Anda di halaman 1dari 15

Clinical science Session

POLIP SERVIKS

Oleh:

Abdurrahman Fajar 1110312153

Fadlan Wieno Putra 1010313081

Preseptor:

dr. Pasca Alfajra, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD PARIAMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Polip adalah tumor jinak yang tumbuh menonjol dan bertangkai dari selaput

lendir dibagian tubuh manusia, seperti hidung, telinga, usus dan selaput lendir

lainnya. Serviks adalah leher rahim. Polip serviks atau polip rahim adalah massa atau

jaringan lunak yang tumbuh pada lapisan dinding bagian dalam rahim dan menonjol

ke dalam rongga rahim. Pertumbuhan sel – sel yang berlebih pada lapisan rahim

(endometrium) mengarah pada pembentukan polip.

Besarnya polip uterus mulai dari beberapa millimeter hingga beberapa

sentimeter yang seukuran bola golf atau lebih besar. Polip uterus melekat pada

dinding rahim yang dihubungkan melalui sebuah tangkai tipis. Polip serviks juga

dapat bersifat ganas (kanker) dalam beberapa kasus yang langka. Pertumbuhan

polip pada serviks atau mulut rahim adalah suatu hal yang normal. Bahkan,

sebagian besar wanita yang berusia di atas 20 tahun telah memiliki polip serviks,

walaupun polip serviks lebih umum ditemukan pada wanita yang berusia di atas

40 tahun.

Pada kebanyakan kasus, hanya ada satu polip yang tumbuh di saluran

serviks atau di permukaan mulut rahim. Pada beberapa kasus, ada dua, maksimal

tiga polip yang tumbuh di mulut rahim.

Polip serviks biasanya tidak akan menyebabkan masalah apapun. Namun,

ketika polip serviks menyebabkan gangguan kesehatan, maka polip serviks

1
menyebabkan gejala seperti pendarahan yang tidak normal dan menstruasi yang

banyak.

Hal yang perlu dipahami bahwa polip adalah pertumbuhan jaringan yang

tidak normal. Walaupun sebagian besar polip bersifat jinak, namun ada beberapa

polip yang bersifat ganas karena polip ini adalah pertumbuhan yang tidak normal

dan sel kanker adalah sel abnormal yang terus tumbuh dan menyebar ke berbagai

organ tubuh.

Kanker serviks merupakan penyakit yang jarang terjadi. Bahkan,

berdasarkan statistik, hanya sekitar satu persen wanita dengan polip serviks yang

terkena kanker serviks.

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, anatomi panggul, etiologi,

patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan serta komplikasi dari polip serviks.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui tentang definisi, anatomi

panggul, etiologi, patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan serta komplikasi dari

polip serviks sekaligus sebagai syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik di bagian

Ilmu Kebidanan dan Kandungan RSUD Pariaman.

1.4 Metode Penulisan

Penulisan makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk

kepada beberapa literatur.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Polip adalah tumor jinak yang tumbuh menonjol dan bertangkai dari

selaput lendir dibagian tubuh manusia, seperti hidung, telinga, usus dan selaput lendir

lainnya. Serviks adalah leher rahim. Polip serviks atau polip rahim adalah massa atau

jaringan lunak yang tumbuh pada lapisan dinding bagian dalam rahim dan menonjol

ke dalam rongga rahim.

Polip merupakan suatu adenoma maupun adeno fibroma yag berasal dari

selaput lendir endoserviks. Polip serviks tumbuh dari kanal serviks dengan

pertumbuhan ke arah vagina. Tangkainya dapat panjang hingga keluar dari vulva.

