Anda di halaman 1dari 28

ETIKA (MORALITAS)

Oleh:
Kelompok 5
NAMA: NIM:
Ni Made Sintha Darma Putri 1807531110
Ni Kadek Surya Adnyani 1807531157
I Gede Chandra 1807531177
I Gusti Ayu Diah Paramitha 1807531187
I Kadek Dwi Surya Adinata 1807531201
Nyoman Krisna Aditya Sidartha 1807531205
Putu Nadya Jarini Putri 1807531217
Ni Kadek Yunita Arisya Prabandari 1807531219
I Dewa Made Wahyu Winata 1807531236

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

KATA PENGANTAR
“Om Swastyastu”
Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas
berkat rahmatNyalah saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Etika dan Moralitas”
selesai tepat pada waktunya.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu saya mohon saran
dan kritik dari pembaca demi menyempurnakan makalah ini di kemudian hari. Atas kritik dan
sarannya saya ucapkan terima kasih.

“Om Shantih, Shantih, Shantih Om”


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...................................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................................2

2.1 Agama Sebagai Sumber Moral..........................................................................................................2

2.2 Ajaran Etika dan Moralitas Menurut Weda........................................................................................2

2.3 Ajaran Etika dan Moralitas Menurut Manusmrti...............................................................................3

2.4 Ajaran Etika dan Moralitas Menurut Mahabharata............................................................................3

2.5 Ajaran etika dan moralitas menurut bhagavadgita............................................................................4

2.6. Ajaran Etika dan Moralitas menurut Wrhaspatitattwa.......................................................................7

2.7 Etika Hindu Menurut Ajaran Sarasamuccaya..................................................................................11

2.8 Etika Hindu Menurut Ajaran Slokantara..........................................................................................16

BAB III KESIMPULAN...........................................................................................................................23


DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................24
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu tugas suci bagi umat hindu ialah untuk menata dirinya sendiri serta
masyarakat, serta umat manusia untuk mengenal jati dirinya untuk berusaha menjadi manusia
yang berperi kemanusiaan yang secara ideal disebut manusia “Dharmika”(Manava Madhava).
Ajaran Etika(Moralitas), atau tata susila, yakni tingkah laku yang baik dan benar untuk
kebahagiaan hidup serta keharmonisan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, antara
sesame Manusia dengan alam semesta dan ciptaan-nya.

Moral/etika adalah segala hal yang mengajarkan tentang kebaikan, baik itu disebut
Dharma, etika, tata suila, kesopanan, norma, dan yang lainnya semua berumber dari ajaran
agama, buktinya dapat kita lihat dalam kitab-kitab suci seperti sloka-sloka yang tercantum
bersumber dari wahyu-wahyu tuhan yang menuntun manusia untuk selalu bisa berakhlak mulia
dalam kehidupan.

Agama sebagai sumber dasar landasan etika dan moralitas bagi seluruh umat Hindu yang
selalu berpedoman pada kitab-kitab suci Agama Hindu yang mengajarkan agar hidup ini
didasarkan atas dharma, hanya manusialah yang mengenal perbuatan salah dan benar, baik dan
buruk, dan dapat dijadikan yang tidak baik itu menjadi baik, itulah salah satu kemampuan
manusia yang diberikan oleh tuhan. Karena manusia ini mahluk mulia, mahluk berpikir maka ia
mampu melepaskan dirinya dari asubha karma dan masuk dalam subhakarma.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Etika (moralitas) yang bersumber dari ajaran agama merupakan suatu ajaran yang sangat
penting sekali dalam kehidupan manusia, sebab konsep ini mengajarkan manusia untuk selalu
mengkedepankan kebenaran dan kebajikan. Implementasinya manusia mampu mengendalikan
diri dalam setiap langkah kehidupan agar terwujud kedamaian tanpa kekerasan.

2.1 Agama Sebagai Sumber Moral


Menurut Agama Hindu etika dan moralitas sama dengan Susila. Dimana susila berasal
dari bahasa sansekertha “sila” yang berarti tingkah laku. Serta mendapat awalan “Su” yang
berarti baik. Maka arti kata Tata Susila adalah peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang
harus jadi pedoman hidup manusia (Mantra,1989:5)

Agama sebagai sumber moral yang dijadikan landasan dasar etika dan moralitas bagi umat
Hindu, sedangkan pedoman yang digunakan adalah Kitab Suci Weda dan Kitab-Kitab Suci
Agama Hindu lainnya.

2.2 Ajaran Etika dan Moralitas Menurut Weda


Segala yang ada ini tunduk pada Rta. Demikian pula dengan manusia. Dengan mengikuti
Rta orang akan hidup harmonis dengan alam dan sesama manusia perbuatan yang berlawanan
dengan Rta disebut “Anrta”, yang artinya ketidakbenaran. Hidup agar mengikuti hukum alam.
Manusia yang mengikuti Hukum Alam akan Selalu berbahagia dan sebaliknya orang yang
melawan hukum alam akan menimbulkan kesulitan bagi dirinya sendiri.

