Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

TUBERKULOSIS PARU

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Stase Komprehensif


di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Mayong

Dokter Pembimbing :

dr. Ali Rohmad


dr. Septina Esti A. P

Disusun oleh :
Alfan Zaki Mubarok H2A011008P
Muhammad Rizky Irza H2A012056P
Arrafli Bagas Augatha H2A013043P

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAHSEMARANG
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KASUS STASE KOMPREHENSIF


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

Disusun untuk memenuhi syarat kelulusan stase komprehensif


di RS PKU Muhammadiyah Mayong

Oleh:
Alfan Zaki Mubarok H2A011008P
Muhammad Rizky Irza H2A012056P
Arrafli Bagas Augatha H2A013043P

Pembimbing :

dr. Ali Rohmad dr. Septina Esti A. P.

2
UPAYA PENDEKATAN TERHADAP KELUARGA Ny.A
DALAM MENANGANI PERMASALAHAN PENDERITA
TUBERKULOSIS PARU

TAHAP I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama kepala keluarga : Ny. A (59 tahun)
Alamat : Kriyan 8/2 Kalinyamatan, Jepara
Bentuk keluarga : Nuclear Family

Tabel 1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No. Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Keterangan
1. Ny. A Kepala P 59 th SD Ibu Rumah Pasien TB Paru
Keluarga Tangga
2. An. M Anak Ny.A L 32 th - - - -
3. An. D Anak Ny.A L 22 th SMP Karyawan - -

Kesimpulan tahap I :
Di dalam keluarga Ny. A berbentuk Nuclear family didapatkan pasien atas nama
Ny. A usia 59 tahun, tamat SD, sebagai ibu rumah tangga dengan penyakit
Tuberkulosis Paru dan Diabetes Melitus.

3
TAHAP II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. A
Umur : 59 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kriyan 8/2 Kalinyamatan, Jepara
II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis tanggal 2 Maret 2019 pada
pukul 13.30 WIB.
A. Keluhan utama
Sesak napas
B. Riwayat penyakit sekarang
Sekitar ± 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh
batuk disertai dahak berwarna kuning kehijauan kental. Batuk dirasakan
terus menerus dan tidak kunjung sembuh. Tidak ada faktor memperberat
maupun memperingan keluhan batuk pasien. Pasien juga mengeluhkan
demam nglemeng yang hilang timbul, pusing, badan terasa lemas, sering
keluar keringat dingin saat malam hari dan penurunan nafsu makan. Buang
air kecil maupun besar tidak ada keluhan. Keluhan nyeri perut, mual,
muntah, dan benjolan di leher disangkal.
Kemudian tanggal 28 Februari 2019 pasien datang ke IGD PKU
Muhammadiyah Mayong dengan keluhan sesak napas sejak kurang lebih
satu hari sebelum masuk rumah sakit, kemudian memberat satu jam
sebelum masuk rumah sakit. Keluhan dirasakan terus menerus tidak
membaik dengan istirahat. Tidak ada faktor memperberat dan
memperingan keluhan sesak pasien. Keluhan disertai batuk, badan terasa

4
lemas, demam, dan keluar keringat malam hari. Tidak ada keluhan dalam
buang air kecil dan besar.
C. Riwayat penyakit dahulu
1) Riwayat penyakit batuk seperti ini : diakui (selesai pengobatan)
2) Riwayat darah tinggi : disangkal
3) Riwayat kencing manis : diakui
4) Riwayat asma : disangkal
5) Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
D. Riwayat penyakit keluarga
1) Riwayat penyakit batuk seperti ini : disangkal
2) Riwayat darah tinggi : disangkal
3) Riwayat kencing manis : disangkal
4) Riwayat asma : disangkal
5) Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
E. Riwayatpribadi
1) Riwayat Merokok : disangkal
2) Riwayat minum-minuman keras : disangkal
F. Riwayatsosial ekonomi
Pasien seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama anak nomor
tiga dan empat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien, pasien
dibiayai oleh anaknya. Biaya rumah sakit menggunakan BPJS. Kesan
ekonomi kurang
G. Riwayat Lingkungan
Pasien ini tinggal di sebuah rumah berukuran 17 x 13 m2,
berhadapan langsung dengan rumah tetangga. Rumah tidak memiliki pagar
depan,terdapat dua kamar tidur, satu ruang keluarga, satu kamar mandi
dan dapur. Pintu masuk dan keluar ada satu, di bagian depan rumah.
Dinding terbuat batu bata yang sudah disemen, lantai rumah tidak berubin.
Ventilasi dan pencahayaan rumah kurang. Atap rumah tersusun dari
genteng dan tidak ditutupi langit-langit. Masing-masing kamar tidur
dilengkapi dengan sebuah kasur. Perabotan rumah tangga sederhana.

