Anda di halaman 1dari 11

Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global dirasakan oleh seluruh

umat manusia di dunia, termasuk Indonesia.Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan,


menempatkan Indonesia dalam kondisi yang rentan menghadapi terjadinya pemanasan
global. Sebagai akibat terjadinya pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa :

 Kenaikan Temperatur Global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan,


sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan permukaan
air laut. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya
pemutihan terumbu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan.
Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil dan
daerah landai di Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu
memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari masuknya atau merembesnya air
laut, serta infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat
tergenang oleh air laut.

 Pergeseran Musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan. Perubahan
iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta
musim kemarau yang panjang. Di beberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan
sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara di
tempat lain terjadi penurunan curah hujan yang berpotensi menimbulkan kekeringan.
Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang
dan surut yang makin tajam. Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekerapan
terjadinya banjir atau kekeringan. Kondisi ini akan semakin parah apabila daya
tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.

Kedua peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada beberapa sektor :

Kehutanan.
Terjadinya pergantian beberapa spesies flora dan fauna. Kenaikan suhu akan menjadi
faktor penyeleksi alam, dimana spesies yang mampu beradaptasi akan bertahan dan, bahkan
kemungkinan akan berkembang biak dengan pesat. Sedangkan spesies yang tidak mampu
beradaptasi, akan mengalami kepunahan. Adanya kebakaran hutan yang terjadi merupakan
akibat dari peningkatan suhu di sekitar hutan, sehingga menyebabkan rumput-rumput dan
ranting yang mengering mudah terbakar.Selain itu, kebakaran hutan menyebabkan punahnya
berbagai keanekaragaman hayati.
Perikanan.
Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu karang, dan
selanjutnya matinya terumbu karang, sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan. Suhu air laut
yang meningkat juga memicu terjadinya migrasi ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu
secara besar-besaran menuju ke daerah yang lebih dingin. Peristiwa matinya terumbu karang
dan migrasi ikan, secara ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan hasil tangkapan
mereka.

Pertanian.
Pada umumnya, semua bentuk sistem pertanian sensitif terhadap perubahan
iklim.Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan.Hal
tersebut berdampak pada pola pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen,
kegagalan penanaman, atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga
akan terjadi penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan
mempengaruhi ketahanan pangan nasional.

Kesehatan.
Dampak pemanasan global pada sektor ini yaitu meningkatkan frekuensi penyakit
tropis, misalnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (malaria dan demam berdarah),
mewabahnya diare, penyakit kencing tikus atau leptospirasis dan penyakit kulit. Kenaikan
suhu udara akan menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek sehingga nyamuk
makin cepat untuk berkembangbiak. Bencana banjir yang melanda akan menyebabkan
terkontaminasinya persediaan air bersih sehingga menimbulkan wabah penyakit diare dan
penyakit leptospirosis pada masa pasca banjir. Sementara itu, kemarau panjang akan
mengakibatkan krisis air bersih sehingga berdampak timbulnya penyakit diare dan penyakit
kulit. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) juga menjadi ancaman seiring dengan
terjadinya kebakaran hutan.
Pemanasan global tak hanya berdampak serius pada lingkungan manusia di bumi namun juga terhadap kesehatan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pertemuan tahunan di Genewa mengatakan bahwa berbagai penyakit
infeksi yang timbul diidentifikasi terkait dengan perubahan lingkungan hidup yang drastis. Kerusakan hutan,
perluasan kota, pembukaan lahan untuk pertanian, pertambangan, serta kerusakan ekosistem di kawasan pesisir
memicu munculnya patogen lama maupun baru. Berbagai penyakit yang ditimbulkan parasit juga meningkat
terutama di wilayah yang sering mengalami kekeringan dan banjir.

