Anda di halaman 1dari 15

LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

MASTITIS PADA MASA NIFAS

Telah disetujui hasil referat untuk memenuhi persyaratan


Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang

Maret 2019
Pembimbing

dr. Sutoko Andrianto, Sp. OG

Mengetahui,
SMF Ilmu Kandungan dan Ginekologi
RSUD Gambiran Kota Kediri

dr. G. S. Heru Tribawono, Sp. OG

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, shalawat serta

salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Syukur Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul

“MASTITIS PADA MASA NIFAS”. Penyusunan tugas ini merupakan salah satu tugas

yang penulis laksanakan selama mengikuti kepaniteraan di SMF Ilmu Kandungan dan

Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah Gambiran Kota Kediri.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Sutoko Andrianto,Sp.OG selaku

dokter pembimbing dalam penyelesaian tugas referat ini, terima kasih atas bimbingan

dan waktunya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.

Referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan kerendahan hati penulis

mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharapkan saran dan kritik yang

membangun. Semoga referat ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi semua

pihak.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kediri, Maret 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ 1
KATA PENGANTAR ................................................................................................. 2
DAFTAR ISI ................................................................................................................ 3
BAB 1 ........................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 4
BAB 2 ........................................................................................................................... 6
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................. 6
2.1 Mastitis ................................................................................................................ 6
2.1.1 Definisi.......................................................................................................... 6
2.2.2 Epidemiologi ................................................................................................. 7
2.2.3 Etiologi.......................................................................................................... 7
2.2.4 Patofisiologi 4................................................................................................ 8
2.2.5 Tanda dan Gejala .......................................................................................... 8
2.2.6 Gambaran Klinis dan Diagnosis ................................................................... 9
2.2.7 Tatalaksana............................................................................................ 11
2.2.8 Management Mastitis ............................................................................ 11
BAB 3 ......................................................................................................................... 14
KESIMPULAN .......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 15

3
BAB 1

PENDAHULUAN

Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta

sampai dengan 6 minggu (42 hari ) setelah itu. Pelayanan pasca persalinan harus

terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi

upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang

mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjalankan

kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu1.

Menyusui adalah salah satu komponen dari proses reproduksi yang terdiri atas

haid ,konsepsi,kehamilan,persalinan,menyusui, dan penyapihan. Jika semua komponen

berlangsung dengan baik, proses menyusui akan berhasil. Air susu setiap makhluk

menyusui itu berbeda dan bersifat spesifik untuk setiap spesies, disesuaikan dengan

keperluannya yang bergantung pada antara lain bentuk fisik, habitat, laju pertumbuhan,

dan frekuensi menyusu 1. Upaya untuk menyusui dan bagaimana mempertahankannya

selamam minimal 6 bulan (exclusive breastfeeding) harus menjadi salah satu tujuan

utama pelayanan pasca persalinan 1.

Bayi harus segera diberikan pada ibu agar segera terjadi kontak kulit ke kulit

sebagai upaya untuk memberikan kehangatan pada bayi, untuk memberi kesemptan

sedini mungkin bagi bayi untuk menyusu yang pada umumnya terjadi antara 1 jam

setalah persalinan. Ibu perlu diberi petunjuk cara menyusui yang baik dan benar. Ibu

yang meberikan ASI secara dini lebih sedikit akan mengalami masalah dengan

4
menyusui. Bimbingan yang tidak benar dan tidak teratur dari tenaga kesehatan

merupakan kendala utama pemberian ASI 1 .

Mastitis adalah peradangan payudara yang terjadi biasanya pada masa nifas

atau sampai 3 minggu setelah persalinan. Penyebabnya adalah sumbatan saluran susu

dan pengeluaran ASI yang kurang sempurna. Agar ibu berhasil menyusui, perlu

dilakukan berbagai kegiatan saat antenatal, intranatal, dan postnatal 1.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mastitis

2.1.1 Definisi

Mastitis adalah suatau kondisi yang sering ditemukan pada wanita

menyusui. Sebagian besar kasus mastitis terjadi pada 6 minggu pertama setelah

melahirkan, namun mastitis bisa terjadi kapan saja selama masa laktasi 2.

Mastitis di definisikan sebagai suatu kondisi akut yang terjadi di daerah sekitar

payudara yang mengalami lecet, bengkak, nyeri dan disertai dengan demam .

Kondisi ini bisa mempengaruhi psikologis ibu yang dapat mengganggu

mengganggu aktivitas sehari-hari 3.

Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih

segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam

proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis

terinfeksi. Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran

tersumbat atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI .

Manajemen awal mastitis betujuan untuk drainase payudara dan

mengurangi peradangan. Puting susu yang sakit dan lecet, kelelahan, kurangnya

dukungan dari orang terdekat, stasis ASI, serta pemakaian bra yang ketat dapat

mempengaruhi terjadinya mastitis 3.