5
Sumber air untuk kebutuhan sehari-harinya keluarga ini menggunakan air
sumur. Sehari-hari keluarga memasak menggunakan kompor gas.

III.PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 2 Maret 2019 di bangsal AR
Fachrudin ruang Isolasi RS PKU Muhammadiyah Mayong pukul 13.30 WIB.
A. Keadaan umum : tampak lemas dan sesak
B. Kesadaran : Composmentis
C. Tanda Vital
1. Tekanan Darah : 100/60 mmHg
2. Nadi : 90 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
3. Pernapasan : 30 x/menit
4. Suhu :36,7oC
D. Status gizi
BB : 39 kg
TB : 150 cm
BMI : 17,3
Kesan : Underweight
E. Kulit :Kecoklatan
F. Kepala :Bentuk mesosephal, rambut warna hitam,
lurus, luka (-)
G. Wajah : Moon face (-), luka (-)
H. Mata : Konjungtiva anemis(-/-),reflek pupil (+/+)
isokor 3 mm, sklera ikterik (-/-), mata cekung
(-/-)
I. Telinga : Sekret (-/-),darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-
/-), nyeri tekan tragus (-/-)
J. Hidung : Sekret (-/-), napas cuping hidung (-/-),
epistaksis (-/-)
K. Mulut : Sianosis (-), bibir kering (-), lidah kotor (-),
pernapasan mulut (-)

6
L. Leher : simetris, tidak teraba benjolan
M. Thorax : normochest, simetris, tanda bantuan otot-otot
pernafasan (-)
1. Paru
Pulmo Dextra Sinistra
Depan
a. Inspeksi
Bentuk dada Normal Normal
Hemitorak Simetris Simetris

Warna Sama dengan warna sekitar Sama dengan warna sekitar


b. Palpasi
Nyeri tekan Tidak ada nyeri tekan Tidak ada nyeri tekan
Stem fremitus Normal Normal
c. Perkusi sonor seluruh lapang paru sonor seluruh lapang paru
d. Auskultasi
Suara dasar Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan
 Wheezing - -
 Ronki  + +


Belakang
1. Inspeksi

Warna Sama dengan warna sekitar Sama dengan warna sekitar


2. Palpasi

Nyeri tekan (-) (-)


Stem Fremitus Tidak ada pengerasan dan Tidak ada pengerasan dan
pelemahan pelemahan
3. Perkusi
Lapang paru sonor seluruh lapang paru sonor seluruh lapang paru
4. Auskultasi
Suara dasar Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan
Wheezing - -
Ronki  + +

7
Tampak anterior paru Tampak posterior paru

Ronki basah halus paru Ronki basah halus paru

2. Jantung
Inspeksi : ictuscordistidaktampak, ICS melebar (-)
Palpasi : ictus cordisteraba, kuatangkat (-), ICS melebar (-)
Perkusi : batas kiri atas : ICS II linea parasternal sin.
batas kanan atas : ICS II linea parasternal dextra
pinggang jantung : ICS III linea parasternal sinistra
batas kanan bawah : ICS V linea sternalis dextra
kiri bawah : ICS V 2 cm lateral linea
midclavicula sinistra
Kesan : Konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi :Suara jantung murni: Suara I dan Suara II reguler.
Suara jantung tambahan gallop (-), murmur (-)
N. Abdomen
1. Inspeksi : Dinding perut sejajar dengan dinding dada, ikterik (-),
sikatrik (-), caput medusa (-).
2. Auskultasi : Bising usus (+) normal, 8 x/menit.
3. Perkusi : Tympani seluruh abdomen
4. Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (-), defans muskular (-), hepar
dan lien tidak teraba.
O. Ekstremitas
Superior Inferior
Capp Refill <2”/ <2” <2”/<2”
Akral dingin -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Edema -/- -/-

