Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “KEJANG”.
Kami telah berupaya seoptimal mungkin untuk dapat menyelesaikan makalah dengan
sebaik-baiknya. Namun kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Kami berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembelajaran ilmu keperawatan khususnya, dan instansi pada
umumnya.
DAFTAR ISI

Kata pengantar........................................................................................................... ... i


Daftar isi................................................................................................................... .... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang................................................................................................ 1
B. Rumusan masalah.......................................................................................... 2
C. Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi......................................................................... .................................. 3
B. Etiologi.......................................................................................................... 3
C. Patofisiologi pathway..................................................................................... 3
D. Manifestasi klinis........................................................................................... . 5
E. Komplikasi..................................................................................................... 7
F. Uji laboratorium dan diagnostik.................................................................... 7
G. Penatalaksanaan medis................................................................................... 7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian...................................................................................................... 9
B. Diagnosa keperawatan................................................................................... 10
C. Intervensi keperawatan.................................................................................. 10
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................... 13
B. Saran............................................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di negeri yang sedang berkembang, termasuk Indonesia terdapat dua faktor yaitu gizi
dan infeksi yang mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap pertumbuhan anak
(Hasan, 1985). Saat ini 70% kematian balita disebabkan karena pneumonia, campak,
diare, malaria, dan malnutrisi. Ini berarti bahwa penyakit infeksi masih menjadi penyebab
kematian balita. Terjadinya proses infeksi dalam tubuh menyebabkan kenaikan suhu
tubuh yang biasa disebut dengan demam, demam merupakan faktor resiko utama
terjadinya kejang demam (Selamihardja, 2001).
Kejang demam anak perlu diwaspadai karena kejang yang lama (lebih dari 15 menit)
dapat menyebabkan kematian (0,64-0,74%), kerusakan saraf otak sehingga menjadi
epilepsi, kelumpuhan bahkan retardasi mental. Hasil pengamatan Livingston diantara 201
pasien kejang demam sederhana 6 (3%) menderita epilepsi, sedangkan diantara 297
pasien dengan epilepsi yang diprovokasi oleh demam 276 (93%) menderita epilepsi.
Prichard dan Mc Greal mendapatkan angka epilepsi 2% pada kejang demam sederhana
dan 30% pada kejang atipikal. Di Indonesia , Lumban Tobing melaporkan 5 (6,5%)
diantara 83 pasien kejang demam menjadi epilepsi (Soetomenggolo, 1999). Penanganan
kejang demam harus tepat, sekitar 16% anak akan mengalami kekambuhan (rekurensi)
dalam 24 jam pertama walaupun adakalanya belum bisa dipastikan, bila anak mengalami
demam yang terpenting adalah usaha menurunkan suhu badannya. Pemberian obat
pencegah kejang tidak boleh berlebihan karena dapat menimbulkan efek samping.
Sementara itu anak terus dimonitor suhu badannya, karena dalam 16 jam pertama
kemungkinan serangan ulang masih besar (Selamihardja, 2001).
Pengobatan segera atau terapi sangat penting, jika tidak dilakukan kambuhnya kejang
semakin tinggi, sekitar sepertiga pasien kejang demam akan mengalami kekambuhan
sebesar 44% pada pasien yang tidak diobati dan pada pasien yang mendapat terapi
Fenobarbital maupun terapi Diazepam per rektal kekambuhan sebesar 21% (Anugrah,
2003). Ada 3 hal yang perlu dikerjakan dalam penatalaksanaan kejang demam, yaitu :
pengobatan fase akut, mencari dan mengobati penyebab, serta pengobatan profilaksis
untuk mencegah berulangnya demam (Soetomenggolo, 1999).
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf yang paling sering dijumpai pada
bayi dan anak. Biasanya antara usia 3 bulan sampai 5 tahun. Sekitar 2-5% anak pernah
mengalami kejang demam sebelum usia 5 tahun (Soetomenggolo, 1999). Jumlah
penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2-4% dari jumlah penduduk di AS,
Amerika Selatan dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi sekitar
20% diantara jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani
secara lebih teliti (Selamihardja, 2001). Di Indonesia pada tahun 1967 kejang demam
termasuk sebagai lima penyakit anak terpenting di RS Cipto Mangunkusumo sebesar
7,4%, meningkat pada tahun 1971 dengan kejadian kejang sebesar 22,2% (Hasan, 1985).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan konsep dari kejang?
2. Apa saja tindakan yang dapat di berikan pada penderita kejang?
3. Bagaimana proses keperawatan pada kejang?

