Anda di halaman 1dari 18

CRITICAL BOOK REVIEW

PROFESI KEPENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU : HALIMATUSSAKDIAH, S.Pd., M.Hum.

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

AISYAH MINDO MAIBINA PELAWI

KRISTINA SNAGA

PUTRI LINDON SIHOMBING

TASYA ISNAINISYAH

MISVA MELTRI PURBA

ADITYA PUTRA SANJAYA

JURUSAN/PRIODI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNUVERSITAS NEGRI MEDAN

2019
DAFTAR ISI

Daftar Isi ..................................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………...

BAB II ISI BUKU…………………………………………………………………………….

BAB III PEMBAHASAN…………………………………………………………………….

A. EJAAN BAHASA IINDONESIA .........................................................................8

B. SISTEMATIKA PENULISAN 8

C. ISI MATERI……………………………………………………………………….

BAB IV KESIMPULAN………………………………………………………………………
BAB I

PENDAHULUAN

Critikal book review(CBR) yaitu Keterampilan penulis untuk dapat menguji kemampuan dalam
meringkas dan menganalisi sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis dengan buku yang
lain, mengenal dan memberi nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang dianalisis. Seringkali kita
bingung memilih buku referensi untuk kita baca dan pahami, terkadang kita hanya memilih satu buku
untuk dibaca tetapi hasilnya masih belum memuaskan misalnya dari segi analisis bahasa dan pembahasan.

Tujuan dari CBR adalah untuk Mengkritisi atau membandingkan sebuah buku tentang
kepemimpinan serta membandingkan dengan dua buku yang berbeda dengan topik yang sama. Yang
dibandingkan dalam buku tersebut yaitu kelengkapan pembahasannya, keterkaitan antar babnya, dan
kelemahan dan kelebihan pada buku-buku yang dianalisis. Manfaat dari CBR adalah untuk menambah
wawasan pengetahuan tentang profesi kependidikan, mempermudah pembaca mendapatkan inti dari
sebuah buku yang telah di lengkapi dengan ringkasan buku , pembahasan isi buku, serta kekurangan dan
kelebihan buku tersebut dan melatih Mahasiswa untuk merumuskan serta mengambil kesimpulan-
kesimpulan atas buku-buku yang dianalisis tersebut.

Adapun identitas buku yang akan direvew yaitu, judul buku “Estetika Profesi Keguruan dalam
Menunjang Keberhasilan Pembelajaran”. Dengan nama pengarang Angeline Sinaga, Dini Khirunnisa,
Eka Safitri, Marthin Daniel, Reivira Arafah, dan Syarif Maulana. Yang dterbitkan oleh jurusan fisika
prodi pendidikan fisika dik B tahun 2019.
BAB II

ISI BUKU

Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai induk
peraturan perundang-undangan pendidikan. Undang-undang ini mengatur pendidikan artinya segala
sesuatu bertalian dengan pendidikan tinggi ditentukan dalam undang-undang ini. Secara garis besarnya
ada empat cabang filsafat yaitu 1) Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang haikat segala sesuatu
yang terdapat dialami. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan yaitu: Manusia pada
hakikatnya adalah spiritual dan Manusia adalah organisme materi, 2) Epistemologi ialah filsafat yang
membahas tentang pengetahuan dan kebenaran, 3) Logika ialah filsafat yang membahas tentang cara
manusia berpikir dengan benar dan 4) Etika ialah filsafat yang menguraikan tentang perilaku manusia.
Layanan-layanan pendidikan terhadap anak didik harus pula dibuat bertingkat-tingkat agar pelajaran itu
dapat dipahami oleh anak-anak. Sebab pendidikan adalah perlakuan terhadap anak didik dan secara
psikologis perlakuan ini harus selaras mungkin dengan keadaan anak didik. Sosial mengacu pada
hubungan antar individu oleh karena itu pada diri individu perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup
peserta didik, begitu pula dengan budaya mempunyai aspek yang sama entingnya dengan sosial dimana
materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-
kegiatan mereka dan bentuk –bentuk yang dikerjakan juga budaya.

Sikap profesional dapat dibentuk. Asalkan orang tersebut ingin terus konsisten dalam bersikap juga
konsisten di pekerjaannya. Tidak ada ruginya menjadi seorang yang profesional. Justru kita mendapatkan
banyak keuntungan. Bekerja secara profesional adalah bekerja yang didasarkan pada keahlian, bukan
bekerja yang didasarkan kepada perintah saja. Contoh pekerjaan profesional adalah dokter, hakim, bidan,
arsitek, ahli teknik elektronika, ahli kecantikan, ahlipahat, petinju, pemain bola. Untuk menjadi pekerja
profesional, diperlukan belajar dengan tekun melalui learning by doing, keuletan, dan kesabaran.
Menjadi seorang professional tidak hanya memiki keahlian semata, namun juga harus memiliki sikap dan
perilaku yang baik dimana seorang professional harus bisa menempatkan dirinya di tempat dimana dia
bekerja.

Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat disebutkan sebagai berikut : Fasilitator,
Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan
belajar mengajar. Motivator, Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar
bergairah dan aktif belajar. Informator, Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata
pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum. Pembimbing, Peran guru yang tidak kalah pentingnya
dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah sebagai pembimbing. Korektor, Sebagai korektor
guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk. Inspirator, Sebagai inspirator guru harus
dapat membedakan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik. Organisator, Sebagai organisator adalah
sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini memiliki kegiatan pengelolaan
kegiataan akademik dan lain sebagainya. Inisator , Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur
ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam pengajaran. Demonstrator, Dalam interaksi edukatif, tidak
semua bahan pelajaran anak didik pahami. Pengelolaan kelas, Guru hendaknya dapat mengelola kelas
dengan baik karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima
bahan pelaaran dari guru. Mediator, Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup
tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik media non material maupun material.
Supervisor , Guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses
pengajaran. Evaluator, Guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memerikan
penilaian yang menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik.