8
IV.PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Darah Rutin pada tanggal 28 Februari 2019
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Hemoglobin 13.6 12.0-16.0

Leukosit 9,2 4.0-12.0

Trombosit 247.0 150.0-400.0

Eritrosit 4.93 4.00-5.00

Hematokrit 38.9 37.0-43.0

Basofil - 0-3

Eosinofil - 0-3

Neutrofil 66 42-75

Limfosit 28 20.5-51.1

Monosit 7 2-9

MCV 84.4 80.3-103.4

MCH 28.2 26.0-34.4

MCHC 33.4 31.8-36.3

Ureum 15 10-50

Creatinin 0,8 0.60-1.10

SGOT 24 0-50

SGPT 12 0-50

GDS 415 < 180

HbsAG Non Reaktif Non Reaktif

B. Pemeriksaan Sputum

9
BTA 1 : Negatif

C. Pemeriksaan X-Foto Thorax

Hasil :
- Cor : Normal
- Pulmo : Fibro-Infiltrat(++)
Kesan : TB paru Aktif

V.RESUME
Sekitar ± 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh batuk
disertai dahak berwarna kuning kehijauan kental. Batuk dirasakan terus
menerus dan tidak kunjung sembuh. Tidak ada faktor memperberat maupun
memperingan keluhan batuk pasien. Pasien juga mengeluhkan demam
nglemeng yang hilang timbul, pusing, badan terasa lemas, sering keluar
keringat dingin saat malam hari dan penurunan nafsu makan. Buang air kecil

10
maupun besar tidak ada keluhan. Keluhan nyeri perut, mual, muntah, dan
benjolan di leher disangkal.
Kemudian tanggal 28 Februari 2019 pasien datang ke IGD PKU
Muhammadiyah Mayong dengan keluhan sesak napas sejak kurang lebih satu
hari sebelum masuk rumah sakit, kemudian memberat satu jam sebelum
masuk rumah sakit. Keluhan dirasakan terus menerus tidak membaik dengan
istirahat. Tidak ada faktor memperberat dan memperingan keluhan sesak
pasien. Keluhan disertai batuk, badan terasa lemas, demam, dan keluar
keringat malam hari. Tidak ada keluhan dalam buang air kecil dan besar.
Riwayat penyakit dahulu berupa TB (4 tahun lalu namun sudah dinyatakan
sembuh) dan DM diakui.Pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum tampak
lemas dan sesak, tanda vital dalam batas normal kecuali Respiratory rate
30x/mnt, kesan status gizi underwight, pemeriksaan thorax ditemukan suara
tambahan beruba ronki pada seluruh lapang paru. Pemeriksaan penunjang
berupa darah rutin ditemukan kadar GDS meningkat. Dari pemeriksaan
Rontgen thorax ditemukan bercak bronkovaskuler meningkat dan terdapat
gambaran fibro infiltrate, kesan TB paru.
VI.PATIENT CENTERED DIAGNOSIS
1. Diagnosis Holistik
Ny. A tahun, Nuclear Family, Tuberkulosis Paru, DM tipe 2, status gizi
kurang. Hubungan keluarga cukup harmonis dan hubungan dengan
masyarakat sekitar terjalin baik. Status ekonomi menengah kebawah.
2. Diagnosis Biologis
Tuberkulosis Paru dan DM tipe 2
3. Diagnosis Psikologis
Hubungan pasien dengan anggota keluarga lain baik dan saling
mendukung.
4. Diagnosis Sosial, Ekonomi, Budaya
Pasien merupakan anggota masyarakat biasa, sudah tidak berperan aktif
dalam kegiatan kemasyarakatan, hubungan dengan masyarakat baik, status
ekonomi menengah kebawah.

