Anda di halaman 1dari 8

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR TENTANG

PELAYANAN PASIEN RESIKO TINGGI

1. Pelayanan atau asuhan pasien resiko tinggi dan penyediaan pelayanan resiko
tinggi diberikan berdasar atas panduan praktik klinis dan peraturan perundang-
undangan
a.Dilakukan identifikasi pasien resiko tinggi dan pelayanan resiko tinggi sesuai dengan
populasi pasiennya serta penetapan resiko tambahan yang mungkin berpengaruh pada
pasien resiko tinggi dan pelayanan resiko tinggi.
b.Staf dilatih untuk pemberian pelayanan pada pasien resiko tinggi.
c. Pelaksanaan pemberian pelayanan pada pasien resiko tinggi dicatat dalam rekam
medis.
d. Pengembangan pelayanan pasien resiko tinggi dimasukkan kedalam program
peningkatan mutu Rumah Sakit.
e. Kelompok pasien yang beresiko atau pelayanan yang beresiko tinggi agar tepat dan
efektif dalam mengurangi resiko. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi
resiko:
Bagaimana perencanaan dibuat termasuk identifikasi perbedaan pasien dewasa dengan
anak atau keadaan khusus lain.
 Dokumentasi yang diperlukan oleh pelayanan secara tim untuk bekerja dan
berkomunikasi secara efektif.
 Pertimbangan persetujuan khusus bila diperlukan.
 Persyaratan pemantauan pasien.
 Kompetensi atau keterampilan yang khusus staf yang terlibat dalam proses asuhan.
 Ketersediaan dan penggunaan peralatan khusus.
 Pengobatan resiko tinggi lainnya antara lain kcl pekat, heparin, meylon dan
sebagainya.

2. Deteksi perubahan kondisi pasien / Early Warning System (EWS)


a. Pelaksanaan EWS dilakukan sesuai pedoman / panduan.
b. Staf klinis dilatih menggunakan EWS.
c. Staf klinis mampu melaksanakan EWS sesuai pedoman / panduan.
d. PPA yang melakukan EWS akan mengisi formulir EWS dan melakukan dokumentasi di
dalam berkas rekam medis pasien.
e. Pasien yang telah dilakukan EWS akan dievaluasi perkembangan kondisi dan tercatat
dalam rekam medis pasien.

3. Pelayanan Kasus Emergency


a. Pelayanan kasus emergency atau yang beresiko tinggi terjadinya kasus emergency
diidentifikasi dan dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten di Instalasi Gawat
Darurat.
b. Tenaga medis yang bertugas di tempat dengan resiko terjadinya kasus emergency
tinggi agar dilakukan pelatihan.

4. Pelayanan Resusitasi
a. Pelayanan resusitasi diatur dalam kebijakan tersendiri.
b. Pelayanan resusitasi pada pasien tidak mampu tetap dilakukan sesuai prosedur.
c. Pelayanan resusitasi dapat diberikan selama 24 jam setiap hari di seluruh area Rumah
Sakit serta peralatan medis untuk resusitasi dan obat yang akan diberikan pada pasien
yang dilakukan bantuan hidup dasar terstandar sesuai dengan kebutuhan pasien dan
pedoman / panduan Code Blue.
d. Bantuan hidup dasar dapat diberikan segera saat dikenali adanya henti napas dan henti
jantung di seluruh area Rumah Sakit dan tindak lanjutnya diberikan kurang dari 5 menit.
e. Resusitasi lanjut dilakukan oleh tim yang terlatih dengan nama “Blue Team” dengan
membawa alat-alat dan obat resusitasi yang diperlukan.
f. Seluruh staf yang bertugas di semua unit Rumah Sakit diberikan pelatihan mengenai
bantuan hidup dasar / resusitasi.