Edwin Wandt dan Gerald W. Brown (1977): “Evaluation refer to the act or process to
determining the value of somthing.” Menurut devinisi ini, maka istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau
mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu pross untuk menentukan nilai dari sesuatu. Profesi
guru dalam evaluasi pembelajaran tidak terlepas bagaimana kondisi lingkungan belajar peserta
didik/mahasiswa.Kondisi lingkungan belajar baik secara internal dan eksternal sangat berpengaruh pada
proses belajar. Kondisi itu antara lain lingkungan fisik. Lingkungan fisik yang ada dalam proses dan di
sekitar proses pembelajaran memberi pengaruh bagi proses belajar. Kedua suasana emosional
siswa.Suasana emosional siswa akan memberi pengaruh dalam proses pembelajaran siswa. Hal ini bisa
dicermati ketika kondisi emosional siswa sedang labil maka proses belajarpun akan mengalami
gangguan.Ketiga lingkungan sosial.Lingkungan sosial yang berada di sekitar siswa juga turut
mempengaruhi bagaiman seorang siswa belajar.Kondisi-kondisi lingkungan belajar ini menjadi evaluasi
pembelajaran bagi peningkatan profesi guru dalam meningkatkan penerapan model pembelajaran di
dalam kelas.Evaluasi belajar yang muncul dari berbagai masalah baik masalah internal maupun eksternal
dalam pembelajaran.

Profesionalitas adalah sikap para anggota profesi yang benar-benar menguasai, sungguh-
sungguh kepada profesinya. Profesionalitas adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota
profesi pada profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat
melakukan tugas mereka. Profesionalitas guru dapat diukur dari seberapa banyak siswa yang diajarnya
mengerti, memiliki pengetahuan, pemahaman dan kompetensi dari materi yang diajarkan yang
ditunjukkan dari hasil evaluasi. Guru professional tidak hanya mengajar dengan mengejar terselesainya
materi pelajaran saja, melainkan harus dapat mewujudkan kompetensi siswa dariapa yang diajarkannya.
Adapun ciri-ciri guru yang berkarakter, diantaranya ialah :1) Mencintai anak-anak dengan segenap hati
merupakan modal yang harus dimiliki oleh seorang guru. Guru yang mencintai anak didiknya akan
berusaha mencintai anak didiknya dengan cara yang menyenangkan, 2) Memahami latar belakang social
budaya peserta didiknya. Guru yang berkarakter akan senantiasa memahami kebiasaan anak didik
berdasarkan latarbelakang social budaya mereka., 3) Mampu mengendalikan emosi dengan stabil. Saat
berhadapan dengan siswa-siswanya, seorang guru harusmampu mengendalikan emosi. Dengan sikap dan
perilaku yang beranekaragam yang ada pada masing-masing individu siswa tentu saja ini tantangan yang
besar dan berat yang harus dihadapi, 4) Guru harus bertutur kata yang baik, sopan dan tetap bersikap
ramah dalam membangun suasana kelas yang bersahabat penuh keakraban. Sebab sangat lahrugi bila
seorang guru memasang mukamasam, berkatakasar dan bersikap arogan di hadapan para murid-
muridnya., 5) Memiliki Jiwa Motivator. Guru yang baik memiliki daya motivasi yang tinggi. Dengan
memiliki jiwa motivator akan mampu mengarahkan anak didik kearah yang baik dan disenangi dan 6)
Guru mencintai profesinya. Memiliki rasa mencintai profesinya sebagai guru pun bias menjadi modal
dasar untuk mengerjakan tugasnya dengan penuh keseriusan, perhatian, mencurahkan keahliannya dengan
profesional dan intelektual. Serta guru dengan sikap seperti ini akan berusaha semaksimal mungkin
melakukan yang terbaik untuk murid-muridnya.

Ada lima tuntutan yang harus dipenuhi guru untuk menjadi profesional, yaitu: (1) mempunyai
komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam materi pelajaran yang
diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa,, (3) bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa
melalui berbagaievaluasi, (4) mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari
pengalamannya dan (5) merupakan bagian masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Seorang guru
harus memiliki sifat profesional, dengan ciri-ciri utama memiliki komitmen untuk bekerja keras, meiliki
rasa percaya diri yang baik, bias dipercaya dan menghargai orang lain. Salah satu hal yang amat penting
dari sifat professional adalah memiliki komitmen untuk bekerja keras untuk kemajuan sekolah. Ciri-ciri
orang memiliki komitmen bekerja dengan baik, menurut V. Murale, R Preetha, dan Juhi Singh Arora,
setidaknya memiliki tiga cirri utama, yakni: Sangat percaya terhadap tujuan-tujuan dan nilai-nilai
oragnisasi (dalam konteks ini adalah sekolah / madrasah), Memiliki keinginan yang kuat untuk
melaksanakan usaha-usaha yang sudah sangat dipertimbangkan untuk dan atas nama organisasi
(sekolah/madrasah), dan Memiliki keinginan yang kuat untuk terus bekerja dan menjadi bagian dari
organisasi (sekolah/madrasah).

Supervisi pendidikan adalah pembinaan berupa bimbingan yang diberikankepada guru untuk
meningkatkankemampuan guru tersebutdalambelajarmengajarsertamenciptakanpembelajaran yang
efektif. Sedangkan supervisor adalah orang yang memberikanarahankepada guru yang dalampembinaan.
Peningkatan kualitas pendidikan disekolah memerlukan pendidikan profesional dan sistematis dalam
mencapai sasarannya. Efektivitas kegiatan kependidikan di suatu sekolah dipengaruhi banyaknya variabel
(baik yang menyangkutaspek personal, operasional, maupun material) yang perlumen dapatkan
pembinaan dan pengembangan secara berkelanjutan. Proses pembinaan dan pengembangan keseluruhan
situasi merupakan kajian supervise pendidikan. Tujuan supervise pendidikan adalah memberikan layanan
dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas sehingga meningkatkan kualitas belajar
siswa. Tujuan supervise menurut Hariwung adalah sebagai pengendalian kualitas,
pengembanganprofesional dan untuk memotivasi guru. Supervisi sebagai pengendalian kualitas artinya,
kepalasekolahsebagai supervisor bertanggung jawab memonitor proses belajarmengajar di sekolah
dengan cara berkunjung kekelas, berkonsultasi dengan guru yang dapat diharapkan pendidikan
mampumenilai dan mengetahuikemampuansiswa. leh sebabitu, setiap kepala sekolah/madrasah harus
memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-
prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi akademik.