Na devanamati vratam

Satatma cana jrvati

Tatha yuja vi vavrte

(Rgveda X.33.9)

Terjemahan :

2
Manusia tidak dapat melawan hukum alam dan kehendak Tuhan, manusia yang melawan
hukum alam hidupnya menghadapi kesulitan

2.3 Ajaran Etika dan Moralitas Menurut Manusmrti


Manusmrti adalah salah satu kitab Dharmasastra yang terbaik. Didalam kitab ini banyak
terdapat ajaran etika. Kitab ini mengajarkan agar hidup ini didasarkan Aatas Dharma. Ini berarti
kita harus berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar sehingga kita mendapatkan
kerahayuan. Hanya dengan melaksanakan Dharma orang mendapatkan kebahagian didunia dan
akhirat.

Adharmiko naro yo hi

Yasya capyanrtana dhanam,

Himsaratas ca yo nityam

Nehcisau sukhamedhate.

(Manusmrti, IV. 170)

Terjemahan :

Seseorang yang tidak menjalankan dharma atau orang yang mendapatkan kekayaan
kekayaan dengan cara curang dan orang yang suka menyakiti makhluk lain, tidak akan pernah
berbahagia di dunia ini.

2.4 Ajaran Etika dan Moralitas Menurut Mahabharata


Mahabharata adalah salah satu kitab itiasa. Itiasa yang lain adalah Ramayana. Mahabrata
mengajarkan supaya orang menaruh sikap kasih sayang, rasa bersahabat, simpati dan bertekad
baik terhadap semua makhluk. Ini semuanya akan mengantarkan orang kepada kedamaian dan
dengan kedamaian orang akan mewujudkan kesejahteraan hidup, krbahagiaan hidup sehat lahir
batin

Sarve bhawantu sukinah

Sarve santu niramayah

Sarve bhadrani pasyantu


3
Ma kaschid duhkha bag bhavet

(Mahabharata)

Terjemahan :

Semoga semua bahagia,

Semoga semua sehat dan jujur,

Semoga semua menjumpai kebahagiaan,

Semoga tidak ada yang sengsara

2.5 Ajaran etika dan moralitas menurut bhagavadgita


Dalam bhagavadgita kecenderungan-kecenderungan sifat manusia dibedakan menjadi 2
bagian, (1) daivi sampat, kecenderungan kedewatan. Kecenderungan kedewatan adalah
kecenderungan-kecenderungan yang mulia yang menyebabkan mausia berbudi luhur yang
mengantarkan orang untuk mendapatkan kerahayuan. (2) Asuri sampat, yaitu kecenderungan
keraksasaan. Kecenderungan ini adalah kecenderungan yang rendah yang menyebabkan manusia
berbudi rendah menyebabkan manusia dapat jatuh ke jurang neraka. Kedua kecenderungan ini
ada dalam diri manusia. Ini bberarti dalam diri manusia terdapat sifat baik dan sifat buruk.

Agar orang tidak dikuasai oleh kecenderungan yang rendah ia harus mengendalikan dii
dari guncangan hati yang tidak baik. Ini berarti orang haru terhindar dari sifat keraksasaan. Jalan
untuk dapat lepas dari sifat-sifat dengan cara menguasai diri sendiri. Dalam hal ini bhagavadgita
sudah menyebutkan agar orang dapat mengendalikan indriyanya, karena indriya yang
menghubungkan manusia dengan dunia ini, dunia objek kesenangan. Adapun metode
mengendalikan indriya, bhagavadgita mengikuti praktek ajaan yoga. Indriya harus ditarik dari
objek-objek keinginan sepertikura-kura menarik semua anggota badannya ke dalam dirinya.

Yada samharate cayam

Kurmo naniva sarvasah

Indriyanindriyarthebhyas

Tasya prajna praghita

4
(bhagavadgita H.58)

Terjemahannya :

Ia yang dapat menarik indriyanya dari objek keinginan dengan kesempurnaan, seperti
kura-kura yang menaik anggota badannya ke dalam diinya, itulah orang bijaksana.

Dari uraian di atas tampaklah bahwa benda- benda di dunia inillah yang mengguncang-
guncangkan hati manusia yang menjauhkan dari ketenangan, kedamaian hati, dan
kebahagiaan.karena itu orang diharuskan dapat mengendaikan indriyanya ke dalam ikatanny
dengan benda-benda duniawi ini, sehingga kebijaksanaa tetap menjadi pelita penerang jiwa.
Seperti terungkap pada sloka-sloka dibawah ini.

Dhyayato vigvayan pumsah

Sangas tesupajayate

Sangat sanjayale kamah

Kamat kodho bhijayate

(Bhagavadgita II.62)

Terjemahannya :

Bila seseorang selalu memikikan benda-benda duniawi, ia akan terikat kepadanya. Dari
ikatan muncul keinginan, dari keinginan muncul kemarahan.

Krodhad bhavati sammohah

5
Sammohat smrti-vibhrahmah,

Smrti-bhramsad buddhi-naso

Buddhi-nasat pranasyati

(Bhagavadgita II.63)

Terjemahannya :

Dari kemarahan munculah kebingungan,

Dari kebingungan hilang ingatan,

Hilang ingatan menghancurkan pikiran,

Kehancuran pikiran membawa kemusnahan.