5. Pelayanan pemberian darah


a. Pelayanan darah dan atau produk darah harus diberikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan meliputi pemberian persetujuan (informed consent), pengadaan
darah, identifikasi pasien, pemberian darah, monitoring pasien, identifikasi dan respon
terhadap reaksi transfusi.
b. Rumah Sakit tidak memiliki bank darah dan tempat atau kulkas khusus penyimpanan
darah dan atau produk darah.
c. Rumah Sakit hanya melayani pemberian produk darah dari PMI yang akan disalurkan
ke ruangan yang membutuhkan melalui laboratorium.
d. Penerbitan formulir permintaan darah untuk transfusi oleh Rumah Sakit Umum Daerah
berdasarkan format formulir sesuai ketentuan dari PMI.
e. Mekanisme pemesanan transfusi darah ditujukan kepada PMI dari masing-masing unit
kerja yang membutuhkan transfusi mengajukan pemesanan transfusi dengan
menggunakan formulir permintaan darah untuk transfusi melalui unit Laboratorium
Rumah Sakit Umum Daerah .
f. Pemberian darah dan atau produk darah harus selalu memperhatikan keselamatan
pasien.
g. Setiap penggunaan dan pemberian darah dan atau produk darah harus berdasarkan
atas permintaan dokter.
h. Dokter memberikan instruksi pemberian darah dan atau produk darah dilembar instruksi
yang meliputi tipe darah (termasuk pesanan khusus), volume darah, kecepatan
pemberian, obat premedikasi apabila diperlukan.
i. Saat Darah dan atau produk darah datang dari PMI maka petugas laboratorium
mengecek kesesuaian label pada produk darah dan etiket yang tertera pada produk
darah harus sesuai dengan yang tertera pada formulir permintaan darah.
j. Petugas laboratorium akan melakukan serangkaian pemeriksaan kesesuain darah atau
produk darah meliputi kesesuaian nama pasien, nomor kantong darah, tanggal
kadaluarsa, jenis produk darah, golongan darah, rhesus dan jumlah darah.
k. Setelah pengecekan selesai, petugas laboratorium menghubungi petugas ruangan dan
mengecek kembali kesesuaian produk darah (double cek) antara petugas laboratorium
dan petugas ruangan. Bila sudah sesuai, maka petugas ruangan dapat mengambil
produk darah dengan mengisi buku ekspedisi pengambilan produk darah dari ruang
laboratorium.
l. Darah dan atau produk darah yang diberikan kepada pasien harus dijamin bebas dari
bibit penyakit yang dapat menimbulkan penyakit yang dapat ditularkan melalui transfusi
darah dan atau produk darah, yaitu melalui skrining untuk mendeteksi adanya virus
atau bakteri dengan metode NAT (Nucleic Acid Testing) yang dilakukan oleh PMI.
m. Skrining pemeriksaan HbsAg, Anti HCV dan Anti HIV dilakukan oleh PMI yang akan
dicek kembali oleh petugas laboratorium dan petugas pemberi darah dan atau produk
darah melalui etiket yang tertera pada produk darah.
n. Jika pasien atau keluarga menghendaki untuk dilakukan skrining ulang terhadap
pemeriksaan HbsAg, Anti HCV dan Anti HIV atas permintaan sendiri, maka
pemeriksaan skrining dapat dilakukan di unit laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah .
o. Pada pelaksanaan pemberian darah dan atau produk darah harus dilakukan secara
aman dan meminimalkan resiko transfusi.
p. Hanya mereka yang kompeten dan berwenang dalam memberikan pelayanan darah
dan atau produk darah serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pemberian
darah.
q. Staf diberikan pelatihan pemberian pelayanan darah dan atau produk darah.
r. Pemberian darah dan atau produk darah harus dicatat direkam medis pasien.