Terdapat berbagai ukuran dan biasanya berbentuk gelembung-gelembung dengan

tangkai yang kecil. Secara histopatologi, polip serviks sebagian besar bersifat jinak

(bukan merupakan keganasan) dan dapat terjadi pada seseorang atau kelompok

polulasi.Polip serviks memiliki ukuran kecil, yaitu antara 1 hingga 2 cm. Namun,

ukuran polip dapat melebihi ukuran rata-rata dan disebut polip serviks raksasa bila

melebihi diameter 4 cm. Epitel yang melapisi biasanya adalah epitel endoserviks

yang dapat juga mengalami metaplasi menjadi lebih kompleks. Bagian ujung polip

dapat mengalami nekrosis serta mudah berdarah. Polip ini berkembang karena

pengaruh radang maupun virus. Polip ednoserviks diagkat dan perlu diperiksa secara

histologik.

3
Jenis polip serviks

1. Polip ektoserviks

 Polip serviks dapat tumbuh dari lapisan permukaan luar serviks. Polip

ektoserviks sering diderita oleh wanita yang telah memasuki periode paska-

menopause, meskipun dapat pula diderita oleh wanita usia produktif.

Prevalensi kasus polip serviks berkisar antara 2 hingga 5% wanita.

2. Polip endoserviks

 Yaitu pertumbuhan polip berasal dari bagian dalam serviks. Biasanya Pada

wanita premenopause (di atas usia 20 tahun) dan telah memiliki setidaknya

satu anak.

Meskipun pembagian polip serviks menjadi polip ektoserviks dan endoserviks

cukup praktis untuk menentukan lokasi lesi berdasarkan usia, namun hal itu bukan

merupakan ukuran absolut untuk menetapkan letak polip secara pasti.

2.2 Anatomi Serviks

Serviks dan vagina berasal dari duktus Mulleri yang pada awalnya berada

dalam barisan yang terdiri dari 1 lapis epitel kolumnar. Pada saat usia kehamilan 19 –

20 minggu, epitel kolumnar pada daerah vagina akan mengalami kolonisasi dan

tumbuh ke atas. Hubungan antara epitel skuamosa pada vagina dan daerah

ektoserviks dengan epitel kolumnar pada daerah kanalis endoserviks disebut

hubungan skuamokolumnar original. Posisi sambungan skuamokolumnar original

sangat bervariasi. 66% terletak di daerah ektoserviks, 30% di daerah forniks terutama

pada bayi. Posisi sambungan skuamokolumnar menentukan daerah perluasan

metaplasia skuamosa serviks.

4
Gambar 2.1 Anatomi Serviks (Sumber: Standring, S., 2008. 40th . Gray’s The
Anatomical Basis of Clinical Practice. United Kingdom: Churchill Livingstone).

Serviks uteri atau serviks merupakan jaringan berbentuk silinder, dengan

panjang 2,5 – 3 cm dan merupakan penghubung vagina dan uterus. Serviks uteri

terbentuk dari jaringan ikat, pembuluh darah, otot polos, dengan konsistensi kenyal.

Ada dua bagian utama serviks yaitu bagian ektoserviks dan bagian endoserviks.

Bagian dari serviks yang dapat dilihat dari dalam vagina selama pemeriksaan

ginekologi dikenal sebagai ektoserviks. Endoserviks, atau kanal endoserviks adalah

bagian yang merupakan terusan dari os eksternal yang menghubungkan serviks dan

rahim. Os eksternal adalah pembukaan kanal yang ada diantara endoserviks dan

ektoserviks. Metaplasia skuamosa adalah proses yang penting dalam terjadinya

kanker pada serviks. Permukaan pars vaginalis diselimuti epitel skuamosa, dan pars

5
kanalis serviks uteri dilapisi oleh epitel kolumnar. Perbatasan antara epitel

skuamosa dan kolumnar terdapat di ostium serviks, sambungan skuamo-kolumnar

(SSK) atau zona transformasi yang merupakan tempat predileksi timbulnya tumor.

2.3 Etiologi

Penyebab tumbuhnya polip pada serviks belum sepenuhnya diketahui.