Raga-dvesa-viyuktais tu

Visayan indriyais caraam,

Atma-vasyair vidheyatma

Prasadam adhigacchati

(Bhagavadgita II.64)

Terjemahannya :

Akan tetapi ia yang dapat mengendalikan pikirannya di tengah benda-benda duniawi,


dengan dapat menguasai indriyanya, bebas dariikatan dan perasaan enggan ia mencapai
ketenangan.

Dengan indriya yang terkendali, dengan hati yang tenang orang harus melakukan
kewajibannya di dunia ini dengan jalan bekerja, seperti diungkap dalam sloka dibawah ini.

Sahajam karmakaunteya

6
Sa-donam api na tyajet,

Sarvarambha hi dosena

Dhumenagnir ivayrtah

(Bhagavadgita XVIII.488)

Terjemahannya :

Orang hendaknya jangan melepaskan pekerjaan yang sesuai dengan dirri, O arjuna,
meskipun ada kurangnya, karena semua usaha diselimuti oleh kekurangan seperti api oleh
asap.

Karmanaiva hi samsiddhim

Athita janakadayah

Loka-sagngraham evapi

Sampasyam kartum arhasi

(Bhagavadgita III.20)

Terjemahannya :

Hanya dengan bekerja, prabu jenaka dan lain-lainnya mendapat kesempurnaan, jadi kamu
harus juga melakukan pekerjaan dengan pandangan untuk pemeliharaan dunia.

2.6. Ajaran Etika dan Moralitas menurut Wrhaspatitattwa.


Wrhaspatitattwa terdiri dari 74 sloka yang masing-masing dijelaskan maksudnya dalam
bahasa jawa kuna. Isinya merupakan percakapan antara bhatara parameswara dengan yang mulia
wrhaspati.

7
Pengendalian diri, etika dan moralitas. Agar orang tidak jatuh ke jurang neraka maka
orang harus mengendalikan dirinya dan melaksanakan ajaran etika sehinga kecenderungan-
kecenderungan hati yang buruk dapat dibendung dan kecenderungan hati dapat di pupuk. Dalam
hubungan ini wrhaspatitattwa mengambil astanggayoga ajaran rsi patanjali sebagai jalan untuk
menguasai diri. Dengan demikian ajaran yama niyama dalam ajaran ini juga menjadi alas ajaran
yoga ialah sebagai ajaran yang bersifat etis.

Dalam kitab wrhaspatitattwa ini ajaran yoga dimulai dengan jalan sadangga yoga dan
kemudian ajaran yama niyama. Seperti kutipan dibawah ini.

Pratyaharastatha dhyanam

Pranayamasca dharanam,

Tarkascaiva samadhisca

Sedangga yoga ucyate

Nahan tang sadanga yoga ngaranya, ika ta sadhana ning sang mahyun Umangguhakena
san hyang wisesa denjika, pahawas tang hidepta, haywa ta iweng-iweng denta
ngrengosang hyang aji, hana pratyahara yoga ngaranya, hana tarka yoga
ngaranya,hana pranayama yoga ngaranya, hana dharanaya yoga ngaranya, hana tarka
ngaranya, hana samadhiyoga ngaranya, nahan sadanga yoga ngaranya

(wrhaspatitattwa, 53)

Terjemahannya :

Demikianlah sadangga yoga namanya, Itulah saranannya orang yang ingin menemukan
Sang Hyang Wisesa, biarlah terang hitam, janganlah kalut olehmu mendengar ajaran
ini.Ada pratyahara yoga namanya, ada dhyana yoga namanya, ada tarka yoga namanya,
ada Samadhi yoga namanya. Demikianlah sadangga yoga namanya
8
Kitab wrhaspatitattwa juga mengajarkan, indriya dan pikirkanlah yang dikendalikan
untuk memperoleh kedamaian hati. Dalam ajaran ini pikiran itu disebut citta, namun kadang-
kadang disebut jnana atau hati. Objek pemusatan pikiran ialah sang hyang wisesa, yang dimana-
mana juga dipanggil Bhatara Siwa atau sang hyang paramatma. Penjelasan masing-masing
bagian yoga ini seperti di bawah ini.

Indriyanindriyarthebhyan

Visayebhyah prayatnatah,

Jnantena manasahrlya

Pratyaharo nigadyate

Ikang indriya kabeh winatek sangkeng wisayanya,

ikang citta budhi manah tan wineh maparan-parana,

kinemitaken ing citta malilang, yeka pratyaharayoga ngaranya

(wrhaspatitattwa, 54)

Terjemahannya :

Indriya itu semua ditarik sasaran keinginannya, citta buddhi manah tidak dibiarkan
mengembara kemana-mana, namun dipegang baik-baik pada citta yang henig bersih,
itulah pratyahara

9
Nirdvandvan nirvikanranca

Nisantamcalam tatha,

Yadrupam dhyayate nityam,

Tad dhyanamiti kathyate

Ikang jnana tan pangrwa-rwa, tatan wikara, enak heneng-heneng nira, umideng sad tan
kawarana, yeka dhyanayoga ngaranya

(wrhaspatitattwa, 55)

Terjemahannya :

Pikiran yang memusat, tidak berubah-ubah, tenang dan tentram, tetap tidak goyah, tidak
terselimuti apa-apa, itulah dhana yoga namanya

Pidhaya sarvadvarrani vayurantranigrhyate

Murdhanam vayunobhidya pranayama nigadyate

Ikang sarwadwara kabeh yateka tutupane, mata, irung, tutuk, talinga,ikang vayu huwus
inesep nguni rumuhun, yateka winetwaken maha waneng wunwunwn, kunang yapwan
tan abhyasa ikang vayu mahawane ngkana, dai ya winetwaken mahawaneng irung ndan
saka sadiki dening mawetwaken vayu, yateka pranayamayoga ngaranya.

