa masih kurang karena siswa kesulitan mengkonstruk
konsep-konsep kimia dan LKS/bahan ajar tidak ditunjukkan aspek mikroskopisnya hanya aspek
simbolik dan makroskopisnya saja yang ditonjolkan. Hal ini didukung oleh data observasi sebuah
penelitian Nabilah (2014). Permasalahan tersebut diatasi dengan mengembangkan bahan ajar yang
mampu mengkonstruk pemahaman konsep siswa dan bahan ajar harus yang menarik terdapat
gambar dan ilustrasi-ilustrasi. Selain itu bahan ajar dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari supaya
mudah dipahami oleh siswa. pengembangan bahan ajar merujuk pada kontekstual karena
karakteristik kontekstual sudah menunjukkan KD 3.14. Karakteristik kontekstual ada 7 macam yaitu
kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, dan penilaian (Achmad &
Anni, 2012). Bahan ajar juga dibuat sesuai 3 aspek kimia yaitu simbolik, mikroskopis, dan
makroskopis.

Kedua tahap perancangan, Hasil tahap perancangan didapatkan dari rancangan produk yang
dihasilkan untuk mengembangkan bahan ajar. Bahan ajar berupa modul yang berorientasi
kontekstual (Contextual Chemistry Modul). Format yang dipilih berupa modul dengan kriteria menarik,
memudahkan untuk belajar, terdapat banyak latihan, dan dapat membantu proses pembelajaran.
Modul CCM didesain dengan adanya gambar-gambar serta halaman yang berwarna. Modul dibagi
menjadi tiga sub kegiatan belajar dan setiap kegitana belajar terdapat contoh soal dan cara
pengerjaan. Selain itu modul juga dibubuhi dengan contoh-contoh pada kehidupan sehari-hari, seperti
manfaat dari senyawa yang dicontohkan. Modul ini terdapat kunci jawaban dari soal-soal yang ada
sehingga diharapkan dapat membant siswa untuk belajar.

Penyusunan instrumen terdiri dari soal kognitif. Soal kognitif digunakan untuk menentukan
pemahaman konsep siswa. Soal diberikan 2 kali yaitu pada pretest dan Posttes. Pretest dan Posttes
diberikan bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa. Sooal kognitif
sebelumnya sudah dilakukan uji coba di kelas XII. Hasil yang didapatkan pada uji coba soal
kemudian dianalisis menggunakan koefisien Alpha Cronbach dan dihasilkan R 11 sebesar 0,76. Hasil
reliabilitas tersebut sudah melebihi 0,7 sehingga dapat disimpulkan soal kognitif reliabel dan siap
digunakan di lapangan (Arikunto, 2004).

Rancangan dari hasil produk modul CCM kemudian dilakukan uji kelayakan. Uji kelayakan
dilakukan oleh pakar bidang materi dan media. Hasil uji kelayakan dari pakar materi memperoleh
nilai 3,48. Nilai tersebut dalam kategori layak digunakan. Sedangkan dari pakar media didapatkan
nilai 3,44 dalam kategori layak digunakan. Hasil dari uji kelayakan oleh pakar dapat disimpulkan
layak digunakan di lapangan.

Tahap selanjutnya yaitu tahap pengujian. Tahap pengujian dilakukan dua kelas yaiu kelas XI
IPA 4 dan kelas XI IPA 1. Dua kelas tersebut diberi perlakuan yang berbeda, untuk kelas XI IPA 4
diberikan perlakuan dengan menggunakan modul CCM atau disebut kelas eksperimen 1 sedangkan
kelas XI IPA 1 diberikan perlakuan yang sama namun tidak menggunakan modul CCM tapi
menggunakan LKS yang biasa digunakan siswa atau dissebut kelas eksperimen 2. Hasil pengujian
didapatkan data pretest dan posttest serta angket tanggapan.