Guru adalah pendidik professional dengan tugas utam yaitu mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, meelatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalurpendidikan formal, pendidikandasar, pendidikan menengah. Beban kerja Guru untuk mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, dan/atau melatih. Guru bertanggung jawab menyelesaikan
tugasutama dan kewajiban sebagai pendidik sesuai dengan yang dibebankan kepadanya. Guru berwenang
memilih dan menentukan materi, strategi, metode, media pembelajaran/bimbingan dan alat
penilaian/evaluasi dalam melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan untuk mencapai hasil pendidikan
yang bermutu sesuai dengan kode etik profesi Guru. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan
Fungsional Guru dan Angka Kreditnya pada pasal 2, yang dimaksud jabatan fungsional Guru adalah
jabatan tingkat keahlian termasuk dalam rumpun pendidikan tingkat taman kanak-kanak, dasar, lanjutan,
dan sekolah khusus. Peningkatan profesional guru telah diatur dalam Undang-undang No. 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen. Bentuk peningkatan kemampuan profesional guru yang dimaksud adalah
Pendidikan guru minimal setara S1 atau D4. Guru berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional di
bidangpembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu pada jenjang pendidikanan usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikandasar, dan pendidikan menengah.Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dalamperaturanini, adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil.Jenjang
Jabatan Fungsional Guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi, yaitu: Guru Pertama, Guru
Muda, Guru Madya dan Guru Utama.
Kreativitas adalah sebuah karya yang harmonis dalam pembelajaran yang berdasarkan tiga aspek
cipta, rasa dan karsa yang akan menghasilkan sesuatu yang baru agar dapat membangkitkan dan
menanamkan kepercayaan diri siswa supaya dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Kreativitas guru
dapat diarahkan pada dua komponen pembelajaran di kelas, yaitu produk kreativitas dan hasil inovasi
yang mendukung manajemen kelas serta hasil kreativitas dan hasil inovasi dalam bentuk media
pembelajaran. Manajemen kelas adalah aktivitas guru dalam mengelola dinamika kelas,
mengorganisasikan sumber daya yang ada serta menyusun perencanaan aktifitas yang dilakukan di kelas
untuk diarahkan dalam proses pembelajaran yang baik. Dalam hal manajemen kelas, kreativitas guru
dalam manajemen kelas diarahkan untuk Membantu siswa di kelas dapat belajar secara kolaboratif dan
kooperatif, dan Menciptakan lingkungan akademik yang kondusif dalam proses belajar. Media belajar
adalah alat atau benda yang dapat mendukung proses pembelajaran di kelas. Fungsi Media Belajar (1)
membantu siswa dalam memahami konsep abstrak yang diajarkan, (2) meningkatkan motivasi siswa
dalam belajar, (3) Mengurangi terjadinya misunderstanding, (4) Memotivasi guru untuk mengembangkan
pengetahuan. Dalam hal media belajar, kreativitas guru dalam media belajar diarahkan untuk Mereduksi
hal-hal yang terlalu abstrak dalam materi belajar dan Membantu siswa mengintegrasikan materi belajar
ke dalam situasi yang nyata. Pekerjaan dan tanggung jawab guru sebagai pendidik adalah pekerjaan
professional, dalam arti seorang guru harus benar-benar konsekuen, bertanggung jawab penuh terhadap
tugas yang diemban, menguasai bahan yang akan diajarkan, sehingga sebagai guru memiliki wibawa
akademis di depan kelas dengan anak didik dan masyarakat di mana ia berada.

Seorang guru yang bijak dapat mendongkrak kualitas pembelajaran dari pembelajaran yang
biasa-biasa saja menjadi pembelajaran yang luar biasa, aktif, kreatif, menarik dan menyenangkan,
sehingga menimbulkan motivasi belajar bagi peserta didik. Ada beberapa cara yang sangat efektif untuk
mendongkrak kualitas pembelajaran yaitu: Mengembangkan Kecerdasan Emosional , Mengembangkan
Kreativitas (Creativiy Quotion), Mendisiplinkan Peserta Didik dengan ksih saying, Membangkitkan
Gairah Belajar dan Mendayagunakan Sumber Belajar.

Secara definitive, administrasi dapat diartikan secara sempit dan luas. Dalam arti sempit,
administrasi dapa diartikan sebagai keseluruhan pencatatan secara tertulis dan penyusunan secara
sistematis dari keterangan-keterangan yang ada dengan tujuan agar mudah memperoleh ikhisarnya secara
menyeluruh. Dengan kata lain dalam arti sempit administrasi itu tidak lebih daripada sekedar serangkaian
aktivitas menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim, dan menyimpan keterangan-
keterangan yang diperlukan dalam setiap kerjasama. Dalam arti luas administrasi bukan sekedar
ketatausahaan. Ketatausahaan itu sebenarnya hanya sebagian kecil dari administrasi. Administrasi adalah
upaya mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan orang-orang dalam suatu pola
kerjasama. Efektif dalam arti hasil yang dicapai upaya itu sama dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Sedangkan efisien berhubungan dengan penggunaan sumber dana, daya dan waktu yang ekonomis. Pada
dasarnya yang menjadi perhatian administrasi adalah tujuan, manusia, sumber dan juga waktu. Apabila
keempat unsur tersebut digabung dan dilihat dari bentuk dan perilakunya, maka akan menampakkan
dirinya sebagai suatu satuan social tertentu yang sering disebut dengan organisasi. Dan dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa administrasi itu adalah subsistem dari organisasi itu sendiri yang unsur-
unsurnya terdiri atas unsur organisasi yaitu tujuan, orang-orang, sumber dan waktu.