Para klinisi percaya bahwa pertumbuhan polip pada serviks dapat disebabkan

oleh peningkatan kadar estrogen, penyumbatan pembuluh darah, dan/atau

peradangan kronis pada rahim, vagina, atau mulut rahim. Kadar estrogen seorang

wanita sering mengalami perubahan. Menstruasi, kehamilan, dan masa menjelang

menopause adalah saat di mana estrogen mencapai kadar tertinggi. Kadar

estrogen juga dapat meningkat karena lingkungan. Bahan kimia yang digunakan

pada wadah plastik, pengharum udara, dan produk daging komersial adalah

beberapa hal yang dikenal dapat meningkatkan kadar estrogen.

Infeksi, misalnya human papillomavirus (HPV), herpes, bakteri, dan

infeksi ragi (yang disebabkan oleh jamur candica) juga dapat menyebabkan

pertumbuhan polip serviks. Sayangnya, infeksi justru biasanya malah lebih

berbahaya dibandingkan polip.

FAKTOR RESIKO:

Faktor risiko memiliki polip serviks meningkat pada wanita dengan diabetes

mellitus dan vaginitis berulang dan servisitis, polip serviks tidak pernah benar-benar

terjadi sebelum onset menstruasi. Hal ini biasanya terlihat pada wanita usia

reproduksi. Yang paling rentan terhadap penyakit ini adalah perempuan usia 40

sampai 50 tahun. Hal ini juga mengatakan bahwa polip serviks dapat ditemukan pada

6
insiden yang memicu produksi hormon. Wanita hamil memiliki risiko yang lebih

tinggi karena perubahan tingkat hormon, mungkin dari peningkatan produksi hormon

beredar juga

Penyebab pasti timbulnya polip rahim belum diketahui, namun diduga akibat

infeksi yang tidak ditangani dengan baik, atau memang jaringan tersebut mempunyai

sifat tumbuh yang berlebihan dan penyebab tidak sepenuhnya di pahami oleh para

ahli .mungkin hasil dari infeksi atau paradangan kronis panjang,respon abnormal

untuk peningkatan tingkat estrogen,dan dalam kemacetan pembuluh darah di saluran

leher rahim dan di duga di sebabkan karena pengaruh hormone ekstrogen dan infeksi.

Polip endometrium atau polip mulut rahim bisa tumbuh tunggal atau banyak

,bisa bertangkai pendek atau panjang ,bahkan bisa keluar lewat mulut rahim ke

vagina. Polip endometrium kadang memberikan keluhan,yaitu biasanya bisa berupa

menstruasi yang tidak teratur ,pendarahan di antara dua siklus haid ,pendarahan atau

bercak pasca menoupase dan pendarahan atau bercak pasca seggama atau rasa sakit

saat haid dan juga sering di hubungkan dengan radang yang kronis. Respon terhadap

hormone ekstrogen dan pelebaran pembuluh darah serviks. Penampilan polip serviks

menggambarkan respon epitel endoservik terhadap proses perdangan.servik ini dapat

menimbulkan pendarahan pervaginam ,pendarahan kontak,pasca coitus merupakan

gejala yang sering di jumpai.penyebab sebaian besar pada dasarnya belum di ketahui,

karena pada dasarnya adalah reaksi radang ,maka ada kemungkinan :

1. Radang sembuh sehingga polip mengecil atau kemudian hilang sendirinya .

2. Polip menetap ukurannya,dan kemudian

3. Polip membesar .

7
2.4. Patofisiologi Polip Serviks

Polip servik dapat menyerang lapisan permukaan luar servik (ektoservik) dan

bagian dalam servik (endoservik). Normalnya servik uteri pada nullipara dalam

keadaan normal kanalis servikalis bebas kuman, pada multipara dengan ostium uteri

eksternum lebih terbuka, batas ke atas ostium uteri internum bebas kuman.

Radang pada servik uteri, bisa terdapat pada porsio uteri diluar ostium uteri

eksternum dan / pada endoservik. Penyakit gonorea, sifilis, ulkus molle dan

granuloma inguinale dan TBC dapat ditemukan peradangan kronis pada servik.

