Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan


melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun lingkungan
sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan bahkan
kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan kestabilan dan
identitas diri, sehingga konsep diri menjadi negatif. Jika individu sering mengalami
kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri misal
harga diri rendah.

Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam kehidupan


seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan menyebabkan perubahan dalam
kehidupan sehingga memaksakan untuk mengikuti dan mengadakan adaptasi untuk
menanggulangi stressor yang timbul. Ketidakmampuan menanggulangi stressor itulah
yang akan memunculkan gangguan kejiwaan.

Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah,
yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri
sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan
(Keliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera
ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa
tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan
martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti menarik diri,
percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri (Townsend, 1998).

Peristiwa traumatic, seperti kehilangan pekerjaan, harta benda, dan orang yang
dicintai dapat meninggalkan dampak yang serius. Dampak kehilangan tersebut sangat
mempengaruhi persepsi individu akan kemampuan dirinya sehingga mengganggu harga
diri seseorang.

Banyak dari individu-individu yang setelah mengalami suatu kejadian yang buruk
dalam hidupnya, lalu akan berlanjut mengalami kehilangan kepercayaan dirinya. Dia
merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan apa-apa lagi, semua yang telah
dikerjakannya salah, merasa dirinya tidak berguna, dan masih banyak prasangka-
prasangka negative seorang individu kepada dirinya sendiri. Untuk itu, dibutuhkan
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak agar rasa percaya diri dalam individu itu dapat
muncul kembali. Termasuk bantuan dari seorang perawat. Perawat harus dapat
menangani pasien yang mengalami diagnosis keperawatan harga diri rendah, baik
menggunakan pendekatan secara individual maupun kelompok.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar

Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan
menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. (Gail. W. Stuart,
2007).Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.
(TIM MPKP RSMM & FIK UI, 2009: )

Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk
kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya, pesimis, tidak
ada harapan dan putus asa ( Depkes RI, 2000 )

2.2.Etiologi

Harga diri rendah sering di sebabkan karena adanya koping individu yang tidak
efektif akibat adanya kurang umpan balik, kurangnya umpan balik yang positif,
kurangnya sistem pendukung, kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan balik
yang negatif, disfungsi sistem keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal,
sehingga individu yang mempunyai koping individu tidak efektif akan menunjukkan
ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri atau tidak dapat memecahkan masalah
terhadap tuntuan hidup serta peran yang dihadapi.

Penyebab terjadinya harga diri rendah antara lain :

1) Faktor predisposisi ( Stuard and Sudeen, 1998 )


a. Penolakan orang tua
b. Harapan orang tua yang tidak realistis
c. Kegagalan yang berulang kali
d. Ketergantungan pada orang lain
e. Ideal diri tidak realistis
2) Faktor presipitasi ( Stuard and Sudeen, 1998 )
a. Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari
luar individu ( eksternal or internal sources )
b. Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan
dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi peran :
Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai
tekanan untuk peyesuaian diri.
a) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
b) Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat
ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan
bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi
tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan
c) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.

2.3 Tanda dan Gejala


a. Mengkritik diri sendiri dan orang lain
b. Penurunan produktivitas
c. Destruktif yang diarahkan pada orang lain
d. Gangguan dalam berhubungan
e. Rasa diri penting yang berlebihan
f. Perasaan tidak mampu dan rasa bersalah
g. Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan
h. Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri
i. Ketegangan peran yang dirasakan
j. Pandangan hidup yang pesimis dan bertentangan
k. Keluhan fisik dan khawatir
l. Penolakan terhadap kemampuan personal
m. Destruktif terhadap diri sendiri dan pengurangan diri
n. Menarik diri secara sosial dan dari realitas
o. Penyalahgunaan zat
2.4 Proses Terjadinya Masalah