C. TUJUAN
1. Mengetahui konsep kejang
2. Mengetahui tindakan terhadap kejang
3. Mengetahui asuhan keperawatan pada kejang
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari
aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.(betz &
Sowden,2002)
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu
rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi
otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan
renjatan berupa kejang.

B. ETIOLOGI
Infeksi ekstrakranial , misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas

C. PATOFISIOLOGI PATHWAY
Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan
dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut
dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan
bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi
singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tet api kejang
yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobi k,
hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin
meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya
menyebabkan metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran
darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan
timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah
medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat
menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu
kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak
hingga terjadi epilepsi.
D. MANIFESTASI KLINIK
1. Kejang parsial ( fokal, lokal )
a. Kejang parsial sederhana :
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :
Tanda – tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya
gerakan setipa kejang sama.
· Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi
pupil.
· Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa
seakan ajtuh dari udara, parestesia.
· Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.
b. Kejang parsial kompleks
· Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang
parsial simpleks Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik :
mengecap – ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang –
ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya.
· Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku

2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )


a. Kejang absens
· Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
· Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15
detik
· Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi
penuh
b. Kejang mioklonik
· Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi
secara mendadak.
· Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa
kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
· Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
· Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
c. Kejang tonik klonik
· Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot
ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
· Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
· Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
· Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
d. Kejang atonik
· Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak
mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah.
· Singkat dan terjadi tanpa peringatan.

E. KOMPLIKASI
1. Aspirasi
2. Asfiksia
3. Retardasi mental

F. UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK


1. Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai unutk membantu menetapkan jenis dan
fokus dari kejang.
2. Pemindaian CT : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri biasanya
untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan
pemindaian CT
4. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi
kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan
metabolik atau alirann darah dalam otak
5. Uji laboratorium
· Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
· Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
· Panel elektrolit
· Skrining toksik dari serum dan urin
· GDA
· Kadar kalsium darah
· Kadar natrium darah
· Kadar magnesium darah

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Memberantas kejang Secepat mungkin
Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang,
ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua
dengan dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2
masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui
intramuskuler, diharapkan kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat
diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena.
2. Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan
penunjang
· Semua pakaian ketat dibuka
· Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
· Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila
perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi.
· Penhisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen.
3. Pengobatan rumat
· Profilaksis intermiten
Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan
dan antipietika. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil
anak mendapat kejang demam sederhana yaitu kira - kira sampai anak umur
4 tahun.
· Profilaksis jangka panjang
Diberikan pada keadaan
· Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
· Kejang demam yang mempunyai ciri :
a. Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi
perkembangan dan mikrosefali
b. Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, berdifat fokal atau diikiuti
kelainan saraf yang sementara atau menetap
c. Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik
d. Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah diuraikan pada makalah ini, kami menyimpulkan
bahwa kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu
tubuh yaitu 38 o C yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun. . Kejang
demam di klasifikasikan menjadi 2 yaitu Kejang demam sederhana dan Kejang kompleks.
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu kerusakan otak dan retardasi mental. Diagnosa yang
dapat muncul pada kejang demam yaitu : Hipertermia berhubungan dengan proses
infeksi, Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan
koordinasi otot

B. SARAN
Dengan telah membacanya makalah ini, mahasiswa/I diharapkan dapat mengerti,
mengetahui tentang ASKEP (Asuhan Keperawatan) Anak dengan Kejang Demam, serta
tindakan-tindakan yang akan diambil dalam membuat ASKEP yang bermutu dan
bermanfaat bagi pasien. Serta dituntut untuk bisa membandingkan antara teori dan kasus
yang terjadi di lapangan / lahan praktek yang terkadang ketidaksinkronan dan
kesinkronan yang wajar. Semoga bermanfaat bagi semua mahasiswa dan membantu
dalam pembuatan ASKEP kelak.
DAFTAR PUSTAKA

· Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta :
EGC.
· Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny
R.F. Jakarta : EGC.
· Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru
· Kejang Pada Anak. www. Pediatrik.com/knal.php