11
VII.PENATALAKSANAAN
1. Non medikamentosa:
Memberikan edukasi kepada pasiententang :
A. Memberikan motivasi kepada pasien agar dapat menerima keadaan
peyakit yang diderita.
B. Memberikan edukasi mengenai apa itu penyakit tuberkulosis,
penyebab, gejalanya, cara penularan, cara pencegahan, komplikasi,
serta cara pengobatan tuberkulosis paru.
C. Minum obat secara teratur dan tidak boleh berhenti sesuai anjuran
dokter
D. Saat batuk usahakan untuk menutup mulut, dan dahak jangan dibuang
disembarang tempat.
E. Usahakan untuk memakaimasker saat bekerja, saat batuk, dan setiap
hari dirumah minimal selama 2-3 bulan pengobatan fase awal sampai
dengan hasil BTA negatif.
F. Makan makanan tinggi protein, sayur, dan rendah cukup karbohidrat
G. Olahraga ringan secara teratur.
H. Usahakan untuk tetap membuka jendela pagi sampai sore sagar
cahaya dapat masuk ke dalam ruamah dan sirkulasi udara bagus.
I. Obat disimpan ditempat yang aman, hindari terkena sinar matahari,
dan dari jangkauan anak.
J. Bila minum obat diusahakan pada jam yang sama, misalnya jam 7
malam, maka selanjutnya jam 7 malam juga. Telat minum obat
maksimal 1 jam.
K. Menjaga higene pribadi

2. Medikamentosa :
Assesment TB Paru Baru :
Kategori-1(2RHZE/4R3H3)
1. Rifampisin . 10 mg/ kg BB, maksimal 600mg 2-3X/ minggu atau
BB > 60 kg : 600 mg
BB 40-60 kg : 450 mg
BB < 40 kg : 300 mg

12
Dosis intermiten 600 mg / kali
2. INH 5 mg/kg BB, maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 Xseminggu, 15
mg/kg BB 2 X semingggu atau 300 mg/hariuntuk dewasa. lntermiten :
600 mg / kali
3. Pirazinamid : fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3
Xsemingggu,50 mg /kg BB 2 X semingggu atau :
BB > 60 kg : 1500 mg
BB 40-60 kg : 1 000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
4. Etambutol : fase intensif 20mg /kg BB, fase lanjutan 15 mg/kg BB,
30mg/kg BB 3X seminggu, 45 mg/kg BB 2 Xseminggu atau :
BB >60kg : 1500 mg
BB 40 -60 kg : 1000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/ kali
Assesment DM tipe 2
- Sansulin 20unit/8 jam

13
VIII.FLOW SHEET
Nama : Ny. A (59 tahun)
Diagnosis : Tuberkulosis Paru dan DM tipe 2
Tabel 3.Flowsheet penderita
Tanggal Keluhan Tanda Vital Rencana Terapi Target
23/1/2019 Batuk (+) TD:110/70 mmHg Medika mentosa Gejala klinis
dahak (-) Nadi : 78x/menit Kategori- menghilang
demam (-) RR : 24x/menit 2(2RHZES/1RHZE/5R3H3E3
mual (-) Suhu : 36,8°C )Non medikamentosa :
muntah (-) BB : 39 kg • Minum obat secara teratur
lemas (-) • Mengkonsumsi makanan
sesak (-) tinggi kalori tinggi protein,
dan cukup karbohidrat
• Memberikan edukasi
mengenai perilaku hidup
sehat.

14
TAHAP III
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

I. FUNGSI HOLISTIK
a. Fungsi Biologis
Pasien Ny. A 59 tahun tinggal bersama kedua anaknya.
b. Fungsi Psikologis
Hubungan keluarga cukup harmonis, saling mendukung, dan
perhatian satu sama lain.
c. Fungsi Sosial
Penderita hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Hubungan
dengan masyarakat sekitar baik dan kurang aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan.
d. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasien sebagai ibu rumah tangga. Ekonomi diperoleh dari
penghasilan anaknya. Biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS
PBI.Status ekonomi menengah kebawah.
e. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Komunikasi anggota keluarga berlangsung baik, permasalahan
diselesaikan dengan cara dimusyawarkan bersama-sama.