Menurut Stuart (2007: hal.186) Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi di
pelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang
terdekat dan dengan realitas dunia, dengan 5 komponen konsep diri yaitu citra tubuh,
ideal diri, harga diri, performa peran dan identitas pribadi. Individu dengan kepribadian
yang sehat akan mengalami hal - hal seperti citra tubuh yang positif, ideal diri yang
realistis, konsep diri yang positif, harga diri yang tinggi, performa peran yang
memuaskan, rasa identitas yang jelas. Awalnya individu berada pada suatu situasi yang
penuh stressor ( krisis ), individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas
sehingga timbul pikiran bahwa dirinya tidak mampu atau merasa gagal menjalankan
fungsi dan peran, seperti trauma yang tiba tiba misalnya harus operasi, kecelakaan,
dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja. Penilaian individu terhadap diri
sendiri karena kegagalan menjalankan fungsi peran adalah kondisi harga diri rendah
situasional. Jika lingkungan tidak memberikan dukungan positif atau justru menyalahkan
individu dan terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan individu mengalami harga
diri rendah kronis. Harga diri rendah kronis juga dipengaruhi beberapa factor seperti
factor biologis, psikologis, social dan cultural. Factor biologis biasanya karena ada
kondisi sakit fisik yang dapat mempengaruhi kerja hormon secara umum yang dapat pula
berdampak pada keseimbangan neurotransmitter di otak, contah kadar serotonin yang
menurun dapat mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada pasien depresi
kecenderungan harga diri rendah kronis semakin besar karena klien dipengaruhi oleh
pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya. Faktor psikologis berhubungan dengan pola
asuh dan kemampuan individu menjalankan peran dan fungsi meliputi penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak, orang tua tidak percaya pada anak, tekanan teman
sebaya, peran yang tidak sesuai dengan jenis kelamin dan peran dalam pekerjaan. Faktor
sosial yaitu status ekonomi seperti kemiskinan, tinggal di daerah kumuh. Faktor kultural
seperti tuntutan peran kebudayaan.seperti wanita sudah harus menikah jika umur
mencapai dua puluhan.
2.5 Komplikasi

Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial. Isolasi sosial merupakan
gangguan kepribadian yang tidak flexible pada tingkah laku yang maladaptif, menganggu
fungsi seseorang dalam hubungan social

2.6 Rentang Respon

Harga diri rendah merupakan komponen Episode Depresi Mayor, dimana aktifitas
merupakan bentuk hukuman atau punishment (Stuart & Laraia, 2005). Depresi adalah
emosi normal manusia, tapi secara klinis dapat bermakna patologik apabila mengganggu
perilaku sehari-hari, menjadi pervasive dan mucul bersama penyakit lain.

Menurut NANDA (2005) tanda dan gejala yang dimunculkan sebagai perilaku telah
dipertahankan dalam waktu yang lama atau kronik yang meliputi mengatakan hal yang
negative tentang diri sendiri dalam waktu lama dan terus menerus, mengekspresikan sikap
malu/minder/rasa bersalah, kontak mata kurang/tidak ada, selalu mengatakan
ketidakmampuan/kesulitan untuk mencoba sesuatu, bergantung pada orang lain, tidak
asertif, pasif dan hipoaktif, bimbang dan ragu-ragu serta menolak umpan balik positif dan
membesarkan umpan balik negative mengenai dirinya.

Mekanisme koping jangka pendek yang biasa dilakukan klien harga diri rendah
adalah kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis, misalnya pemakaian
obat-obatan, kerja keras, nonton TV terus menerus. Kegiatan mengganti identitas
sementara, misalnya ikut kelompok social, keagamaan dan politik. Kegiatan yang
memberi dukungan sementara, seperti mengikuti suatu kompetisi atau kontes popularitas.
Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara, seperti penyalahgunaan obat-
obatan.

Jika mekanisme koping jangka pendek tidak memberi hasil yang diharapkan individu
akan mengembangkan mekanisme koping jangka panjang, antara lain adalah menutup
identitas, dimana klien terlalu cepat mengadopsi identitas yang disenangi dari orang-
orang yang berarti tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri. identitas
negative, dimana asumsi yang bertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat.
disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri dan orang
lain. terjadinya gangguan konsep diri harga diri rendah juga dipengaruhi beberapa factor
predisposisi seperti factor biologis, psikologis, social dan cultural.
Factor biologis biasanya karena ada kondisi sakit fisik secara yang dapat
mempengaruhi kerja hormone secara umum, yang dapat pula berdampak pada
keseimbangan neurotransmitter di otak, contoh kadar serotonin yang menurun dapat
mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada pasien depresi kecenderungan harga
diri rendah semakin besar karena klien lebih dikuasai oleh pikiran-pikiran negative dan
tidak berdaya.