 Malnutrisi mengakibatkan kematian 3,7 juta jiwa per tahun, diare mengakibatkan kematian 1,9 juta jiwa, dan
malaria mengakibatkan kematian 0,9 juta jiwa.
 Suhu yang lebih panas juga berpengaruh pada produksi makanan, ketersediaan air dan penyebaran vektor
penyakit. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pemanasan global (global warming) akan
banyak berdampak bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Perubahan temperatur dan curah hujan
yang ditimbulkan memberikan kesempatan berbagai macam virus dan bakteri penyakit tumbuh lebih luas.
WHO mengatakan, selain virus dan bakteri penyakit berkembang pesat, secara tidak langsung pemanasan
global juga dapat menimbulkan kekeringan maupun banjir.
 Kekeringan mengakibatkan penurunan status gizi masyarakat karena panen yang terganggu, Banjir
menyebabkan meluasnya penyakit diare serta Leptospirosis.
 Kebakaran hutan, dapat mengusik ekosistem bumi, menghasilkan gas-gas rumah kaca yang menimbulkan
pemanasan global. Sedangkan asap hitamnya menganggu secara langsung kehidupan manusia, Asap yang
mengandung debu halus dan berbagai oksida karbon itu menyebabkan gangguan pernapasan dan infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA), mulai asma, bronkhitis hingga penyakit paru obstruktif kronis (COPD). Asap
tersebut juga membawa racun dioksin yang bisa menimbulkan kanker paru dan gangguan kehamilan serta
kemandulan pada wanita.
 Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases)
maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam
Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya
perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty), Virus, bakteri,
plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adalah organisme tersebut. Selain
itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah
dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climate
change)yang bisa berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang /
kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)
 Dampak pemanasan global juga mempengaruhi penipisan ozone antara lain meningkatnya intensitas sinar
ultra violet yang mencapai permukaan bumi menyebabkan gangguan terhadap kesehatan, seperti kanker
kulit, katarak, penurunan daya tahan tubuh, dan pertumbuhan mutasi genetik., memperburuk penyakit-
penyakit umum Asma dan alergi Meningkatkan kasus-kasus kardiovaskular, kematian yang disebabkan
penyakit jantung dan stroke serta gangguan jantung dan pembuluh darah

2. Pemanasan global juga menyebabkan musim penyerbukan berlangsung lebih lama sehingga meningkatkan resiko
munculnya penyakit yang ditimbulkan oleh kutu di wilayah Eropa Utara. Peyakit lain yang teridentifikasi adalah
lyme, yang disebabkan oleh semacam bakteri di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Gejalanya berupa sakit kepala,
kejang, dan nyeri sendi. Penyakit itu berpindah melalui gigitan sejenis kutu rusa yang yang telah terinfeksi lyme.
Bakteri yang sama juga benyek ditemukan pada tikus. Dampak lain yang terasa adalah nyamuk-nyamuk
semakin berkembang biak erutama di Afrika dan Asia. Dua penyakit serius akibat gigitan nyamuk, yaitu malaria
dan demam berdarah dengue, sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Di Indonesia kita sudah merasakannya
langsung, yakni tingginya angka korban yang menderita demam berdarah.
Pemanasan global mengakibatkan siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk dari telur menjadi larva dan
nyamuk dewasa akan dipersingkat, sehingga jumlah populasi akan cepat sekali naik. Tentang keterkaitan
pemanasan global dengan peningkatan vektor demam berdarah ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Udara panas dan lembab itu paling cocok buat nyamuk malaria (Anopheles), dan nyamuk demam berdarah
(Aedes aegypti). Dulu, jenis kedua nyamuk penebar maut ini lebih sering muncul di musim pancaroba,
transisi antara musim hujan dan kemarau.
 Kini rentang waktu serangan kedua serangga itu hampir di sepanjang tahun. Udara panas dan lembab
berlangsung sepanjang tahun, ditambah dengan sanitasi buruk yang selalu menyediakan genangan air
bening untuk mereka bertelur. Maka, kini virus malaria yang dibawa Anopheles dan virus dengue yang
dibawa nyamuk Aedes aegypti dapat menyerang sewaktu-waktu secara ganas.
 Akibat pemanasan global, siklus inkubasi ekstrinsik virus penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di
tubuh nyamuk Aedes aegyti dan siklus inkubasi ekstrinsik virus penyebab Malaria di tubuh nyamuk
Anopheles menjadi lebih pendek dan Masa inkubasi kuman lebih singkat. Populasi mereka lebih mudah
meledak. Akibatnya, kasus demam berdarah lebih mudah meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
 Karena itu, upaya pencegahan penyakit harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya menangani
penyakitnya saja, tetapi "Faktor lingkungan fisik dan biologis harus pula dikendalikan dengan cara
memodifikasi lingkungan agar vektor malaria dan demam berdarah tak bisa berkembang biak,“