Terjemahannya :
10
Semua pintu ditutup, mata hidung, mulut, telinga. Udara yangtelah dihirup terlebih
dahulu, dihembuskan keluar melalui ubun-ubun. Bila tidak terlatih udara melalu itu,
dapatlah dikeluarkan melalui hidung. Hendaknya sedikit demi sedikit. Yang demikian
itulah disebut pranayama yoga.

Ongkaram hrdaye sthapya,

Tatwaline swatmalym,

Ongkarah samdhto yasmad,

Dharanam vai nigadyate.

Hana ongkara sabda umunggwing hati, yateka dharanan, yapwan hilang ika nora
karengo ri kala ning yoga yateka sivatma ngaranya, sunyawak bhatara siva yan
mangkana yeka dharanayoga ngaranya.

(wrhaspatitattwa, 57)

Terjemahannya :

Ada Ongkara sabda namanya, tempatnya dalam hati, itulah supaya ditahan kuat-kuat.
Bila ia lenyap tak terdengar lagi waktu melaksanakan yoga, itulah siwa atma namanya.
Pada saat yang demikian bhatara siwa berbadann sunya. Yang demikian itulah dhrana
yoga namanya

Akasa iva tadrupam,

Akasah santatanam druvam,

Nihsabdam tarkayetnityam

11
Sa tarka iti kahyate.

Kadi akasa rakwa sang hyang paramartha, ndan ta palenanira lawan akasa, tan han
sabda ri sira, ya ta kalingan ing paramartha,papada nira lawan awing-awang malilang
juga, yeka tarka yoga ngaranya.

(wrhaspatitattwa, 58)

Terjemahannya :

Seperti angkasalah sayng hyang paramertha, badannya dengan angkaa ialah padanya
tidak ada suara. Demikianlah hakikat sayng hyang paramartha sama dengan awing-awang
yang bersih. Keadaan yang demikian tarkayoga namanya.

2.7 Etika Hindu Menurut Ajaran Sarasamuccaya


Susunan dan Isi Kitab Sarasamuccaya

Kitab Sarasamuccaya terdiri dari sebuah pengantar pendek dan 517 sloka yang
diterangkan dalam bahasa Jawa Kuna. Kitab ini adalah kitab etika untuk pemeluk agama Hindu
di Indonesia.

“ The Sarasamuccaya is the Gita of the Balinese Hindus,”

- Sarasamuccaya adalah Bhagavadgitanya orang-orang Bali pemeluk agama Hindu.

Demikian ucapan Raghu Vira M.A. PH.D. dalam bukunya Sarasamuccaya. Benar juga
ucapan ini karena isi dari Sarasamuccaya adalah buku pedoman bertingkah laku yang baik di
dalam kehidupan ini.

Kecenderungan-kecenderungan Sifat Manusia

12
Kitab ini pun mengajarkan bahwa manusia itu ada yang mempunyai kecenderungan baik,
ada yang buruk. Sifat-sifat itu dinyatakan dalam bentuk subha karma yaitu perbuatan baik dan
asubha karma yaitu perbuatan buruk. Karena manusia ini adalah makhluk yang mulia, makhluk
berfikir maka ia mampu melepaskan dirinya dari asubha karma dan masuk dalam subha karma.
Hal ini dinyatakan dalam syair-syair kitab Sarasamuccaya. Pada banyak komentar dari sloka-
sloka kitab Sarasamuccaya ini orang-orang yang berbudi luhur disebut Sadhujana, sang sajjana,
sedangkan orang yang bertabiat buruk disebut dursila, durjana, dursila wwang papabhudhi.
Orang sadhujana adalah orang yang sabar, tidak kasar tidak memikirkan akan cacat cela orang.
Semua sifat-sifat kebajikan itu dapat kita pada ayat-ayat kitab Sarasamuccaya seperti dibawah
ini.

Na prhrsyati sammane nindito nanutapyate. Na kruddhan parusanyaha tamahuh


sadhulaksanam.

Kunang laksana sang sadhu,

tan agirang yang malem,

tan alara yan ininda,

tan kataman krodha,

pisaningun ujarakena ng parusawacana,

langgeng dhirahning manah nira.

(S.S. 306)

Terjemahan :

Adapun ciri-ciri sang sadhu adalah tidak gembira jika dipuji, tidak sedih jika dicela, pun
tidak kerasukan marah, tidak mungkin beliau mengucapkan kata-kata kasar, sebaliknya selalu
tetap teguh dan suci bersih pikiran beliau.

