Anda di halaman 1dari 12

OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK)

Pengertian OJK
Menurut para pakar ekonomi:
1. Menkeu Agus Martowardojo: Pembentukan OJK diperlukan guna mengatasi
kompleksitas keuangan global dari ancaman krisis. Di sisi lain, pembentukan OJK
merupakan komitmen pemerintah dalam reformasi sektor keuangan di Indonesia.
2. Fuad Rahmany: menyatakan bahwa OJK akan menghilangkan penyalahgunaan
kekuasaan (abuse of power) yang selama ini cenderung muncul. Sebab dalam OJK,
fungsi pengawasan dan pengaturan dibuat terpisah.
3. Darmin Nasution: OJK adalah untuk mencari efisiensi di sektor perbankan, pasar modal
dan lembaga keuangan. Sebab, suatu perekonomian yang kuat, stabil, dan berdaya saing
membutuhkan dukungan dari sektor keuangan.
Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad: terdapat empat pilar sektor keuangan
global yang menjadi agenda OJK. Pertama, kerangka kebijakan yang kuat untuk
menanggulangi krisis. Kedua, persiapan resolusi terhadap lembaga-lembaga keuangan
yang ditengarai bisa berdampak sistemik. Ketiga, lembaga keuangan membuat surat
wasiat jika terjadi kebangkrutan sewaktu-waktu dan keempat transparansi yang harus
dijaga.
Di Indonesia mungkin kata-kata tentang OJK mungkin belum banyak kita kenal. OJK
adalah singkatan dari Otorisasi Jasa Keuangan, sebelum mengenal lebih lanjut tentang
OJK kita harus lebih dahulu mengerti apa yang dimaksud dengan Jasa Keuangan. Jasa
keuangan secara umum adalah istilah yang digunakan untuk merujuk jasa yang
disediakan oleh industry atau organisasi keuangan salah satu bentuk perusahaan yang
menyediakan jasa keuangan adalah bank, asuransi, kartu kredit dan sekuritas. Sejarah
singkat mengenai Jasa Keuangan, dapat dilihat kembali dari perkembangan di amerika
serikat sejak dikeluarkannya Gramm-Leach-Bliley Act pada akhir tahun 1990 yang
memungkinkan perusahaan yang beroperasi di industry keuangan AS untuk bergabung
Sedangkan yang dimaksud dengan OJK sendiri kita dapat mellihatnya pada UU no 21
tahun 2011. Menurut Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata dengan pembentukan OJK
diharapkan dapat berperan sebagai badan pengawas industry keuangan yang bersifat
netral dan konsisten dalam menjalankan aturan yang berlaku.Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 1,menyatakan :
“Otoritas Jasa Keuangan,yang selanjutnya disingkat dengan OJK, adalah lembaga
yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi,
tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. “
Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa Otoritas Jasa Keuangan adalah sebuah lembaga
pengawasan jasa keuangan seperti industri perbankan, pasar modal, reksadana,
perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi. Pada dasarnya UU tentang OJK ini
hanya mengatur mengenai pengorganisasian dan tata pelaksanaan kegiatan keuangan dari
lembaga yang memiliki kekuasaan.
Didalam pengaturan dan pengawasan terhadap sektor jasa keuangan. Oleh karena itu,
dengan dibentuknya OJK diharapkan dapat mencapai mekanisme koordinasi yang lebih
efektif didalam penanganan masalah-masalah yang timbul didalam sistem keuangan.
Dengan demikian dapat lebih menjamin tercapainya stabilitas sistem keuangan dan
adanya pengaturan dan pengawasan yang lebih terintegrasi
Fungsi dan Tujuan
Fungsi OJK
1. Mengawasi aturan main yang sudah dijalankan dari forum stabilitas keuangan
2. Menjaga stabilitas sistem keuangan
3. Melakukan pengawasan non-bank dalam struktur yang sama seperti sekarang
4. Pengawasan bank keluar dari otoritas BI sebagai bank sentral dan dipegang oleh
lembaga baru
Tujuan dalam pembentukan OJK
1. Untuk mencapainya, BI dalam melaksanakan kebijakan moneter secara
berkelanjutan, konsisten, dan transparan dengan mempertimbangkan kebijakan
umum pemerintah di bidang perekonomian.
2. Mengatasi kompleksitas keuangan global dari ancaman krisis.
3. Menciptakan satu otoritas yang lebih kuat dengan memiliki sumber daya manusia
dan ahli yang mencukupi
OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:
1. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
2. Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
3. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga
Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Dalam menjalankan tugas pengaturan dan pengawasan, OJK mempunyai wewenang:
 Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana
kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi
dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
 Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi,
dan aktivitas di bidang jasa;
 Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi: likuiditas,
rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan modal minimum, batas
maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan, dan pencadangan
bank; laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank; sistem
informasi debitur; pengujian kredit (credit testing); dan standar akuntansi bank;
 Pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi:
manajemen risiko; tata kelola bank; prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian
uang; dan pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan; dan
pemeriksaan bank.
 Menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
 Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
 Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK
 Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap
Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
 Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada
Lembaga Jasa Keuangan;
 Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan
menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
 Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
 Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan;
 Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala
Eksekutif;
 Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan
tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang
kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-
undangan di sektor jasa keuangan;
 Memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak
tertentu;
 Melakukan penunjukan pengelola statuter;
 Menetapkan penggunaan pengelola statuter;
 Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran
terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; dan
 Memberikan dan/atau mencabut: izin usaha, izin orang perseorangan, efektifnya
pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar, persetujuan melakukan kegiatan
usaha, pengesahan, persetujuan atau penetapan pembubaran dan penetapan lain.