6. Asuhan pasien dengan alat bantu hidup dasar (ventilator) atau pasien koma
a. Identifikasi kebutuhan pasien dengan peralatan bantuan hidup dasar atau yang koma
dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.
b. Rumah Sakit Umum Daerah tidak memberikan pelayanan Ruang NICU dan ICU.
c. Bila pasien IGD yang menggunakan alat bantu hidup dasar (ventilator) selama 1 x 24
jam tidak mendapat Rujukan maka pasien akan transit ke Unit Perawatan Kritis (High
Care Unit) untuk pasien anak dan dewasa sampai pasien mendapatkan Rumah Sakit
Tujuan / Rujukan yang dituju dan dijelaskan juga kemungkinan adanya penurunan
kondisi pasien sampai yang terburuk yaitu kematian.
d. Pelayanan Unit Perawatan Kritis (High Care Unit) bagi pasien anak dan dewasa dengan
kondisi respirasi, hemodinamik dan kesadaran yang stabil, masih memerlukan
pengobatan, perawatan dan observasi ketat.
e. Bila pasien bayi baru lahir atau usia 0 – 28 hari yang membutuhkan Bubble CPAP akan
menjalani perawatan di Unit Perawatan Kritis (Perinatologi).
f. Pelayanan unit Perinatologi untuk bayi usia 0 – 28 hari yang tidak memerlukan alat
bantu napas (ventilator), hanya butuh observasi ketat.
g. Rumah Sakit menetapkan persetujuan masuk ruangan (informed consent), kriteria
pasien masuk dan keluar Unit Perawatan Kritis yang meliputi Ruang High Care Unit
(HCU) dan Perinatologi.
h. Pemantauan kondisi pasien yang dirawat di Unit Perawatan Kritis (High Care Unit)
dilakukan 24 jam terus-menerus dan dicatat dalam formulir observasi High Care Unit
(HCU) serta formulir catatan terintegrasi.
i. Pemantauan harus dilakukan dengan ketat oleh petugas yang kompeten dan terlatih.
j. Petugas yang bekerja di Unit Perawatan Kritis harus memiliki sertifikat pelatihan khusus
untuk ruang intensif.
k. Bila Rumah Sakit tidak mampu melakukan asuhan pasien agar diberitahukan kepada
keluarga pasien dan dirujuk ke Rumah Sakit yang mampu melakukan asuhan pasien
tersebut.
l. Pelaksanaan asuhan pasien dengan alat bantu hidup dasar dan pasien koma meliputi
setiap hasil asessmen, rencana asuhan pasien, pemantauan dan tindakan yang akan
diberikan pada pasien koma dan atau pasien dengan alat bantu hidup harus dicacat
dengan lengkap, akurat dan benar dalam berkas rekam medis.

7. Asuhan pasien penyakit menular dan penurunan daya tahan (immuno–


suppressed)
a. Asuhan pasien dengan penyakit menular
1) Identifikasi kebutuhan asuhan pasien dan resiko penularan akibat dari penyakit atau
akibat obat-obatan yang diberikan.
2) Pelayanan pasien penyakit menular seperti TB, HIV AIDS, Difteri dan penyakit menular
lainnya dilakukan di ruang rawat inap khusus / isolasi.
3) Pemantauan dilakukan 24 jam terus-menerus oleh petugas yang kompeten dan terlatih.
4) Petugas yang memberikan pelayanan dan melakukan perawatan pada pasien di ruang
rawat inap khusus / isolasi menggunakan alat pelindung diri / APD sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan.
5) Staf dilatih dalam memberikan pelayanan asuhan pasien penyakit menular.
6) Bila fasilitas tidak memungkinkan untuk melakukan asuhan pasien tersebut agar
diberitahukan kepada pasien dan keluarga untuk dirujuk ke Rumah Sakit dengan
fasilitas yang sesuai kebutuhan dan mampu memberikan asuhan kepada pasien
tersebut.
7) Pelaksanaan asuhan pasien dengan penyakit menular dicatat dalam rekam medis
pasien.
b. Asuhan pasien yang daya tahan tubuhnya diturunkan (Immuno-suppressed)
1) Rumah Sakit tidak memberikan pelayanan immuno-supressed.
2) Untuk Pelayanan Immuno-supressed, Rumah Sakit akan melakukan Rujukan Ke
Rumah Sakit yang memiliki fasilitas yang menunjang proses pengobatan dan
perawatan pasien dengan immuno-suppressed.

8. Asuhan pada pasien Hemodialisa


a. Rumah Sakit tidak memberikan pelayanan Hemodialisa.
b. Untuk Pelayanan Hemodialisa, Rumah Sakit akan melakukan Rujukan Ke Rumah Sakit
yang memiliki fasilitas Hemodialisa.