Na smarantyaparaddhani smaranti sukrtanica,

13
Asambhinnaryamaryadah sadhavah purusot tamah.

Lawan ta waneh, terangen-angen dosa ning len, pisanungun ujarakenang parapawada,


gunanya, mwang ulahnya, rahayu juga kenget nira, tatan hana gantanira manasara sakeng
sistacara apageh juga sira ri maryadanira, mangkana laksana sang sadhu, sira purusotama
ngaranira waneh.

(S.S. 307)

Terjemahan :

Dan lagi sang sadhu tidak memikirkan dosa atau cacat orang lain, pun tidak akan
mengeluarkan kata-kata apapun tentang celaan atau teguran dari pihak lain, hanya kebajikan dan
perbuatan baik pihak lain saja dipikirkan beliau, dan sama sekali tidak ada kemungkinan beliau
akan menyimpang dari perilaku orang arif, melainkan tetap teguh berpegang pada susila dan
sopan santun. Demikianlah laksana sang sadhu. Beliau disebut pula orang utama.

Yatha yatha prakstanam ksetranam sasyasampadah,

Sakha phalabharena namrah sadhustathatatha.

Paramarthanya, upasama ta pwa sang sadhu ngaranira,

Tumukul dening kweh gunanira, mwang wruhnira,

kadyangga ning pari,tumungkul dening wwahnya,

mwang pang ning kayu, tumungkul de ning tob ning phalanya.

(S.S.308)

Terjemahan :

14
Kesimpulannya, sabar dan tenang pembawaan sang sadhu, merunduk karena banyak
kebajikan dan ilmunya, sebagai halnya padi runduk karena beratnya buahnya dan dahan pohon
kayu itu runduk, disebabkan karena lebat buahnya.

Aryavrttamidam vrttamiti vijnaya sasvatam, santah

Parartham, kurvana naveksante pratikriyam.

Tatan pakanimittha hyunira ring pratyupakara sang sajjana ar gawayaken ikang kapararthan,
kunang wiwekanira, prawrtti sang sadhu ta pwa iki, maryada sang mahapurusa, mangkana juga
wiwekanira, tan prakoseka ring phala.

(S.S. 313)

Terjemahan :

Bukan karena keinginanannya akan pembalasannya, sang utama budi mengusahakan


kesejahteraan orang lain, melainkan karena hal itu telah merupakan keyakinannya. Pembawaan
sang sadhu memang demikian. Itulah cirri orang yang berjiwa besar. Demikianlah keyakinan
beliau, tidak memandang akan buah hasilnya.

Demikianlah sifat-sifat mulia yang dimiliki sang sadhujana. Selanjutnya kita sajikan
uraian sifat-sifat orang papa budhi yang sudah tentu berlawanan dengan sifat-sifat sang sadhu
budhi.

Sifat-sifat itu antara lain adalah sifat ingin berbuat jahat, tidak kasihan kepada dirinya
sendiri, bohong, mebuat orang lain menderita, sombong, munafik, menipu dan sebagainya.
Dibawah ini ada beberapa ayat dalam kitab Sarasamuccaya yang menguraikan sifat-sifat sang
Durjana.

Khalah sarsapamatrani parachidrani pasyati,

Atmano vilvamatrani pasyannapi na pasyati

15
Lawan purihnikang durjana, yadyan sawiji ning sasawi dosa sang sadhu, katon juga denya,
denya, kunang yan dosanyawaknya, yadyan sawwah ning wilwa towi katona ta de nya, tan tinom
jugha ya.

(S.S. 341)

Terjemahan :

Dan tabiat orang yang jahat meskipun sebesar biji sawi dosa sang sadhu terlihat olehnya.
Akan tetapi mengenai noda dirinya sendiri, kendati sebesar buah maja yang seharusnya terlihat
olehnya, tidak tampak olehnya.

Abhivadya yatha vrddhan santo gacchanti nirvrtim,

Tatha sajjanamakrusya murko bhavati nirvrtah.

Lawan swabhawa ning durjana, ikang sang sadhu, atyanta juga sukhaniran panambaha atwang
adara ri sang wrddha pandita, tatan mangkana ng durjana, wiparita kramanya, atyanta
paritustanyan telah maniraskarawamana angapahasa ri sang mahapurusa.

(S.S. 342)

Terjemahan :

Demikianlah perangai si durjana, sedangkan sang sadhu kaliwat senang hatinya untuk
member hormat dengan segala kerendahan hati serta dengan hikmat kepada sang pandita yang
arif bijaksana. Tidaklah demikian sang durjana, terbalik prilakunya. Ia terlalu sangat puas hatinya
setelah menista, berlaku kurang ajar dan mengejek orang yang berjiwa besar.

Cadyamano pi papaya subhatma nabhipadyate,

Varyamano pi papatma papebhyah papamicchati.

16
Apan sang sadhu ngaranira, yadyapin konen sira ring ulah salah, tan pangihidep juga sira, tan
rengo-rengon, kunang ikang wwang dusta, yadyapin uhutana towi ring ulah salah,
inulahakennya juga.

(S.S. 348)

Terjemahan :

Orang yang disebut sadhu budi, biarpun diperintahkan untuk berbuat dosa, sekali-kali
beliau tidak akan menurut, dan tidak akan mentaati perintah itu. Akan tetapi orang yang berhati
jahat, meskipun ia dilarang agar tidak melakukan perbuatan jahat namun dilakukan juga olehnya.