Struktur otak yang mungkin mengalami gangguan pada kasus harga diri rendah
adalah :

1. System Limbic yaitu pusat emosi, dilihat dari emosi pada klien dengan harga diri
rendah yang kadang berubah seperti sedih, dan terus merasa tidak berguna atau
gagal terus menerus.
2. Hipothalamus yang juga mengatur mood dan motivasi, karena melihat kondisi klien
dengan harga diri rendah yang membutuhkan lebih banyak motivasi dan dukungan
dari perawat dalam melaksanakan tindakan yang sudah dijadwalkan bersama-sama
dengan perawat padahal klien mengatakan bahwa membutuhkan latihan yang telah
dijadwalkan tersebut.
3. Thalamus, system pintu gerbang atau menyaring fungsi untuk mengatur arus
informasi sensori yang berhubungan dengan perasaan untuk mencegah berlebihan
di korteks. Kemungkinan pada klien dengan harga diri rendah apabila ada
kerusakan pada thalamus ini maka arus informasi sensori yang masuk tidak dapat
dicegah atau dipilah sehingga menjadi berlebihan yang mengakibatkan perasaan
negative yang ada selalu mendominasi pikiran dari klien.
4. Amigdala yang berfungsi untuk emosi.

2.7 Masalah Keperawatan yang mungkin muncul

a. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah


b. Koping individu tidak efektif
c. Isolasi social : menarik diri
d. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
e. Resiko tinggi perilaku kekerasan
f. Berduka disfungsional
BAB III

JURNAL HARGA DIRI RENDAH

(TERLAMPIR)
BAB IV

RESUME JURNAL

A. NAMA YANG MENGANALISA:


JURNAL PERTAMA : TIRA CARITAS
JURNAL KEDUA : RAHMALIA AYU PRATIWI
JURNAL KETIGA : NI NYOMAN CYNTIA DAMAYANTI
JURNAL KEEMPAT : SITI NURDEVA
JURNAL KELIMA :

B. NAMA PENELITI

JURNAL PERTAMA:

1. Rosliana Daud
2. Faisal Asdar
3. Rusly

JURNAL KEDUA:

1. Betie Febriana
2. Sri Poeranto
3. Rinik Eko Kapti

JURNAL KETIGA:

1. Priharyanti Wulandari
2. Arifianto
3. Nurul Aini

JURNAL KEEMPAT:

1. K Hesketh
2. M Wake
3. E Waters

JURNAL KELIMA:
C. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

JURNAL PERTAMA:

Waktu Penelitian : 31 Januari-28 Februari 2013

Tempat Penelitian : Di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan

JURNAL KEDUA:

Waktu Penelitian : Bulan Maret-Mei 2016

Tempat Penelitian : SMA Taman Madya Malang

JURNAL KETIGA:

Waktu Penelitian : 2 juli 2016

Tempat Penelitian : SMA Negeri 13 Semarang

JURNAL KEEMPAT:

Research Time : Health of Young Victorians Study (HOYVS)

Place of research :September and December 1997

JURNAL KELIMA:

D. JUDULJURNAL

JURNAL PERTAMA:

“GAMBARAN KARAKTERISTIK PENDERITA HARGA DIRI RENDAH YANG


RAWAT INAP DI RSKD PROVINSI SULAWESI SELATAN”

JURNAL KEDUA :
“PENGARUH TERAPI KOGNITIF TERHADAP HARGA DIRI REMAJA KORBAN
BULLYING”

JURNAL KETIGA :

HUBUNGAN OBESITAS DENGAN HARGA DIRI (SELF-ESTEEM) PADA REMAJA


PUTRI SMA NEGERI 13 SEMARANG

JURNAL KEEMPAT :

“BODY MASS INDEX AND PARENT-REPORTED SELF-ESTEEM INELEMENTARY


SCHOOL CHILDREN: EVIDENCE FOR A CAUSAL RELATIONSHIP”

JURNAL KELIMA :

E. TUJUAN PENELITIAN

JURNAL PERTAMA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita harga diri rendah di
RSKD Provinsi Sulawesi selatan bulan februari 2013.