3. WHO juga menyebutkan ancaman lain dari meningkatnya suhu rata-rata global, yakni penyakit yang menyerang
saluran pernapasan. "Gelombang panas menyebabkan jumlah materi dan debu di udara meningkat," kata
Bettina Menne, anggota WHO divisi Eropa. Suhu udara yang semakin hangat juga membawa penyakit alergi.
Kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan banjir dan erosi, terutama di kawasan pesisir, dan mencemari
sumber-sumber air bersih. Akibatnya adalah wabah kolera dan malaria di negara miskin. Wilayah di Asia selatan,
terutama Bangladesh disebut sebagai wilayah yang paling rawan karena berada di dataran rendah dan sering
mengalami banjir. Mencairnya puncak es Himalaya, luasnya daerah gurun pasir dan wilayah pesisir pantai yang
tercemar merupakan sarana penularan penyakit, hal ini juga menyebabkan angka kekurangan gizi pada anak-
anak. (Article source : Reuters).
4. Ada 35 jenis penyakit infeksi baru yang timbul akibat perubahan iklim, diantaranya ebola, flu burung, dll penyakit
hewan yang dapat menular kepada manusia. Penyakit yang paling rentan terjadi di Indonesia, menurut adalah
penyakit degeneratif dan penyakit menular. Hal ini dapat dengan cepat berkembang pada masyarakat yang
kondisi gizi kurang baik dan kondisi kesehatan lingkungan yang kurang memadai. (Dr. Wan Alkadri, Msc.)

1. Apa saja pengaruh pemanasan global?


Jawab:

1. Peningkatan permukaan laut


Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga
volume air laun juga akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga
akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, sehingga lebih
memperbanyak volume air di laut. Haltersebutlah yang melatarbelakangi tinggi muka laut di
seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm selama abad ke-20 (1900-1999), kemudian para
ilmuwan juga memprediksi peningkatan permukaan air laut lebih lanjut sebesar 9 - 88 cm pada
abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat memengaruhi kehidupan di negara yang memiliki
banyak pantai. Kenaikan muka air laut sebesar 100 cm saja akan menenggelamkan 17,5%
daerah Bangladesh, 6% daerah Belanda, dan berbagai wilayah lainnya termasuk indonesia.
Saat tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan.
Negara-negara kaya akan menghabiskan banyak dana untuk melindungi daerah pantai mereka,
sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi warganya ke
daerah yang lebih tinggi.

2. Mencairnya es yang berada di kutub utara dan kutub selatan Bumi


Salah satu dampak pemanasan global adalah mencairnya es yang berada di kutub utara dan
juga kutub selatan Bumi.Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kutub utara dan kutub selatan
Bumi adalah berupa es.Es yang berada di area kutub bumi volumenya sangatlah besar, Data
terakhir memperlihatkan bahwa es di Kutub Selatan (Antartika) mulai menyusut sebanyak 160
miliar ton setiap tahunnya.Es sebanyak itu meleleh dan turut menaikkan volume air laut,
Perkiraan ini didapat atas bantuan kapal luar angkasa Cryosat milik Eropa.

3. Banyaknya daratan yang tenggelam


Pemanasan global pada akhirnya akan mengakibatkan dampak berupa tenggelamnya daratan
(terutama daerah pantai) yang ada di Bumi. Hal ini menyebabkan banyak pulau-pulau kecil dan
juga daratan yang berada di pesisir pantai akan menghilang. Hilangnya pulau-pulau kecil dan
daratan di pesisir pantai tidak lepas dari 2 dampak pemanasan global yang sudah dijelaskan
sebelumnya, yakni naiknya permukaan air laut dan Mencairnya es yang berada di kutub utara
dan kutub selatan Bumi.

Mencairnya es di kutub sehingga menambah volume air laut dan mengakibatkan permukaan air
laut naik akan mengikis garis permukaan pada pantai dan menggerus wilayah daratan yang
bebas dari air. Akibatnya banyak pulau kecil yang akan tenggelam karena permukaannya
tertutup oleh air.
4. Iklim mulai tidak stabil
Para ilmuwan memprediksi bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan
Bumi utara akan memanas lebih dari bagian-bagian lain di Bumi. Daerah-daerah yang awalnya
mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah
subtropis, bagian yang dislimuti salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Suhu
pada musim dingin dan malam hari cenderung untuk meningkat. Musim tanam juga akan lebih
lama di beberapa area.