Demikianlah dalam ajaran etika kita selalu menemukan satu pilihan diantara dua sifat
baik dan buruk. Dan etika selalu menunjukkan jalan untuk memilih sifat yang baik.

2.8 Etika Hindu Menurut Ajaran Slokantara


Susunan dan isi kitab Slokantara

Susunan kitab ini serupa dengan kitab Wrhaspatitattwa. Syair-syairnya dalam bahasa
Sansekerta yang jumlahnya 84 buah disertakan salinannya dalam bahasa Jawa Kuno.

Namun isinya berbedalah dengan kitab Wrhaspatitattwa itu. Bila kitab Wrhaspatitattwa
pokoknya adalah Siva Tattwa, maka Slokantara menguraikan tentang etika, sasana, dana punya
dan niti. Banyak juga uraiannya menerangkan tentang ajaran karmaphala.

Kecenderungan-kecenderungan sifat Manusia

Dalam kitab Slokantara tidak ada uraian tentang tri guna atau suri asuri sampat sebagai
kecenderungan-kecenderungan sifat manusia. Yang ada ialah lukisan sifat orang baik budi dan
buruk budi. Dengan lukisan itu orang mendapat pedoman untuk membedakan lebih jauh akan
perbedaan sifat orang baik budi dan buruk budi. Syair Slokantara yang melukiskan sifat-sifat
baik itu ialah syair 31 sebagai berikut :

Nirdhano’pi narah sadhuh,

17
Karma nidyam na karayet,

Sardulaschinnapado’pi,

Trnam jatu na bhaksayet.

Kalinganya, sang sadhu jana, sira sang wwang uttama janma yadyapi sira nirdhana, kasyasiha
tuwi, agaweha ta sira salah karya, salah idep, taha tan mangkana sang wwang utama janma,
iwa padanya nihan, kadyangga ning sardula ngaranya macan, tugel jarijinya, pisaningu ika
mamangana dukut, nora juga mangkana prawrttinya, apan enget ing pinanganya, mangkana
ling ning aji.

(S.t.31)

Terjemahan :

Demikianlah bahwa sang sadhujana, yaitu orang yang lahir dari keluarga baik-baik,
meskipun ia amat miskin menyedihkan, tetapi ia itu tidak akan mau mengajarkan dan
memikirkan yang jahat-jahat. Hal ini dapat dibandingkan seekor harimau, walaupun cakarnya
dipotong, tidak mungkin ia akan mau makan rumput, karena ia akan ingat apa yang harus
dimakannya atas dasar kodratnya.

Demikian ajaran kitab suci.

Lebih lanjut akan dijelaskan mengenai baik dari orang-orang yang baik budi. Sifat-sifat
itu adalah sifat-sifat mulia, sifat-sifat yang ideal yang sedapat-dapatnya harus dikerjakan orang.
Kitab-kitab itu kita dapati dalam kitab Slokantara sebagai berikut :

Nihan ambek nawa nga. Narapwa sira siddha rahayu, lwirnya, andrayuga, gunabhiksama
(sadhuniragraha), widagdha-prasama, wirotasadharana krtarajahita, tyaga-prasama,
suralaksana, surapratyayana, sanga kwehnya, andrayuga nga. Prajna ning dharma tutur, watek
angaji, widagdha wruh ring hala hayu, gunabhiksama, nga. Sadhu sira ring arta ning gusti,
lumanglang sira ring paeweh, upeksa sira rorowang, anut sakrama ning wwang akweh, enak de
nira krta rahayu, sadhuniragrhana nga, sadhu sira ning wawadon, tan cekap sira ring sama-
sama wwang, widagdho prasanna nga, tan mamangan sira ingaturan sabda tan yogya, tan

18
sungsut purik sira, prasanna buddhi nira enak, wirotasadharana nga, wani tan karahatan (tan?)
asor ing ujar, mrih ring niti, krtajahita nga, wani asor, wruh ring kutaramanawadi, tyaga
prasanna nga, tan panengguh anghel, yan ingutus de ning gusti, sura laksana nga, tan anengguh
wedi enggal tan asowe, sura pratyayana nga, bhaktyagusti, sura laksana ring paprangan,
tumangga ring pakeweh, rumaksa ring gusti, iti ambek nawa sanga, kayatnakna kramanya
sowang-sowang, rahayu dahat yan kalaksanan.

(S.t.84)

Terjemahan :

Inilah perilaku yang dinamai nawasanga yang dapat menyebabkan hidup kita menjadi bahagia
yaitu :

- Andrayuga artinya menguasai ajaran-ajaran dharma, segala macam pengetahuan, bijaksana dan
tahu akan apa yang baik dan apa yang buruk.

-Gunabhiksana artinya jujur akan harta kepunyaan atasannya, selalu dapat mengatasi segala
kesukaran, tidak melibatkan diri pada pertentangan yang timbul, sering sehaluan dengan
kehendak umum dan berbahagia jika melakukan kebajikan.

- Sadhuniragraha artinya jujur terhadap wanita dan tidak menyakiti sesama manusia.