Visi dan Misi OJK


VISI
Visi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah menjadi lembaga pengawas industri jasa
keuangan yang terpercaya, melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, dan
mampu mewujudkan industri jasa keuangan menjadi pilar perekonomian nasional
yang berdaya saing global serta dapat memajukan kesejahteraan umum.

MISI
Misi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah:
1. Mewujudkan terselenggaranya seluruh kegiatan di dalam sektor jasa keuangan
secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel;
2. Mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil;
3. Melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

Implementasi UU No.21 tahun 2011 tentang OJK


Pembentukan OJK adalah pelaksanaan amanah yang diatur dalam UU bank Indonesia. OJK
didirikan berdasarkan UU No.21 tahun 2011 tanggal 22/11/2011. Apa yang
mempertimbangkan penting pendirian OJK (daripenjelasan UU OJK) :
1. sistem keuangan dan selr=uruhkegiatan jasa keuangan yang menjalankan fungsi
intermediasi bagi berbagai kegiatan produktif di dalam perekonomian nasional memiliki
peran sangat strategisdalam system ekonomi
2. negaramemberikan perhatian serius terhadap perkembangan kegiatan sector jasa
keuangan, dengan mengupayakan terbentuknya kerangka peraturan dan pengawasan
sector jasa keuangan yang terintegrasi dan komprehensif
3. proses globalisasi system keuangan, pesatnya kemajuan di bidang IT serta inovasi
financial menciptakan system keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dan saling
terkait antara sub sector keuangan baik dalam hal produk maupun kelembagaan.
4. konglomerasi danketerkaitan kepemilikan telah menambah kompleksitas transaksi dan
interaksi antar lembaga jasa keuangan di dalam system keuangan
5. problem moral hazard, belum optimalnya perlindungan konsumen jasa keuangan dan
terganggunya stabilitas system keuangan semakin mendorong diperlukannya
pembentukan lembaga pengawasan di sector jasa keuangan yang terintegrasi.

Undang-undang No.21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa keuangan (OJK)


Fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan si sector
perbankan beralih dari Bank Indonesia ke OJK mulai sejak tanggal 31 Desember 2013. Bank
Indonesia mendukung sepenuhnya pengalihan pengawasan perbankan dari Bank Indonesia
kepada OJK.
Ruang lingkup tugas OJK
Lingkup tugas OJK yaitu :
Pengaturan dan pengawsan mengenai kelembagaan, kesehatan, aspek kehati-hatian,
pemeriksaan bank merupakan lingkup pengaturan dan pengawasan microprudential yang
menjadi tugas dan wewenang OJK

OJK dalam Perbankan Syariah


Pengaturan dan pengawasan perbankan syariah pasca OJK yaitu :
1. Kedudukan PBI yang mengatur BUS dan UUS
PBI yang telah dibentuk oleh Bank Indonesia akan tetap berlaku walaupun
fungsi, tugas, dan wewenang Bank Indonesia telah beralih ke OJK.
Keberlakuan PBI dimaksud sepanjang belum diatur melalui peraturan yang
kelak dikeluarkan oleh OJK yang mengatur materi muatan yang sama.
2. Peran Komite Perbankan Syariah
Pada masa transisi kepengurusan dari KPS yang ada bisa tetap diminta
melaksanakan tugasnya hingga habis masa jabatannya. OJK KPS
diformulasikan dalam bentuk Komite Pengembangan Jasa Keuangan Syariah
(KPJKS) OJK. Secara yuridis eksistensi KPJKS merupakan menifestasi dari
amanat pembentukan Komite Perbankan Syariah (KPS) sebagai amanah dari
Pasal 26 UU No.21 tahun 2008.
3. Hubungan kelembagaan antara Bank Indonesia dan Otoritas Jasa keuangan.
Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaan langsung terhadap bank (
termasuk BS dan UUS) tersebut dengan menyampaikan pemberitahuan
secara tertulis terlebih dahulu kepada OJK. Dalam melakukan kegiatan
pemeriksaan tersebut, bank Indonesia tidak dapat memberikan penilaian
terhadap tingkat kesehatan bank. Laporan hasil pemeriksaan bank
disampaikan kepada OJK (Vide pasal 40 ayat 1,2,3 UU OJK)
4. Peran OJK dalam pengaturan dan pengawasan perbankan syariah di
Indonesia.
a. Perihal menentukan kriteria tingkat kesehatan dan ketentuan yang
wajib dipenuhi oleh Bank Syariah dan UUS.
b. perihal memeriksa dan mengambil data atau dokumen dari setiap
tempat yang terkait dengan bank dan keterangan dari setiap pihak
yang menurut penilaian bank Indonesia memiliki pengaruh terhadap
bank.
c. Perihal menugasi kantor akuntan public atau pihak lainnya untuk
melaksanakan pemeriksaan dan menyatakan bank Syariah tidak
dapat disehatkan dan menyerahkan penanganannya ke lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) untuk diselamatkan atau tidak
diselamatkan.
d. Perihal mencabut izin usaha bank syariah tidak diselamatkan atas
permintaan LPS dan mencabut izin usaha Bank Syariah yang telah
melaksanakan kewajibannya atas permintaan bank yang
bersangkutan.
e. Melakukan tindakan dalam rangka tindak lanjut pengawasan.

Tantangan OJK
Apabila kita meninjau aset sektor jasa keuangan dan kapitalisasi pasar modal, kita
tertinggal dibandingkan dengan negara berkembang lain. Salah satu tujuan dari pembentukan
OJK menurut UU adalah agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan dapat
diintegrasikan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan memudahkan koordinasi.
Tantangan utama yang dihadapi di sektor keuangan di Indonesia adalah konsekuensi dari
pendalaman sektor keuangan, kerentanan pada risiko global, dan kredibilitas OJK.
Sektor keuangan merupakan "pusat" dari sistem dalam sebuah perekonomian.
Kegagalan sektor keuangan dapat melemahkan kinerja seluruh sistem dalam perekonomian
(Joseph Stiglitz, 1994). Salah satu kunci utama pendalaman keuangan adalah akselerasi
pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi akses untuk pihak-pihak yang tak memiliki
kecukupan finansial. Tak kalah penting adalah kekuatan struktur permodalan, infrastruktur,
dan inovasi produk jasa keuangan.

Kepercayaan Terhadap OJK


OJK adalah lembaga otoritas yang dibentuk dari integrasi dua lembaga besar, yaitu
Direktorat Pengatur dan Pengawas Perbankan BI dan Bapepam-LK Kementerian Keuangan.
Selain kendala kelambanan waktu, efektivitas lembaga, dan cakupan wilayah kerja, OJK
menghadapi permasalahan dalam mencapai model integrasi yang optimal karena peran dan
kepentingan masing-masing cenderung berbeda, yakni antara prinsip prudensial pada
perbankan dan lembaga keuangan serta keterbukaan pada pasar modal.
Sedangkan mengenai masalah kelemahan OJK sendiri, menurut Calon Komisioner
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mulia P Nasution kelemahan dari OJK antara lain soal
pengaturan dan pengawasan dalam satu organisasi secara terpadu namun beliau juga
mengatakan bahwa dengan organisasi yang mengatur dan mengawasi yang baru ini, mestinya
bisa bekerja dengan baik dibandingkan dengan organisasi yang sekarang