JURNAL KEDUA :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi kognitif terhadap harga diri
remaja korban bullying.

JURNAL KETIGA :
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dengan harga diri
pada remajaputri di SMA Negeri 13 Semarang.

JURNAL KEEMPAT :
this study aims to determine the relationship of body mass index and parents' self-esteem
reported inelementary school children in the Health of Young Victorians Study (HOYVS)
JURNAL KELIMA :
F. METODE PENELITIAN

JURNAL PERTAMA

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan metode


observasional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita harga diri rendah
yang menjalani rawat inap di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan dengan total populasi 124
orang pasien.

JURNAL KEDUA :
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan True
Experimental Pre-Post Test With Control Group. Terapi kognitif sebagai variable
independen dan harga diri sebagai variabel dependen.

JURNAL KETIGA :

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi Korelasi (Notoatmodjo 2010). Populasi
dalam penelitian ini adalah siswi kelas X dan kelas XI yang mengalami obesitas dan jumlah
populasi penelitian 108 siswi. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja putri dengan
obesitas di SMA Negeri 13 Semarang sebanyak 85 orang yang direkrut menggunakan teknik
Stratified random sampling.

JURNAL KEEMPAT :
this study uses sample methods, Measures, and Analyzes
JURNAL KELIMA :

G. HASIL PENELITIAN

JURNAL PERTAMA

Hasil penelitian yang diperoleh dengan jumlah populasi sebanyak 124 orang
pasien,denga jumlah sampel 55 orang . Dengan pengumpulan data sekunder yang di
peroleh dari status pasien rawat inap di RSKD Provinsi Sulawei Selatan yaitu dengan
hasil:

1. Penderita harga diri rendah yang rawat inap berdasarkan umur di ruang perawatan
kenanga RSKD Provinsi Sulsel.
penderita harga diri rendah terbanyak pada kelompok umur adalah 11-17
tahun sebanyak 20 orang (36,4%) sedangkan jumlah penderita harga diri
rendah yang paling sedikit pada kelompok umur 39- 46 tahun sebanyak 5
orang ( 9,1% ).

2. Penderita harga diri rendah yang rawat inap berdasarkan jenis kelamin di ruang
perawatan kenanga RSKD Provinsi Sulsel
Penderita laki-laki lebih banyak dari pada perempuan, yaitu laki- laki
sebanyak 32 orang, sedangkan perempuan sebanyak 23 orang ( 41,8 % ).

3. Penderita harga diri rendah yang rawat inap berdasarkan tingkat pendidikan di
ruang perawatan kenanga RSKD Provinsi Sulsel
Jumlah penderita harga diri rendah paling banyak pada tingkat pendidikan
SMP yaitu 18 orang ( 32,7 % ) sedangkan yang paling sedikit adalah penderita
harga diri rendah yang mencapai jenjang pendidikan adalah S1 3 orang (5,5%).

4. Penderita harga diri rendah yang rawat inap berdasarkan status perkawinan di
ruang perawatan kenanga RSKD Provinsi Sulsel
Penderita harga diri rendah dengan status perkawinan yang belum menikah
paling banyak 24 orang (43,6 %), sedangkan paling sedikit status yang sudah
menikah sebanyak 12 orang (21,8 %).