- Widagdha prasanna artinya tidak termakan oleh ucapan-ucapan tidak benar yang ditunjukkan
kepadanya dan tidak merasa marah atau sedih, selalu bahagia dan tenang pikirannya.

-Wiratasadharana artinya keberaniannya tidak ada bandingannya, tidak bisa kalah dalam
perdebatan dan selalu memegang keadilan hokum.

- Krtarajahita artinya tidak segan-segan mengalah (kalau merasa salah) dan memahami benar isi
kitab hokum kutaramanawa dan lain-lainnya.

- Tyagaprasanna artinya tidak mengenal lelah jika sedang melakukan tugas yang dibebankan oleh
atasannya.

- Surakaksana artinya tidak mengenal rasa takut, selalu cepat dan tidak lamban dalam bertindak.

- Surapratyayana artinya hormat dan setia pada atasan, tidak pernah mundur dari medan perang,
tidak lari dari kesukaran, tetap waspada dalam menjawab atasan.
19
Selain sifat-sifat baik, Kitab Slokantara juga menyajikan lukisan sifat-sifat orang buruk
budi yang tidak patut dituruti. Lukisan itu adalah sebagai berikut :

Mukham padmadalakaram vacascandanasitalam,

Hrdayam kartrasamyuktamityetad dhurtalaksanam.

Kalinganya, hana ta wwang mukhanya sumekar, kadi somya ning tarate mekar, wuwusnya matis,
kadi serep ning candana linepaken ing sarira anis-nisi, amanis-manisi ring wwang kasyasih,
ndan sinapa wani kang hati ring jro kadi kartra kartra ngaranya gunting, kadi landep ing
pamangan ing gunting alanya, tibra ning irsya kumrenges kanugel griwa ning sadhu kasyasih,
dahat anglarani, padanya kadi madhu mawor lawan racun, tuhun ing amanis-hala nikamatyani,
yeka dustalaksanangaranya, saksat pawak ing sisa kalakuta, yeka rupa ning dasar ing kawah
sangksepanya, tan ulaha sang jnama paromottama ika, ling sang hyang sastragama

(S.t.34)

Terjemahan :

Ada orang yang air mukanya manis menarik dan seperti tenangnya bunga teratai yang
sedang mekar, kata-katanya sejuk seperti meresapnya sejuk air cendana yang dilepaskan pada
badan. Ia manis dan penyayang tampaknya terhadap orang sengsara dan kemalangan. Walaupun
tampaknya ia dapat dianggap sebagai pahlawan, namun sebenarnya, hatinya setajam gunting.
Dalam mendekati ia itu sangat menakutkan. Dengan gigi dikeratnya ia patahlah leher orang-
orang yang baik budi yang patut disayangi itu. Ia menyebabkan penderitaan yang maha hebat,
yaitu sama dengan madu dicampur racun. Sebenarnya kemanisannya itulah kejahatan yang tidak
kenal ampun. Sebenarnya ia racun terjahat dalam bentuk manusia, penjelmaan dasar neraka.

Kesimpulannya orang yang lahirnya mulia janganlah berbuat semacam ini. Inilah nasehat suci.

Demikianlah gambaran sifat-sifat orang buruk budi. Masih ada gambaran sifat-sifat buruk yang
lebih panjang lebar dari uraian diatas ini yaitu pada ayat 84 kitab Slokatara yaitu sebagai
berikut :

20
Nihan ambek dasa malanya. Tan yogya ulahakena lwirnya, tandri, kleda, leja, kuhaka, metraya,
megata, ragastri, kotila, bhaksa-bhuwana, kimburu, tandri nga. Wwang sungkanan, leson
balebeh sampeneh adoh ing rahayu, anghing hala juga kaharepnya, kleda nga, ambek angelem-
elem, merangan maring harep, tan katekan pinaksanya, leja nga. Ambek tamah, agong trsna,
agong lulut asih, maring hala, kutila nga. Parachidra, pesta peda ring kawelas asih, pramada
pracale, norana wwang den keringi, kuhaka nga. Ambek krodha. Agong runtik, capala sabda
bangga poraka, metraya nga. Bisagawe ujar mahala, sikara dumikara, wiwiki wiweka, sapa
kadi sira, botarsa rabi ning arabi, tan hana ulahnya rahayu, yan metu sabdanyaarum amanis
anghing hala ri dalem, tan papilih buddhi cawuh, kala ri hatinya purikan, raga stri nga. Bahud
lanji, wawadonen, rambang panon, bhaksa bhuwana andenda sasama ning tumuwuh, akirya
ring wwang sadhu, ardeng pangan inum, hangkara sabda prengkang, kimburu nga. Anghing
gawene akirya-kirya drewe ning wwang sadhu, tan papilih, nora kadang sanak mitra, nyata
memet drewe ning sang wiku. Mangkana karma ning dasa mala. Tan rahayu.

(S.t.84)

Terjemahan :

Inilah sifat-sifat dasa mala yang tidak layak dilakukan, yaitu :

- Tandri yaitu orang yang malas, lemah, suka makan dan tidur saja, enggan bekerja, tidak
tulus dan hanya ingin melakukan kejahatan.

- Kleda artinya suka menunda-nunda, pikiran buntu dan tidak mengerti apa sebenarnya
maksud-maksud orang lain.