Gambar 2.2. Polip serviks yang dilihat dengan speculum dan penampang sagital

Karena adanya peradangan yang kronis / virus memicu endoservik merespon

dengan timbulnya Adenoma-Adenoma fibroma (hiperplasia pada epitel endoservik).

Setelah epitel endoservik tumbuh menonjol dan / bertangkai dan dapat panjang

hingga keluar dari vulva, ujungnya mengalami nekrosis serta mudah berdarah.

8
Karnisoma servik timbul di batas antara epitel yang melapisi absorsevik (porsio) dan

endoserviks kanalis serviks yang di sebut sebagai squamo-colummnar junction (SCJ).

Histology antara epitel gepeng berlapis ( squamous complex) dari portio dengan

epitel kuboit atau silindris pendek selapis bersilian dari endoserviks kanalis serviks.

Pada wanita SCJ ini berada di luar ostius uteri ekternum sedangkan pada wanita umur

>35 tahun ,SCJ berada di dalam kanalis serviks . tumor dapat tumbuh :

1. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa yang mengalami

infeksi sekunder dan nektrosis .

2. Endovilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stoma serviks dan cenderung untuk

mengadakan infiltrasi menjadi ulkus

3. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan

melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal

secara alami mengalami proses metablasi atau erosion akibat saling desak mendesak

ke dua jenis epitel yang melapisi. Dengan masukknya mutagen,porsio yang erosif (

metablasia squamosa) yang semula fisiologi dapat merubah menjadi etologi melalui

tingkatan NIA.

2.5 Diagnosis

Polip biasanya tidak akan menimbulkan gejala yang tidak diinginkan.

Bahkan, kebanyakan wanita tidak menyadari bahwa mereka memiliki polip.

Mereka baru akan mengetahui keberadaan polip apabila mereka menjalani pap

smear atau pemeriksaan serviks lainnya untuk penyakit lain.

9
Apabila polip menimbulkan gejala, kemungkinan hal ini terjadi karena polip

mulai mengalami pendarahan, sehingga terjadi pendarahan berlebih saat

menstruasi, atau pendarahan yang tidak normal di selang menstruasi.

GEJALA POLIP SERVIKS:

1. Pendarahan menstruasi yang tidak teratur, misalnya sering mengalami periode

menstruasi yang lama namun tidak terduga

2. Leukorea yang sulit disembuhkan.

3. Mengalami pendarahan sebelum periode menstruasi

4. Periode menstruasi yang terlalu lama

5. Pendarahan pada vagina setelah menopause

6. Kemandulan Polip rahim bisa terjadi sebelum atau setelah menopause. Namun

polip yang muncul sebelum menopause biasanya hanya memunculkan gejala

pendarahan ringan atau bercak.

2.5 Penatalaksanaan / Terapi

Bila dijumpai polip serviks, dokter dapat mengambil 2 macam tindakan:

1. Konservatif

 Yakni bila ukuran polip kecil, tidak mengganggu, dan tidak menimbulkan

keluhan (misal sering bleeding, sering keputihan). dokter akan membiarkan

dan mengobservasi perkembangan polip secara berkala.

2. Agresif

 Yakni bila ukuran polip besar, ukuran membesar, mengganggu aktifitas, atau

menimbulkan keluhan. tindakan agresif ini berupa tindakan curettage atau

pemotongan tangkai polip. tindakan kauter ini bisa dilakukan dengan rawat

10
jalan, biasanya tidak perlu rawat inap untuk tindakan pengobatan selain

curettage untuk saat ini belum ada.

Pada polip-polip yang ukurannya kecil (beberapa milimeter) bisa dicoba

pemberian obat yang dimasukkan melalui vagina, untuk mengurangi reaksi radang.

setelah pemberiannya tuntas, diperiksa lagi, apakah pengobatan tersebut ada efeknya

pada polip atau tidak. jika tidak, maka untuk pengobatannya dengan kauterisasi.