Kelemahan OJK
Dengan digabungkannya kegiatan dan pengawasan sector keuangan menjadi OJK tentu
ada tantangan dan kelemahan yang menyertainya, salah satu bentuk tantangan terbesar
efektivitas dan kredibilitas OJK. Seperti yang sudah kita ketahui selama ini sector jasa
keuangan di Indonesia masih bisa tergolong lemah terhadap krisis keuangan global.
Salah satu penyebabnya adalah masih terkonsentrasi pada perbankan. Bank
menghadapi masalah struktural lemahnya permodalan, rendahnya variasi pendanaan, dan
risiko UMKM sehingga mengakibatkan masih tingginya biaya dana dan suku bunga
perbankan. Diharapkan kelemahan ini dapat diatasi dengan sektor jasa keuangan akan diatur
dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut Anggito Abimanyu Dosen Fakultas
Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta berikut ini adalah beberapa tantangan dari OJK.
LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK

Pengertian Lembaga Keuangan Bukan Bank


Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. KEP-38/MK/IV/1972,
lembaga keuangan bukan bank (LKBB) adalah Semua badan / lembaga yang melakukan
kegiatan dalam hal keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung menghimpun dana
dari masyarakat dengan mengeluarkan surat-surat berharga selanjutnya menyalurkannya
untuk pembiayaan investasi perusahaan-perusahaan atau menyalurkannya lagi kepada
masyarakat.

Dasar Hukum Lembaga Keuangan Bukan Bank


Di Indonesia Lembaga Keuangan Bukan Bank berkembang sejak tahun 1972. Dasar hukum
lembaga keuangan bukan bank adalah Surat Keputusan Menteri Keuangan No. KEP-
792/MK/IV/12/1970 tanggal 7 Desember 19670 tentang Lembaga Keuangan, yang telah
diubah dan ditambah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KMK.011/1982
tanggal 1 September 1982 tentang Perubahan dan Tambahan Surat Keputusan Menteri
Keuangan No. KEP-38/MK/IV/1972 tanggal 18 Januari 1972 yang kemudian diubah dengan
Keputusan Menteri Keuangan No.280/KMK.01/1989 tentang pengawasan dan pembinaan
lembaga keuangan bukan bank dan peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan
dengan usaha yang dijalankan.

Tujuan dan Fungsi Lembaga Keuangan Bukan Bank


Secara umum tujuan lembaga keuangan bukan bank adalah untuk memberikan bantuan serta
mendorong perkembangan pasar modal untuk membentuk permodalan perusahaan-
perusahaan yang memiliki ekonomi rendah. Untuk lebih jelasnya berikut adalah tujuan dan
fungsi lembaga keuangan bukan bank:
1. Memberikan modal kepada masyarakat ekonomi lemah untuk membangun usaha
dengan tujuan agar mereka tidak terbelit utang dengan para rentenir.
2. Untuk merangsang penyertaan modal swasta dan memperluas sumber-sumber
pembiayaan bagi kegiatan dunia usaha.
3. Memperlancar pembangunan industri maupun ekonomi lewat pasar modal.
4. Mengumpulkan dana terutama dengan cara mengeluarkan kertas berharga dan
menyalurkannya kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.
5. Untuk merangsang penyertaan modal swasta dan memperluas sumber-sumber
pembiayaan bagi kegiatan dunia usaha.

Tugas dan wewenang Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)


1. Membantu dunia usaha dalam meningkatkan produktivitas barang / jasa.
2. Memperlancar distribusi barang.
3. Mendorong terbukanya lapangan pekerjaan.
4. Menghimpun dana dengan cara mengeluarkan surat-surat berharga.
5. Memberikan kredit jangka menengah dan panjang kepada perusahaan atau proyek
yang dimiliki oleh pemerintah maupun swasta.
6. Menjadi perantara bagi perusahaan-perusahaan Indonesia dan badan hukum
pemerintah untuk mendapatkan kredit dari dalam maupun luar negeri.
7. Melakukan penyertaan modal di perusahaan-perusahaan dan penjualan saham-saham
di pasar modal.
8. Melakukan usaha lain di bidang keuangan setelah mendapat persetujuan Menteri
Keuangan.
9. Menjadi perantara bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan tenaga ahli di
bidang keuangan.