Pretest-Posttes

Soal pretest dan posttest terdiri atas 10 soal uraian yang telah diujicobakan dan dianalisis
reliabilitasnya. Hasil dari uji coba soal menunjukkan reliabel, namun tetap terdapat revisi pada soal
dengan revisi pengubahan angka yang lebih mudah. Hasil pretest dan posttest digunakan untuk
mengukur peningkatan pemahaman konsep siswa yang diperoleh setelah medapatkan
pembelajaran dengan menggunakan modul CCM dan tidak menggunakan modul CCM.
Peningkatan hasil test yang diberikan dianalisis menggunakan rumus N-gain. Uji gain dalam
penelitian ini digunakan untuk mengetahui besar peningkatan pemahaman konsep siswa sebelum
dan setelah diberikan perlakuan. Nilai tersebut kemudian dianalisis dan diperoleh perbedaan rata-
rata seperti disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Akhir Siswa Uji Skala Besar

Rata-rata Skor
Hasil Tes
Eksperimen 1 Eksperimen 2
Nilai pretest 23,31 23,54
Nilai posttest 80,17 76,68
Skor maksimal 99,00 89,00
Skor terendah 50,00 43,00
Siswa yang tuntas 30,00 19,00
Siswa yang belum tuntas 05,00 16,00
Nilai uji N-gain 0,73 0,70
Kriteria Tinggi Sedang

Berdasarkan Tabel 1. dapat diketahui bahwa rata-rata dari kelas eksperimen 1 lebih besar
dari kelas eksperimen 2, serta tingkat pemahaman konsep sisa lebih besar kelas eksperimen 1 dari
pada kelas eksperimen 2. Hasil analisis tersebut menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan pada
rata-rata kelas peningkatan pemahaman konsep siswa. Kelas eksperimen 1 yang pembelajarannya
menggunakan modul CCM rata-rata dan peningkatannya jauh lebih tinggi dari kelas eksperimen 2
atau yang tidak menggunakan modul CCM. Hal itu menentukan bahwa modul CCM tersebut
berdampak positif terhadap pemahaman konsep siswa.

Selain dilihat dari rata-rata dan peningkatan pemahaman konsep siswa, keefektifan juga
dilihat dari ketuntasan klasikal denga ketentuan jika 75% siswa mendapat nilai >75. Pada kelas
eksperimen 1 sesuai dengan Tabel 1. menunjukkan bahwa siswa yang tidak tuntas terdapat 5 siswa
dan siswa yang tuntas 30 siswa. Penilaian klasikal menunjukkan 85,71% siswa tuntas hal itu sudah
melebihi 75%. Sedangkan kelas eksperimen 2 menunjukkan bahwa siswa yang tidak tuntas 31 siswa
dan siswa yang tuntas hanya 4 siswa. Penilaian klasikal menunjukkan 54,28% siswa tuntas hal itu
kurang dari 75%. Penelitian dari Suryani (2014) juga menujukkan bahwa modul pembelajaran
mempunyai efek potensial terhadap hasil belajar siswa jika >75% siswa mendapat nilai > 70. Jika
jumlah siswa yang nilainya >70 dipresentasikan maka hasilnya sebesar 94,8% dan ini menunjukkan
bahwa dengan penggunaan modul sebagai bahan ajar dapat menunjang hasil belajar.

Angket Tanggapan

Angket yang digunakan dalalm penelitian yaitu angket tanggapan guru dan angket tanggapan
siswa terhadap modul yang dikembangkan. Angket yang diberikan bertujuan untuk mengetahui
tanggapan dari siswa dan guru terhadap modul CCM yang dikembangkan peneliti. Angket tanggapan
guru diberikan kepada guru SMA 09 Semarang, sedangkan untuk angket tanggapan siswa pada uji
skala besar diberikan kepada siswa kelas XI IPA 4. Hasil rekapitulasi angket tanggapan guru
disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Angket Tanggapan Guru Terhadap Modul CCM