Daerah yang hangat akan menjadi lebih lembap hal tersebut disebabkan karena lebih banyak air
yang menguap dari lautan. Namun para ilmuwan belum yakin apakah kelembapan tersebut akan
menurunkan atau meningkatkan pemanasan yang lebih dalam. Hal itu disebabkan karena uap
air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada
atmosfer. Namun uap air yang lebih banyak juga akan membuat awan yang lebih banyak,
sehingga akan memantulkan cahaya Matahari kembali ke angkasa luar yang selanjutnya akan
menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air).

Ketidak stabilan iklim juga akan tercermin dari badai yang akan muncul lebih sering. Selain itu,
air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya sejumlah daerah akan menjadi lebih kering
dari sebelumnya. Angin akan bertiup semakin kencang dan dimungkinkan dengan pola yang
berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan
menjadi lebih besar. Pola cuaca juga menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.Contoh dampak
pemanasan global yaitu pada bulan juni yang seharusnya sudah berada dalam musim panas
atau kering, tetapi yang terjadi tingkat curah hujan masih cukup tinggi.

5. Produksi pertanian menjadi menurun


Akibat lain yang akan dirasakan dari pemanasan global ialah menurunnya produksi pertanian.
Hal ini tidak terlepas dari dampak pemanasan global yang membuat iklim tidak stabil. Tidak
stabilnya iklim akan membuat lamanya musim hujan dan kemarau menjadi sulit diprediksi.

Lama tidaknya curah hujan ini akan mengganggu produksi pertanian yang ada. Misalnya di
Bagian Selatan Kanada, ketidakstabilan iklim membuat musim hujan di Kanada lebih lama
dibanding biasanya hal tersebut menyebabkan lebih lamanya masa tanam. Sehingga produksi
pertanian di Bagian Selatan Kanada akan menjadi lebih maksimal karena masa tanam yang
lebih panjang. Namun dibelahan bumi lain misalnya di benua Afrika, akan mengalami masa
kekeringan dan musim tanam yang lebih singkat. Sehingga hal ini akan menyebabkan produksi
pertanian menjadi turun.

6. Dampak Sosial, Ekonomi dan Politik


Dampak lainnya yang akan dirasakan akibat pemanasan global terjadi pada sektor sosial,
ekonomi dan politik. Kebakaran hutan, banjir dan becana angin topan, membawa kerugian yang
sangat besar bagi negara.Bencana-bencana ini memunculkan dampak sosial seperti perubahan
mata pencaharian penduduk terutama di daerah pertanian, hal tersebut karena perubahan iklim
menyebabkan kurangnya masa panen. Karena berkurangnya masa panen hasil panen pun
menjadi berkurang sehingga para petani mencari mata pencaharian lain yang tidak tergantung
pada iklim, sehingga menimbulakan terjadinya urbanisasi besar-besaran.

7. Topan Siklon Tropis


Topan siklon tropis merupakan salah satu dari akibat pemanasan global. Menurut Jan Egeland
Koordinator Bantuan PBB, mengatakan bahwa topan yang telah terjadi sejak tahun 1960 dan
merusak kehidupan orang Amerika ini, merupakan akibat pemanasan global. Pernyataan ini
diperkuat beberapa ilmuwan lainnya yang mengatakan bah
wa topan siklon tropis terbentuk akibat gejolak di atas laut diakibatkan oleh kenaikan temperatur
yang merupakan dampak pemanasan global.

8. Berkurangnya Sumber Daya Air


Akibat pemanasan global yang berikutnya ialah berkurangnya persediaan sumber daya
air.Perubahan suhu yang terjadi akibat perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan curah
hujan serta menyebabkan pergeseran vegetasi di daerah hulu sungai.Hal tersebut kemudian
mempengaruhi ketersediaan air dan limpasan permukaan air tanah.

9. Menipisnya lapisan ozon


Pemanasan global juga akan menyebabkan masalah yang sangat serius yaitu menipisnya
lapisan ozon yang menyelimuti Bumi. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa lapisan
ozon sangatlah penting keberadaannya di Bumi karena dapat melindungi Bumi dari berbagai
macam ancaman buruk, seperti menyaring sinar ultraviolet yang akan masuk ke permukaan
Bumi sehingga tidak langsung menyinari permukaan Bumi dan memberikan berbagai dampak
penyakit. Lapisan Ozon sendiri adalah lapisan di atmosfer pada ketinggian 19 - 48 km di atas
permukaan Bumi yang mengandung molekul-molekul ozon.