6
2.2.2 Epidemiologi

Infeksi payudara adalah masalah yang sering terjadi selama masa

kehamilan dan masa nifas. Prevalensi pada ibu menyusui mencapi 1-10%.

Namun pada penelitian Cochrane baru-baru ini menunjukkan sekitar 33% ibu

yang megalami mastitis. Tuberkulosis mastitis jarang terjadi, bahkan di negara

endemik tuberkulosis (TB), dengan insidensi yang dilaporkan antara 0,1-3%.

Mastitis granulomatosa adalah infeksi payudara kronis yang jarang terjadi yang

menyerupai kanker payudara dan mastitis periductal. Fistula mamae dapat

menjadi komplikasi dari mastitis pada ibu menyusui sekitar 1-2% 4.

Abses payudara pada wanita yang menyusui dan yang tidak menyusui

masing-masing mempunyai gejala dan pathogenesis yang berbeda. Abses

payudara pada masa laktasi lebih umum terjadi dan sering ditemukan, walaupun

dalam beberapa tahun terakhir angka insidensi telah menurun. Abses payudara

yang terjadi pada masa non laktasi 90% terjadi didaerah sub areolar payudara.

2.2.3 Etiologi

Mastitis dapat terjadi karena infeksi atau tanpa infeksi. Mastitis yang

terjadi karena infeksi disebabkan oleh kuman Staphylococcus aereus dan

diikuti oleh Staphylococcus koagulase negative. Beberapa infeksi payudara

(dan hingga 40% dari abses payudara) bersifat polimikroba dengan isolasi aerob

(Staphylococcus, Streptococcus, Enterobacteriaceae, Corynebacterium,

Escherichia coli, dan Pseudomonas) serta anaerob (Peptostreptococcus,

Propionibacterium, Bacteroides, Lactobacillus, Eubacterium, Clostridium,

Fusobacterium, and Veillonella) 4.

7
Mastitis non-infeksius disebabkan dari dasar ductus ectasia (mastitis

periductal, mastitis sel plasma). Dan jarang terjadi disebabkan dari luar

(tindikan di puting, implant payudara, dan silicon). Granulomatus (lobular)

adalah mastitis yang sifatnya jinak dan dianggap sebagai idiopatik, namun

dengan bukti yang berkembang saat ini dikaitkan dengan adanya

Corynebacteria infeksi 4.

2.2.4 Patofisiologi 4

Pada masa laktasi port d’entere bakteri sering berasal dari mulut bayi

yang masuk ke celah-celah permukaan puting payudara. Statis ASI

menyebabkan produksi yang berlebihan sehingga mengarah ke mastitis. Pada

neonates terjadi pembesaran payudara yang sifatnya sementara akibat hormone

maternal sehingga ibu rentan terhadap mastitis. Saluran yang terjadi peradangan

sangat rentan terjadi infeksi.

Abses payudara yang terjadi pada masa non-lactasi seringnya

merupakan dari sub-areolar dan pertama kali digambarkan sebagi fistula saluran

lactiferous. Sehingga membentuk sinus kronis yang mengering dan terjadi

abses di daerah areolar. Merokok dan DM adalah faktor resiko terjadinya

mastitis periductal dan abses payudara non-lactasi.

2.2.5 Tanda dan Gejala

1. Flu like syndrome

2. Demam

3. Nyeri Payudara

4. Penurunan keluaran ASI

8
5. Payudara teraba hangat

6. Payudara terasa kencang

7. Payudara Bengkak

8. Eritema payudara

9. Pembesaran KGB di axila.

2.2.6 Gambaran Klinis dan Diagnosis

Pada Abses payudara saat Laktasi biasanya ditemukandi daerah perifer

payudara, sedangkan abses payudara non-lactasi dietmukan di daerah sub

areolar atau peri areolar.

Pemeriksaan awal untuk mengetahui tanda mastitis dengan

dilakukannya beberapa pemeriksaan, misalnya :

1. USG

Ultrasonografi adalah pemeriksaan awal untuk mengetahui adanya

abses (lesi hypoecoic), dibatasi oleh makrolobulated, tidak teratur

dan tidak jelas dan akan terlihat septa. Ultrasonografi adalah

modalitas pencitraan yang lebih mudah dan aman digunakan untuk

semua kelompok umur yang dicurigai adanya infeksi payudara.

FNAB dapat digunakan untuk menegakkan diagnostic ataupun

terapi, dengan cara mendrainase abses payudara. Cairan yang

purulent dari hasil FNAB menunjukkan adanya abses payudara,

9
kemudian dikirimkan ke ahli cytology untuk mengetahui adanya

keganasan.