Hasil Tanggapan Guru Kimia Nilai


Guru Kimia 1 42
Guru Kimia 2 41
rata-rata 41,5

Berdasarkan Tabel 2. dapat disimpulkan bahwa tanggapan guru kimia terhadap modul CCM yang
dikembangkan sangat baik. Hal ini menunjukkan modul yang dikembangkan memberikan dampak
positif terhadap proses pembelajaran kimia di kelas dengan menggunakan modul CCM. Guru
berpendapat bahwa pembelajaran kimia dengan bantuan modul CCM mampu menambah wawasan
siswa tentang contoh kimia dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu diskusi yang diberikan pada
modul CCM terkait kehidupan sehari-hari sehingga siswa mampu mengeksplor wawasan kimia.

Angket tanggapan siswa untuk uji coba skala besar diberikan pada kelas XI IPA 4 setelah
mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan modul CCM. Angket tanggapan siswa ini
bertujuan untuk mengetahui tanggapan dan menilai tampilan modul. Angket tanggapan siswa ini
dianalisis menggunakan Alpha Cronbach untuk menentukan reliabilitas. Reliabilitas yang dihasilkan
sebesar 0,77 yaitu termasuk dalam kategori reliabilitas tinggi Hasil rekapitulasi angket tanggapan
siswa pada uji coba skala besar ini disajikan pada Tabel 3. untuk tiap butir dan rekapitulasi tiap
responden disajikan Gambar 1.

Tabel 3. Rekaitulasi Hasil Penilaian Angket Siswa pada Uji Skala Besar

Aspek yang ditanyakan Presentase (%) Kriteria


Sampul yang digunakan dalam
81,43 Sangat baik
modul
Petunjuk penggunaan modul dapat
86,43 Sangat baik
dipahami siswa
Materi modul mudah dipahami 83,57 Sangat baik
Bahasa yang digunakan mudah
83,57 Sangat baik
dipahami
Keterbacaan pemilihan huruf sesuai 84,29 Sangat baik
Penomoran tabel dan gambar jelas 84,29 Sangat baik
Penggunaan gambar jelas 83,60 Sangat baik
Penggunaan lambang konsisten 85,00 Sangat baik
Isi materi menambah pemahaman
84,29 Sangat baik
konsep
Tampilan modul menarik dan
84,29 Sangat baik
menambah minat belajar
Rata-rata 84,07 Sangat baik

19.5

19

18.5

18

17.5

17

16.5

16

15.5

15

14.5
Sangat Baik Baik

Gambar 1. Rekapitulasi Hasil Angket Tanggapan Siswa Uji Skala Besar Tiap Responden

Berdasarkan Tabel 3. dapat diketahui hasil tanggapan siswa pada skala besar terhadap
modul CCM pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dikembangkan mendapat presentase
skor sebesar 84,07% dengan kriteria sangat baik. Gambar 1. dapat diketahui hasil tanggapan siswa
35 responden sudah melebihi kategori baik, hal tersebut sudah melebihi 75% dari total siswa
sehingga modul CCM dikategorikan sangat baik karena tidak ada yang menilai cukup. Penilaian hasil
angket tanggapan siswa uji skala besar tersebut menunjukkan respon positif dari siswa terhadap
modul CCM pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dikembangkan.

Hasil tanggapan siswa menunjukkan siswa sepakat dengan pembelajaran menggunakan


mdul CCM yang dikembangkan memberikan dampak yang baik terhadap belajar siswa. Siswa
merasakan dengan menggunakan modul CCM lebih mudah dipahami dan belajar lebih menarik. Hal
ini karena modul dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, dalm sintak kontekstual siswa dilibatkan
secara aktif untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi
kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
seharihari sehingga terbentuk siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap peduli
terhadap masalah lingkungan yang mampu berperan aktif dalam memecahkan masalah-masalah
lingkungan (Muhlisin, 2012).