Bentuk Usaha Lembaga Keuangan Bukan Bank


Terdapat 3 bentuk usaha lembaga keuangan bukan bank, Ketiga bentuk usaha lembaga
keuangan bukan bank tersebut yaitu:
1. Berbadan hukum indonesia yang didirikan oleh warga negara Indonesia
2. Berbadan hukum asing dalam bentuk perwakilan dan lembaga keuangan yang
berkedudukan di luar negeri.
3. Berbadan hukum Indonesia dalam bentuk kerja sama dengan badan hukum asing.

Jenis-jenis dan produk Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)


1. Lembaga pembiayaan
Lembaga pembiayaan merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan
dalam bentuk penyediaan dana atau modal dengan tidak menarik dana seacara langsung dari
masyarakat. Lembaga pembiayaan ada karena dunia usaha membutuhkan alternatifan
pinjaman dana selain Bank. Bagi bank sendiri lembaga pembiayaan sangat membantu sebagai
alternatif penyaluran dana.
Contoh badan Usaha lembaga pembiayaan antara lain PT Danareksa, PT
Multinasional Finance Corporation (Multicor), PT Asian dan Euro-American Capital, PT
Usaha Pembiayaan Pembangunan Indonesia (PT UPINDO), dan PT Private Development
Finance Company of Indonesia (PT PDFCI)

2. Perusahaan asuransi
Asuransi merupakan suatu metode untuk melindungi seseorang atau perusahaan dari
kerugian keuangan yang disebabkan oleh kerusakan atau pencurian aset dan kematian atau
kecelakaan. Dengan adanya asuransi maka pihak yang membayar asuransi memperoleh
berbagai keuntungan seperti:
 Merasa aman dan terlindungi dari kerugian yang mungkin timbul.
 Asuransi dapat berfungsi sebagai tabungan.
 Polis asuransi dapat dijadikan jaminan memperoleh kredit.
 Bila suatu usaha telah diasuransikan, usaha akan cenderung lebih mudah memperoleh
investor.
Tiga macam usaha asuransi
Usaha asuransi terbagi atas 3 macam, yaitu asuransi kerugian (non life insurance),
asuransi jiwa (life insurance), reasuransi (reinsurance).
1. Asuransi kerugian (non life insurance)
Seandainya kamu sedang mengendarai mobil kemudian mobilmu tiba-tiba tertubruk
dari belakang, sengaja atau tidak, mobilmu telah tergores. Padahal belum tentu orang
yang menabrakmu bisa mengganti rugi. Kamu tidak perlu panik bila mobilmu telah
diasuransi sebelumnya. Dengan adanya asuransi kerugian, kerugianmu bisa
diminimalisasi. Perusahaan asuransilah yang akan menanggung semua resiko, baik
karena kerusakan maupun kehilangan. Nilainya sebesar nilai pertanggungannya.
Kalau misalnya nilai pertanggungannya adalah 150 juta, maka sebesar itulah
perusahaan harus mengganti.
Di beberapa negara, asuransi kerugian juga disebut sebagai general insurance yang
terdiri dari asuransi kebakaran, pengangkutan laut dan udara, kendaraan bermotor,
kompensasi bagi pegawai, profesi, jaminan dan sebagainya.
Dalam praktiknya asuransi kerugian di indonesia dapat dibagi atas asuransi
kebakaran, asuransi pengangkutan, dan asuransi aneka. Yang termasuk kedalam
asuransi aneka adalah asuransi kecelakaan diri, asuransi kendaraan bermotor,
asuransi dari pencurian, dll.
2. Asuransi jiwa (life insurance)
Asuransi jiwa adalah suatu jasa yang diberikan perusahaan asuransi dalam
penanggulangan resiko yang dikaitkan dengan jiwa atau meninggalnya seseorang
yang dipertanggungkan. Bagi pemiliknya, asuransi jiwa berguna untuk memberikan
dukungan dana bagi pihak yang selamat suatu kecelakaan, memberikan santunan
bagi tertanggung yang meninggal, membantu usaha dari kerugian yang disebabkan
meninggalnya pejabat kunci perusahaan, menghimpun dana untuk persiapan pensiun
serta untuk menunda atau menghindari pajak pendapatan.
3. reasuransi (reinsurance)
reasuransi adalah pertanggungan ulang ataau pertanggungan yang dipertanggungkan.
Sering juga disebut sebagai asuransi dari asuransi. Ini merupakan cara perusahaan
asuransi menyebarkan resiko, sehingga keuangan perusahaan asuransi tersebut tidak
terganggu. Misalnya PT Asuransi XYZ setuju menanggung asuransi senilai 50
milyar. Jika PT XYZ harus membayar nilai klaim tersebut, bisa-bisa finansial
perusahaan tersebut terganggu. Untuk memecahkan masalah ini, PT XYZ dapat
membaginya dengan perusahaan lain. Jadi perusahaan reasuransi tidak memiliki
hubungan langsung dengan pihak tertanggung. Dalam contoh kasus ini, jika terjadi
apa-apa, perusahaan reasuransi tersebut hanya berhubungan dengan PT Asuransi
XYZ.

3. Leasing (Sewa Guna Usaha)


Leasing atau sewa guna usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam
bentuk penyediaan barang – barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk
jangka waktu tertentu. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang
modal dengan jalan sewa beli untuk dapat lansung digunakan berproduksi, yang dapat
diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.
Ciri–ciri Leasing adalah sebagai berikut :
1. Biasanya ada hubungan jangka waktu lease dan masa kegunaan benda lease tersebut.
2. Hak milik benda lease ada pada leasor.
3. Benda yang menjadi objek leasing adalah benda – benda yang digunakan dalam suatu
perusahaan.
Munculnya lembaga leasing merupakan alternatif yang menarik bagi para pengusaha
karena saat ini mereka cenderung menggunakan dana rupiah tunai untuk kegiatan operasional
perusahaan. Melalui leasing mereka bisa memperoleh dan untuk membiayai pembelian
barang – barang modal dengan jangka waktu pengembalian antara 3 -5 tahun atau lebih.
Contoh perusahaan leasing antara lain adalah Adira, WOM, SOF (iSummit Oto Finance), FIF
(Federal International Finance - Honda)

4. Dana pensiun
Dana pensiun sebenarnya merupakan salah satu cara untuk memberikan jaminan
kesejahteraan pada karyawan. Dengan adanya dana pensiun, karyawan yang telah pensiun
dapat terjaga kondisi keuangannya. Karena karyawan tetap memperoleh penghasilan
meskipun telah pensiun. Bagi pengusaha, adanya dana pensiun juga membantu agar
karyawan tetap setia dan memberikan yang terbaik pada perusahaan.

5. Reksa dana
Reksa dana merupakan wadah menghimpun dana dari masyarakat dan kemudian
diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi (pihak pengelola dana). Manajer
investasilah yang mengelola dana tersebut, apakah hendak dibelikan saham, diputar di pasar
uang, dan sebagainya. Dalam pengelolaan dana tersebut, manajer investasi berhubungan
dengan penanam modal (investor). Contoh perusahaan reksa dana antara lain: Bahana TCW,
Trimegah Securities, Nikko Securities, PNM Investment Management, Citicorp Securities,
Corfina, Rifan Financindo, dan Niaga Securities.

6. Perusahaan penjamin
Pada dasarnya fungsi perusahaan penjamin adalah menanggung pembayaran
kewajiban keuangan pihak yang dijamin oleh perusahaan penjamin. Jadi, jika perusahaan
tidak bisa membayar kredit dan berbagai transaksi lainnya, maka perusahaan penjaminlah
yang menanggungnya. Di indonesia, fungsi perusahaan penjamin saat ini masih terbatas dan
belum begitu penting.

7. Perusahaan modal ventura


Pada suatu hari ada seorang pengusaha yang memiliki ide baru. Ia yakin usahanya
memberikan keuntungan yang besar. Namun untuk itu, dia membutuhkan modal usaha.
Untuk memperoleh modal, sebenarnya perusahaan tersebut dapat menghubungi perusahaan
modal ventura.
Berbeda dengan modal biasa yang menginginkan keuntungan dalam jangka waktu
pendek, modal ventura ditanamkan dalam jangka waktu tertentu, misalnya 10 tahun. Dalam
sepuluh tahun diharapkan usaha tersebut berjalan dengan baik sehingga modal dapat
ditanamkan di tempat lain. Investor modal ventura juga lebih terlibat dalam manajemen untuk
mengurangi resiko dan meningkatkan keuntungan. Selain untuk mencapai keuntungan,
perusahaan modal ventura memiliki berbagai tujuan, antara lain:
 Memudahkan perusahaan baru mendapatkan modal
 Membantu perusahaan mengembangkan produk baru
 Memperlancar mekanisne investasi