Bila polip mempunyai tangkai kurus, tangkainya digenggam dengan forsep

polip dan diputar beberapa kali sampai dasar polipnya terlepas dari jaringan servik

dasarnya. Bila terdapat perdarahan pervaginam abnormal, maka diperlukan curettage

di RS untuk menyingkirkan keganasan servik dan endometrium.

Polip yang mudah terlihat dengan tangkai yang tipis dapat disekam dengan

klem arteri atau forcep kasa dan dipluntir putus. Dianjurkan mengkauterisasi dasarnya

untuk mencegah perdarahan dan rekurensi. Pasien yang mempunyai banyak polip

mungkin terbaik diterapi dengan cara konisasi sehingga setiap polip yang tidak

terlihat didalam kanalis tidak akan diabaikan. Biasanya, polipektomi cervix harus

dilakukan bersama dengan suatu kuretase.

Polip dapat dihilangkan melalui tindakan bedah kecil yang biasanya

dilakukan saat pemeriksaan mulut rahim. Operasi pengangkatan polip tidak

menyebabkan rasa sakit. Bahkan, Anda tidak perlu diberi obat penenang atau

obat penghilang rasa sakit.

Polip dapat diangkat dengan memutar ujungnya, menggunakan forcep, atau

dengan mengikatkan benang di bagian bawah polip yang kemudian digunakan

untuk memotong polip. Apabila dokter ingin mengurangi kemungkinan polip

11
tumbuh kembali di tempat yang sama, dokter dapat membekukan polip dengan

nitrogen cair, atau dengan tindakan bernama electrocautery ablation

(penghilangan polip dengan aliran listrik). Saat ini, peralatan modern seperti laser

juga dapat digunakan untuk menghancurkan polip.

Apabila Anda menjalani tindakan penghilangan polip, kemungkinan Anda

akan merasakan sedikit nyeri. Setelah tindakan, Anda juga dapat mengalami

pendarahan dari vagina saat tidak menstruasi dan kram ringan sampai sedang

pada vagina. Kebanyakan dokter akan memilih tindakan ini untuk mengangkat

polip agar polip tidak tumbuh kembali. Namun, tindakan ini memiliki risiko

tersendiri, seperti infeksi. Untuk mencegah terjadinya komplikasi, sebaiknya

Anda mengenakan pakaian dalam yang terbuat dari katun untuk memperlancar

sirkulasi udara, menghindari terkena panas secara berlebihan, menjaga agar mulut

rahim tidak terlalu lembab, dan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

Harus dipahami bahwa tindakan pencegahan tidak menjamin keberhasilan

100%. Walaupun telah melakukan semua tindakan pencegahan, tetap ada

kemungkinan polip akan tumbuh di mulut rahim. Sebaiknya tidak membiarkan

polip tumbuh sampai terlalu besar, karena nantinya polip akan menyebabkan

komplikasi. Dengan menjalani pemeriksaan panggul rutin dan pap smear,

keberadaan polip sejak dini dan melakukan tindakan pengobatan secepat

mungkin.

Semakin lama polip didiamkan, semakin besar juga risiko polip akan

menyebabkan komplikasi. Ada kemungkinan polip terkena infeksi dan

menyebabkan vagina mengeluarkan cairan yang berwarna kuning atau putih.

12
Apabila hal ini terjadi, Anda tidak hanya harus menjalani tindakan pengangkatan

polip, namun juga pengobatan untuk infeksi.

2.6 Prognosis

Prognosis penyakit umumnya baik. Ekstirpasi sederhana dengan cara

menghilangkan langsung polip merupakan tindakan yang sangat kuratif dan jarang

sekali untuk berulang

13
DAFTAR PUSTAKA

Katz VL. Benign gynecologic lesions. In: Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL,
eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier;
2012:chap 18.

Arif Mansjoer dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Media Aesculapius FKUI,
Jakarta. 2012.

Wiknjosastro, Hanifa. ilmu kandungan. Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2011

Siswishanto R. Ilmu Kebidanan Edisi ke-3. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2010.

14