Bimbingan dan konseling (guidance and counseling) merupakan upaya yang dilakukan seseorang
(pembimbing)untuk membantu mengoptimalkan individu. Bimbingan merupakan bagian dari program
pendidikan secara keseluruhan yang membantu mengembangkan kesempatan yang dimiliki individu dan
pemberian layanan secara khusus dimana layanan yang diberikan setiap individu dapat berkem bang
secara optimal melalui kemampuan dan kapasitas secara bebas. Layanan bimbingan dan konseling
merupakan bantuan yang diberikan kepada seseorang atau individu agar individu yang bersangkutan
dapat mencapai taraf perkembangan dan kebahagiaan yang optimal dalam menjalani proses pemahaman,
penerimaan, dan penyesuaian diri dan lingkungan di mana ia berada.Landasan pada bimbingan dan
konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan
khususnya oleh para konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan
konseling. Ibarat sebuah banguna untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan pondasi yang
kuat dan tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak kokoh, maka bangunan tersebut tidak memiliki
fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah dan roboh. Demikian pula dengan layanan
bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari pada oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan
mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan itu sendiri yang menjadi taruhannya adalah
individu yang dilayani (klien). Menurut Winkel (1991) landasan-landasan itu adalah sebagai berikut.
Bimbingan selalu memperhatikan perkembangan siswa sebagai indvidu yang mandiri dan mempunyai
potensi untuk berkembang, Bimbingan berkisar pada dunia subjektif masing-masing individu, Kegiatan
bimbingan dilaksanakan atas dasar kesepatakan antara pembimbing dengan yang dibimbing. Bimbingan
berlandaskan pengakuan akan martabat dan keluhan individu yang dibimbing sebagai manusia yang
mempunyai hak-hak asasi (human rights), Bimbingan adalah suatu kegiatan yang bersifat ilmiah yang
mengintegrasikan bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan pemberian bantuan psikologis.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Ejaan bahasa Indonesia


 Pada halaman 10 paragraf ke 3 baris ke 2 kalimat “.....terdapat dialamini.” kata dialamini
seharusnya diubah menjadi dialami.
 Pada halaman 8 baris ke 8 kata kwajiban seharusnya diubah menjadi kewajiban.
 Pada halaman 9 paragraf ke 2 baris ke 7 kata sbagai seharusnya diubah menjadi sebagai.

Dan berdasarkan ejaan bahasa Indonesia yang benar tentu kata-kata di atas adalah salah dan harus
diperbaiki.

 Pada bab 3 terdapat penulisan kata yang salah pada paragraf pertama baris ke 5 halaman 25 yaitu
kata minim seharusnya ditulis minum.
 Pada bab 3 erdapat penulisan nama orang yang salah masih pada halaman 25 paragraf pertama,
yaitu ornstein dan levine seharusnya setiap nama orang diawali oleh huruf kapital.
 Pada bab 3 Pada paragraf kedua baris pertama halaman 28 terdapat kesalahan penulisan yaitu
berfikir. Seharusnya ditulis berpikir ( sesuai KBBI )
 Pada bab 3 Kalimat “umumnya guru didefenisikan secara fungsional” kata didefenisikan seharus
nya diubah menjadi didefinisikan
 Pada bab 3 Kalimat “pendidikan sampai pada uasaha peningkatan mutu tenaga kependidikan”
kata uasaha seharusnya diubah menjadi usaha
 Pada bab 3 Kalimat “social maupun professional,” kata social seharusnya ditulis sosial dan
professional ditulis dengan profesional.
 Pada bab 3 Dan masih banyak kata-kata yang mengalami salah ketik seperti prbuatan harusnya
perbuatan, terpiji harusnya terpuji, hokum seharusnya hukum, kde harusnya kode, nelakang
harusnya belakang,
 Pada bab 4 dalam halaman 58 pada kalimat “Menurut devinisi ini” kata devinisi seharusnya
dituliskan dengan definisi.
 Pada bab 4 dalam halaman 62 pada kalimat “motivasi intrinsic” kata intrinsic seharusnya
dituliskan dengan intrisik.
 Dan pada bab 4 masih banyak kata – kata yang mengalami salah ketik seperti pross seharusnya
proses atau kata professional seharusnya profesional.
 Pada buku ini penulis sering menggunakn huruf kapital ditengah kata dalam kalimat contohnya
pada halaman 96 sub judul kedua paragraf pertama baris ke 7 yakni “.Jadi Profesional adalah .....”.
Dimana kata Profesi seharusnya tidak menggunakan huruf kapital pada huruuf p nya.