8. Pegadaian
Saat mendekati hari raya, kita sering mendengar pegadaian diserbu anggota
masyarakat yang ingin meminjam uang dengan cara menggadaikan barang berharga
miliknya. Itulah sebenarnya tugas pegadaian, memenuhi kebutuhan dana masyarakat dengan
memberi uang pinjaman berdasarkan hukum gadai.
Jika kamu hendak meminjam dana pegadaian, kamu harus membawa barang yang
harus digadaikan. Bawalah barangmu ke loket penaksir untuk dinilai. Nilai gadai adalah nilai
yang menggambarkan tentang berapa batas jumlah uang yang bisa kamu pinjam dengan
menggunakan barang yang bersangkutan. Bila setuju, uang dapat diambil di loket kredit.
Ingat bahwa ada beban bunga yang harus dibayar setiap 15 hari. Jika tidak mampu menebus
kembali, barangmu akan dilelang. Selain jasa pegadaian, pegadaian juga menawarkan
penjualan koin emas ONH dan penitipan barang.

9. Anjak Piutang
Perusahaan Anjak Piutang : Badan Usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan
dalam bentuk pembelian atau pengalihan serta pengurusan piutang.
Manfaat bagi klien :
 Peningkatan penjualan
 Kelancaran modal kerja
 Memudahkan penagihan hutang
 Efisiensi usaha

10. Pasar Modal


Pasar modal atau capital market adalah pasar keuangan untuk dana-dana jangka
panjang dan dalam arti sempit merupakan pasar yang konkrit. Instrumen yang digunakan
dalam pasar modal umumnya antara lain; saham, obligasi, debenture, warrant, right. Pasar
modal dalam arti sempit adalah suatu tempat dalam pengertian fisik yang terorganisasi diman
efek-efek diperdagangkan yang disebut Bursa Efek. Bursa efek atau stock exchange adalah
suatu sistem yang terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang
dilakukan baik secara langsung maupun dengan melalui wakil-wakilnya. Fungsi Bursa Efek
ini antara lain adalah pertama, menjaga kontinuitas pasar. Kedua, menciptakan harga efek
yang wajar melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Menurut David L Scott, pasar
modal adalah pasar untuk dana jangka panjang di mana saham biasa, saham preveren dan
obligasi diperdagangkan.

11. Koperasi Simpan Pinjam


Koperasi Simpan Pinjam : menghimpun dana dari masyarakat dan meminjamkan
kembali kepada anggota atau masyarakat.
A. Modal Koperasi :
1. Simpanan Pokok : dibayar sekali pada awal menjadi anggota
2. Simpanan Wajib : dibayar selama menjadi anggota dengan jangka waktu tertentu
sesuai keputusan rapat anggota.
3. Simpanan Sukarela : dibayar dalam jangka waktu yang tidak ditentukan
B. Landasan Koperasi :
1. Landasan Idiil : Pancasila
2. Landasan Struktural : UUD 1945 pasal 33 ayat 1
3. Landasan Operasional : UU no 25 tahun 1992 dan UU no 17 tahun 2012
4. Landasan Mental : kesetiakawanan dan kesadaran
C. Keuntungan :
1. Tidak memakai jaminan
2. Angoota terhindar dari rentenir
3. Akhir tahun memperoleh SHU

Prinsip kegiatan usaha Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)