JURNAL KEDUA :
Hasil penelitian yang diperoleh dengan cara terapi kognitif dilakukan sebanyak 6
pertemuan masing-masing pertemuan dilakukan setiap minggu berkisar 45-60 menit.
Sampel sebanyak 17 responden pada masing-masing kelompok baik kontrol ataupun
perlakuan dengan metode simple random sampling. Kelompok perlakuan mendapatkan
terapi kognitif sedangkan Kelompok kontrol tanpa terapi.
Karakteristik responden
Tabel 1: Karakteristik Responden Remaja Korban Bullying Di SMA Taman Madya
Kelas X Dan XI Tahun 2016.
Tabel2: Hasil Uji Marginal Homogeneity Harga Diri Remaja Korban Bullying
Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Kognitif Pada Kelompok
Perlakuan
Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa terdapat perubahan kategori harga diri pada
kelompok perlakuan. Harga diri rendah setelah terapi meningkat menjadi harga diri sedang
pada 4 orang responden, harga diri sedang meningkat menjadi harga diri cukup tinggi pada
5 orang responden dan harga diri cukup tinggi menjadi tinggi sebanyak 3 orang
Tabel 3: Hasil Uji Marginal Homogeneity Beda Harga Diri Remaja Korban
Bullying Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Kognitif Pada Kelompok
Kontrol
Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa harga diri rendah pada responden setelah terapi
tetap menjadi harga diri rendah pada 3 orang responden, hanya 1 orang yang meningkat
menjadi harga diri sedang.
Tabel 4: Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Perbedaan Harga Diri Remaja Korban
Bullying Sebelum Diberikan Terapi Kognitif Pada Kelompok Perlakuan
Dan Kontrol
Berdasarkan hasil ujikolmogorov-smirnov pada tabel 4 didapatkan bahwa nilai p adalah
1,000 (p> 0,05) yang artinya tidak ada perbedaan harga diri antara kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan sebelum diberikan terapi pada kelompok perlakuan.
Tabel 5: Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Perbedaan Harga Diri Remaja Korban
Bullying Setelah Diberikan Terapi Kognitif Pada Kelompok Perlakuan
Dan Kontrol
Berdasarkan hasil uji kolmogorov-smirnov pada tabel 5 didapatkan bahwa nilai p adalah
0,031 (p< 0,05) yang artinya terdapat perbedaan harga diri setelah diberikan terapi pada
kelompok perlakuan dan kontrol. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
antara pemberian terapi kognitif dengan harga diri.
Tabel 6: Kekuatan Hubungan Aspek Harga Diri Terhadap Terapi Kognitif

JURNAL KETIGA :
JURNAL KEEMPAT :
In all, 83% (1943/2336) of children in Grades preparatorythree (age range 5.0–10.7 y)
participated in the baseline study, of whom 81% (1569) provided data in the follow-up
study. Of these, 412 children were excluded from analyses for this paper due to
incomplete data providing a final sample of 1157 children (Table 1). Over the 3 y follow-
up period, 102 (8.8%) of the nonoverweight children became overweight or obese, while
46 of the 220 (20.9%) overweight/obese children moved into the normal weight category.

JURNAL KELIMA :

H. PEMBAHASAN

JURNAL PERTAMA :
Berdasarkan data yang di peroleh:
1. Karakteristik penderita harga diri rendah berdasarkan umur
Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa penderita harga diri rendah yang rawat
inap di ruang kenanga RSKD Provinsi Sulawesi Selatan bulan November 2012 paling
banyak pada kelompok umur 11- 17 tahun, yaitu 20 orang (36,4 %), dimana
kelompok umur tersebut tergolong usia muda. Hal ini disebabkan karena usia remaja
merupakan usia dimana seseorang dalam pencarian jati diri, dan juga di usia remaja
koping individu terhadap stres belum terbentuk dengan maksimal sehingga seseorang
anak remaja sangat membutuhkan pendampingan dari orang dewasa yakni orang tua.

2. Karakteristik penderita harga diri rendah berdasarkan jenis kelamin.


Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa penderita harga diri rendah yang rawat
inap di ruang kenanga RSKD Provinsi Sulawesi Selatan bulan november 2012 paling
banyak pada lakilaki, yaitu 32 orang (58,2 %g). Sebagian besar penelitian-penelitian
menunjukkan bahwa perempuan lebih mampu mengatasi suatu masalah
denganmenggunakan koping yang efektif dibanding laki-laki. Hal ini dapat
disebabkan karena perempuan didalam menghadapi suatu masalah lebih tenang dan
lebih muda mengungkapkan apa yang dialami atau dirasakannya dibandingkan
dengan laki-laki.

3. Karakteristik penderita harga diri rendah berdasarkan tingkat pendidikan.


Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa penderita harga diri rendah yang rawat
inap di ruang kenanga RSKD Provinsi Sulawesi Selatan bulan november 2012 paling
banyak pada tingkat pendidikan SMP, yaitu 18 orang (32,7%). Seperti pada bahasan
sebelumnya pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk
mempengaruhi orang lain individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka
melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.
Dari hasil penelitian sebagian besar penderita harga diri rendah tingkat pendidikannya
hanya sampai SMP. Hal ini dapat disebabkan karena penderita dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mampu mengatasi atau menyelesaikan
masalah dengan menggunakan koping yang efektif dan konstruktif daripada seseorang
dengan pendidikan rendah.