- Leja artinya pikiran selalu diliputi kegelapan bernafsu besar. Ingin segala dan gembira
jika melakukan kejahatan.

- Kutila artinya menyakiti orang lain, menyiksa dan menyakiti orang miskin dan malang,
pemabuk dan penipu. Tidak seorangpun berkawan baik dengannya.

- Kuhaka artinya orang pemarah, selalu mencari-cari kesalahan orang lain, berkata asal
berkata dan sangat keras kepala.

21
- Metraya artinya orang yang hanya dapat berkata kasar dan suka menyakiti dan menyiksa
orang lain, sombong pada diri sendiri, “siapa dapat menyamai aku” pikirnya. Ia suka
mengganggu dan melarikan istri orang lain.

- Megata artinya tidak ada tingkahnya yang dapat dipuji. Meskipun ia berkata atau kata-
katanya manis dan merendah, tetapi dibalik lidahnya ada maksud jahat. Ia tidak merasakan
kejelekannya, berbuat jahat, menjauhi susila, ia kejam.

- Ragastri artinya suka memperkosa perempuan baik-baik dan memandang mereka dengan
mata penuh nafsu.

- Bhaksa bhuwana artinya orang yang suka membuat orang lain melarat. Ia menipu orang
jujur. Ia berpoya-poya dan berpesta-pesta melewati batas. Ia sombong. Kata-katanya selalu
menyakiti telinga.

- Kimburu artinya orang yang menipu kepunyaan orang jujur. Ia tidak peduli apa
mangsanya itu keluarga, saudara atau kawan. Ia tidak segan mencoba mencuri milik para
pendeta. Inilah tingkah orang yang melakukan kesepuluh dosa itu. Ini tidak bagus.

Demikian gambaran kecenderungan-kecenderungan sifat baik dan buruk dalam Slokantara.

Naskah slokantara memiliki nilai-nilai etika atau moralitas dalam kaitannya dengan agama
Hindu. Naskah slokantara adalah salah satu naskah Hindu di Bali yang juga sarat dengan ajaran-
ajaran kesusilaan atau moralitas, yang dapat dijadikan pendoman dalam menuju keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan agama Hindu. Nilai etika yang dimaksud seperti berikut

1. Dharma (kewajiban suci dan Brahmacari (masa menuntut ilmu pengetahuan))


2. Satya dan Dharma (kebenaran)
3. Karma Dharma (berbuat baik dan Niraya berbuat tidak baik)
4. Budhiman atau krti atau pandita (orang yang cerdas) dan Paradara-warji (tidak
merindukan istri orang lain)
5. Uttama Janma ( Orang Saleh)
6. Swargasyuta (kelahiran sorga)
7. Enam ciri orang baik (suratwa, arogya, rati, dewasu bhakti, kanakalabha, rajapriyatna)
8. Empat golongan manusia yang menikmati kebahagiaan (upayajna, sura, krtawidya,
priyamwada)
9. Empat orang yang dapat dipercaya (Brahmana, raja, yogin, orang yang mendapatkan
anugrah tuhan)

22
10. Kebaikan sejati
11. Dusta (bohong) dan Dosa (salah)
12. Manusa Dosa atau Pataka (manusia salah)
13. Upa dosa / Upa Pataka (salah kecil)
14. Maha Dosa / Maha Pataka (salah besar )
15. Ati Dosa / Ati Pataka (salah terbesar)
16. Ciri orang kelahiran Naraka
17. Tingkat kelahiran orang berdosa
18. Candala (manusia rendah)
19. Sad Atatayi (enam penjahat)
20. Durtha (penjahat kawakan)
21. Krtaghnakam (hilang ingatan atau gila)
22. Asta Brata ( delapan sifat kepemimpinan )
23. Swanayoni

23
BAB III
KESIMPULAN

Moral/etika adalah segala hal yang mengajarkan tentang kebaikan, baik itu disebut
Dharma, etika, tata suila, kesopanan, norma, dan yang lainnya semua berumber dari ajaran
agama, buktinya dapat kita lihat dalam kitab-kitab suci seperti sloka-sloka yang tercantum
bersumber dari wahyu-wahyu tuhan yang menuntun manusia untuk selalu bisa berakhlak mulia
dalam kehidupan.

Agama sebagai sumber dasar landasan etika dan moralitas bagi seluruh umat Hindu yang
selalu berpedoman pada kitab-kitab suci Agama Hindu yang mengajarkan agar hidup ini
didasarkan atas dharma, hanya manusialah yang mengenal perbuatan salah dan benar, baik dan
buruk, dan dapat dijadikan yang tidak baik itu menjadi baik, itulah salah satu kemampuan
manusia yang diberikan oleh tuhan. Karena manusia ini mahluk mulia, mahluk berpikir maka ia
mampu melepaskan dirinya dari asubha karma dan masuk dalam subhakarma

24
DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Agama Hindu Unud, Pendidikan Agama Hindu Perguruan Tinggi, Denpasar,
2009

Mantra (Prof. DR. Ida Bagus) tahun 1993/1994. Tata Susila Hindu Dharma diterbitkan
oleh Parisada Hindu Dharma Pusat

25