1. Prinsip Mengenal Nasabah
Prinsip ini adalah prinsip yang diterapkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank untuk
mengetahui latar belakang dan indentitas nasabah, memantau rekening dan transaksi nasabah,
serta melaporkan transaksi keuangan yang mencurigakan dan transaksi keuangan yang
dilakukan secara tunai, termasuk transaksi keuangan yang terkait dengan pendanaan kegiatan
terorisme.
2. Prinsip Asuransi
a. Insurable Interest (Kepentingan Yang Dipertanggungkan)
Anda dikatakan memiliki kepentingan atas obyek yang diasuransikan apabila Anda
menderita kerugian keuangan seandainya terjadi musibah yang menimbulkan
kerugian atau kerusakan atas obyek tersebut. Kepentingan keuangan ini
memungkinkan Anda mengasuransikan harta benda atau kepentingan anda. Apabila
terjadi musibah atas obyek yang diasuransikan dan terbukti bahwa Anda tidak
memiliki kepentingan keuangan atas obyek tersebut, maka Anda tidak berhak
menerima ganti rugi.
b. Utmost Good Faith (Kejujuran Sempurna)
Anda berkewajiban memberitahukan sejelas-jelasnya dan teliti mengenai segala fakta-
fakta penting yang berkaitan dengan obyek yang diasuransikan. Prinsip inipun
menjelaskan risiko-risiko yang dijamin maupun yang dikecualikan, segala persyaratan
dan kondisi pertanggungan secara jelas serta teliti. Kewajiban untuk memberikan
fakta-fakta penting tersebut berlaku sejak perjanjian mengenai perjanjian asuransi
dibicarakan sampai kontrak asuransi selesai dibuat, yaitu pada saat kami menyetujui
kontrak tersebut. Pada saat perpanjangan kontrak asuransi. Pada saat terjadi
perubahan pada kontrak asuransi dan mengenai hal-hal yang ada kaitannya dengan
perubahan-perubahan itu.
c. Indemnity (Indemnitas)
Apabila obyek yang diasuransikan terkena musibah sehingga menimbulkan kerugian
maka kami akan memberi ganti rugi untuk mengembalikan posisi keuangan Anda
setelah terjadi kerugian menjadi sama dengan sesaat sebelum terjadi kerugian.
Dengan demikian Anda tidak berhak memperoleh ganti rugi lebih besar daripada
kerugian yang Anda derita.
d. Subrogation (Subrogasi)
Prinsip subrogration (perwalian) ini berkaitan dengan suatu keadaan dimana kerugian
yang dialami tertanggung merupakan akibat dari kesalahan pihak ketiga (orang lain).
Prinsip ini memberikan hak perwalian kepada penanggung oleh tertanggung jika
melibatkan pihak ketiga. Dengan kata lain, apabila tertanggung mengalami kerugian
akibat kelalaian atau kesalahan pihak ketiga, maka XYZ, setelah memberikan ganti
rugi kepada tertanggung, akan mengganti kedudukan tertanggung dalam mengajukan
tuntutan kepada pihak ketiga tersebut.
e. Mekanisme Aplikasi subrogasi
Tertanggung harus memilih salah satu sumber pengantian kerugian, dari pihak ketiga
atau dari asuransi. Kalau tertanggung sudah menerima penggantian kerugian dari
pihak ketiga, ia tidak akan mendapatkan ganti rugi dari asuransi, kecuali jumlah
penggantian dari pihak ketiga tsb tidak sepenuhnya. Kalau tertanggung sudah
mendapatkan penggantian dari asuransi ia tidak boleh menuntut pihak ketiga. Karena
hak menuntut tersebut sudah dilimpahkan ke perusahaan asuransi.
f. Contribution (Kontribusi)
Anda dapat saja mengasuransikan harta benda yang sama pada beberapa perusahaan
asuransi. Namun bila terjadi kerugian atas obyek yang diasuransikan maka secara
otomatis berlaku prinsip kontribusi. Prinsip kontribusi berarti bahwa apabila kami
telah membayar penuh ganti rugi yang menjadi hak Anda, maka kami berhak
menuntut perusahaan-perusahaan lain yang terlibat suatu pertanggungan (secara
bersama-sama menutup asuransi harta benda milik Anda) untuk membayar bagian
kerugian masing-masing yang besarnya sebanding dengan jumlah pertanggungan
yang ditutupnya. Prinsip ini tidak berlaku bagi asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan
diri yang berkaitan dengan meninggal dunia atau cacat tetap.
g. Proximate Cause (Kausa Proksimal)
Apabila kepentingan yang diasuransikan mengalami musibah atau kecelakaan, maka
pertama-tama kami akan mencari sebab-sebab yang aktif dan efisien yang
menggerakkan suatu rangkaian peristiwa tanpa terputus sehingga pada akhirnya
terjadilah musibah atau kecelakaan tersebut.