15
II. FUNGSI FISIOLOGIS
Tabel 4. APGAR score keluarga Ny.S
Kode APGAR Ny. A An. An. D
M
A Saya puas bahwa saya dapat kembali 2 2 2
ke keluarga saya bila saya mendapat
masalah.
P Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2 2
membahas dan membagi masalah
dengan saya.
G Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2 2
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru.
A Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2 2
mengekspresikan kasih sayangnya
dan merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll.
R Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2 2
dan saya membagi waktu bersama-
sama.
Total (kontribusi) 10 10 10

Rata-rata APGAR score keluarga Ny. S = 10 + 10 +10=10


3
Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Ny. A baik

16
III. FUNGSI PATOLOGIS
Tabel 5. Fungsi Patologis SCREEM keluarga Ny. A
Sumber Patologi Keterangan
Social Interaksi sosial cukup, aktif dalam kegiatan -
kemasyarakatan.
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, -
banyak tradisi budaya yang masih diikuti.
Religion Beragama dan memiliki pemahaman terhadap ajaran -
agama, ketaatan ibadah cukup baik
Economic Penghasilan keluarga cukup untuk memenuhi +
kebutuhan
Education Tingkat pendidikan keluarga sudah cukup tinggi +
untuk mampu mengetahui tentang informasi
kesehatan.
Medical Kesadaran tentang pentingnya kesehatan cukup baik. +
Jika sakit pasien segera berobat ke dokter, puskesmas,
rumah sakit.
Kesimpulan :
Terdapat fungsi patologis pada keluarga Ny. A yaitu fungsi Economic,
Educationdan Medical.
.
IV. GENOGRAM

Diagram 1. Genogram keluarga Ny. A

17
Keterangan :

: laki-laki : tinggal serumah


: perempuan

: laki-laki, perempuan meninggal

Kesimpulan : penyakit yang diderita pasien tidak ditemukan pada anggota


keluarganya. Dari genogram tersebut tidak terdapat penyakit menular.

V. POLA INTERAKSI KELUARGA


Ny .A
Keterangan :

: Hubungan baik

: Hubungan tidak baik

An. M An. D

Diagram 2. Pola interaksi keluarga Ny. A


Kesimpulan : Pola interaksi dua arah antar anggota keluarga berjalan baik
dan harmonis.

VI. FAKTOR PERILAKU


a. Pengetahuan
Tingkat pendidikan keluaraga kurang baik. Ny. A tamat SD, anak
yang tinggal satu rumah An. M laki-laki tidak sekolah dan An. D tamat
SMP.
b. Sikap
Penderita dan keluarga kurang memiliki pengetahuan tentang hidup
sehat. Saat sakit pasien lebih suka beli obat warung daripada periksa ke
dokter atau pelayan kesehatan terdekat.

18
c. Tindakan
Penderita dan keluarga tidak memiliki kesadaran untuk segera datang
berobat jika ada keluhan. Penderita memilih membeli obat di warung
terlebih dahulu dibandingkan periksa ke pelayanan kesehatan terdekat.

VII.FAKTOR NON PERILAKU


a. Lingkungan
Rumah tertata kurang rapi, kebersihan kurang baik. ventilasi dan
pencahayaan kurang. Saluran pembuangan limbah lancar, sampah keluarga
dibuang di tempat sampah. Lingkungan sekitar kurang bersih.
b. Keturunan
Tidak terdapat faktor keturunan yang mempengaruhi penyakit
penderita. Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular.
c. Pelayanan Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit
adalah RS PKU Muhammadiyah Mayong.

VIII. LINGKUNGAN INDOOR


Pasien tinggal bersama kedua anaknya disebuah rumah pribadi. Pasien
ini tinggal di sebuah rumah berukuran 10 x 8 m2, berhadapan langsung
dengan rumah tetangga. Rumah tidak memiliki pagar depan, terdapat dua
kamar tidur, satu ruang keluarga, satu kamar mandi dan dapur. Pintu
masuk dan keluar ada satu, di bagian depan rumah. Dinding terbuat batu
bata yang belum disemen, lantai rumah tidak berubin. Ventilasi dan
pencahayaan rumah kurang. Atap rumah tersusun dari genteng dan tidak
ditutupi langit-langit. Masing-masing kamar tidur dilengkapi dengan
sebuah kasur. Perabotan rumah tangga sederhana. Sumber air untuk
kebutuhan sehari-harinya keluarga ini menggunakan air sumur. Sehari-hari
keluarga memasak menggunakan kompor gas.