Pemanasan global yang membuat suhu rata-rata Bumi menjadi naik ini akan menyebabkan
lapisan ozon menjadi tipis dan bahkan berlubang. Apabila lapisan ozon berlubang maka
berbagai macam ancaman yang membahayakan akan masuk ke Bumi. Hal ini berarti lapisan
ozon tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Dan ketika lapisan ozon tidak berfungsi
dengan baik, maka Bumi akan mendapatkan banyak kerugian akibat menipisnya lapisan ozon
tersebut. Salah satu dampak buruk dari menipisnya lapisan ozon dalam atmosfer adalah dapat
menyebabkan meningkatnya penyakit kanker kulit dan katarak pada manusia, merusak tanaman
pangan tertentu, memengaruhi plankton yang akan berakibat pada rantai makanan di laut, serta
meningkatnya karbondioksida akibat berkurangnya tanaman dan plankton.

10. Terjadinya perubahan pola hidup binatang dan juga tumbuhan


Dampak berikutnya dari pemanasan global ialah terjadinya perubahan pola hidup binatang dan
juga tumbuhan.Bagian bumi yang mengalami kenaikan suhu rata-rata (terutama belahan bumi
utara) mengakibatkan banyak binatang bermigrasi mencari tempat yang lebih dingin (terutama
belahan bumi selatan).

Sehingga menyebabkan daerah yang mempunyai suhu yang lebih dingin cenderung memiliki
lebih banyak hewan.Hal ini juga terjadi pada tumbuhan, Banyak tumbuhan yang mati karena
tidak dapat beradaptasi dengan suhu ditempat nya yang mulai memanas.Hal ini mengakibatkan
tumbuhan mulai tumbuh di tempat-tempat yang baru yang memiliki suhu yang lebih dingin.
Kenaikan suhu juga membuat banyak binatang dan tumbuhan (sebagai produsen pada rantai
makanan) yang mati, sehingga makanan alami yang tersedia pun akan berkurang jumlahnya.

11. Krisis Energi


Karena cuaca yang semakin panas, pengguna alat listrik untuk kebutuhan menetralisir suhu di
dalam rumah, kantor dan ruangan lainnya semakin meningkat. Misalnya kita menggunakan AC
dan kipas angin untuk mendinginkan suhu.Akibatnya, pasokan listrik yang semakin besar dan
seandainya pasokan listrik tidak dapat terpenuhi maka krisis energi menjadi malapetaka baru
bagi umat manusia.

12. Pengaruh Terhadap Kesehatan Manusia


Dampak selanjutnya yang ditimbulkan dari pemanasan global ialah berengaruh buruk terhadap
kesehatan manusia. Akibat pemanasan global terhadap kesehatan manusia misalnya
adalah Meningkatnya kasus alergi dan penyakit pernapasan karena udara yang lebih hangat
memperbanyak polutan, seperti serbuk sari tumbuhan dan spora jamur.