4. Karakteristik penderita harga diri rendah berdasarkan status perkawinan.


Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa penderita harga diri rendah yang rawat
inap di ruang kenanga RSKD Provinsi Sulawesi Selatan bulan november 2012 paling
banyak pada orang yang belum menikah, yaitu 24 orang (43,6%). Hal ini
kemungkinan disebabkan karena seseorang yang telah menikah lebih mampu
mengatasi suatu masalah dikarenakan telah memiliki tanggu jawab baru sebagai
seorang istri dan ibu sehingga pemikirannya lebih dewasa dan melihat masalah itu
secara lebih luas.

JURNAL KEDUA :
Berdasarkan data yang di peroleh:
1. Perbedaan harga diri remaja korban bullying sebelum dan sesudah diberikan
terapi kognitif pada kelompok perlakuan di SMA Taman Madya, Malang
Kelas X Dan XI Tahun 2016
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa setelah mendapatkan terapi kognitif
menunjukkan adanya peningkatan harga diri antara sebelum dan sesudah pada
kelompok perlakuan yaitu semua responden (100%) yang terkategori harga diri
rendah setelah terapi berada di kategori harga diri sedang (tabel 2). Hasil
akumulasi, sebanyak 12 dari 17 remaja (70,6%) mengalami peningkatan harga diri.
Hal ini berarti terdapat perubahan tanda dan gejala harga diri ke arah positif
meskipun masih dalam kategori yang sama. Dapat disimpulkan bahwa terjadi
perubahan harga diri pada remaja korban bullying setelah diberikan terapi kognitif
pada kelompok perlakuan.
2. Perbedaan harga diri remaja korban bullying sebelum dan sesudah diberikan
terapi kognitif pada kelompok kontrol di SMA Taman Madya, Malang Kelas
X Dan XI Tahun 2016
Kelompok kontrol pada penelitian ini tidak mendapatkan intervensi terapi kognitif
selama penelitian dan hasil yang didapatkan adalah bahwa secara statistik,
responden terbanyak berada dalam kategori yang sama dengan sebelum dilakukan
intervensi. Namun, skor harga diri sebagian besar responden (76,5%) pada
kelompok ini mengalami peningkatan yang artinya harga dirinya semakin
menurun.
Berdasarkan hasil analisi menggunakan uji marginal homogeneity pada tabel 3
didapatkan hasil p-value 0, 564 dimana p>0,05 yang berarti tidak ada perbedaan
harga diri pada kelompok kontrol antar sebelum dan sesudah intervensi yaitu terapi
kognitif.
3. Perbedaan harga diri sesudah diberikan terapi kognitif pada kelompok
perlakuan dan kontrol.
Hasil ujikolmogorov-smirnov pada tabel 5 didapatkan bahwa nilai p adalah 0,031
(p< 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian CT dengan
harga diri remaja korban bullying.
Kelompok perlakuan mendapatkan intervensi berupa terapi kognitif . Varcarolis,
dkk (2006) menjelaskan bahwa terapi kognitif merupakan terapi yang didasarkan
pada kesalahan berfikir klien dengan muncul pikiran otomatis negatif, mendorong
pada penilaian negatif terhadap diri sendiri dan orang lain.
JURNAL KETIGA :

JURNAL KEEMPAT :
For the retained sample, median self-esteem score decreased over the course of the study
(87.5 vs 83.3; Po0.001),corresponding to a mean drop in self-esteem score of 1.4
(s.d.¼15.7). The correlation between self-esteem scores at the two time points was 0.49
(Spearman r, Po0.001). There was no gender difference in median self-esteem scores at
baseline (P¼0.10) or follow-up (P¼0.08); nor was there a difference by age group
(P¼0.20 and 0.58, respectively).
JURNAL KELIMA :