 Pada point ke 4 dalam halaman 103 terdapat kata yang salah dalam ejaannya yaitu “...sangat
lahrugi”. Dimana penulis menuliskan kata “lah” diawal kata rugi, seharusnya kata “lah” diakhir
kata sangat.
 Pada point ke 5 dalam halaman 104 terdapat kata yang salah dalam ejaannya yaitu “...menjadi
pribad ...” . Dimana penulis menuliskan kata pribad yang seharusnya pribadi.
 Pada point ke 5 dalam halaman 104 terdapat kata yang salah dalam ejaannya yaitu “,tanggung
jawab...”. Dimana seharusnya penulis mengubah kata tanggung jawab menjadi bertanggung jawab
agar sesuai dengan kata sesudahnya.
 Pada halaman ke 112 paragraf pertama dalam sub kedua terdapat kata “..diaerada”. seharusnya
penulis menggatinya dengan dia berada.
 Pada halaman ke 119 pada paragraf baru sub judul baru penulis ada menuliskan “...meiliki rasa..”
yang mana seharusnya memiliki rasa.
 Pada bab 8 halaman 133 ada kalimat “mengenal dan menganalisis supervise pendidikan” kata
supervise seharusnya dituliskan supervisi.
 Pada bab 8 halaman 134 ada kalimat “Ada tiga unsure penting yang harus diperhatikan tentang
supervise pendidikan” kata unsure seharusnya dituliskan unsur.
 Pada bab 8 dalam halaman 147 pada kalimat “serta krativitas peserta didik terhambat, dan
sebagainya” kata krativitas seharusnya dituliskan dengan kretivitas .
 Pada bab 8 dalam halaman 147 pada kalimat “tidak bias brpikir bebas, suasana menjadi tidak
nyaman,” kata brpikir seharusnya dituliskan dengan berpikir.
 Dan pada bab 8 masih banyak kata – kata yang mengalami salah ketik seperti pross seharusnya
proses atau kata professional seharusnya profesional.
 Pada bab 9 banyak penulisan kata yang salah termasuk dalam penulisan kreativitas contohnya
pada kalimat “Kreatifitas adalah orisinalitas” kata kreatifitas seharusnya di ubah menjadi
kreativitas, dan masih banyak lagi penulisan kreativitas yang salah bukan hanya pada kalimat itu
aja.
 Pada bab 9 kalimat “Manajemen kelas adalah aktifitas guru dalam mengelola dinamika kelas” kata
aktifitas seharusnya di ubah menjadi aktivitas.
 Pada bab 9 kalimat “Pekerjaan dan tanggung jawab guru sebagai pendidik adalah pekerjaan
professional” kata professional seharusnya di ubah menjadi profesional.
 Pada bab 9 kalimat “terutama sekolah yang siswanya banyak berasal dari lapisan masyarakat
margin proses pembelajarannya disetting yang kreatif inovavatif mampu beradaptasi berbagai
macam situasi” kata inovavatif seharusnya diubah menjadi inovatif.
 Pada bab 9 kalimat “ Mendisain pembelajaran oleh “guru kreator” yang dapat menumbuhsuburkan
kreativitas dan inovasi pembelajaran dengan analisis dan evaluasi untuk penyempurnaan disain
berikutnya” kata mendisain dan disain seharusnya diubah menjadi mendesain dan desain.
 Pada bab 9 kalimat “Baik guru maupun siswa diharapkan mampu memnghindari ketegangan
sebaliknya nikmati situasi dan kondisi pembelajaran menuju tercapainya kompetensi siswa sesuai
KTSP.” Kata memnghindari seharusnya diubah menjadi menghindari.
 Pada bab 9 kalimat “(3) Mengurangi terjadinya misunderstanding,” seharusnya dibuat dulu
terjemahannya stelah itu dalam kurung misunderstanding.
 Pada halaman 170 paragraf pertama terdapat kesalahan penulisan kata kewibwaan seharusnya
ditulis menjadi kewibawaan
 Pada halaman 170 paragraf kedua juga terdapat kesalahan penulisan kata Karena, seharusnya tidak
diawali huruf kapital karena tidak merupakan awal kalimat.
 Pada bab 11 halaman 172 ada kalimat “agar mudah memperoleh ikhisarnya secara menyeluruh”
kata ikhisar seharusnya dituliskan ikhtisar.
 Pada bab 11 halaman 173 ada kalimat “suatu satuan social tertentu” kata social seharusnya
dituliskan sosial.
 Pada bab 12 halaman 221 ada kalimat “Adalah benar bahwa guru perlu mempelajari bagaimana
sebaiknya memeberi dan mendalami tori konseling itu memerlukan waktu.” Kata memeberi
seharusnya memberi dan tori seharusnya teori.
 Pada bab 12 halaman 198 ada kalimat “ bimbingan adalah proses memberikan bantuan kepada
konseli dalam hal pencegahan.” Kata konseli seharusnya konseling.
 Pada bab 12 halaman 220 ada kalimat “ guru itu akan menemukan bahwa proses belajar itu lebuh
efektif” kata lebuh seharusnya lebih.
 Pada bab 12 halaman 220 ada kalimat “ Apabila hal tersebut telah disadari oleh guru maka mereka
akan menemukan bahwa pendekatan konseling akan meningkatkan efektifitas mengajar.” Kata
efektifitas seharusnya efektivitas.

B. Sitematika penulisan
 Sebenarnya hampir seluruh isi bab I ini dalam setiap kata per kata tidak terdapat penambahan
spasi, misalnya pada paragraf pertama baris pertama dan kedua dengan kalimat Undang-
Undang Dasar 1945 adalahmerupakanhukumtertinggi di Indonesia.
 Pada bab 1 Kalimat di atas juga mengandung pemborosan yaitu setelah kata adalah terdapat
kata merupakan.
 Pada bab 1 Seharusnya pada subjudul Landasan Hukum merupakan bagian B, pada buku
tersebut hanya dituliskan bagian 1, sehingga tidak sistematis.
 Pada bab 1 Selain itu juga terdapat kurangnya tanda baca petik pada pargraf kedua dengan
kalimat ....pasal ini berbunyi: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
system pendidikan nasional. Seharusnya setelah kata nasional . dibubuhkan tanda petik (“)
untuk mengakhiri kalimat yang dimaksud.
 Pada bab 1 Selain daripada di atas, sistematika penulisan pada bab I ini tergolong tidak rapi,
disebabkan jarak spasi yang terlalu lebar dan bahkan tidak terdapat spasi yang memisahkan kata
per kata.
 Pada bab 2 hampir sebagian teks, terdapat kesalahan EBI yaitu .......terhadap
kerja.Kalaupandangan dan sikapitu,.... setelah tanda titik seharusnya terdapat spasi, dan
setiap kata juga terdapat spasi sebagai pemisah antar kata, agar pembaca mudah alam
membacanya.
 Pada bab 3 di halaman 38 kalimat “(mata pencariannya)mengajar.” Seharunya setelah ada tanda
kurung diberikan spasi untuk kata selanjutnya.
 Pada bab 3 di halaman 38 kalimat “dapat dipisahkan dari kehidupan,sifatnya”. Seharusnya setelah
ada tanda koma diberikan spasi untuk kata selanjutnya.
 Pada bab 3 di halaman 38 kalimat “maupun bangsa dan negara.Untuk”. Seharusnya setelah ada
tanda titik diberikan spasi untuk kata selanjutnya.
 Pada bab 3 di halaman 40 kalimat “diangkatuntukmenunjang”. Seharusnya diberikan spasi antara
kata per kata.
 Pada bab 3 bagian sub judul kompetensi guru warna huruf dengan huruf yang lainnya berbeda,
atau dapat dikatakan memiliki warna yang kurang terang.
 Pada bab 4 semua kalimat yang diakhiri dengan tanda titik tidak diberikan spasi sehingga tulisan
kelihatan rapat setelah diakhiri dengan tanda titik.
 Pada bab 4 di halaman 65 pada bagian isi evaluasi hasil tes belajar dituliskan dengan Evaluasi
Tes Hasil Belajar, harusnya cukup huruf pertama pada kata evaluasi yang diberi huruf capital.
 Pada bab 4 di halaman 72 ada kalimat Tes Evaluasi Pembelajaran yang bercetak tebal. Hal ini
berbeda dengan kalimat-kalimat yang ada di atasnya dan penulisan kalimat ini tentu saja salah,
 Pada bab 4 penomoran pada halaman 74 tidak rapi, nomor 1 diletakkan di tengah sedangkan no 2
samapai no seterusnya diletakkan di sebelah kiri paling ujung.
 Sebenarnya hampir seluruh isi bab V ini dalam setiap kata per kata tidak terdapat penambahan
spasi, misalnya pada paragraf pertama baris pertama dengan kalimat
“Profesionalmenunjukkepadaduahal. Pertama, orang yang menyandangsuatuprofesi. Jika orang”.
 Pada ba 5 dalam sub judul bagian D terdapat pembahasan ciri ciri guru yang berkarakter, penulis
tidak konsisiten dalam sisitematika penulisan dimana pada bagian 1 dan 6 penulis menyajikan
judul/topik permasalahnya sedangkan pada ponit 2-5 penulis langsung membahas ketopik tanpa
ada kunci permasalah sepeerrti pada poit 1 dan 6.
 Pada ba 5 dalam sub judul pertama penulis tidak konsisiten dalam penulisan profesional karena
terkadang penulis menebalkan dan mengawali kata perofesional dengan huruf kapital tetapi
terkadang hanya mengawali denngan huruf kapital saja.
 Sebenarnya hampir seluruh isi bab VI ini dalam setiap kata per kata tidak terdapat penambahan
spasi, misalnya pada paragraf pertama baris pertama dengan kalimat “Guru adalahprofesimulia
yang selaludibutuhkansampaiakhir zaman. Akronim “digugu dan ditiru”......”.
 Pada bab 6 penulis menerangkan bahwa ada lima unsur yang harus dipenuhui oleh guru agar
profesional , penulisan yang dilakukan penulis tidaklah sistematis dimana penulis tidak
menggunakan awalan kapital pada setiap awalan kalimat baru.
 Pada bab 7 sistem penomoran ada penomoran yang salah seperti sudah menggunakan huruf kecil
lalu untuk sub topic selanjutnya menggunakan huruf besar.
 Pada bab 7 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda titik. untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 7 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda koma untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 7 Ada beberapa kata di tengah-tengah kalimat menggunakan huruf capital, padahal
kata tersebut seharusnya tidak memakai huruf capital.
 Pada bab 8 semua kalimat yang diakhiri dengan tanda titik tidak diberikan spasi sehingga tulisan
kelihatan rapat setelah diakhiri dengan tanda titik.
 Pada bab 8 di halaman 147 pada bagian isi evaluasi dituliskan dengan EVALUASI, harusnya
cukup huruf pertama pada kata ‘e’ yang diberi huruf kapital.
 Pada bab 8 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda koma untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 8 dalam terbentuknya satu kalimat, banyak kata antar kata yang terbentuk yang tidak di
bubuhkan dengan spasi, sehingga pembaca sulit untuk memahami suatu kalimat. Krena sudah
telalu banyaknya kata yang disambung dengan kata berikutnya.
 Pada bab 9 halaman 150 kalimat “Dengan demikian peluang untuk mengatasi
ketidakseimbangan tersebut secara kreatif terbuka bagi semua orang.” Seharusnya 1 kali spasi
saja tidak perlu 2 kali atau lebih dari 2 kali spasi, dan bukan pada kalimat itu saja tapi masih ada
lagi.
 Pada bab 9 halaman 149 kalimat “ yang dinamakan oleh Torrance dan Goff (1990) sebagai
kreativitas akademik (academic creativity), Kreativitas akademik ini menjelaskan cara berpikir
guru atau siswa dalam belajar dan memproduksi informasi.” Seharusnya setelah tanda koma
tidak harus diawali dengan huruf besar kecuali nama pahlawan atau yang lainnya.
 Pada bab 10 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda titik. untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 10 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda koma untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 10 tidak berbeda dari bab- bab sebelumnya, sistematika penulisan pada baab X juga
tidak rapi, terdapat hampir seluruh isi bab X tidak terdapat pemisahan (spasi) antar kata,
sehingga berhimpitan
 Pada bab 11 sistem penomoran ada penomoran yang salah seperti sudah menggunakan huruf i
lalu untuk sub topic selanjutnya menggunakan huruf G.
 Pada bab 11 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda titik. untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 11 beberapa kalimat yang diakhiri dengan tanda koma untuk melanjutkan kalimat
selanjutnya tidak diberikan tanda spasi.
 Pada bab 11 ada beberapa kata di tengah-tengah kalimat menggunakan huruf capital, padahal
kata tersebut seharusnya tidak memakai huruf capital.
 Pada beberapa kalimat yang diakhiri tanda titik (.) untuk melanjutkan kalimat selanjutnya tidak
diberikan tanda spasi.
 Dalam terbentuknya satu kalimat, banyak kata antar kata yang terbentuk yang tidak di bubuhkan
dengan spasi, sehingga pembaca sulit untuk memahami suatu kalimat. Krena sudah telalu
banyaknya kata yang disambung dengan kata berikutnya.
 Pada beberapa kalimat yang diakhiri tanda koma (,) untuk melanjutkan kalimat selanjutnya tidak
diberikan tanda spasi.
 Pada bab 12 dalam penulisan sub judul contohnya “I. Rangkuman” pada halaman 222 sub
judul tersebut tidak dilanjut ke halaman berikutnya, penulis tetap meletakkannya di akhir
halaman.
 Pada bab 12 ada beberapa kata yang tidak diberikatan kata penghubung contohnya ideide.
 Pada bab 12 ada kata yang di spasikan padahal sebenarnya dia digabungkan contonya “priba di”
menurut saya ini adalah termasuk sistematika penulisan yang salah.