19
Kamar
mandi Dapur
dan WC Kamar Ny.S

Ruang Kamar kosong


keluarga
Dan
Ruang
makan

Ruang tamu

Lantai 1
Gambar denah rumah pasien

IX. LINGKUNGAN OUTDOOR


Lingkungan sekitar rumah berupa perkampungan dengan kondisi
masyarakat yang akrab dan baik. Rumah satu dengan yang lainnya saling
berdempetan. Terdapat selokan untuk menyalurkan limbah rumah yang
terdapat di belakang rumah.Sampah dibuang di tempat sampah.Rumah
berhadapan dengan rumah lainnya, dengan kondisi jalan tanah.

20
X. RESUME IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Holistik (biopsikososial) : baik
2. Fungsi Fisiologis (APGAR) : baik
3. Fungsi Patologis (SCREEM) : Ada fungsi patologis yaitu fungsi
Ekonomic, Education dan Medical.
4. Fungsi Genogram Keluarga : tidak ada penyakit yang diturunkan.
Penyakit Tuberkulosis merupakan
penyakit menular.
5. Fungsi Pola Interaksi Keluarga : baik
6. Fungsi Perilaku Keluarga : baik
7. Fungsi Non Perilaku Keluarga : baik
8. Fungsi Lingkungan Indoor : kurang
9. Fungsi Lingkungan Outdoor : kurang

XI. DAFTAR MASALAH


1. Masalah Medis
Tuberkulosis paru
2. Masalah Non-medis
a. Pengetahuan dan sikap penderita dan keluarga tentang faktor
resiko penyakit tuberkulosis paru masih rendah.
b. Pengetahuan penderita dan keluarga tentang pola hidup sehat
masih rendah.
c. Rumah kurang sehat

21
XII.PRIORITAS MASALAH
Tabel 5. Matrikulasi masalah untuk memilih prioritas masalah
No. Daftar Masalah I T R Jumlah
IxTxR

P S SB Mn Mo Ma
1. Pengetahuan dan sikap 5 5 5 4 4 4 4
penderita dan keluarga 32.000
tentang faktor resiko (I)
penyakit tuberkulosis paru
masih rendah.
2. Pengetahuan penderita dan 5 5 4 3 4 5 4
keluarga tentang pola 24.000
hidup sehat masih rendah (II)

3. Rumah kurang sehat 5 5 4 3 4 3 4 19.200


(III)

Keterangan :
I :Importancy (pentingnya masalah)
P :Prevalence (besarnya masalah)
S :Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB :Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T :Technology (tehnologi yang tersedia)
R :Resourcers (sumber daya yang tersedia)
Mn :Man (tenaga yang tersedia)
Mo :Money (sarana yang tersedia)
Ma :Material (pentingnya masalah)

Dari indikator di atas, terdapat beberapa kriteria, antara lain:


1 = tidak penting
2 = agak penting
3 = cukup penting
4 = penting
5 = sangat penting

22
DIAGRAM PERMASALAH PASIEN

Pengetahuan penderita dan


keluarga tentang pola hidup
sehat masih rendah.

Ny.S,55tahun,
TUBERKULOSIS PARU

Pengetahuan dan sikap penderita dan Rumah kurang sehat


keluarga tentang faktor resiko penyakit
tuberkulosis paru masih rendah.