9. Pelayanan penggunaan alat penghalang (restraint)


a. Identifikasi penggunaan alat penghalang dilakukan pada pasien yang tidak mengerti
asuhan yang diberikan, seperti pasien anak, dewasa dan geriatrik, pasien gelisah dan
kesadaran menurun serta pasien dengan gangguan jiwa.
b. Sebelum alat restraint dipasang dan dilepas maka keluarga akan diberikan edukasi oleh
DPJP mengenai kebutuhan pemasangan dan pelepasan alat restraint, bila keluarga
menyetujui maka keluarga mengisi formulir edukasi dan menadatangani inform consent.
c. Asuhan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dengan mengacu pada panduan
penggunaan restraint.
d. Asuhan yang telah diberikan akan dievaluasi secara berkala melalui formulir monitoring
pemasangan restraint.
e. Alat restraint oleh perawat akan diganti setiap hari setelah memandikan pasien.
f. Staf diberi pelatihan tentang pengunaan alat restraint pada pasien anak, dewasa,
geriatrik dan dengan gangguan jiwa.
g. Asuhan pelayanan penggunaan alat penghalang (restraint) dicatat dalam rekam medis
pasien.

10. Pelayanan pasien populasi khusus


Asuhan pelayanan khusus terhadap pasien yang lemah, lanjut usia, mereka yang cacat,
anak, yang dengan ketergantungan bantuan serta populasi yang beresiko disiksa dan
resiko tinggi lainnya termasuk pasien dengan resiko bunuh diri.
1) Identifikasi pasien yang lemah, resiko disiksa, seperti pasien lanjut usia yang tidak tidak
mandiri, cacat tubuh, cacat mental, anak-anak, anak dengan ketergantungan, pasien
resiko bunuh diri.
2) Asuhan pasien yang lemah, lanjut usia yang tidak mandiri, cacat tubuh, cacat mental
dengan ketergantungan bantuan diarahkan dan menerima asuhan sesuai dengan
kebijakan dan prosedur.
3) Asuhan pasien anak dan anak yang ketergantungan bantuan diarahkan dan menerima
asuhan sesuai dengan kebijakan dan prosedur.
4) Populasi pasien dengan resiko kekerasan dan resiko bunuh diri harus diidentifikasi dan
asuhannnya diarahkan serta menerima asuhan sesuai dengan kebijakan dan prosedur.
5) Asuhan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan dievaluasi secara berkala.
6) Pemantauan dilakukan 24 jam terus-menerus oleh petugas yang kompeten dan terlatih.
7) Staf diberi pelatihan tentang pelayanan pasien populasi khusus.
8) Asuhan pasien populasi khusus dicatat dalam rekam medis.

11. Asuha
n pada pasien yang mendapat Kemoterapi dan terapi lain yang beresiko tinggi
a. Rumah Sakit tidak memberikan pelayanan Kemoterapi dan pelayanan lain yang
beresiko tinggi seperti terapi hiperbarik, pelayanan radiologi intervensi.
b. Pelayanan pasien yang mendapat kemoterapi atau pengobatan resiko tinggi lain
diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.

c. Bila fasilitas Rumah Sakit tidak memungkinkan untuk melakukan asuhan pada pasien
dengan pelayanan lain yang beresiko tinggi seperti terapi hiperbarik atau pelayanan
radiologi intervensi agar diberitahukan kepada pasien dan keluarga untuk dirujuk ke
Rumah Sakit dengan fasilitas yang sesuai kebutuhan asuhan pasien tersebut.
d. Untuk Pelayanan Kemoterapi, Rumah Sakit akan melakukan Rujukan Ke Rumah Sakit
yang memiliki fasilitas Pelayanan Kemoterapi.

SK Direktur Pelayanan Pasie... by on Scribd

Untuk mendownload file microsoft word klik Download SK Direktur Tentang Pelayanan Pasien
Resiko Tinggi

Jika kutil muncul pada leher atau punggung, artinya tubuhmu...

Jika kutil muncul pada leher atau punggung, artinya tubuhmu...

Setelah pemakaian pertama, kau akan lihat hasilnya. Nyeri sendi hilang selamanya

Obat rumahan untuk nyeri sendi yang tidak akan dikatakan oleh dokter bedahmu!

Kutil di badan adalah tanda utama parasit! Singkirkan...

Berat Anda 89 kg? Bisa jadi 55 kg!Cara cepat langsing untuk pemalas! Lanjut baca

SNARS_Edisi 1
Location: Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia