Anda di halaman 1dari 43

PROTEIN SEL TUNGGAL DARI Aspergillus niger BCCF 077 PADA MEDIA

DEDAK PADI SEBAGAI AKIBAT VARIASI INOKULUM DAN LAMA INKUBASI

Oleh :

SILVY NOVITA ANTRISNA PUTRI

NIM 186100100111011

MAGISTER TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2019

i
DAFTAR ISI

Teks Hal

DAFTAR ISI………………………………………………………………………. II
DAFTAR TABEL…………………………………………………………………. IV
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………… V
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………........ VI

I PENDAHULUAN……………………………………………………………….. 1
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………... 2
1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………………………….. 3
1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………………………… 3

II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………... 4
2.1 Malnutrisi……………………………………………………………………… 4
2.2 Protein sel tunggal…………………………………………………………… 4
2.2.1 Definisi protein sel tunggal……………………………………………….. 4
2.2.2 Produksi protein sel tunggal ……………………………………………... 6
2.2.2.1 Aspergillus niger………………………………………………………… 8
2.2.2.2 Morfologi Aspergillus niger……......................................................... 8
2.2.2.3 Komponen penghambat Aspergillus niger……………………………. 9
2.2.2.4 Kurva pertumbuhan Aspergillus niger ………………………………... 9
2.2.2.5 Fermentasi……………………………………………………………….. 11
2.2.2.6 Pemisahan media fermentasi dengan biomasa…………………….. 12
2.2.2.7 Pengeringan……………………………………………………………... 13
2.2.2.8 Purifikasi………………………………………………………………….. 13
2.2.3 Akseptibilitas dan toksikologi protein sel tunggal………………………. 14
2.3 Dedak padi sebagai media padat………………………………………….. 15
2.4 Nitrogen………………………………………………………………………. 18

III Kerangka konsep


3.1 Kerangka konsep produksi PST Aspergillus niger BCCF 077………….. 19
IV METODE PENELITIAN………………………………………………………. 20
4.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan………………………………………...... 20
4.2 Alat dan Bahan Penelitian………………………………………………...... 20
4.2.1 Alat produksi……………………………………………………………...... 20
4.2.2 Alat analisa…………………………………………………………………. 20
4.2.3 Bahan penelitian…………………………………………………………… 21
4.3 Metedologi penelitian……………………………………………………...… 21
4.3.1 Pelaksanaan penelitian………………………………………………….... 22
4.3.2 Pengujian dan analisa data………………………………………………. 23
4.4 Diagram alir………………………………………………………………...… 24

ii
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………...... 27

iii
DAFTAR TABEL

Nomor Teks Hal

Tabel 2.1 Perbedaan komposisi PST dari setiap grup 5


mikroorganisme % berat kering…………………………...
Tabel 2.2 Produksi protein sel tunggal dari beberapa 7
mikroorganisme …………………………………………….
Tabel 2.3 Perbedaan karakteristik media media padat dan media 12
cair …………………………………………………………...
Tabel 2.4 Komposisi kimia dedak padi % berat kering…………….. 18

iv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Hal

Gambar 2.1 Morfologi Aspergillus niger………………………………….. 8


Gambar 2.2 Kurva pertumbuhan Aspergillus niger……………………… 10
Gambar 2.3 Morfologi padi…………….................................................. 17
Gambar 2.4 Proses penguraian lignin dan selulosa dedak padi
18
menggunakan alkaline treatment……………………………
Gambar 2.5 Presentase komponen kimia dedak padi………………...... 15
Gambar 2.6 Presentase pemanfaatan limbah dedak padi……………… 16
Gambar 2.7 Reaksi natrium nitrat…………………………………………. 17
Gambar 3.1 Kerangkan konsep produksi PST Aspergillus niger BCCF
19
077
Gambar 4.1 Diagram alir pembuatan media padat dari dedak padi…… 24
Gambar 4.2 Diagram alir produksi biomasa Aspergillus niger BCCF 25
077……………………………………………………………...
Gambar 4.3 Diagram alir purifikasi dan karakterisasi biomassa
26
Aspergillus niger BCCF 077…………………………………

DAFTAR LAMPIRAN

v
Nomor Teks Halaman

1 Analisa bahan baku……………………………………………. 32


2 Pembuatan media untuk produksi biomasa Aspergillus
33
niger………………………………………………………………
3 Analisa hasil pengeringan Aspergillus niger………………… 34
4 Analisa media hasil fermentasi……………………………….. 35

vi
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Protein Sel Tunggal (PST) merupakan salah satu sumber protein yang
diperoleh dari biomasa mikroorganisme seperti kapang, yeast, bakteri dan
mikroalga yang telah dikeringkan (Nasseri et al., 2010). Selain sebagai sumber
protein, PST juga mengandung vitamin, lemak dan mineral yang berguna bagi
kesehatan manusia. PST merupakan salah satu solusi untuk mengurangi
dampak Kurang Energi Protein (KEP) di Indonesia. KEP adalah suatu keadaan
dimana tubuh tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup terutama
kandungannya proteinnya. KEP dapat mengakibatkan kematian pada orang
dewasa maupun balita. Pada periode 2010-2012 ditemukan jumlah kasus KEP
507 kasus dengan jumlah meninggal sebesar 20 orang di Indonesia.
Aspergillus niger merupakan salah satu jenis kapang yang banyak
digunakan untuk memproduksi PST, dikarenakan Aspergillus niger memiliki
banyak keunggulan jika dibandingkan mikroorganisme lainnya. Menurut Hamdy
(2013) keunggulan dari Aspergillus niger adalah, a) tidak menghasilkan
mycotoxin sehingga aman untuk produk pangan, b) memiliki ukuran miselia yang
besar sehingga mudah dilakukan pemisahan dan, d) termasuk dalam GRAS
c) mudah ditumbuhkan. Sehingga Aspergillus niger banyak dimanfaatkan untuk
memproduksi PST. Untuk meningkatkan pertumbuhan Aspergillus niger
dilakukan fermentasi menggunakan media padat.
Menurut Anupama et al. (2010) bahwa, fermentasi media padat memiliki
kelebihan yang mampu meningkatkan produksi biomasa Aspergillus niger
diantaranya a) sederhana, b) memiliki aw yang rendah sesuai dengan kriteria
pertumbuhan Aspergillus niger, c) memanfaatkan limbah industri sehingga
menurunkan biaya produksi, d) meningkatkan aktivitas enzim dan,
e) meningkatkan produktivitas antibiotik. Jika dibandingkan dengan SMF, SMF
memiliki kelebihan diantaranya, a) meningkatkan pertumbuhan bakteri, b) mudah
dilakukan scale up, c) mudah dilakukan agitasi dan memiliki kadar air yang tinggi.
SMF cenderung lebih cocok digunakan untuk media pertumbuhan bakteri
dibandingkan untuk pertumbuhan kapang. Sehingga pada penelitian ini
digunakan metode fermentasi media padat. Salah satu contoh media padat yang

1
banyak digunakan sebagai media pertumbuhan Aspergillus niger adalah dedak
padi.
Menurut Aritonang (2004) bahwa, pemanfaatan dedak padi sebagai
media padat merupakan salah satu solusi mengurangi limbah hasil penggilingan
padi, disamping itu dedak padi memiliki banyak keunggulan diataranya
a) ketersediannya melimpah, b) harganya murah, c) tidak termasuk bahan
pangan, d) memiliki aw yang rendah sesuai dengan kriteria pertumbuhan
Aspergillus niger. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dedak padi memiliki
potensi untuk digunakan sebagai media padat
Penelitian terdahulu tentang PST dilakukan oleh (Anupama et al., 2001)
yang menjelakan bahwa, nitrogen mempengaruhi biomasa yang dihasilkan untuk
memproduksi PST. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa, NaNO3
merupakan nitrogen yang mampu meningkatkan biomasa mikroorganisme
secara maksimal. Penelitian kedua dilakukan oleh (Hamdy, 2013) Yang
menjelaskan bahwa lama inkubasi dan konsentrasi inokulum berpengaruh
terhadap peningkatan biomasa yang dihasilkan. Hasil dari penelitian tersebut
menyatakan bahwa biomasa tertinggi dihasilkan pada lama inkubasi ke 144
dengan konsentrasi inokulum 5 spora/ml x 106. Berdasarkan penelitian
sebelumnya, maka diperlukan penyempurnaan produksi PST untuk memperoleh
biomasa yang optimal. Hal tersebut yang mendasari perlu dilakukan penelitian
tentang pemanfaatan dedak padi sebagai media padat untuk memproduksi
biomasa Aspergillus niger yang berpotensi sebagai protein sel tunggal Penelitian
tersebut penting dilakukan karena dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas
produk pangan serta sebagai solusi permasalahan kurang energi protein.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang perlu dipecahkan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi inokulum serta lama inkubasi terhadap
peningkatan biomasa Aspergillus niger
2. Apakah dedak padi berpotensi sebagai media padat untuk memproduksi
biomasa Aspergillus niger
3. Bagaimana pengaruh Protein Sel Tunggal dalam menyelesaikan masalah
KEP ditinjau dari kandungan proteinnya

2
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi inokulum serta lama inkubasi terhadap
peningkatan biomasa Aspergillus niger.
2. Mengetahui potensi dedak padi sebagai media padat untuk memproduksi
Aspergillus niger
3. Mengetahui potensi kandungan PST sebagai solusi masalah KEP di
Indonesia

1.4 Manfaat penelitian


Manfaat dari pelaksanaan peneletian ini adalah:
1. Bagi akademisi : untuk meningkatkan khasanah ilmu pengetahuan
tentang PST sebagai solusi untuk mengatasi masalah malnutrisi pada
masyarakat Indonesia.
2. Bagi masyarakat : untuk memberikan informasi tentang dan dampak dari
masalah malnutrisi serta solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
3. Bagi pemerintah : memberikan solusi alternatif untuk mengatasi masalah
malnutrisi di Indonesia

3
II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Malnutrisi

Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak memperoleh asupan gizi


yang cukup. Berdasarkan data yang diperoleh dari food and agriculture
organizatition UN (FAO) bahwa, 25% populasi dunia mengalami kekurangan
protein (Azam et al., 2014). Salah satu jenis masalah malnutrisi yang paling
banyak terjadi di Indonesia adalah kurang energi protein (KEP) atau yang biasa
disebut dengan busung lapar, dimana kurang energi protein adalah suatu
keadaan berat badan anak kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur
(BB/U) baku WHO-NCHS. Saat ini terdapat lebih dari 1 milyar penduduk dunia
yang mengalami KEP sehingga, tidak mampu melakukan aktivitas fisik dengan
baik. Pada anak-anak akibat dari KEP dapat mengganggu proses pertumbuhan
badan secara normal. Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa KEP
merupakan salah satu bentuk kurang gizi yang mempunyai dampak menurunkan
mutu fisik dan intelektual, serta menurunkan daya tahan tubuh yang berakibat
meningkatnya angka kematian (Aritonang, 2004). Maka diperlukan solusi dari
permasalahan diatas, salah satunya adalah sumber protein alternatif yang
mampu memenuhi kebutuhan protein didalam tubuh. Protein sel tunggal (PST)
merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan KEP didunia.
Kelebihan PST dibandingkan dengan sumber protein lainnya yaitu, diproduksi
dalam bentuk suplemen dan makanan ready to eat sehingga mudah dikonsumsi,
tidak diperlukan pengolahan lebih lanjut, dapat diproduksi sepanjang tahun
sehingga tidak bersifat musiman, dapat memilih jenis mikroorganisme yang
mampu memproduksi PST paling maksimal, dan lebih fokus terhadap kuantitas
dan kualitas (Nasseri et al., 2010).

2.2 Protein sel tunggal


2.2.1 Definisi protein sel tunggal

Protein Sel Tunggal (PST) merupakan konsentrat protein yang berasal


dari biomasa mikroorganisme yang telah dikeringkan (Nasseri et al., 2010). PST
merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein di masa

4
depan. PST selain mengandung protein, juga mengandung karbohidrat, lemak,
vitamin, mineral, dan berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia (Purwitasari
dkk, 2004). Protein diperlukan untuk menunjang pertumbuhan seperti
membangun sel yang rusak, pengatur asam basa darah, penyebab terjadinya
reaksi biokimia yang dikatalisis oleh enzim, menjaga keseimbangan cairan tubuh,
pembentuk antibodi dan, terkadang digunakan untuk menghancurkan komponen
yang berbahaya bagi tubuh manusia (Azam et al., 2014). Jenis mikroorganisme
yang dapat digunakan untuk memproduksi protein sel tunggal diantaranya yeast,
kapang, bakteri, dan mikroalga, pada masing-masing jenis mikroorganisme
tersusun atas komposisi yang berbeda Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Perbedaan komposisi PST dari setiap grup mikroorganisme % berat
kering
Komposisi Kapang Alga Yeast Bakteria
Protein 30-45 40-60 45-55 50-65
Lemak 2-8 7-20 2-6 1-3
Abu 9-14 8-10 5-10 3-7
Asam nukleat 7-10 3-8 6-12 8-12
Sumber : Nasseri et al., 2010

Mikroorganisme yang digunakan untuk memproduksi PST memiliki


kelebihan dan kekurangan diantaranya, Yeast memiliki ukuran sel yang besar
sehingga mudah dilakukan proses pemanenan, rendah asam nukleat, tinggi
kandungan lysine, dan dapat tumbuh dengan baik pada pH asam, sedangkan
kekurangannya kandungan protein yeast lebih rendah dibandingkan dengan
bakteri (45-55%), dan rendah methionine jika dibandingkan dengan bakteri.
Mikroalga memiliki kandungan selulosa yang baik bagi sistem pencernaan,
sedangkan kekurangannya diperlukan teknik dan biaya produksi yang tinggi
(Nasseri et al., 2013). Hamdy (2013) menyatakan bahwa, kapang memiliki
kelebihan diantaranya memiliki ukuran miselia yang paling besar dibandingkan
mikroorganisme lain sehingga memudahkan proses pemanenan, termasuk
dalam GRAS (Generally Regarded as Safe), tidak menghasilkan mycotoxin, dan
dapat tumbuh dengan baik pada limbah industri sehinga mengurangi biaya
produksi, namun kandungan proteinnya rendah, memiliki kandungan asam
nukleat yang tinggi, dan masa inkubasi kapang lebih lama dibandingkan
mikroorganisme yang lain.

5
2.2.2 Produksi protein sel tunggal

PST banyak diproduksi di Negara-negara besar seperti Jepang


(Kanegafuchi), Italia, Jerman, UK, Kanada, dan Swedia, dalam produksi PST
melibatkan banyak ilmu pengetahuan seperti mikrobiologi, biokimia, genetika,
kimia dan enginering, teknologi pangan, agriculture, animal nutrition, ekologi,
toksikologi, kesehatan, dan ekonomi. Aplikasi PST didunia industri selain
digunakan sebagai bahan pangan juga dapat digunakan sebagai pakan ternak.
Produk pangan yang ditambahkan PST seperti roti, soup, dan susu bubuk akan
memiliki kandungan protein jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produk
pangan tanpa penambahan PST, bahkan PST digunakan sebagai produk
pangan dietary menggantikan sumber protein lain contohnya susu, telur dan
daging. Selain itu PST diproduksi dalam bentuk suplemen, bubuk PST dan
kapsul (Nasseri et al., 2010).
Pemilihan mikroorganisme untuk memproduksi PST memperhatikan
beberapa hal diantaranya, menggunakan mikroba yang menghasilkan yield
tinggi, dan proses downstream diantaranya proses pemisahan miselia dengan
media mudah dilakukan, tidak memerlukan biaya yang tinggi, keamanan
mikroorganisme sebagai produk pangan (mikroorganisme tidak menghasilkan
toksin), dan kemampuan tubuh untuk menyerap kandungan nutrisi pada PST.
Metode screaning yang dapat digunakan dalam proses pemilihan
mikroorganisme diantaranya yaitu, proses seleksi, mutasi dan rekayasa genetika.
Mikroorganisme dapat menggunakan media sintetik maupun limbah industri
sebagai substrat dalam proses pertumbuhannya. Kriteria pemilihan media
fermentasi diantaranya yaitu, yield produk per unit substrat maksimum,
konsentrasi produk dalam media maksimum, kecepatan pembentukan produk
maksimum, produk samping yang tidak diinginkan seminimal mungkin, harganya
relatif murah, kualitasnya konsisten dan kontinuitas ketersediaannya terjamin,
permasalahan yang dihadapi dari segi pelaksanaan proses, aerasi, agitasi,
ekstraksi dan pemurnian produk serta penanganan limbah seminimal mungkin.
Terdapat tahapan dalam memproduksi PST diantaranya fermentasi dan
downstream (pemisahan, pengeringan dan puriifikasi) (Stanbury et al ., 2000).

6
Dalam penelitian ini menggunakan Aspergillus niger untuk memproduksi
PST, hal ini berdasarkan karakteristik Aspergillus niger yang aman untuk produk
pangan, mudah ditumbuhkan dan tidak membutuhkan nutrisi yang tinggi dalam
pertumbuhannya sehingga dapat menekan biaya produksi.

2.2.2.1 Aspergillus niger

Aspergillus niger adalah kapang anggota genus Aspergillus, famili


Eurotiaceae, ordo Eutiales, sub-klas Plectomycetetidae, kelas Ascomycetes, sub-
divisi Ascomycotina dan divisi Amastigmycota. A. niger mempunyai konidia yang
besar, padat, bulat dan berwarna hitam, hingga hitam-kecoklatan. A. niger dalam
pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat makanan yang terdapat
dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat disekeliling hifa dapat
langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah terlebih
dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dan mampu menghasilkan beberapa
enzim ekstra seluler seperti α-amilase, β-amilase, selulase, glukoamilase,
katalase, pektinase, lipase, dan β-galaktosidase. Selulase yang berasal dari
Aspergillus niger berbentuk selulase kompleks dan mampu diproduksi dalam
jumlah yang cukup banyak. Bahan organik dari substrat digunakan oleh
Aspergillus niger untuk aktivitas transport molekul, pemeliharaan struktur sel, dan
mobilitas sel (Munirah, 2013 ).

2.2.2.2 Morfologi Aspergillus niger

Gambar 2.1 Morfologi Aspergillus niger (Fardiaz, 2007).

a. Struktur filament dari Aspergillus niger


b. Reproduksi asexual dari Aspergillus niger

7
Aspergillus niger terdiri dari suatu thallus yang tersusun dari filamen yang
bercabang yang disebut dengan hifa. Kumpulan dari hifa disebut dengan
miselium. Hifa tumbuh dari spora yang melakukan germinasi membentuk suatu
tuba germ, dimana tuba ini akan tumbuh terus membentuk filamen yang panjang
dan bercabang yang disebut hifa, kemudian seterusnya akan membentuk suatu
massa hifa yang disebut miselium. Pembentukan miselium merupakan sifat yang
membedakan grup-grup didalam fungi. Hifa dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu hifa vegetatif atau hifa tumbuh dan hifa fertile yang membentuk
bagian reproduksi. Pada kebanyakan kapang hifa fertil tumbuh di atas
permukaan, tetapi pada beberapa Aspergillus niger mungkin terendam.
Penyerapan nutrien terjadi pada permukaan miselium. Aspergillus niger
merupakan spesies dari Aspergillus yang tidak menghasilkan mycotoxin, bahkan
dapat menekan terbentuknya racun aflatoksin yang dihasilkan oleh Aspergillus
parasiticus, sehingga tidak membahayakan (Fardiaz, 2007).

2.2.2.3 Komponen penghambat bagi pertumbuhan Aspergillus niger

Beberapa kapang mengeluarkan komponen yang dapat menghambat


organisme lainnya. Komponen itu disebut antibiotik, misalnya penisilin yang
diproduksi oleh Penicillium chrysogenum dan clavasin yang diproduksi oleh
Aspergillus clavatus. Pertumbuhan Aspergillus niger biasanya berjalan lambat
bila dibandingkan dengan pertumbuhan khamir dan bakteri. Oleh karena itu jika
kondisi pertumbuhan memungkinkan semua mikroorganisme untuk tumbuh,
kapang biasanya kalah dalam kompetisi dengan khamir dan bakteri (Waluyo,
2007)

2.2.2.4 Kurva Pertumbuhan Aspergillus niger

Pertumbuhan Aspergillus niger sama halnya dengan mikroorganisme


lainnya yaitu, dalam suatu kultur melewati beberapa fase diantaranya fase lag
atau adaptasi, fase log, fase stasioner dan fase kematian. Produksi PST kurva
pertumbuhan digunakan untuk menentukan waktu pemanenan, waktu yang
dipilih adalah fase log dimana pertumbuhan sel bersifat cepat dan konstan. Kurva
pertumbuhan mikroorganisme dapat ditunjukkan pada Gambar 2.2 :

8
Gambar 2.2 Kurva pertumbuhan Aspergillus niger (Widdel, 2010)

a. Fase Adaptasi

Fase adaptasi adalah fase penyesuaian Aspergillus niger dengan kondisi


lingkungan baru di sekelilingnya. Jumlah awal sel yang dipindah ke media baru
mempengaruhi cepat lambatnya fase adaptasi. Bila media dan lingkungan
pertumbuhan sama dengan media sebelumnya, mungkin tidak diperlukan waktu
adaptasi (Widdel, 2010).

b. Fase Pertumbuhan Logaritmik

Aspergillus niger membelah dengan cepat dan konstan mengikuti kurva


logaritmik. Kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh pH, kandungan
nutrien, suhu dan kelembaban udara. Pada fase ini kultur paling sensitive
terhadap keadaan lingkungan (Widdel, 2010).

c. Fase Pertumbuhan Stasioner

Jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada
fase ini menjadi lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat-zat nutrisi

9
sudah habis. Karena kekurangan nutrisi, sel mempunyai komposisi berbeda
dengan sel yang tumbuh pada fase logaritmik (Widdel, 2010).

d. Fase Menuju Kematian dan Fase Kematian

Sebagian besar populasi Aspergillus niger mulai mengalami kematian


karena nutrien di dalam medium sudah habis, adanya zat racun dan habisnya
energi cadangan di dalam sel. Kecepatan kematian tergantung dari kondisim
nutrien, lingkungan dan jenis mikroba (Widdel, 2010).

2.2.2.5 Fermentasi

Menurut Zay and Clue (2006) bahwa, fermentasi pada produksi PST
bertujuan untuk memproduksi biomasa dari mikroorganisme. Produksi biomasa
dengan menggunakan kultur murni mikrooganisme yang telah melalui proses
screaning , selain jenis mikroorganisme fermentor (tempat fermentasi) menjadi
fokus dalam memproduksi PST. Menurut Adzam (2008) fermentor adalah
peralatan untuk mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme dalam medium
cair. Parameter-parameter seperti pH, komposisi medium, suhu, pengadukan,
konsentrasi metabolit dan gas dapat dimonitor serta dikendalikan. Pada skala
LAB fermentor memiliki skala hingga dua liter sedangkan pada industri fermentor
atau yang biasa disebut dengan bioreaktor memiliki kapasitas 1000 liter.
Fermentor atau bioreaktor hendaknya mencegah kontaminasi produksi dari
lingkungan ke kultur, mencegah pelepasan kultur ke lingkungan, dan memiliki
instrumentasi untuk pemeriksaan agar terjadi pengawasan proses optimum.
Teknik fermentasi dibagi menjadi tiga yaitu, batch-fermentation, continyu
fermentatation, dan fed-batch fermentation. Fermentasi sistem tertutup (batch
process) merupakan fermentasi dengan jumlah nutrient awal terbatas. Pada
fermentasi ini tidak dilakukan lagi penambahan komponen substrat setelah
inokulasi, kecuali penambahan oksigen steril, anti buih dan asam atau basa
untuk pengaturan pH. Fermentasi kontinyu dimana terdapat penambahan nutrien
steril ke dalam fermentor dilakukan secara kontinyu, dalam waktu yang sama
larutan yang berisi sel dan produk hasil metabolisme (metabolit) dikeluarkan dari
fermentor dengan volume yang sama dengan substrat yang diberikan.
Sedangkan fed-batch fermentation merupakan fermentasi sistem tertutup dengan

10
penambahan substrat pada selang waktu dan volume tertentu. Jadi volume kultur
meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu
Menurut Rachman (2001) bahwa, Produk yang dapat diperoleh dari
proses fermentasi adalah enzim, sel mikroorganisme, metabolit primer, metabolit
sekunder, dan senyawa kimia lain hasil proses biokonversi oleh mikroorganisme.
Fermentasi mencakup aktivitas metabolisme mikroorganisme baik secara aerob
maupun anerob, sehingga terjadi perubahan kimiawi dari substrat organik.
Terdapat dua macam sistem fermentasi yaitu media padat dan media cair

Tabel 2.3 Perbedaan karakteristik media padat dan media cair


Karakteristik media Kelebihan Kekurangan
- Sederhana mudah - Spesifik terhadap
diaplikasikan organism tertentu
- Menggunakan limbah - Substrat
industri sehingga membutuhkan
menurunkan biaya perlakuan
produksi pendahuluan
Media padat - Produktivitas tinggi - Sulit dilakukan scale
- Meningkatkan up
konsentrasi biomassa
- Meningkatkan
aktivitas enzim
- Meningkatkan
produktivitas enzim
- Mudah ditumbuhkan - Biaya lebih mahal
- Meningkatkan - Menghasilkan
pertumbuhan bakteri produk dalam jumlah
- Mudah untuk yang rendah
Media cair dilakukan scale up - Mempunyai periode
inkubasi yang
pendek
- Mudah terjadi
kontaminasi
Sumber : Zadrazil et al., 2010

a. Media cair

Sistem fermentasi media cair adalah fermentasi yang melibatkan air


sebagai fase kontinyu dari sistem pertumbuhan sel bersangkutan atau substrat,
baik sumber karbon maupun mineral terlarut atau tersuspensi sebagai partikel-
partikel dalam fase cair. Fermentasi cair dengan teknik tradisional tidak dilakukan
pengadukan, berbeda dengan teknik fermentasi cair modern melibatkan
fermentor yang dilengkapi dengan : pengaduk agar medium tetap homogen,
aerasi, pengatur suhu (pendinginan dan pemanasan) dan pengaturan pH. Proses

11
fermentasi cair modern dapat dikontrol lebih baik dan hasil lebih seragam dan
dapat diprediksi. Juga tidak dilakukan sterilisasi, namun pemanasan,perebusan
dan pengukusan mematikan banyak mikroba competitor (Pradipta, 2008).
Keuntungan dari fermentasi cair yaitu, hampir disemua bagian tangki
terjadi fermentasi, kontak antar reaktan dan bakteri semakin besar. Sedangkan
kelemahannya, biaya operasi relatif mahal dikarenakan membutuhkan biaya
yang relatif mahal. Contoh aplikasi fermentasi cair pada dunia industri yaitu, hasil
akhir berupa metabolit primer (asam, asam amino, alkohol), hasil metabolit
sekunder (antibiotik, toksin), produksi masa sel (protein sel tunggal), enzim, dan
sebagainya. Mikroba yang umum digunakan dalam industri fermentasi termasuk
dalam bakteri (Kinan, 2005).

b. Media padat
Fermentasi media padat adalah fermentasi yang substratnya tidak larut
dan tidak mengandung air bebas tetapi cukup mengandung air untuk keperluan
mikroba. Media berfungsi sebagai sumber karbon, nitrogen maupun sumber
energi. Media fermentasi biasanya diberi perlakuan fisik berupa pemanasan
(pemasakan, perebusan) dan perendaman. Perlakuan fisik ini menyebabkan
media terdegradasi sehingga memudahkan untuk dicerna oleh mikroorganisme.
Pemanasan akan memutus ikatan kimia yang terdapat dalam media, tetapi
komposisi kimianya tidak berubah. Fermentasi padat di dalam produksi enzim
umumnya memberikan hasil yang baik karena jumlah substrat yang tersediapun
lebih banyak (20-50% padatan) (Indriani dkk, 2014).
Keuntungan dari teknik fermentasi SSF adalah tidak menggunakan
teknologi yang terlalu rumit, biaya produksi lebih murah, menggunakan Jenis
substrat padat yang berasal dari bahan alam makromolekul lignosellulosa, lignin,
sellulosa, pektin, pati, atau campurannya Dikarenakan bahan ini merupakan
produk pertanian atau limbah agroindustri sehingga biaya produksi lebih murah,
poduktivitas lebih tinggi, meningkatkan konsentrasi biomassa dan meningkatkan
aktivitas enzim (Aswa, 2015).
2.2.2.6 Pemisahan media fermentasi dengan biomasa

Pemanenan biomasa bertujuan untuk memisahkan biomasa dengan


media fermentasi, proses pemanenan dapat dilakukan melalui beberapa tahapan
yaitu, presipitasi, filtrasi dan sentrifugasi (Samuel et al, 2009).

12
a. Presipitasi

Presipitasi atau pengendapan adalah reaksi pembentukan padatan dalam


larutan atau didalam padatan lain selama reaksi kimia. Pengendapan juga dapat
terjadi karena adanya difusi dalam padatan. Ketika reaksi terjadi dalam larutan
cair, padatan disebut dengan endapan. Bahan kimia yang menyebabkan adanya
padatan disebut sebagai pengendap. Tanpa kekuatan energi gravitasi yang
cukup untuk membawa partikel-partikel padat ke bawah bersama-sama, maka
endapan akan tetap sebagai suspense. Setelah terjadi sedimentasi, endapan
dapat disebut sebagai pellet. Cairan yang sudah tidak mempunyai endapan
supernatant (Aditya, 2008).

b. Filtrasi

Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan


melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya
padatan akan terendapkan. Range filtrasi pada industri mulai dari penyaringan
sederhana hingga pemisahan yang kompleks. Fluida yang difiltrasi dapat berupa
cairan atau gas; aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan, padatan,
atau keduanya. Suatu saat justru limbah padatnyalah yang harus dipisahkan dari
limbah cair sebelum dibuang (Karim, 2009).

c. Sentrifugasi

Pemisahan sentrifugal menggunakan prinsip dimana objek diputar secara


horizontal pada jarak tertentu. Apabila objek berotasi di dalam tabung atau
silinder yang berisi campuran cairan dan partikel, maka campuran tersebut dapat
bergerak menuju pusat rotasi, namun hal tersebut tidak terjadi karena adanya
gaya yang berlawanan yang menuju kearah dinding luar silinder atau tabung,
gaya tersebut adalah gaya sentrifugasi. Gaya inilah yang menyebabkan partikel-
partikel menuju dinding tabung dan terakumulasi membentuk endapan. Ada
empat jenis sentrifus yaitu mikrosentrifugasi, sentrifugasi kecepatan tinggi,
sentrifugasi dingin, dan sentrifugasi ultra. Sentrifus yang sederhana telah
digunakan dalam biologi dan biokimia untuk mengisolasi dan memisahkan
biomolekul, organel-organel sel, atau sel secara keseluruhan (Nurdin, 2013)

13
2.2.2.7 Pengeringan

Biomasa yang telah dipisahkan dikeringkan dengan tujuan


menghilangkan kadar air dan memperoleh berat yang konstan. Pengeringan
merupakan proses untuk mengeliminasi keadaan lembab yang dapat merusak
kestabilan sediaan dimana transfer panas dan massa terlibat pada proses ini.
Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air sampai batas
perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan
pembusukan terhambat atau terhenti. Terdapat beberapa macam teknik
pengeringan, yaitu pengeringan dengan udara dan panas, pengeringan bekuan,
pengeringan melalui frekuensi tinggi, pengeringan melalui semburan,
pengeringan melalui lapisan berpusing, dan pengeringan kandungan lembab.
Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam pengeringan diantaranya adalah
spray dryers, fluidized bed dryers, vacuum dryers, flash dryers, rotary dryers, dan
conducting dryers. Pemilihan alat pengering di dasarkan pada faktor-faktor
seperti kondisi bahan, sifat bahan, jenis cairan yang terkandung dalam bahan
dan kuantitas bahan (Nurman, 2008). Namun proses pengeringan dapat
menurunkan kualitas dari produk dikarenakan terdapat komponen-komponen
pada produk yang tidak tahan terhadap panas, sehingga diperlukan pengujian
lebih lanjut untuk mengetahui suhu yang tepat (Dita, 2013).

2.2.2.8 Purifikasi

Protein Sel Tunggal dinyatakan layak dikonsumsi jika mengandung


protein 39-73% protein dan asam nukleat tidak lebih dari 2%, sedangkan
biomasa mikroorganisme yang telah dikeringkan mengandung asam nukleat
yang tinggi hingga mencapai 7-12 % berat kering. Metode untuk mendegradasi
asam nukleat sangat diperlukan pada tahap akhir produk, dikarenakan asam
nukleat dapat mengganggu kesehatan tubuh. Asam nukleat merupakan suatu
polinukleotida, yaitu polimer linier yang tersusun dari monomer-monomer
nukleotida yang berikatan melalui ikatan fosfodiester. Menurut Fatma (2010)
bahwa, fungsi utama asam nukleat adalah sebagai tempat penyimpanan dan
pemindahan informasi genetik. Informasi ini diteruskan dari sel induk ke sel anak
melalui proses replikasi. Sehingga diperlukan metode yang bertujuan untuk
mereduksi asam nukleat pada PST sehingga aman untuk produk pangan.

14
Purifikasi bertujuan untuk menghilangkan kotoran non biomasa dan mereduksi
asam nukleat. Kandungan asam nukleat berlebih menyebabkan masalah
kesehatan yang kompleks salah satunya yaitu batu ginjal, hal tersebut
disebabkan oleh kandungan purin yang terdapat pada asam nukleat tidak dapat
dimetabolisme oleh tubuh sehingga akan terakumulasi diginjal
Terdapat beberapa metode purifikasi diantaranya, treatment kimia (asam,
basa, detergent), enzim (enzim litik, autolisis), dan treatment fisik (panas, dan
pengeringan). Treatment fisik memiliki beberapa keunggulan daripada metode
yang lainnya dari segi biaya dan kualitas protein yang dihasilkan. Proses
purifikasi selain menghilangkan kandungan asam nukleat juga mampu
menghilangkan komponen berbahaya seperti lysinoalanine yang menyebabkan
alergi pada tubuh (Nasseri et al., 2010).

2.2.3 Akseptabilitas dan toksikologi protein sel tunggal

Biomasa yang digunakan untuk memproduksi PST harus terlindungi dari


komponen berbahaya (safety hazard), Yang dimaksud dengan hazard adalah
sesuatu yang bersifat toksik dan mempunyai potensi membahayakan
keselamatan, keamanan, dan kesehatan pada produk pangan (Bhala et al .,
2007). Pengujian toksikologi dilakukan pada hewan uji coba pada skala LAB
dengan lama waktu yang lama. Hewan coba adalah setiap hewan yang
dipergunakan pada sebuah penelitian biologis dan biomedis yang dipilih
berdasarkan syarat atau standar dasar yang diperlukan dalam penelitian
tersebut. Bahan uji yang ditujukan untuk penggunaan pada manusia, perlu diteliti
dengan menyertakan subjek manusia sebagai final test tube. Relawan manusia
secara etis boleh diikutsertakan jika bahan yang akan diuji telah lolos pengujian
di laboratorium secara tuntas, dilanjutkan dengan menggunakan hewan
percobaan untuk kelayakan dan keamanannya. Penerimaan produk pada
manusia tidak hanya memperhatikan keamanan dan kandungan nutrisi produk,
namun juga memperhatikan kondisi psikologi, social dan keyakinan konsumen
(Karinda, 2009)

2.3 Dedak padi sebagai media padat

Dedak padi merupakan hasil ikutan penggilingan padi yang berasal dari
lapisan luar beras pecah kulit dalam proses penyosohan beras. Proses

15
pengolahan gabah menjadi beras akan menghasilkan dedak padi kira-kira
sebanyak 10%, pecahan-pecahan beras atau menir sebanyak 17%, tepung
beras 3%, sekam 20% dan berasnya sendiri 50%. Persentase tersebut sangat
bervariasi tergantung pada varietas dan umur padi, derajat penggilingan serta
penyosohannya (Munirah, 2013). Morofologi dedak padi ditunjukkan pada
gambar

Gambar 2.3 Morfologi padi (Humprey et al., 2005).

Komposisi kimia pada dedak padi adalah minyak, protein, serat, serta
karbohidrat, komposisi kimia dedak padi tersaji pada Tabel 2.4. Perbedaan
komponen –komponen tersebut dapat dipengaruhi oleh umur pemanenan,
proses pemanenan, penyimpanan, perbedaan varietas, keadan iklim dan tempat
pertumbuhan (Muchtadi, 2005).

Tabel 2.4 Komposisi kimia dedak padi % berat kering


Jenis Protein Lemak Serat Abu Pati Gula
Dedak 13.2-23.9 17.0-22.9 9.5-13.2 9.2-11.5 16.1 6.4-6.5
Gabah 6.7-8.3 2.1-2.7 8.4-12.1 3.4-6.0 62.1 1.4
Sumber : Esabi, 2001
Selain mengandung minyak protein, serat, serta karbohidrat dedak padi
juga mengandung lignin. Lignin pada dedak padi tidak dapat dimanfaatkan oleh
mikroba secara langsung. Sehingga perlu dilakukan treatment terlebih dahulu.
Lignin merupakan komponen penyusun tumbuhan, komposisi bahan penyusun
ini bebeda-beda bergantung jenisnya. Lignin terutama terakumulasi pada batang

16
tumbuhan berbentuk pohon dan semak. Pada batang, lignin berfungsi sebagai
bahan pengikat komponen penyusun lainnya, sehingga suatu pohon mampu
berdiri tegak. Kandungan lignin pada dedak padi akan mengalami proses
penguraian dengan proses alkaline treatment menggunakan NaOH. (Akhtar
,2015). Terdapat berbagai metode dalam proses pretreatment lignin seperti,
pretreatment kimia, fisik, biologi, dan fisika kimia, dari berbagai treatment
tersebut metode alkali treatment mampu mendegradasi lignin dan selulosa
hingga mencapai 95% (Kristina dkk, 2012).

Gambar 2.4 Proses penguraian lignin menggunakan alkaline treatment


(Kristina dkk, 2012).

Selain lignin dedak padi memiliki kandungan minyak dedak yang relative
cukup besar dibandingkan komponen kimia lainnnya yaitu 19,97%. Hanya sedikit
lebih rendah dibandingkan dengan kandungan karbohidrat yaitu 22,04%. Hasil
penelitian (Parrado et al., 2006), menunjukkan bahwa komposisi asam lemak
pada dedak padi didominasi oleh asam oleat yaitu sebanyak 42,4% dan asam
linoleat adalah 36,4%. Dengan demikian minyak dedak padi digolongkan sebagai
unsaturated fatty acid atau asam lemak tak jenuh. Minyak dedak mengandung
oryzanol yang merupakan sumber antioksidan alami yang dibutuhkan manusia.
Dedak padi dapat dimanfaatkan lebih optimal dan mempunyai nilai tambah yang
lebih tinggi apabila dapat diolah lebih lanjut dan tidak hanya terbatas untuk
campuran pakan tenak (Hadipernata dkk., 2012).

17
2.4 Nitrogen
Kapang merupakan organisme heterotrof yang memanfaatkan senyawa
organik sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan metabolisme. Namun
demikian, kapang juga dapat menggunakan senyawa anorganik. Sumber
nitrogen organik memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan sel kapang,
sedangkan sumber nitrogen anorganik berpotensi sebagai prekussor untuk
meningkatkan produksi metabolit sekunder. Nitrogen dibutuhkan oleh kapang
dalam jumlah 0.2% (Lestari, 2012).

2.4.1 Nitrat

Salah satu nitrogen anorganik yang dapat digunakan oleh kapng terdapat
dalam bentuk nitrat, misalnya NaNO3. Aspergilllus dan Neurospora merupakan
kapang yang mampu menggunakan nitrat sebagai sumber nitrogen. Nitrat dapat
digunakan oleh kapang sebagai sumber nitrogen melalui proses penguraian
dengan melibatkan enzim nitrat reduktase dan nitrit reduktase. Enzim nitrat
reduktase akan mengubah nitrat menjadi nitrit

NO3- nitrat reduktase


NO2-
Dan enzim nitrit reduktase yang mengubah senyawa nitrit menjadi ammonium
NO2- nitrit reduktase
NH3

Gambar 2.6 Reaksi Natrium nitrat (Lestari, 2012)


Kemudian ammonium akan diasimilasi menjadi senyawa glutamate dan
glutamine. Kedua senyawa tersebut berperan dalam metabolism seluler, baik
metabolism seluler, baik metabolism primer maupun metabolism sekunder.
Penggunaan nitrat (NO3-) dapat menyebabkan perubahan pH medium fermentasi
menjadi basa karena adanya pelepasan ion OH- ke lingkungan medium sehingga
terjadi peningkatan pH dalam medium (Lestari, 2012).

18
BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka konsep produksi PST Aspergillus niger BBCF 077

Dedak Padi

Sterilisasi

Dikeringkan pada suhu 600C, selama 12 jam

Dihaluskan

Dedak Padi pre treatment

60 ml NaNO3 0.05%

Dimasukkan kedalam kain blancu


Media dedak padi

Inokulasi Aspergillus niger BCCF 077 10 %, 30%, 50%

Fermentasi selama 24, 48, 72, 96, 120, 144 jam

Ekstrasksi biomassa

Dikeringkan pada suhu 850C, selama 2 jam

Biomassa PST

Purifikasi

Identifikasi

PST

Gambar 3.1 Kerangka konsep produksi Protein Sel Tunggal

19
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi pangan,


Laboratorium Biokimia Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Brawijaya Malang dan Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya
Malang. Keseluruhan penelitian dilaksanakan pada bulan Febuari 2019 sampai
dengan Juni 2019

4.2 Alat dan Bahan Penelitian

4.2.1 Alat Produksi

Peralatan yang dibutuhkan untuk produksi biomassa Aspergilus niger


BCCF 077 yaitu Sentrifuge, Shakerwaterbath (Memmert WNB 14), Laminar Air
Flow (LAF), pH meter (Hanna HI8424), Autoclave semi otomatis, Magnet stirrer
(Super-Nuova), Incubator , Gelas ukur 100 ml (iwaki pyrex), Erlenmeyer 500 ml
(iwaki pyrex), Ose, Spatula, Bunsen, Tube 50 ml (ependof), Gelas jar, Kain
blancu, Plastik wrap, Alumunim foil dan benang kasur.

4.2.2 Alat Analisa

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:


Spektrofotometer (genesys 20), Stomacher (seward/BA 7020), Haemocytometer
(mrienfeld), Mikroskop (Olympus CH20), Timbangan analitik (Metter Toledo),
Oven pengering (memmert), Pipet volume 1 ml-10 ml (iwaki pyrex), Kompor listrik
(maspion), Tabung reaksi (iwaki pyrex), Labu ukur 50 ml – 100 ml (iwaki pyrex)
Erlenmeyer 100 ml -1000 ml (iwaki pyrex), Beaker glass 100 ml -1000 ml (iwaki
pyrex), Rak tabung, Bola hisap, Kuvet, Botol sampel, Corong, Kertas saring
halus, Kertas saring kasar dan Botol uc.

20
4.2.3 Bahan penelitian

Pada penelitian ini menggunakan kultur murni Aspergilus niger strain


BCCF 077 yang diperoleh dari Laboraturium Mikrobiologi Pangan dan Hasil
pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Brawijaya. Media
pertumbuhan yang digunakan adalah media padat dari dedak padi dengan
spesifikasi sebagai berikut, dedak padi sudah bersih dari zat pengotor misalnya,
kerikil, dan batu, dan sudah tidak mengandung
yang berasal dari penggilingan padi di Jl Raya candi blok 6C, Sukun
Malang. Bahan kimia yang digunakan adalah PDA (Potato Dextrose Agar), CMC
(Carboxyl Methyl Cellulose), MgSO4.7H2O, yeast extrak, serbuk antrone, CaCO3,
Pb asetat, Na-Oksalat diperoleh dari labaratorium uji Fakultas Teknologi
Pertanian alkohol 70%, spirtus, kapas sukrosa dengan merk gulaku, dan NaNO3,
BSA (Bovin Serum Albumin) yang berasal dari LSIH (Laboraturium Sentral Imu
Hayati) Universitas Brawijaya, reagen bardford, NaOH 30%, NaOH 1%, PP,
asam borat 3%, HCl 0,1 N, tablet kjedahl, HCl 25% dan asam sulfat yang
diperoleh dari toko kimia makmur sejati.

4.3 Metedologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif


dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi inokulum terdiri dari 3 level
dan faktor kedua adalah lama fermentasi terdiri dari 6 level, sehingga diperoleh
18 kombinasi perlakuan. Pada setiap perlakuan dilakukan pengulangan
sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dari hasil penelitian diuji lanjut
menggunakan anova (α 0,05)

Faktor I : Konsentrasi inokulum yang terdiri dari 3 level, yaitu :

A1 : Konsentrasi inokulum 10%


A2 : Konsentrasi inokulum 30%
A3 : Konsentrasi inokulum 50%

21
Faktor II : Lama fermentasi, yang terdiri dari 6 level yaitu :

B1 : 24 jam
B2 :48 jam
B3 : 72 jam
B4 : 96 jam
B5 : 120 jam
B6 : 144 jam

Dari kedua faktor tersebut diperolah 18 kombinasi, antara lain :

A1B1 : Konsentrasi inokulum 10% lama fermentasi 24 jam


A1B2 : Konsentrasi inokulum 10%, lama fermentasi 48 jam
A1B3 : Konsentrasi inokulum 10%, lama fermentasi 72 jam
A1B4 : Konsentrasi inokulum 10%, lama fermentasi 96 jam
A1B5 : Konsentrasi inokulum 10%, lama fermentasi 120 jam
A1B6 : Konsentrasi inokulum 10%, lama fermentasi 144 jam
A2B1 : Konsentrasi inokulum 30%, lama fermentasi 24 jam
A2B2 : Konsentrasi inokulum 30%, lama fermentasi 48 jam
A2B3 : Konsentrasi inokulum 30%, lama fermentasi 72 jam
A2B4 : Konsentrasi inokulum 30%, lama fermentasi 96 jam
A2B5 : Konsentrasi inokulum 30%, lama fermentasi 120 jam
A2B6 : Konsentrasi inokulum 30%, lama fermentasi 144 jam
A3B1 : Konsentrasi inokulum 50%, lama fermentasi 24 jam
A3B2 : Konsentrasi inokulum 50%, lama fermentasi 48 jam
A3B3 : Konsentrasi inokulum 50%, lama fermentasi 72 jam
A3B4 : Konsentrasi inokulum 50%, lama fermentasi 96 jam
A3B5 : Konsentrasi inokulum 50%,, lama fermentasi 120 jam
A3B6 : Konsentrasi inokulum 50%, lama fermentasi 144 jam

22
4.3.1 Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dua tahap yaitu penelitian


pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk
menentukan variasi konsentrasi NaNO3, Lama inkubasi dan konsentrasi inokulum
paling optimal dalam menghasilkan biomasa Aspergillus niger . Penelitian utama
dilakukan untuk memproduksi biomassa Aspergillus niger dengan menggunakan
konsentrasi NaNO3, lama inkubasi dan konsentrasi inokulum yang telah
diperoleh dari penelitian pendahuluan.

4.3.2 Pengujian dan Analisa

Pengujian dilakukan pada media dedak padi dan biomasa hasil


fermentasi. Pengujian bahan baku media dedak padi meliputi analisa total N
menggunakan metode kjedahl dan analisa total gula menggunakan metode
antrone (Anton dkk, 1989) .Pada hasil fermentasi dilakukan analisa kenampakan,
total biomassa, total protein menggunakan bardford, total gula menggunakan
antrone , purification dan karakterisasi protein menggunakan HPLC (Anton dkk,
1989). Analisa yang digunakan adalah analisa deskriptif kuantitatif dengan 3 kali
ulangan pada setiap perlakuan Rerata data yang diperoleh dari hasil penelitian
disusun dalam bentuk grafik untuk mempermudah interpretasi data serta
dilakukan uji lanjut untuk mengetahui pengaruh konsentrasi inokulum dan lama
inkubasi terhadap produksi biomasa Aspergillus niger .

23
4.4 Diagram Alir

4.4.1 Diagram Alir Pembuatan Media Padat Dari Dedak Padi

100 g dedak padi

1 liter NaOH 1%

Disterilisasi 1210C, 15 menit

Didinginkan

Disaring menggunakan kain

Dicuci menggunakan aquades hingga pH netral

Dikeringkan menggunakan suhu 600C, 12 jam

Dihaluskan menggunakan blender

Dedak padi
pretreatment

60 ml NaNO3
0.05%

dihomogenkan

Ditimbang 5g dedak padi

Dimasukkan kedalam kain blancu dan diikat menggunakan tali kasur

Dimasukkan kedalam jar, disterilisasi 1210C selama 15 menit

Media dedak padi

Gambar 4.1 Diagram alir pembuatan media padat dari dedak padi (Modifikasi
Anupama et.al ., 2001)

24
4.4.2 Diagram Alir Produksi Biomasa Aspergillus niger BCCF 077

Analisa awal:
Media dedak padi - Total N
- Total gula

Fermentasi
Konsentrasi inokulum
yang digunakan :
a) Konsentrasi 10%
b) Konsentrasi 30% Analisa :
c) Konsentrasi 50% - Kenampakan

Lama fermentasi 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam, 120 jam dan 144 jam, pada
suhu 270C

Analisa media padat setelah


fermentasi:
- Total gula (mg/g)

Sodium sulfat
Pemisahan menggunakan
(150 g/l) 1:5 sentrifuse 5000 rpm,15menit

Ampas Filtrat

Dikeringkan suhu 850C, 2 jam


Analisa akhir :
- Biomassa (g/10g
DP)
- Protein (mg/ml)
Biomassa kering

Gambar 4.2 Diagram alir produksi biomasa Aspergillus niger BCCF 077
(Modifikasi Anupama et.al ., 2001 dan Hamdy, 2013)

25
4.4.3 Diagram Alir Purifikasi dan Karaktrisasi Biomasa Aspergillus niger
BCCF 077

Biomassa kering

Destruksi dinding sel menggunakan


ultrasonification

Degradasi asam nukleat menggunakan


alkaline pada suhu tingggi
Asam nukleat

Dikeringkan pada suhu 85 C


selama 2 jam
Analisa akhir :
- Karakterisasi Protein
menggunakan HPLC
Single cell protein

Gambar 4.3 Diagram alir purifikasi dan karakterisasi biomassa Aspergillus niger
BCCF 077 (Modifikasi Anupama et.al ., 2001 dan Hamdy, 2013)

26
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, R. 2008. Perencanaan pengomposan sebagai alternative pengolahan


sampah organik . Jurnal presipitasi.7(1): 18-25

Anton.A, Fardias.D, Puspitasari. N, Sedarnawati, Budiyanto.S, 1989. Analisis


pangan. Departemen pendidikan dan kebudayaan direktorat jenderal
pendidikan tinggi pusat antar universitas pangan. ITB

Aswa,O. 2015. Proses fermentasi (batch,fed batch dan continous process).


Skripsi

Akhtar.Y.T. 2015. Biodegradation of lignin from corn cob by using a mixture


of phanerochaete chrysosporium, lentinus edodes and pleurotus
ostreatus. International journal of scientific and Technology research.2
(11): 16-86

Anupama.Y.T.,L.O.Puny.,dan Ravindra.S.R. 2001. Studies on production of


single cell protein by Aspergillus niger in solid state fermentation of rice
brean. An international journal 44(1): 79-88

Azam. K., Ahmad.I., and Ali. M. 2014. Production of single cell protein from
orange pells using Aspergillus niger dan Saccharomyces cerevisiae.
Global journal of biotechnology dan biochemistry 9(1): 14-18

Adzam.K, 2008. Stabilisasi dedak padi melalui pemasakan ekstrusif. Jurnal


teknik kimia Indonesia. 6(3): 681-688

Aritonang.E. 2004. Kurang energy protein. Jurnal ilmu kesehatan 3(4): 16-20

Arifin.M.2013. Karakteristik pertumbuhan kapang. Jurnal mikrobiologi 1(3): 10-15

Bhalla, T.C., N.N Sharma and M. Sharma, 2007. Production of metabolites,


Industrial enzymes, Amino acid, Organic acids, Vitamin and Single Cell
Proteins. Journal national science, India 28: 79-86

Bruce.J.S, Terry.M, Sugandha.D, Mark.M, Rohini.C, Donald.D, 2015. Sugar cane


bagasse pith dry pretreatment for single cell protein production. Bioresh.
Tech., 39, 17-22

Chehri, J. 2013. Factors affecting the growth of biomass of Aspergillus niger.


Journal Medical Sciences and Public Health. (1): 1–5

Callihan, C.D. 2005. Use of bicarbonate for microbial control and improved water-

27
binding capacity in cod fillets. J.Food Sci., 55: 1564-1566

Damayanti, A.Joni, Alt. 2004. Bioconversion of biomass: A case study of lingo-


cellulosics bioconversions in solid state fermentation. Brazilian arch. Biol.
Tech., 41(4), 379-390

Dita,T. 2013. Pengolahan dan rekayasa proses pangan dan hasil pertanian.
Jurnal aplikasi teknologi pangan 1(1). 2013

Depkes RI. 2000. Pelaksanaan program perbaikan gizi. Jakarta : Departemen


Kesehatan Republik Indonesia

Esabi.B.R, 2001. Production of single cell protein form horn hydrolisate. Turkish
journal of biology 25: 371-377

Fardiaz, M. 2007. Optimasi dan stabilitas pH dan temeperatur glukoamilase


produksi Aspergllus niger BCS menggunakan sekam dan dedak sebagai
penyangga fermentasi substrat padat. World J. Microbiol. Technol., 10:
485-486.

Fatimah, Nurhidayah, dan windy. 2008. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap


status gizi pada balita di kecamatan ciawi kabupaten tasikmalaya.10.
(XVIII):39

Fatma,R. 2010. Metabolisme asam nukleat .Jurnal bioteknologi, 2(2): 123-178

Gandjar, Sjamsuridzal dan Oetari. 2006. Mikologi : dasar dan terapan. Yayasan
obor Indonesia, Jakarta:xiii + 135 hlm

Hamdy.H. 2013. Production of mini food by Apergillus niger, Rhyzopus


oryzae and Saccharomyces cerevisiae using orange peels . Original
paper. Romanian Biotechnological letters.18(1): 39-43

Hapidernata, Supartono dan Falah. 2012. Proses stabilisasi dedak padi (Oryza
sativa L) menggunakan radiasi FAR infrared (FIR) sebagai bahan baku
minyak tanah. Jurnal aplikasi teknologi pangan. 1(4): 12-20

Hedenkog, G, H. Morgen and Y. Eng. 2013. Some methods for processing of


single cell protein. Biotechnol.Bioeng. 15: 134-156

Humphrey. A.E, A. Moreira, W. Armiger.2005. Production of single cell protein


from cellulose wastes. Biotech. Boeing, 9: 231-239

Ibrar.B.T., P.Ravindra., and Ifan.Y.T.2000.Optimization of process parameters for

28
the production of single cell protein microorganism. American-Eurasian
10(2): 264-270

Indriani.D.O, Syamsudin.L.N.I, Sriherfyna.F.H, dan Wardani.A.K. Invertase of


Aspergillus niger with solid state fermentation method and the application
in industry: A Review. invertase dari Aspergillus niger dan Aplikasi
Industri - Indriani, dkk jurnal pangan dan agroindustri. 3(4): 1405-1411

Jaganmohan, Forage,A.J, and Ferrianti, M.P. 2013. Production and feeding of


single cell protein. Aplied science publications, London. 109(4): 201-228

Karinda, R. 2009. Etika penelitian pada manusia dan hewan. The Indonesia
journal of clinical nutrition 3(4): 1254-1265

Karim,T. 2009. Kombinasi aerasi, adsorpsi, dan filtrasi, pada pengolahan limbah
cair. Journal ilmu kimia 5 (3) :1040-1049

Kinan,R. Teknik pembuatan media padat atau cair. Journal keteknikan pertanian
5(3): 192-212

Kristina, Syamsul, Maria, dan Hidayat.2012. Growth, cellulose, and lignin content
of ramie (Boehmeria nivea L. Gaudich) with treatment of gibberelic acid
(GA3). Journal biodervitas. 9(4): 269-274.

Lestari, eka. 2012. Pengaruh konsentrasi natrium nitrat terhadap kemampuan –


Candida albicans dari Aspergillus flavus UICC 360. Skripsi

Marieta.Y. 2000. Potensi mikroalga air tawar untuk memproduksi protein sel
tunggal. Journal ilmu pertanian 3(1): 11-16

Madyasta. S.2006. Karakteristik bakteri berdasarkan suhu optimum


pertumbuhannya. Journal biologi. 3(3): 12-15

Marlina, Saputro dan Amir. 2012. Respons tanaman padi (Oryza sativa L.)
terhadap takaran pupuk organik plus dan jenis pestisida organik dengan
System of Rice Intensification (SRI) di lahan pasang surut. Jurnal lahan
suboptimal. 1(2): 138-148

Munirah,M. 2013. Utilization of cocoa shell as solid state fermentation to


produce amylase enzyme by Aspergillus niger. Skripsi

Muchtadi. M, 2005. Stabilisasi dedak padi melalui pemanasan ekstrusif. Jurnal


teknik kimia Indonesi. 6 (3): 681-688

29
Nasseri A.T., S.R. Amini., M.H. Morowvat., and Y.Ghasemi. 2010. Single cell
protein : production and process. American journal of food technology, 6:
103-116

Nathalia. 2011. Produksi xilooligosakarida dari tongkol jagung sebagai kandidat


prebiotik dengan pemanasan suhu tinggi dan hidrolisis enzimatik. Skripsi.

Nurdin. 2013. Jenis dan Macam sentrifugasi. Jurnal Sain Pertanian Indonesia
6(1): 1-2

Nurman,M. 2008. Karakteristik dan fisikokimia biji . Jurnal pertanian, 2(3): 134-
140
Pradipta,M. 2008. Inokulasi dan peremajaan biakan dalam media padat dan cair.
Journal mikrobiologi. 5(1): 11-15

Parrado.Y.E, Engler. C.R, and Huang. Y.T. 2006. Functional properties of


phosphorylated yeast protein : solubility, water holding capacity and
viscosity. J. agric.Food Chem., 344: 670-674

Purwitasari.T,. Akbarillah. H., T.Khoiriyah. 2004. Rice brand quality of


several rice varieties in north Bengkulu. Jurnal sain peternakan Indonesia.
2(1): 1978-3000

Rachman, M. 2001. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat
terhadap nilai gizi produk fermentasi lumpur sawit. Jurnal llmu Ternak dan
Vetertner. 3(4)

Raja.Y.U, D.M. Stuart, D.A. Mitchel. 2008. Solid state fermentation in rotating
drum bioreactors: operating variable affect performance through their
effects on transport phenomena. Biotechnol.Bioeng. 63, 383,391

Samuel. R.E, J.I. Whitaker, K.L. Simard. 2009. Simple process for the reduction
in the nucleic acid acid content in yeast. Appl. Microbiol. 29(1), 59-62

Stanbury,S. Y., Soey and F.T Engler. Production protein sel tunggal by
Aspergillus niger. Applied biochemistry and biotechnology, 97(3):209-218

Sufi and D.Voltolino. 2009. Production biomass from cellulosic material with solid
state fermentation system. Aquac .Eng., 16:205-211

Thoyathilake.L, Sing.D, R.Y, Tee. 2000. Solid state fermentation system and their
applications in biotechnology. J. Basic microbial., 34, 405-414

Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi umum. UMM Press. Malang

Widdel, Y.T. 2010. Some methods for processing of single protein. Biotechnol.
Bioeng., 15:129-142.

30
Yohana,L. 2001. Morfologi dan ciri-ciri khamir. Journal mikrobiologi pangan.
3(6):12-17

Zay.Y.T and Clue.Y.U. 2006. Use of bicarbonates for microbial control and
improved water binding capacity in cell fillets. J.Food Sci. 55, 1564-1566

Zadrazil. F, dan Puniya.A.K. 2010. Studies on effect of particle size on solid state
fermentation of sugar cane bagasse into animal feed using white rot fungi.
Bioresh. Tech., 54, 85-87

Zurrer.Y.T., E.R.Tammy., Oshomo.C.E. 1979. Production of Aspergillus


niger biomass from rice bran. Pakistan journal of nutrition, 4(1): 32-36

31
LAMPIRAN

1.Analisa Bahan Baku

a. Analisa protein (Anton dkk., 1989)


− Timbang 100-500 mg contoh
− Dimasukkan ke dalam tabung destruksi
− Ditambahkan 1/2 tablet kejdahl dan 20 ml H2SO4 pekat
− Lakukan destruksi sampai warna menjadi hijau muda atau jernih
− Tunggu sampai dingin dan ditambahkan aquades 25 ml dan 3
tetes indikator pp
− Ditambahkan larutan NaOH 45% sampai warna coklat keruh
− Lakukan destilasi pada alat destilisai.
− Destilat ditampung dalam erlenmeyer yang telah diisi 20 ml
H3BO3 3% dan 5 tetes indikator metyl red
− Destilat dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai warna berubah menjadi
semula
%N = (ml HCl x N NaOH x 14,008) x 100%
Berat sampel (mg)
% protein = %N x 6,25
b. Analisa gula metode antrone (Anton dkk., 1989)
- Ditimbang 100 g dedak padi, dihaluskan
- Dicuci menggunakan alcohol 80%
- Ditambahkan 1g CaCO3
- Dihomogenkan
- Dipanaskan pada waterbath 1000C hingga mendidih
- Disaring menggunakan kertas saring
- Ditambahkan 0.1 g Na-oksalat dan 3 ml pb-asetat
- Disaring
- Dipanaskan pada waterbath 1000C hingga mendidih
- Diambil 1 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi, dan dilakukan
pengenceran hingga 10-1
- Ditambahkan reagen antrone 5ml, yang sebelumnya 0.05 gr
serbuk antrone dilarutkan kedalam 50ml H2SO4 pekat.
- Dipanaskan pada waterbath 1000C selama 12 menit
- Didinginkan cepat

32
- Diukur absorbansi pada panjang gelombang 630 nm.

2.Pembuatan Media Untuk Produksi Biomasa Aspergilus niger

a. Pembuatan media Potato Dextrose Agar dan peremajaan Aspergilus


niger
- PDA
- Dimasukan dalam beaker glass
- Diaduk hingga homogen
- Dimasukkan dalam tabung reaksi
- tabung reaksi ditutup dengan busa dan alumunium foil
- Disterilkan dengan autoklaf (Suhu 1210C, 15 menit)
- Didinginkan hingga memadat
- PDA miring steril
- Kultur murni Aspergillus murni
- Diinokulasikan ke PDA agar miring (media padat)
- Inkubasi selama 7 hari
- Disimpan didalam lemari pendingin
- Stock culture
-
b. Pembuatan media pre culture
- Sukrosa 20%, yeast extract 1.2 %, CMC 0.2%, MgSO4.7H2O
0.41%
- Ditambahkan aquades
- Diaduk menggunakan stirrer hingga homogeny
- Diatur pH 4 dengan buffer sitrat
- Disterilisasi pada suhu 1210C, 15 menit
- Media preculture steril

c. Pembuatan larutan Na2SO4


- 100 g Na2SO4
- Ditambahkan aquades 1l
- Dihomogenkan

33
3.Analisa hasil pengeringan biomasa Aspergillus niger

a. Pembuatan reagen bardford (Anton dkk., 1989)


- Ditimbang 0.01 g CBB, dimasukkan kedalam labu ukur 100ml
- Ditambahkan 5 ml etanol 95% dan 10 ml asam fosfor 85%
- Ditambahkan aquades hingga tanda batas
- Digojok 15 kali dan disimpan pada botol gelap di lemari pendingin
- Reagen bardford diencerkan menggunakan aquades hingga
perbandingan 1:4 ketika akan digunakan

b. Analisa kurva standart metode bardford (Anton dkk., 1989)


- 0.25 mg BSA dilarutkan kedalam 100 ml aquades dan diaduk
hingga homogen
- Larutan BSA dimasukkan kedalam tabung reaksi sebesar 0 ml
(blanko), 0.1, 0.2, 0.4, 0.6, 0.8 dan 1.0 ml
- Ditambahkan aquades pada masing-masing tabung reaksi hingga
volume total 4 ml
- Divortex
- Diambil 1 ml dari masing tabung reaksi dan ditambahkan 4 ml
reagen bardford
- Divortex dan diinkubasi selama 15 menit
- Diukur absorbansi pada panjang gelombang 595 nm

1.4
y = 1.0328x + 0.2049
1.2
R² = 0.9078
1
mg/ml

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
konsentrasi protein standart

34
c. Analisa protein metode bardford
- Biomasa Aspergillus niger yang telah dikeringkan
- Dilarutkan dalam aquades
- Dihomogenkan menggunakan stomacher selama 30 detik
- Disaring
- Hasil penyaringan diambil 1 ml dan ditambahkan 4 ml reagen
bardford
- Divortex dan diinkubasi selama 15 menit
- Diukur absorbansi pada panjang gelombang 595 nm

4.Analisa media hasil fermentasi

a. Analisa kurva standart total gula metode antrone


- 0.25 mg glukosa standart dilarutkan kedalam 100 ml aquades dan
diaduk hingga homogen
- Larutan glukosa dimasukkan kedalam tabung reaksi sebesar 0 ml
(blanko), 0.1, 0.2, 0.4, 0.6, 0.8 dan 1.0 ml
- Ditambahkan aquades pada masing-masing tabung reaksi hingga
volume total 4 ml
- Divortex
- Diambil 1ml pada masing-masing tabung reaksi
- Ditambahkan 5 ml reagen antrone
- Dipanaskan selama 12 menit pada waterbath 1000C
- Didinginkan
- Diukur pada absorbansi pada panjang gelombang 595 nm

1.2
y = 1.0543x + 0.0329
1 R² = 0.9991

0.8
mg/g

0.6

0.4

0.2

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
konsentrasi glukosa standart

35
b. Analisa gula metode antrone
- Ditimbang 1 g dedak padi, dihaluskan
- Dicuci menggunakan alcohol 80%
- Ditambahkan 1g CaCO3
- Dihomogenkan
- Dipanaskan pada waterbath 1000C hingga mendidih
- Disaring menggunakan kertas saring
- Ditambahkan 0.1 g Na-oksalat dan 3 ml pb-asetat
- Disaring
- Dipanaskan pada waterbath 1000C hingga mendidih
- Diambil 1 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi, dan dilakukan
pengenceran hingga 10-1
- Ditambahkan reagen antrone 5ml, yang sebelumnya 0.05 gr
serbuk antrone dilarutkan kedalam 50ml H2SO4 pekat.
- Dipanaskan pada waterbath 1000C selama 12 menit
- Didinginkan cepat
- Diukur absorbansi pada panjang gelombang 630 nm.

36
37