23
TAHAP IV
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA DAN
KELUARGA TENTANG POLA HIDUP SEHAT , PENYAKIT
TUBERKULOSIS PARU, SERTA RUMAH KURANG SEHAT
DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium


tuberculosis. Sebagian besar kuman Tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat
juga menyerang organ lainnya. Mycobacterium tuberculosis bersifat tahan asam,
berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung, tidak berspora dan tidak
berkapsul.1,2
Tuberkulosis masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang
tersering di Indonesia. Keterlambatan dalam menegakkan diagnosa dan
ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan mempunyai dampak yang besar
karena pasien Tuberkulosis akan menularkan penyakitnya pada
lingkungan,sehingga jumlah penderita semakin bertambah. Pengobatan
Tuberkulosis berlangsung cukup lama yaitu setidaknya 6 bulan pengobatan dan
selanjutnya dievaluasi oleh dokter apakah perlu dilanjutkan atau berhenti, karena
pengobatan yang cukup lama seringkali membuat pasien putus berobat atau
menjalankan pengobatan secara tidak teratur, kedua hal ini ini fatal akibatnya
yaitu pengobatan tidak berhasil dan kuman menjadi kebal disebut MDR (Multi
Drugs Resistance), kasus ini memerlukan biaya berlipat dan lebih sulit dalam
pengobatannya sehingga diharapkan pasien disiplin dalam berobat setiap waktu
demi pengentasan tuberkulosis di Indonesia.2,3
Penyakit TB disebut juga silent disease, yaitu penderita sering kali tidak
menyadari kalau sudah tertular dan baru menyadari ketika gejala dan tanda yang
dirasakan sudah kronis. Adapun gejala dari penyakit ini adalah demam sub febril
menyerupai influenza, dan panas terkadang dapat mencapai 40-410C, batuk
disertai sputum, bercak darah, sesak nafas, nyeri dada, serta gejala malaise yang

24
sering ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), badan semakin kurus,
sakit kepala, nyeri otot, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. 1,3,4,5
Sumber penularan penyakit ini adalah penderita tuberkulosis dengan BTA
positif. Proses terjadinya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis biasanya secara
inhalasi, sehingga TB Paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering
dibanding organ lainnya.Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi
basil yang terkandung dalam percikan dahak ( droplet nuclei ), khususnya yang
didapat dari pasien TB Paru dengan batuk berdahak yang mengandung BTA.1,6
Penyakit TB paru disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang dipengaruhi
oleh pengetahuan, prilaku dan sikap. Dari sudut pandang biologis, prilaku adalah
suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati
secara langsung maupun tidak langsung. Prilaku diartikan sebagai suatu aksi-
reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada
sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni disebut rangsangan.
Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu
pula.5.6.7
Pengetahuan, sikap, dan tindakan sangat mempengaruhi perkembangan
penyakit Tuberculosis. Pengetahuan seseorang sangat mempengaruhi perilaku
individu. Dengan kata lain, semakintinggi pengetahuan seseorang tentang
kesehatan,maka semakin tinggi pula kesadarannya untuk berperan serta dalam
kegiatan kesehatan. Pengetahuanmerupakan tahap awal bagi seseorang
untuk berbuat sesuatu, sebagaimana dengan unsur-unsur yang dapat dilihat dari
dalam diri seseorang untuk dapat berbuat sesuatu sepertikeyakinan/kepercayaan,
saran, dorongan/motivasi. Dengan demikian, penyakittuberkulosis banyak
terdapat pada golonganmasyarakat dengan tingkat pengetahuan yangrendah
tentang cara-cara hidup sehat. 7
Kondisi rumah juga sangat mempengaruhi penularan penyakit TB. Risiko
untuk menderita TB paru 9 kali lebih tinggi pada penduduk yangtinggal pada
rumah yang pencahayaannya tidak memenuhi syarat kesehatan karena kuman TB
sendiri mati oleh cahaya matahari. Kuman TB yang ditularkan melalui droplet
nuclei, dapat melayang di udara karenamemiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu

25
sekitar 50 mikron. Apabila ventilasi rumah memenuhisyarat kesehatan, maka
kuman TB dapat terbawakeluar ruangan rumah, tetapi apabila ventilasinya buruk
maka kuman TB akan tetap ada di dalamrumah. Kelembabanrumah yang tidak
memenuhi syarat kesehatanakan menjadi media yang baik bagi
pertumbuhan berbagai mikroorganisme seperti bakteri,spiroket, ricketsia, virus
dan mikroorganisme lainyang dapat masuk ke dalam tubuh manusiamelalui udara
dan dapat menyebabkan terjadinyainfeksi pernapasan pada penghuninya.
Kepadatan hunian rumah merupakan luas lantaidalam rumah dibagi dengan
jumlah anggotakeluarga penghuni tersebut.7
Sejatinya jenis pekerjaan turutmenentukan faktor risiko terjadinya
penyakitgangguan pernapasan, termasuk TB. Bila pekerja bekerja di lingkungan
yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi
terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang
tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutamaterjadinya gejala penyakit
saluran pernafasan danumumnya TB paru. Jenis pekerjaan menentukanfaktor
risiko apa yang harus dihadapi setiap individu.7

26
TAHAP V
SIMPULAN DAN SARAN

I. SIMPULAN
Diagnosis Holistik :
1. Diagnosis Biologis
Tuberkulosis Paru dan DM tipe 2
2. Diagnosis Psikologis
Hubungan pasien dengan anggota keluarga lain baik dan saling
mendukung, serta hubungan dengan tetangga dan lingkungan sekitar
terjalin dengan baik pula.
3. Diagnosis Sosial
Pasien merupakan anggota masyarakat biasa, kurang berperan aktif
dalam kegiatan kemasyarakatan, hubungan dengan masyarakat baik,
status ekonomi menengah kebawah.

II. SARAN
Saran Komprehensif
1. Promotif
Edukasi penderita dan keluarga mengenai pola hidup yang baik dan
kriteria rumah yang memenuhi syarat kesehatan.Edukasi penderita dan
keluarga mengenai penyakit tuberkulosis, penularan, pengobatan dan
komplikasinya.
2. Preventif
Melakukan pola hidup sehat, tidak membuang dahak di sembarang
tempat, menutup mulut ketika batuk, memakai masker, membersihkan
rumah dan menjaga pencahayaan rumah agar tidak lembab.
3. Kuratif
Assesment TB Paru:
Kategori-2(2RHZES/1RHZE/5R3H3E3)
a. Rifampisin . 10 mg/ kg BB, maksimal 600mg 2-3X/ minggu atau

27
BB > 60 kg : 600 mg
BB 40-60 kg : 450 mg
BB < 40 kg : 300 mg
Dosis intermiten 600 mg / kali
b. INH 5 mg/kg BB, maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 Xseminggu, 15
mg/kg BB 2 X semingggu atau 300 mg/hariuntuk dewasa. lntermiten :
600 mg / kali
c. Pirazinamid : fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3
Xsemingggu,50 mg /kg BB 2 X semingggu atau :
BB > 60 kg : 1500 mg
BB 40-60 kg : 1 000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
d. Etambutol : fase intensif 20mg /kg BB, fase lanjutan 15 mg/kg BB,
30mg/kg BB 3X seminggu, 45 mg/kg BB 2 Xseminggu atau :
BB >60kg : 1500 mg
BB 40 -60 kg : 1000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/ kali
Assesment DM tipe 2
- Sansulin 20 unit/ 8 jam
4. Rehabilitatif
a. Makan makanan dengan gizi seimbang.
b. Minum obat teratur
c. Berolahraga secara rutin dan teratur untuk mencegah terjadinya
komplikasi dari penyakit.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Zulkifli Amin, Asril Bahar. Tuberkulosis Paru. Dalam buku : Aru W. Sudoyo,
editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam. Jakarta : FKUI, 2007 : 988 – 993.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia . Tuberkulosis . Jakarta : PDPI, 2006.
3. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Jakarta : DepKes RI, 2007.
4. Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan WHO. Lembar Fakta
Tuberkulosis ; 2008.
5. Suradi . Diagnosis dan Pengobatan TB Paru . Dalam buku : Temu Ilmiah
Respirologi, Surakarta 24 – 25 Maret 2001.
6. Corwin, E.J . Patofisiologi . Jakarta : EGC ; 2009.
7. Daud Imanuel. Faktor-Faktor Penentu Kejadian Tuberkulosis Paru Pada
Penderita Anak Yang Pernah Berobat. Program Pascasarjana, Universitas
Nusa Cendana. 2011

29