Gambar 2.1 Eritema Mastitis Gambar 2.2 Abses Payudara

Gambar 2.3 Hypoecoic lesi Gambar 2.4 Kronik abses


dengan hypoecoic rim

2. Mammography

Mammography memiliki nilai yang terbatas untuk mendeteksi

adanya akut mastitis ataupun abses payudara. Karena jika dilakukan

pada penderita yang mengalami abses payudara, penderita akan

merasa menyakitkan menggunakan alat ini. Temuan pada

mammography sering dianggap kanker, sehingga mammography

baik digunakan setelah fase akut dari mastitis agar dapat

diidentifikasi. Mammography baik digunakan pada semua wanita di

atas 40 tahun.

10
2.2.7 Tatalaksana

Deteksi awal infeksi pada payudara sangat penting untuk mencegah

komplikasi yang akan terjadi. Antibiotik harus segara diberikan jika ditemukan

infeksi payudara dan penatalaksanaan awal yang benar akan mencegah

terjadinya komplikasi.

Indikasi untuk rawat inap :

1. Terdapat tanda-tanda sepsis (takikardi, demam, meriang).

2. Infeksi yang berkembang sangat cepat.

3. Terjadi ketidakstabilan hemodinaik atau terjadi

immunocompromised.

4. Rawat gabung antara ibu dan anak.

Rujukan untuk ke rumah sakit di tunggu 2 minggu jika terdapat massa

atau dicurigai kanker payudara. Rujuk segera ke dokter bedah umum jika

didaptakn abses payudara.

2.2.8 Management Mastitis

1. Lactational Mastitis

Semua wanita yang mengalami mastitis harus segra di rawat dengan suportif

(analgesic/kompres air hangat), dan mengatur pengeluaran ASI yang baik dari

payudara yang terkena. Jika tidak ditemukan gejala yang paah atau tidak adanya

tanda-tanda infeksi sitemik, maka pasien tidak perlu perawatan lebih lanjut.

Namun jika ditemukan gejala atau tanda-tanda infeksi sistemik, maka pasien

perlu diberikan antibiotic sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas antibiotic.

11
Lini pertama untuk antibiotic pada mastitis adalah golongan penicillin

(flucloxacillin 250-500 mg per oral 4x1), jika pasien alergi terhadap penicillin

dapat menggunakan Erythromycin 250-500 mg per oral 4x1 atau clarithromycin

500 mg per oral 2x1.

2. Non-Lactational Mastitis

Lini pertama tetap menggunakan golongan penicillin (flucloxacillin 250-500 mg

per oral 4x1), atau pemberian topical (mupirocin 2% diberikan pada payudara

yang terkena 2 atau 3 kali sehari).

3. Granolomatous Mastitis

Pemberian kortikosteroid akan mengurangi terjadinya inflamasi, operasi

dilakukan jika diperlukan terapi konservatif.

4. Absess Payudara

- Analgesik : Ibuprofen, paracetamol

- Kompres dengan daun kubis yang dingin : beberapa penelitian telah

membuktikan efektifitas penggunaan daun kubis untuk mengurangi

pembengkakkan. Pada tahun 2008 sebuah studi di India, New Delhi

melakukan penelitian di bangsal rumah sakit untuk menilai dan

membandingkan pasien yang menggunakan kompres air hangat dan

kompres dengan menggunakan daun kubis untuk meredakan pembengkakan

payudara. Mereka menemukan bahwa kompres daun kubis dingin

mempunyai efektifitas yang sama dengan kompres air hangat untuk

meredakan pembengkakan pada payudara.

12
Gambar 2.5 kompres payudara
dengan menggunakan daun
kubis

- Anti Staphylococcus antibiotic : golongan penicillin

- Insisi dan drainase

13
BAB 3

KESIMPULAN

1. Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tanpa

infeksi, Organisme penyebab utama adalah Staphylococcus aureus.

2. Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2 % wanita yang

menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan terutama

pada primipara. Abses payudara yang terjadi pada masa non laktasi 90% terjadi

didaerah sub areolar payudara.

3. Penegakan diagnosis mastitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan bila

terdapat abses dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu kultur dan USG untuk

memperkuat atau menyingkirkan diagnosis banding penyebab mastitis.

4. Secara umum, mastitis ditangani dengan tindakan suportif, dan medikamentosa

berupa antibiotika dan analgesik. jika tidak segera diobati bisa terjadi abses.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. R. Soerjo Hadijono, 2014, Asuhan Masa Nifas dalam Ilmu Kebidanan Sarwono

Prawirohardjo Edisi ke-4, hal. 356-362.

2. Meabh Cullinane, Lisa H. Amir, Susan M. Donath, 2015, Determinants of

mastitis in women in the CASTLE study: a cohort study.

3. Kamal Kataria & Anurag Srivastava & Anita Dhar, 2013, Management of

Lactational Mastitis and Breast Abscesses: Review of Current Knowledge and

Practice.

4. Eve Boakes , Amy Woods , Natalie Johnson , Naim Kadoglou, 2018, Breast

Infection: A Review of Diagnosis and Management Practices.

15