C. Isi materi
 Menurut bab 1 terdapat beberapa landasan-landasan profesi kependidikan diantaranya landasan
hukum, landasan filsafat, landasan psikolog, dan landasan sosial budaya yang mana keempat
landasan tersebut saling berhubungan dalam profesi kependidikan. Sementara bila dibandingkan
dengan buku Landasan Sosial Budaya dan Psikologis Pendidikan karangan Nur Hidayah dan Adi
Atmoko hanya membahas dua landasan saja. Sehingga dapat dikatakan buku utama lebih lengkap
isinya dibandingkan dengan buku pembanding.
 Pada bab 2 judul besar termuat Pekerjaan, Profesi, Etika, namun dalam pemaparan buku bab II ini
tidak ada menjelaskan tentang Etika, hanya menjelaskan hakekat dan makna kerja, dan profesional
kerja
 Pada bab 2 penjelasan tentang menjadi seseorang yang profesional, hanya menjelaskan ciri-ciri
dan syarat untuk menjadi profesional, namun tidak dipaparkan bagaimana cara pengembangan
sikap profesional tersebut.
 Menurut buku ini syarat guru secara umum adalah : memiliki akhlak yang mulia, memiliki
kewibawaan, memiliki kesabaran dan ketekunan serta mencintai peserta didik. Akan tetapi
berdasarkan buku profesi keguruan oleh Latifah Husien, S.Pd syarat guru secara umu adalah
sehat jasmani dan rohani, takwa kepada Allah SWT, berilmu pengetahuan yang luas, berlaku adil,
berwibawa, ikhlas, mempunyai tujuan yang rabbani, mampu merencanakan dan melaksanakan
evaluasi pendidikan, dan menguasai bidang yang ditekuni. Oleh karena itu apa yang dipaparkan
buku ini mengenai syarat guru secara umum dapat dikatakan kurang lengkap.
 Pada buku ini tidak mengatakan bahwa ada syarat-syarat atau karakteristik yang dapat
menjadikan seorang guru itu menjadi guru yang profesional.
 Pada bab 3 ada menyinggung mengenai kode etik guru, akan tetapi itu tida dibahas secara detail.
Padahal kode etik itu penting untuk diketahui, seperti pada buku proesi keguruan oleh Latifah
Husien, S.Pd kode etik guru adalah cara guru untuk menunjukkan perbuatan yang beradap sebagau
pendidik dengan aturan-aturan susila yang ada.
 Pada bab 4 bagian judul bab membahas tentang profesi guru dan evaluasi, sementara isi bab ini
hanya menjelaskan tentang evaluasi yang dilakukan oleh profesi guru. Dapat disimpulkan judul
bab dengan isi bab kurang relevan.
 Pada bab 4 tentang masalah eksternal yang dihadapi siswa kurang lengkap buku ini hanya
membahas maslaah eksternal siswa yang berasal dari guru ataupun dari sekolah. Pada buku profesi
kependidikan oleh Prof. Dr. Sudarwan Danim masalah eksternal siswa juga dapat berasal dari
rumah atau keluarga seperti kebersihan rumah, lingkungan sosial yang kurang mendukung,
ataupun udara yang sedang panas. Hal ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa.
 Pada bab 5 ini penulis mengambil judul profesionalitas guru berbasisi keunggulan dan karakter
tetapi punilis tidak menyajikan materi materi yang terkait dengan profesionalitas guru berbasisi
keunggulan. Dan pada penjelasan berbasisi karakter disini seharusnya penulis lebih fokus ke peran
guru bukan peran pendidik, karena sperti yang kita ketahui pendidik bukan hanya guru.
 Pada bab 6 penulis mengambil judul Membangun guru profesional berwatak paripurna. Tetapi
cakupan isi dari materi ini tidaklah sesuia seutuhnya dnegan judulnya, dimana penulis hanya
terfokus terhadap kata profesional guru, penulis hanya berfokus menjelaskan pengertian , unsur
yang harus dipenuhui oleh guru yang profesional. Sementara penjelasan mengenai profesional
telah dibahas oleh bab sebelumnya.
 Pada bab 7 tidak mengatakan bahwa ada syarat atau karakteristik dari supervisi pendidikan
tersebut.
 Pada bab 7 tidak memberikan contoh dari supervisi pendidikan tersebut, seharusnya dengan
memberikan contoh pembaca dapat lebih memahami administrasi pendidikan.
 Pada bab 8 bagian judul bab membahas tentang cakrawala baru dalam jabatan fungsional guru,
sementara isi bab ini hanya menjelaskan tentang tanggung jawab yang dilakukan oleh profesi
guru. Dapat disimpulkan judul bab dengan isi bab kurang relevan.
 Pada bab 8 membahas jabatan fungsional kurang lengkap karena tidak mencantumkan peranan
jabatan fungsional guru yang sangat bermanfaat untuk dibahas.
 Pada bab 9 tidak mengatakan bahwa ada syarat atau karakteristik yang dapat menjadikan seorang
guru itu menjadi guru yang kreativitas.
 Pada bab 9 tidak ada dicantumkan bagaimana supaya guru itu menyenangkan saat mengajar anak
didiknya.
 Dalam bab 10 memaparkan bagaimana cara membangkitkan kecerdasan emosional,
mengembangkan kreativitas pembelajaran, mendisipinkan peserta didik dengan kasih sayang,
membangkitkan gairah belajar, lalu memberdayakan sumber belajar yang secara
berkesinambungan menjelaskan satu per satu
 Pada bab 11 mendefinisikan administrasi itu merupakan pelayanan atau pengabdian terhadap
subjek tertentu, akan tetapi pada buku profesi kependidikan oleh Prof. Dr. Sudarwan Darmin
mengatakan bahwa administrasi adalah tata usaha atau tata laksana.
 Pada bab 11 tidak membahas bahwa administrasi merupakan manajemen pendidikan.
 Pada bab 11 tidak memberikan contoh dari administrasi pendidikan tersebut, seharusnya dengan
memberikan contoh pembaca dapat lebih memahami administrasi pendidikan.
 Pada bab 12 materi yang dibahas sudah relevan dengan judul babnya.