SIMPULAN

Contextual Chemistry Modul (CCM) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang telah
dikembangkan efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa yang dapat diketahui dari uji N-
gain dan presentase klasikal. Hal ini ditunjukkan pada uji N-gain kelas eksperimen 1 lebih besar dari
kelas ekperimen 2 yaitu eksperimen 1 sebesar 0,73 kriteria tinggi dan kelas eksperimen 2 sebesar
0,70 kriteria sedang. Presentase ketuntasan klasikal kelas eksperimen 1 sebesar 85,71% sedangkan
kelas eksperimen 2 sebesar 54,28%. Tanggapan siswa maupun guru juga mendapat respon yang
positif dengan memberikan skor pada kategori sangat baik.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, R. & Anni, T.C., 2012, Psikologi Pendidikan, Semarang: Pusat Pengembangan MKU-
MKDK UNNES.
Anggraini S., L. & Kirana, N., 2014, Desain Komunikasi Visual; Dasar-dasar Panduan Untuk Pemula
2014, Bandung: Nuansa Cendekia.
Depdiknas, 2008, Panduan Pengembangan Bahan Ajar, Jakarta: Depdiknas.

Desmawati, Y., 2010, Pengembangan Media Compact Disc (CD) Pada Pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) Biologi Pokok Bahasan Sistem Reproduksi Manusia di Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Islam Terpadu Raudhatul Ulum Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir,
Tesis, Palembang: Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya.
Good, J.J., Woodzicka, J.A., dan Wingfield, L.C. 2010. The Effects of Gender Stereotypic and Calcer-
Stereotypic Textbook Images on Science Performance. The Journal of Social Psychology
150(2): 132–147. Jakarta: Depdiknas.
Jippes, E.; van Engelen, J.M. L.; Brand, P.L.P. dan Oudkerk, M., (2010), Competency-based
(CanMEDS) residency training programme in radiology: systematic design procedure,
curriculum and success factors, Eur Radiol. 20(4): 967-977.
Maharani, Tri Yunita, Prayitno, Yahmin, 2013, Menggali pemahaman siswa sma pada konsep
kelarutan dan hasil kali kelarutan dengan menggunakan tes diagnostik two-tier, Jurnal
Universitas Negeri Malang.
Nabilah, Andayani, Yayuk, Laksmiwati, Dwi, 2013, Analisis tingkat pemahaman konsep siswa kelas
XI IPA SMAN 3 mataram menggunakan one tier dan two tier test materi kelarutan dan hasil kali
kelarutan, Jurnal Pijar MIPA, 8(2): 64-69, ISSN1907-1744.
Piaget, J., 1975, Equilibration of Cognitive Structures 1978, Chicago: University of Chicago Press.
Prastowo, A., 2014, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Jogjakarta: DIVA Press.
Situmorang, M., dan Situmorang, A.A., (2014), Pengembangan Modul Pembelajaran Inovatif Pada
Pengajaran Laju Reaksi. Prosiding Seminar dan Rapat Tahunan BKS PTN-B Bidang MIPA di
IPB Bogor. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Suryani, Dwi Indah, Tatang Suhery, A., & Rachman Ibrahim, 2014, Pengembangan modul kimia
reaksi reduksi oksidasi kelas X SMA, Jurnal Pendidikan Kimia, 1(1): 18-28

Taber, K. S., 2013. Revisiting the Chemistry Triplet: Drawing Upon the Nature of Chemical
Knowledge and the Psychology of Learning to Inform Chemistry Education.Chemistry
Education Research and Practice, (Online), 14: 156-168. Tersedia di http://www.rsc.org/cerp
[diakses 16 Januari 2017].
Thiagarajan, S. & Semmel, D.S., 1974, Instructional Development for Training Teachers of
Exceptional Children: A Sourceboo, Minneapolis: University of Minnesota.