Selain itu pemanasan global juga dapat membantu memperluas penyebaran penyakit.Misalnya
penyakit malaria dan DBD yang semula merupakan penyakit tropis, saat ini telah menyebar ke
daerah subtropis. Hal tersebut disebabkan karena suhu di udara subtropis menjadi lebih hangat
sehingga patogen dapat berkembang biak di daerah subtropics.
2.3 Dampak Pemanasan Global
Dalam laporan tahun 2013, IPCC telah menegaskan bahwa akibat aktivitas
manusia yang menghasilkan emisi gas-gas rumah kaca, teruatam karbon dioksida, telah
meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer sehingga menimbulkan
pemanasan global. Para ilmuwan menggunakan model komputer dari suhu, pola
presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan
model tersebut, para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak
pemanasan global terhadap iklim, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan
hewan liar, dan kesehatan manusia.
2.3.1 Iklim Mulai tidak Stabil
Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah
bagian utara dari Belahan Bumi Utara akan memanas lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-
gunung es akan mencair dan daratan akan berkurang. Akan lebih sedikit es
mengapung di perairan utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya
mengalami salju ringan mungkin tidak mengalaminya lagi. Pegunungan di
daerah subtropis bagian utara yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta
akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa
daerah. Suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembap karena lebih banyak air yang
menguap dari lautan. Kelembapan yang tinggi akan meningkatkan curah
hujan, secara rata-rata sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit
pemanasan. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya,
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan
bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai
yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air akan menjadi lebih besar.
Dengan demikian, pola cuaca menjadi sukar diprediksi dan lebih ekstrem.
2.3.2 Peningkatan Permukaan Laut
Ketika atmosfer menghangat, air pada permukaan lautan juga
menghangat. Hal ini berarti volume air di lautan membesar karena pemuaian
sehingga menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan global juga akan
mencairkan lempengan es di kutub, terutama di sekitar Greenland, sehingga
semakin memperbesar volume air laut. Tinggi muka laut di seluruh dubia
telah meningkat 10-25 cm selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC
memprediksi akan terjadi peningkatan lebih lanjut 9-88 cm pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di
daerah pantai. Kenaikan 100 cm saja misalnya akan menenggelamkan 6%
daerah Belanda, 17,5% daerah Bangladesh, dan mungkin banyak pulau akan
tenggelam. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika
tinggi lautan mencapai muara sungai maka akan terjadi banjir akibat air
pasang di daratan. Negara-negara kaya mungkin akan menghabiskan banyak
dana untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara miskin mungkin
hanya bisa mengevakuasi penduduknya untuk meninggalkan daerah pantai.
Untuk negara kita mungkin kenaikan permukaan laut akan menurunkan
produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya pemutihan terumbu karang.
2.3.3 Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini tidak
sama di beberapa tempat. Sebagai contoh, bagian selatan Kanada mungkin
diuntungkan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam.
Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika
mungkin tidak dapat ditanami. Daerah pertanian gurun yang menggunakan
air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika kumpulan
salju musim dingin yang berfungsi sebagai cadangan (reservoir) alami
mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan
hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Kenaikan suhu global sebesar 4°C menyebabkan penurunan produksi jagung
sebesar 5% akibat kekeringan dan meningkatnya potensi intrusi air asin pada
pertanian pesisir yang rentan akibat naiknya permukaan laut.
2.3.4 Kehidupan Hewan Liar dan Tumbuhan
Hewan dan tumbuhan merupakan makhluk hidup yang sulit menghindar
dari efek pemanasan global karena sebagian besar lahan telah dikuasai oleh
manusia. Akibat pemanasan global, hewan cenderung untuk berimigrasi ke
arah kutub atau ke atas pegunungan untuk mencari wilayah yang lebih
dingin. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah
baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi,
pembangunan yang dilakukan manusia akan menghalangi perpindahan ini.
Spesies-spesies yang berimigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh
kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe
spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin
juga akan musnah.
2.3.5 Kesehatan Manusia
Kenaikan suhu global telah memicu banyaknya penyakit yang berkaitan
dengan panas dan kematian, seperti stress, stroke, dan gangguan
kardiovaskular. Tidak hanya itu, penyakit dengan vektor seperti demam
berdarah dan malaria juga mengalami perluasan wilayah lokasi serangan dan
durasi penularan yang lebih lama. Penyebabnya adalah dengan meningkatnya
suhu daerah subtropis, memungkinkan perkembangan patogen di daerah
tersebut.

Dampak Pemanasan Global terhadap Kesehatan Manusia


Saat pemanasan global terjadi dan iklim di bumi menjadi lebih panas, para ilmuwan
memprediksi akan banyak orang meninggal karena gelombang panas seperti yang terjadi
pada musim panas Eropa pada tahun 2003 yang lalu, dimana tercatat sekitar 35.000 orang
meninggal dunia. Selain itu, iklim yang panas ini membuat wabah penyakit yang biasa
ditemukan di daerah tropis semakin meluas dan kemungkinan dapat berpindah tempat ke
daerah yang dulunya dingin dan subtropis seperti Eropa dan Amerika.Pemanasan global
dengan segala kompleksitas permasalahannya telah diuraikan dengan jelas.
Namun, secara spesifik akibat pemanasan global tersebut dapat diidentifikasi dampak
langsung terhadap kesehatan manusia secara umum, yaitu :
1. Sesuai teori Blum (1974), bahwa di antara keempat faktor yang mempengaruhi
derajat/status kesehatan individu maupun masyarakat, maka faktor lingkungan
memberikan kontribusi terbesar terhadap terjadinya penyakit pada manusia.
Perubahancuaca dan iklim dunia akibat pemanasan global secara langsung dapat
mempengaruhikondisi lingkungan tempat manusia tinggal. Curah hujan yang
tinggi bisa menstimulasipertumbuhan vektor yang tak terkendali beberapa
penyakit infeksi menular sepertiDemam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria.
Saat ini, 45% penduduk dunia tinggal didaerah yang rawan terhadap nyamuk
pembawa penyakit malaria dan persentase iniakan semakin meningkat menjadi
60% jika suhu meningkat.
Berdasarkan dataepidemiologis Depkes RI Tahun 2005, semua daerah di wilayah
Indonesia saat ini sudahtermasuk daerah endemis DBD dan Incidence Rate paling
tinggi berada di daerahperkotaan seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan
kota besar lainnya di Indonesia.
Malaria ini menjadi endemik di 106 negara dan mengancam sebagian besar
populasi
penduduk dunia, terutama di negara berkembang seperti Asia dan Afrika.Hal yang
paling mengkhawatirkan dari malaria ini karena parasit ini sudah resisten (tidak
mempanlagi) disembuhkan dengan berbagai macam obat dan sangat sulit
dikendalikanpenyebarannya. Di Indonesia, penyakit malaria ini sering mewabah
di Sumatera danPapua yang menjadi sangat rawan terhadap endemic malaria. Saat
suhu rata-rata diSumatera dan Papua naik di antara 25 − 27𝑜 𝐶 , suhu tersebut
merupakan suhu idealbagiperkembangan vektor malaria, dalam hal ini nyamuk
Anopheles betina.
Wabah demam berdarah juga akan melanda di seluruh dunia saat iklim menjadi
lebih
hangat, terutama di Amerika dan di wilayah subtropis lainnya. Saat curah hujan
mulai
meningkat dan semua daerah di seluruh belahan bumi ini menjadi lebih hangat,
penyebaran penyakit demam berdarah akan semakin meluas. Menurut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, 3.5 milyar orang pada
tahun2085 berisiko terkena demam berdarah yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedesaegepty. Di Indonesia penyakit ini terbukti telah memakan korban
yang tidak kenal usiayang kerap terjadi setiap tahun saat musim hujan tiba.
2. Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatnya risiko terjadinya kematian
akibatstress panas (heatstroke) pada manusia, seperti yang dapat kita saksikan saat
musimhaji di Saudi Arabia yang kebetulan bersamaan dengan terjadinya musim
panas danwilayahbenua Afrika.
3. Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatkan insidensi penyakit-
penyakit alergi(hipersensitivitas) karena udara yang lebih hangat akan
memperbanyak polutan, sporamold, dan serbuk sari tanaman. Padahal penyakit
alergi merupakan penyakit yangsangat sulit untuk disembuhkan sehingga dapat
meningkatkan biaya kesehatan danperawatan kesehatan masyarakat akibat
penyakit tersebut.
4. Meningkatnya insidensi penyakit–penyakittropikal khas lainnya seperti demam
kuning(yellow fever), encephalitis, dan meningitis. Penyakit-penyakit tersebut
sangat rawanterjadi pada usia anak-anak sehingga secara langsung pemanasan
global merupakanancaman nyata bagi kesehatan anak-anak usia balita.
5. Selain penyakit–penyakityang telah disebutkan di atas, banyak ilmuwan
memprediksikanakan muncul berbagai penyakit baru yang tidak diketahui
sebelumnya dan belum adaobatnya seperti SARS, aviant influenza (flu burung),
aviant malaria, berbagai macam fluyang mematikan, atau bahkan Ebola.
Jika berbagai wabah penyakit ini muncul secaramendadak seperti yang terjadi
pada tahun 1918 saatinfluenza muncul di dunia,sekitar 40 juta orang meninggal.
Dengan demikian sebagian populasi penduduk duniaterancam punah, apalagi di
era globalisasi ini dimana orang bisa berpindah/migrasi darisatu negara ke negara
lainnya tanpa mengenal ruang dan waktu, maka penyebaran
berbagai wabah penyakit akan semakin sulit untuk dikendalikan.