BAB IV
KESIMPULAN

 Pada bab 1 tentang “Landasan Profesi Kependidikn” materi yang diberikan penulis sudah dapat
dikatakan lengkap. Karena bila dibandingkan dengan buku kedua yang pembahasannya tidak
begitu lengkap hanya memaparkan dua landasan saja. Sehingga para pembaca dapat memilih
buku utama untuk dibaca dan dipelajari.
 Pada bab 2 Pekerjaan, Profesi, Etika, juga terdapat kesalahan-kesalahan baik dalam EBI,
sistematika penulisan, dan isi materinya juga tidak sesuai dengan judul besarnya, karena tidak
adanya pemaparan tentang etika kerja ( sesuai dengan judul besar ) hanya memaparkan makna
dan hakekat kerja serta ciri0ciri dan syarat untuk menjadi profesional. Buku tersebut juga tidak
ada membahas mengenai pengembangan sikap profesional tersebut, yang jika bila dibandingkan
dengan buku Profesi Kependidikan karangan Yasaratodo Wau terdapat pemaparan selain
pengertian sikap profesional juga membahas sasaran sikap profesional dan pengembangan sikap
profesional tersebut. Sehingga dalam pemaparan isi bab II ini dikatakan tidak lengkap.
 Pada bab 3 tentang “Guru Sebagai Profesi” materi yang diberikan penulis kurang lengkap.
Seharusnya penulis menambahkan guru yang profesional itu seperti apa karena pada bagian
syarat guru secara umum penulis menuliskan syarat-syarat secara umum akan tetapi tidak
menuliskan syarat guru secara profesional atau bagaimana karakteristik guru yang profesional.
Dengan ada nya topic dengan guru pada umumnya dan guru yang profesional mungkin pembaca
akan lebih tertarik membacanya.
 Pada bab 4 “Profesi Guru dan Evaluasi” materi yang dibahas kurang relevan dengan judul yang
diberikan penulis. Pada isi materi hanya membahas tentang evaluasi yang dilakukan guru tidak
ada membahas tentang profesi guru secara detail. Seharusnya judul yang digunakan adalah
evaluasi yang dilakukan profesi guru. Sistematika penulisan pada bab ini juga kurang bagus
dimana banyak sekali kalimat-kalimat yang sudah diakhiri dengan tanda titik seharusnya diberi
tanda spasi.
 .
 .
 Pada 7 bab “Supervisi Pendidikan dalam Profesi Keguruan” materi yang dibahas sudah cukup
lengkap dimana penulis mengklasifikasikan prinsip, tujuan dan penerapan dari supervise
pendidikan tersebut. Sistematika penulisan kalimat juga sudah baik walaupun masih ada kata-kata
yang salah ketik.
 Pada bab 8 “Cakrawala Baru Dalam Jabatan Fungsional Guru” materi yang dibahas kurang
relevan dengan judul yang diberikan penulis. Pada isi materi hanya membahas tentang jabatan
dan tanggung jawab yang dilakukan guru tidak ada membahas ruang lingkup baru mengenai
kefungsionalan guru guru secara detail. Sistematika penulisan pada bab ini juga kurang bagus
dimana banyak sekali kalimat-kalimat yang sudah diakhiri dengan tanda titik seharusnya diberi
tanda spasi.
 Pada bab 9 tentang “ Menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan” materi yang
diberikan penulis kurang lengkap. Seharusnya penulis mencantumkan juga syarat-syarat atau
karakteristik guru yang kreativitas itu bagaimana dan menjadi guru yang menyenangkan saat
mengajar itu bagaimana. Dengan adanya topik ini pada umumnya, orang banyak akan tertarik
membacanya termasuk guru yang ingin menjadi guru yang kreativitas dan guru yang
menyenangkan bagi siswanya.
 Pada bab 10 “Mendongkrak Kualitas Pembelajaran” materi yang dibahas sudah cukup lengkap
dimana penulis mengklasifikasikan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara untuk
mendongkrak semangat peserta didik dalam kualitas pembelajaran tersebut, walaupun masih
terdapat kekurangan dalam bentuk kesalahan sistematika penulisan kalimat dan kesalahn dalam
EBI.
 Pada bab 11 “Mendongkrak Kualitas Pembelajaran” materi yang dibahas sudah cukup lengkap
dimana penulis mengklasifikasikan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara untuk
mendongkrak semangat peserta didik dalam kualitas pembelajaran tersebut, walaupun masih
terdapat kekurangan dalam bentuk kesalahan sistematika penulisan kalimat dan kesalahn dalam
EBI.
 Pada bab 12 “ Bimbingan dan Konseling “ materi yang dibahas sudah cukup lengkap dimana
penulis juga mencantumkan azas-azas dan kode etiknya. Namun dalam ejaan bahasa Indonesia
dan sistematika penulisannya banyak yang kurang dan perlu diperhatikan penulis juga, karena
banyaknya kesalahan penulisan membuat pembaca buku tersebut susah memahami maksud dari
kalimat antar kalimat atau kata antar kata.
 Pada bab 3 tentang “Guru Sebagai Profesi” materi yang diberikan penulis kurang lengkap.
Seharusnya penulis menambahkan guru yang profesional itu seperti apa karena pada bagian
syarat guru secara umum penulis menuliskan syarat-syarat secara umum akan tetapi tidak
menuliskan syarat guru secara profesional atau bagaimana karakteristik guru yang profesional.
Dengan ada nya topic dengan guru pada umumnya dan guru yang profesional mungkin pembaca
akan lebih tertarik membacanya.
 Pada bab 4 “Profesi Guru dan Evaluasi” materi yang dibahas kurang relevan dengan judul yang
diberikan penulis. Pada isi materi hanya membahas tentang evaluasi yang dilakukan guru tidak
ada membahas tentang profesi guru secara detail. Seharusnya judul yang digunakan adalah
evaluasi yang dilakukan profesi guru. Sistematika penulisan pada bab ini juga kurang bagus
dimana banyak sekali kalimat-kalimat yang sudah diakhiri dengan tanda titik seharusnya diberi
tanda spasi.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayah, Nur. 2014. Landaan Sosial Budaya dan Psikologis Pendidikan. Malang : Gunung
Samudera.

Wau, Yasaratodo. 2018. Profesi Kependidikan. Medan : Unimed.

https://www.wikipedia.org

Dakir, (2004), Perencanaan dan Pengembagan Kurikulum, Jakarta: Asdi Mahasatya

M. Arifin, (1997), Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya.


Soetjipto, dan Kosasi. R, (2011). Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta

Sumarto. (2017). Bimbingan dan Konseling. Jambi: Pustaka Ma’arif Press