I. KESIMPULAN
JURNAL PERTAMA

Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik penderita harga diri rendah yang
rawat inap di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan bulan Februari 2013, maka dapat
ditarik kesimpulan sebgai berikut:
1. Berdasarkan umur, klien harga diri rendah yang rawat inap di RSKD Provinsi
Sulawesi Selatan paling banyak usia muda yaitu kelompok umur 11-17 tahun
dibandingkan kelompok umur lain.
2. Berdasarkan jenis kelamin, klien harga diri rendah yang rawat inap di RSKD
Provinsi Sulawesi Selatan bulan februari 2013 paling banyak adalah laki-laki
dibanding perempuan.
3. Berdasarkan tingkat pendidikan, klien harga diri rendah yang rawat inap di
RSKD Provinsi Sulawesi Selatan bulan februari 2013 paling banyak duduk
dibangku sekolah SMP.
4. Berdasarkan status perkawinan, klien harga diri rendah yang rawat inap di
RSKD Provinsi Sulawesi Selatan blan Februari 2013 sebagian besar yang belum
menikah.

JURNAL KEDUA :
Studi ini menunjukkan bahwa terapi kognitif mampu memberikan dampak bagi
peningkatan harga diri korban bullying di kalangan remaja. Terdapat pengaruh terapi
kognitif terhadap harga diri remaja korban bullying dengan nilai p 0,031.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penting ini untuk mengembangkan dan
mengaplikasikan pemberian asuhan keperawatan jiwa pada seluruh tatanan pelayanan
kesehatan dengan terapi kognitif untuk remaja korban bullying untuk meningkatkan harga
dirinya. Perlu dikembangkan penelitian lanjutan sebagai model terapi yang
dikolaborasikan dengan terapi kognitif untuk meningkatkan harga diri pada aspek sosial
yang kekuatan hubungannya paling lemah, yaitu dengan terapi ketrampilan sosial (social
skill training).
JURNAL KETIGA :
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan obesitas dengan harga diri pada remaja
menunjukan bahwa sebagian besar responden berumur 17 tahun, memiliki harga diri tinggi
dengan obesitas sebanyak 23.3% , dan sebanyak 76,7% memiliki harga diri negatif dengan
obesitas. Sesuai dengan teori bahwa hal yang paling menonjol dalam tumbuh
kembang remaja adalah perubahan fisik serta psikososial, perubahan fisik terjadi
lebih cepat daripada proses psikososial hal ini yang menyebabkan remaja
sensitif terlebih pada remaja putri Obesitas di kalangan remaja merupakan permasalahan
yang meresahkan karena dirinya, karena merasa ada kekurangan
maka menyebabkan remaja merasa minder dalam pergaulan mereka akan menarik diri dalam
kelompok.dan ada hubungan bermakna antara obesitas dengan harga diri rendah
pada remaja di SMA N 13 Semarang.
JURNAL KEEMPAT :

One of the major strengths of this study is its longitudinal design, enabling possible causal
relationships to be investigated and directionality to be established. The clear associations
between low self-esteem and overweight/obesity in this epidemiological sample, likely to
have less psychosocial morbidity than clinical samples, suggests that overweight/ obesity
does indeed have a strong effect on self-esteem in otherwise healthy young children.
Based on these data, approaches focusing solely on selfesteem seem unlikely to be
particularly effective in the management of overweight/obesity in the elementary school
years. Interventions for overweight/obese children in this age group should focus on reducing
BMI, with improved selfesteem likely to be a flow-on effect. Interventions to lower the
incidence of overweight in the early school years might incorporate strategies to enhance
self-esteem, along with promotion of healthy nutrition and physical activity.
JURNAL KELIMA :
DAFTAR PUSTAKA

Dadang, Hawari. 2001. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI.

Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa. Jakarta

Harrol, Kaplan. 1987. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta. Widya Medika

Keliat, at all. 1998. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta. Egc

Keliat, Budi Ana. 1992. Peran Serta Keluarga dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa. EGC:
Jakarta.

Stuart and Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta. Egc

Stuart, G.W. dan Sudeen, S.J. (1995). “Principles And Practice Of Psychiatric Nursing”. (6th
ed). St. Louis : Mosby year book

https://asuhankeperawatankesehatan.blogspot.com/2017/01/makalah-keperawatan-jiwa-
harga-diri.html